Tag Archives: al mulk

Mewarnai Gambar Kaligrafi Nama Surah Al-Mulk

22 Okt

Mewarnai Gambar Kaligrafi
Nama-Nama Surah Al-Qur’an Anak Muslim

mewarnai gambar kaligrafi nama surah al-mulk

67. Surah Al-Mulk

29 Nov

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat ini terdiri atas 30 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah, diturunkan sesudah Ath Thuur.
Nama Al Mulk diambil dari kata Al Mulk yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya kerajaan atau kekuasaan. Dinamai pula surat ini dengan At Tabaarak (Maha Suci).

Pokok-pokok isinya:
Hidup dan mati ujian bagi manusia; Allah menciptakan langit berlapis-lapis dan semua ciptaan-Nya mempunyai keseimbangan; perintah Allah untuk memperhatikan isi alam semesta; azab yang diancamkan terhadap orang-orang kafir; dan janji Allah kepada orang-orang mukmin; Allah menjadikan bumi sedemikian rupa hingga mudah bagi manusia untuk mencari rezki; peringatan Allah kepada manusia tentang sedikitnya mereka yang bersyukur kepada nikmat Allah.
Surat Al Mulk menunjukkan bukti-bukti kebesaran dan kekuasaan Allah yang terdapat di alam semesta dan menganjurkannya agar manusia memperhatikannya dengan seksama sehingga mereka beriman kepada-Nya. Bilamana manusia itu tetap mengingkari, Allah akan menjatuhkan azab kepada mereka.

HUBUNGAN SURAT AL MULK DENGAN SURAT AL QALAM

1. Pada akhir surat Al Mulk, Allah mengancam orang yang tidak bersyukur kepda nikmat Allah dengan mengeringkan bumi atas mereka, sedang dalam surat Al Qalam diberikan contoh tentang azab terhadap orang-orang yang tidak bersyukur terhadap nikmat Allah.
2. Kedua surat ini sama-sama memberikan ancaman kepada orang-orang kafir.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mulk (5)

23 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mulk (Kerajaan)
Surah Makkiyyah; surah ke 67: 30 ayat

Qul Huwalladzii dzara-akum fil ardli (“Katakanlah: ‘Dia-lah yang menjadikanmu berkembang biak di muka bumi.’”) yakni mengembangbiakkan dan menyebarluaskan kalian di penjuru bumi dengan berbagai perbedaan bahasa, warna kulit, bentuk dan postur tubuh mereka. Wa ilaiHi tuhsyaruun (“Dan hanya kepada-Nya lah kelak kamu dikumpulkan.”) maksudnya kalian akan berkumpul setelah adanya perpisahan tersebut, Allah akan mengumpulkan kalian sebagaimana Dia telah memisahkan kalian serta mengembalikan kalian sebagaimana Dia telah membuat permulaan kalian.

Selanjutnya Dia berfirman seraya menceritakan orang-orang kafir yang mengingkari adanya hari kebangkitan serta menganggap mustahil terjadinya hari kiamat. Wa yaquuluuna mataa Haadzal wa’du ing kuntum shaadiqiin (“Dan mereka berkata: ‘Kapankah datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar?’”) maksudnya, kapankah apa yang engkau beritahukan kepada kami itu akan terjadi, yaitu perkumpulan setelah adanya perpisahan.

Qul innamaal ‘ilmu ‘indallaaHi (“Katakanlah: ‘Sesungguhnya ilmu hanya pada sisi Allah.’”) maksudnya tidak ada yang mengetahui waktu terjadinya hari kiamat itu dengan pasti kecuali hanya Allah swt. Hanya saja, Dia memerintahkanku untuk memberitahu kalian bahwa hal tersebut pasti ada dan akan terjadi, tidak mungkin tidak, oleh karena itu berhati-hatilah. Wa innamaa ana nadziirum mubiin (“Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.”) maksudnya untuk menyampaikan, dan itu pun sudah aku sampaikan kepada kalian.

