Tag Archives: Al-Fatihah

Tafsir Jalalayn Surah 001 Al-Faatihah

8 Sep

Tafsir Jalalayn Surah 001 Al-Faatihah
Tafsir Jalalayn; Bahasa Indonesia

0 alfatihah

1. (Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)
2. (Segala puji bagi Allah) Lafal ayat ini merupakan kalimat berita, dimaksud sebagai ungkapan pujian kepada Allah berikut pengertian yang terkandung di dalamnya, yaitu bahwa Allah Taala adalah yang memiliki semua pujian yang diungkapkan oleh semua hamba-Nya. Atau makna yang dimaksud ialah bahwa Allah Taala itu adalah Zat yang harus mereka puji. Lafal Allah merupakan nama bagi Zat yang berhak untuk disembah. (Tuhan semesta alam)artinya Allah adalah yang memiliki pujian semua makhluk-Nya, yaitu terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan-hewan melata dan lain-lainnya. Masing-masing mereka disebut alam. Oleh karenanya ada alam manusia, alam jin dan lain sebagainya. Lafal ‘al-`aalamiin’ merupakan bentuk jamak dari lafal ‘`aalam’, yaitu dengan memakai huruf ya dan huruf nun untuk menekankan makhluk berakal/berilmu atas yang lainnya. Kata ‘aalam berasal dari kata `alaamah (tanda) mengingat ia adalah tanda bagi adanya yang menciptakannya.
3. (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) yaitu yang mempunyai rahmat. Rahmat ialah menghendaki kebaikan bagi orang yang menerimanya.
4. (Yang menguasai hari pembalasan) di hari kiamat kelak. Lafal ‘yaumuddiin’ disebutkan secara khusus, karena di hari itu tiada seorang pun yang mempunyai kekuasaan, kecuali hanya Allah Taala semata, sesuai dengan firman Allah Taala yang menyatakan, “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini (hari kiamat)? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (Q.S. Al-Mukmin 16) Bagi orang yang membacanya ‘maaliki’ maknanya menjadi “Dia Yang memiliki semua perkara di hari kiamat”. Atau Dia adalah Zat yang memiliki sifat ini secara kekal, perihalnya sama dengan sifat-sifat-Nya yang lain, yaitu seperti ‘ghaafiruz dzanbi’ (Yang mengampuni dosa-dosa). Dengan demikian maka lafal ‘maaliki yaumiddiin’ ini sah menjadi sifat bagi Allah, karena sudah ma`rifah(dikenal).
5. (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan) Artinya kami beribadah hanya kepada-Mu, seperti mengesakan dan lain-lainnya, dan kami memohon pertolongan hanya kepada-Mu dalam menghadapi semua hamba-Mu dan lain-lainnya.
6. (Tunjukilah kami ke jalan yang lurus) Artinya bimbinglah kami ke jalan yang lurus, kemudian dijelaskan pada ayat berikutnya, yaitu:
7. (Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka), yaitu melalui petunjuk dan hidayah-Mu. Kemudian diperjelas lagi maknanya oleh ayat berikut: (Bukan (jalan) mereka yang dimurkai) Yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi. (Dan bukan pula) dan selain (mereka yang sesat.) Yang dimaksud adalah orang-orang Kristen. Faedah adanya penjelasan tersebut tadi mempunyai pengertian bahwa orang-orang yang mendapat hidayah itu bukanlah orang-orang Yahudi dan bukan pula orang-orang Kristen. Hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui dan hanya kepada-Nyalah dikembalikan segala sesuatu. Semoga selawat dan salam-Nya dicurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. beserta keluarga dan para sahabatnya, selawat dan salam yang banyak untuk selamanya. Cukuplah bagi kita Allah sebagai penolong dan Dialah sebaik-baik penolong. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan hanya berkat pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

&

Tafsir Al-Qur’an Surah Ad-Dukhaan (1)

22 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ad-Dukhaan (Kabut)
Surah Makkiyyah; Surah ke 44: 59 ayat

tulisan arab alquran surat ad dukhaan ayat 1-8bismillaaHir rahmaanir rahiim (Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang) 1. Haa miim[*]. 2. demi kitab (Al Quran) yang menjelaskan, 3. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[**] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. 4. pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah[***], 5. (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul, 6. sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui, 7. Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini. 8. tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu.” (ad-Dukhaan: 1-8)

[*] Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.
[**] Malam yang diberkahi ialah malam Al Quran pertama kali diturunkan. di Indonesia umumnya dianggap jatuh pada tanggal 17 Ramadhan.
[***] Yang dimaksud dengan urusan-urusan di sini ialah segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk seperti: hidup, mati, rezki, untung baik, untung buruk dan sebagainya.

Allah berfirman seraya menceritakan tentang al-Qur’an yang agung, bahwa Dia telah menurunkannya pada malam yang penuh berkah, yaitu malam Lailatul Qadar. Sebagaimana yang difirmankan Allah: innaa anzalnaaHu fii lailatil qadri (“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya [al-Qur’an] pada malam kemuliaan.”)(al-Qadar: 1)
Dan yang demikian itu terjadi pada bulan Ramadlan, sebagaimana yang difirmankan Allah: syaHru ramadlaanalladzii unzila fiiHil qur-aanu (“Bulan Ramadlan, bulan yang di dalamnya diturunkan [permulaan] al-Qur’an.”) (al-Baqarah: 185)

Firman Allah: innaa kunnaa mundziriin (“Dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.”) maksudnya mengajarkan kepada umat manusia apa yang bermanfaat bagi mereka dan apa yang memberi mudlarat kepada mereka menurut syari’at agar hujjah Allah berdiri tegak atas hamba-hamba-Nya. Dan firman-Nya lebih lanjut: fiiHaa yufraqu kullu amrin hakiim (“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”) yaitu pada malam lailatul Qadar. Dia rincikan dari Lauhul Mahfudh menjadi beberapa buku mengenai berbagai berbagai urusan selama satu tahun dan apa yang terjadi pada tahun itu, baik berupa ajal, rizky, serta apa yang akan terjadi pada akhirnya. Demikianlah yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Mujahid, adl-Dlahhak, dan ulama salaf lainnya.

Firman Allah: hakiim (“Yang penuh hikmah”) maksudnya yaitu sudah baku, tidak dapat diganti dan dirubah. Oleh karena itu Allah berfirman: amran min ‘indinaa (“Yaitu urusan yang besar dari sisi Kami”) yaitu seluruh apa yang akan terjadi dan ditetapkan Allah Ta’ala serta apa yang diwahyukan, maka semuanya itu atas perintah, izin dan sepengetahuan-Nya. Innaa kunnaa mursiliin (“Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus Rasul-Rasul.”) yaitu kepada seluruh umat manusia sebagai seorang Rasul yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah yang memberikan penjelasan, karena keadaan sudah sangat membutuhkan hal tersebut. Oleh karena itu Allah berfirman: rahmatam mir rabbika innaHuu Huwas samii-‘ul ‘aliim. Rabbus samaawaati wal ardli wa maa bainaHumaa (“Sebagai rahmat dari Rabb-mu, sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Rabb yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya.”) maksudnya yang menurunkan al-Qur’an adalah Rabb Pemelihara, Pencipta, dan Raja langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. ingkuntum muuqiniin (“Jika kamu adalah orang yang meyakini.”) maksudnya, jika kalian benar-benar yakin. Setelah itu Dia berfirman: laa ilaaHa illaa Huwa yuhyii wa yumiitu rabbukum wa rabbu aabaa-ikumul awwaliin (“Tidak ada Rabb [yang berhak diibadahi] melainkan Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan. [Dia-lah] Rabb-mu dan Rabb bapak-bapak kamu yang terdahulu.”)

