Tag Archives: al anfal

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 38-40

29 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 38-40“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: ‘Jika mereka berhenti (dari kekafrannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang telah lalu; dan jika mereka kembali, sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu.’ (QS. 8:38) Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Mahamelihat apa yang mereka kerjakan. (QS. 8:39) Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (QS. 8:40)” (al-Anfaal: 38-40)

Allah swt. berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad saw: qul lilladziina kafaruu iy yantaHuu (“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: ‘Jika mereka berhenti [dari kekafiannya].’”) Maksudnya, dari apa yang mereka ada di dalamnya, berupa kekufuran, penentangan dan pembangkangan dan hendaklah mereka masuk Islam, taat dan kembali kepada Allah. Jika demikian, niscaya Allah akan mengampuni mereka atas apa yang telah berlalu.

Maksudnya, dari kekufurannya, dosa-dosanya dan kesalahan-kesalahannya, sebagaimana tersebut dalam hadits shahih, dari hadits Abu Wail dari Ibnu Mas’ud ‘ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Siapa yang berbuat baik dalam Islam, apa yang dilakukannya pada masa Jahiliyah tidak dihukum, dan siapa yang berbuat buruk dalam Islam, akan dihukum dari awal hingga akhir.” (Muttafaq `alaih.-Pent.)

Tersebut dalam hadits shahih juga, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Islam itu menghapus apa yang ada sebelumnya, dan taubat itu menghapus apa yang terjadi sebelumnya.”

Firman Allah: wa iy ya’uudu (“Dan jika mereka kembali lagi.”) Maksudnya, jika mereka tetap terus seperti semula. Faqad madlat sunnatul awwaliin (“Sesungguhnya akan berlaku [kepada mereka] sunnah [Allah terhadap] orang-orang dahulu.”) Maksudnya, maka sesungguhnya sunnah-Ku berlaku pada umat-umat terdahulu, yaitu bahwasanya jika mereka mendustakan dan terus-menerus membangkang, maka sesungguhnya Kami menyegerakan adzab dan siksaan kepada mereka.
Mujahid berkata: “Maksudnya sunatullah itu berlaku berlaku pada orang-orang Quraisy pada perang Badar, dan berlaku pula pada umat-umat lainnya.”)

Firman Allah: wa qaatiluuHum hattaa laa takuuna fitnatuw wa takuunad diinu kulluHuu lillaaHi (“Dan perangilah, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.”)

Al-Bukhari berkata dari Ibnu `Umar, bahwasanya ada seorang lelaki datang, lalu berkata: “Wahai Abu `Abdir Rahman, tidakkah engkau melakukan sesuatu yang disebutkan Allah dalam Kitab-Nya? Yaitu: wa in thaa-ifataani minal mu’miniinaqtataluu (“Dan jika ada dua kelompok dari orang-orang beriman yang saling berperang.”) (QS. Al-Hujuraat: 9). Lalu apa yang menghalangimu untuk berperang seperti yang disebutkan Allah dalam Kitab-Nya?”

Maka Ibnu `Umar berkata: “Wahai anak saudara lelakiku, dicela dengan ayat ini dan aku tidak memerangi, lebih aku cintai dari pada dicela dengan ayat yang menjelaskan firman Allah: wa may yaqtul mu’minam muta’ammidam (“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja.”) (QS. An-Nisaa’: 93). Ibnu’Umar berkata: “Karena sesungguhnya Allah swt. berfirman: qaatiluuHum hattaa laa takuuna fitnatun (“Dan perangilah mereka itu, supaya jangan ada fitnah.”) Ibnu `Umar berkata: “Kami telah melakukannya pada zaman Rasulullah saw, yaitu saat Islam masih sedikit. Saat itu seseorang terfitnah dalam agamanya, baik mereka hendak membunuhnya ataupun mereka hendak mengikatnya, sehingga Islam menjadi banyak, sehingga tidak ada lagi fitnah.”

Saat orang itu tidak melihat bahwa Ibnu `Umar tidak sependapat dengannya dalam hal yang ia inginkan, orang itu berkata: “Bagaimana pendapat kalian tentang `Ali dan `Utsman?” Ibnu Umar menjawab: “Pendapatku tentang `Ali dan `Utsman adalah sebagai berikut; `Utsman telah dimaafkan Allah sedangkan kalian tidak mau memaafkannya. Sedangkan `Ali adalah putra paman Rasulullah dan menantunya. Dan dengan memberikan isyarat dengan tangannya, Ibnu ‘Umar berkata: “Dan inilah dia puterinya sebagaimana yang kalian lihat.”

Firman Allah: wa yakuunad diinu lillaaHi (“Dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.”) `Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Tidak ada kekufuran bersama agama kalian.” Pendapat ini diperkuat oleh hadits yang tersebut di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, sehingga mereka mengucapkan: Laa ilaaHa illallaaH, jika mereka telah mengucapkannya, berarti mereka telah melindungi darah mereka dan harta mereka dariku, kecuali dengan haknya, sedangkan hisab (penghitungan amal mereka) terserah kepada Allah Ta’ala.”

