Tag Archives: 85

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 85

29 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 85“Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki untuk mengadzab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka dalam keadaan kafir.” (QS. at-Taubah / al-Baraah: 85)

Penafsiran ayat ini telah dikemukakan sebelumnya di ayat yang senada dengan ayat ini, (yaitu pada ayat 55 dari surat at-Taubah).

&

Iklan

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 85

15 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 85“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: ‘Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada Ilah (yang haq) bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabbmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah kamu kurangkan dari manusia barang-barang takaran dan timbangannya. Dan janganlah membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.” (QS. al-A’raaf: 85)

Muhammad bin Ishaq mengatakan, mereka itu termasuk bagian dari Silsilah (keturunan) Madyan bin Ibrahim. Dan Syu’aib, yaitu putera Mikyal bin Yasyjar.

Menurutku (Ibnu Katsir), Madyan adalah sebutan untuk suatu kabilah dan juga suatu kota yang terletak di dekat Ma’an dari jalan al-Hijaz. Allah berfirman yang artinya: “Dan ketika ia sampai di sumber air negeri Madyan, ia menjumpai sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya) di sana.” (QS. Al-Qashash: 23). Mereka itu adalah penduduk Aikah. Sebagaimana yang akan kami uraikan lebih lanjut nanti, insya Allah.

Firman Allah: qaala yaa qaumi’budullaaHa maa lakum min ilaaHin ghairuHu (“Ia [Syu aib] berkata, Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada Ilah [yang berhak untuk diibadahi] bagimu selain-Nya.’”) Ini merupakan seruan (dakwah) setiap Rasul.

Qad jaa-atkum bayyinatum mir rabbikum (“Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabbmu.”) Maksudnya, Allah telah menegakkan berbagai macam hujjah dan bukti yang menunjukkan kebenaran apa yang aku bawa kepada kalian. Selanjutnya, Dia menasehati mereka dalam pergaulan mereka dengan orang lain, yaitu agar mereka mencukupi takaran dan timbangan, serta tidak merugikan orang lain sedikit pun. Maksudnya, janganlah kalian mengkhianati harta orang lain dan mengambilnya dengan cara mengurangi takaran dan timbangan secara diam-diam.

Sebagaimana Allah berfirman yang artinya:
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar, yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?” (QS. Al-Muthaffifiin: 1-6). Ini adalah ancaman yang keras dan tegas. Kita berdo’a, semoga Allah memberikan perlindungan kepada kita darinya.

Setelah itu, Allah berfirman memberitahukan tentang Syu’aib, yang diberi sebutan Khathiibul Anbiyaa’ (juru bicara para Nabi), karena kefasihan dan keagungan nilai nasihatnya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 85-86

30 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 85-86“Dan Syu’aib berkata: ‘Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. (QS. 11:85) Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu, jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.’ (QS. 11:86)” (Huud: 85-86)

Dia (Nabi Syu’aib as) pertama-tama melarang mereka untuk tidak mengurangi takaran dan timbangan jika mereka memberi untuk orang lain, kemudian dia menyuruh mereka untuk menepati takaran dan timbangan dengan jujur, baik saat menerima maupun saat memberi dan dia melarang mereka untuk tidak congkak dengan membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka waktu itu menjadi pembegal.

Dan firman-Nya: baqiyyatullaaHi khairul lakum (“Sisa [keuntungan] dari Allah adalah lebih baik bagimu.”)

Ibnu `Abbas berkata: “Rizki Allah adalah lebih baik bagimu.” Ar-Rabi’ bin Anas berkata: “Wasiat Allah adalah lebih baik bagimu.” Mujahid berkata: “Taat kepada Allah.” Qatadah berkata: “Bagianmu dari Allah adalah lebih baik bagimu.” `Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Kebinasaan itu dalam siksaan dan keutuhan itu dalam rahmat.”

