Tag Archives: akhlak muslim

Adab (Tata Cara) Minta Izin

2 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits Bukhari-Muslim

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu, sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (an-Nuur: 27)

Allah berfirman: “Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin.” (an-Nuur: 29)

Dari Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Minta izin itu sampai tiga kali. Apabila diizinkan maka masuklah kamu dan apabila tidak diizinkan maka pulanglah kamu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Sahal bin Sa’ad ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya minta izin itu dijadikan ketentuan karena untuk menjaga pandangan mata.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Rabi’iy bin Hirasy ia berkata: “Seseorang dari bani ‘Amir menceritakan kepada kami sewaktu ia minta izin untuk masuk ke rumah Nabi saw. dan waktu itu beliau berada di dalam rumah. Orang itu mengucapkan: “Bolehkah saya masuk?” Kemudian Rasulullah saw. bersabda kepada pelayannya: “Keluarlah dan ajarkanlah kepada orang itu tentang tata cara meminta izin, katakanlah kepadanya: “Ucapkanlah Assalaamu ‘alaikum, bolehkah saya masuk?” Orang itu mendengar apa yang disabdakan oleh Nabi, maka ia mengucapkan: “Assalaamu ‘alaikum, bolehkah saya masuk?” Kemudian Nabi saw. memberi izin kepadanya, dan ia pun terus masuk.” (HR Abu Dawud)

Dari Kildah bin Hanbal ra. ia berkata: Saya datang ke rumah Nabi saw. dan langsung masuk tanpa mengucapkan salam, kemudian Nabi saw. bersabda: “Kembalilah, dan ucapkanlah: assalaamu ‘alaikum, bolehkah saya masuk?” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Adab Memberi Salam

2 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadit-hadist Bukhari-Muslim

Bagi orang yang memberi salam disunnahkan untuk mengucapkan: assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaaHi wa barakaatuH (“Kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah semoga dilimpahkan kepadamu”) walaupun orang-orang yang diberi salam hanya seorang. Dan bagi orang yang menjawab salam disunnahkan untuk mengucapkan: wa ‘alaikumus salaam wa rahmatullaaHi wa barakaatuH (“Dan kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah semoga dilimpahkan atas kamu pula.”), dengan menggunakan “wawu ‘athaf” pada ucapan “wa ‘alaikum.”

Dari Imran bin al-Hushain ra. ia berkata: ada seorang yang datang kepada Nabi saw. dan mengucapkan: “Assalaamu ‘alaikum.” Maka salam itu dijawab oleh beliau, dan ia duduk. Kemudian beliau bersabda: “Sepuluh.” Sesudah itu datang lagi seseorang dan mengucapkan: “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaaH.” Salam itu dijawab oleh beliau dan ia duduk, kemudian beliau bersabda: “Dua puluh.” Sesudah itu datang lagi seorang dan mengucapkan salam: “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaaHi wa barakaatuH.” Salam dijawab oleh beliau dan ia duduk lalu beliau bersabda: “Tiga puluh.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada saya: “Ini Jibril menyampaikan salam untuk kamu.” Maka saya menjawab: “Wa ‘alaikumus salaam wa rahmatullaHi wa barakaatuH.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. bahwasannya apabila Nabi saw. mengatakan suatu perkataan, beliau mengulanginya tiga kali, sehingga benar-benar dapat dipahami. Dan apabila beliau mendatangi suatu kaum maka beliau mengucapkan salam kepada mereka sampai tiga kali.” (HR Bukhari)

Dari Miqdad ra. di dalam haditsnya yang panjang ia berkata: “Kami biasa menyediakan susu yang menjadi bagian Nabi saw. Apabila beliau datang pada malam hari, beliau mengucapkan salam yang tidak sampai membangunkan orang tidur, tetapi dapat didengar oleh orang yang jaga. Nabi biasa datang dan mengucapkan salam sebagaimana biasanya.”

Dari Asma’ binti Yazid ra. bahwasannya pada suatu hari Rasulullah saw. melewati sekelompok wanita yang sedang duduk di masjid, maka beliau melambaikan tangan dan mengucapkan salam.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Juray al Juhamiy ra. ia berkata: Saya datang kepada Rasulullah saw. dan mengucapkan: “Alaikas salaamu yaa RasuulallaaH.” Beliau menjawab: “Janganlah engkau mengucapkan: alaikas salaam, karena sesungguhnya ucapan itu adalah salam untuk orang yang sudah meninggal.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang naik kendaraan memberi salam kepada yang berjalan, orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk, orang yang sedikit memberi salam kepada orang yang banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan di dalam riwayat Bukhari dikatakan: “Yang kecil [muda] mengucapkan salam kepada yang besar [tua].”

Dari Abu Ummah Muday bin Ajlan al-Bahiliy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya seutama-utama manusia menurut Allah adalah orang yang lebih dulu memberi salam.” (HR Abu Dawud)
Diriwayatkan pula oleh Turmudzi dari Abu Umamah: Ada seorang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ada dua orang yang saling bertemu, maka siapakah yang terlebih dahulu harus memberi salam?” Beliau menjawab: “Orang yang lebih utama menurut Allah Ta’ala.”

Dari Abu Hurairah ra. ketika menceritakan orang yang salah shalatnya, dimana ia datang dan shalat, kemudian datang kepada Nabi saw. dan mengucapkan salam, maka beliau menjawab salamnya, kemudian bersabda: “Kembalilah kamu dan shalatlah karena sesungguhnya kamu belum shalat.” Maka ia pun kembali dan shalat lagi, kemudian datang dan mengucapkan salam kepada Nabi. Ia berbuat demikian sampai tiga kali.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian bertemu dengan saudaranya, maka hendaklah mengucapkan salam kepadanya. Dan seandainya di antara keduanya terpisah oleh pohon, dinding atau batu, kemudian bertemu lagi maka hendaklah ia mengucapkan salam lagi.” (HR Abu Dawud)

Allah berfirman: “Maka apabila kamu memasuki [sesuatu rumah dari] rumah-rumah [ini] hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya, salam yang ditetapkan di sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (An-Nuur: 61)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Hai anakku, apabila kamu datang kepada keluargamu maka ucapkanlah salam, niscaya kamu dan keluargamu mendapat berkah.” (HR Turmudzi)

