Tag Archives: al fil

Mewarnai Gambar Kaligrafi Nama Surah Al-Fiil

18 Okt

Mewarnai Gambar Kaligrafi
Nama-Nama Surah Al-Qur’an Anak Muslim

mewarnai gambar tulisan surah al-fiil anak muslim

Belajar Hiwar: Rumahku

17 Agu

Sumber: Buku Bahasa Arab Madrasah Tsanawiyah VII
Kementerian Agama Republik Indonesia

percakapan bahasa arab tsanawiyah - baitii -rumahku1 percakapan bahasa arab tsanawiyah - baitii -rumahku2 percakapan bahasa arab tsanawiyah - baitii -rumahku3 percakapan bahasa arab tsanawiyah - baitii -rumahku4 percakapan bahasa arab tsanawiyah - baitii -rumahku5 percakapan bahasa arab tsanawiyah - baitii -rumahku6 percakapan bahasa arab tsanawiyah - baitii -rumahku7 percakapan bahasa arab tsanawiyah - baitii -rumahku8 percakapan bahasa arab tsanawiyah - baitii -rumahku9 percakapan bahasa arab tsanawiyah - baitii -rumahku10 percakapan bahasa arab tsanawiyah - baitii -rumahku11 percakapan bahasa arab tsanawiyah - baitii -rumahku12 percakapan bahasa arab tsanawiyah - baitii -rumahku13 percakapan bahasa arab tsanawiyah - baitii -rumahku14 percakapan bahasa arab tsanawiyah - baitii -rumahku15 percakapan bahasa arab tsanawiyah - baitii -rumahku16 percakapan bahasa arab tsanawiyah - baitii -rumahku17 percakapan bahasa arab tsanawiyah - baitii -rumahku18

105. Surah Al-Fiil

4 Des

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat ini terdiri atas 5 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Kaafirun. Nama Al Fiil diambil dari kata Al Fiil yang terdapat pada ayat pertama surat ini, artinya gajah. Surat Al Fiil mengemukakan cerita pasukan bergajah dari Yaman yang dipimpin oleh Abrahah yang ingin meruntuhkan Ka’bah di Mekah. Peristiwa ini terjadi pada tahun Nabi Muhammad s.a.w. dilahirkan.

Pokok-pokok isinya:
Cerita tentang pasukan bergajah yang diazab oleh Allah s.w.t. dengan mengirimkan sejenis burung yang menyerang mereka sampai binasa.
Surat Al Fiil ini menjelaskan tentang kegagalan pasukan bergajah yang dipimpin oleh Abrahah, karena Ka’bah dipelihara oleh Allah s.w.t.

HUBUNGAN SURAT AL FIIL DENGAN SURAT QURAISY

Dalam surat Al Fiil, Allah s.w.t. menjelaskan kehancuran pasukan bergajah yang hendak merobohkan Ka’bah, sedang dalam surat Quraisy Allah memerintahkan kepada penduduk Mekah untuk menyembah Allah pemilik Ka’bah itu.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Fiil (3)

1 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Fiil (Gajah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 105: 5 ayat

Ibnu Hisyam mengatakan: “Al-Ababil artinya kawanan, dan masyarakat Arab tidak menggunakan kata itu dalam bentuk mufrad (tunggal). Sedangkan as-Sijjil, Yunus an-Nahwi dan Abu ‘Ubaidah memberitahuku bahwa menurut masyarakat Arab, kata itu berarti yang sangat keras.” Dia mengatakan: “Beberapa orang ahli tafsir menyebutkan bahwa  keduanya berasal dari bahasa Persi yang oleh orang masyarakat Arab  dijadikan sebagai satu kata, di mana kata as-sanaj berarti batu sedangkan al-jill berarti tanah liat.” Lebih lanjut ia mengatakan: “Dan batu itu berasal dari kedua jenis tersebut, yaitu batu dan tanah liat.” Dia juga mengatakan: “Kata al-‘Ashf berarti daun tanaman yang belum dipotong. Bentuk mufradnya adalah ‘ashfah. Sampai di sini apa yang diucapkannya.

