Tag Archives: Akhlak

Hak Istri atas Suami

23 Jul

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits

Allah berfirman: “Dan pergaulilah wanita itu dengan cara yang baik.” (an-Nisaa’: 19)

Allah berfirman: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat Berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu Mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nisaa’: 129)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Berpesan baiklah kamu terhadap wanita, sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan paling bengkok adalah bagian atas. Oleh karena itu, apabila kamu paksa untuk meluruskannya, maka akan hancurlah ia, dan apabila kamu membiarkannya, maka akan bengkoklah ia selama-lamanya. Oleh karena itu perpesan baiklah terhadap wanita.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam satu riwayat dalam kitab ash-Shahihain dikatakan: Rasulullah bersabda: “Orang perempuan itu seperti tulang rusuk, apabila kamu paksa untuk meluruskannya, berarti telah menghancurkannya. Tetapi apabila hanya bersenang-senang dengannya kamu akan merasakan kepuasan dan ia masih tetap bengkok.”

Dalam hadits riwayat Muslim dikatakan, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk, tidak ada jalan bagimu untuk meluruskannya. Jika ingin bersenang-senang dengannya saja kamu akan merasa puas, tetapi ia masih tetap bengkok. Jika kamu paksa untuk diluruskan, berarti kamu menghancurkannya. Dan hancurnya berarti perceraian. Jadi, menghadapi wanita harus tetap bijaksana, agar tetap menjadi baik.”

Dari Abdullah bin Zam’ah ra. ia mendengar Nabi saw. berkhutbah dan bercerita tentang unta sebagai mu’jizat nabi Shaleh dan orang yang membunuhnya. Rasulullah saw. bersabda: “Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, yaitu seorang laki-laki yang amat kuat dan gagah perkasa serta disegani kaumnya. Setelah selesai, beliau melanjutkan khutbahnya tentang wanita, dan memberi nasehat tentang bergaul dengan wanita. Beliau bersabda: “Salah seorang di antara kalian ada yang sengaja memarahi istrinya bahkan memukul bagaikan budaknya, lalu pada malam harinya mungkin ia bersetubuh dengannya.” Selanjutnya beliau menasehati para shahabat karena mereka tertawa ada yang kentut, beliau bertanya: “Mengapa salah seorang di antara kamu menertawakan sesuatu yang dia sendiri juga melakukannya?” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah seorang laki-laki mukmin memarahi seorang perempuan mukmin. Apabila tidak suka terhadap salah satu perangainya, maka masih ada perangai lain yang menyenangkan.” (HR Muslim)

Dari ‘Amr bin al-Ahwash al-Jusyamiy ra. ia mendengar Nabi saw. pada haji Wada’ berkhutbah. Setelah beliau memanjatkan pujian, sanjungan kepada Allah Ta’ala dan selesai memberi peringatan dan nasehat, beliau bersabda: “Ingatlah, berpesan baiklah terhadap istri-istri kalian. Sesungguhnya mereka memerlukan perlindunganmu. Sedikitpun kamu tidak boleh berbuat kejam terhadap mereka, kecuali mereka telah nyata melakukan kejahatan. Jika mereka melakukan kejahatan, janganlah kamu menemani mereka di dalam tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Bila mereka telah taat, janganlah kalian berlaku keras terhadap mereka. Ingatlah, sesungguhnya kalian mempunyai hak atas istrimu, dan istrimu juga mempunyai hak pada diri kalian. Hak kamu atas mereka, yaitu tidak boleh memasukkan orang yang tidak kamu sukai ke dalam kamarmu dan tidak mengizinkan orang yang tidak kamu sikai masuk ke dalam rumahmu. Ingatlah, hak mereka atas kamu adalah kamu bergaul dengan cara yang baik, terutama dalam memberi pakaian dan makanan.” (HR Tirmidzi)

Dari Mu’awiyah bin Haidah ra. ia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah: “Apakah hak istri terhadap suaminya?” Beliau menjawab: “Kamu harus memberinya makan apabila kamu makan, harus memberinya pakaian apabila kamu berpakaian, tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh menjelek-jelekkannya, serta tidak boleh mendiamkannya kecuali di dalam rumah.” (HR Abu Daud)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Dan orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadap istrinya.” (HR Tirmidzi)

Dari Iyas bin Abdullah bin Abu Dzubab ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kammu memukul kaum wanita.” Kemudian Umar mendatangi Rasulullah saw. dan berkata: “Wanita-wanita kini berani kepada suaminya.” Mendengar yang demikian beliau membolehkan untuk memukulnya. Kemudian banyak wanita yang mengerumuni Rasulullah saw. mengadukan perlakuan suaminya. Lalu Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh banyak wanita yang mengerumuni rumah Muhammad untuk mengadukan perlakuan suaminya, maka mereka (suaminya) itu bukanlah orang-orang yang terbaik di antara kalian.” (HR Abu Dawud)