Dari Anas ra. bahwasannya ia berjalan melewati anak-anak, kemudian ia mengucapkan salam untuk mereka, serta berkata: “Rasulullah saw. biasa melakukan hal yang demikian ini.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Sahl bin Sa’ad ra. ia berkata: “Di tengah-tengah kami ada seorang wanita..” dan di dalam riwayat yang lain dikatakan: “Ada seorang wanita tua yang biasa mencari rempah-rempah kemudian dimasak dalam kuali dan dicampur dengan gandum. Apabila kami selesai shalat Jum’at maka kami datang ke tempatnya dan memberi salam kepadanya, kemudian ia menghidangkan masakan itu kepada kami.” (HR Bukhari)

Dari Ummu Hani’ Fakhitah binti Abi Thalib ra. ia berkata: “Saya mendatangi Nabi saw. pada hari penaklukan kota Makkah dimana pada waktu itu beliau sedang mandi dengan ditutupi kain oleh Fatimah, kemudian saya mengucapkan salam.” (HR Muslim)

Dari Asma’ binti Yazid ra. ia berkata: “Nabi saw. berjalan melewati sekelompok wanita kemudian beliau mengucapkan salam kepada kami.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu sekalian memulai lebih dulu mengucapkan salam kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Apabila kamu sekalian bertemu dengan salah satu di antara mereka di tengah jalan, maka berusahalah agar ia menuju tempat yang sempit [pinggiran jalan].” (HR Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila ahli kitab mengucapkan salam kepadamu sekalian maka jawablah: “Wa ‘alaikum.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Usamah ra. bahwasannya Nabi saw. berjalan melewati majelis yang di dalamnya terdapat orang-orang Islam, orang-orang musyrik yang menyembah berhala, serta orang-orang Yahudi, kemudian Nabi saw. mengucapkan salam kepada mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian sampai pada suatu majelis, maka hendaklah ia mengucapkan salam. Tidaklah yang pertama ia berhak daripada yang terakhir.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Menyebarkan Salam

2 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an; hadits-hadits Bukhari Muslim

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (an-Nuur: 27)

Allah berfirman: “Maka apabila kamu memasuki [suatu rumah dari] rumah-rumah [ini] hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya, salam yang ditetapkan di sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (An-Nuur: 61)

Allah berfirman: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu salam penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah penghormatan itu [dengan serupa dengannya].” (an-Nisaa’: 86)

Allah berfirman: “Sudahkah sampai kepadamu [Muhammad] cerita tamu Ibrahim [malaikat-malaikat] yang dimuliakan? [ingatlah] ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun,” Ibrahim menjawab: “Salaamun.” (adz-Dzaariyaat: 24-25)

Dari Abdullah bin Amir bin Ash. Bahwasannya ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Bagaimana Islam yang baik itu?” Beliau menjawab: “Yaitu kamu memberi makanan, dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan kepada orang yang belum kamu kenal.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tatkala Allah meciptakan Adam as. Allah berfirman kepadanya: ‘Pergilah dan ucapkan salam kepada para malaikat yang sedang duduk itu, kemudian dengarkanlan jawaban mereka kepadamu, karena sesungguhnya jawaban itu merupakan penghormatan bagimu dan penghormatan bagi anak cucumu.’ Maka Adam mengucapkan: ‘Assalaamu ‘alaikum.’ Mereka menjawab: ‘Assalaamu ‘alaika wa rahmatullaaH.’ Mereka memberi tambahan dengan: ‘wa rahmatullah.’” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ubadah al-Barra’ bin ‘Azib ra. ia berkata: Rasulullah saw. menyuruh kami untuk mengerjakan tujuh perbuatan, yaitu menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang yang bersin, menolong orang yang lemah, membantu orang yang teraniaya, menyebar luaskan salam dan menepati sumpah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum kamu beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum kamu saling mencintai. Maukah kamu sekalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu mengerjakannya maka kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kamu sekalian.” (HR Muslim)

Dari Abu Yusuf (Abdullah) bin Salam ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah makanan, hubungkanlah tali persaudaraan, dan salatlah pada waktu manusia sedang tidur, niscaya kamu sekalian masuk surga dengan selamat.” (HR Turmudzi)

Dari Tufail bin Ubay bin Ka’ab bahwasannya ia datang ke tempat Abdullah bin Umar, kemudian mereka pergi bersama-sama ke pasar. Thufail berkata: “Ketika kami pergi bersama-sama ke pasar setiap melewati tukang rombeng, orang yang menjual dagangannya, orang miskin, bahkan melewati siapa saja, ia pasti mengucapkan salam kepadanya.” Thufail berkata: “Pada suatu hari saya datang ke tempat Abdullah bin Umar kemudian ia mengajak saya ke pasar, maka saya berkata kepadanya: “Apa yang akan kamu lakukan di pasar nanti, karena kamu tidak akan membeli sesuatu, tidak akan mencari sesuatu, tidak akan menawar sesuatu, dan tidak akan duduk di pasar? Lebih baik kita duduk-duduk di sini dan berbincang-bincang saja.” Abdullah menjawab: “Wahai Abu Bathn [disebut demikian karena Thufail mempunyai perut yang besar] kita pergi ke pasar untuk menyebarluaskan salam. Kita mengucapkan salam kepada siapa saja yang kita jumpai.” (HR Malik)

Adab duduk

2 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits; Bukhari-Muslim

Dari Abdullah bin Yazid ra. bahwasannya ia melihat Rasulullah saw. terlentang di masjid dengan meletakkan salah satu dari kedua kakinya pada kaki yang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Jabir bin Samurah ra. ia berkata: “Apabila Nabi saw. telah selesai shalat shubuh, maka beliau duduk bersila dengan baiknya sampai matahari terbit.” (HR Abu Dawud)

Dari Ibnu Samurah ra. ia berkata: “Saya melihat Rasulullah saw. berada di halaman Ka’bah sedang duduk mendekapkan lutut dengan kedua tangannya begini.” Ia menggambarkan cara duduk itu dengan kedua tangannya. (HR Bukhari)

Dari Ibnu Umar ra. Ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah sekali-sekali salah seorang di antara kamu sekalian membangkitkan seseorang dari tempat duduknya, kemudian ia duduk pada tempatnya itu, tetapi hendaklah kamu sekalian memperluas untuk member tempat.” Dan bagi Ibnu Umar, apabila ada seseorang bangkit dari tempat duduknya dan Ibnu Umar dipersilakan duduk di tempat itu, maka ia tidak mau duduk di tempat itu. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang dari kamu sekalian bangkit dari tempat duduknya kemudian ia kembali lagi, maka ia adalah orang yang paling berhak untuk menempati tempat itu.” (HR Muslim)