tulisan arab alquran surat ad dukhaan ayat 9-16“9. tetapi mereka bermain-main dalam keragu-raguan. 10. Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata 11. yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih. 12. (mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, lenyapkanlah dari Kami azab itu. Sesungguhnya Kami akan beriman”.
13. Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, Padahal telah datang kepada mereka seorang Rasul yang memberi penjelasan,14. kemudian mereka berpaling daripadanya dan berkata: “Dia adalah seorang yang menerima ajaran (dari orang lain) lagi pula seorang yang gila” 15. Sesungguhnya (kalau) Kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit Sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar).16. (ingatlah) hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah pemberi balasan.” (ad-Dukhaan: 9-16)

Allah berfirman: “Tetapi orang-orang musyrik itu berada dalam keraguan dan bermain-main.” Artinya telah datang kebenaran yang meyakinkan kepada mereka, namun mereka ragu terhadapnya serta tidak membenarkannya. Kemudian Allah Yang Mahamulia lagi Mahaperkasa berfirman serta mengancam mereka: fartaqib yauma ta’tis samaa-u bidukhaanim mubiin (“Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata.”) aku (Muhammad) akan kabarkan kepada kalian tentang hal itu. Ketika kaum Quraisy enggan memeluk Islam dan menentang Rasul Allah, maka beliau mendoakan keburukan kepada mereka, yaitu masa paceklik bertahun-tahun seperti yang tejadi pada zaman Yusuf. Maka merekapun merasakan penderitaan dan kelaparan, sehingga mereka memakan tulang dan bangkai. Kemudian mereka memandang ke langit, maka mereka tidak melihat sesuatu pun kecuali kabut.
(bersambung ke bagian 2)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Jaatsiyah (4)

22 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Jatsiyah
Surah Makkiyyah; Surah ke 45: 37 ayat

Wa khalaqallaaHus samaawaati wal ardla bil haqqi (“Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar.”) yakni dengan penuh keadilan. Wa litujzaa kullu nafsim bimaa kasabat wa Hum laa yudh-lamuun (“Dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya dan mereka tidak akan dirugikan.”)
Afa ra-aita manit takhadza ilaaHaHuu Hawaa-Hu (“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya?”) maksudnya orang itu bertindak berdasarkan hawa nafsunya. Jadi apa yang ia anggap baik, maka ia akan kerjakan, dan apa yang ia anggap jelk, akan ia tinggalkan. Hal itu pula yang telah dijadikan dalil oleh kaum Mu’tazilah bagi pendapatnya tentang tahsin [menganggap baik] dan taqbih [menganggap buruk] menurut akal.

Diriwayatkan dari Malik, penafsiran bahwa tidaklah ia condong kepada sesuatu melainkan ia menyembahnya.

Firman-Nya: wa adlal-laHullaaHu ‘alaa ‘ilmin (“Dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.”) yang demikian itu mencakup dua hal; pertama, Allah menyesatkannya karena pengetahuan-Nya bahwa ia memang berhak menerima hal itu. Kedua, Allah menyesatkannya setelah sampainya ilmu pengetahuan kepadanya serta tegaknya hujjah atasnya. Yang kedua mengharuskan kemungkinan yang pertama, dan tidak sebaliknya.

Firman Allah: wa khatama ‘alaa sam’iHii wa ja-‘ala ‘alaa bashariHii ghisyaawatan (“Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.”) maksudnya ia tidak dapat mendengar apa yang bermanfaat baginya dan tidak menyadari sesuatu pun yang dapat menjadi petunjuk baginya serta tidak dapat melihat hujjah yang dapat ia jadikan sebagai penerang. Oleh karena itu, Allah berfirman: famay yaHdiiHi mim ba’dillaaHi afa laa tadzakkaruun (“Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah [membiarkannya sesat?]? Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”)

tulisan arab alquran surat al jaatsiyah ayat 24-26“24. dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. 25. dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain dari mengatakan: “Datangkanlah nenek moyang Kami jika kamu adalah orang-orang yang benar.” 26. Katakanlah: “Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-Jaatsiyah: 24-26)

Allah memberitahukan tentang ucapan golongan ad-Dahriyyah dari orang-orang kafir dan orang-orang musyrik Arab dalam mengingkari kebangkitan.
Wa qaaluu maa Hiya illaa hayaatunad dun-yaa namuutu wa nahyaa (“Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup.”) maksudnya, tidak ada kehidupan lain selain kehidupan di dunia ini saja, sebagian orang mati dan sebagian lainnya lahir, juga tidak ada hari kebangkitan dan hari kiamat. Demikianlah yang dikatakan oleh kaum musyrik Arab yang mengingkari kebangkitan dan para filosof teolog, yang mengingkari permulaan dan pengembalian. Hal itu pula yang dikemukakan oleh para filosof yang mengakui kekuatan masa dan perputaran waktu serta mengingkari Rabb Pencipta. Mereka ini berkeyakinan bahwa setiap 36.000 tahun, segala sesuatu akan kembali seperti semula, itulah anggapan mereka dan ini telah berlangsung berkali-kali yang tidak berkesudahan. Oleh sebab itu, mereka mengatakan: wa maa yuHlikunaa illad daHru (“Tidak ada yang membinasakan kita selain masa.”)

Firman Allah: wa maa laHum bidzaalika min ‘ilmin in Hum illaa yadhunnuun (“Dan mereka sekali-sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”) maksudnya, mereka hanya mengira-ngira dan berkhayal semata.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim serta Abu Dawud dan an-Nasa-i, dari Abu Hurairah ia bercerita: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Anak Adam telah menyakiti-Ku karena ia memaki massa, dan Aku adalah ad-DaHru [Pencipta/Pengatur masa], di tangan-Ku semua urusan, aku membalikkan malam dan siangnya.’”

Dalam riwayat lain: “Janganlah kalian mencaci masa, karena Allah Ta’ala itu adalah ad-DaHr.”
Di dalam menafsirkan hadits ini, Imam Syafi’i, Abu ‘Ubaidah, dan imam lainnya berkata: “Pada masa jahiliyah, masyarakat Arab mempunyai kebiasaan, jika mereka ditimpa musibah, penyakit, atau bencana, maka mereka akan mengatakan: ‘Wahai masa yang sial.’ Dengan demikian mereka menyandarkan semua perbuatan itu pada masa dan bahkan mereka mencelanya. Padahal pelaku sebenarnya adalah Allah Ta’ala. Dengan demikian, mereka seolah-olah mencela Allah karena sebenarnya Dia-lah yang melakukan semua itu. Oleh karen itu, Rasulullah saw. melarang mencaci masa dengan cara seperti itu, karena Allah Ta’ala sendiri adalah masa yang mereka maksudkan tersebut dan yang mereka jadikan sebagai sandaran perbuatan mereka.” Demikianlah penafsiran yang baik dan demikian pula yang dimaksud. wallaaHu a’lam.

Sedangkan Ibnu Hazm dan orang-orang yang sependapat dengannya dari kalangan penganut madzab Dhahiriyyah (tekstual) telah melakukan kesalahan, dimana mereka telah memasukkan ad-DaHr sebagai salah satu asma’ul husna dengan bersandarkan pada hadits tersebut di atas.