Tersebut dalam dua kitab shahih pula, dari Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata: “Rasulullah saw. ditanya tentang seseorang yang berperang untuk menunjukkan keberaniannya berperang karena fanatisme dan berperang karena riya’, manakah dari mereka yang berperang fii sabilillah?” Maka beliau bersabda: “Siapa yang berperang supaya kalimat Allah adalah yang tertinggi, maka itulah yang fii sabilillah.”

Firman Allah Ta’ala: fa inintaHau (“Jika mereka berhenti [dari kekafiran]”) Maksudnya, mereka berhenti karena adanya peperangan dari kalian, berhenti dari kekufuran yang selama ini, maka tahanlah kalian dari memerangi mereka, meskipun kalian tidak mengetahui isi bathin mereka, sebab: fa innallaaHa bimaa ta’maluuna bashiir (“Maka sesungguhnya Allah Mahamelihat apa yang mereka kerjakan.”)

Ini seperti pada firman Allah yang artinya: “Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka berjalan.” (QS. At-Taubah: 5).

Tersebut dalam hadits shahih, bahwa Rasulullah bersabda kepada Usamah, saat dia mengangkat pedangnya ke atas seorang lelaki, lalu lelaki mengucapkan Laa ilaaha illallaah, lalu Usamah tetap membunuhnya, kemudian menyampaikan kejadian itu kepada Rasulullah saw, maka beliau bersabda kepada Usamah: “Apakah engkau membunuhnya setelah dia mengucapkan, Laa ilaaHa illallaaH? Dan bagaimana engkau berbuat dengan Laa ilaaHa illallaaH pada hari Kiamat?”
Maka Usamah berkata: “Wahai Rasulullah, dia mengucapkannya hanya untuk melindungi diri.” Rasulullah bersabda: “Apakah engkau membelah hatinya?” Dan Rasulullah terus-menerus mengulangi pertanyaan tersebut kepada Usamah: “Siapa yang bisa menolongmu dalam menghadapi Lai ilaaHa illallaaH pada hari Kiamat?” Usamah berkata: “Sampai-sampai aku berangan-angan kalau saja aku tidak masuk Islam kecuali baru pada hari itu.” (HR. Muslim kitab al-Iman, Ibnu Majah dan Ahmad.-Pent.)

Firman Allah: wa in tawallau fa’lamuu annallaaHa maulaakum ni’mal maulaa wa ni’man nashiir (“Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”) Maksudnya, jika mereka terus berlanjut menyelisihi dan memerangi kalian, maka ketahuilah bahwa Allah swt. adalah pelindung kalian, maksudnya, Tuan kalian dan Penolong kalian atas musuh-musuh kalian, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 36-37

29 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 36-37“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka jahannam-lah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan. (QS. 8:36) Supaya Allah memisahkan (golongan) buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS. 8:37)” (al-Anfaal: 36-37)

Muhammad bin Ishaq berkata, telah menceritakan kepadaku az-Zuhri, Muhammad bin Yahya bin Hibban, ‘Ashim bin `Umar bin Qatadah dan al-Hushain bin `Abdur Rahman bin ‘Amr bin Sa’id bin Mu’adz, mereka berkata: “Pada saat Quraisy tertimpa bencana pada perang Badar, sisa pasukannya kembali ke Makkah dan Abu Sufyan kembali dengan kafilah dagangnya, Abdullah bin Abi Rabi’ah, `Ikrimah bin Abujahal dan Shafwan bin Umayyah berjalan bersama beberapa orang Quraisy yang bapak-bapak mereka, mereka dan saudara-saudara mereka terbunuh pada peristiwa Badar. Lalu mereka berbicara kepada Abu Sufyan bin Harb dan orang-orang yang tadinya berada satu kafilah dagang Quraisy dengannya. Mereka berkata: `Wahai sekalian orang-orang Quraisy, sesungguhnya Muhammad telah menjadikan kalian kehilangan keluarga dan orang-orang baik kalian terbunuh, karenanya, bantulah kami dengan harta ini untuk memeranginya, barangkali kita bisa mendapatkan balasan untuk orang-orang yang tertimpa musibah di antara kita. Lalu mereka melakukannya.”

Muhammad bin Ishaq berkata: “Berkenaan dengan mereka inilah [-sebagaimana dikatakan oleh Ibnu `Abbas-] Allah menurunkan ayat ini: innal ladziina kafaruu yunfiquuna amwaalaHum [-ilaa qauliHi-] Humul khaasiruun (“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka [-sampai dengan firman-Nya-] Mereka itulah orang-orang yang merugi.”)

Adh-Dhahhak berkata: “Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang ikut pada perang Badar.

Perkiraan apa pun yang ada, ayat ini bersifat umum, meskipun sebab turunnya khusus, sebab Allah swt. telah memberitakan bahwa orang-orang kafir membelanjakan hartanya untuk menghambat diikutinya jalan kebenaran, lalu mereka akan melakukan hal itu, kemudian hartanya akan habis, dan kerugian akan menimpa mereka, yaitu berupa penyesalan, di mana mereka tidak akan mendapati apa-apa, sebab mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dan mengunggulkan kalimat mereka atas kalimat kebenaran, sedangkan Allah Maha Menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya; memenangkan agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya mengunggulkan agama-Nya atas agama-agama lainnya. Maka jadilah hal itu kehinaan bagi mereka di dunia dan untuk mereka adalah siksa neraka di akhirat.