Dan Abu Ja’far bin Jarir berkata: “Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu.” Maksudnya, apa yang dianugerahkan Allah kepadamu yang berupa keuntungan setelah kamu menepati takaran dan timbangan adalah lebih baik bagimu daripada mengambil harta orang lain, ia berkata: “lni adalah riwayat dari Ibnu `Abbas,” aku berkata: “Perkataan ini adalah menyerupai firman Allah Ta’ala: ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik harimu.’” (QS. Al-Maaidah: 100)

Dan firman-Nya: wamaa ana ‘alaikum bihafiidh (“Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.”) Maksudnya, bukan sebagai pengawas dan bukan pula pemelihara, tetapi berbuatlah dengan hal itu karena Allah Mahamulia dan Mahaagung. Janganlah kamu melakukannya agar dilihat manusia, akan tetapi lalukanlah karena Allah.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hijr ayat 85-86

22 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hijr
Surah Makkiyyah; surah ke 15:99 ayat

tulisan arab alquran surat al hijr ayat 85-86“85. dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. dan Sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik. 86. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang Maha Pencipta lagi Maha mengetahui.” (al-Hijr: 85-86)

Allah Ta’ala berfirman: wa maa khalaqnas samaawaati wal ardla wamaa bainaa illaa bil haqqi wa innas saa’ata la aatiyatun (“dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. dan Sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang,”) dengan benar, yaitu dengan adil. Liyajziyal ladziina asaa-uu bimaa ‘amiluu (“untuk membalas orang-orang yang berbuat jahat dengan apa yang telah mereka lakukan.”) (an-Najm: 31)

Kemudian Allah memberitakan tentang terjadinya hari kiamat yang pasti akan terjadi, tidak bisa tidak. Lalu Allah memerintahkan kepada Muhammad saw. agar memaafkan orang-orang musyrik dengan baik atas penganiayaan yang telah mereka lakukan kepadanya, dan pendustaan mereka terhadap apa yang disampaikan kepada mereka, firman Allah: fash-fah ‘anHum wa qul salaamun fasaufa ya’lamuun (“Maka ampunilah mereka dan katakanlah selamat, maka mereka akan tahu.”)(az-Zukhruf: 89)

Mujahid, Qatadah dan lain-lain mengatakan: “Ini adalah sebelum ada perang [sebelum ada perintah jihad).” Pendapat mereka ini benar, karena surat ini adalah Makkiyyah, sedang peperangan melawan orang kafir mulai disyariatkan setelah hijrah ke Madinah.

Firman AllaH: inna rabbaka Huwal khallaaqul ‘aliim (“Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang Mahapencipta lagi Mahamengetahui.”) adalah ketentuan tentang hari akhirat, dan sesungguhnya Allah Ta’ala kuasa menjadikan hari kiamat, karena Allah adalah Mahapencipta yang kuasa menciptakan segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang Dia tidak dapat ciptakan, lagi Mahamengetahui jasad yang sudah hancur luluh dan terpisah-pisah di segala penjuru bumi ini.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 84-88

18 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 84-88“Dan (ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (Rasul), kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir (untuk membela diri) dan tidak (pula) mereka dibolehkan meminta uaaf. (QS. 16:84) Dan apabila orang-orang dhalim telah menyaksikan adzab, maka tidaklah diringankan adzab bagi mereka dan tidak pula mereka diberi tangguh. (QS. 16:85) Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu mereka, mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang mereka dahulu kami sembah selain dari Engkau.’ Lalu sekutu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang dusta.’ (QS. 16:86) Dan mereka menyatakan ketundukannya kepada Allah pada hari itu dan hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan. (QS. 16:87) Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan. (QS. 16:88)” (an-Nahl: 84-88)

Allah Ta’ala menceritakan tentang keadaan orang-orang musyrik pada hari kembali mereka di akhirat kelak. Bahwasanya Dia akan membangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi, yaitu Nabi dari masing-masing umat. Nabi akan menjadi saksi bagi kaumnya berkenaan dengan respon mereka terhadap apa yang disampaikannya dari Allah Ta’ala. Tsumma laa yu’dzanu lilladziina kafaruu (“Kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir,”) untuk berdalih, sebab mereka sendiri mengetahui kebathilan dan kebohongan dalihnya.