Firman Allah: wa idzaa tutlaa ‘alaiHi aayaatunaa bayyinaati (“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas.”) maksudnya jika dikemukakan dalil kepada mereka dan dijelaskan kepada mereka kebenaran bahwa Allah Ta’ala mampu mengembalikan jasad setelah kehancuran dan keterserakannya. Maa kaana hujjataHumm illaa ang qaalu’tuu bi aabaa-inaa ing kuntum shaadiqiin (“Tidak ada bantahan mereka selain mengatakan: ‘Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar.”) maksudnya, hidupkanlah mereka jika yang kalian katakan itu memang benar.
(bersambung ke bagian 5)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Jaatsiyah (2)

22 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Jatsiyah
Surah Makkiyyah; Surah ke 45: 37 ayat

Ulaa-ika laHum ‘adzaabum muHiin (“Merekalah yang memperoleh adzab yang menghinakan.”) yakni yang demikian itu sebagai balasan dan penghinaan dan olok-olokan mereka terhadap al-Qur’an.
Berkenaan dengan hal itu, Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, dari Ibnu ‘Umar, ia bercerita bahwa Rasulullah saw. melarang seseorang bepergian dengan membawa al-Qur’an ke negeri musuh, karena ditakutkan Kitab itu akan dirampas oleh musuh.

Lalu Allah manafsirkan adzab yang menimpanya pada hari ia dibangkitkan, dimana Dia berfirman: miw waraa-iHim jaHannamu (“Di hadapan mereka neraka jahannam”) maksudnya setiap orang yang memiliki sifat seperti itu maka mereka akan dimasukkan ke dalam jahannam pada hari kiamat.

Wa laa yughnii ‘anHum maa kasabuu syai-an (“Dan tidak akan berguna lagi bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan.”) maksudnya, harta kekayaan dan juga anak-anak mereka tidak lagi bermanfaat bagi mereka.
Wa laa mat takhadzuu min duunillaaHi auliyaa-a (“Dan tidak pula berguna apa yang mereka jadikan sembahan-sembahan mereka dari selain Allah.”) artinya tuhan-tuhan yang mereka jadikan sembahan selain Allah itu sama sekali tidak berguna bagi mereka.
Wa laHum ‘adzaabun ‘adziim (“Dan bagi mereka adzab yang pedih.”)

Firman-Nya: Haadzaa Hudaa (“Ini adalah petunjuk”) yakni al-Qur’an. Walladziina kafaruu bi aayaati rabbiHim laHum ‘adzaabum mir rijzin aliim (“dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya, bagi mereka adzab, yaitu siksaan yang sangat pedih.”) yaitu, yang menyakitkan lagi menyengsarakan. wallaaHu a’lam.

tulisan arab alquran surat al jaatsiyah ayat 12-15“12. Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan Mudah-mudahan kamu bersyukur. 13. dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. 14. Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut hari-hari Allah karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan. 15. Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, Maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, Maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.” (al-Jaatsiyah: 12-15)

Allah menceritakan berbagai nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang mana Dia telah menundukkan lautan bagi mereka, litajriyal fulku (“Supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya.”) yakni kapal-kapal yang berlayar atas perintah-Nya, karena Dialah yang telah memerintahkan lautan untuk membawanya. Wa litabtaghuu (“Dan supaya kamu bisa mencari sebagian karunia-Nya.”) yaitu melalui perniagaan dan pekerjaan.
Wa la’allakum tasykuruun (“dan mudah-mudahan kamu bersyukur”) yakni atas dilimpahkannya berbagai manfaat kepada kalian berupa wilayah-wilayah pelosok dan ufuk yang sangat jauh.
Wa sakhkhara lakum maa fis samaawaati wa maa fil ardli (“dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya”) yaitu berupa bintang-bintang, gunung-gunung, lautan, sungai-sungai, dan segala hal yang dapat kalian manfaatkan. Artinya semua itu merupakan karunia, kebaikan, dan anugerah-Nya. Oleh karena itu Dia berfirman: jamii-‘am minHu (“Semuanya dari-Nya”) yaitu dari sisi-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal ini sebagaimana firman-Nya: “Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah datangnya. Dan jika kamu ditimpa oleh kemudlaratan, maka hanya kepada-Nya kamu meminta pertolongan.”)(an-Nahl: 53)
Inna fii dzalika la aayaatil liqaumiy yatafakkaruun (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi kaum yang berfikir.”)

Firman Allah: qul lilladziina aamanuu yaghfirulladziina laa yarjuuna ayyaamillaaHi (“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman, hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah.”) maksudnya hendaklah mereka memberi maaf kepada orang-orang itu dan menahan penderitaan akibat ulah mereka. Hal itu terjadi pada permulaan Islam, dimana mereka telah diperintahkan untuk bersabar atas gangguan yang dilakukan oleh kaum musyrikin dan ahlul kitab, agar hal itu menjadi pemersatu bagi mereka. Setelah kaum musyrikin itu tetap terus pada keingkaran, Allah Ta’ala mensyariatkan perlawanan dan jihad. Demikianlah yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan Qatadah.

Mujahid berkata tentang firman-Nya: laa yarjuuna ayyaamillaaHi (“Orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah”) yaitu orang-orang yang tidak menerima nikmat-nikmaat Allah.”)

Firman Allah: liyajziya qumam bimaa kaanuu yaksibuun (“Karena Dia akan membalas suatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”) artinya, jika orang-orang beriman memberikan maaf kepada orang-orang musyrik ketika di dunia, maka sesungguhnya Allah akan memberikan balasan kepada mereka atas amal perbuatan buruk mereka di akhirat kelak. Oleh karena itu, Allah berfirman:
Man ‘amila shaalihan falinafsiHii wa man asaa-a fa-‘alaiHaa tsumma ilaa rabbikum turja’uun (“Barangsiapa yang mengerjakkan amal shalih, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan maka itu akan menimpa dirinya sendiri. Kemudian kepada Rabb-mu lah kamu dikembalikan.”) maksudnya, kalian akan kembali kepada-Nya pada hari kiamat kelak, kemudian diperlihatkan kepada kalian amal perbuatan kalian, lalu Dia akan memberikan balasan terhadap amal perbuatan kalian, yang baik maupun yang buruk. wallaaHu a’lam.
(bersambung ke bagian 3)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Jaatsiyah (1)

22 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Jatsiyah
Surah Makkiyyah; Surah ke 45: 37 ayat

tulisan arab alquran surat al jaatsiyah ayat 1-5“BismillaaHir rahmaanir rahiim (Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang. 1. Haa Miim[*] 2. kitab (ini) diturunkan dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 3. Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. 4. dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, 5. dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (al-Jaatsiyah: 1-5)

[*] Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al-Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

Allah membimbing makhluk-Nya untuk bertafakkur (memikirkan) berbagai nikmat dan kekuasaan-Nya yang agung yang dengannya Dia menciptakan langit dan bumi serta di dalamnya diciptakan berbagai macam makhluk dengan segala macam jenis dan rupanya yang ada di antara keduanya, baik dari kalangan malaikat, jin, manusia, binatang, burung dan lain-lain. Juga adanya pergantian siang dan malam silih berganti, terus menerus dan yang tidak hilang karena gelap yang ditimbulkan malam dan sinar terang oleh siang. Dan Allah juga menurunkan awan menjadi hujan pada saat dibutuhkan yang disebut sebagai rizky, karena melalui hujan itu tercapailah rizky.
Fa ahyaa biHil ardla ba’da mautiHaa (“Lalu, dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya.”) yakni, setelah sebelumnya gersang, tidak ada tumbuh-tumbuhan dan tidak ada sesuatu padanya.

Firman Allah: wa tashriifir riyaah (“Dan pada perkisaran angin.”) baik angin selatan, angin utara, angin barat maupun angin timur atau juga angin laut, siang maupun malam. Di antaranya ada yang dimaksudkan untuk hujan, dan ada yang dimaksudkan untuk penyerbukan, bahkan ada juga yang dimaksudkan untuk bernafas, dan ada juga yang tidak dapat berproduksi.

