Tag Archives: adab

Adab Pulang Bepergian

1 Mei

Riyadhush shalihin, Imam Nawawi,
Akhlak dan Tuntunan Kaum Muslimin

Dalam bab ini termasuklah Hadis Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma yang terdahulu mengenai bab takbirnya seorang musafir jikalau menaiki gunung-gunung atau tempat-tempat yang tinggi.

Dari Anas r.a., katanya: “Kita datang – dari perjalanan – bersama Nabi s.a.w.,sehingga di waktu kita sudah berada di luar kota Madinah, lalu beliau s.a.w. mengucapkan – yang artinya: “Kita semua telah kembali, kita semua bertaubat – kepada Allah, me- nyembah serta mengucapkan puji-pujian kepada Tuhan kita.” Beliau s.a.w. tidak henti-hentinya mengucapkan sedemikian itu, sehingga kita datang di Madinah.”(Riwayat Muslim)

&

Syarat-Syarat dan Adab bagi Mufasir

9 Mar

Ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an)
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Kajian ilmiah yang obyektif merupakan asas utama bagi pengetahuan yang valid yang memberikan kemanfaatan bagi para pencarinya, dan buahnya merupakan makanan yang lezat bagi santapan fikiran dan perkembangan akal.

Oleh karena itu tersedianya sarana dan prasarana yang memadai bagi seorang pengkaji merupakan hal yang mempunyai nilai tersendiri bagi kematangan buah kajiannya dan kemudahan memetiknya.

Kajian ilmu-ilmu syariat pada umumnya dan ilmu tafsir khususnya merupakan aktifitas yang harus memperhatikan dan mengetahui sejumlah syarat dan adab, agar dengan demikian jernihlah salurannya dan terpelihara keindahan wahyu dan keagungannya.

&

Beberapa adab dan kebaikan

3 Jan

Kumpulan Doa dalam Al-Qur’an dan Hadits;
Said bin Ali Al-Qahthani

beberapa adab dan kebaikan

Adab Membaca Al-Qur’an

1 Apr

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

1. Membaca al-Qur’an sesudah wudlu karena ia termasuk dzikir yang paling utama, meskipun boleh membacanya bagi orang yang berhadats.

2. Membacanya di tempat yang bersih dan suci, untuk menjaga keagungan al-Qur’an

3. Membacanya dengan khusyuk, tenang dan penuh hormat.

4. Bersiwak [membersihkan mulut] sebelum mulai membaca.

5. Membaca ta’awudz [a’uudzubillaaHi minasy-syaithaanir rajiim] pada permulaannya, berdasarkan firman Allah yang artinya: “Apabila kamu membaca al-Qur’an hendaklah meminta perlindungan kepada Allah dari syaithaan yang terkutuk.” (an-Nahl: 98). Bahkan sebagian ulama mewajibkan membaca ta’awudz ini.

6. Membaca basmalah pada permulaan setiap surah, kecuali surah al-Bara’ah [at-Taubah], sebab basmalah termasuk salah satu ayat al-Qur’an menurut pendapat yang kuat.

7. Membaca dengan tartil, yaitu dengan bacaan yang pelan-pelan dan terang serta memberikan kepada setiap huruf akan haknya seperti bacaan panjang dan idgham. Allah berfirman yang artinya: “Dan bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (al-Muzzammil: 4)

Dari Anas, bahwa ia ditanya tentang qiraat Rasulullah saw. Ia menjawab: “Qiraat beliau itu panjang. Kemudian beliau membaca BismillaaHir rahmaanir rahiim, dengan memanjangkan Allah, memanjangkan Rahman dan memanjangkan Rahiim.” (HR Bukhari)

Dari Ibnu Mas’ud, bahwa seorang laki-laki berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku biasa membaca al-Mufassal dalam satu rakaat.” Maka Ibnu Mas’ud bertanya: “Demikian cepatkah engkau membaca al-Qur’an seperti layaknya membaca syair saja? sesungguhnya akan ada suatu kaum yang membaca al-Qur’an, namun al-Qur’an itu tidak sampai melewati kerongkongan mereka. padahal kalau bacaan itu sampai meresap ke dalam hati tentu sangat bermanfaat.”

Berkata az-Zarkasyi dalam al-Burhaan: “Kesempurnaan tartiil adalah mentafkhiimkan lafadz-lafadznya, dibaca dengan jelas huruf-hurufnya dan tidak meng-idgham-kan satu huruf dengan huruf lain. Dikatakan bahwa hal ini adalah minimal tartil. Sedang maksimalnya ialah membaca al-Qur’an sesuai dengan fungsi dan maknanya. Bila membaca ayat tentang ancaman hendaklah dibacanya dengan nada ancaman pula, dan bila membaca ayat yang berisi penghormatan [kepada Allah] maka hendaklah membacanya dengan sikap penuh hormat pula.”

