Tag Archives: al isra’

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 110-111

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 110-111“Katakanlah: ‘Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al Asmaa’ al-Husnaa (nama-nama yang terbaik) dan jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.’ (QS. 17:110) Dan katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempuyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebenar-benarnya.’ (QS. 17:111)” (al-Israa’: 110-111)

Allah berfirman, katakanlah hai Muhammad kepada orang-orang musyrik yang mengingkari sifat rahmat bagi Allah, dan yang menolak menamakan-Nya ar-Rahman terhadap-Nya: ud’ullaaHa awid’ur rahmaana ayyam maa tad’uu falaHul asmaa-ul husnaa (“Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-Asmaa’ al-Husnaa [nama-nama yang terbaik].”)

Maksudnya, tidak ada perbedaan antara penyebutan kalian dengan sebutan Allah atau ar-Rahman, karena Dia mempunyai Asmaa’ al-Husnaa. Telah diriwayatkan oleh Mak-hul, bahwasanya ada seseorang dari kaum musyrik yang mendengar Nabi dalam sujudnya mengucapkan: “Ya Rahmaan, ya Rahiim (wahai yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang).” Lalu orang itu beranggapan bahwa beliau telah menyeru satu orang dengan dua nama, lalu Allah Ta’ala menurunkan ayat ini. Demikianlah yang diriwayatkan dari Ibnu `Abbas, keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Firman-Nya: wa laa tajHar bishalaatika (“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu.”) Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, ia mengatakan, ayat ini turun ketika Rasulullah saw. tengah bersembunyi di Makkah;
wa laa tajHar bishalaatika walaa takhaafit biHaa (“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya.”) Ia (Ibnu `Abbas) mengatakan, jika Rasulullah mengerjakan shalat bersama para sahabatnya, maka beliau membaca ayat al-Qur’an dengan suara keras. Dan ketika mendengar bacaan itu, orang-orang musyrik mencela al-Qur’an dan mencela Rabb yang menurunkan serta orang yang membawanya. Lebih lanjut, Ibnu `Abbas
menuturkan, maka Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad saw: “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu,” yakni dalam bacaanmu, sehingga akan didengar oleh orang-orang musyrik, lalu mereka akan mencela al-Qur’an.

walaa takhaafit biHaa (“Dan janganlah pula merendahkannya.”) Yakni dari para sahabatmu, sehingga engkau tidak dapat memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepada mereka yang akhirnya mereka tidak dapat mengambilnya darimu. Wabtaghi baina dzaalika sabiilan (“Dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.”)

Demikianlah hadits yang ditakhrij oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab ash-Shahihain.

Wa laa tajHar bishalaatika (“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu,”) sehingga akan bercerai berai darimu. Wa laa takhaafit biHaa (“Dan jangan pula merendahkannya,”) sehingga orang yang bermaksud mendengarnya tidak dapat mendengar, siapa tahu mereka akan mengambil pelajaran dari sebagian yang didengarnya, sehingga dengannya ia dapat mengambil manfaat.

Wabtaghi baina dzaalika sabiilan (“Dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.”) Hal yang sama juga dikemukakan oleh `Ikrimah, al-Hasan al-Bashri dan Qatadah: “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan bacaan al-Qur’an dalam shalat.”

Syu’bah menuturkan dari Ibnu Masud, “Dan jangan pula merendahkannya,” dari orang yang telah memasang kedua telinganya guna mendengarnya.

Ibnu Jarir menceritakan dari Muhammad bin Sirin, ia bercerita, aku pernah diberitahu, jika Abu Bakar mengerjakan shalat, lalu membaca al-Qur’an, maka ia merendahkan suaranya. Dan bahwasanya `Umar mengeraskan suaranya. Kemudian dikatakan kepada Abu Bakar: “Mengapa engkau lakukan ini?” Abu Bakar menjawab: “Aku bermunajat kepada Rabbku yang Mahaperkasa lagi Mahamulia, sedang Dia telah mengetahui hajatku.” Maka dikatakan kepadanya: “Engkau telah berbuat suatu hal yang baik.” Kepada `Umar juga dikatakan: “Mengapa engkau lakukan hal itu?” `Umar menjawab: “Aku mengusir syaitan dan membangunkan orang-orang yang terkantuk.” Lalu dikatakan kepadanya: “Engkau telah melakukan suatu hal yang baik.”