Selanjutnya, pertama Allah berfirman: la aayaatil lilmu’miniin (“Terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] untuk orang-orang yang beriman.”) yang kedua, “Terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.” Hal ini meningkat dari keadaan mulia menuju kepada yang lebih mulia dan lebih tinggi darinya. wallaaHu a’lam.

tulisan arab alquran surat al jaatsiyah ayat 6-11“6. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; Maka dengan Perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya. 7. kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, 8. Dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian Dia tetap menyombongkan diri seakan-akan Dia tidak mendengarnya. Maka beri khabar gembiralah Dia dengan azab yang pedih. 9. dan apabila Dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, Maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. 10. di hadapan mereka neraka Jahannam dan tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan, dan tidak pula berguna apa yang mereka jadikan sebagai sembahan-sembahan (mereka) dari selain Allah. dan bagi mereka azab yang besar. 11. ini (Al Quran) adalah petunjuk. dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Tuhannya bagi mereka azab Yaitu siksaan yang sangat pedih.” (al-Jaatsiyah: 6-11)

Allah berfirman: Tilka aayaatullaaHi (“Itulah ayat-ayat Allah.”) yaitu Al-Qur’an, di dalamnya terdapat hujjah-hujjah dan bebagai macam penjelasan, natluuHaa ‘alaika bil haqqi (“Yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya.”) yakni yang mengandung kebenaran dari yang benar. Jika mereka tidak beriman kepadanya, lalu dengan ucapan siapa setelah Allah dan ayat-ayat-Nya mereka itu beriman?

Firman Allah: wailul likulli affaakin atsiim (“Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa.”) yaitu yang berbohong dalam ucapannya, pendusta, suka bersumpah, hina dan suka berbuat dosa dalam perbuatan dan hatinya lagi kafir terhadap ayat-ayat Allah. Oleh karena itu, Dia berfirman: yasma-‘u aayaatillaaHi tutlaa ‘alaiHi (“Dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya.”) tsumma yusharruu (“Kemudian dia tetap menyombongkan diri.”) yakni pada kekafiran dan keingkaran dalam keadaan sombong lagi membangkang, ka allam yasma’Haa (“Seakan-akan dia tidak mendengarnya.”) fabasysyirHu bi ‘adzaabin aliim (“Maka beri kabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih.”) maksudnya, beritahukan kepadanya bahwa baginya siksa yang pedih lagi menyakitkan di sisi Allah pada hari kiamat kelak.

Wa idza ‘alima min aayaatinaa syai-anit takhadzaHaa Huzuwan (“Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok.”) maksudnya, jika ia menghafal sesuatu dari al-Qur’an, maka ia kufur kepadanya dan menjadikannya sebagai permainan dan bahan olokan.
(bersambung ke bagian 2)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Fatihah (12)

15 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Fatihah (Pembukaan)
Surah Makkiyyah; surah ke 1: 7 ayat

Firman Allah: ghairil maghdluubi ‘alaiHim waladl-dlaal-liin (Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”) Jumhur ulama membaca “ghairi” dengan memberi kasrah pada huruf “ra”, dan kedudukannya sebagai Na’at (sifat). Az-Zamakhsyari mengatakan: “Dibaca juga dengan memakai harakat fathah di atasnya, yang menunjukkan haall (keadaan).” Itu adalah bacaan Rasulullah saw. ‘Umar bin al-Khaththab, dan riwayat dari Ibnu katsir. Dzul haal adalah dhamir dalam kata “’alaiHim” sedangkan ‘amil adalah lafadz “an’amta”.
Artinya, tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya. Yaitu mereka yang memperoleh hidayah, istiqamah, dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Bukan jalan orang-orang yang mendapat murka, yang kehendak mereka telah rusak sehingga meskipun mereka mengetahui kebenaran namun menyimpang darinya. Bukan juga jalan orang-orang yang sesat, yaitu orang-orang yang tidak memliki ilmu pengetahuan, sehingga mereka berada dalam kesesatan serta tidak mendapatkan jalan menuju kebenaran.

Pembicaraan disini dipertegas dengan kata “laa” (bukan), guna menunjukkan bahwa di sana terdapat dua jalan yang rusak, yaitu jalan orang-orang Yahudi dan jalan-jalan orang Nasrani. Juga untuk membedakan antara kedua jalan itu, agar setiap orang menjauhkan diri darinya.

Jalan orang-orang beriman itu mencakup pengetahuan tentang kebenaran dan pengamalannya, sementara orang-orang Nasrani tidak memiliki ilmu (agama). Oleh karena itu, kemurkaan ditimpakan kepada orang-orang Yahudi, sedangkan kesesatan ditimpakan kepada orang-orang Nasrani. Karena orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya, berhak mendapat kemurkaan, berbeda dengan orang yang tidak memiliki ilmu.

Sedangkan orang Nasrani tatkala mereka hendak menuju kepada sesuatu, mereka tidak memiliki petunjuk kepada jalannya. Hal itu karena mereka tidak menempuh melalui jalan yang sebenarnya, yaitu mengikuti kebenaran. Maka merekapun masing-masing tersesat dan mendapat murka. Namun sifat Yahudi yang paling khusus adalah mendapat kemurkaan, sebagaimana yang difirmankan Allah mengenai diri mereka (orang-orang Yahudi): Mal la-‘anaHullaaHu wa ghadliba ‘alaiHi (“Yaitu orang yang dilaknat dan dimurkai Allah”)(al-Maa-idah: 77)

Catatan:

1. Surah yang terdiri dari tujuh ayat ini mengandung pujian, pumuliaan, dan pengagungan bagi Allah melalui penyebutan asmaa’ul Husna milik-Nya, serta adanya sifat-sifat Yang Mahasempurna. Juga mencakup penyebutan tempat kembali manusia, yaitu hari pembalasan. Selain itu berisi bimbingan kepada para hamba-Nya agar mereka memohon dan tunduk kepadanya serta melepaskan upaya dan kekutan diri mereka untuk selanjutnya secara tulus ikhlash mengabdi kepada-Nya, mengesakan-Nya, dan mensucikan-Nya dari sekutu atau tandingan. Juga (berisi) bimbingan agar mereka memohon petunjuk kepada-Nya ke jalan yang lurus, yaitu agama yang benar serta menetapkan mereka pada jalan tersebut, sehingga ditetapkan bagi mereka untuk menyeberangi jalan yang tampak konkrit pada hari kiamat kelak menuju surga di sisi para Nabi, Shiddiqin, dan orang-orang shalih.

Surah al-Fatihah juga mengandung targhib (anjuran) untuk mengerjakan amal shalih agar mereka dapat bergabung bersama orang-orang yang beramal shalih, pada hari kiamat kelak. Serta mengingatkan agar mereka tidak menempuh jalan kebathilan supaya mereka tidak digiring bersama menempuh jalan tersebut pada hari kiamat, yaitu mereka tidak dimurkai dan tersesat.

2. Seusai membaca al-Fatihah disunnahkan bagi seseorang untuk mengucapkan “aamiin” seperti ucapan “Yaasiin”. Boleh juga mengucapkan “amiin” dengan alif dibaca pendek, artinya adalah “Ya Allah kabulkanlah.” Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi, dari Wail bin Hujr.”Aku pernh mendengar Nabi saw. membaca: ghaifil maghdluubi ‘alaiHim wa ladl-dlaal-liin, lalu beliau mengucapkan “aamiin” dengan memanjangkan suaranya.

