Tag Archives: 90

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 90

29 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 90“Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan ‘udzur, yaitu orang-orang Arab Badui agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak pergi berjibad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, duduk berdiam diri saja. Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa adzab yang pedih.” (QS. at-Taubah / al-Baraah: 90)

Selanjutnya Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang beralasan untuk tidak ikut berjihad, di mana mereka datang kepada Rasulullah saw. untuk menyampaikan alasan kepada beliau, serta menjelaskan kelemahan dan ketidakmampuan mereka untuk pergi berjihad. Mereka itu adalah penduduk Arab yang tinggal di sekitar Madinah.

Ibnu Ishaq menceritakan: “Yang sampai kepadaku, mereka adalah beberapa orang dari Bani Ghifar Khafaf bin Ghaima’ bin Rukhshah.”
pendapat ini lebih jelas dalam memberikan pengertian terhadap ayat tersebut, karena setelah itu, Allah berfirman: wa qa’adal ladziina kadzdzabullaaHa wa rasuulaHuu (“Sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, duduk berdiam diri.”)
Maksudnya, mereka yang tidak ikut datang untuk menyampaikan alasan mereka.

Selanjutnya, Allah Tabaraka wa Ta ala mengancam mereka dengan adzab yang sangat pedih, di mana Allah t berfirman: sayushiibul ladziina kafaruu min Hum ‘adzaabun aliim (“Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa adzab yang pedih.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-A’raaf ayat 90-92

15 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-A’raaf (Tempat Tertinggi)
Surah Makkiyyah; surah ke 7: 206 ayat

tulisan arab alquran surat al a'raaf ayat 90-92“Pemuka-pemuka kaum Syu’aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): ‘Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi.’ (QS. 7:90) Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka. (QS. 7:91) (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu’aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu’aib mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS. 7:92)” (al-A’raaf: 90-92)

Allah memberitahu tentang kerasnya kekufuran, kesombongan dan keangkuhan mereka. Juga memberitahukan tentang kesesatan yang melanda din mereka serta sikap hati mereka yang menolak terhadap kebenaran. Oleh karena itu, mereka bersumpah seraya mengatakan:

La-init taba’ta syu’aiban innakum idzal lakhaasiruun (“Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentu kamu jika berbuat demikian [menjadi] orang-orang yang merugi.”)

Oleh karena itu, Allah mengiringi hal itu dengan firman-Nya: fa akhadzatHumur rajfatu fa ashbahuu fii daariHim jaatsimiin (“Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka.”) di sini Allah memberitahukan, bahwa mereka ditimpa gempa yang sangat dahsyat, sebagaimana mereka menggoncangkan Syu’aib dan para pengikutnya serta mengancam mereka dengan pengusiran, sebagaimana firman-Nya dalam surat Huud yang artinya:

“Dan ketika datang adzab Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya dengan rahmat dari Kami. Dan orang yang dhalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.” (QS. Huud: 94)

Adapun sebabnya [-Allahu a’lam-] bahwa tatkala mereka mencela Syu’aib melalui ucapan mereka, “Apakah agamamu yang menyuruhmu.” (QS. Huud: 87) maka pada saat itu datanglah suara keras yang menjadikan mereka terdiam.

Dan Allah juga berfirman memberitahukan keadaan mereka dalam surat asy-Syu’araa’ sebagai berikut: “Kemudian mereka mendustakan Sy’u’aib, lalu mereka ditimpa adzab pada hari mereka dinaungi awan, sungguhnya adzab itu adalah adzab hari yang sangat besar.” (QS. Asy-Syu’araa’: 189)

Yang demikian itu tidak lain karena mereka menantang Syu’aib seraya berucap: “Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit.” (QS. Asy-Syu’araa’: 187)

Allah memberitahukan, bahwa Dia telah menimpakan kepada mereka adzab pada hari mereka dinaungi awan. Semua awan itu berkumpul dan jatuh menimpa mereka pada hari itu juga, yaitu awan yang mengandung jilatan api yang menyala-nyala dan sangat panas. Kemudian datang suara dari langit dan gempa bumi yang sangat dahsyat dari bawah mereka, sehingga nyawa mereka pun melayang dan jasad-jasad mereka pun berserakan.
Fa ashbahuu fii daariHim jaatsimiin (“Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan dalam rumah-rumah mereka.”)

Setelah itu Allah berfirma: ka allam yaghnau fiiHaa (“Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu.”) Maksudnya, seakan-akan mereka yang timpa adzab itu, tidak pernah mendiami kota, di mana mereka menginginkan pengusiran terhadap Rasul dan para pengikutnya dari kota itu.

