Tag Archives: 97-99

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Taubah / Al-Bara’ah ayat 97-99

29 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Taubah (Pengampunan)
Surah Madaniyyah; surah ke 9: 129 ayat

tulisan arab alquran surat at taubah ayat 97-99“Orang-orang Arab Badui itu, lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar jika tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. (9:97) Di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian dan menanti-nanti marabahaya menimpamu; merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui. (QS. 9:98) Dan di antara orang-orang Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian dan memandang apa yang dinafkahkannya (dijalan Allah) itu sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah, dan sebagai jalan untuk memperoleh do’a Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga)-Nya; sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 9:99)” (at-Taubah / al-Baraah: 97-99)

Allah memberitahukan, bahwa di antara orang-orang Arab Badui itu terdapat orang-orang kafir, orang-orang munafik dan orang-orang yang beriman. Tetapi, kekufuran dan kemunafikan mereka lebih parah dan lebih keras daripada masyarakat lainnya. Dan mereka lebih layak jika tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, dari Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa bertempat tinggal di dusun (pedalaman), maka ia akan menjadi kasar. Barangsiapa berburu, maka ia akan menjadi lengah. Dan barangsiapa mendekati penguasa, maka ia akan tergoda (terfitnah).” (HR. Ahmad)

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i. Imam at-Tirmidzi mengatakan: “Hadits tersebut derajatnya hasan gharib, di mana kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits ats-Tsauri.

Karena kekasaran dan kekakuan sudah menjadi karakter masyarakat Badui (pedusunan), maka Allah tidak mengutus seorang Rasul pun kalangan mereka. Dan Allah hanya mengutus Rasul dari masyarakat kota. Sebagaimana yang difirmankan-Nya yang artinya:
“Kami tidak mengutus sebelummu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk kota.” (QS. Yusuf: 109)

Setelah orang Arab Badui memberikan hadiah itu kepada Rasulullah beliau memberikan balasan yang berlipat ganda sehingga ia ridha. Beliau bersabda:
“Sesungguhnya aku berkeinginan untuk tidak menerima hadiah, kecuali suku Quraisy, dari suku Tsaqafi, dari kaum Anshar dan orang dari suku Dausi.”

Karena mereka ini tinggal di perkotaan; di Makkah, Tha’if, Madinah dan ‘aman. Mereka ini lebih lembut akhlaknya dari pada masyarakat Arab Badui, karena tabi’at masyarakat Badui itu sangatlah kasar.

Ada sebuah hadits tentang masyarakat Arab Badui dalam mencium anak, diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari `Aisyah radhiyallahu ‘anha, bercerita: “Ada beberapa orang Arab Badui yang datang kepada Rasulullah saw. lalu mereka bertanya: `Apakah kalian suka mencium anak-anak kalian? Para sahabat Rasulullah menjawab: `Ya.’ Kemudian mereka berkata: `Demi Allah, kami ini tidak suka mencium mereka.’ Maka Rasulullah saw. pun bersabda: “Apakah aku berkuasa jika Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari kalian.”

Sedangkan Ibnu Numair mengatakan: “Mencabut kasih sayang dari hatimu.”
Sedangkan menurut riwayat Imam al-Bukhari adalah sebagai berikut: “Apakah aku berkuasa
Allah telah mencabut kasih sayang dari hati kalian.”

Firman Allah: wallaaHu ‘aliimun hakiim (“Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.”) Maksudnya, Allah Ta’ala mengetahui siapa orang yang berhak mendapatkan pengajaran tentang keimanan dan ilmu. Allah bijaksana dalam membagikan ilmu, kebodohan, keimanan, kekufuran dan kemunafikan di antara hamba-hamba-Nya. Dan Allah tidak akan dimintai pertanggunganjawab atas apa yang Allah perbuat berdasarkan pengetahuan dan kebijaksanaan.

Kemudian Allah memberitahukan, bahwa di antara masyarakat Arab Badui itu, may yattakhidzu maa yunfiqu (“Ada yang memandang apa yang diinfakkannya.”) Yaitu, di jalan Allah. Maghraman (“sebagai sesuatu kerugian”) yaitu kesia-siaan. Wa tarabbishu bikumud dawaa-ir (“Dan ia menanti-nanti marabahaya menimpa kalian.”) Maksudnya, menunggu-nunggu berbagai macam bencana dan malapetaka menimpa kalian. ‘alaiHim daa-iratus sau-i (“Merekalah yang akan ditimpa marabahaya”) Artinya, bencana dan malapetaka itu justru akan berbalik kepada mereka dan menimpanya. wallaaHu samii’un ‘aliim (“Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui.”)
Maksudnya, Allah mendengar do’a yang dipanjatkan oleh hamba-hamba-Nya. Allah mengetahui siapa-siapa saja yang berhak mendapat pertolongan dan siapa yang berhak mendapatkan penghinaan.

Firman Allah, selanjutnya: wa minal a’raabi may yu’minu billaaHi wal yaumil aakhiri wa yattakhidzu may yunfiqu qurubaatin ‘indallaaHi wa shalawaatir rasuuli (“Dan di antara orang-prang Arab Badui itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta memandang apa yang diinfakkannya [di jalan Allah] itu sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh do’a Rasul.”)

Inilah kelompok orang-orang Badui yang mendapatkan pujian. Mereka inilah yang memandang apa yang diinfakkannya di jalan Allah Ta’ala itu sebagai salah satu jalan bertaqarrub (mendekatkan dirt) kepada Allah Ta’ala. Dan dengan itu, mereka mengharapkan do’a Rasul bagi mereka.

Allaa innaHaa qurbatul laHum (“Ketahuilah, sesungguhnya infak itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Maksudnya, yang demikian itu akan menjadi hasil bagi mereka.

Sayudkhilu HumullaaHu fii rahmatiHii innallaaHa ghafuurur rahiim (“Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”)

&

Iklan