Hammad bin Salamah meriwayatkan dari ‘Amir, dari Zurr, dari ‘Abdullah dan Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, “thairan abaabil”, dia mengatakan: “Yaitu beberapa kawanan burung.” Ibnu ‘Abbas dan adl-Dlahhak mengatakan: “Ababil berarti sebagian mengikuti sebagian lainnya.” Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah mengemukakan: “Ababil berarti sangat banyak.” Mujahid mengatakan: “Ababil berarti sekumpulan yang saling mengikuti dan berkumpul.” Sedangkan Ibnu Zaid mengatakan: “Al-ababil berarti yang berbeda-beda, yang datang dari semua penjuru.” Al-Kisa-i menyebutkan: “Aku pernah mendengar beberapa orang ahli nahwu mengatakan: ‘Bentuk tunggal dari kata abaabil adalah ibiil.’”

Firman Allah Ta’ala: faja’alahum ka’ashfim ma’kuul (“Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan.”) Said bin Jubair mengatakan: “Yakni jerami yang kaum awam menyebutnya dengan habur.” Dan dalam sebuah riwayat dari Sa’id, yaitu daun gandum. Dan dari Ibnu ‘Abbas, al’ashf berarti kulit yang ada di atas biji, semacam penutup pada biji gandum. Ibnu Zaid mengatakan: “Al-‘ashf berarti daun tanaman atau daun koll jika dimakan oleh binatang, lalu dikotori sehingga jadi kotoran.” Artinya, bahwa Allah Tbaaraka wa Ta’ala meninasakan, melenyapkan, dan mengembalikan mereka dengan tipu daya dan kemarahan mereka. Dan mereka tidak mendapatkan kebaikan sama sekali. Mereka dibinasakan secara keseluruhan dan tidak ada seorangpun dari mereka kembali memberitahu melainkan dalam keadaan terluka, sebagaimana yang dialami oleh raja mereka, Abrahah. Di antara yang menggambarkan hal tersebut adalah syair ‘Abdullah bin az-Zab’ari berikut:

“Mereka mundur (menyingkir) dari tengah kota Mekah, sesungguhnya kota Mekah itu kesuciannya tidak dapat diusik.

Pada malam-malam yang dijaga tersebut bintang asy-Syi’ra tidak pernah muncul karena tidak ada seorang manusiapun yang mampu menjamahnya.

Tanyakan kepada komandan pasukan tentangnya, apa yang dia lihat, maka orang mengetahuinya akan memberitahukannya kepada orang-orang yang tidak mengetahuinya.

Enampuluh ribu prajurit tidak kembali ke negerinya, bahkan prajurit yang kembali dalam keadaan sakit akhirnya meninggal dunia.

Dahulu pernah datang kesana bangsa/kaum ‘Aad dan Jurhum sebelum mereka, namun Allah dari atas hamba-hambanya selalu menegakkannya (menjaganya).”

Dan kami telah sampaikan pada penafsiran surat al-Fath bahwasanya Rasulullah saw. Ketika beliau  pada saat terjadi peristiwa Hudaibiyah menuruni lembah, tiba-tiba unta beliau terduduk. Kemudian mereka menghardiknya, tetapi unta itu tak bergeming. Lalu  mereka berkata, al-Qushwa’ duduk mengembik. Maka Rasulullah saw. bersabda:

“Al-Qushwa’ tidak mengembik dan itu bukan sifatnya. Tetapi dia telah dihalangi oleh apa yang menghalangi gajah.” –kemudian beliau bersabda- “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, pada hari ini mereka tidak akan menuntut bagian dariku, yang padanya mereka mengagungkan apa-apa yang ada di sisi  Allah melainkan Dia menjadikan mereka menyukainya.”