Selanjutnya, sebagai bantahan atas ucapan mereka, Allah berfirman: alladziina kadzdzabuu syu’aiban kaanuu Humul khaasiruun (“Orang-orang yang mendustakan Syu’aib mereka itulah orang-orang yang merugi.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yunus ayat 90-92

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Yunus
Surah Makkiyyah; surah ke 10: 109 ayat

tulisan arab alquran surat yunus ayat 90-92“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia: ‘Aku percaya bahwa tidak ada Ilah melainkan yang diimani oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’ (QS. 10:90) Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 10:9 1) Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (QS. 10:92)” (Yunus: 90-92)

Allah menyebutkan cara-Nya dalam menenggelamkan Fir’aun dan pasukannya, karena sesungguhnya Bani Israil ketika meninggalkan Mesir menemani Nabi Musa as. dikabarkan berjumlah enam ratus ribu pejuang selain kelompok pemuda-pemuda, mereka telah meminjam perhiasan yang sangat banyak dari kaum Qibthi. Kemudian mereka keluar dengan membawa perhiasan itu. Karena kemarahan Fir’aun terhadap mereka semakin keras, maka ia (Fir’aun) mengirimkan pasukan-pasukan perekrut ke seluruh negeri untuk mengumpulkan pasukan-pasukannya dari berbagai daerah, kemudian dia tambah lagi dengan pasukan-pasukan dan serdadu-serdadu yang jumlahnya sangat banyak. Kerena Allah Ta’ala ingin (membinasakan) mereka, maka tidak seorang pun dari mereka yang tinggal, termasuk orang yang mempunyai pemerintahan dan kekuasaan atas daerah-daerah sekitarnya, lalu mereka menyusul Musa dan pasukannya pada waktu matahari terbit.

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’” (QS. Asy-Syu’araa’: 61). Yaitu, ketika mereka telah sampai di pinggir laut dan Fir’aun di belakang mereka dan tidak ada waktu lagi untuk kedua pasukan itu kecuali bertempur. Pengikut-pengikut Nabi Musa as. terus-menerus melontarkan pertanyaan: “Bagaimana kami bisa lolos dari kepungan ini?” Maka Musa berkata: “Aku diperintah untuk melewati jalan ini.”
“Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Rabbku bersamaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Asy-Syu’araa’: 62)

Tatkala urusan telah sempit, maka urusan itu menjadi luas (dengan pertolongan Allah), lalu Allah menyuruhnya agar dia memukul lautan dengan tongkatnya, maka dia segera memukulnya, maka terbelahlah lautan dan belahan seperti gunung yang besar dan terbentuklah dua belas jalan setiap suku (satu jalan).. Lalu Allah menyuruh angin untuk mengeringkan tanahnya;
“Maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tak usah takut (akan tenggelam).” (QS. Thaahaa: 77)

Dan air pun terbelah-belah di antara jalan-jalan itu, persis seperti jendela-jendela, agar tiap-tiap kaum dapat melihat kaum yang lainnya, supaya mereka tidak mengira bahwa mereka binasa. Bani Israil telah melewati lautan ketika rombongan terakhir mereka telah keluar dari laut, Fir’aun dan pasukannya telah sampai di tepi laut, di seberang yang lain. Dia bersama seratus pasukan, belum lagi pasukan yang belum tampak, ketika dia melihat kejadian itu, ia merasa takut, ingin mundur, gemetar dan memutuskan untuk kembali. Akan tetapi, usahanya itu sia-sia dan tidak ada tempat yang aman baginya, takdir telah ditentukan dan do’a telah dikabulkan. Jibril telah datang dengan menunggang kuda, kemudian dia lewat di samping kuda Fir’aun dan meringkik kepada kuda itu. Jibril memasuki lautan, maka kuda di belakangnya ikut masuk juga, akhirnya Fir’aun bingung dan tidak dapat mengusai dirinya sendiri, kemudian berusaha menyebarkan menteri-menterinya, lalu dia berkata kepada mereka: “Kita lebih berhak dengan lautan ini daripada Bani Israil,”

Maka mereka semua memasuki lautan hingga pasukan terakhir, sedangkan Mikail menggiring mereka hingga tidak tersisa satu pun dari mereka. Ketika mereka telah masuk ke dalam laut semuanya dan yang pertama telah menginginkan untuk keluar dari laut itu, Allah yang Mahakuasa menyuruh lautan untuk mengacaukan mereka, maka tidak satu pun dari mereka selamat dan ombak memutarbalikkan mereka dan ia bertubi-tubi menghatam Fir’aun.