Lalu, siapa saja yang masih hidup di antara mereka akan melihat dengan mata kepalanya dan mendengar dengan telinganya, apa saja yang membuatnya tidak senang dan siapa saja yang terbunuh di antara mereka atau telah meninggal dunia, maka tempat mereka adalah kehinaan abadi dan siksa yang tiada henti.

Karena inilah Allah berfirman: fasayunfiquunaHaa tsumma takuunu ‘alaiHim has-ratan tsumma tughlabuuna walladziina kafaruu ilaa jaHannama yuhsyaruun (“Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka jahanam-lah orang-orang kafir itu kumpulkan.”)

Firman Allah: liyamiizallaaHul khabiitsa minath thayyibi (“Supaya Allah memisahkan [golongan] yang buruk dari yang baik.”) Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas berkenaan dengan firman Allah ini: “Maka Allah membedakan antara orang-orang yang berbahagia dari orang-orang yang sengsara.”
As-Suddi berkata: “Membedakan antara orang mukmin dari orang kafir.”

Ada kemungkinan tamyiiz (pemisahan) ini terjadi di akhirat, sebagaimana firman Allah: wa yauma takuumus saa’atu yauma-idziy yatafarraquun (“Dan pada hari terjadinya kiamat, di hari itu mereka [manusia] bergolong-golongan.”) (QS. Ar-Ruum: 14)

Mungkin juga tamyiz (pemisahan) ini terjadi di dunia dengan sesuatu yang tampak dari amal perbuatan mereka bagi orang-orang yang beriman.

Dengan demikian huruf laam yang ada pada awal ayat: liyamiiza; mempunyai makna ta’lil (menjelaskan ‘illat atau sebab) bagi apa yang Allah jadikan untuk orang-orang kafir berupa harta yang mereka belanjakan dalam menghalangi jalan Allah. Maksudnya, hanya Kamilah yang mentakdirkan mereka untuk hal itu.

Firman Allah: liyamiizallaaHul khabiitsa minath thayyibi (“Supaya Allah memisahkan [golongan] yang buruk dari yang baik.”) Maksudnya, (memisahkan) dari orang yang menaati Allah dengan memerangi musuh-musuhnya yang kafir, dengan orang yang bermaksiat kepada-Nya dengan meninggalkan hal itu.

Firman Allah: maa kaanallaaHu liyadzaral mu’miniina ‘alaa maa antum ‘alaiHi hattaa yamiizal khabiitsa minath thayyibi (“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk [munafik] dari yang baik [mukmin].”) (QS. Ali.lmran: 179).

Berdasarkan hal ini, makna ayat ini adalah, dengan adanya hal ini Kami hanyalah hendak menguji kalian melalui orang-orang kafir yang memerangi kalian, mentakdirkan mereka untuk membelanjakan hartanya dan menyerahkannya dalam peperangan ini: liyamiizallaaHul khabiitsa minath thayyibi wa yaj’alal khabiitsa ba’dlaHuu ‘alaa ba’dlin fayarkumaHuu jamii’an (“Supaya Allah memisahkan [golongan] yang buruk dari yang baik dan menjadikan [golongan] yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya.”) Maksudnya, menghimpun seluruhnya, karena makna yarkumaHu adalah menghimpun sesuatu, di mana sebagiannya berada di atas sebagaan lainnya, sebagaimana firman Allah berkenaan dengan mendung: tsumma yaj’aluHuu rukaaman (“Kemudian menjadikannya bertindih-tindih.”) (QS. An-Nur: 43). Maksudnya, saling bertumpang tindih dan bersusun.

Fa yaj’alaHuu fii jaHannama ulaa-ika Humul khaasiruun (“Dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka
jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi.”) Maksudnya, mereka itulah orang-orang yang merugi di dunia dan akhirat.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 34-35

29 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 34-35“Kenapa Allah tidak mengadzab mereka, padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidil Haram dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya. Orang-orang yang berhak menguasai (nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. 8:34) Shalat mereka di sekitar Baitullah itu tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu. (QS. 8:35)” (al-Anfaal: 34-35)

Allah memberitahukan, bahwasanya mereka layak disiksa, namun Allah tidak menimpakan siksa itu kepada mereka karena berkah keberadaan Rasulullah saw. di tengah-tengah mereka. Karena inilah saat Rasulullah keluar dari tengah-tengah mereka, Allah menimpakan siksanya kepada mereka pada perang Badar, sehingga para pembesar mereka terbunuh dan sebagiannya tertawan. Allah memberikan petunjuk kepada mereka untuk berisitighfar, meminta ampunan dari dosa-dosa yang mereka tenggelam di dalamnya, yaitu dari kemusyrikan dan tindak pengrusakan.

Qatadah, as-Suddi yang lainnya berkata: “Kaum itu tidak meminta ampunan. Seandainya mereka meminta ampunan, pastilah mereka tidak akan disiksa.” Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir. Kalau saja bukan karena adanya orang-orang lemah dari orang-orang yang beriman yang berisitighfar yang ada di tengah-tengah mereka, pastilah adzab itu akan datang dengan tanpa bisa ditolak, akan tetapi adzab itu tertolak karena keberadaan mereka.