Dari Jabir bin Samurah ra. Ia berkata: “Apabila kami datang kepada Nabi saw. maka salah seorang di antara kami duduk dimana ia sampai.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Abdullah (Salman) al-Farisiy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada seorangpun yang mandi pada hari Jum’at, kemudian bersuci dengan sempurna dan memakai minyak atau memakai harum-haruman yang ada di rumahnya, kemudian pergi ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang yang sudah duduk lebih dulu, kemudian shalat sebagaiamana yang telah ditentukan, serta memperhatikan imam yang sedang berkhutbah, melainkan diampuni dosa-dosanya yang diperbuat antara hari itu sampai Jum’aat berikutnya.” (HR Bukhari)

Dari Amr bin Sya’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Seseorang tidak diperbolehkan memisahkan antara dua orang (yang sudah duduk lebih dulu) kecuali dengan izin keduanya.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Dalam riwayat Abu Dawud: “Tidak boleh seorang duduk di antara dua orang, kecuali dengan izin keduanya.”

Dari Hudzaifah bin al-Yaman ra. bahwasannya Rasulullah saw. mengutuk orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis. (HR Abu Dawud)

Dari Abu Mijlaz, bahwasannya ada seseorang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis, kemudiian Hudzaifah berkata: “Allah mengutuk orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis melalui lisan Muhammad saw.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik majelis adalah majelis yang lapang.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang duduk dalam suatu majelis dan ia banyak bercakap-cakap, kemudian sebelum bangkit untuk meninggalkan majelis itu ia membaca: subhaanakallaaHumma wa bihamdika asy-Hadu allaa IlaaHa illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Engkau, saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu) melainkan diampuni dosa yang diperbuatnya selama ia duduk di dalam majelis itu.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Barzah ra. ia berkata: Apabila Rasulullah saw. hendak bangkit untuk meninggalkan suatu majelis, maka ucapan yang paling akhir diucapkannya adalah: subhaanakallaaHumma wa bihamdika asy-Hadu allaa IlaaHa illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Engkau, saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu). Maka ada seseorang berkata: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya Engkau mengucapkan suatu ucapan yang tidak biasa engkau baca pada waktu-waktu sebelumnya.” Beliau bersabda: “Ucapan itu sebagai kaffarat (pelebur) atas dosa yang diperbuat selama dalam majelis.” (HR Abu Dawud, dan diriwayatkan juga oleh al-Hakim Abu Abdullah dari ‘Aisyah ra.)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Jarang sekali Rasulullah saw. bangkit dari suatu majelis sebelum membaca doa-doa ini: allaaHummaqsim lanaa min khasy-yatika maa tahuulu biHi bainanaa wa baina ma’shiyatika wa min thaa-‘atika maa tuballighunaa biHi jannataka wa minal yaqiini maa tuHawwinu biHi ‘alainaa mashaa-ibad dun-yaa. allaaHuma matti’naa bi asmaa’inaa wa abshaarinaa wa quwwatinaa maa ahyaitanaa waj’alHul waritsa minnaa waj’al tsa’ranaa ‘alaa man dhalamanaa wanshurnaa ‘alaa man ‘aadaanaa wa laa taj’al mushiibatanaa fii diininaa wa laa taj’alid dud-yaa akbara Hamminaa wa laa mablagha ‘ilminaa wa laa tusallith ‘alainaa man laa yarhamunaa (Ya Allah, bagikanlah kepada kami dari rasa takut kepada-Mu yaitu rasa yang dapat menghalangi kami dari berbuat maksiat kepada-Mu. Dan bagikanlah rasa takut kepada-Mu, yaitu rasa yang dapat menghantarkan kami ke dalam surga-Mu, serta bagikanlah kami rasa yakin, yaitu raya yang dapat meringankan cobaan dunia yang menimpa kami. Ya Allah puaskanlah kami dengan pendengaran, penglihatan dan kekuatan kami selama Engkau masih memberi hidup kepada kami, dan jadikanlah semua itu mewarisi kami [jangan sampai semua itu ditinggalkan sebelum kami meninggal]. Balaslah orang yang berbuat aniaya kepada kami, tolonglah kami dalam menghadapi musuh-musuh kami. Janganlah Engkau menimpakan cobaan dalam agama kami, dan jangan pula Engkau jadikan dunia itu sebagai tujuan utama kami atau sebagai puncak pengetahuan kami; serta janganlah Engkau jadikan orang yang tidak mempunyai rasa belas kasih terhadap kami menjadi pemimpin kami)” (HR Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Suatu kaum yang bangkit dari suatu majelis dimana mereka tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala ketika duduk, maka mereka bangkit bagaikan keledai. Mereka mendapat kerugian yang besar sekali.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Suatu kaum yang duduk di suatu majelis dimana mereka tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala dan tidak pula membaca salawat Nabi mereka maka mereka sungguh mendapatkan kerugian, (tergantung Allah) apakah Ia akan menyiksa mereka atau mengampuni mereka.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Barangsiapa yang duduk dalam suatu tempat duduk kemudian ia tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka ia akan mendapatkan kerugian di hadapan Allah. Dan barangsiapa yang berbaring kemudian ia tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka ia juga mendapat kerugian di hadapan Allah.” (HR Abu Dawud).

Adab Berpakaian

1 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits

Dari Mu’adz bin Anas ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan pakaian mewah karena tawadlu’ (merendahkan diri) kepada Allah padahal ia mampu untuk membelinya, maka kelak pada hari kiamat Allah memanggilnya di hadapan para makhluk, untuk disuruh memilih pakaian iman sekehendaknya untuk dipakainya.” (HR Turmudzi)

Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah suka melihat bekas nikmat-Nya kepada hamba-Nya.” (HR Turmudzi)

Dari Umar bin al-Khaththab ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu sekalian memakai kain sutera, karena sesungguhnya orang yang memakainya di dunia, maka kelak di akhirat ia tidak akan memakainya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Umar bin al-Khaththab ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya orang yang memakai kain sutera (ketika di dunia) adalah orang yang tidak akan mendapat bagian kelak (di akhirat).” (HR Bukhari dan Muslim)
Dan dalam riwayat Bukhari dikatakan: “Orang yang tidak akan mendapat bagian kain sutera kelak di akhirat.”