Ketika turun ayat, “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara keduanya itu,” dikatakan kepada Abu Bakar: “Angkat suaramu sedikit.” Dan kepada `Umar dikatakan: “Rendahkanlah suaramu sedikit lagi.”

Firman-Nya: wa qulil hamdulillaaHil ladzii lam yattakhidz waladan (“Dan katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak.’”) Sebagaimana Allah telah menetapkan bagi diri-Nya al-Asmaa’ al-Husnaa (nama-nama yang baik), Dia juga mensucikan diri-Nya dari berbagai macam kekurangan. Di mana Dia telah berfirman: wa qulil hamdulillaaHil ladzii lam yattakhidz waladaw wa lam yakul laHuu syariikuun fil mulki (“Dankatakanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya.”) Melainkan Dia adalah Rabb yang Mahaesa, yang menjadi tempat bergantung, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang sebanding dengan-Nya.

Wa lam yakul laHuu waliyyum minadh-dhull (“Dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong.”) Maksudnya, Dia bukanlah seorang yang hina, sehingga membutuhkan penolong atau pembantu atau penasihat, tetapi Dia adalah Rabb yang Mahatinggi, Pencipta segala sesuatu, sendiri, tanpa membutuhkan sekutu. Dia juga yang mengatur dan menentukan sesuai dengan kehendak-Nya semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Mengenai firman-Nya ini, Mujahid berkata: “Dia tidak pernah menyalahi seseorang dan tidak pula mengharap bantuan seseorang.”

Wa kabbirHu takbiiran (“Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.”) Maksudnya, agungkan dan tinggikanlah Dia setinggi-tingginya dari apa yang dikatakan oleh orang-orang dhalim yang melampaui batas, Dia Mahatinggi lagi Mahabesar. WallaHu a’lam.

Selesai

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 107-109

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 107-109“Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, (QS. 17:107) dan mereka berkata: ‘Mahasuci Rabb kami; sesungguhnya janji Rabb kami pasti dipenuhi.’ (QS. 17:108) Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’. (QS. 17:109)” (al-Israa’: 107-109)

Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad saw, “Hai Muhammad,” qul (“Katakanlah”) kepada orang-orang kafir tentang al-Qur’an yang engkau bawa kepada mereka ini; aaminuu biHii au laa tu’minuu (“Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman.”) Maksudnya, kalian beriman atau tidak adalah sama saja bagi Allah Ta’ala, ia tetap merupakan kebenaran yang Dia turunkan dan telah disebutkan pada zaman-zaman terdahulu melalui kitab-
kitab yang diturunkan kepada para Rasul-Nya sebelumnya.

Oleh karena Dia berfirman: innal ladziina uutul kitaaba minn qabliHi (“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya,”) yakni, orang-orang shalih dari kalangan Ahlul Kitab yang berpegang teguh kepada kitab mereka, menegakkan, serta tidak mengganti dan merubahnya; idzaa yutlaa ‘alaiHim (“Apabila dibacakan kepada mereka,”) yakni, al-Qur’an ini, yakhirruuna lil adzqaani sujjadan (“Mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.”) Adzqaan adalah jamak dari dziqn, yaitu bagian dari wajah (dagu). Yakni, sujud kepada Allah seraya bersyukur atas yang Dia anugerahkan kepada mereka, yakni berupa dijadikannya mereka sebagai orang-orang yang mengetahui para Rasul yang diturunkan kepadanya kitab ini.