Yang demikian itu sama dengan firman Allah Ta’ala yang artinya: “Ini adalah hari yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu), dan tidak diizinkan kepada mereka minta udzur sehingga mereka (dapat) minta udzur.” (QS. Al-Mursalaat: 35-36)

Oleh karena itu, Allah berfirman: wa laa Hum yusta’tabuuna wa idzaa ra-al ladziina kafaruu (“Dan tidak pula mereka dibolehkan meminta maaf. Dan apabila orang-orang dhalim telah menyaksikan,”) yakni, orang-orang yang berbuat syirik: al-‘adzaaba falaa yukhaffafu ‘anHum (“Adzab, maka tidaklah diringankan adzab bagi mereka,”) yakni, tidak dihentikan sesaat pun; wa laa Hum yundharuun (“Dan tidak pula mereka diberi tangguh.”) Maksudnya, tidak akan diakhirkan dari mereka, bahkan mereka segera disiksa sejak berada di temp at berdiri, tanpa dihisab lagi.

Hal itu karena ketika Jahannam didatangkan, ia dikendalikan oleh 70.000 kendali, yang setiap kendali dipegang oleh 70.000 Malaikat sehingga seluruh makhluk berada di bawah setiap kendali. Kemudian Jahannam bergolak sekali sehingga tidak ada seorang pun melainkan jatuh berlutut. Jahannam berkata: “Sesungguhnya aku diberi tugas untuk menangani setiap orang yang bengis lagi kasar yang menyekutukan Allah dengan ilah yang lain, dan dengan ini dan itu.”

Selanjutnya, Jahannam merinci setiap kelompok manusia, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits. Setelah itu, Jahannam mengepung mereka dan mematukinya seperti burung mematuki biji-bijian. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Apabila neraka itu melihat mereka dart’ tempat yang jauh, niereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya.” (QS. Al-Furqaan: 12)

Kemudian Allah Ta’ala memberitahukan tentang ilah-ilah mereka (orang-orang musyrik) yang berlepas diri dari mereka pada saat mereka sangat membutuhkannya. Allah Ta’ala berfirman: wa idzaa ra-al ladziina asyrakuu syurakaa-aHum (“Dan apabila orang-orang yang mempersekutukan [Allah] melihat sekutu-sekuti mereka,”) yakni, pihakpihak yang dahulu disembah ketika masih di dunia: qaala rabbanaa Haa-ulaa-i syurakaa-unal ladziina kunnaa nad’uu min duunika fa alqau ilaiHimul qaula innakum lakaadzibuun (“Mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang mereka dahulu kami sembah selain dari-Mu.’ Lalu sekutu-sekutu mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang dusta.’”)

Maksudnya, ilah-ilah mereka itu berkata kepada mereka: “Kalian telah berdusta, karena sesungguhnya kami tidak pernah menyuruh kalian menyembah kami.”

Firman-Nya: wa alqau ilallaaHi yauma-idzinis salama (“Dan mereka menyatakan ketundukannya kepada Allah pada hari itu.”) Qatadah dan `Ikrimah mengatakan, mereka semua merendahkan diri dan tunduk kepada Allah, sehingga tidak ada seorang pun kecuali menjadi pendengar lagi patuh. Yang demikian itu sama seperti firman Allah Ta’ala yang artinya: “Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami.” (QS. Maryam: 38). Maksudnya, pada hari itu mereka benar-benar mendengar dan melihat dengan nyata.

Firman-Nya: wa dlalla ‘anHum maa kaanuu yaftaruun (“Hilanglah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan.”) Yakni, hilang dan lenyaplah apa yang dulu mereka ibadahi sebagai perbuatan mengada-ada terhadap Allah. Mereka tidak mempunyai penolong dan tidak juga penyelamat.

Lebih lanjut, Allah berfirman: alladziina kafaruu wa shadduu ‘an sabiilillaaHi zidnaaHum ‘adzaaban… (“Orang-orang yang kafir dan menghalangi [manusia] dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan,”) dan ayat seterusnya. Maksudnya, adzab atas kekufuran mereka sendiri dan adzab atas tindakan mereka menghalang-halangi orang lain yang hendak mengikuti kebenaran. Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan adanya beberapa tingkatan dan derajat orang-orang kafir di neraka, sebagaimana yang ada pada orang-orang mukmin.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 85

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 85“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Rub itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.’” (QS. Al-Israa’: 85)

Imam Ahmad meriwayatkan dari `Abdullah bin Mas’ud, ia bercerita, aku pernah berjalan bersama Rasulullah di sebuah kebun di Madinah, ketika itu beliau dalam keadaan bertongkat dengan pelepah kurma. Kemudian beliau berjalan melewati sekelompok orang dari kaum Yahudi, lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya: “Tanyakan kepadanya tentang ruh.” Sebagian mereka berkata: “Jangan kalian bertanya kepadanya.”