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang memakai kain sutera di dunia, maka tidak akan memakainya kelak di akhirat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ali ra. ia berkata: Saya melihat Rasulullah saw. memegang kain sutera di tangan kanannya, dan memegang emas di tangan kirinya, kemudian bersabda: “Sesungguhnya kedua benda ini adalah haram bagi umatku yang laki-laki.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Musa al-Asy’ariy ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Diharamkan memakai kain sutera dan emas bagi umatku yang laki-laki, dan dihalalkan bagi umatku yang perempuan.” (HR Turmudzi)

Dari Hudzaifah ra. ia berkata: Nabi saw. telah melarang kami untuk makan dan minum menggunakan bejana emas dan perak, dan juga melarang memakai kain sutera baik yang tipis maupun yang tebal, serta melarang duduk di atasnya.” (HR Bukhari)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. telah memberikan kemudahan kepada Zubair dan Abdurrahman bin ‘Auf ra. untuk memakai kain sutera karena menderita penyakit gatal-gatal.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. apabila memakai baju, sorban, kemeja atau selendang yang baru, maka beliau memberinya nama dan berdoa: “AllaaHumma lakal hamdu anta kasautahiiHi, as-aluka khairaHu wa khaira maa shuni-‘alaHu, wa a-‘uudzu bika min syarriHii wa syarri maa shuni-‘alaHu” (Ya Allah, segala puji bagi-Mu, Engkau yang telah memberiku pakaian. Saya memohon kepada-Mu akan kebaikan pakaian ini dan kebaikan yang dibuat untuknya. Dan saya berlindung diri kepada-Mu akan kejelekan pakaian ini dan kejahatan yang diperbuat untuknya.”) (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Mu’awiyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu sekalian duduk di atas kain sutera dan jangan pula di atas kulit harimau.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Al-Malih dari ayahnya, bahwasannya Rasulullah saw. melarang duduk pada kulit binatang buas. (HR Abu Dawud, Turmudzi dan Nasa’i)
Dan di riwayat Turmudzi dikatakan: “Beliau melarang menghamparkan kulit binatang buas untuk diduduki.”

Haram Menurunkan Pakaian Karena Sombong

1 Mei

Riyadhush shalihin; Imam Nawawi; Hadits-Hadits

Dari Asma’ binti Yazid al-Anshariyah ra. ia berkata: “Lengan kemeja Rasulullah saw. hanya sampai pergelangan tangan.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang menurunkan kainnya di bawah mata kaki karena sombong, maka pada hari kiamat nanti Allah tidak akan melihatnya.” Kemudian Abu Bakar ra. berkata: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya kain saya selalu turun sampai di bawah mata kaki, kecuali apabila saya sangat berhati-hati.” Rasulullah saw. bersabda kepadanya: “Sesungguhnya kamu tidaklah termasuk orang-orang yang berbuat semacam itu karena sombong.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Nanti pada hari kiamat Allah tidak akan melihat orang yang menurunkan kainnya di bawah mata kaki karena sombong.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Kain yang berada di bawah mata kaki, adalah bagian dari api neraka.” (HR Bukhari)

Dari Abu Dzarr ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Ada tiga kelompok manusia yang kelak pada hari kiamat Allah tidak akan mengajak bicara mereka, Allah tidak akan melihat mereka, dan tidak pula mengampuni dosa mereka, dan mereka akan mendapat siksa yang pedih.” Rasulullah mengucapkan kalimat itu tiga kali. Kemudian Abu Dzarr berkata: “Amatlah kecewa dan rugi mereka itu. Siapakah mereka wahai Rasulallah?” Beliau menjawab: “Yaitu orang yang menurunkan kainnya, orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya, dan orang yang menjual barang dagangannya menggunakan sumpah palsu.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Orang yang menurunkan kain, kemeja dan sorbannya; barangsiapa yang memanjangkan sesuatu karena sombong, maka kelak pada hari kiamat Allah tidak akan melihat kepadanya.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)