Sebagaimana firman Allah pada peristiwa Hudaibiyyah yang artinya:
“Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil-haram dan menghalangi hewan kurban sampai ke tempat (penyembelihan)nya. Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mukmin dan perempuan-perempuan yang mukmin yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur-baur, tentulah Kami akan mengadzab orang-orang kafr di antara mereka dengan adzab yang pedih.” (QS. Al-Fath: 25).

Ibnu Jarir berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Hamid, telah menceritakan kepada kami Ya’qub dari Ja’far bin Abil Mughirah, dari Ibnu Abza, ia berkata: “Dahulu Nabi Muhammad saw. berada di Makkah, kemudian Allah menurunkan: wa maa kaanallaaHu liyu-‘adz-dzibaHum wa anta fiiHim (“Dan Allah tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka.”) Ia berkata: Lalu Nabi saw. keluar ke Madinah, maka Allah menurunkan: wa maa kaanallaaHu mu’adz-dzaibaHum wa Hum yastaghfiruun (“Dan tidak [pula] Allah mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.”) Ia berkata: “Dan waktu itu kaum muslimin yang tersisa itu adalah orang-orang yang lemah.” Maksudnya orang-orang Islam yang masih ada di Makkah masih berisitighfar.

Maka pada saat mereka keluar, Allah menurunkan: wa maa laHum allaa yu-‘adz-dzibaHumullaaHu wa Hum yashudduuna ‘anil masjidil haraami wa maa kaanuu auliyaa-uHu in auliyaa-uHu illal muttaquun (“Kenapa Allah tidak mengadzab mereka, padahal mereka menghalangi orang untuk [mendatangi] Masjidil-haram dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya. Orang-orang yang berhak menguasai-[nya] hanyalah orang-orang yang bertakwa.”) Lalu Allah Ta’ala mengizinkan fathu Makkah, maka jadilah ia sebagai adzab yang dijanjikan kepada mereka.

Firman-Nya: wa maa laHum allaa yu-‘adz-dzibaHumullaaHu wa Hum yashudduuna ‘anil masjidil haraami wa maa kaanuu auliyaa-uHu in auliyaa-uHu illal muttaquun, wa laakinna aktsaraHum laa ya’lamuun (“Kenapa Allah tidak mengadzab mereka, padahal mereka menghalangi orang untuk [mendatangi] Masjidil-haram dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya. Orang-orang yang berhak menguasai-[nya] hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”)

Maksudnya, bagaimana Allah tidak menyiksa mereka, sementara mereka menghalangi orang untuk mendatangi Masjidil-haram. Maksudnya, orang-orang yang ada di Makkah menghalangi orang-orang beriman yang merupakan pemiliknya untuk melakukan shalat dan thawaf di dalamnya.

Karena inilah Allah berfirman: wa maa kaanuu auliyaa-uHu in auliyaa-uHu illal muttaquun (“Dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya. Orang orang yang berhak menguasai-[nya], hanyalah orang-orang yang bertakwa.”) Maksudnya, mereka bukanlah pemilik Masjidil-haram, pemiliknya tidak lain adalah Nabi dan para sahabatnya.

Sebagaimana firman Allah swt yang artinya:
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya dan mereka kekal di dalam neraka. Sesungguhnya yang makmurkan masjid-masjid Allah hayalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (At-Taubah: 17-18)

Mujahid berkata: “Mereka adalah orang-orang yang berjihad, siapa pun mereka dan di mana pun mereka.”

Kemudian Allah menyebutkan apa yang mereka tuju, serta apa yang mereka lakukan di Masjidilharam.

Lalu Allah pun berfirman: wa maa kaana shalaataHum ‘indal baiti illaa mukaa-aw wa tash-diyatan (“Shalat mereka di sekitar Baitullah itu lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan.”)

Dari Ibnu `Abbas ra. ia berkata: “Dahulu orang-orang Quraisy berthawaf di sekeliling Ka’bah dalam keadaan telanjang sambil bersiul dan bertepuk tangan.” Arti dari kata “mukaa-u” adalah bersiul, sedangkan arti “at-tash-diyatu” adalah bertepuk tangan. Demikianlah `Ali bin Abi Thalhah dan al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu `Abbas ra. Demikian juga yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Mujahid, Muhammad bin Ka’ab, Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman, adh-Dhahhak, Qatadah, ‘Athiyyah, al-‘Aufi, Hajar bin ‘Anbas dan Ibnu Abza dengan riwayat yang seperti ini.

Firman Allah: fadzuuqul ‘adzaaba bimaa kuntum takfuruun (“Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.”)Adh-Dhalihak, Ibnu Juraij dan Muhammad bin Ishaq berkata: “Yang dimaksud adzab itu adalah, apa yang menimpa mereka pada perang Badar, yang berupa pembunuhan dan penawanan.” Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir dan ia tidak menceritakan pendapat lainnya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 31-33

29 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 31-33“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami telah mendengar [ayat-ayat yang seperti ini], kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini [al-Qur’an] ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala.’ (QS. 8:31) Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik berkata): ‘Ya Allah, jika betul (al-Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih.’ (QS. 8:32) Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS. 8:33)” (al-Anfaal: 31-33)

Dengan firman-Nya ini Allah swt. memberitahukan tentang kekufuran orang-orang Quraisy, pengingkaran, pembangkangan dan keangkuhan juga pengakuan mereka yang bathil saat mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepada mereka, mereka berkata: qad sami’naa lau nasyaa-u laqulnaa mits-la Haadzaa (“Sesungguhnya kami telah mendengar [ayat-ayat yang seperti [ini]. Kalau kami menghendaki, niscaya kami dapat membacakan yang seperti int.’”)