Oleh karena itu, mereka berkata: Subhaana rabbinaa (“Mahasuci Rabb kami.”) Yakni, sebagai penghormatan dan penyanjungan atas kekuasaan-Nya yang sangat sempurna. Dan bahwasanya Dia tidak pernah menyalahi yang telah dijanjikan kepada mereka melalui lisan para Nabi-Nya terdahulu mengenai pengutusan Muhammad saw. Oleh karena itu, mereka pun berkata: subhaana rabbinaa inkaana wa’du rabbinaa lamaf’uulan (“Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya Rabb kami pasti dipenuhi.”)

Dan firman-Nya: wa yakhirruuna lil adzqaani yabkuuna (“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis.”) Yakni, sebagai bentuk ketundukan mereka kepada Allah sekaligus sebagai keimanan dan pembenaran terhadap al-Qur’an dan Rasul-Nya. Wa yaziiduHum khusyuu’an (“Dan mereka bertambah khusyu.”) Yakni, bertambahnya iman dan penyerahan diri. Firman-Nya: “Wa yakhirruuna” merupakan ‘athaf sifat atas sifat lainnya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 105-106

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 105-106“Dan Kami turunkan (al-Qur’an itu) dengan sebenar-benarnya dan al-Qur’an telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (QS. 17: 105) Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. 17:106)” (al-Israa’: 105-106)

Allah berfirman seraya memberitahukan tentang Kitab-Nya yang mulia, yakni al-Qur’an. Sesungguhnya ia diturunkan dengan sebenar-benarnya, yakni mengandung kebenaran, sebagaimana yang difirmankan-Nya berikut ini: “[Mereka tidak mengakui yang diturunkan kepadamu itu], tetapi Allah mengakui al-Qur’an yang Dia turunkan kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya, dan para Malaikat pun menjadi saksi pula.” (QS. An-Nisaa’: 166)

Yakni, mengandung ilmu Allah yang memang dikehendaki-Nya untuk diperlihatkan kepada kalian, berupa hukum-hukum-Nya, perintah-Nya dan larangan-Nya.

Firman-Nya: wa bil haqqi nazala (“Al-Qur’an itu datang dengan membawa kebenaran,”) yakni, al-Qur’an itu turun kepadamu, hai Muhammad, dalam keadaan terpelihara dan terjaga, dan tidak akan pernah tercampur baur oleh hal-hal lainnya, tidak ada pengurangan dan penambahan, tetapi ia turun kepadamu benar-benar membawa kebenaran. Kitab itu dibawa turun oleh Jibril yang mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat, jujur, penuh ketaatan, di Mala-ul A’la (alam Malaikat).

Firman-Nya lebih lanjut: wa maa arsalnaaka (“Dan Kami tidak mengutusmu,”) hai Muhammad; illaa mubasysyiraw wa nidziiran (“Melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.”) Yakni, pembawa berita gembira bagi orang-orang mukmin yang mentaatimu, dan pemberi peringatan bagi orang-orang kafir yang menentangmu.

Firman Allah Ta’ala: wa qur-aanan faraqnaaHu (“Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur.”) Adapun bacaan orang yang membaca dengan takhfif tanpa faraqnaa, maka artinya adalah Kami pisahkan Kitab itu dari Lauhil Mahfuzh ke Baitul `Izzah di langit dunia. Kemudian diturunkan kepada Rasulullah secara berangsur-angsur dan teratur sesuai dengan peristiwa yang terjadi selama dua puluh tiga tahun. Demikian yang dikemukakan oleh `Ikrimah dari Ibnu `Abbas. Dari Ibnu `Abbas juga, bahwa ia membaca dengan menggunakan tasydid (farraqnaa) yang berarti Kami turunkan Kitab itu ayat demi ayat disertai dengan penjelasan dan penafsiran.