8. Memikirkan ayat-ayat yang dibacanya. Cara pembacaan seperti inilah yang sangat dikehendaki dan dianjurkan, yaitu dengan mengkonsentrasikan hati untuk memikirkan makna yang terkandung dalam ayat-ayat yang dibacanya dan berinteraksi kepada setiap ayat dengan segenap perasaan dan kesadarannya baik ayat itu berisikan doa, istighfar, rahmat maupun azab.

Firman Allah, yang artinya: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya.” (Shaad: 29)

Diriwayatkan dari Hudzaifah, ia berkata: “Pada suatu malam saya melakukan shalat bersama Nabi. Beliau membaca surah al-Baqarah, diteruskan dengan surah an-Nisaa’ lalu disambung dengan surah Ali ‘Imraan, semuanya dibaca dengan tartil, jelas dan perlahan. Apabila beliau menemui ayat yang mengandung tasbih, maka beliau bertasbih, bila melewati ayat yang mengandung permohonan beliau memohon, dan bila melewati ayat yang mengandung perlindungan [ta’awudz], maka beliau pun memohon perlindungan.”

9. Meresapi makna dan maksud ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan janji maupun ancaman, sehingga mereka sedih dan menangis ketika membaca ayat-ayat yang berkenaan dengan ancaman karena takut dan ngeri.

Firman Allah yang artinya: “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (al-Israa’: 109)

Dalam sebuah hadits Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa ia berkata: Rasulullah saw. berkata kepadaku: “Bacakanlah al-Qur’an kepadaku.” Aku menjawab: “Wahai Rasulallah, haruskah aku membacakannya kepadamu, sedang al-Qur’an diturunkan kepadamu?” Beliau menjawab: “Ya, aku senang mendengarkan bacaan al-Qur’an dari orang lain.” Lalu aku membacakan surah an-Nisaa’ dan ketika sampai pada ayat ini: ‘Maka bagaimanakah [halnya orang-orang kafir nanti], apabila Kami mendatangkan seorang saksi [rasul] dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu [Muhammad] sebagai saksi atas mereka itu [sebagai umatmu]?’ (ayat 41), beliau berkata: “Cukup sampai di sini saja.” kemudian aku berpaling kepada beliau, maka kulihat keuda mata beliau mencucurkan air mata.”

Dalam Syarh al-Muhazzab disebutkan: “Cara untuk bisa menangis di saat membaca al-Qur’an ialah dengan memikirkan dan meresapi makna ayat-ayat yang dibaca seperti yang berkenaan dengan ancaman berat, siksa yang pedih, perjanjian dan anjuran [perintah], kemudian merenungkan betapa dirinya telah melalaikannya. Apabila cara ini tidak dapat membangkitkan perasaan sedih, penyesalan dan tangis, maka keadaan demikian harus disesali pula dengan menangis karena hal ini adalah suatu musibah.”

Ibn Majah meriwayatkan dari Anas, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Di akhir zaman –atau pada umat ini- akan lahir kelompok orang yang membaca al-Qur’an, namun al-Qur’an tidak tidak sampai melewati tenggorokan mereka, maka bunuhlah!”

10. Membaguskan suara dengan membaca al-Qura’an, karena al-Qur’an adalah hiasan bagi suara dan suara yang bagus lagi merdu akan lebih berpengaruh dan meresap dalam jiwa. Dalam sebuah hadits dinyatakan: “Hiasilah al-Qur’an dengan suaramu yang merdu.”

11. Mengeraskan bacaan al-Qur’an karena membacanya dengan suara jahar lebih utama. Di samping itu, juga dapat membangkitkan semangat dan gelora jiwa untuk lebih banyak beraktifitas, memalingkan pendengaran kepada bacaan al-Qur’an dengan membawa manfaat bagi para pendengar serta mengkonsentrasikan segenap perasaan untuk lebih jauh memikirkan, memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat yang dibaca itu. Tetapi bila dengan suara jahar itu dikhawatirkan timbul rasa riya, atau akan mengganggu orang lain, seperti mengganggu orang yang sedang shalat, maka membaca al-Qur’an dengan suara rendah adalah lebih utama.