Ini adalah ucapan mereka yang tidak ada realisasinya (wujud amalnya), karena mereka telah ditantang berkali-kali untuk mendatangkan satu surat yang seperti al-Qur’an, namun mereka tidak mendapatkan jalan untuk itu. Ucapan yang keluar dan mereka ini tidak hanyalah menipu diri mereka dan orang-orang yang mengikuti mereka kebathilannya. Ada pendapat mengatakan, bahwa yang mengucapkan kata-kata ni adalah an-Nadhar bin al-Harits, -semoga Allah melaknatinya-.

Asaathiirul awwaliin (“Dongengan-dongengan orang-orang dahulu.”) adalah bentuk jama’ dari “asthuuratun” (yang artinya dongeng). Maksudnya adalah, kitab-kitab mereka yang ia mengutip darinya, sebab ia belajar darinya membacakannya kepada manusia. Ini adalah kebohongan yang nyata.

Sebagaimana Allah beritakan tentang mereka pada ayat lain yang artinya: “Dan mereka berkata: ‘Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi petang.’ Katakanlah: ‘Al-Qur’an itu diturunkan (Allah) yang mengetahui segala rahasia di langit dan bumi. Sesungguhnya Dia adalah Mahapengampun lagi yang.” (QS. Al-Furqaan: 5-6)

Maksudnya, bagi orang yang bertaubat dan kembali kepadanya, maka sesungguhnya Allah swt. menerimanya dan memaafkannya.

Firman-Nya: wa idz qaalullaaHumma in kaana Haadzal Huwal haqqa min ‘indika fa amthir ‘alainaa hijaaratam minas samaa-i awi’tinaa bi’adzaabin aliim (“Dan [ingatlah], ketika mereka [orang-orang musyrik] berkata: `Ya Allah, jika betul [al-Qur’an] ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih.’”) Ini dikarenakan sangat banyaknya kebodohan mereka dan kerasnya pendustaan, pembangkangan dan pengingkaran mereka. Dan ini adalah sesuatu yang mereka dicela karenanya. Seharusnya mereka mengatakan: “Ya Allah, jika hal adalah kebenaran dari-Mu, maka tunjukkanlah kami kepadanya dan berikan taufiq kepada kami untuk mengikutinya.” Namun mereka memulai dengan sesuatu yang merugikan diri mereka dan meminta disegerakannya adzab.

Demikian pula ucapan orang-orang bodoh dari umat-umat terdahulu, sebagaimana perkataan kaum Nabi Syu’aib kepadanya: “Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (asy-Syu’araa’: 187)

Syu’bah meriwatkan dari Abdul Hamid, pemilik az-Ziyadi, dari Anas bin Malik dia berkata: “Yang mengucapkan demikian adalah Abu Jahal bin Hisyam.” Abu jahal berkata: AllaaHumma in kaana Haadzal Huwal haqqa min ‘indika fa amthir ‘alainaa hijaaratam minas samaa-i awi’tinaa bi’adzaabin aliim (“’Ya Allah, jika betul [al-Qur’an] ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih.’”)
“Maka turunlah ayat: wa maa kaanallaaHu liyu-‘adz-dzibaHum wa anta fiiHim wa maa kaanallaaHu mu’adz-dzaibaHum wa Hum yastaghfiruun (“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah [pula] Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS. 8:33)” (HR. Al-Bukhari)

Firman-Nya: wa maa kaanallaaHu liyu-‘adz-dzibaHum wa anta fiiHim wa maa kaanallaaHu mu’adz-dzaibaHum wa Hum yastaghfiruun (“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah [pula] Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.”) Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: wa maa kaanallaaHu liyu-‘adz-dzibaHum wa anta fiiHim (“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka.”) Allah sekali-sekali tidak akan menyiksa suatu kaum sementara para Nabi masih berada di tengah-tengah mereka, sehingga Allah mengeluarkan mereka, kemudian Allah berfirman: wa maa kaanallaaHu mu’adz-dzaibaHum wa Hum yastaghfiruun (“Dan tidaklah [pula] Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.”) Ia (Ibnu `Abbas) berkata: “Sedangkan tengah-tengah mereka terdapat orang yang sudah ada ketetapan semenjak dahulu kala dari Allah, bahwa mereka akan masuk ke dalam iman, yaitu istighfar.”
Yastaghfiruuna (“Mereka meminta ampun”) adalah yushaaluuna (“mereka melakukan shalat”), yaitu penduduk Makkah.

Adh-Dhahhak dan Abu Malik berkata: wa maa kaanallaaHu mu’adz-dzaibaHum wa Hum yastaghfiruun (“Dan tidaklah [pula] Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.”) Maksudnya adalah, orang-orang beriman yang ada di Makkah.

At-Tirmidzi berkata dari Abi Burdah bin Abi Musa, dari bapaknya, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Allah menurunkan dua keamanan kepadaku untuk umatku, yaitu; ‘Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.’ Maka jika aku telah wafat, aku tinggalkan pada mereka istighfar sampai hari Kiamat.”