Oleh karena itu, Dia berfirman: litaqra-aHuu ‘alan naasi (“Agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia.”) Maksudnya, supaya kamu menyampaikan dan membacakannya kepada umat manusia. ‘alaa muktsiw wa nazzalnaaHu tanziilan (“Dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.”) Yakni, datang dengan tenggang waktu dan sedikit demi sedikit.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 101-104

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 101-104“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka, lalu Fir’aun berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir.’ (QS. 17:101) Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa.’ (QS. 17:102) Kemudian (Fir’aun) hendak mengusir mereka (Musa dan pengikut pengikutnya) dari bumi (Mesir) itu, maka Kami tenggelamkan dia (Fir’aun) serta orang-orang yang bersama-sama dia seluruhnya, (QS. 17:103) dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: ‘Diamlah di negeri ini, maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur (dengan musuhmu).’ (QS. 17:104)” (al-Israa’: 101-104)

Allah memberitahukan bahwa Dia telah mengutus Musa as. dengan sembilan ayat yang menjelaskan tanda-tanda kekuasaan yang merupakan dalil-dalil pasti yang menunjukkan benarnya kenabian Musa dan kebenarannya pada apa yang ia sampaikan dari Yang mengutusnya kepada Fir’aun. Kesembilan mukjizat Musa’ tersebut adalah tongkat, tangan, bukit Thur, laut, topan, belalang, kutu, katak dan darah. Semuanya itu merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang sudah terrerinci. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu `Abbas: “Tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS. Al-A’raaf: 133)

Maksudnya, meskipun telah datang kepada mereka berbagai tanda-tanda kekuasaan tersebut dan bahkan secara langsung mereka melihatnya, namun mereka tetap kafir dan mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan mereka, padahal hati mereka meyakini kebenarannya.

Demikian juga seandainya Kami penuhi orang-orang yang meminta kepadamu dan mengatakan: “Kami tidak akan beriman kepadamu sehingga kamu memancarkan mata air bagi kami di muka bumi,” niscaya mereka tidak akan memenuhi seruan dan tidak pula beriman kecuali jika Allah menghendaki.
Sebagaimana yang dikemukakan Fir’aun kepada Musa as, sedang ia telah menyaksikan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan tersebut: “Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang
yang kena sihir.” Ada yang mengatakan, hal itu berarti tukang sihir. Wallahu a’lam.

Oleh karena itu, Musa pun berkata kepada Fir’aun: laqad ‘alimta maa anzala Haa-ulaa-i illaa rabbus samaawaati wal ardli bashaa-ira (“Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang rnenurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata.”) Maksudnya, sebagai,hujjah dan dalil atas kebenaran apa yang aku (Musa) bawa kepadamu.
Wa innii la-adhunnuka yaa fir’auna matsbuuran (“Dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa.”) Maksudnya, seorang yang hancur binasa. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah. Sedangkan menurut Ibnu `Abbas, hal itu berarti orang yang terlaknat.

Semuanya itu menunjukkan bahwa yang dimaksudkan dengan Sembilan tanda-tanda kekuasaan adalah apa yang telah disebutkan di depan. WallaHu a’lam.

Firman-Nya: fa araada ay yastafizzaHum minal aardli (“Kemudian [Fir’aun] hendak mengusir mereka [Musa dan pengikut-pengikutnya] dari bumi [Mesir] itu,”) yakni, akan menyingkirkan dan melenyapkan mereka dari negeri tersebut.

Fa aghraqnaaHu wa mam ma’aHu jamii’aw wa qulnaa mim ba’diHii li banii israa-iilas kunul ardla (“Maka Kami tenggelamkan dia [Fir’aun] serta orang-orang yang bersama-sama dia seluruhnya. Dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: ‘Diamlah di negeri ini.’”)

Yang demikian itu merupakan berita gembira bagi Nabi Muhammad saw, mengenai pembebasan kota Makkah, padahal surat ini Makkiyyah dan turun sebelum Hijrah. Itulah yang terjadi, di mana penduduk Makkah berkeinginan keras untuk mengusir Rasulullah dari Makkah. Oleh karena itu, Allah , mewariskan Makkah kepada beliau, lalu beliau memasukinya kembali.