12. Para ulama berbeda pendapat tentang membaca al-Qur’an dengan melihat langsung pada mushaf dan membacanya dengan hafalan, manakah yang lebih utama? Dalam hal ini ada tiga pendapat:

a. Membaca langsung pada mushaf adalah lebih utama, sebab melihat pada mushaf pun merupakan ibadah. Oleh karenanya membaca dengan melihat ini mencakup dua ibadah, yaitu membaca dan melihat.
b. Membaca dengan hafalan lebih utama, karena hal ini akan lebih mendorong kepada perenungan dan pemikiran makna dengan baik. Pendapat ini dipilih oleh al-‘Izz bin ‘Abdus Salam. Lebih lanjut ia mengatakan: “Ada yang berpendapat bahwa membaca al-Qur’an secara langsung dari Mushaf itu lebih utama, karena hal ini mencakup perbuatan dua anggota yaitu lisan dan penglihatan, sedang pahala itu sesuai dengan kadar kesulitan. Pendapat demikian ini tidak benar, karena tujuan utama membaca al-Qur’an adalah tadabbur [memikirkan, merenungkan], berdasarkan firman Allah yang artinya: “Supaya mereka memperhatikan [tadabbur] ayat-ayatnya.” (Shaad: 29). Dan menurut kebiasaan, melihat pada mushaf itu akan mengganggu maksud tersebut. Oleh karena itu pendapat di atas dipandang lemah.
c. Bergantung pada situasi dan kondisi individu masing-masing. Apabila membaca dengan hafalan lebih dapat menimbulkan perasaan khusyuk, pemikiran, perenungan dan konsentrasi terhadap ayat-ayat yang dibacanya daripada membacanya melalui Mushaf, maka membacanya dengan hafalan lebih utama. Tetapi bila keduanya sama, maka membaca dari mushaf adalah lebih utama.

&

Adab bagi Mufasir

3 Feb

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

1. Berniat baik dan bertujuan benar;
Sebab amal perbuatan itu tergantung pada niat. Orang yang mempunyai (berkecimpung dalam) ilmu-ilmu syariat hendaknya mempunyai tujuan dan tekad membangun kebaikan umum, berbuat baik kepada Islam dan membersihkan diri dari tujuan-tujuan duniawi agar Allah meluruskan langkahnya dan memanfaatkan ilmunya sebagai buah keikhlasannya.

2. Berakhlak baik;
Karena mufasir bagaikan seorang pendidik yang didikannya itu tidak akan berpengaruh ke dalam jiwa tanpa ia menjadi panutan yang diikuti dalam hal akhlak dan perbuatan mulia. Kata-kata yang kurang baik terkadang siswa enggan memetik manfaat apa yang didengar dan dibacanya, bahkan terkadang dapat mematahkan jalan fikirannya.

3. Taat dan Beramal;
Ilmu akan lebih dapat diterima (oleh khalayak) melalui orang yang mengamalkannya ketimbang dari mereka yang hanya memiliki ketinggian pengetahuan dan kecermatan kajian. Dan perilaku mulia akan menjadikan mufasir sebagai panutan yang baik bagi (pelaksanaan) masalah-masalah agama yang ditetapkannya. Seringkali manusia menolak untuk menerima ilmu dari orang yang luas pengetahuannya hanya karena orang tersebut berperilaku buruk dan tidak mengamalkan ilmunya.

4. Berperilaku jujur dan teliti dalam penukilan sehingga mufasir tidak berbicara atau menulis kecuali setelah menyelidiki apa yang diriwayatkannya. Dengan cara ini ia akan terhindar dari kesalahan dan kekeliruan.

5. Tawadlu dan lemah lembut, karena kesombongan ilmiah merupakan diding kokoh yang menghalangi antara seorang alim dengan kemanfaatan ilmunya.

6. Berjiwa mulia. Seharusnyalah seorang alim menjauhkan diri dari hal-hal yang remeh serta tidak mengelilingi pintu-pintu kebesaran dan penguasa bagai peminta-minta yang buta.

7. Vokal dalam menyampaikan kebenaran, karena jihad paling utama adalah menyampaikan kalimat yang haq di hadapan penguasa dhalim.

8. Berpenampilan yang baik yang dapat menjadikan mufasir berwibawa dan terhormat dalam semua penampilannya secara umum, juga dalam cara duduk, berdiri dan berjalan, namun hendaknya sikap ini tidak dipaksa-paksakan.

9. Bersikap tenang dan mantap. Mufasir hendaknya tidak tergesa-gesa dalam berbicara tetapi hendaknya ia berbicara dengan tenang, mantap dan jelas, kata demi kata.

10. Mendahulukan orang yang lebih utama daripada dirinya. Seorang mufasir hendaknya tidak gegabah dalam menafsirkan di hadapan orang yang lebih pandai pada mereka masih hidup dan tidak pula merendahkan mereka sesudah mereka wafat. Tetapi hendaklah ia menganjurkan belajar dari mereka dan membaca kitab-kitabnya.