Hadits at-Tirmidzi ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan al-Hakim dalam al-Mustadraknya, dari Abu Sa’id, bahwasanya Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya syaitan berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu ya Rabb, aku akan terus-menerus membelokkan dan menggoda hamba-hamba-Mu selama nyawa mereka masih ada pada badan mereka.’ Allah menjawab: ‘Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, Aku akan terus-menerus mengampuni mereka selama mereka meminta ampunan dari-Ku.’”

Kemudian al-Hakim berkata: “Sanadnya shahih tetapi Imam al-Bukhari serta Imam Muslim tidak mengeluarkannya.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 30

29 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 30“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS. Al-Anfaal: 30)

Ibnu `Abbas, Mujahid dan Qatadah berkata: liyuts-butuuka (“Untuk menangkap dan memenjarakanmu.”) Yaitu, supaya mereka mengikatmu. `Atha’ dan Ibnu Zaid berkata: “Supaya mereka menahanmu.”

Imam Ahmad berkata dari Muqsim maula Ibnu `Abbas, ia diberitahu Ibnu `Abbas berkenaan dengan firman Allah: wa idz yamkuru bika (“[Dan ingatlah] ketika orang-orang kafir [Quraisy] memikirkan daya upaya terhadapmu.”) Ia berkata: “Pada suatu malam, orang-orang Quraisy bermusyawarah di Makkah, sebagian mereka berkata: `Jika hari memasuki pagi, ikat dia dengan tali.’ Maksud mereka adalah Rasulullah.
Sebagian lagi berkata: `Bukan, akan tetapi bunuhlah.’ Sebagian lagi berkata: `Bukan, akan tetapi usir dan keluarkan dia.’ Lalu Allah memperlihatkan kepada Nabi-Nya atas hal itu, maka `Ali bin Abi Thalib tidur pada tempat tidur Rasulullah sedangkan beliau keluar, sehingga sampai di gua Tsur, sementara orang-orang musyrik pada malam itu menjaga `Ali bin Abi Thalib, mereka menduga bahwa dia adalah Rasulullah saw.

Pada saat mereka memasuki pagi hari, mereka menyerbu. Saat mereka melihat `Ali, Allah swt. mengembalikan tipu-daya mereka. Mereka berkata: `Mana sahabatmu ini?’ `Ali menjawab: `Saya tidak tahu.’ Lalu mereka mengikuti jejak Rasulullah saw. Setelah mereka sampai di bukit, mereka menjadi kebingungan, lalu mereka menaiki bukit itu dan melewati gua. Mereka melihat
pada mulut gua itu ada sarang laba-laba. Mereka berkata: `Seandainya dia memasukinya di sini, pastilah sarang laba-laba ini tidak ada.’ Di dalam gua itu Rasulullah berdiam selama tiga malam.

Muhammad bin Ishaq berkata dari Muhammad bin Ja’far bin az-Zubair, dari `Urwah bin az-Zubair, berkenaan dengan firman Allah: wa yamkuruuna wa yamkurullaaH, wallaaHu khairul maakiriin (“Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.”) Maksudnya adalah, lalu Aku terapkan makarku kepada mereka dengan tipu daya yang kokoh, sehingga Aku menyelamatkan dirimu dari mereka.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 29

29 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 29“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 29)

Muhammad bin Ishaq berkata: “furqaanan” (furqan) maksudnya adalah, pemisah antara kebenaran dan kebathilan. Penafsiran dari Ibnu Ishaq ini lebih umum, sebagaimana firman Allah yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman (kepada Para Rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampunimu. Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. Al-Hadiid: 28)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 27-28

29 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 27-28“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. 8:27) Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. 8:28)” (al-Anfaal: 27-28)

`Abdur Razzaq bin Abi Qatadah dan az-Zuhri berkata: “Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Lubabah bin `Abdul Mundzir, saat diutus oleh Rasulullah saw. ke Banu Quraidhah guna memerintahkan mereka untuk menerima keputusan Rasulullah, lalu mereka meminta pendapat darinya dalam hal ini, lalu ia memberikan pendapat kepada mereka dan memberikan isyarat dengan tangannya ke lehernya, maksudnya, hal itu adalah penyembelihan.

Kemudian Abu Lubabah sadar dan melihat bahwa dirinya telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia bersumpah tidak akan merasakan makanan apa pun sehingga meninggal, atau Allah menerima taubatnya. Abu Lubabah pergi ke Masjid Madinah, lalu mengikatkan dirinya pada salah satu tiang masjid, lalu ia berdiam di situ selama sembilan hari, sehingga terjatuh sadarkan diri karena kepayahan, sehingga Allah menurunkan (ayat tentang) penerimaan taubatnya kepada Rasul-Nya, maka orang-orang berdatangan kepadanya memberikan berita gembira atas diterimanya taubat dia.

Mereka hendak melepaskannya dari tiang itu, lalu dia bersumpah bahwa tidak boleh ada seorang pun yang melepaskan ikatannya selain Rasulullah dengan tangan beliau, lalu Rasulullah
melepaskannya, lalu dia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya telah bernadzar untuk melepas seluruh hartaku sebagai sedekah.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Cukuplah 1/3 nya engkau sedekahkan dengan harta itu.”