Demikian menurut dua pendapat yang masyhur, dan beliau mengalahkan penduduknya dan kemudian melepaskan mereka dengan penuh kasih sayang dan kemurahan. Sebagaimana Allah Ta’ala mewariskan bumi belahan barat dan timur kepada orang-orang mustadl’afiin (lemah) dari kalangan Bani Israil. Dan Dia mewariskan kepada mereka negeri, harta kekayaan, sawah, ladang, buah-buahan, dan berbagai simpanan Fir’aun. Sebagaimana yang difirmankan-Nya berikut ini: “Demikian halnya dan Kami anugerahkan semuanya itu kepada Bani Israil.” (QS. Asy-Syu’araa’: 59)

Sedangkan di sini Dia berfirman: wa qulnaa mim ba’diHii li banii israa-iilas kunul ardla wa idzaa jaa-a wa’dul aakhirati ji’naa bikum lafiifan (“Dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: ‘Diamlah di negeri ini, maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur [dengan musuhmu].’”) Yakni, kalian dan musuh-musuh kalian secara keseluruhan. Ibnu `Abbas, Mujahid, Qatadah dan adh-Dhahhak mengatakan: “Kata lafiifan berarti jamii’an (semuanya).”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 100

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 100“Katakanlah: ‘Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Rabb-ku, niscaya perbendabaraan itu kamu tahan karena takut membelanjakannya. Dan adalah manusia itu sangat kikir.” (QS. Al-Israa’: 100)

Allah berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad saw, katakanlah hai Muhammad kepada mereka: “Seandainya kalian hai sekalian manusia, dapat menguasai berbagai perbendaharaan Allah, niscaya kalian menahannya karena takut untuk menginfakkannya.”

Ibnu `Abbas dan Qatadah berkata: “Yakni takut miskin. Dengan kata lain, takut perbendaharaan itu akan lenyap, padahal sebenarnya ia tidak akan pernah habis untuk selamanya, karena sesungguhnya yang demikian itu sudah merupakan karakter dan sifat kalian.”

Oleh karena itu, Allah k berfirman: wa kaanal insaanu qatuuran (“Dan adalah manusia itu sangat kikir.”) Berkata Ibnu `Abbas dan’Qatadah: “Qatur ialah sangat kikir.” Dan firman Allah Ta’ala: “Ataukab mereka mempunyai bahagian dari kekuasaan? Walaupun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun (kebajikan) kepada manusia.” (QS. An-Nisaa’: 53).

Maksudnya, seandainya mereka mempunyai bagian dalam menjalankan kekuasaan Allah, niscaya mereka tidak akan memberi sesuatu pun kepada seorang pun walau sedikit saja. Dan Allah Ta’ala telah menyifati manusia seperti adanya mereka, kecuali orang-orang yang diberi taufik dan hidayah. Sesungguhnya kikir dan bakhil, juga gelisah, merupakan sifat manusia. Hal itu sekaligus menunjukkan kemurahan, kedermawanan dan kebaikan-Nya.

Di dalam kitab ash-Shahihain telah ditegaskan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Tangan Allah penuh dengan kekayaan, yang tidak akan berkurang oleh nafkah para dermawan pada malam dan siang hari. Tidakkah kalian mengetahui, apa yang Dia nafkahkan sejak penciptaan langit dan bumi, sama sekali tidak mengurangi apa yang ada di tangan kanan-Nya?”

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 98-99

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 98-99“Itulah balasan bagi mereka, karena sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami dan (karena mereka) berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang bancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru?” (QS. 17:98) Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang dhalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran. (QS. 17:99)” (al-Israa’: 98-99)

Allah berfirman, inilah yang Kami jadikan sebagai balasan bagi mereka, yakni dibangkitkan dalam keadaan buta, bisu, dan tuli. Suatu balasan yang memang merupakan hak bagi mereka, karena mereka mendustakan; bi aayaatinaa (“Ayat-ayat Kami.”) Yakni, terhadap dalil-dalil dan hujjah-hujjah Kami serta mengingkari akan adanya kebangkitan.
Wa qaaluu a idzaa kunnaa ‘idhaamaw wa rufaatan (“Dan mereka berkata: ‘Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur,’”) yakni, hancur lumat. A innaa lamab’uutsuuna khalqan jadiidan (“Apakah kami benar-benar akan dibangkitkan sebagai makhluk baru?”) Maksudnya, apakah setelah kami mengalami kehancuran, kebinasaan, keterceraiberaian, serta meresap ke dalam bumi, akan dikembalikan untuk yang kedua kalinya?