Allah Ta’ala berfirman: falammaa ra-auHu zulfatan sii-at wujuuHulladziina kafaruu (“Ketika mereka melihat adzab [pada hari kiamat] sudah dekat, maka orang-orang kafir itu menjadi muram.”) maksudnya setelah hari kiamat itu tiba dan orang-orang kafir menyaksikannya serta melihat bahwa hal tersebut sudah demikian dekatnya, karena setiap yang akan datang itu pasti datang meski waktunya masih cukup lama. Dan setelah apa yang mereka dustakan itu benar-benar terjadi, maka merekapun menjadi muram, karena mereka mengetahui apa yang akan mereka alami di sana berupa keburukan dan penderitaan. Maksudnya, semuanyaitu mengelilingi mereka. Dan mereka juga didatangi sesuatu atas perintah Allah yang tidak pernah terlintas sama sekali di dalam benak mereka. Oleh karena itu, dikatakan kepada mereka dengan nada celaan dan cacian: Haadzal ladzii kuntum biHii tadda’uun (“Inilah [adzab] yang dahulu kamu selalu meminta-mintanya.”) yakni kalian minta disegerakan.

tulisan arab alquran surat al mulk ayat 28-30“28. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersama dengan aku atau memberi rahmat kepada Kami, (maka Kami akan masuk syurga), tetapi siapakah yang dapat melindungi orang-orang yang kafir dari siksa yang pedih?” 29. Katakanlah: “Dia-lah Allah yang Maha Penyayang Kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah Kami bertawakkal. kelak kamu akan mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata”. 30. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; Maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?”. (al-Mulk: 28-30)

Allah Ta’ala berfirman: Qul (“Katakanlah”) hai Muhammad, kepada orang-orang yang menyekutukan Allah dan yang mengingkari nikmat-nikmat-Nya tersebut: ara-aitum in aHlakaniyallaaHu wa mam ma’iya au rahimanaa famay yujiirul kaafiriina min ‘adzaabin aliim (“Terangkanlah kepadaku jika Allah mematikanku dan orang-orang yang bersama denganku atau memberi rahmat kepada kami, tetapi siapakah yang dapat melindungi orang-orang kafir dari siksa yang pedih?”) maksudnya, selamatkanlah diri kalian karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari adzab Allah kecuali taubat dan inabah serta kembali kepada agama-Nya. dan ditimpakan adzab dan siksaan kepada kami seperti yang kalian harapkan, sama sekali tidak bermanfaat bagi kalian. Sama saja, baik Allah mengadzab kami atau mengasihi kami, maka sesungguhnya tidak ada tempat berlindung bagi kalian dari siksa dan adzab-Nya yang pedih yang pasti akan menimpa kalian.

Qul Huwar rahmaanu aamannaa biHii wa ‘alaiHi tawakkalnaa (“Katakanlah: ‘Dia lah Allah Yang Mahapemurah, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya lah kami bertawakkal.”) maksudnya, kami beriman kepada Rabb seru sekalian alam, Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang. Dan kepada-Nya kami bertawakkal dalam segala urusan kami. Oleh karena itu, Dia berfirman: fasata’lamuuna man Huwa fii dlalaalim mubiin (“Kelak kamu akan mengatahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata.”) maksudnya, antara kami dan kalian. Dan bagi siapakah kemenangan itu akan diberikan di dunia dan di akhirat?

Selanjutnya Allah berfirman untuk memperlihatkan kasih sayang kepada makhluk-Nya: Qul ara-aitum in ashbahamaa-ukum ghauran (“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku jika sumber airmu menjadi kering.’”) yakni, mengalir di atas bumi ke bawah yang tidak dapat diperoleh melalui kapak-kapak yang tajam dan tidak juga oleh pembantu-pembantu yang tangguh. Kata al-ghaa-ir [kering] itu kebalikan dari kata an-naabi [sumber air]. Oleh karena itu, Dia berfirman: famay ya’tiikum bimaa-im ma’iin (“Maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?”) maksudnya yang memancarkan lagi mengalir di permukaan bumi. Dengan kata lain, tidak ada yang sanggup melakukan hal tersebut kecuali Allah swtl. Dengan demikian, di antara karunia dan kemurahan-Nya adalah memancarkan dan mengalirkan air bagi kalian di seluruh pelosok bumi sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh makhluk, sedikit maupun banyak. Karenanya, segala puji dan sanjungan hanya milik Allah.