Dari Abdullah bin ‘Amr al-Ash ra, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Dunia adalah suatu kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan di dunia adalah wanita yang shalih.” (HR Muslim)

Do’a Teguh Pendirian

21 Apr

Kumpulan Doa Sehari-hari
Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia

Doa Teguh Pendirian

 

 

&

Akhlak Rasulullah saw

9 Mei

Sejarah Rasulullah saw.
Al-Hafiz Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisy
Penerjemah: Team Indonesia; Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah; IslamHouse.com

Rasulullah SAW adalah manusia yang paling pemberani. Ali bin Abi Thalib bertutur: “Bila perang tengah berkecamuk, kami berlindung kepada Rasulullah saw“.
Beliau orang yang paling dermawan. Tak pernah menolak permintaan orang lain.

Orang yang paling lembut.
Orang yang pemalu, lebih pemalu dari seorang gadis yang dipingit. Pandangan tidak tertuju hanya pada satu orang. Tidak pernah balas dendam saat disakiti orang lain, atau marah atas perbuatan jelek orang padanya; kecuali jika hukum-hukum Allah SWT dilanggar, maka balas dendam yang dia lakukan semata-mata karena Allah SWT. Bila marah karena Allah SWT tiada seorang pun yang berani membantah.
Siapa pun, baik yang kuat, lemah, jauh maupun dekat diperlakukan sama olehnya.

Tidak pernah mencela makanan; bila menghendaki, beliau makan; bila tidak suka, beliau tinggalkan. Tidak pernah makan dengan bersandar, atau pun di meja makan. Tidak pernah menolak makanan yang boleh untuk dimakan; bila hanya menjumpai kurma, atau hanya roti kering, atau daging panggang beliau makan, atau hanya roti dari gandum, beliau makan seadanya. Bila ada susu, cukup beliau minum itu saja.Pernah makan semangka basah. Beliau menyukai manisan dan madu.

Abu Hurairah ra berkata: “Sampai wafatpun Rasulullah SAW tidak merasa pernah kenyang, meski hanya dengan roti gandum“
Pernah terjadi pada keluarga Muhammad SAW selama tiga bulan, tiada nyala api di rumahnya (memasak) makanan mereka hanya kurma dan air.

Menerima dan makan hadiah, serta membalasnya; dan tidak menerima sedekah.
Tidak berlebihan dalam berpakaian dan makanan; berpakaian dan makan seadanya.
Menambal sandal dan baju sendiri, membantu aktifitas rumah tangganya. Menjenguk orang sakit.

Sangat tawadhu’. Menghadiri undangan siapa saja baik kaya, fakir, orang berada maupun orang rendahan.
Mencintai orang-orang miskin; menjenguk mereka yang sakit dan melayat jenazah mereka. Tidak menghina orang fakir karena kefakirannya dan tidak takut pada penguasa karena kekuasaannya. Mengendarai kuda, onta, keledai, dan bagal. Memboncengkan budak atau yang lainnya. Tidak membiarkan orang lain berjalan di belakangnya seraya berkata:“Biarkan di belakangku untuk para Malaikat“

Mengenakan kain wol, memakai sandal yang ditambal. Pakaian yang amat beliau sukai adalah jubah yang terdapat warna merah dan putih, terbuat dari kain Yaman
Cincin dan matanya terbuat dari Perak.Dipakai di jari manis kanan, dan terkadang di sebelah kiri. Pernah mengganjal perutnya dengan batu karena menahan lapar, padahal Allah telah memberikan kunci -kunci pembendaharaan langit dan bumi, tetapi beliau enggan menerimanya dan lebih memilih akherat. Ia banyak berdzikir dan sedikit main-main. Memanjangkan shalat dan menyingkat khutbah. Paling murah senyum, berseri-seri wajahnya padahal ia selalu sedih dan banyak pikiran. Menyukai wangi-wangian, membenci bau yang tidak sedap. Bersahabat dan menghormati orang-orang mulia, tidak pernah bermuka masam dan ramah pada siapapun. Mentolerir permainan yang tidak dilarang, bergurau, dan tetap berkata benar dalam gurauannya, memaafkan orang-orang yang meminta maaf.
Memiliki budak laki-laki dan perempuan; pakaian dan makanannya tidak pernah melebihi mereka. Waktunya hanya dihabiskan untuk ibadah pada Allah, atau memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya.Menggambalakan kambing, dan berkata:“Seluruh nabi melakukan gembala kambing“Aisah ra pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah saw, maka dia pun menjawab:”Akhlak beliau adalah alQur’an”. Marah dan ridhanya berpijak padanya.