Dari Abu Jurayz (Jabir) bin Sulaim ra. ia berkata: Saya melihat seseorang yang pendapatnya selalu diikuti oleh orang banyak, apapun yang dikatakannya pasti diikuti mereka.” Saya bertanya: “Siapakah orang itu?” Para shahabat menjawab: “Itu adalah Rasulullah saw?” Saya mengucapkan ‘ALAIKASSALAAM YAA RASUULALLAAH dua kali.” Kemudian beliau bersabda: “Janganlah kamu mengucapkan ‘alaikassalaam, karena ‘alaikassalaam adalah ucapan untuk orang yang telah meninggal. Tetapi ucapkanlah: ASSALAAMU ‘ALAIKUM.” Jabir bertanya: “Benarkah engkau utusan Allah?” Beliau menjawab: “Ya. Aku adalah utusan Allah, zat yang apabila kamu tertimpa suatu musibah kemudian kamu berdoa kepada-Nya, niscaya Dia akan menghilangkan musibah yang menimpa kamu. Apabila kamu tertimpa paceklik kemudian kamu berdoa kepada-Nya, niscaya Dia akan segera menumbuhkan tanaman untuk mu. Apabila kamu berada di tengah gurun pasir atau tanah lapang, kemudian kendaraanmu atau ternakmu hilang lantas kamu berdoa kepada-Nya, niscaya Dia akan mengembalikannya kepadamu.” Jabir berkata kepada beliau: “Berilah saya nasehat.” Beliau bersabda: “Janganlah engkau sekali-kali memaki seseorang.” Jabir berkata: “Maka setelah itu saya tidak pernah memaki orang merdeka, budak, onta dan kambing.” Beliau juga bersabda: “Janganlah kamu sekali-sekali meremehkan suatu kebaikan, dan berkatalah kepada temanmu dengan muka yang manis. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk kebaikan. Dan tinggikanlah kainmu sampai pertengahan betis, dan kalau kamu enggan, maka boleh sampai kedua mata kaki. Janganlah kamu menurunkan kain itu melebihi mata kaki karena itu termasuk perbuatan sombong. Dan sesungguhnya Allah tidak suka terhadap sifat sombong. Dan apabila ada seseorang memaki dan mencela kamu dengan apa yang dia ketahui tentang dirimu, maka janganlah engkau mencelanya dengan apa yang engkau ketahui tentang dirinya. Karena sesungguhnya akibat dari caci maki itu akan kembali kepadanya.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Qais bin Basyiir at-Taghlibi, ia berkata: Ayah yang menjadi teman dekat Abu Darda’ memberitahukan kepadaku dimana ia berkata: “Di Damaskus ada seorang shahabat Nabi saw. yang bernama Ibnu Hanzhaliyah, ia adalah orang yang senang menyendiri, jarang sekali duduk-duduk bersama orang lain, kecuali untuk shalat. Apabila selesai shalat ia terus membaca tasbih dan takbir sehingga pulang ke rumahnya.” Ketika kami berada di tempat Abu Darda’, ia lewat. Maka Abu Darda’ berkata kepadanya: “Sampaikanlah suatu kalimat yang bermanfaat bagi kami dan tidak merugikan kamu.” Ia berkata: “Rasulullah saw. mengutus suatu pasukan, kemudian setelah kembali, salah seorang di antara mereka duduk pada suatu majelis yang mana disitu ada Rasulullah saw. Ia berkata kepada seseorang yang berada di sampingnya: “Bagaimana pendapatmu ketika kami berhadapan dengan musuh, maka seorang dari kami menyerang musuh, dan setelah menikam musuh ia berkata: ‘Rasulullah tikaman diriku, dan aku adalah pemuda Ghifar’?” Orang yang ada di sampingnya berkata: “Menurut pendapatku orang tadi selalu hilang pahalanya.” Orang lain yang mendengar apa yang dikatakannya, ia berkata: “Menurut pendapatku orang itu tidak apa-apa (masih tetap pahalanya).” Maka bertengkarlah kedua orang itu sehingga Rasulullah saw. mendengar kemudian beliau bersabda: “Maha suci Allah, tidak apa-apa ia tetap mendapat pahala dan tetap terpuji.” Saya melihat Abu Darda’ nampak gembira sekali dan mengangkat kepalanya ditujukan kepada Ibnu Hanzhaliyah serta bertanya: “Apakah kamu mendengar sendiri keterangan itu dari Rasulullah saw. ? Ibnu Hanzhaliyah menjawab: “Ya.” Abu Darda’ mengulang-ulang pertanyaan itu sehingga saya berkata: “Ia benar-benar minta berkah kepada kedua lututnya.” Ayah berkata lagi: “Pada saat yang lain ia lewat, maka Abu Darda’ berkata kepadanya: “Sampaikanlah satu kalimat yang bermanfaat untuk kami dan tidak merugikan kamu.” Ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda kepada kami: Orang yang memberi belanja untuk kudanya itu bagaikan orang yang membentangkan tangannya dengan sedekah, ia tidak menggenggamkan tangannya itu.”
Pada saat yang lain ia lewat, maka Abu Darda’ berkata: “Sampaikanlah satu kalimat yang bermanfaat untuk kami dan tidak merugikan kamu.” Ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik orang adalah Khuraim Al-Usaidy, seandainya ia tidak berambut panjang dan tidak menurunkan kainnya sampai di bawah mata kaki.” Setelah berita itu terdengar oleh Khuraim maka ia langsung mengambil pisau untuk memotong rambutnya sampai sebatas kedua telinganya dan menaikkan kainnya sampai ke pertengahan kedua betisnya.”
Pada saat yang lain ia lewat, maka Abu Darda’ berkata: “Sampaikanlah satu kalimat yang bermanfaat untuk kami dan tidak merugikan kamu.” Ia berkata: “ Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya kamu sekalian akan kembali kepada saudara-saudaramu, maka perbaikilah kendaraanmu dan baguskanlah pakaianmu sehingga kamu seolah-olah merupakan tahi lalat yang menjadi hiasan manusia. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang kotor, baik dalam pakaiannya maupun perkataannya.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Pada suatu hari ketika ada seseorang shalat dengan kain yang sampai di bawah mata kaki, maka Rasulullah saw. bersabda: “Pergilah dan berwudlu-lah.” Ia pun pergi dan berwudlu. Maka ada seseorang bertanya: “Wahai Rasulallah, mengapa engkau menyuruh orang itu melakukan wudlu kemudian engkau diamkan?” Beliau bersabda: “Karena ia shalat dengan memakai kain sampai di bawah mata kaki. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima shalat seseorang yang memakai kain sampai di bawah mata kaki.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kain sarung seorang muslim adalah sampai pertengahan betis. Dan tidaklah berdosa jika sampai pada di antara betis dan kedua mata kaki. Sedangkan yang sampai di bawah mata kaki itu adalah bagian neraka. dan barangsiapa yang menurunkan kain sarungnya sampai di bawah mata kaki karena sombong maka kelak Allah tidak akan melihat kepadanya.” (HR Abu Dawud)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: saya berjalan di depan Rasulullah saw. sedangkan kain saya terlalu rendah, kemudian beliau bersabda: “Wahai Abdullah, naikkanlah kainmu itu.” Maka saya pun menaikkannya. Beliau bersabda lagi: “Naikkan lagi.” Maka saya pun menaikkan kain sesuai dengan petunjuk itu.” Ada orang yang bertanya: “Sebatas mana kamu menaikkan?” Abdullah menjawab: “Sebatas pertengahan betis.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menurunkan kainnya karena sombong, maka kelak pada hari kiamat Allah tidak akan melihat kepadanya.” Salamah bertanya: “Maka bagaimana cara wanita menurunkan tepi kain mereka?” Beliau bersabda: “Diturunkan sejengkal.” Salamah berkata: “Kalau begitu, telapak kaki mereka terbuka?” Beliau bersabda: “Boleh diturunkan sehasta, tidak boleh lebih dari itu.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Menghukumi Menurut Dhahirnya

30 Apr

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Al-Qur’an dan Hadits

Allah berfirman: “Jika mereka bertobat dan mendirikan shalat serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.” (at-Taubah: 5)

Dari Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, sehingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka telah melaksanakan, maka terjagalah darah dan harta mereka, kecuali dalam kewajiban Islam. Adapun perhitungan mereka terserah pada Allah Ta’ala.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah Thariq bin Asy-yam ra. ia berkata: saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang mengucapkan ‘laa ilaaHa illallaaH [tidak ada Tuhan kecuali Allah] dan ingkar terhadap yang disembah kecuali Allah, maka haramlah diganggu harta dan darahnya. Adapun perhitungannya terserah pada Allah Ta’ala.” (HR Muslim)