Maka mereka pun -lanjut Ibnu Mas’ud- bertanya kepada Rasulullah tentang ruh, di mana mereka bertanya: “Ya Muhammad, apakah ruh itu?” Dan beliau masih tetap bersandar pada pelepah kurma. Aku menduga Allah menurunkan wahyu kepada beliau, di mana Dia berfirman: wa yas-aluunaka ‘anir ruuhi qulir ruuhu min amri rabbii wamaa uutiitum minal ‘ilmi illaa qaliilan (“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”)

Lebih lanjut Ibnu Masud bercerita, kemudian sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya: “Sudah kami katakan kepada kalian, janganlah kalian bertanya kepadanya.”

Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Siyaq (redaksi) ayat ini secara lahiriyah menunjukkan bahwa ayat ini turun di Madinah dan turun ketika Rasulullah ditanya oleh orang-orang Yahudi tentang ruh di Madinah, padahal surat ini secara keseluruhan adalah Makkiyyah.

Mengenai hal tersebut, pernah ada yang menjawab bahwa mungkin saja ayat tersebut turun di Madinah an-Nabawiyyah untuk yang kedua kalinya sama seperti ketika diturunkan di Makkah sebelumnya. Dan mungkin juga wahyu itu telah turun kepada beliau, lalu beliau menjawab pertanyaan yang mereka ajukan itu dengan menggunakan ayat tersebut yang telah diturunkan sebelum pertanyaan itu diajukan, yaitu firman-Nya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh.”

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna ruh dalam ayat ini, mengenai hal itu terdapat beberapa pendapat. Maksud pertama, yang dimaksud adalah arwah anak cucu Adam.
Mengenai firman-Nya, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh,” al-`Aufi menceritakan dari Ibnu `Abbas, yang demikian itu, orang-orang Yahudi pernah berkata kepada Nabi saw: “Beritahukan kepada kami tentang ruh dan bagaimana ruh yang terdapat di dalam jasad itu di adzab. Sedangkan ruh itu dari Allah, dan tidak pernah turun sedikit pun kepadanya, berada di dalamnya, maka tidak ditarik sedikit pun dari mereka!?. Lalu Jibril datang kepada beliau seraya berujar: “Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.’”

Maka Rasulullah saw. pun memberitahu mereka tentang hal itu. Lalu mereka bertanya: “Siapa yang mengajarimu seperti ini?” Beliau menjawab: “Jibril yang telah membawakan wahyu ini kepadaku dari sisi Allah.” Mereka berkata kepada beliau: “Demi Allah, tidak ada yang memberitahukan kepadamu melainkan musuh kami.”

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Katakanlah: `Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 97)

Ada yang mengatakan, yang dimaksud dengan ruh di sini adalah Jibril.
Dan ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud ruh adalah Malaikat yang agung, yang besar dibanding dengan makhluk-makhluk lainnya.

Firman Nya: qulir ruuhu min amri rabbii (“Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku.’”) Maksudnya, dari keadaan-Nya dan ilmu tentangnya hanya dikhususkan pada-Nya dan tidak diberikan pada kalian. Oleh karena itu, Dia berfirman: wa maa uutiitum minal ‘ilmi illaa qaliilan (“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”)

Maksudnya, Allah Ta’ala tidak memberi ilmu tentang ruh itu kepada kalian melainkan hanya sedikit saja. Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat menyelami ilmunya kecuali yang dikehendaki-Nya saja. Dengan kata lain, jika dibandingkan dengan ilmu Allah Ta’ala, ilmu kalian teramat sangat sedikit. Masalah ruh yang kalian tanyakan ini ilmunya hanya dimiliki oleh-Nya semata dan tidak diberikan kepada kalian, sebagaimana Dia tidak memberikan ilmu-Nya kepada kalian melainkan hanya sedikit saja. Wallahu a’lam.

Kemudian as-Suhaili menyebutkan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para ulama, yakni, apakah ruh itu jiwa atau ada pengertian lainnya.