Kemudian beliau menghardik unta itu dan berhasil berdiri. Hadits tersebut termasuk hadist yang diriwayatkan oleh  al-Bukhari sendiri. Dan dalam kitab  ash-Shahihain disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda pada hari fathu Makah:

“Sesungguhnya Allah menahan pasukan Gajah dari memasuki kota Mekah. Dan Dia menguasakan kota Mekah kepada Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan sesungguhnya kehormatan kota Mekah pada hari ini  telah kembali seperti kehormatannya kemarin. Ingatlah, hendaklah orang yang hadir memberitahu orang yang tidak hadir.”

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Fiil (2)

1 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Fiil (Gajah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 105: 5 ayat

Najasyi, raja Habasyah juga mengirimkan pasukan untuk hal yang sama. Ada juga pendapat yang menyebutkan, bersama Abrahah terdapat delapan gajah. Ada juga yang menyatakan, dua belas gajah lainnya. Wallahu a’lam. Dengan tujuan menghancurkan Ka’bah, dengan meletakkan rantai pada pilar-pilarnya sedang ujung rantai lainnya diikatkan pada leher gajah, kemudian gajah itu digerakkan agar menjatuhkan tembok itu sekaligus.

Warga Arab mendengar kedatangannya. Mereka berbeda pendapat dalam bersikap. Yang satu menghendaki agar warga Arab diwajibkan untuk mempertahankan Baitullah, dan melawan setiap orang yang hendak menghancurkannya dengan menggunakan taktik tipu daya.

Salah seorang yang paling terhormat dari penduduk Yaman sekaligus sebagai raja mereka yang bernama Dzur Nafar mengajak kaumnya  dan orang-orang Arab yang berminat untuk melawan dan memerangi Abrahah dalam rangka mempertahankan Baitullah dan semua tempat yang hendak dihancurkannya. Namun Abrahah berhasil mengalahkan mereka dan menawan Dzu Nafar. Abrahah memintanya untuk menemaninya. Dan ketika sampai di daerah Khats’am dia dihadang oleh Nufail bin Habib al-Khats’ami bersama kaumnya selama dua bulan berturut-turut, lalu mereka mengadakan serangan terhadap Abrahah. Abrahah berhasil mengalahkan mereka dan menawan Naufal bin Habin al-Khats’ami dan menjadikannya sebaga penunjuk jalan di negeri Hijaz.

Ketika mendekati Thaif, penduduknya keluar dan berbasa-basi dengannya  karena takut akan rumah mereka yang ada di tengah-tengah mereka yang mereka beri nama al-Lata. Lalu mereka menghormatinya dan mengirimkan Abu Raghal bersamanya sebagai penunjuk arah.

Setiba nya di kota al-Mughammas, sebuah tempat yang berdekatan dengan Mekah,  Abrahah dan pasukannya berhenti dan merampok harta kekayaan penduduk Mekah, diantaranya 200 ekor unta milik ‘Abdul Muthalib. Dan yang melakukan perampasan atas perintah Abrahah adalah panglima perang yang bernama al-Aswad Ibnu Maqshud. Dan dia diserang oleh beberapa warga Arab, seperti yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq.

Abrahah mengirimkan Hanathah al-Himsyari ke Mekah dan memerintahkan supaya memanggil pemuka kaum Quraisy serta memberitahukan kepadanya bahwa raja Abrahah tidak datang untuk memerangi  kalian kecuali kalian menghalanginya untuk menyerang Baitullah.