Akhirnya dia menemui sakaratulmaut, di saat itu dia berkata: aamantu annaHu laa ilaaHa illal ladzii aamanat biHii banuu israa-iila wa ana minal muslimiin (“Akupercaya bahwa tidak ada Ilah melainkan Rabb yang diimani oleh Bani Israil dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri [kepada Allah]”) maka dia beriman disaat iman itu sudah tidak bermanfaat lagi.

“Maka tatkala mereka melihat adzab Kami, mereka berkata: ‘Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada ilah-ilah yang telah kami sekutukan dengan Allah.’ Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir.” (QS. Al-Mu’min: 84-85)

Maka dari itu Allah berfirman untuk menjawab Fir’aun ketika dia mengucapkan ucapannya dengan firman-Nya: aal aana wa qad ‘ashaita qablu (“Apakah sekarang [baru kamu percaya], padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu.”) Maksudnya, apakah saat ini kamu baru berkata, sedangkan kamu telah bermaksiat kepada Allah sebelum ini, dalam sesuatu yang (ada) di antara kamu dan Allah. Wa kunta minal mufsidiin (“Dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”) Maksudnya, di dunia yang mereka itu menyesatkan manusia.

Inilah yang Allah Ta’ala ceritakan tentang Fir’aun, tentang ucapannya dan tingkah lakunya, itulah sebagian rahasia-rahasia ghaib-Nya yang diberitakan kepada Rasul-Nya (Muhammad saw)

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, berkata dari Ibnu `Abbas, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Ketika Fir’aun berkata: ‘Aku beriman kepada Rabb yang tidak ada IlaH kecuali IlaH yang diimani oleh Bani Israil.’” Beliau bersabda: “Jibril berkata kepadaku; ‘Seandainya kamu melihatku, aku waktu itu mengambil lumpur laut yang hitam, kemudian aku sumbatkan ke mulut Fir’aun, karena dikhawatirkan dia akan mendapat rahmat.’” Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dalam tafsir mereka. Dan at-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan”.

Firman-Nya: fal yauma nunajjiika bibadanika litakuuna liman khalfaka aayatan (“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu, supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang.”)

Ibnu `Abbas dan lain-lain dari ulama salaf berkata: “Sesungguhnya sebagian Bani Israil meragukan kematian Fir’aun, maka Allah Ta’ala menyuruh lautan untuk melemparkan sekujur tubuhnya tanpa ruh ke daratan tinggi dan dia sedang mengenakan baju besinya yang terkenal, agar mereka yakin atas kematiannya.

Maka dari itulah Allah berfirman: fal yauma nunajjiika (“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu.”) Maksudnya, Kami angkat kamu ke atas gundukan tanah.
Bibadanika (“Badanmu.”) Mujahid berkata: “Dengan jasadmu.” Al-Hasan berkata: “Dengan badanmu tanpa ruh.” Dan Abdullah bin Syaddad berkata: “Masih dalam keadaan utuh dan tidak robek, agar mereka yakin dan mengetahui.”

Dan firman-Nya: litakuuna liman khalfaka aayatan (“Supaya kamu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu.”) Maksudnya, agar menjadi bukti kematianmu untuk Bani Israil dan bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa yang ubun-ubun setiap binatang melata berada di tangan-Nya dan bahwa sesungguhnya tidak ada yang bisa melawan jika Allah sedang murka.

Wa inna katsiiram minan naasi ‘an aayaatinaa laghaafiluun (“Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”) Maksudnya, mereka tidak mengambil nasihat dan pelajaran dengannya.

Hari kematian mereka adalah hari “Asyura” (10 Muharram), sebagaimana al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, ia berkata, Rasulullah saw. datang ke Madinah, sedangkan orang-orang Yahudi sedang berpuasa hari “Asyura”, lalu mereka berkata: “Hari apa ini, yang menyebabkan kalian berpuasa?” Maka mereka menjawab: “Ini adalah hari di mana Musa meraih kemenangan Fir’aun.” Kemudian Nabi bersabda kepada sahabat-sahabatnya: “Kamu
lebih berhak dengan Musa daripada mereka, maka berpuasalah kamu semua.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Huud ayat 89-90

1 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Huud
Surah Makkiyyah; surah ke 11: 123 ayat

tulisan arab alquran surat huud ayat 89-90“Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa adzab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Huud atau kaum Shalih, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) darimu. (QS. 11:89) Dan mohonlah ampunan kepada Rabbmu kmudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku Maha-penyayang lagi Mahapengasih. (QS. 11:90)” (Huud: 89-90)

Syu’aib berkata kepada mereka: yaa qaumi laa yajrimannakum syiqaaqii (“Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku [dengan kamu] menyebabkan kamu menjadi jahat.”) Maksudnya, janganlah membuatmu dendam, karena permusuhan dan kemarahanku terhadap kekafiran dan kerusakan yang kamu lakukan, nanti kamu akan ditimpa sesuatu yang telah menimpa kaum Nuh, kaum Huud, kaum Shalih dan kaum Luth, yaitu siksaan dan adzab.