Dalam riwayat yang shahih dari Anas bin Malik ra berkata:
Tidak pernah aku menyentuh sutera yang lebih halus dari telapak tangan Rasulullah saw, dan tidak pernah aku mencium bau yang lebih harum dari aroma tubuh Rasulullah saw. Setelah aku melayaninya selama 10 tahun, tak pernah sekalipun ia berkata:“cih“. Dan tidak pernah mengatakan terhadap apa yang kulakukan:“Kenapa kau lakukan itu?“.Dan tidak pernah mengatakan terhadap apa yang tidak kulakukan:“Mengapa tidak kau lakukan itu?
Allah telah mengumpulkan dalam dirinya kesempurnaan akhlak, keindahan perilaku. Allah memberikan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan yang akan datang , yang di dalamnya terdapat keberuntungan dan keselamatan.Padahal ia adalah ummi, tidak bisa membaca dan menulis dan tidak memiliki guru dari kalangan manusia. Tumbuh di negeri yang tandus dan terbelakang. Allah memberikannya sesuatu yang tidak diberikan pada siapapun dari makhluknya, dan telah memilihnya diantara makhluk-makhlukNya, baik yang lalu maupun yang akan datang.Semoga Allah selalu memberikan shalawat kepadanya hingga hari akhir.

&

Islam Sebagai Akhlak

10 Okt

Islam Sebagai Akhlak
Sarah Rasmul Bayan Tarbiyah; Jasiman Lc.

Konsep akhlak Islam berangkat dari konsepsinya tentang hubungannya dengan Allah yaitu hubungan penciptaan. Allah telah menciptakan manusia dan selanjutnya Allah disebut al-Khaliq dan manusia disebut al-Makhluk. Hubungan penciptaan ini menuntut komitmen untuk mensyukuri nikmat penciptaan dengan sikap dan perilaku yang benar sesuai dengan yang dikehendaki Penciptanya. Dalam kerangka itu Allah menurunkan sistem akhlak itu kepada mereka melalui nabi dan Rasul-Rasu-Nya. Akhlak Islam menyatu dengan seluruh sistemnya. Ia ada dalam aqidah, ada dalam ibadah, syariah, bahkan dalam seni dan budaya. Tidak ada satupun sisi kehidupan muslim yang tidak terwarnai oleh aqidah dan akhlaknya. Rasulullah saw. bersabda bahwa beliau tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Akhlak ini harus selalu ditunjukkan dalam berinteraksi dengan Allah, dengan Rasul, dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan alam semesta.

1. Akhlak kepada Allah
Inti akhlak manusia kepada Allah adalah beribadah kepada Dzat yang telah menciptakannya dalam kitab suci-Nya.
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyaat: 56)
Hal ini dapat diwujudkan dengan beriman kepada-Nya, menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

2. Akhlak kepada Rasul
Bagaimana mengimplementasikan sistem akhlak ini, Rasulullah saw. telah memberi contoh yang terbaik. Kewajiban muslim adalah berterima kasih kepadanya dengan cara mengimani, mengikuti ajaran yang dibawanya, menaati dan meneladaninya. Dalam hal kecintaan, hubungan muslim dengannya saw. bagai hubungan anak dengan ayahnya; dalam proses pembelajaran bagai hubungan murid dengan gurunya; dalam melaksanakan tugas bagai hubungan prajurit dengan komandannya.

3. Akhlak kepada dirinya sendiri
Allah telah memuliakan manusia dan melebihkan dirinya di atas makhluk yang lain dengan suatu kelebihan. Statusnya sebagai manusia mengharuskan orang memuliakan dirinya. Kedekatan ini dapat dilihat dari berbagai segi. Kalau orang lain saja wajib memuliakan dirinya, tentu dia sendiri lebih patut untuk memuliakan dirinya sendiri. Karena itu orang Islam tidak boleh menghina, merendahkan atau meremehkan dirinya sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat baginya dan menjauhi hal-hal yang dapat merugikan. Kalau menghormati dirinya saja tidak bisa siapakah yang akan menghormati dirinya.

4. Akhlak kepada sesama manusia
Status dan kedudukan manusia lain di hadapan muslim berbeda-beda sesuai dengan kedekatan dengan dirinya. Kedekatan ini dapat dilihat dari berbagai segi. Ada yang dekat karena aqidah, dekat bila dilihat dari sisi nasab, karena hubungan pertetanggaan, aspek kesukuan, kebangsaan, profesi dan sebagainya. Yang paling dekat di antara mereka adalah yang memiliki kedekatan aqidah. Merekalah yang paling berhak atas perlakuan baik darinya.