Ada yang menetapkan bahwa ruh adalah suatu dzat yang sangat lembut seperti udara yang beredar di dalam jasad, seperti beredarnya air di dalam akar pohon.
Ditetapkan pula bahwa ruh yang ditiupkan Malaikat ke dalam janin adalah jiwa dengan syarat berhubungan dengan badan, karena adanya hubungan dengan badan dan geraknya jiwa itu dengan sebab adanya ruh dengan sifat-sifat yang baik atau buruk. Jiwa itu bisa jiwa muthmainnah (tenang) atau jiwa yang menyuruh kepada keburukan.

Lebih lanjut ia mengatakan, sebagaimana air merupakan kehidupan bagi pohon, yang melalui perpaduannya muncul nama baru. Jika ia bercampur dengan anggur dan diperas, maka akan menjadi minuman perasan anggur atau minuman khamr. Dan pada saat itu tidak lagi disebut sebagai air kecuali disebut kata kiasan. Demikian juga dengan ruh, jiwa itu tidak disebut ruh melainkan disebut dalam kata kiasan. Dan ruh pun tidak dapat disebut jiwa kecuali melalui pengungkapan seperti itu. Ringkasnya, dapat dikatakan bahwa ruh itu merupakan pokok dan materi jiwa dan jiwa itu sendiri terdiri dari ruh. Dilihat dari hubungannya dengan badan, maka ia adalah jiwa, tetapi itu tidak dari semua sisi. Pengertian tersebut adalah baik. Wallahu a’lam.

Perlu penulis katakan: “Orang-orang telah berbicara tentang esensi dan hukum ruh, bahkan mereka telah menyusun berbagai macam kitab yang membahas tentang hal itu. Dan di antara orang yang bagus pembahasannya dalam masalah ini adalah al-Hafizh Ibnu Mandah dalam sebuah kitab yang pernah kami dengar.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 84-86

20 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 84-86“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): Kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung balamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhi) sedang kamu mempersaksikannya.” (QS. Al-Baqarah: 84) Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan darimu dari kampung halamannya, kamu bantu-membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakab kamu beriman kepada sebagian dari al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian darimu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada bari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengab dari apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqarah: 85) Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (QS. Al-Baqarah: 86)

Allah mengecam orang-orang Yahudi pada zaman Rasulullah di Madinah dan apa yang mereka alami karena peperangan dengan kaum Aus dan Khazraj. Kaum Aus dan Khazraj adalah kaum Anshar, yang pada masa Jahiliyah mereka menyembah berhala. Di antara mereka terjadi banyak peperangan, kaum Yahudi Madinah terbagi menjadi tiga kelompok: Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir menjadi sekutu kaum Khazraj, dan Bani Quraidhah yang menjadi sekutu kaum Aus. Apabila perang meletus, masing-masing kelompok bersama sekutunya saling menyerang. Orang Yahudi membantai musuh-musuhnya, bahkan ada orang Yahudi yang membunuh orang Yahudi dari kelompok lain. Padahal menurut ajaran mereka, yang demikian itu merupakan suatu hal yang diharamkan bagi mereka dan telah tertuang di dalam kitab mereka. Kelompok yang satu mengusir kelompok yang lain sambil merampas harta kekayaan dan barang-barang berharga. Kemudian apabila peperangan usai mereka segera melepaskan tawanan kelompok yang kalah sebagai bentuk pengamalan hukum Taurat.

Oleh karena itu Allah berfirman: a fa tu’minuuna bi ba’dlil kitaabi wa takfuruuna bi ba’dlin (“Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab [Taurat] dan inkar terhadap sebagian lainnya.”) dan firman-Nya juga: wa idz akhadnaa miitsaaqakum laa tasfikuuna dimaa-akum wa laa tukhrijuuna anfusakum min diyaarikum (“[ingatlah] ketika Kami mengambil janji darimu, yaitu: kalian tidak akan menumpahkan darah [membunuh orang] dan kamu tidak akan mengusir diri kamu dari kampung halaman kamu”). Artinya, sebagian kalian tidak diperbolehkan membunuh sebagian yang lain, tidak boleh juga mengusirnya, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Maka bertaubatlah kepada Rabb yang menjadikanmu dan bunuhlah dirimu. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu di sisi Rabb yang menjadikanmu. ” (QS. Al-Baqarah: 54)

Hal itu karena pemeluk satu agama adalah seperti satu tubuh, sebagaimana disabdakan Rasulullah “Perumpamaan orang mukmin dalam cinta mencintai, kasih mengasihi, dan sayang menyayangi adalah laksana satu tubuh. Jika salah satu anggotanya sakit, maka seluruh tubuhnya akan merasakan sakit dengan demam dan tidak dapat tidur.” (Muttafaq ‘alaih)

Firman-Nya: tsumma aqrartum wa antum tasy-Haduun (“Kemudian kamu berikrar [akan memenuhinya] sedang kamu mempersaksikannya.”) Maksudnya, kalian mengakui dan mempersaksikan bahwa kalian mengetahui perjanjian itu dan kebenarannya.