Dalam shahih al-Bukhari dan shahih Muslim terdapat kisah Hathib Abi Balta’ah, bahwasanya ia menulis surat kepada (orang-orang kafir) Quraisy, memberitahukan maksud Rasulullah kepada mereka pada tahun ditaklukkannya kota Makkah, lalu Allah menampakkan hal itu kepada Rasul-Nya. Maka beliau mengutus orang untuk menyusul surat itu dan mernbawanya kembali. Beliau mendatangkan Hathib, lalu dia mengakui perbuatannya.

Dalam kisah itu disebutkan, bahwa kemudian `Umar bin al-Khaththab berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah saya memenggal leher orang ini karena ia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman?”
Maka Rasulullah bersabda: “Biarkan dia, karena dia telah menghadiri perang Badar, siapa tahu Allah telah melihat kepada ahli Badar, lalu berfirman: ‘Silahkan perbuat apa saja yang kalian kehendaki, sebab Aku telah mengampuni kalian.”

Aku (Ibnu Katsir) berkata: “Yang benar bahwa ayat ini bersifat umum, meskipun benar bahwa ayat ini turun karena sebab khusus, namun yang terambil adalah keumuman lafazh, bukan kekhususan sebab, menurut jumhurul Ulama. Khianat itu mencakup dosa-dosa kecil dan dosa-dosa besar, yang berdampak pada diri seseorang, ataupun yang dampaknya menimpa orang lain.”

Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu `Abbas ra. berkenaan dengan firman Allah: wa takhuunuu amaanatukum (“Dan [juga janganlah] kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu.”) Amanah adalah segala macam amal perbuatan yang diamanahkan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Maksudnya adalah kewajiban, ia juga berkata: “Jangan berkhianat,” maksudnya adalah, jangan melanggar amanat itu.

Dalam riwayat lain, ia berkata: “Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad),” dengan meninggalkan sunnahnya dan melakukan kemaksiatan kepadanya.

Dan firman-Nya: wa’lamuu annamaa amwaalukum wa aulaadukum fitnatun (“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan.”) Maksudnya adalah, ujian dan cobaan dari Allah kepada kalian, saat Dia memberikan harta dan anak itu kepada kalian, supaya Dia mengetahui adakah kalian mensyukuri-Nya atas pemberian ini, menaati-Nya dalam urusannya, ataukah kalian disibukkan olehnya (harta dan anak-anak) dari Allah swt. dan menjadikan keduanya sebagai pengganti Allah, sebagaimana firman-Nya: annamaa amwaalukum wa aulaadukum fitnatuw wallaaHu ‘indaHuu ajrun ‘adhiim (“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan bagimu, di sisi Allah-lah pahala yang besar.”) (at-Taghaabun: 15)

Firman Allah: wa annallaaaHu ‘indaHuu ajrun ‘adhiim (“Dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”) maksudnya adalah pahala Allah, pemberian-Nya, dan surga-surga-Nya lebih baik bagi kalian daripada harta dan anak-anak, sebab kadang-kadang di antara mereka menjadi musuh dan kebanyakan di antara mereka tidak memberikan apa-apa bagimu, sedang Allah-lah yang mengatur, yang memiliki dunia dan akhirat, Dia memiliki pahala di hari Kiamat.

Diriwayatkan dalam hadits shahih bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Ada tiga hal, siapa saja yang tiga hal itu ada padanya, ia mendapatkan manisnya iman; (yaitu) hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; hendaklah seseorang mencintai orang lain, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah; dan hendaklah ia benci untuk kembali ke dalam kekufuran sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Al-Bukhari)

Bahkan cinta kepada Rasulullah harus didahulukan atas anak-anak, harta dan jiwa. Sebagaimana tersebut dalam hadits shahih, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak beriman seseorang di antara kalian, sehingga aku lebih dia cintai daripada dirinya, keluarganya, hartanya dan manusia seluruhnya.” (HR. Al-Bukhari)

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 26

26 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 26“Dan ingatlah (hai Para Muhajirin), ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di bumi (Makkah), kamu takut orang-orang (Makkah) akan menculikmu, maka Allah memberimu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rizki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Anfaal: 26)

Dengan ayat ini Allah swt. mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman atas kenikmatan-kenikmatan yang Dia berikan kepada mereka, serta kebaikan-kebaikan-Nya kepada mereka, di mana mereka masih sedikit, lalu Allah memperbanyak (jumlah) mereka, mereka lemah dan takut, lalu Allah menguatkan dan memberikan kemenangan kepada mereka, mereka fakir dan kekurangan, lalu Allah memberikan rizki kepada mereka dari yang baik-baik dan Dia meminta dari mereka agar bersyukur, lalu mereka mentaati-Nya dan melaksanakan segala hal yang diperintahkan-Nya.

Inilah keadaan orang-orang beriman saat mereka masih berada di Makkah sebagai kaum minoritas yang sembunyi-sembunyi dan tertekan, mereka takut kalau diculik satu-persatu oleh orang-orang yang musyrik, Majusi dan Romawi dari berbagai negeri mereka yang semuanya adalah musuh mereka, dikarenakan (jumlah) orang-orang beriman masih sedikit dan tidak ada kekuatan pada mereka.