Maka Allah Ta’ala memberitakan hujjah kepada mereka dan mengingatkan kemampuan-Nya untuk melakukan hal tersebut. Dia adalah Rabb yang telah menciptakan langit dan bumi, maka sesungguhnya kemampuan-Nya untuk mengembalikan kejadian mereka merupakan suatu hal yang lebih mudah. Dan di sini Allah k berfirman:
A walam yarau annallaaHal ladzii khalaqas samaawaati wal ardla qaadirun ‘alaa ay yakhluqa mitslaHum (“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa [pula] menciptakan yang serupa dengan mereka?”) Yakni pada hari Kiamat kelak, badan mereka akan dikembalikan dan diberikan pertumbuhan kembali sebagaimana Dia telah memulai penciptaan mereka pertama kali.

Firman-Nya: wa ja’ala laHum ajalal laa raiba fiiHi (“Dan Dia telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya.”) Maksudnya, Dia telah menetapkan batas waktu tertentu untuk mengembalikan dan membangkitkan mereka dari kubur mereka pada waktu yang telah ditetapkan, yang pasti akan diberlakukan. Sebagaimana yang difirmankan-Nya yang artinya: “Dan Kami tiada mengundurkannya melainkan sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Huud: 104)

Dan firman-Nya: fa abadh dhaalimuuna (“Maka orang-orang dhalim itu tidak menghendaki,”) yakni setelah ditegakkannya hujjah bagi mereka (mereka tetap menolak). Illaa kufuuran (“Kecuali kekafiran.”) Kecuali keterjerumusan dalam kebathilan dan kesesatan mereka.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 97

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 97“Dan barangsiapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang Dia sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari Kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan tuli. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahannam. Tiap-tiap kali nyala api jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.” (QS. Al-Israa’: 97)

Allah berfirman seraya memberitahukan tentang pengaturan-Nya terhadap makhluk-Nya dan pemberlakuan hukum-hukum-Nya. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menolak-Nya, bahwa barangsiapa yang diberi petunjuk oleh-Nya, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tidak seorang pun penolong mereka selain Allah yang dapat memberikan petunjuk kepada mereka.

Firman-Nya: wa nahsyuruHum yaumal qiyaamati ‘alaa wujuuHiHim (“Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari Kiamat [diseret] atas muka mereka.”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Nafi’, ia bercerita, aku pernah mendengar Anas bin Malik berkata, pernah dikatakan: “Ya Rasulullah, bagaimana orang-orang akan dikumpulkan dengan digiring di atas wajah mereka?” Beliau menjawab: “Allah yang memperjalankan mereka di atas kaki mereka, mampu memperjalankan mereka di atas wajah mereka.” Demikian hadits yang ditakhrij oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab ash-Shahihain.

Firman-Nya: ‘umyan (“Dalam keadaan buta,”) yakni tidak dapat melihat. wa bukman (“Bisu,”) yakni tidak dapat berbicara. Wa shumman (“Dan tuli,”) yakni tidak dapat mendengar. Hal itu terjadi pada suatu keadaan saja, tidak pada keadaan yang lainnya sebagai balasan bagi mereka. Sebagaimana mereka di dunia benar-benar buta, bisu, dan tuli terhadap kebenaran. Mereka diberi balasan seperti itu di alam Mahsyar sebagai sesuatu yang sangat mereka butuhkan.