Sekian.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mulk (4)

23 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mulk (Kerajaan)
Surah Makkiyyah; surah ke 67: 30 ayat

Wa laqad kadzdzaballadziina min qabliHim (“dan sesungguhnya orang-orang sebelum mereka telah mendustakan [Rasul-rasul-Nya].”) yakni umat-umat terdahulu. Fakaifa kaana nakiir (“Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.”) yakni bagaimana pengingkaran-Ku terhadap mereka serta hukuman-Ku terhadap mereka, yaitu sangat dahsyat, sakit, lagi sangat pedih.

A walam yarau ilath thairi fauqaHum shaaffaatiw wa yaqbidl-n (“Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka?”) maksudnya terkadang burung-burung itu mengepakkan sayapnya di udara dan pada kesempatan lain ia mengatupkan dan mengembangkan sayapnya. Maa yumsikuHunna (“tidak ada yang menahannya.”) yakni di udara, ilarrahmaanu (“Selain [Rabb] Yang Mahapemurah.”) yakni dengan rahmat dan kelembutan-Nya yang telah Dia limpahkan kepada burung-burung tersebut. innaHuu bikulli syai-im bashiir (“Sesungguhnya Dia Mahamelihat segala sesuatu.”) yakni yang memberikan kemashlahatan bagi semua makhluk-Nya.

tulisan arab alquran surat al mulk ayat 20-27“20. atau siapakah Dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada Allah yang Maha Pemurah? orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu. 21. atau siapakah Dia yang memberi kamu rezki jika Allah menahan rezki-Nya? sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri? 22. Maka Apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus? 23. Katakanlah: “Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (tetapi) Amat sedikit kamu bersyukur. 24. Katakanlah: “Dia-lah yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepada-Nya-lah kamu kelak dikumpulkan”. 25. dan mereka berkata: “Kapankah datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar?” 26. Katakanlah: “Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. dan Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”. (al-Mulk: 20-26)

Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang musyrik yang menyembah sembahan lain bersama-Nya, dengan tujuan mencari pertolongan dan rizky dari sembahan-sembahan mereka itu, seraya mengingkari apa yang mereka yakini sekaligus memberitahu mereka bahwa apa yang mereka angankan itu tidak akan tercapai. Oleh karena itu Allah berfirman: amman Haadzalladzii Huwa jundul lakum yanshurukum min duunir rahmaani (“Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain Allah Yang Mahapemurah?”) maksudnya, kalian tidak mempunyai pelindung dan penolong selain Dia. oleh karena itu, Dia berfirman: inil kaafiruuna illaa fii ghuruur (“Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam [keadaan] tertipu.”)

Amman Haadzaalladzii yarzuqukum in amsaka rizqaHu (“Atau siapakah dia yang memberimu rizky jika Allah menahan rizky-Nya?”) maksudnya, siapakah dia yang akan memberi rizky kepada kalian jika Allah telah memutuskan rizky bagi kalian? Dengan kata lain, tidak ada seorang pun yang dapat memberi atau menolak, mencipta, memberi rizky, dan menolong kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Artinya mereka mengetahui hal itu, namun demikian mereka tetap menyembah selain-Nya. oleh karena itu Dia berfirman: bal lajjuu (“Tetapi, mereka terus menerus”) yakni terus menerus dalam kesewenangan, kesombongan, dan kesesatan mereka, fii ‘utuwwiw wa nufuur (“Dalam kesombongan dan menjauhkan diri.”) yakni, dalam penentangan dan kesombongan serta pelarian dengan membelakangi kebenaran, tidak mau mendengar dan mengikutinya.