11. Mempersiapkan dan menempuh langkah-langkah penafsiran secara baik, seperti memulai dengan menyebutkan asbabun nuzul, arti kosa kata, menerangkan susunan kalimat, menjelaskan segi-segi balaaghah dan i’rab yang padanya bergantung penentuan makna. Kemudian menjelaskan makna umum dan menghubungkannya dengan kehidupan umum yang sedang dialami umat manusia pada masa itu dan kemudian mengambil kesimpulan dan hukum.

Adapun mengambil korelasi dan pertautan antara ayat-ayat maka yang demikian bergantung pada susunan kalimat dan konteks.

&

Adab Buang Air Besar

2 Des

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

1. Tiada membawa barang yang memuat nama Allah kecuali bila dikhawatirkan akan hilang atau tempat menyimpan barang berharga berdasarkan hadits Anas ra.: Bahwa Rasulullah saw. memakai cincin yang memuat ukiran “Muhammad Rasulullah.” Dan jika ia masuk kakus maka ditanggalkannya.” (Diriwayatkan yang berempat)
Berkata Hafidh mengenai hadits ini bahwa ia ma’lul artinya bercacat, sedang Abu Dawud mengatakan munkar. Bagian pertama dari hadits adalah shahih dan benar.

2. Menjauhkan dan menyembunyikan diri dari manusia terutama di waktu buang air besar, agar tidak terdengar suaranya atau tercium baunya, berdasarkan hadits Jabir ra, katanya: “Kami bepergian dengan Rasulullah saw. pada suatu perjalanan. Maka beliau tidak buang air besar kecuali bila telah luput dari pandangan.” (HR Ibnu Majah)
Dan menurut riwayat Abu Dawud: “Maka bila beliau bermaksud hendak buang air besar, beliau pun pergi jauh-jauh hingga tidak kelihatan oleh seorang pun.” Juga menurut riwayatnya: “Bahwa Nabi saw. bila mencari tempat buang air, beliau pergi jauh-jauh.”

3. Membaca basmalah dan isti’adzah secara jahar di waktu hendak masuk kakus, dan ketika hendak mengangkat kain bila di lapangan terbuka, berdasarkan hadits Anas ra: “Bila Nabi saw. hendak masuk kakus, beliau membaca: ‘BismillaaH, allaaHumma innii a-‘uudzubika minal-khubutsi wal-khabaa-its.’ (Dengan nama Allah, ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan, baik yang laki-laki maupun yang perempuan) (diriwayatkan oleh jamaah)

4. Menghindarkan bicara sama sekali, baik berupa dzikir ataupun lainnya. Maka tidak perlu menyahuti ucapan salam atau adzan. Dikecualikan bila perlu sekali, seperti memperingatkan orang buta yang dikhawatirkan akan jatuh. Jika sementara itu ia bersin, hendaklah memuji Allah dalam hati tanpa menggerakkan lidah, berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar ra: “Bahwa seorang laki-laki lewat pada Nabi saw. yang ketika itu sedang buang air kecil. Orang itu memberi salam kepadanya tapi tiada disahut oleh Nabi.” (HR Jamaah kecuali Bukhari)

Dan dari Abu Sa’id ra. katanya: Sabda Nabi saw: “Janganlah keluar dua orang laki-laki pergi ke kakus sambil membuka aurat dan bercakap-cakap, karena Allah akan mengutuk demikian itu.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Pada lahirnya hadits tersebut menyatakan diharamkannya berkata-kata, tetapi ijma’ mengalihkan larangan dari haram kepada makruh.

5. Hendaklah menghargai kiblat, hingga ia tidak menghadap kepadanya atau membelakanginya. Dasarnya ialah hadits Abu Hurairah ra: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Bila salah seorang di antaramu duduk dengan maksud hendak buang hajat, janganlah ia menghadap kiblat atau membelakanginya.” (HR Ahmad dan Muslim)

Larangan tersebut diartikan sebagai makruh, berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar ra.: “Pada suatu hari saya naik ke rumah Hafshah, maka tampak olehku Nabi saw. sedang buang hajaat sambil menghadap ke Syam dan membelakangi Ka’bah.” (HR Jama’ah)

Atau kedua keterangan tersebut dapat dihimpun atau dikompromikan dengan mengatakan bahwa larangan haram itu berlaku di padang terbuka, seang dalam bangunan-bangunan dibolehkan (cara ini lebih tepat dari sebelumnya).