Ma’waaHum jaHannamu (“Tempat kediaman mereka,”) yakni, tempat kembali mereka adalah neraka Jahannam. Kullamaa khabat (“Tiap-tiap kali nyala apt jahannam itu akan padam.”) Ibnu `Abbas berkata: “Yakni, akan terdiam.” Sedangkan Mujahid mengemukakan: “Yakni padam.” zidnaaHum sa’iiran (“Maka kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.”) Yakni, akan bertambah berkobar, dan menyala-nyala juga bara apinya. Sebagaimana yang difirmankan-Nya: “Karena itu, rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan memberi tambahan kepadamu selain adzab.” (QS. An-Naba’: 30)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 96

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 96“Katakanlah: ‘Cukuplah aku menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian. Sesungguhnya Dia adalah Mahamengetahui lagi Mahamelihat akan hamba-bamba-Nya.” (QS. Al-Israa’: 96)

Allah berfirman seraya membimbing Nabi-Nya, Muhammad saw. untuk memberikan hujjah kepada kaumnya atas kebenaran apa yang dibawanya bagi mereka, bahwa Allah menjadi saksi terhadap diriku dan juga atas kalian. Dia Mahamengetahui apa yang aku sampaikan kepada kalian. Seandainya aku dusta terhadap-Nya, niscaya Dia akan menimpakan siksaan yang sangat pedih kepadaku. Sebagaimana yang difirmankan-Nya: “Seandainya ia (Muhammad) mengada-ada sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami akan benar-benar potong urat tali jantungnya.” (QS. Al-Haaqqah: 44-46)

Dan firman-Nya: innaHuu kaana bi’ibaadiHii khabiiram bashiiran (“Sesungguhnya Dia adalah Mahamengetahui lagi Mahamelihat akan hamba-hamba-Nya.”) Maksudnya, Dia Mahamengetahui siapa-siapa di antara mereka yang berhak memperoleh kenikmatan dan kebaikan serta hidayah dan siapa pula yang berhak mendapatkan kesengsaraan dan kesesatan serta penyimpangan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman sebagai berikut:

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 94-95

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 94-95“Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: ‘Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi Rasul?’ (QS. 17:94) Katakanlah: ‘Kalau seandainya ada para Malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang Malaikat menjadi Rasul.’ (QS. 17:95)” (al-Israa’: 94-95)

Allah berfirman: wamaa mana’an naasa (“Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia,”) yakni kebanyakan mereka; ay yu’minuu (“Untuk beriman,”) dan mengikuti para Rasul melainkan ketidaktertarikan mereka terhadap pengutusan manusia sebagai seorang Rasul.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman seraya mengingatkan akan kelembutan dan rahmat-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, bahwa Dia mengutus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan
mereka sendiri supaya mereka memahaminya dan memperoleh pengertian darinya, dan agar memungkinkan mereka untuk berbicara dengannya. Seandainya Dia mengutus Malaikat kepada manusia, niscaya mereka tidak akan mampu menghadapinya dan tidak jua mengambil pelajaran darinya. Sebagaimana yang difirmankan-Nya: “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri.” (QS. At-Taubah: 128)

Oleh karena itu, di sini Allah, berfirman: qul lau kaana fil ardli malaa-ikatuy yamsyuuna muthma-inniina (“Katakanlah: ‘Kalau seandainya ada para Malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi.’”) Maksudnya, sebagaimana yang kalian lakukan di bumi,
Lanazzalnaa ‘alaiHim minas samaa-i malakar rasuulan (“Niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang Malaikat menjadi Rasul.”) Yakni dari kalangan mereka sendiri. Dan karena kalian adalah manusia biasa, maka Kami turunkan kepada kalian Rasul dari kalangan kalian sendiri sebagai bentuk kelembutan dan kasih sayang Allah.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Israa’ Ayat 90-93