Kondisi mereka tetaplah demikian dan tidak berubah, sehingga Allah mengizinkan kepada mereka untuk hijrah ke Madinah, lalu Allah memberikan tempat yang aman kepada mereka di Madinah. Allah persiapkan penduduknya untuk mereka, penduduk itu memberikan tempat yang aman dan pembelaan pada perang Badar dan perang-perang lainnya. Para penduduk Madinah itu menolong dengan harta mereka dan mengorbankan jiwa mereka dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 25

26 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 25“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dhalim saja di antaramu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfaal: 25)

Dengan ayat ini Allah swt. memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman tentang adanya fitnah, yaitu ujian dan cobaan yang menimpa orang-orang yang berbuat keburukan dan yang tidak berbuat keburukan, ia tidak hanya khusus menimpa para pelaku maksiat, juga bukan hanya menimpa orang yang secara langsung melakukan dosa, akan tetapi menimpa kedua-duanya, sekiranya ujian itu tidak ditolak dan diangkat (dicabut).

Dari Ibnu `Abbas ra, dalam mentafsirkan ayat ini: “Allah swt memerintahkan orang-orang beriman agar mereka tidak membiarkan kemunkaran terjadi di hadapan mereka, sebab Allah bisa menimpakan adzab secara merata.” Ini adalah penafsiran yang baik sekali.

Ibnu Mas’ud berkata: “Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali tercakup ke dalam fitnah, sesungguhnya Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu).”(QS. At-Taghaabun: 15).

Maka, siapa saja yang meminta perlindungan, mintalah perlindungan kepada Allah dari berbagai fitnah yang menyesatkan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal Ayat 24

26 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal
(Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 24“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfaal: 24)

Imam al-Bukhari berkata: istajiibuu (“Penuhilah,”) sambutlah. Limaa yuhyiikum (“Kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.”) Berarti: limaa yushlihuukum (segala hal yang membawa maslahat bagi kalian).”

Telah menceritakan kepadaku Ishaq, telah menceritakan kepada kami Rauh, dari Abi Sa’ad bin al-Ma’la, ia berkata: “Aku sedang shalat, lalu Rasulullah saw. lewat, beliau memanggilku, lalu aku tidak mendatanginya sehingga aku selesai shalat, kemudian aku mendatangi beliau, lalu beliau bersabda: “Apa yang menghalangimu untuk datang kepadaku?” Bukankah Allah swt, telah berfirman: yaa ayyuHal ladziina aamanus tajiibuu lillaaHi wa lir rasuuli idzaa da’aakum limaa yuhyiikum (“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu.”)

Kemudian beliau bersabda: “Sungguh akan aku ajarkan kepadamu satu surat dalam al-Qur’an sebelum aku keluar.” Pembicaraan tentang hadits ini sanad-sanadnya telah dikemukakan pada awal tafsir Surat al-Fatihah.

Berkenaan dengan firman Allah: limaa yuhyiikum (“Kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu,”) Mujahid berkata: “Yaitu, kepada kebenaran.”
Qatadah berkata: limaa yuhyiikum (“Kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu,”) yaitu al-Qur’an ini, karena di dalamnya terdapat keselamatan, keabadian dan kehidupan.” As-Suddi berkata: “Yaitu, di dalam Islam terdapat sesuatu yang bisa menghidupkan mereka setelah kematian mereka yang dikarenakan kekufuran.”

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Muhammad bin ja’far bin az-Zubair, dari ‘Urwah bin az-Zubair: yaa ayyuHal ladziina aamanus tajiibuu lillaaHi wa lir rasuuli idzaa da’aakum limaa yuhyiikum (“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu.”) maksudnya adalah untuk berperang yang dengannya Allah ” memberikan ‘izzah (kehormatan) kepada kalian setelah kehinaan, menguatkan kalian setelah lemah, memberikan perlindungan yang kokoh kepada kalian dari musuh kalian setelah terkalahkan oleh mereka.”

Firman Allah: wa’lamuu annallaaHa yahuulu bainal mar’i wa qalbiHi (“Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya.”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Yaitu menghalangi seorang mukmin dari kekufuran dan seorang kafir dari keimanan.” Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak secara mauquf. Ia berkata: “(Hadits ini) shahih, sedang al-Bukhari serta Muslim tidak mengeluarya.” Demikian pula Mujahid, Sa’id, ‘Ikrimah, adh-Dhahhak, Abu Shalih, Athiyyah, Muqatil bin Hayyan dan as-Suddi berkata: “Dan banyak hadits yang datang dari Rasulullah yang sesuai dengan ayat ini.”

Imam Ahmad berkata [dengan sanadnya dari ‘Abdullah bin Amr] bahwasanya ia mendengar ‘Abdullah bin Amr bahwasanya ia mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya hati manusia seluruhnya ada di antara dua jemari Allah seperti satu hati, Dia berbuat (mengatur) terhadapnya sesuai dengan kehendak-Nya”

Kemudian Rasulullah berdo’a:

doa agar diberi hati yang selalu taat kepada Allah“Ya Allah yang menguasai hati, arahkanlah hati-hati kami untuk menaati-Mu.”

Imam Muslim meriwayatkan hadits ini sendiri tanpa Imam al-Bukhari, ia (Muslim) meriwayatkannya bersama an-Nasai’.

Bersambung

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 152 pengikut lainnya.