Dan firman-Nya: wa maa qaumi nuuhim minkum biba’iid (“Sedang kaum Luth tidak [pula] jauh [tempatnya] darimu,”) dikatakan; yang dimaksud adalah waktu terjadinya. Qatadah berkata: “Yakni, mereka sesungguhnya binasa di hadapan kalian kemarin.” Dan pendapat yang lain mengatakan: “Ia adalah tentang tempat (tempatnya tidak berjarak jauh) dan kedua (maksud)nya adalah mungkin.”

Wastaghfiruu rabbakum (“Dan mohonlah ampunan kepada Rabbmu,”) dari dosa-dosa yang telah lewat. Tsumma tuubuu ilaiHi (“Kemudian bertaubatlah kepada-Nya,”) dari perbuatan-perbuatanmu yang buruk.

Dan firman-Nya: inna rabbii rahiimuw waduud (“Sesungguhnya Rabbku Mahapenyayang lagi Mahapengasih,”) untuk orang yang bertaubat.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 90

18 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 90“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. an-Nahl: 90)

Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berbuat adil, yakni mengambil sikap tengah dan penuh keseimbangan, serta menganjurkan untuk berbuat kebaikan. Yang demikian itu senada dengan firman-Nya yang lain:
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syuura: 40)

`Ali bin Abi Thalhah mengatakan, dari Ibnu `Abbas: innallaaHa ya’muru bil ‘adl (“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil,”) dia mengatakan: “Yaitu kesaksian, bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah.”
Sufyan bin`Uyainah mengatakan: “Adil di sini adalah sikap sama dalam melakukan amal untuk Allah, baik amal yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Ihsan adalah, seseorang yang bathinnya itu lebih baik dari yang nampak (dhahirnya).
Al fahsya dan al-munkar adalah, seseorang yang dhahirnya itu lebih baik dari bathinnya.

Firman Allah Ta’ala: wa iitaa-i dzil qurbaa (“Dan memberi kepada kaum kerabat,”) maksudnya, Dia memerintahkan untuk menyambung silaturahmi, sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam ayat yang lain: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan serta janganlah bersikap mubadzir.” (QS. Al-Israa’: 26)

Firman-Nya: wa yanHaa ‘anil fahsyaa-i wal munkar (“Dan Allah melarang dari perbuatan keji dan munkar.”) Kata fawaahisy berarti berbagai perbuatan yang diharamkan. Sedangkan munkaraat berarti perbuatan haram yang tampak dilakukan seseorang. Karena itu, di tempat lain, Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Rabbku hanya mengharamkan berbagai macam faahisyah (omongan keji), baik yang tampak maupun yang tersembunyi.’” (QS. Al-A’raaf: 33)

Sedangkan al-baghyu berarti permusuhan terhadap umat manusia. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Tidak ada dosa yang paling layak untuk disegerakan Allah siksanya di dunia di samping siksa yang disiapkan untuk pelakunya di akhirat, selain al-baghyu (sikap permusuhan) dan pemutusan silaturahmi.”

Firman-Nya: ya’idhukum (“Dia memberi pengajaran kepadamu,”) yakni, Dia menyuruh kalian berbuat kebaikan dan melarang kalian berbuat keburukan. La’allakum tadzakkaruun (“Supaya kamu dapat mengambil pelajaran.”) Asy-Sya’bi mengungkapkan, dari Basyir bin Nuhaik, aku pernah mendengar Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya ayat al-Qur’an yang paling komprehensif (mencakup) terdapatdi dalam surat an-Nahl, yaitu: innallaaHa ya’murukum bil ‘adl wal ihsaani (“Sesungguhnya Allah menyuruhmu berlaku adil dan berbuat kebaikan,”) dari ayat seterusnya. Demikian yang diriwayatkan Ibnu Jarir.