Hanathah al-Himsyari datang dan menghampiri ‘Abdul Muthalib bin Hisyam dan menyampaikan pesan itu. ‘Abdul Muthalib berkata kepadaya: “Demi Allah, kami tidak hendak memeranginya dan tidak punya kekuatan untukitu. Ini adalah Baitullah yang suci dan rumah kekasih-Nya, Ibrahim. Kalau memang dia dilarang mendatanginya, maka yang demikian itu karena ia merupakan rumah sekaligus tempat surci-Nya. Demi Allah, kami tidak mampu untuk melarangnya.” Hanathah berkata: “Kalau begitu, datanglah bersamaku untuk menghadapnya (Abrahah).” Dan ‘Abdul Muthalib  pergi bersamanya. Ketika melihatnya, Abrahah menyambutnya. ‘Abdul Muthalib adalah seorang yang berbadan tegap lagi tampan. Abrahah turun dari singgasananya dan duduk bersamanya di lantai. Abrahah bertanya melalui penerjemahnya: “Katakan, apa maksud kedatangannya?” ‘Abdul Muthalib berkata kepada penerjemah itu: “Aku hanya ingin agar raja mengembalikan 200 ekor unta milikku.” Maka Abrahah pun berkata pada penerjemahnya: “Katakan padanya, ‘Kamu benar-benar telah membuatku terheran-heran saat aku melihatmu, tetapi kemudian aku menjadi berang kepadamu saat kamu berbicara menuntut 200 unta milikmu yang hilang, tetapi kamu biarkan rumah yang menjadi agamamu dan agama nenek moyangmu. Sesungguhnya aku datang untuk menghancurkannya, sedang engkau tidak menyinggungnya sama sekali dalam pembicaraanmu denganku.” Kemudian ‘Abdul Muthalib berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku adalah pemilik unta-unta itu, sedangkan rumah (Ka’bah) itu mempunyai pemilik sendiri (Allah) yang akan selalu mempertahankannya.” Abrahah berkata: “Dia tidak akan sanggup menghalangiku.” “Kamu tidak akan mampu menandingi-Nya.” Sahut ‘Abdul Muthalib.

Ada yang menyatakan bahwa Abrahah pergi dengan ‘Abdul Muththalib bersama sejumlah pemuka Arab. Kemudian mereka menawarkan sepertiga kekayaan kepada Abrahah sebagai ganti supaya dia membatalkan niatnya menghancurkan Ka’bah. Namun dia menolak tawaran mereka itu dan mengembalikan unta-unta ‘Abdul Muththalib. ‘Abdul Muththalib kembali kepada kaum Quraisy, dan memerintahkan agar mereka keluar dari Mekah dan berlindung di puncak-puncak gunung, karena khawatir mereka akan merasakan amukan bala tentara Abrahah. Selanjutnya, ‘Abdul Muththalib berdiri, memegang daun pintu Ka’bah. Ikut berdiri bersamanya beberapa orang Quraisy seraya berdoa kepada Allah serta meminta pertolongan-Nya supaya membinasakan Abrahah dan bala tentaranya. Kemudian memegang pintu Ka’bah sambil mengumandangkan syair:

“Tidak ada kebimbangan. Sesungguhnya seseorang telah mempertahankan rumahnya, karenannya pertahankanlah rumah-Mu. Kekuatan dan tipu daya mereka tidak akan pernah dapat mengalahkan tipu daya-Mu untuk selamanya.”

Ibnu Ishaq mengtakan bahwa selanjutnya ‘Abdul Muththalib melepaskan gagang  pintu dan mereka pergi menuju ke puncak gunung. Muqatil bin Sulaiman menyebutkan bahwa mereka meninggalkan 100 ekor anak unta di Baitullah dengan diberi kalung, kemungkinan sebagian bala tentara  ada yang mengambil sebagian darinya dengan cara tidak benar, sehingga Allah akan menuntut balas dari mereka.

Pagi harinya, Abrahah bersiap-siap memasuki Mekah bersama bala tentara dan gajahnya. Nufail bin Habib berbisik di telinga Mahmud (nama gajah Abrahah): “Duduklah wahai Mahmud, dan kembalilah ke tempat asalmu, karena sesungguhnya kamu sekarang ini tengah berada di negeri Allah yang suci.” Lalu Naufal menuju ke gunung. Anak buah Abrahah menggertak Mahmud agar berdiri, namun gajah itu tetap tidak mau bangkit. Berbagai cara dilakukan, dengan memukulkan kapak ke kepalanya, dan mengaitkan tongkat ke belalainya, namun Mahmud tetap tidak beranjak. Ketika mereka mengarahkan ke Yaman, gajah itu mau berjalan cepat. Demikian juga ketika diarahkan ke Syam dan ke arah timur. Akan tetapi ketika diarahkan ke Mekah, Mahmud akan diam terduduk.