14 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Israa’
(Memperjalankan di Malam Hari)
Surah Makkiyyah; surah ke 17: 111 ayat

tulisan arab alquran surat al israa ayat 90-93“Dan mereka berkata: ‘Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, (QS. 17:90) atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, (QS. 17:91) atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan para Malaikat berhadapan muka dengan kami. (QS. 17:92) Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari hiasan, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca.’ Katakanlah: ‘Mahasuci Rabbku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi Rasul?’ (QS. 17:93)” (al-Israa’: 90-93)

Firman Allah: hattaa tafjura lanaa minal ardli yanbuuu’an (“Sehingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami.”) Kata al-yanbuu’ berarti mata air yang mengalir. Mereka meminta Muhammad untuk mengalirkan bagi mereka mata air tertentu di negeri Hijaz, di sini dan di sini. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah Ta’ala. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan melakukan dan memenuhi permintaan dan tuntutan mereka seluruhnya, tetapi Dia mengetahui bahwa mereka tidak akan mengikuti petunjuk.

Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala: “Kalau sekiranya Kami turunkan Malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak juga akan beriman.” (QS. Al-An’aam: 111)

Dan firman Allah Ta’ala: au tusqithas samaa-a kamaa za’amta (“Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan.”) Maksudnya, engkau telah berjanji kepada kami bahwa pada hari Kiamat, langit akan terbelah, sedang ujung-unjungnya pun berjatuhan. Dia jadikan hal itu berlangsung di dunia dan Dia jatuhkan langit itu berkeping-keping. Demikian halnya dengan kaum Syu’aib, mereka pernah meminta kepadanya seraya berkata: “Maka jatuhkan atas kami gumpalann dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Asy-Syu’araa’: 187)

Maka Allah Ta’ala pun menimpakan kepada mereka adzab pada hari penaungan (yang berawan). Sesungguhnya hal itu merupakan adzab di hari yang sangat besar.

Sedangkan Nabi pembawa rahmat dan taubat, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia. Beliau meminta supaya mereka ditangguhkan, mudah-mudahan Allah akan mengeluarkan dari tulang-tulang rusuk (keturunan) mereka, orang yang beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Demikian itulah yang terjadi.

Diceritakan, `Abdullah bin Abi Umayyah yang mengikuti Nabi saw. berkata kepada beliau sebagaimana yang ia katakan, aku memeluk Islam dengan keislaman yang sempurna dan aku kembali (bertaubat) kepada Allah.

Dan firman Allah Ta’ala: au yakuuna laka baitum min zukhrufin (“Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari hiasan.”) Menurut Ibnu `Abbas, Mujahid dan Qatadah, yakni emas. Demikian halnya menurut bacaan Ibnu Mas’ud, “Au yakuunu laka baitun min dzahabin ” (Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas).

Firman-Nya: au tarqaa fis samaa-i (“Atau kamu naik ke langit.”) Maksudnya, naik melalui tangga sedang kami melihatmu. Wa lan nu’mina liruqiyyika hattaa tunazzila ‘alainaa kitaban naqra-uHu (“Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca.”) Mujahid mengatakan, yakni di dalamnya tertulis: “Ditujukan kepada setiap orang, kitab ini dari Allah kepada Fulan bin Fulan, yang menjadi judul di kepala surat.”

Dan firman Allah Ta’ala: qul subhaana rabbi Hal kuntu illaa basyarar rasuulan (“Katakanlah: ‘Mahasuci Rabbku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi Rasul?’”) Maksudnya, Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari adanya seorang hamba-Nya yang menghadap ke hadirat-Nya untuk suatu urusan kekuasaan dan kerajaan-Nya, tetapi Dia itu adalah Rabb yang Mahaberbuat atas segala apa yang dikehendaki-Nya. Jika menghendaki, Dia akan memenuhi apa yang kalian minta, dan jika tidak, Dia tidak akan memenuhi permintaan kalian. Dan aku ini tidak lebih hanyalah seorang yang menjadi Rasul kepada kalian, tugasku menyampaikan risalah Rabbku dan memberi nasihat kepada kalian. Dan sesungguhnya aku telah melaksanakan hal itu. Dan apa yang kalian minta itu terserah kepada Allah.

Bersambung