Sedangkan menurut riwayat Abu Dawud: “Beliau meninggikan suaranya.” At-Tirmidzi mengatakan: “Hadits ini hasan.” Hadits ini diriwayatkan juga dari ‘Ali, Ibnu Mas’ud, dan lain-llainnya.

Dari Abu Hurairah, katanya: “Apabila Rasulullah saw. membaca: ghaifil maghdluubi ‘alaiHim wa ladl-dlaal-liin, maka beliau mengucapkan “aamiin” sehingga terdengar oleh orang-orang pada barisan pertama.’” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah. Ibnu Majah menambahkan pada hadits tersebut dengan kalimat: “Sehingga masjid bergetar karenanya.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh ad-Daruquthni, ia mengatakan: “Hadits ini berisnad hasan.”)

Sahabat Ibnu Katsir dan lain-lainnya mengatakan: “Disunnahkan juga mengucapkan “aamiin” bagi yang membacanya di luar shalat. Dan lebih ditekankan bagi orang yang mengerjakan shalat, baik ketika munfarid (sendiri) maupun sebagai imam atau makmum, serta dalam keadaan apapun. Berdasarkan hadits dalam kitab shahih al-Bukhari dan shahih Muslim, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
“Jika seorang imam mengucapkan amin, maka ucapkanlah amin, sesungguhnya barangsiapa yang ucapan amin-nya bertepatan dengan aminnya malaikat, maka akan diberi ampunan baginya atas dosa-dosanya yang telah lalu.”

Menurut riwayat Muslim, Rasulullah bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian mengucapkan amin di dalam shalat, dan malaikat di langit juga mengucapkan amin, lalu masing-masing ucapan amin dari keduanya bertepatan, maka akan diberi ampunan baginya atas dosa-dosanya yang telah lalu.”

Ada yang mengatakan: “Artinya, barangsiapa yang waktu ucapan amin-nya bersamaan denga amin yang diucapkan malaikat.” Ada juga yang berpendapat bahwa maksudnya, bersamaan dalam pengucapannya. Dan ada yang berpendapat kebersamaan itu dalam hal keikhlasan.

Dalam shahih Muslim diriwayatkan hadits marfu’ dari Abu Musa bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jika seorang telah membaca waladl-dlaal-liin, maka ucapkanlah “aamiin” niscaya Allah mengabulkan permohonan kalian.”

Mayoritas ulama mengatakan bahwa makna amiin itu adalah: “Ya Allah perkenankanlah untuk kami.”
Para shahabat Imam Malik berpendapat bahwa seorang imam tidak perlu mengucapkan amin, cukup makmum saja yang mengucapkannya. Berdasarkan pada hadits riwayat imam Malik dari Sami, dari Abu Shalih, dari Abu Murairah, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Jika seorang imam telah membaca waladl-dlaal-liin, maka ucapkanlah: “aamiin”
Mereka juga menggunakan hadits dari Abu Musa al-Asy’ari yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah bersabda: “Jika ia telah membacaa waladl-dlaal-liin, maka ucapkanlah: “aamiin

Dan Rasulullah sendiri mengucapkan “aamiin” ketika beliau selesai membaca ghairil maghdluubi ‘alaiHim waladl-dlaal-liin.

Para shahabat telah berbeda pendapat mengenai jahr (suara keras) bagi makmum dalam mengucapkan amiin dalam shalat jahr-nya. Kesimpulan dari perbedaan pendapat itu, bahwa jika seorang imam lupa mengucapkan amiin, maka makmum harus serempak mengucapkannya dengan suara keras. Dan jika sang imam telah mengucapkannya dengan suara keras, (menurut) pendapat yang baru, menyatakan bahwa para makmum tidak mengucapkannya dengan suara keras.

(Pendapat) yang terakhir ini juga merupakan pendapat Abu Hanifah dan sebuah riwayat dari Imam Malik, karena amiin itu merupakan salah satu bentuk dzikir sehingga tidak perlu dikeraskan sebagaimana halnya dzikir-dzikir shalat lainnya. Sedangkan pendapat yang lama menyatakan, bahwa para makmum juga perlu mengucapkannya dengan suara keras. Hal itu merupakan pendapat imam Ahmad bin Hambal dan sebuah riwayat yang lain dari imam Malik seperti yang telah disebutkan di atas. Berdasarkan hadits: “Sehingga masjid bergetar[karenanya].”
Selesai.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Fatihah (11)

15 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Fatihah (Pembukaan)
Surah Makkiyyah; surah ke 1: 7 ayat

Kata hidayah pada ayat ini berarti bimbingan dan taufiq. Terkadang kata hidayah (muta’addi/tansitif) dengan sendirinya (tanpa huruf lain yang berfungsi sebagai pelengkapnya) seperti pada firman-Nya di sini: iHdinash shiraathal mustaqiim (“Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.”) dalam ayat tersebut terkandung makna, berikanlah ilham kepada kami, berikanlah taufik kepada kami, berikanlah rizky kepada kami, atau berikanlah anugerah kepada kami.
Sebagaimana yang ada pada firman-Nya: wa HadainaaHun najdaiin (“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”)(al-Balad: 10) artinya, Kami telah menjelaskan kepadanya jalan kebaikan dan jalan kejahatan. Selain itu, dapat juga menjadi muta’addi (transitif) dengan memakai kata “ila” sebagaimana firman-Nya: ijtabaaHu wa HadaaHu ilaa shiraathim mustaqiim (“Allah telah memilihnya dan menunjukkannya kepada jalan yang lurus.”)(an-Nahl: 121)

Makna hidayah dalam ayat-ayat di atas adalah dengan pengertian bimbingan dan petunjuk. Demikian juga firman-Nya: wa innaka lataHdii ilaa shiraathim mustaqiim (“Dan sesungguhnya engkau [Rasulullah saw.] benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”)(asy-Syuraa’: 52)
Terkadang ia [kata hidayah] menjadi muta’addi dengan memakai kata “li”, sebagaimana yang diucapkan oleh para penghuni surga: alhamdulillaaHil ladzii Hadaanaa liHaadzaa (“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada surga ini.”)(al-A’raf: 43) artinya, Allah memberikan taufik kepada kami untuk memperoleh surga ini dan Dia jadikan kami sebagai penghuninya.

Firman-Nya: ash-Shiraathal mustaqiim; Imam Abu Ja’far bin Jarir mengatakan, ahlut tafsir secara keseluruhan sepakat bahwa ash-shiraathal mustaqiim itu adalah jalan yang terang dan lurus. Kemudian terjadi perbedaan ungkapan para mufassir baik dari kalangan ulama salaf maupun khalaf dalam menafsirkan kata ash-shiraath, meskipun pada prinsipnya kembali kepada satu makna, yaitu mengikuti Allah dan Rasul-Nya.

Jika ditanya: “Mengapa seorang mukmin meminta hidayah pada setiap saat, baik pada waktu mengerjakan shalat maupun di luar shalat, padahal ia sendiri menyandang sifat itu. Apakah yang demikian itu termasuk tahshilul bashil (berusaha memperoleh sesuatu yang sudah ada)?” jawabannya adalah tidak. Kalau bukan karena dia perlu memohon hidayah siang dan malam hari, niscaya Allah tidak akan membimbing ke arah itu. Sebab seorang hamba senantiasa membutuhkan Allah setiap saat dan situasi agar diberi keteguhan, kemantapan, penambahan, dan kelangsungan hidayah, karena ia tidak kuasa memberikan manfaat atau mudlarat kepada dirinya sendiri kecuali Allah menghendaki. Oleh karena itu Allah selalu membimbingnya agar ia senantiasa memohon kepada-Nya setiap saat dan supaya Dia memberikan pertolongan, keteguhan dan taufik.