5. Akhlak kepada alam semesta
Hatta hewan, tumbuhan dan benda-benda matipun mendapat sentuhan akhlak Islam secara proporsional. Rasulullah saw. bersabda bahwa Allah telah mewajibkan berbuat Ihsan kepada segala sesuatu, di antaranya bahkan kepada musuh sekalipun.
Hakekat pembinaan akhlak adalah membersihkan diri dari sifat-sifat tercela lalu menghiasinya dengan sifat-sifat yang terpuji.

&

Akhlak Bidadari

16 Jul

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Di antara kebesaran Allah adalah Dia telah menciptakan bidadari dengan akhlak terpuji. Mereka tidak pernah tahu tentang kehinaan, kerusakan, atau kecurangan. Allah telah mengikat mereka dengan akhlak yang agung. Tidak didapati makhluk yang lebih cantik dari istri-istri ahli surga.

Firman Allah: “Dan di sisi mereka ada (bidadari-bidadari) yang bermata indah, dan membatasi pandangannya.” (ash-Shaaffaat: 48)
Maksud ayat di atas bahwa sesungguhnya para bidadari itu tidak liar pandangannya terhadap suami-suami mereka, di tempat mereka yang kekal di surga. Oleh karena itu mereka tidak disebut ‘aina’ atau jelita matanya, kecuali kalau pandangannya tidak liar terhadap suami-suami mereka, dan lembut dengan sifat malu dan beretika.

Pengertian semacam ini adalah petunjuk bagi Allah bahwa perempuan dunia tidak sempurna, baik dari segi ciptaan maupun kecantikannya, sebagaimana tidak sempurna kelembutannya, kecuali ketika mampu menjaga dirinya dan hanya menjadi milik suaminya (tidak selingkuh atau mata keranjang). Ia juga tidak pamer atau berdandan, kecuali untuk suaminya dan pandangannya tidak liar.

Pada saat yang bersamaan, Allah menciptakan laki-laki dan menyempurnakan dengan sifat pencemburu. Oleh karena itu, laki-laki tidak akan rela jika istrinya memandang laki-laki lain meskipun ada berbagai alasan atau latar belakang dan meskipun orang yang dilihatnya itu posisinya rendah dan parasnya jelek. Allah juga menciptakan cemburu pada perempuan. Oleh karena itu perempuan tidak akan rela jika suaminya memandang wanita lain, meskipun perempuan tersebut tua, jelek dan hina.

Allah menjelaskan kelembutan dan akhlak mulia dari para bidadari agar hati laki-laki merasa tenang bahwa Allah menciptakan bidadari dengan sifat-sifat yang disenangi hati dan bahwa mereka tidak liar pandangannya di istana dan tenda mereka. Allah telah memuliakan mereka di surga. Mereka pun tidak melihat kebaikan, ketampanan, dan kesenangan kecuali kepada suami-suami mereka yang mukmin. Allah telah menciptakan mereka dengan sifat-sifat yang sangat terpuji, lebih terpuji daripada seluruh sifat yang ada. Akhlak yang terpuji memang sangat penting bagi kehidupan manusia. Karena pentingnya akhlak yang terpuji bagi kehidupan manusia inilah, Allah menurunkan Al-Qur’an.

Firman Allah: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (al-Qalam: 4)
Ini adalah ayat mengenai Nabi Muhammad saw. Itulah akhlak yang sempurna dari Nabi Muhammad saw. Beliau dibahasakan dengan husnul khuluq atau akhlak yang terpuji dengan posisinya yang tinggi di surga.

Diceritakan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Paling dekatnya tempat kalian denganku pada hari kiamat nanti adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Turmudzi dalam kitab Sunan)

Oleh karena itu, Allah menciptakan bidadari dengan akhlak yang terpuji agar seimbang dengan akhlak orang-orang mukmin di surga dan hubungan antara bidadari dengan orang-orang mukmin terjalin hubungan yang erat berlandaskan cinta. Fisiknya adalah kejujuran dan lidahnya adalah pujian serta syukur kepada Allah swt.

Dalam menjelaskan sifat-sifat bidadari, Allah swt. berfirman: “Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik dan jelita.” (ar-Rahmaan: 70)

“Dan di samping mereka (ada bidadari-bidadari) yang redup pandangannya dan sebaya umurnya.” (Shaad: 52)

Dua ayat di atas menjelaskan sifat-sifat bidadari yang telah diciptakan Allah dalam kebaikan yang menyeluruh. Sedangkan, mereka tidak akan bisa ditemukan kecuali di surga.