Kemudian Allah mengirimkan kepada mereka burung dari lautan sejenis burung alap-alap, masing-masing paruh membawa tiga batu; satu di paruhnya, dan dua di masing-masing kakinya. Batu-batu itu sebesar biji kedelai, yang tidak ada seorangpun dari mereka yang terkena batu tersebut melainkan akan binasa. Tentara yang tidak terkena batu tersebut lari kocar-kacir dan mencari Nufail agar mendapat penunjuk jalan keluar. Dari atas gunung Nufail bersama kaum Quraisy dan warga Arab Hijaz menyaksikan siksaan yang ditimpakan Allah kepada pasukan gajah tersebut. Nufail berkata: “Dimanakah tempat berlindung jika Allah sudah mengejar, dan Asyramlah yang terkalahkan dan bukan yang menang.” (Bersambung)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Fiil (1)

1 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Fiil (Gajah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 105: 5 ayat

tulisan arab alquran surat al fiil ayat 1-5

“1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu Telah bertindak terhadap tentara bergajah? 2. Bukankah dia Telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? 3. Dan dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, 4. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, 5. Lalu dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (al-Fiil: 1-5)

Ini merupakan salah satu dari nikmat yang dengannya Allah menguji kaum Quraisy, yaitu berupa penghindaran mereka dari pasukan gajah yang telah bertekad bulat untuk menghancurkan Ka’bah serta menghilangkan bekas keberadaannya. Maka Allah membinasakan dan menghinakan mereka, menggagalkan usaha mereka, menyesatkan berbuatan mereka, serta mengembalikan mereka dengan membawa kegagalan yang memalukan. Mereka adalah kaum Nasrani. Agama mereka pada saat itu lebih dekat dengan agama kaum Quraisy yaitu penyembahan berhala.

Tetapi peristiwa itu termasuk tanda sekaligus pendahuluan bagi pengutusan Rasulullah saw. Sebab menurut pendapat yang paling popular, pada tahun itu beliau dilahirkan. Sercara tersirat, Allah Ta’ala mengatakan: “Kami tidak menolong kalian, wahai sekalian kaum Quraisy, untuk mengalahkan kaum Habsyi, karena posisi kalian yang lebih baik daripada mereka, akan tetapi Kami menghancurkan mereka untuk memelihara Baitul ‘Atiq (Ka’bah) yang akan senantiasa Kami muliakan, agungkan, serta hormati melalui pengutusan seorang Nabi yang Ummi (tidak dapat membaca dan menulis), Muhammad saw. Penutup para Nabi.

Berikut ini kisah pasukan Gajah yang disajikan secara ringkas dan singkat. Telah disampaikan sebelumnya, dalam kisah Ash-habul Ukhdud (orang-orang yang membuat parit) bahwa Dzu Nawwas, yang merupakan raja terakhir kerajaan Himyar, dia orang musyrik. Dialah yang membunuh Ash-Habul Ukhdud. Ash-Habul Ukhdud adalah orang-orang Nasrani yang jumlahnya mendekati 20.000 orang. Tidak ada yang selamat darinya kecuali Dawus Dzu Tsa’laban. Kemudian Dawus pergi dan meminta bantuan kepada Kaisar, raja Syam, yang juga penganut Nasrani. Kemudian dia menulis surat kepada Najasyi, raja Habasyah, karena keberadaannya yang lebih dekat dengan mereka. Dia mengutus Dawus yang didampingi oleh dua orang Amir; Aryath dan Abrahah bin ash-Shabah Abu Yaksum disertai satu pasukan besar. Kemudian mereka masuk ke Yaman dan menyelinap ke rumah-rumah, sehingga akhirnya mereka berhasil merebut kerajaan dari Himyar dan Dzu Nawwas pun akhirnya binasa tenggelam di laut.