Dari Ma’bad al-Miqdad bin al-Aswad ra. ia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah saw.: “Bagaima pendapatmu seandainya saya bertemu dengan seorang kafir dan kami berperang, kemudian ia memotong salah satu tangan saya, kemudian ia menyembunyikan diri daripadaku dengan berlindung di balik pohon serta berkata: “Saya sekarang masuk Islam karena Allah.” Maka apakah boleh saya membunuhnya setelah ia mengucapkan perkataan itu wahai Rasulallah?” Beliau menjawab: “Janganlah kemu membunuhnya.” Ma’bad bertanya: “Wahai Rasulallah, ia telah memotong salah satu tangan saya, kemudian mengucapkan perkataan itu.” Jawab beliau: “Janganlah kamu membunuhnya, seandainya kamu membunuhnya, maka ia menduduki kedudukanmu sebelum kamu membunuhnya, dan kamu menduduki kedudukannya sebelum ia mengucapkan perkataan yang diucapkannya itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Usamah bin Zaid ra. ia berkata: “Rasulullah saw. mengutus kami ke Huragah di suku Juhainah. Pada suatu pagi kami menyerbu mereka. Saya dan seorang shahabat Anshar, berpapasan dengan salah seorang di antar mereka. Ketika kami telah mengepungnya, ia mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH” (Tiada Tuhan selain Alla); shahabat Anshar tadi melepaskannya tetapi saya menikamnya dengan tombak sehingga terbunuh. Ketika kami sampai di Madinah, berita itu telah sampai pada Nabi saw. maka beliau memanggil saya: “Hai Usamah, kenapa kamu membunuh orang padahal ia telah mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH”?” Saya menjawab: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ia hanya berusaha menyelamatkan diri.” Beliau bersabda: “Kenapa kamu membunuh orang padahal ia telah mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH”?” Beliau mengulang-ulang sabdanya itu sehingga perasaan saya ingin andaikan saya baru masuk Islam hari itu.” (HR Bukhari)

Dalam riwayat lain dikatakan: Rasulullah saw. bertanya: “Apakah ia telah mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH” kemudian kamu membunuhnya?” Saya menjawab: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ia mengucapkan kalimat itu hanya karena takut pada pedang.” Beliau bertanya: “Apakah sudah kamu belah dadanya, sehingga kamu mengetahui isi hatinya, apakah ia mengucapkan kalimat itu dengan tulus atau tidak?” Beliau mengulang-ulangi pertanyaan itu, sehingga perasaan saya ingin untuk baru masuk Islam pada hari itu.”

Dari Jundub bin Abdullah ra. ia berkata: Rasulullah saw. mengutus suatu pasukan muslimin untuk memerangi pasukan musyrik. Ketika kedua pasukan itu saling berhadapan, ada seorang musyrik yang mendekati seorang muslim dan membunuhnya. Kemudian ada seorang muslim yang mencari lengahnya dan membunuhnya. Dan kami yakin bahwa orang itu adalah Usamah bin Zaid. Ketika Usamah mengangkat pedangnya orang musyrik itu mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH” tetapi kemudian Usamah membunuhnya. Ketika juru kabar sampai di hadapan Rasulullah saw. ia menanyakan dan menceritakan tentang jalannya peperangan, sehingga ia menceritakan tentang bagaimana orang itu bertindak. Setelah itu beliau memanggil Usamah dan bertanya: “Kenapa kamu membunuhnya?” Usamah menjawab: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ia sangat merugikan pasukan muslimin dan ia telah membunuh fulan dan si fulan. Ia membahayakan pasukan kita. Oleh karena itu saya bermaksud untuk menyerangnya. Tetapi ketika melihat pedang, ia mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH.” Rasulullah saw. bertanya: “Kamu terus membunuhnya?” Usamah menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Bagaimana kamu mempertanggungjawabkan “Laa ilaaHa illallaaH” nanti apabila hari kiamat tiba?” Usamah berkata: “Wahai Rasulallah, mohonkan ampun untuk diri saya.” Beliau bersabda: “Bagaimana kamu mempertanggungjawabkan “Laa ilaaHa illallaaH” nanti apabila hari kiamat tiba?” beliau tidak bersabda apa-apa selain hanya: “Bagaimana kamu mempertanggungjawabkan “Laa ilaaHa illallaaH” nanti apabila hari kiamat tiba?” (HR Muslim)

Dari Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, ia berkata: “Saya mendengar Umar bin Khaththab ra. berkata: “Sesungguhnya manusia pada masa Rasulullah saw. itu diberi keputusan dengan petunjuk wahyu, dan sekarang wahyu itu telah terhenti. Oleh karena itu, sekarang kami memberi keputusan kepada kalian sesuai dengan perbuatan yang nampak bagi kami. Maka siapa saja yang nampa berbuat baik kepada kami niscaya kami mempercayai dan mendekatinya dan kami tidak perlu mempermasalahkan urusan batin. Allah lah yang memperhitungkan masalah batinnya. Dan siapa saja yang nampak berbuat jahat kepada kami niscaya kami tidak mempercayai dan membenarkannya walaupun ia mengatakan bahwa batinnya (niat)nya baik.” (HR Bukhari)

Mencintai Allah

26 Apr

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits

Allah berfirman: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…” (al-Fath: 29)

Allah berfirman: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman [Anshar] sebelum [kedatangan] mereka [muhajirin], mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka.” (al-Hasyr: 9)

Dari Anas ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Siapa saja yang memiliki tiga sifat ini, akan merasakan manisnya iman, yaitu: 1) mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala-galanya; 2) mencintai seseorang hanya karena Allah; 3) enggan untuk kembali kafir setelah diselamatkan Allah sebagaimana enggannya apabila dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Ada tujuh kelompok yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: 1) pemimpin yang adil; 2) pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah Yang Mahamulia lagi Maha Agung; 3) seseorang yang hatinya selalu digantungkan [dipertautkan] dengan masjid; 4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah; 5) seorang laki-laki ketika dirayu untuk berzina oleh perempuan bangsawan yang berwajah cantik rupawan, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah.’ 6) seseorang yang mengeluarkan sedekah, secara sembunyi-sembunnyi, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya; 7) seseorang yang mengingat Allah di tempat yang sunyi dan kedua matanya mencucurkan air mata.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala pada hari kiamat akan berfirman: ‘Manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku naungi mereka di bawah naungan-Ku, dan tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, kalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kalian tidaklah beriman, sebelum saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu, jika kalian mengerjakannya maka akan timbul rasa saling mencintai di antara kalian. Yaitu sebarkanlah salam.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Ada seseorang yang berkunjung ke tempat saudaranya karena Allah yang berada di desa lain, kemudian Allah mengutus malaikat untuk menghadang dan mengujinya, namun orang itu tetap pada pendiriannya, kemudian malaikat itu berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR Muslim)