Afa may yamsyii mukibban ‘alaa wajHiHii aHdaa am may yamsyii ‘alaa shiraathim mustaqiim (“Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?”) yang demikian itu merupakan perumpamaan yang diberikan Allah antara orang mukmin dan orang kafir. Dimana orang kafir dengan apa yang digelutinya seperti orang yang berjalan di atas wajahnya, yakni berjalan miring dan tidak normal. Dengan kata lain, dia tidak mengetahui kemana dia berjalan dan tidak juga mengetahui bagaimana dia harus pergi, bahkan mereka linglung, bingung dan tersesat. Apakah orang seperti itu lebih mendapat petunjuk?

Ammay yamsyii sawiyyan (“Ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus.”) yakni tegak lurus, ‘alaa shiraatim mustaqiim (“Di atas jalan yang lurus”) yakni di atas jalan yang jelas lagi terang. Dia sendiri dalam keadaan tegak lurus, sedang jalannya pun lurus. Demikianlah perumpamaan mereka di dunia. Demikian pula kelak di akhirat, dimana orang Mukmin akan digiring dengan berjalan normal di atas jalan yang lurus menuju surga yang luas. Sedangkan orang kafir, maka sesungguhnya dia akan digiring dengan berjalan di atas wajahnya menuju neraka jahanam.
Uhsyurulladziina dhalamuu wa azwaajaHum wa maa kaanuu ya’buduuna min duunillaaHi faHduuHum ilaa shiraathil jahiim (“Kumpulkanlah orang-orang dhalim bersama teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.”) (ash-Shaaffaat: 22-23)

Kata azwaajuHum berarti yang serupa dengan mereka. Imam Ahmad meriwayatkan dari Nafi’, dia berkata: “Aku pernah mendengar Anas bin Malik berkata bahwa pernah ditanyakan kepada Rasulullah saw.: ‘Bagaimana orang-orang itu digiring dengan berjalan di atas wajah mereka?’ Maka beliau menjawab: ‘Bukankah Rabb yang telah menjadikan mereka berjalan dengan kaki-kaki mereka mampu untuk menjadikan mereka berjalan di atas wajah mereka?’” hadits ini diriwayatkan di dalam kitab ash-Shahihain.

Firman Allah: qul Huwalladzii ansya-akum (“Katakanlah, ‘Dia lah yang menciptakanmu.’”) maksudnya Dia telah mengawali penciptaan kalian setelah sebelumnya kalian sama sekali bukan sesuatu yang disebut.
Wa ja’ala lakumus sam’a wal abshaara wal af-idata (“Dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati.”) yakni akal dan fikiran. Qaliilam maa tasykuruun (“Tetapi, sedikit sekali kamu bersyukur.”) yakni hanya sedikit sekali dari kalian yang menggunakan kekuatan tersebut yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada kalian untuk berbuat ketaatan dan menjalankan perintah-perintah-Nya serta meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Bersambung ke bagian 5

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mulk (3)

23 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mulk (Kerajaan)
Surah Makkiyyah; surah ke 67: 30 ayat

tulisan arab alquran surat al mulk ayat 12-15“12. Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. 13. dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui segala isi hati. 14. Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? 15. Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (al-Mulk: 12-15)

Allah Ta’ala berfirman seraya menceritakan tentang orang-orang yang takut akan maqam [kedudukan] Rabb-nya, yang ada antara dirinya dengan-Nya, jika dia tengah menyendiri dari orang-orang lalu dia menahan diri dari perbuatan maksiat dan melaksanakan berbagai ketaatan, di tempat dimana tidak diketahui oleh seorang pun kecuali hanya Allah Ta’ala semata. Maka dia akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar, yakni dosa-dosanya diampuni dan diberi pahala yang banyak. Sebagaimana yang telah ditegaskan di dalam kitab ash-Shahihain: “Ada tujuh golongan yang akan senantiasa dinaungi oleh Allah Yang Mahatinggi di bawah naungan ‘Arsy-Nya, pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.”

Kemudian dari mereka, beliau menyebutkan salah seorang yang diajak [berbuat maksiat] oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia mengatakan: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah.” Beliau juga menyebutkan seseorang yang menyedekahkan sesuatu secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya.

Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman seraya mengingatkan bahwa Dia mengetahui yang tersembunyi dan yang dirahasiakan: wa asirruu qaulakum awijHaruu biH. innaHuu ‘aliimum bidzatish shuduur (“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Mahamengetahui Dia Mahamengetahui segala isi hati.”) yakni terhadap apa yang terbersit di dalam hati. Alaa ya’lamu man khalaqa (“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui?”) maksudnya apakah sang Khaliq tidak mengetahui? Ada juga yang mengatakan: “Artinya, apakah Allah tidak mengetahui makhluk-Nya?” tetapi pendapat yang pertama lebih tepat, berdasarkan pada firman-Nya: wa Huwal lathiiful khabiir (“Dan Dia Mahahalus lagi Mahamengetahui.”)

Kemudian Dia menyebutkan nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada makhluk-Nya dengan menyediakan bumi bagi mereka dan membentangkannya untuk mereka, dimana Dia menyebutnya sebagai tempat menetap yang tenang, tidak miring dan tidak juga goyang, karena Dia telah menciptakan gunung-gunung padanya. Dan Dia alirkan air di dalamnya dari mata air. Dia bentangkan jalan-jalan serta menyediakan pula di dalamnya berbagai manfaat, tempat bercocok tanam dan buah-buahan.

Dia berfirman: Huwalladzii ja’alalakumul ardla dzaluulan famsyuu fii manaakibiHaa (“Dia lah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya.”) maksudnya lakukanlah perjalanan ke mana saja kalian kehendaki dari seluruh belahannya serta bertebaranlah kalian di segala penjurunya untuk menjalankan berbagai macam usaha dan perdagangan. Dan ketahuilah bahwa usaha kalian tidak akan membawa manfaat bagi kalian sama sekali kecuali jika Allah memudahkannya untuk kalian. Oleh karena itu Allah berfirman: wa kuluu mir rizkiHii (“dan makanlah sebagian dari rizky-Nya”) dengan demikian, usaha yang merupakan sarana sama sekali tidak bertentangan dengan tawakkal. Wa ilaiHin nusyuur (“Dan hanya kepada-Nya lah kamu [kembali setelah] dibangkitkan.”) maksudnya, tempat kembali pada hari kiamat kelak. Ibnu ‘Abbas, Mujahid, as-Suddi, dan Qatadah mengatakan: “Kata manaakibiHaa berarti ujung, belahan, dan penjurunya.” Sedangkan Ibnu ‘Abbas dan Qatadah mengemukakan: “ManaakibiHaa berarti gunung-gunung.”

tulisan arab alquran surat al mulk ayat 16-19“16. Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, 17. atau Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? 18. dan Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka Alangkah hebatnya kemurkaan-Ku. 19. dan Apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? tidak ada yang menahannya (di udara) selain yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha melihat segala sesuatu.” (al-Mulk: 16-19)

Yang demikian ini juga merupakan bagian dari kelembutan sekaligus rahmat-Nya bagi semua makhluk-Nya, dimana Dia kuasa untuk mengadzab mereka karena kekufuran sebagian mereka kepada-Nya serta peribadahan mereka kepada selain-Nya. Meskipun demikian, Dia tetap bersabar, memberi maaf, serta memberi tangguh dan tidak menyegerakan siksaan, sebagaimana yang Dia firmankan yang artinya: “Dan kalau Sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; Maka apabila datang ajal mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (Fathir: 45)

Dan disini Dia berfirman: a amintum man fis samaa-i ay yakhsifa bikumul ardla fa idzaa Hiya tamuur (“Adakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia menjungkirbalikkan bumi bersamamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang.”) yakni pergi dan datang serta berguncang.

Am amintum man fis samaa-i ay yursila ‘alaikum haashiban (“Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu.”) yakni, angin yang membawa taburan batu yang akan memecahkan kalian. Demikianlah Dia mengancam mereka disini, melalui firman-Nya: fasata’lamuuna kaifa nadziir (“Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana [akibat kedustaan] peringatan-Ku.”) maksudnya, bagaimana peringatan-Ku itu dan akibat yang akan diterima orang yang melanggar serta mendustakannya.