Mengenai sebab turunnya ayat al-Qur’an ini, telah disebutkan sebuah hadits hasan yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Nadhar memberitahu kami, `Abdul Hamid memberitahu kami, Syahr memberitahuku, `Abdullah bin `Abbas memberitahuku, dia bercerita, ketika Rasulullah duduk-duduk di beranda rumahnya, tiba-tiba `Utsman bin Mazh’un berjalan melewati beliau seraya memberi senyum kepada beliau, maka Rasulullah bertanya: “Tidakkah engkau duduk sejenak?” `Utsman pun menjawab: “Ya.” Kemudian Rasulullah pun duduk menghadap ke kiblat, dan ketika beliau tengah berbincang dengan `Utsman, tiba-tiba beliau membuka matanya ke langit seraya memandangnya, lalu sejenak beliau memandang ke langit. Kemudian beliau mengarahkan pandangan beliau ke sebelah kanan di tanah, lalu beliau berpaling dari teman duduknya, `Utsman, menuju ke tempat yang menjadi objek pandangan beliau, selanjutnya beliau meggerakkan kepalanya seolah-olah ia sedang memahami apa yang dikatakan kepadanya, sedang Ibnu Mazh’un memperhatikannya.

Setelah selesai mengerjakan keperluannya dan ia memahami apa yang dikatakan kepadanya, maka beliau pun mengarahkan pandangannya ke langit sebagaimana beliau telah melakukannya pertama kali, lalu pandangannya mengikutinya sampai menghilang di langit. Kemudian beliau menghadap kepada `Utsman, teman duduknya semula. Lalu `Utsman bin Mazh’un mengatakan: “Hai Muhammad, selama aku menemanimu duduk, tidak pernah aku melihatmu melakukan perbuatan seperti perbuatanmu pada pagi hari.” Maka beliau bertanya: “Apa yang engkau telah lihat dari apa yang aku kerjakan?” Dia menjawab: “Aku melihat engkau mengarahkan pandanganmu ke langit kemudian engkau menjatuhkannya di sebelah kananmu, lalu engkau berpaling kepadanya dan membiarkanku, engkau menggerakkan kepalamu seolah-olah engkau sedang memahami apa yang dikatakan kepadamu.

Beliau bertanya: “Apakah engkau mengetahui hal tersebut?” `Utsman menjawab: “Ya.” Maka Rasulullah bersabda: “Tadi aku telah didatangi oleh utusan Allah, sedang engkau dalam keadaan duduk.” `Utsman bertanya: “Apakah utusan Allah Jibril as ?” “Ya,” jawab Rasulullah. `Utsman bertanya: “Lalu apa yang dikatakannya kepadamu?” Beliau menjawab: innallaaHa ya’murukum bil ‘adl wal ihsaani (“Sesungguhnya Allah menyuruhmu berlaku adil dan berbuat kebaikan,”) dan ayat seterusnya. Kemudian `Utsman berkata: “Yang demikian itu terjadi ketika iman telah benar-benar bersemayam di dalam hatiku, dan aku sungguh mencintai Muhammad.”

Sanad hadits tersebut jayyid muttashil hasan. Yang di dalamnya telah dijelaskan pendengaran yang bersambung.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 90-93

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 90-93“Dan mereka berkata: ‘Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, (QS. 17:90) atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, (QS. 17:91) atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan para Malaikat berhadapan muka dengan kami. (QS. 17:92) Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari hiasan, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca.’ Katakanlah: ‘Mahasuci Rabbku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi Rasul?’ (QS. 17:93)” (al-Israa’: 90-93)

Firman Allah: hattaa tafjura lanaa minal ardli yanbuuu’an (“Sehingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami.”) Kata al-yanbuu’ berarti mata air yang mengalir. Mereka meminta Muhammad untuk mengalirkan bagi mereka mata air tertentu di negeri Hijaz, di sini dan di sini. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah Ta’ala. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan melakukan dan memenuhi permintaan dan tuntutan mereka seluruhnya, tetapi Dia mengetahui bahwa mereka tidak akan mengikuti petunjuk.

Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala: “Kalau sekiranya Kami turunkan Malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak juga akan beriman.” (QS. Al-An’aam: 111)

Dan firman Allah Ta’ala: au tusqithas samaa-a kamaa za’amta (“Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan.”) Maksudnya, engkau telah berjanji kepada kami bahwa pada hari Kiamat, langit akan terbelah, sedang ujung-unjungnya pun berjatuhan. Dia jadikan hal itu berlangsung di dunia dan Dia jatuhkan langit itu berkeping-keping. Demikian halnya dengan kaum Syu’aib, mereka pernah meminta kepadanya seraya berkata: “Maka jatuhkan atas kami gumpalann dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Asy-Syu’araa’: 187)

Maka Allah Ta’ala pun menimpakan kepada mereka adzab pada hari penaungan (yang berawan). Sesungguhnya hal itu merupakan adzab di hari yang sangat besar.