Dari al-Barra’ bin ‘Azib ra. dari Nabi saw. beliau menceritakan tentang shahabat Anshar: “Bahwa mereka tidak mencintai kecuali orang yang beriman dan mereka tidak membenci kecuali orang munafik. Siapa saja yang mencintai mereka, maka Allah mencintainya. Dan siapa saja yang membenci mereka, maka Allah membencinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Mu’adz ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Siapa saja yang saling mencintai karena keagungan-Ku, mereka akan mendapatkan beberapa mimbar terbuat dari cahaya yang diingikan oleh para Nabi dan orang-orang yang mati syahid.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Idris al-Khaulaniy, ia berkata: Saya masuk masjid Damsyik, di sana ada seorang pemuda yang giginya mengkilat. Orang-orang senantiasa mengerumuninya. Apabila mereka berbeda pendapat, mereka menyerahkan dan minta pertimbangan kepadanya, maka saya menanyakan tentang pemuda itu, dan dijawab bahwa pemuda itu adalah Mu’adz bin Jabal ra.
Pada esok harinya saya pagi-pagi datang ke masjid tetapi pemuda itu lebih pagi dari saya dan saya dapatkan ia sedang shalat. Saya menunggunya sampai selesai, dan mendatanginya dari arah depan. Saya ucapkan salam dan berkata kepadanya: “Demi allah, saya mencintaimu karena Allah.” Dia bertanya: “Apakah benar karena Allah?” Saya menjawab: “Ya, karena Allah.” Dia bertanya: “Apakah benar karena Allah?” Saya menjawab: “Ya, karena Allah.” Kemudian ia menarik ujung selendangku untuk mendekatkanku kepadanya dan dia berkata: “Sambutlah berita gembira ini, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Allah Yang Maha Pemberkah lagi Maha Luhur berfirman: Kecintaan-Ku tercurah untuk mereka yang saling mencintai karena Aku, mereka yang berteman karena Aku, mereka yang saling mengunjungi karena Aku dan mereka yang saling membantu karena Aku.” (HR Malik)

Dari Abu Karimah al-Miqdad bin Ma’dikariba ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Apabila seseorang mencintai saudaranya, beritahukanlah kepadanya bahwa ia mencintainya.” (HR Abu Daud)

Dari Mu’adz ra. berkata: Rasulullah saw. memegang tangannya seraya bersabda: “Hai Mu’adz, janganlah sekali-sekali kamu lupakan setiap selesai shalat membaca: AllaHumma a-‘innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika (Ya Allah, berilah saya pertolongan untuk selalu ingat kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan menyempurnakannya).” (HR Abu Daud dan Nasa-i)

Dari Anas ra. ia berkata: Ada seorang laki-laki duduk di hadapan Nabi saw. kemudian ada seseorang yang lewat di situ, lalu orang yang duduk di hadapan Nabi berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya saya mencintai orang itu.” Nabi saw. bertanya: “Apakah engkau sudah memberitahukan kepadanya?” Dia menjawab: “Belum.” Beliau menjawab: “Beritahukannlah kepadanya.” Kemudian dia menemui orang itu dan berkata: “Sesungguhnya saya mencintaimu karena Allah.” Orang itu menjawab: “Semoga engkau dicintai oleh Dzat yang menjadikanmu mencintaiku karena-Nya.” (HR Abu Daud)

sekian

Berteman dengan Orang Shalih (2)

26 Apr

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Seseorang mendatangi Rasulullah saw. dan bertanya: “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum, tetapi ia belum pernah bertemu dengan mereka?” Rasulullah saw. menjawab: “Seseorang itu akan bersama-sama dengan orang yang dicintainya [kelak di akhirat].” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Manusia itu berbeda-beda dalam watak dan baik dan buruknya, bagaikan tambang emas dan perak. Orang yang paling baik pada masa jahiliyah adalah orang yang terbaik pula di masa Islam, apabila mereka memahami syariat. Roh itu berkelompok-kelompok dan berpisah-pisah. Roh yang saling mengenal itu berkumpul dan yang tidak saling mengenal berpisah.” (HR Muslim)

Dari Usair bin ‘Amr (Ibnu Jabir), ia berkata: Tatkala Umar bin al-Khaththab ra. kedatangan serombongan penduduk Yaman, ia bertanya: ‘Apakah ada di antara kalian yang bernama Uwais bin ‘Amr?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Umar bertanya lagi: ‘Apakah kamu dari Murad dan Qaran?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Umar bertanya: ‘Apakah kamu dulu pernah mengalami sakit belang kemudian sembuh kecuali tinggal sebesar dirham?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Umar kembali bertanya: ‘Apakah engkau masih memiliki ibu?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Umar menjelaskan: ‘Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Nanti kamu akan kedatangan seseorang yang bernama Uwais bin ‘Amr bersama serombongan penduduk Yaman. Ciri-cirinya, ia dari Murad dan Qaran, pernah berpenyakit belang dan sembuh, kecuali sebesar dirham. Ia mempunyai ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia berbuat baik kepada Allah, pasti Allah akan berbuat baik kepadanya. Mintalah agar ia memohonkan ampun buat dirimu. Oleh karena itu, mohonkanlah ampun buat diriku.’ Kemudian dia memohonkan ampun untuk Umar. Setelah itu Umar bertanya: ‘Engkau akan kemana lagi?’ Ia menjawab: ‘Ke Kufah.’ Umar menawarkan: ‘Bolehkah aku menulis surat kepada ‘Amil (bendaharawan) di Kufah untuk membantu kamu?’ Ia menjawab: ‘Saya lebih senang menjadi orang biasa.’
Pada tahun berikutnya, ada seorang terkemuka dari penduduk Yaman mengerjakan ibadah haji dan berjumpa dengan Umar. Kemudian Umar menanyakan kepadanya tentang Uwais. Orang itu menjawab: “Saya meninggalkan dia dalam keadaan menyedihkan, rumahnya sangat kecil dan tergolong miskin.” Umar berkata: “Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Nanti kamu akan kedatangan seseorang yang bernama Uwais bin ‘Amr bersama serombongan penduduk Yaman. Ciri-cirinya, ia dari Murad dan Qaran, pernah berpenyakit belang dan sembuh, kecuali sebesar dirham. Ia mempunyai ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia berbuat baik kepada Allah, pasti Allah akan berbuat baik kepadanya. Mintalah agar ia memohonkan ampun buat dirimu.
Setelah pulang orang itu menemui Uwais dan berkata: “Mohonkan ampun buat diriku.” Uwais menjawab: “Sebenarnya engkaulah yang mendoakan saya, karena baru pulang dari bepergian yang baik. Maka mohonkan ampun buat diriku.” Orang itu bertanya: “Kamu pernah bertemu Umar?” Uwais menjawab: “Ya.” Kemudian Uwais menyadari dan memohonkan ampun buat orang itu. Sesudah itu orang-orang mengenalnya dan berbondong-bondong meminta agar dia memohonkan ampun untuk mereka. Melihat hal demikian Uwais pergi untuk menyendiri.” (HR Muslim)