Firman-Nya: tsumma antum Haa-ulaa-i taqtuluuna anfusakum wa takhrijuuna fariiqam minkum min diyaariHim (“Kemudian kamu [Bani Israil membunuh dirimu [saudara seagama] dan mengusir segolongan darimu dari kampong halamannya.”) Allah swt. memberitahu mereka mengenai hal itu dan kandungan ayat di atas. Siyaq (redaksi) ayat ini merupakan kecaman sekaligus hinaan terhadap orang-orang Yahudi yang meyakini kebenaran perintah Taurat itu, dan menyalahi syari’atnya di sisi lain, padahal mereka mengetahui dan memberikan kesaksian akan kebenarannya. Oleh karena itu mereka tidak dapat dipercaya dalam (pengamalan) isinya, penukilannya, dan mereka tidak jujur dalam hal sifat Rasulullah, perilakunya, pengutusannya, kehadirannya, dan hijrah Nabi yang mereka sembunyikan, dan segala hal yang telah diberitahukan oleh para Nabi sebelumnya. Orang-orang Yahudi -la’natullah ‘alaihim- saling menutup-nutupi apa yang ada di antara mereka.

Oleh karena itu, Allah berfirman: fa maa jazaa-u may yaf’alu dzaalika minkum illaa khizjun fil hayaatid-dun-yaa (“Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian darimu, melainkan kehinaan dalam kehidupan di dunia.”) hal itu disebabkan oleh pelanggaran yang mereka lakukan terhadap syariat dan perintah Allah swt.

Wa yaumal qiyaamati yuradduuna ilaa ‘asyaddil ‘adzaab (“Dan pada hari kiamat kelak mereka dikembalikan kepada siksa yang berat.”) sebagai balasan atas penyimpangan mereka terhadap kitab Allah yang berada di tangan mereka.

Wa mallaaHu bighaafilin ‘amaa ta’maluun. Ulaa-ikaladziinasytarawul hayaatad-dun-yaa bil aakhirati (“Dan Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan [kehidupan] akhirat.”) artinya mereka lebih mencintai dan memilih dunia, fa laa yukhaffafu ‘anHumul ‘adzaabu (“Maka tidak akan diringankan siksa mereka.”) maksudnya adzab itu tidak akan dihilangkan dari mereka meski hanya sekejap saja. Wa laa Hum yunsharuun (“Dan mereka tidak akan ditolong.”) artinya tidak ada seorang penolong pun yang akan membantu dan menyelamatkan mereka dari adzab yang menimpa mereka selamanya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 83-85

6 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 83-85“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (QS. 3:83) Katakanlah: ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para Nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.’ (QS. 3:84) Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. 3:85)

Allah mengingkari orang yang menghendaki agama selain agama-Nya yang dengannya diturunkan kitab-kitab-Nya serta diutus para Rasul-Nya. Yaitu peribadatan (penghambaan diri) hanya kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, yang kepada-Nya semua yang ada di langit dan bumi menyerahkan diri, baik suka rela maupun terpaksa. Sebagaimana yang difirmankan-NYa: wa lillaaHi yasjudu man fis samaawaati wal ardli thau’an aw karHan (“Hanya kepada Allah segala apa yang ada di langit dan bumi ini bersujud,baik secara suka rela maupun terpaksa.”) (QS. Ar-Ra’d: 15).

Maka seorang mukmin itu berserah diri dengan hati dan seluruh raganya kepada Allah, sedangkan seorang kafir berserah diri kepada Allah dengan terpaksa sebab berserah dirinya, karena ia berada di bawah penundukan, penaklukan, dan kekuasaan yang sangat besar yang ia tidak dapat mengelak dan menolak.