Bersambung ke bagian 4

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mulk (2)

23 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mulk (Kerajaan)
Surah Makkiyyah; surah ke 67: 30 ayat

Tsummarji’il bashara karrataini (“Kemudian pandanglah sekali lagi”) Qatadah mengatakan: “Dua kali.” Yanqalib ilaikal basharu khaasyi’an (“Niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan suatu cacat.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Hina.” Muhahid dan Qatadah mengatakan: “Rendah.” Wa Huwa hasiir (“Dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni sedang dia dalam keadaan tidak berdaya.” Mujahid, Qatadah dan as-Suddi mengatakan: “Al-hasiir berarti orang yang berada dalam keadaan kelelahan.” Ayat di atas berarti bahwa jika engkau melihat secara berulang-ulang sebanyak mungkin, niscaya pandanganmu itu akan kembali. khaasi-an; yakni dengan tidak menemukan cacat atau kerusakan. Wa Huwa hasiir; yakni tidak berdaya. Tidak lagi bertenaga karena terlalu banyak mengulang dan dia tidak melihat adanya kekurangan. Setelah Allah menafikan kekurangan dari ciptaan-Nya, Dia menjelaskan kesempurnaannya dan juga hiasaannya. Dimana Dia berfirman: wa laqad zayyannas samaa-ad dun-yaa bimashaabiiha (“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan pelita-pelita.”) yakni bintang-bintang yang diletakkan di sana, baik yang beredar maupun yang tetap.

Wa ja’alnaaHaa rujuumal lisy-syayaathiini (“Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan.”) dlamir di dalam firman-Nya ini kembali kepada jenis al-mashaabiih (bintang-bintang), bukan pada satu bintang itu sendiri, karena ia tidak dilempar dengan bintang yang ada di langit, tetapi dengan bola-bola api yang ada di bawahnya. Dan terkadang juga berasal dari pecahan bintang-bintang tersebut. wallaaHu a’lam.

Wa a’tadnaa laHum ‘adzaabas sa’iir (“Dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.”) maksudnya, Kami jadikan kehinaan di dunia ini untuk syaitan-syaitan tersebut dan telah Kami siapkan pula bagi mereka adzab yang menyala-nyala di akhirat kelak. Qatadah mengatakan: “Bintang-bintang ini diciptakan untuk tiga fungsi; ia diciptakan oleh Allah sebagai hiasan langit, untuk alat melempar syaitan, dan sebagai tanda yang dapat dijadikan sebagai petunjuk. Oleh karena itu, barangsiapa menafsirkan selain dari itu, berarti dia telah bicara dengan pendapatnya sendiri dan ia telah salah, menyia-nyiakan baginya, dan membebani diri dengan apa yang tidak ia ketahui.” Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim.

tulisan arab alquran surat al mulk ayat 6-11“6. dan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, memperoleh azab Jahannam. dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali. 7. apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak, 8. Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” 9. mereka menjawab: “Benar ada”, Sesungguhnya telah datang kepada Kami seorang pemberi peringatan, Maka Kami mendustakan(nya) dan Kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar”. 10. dan mereka berkata: “Sekiranya Kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah Kami Termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. 11. mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (al-Mulk: 6-11)

Allah berfirman: wa (“dan”) Kami siapkan: lilladziina kafaruu birabbiHim ‘adzaabu jaHannama wa bi’sal mashiir (“Orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, memperoleh adzab jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”) yakni tempat kembali yang paling jelek. Idzaa ulquu fiiHaa sami’uulaHaa syaHiiqan (“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan.”) Ibnu Jarir mengatakan: “Yakni, suara jeritan.” Wa Hiya tafuur (“sedang neraka itu menggelegak.”) ats-Tsauri mengatakan: “Neraka itu menggodok mereka, seperti sedikit biji-bijian dimasak di air yang sangat banyak.”