Dalam riwayat Muslim yang lain, dari Usair bin Jabir ra. ia berkata: penduduk Kufah mengutus suatu rombongan untuk menghadap Umar ra. di antara mereka ada yang mengejek Uwais, kemudian Umar bertanya: “Apakah di sini ada seseorang yang berasal dari Qaran?” Maka Uwais mendekatinya, dan Umar berkata: “Rasulullah saw. bersabda: Nanti kamu kedatangan seseorang dari Yaman bernama Uwais, dia tidak meninggalkan apa-apa di Yaman selain ibu yang ditaatinya. Dia berpenyakit belang, setelah berdoa, Allah menyembuhkannya kecuali sebesar dinar atau dirham. Siapa saja di antara kamu bertemu dengannya, mintalah agar dia memohonkan ampun buat kalian.”
Pada riwayat lain, dari Umar ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik tabi’in adalah seseorang yang bernama Uwais, dia mempunyai ibu dan pernah berpenyakit belang, mintalah kalian kepadanya agar memohonkan ampun buat kamu.”

Dari Umar bin al-Khaththab ra. ia berkata: Saya minta izin kepada Nabi saw. untuk mengerjakan umrah. Beliau mengizinkanku, seraya bersabda: “Wahai saudaraku, janganlah engkau lupakan kami dari doamu.” Umar berkata: “Itu adalah suatu ungkapan yang sangat menggembirakan saya, dan ungkapan itu lebih berharga daripada dunia.”
Dalam riwayat lain, Nabi saw. bersabda: “Wahai saudaraku, sertakan kami dalam doamu.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Nabi saw. sering berziarah ke Kuba’ baik naik kendaraan maupun berjalan. Di sana beliau shalat dua rakaat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain dikatakan: “Setiap hari Sabtu Nabi saw. datang ke masjid Kuba’, baik berkendaraan maupun berjalan. Ibnu Umar juga mencontohnya.”

Sekian.

Berteman dengan Orang Shalih (1)

26 Apr

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits

Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.’” (al-Kahfi: 60)
Sampai pada firman-Nya: “Musa berkata kepada Khidhir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (al-Kahfi: 66)

Allah berfirman: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridlaan-Nya.” (al-Kahfi: 28)

Dari Anas ra. ia berkata: Ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar mengajak Umar ra. seraya berkata: “Mari kita berkunjung ke tempat Ummu Aiman ra. sebagaimana Rasulullah sering mengunjunginya.” Ketika keduanya sampai di tempat Ummu Aiman, wanita itu menangis. Keduanya berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, bukankah apa yang disediakan Allah untuk Rasul-Nya sangat baik?” Ia menjawab: “Saya menangis bukan karena itu, saya tahu bahwa apa yang disediakan Allah untuk Rasul-Nya sangat baik. Saya menangis karena wahyu dari langit telah terputus.” Perkataan Ummu Aiman itu membuat keduanya terkesan, sehingga membuat mereka menangis.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya ada seseorang yang akan berkunjung ke tempat saudaranya yang berada di desa lain, kemudian Allah Ta’ala mengutus malaikat untuk mengujinya. Setelah malaikat itu berjumpa dengannya, ia bertanya: ‘Hendak kemanakah engkau?’ Ia menjawab: ‘Saya akan berkunjung ke tempat saudaraku yang berada di desa itu.’ Malaikat itu bertanya: ‘Apakah engkau merasa berhutang budi sehingga engkau mengunjunginya?’ Ia menjawab: ‘Tidak, saya mengunjungi dan mencintainya karena Allah Ta’ala.’ Malaikat itu berkata: ‘Sesungguhnya saya adalah utusan Allah untuk menjumpaimu, dan Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena Allah.’” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka ada dua malaikat yang memuji dan mendoakannya: ‘Bagus engkau dan bagus pula perjalananmu, maka surgalah tempatmu.’” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Musa al-Asy’ari ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan orang yang bergaul dengan orang saleh dan orang jahat, seperti orang yang bergaul dengan orang yang membawa minyak kasturi dan orang yang meniup api. Orang yang membawa minyak kasturi, mungkin memberi minyak kepadamu atau membeli minyak kepadanya, paling tidak engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan orang yang meniup api, mungkin ia akan membakar kainmu atau kamu akan mendapatkan bau tidak enak darinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Pilihlah perempuan yang akan dinikahi karena empat perkara: hartanya, derajatnya, kecantikannya atau karena agamanya. Utamakanlah agamanya niscaya kamu beruntung.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu ‘Abbas ra. ia berkata: Nabi saw. bertanya kepada Jibril as.: “Apa yang mencegahmu untuk sering datang kepada kami?” maka turunlah ayat: “Wa maa natanazzalu illaa bi amri rabbika laHuu maa baina aidiinaa wa maa khalafnaa wa maa baina dzaalika (dan tidaklah kami [Jibril] turun, kecuali dengan perintah Rabb-mu. Kepunyaan-Nya lah semua yang ada di hadapan kita, di belakang kita dan di antara keduanya.)” (HR Bukhari)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Janganlah kalian berteman kecuali dengan orang yang beriman dan janganlah ada yang memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Sesungguhnya Nabi saw. bersabda: “Seseorang bisa terpengaruh oleh agama sahabat karibnya. Oleh sebab itu, perhatikanlah salah seorang di antara kamu dengan siapa ia bergaul.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Dari Abu Musa al-Asy’ari ra. ia berkata: Sesungguhnya Nabi saw. bersabda: “Seorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan: “Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi saw. tentang seorang yang mencintai suatu kaum, tetapi ia belum pernah bertemu dengan mereka, maka beliau menjawab: ‘Ia akan bersama-sama dengan orang yang dicintainya.’”

Dari Anas ra., sesungguhnya ada seorang Badui bertanya kepada Rasulullah saw.: “Kapankah hari kiamat?” Rasulullah saw. balik bertanya: “Bekal apakah yang sudah engkau siapkan untuk menghadapinya?” Ia menjawab: “Mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda: “Engkau akan bersama-sama dengan orang yang engkau cintai [nanti di akhirat].” (HR Bukhari dan Muslim)