Sedangkan Nabi pembawa rahmat dan taubat, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia. Beliau meminta supaya mereka ditangguhkan, mudah-mudahan Allah akan mengeluarkan dari tulang-tulang rusuk (keturunan) mereka, orang yang beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Demikian itulah yang terjadi.

Diceritakan, `Abdullah bin Abi Umayyah yang mengikuti Nabi saw. berkata kepada beliau sebagaimana yang ia katakan, aku memeluk Islam dengan keislaman yang sempurna dan aku kembali (bertaubat) kepada Allah.

Dan firman Allah Ta’ala: au yakuuna laka baitum min zukhrufin (“Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari hiasan.”) Menurut Ibnu `Abbas, Mujahid dan Qatadah, yakni emas. Demikian halnya menurut bacaan Ibnu Mas’ud, “Au yakuunu laka baitun min dzahabin ” (Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas).

Firman-Nya: au tarqaa fis samaa-i (“Atau kamu naik ke langit.”) Maksudnya, naik melalui tangga sedang kami melihatmu. Wa lan nu’mina liruqiyyika hattaa tunazzila ‘alainaa kitaban naqra-uHu (“Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca.”) Mujahid mengatakan, yakni di dalamnya tertulis: “Ditujukan kepada setiap orang, kitab ini dari Allah kepada Fulan bin Fulan, yang menjadi judul di kepala surat.”

Dan firman Allah Ta’ala: qul subhaana rabbi Hal kuntu illaa basyarar rasuulan (“Katakanlah: ‘Mahasuci Rabbku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi Rasul?’”) Maksudnya, Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari adanya seorang hamba-Nya yang menghadap ke hadirat-Nya untuk suatu urusan kekuasaan dan kerajaan-Nya, tetapi Dia itu adalah Rabb yang Mahaberbuat atas segala apa yang dikehendaki-Nya. Jika menghendaki, Dia akan memenuhi apa yang kalian minta, dan jika tidak, Dia tidak akan memenuhi permintaan kalian. Dan aku ini tidak lebih hanyalah seorang yang menjadi Rasul kepada kalian, tugasku menyampaikan risalah Rabbku dan memberi nasihat kepada kalian. Dan sesungguhnya aku telah melaksanakan hal itu. Dan apa yang kalian minta itu terserah kepada Allah.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 90

23 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 90“Allah berfirman: ‘Alangkah buruknya (basil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang yang kafir siksaan yang menghinakan.” (QS. Al-Baqarah: 90)

Mengenai firman-Nya: bi’samasy tarau biHii anfusaHum (“Alangkah buruknya [hasil perbuatan] mereka yang menjual dirinya sendiri,”) Mujahid mengatakan, “Orang-orang Yahudi menjual kebenaran dengan kebatilan serta menyembunyikan apa yang dibawa Muhammad saw. dan enggan untuk menjelaskannya.”

Masih berhubungan dengan firman Allah ini: bi’samasy tarau biHii anfusaHum (“Alangkah buruknya [hasil perbuatan] mereka yang menjual dirinya sendiri,”) as-Suddi mengatakan, “Mereka menjual diri mereka dengannya. Alangkah buruknya apa yang mereka pertukarkan untuk diri mereka sendiri dan mereka ridha dengan pertukaran itu dan mereka lebih condong untuk mengingkari apa yang diturunkan Allah swt. kepada Muhammad saw. daripada membenarkan, mendukung, dan membantunya. Yang menjadikan mereka berbuat demikian itu adalah kedurhakaan, kedengkian, kebencian karena: ay yunaz-zalallaaHu min fadl-liHii ‘alaa may yasyaa-u min ‘ibaadiHi (“Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.”) Dan tidak ada kedengkian yang lebih parah daripada kedengkian mereka ini.

Firman-Nya: fabaa-uu bighadlabin ‘alaa ghadlab (“murka sesudah [mendapat] kemurkaan.”) Mengenai kemurkaan di atas kemurkaan ini, Ibnu Abbas mengatakan, “Allah murka kepada mereka lantaran mereka telah menyia-nyiakan Taurat yang ada di tangan mereka. Dan juga murka karena kekufuran mereka kepada Nabi (Muhammad saw.) yang diutus kepada mereka.

Penulis katakan, “baa-u” berarti mereka harus, berhak, dan mesti mendapat kemurkaan di atas kemurkaan.

Abu al-Aliyah mengemukakan: “Allah murka kepada mereka disebabkan karena kekufuran mereka terhadap Injil dan Isa as, Kemudian Dia murka karena kekufuran mereka terhadap Muhammad dan al-Qur’an.”