Dari Marwah al-Ashghar, katanya: saya lihat Ibnu ‘Umar menghentikan kendaraannya ke arah kiblat dan buang air kecil ke arah itu. Maka kataku kepadanya: “Hai Abu ‘Abdurrahman. Bukankah itu terlarang?” “Memang,” ujarnya, “Tetapi ini hanya dilarang di lapangan terbuka. Maka jika di antaramu dengan kiblat ada penghalang, tidak menjadi apa.” (HR Abu Daud, Ibnu Khuzaimah dan Hakim. Isnadnya hasan sebagaimana tertera dalam al-Fat-h)

6. Agar mencari tempat yang lunak dan kerendahan untuk menjaga agar tidak kena najis, berdasarkan hadits Abu Musa ra: Rasulullah saw. pergi ke tempat yang rendah di sisi pagar lalu buang air kecil. Dan sabdanya: “Jika salah seorang di antara kalian buang air kecil hendaknya ia memilih tempat buat itu.” (Riwayat Ahmad dan Abu Dawud. Dan hadits ini meskipun padanya ada orang yang tidak dikenal, tetapi artinya shahih atau benar)

7. Agar menghindari lubang supaya tiada menyakiti hewan-hewan yang mungkin ada di sana, karena hadits Qatadah dari ‘Abdullah bin Sarjis: Nabi saw. telah melarang kencing pada lubang. Tanya mereka pada Qatadah: “Kenapa dilarang kencing di lubang?” jawabnya: “Karena itu adalah tempat kediaman jin.” (HR Ahmad, Nasa’i, Abu Dawud, Hakim dan Baihaqi serta dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Sakkin).

8. Hendaklah menjauhi tempat orang bernaung, jalanan dan tempat pertemuan mereka, karena hadits Abu Hurairah ra.: Bahwa Nabi saw. bersabda: “Hindarkan menjadi kutukan orang-orang.” Ujar mereka: “Siapakah yang dimaksud dengan demikian ya Rasulallah?” Jawab Nabi: “Ialah yang buang air di jalanan atau tempat bernaung manusia.” (HR Ahmad, Muslim dan Abu Dawud)

9. Tiada buang air kecil di tempat mandi, di air tergenang atau air mengalir, karena hadits ‘Abdullah ibnul Mughaffal ra: Bahwa Nabi saw. bersabda: “Janganlah seorang kamu buang air kecil di tempat mandinya, kemudian ia berwudlu di sana. Karena pada umumnya waswas atau godaan itu berasal dari sana.” (HR Yang berlima, tetapi kalimat “Kemudian ia berwudlu di sana” hanya terdapat dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud saja.)

Dan dari Jabir ra: Bahwa Nabi saw. melarang buang air kecil pada air yang tergenang. (HR Ahmad, Muslim, Nasa-i dan Ibnu Majah)
Juga darinya: “Bahwa Nabi saw. melarang buang air kecil pada air yang mengalir.” Menurut buku Majma’uz Zawaid, hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dan para perawinya dapat dipercaya.
Seandainya di tempat mencuci dan seperti di riol, maka tidak dilarang buang air kecil disana.

10. Tidak kencing sewaktu berdiri, karena bertentangan dengan kesopanan dan adat yang baik, juga untuk menghindarkan percikannya. Seandainya percikan itu dapat terpelihara maka tak ada halangannya.

Berkata ‘Aisyah ra: “Siapa yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. buang air kecil sambil berdiri, janganlah dipercaya. Beliau tidak pernah buang air kecil kecuali sambil duduk.” (HR Yang Berlima kecuali Abu Dawud. Menurut Turmudzi hadits ini merupakan hadits terbaik dalam masalah ini dan paling shahih).

Ucapan ‘Aisyah tersebut adalah berdasarkan apa yang diketahuinya, maka tidaklah bertentangan dengan apa yang diriwayatkan oleh Hudzaifah ra: Bahwa Nabi saw. sampai ke sebuah kaki bukit kepunyaan suatu kaum, lalu buang air kecil sambil berdiri. Aku pun pergi menjauh, tetapi Nabi mengatakan: “Marilah kesini.” Maka akupun mendekat hingga berdiri dekat tumitnya, kulihat Nabi berwudlu dan menyapu kedua sepatunya. (HR Jama’ah)

Berkata Nawawi: “Kencing sambil duduk lebih aku sukai, tetapi jika berdiri diperbolehkan, kedua-duanya sama-sama ada dasarnya dari Rasulullah saw.”