Orang yang berbahagia adalah orang yang diberi taufik oleh Allah untuk memohon kepada-Nya. Sebab Allah telah menjamin akan mengabulkan permohonan seseorang jika ia memohon kepada-Nya, apalagi permohonan orang yang dalam keadaan terdesak dan sangat membutuhkan bantuan-Nya, pada tengah malam dan siang hari. Firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.” (an-Nisaa’: 136)

Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk tetap beriman. Dan hal itu bukan termasuk tahshilul hashil, karena maksudnya adalah ketetapan, kelangsungan, dan kesinambungan amal yang dapat membantu kepada hal tersebut. Allah juga memerintahkan kepada hamba-Nya yang beriman agar mengucapkan do’a: rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz Hadaitanaa wa Hablanaa mil ladungka rahmatan innaka antal waHHaab (“Ya Rabb kami, jangan Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Mahapemberi [karunia].”)(Ali ‘Imraan: 8)

Abu Bakar ash-Shiddiq pernah membaca ayat ini dalam rakaat ketiga pada shalat maghrib secara sirri (tidak keras), setelah selesai membaca al-Fatihah.
Dengan demikian, makna firman-Nya: iHdinash shiraathal mustaqiim; adalah: “Semoga Engkau terus berkenan menunjuki kami di atas jalan yang lurus itu dan jangan Engkau simpangkan ke jalan yang lainnya.”

tulisan arab al-faatihah ayat 7Shiraathal ladziina an-‘amta ‘alaiHim ghairil magh-dluubi ‘alaiHim waladl-dlaaalliiin (“[Yaitu] jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan [jalan] mereka yang dimurkai dan bukan [pula jalan] mereka yang sesat.”)
Firman-Nya: Shiraathal ladziina an-‘amta ‘alaiHim (“Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka.”) adalah sebagai tafsir dari firman-Nya, jalan yang lurus. Dan merupakan badal menurut para ahli nahwu dan boleh pula sebagai athaf bayan. wallaaHu a’lam.

Orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah itu adalah orang-orang yang tersebut dalam surah an-Nisaa’, Dia berfirman:
“Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” (an-Nisaa’: 69-70)
(bersambung ke bagian 12)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Fatihah (10)

15 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Fatihah (Pembukaan)
Surah Makkiyyah; surah ke 1: 7 ayat

Penggalan pertama, yakni “Hanya kepadamu kami beribadah.” Merupakan pernyataan berlepas dari kemusyrikan. Sedangkan pada penggalan kedua, yaitu “hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” merupakan sikap berlepas diri dari upaya dan kekuatan serta menyerahkan urusannya hanya kepada Allah.
Makna seperti ini tidak hanya terdapat dalam satu ayat al-Qur’an saja, seperti firman-Nya: fa’bud-Hu wa tawakkal ‘alaiHi wa maa rabbuka bighaafilin ‘ammaa ta’maluun (“Maka beribadahlah kepada Allah dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-sekali Rabb-Mu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (Huud: 123)

Dalam ayat tersebut (al-Fatihah ayat 5) terjadi perubahan bentuk dari ghaib (orang ketiga) kepada mukhathab (orang kedua, lawan bicara) yang ditandai dengan huruf “Kaf” pada kata “iyyaaka”. Yang demikian itu memang selaras karena ketika seorang hamba memuji kepada Allah, maka seolah-olah ia merasa dekat dan hadir di hadapan-Nya. Oleh karena itu, Dia berfirman: iyyaaka na’budu wa iiyaaka nasta’iin.
Ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa awal-awal surah al-FAtihah merupakan pemberitahuan dari Allah yang memberikan pujian kepada diri-Nya sendiri dengan berbagai sifat-Nya yang Agung, serta petunjuk kepada hamba-hamba-Nya agar memuji-Nya dengan pujian tersebut.

Dalam shahih Bukhari, diriwayatkan dari al-‘Ala’ bin ‘Abdurrahman, dari ayahnya dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda: “Aku telah membagi shalat menjadi dua bagian antara diri-Ku dengan hamba-Ku. Bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan: “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” Maka Allah berfirman: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Dan jika ia mengucapkan: “Mahapemurah lagi Mahapenyayang,” maka Allah berfirman: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.” Jika ia mengucapkan: “Yang menguasai hari pembalasan,” maka Allah berfirman: “Hamba-Ku telah memuliakan-Ku.” Jika ia mengucapkan : “Hanya kepada-Mu lah kami beribadah dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan.” Maka Allah berfirman: “Inilah bagian antara diri-Ku dengan hamba-Ku. Untuk hamba-Ku apa yang ia minta.” Dan jika ia mengucapkan: “[Yaitu] jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kepada mereka, bukan [jalan] mereka yang dimurkai [Yahudi], dan bukan [pula jalan] mereka yang sesat [nasrani].” Maka Allah berfirman: “Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”

Iyyaaka na’budu; didahulukan dari: wa iyyaaka nasta’iin, karena ibadah kepda-Nya merupakan tujuan, sedangkan permohonan pertolongan hanya merupakan sarana untuk ibadah. Yang terpenting lebih didahulukan daripada yang sekedar penting. wallaaHu a’lam.
Jika dinyatakan: “Lalu apa makna huruf “nun” pada firman Allah: iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin; jika “nun” itu dimaksudkan sebagai bentuk jama’, padahal orang yang mengucapkannya hanya satu orang, dan jika untuk pengagungan, maka yang demikian itu tidak sesuai dengan kondisi?”

Pertanyaan di atas dapat dijawab: “Bahwa yang dimaksud dengan huruf “nun” (kami) itu adalah, untuk memberitahukan mengenai jenis hamba, dan orang yang shalat merupakan salah satu darinya, apalagi jika orang-orang melakukannya secara berjamaah. Atau imam dalam shalat, memberitahukan tentang dirinya sendiri dan juga saudara-saudaranya yang beriman tentang ibadah yang untuk tujuan inilah mereka diciptakan.”

Ibadah merupakan maqam (kedudukan) yang sangat agung, yang dengannya seorang hamba menjadi mulia, karena kecondongannya kepada Allah saja, dan Dia telah menyebut Rasul-Nya sebagai hamba-Nya yang menempati maqam yang paling mulia. Firman Allah: subhaanal ladzii asraa bi-‘abdiHii lailan (“Mahasuci Allah yang telah menjalankan hamba-Nya pada suatu malam.”)( al-Israa’: 1)

Allah telah menyebut Muhammad saw. sebagai hamba ketika menurunkan al-Qur’an kepadanya, ketika beliau menjalankan dakwahnya dan ketika diperjalankan pada malam hari. Dan dia membimbingnya untuk senantiasa menjalankan ibadaha pada saat-saat hatinya merasa sesak akibat pendustaan orang-orang yang menentangnya, Dia berfirman: “Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini [ajal].” (al-Hijr: 97-99)

tulisan arab al-faatihah ayat 6iHdinash shiraathal mustaqiim (“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”)
Jumhur ulama membacanya dengan memakai huruf “Shad”. Ada pula yang membaca dengan huruf “zay” (azziraatha). Al-Farra’ mengatakan: “Ini merupakan bahasa bani ‘Udzrah dan bani Kalb.”