As-Suddi menuturkan: “Kemurkaan pertama adalah kemurkaan Allah karena tindakan mereka menyembah anak lembu. Sedangkan kemurkaan kedua adalah karena mereka kufur kepada Muhammad saw.”

Dan firman-Nya: wa lil kaafiriiina ‘adzaabum muHiin (“Dan bagi orang-orang kafir itu adzab yang hina.”) Karena kekufuran mereka itu disebabkan oleh kedurhakaan dan kedengkian, yang timbul akibat sikap sombong, maka mereka pun dibalas dengan kehinaan dan kekerdilan di dunia dan di akhirat. Sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mukmin: 60). Maksudnya mereka akan masuk neraka dalam keadaan terhina, tercela, dan tidak terhormat sama sekali.

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Pada hari kiamat kelak, orang-orang sombong akan digiring seperti semut kecil dalam bentuk manusia yang diungguli segala sesuatu yang kecil sehingga mereka masuk ke penjara di neraka Jahanam yang disebut Bulas dan mereka diliputi oleh api dari segala macam api. Mereka diberi minum dengan (thinatul khabal) cairan (nanah) penghuni neraka.” (HR. Ahmad).

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 90-91

6 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 90-91“Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima taubatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat. (QS. 3:90) Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (QS. 3:91)

Allah memperingatkan dan mengancam orang yang kafir setelah beriman, lalu bertambah kafir yaitu terus-menerus dalam kekafirannya itu sampai mati, serta memberitahukan kepada mereka bahwa mereka tidak akan pernah diterima taubatnya ketika mati, firman Allah: wa laisatit taubatu lilladziina ya’malus sayyi-aati hattaa idzaa hadlara ahadaHumul mautu (“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seorang di antara mereka.”) (QS. An-Nisaa’: 18)

Oleh karena itu, di sini Dia berfirman, lan tuqbala taubatuHum wa ulaa-ika Humudl-dlaalluun (“Sekali-kali tidak akan diterima taubatnya dan mereka itulah orang-orang yang sesat.”) Yaitu orang-orang yang keluar dari manhaj yang benar menuju ke jalan kesesatan.

Al-Hafizh Abu Bakar al-Bazzar meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Ada suatu kaum yang menyatakan masuk Islam, lalu mereka murtad kembali, kemudian memeluk Islam lagi dan setelah itu murtad kembali. Kemudian mereka mengirimkan utusan untuk menanyakan perihal mereka itu, lalu mereka memberitahukan hal itu kepada Rasulullah saw. maka turunlah ayat ini: innalladziina kafaruu ba’da iimaaniHim tsummaz-daaduu kufral lan tuqbala taubatuHum (“Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima taubatnya.’”) Demikianlah yang diriwayatkannya dengan isnad jayyid.

Setelah itu Dia berfirman: innalladziina kafaruu wa maatuu wa Hum kuffaarun falay yuqbala min ahadiHim mil-ul ardli dzaHabaw wa lawiftadaabiHi (“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun ia menebus diri dengan emas [sebanyak itu].”)

Artinya, barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan kafir, maka tidak akan ada kebaikan darinya yang diterima oleh Allah , selamanya, meskipun ia telah menginfakkan emas sepenuh isi bumi ini, yang dipandangnya sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya. Sebagaimana Nabi pernah ditanya mengenai ‘Abdullah bin Jad’an, yang senantiasa menjamu tamu, menolong yang membutuhkan pertolongan, dan memberikan makan, apakah yang demikian itu bermanfaat baginya? Maka beliau menjawab: “Tidak, karena ia sama sekali tidak mengucapkan, `Ya Allah, ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan.”‘

Demikian pula jika ia menebus dirinya dengan emas sepenuh isi bumi ini, maka tidak akan pernah diterima kebaikan darinya. Sebagaimana firman-Nya: wa laa yuqbalu minHaa ‘adluw wa laa tanfa’uHaa syafaa’atun (“Tidak akan diterima darinya tebusan dan tidak berguna pula baginya suatu syafaat.”) (QS. Al-Baqarah: 123)

Oleh karena itu, di sini Allah berfirman: innalladziina kafaruu wa maatuu wa Hum kuffaarun falay yuqbala min ahadiHim mil-ul ardli dzaHabaw wa lawiftadaabiHi (“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun ia menebus diri dengan emas [sebanyak itu].”) Dalam ayat ini, Allah menghubungkan kalimat “wa lawiftadaa biHi” dengan kalimat sebelumnya, hal ini menunjukkan bahwa tebusan emasnya lain dari emas yang ia nafkahkan.