11. Wajib menghilangkan najis yang terdapat pada kedua jalan, baik dengan batu maupun yang menyamainya, berupa benda beku yang suci dan dapat melenyapkan najis serta tidak dihormati, atau mencucinya dengan air saja, atau dengan keduanya. berdasarkan hadits ‘Aisyah ra: Bahwa Nabi saw. bersabda: “Bila salah seorang di antaramu pergi buang air, hendaklah ia beristinja’ [bersuci] dengan tiga buah batu, karena demikian itu cukuplah untuknya.” (HR Ahmad, Nasa’i, Abu Dawud dan Daruquthni)

Dan dari Anas ra: Ketika Rasulullah saw. masuk kakus, maka aku bersama seorang anak yang sebaya denganku membawakan setimba kecil air dengan gayung, maka beliau pun bersuci dengan air. (disepakati oleh para ahli hadits)

Dan dari Ibnu ‘Abbas ra: Bahwa Nabi saw. lewat pada dua buah kubur, sabdanya: “Kedua mereka sedang disiksa, dan siksaan itu bukanlah disebabkan pekerjaan berat. Salah seorang di antaranya ialah karena tidak bersuci dari kencingnya sedang yang lain ialah pergi mengadu domba.” (HR Jama’ah)

Juga dari Anas ra. secara marfu’: “Bersucilah dari kencing karena pada umumnya semua siksa kubur berpangkal padanya.”

12. Tidak bersuci dengan tangan kanan demi menjaga kebersihannya dari menyentuh kotoran. Dasarnya hadits ‘Abdurrahman bin Zaid: Dikatakan orang pada Salman: “Nabimu telah mengajarimu segala sesuatu sampai soal kotoran.” Ujar Salman: “Memang, kami dilarang menghadap kiblat di waktu buang air besar atau buang air kecil, atau bersuci dengan tangan kanan (larangan ini berarti larangan demi pendidikan dan kesucian— Sayyid Sabiq) atau bersuci dengan batu yang banyaknya tidak cukup tiga buah, atau bersuci dengan barang najis atau tulang.” (HR Muslim, Abu Dawud dan Turmudzi)

Dan dari Hafshah ra: Bahwa Nabi saw. selalu menggunakan tangan kanannya untuk makan, minum, berpakaian, memberi dan menerima, serta tangan kirinya untuk yang selain itu.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hiban, Hakim dan Baihaqi)

13. Supaya menggosok tangan dengan tanah setelah bersuci, agar mencucinya dengan sabun dan yang sepadan dengan itu, agar hilang bau busuk yang melekat disana, berdasarkan hadits Abu Hurairah ra. katanya: Bila Nabi saw. pergi ke kakus, kubawakan padanya air dengan bejana yang terbuat dari tembaga atau kulit, maka beliaupun bersuci lalu menyapu kedua tangannya ke tanah.” (HR Abu Dawud, Nasa-i, Baihaqi dan Ibnu Majah)

14. Agar memerciki kemaluan dan celananya dengan air bila kencing, guna melenyapkan was-was dari dalam hati. Hingga nanti kedapatan basah, maka ia akan mempunyai alasan bahwa itu adalah bekas percikan tadi. Hal ini berdasarkan hadits Hakam bin Sufyan atau Sufyan bin Hakam ra: “Adalah Nabi saw. buang air kecil, ia berwudlu dan melakukan pemercikan.” Dan pada suatu riwayat: “Saya lihat Rasulullah saw. buang air kecil, kemudian memerciki kemaluannya dengan air.” Dan Ibnu ‘Umar menyiram kemaluannya hingga celananya menjadi basah.

15. Mendahulukan kaki kiri waktu hendak masuk kamar kecil, kemudian bila keluar melangkah dengan kaki kanan, lalu hendalah mengucapkan “ghufraanaka” artinya: “Aku memohon ampunan-Mu”

Dari ‘Aisyah ra: “Bahwa Nabi saw. bila keluar dari kakus mencucapkan: ghufraanaka.” (Diriwayatkan oleh Yang berlima kecuali Nasa’i)
Dan hadits ‘Aisyah ini adalah hadits yang paling sah mengenai masalah ini, sebagaimana diakui oleh Abu Hatim.

Dan diriwayatkan dari berbagai jalan yang dlaif atau lemah,: Bahwa Nabi saw. mengucapkan “alhamdu lillaaHil ladzii adzHaba ‘annil-adzaa wa ‘aafaanii.” (segala puji bagi Allah yang telah melenyapkan daripadaku penyakit dan yang telah menyehatkan aku), begitu juga ucapannya “alhamdu lillaaHil ladzii adzaaqanii ladzdzataHu wa abqaa fiyya quwwata wa adz-Habi ‘annii adzaaHu” (segala puji bagi Allah yuang telah merasakan kepadaku kelezatannya, meninggalkan kepadaku kekuatannya dan melenyapkan dariku penyakitnya)