Setelah menyampaikan pujian kepada Allah, dan hanya kepada-Nya permohonan ditujukan, maka layaklah jika hal itu diikuti dengan permintaan. Sebagaimana firman-Nya: “Setengah untuk-Ku dan setengah lainnya untuk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”
Yang demikian itu merupakan keadaan yang amat sempurna bagi seorang yang mengajukan permintaan. Pertama ia memuji Rabb yang akan ia minta, kemudian memohon keperluannya sendiri dan keperluan saudara-saudaranya dari kalangan orang-orang yang beriman, melalui ucapannya: iHdinash shiraathal mustaqiim (“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”)

Karena yang demikian itu akan lebih memudahkan pemberian apa yang dihajatkan dan lebih cepat untuk dikabulkan. Untuk itu Allah membimbing kita agar senantiasa melakukannya, sebab yang demikian itu yang lebih sempurna.

Permohonan juga dapat diajukan dengan cara memberitahukan keadaan dan kebutuhan orang yang mengajukan permohonan tersebut. Sebagaimana yang diucapkan Musa: Rabbi innii limaa anzalta ilayya khairin faqiir (“Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”) (al-Qashash: 24)
Permintaan itu bisa didahului dengan menyebutkan sifat-sifat siapa yang akan dimintai, seperti ucapan Dzun Nun (Nabi Yunus as.): laa ilaaHa illaa anta subhaanaka innii kuntu minadh-dhaalimiin (“Tidak ada ilah selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dhalim.”)(al-Ambiya’: 87)

Tetapi terkadang hanya dengan memuji kepada-Nya, ketika meminta. Sebagaimana yang diungkapkan seorang penyair: “Apakah aku harus menyebut kebutuhanku, ataukah cukup bagiku rasa malumu. Sesungguhnya rasa malu merupakan adat kebiasaanmu. Jika suatu hari seseorang memberikan pujian kepadamu, niscaya engkau akan memberinya kecukupan.”
(bersambung ke bagian 11)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Fatihah (9)

15 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Fatihah (Pembukaan)
Surah Makkiyyah; surah ke 1: 7 ayat

tulisan arab al-faatihah ayat 3

Arrahmaanir rahiim (“Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”)

Al-Qurthubi mengatakan: “Allah mensifati diri-Nya dengan ar-Rahman ar-Rahiim setelah Rabbul ‘alamiin, untuk menyelingi anjuran (targhib) sesudah peringatan (tarhib). Sebagaimana difirmankan-Nya yang artinya: “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang, dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih.” (al-Hijr: 49-50)
Juga firmannya: “Sesungghnya Rabb-mu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (al-An’am: 165)

Kata al-Qurthubi selanjutnya: “Ar-Rabb merupakan peringatan, sedangkan ar-Rahman ar-Rahim merupakan anjuran. Dalam shahih Muslim, disebutkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda: “Seandainya seorang Mukmin mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorangpun yang bersemangat untuk (meraih) surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak akan ada seorangpun yang berputus asa untuk mendapatkan rahmat-Nya.”

tulisan arab al-faatihah ayat 4

Maaliki yaumiddiin (“Yang menguasai hari pembalasan.”)
Sebagian qurra’ membaca: maliki yaumiddiin (dengan meniadakan alif setelah huruf mim). Sementara sebagian qurra’ lainnya membacanya dengan menggunakan alif setelah mim menjadi “maaliki”. Kedua bacaan itu benar, (dan) mutawathir dalam Qiraat Sab’ah.

Pengkhususan kerajaan pada hari pembalasan tersebut tidak menafikan kekuasaan Allah atas kerajaan yang lain (kerajaan dunia), karena telah disampaikan sebelumnya bahwa Dia adalah Rabb semesta alam. Dan kekuasaan-Nya itu bersifat umum di dunia maupun di akhirat. Ditambahkannya kata “yaumiddiin” (hari pembalasan), karena hari itu tidak ada seorangpun yang dapat mengaku-aku sesuatu yang tidak juga dapat berbicara kecuali dengan seizin-Nya. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Pada hari ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shar, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Rabb yang Mahapemurah, dan ia mengucapkan kata yang benar.” (an-Naba’: 38)

Hari pembalasan berarti hari perhitungan bagi semua makhluk, disebut juga hari kiamat. Mereka diberi balasan sesuai dengan amalnya. Jika amalnya baik maka balasannya baik pula. Jika amalnya buruk, maka balasannya pun buruk kecuali bagi orang yang diampuni.

Pada hakikatnya, “almaliku” adalah nama Allah swt. sebagaimana firman-Nya: HuwallaaHul ladzii laa ilaaHa illaa Huwal malikul qudduusus salaamu (“Dialah Allah yang tiada Ilah [yang berhak diibadahi] selain Dia, Raja, yang Mahasuci, lagi Mahasejahtera.”) (al-Hasyr: 23)
Dalam kitab shahih Bukhari dan shahih Muslim, diriwayatkan sebuah hadits marfu’ dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Julukan yang paling hina di sisi Allah adalah seseorang yang menjuluki dirinya Malikul Amlak [Raja Diraja]. [Karena] tidak ada Malik [raja] yang sebenarnya kecuali Allah.”
Dalam kitab yang sama juga dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda: “Allah [pada hari kiamat] akan menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan-Nya, lalu berfirman: ‘Aku Raja [sebenarnya], dimanakah raja-raja bumi, dimanakah mereka yang merasa perkasa, dan dimanakah orang-orang yang sombong?”
Sedangkan di dalam al-Qur’an disebutkan: limanil mulkul yauma lillaaHil waahidil qaHHaar (“Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Kepunyaan Allah yang Mahaesa lagi Mahamengalahkan.”)(al-Mu’min: 16)

Adapun penyebutan Malik (Raja) selain kepada-Nya di dunia hanyalah secara majaz (kiasan) belaka, tidak pada hakekatnya sebagaimana Allah pernah mengemukakan: innallaaHa qad ba-‘atsa lakum thaaluuta malikan (“Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja bagi kalian.”)(al-Baqarah: 247)
Kata ad-Diin berarti pembalasan atau perhitungan. Allah berfirman: yauma-idziy yuwaffiiHimullaaHu diinaHumul haqqa (“Pada hari itu Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya.”)(an-Nuur: 25)
Dia juga berfirman: a innaa lamadiinuun (“Apakah sesungguhnya kita benar-benar [akan dibangkitkan] untuk diberi pembalasan.”) (ash-Shaaffaat: 53)

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Orang cerdik adalah yang mau mengoreksi dirinya dan berbuat untuk [kehidupan] setelah kematian.” Artinya, ia akan senantiasa menghitung-hitung dirinya, sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Umar bin al-Khaththab: “Hisablah [buatlah perhitungan untuk] diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Dan bersiaplah untuk menghadapi hari yang besar, yakni hari diperlihatkannya [amal seseorang], sementara semua amal kalian tidak tersembunyi dari-Nya.”

Firman Allah: yauma-idzin tu’radluuna laa takhfaa mingkum khaafiyatun (“Pada hari itu kalian dihadapkan [kepada Rabb kalian], tiada sesuatu pun dari keadaan kalian yang tersembunyi [bagi-nya].”) (al-Haaqqah: 18)

tulisan arab al-faatihah ayat 5

Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta-‘iin (“Hanya Engkaulah yang kami ibadahi dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”)
Para ahli qiraat Sab’ah dan jumhur ulama membacanya dengan memberikan tasydid pada huruf “ya” pada kata “iyyaaka”. Sedangkan kata “nasta-‘iin” dibaca dengan memfathahkan hurup “nun” yang pertama. Menurut bahasa, kata ibadah berarti tunduk patuh. Sedangkan menurut syariat, ibadah berarti ungkapan dari kesempurnaan cinta, ketundukan, dan ketakutan.

Didahulukannya maf’ul (obyek), yaitu kata Iyyaaka, dan (setelah itu) diulangi lagi, adalah dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian dan juga sebagai pembatasan. Artinya: “Kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu dan kami tidak bertawakal kecuali hanya kepada-Mu.” Dan inilah puncak kesempurnaan ketaatan. Dan dien (agama) itu secara keseluruhan kembali kepada kedua makna di atas.