Di dalam sebuah hadits shahih disebutkan: “Rabb-mu heran terhadap sebagian kaum yang digiring ke Surga dalam adaan terbelenggu rantai.”
Akan dikemukakan bukti penguat hadits ini dari sisi yang lain, tetapi makna pertama bagi ayat di atas adalah lebih kuat.

Firman Nya, wa ilaiHi turja’uun (“Dan hanya kepada Allah mereka dikembalikan.”) Yaitu pada hari Kiamat dan masing-masing akan diberikan balasan sesuai dengan amalnya.

Setelah itu Dia berfirman, qul aamannaa billaaHi wa maa unzila ‘alainaa (“Katakanlah: ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami.’”) Yakni al-Qur’an. Wa maa unzila ‘alaa ibraahiima wa ismaa-‘iila wa is-haaqa wa ya’quuba (“Dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, dan Ya’qub.”) Yaitu yang berupa shuhuf dan wahyu, wal asbaath (“Dan anak-anaknya.”) Mereka itu adalah keturunan Bani Israil yang bercabang dari anak-anak Israil, yakni anak-anak Ya’qub, yang jumlahnya ada dua belas orang.

Wa maa uutiya muusaaa wa ‘iisaa (“Serta apa yang diberikan kepada Musa dan `Isa.”) Yaitu Taurat dan Injil. Wan nabiyyuuna mir rabbiHim (“Dan para Nabi dari Rabb mereka.”) Ini mencakup seluruh Nabi. Laa nufarriqu baina ahadim minHum (“Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka.”) bahkan kami beriman kepada mereka semua. Wa nahnu laHuu muslimuun (“Dan hanya kepada-Nya kami menyerahkan diri.”)

Artinya orang-orang yang beriman dari umat ini (umat Muhammad) beriman kepada seluruh Nabi yang diutus dan semua Kitab yang diturunkan, tidak sedikit pun mengingkarinya, bahkan mereka membenarkan apa yang diturunkan dari sisi Allah, dan membenarkan semua Nabi yang diutus Allah.

Selanjutnya Allah berfirman, wa may yabtaghii ghaira islaama diinan falay yuqbala minHu (“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima [agama itu] darinya.”) Maksudnya, barangsiapa menempuh jalan selain yang telah disyari’atkan Allah, maka Dia tidak akan menerimanya.

Wa Huwa fil aakhirati minal khaasiriin (“Dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.”)

Sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda dalam hadits shahih: “Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasar perintahnya dari kami, maka amalannya itu ditolak.”

&

85. Surah Al-Buruuj

3 Des

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat Al Buruuj terdiri atas 22 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah diturunkan sesudah surat Asy-Syams.

Dinamai Al Buruuj (gugusan bintang) diambil dari perkataan Al Buruuj yang terdapat pada ayat 1 surat ini.

Pokok-pokok isinya:
Sikap dan tindakan-tindakan orang-orang kafir terhadap orang-orang yang mengikuti seruan para rasul; bukti-bukti kekuasaan dan keesaan Allah; isyarat dari Allah bahwa orang-orang kafir Mekah akan ditimpa azab sebagaimana kaum Fir’aun dan Tsamud telah ditimpa azab; jaminan Allah terhadap kemurnian Al Quran.
Surat Al Buruuj mengutarakan sikap dan tindakan yang biasa dilakukan oleh orang-orang kafir sejak dahulu kepada orang-orang yang mengikuti seruan rasul dengan mengemukakan beberapa contoh yang telah dilakukan oleh orang-orang yang dahulu. Kemudian Allah mengisyaratkan kemenangan orang-orang yang beriman dan akan mengazab orang-orang kafir sebagai bujukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan pengikut-pengikutnya dalam menghadapi tindakan-tindakan orang-orang musyrik pada periode Mekah.

HUBUNGAN SURAT AL BURUUJ DENGAN SURAT ATH THAARIQ

1. Kedua surat ini sama-sama dimulai dengan bersumpahnya Allah dengan menyebut langit.
2. Pada surat Al Buruuj disebutkan bahwa Al Quran itu dijaga dan dipelihara Allah dari segala yang dapat merusaknya, sedang surat Ath Thaariq menerangkan bahwa Al Quran adalah pemisah antara yang hak dan yang batil
85