Takadu tamayyazu minal ghaiidh (“Hampir-hampir [neraka] itu terpecah-pecah lantaran marah.”) yakni, hampir saja sebagian terpisah dari sebagian lainnya karena kemarahannya yang memuncak kepada mereka dan kekesalannya kepada mereka.
Kullamaa ulqiya fiiHaa faujun sa-alaHum khazanatuHaa alam ya’tikum nadziir. Qaaluu balaa qad jaa-anaa nadziirun fakadzdzabnaa wa qulnaa maa nazzalallaaHu min syai-in in antum illaa fii dlalaalin kabiir (“Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” 9. mereka menjawab: “Benar ada”, Sesungguhnya telah datang kepada Kami seorang pemberi peringatan, Maka Kami mendustakan(nya) dan Kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.”)

Allah Ta’ala menyebutkan keadilan-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya dan bahwasannya Dia tidak akan mengadzab seorang pun melainkan setelah disampaikan hujjah kepadanya serta dikirim utusan kepadanya. Dan demikianlah mereka melemparkan celaan kepada diri mereka sendiri dan menyesal pada hari di mana penyesalan tidak bermanfaat bagi mereka. Lalu mereka berkata: lau kunnaa ya’lamu au na’qilu maa kunnaa fii ash-haabis sa’iir (“Sekiranya Kami mendengarkan atau memikirkan [peringatan itu] niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.”) maksudnya seandainya kami memiliki akal yang dapat kami manfaatkan atau mendengar kebenaran yang diturunkan oleh Allah, niscaya kami tidak akan pernah kafir kepada-Nya dan melakukan tipu daya terhadap-Nya, tetapi kami tidak mempunyai pengertian yang dapat kami pergunakan untuk memahami apa yang dibawa oleh para Rasul. Dan Kami juga tidak memiliki akal fikiran yang dapat membimbing kami untuk mengikuti mereka.

Allah Ta’ala berfirman: fa’tarafuu bidzambiHim fasuhqal li ash-haabis sa’iir (“Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.”)

Bersambung ke bagian 3

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mulk (1)

23 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mulk (Kerajaan)
Surah Makkiyyah; surah ke 67: 30 ayat

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnnya ada sebuah surah di dalam al-Qur’an terdiri dari tiga puluh ayat yang memberi syafaat kepada pembacanya sehingga diberikan ampunan kepadanya: Tabaarakal ladzii biyadiHil mulku.”
Diriwayatkan oleh empat penulis kitab as-Sunan dari hadits Syu’bah. At-Tirmidzi mengatakan: “Ini adalah hadits hasan.” Dan diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi melalui jalan Laits bin Abi Sulaiman dari Abuz zubair, dari Jabir bahwa Rasulullah saw. tidak tidur sampai membaca: alif laam mim tanziil; dan tabaarakalladzii biyadiHil mulku.”

Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Dan aku benar-benar ingin agar surah itu ada di hati setiap orang dari umatku.” Yaitu surah Tabaarakal ladzii biyadiHil mulku. Ini adalah hadits gharib, dan Ibrahim sendiri adalah seorang yang dlaif [lemah]. Hal yang serupa juga telah disampaikan sebelumnya di dalam surah Yaasiin. Hadits ini juga diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid di dalam kitab Musnadnya dari Ibnu ‘Abbas, dimana dia berkata kepada seseorang: “Maukah engkau aku beritahu sebuah hadits yang dengannya engkau akan bergembira?” “Mau,” jawab orang itu. Dia berkata: “Bacalah: Tabaarakal ladzii biyadiHil mulku. Dan ajarkanlah kepada keluargamu serta seluruh anak-anakmu, juga anak-anak muda disekitar rumahmu dan juga tetangga-tetanggamu, karena ia bisa menyelamatkan dan menjadikan pembela yang akan memberikan pembelaan pada hari kiamat di hadapan Rabbnya bagi pembacanya dan engkau meminta kepada-Nya agar pembacanya itu diselamatkan dari adzab neraka. dan dengannya pula pembacanya akan selamat dari adzab kubur.” Rasulullah saw. telah bersabda: “Dan aku benar-benar ingin agar surah itu ada dihati setiap orang dari umatku.”