Yang demikian itu seperti kata sebagian ulama salaf, bahwa surat al-Fatihah adalah rahasia al-Qur’an, dan rahasia al-Fatihah terletak pada ayat, Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta-‘iin (“Hanya Engkaulah yang kami ibadahi dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”)
(bersambung ke bagian 10)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Fatihah (8)

15 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Fatihah (Pembukaan)
Surah Makkiyyah; surah ke 1: 7 ayat

tulisan arab al-faatihah ayat 2alhamdulillaaHi rabbil ‘aalamiiin (“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.”)

Al-Qurra as-Sab’ah (tujuh ahli qira’ah) membacanya dengan memberi harakat dlammah pada huruf dal pada kalimat alhamdulillaaH, yang merupakan mubtada’ (subyek) dan khabar (predikat).

Abu Ja’far bin Jarir mengatakan: “AlhamdulillaH berarti syukur kepada Allah swt. semata dan bukan kepada sesembahan selain-Nya, bukan juga kepada makhluk yang telah diciptakan-Nya, atas segala nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang tidak terhingga jumlahnya, dan tidak ada seorangpun selain Dia yang mengetahui jumlahnya. Berupa kemudahan berbagai sarana untuk mentaati-Nya dan anugerah kekuatan fisik agar dapat menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya. Selain itu, pemberian rizky kepada mereka di dunia, serta pelimpahan berbagai nikmat dalam kehidupan, yang sama sekali mereka tidak memiliki hak atas hal itu, juga sebagai peringatan dan seruan kepada mereka akan sebab-sebab yang dapat membawa kepada kelanggengan hidup di surga tempat segala kenikmatan abadi. Hanya bagi Allah segala puji, baik di awal maupun di akhir.”

Ibnu Jarir mengatakan: “AlhamdulillaaH; merupakan pujian yang disampaikan Allah untuk diri-Nya. Di dalamnya terkandung perintah kepada hamba-hamba-Nya supaya mereka memuji-Nya. Seolah-olah Dia mengatakan: ‘Ucapkanlah, alhamdulillaaH.’”
Lanjut Ibnu Jarir: “Telah dikenal di kalangan para ulama muta-akhkhirin, bahwa al-hamdu adalah pujian melalui ucapan kepada yang berhak mendapatkan pujian disertai penyebutan segala sifat-sifat baik yang berkenaan dengan dirinya maupun berkenaan dengan pihak lain. Adapun asy-syukru tiada lain kecuali dilakukan terhadap sifat-sifat yang berkenaan dengan selainnya, yang disampaikan melalui hati, lisan, dan anggota badan. Sebagaimana diungkapkan oleh seorang penyair: “Nikmat paling berharga, yang telah kalian peroleh dariku ada tiga macam. Yaitu melalui tangankku, lisanku dan hatiku yang tidak tampak ini.”

Namun demikian, mereka berbeda pendapat mengenai nama yang lebih umum, alhamdu ataukah asy-syukru. Mengenai hal ini terdapat dua pendapat. Dan setelah diteliti antara keduanya terdapat keumuman dan kekhususan. Alhamdu lebih umum dari asysyukru, karena terjadi pada sifat-sifat yang berkenaan dengan diri sendiri dan juga pihak lain, misalnya anda katakan: “Aku memujinya (alhamdu) karena sifatnya yang kesatria dan karena kedermawanan nya.” Tetapi juga lebih khusus, karena hanya bisa diungkapkan melalui ucapan. Sedangkan asy-syakru lebih umum daripada alhamdu, karena ia dapat diungkapkan melalui ucapan, perbuatan dan juga niat. Tetapi lebih khusus, karena tidak bisa dikatakan bahwa aku berterima kasih kepadanya atas sifatnya yang kesatria, namun bisa dikatakan aku berterima kasih kepadanya atas kedermawanan dan kbaikannya kepadaku.
Demikian itu yang disimpulkan oleh sebagian ulama muta-akhkhirin, wallaaHu a’lam.

Diriwayatkan dari al-Aswad bin Sari’ beliau berkata: “Aku berkata kepada Nabi saw: ‘Ya Rasulallah, maukah engkau aku bacakan puji-pujian yang dengannya aku memuji Rabb-ku, Allah Tabaaraka wa Ta’ala.’ Maka beliau bersabda: ‘Tentu saja, [sesungguhnya] Rabb-mu menyukai pujian [alhamdu].’” (HR Imam Ahmad dan an-Nasa-i)

Diriwayatkan oleh Abu ‘Isa, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, dan Ibnu Majah, dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik dzikir adalah kalimat laa ilaaHa illaallaaH, dan sebaik-baik doa adalah alhamdulillaaH.”
Menurut at-Tirmidzi, hadits ini hasan gharib. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik, Rasulullah saw. bersabda: “Allah tidak menganugerahkan suatu nikmat kepada seorang hamba, lalu ia mengucapkan ‘alhamdulillaaH’, melainkan apa yang diberikan-Nya itu lebih baik dari pada apa yang diambilnya-Nya.”

“alif” dan “lam” pada kata “alhamdu” dimaksudkan untuk melengkapi bahwa segala macam jenis dan bentuk pujian itu, hanya untuk Allah semata.
“arrabbu” adalah pemilik, penguasa dan pengendali. Menurut bahasa, kata “Rabb” ditujukan kepada tuan dan kepada yang berbuat untuk perbaikan. Semuanya itu benar bagi Allah Ta’ala. Kata “arrabb” tidak digunaka untuk selain dari Allah kecuali jika disambung dengan kata lain setelahnya, misalnya “rabbuddaari” (pemilik rumah). Sedangkan kata “ar-Rabb” (secara mutlak), hanya boleh digunakan untuk Allah.

Ada yang mengatakan bahwa “Ar-rabb” itu merupakan nama yang agung (as-Ismul A’zham). Sedangkan “al-‘aalamiin” adalah bentuk jamak dari kata “ ’aalimun” yang berarti segala sesuatu yang ada selain Allah. “ ‘aalamun” merupakan bentuk jamak yang tidak memiliki mufrad (bentuk tunggal) dari kata itu. “al-‘awaalimun” berarti berbagai macam makhluk yang ada di langit, bumi, daratan maupun lautan. Dan setiap angkatan (pada suatu kurun/zaman) atau generasi disebut juga alam.

Bisyr bin ‘Imarah meriwayatkan dari Abu Rauq dari adl-Dlahhak dari Ibnu ‘Abbas: “AlhamdulillaaHi rabbil ‘aalamiin. Artinya, segala puji bagi Allah pemilik seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi serta apa yang ada di antara keduanya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.”

Az-Zajjaj mengatakan: “al-‘aalamu berarti semua yang diciptakan oleh Allah di dunia dan di akhirat.” Sedangkan al-Qurthubi mengatakan: “Apa yang dikatakan az-Zajjaj itulah yang benar, karena mencakup seluruh alam (dunia dan akhirat).
Menurut Ibnu Katsir, “al-‘alamu” berasal dari kata “al-‘alaamatun”, karena alam merupakan bukti yang menunjukkan adanya Pencipta serta keesaan-Nya. Sebagaimana Ibnu al-Mu’taz pernah mengatakan: “Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin seorang bias mendurhakai Rabb, atau mengingkari-Nya, padahal dalam setiap segala sesuatu terdapa ayat untuk-Nya yang menunjukkan bahwa Dia adalah Esa.”
(bersambung ke bagian 9)