&

Adab Membaca Al-Qur’an

20 Nov

· Adab membaca Al Quran

  • Membaca ta’awwudz sebelum membaca Al Quran: 16:98
  • Orang berhadas menyentuh Al Quran: 56:79
  • Khusuk saat mendengar Al Quran: 7:204, 8:2, 17:107, 17:109, 25:73, 32:15, 39:23, 46:29, 57:16, 59:21, 94:7
  • Menghayati bacaan Al Quran: 4:82, 18:54, 23:68, 25:73, 47:24, 59:21, 73:4
  • Menangis saat membaca atau mendengar Al Quran: 5:83, 53:60
  • Memperindah suara bacaan Al Quran: 73:4
  • Membaca Al Quran dengan suara keras: 17:110
  • Selalu mengingat dan membaca Al Quran: 33:34
  • Membaca Al Quran di malam hari: 3:113, 52:49
  • Lupa hafalan Al Quran (sebagian atau seluruhnya): 87:7
  • Berbuat sesuai dengan Al Quran: 2:121, 3:7, 3:31, 36:11, 43:43

Adab Penuntut Hadits

24 Sep

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Pendahuluan.
Yang dimaksud dengan adab penuntut hadits adalah sifat-sifat yang memang harus dimiliki para penuntut hadits, berupa adab yang tinggi dan akhlak yang mulia, sesuai dengan mulianya ilmu yang tengah dituntut, yaitu hadits Rasulullah saw. Di antara adab-adab tersebut ada yang bersekutu dengan adab bagi muhaddits, ada juga yang khusus bagi penuntut hadits.

2. Adab yang bersekutu dengan adab muhaddits
a. Meluruskan niat dan ikhlas hanya kepada Allah swt. dalam menuntut hadits.
b. Bersikap hati-hati terhadap tujuannya menuntut hadits yang bisa menghantarkannya pada motif-motif keduniawian. Abu Dawud dan Ibnu Majah telah mengeluarkan hadits dari Abu Hurairah, yang berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menuntut ilmu yang dianjurkan oleh Allah swt, dan ia tidak mempelajarinya melainkan untuk meraih keduniawian, maka pada hari kiamat tidak akan memperoleh harumnya wangi surga.”
c. Mengamalkan hadits-hadits yang didengarnya.

3. Adab yang berlaku khusus bagi Muhaddits
a. Senantiasa meminta taufik, arahan, kemudahan dan pertolongan Allah swt. dalam hal hafalan hadits dan pemahamannya.
b. Selalu memperhatikan hadits secara komprehesif dan mengerahkan seluruh upaya untuk meraihnya.
c. Memulai dengan mendengar dari guru yang paling utama di negerinya, baik dalam hal sanad, ilmu maupun agamanya.
d. Memuliakan gurunya dan orang-orang yang mendengarnya dan senantiasa menghormatinya. Itu karena tinggi ilmu dan sebab-sebab diraihnya manfaat, berupaya memperoleh keridlaan dan bersabar atas kekurangan, itu pun jika ada.
e. Menunjuki kawan-kawan dan orang-orang terdekat dalam rangka memperoleh sesuatu yang bermanfaat, tidak menyembunyikannya terhadap mereka. Karena menutup-nutupi manfaat ilmu merupakan cacat yang bisa menutupi kebodohan. Apalagi, tujuan menuntut ilmu ini adalah untuk menyebarluaskannya.
f. Sifat malu dan sombong hendaknya tidak menghalanginya untuk terus mendengar dan mendapatkan sesuatu serta memperoleh ilmu, meski berasal dari orang yang lebih muda atau kedudukannya lebih rendah.
g. Tidak berpuas diri hanya dengan mendengar dan mencatat hadits tanpa mengetahui dan memahaminya. Maka ia mesti rela melelahkan dirinya tanpa mengenal waktu.
h. Dalam hal mendengar, menghafal dan memahami, hendaknya mendahulukan kitab shahihain, kemudian Sunan Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, lalu Sunan al-Kubranya Baihaqi. Setelah itu bersandar pada kitab-kitab musnad dan jawami’. Seperti Musnad dan jawami’, seperti Musnad Imam Ahmad, al-Muwaththa-nya Imam Malik, termasuk kitab-kitab ‘ilal, seperti ‘ilalnya Daruquthni. Sedangkan dari kitab-kitab yang memuat nama-nama perawi adalah Tarikh al-Kabirnya Imam Bukhari, begitu juga Jarh wa Ta’dilnya Ibnu Abi Hatim; Dlabthu al-Asmanya Ibnu Makula; sedangkan yang menyangkut hadits gharib adalah kitab an-Nihayahahnya Ibnu Atsir.

&

Adab Istri Kepada Suami

11 Jul

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Hadits

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk tidur bersama, kemudian istrinya tidak mau memenuhi ajakannya dan membuat suami itu bermalam dalam keadaan marah terhadap istrinya, maka istri itu dilaknat oleh malaikat sampai waktu pagi.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Sampai istri itu mendatangi suaminya.”