tulisan arab alquran surat al mulk ayat 1-5bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut Nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang”)
“1. Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, 2. yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, 3. yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang? 4. kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam Keadaan payah. 5. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (al-Mulk: 1-5)

Allah Ta’ala memuji diri-Nya yang mulia dan memberitahukan bahwa kekuasaan itu hanya berada di tangan-Nya. Artinya, Dia-lah Pengendali satu-satunya terhadap semua makhluk sesuai dengan kehendak-Nya. tidak ada yang bisa melawan kehendak-Nya dan hukum-Nya. Dan Dia tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang Dia kerjakan, karena keperkasaan, kebijaksanaan, dan keadilan-Nya. oleh karena itu, Allah berfirman: wa Huwa ‘alaa kulli syai-ing qadiir (“Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”)

Firman Allah: alladzii khalaqal mauta wal hayaata (“Yang menjadikan mati dan hidup.”) ayat ini dijadikan dalil bagi orang-orang yang berpendapat bahwa kematian adalah sesuatu yang wujud karena ia diciptakan [makhluk]. Sedangkan makna ayat itu sendiri bahwa Allah telah mengadakan makhluk ini dan ketiadaan untuk menguji mereka, yakni untuk menguji siapakah di antara mereka yang baik amalnya. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah yang artinya: “Mengapa engkau kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkanmu.” (al-Baqarah: 28) dengan demikian, keadaan pertama, yaitu ketiadaan sebagai matu [kematian]. Sedangkan penciptaan disebut sebagai hayaat [kehidupan]. Oleh karena itu Allah berfirman yang artinya: “Kemudian Dia mematikanmu dan setelah itu menghidupkanmu kembali.” (al-Baqarah: 28).

Firman Allah: liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalan (“supaya dia mengujimu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.”) yakni yang paling baik amalnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad bin Ajlan. Dan Allah tidak mengatakan: “Yang paling banyak amalnya.”

Wa Huwal ‘aziizul ghafuur (“Dan Dia Mahaperkasa lagi Mahapengampun.”) yakni Dia Mahaperkasa lagi Mahaagung, Mahamenolak, lagi Mahamenghindari. Meskipun demikian, Dia Mahapengampun bagi orang-orang yang bertaubat dan kembali kepada-Nya setelah sebelumnya bermaksiat dan mendurhakai perintah-Nya. Meskipun Dia Mahatinggi lagi Mahamulia, namun demikian Dia tetap mau memberikan ampunan, kasih sayang serta memberikan maaf.

Alladzii khalaqa sab’a samaawaatin thibaaqan (“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.”) yakni tingkat demi tingkat. Apakah lapisan-lapisan itu bersambungan, dengan pengertian, apakah sebagian lapisan langit berada di atas sebagian yang lainnya atau masing-masing terpisah yang di antara lapisan-lapisannya ada di ruang hampa udara? Mengenai hal ini terdapat dua pendapat, dan yang paling benar di antara keduanya adalah pendapat kedua, sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh hadits Isra’ dan lain-lain.

Maa taraa fii khalqir rahmaani min tafaawut (“Kamu sekali-sekali tidak melihat pada ciptaan Rabb yang Mahapemurah sesuatu yang tidak seimbang.”) maksudnya, bahkan semuanya saling bersesuaian dan seimbang. Tidak ada pertentangan, benturan, ketidakcocokan, kekurangan, aib, dan kerusakan.

Oleh karena itu, Dia berfirman: farji’il bashara Hal taraa min futhuur (“Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”) yakni lihatlah ke langit dan telitilah, apakah terdapat cacat, kekurangan, kerusakan, atau ketidakseimbangan padanya? Ibnu ‘Abbas, Mujahid, adh-Dhahhak, ats-Tsauri, dan lain-lain mengenai firman Allah: farji’il bashara Hal taraa min futhuur (“Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”) yakni pecah. As-Suddi mengatakan: Hal taraa min futhuur (“Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang.”) yakni kerusakan.” Ibnu ‘Abbas mengatakan dalam sebuah riwayat: “Min futhuur, yakni kelemahan.”

Bersambung ke bagian 2