Habasyah berhasil menaklukkan Yaman dan mereka dipimpin oleh dua orang pemimpin; Aryath dan Abrahah. Kemudian kedua pemimpin itu berselisih pendapat dalam satu urusan sehingga keduanya beradu mulut dan perang. Salah satu berkata kepada yang lainnya: “Sesungguhnya kita tidak perlu mengerahkan pasukan di antara kita, tetapi mari kita berhadapan satu lawan satu. Siapa diantara kita yang berhasil membunuh lawan, maka dialah yang berhak menduduki posisi raja.

Kemudian tantangan itu disambut oleh yang lainnya, sehingga keduanya bertarung. Masing-masing dari keduanya meninggalkan parit, lalu Aryath menyerang Abrahah, menebasnya dengan pedang sehingga hidungnya terpotong, mulutnya robek dan wajahnya terkoyak. Kemudian ‘Utudah, pembantu Abrahah ikut menyerang Aryath dan membunuhnya. Abrahah pulang dalam keadaan terluka. Lalu ia mengobati lukanya dan setelah sembuh berhasil melatih bala tentara Habasyah di Yaman. Selanjutnya Najasyi menulis surat kepadanya yang isinya mencela apa yang telah dilakukannya seraya mengancam dan bersumpah akan menduduki negaranya dan menelungkupkan ubun-ubunnya.

Abrahah mengirimkan utusan kepada raja Najasyi untuk menyampaikan rasa dukanya sambil berbasa-basi kepadanya. Bersama utusan tersebut Abrahah mengirimkan hadiah dan sekantong tanah Yaman. Dan dia menulis dalam surat supaya raja menginjak kantong itu sehingga ia terbebas dari sumpahnya dan inilah ubun-ubunku telah aku kirimkan bersamanya kepadamu. Ketika semuanya itu sampai kepadanya, dia sangat heran dibuatnya dan merasa puas dengannya serta mengakui keberadaannya.

Kemudian Abrahah mengirimkan utusan untuk mengatakan kepada Najasyi, “Aku akan bangunkan untukmu sebuah gereja di negeri Yaman yang belum pernah dibuat bangunan sepertinya.” Lalu ia memulai pembangunan gereja itu di Shan’a, sebuah bangunan yang sangat tinggi serta pelatarannya yang tinggi pula, yang dihiasi semua sisinya. Bangsa Arab menyebutnya dengan al-qalis, karena bangunannya yang tinggi. Sebab orang yang melihatnya akan mengangkat kepala sehingga qalansuwah (peci) yang dikenakannya hampir jatuh dari kepalanya karena tingginya bangunan.

Abrahah al-Asyram bertekad untuk memindahkan haji bangsa Arab ke gereja tersebut sebagaimana mereka selama ini berhaji ke ka’bah di Mekah. Dia serukan hal tersebut di wilayah kekuasaannya sehingga mengundang kebencian warga ‘Arab Adnan dan Qahthan. Kaum Quraisy benar-benar murka karenanya, sehingga sebagian dari mereka ada yang mendatangi gereja itu dan memasukinya pada malam hari serta menghancurkan isi di dalamnya, kemudian dia kembali pulang. Ketika penjaga mengetahui kejadian tersebut, mereka melapor kepada raja mereka, Abrahah, seraya berkata: “Yang demikian itu dilakukan oleh beberapa orang Quraisy yang marah karena rumah mereka (Baitullah) diserupakan dengan ini.” Selanjutnya Abrahah bersumpah akan pergi menuju Baitullah di Mekah dan akan menghancurkannya berkeping-keping.

Muqil bin Sulaiman menyebutkan bahwasannya ada sekelompok orang dari kaum Quraisy yang memasuki gereja itu dan membakarnya. Pada hari itu panas benar-benar terik sehingga gereja itu terbakar, runtuh dan rata dengan tanah. Kemudian Abrahah menyiapkan diri dan pergi dengan membawa pasukan yang cukup banyak dan kuat agar tidak ada seorangpun yang mampu melawannya, yang disertai seekor gajah yang sangat besar, belum ada seekor gajahpun sebelumnya yang terlihat sepertinya, yang diberi nama Mahmud. (Bersambung)