Haram seorang istri puasa sunnah tanpa izin suaminya bila suami berada di rumah:
Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Tidak halal bagi seorang istri mengerjakan puasa sunnah sedangkan suaminya berada di rumah, kecuali atas izinnya. Dan istri tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke rumahnya, kecuali mendapat izin suaminya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Larangan Menyebut Keindahan Perempuan di hadapan suami:
Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah seorang perempuan bergaul dengan perempuan lain, kemudian menceritakan perempuan lain itu kepada suaminya, sehingga seakan-akan suaminya melihat perempuan yang diceritakan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Tata Cara Minum dan Sunnahnya

23 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Anas ra. ia berkata: “Apabila Rasulullah saw. minum, beliau bernafas tiga kali di luar bejana.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian minum sekaligus seperti minumnya onta. Tetapi minumlah dengan dua atau tiga kali nafas. Bacalah basmalah sewaktu kalian mulai minum dan bacalah hamdalah sehabis minum.” (HR Tirmdzi)

Dari Abu Qatadah ra. ia berkata: “Nabi saw. melarang untuk bernafas dalam bejana sewaktu minum.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Ketika Rasulullah saw. diberi susu yang dicampur air, waktu itu di sebelah kanannya ada seorang Badui dan di sebelah kirinya ada Abu Bakar ra. Kemudian beliau meminumnya lalu memberikan kapada orang Badui itu, seraya bersabda: “Yang kanan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Sahal bin Sa’ad ra. ia berkata: Rasulullah saw. diberi minuman, maka beliaupun meminumnya. Waktu itu di sebelah kanan beliau ada seorang pemuda (Ibnu Abbas), di sebelah kiri beliau ada orang-orang yang sudah lanjut usia. Kemudian beliau bersabda kepada pemuda itu: “Bolehkah aku memberikan minuman ini kepada orang-orang tua itu?” Pemuda itu menjawab: “Tidak, demi Allah, saya tidak akan memberikan bagianku darimu kepada siapa pun.” Maka Rasulullah saw. memberikan minumannya kepada Ibnu Abbas. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. melarang untuk memecah mulut poci (qirbah) dan sebagainya untuk meminum dari padanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Rasulullah saw. melarang minum langsung dari mulut tempat air atau qirbah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ummu Tsabit Kabsyah binti Tsabit, saudara Hasan bin Tsabit ra. ia berkata: “Rasulullah saw. masuk ke rumah saya, kemudian beliau minum dengan berdiri pada mulut qirbah yang tergantung, maka saya berdiri dan mulut qirbah itu saya patahkan.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Nabi saw. melarang meniup minuman. Ada seseorang yang bertanya: “Bagaimana jika saya melihat ada kotoran pada bejana tempat minuman itu?” Beliau menjawab: “Buanglah minuman yang terkena kotoran itu.” Ia bertanya lagi: “Sesungguhnya saya tidak akan puas hanya satu teguk saja.” beliau bersabda: “Kalau begitu jauhkanlah gelas dari mulutmu.” (HR Tirmidzi)

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: “Nabi saw. melarang bernafas dalam bejana tempat minum atau meniupnya.” (HR Tirmidzi)

Boleh minum dengan berdiri, tetapi lebih utama duduk. Sebagaimana diterangkan dalam beberapa hadits berikut ini:

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata:”Saya pernah memberi Nabi saw. air dari sumur Zamzam, kemudian beliau meminumnya dengan berdiri.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari an-Nazzal bin Sabrah ia berkata: Ali ra. masuk ke pintu gerbang masjid kemudian ia minum sambil berdiri, dan berkata: “Sesungguhnya saya pernah melihat Rasulullah saw. berbuat sebagaimana yang kalian lihat sekarang [minum dengan berdiri].” (HR Bukhari)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Pada masa Rasulullah saw. kami pernah makan dengan berjalan, dan minum dengan berdiri.” (HR Tirmidzi)

Dari Amr binn Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya ra. ia berkata: “Saya pernah melihat Rasulullah saw. minum dengan berdiri, dan pernah pula dengan duduk.” (HR Tirmidzi)

Dari Anas ra. dari Nabi saw: beliau melarang seseorang minum dengan berdiri. Qatadah bertanya kepada Anas: “Bagaimana kalau makan?” Anas menjawab: “Makan dengan berdiri itu lebih jelek dan lebih buruk.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah sekali-sekali salah seorang di antara kalian minum dengan berdiri. Siapa saja yang lupa hendaklah memuntahkannya.” (HR Muslim)

Sunnah minum terakhir bagi orang yang melayani minum orang banyak, sebagaimana diterangkan hadits berikut ini. Dari Abu Qatadah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Orang yang melayani minum orang banyak, hendaknya ia paling akhir minum di antara mereka. Maksudnya ia adalah orang yang paling akhir minumnya.” (HR Tirmidzi)