Apa yang kami sebutkan tadi lebih baik daripada dikatakan bahwa “wawu” itu sebagai wawu za-idah (huruf wawu tambahan). Wallahu a’lam.

Ini berarti tidak ada sesuatu pun yang dapat menyelamatkannya dari siksa Allah meskipun ia telah menginfakkan emas sepenuh isi bumi dan meskipun ia juga menebus dirinya dengan emas sepenuh isi bumi seberat gunung, tanah, pasir, dataran rendah dan tinggi, serta daratan dan lautan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Nabi bersabda: “Dikatakan kepada seseorang dari penghuni Neraka pada hari Kiamat kelak, ‘Bagaimana pendapatmu, jika kamu mempunyai kekayaan dari apa yang ada di atas bumi, apakah kamu akan menjadikannya sebagai tebusan?’ Maka orang itu mengatakan: ‘Ya.’ Lalu Allah berkata: Sesungguhnya Aku hanya menginginkan darimu sesuatu yang lebih ringan dari itu. Yaitu Aku mengambil janji darimu ketika kamu masih berada di tulang sulbi ayahmu, Adam, yaitu: Janganlah kamu menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, lalu kamu menolak bahkan kamu terus berbuat kemusyrikan.”
Demikian pula yang dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

Sedangkan Imam Ahmad dari jalan lain, juga meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Akan didatangkan seseorang dari penghuni Surga, lalu dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, bagaimana engkau mendapatkan tempat tinggalmu?’ Orang itu menjawab: ‘Ya Rabb-ku, tempat tinggal yang paling baik.’ Kemudian Allah berseru: ‘Minta dan berharaplah.’ Maka ia pun menjawab: ‘Aku tidak meminta dan berharap, kecuali aku ingin Engkau mengembalikan aku ke dunia sehingga aku akan berperang di jalan-Mu sepuluh kali.’-yang demikian itu karena ia melihat keutamaan mati syahid. Kemudian didatangkan seseorang dari penghuni Neraka dan dikatakan kepadanya: ‘Wahai anak Adam, bagaimana kamu mendapatkan tempat tinggalmu di Neraka?’ Orang itu menjawab: ‘Ya Rabb-ku, tempat tinggal yang amat buruk.’ Selanjutnya Allah bertanya: ‘Apakah kamu hendak menebus dari Ku dengan emas sepenuh isi bumi?’ ‘Ya, benar Rabb-ku,’ jawabnya. Allah berkata: ‘Bohong, Aku telah meminta kepadamu yang lebih sedikit dan mudah dari itu lalu kamu tidak melakukannya.’ Kemudian orang itupun dikembalikan lagi ke Neraka.”

Oleh karena itu Dia berfirman, ulaa-ika laHumu ‘dzaabun aliimuw wa maa laHum min naashiriin (“Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.”) Maksudnya, mereka tidak mendapatkan seseorang pun yang dapat menyelamatkan mereka dari siksa Allah serta melindungi mereka dari pedihnya hukuman-Nya.

&

90. Surah Al-Balad

3 Des

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat Al Balad terdiri atas 20 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Qaaf. Dinamai Al Balad, diambil dari perkataan Al Balad yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Yang dimaksud dengan kota di sini ialah kota Mekah.

Pokok-pokok isinya:

Manusia diciptakan Allah untuk berjuang menghadapi kesulitan; janganlah manusia terpedaya oleh kekuasaan dan harta benda yang banyak yang telah dibelanjakannya; beberapa peringatan kepada manusia atas beberapa nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya dan bahwa Allah telah menunjukkan jalan-jalan yang akan menyampaikannya kepada kebAhagiaan dan yang akan membawanya kepada kecelakaan.
Surat Al Balad mengutarakan bahwa manusia haruslah bersusah payah mencari kebahagiaan dan Allah sendiri telah menunjukkan jalan yang membawa kepada kebaikan, dan jalan yang membawa kepada kesengsaraan. Tuhan menggambarkan bahwa jalan yang membawa kepada kebahagiaan itu lebih sulit menempuhnya daripada yang membawa kepada kesengsaraan.

HUBUNGAN SURAT AL BALAD DENGAN SURAT ASY SYAMS

1. Kedua-dua surat ini sama-sama menerangkan bahwa Allah telah menunjukkan kepada manusia dua buah jalan yaitu jalan yang pada surat Asy Syams disebut jalan kefasikan dan jalan ketakwaan.
2. Pada surat Asy Syams ditegaskan bahwa orang yang menjalani jalan ketakwaan itu akan berbahagia dan orang yang menjalani jalan kefasikan itu akan merugi.