Tag Archives: al mursalat

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mursalaat (3)

5 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mursalaat (Malaikat-Malaikat yang Diutus)
Surah Makkiyyah; Surah ke 77: 50 ayat

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: Hadzaa yaumu laa yanthiquuna (“Ini adalah hari yang mereka tidak dapat berbicara.”) yakni tidak dapat berkata-kata.
Wa laa yu’dzanu laHum faya’tadziruuna (“Dan tidak diizinkan kepada mereka minta udzur sehingga mereka [dapat] minta udzur.”) maksudnya mereka tidak mampu berbicara dan tidak pula minta izin kepada mereka melakukan hal tersebut untuk memberikan alas an, tetapi hujjah [dalil] telah ditegaskan atas mereka dan telah terbukti ungkapan atas mereka dari kedhaliman yang mereka buat, sedang mereka tidak dapat berbicara. Persidangan hari kiamat itu terdiri dari beberapa keadaan, dan Allah terkadang mengabarkan keadaan yang satu dan pada kesempatan lain menceritakan keadaan lainnya untuk menunjukkan kedahsyatan berbagai peristiwa mengerikan dan juga goncangan pada hari itu. Oleh karena itu, setiap kali setelah memberikan uraian terhadap ungkapan tersebut, Dia pun berfirman: Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Kecelakaan yang besar-lah pada hari itu itu bagi orang-orang yang mendustakan.”)

Dan firman Allah: Haadzaa yaumul fashli jama’naakum wal awwaliina (“Ini adalah hari keputusan. Kami mengumpulkan kamu dan orang-orang terdahulu.”) yakni dengan kekuasaan-Nya, Dia mengumpulkan mereka dalam satu pelataran, yang mereka bisa didengar oleh penyeru dan dapat pula dijangkau oleh pandangan.

Firman Allah: fa inkaana lakum kaidun fakiiduuni (“Jika kamu mempunyai tipu daya, maka lakukanlah tipu dayamu itu terhadap-Ku.”) ini merupakan ancaman keras sekaligus intimidasi yang tegas. Dengan kata lain, jika kalian mampu untuk menyelamatkan diri dari genggaman-Ku dan lepas pula dari hokum-Ku maka lakukanlah, karena sesungguhnya kalian tidak akan pernah mampu melakukan hal tersebut.

Dalam sebuah hadits disebutkan: “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan pernah sampai pada manfaat-Ku sehingga kalian bisa member manfaat kepada-Ku. Dan tidak akan pernah juga mencapai mudlarat-Ku sehingga kalian bisa member mudlarat kepada-Ku.”

tulisan arab alquran surat al mursalaat ayat 41-50“41. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air. 42. dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini. 43. (Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan”. 44. Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 45. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 46. (Dikatakan kepada orang-orang kafir): “Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek; Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa”. 47. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 48. dan apabila dikatakan kepada mereka: “Rukuklah, niscaya mereka tidak mau ruku’. 49. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 50. Maka kepada Perkataan Apakah sesudah Al Quran ini mereka akan beriman?” (al-Mursalaat: 41-50)

Allah Ta’ala berfirman seraya mengabarkan tentang hamba-hamba-Nya yang bertakwa, yang bersungguh-sungguh beribadah kepada-Nya dengan menunaikan semua kewajiban dan meninggalkan semua larangan. Dan pada hari kiamat kelak, mereka berada di surge dan mata air. Dengan kata lain, yang jelas bertolak belakang dengan keadaan orang-orang yang sengsara, mereka berada di bawah naungan asap hitam nan busuk.

Firman Allah Ta’ala: wa fawaakiHa mimmaa yasytaHuuna (“Dan buah-buahan yang mereka inginkan.”) yaitu dari seluruh macam buah-buahan, apa pun yang mereka inginkan, pasti mereka dapatkan. Kuluu wasyrabuu Hanii-am bimaa kuntum ta’lamuuna (“Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan.”) yakni, hal tersebut dikatakan kepada mereka sebagai bentuk kebaikan kepada mereka.

Kemudian Allah berfirman seraya menyampaikan berita yang bersambung: innaa kadzaalika najzil muhsiniina (“Sesungguhnya demikianlah Kami member balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”) maksudnya inilah pahala yang Kami berikan kepada sebaik-baik amal. Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Kecelakaan yang besar-lah pada hari itu itu bagi orang-orang yang mendustakan.”)

Firman Allah: kuluu wa tamatta-‘uu qaliilan innakum mujrimuuna (“Makan dan bersenang-senanglah kamu dalam waktu yang pendek; sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa.”) Khithab ini ditujukan kepada orang-orang yang mendustakan hari kiamat. Dan perintah yang diberikan kepada mereka itu merupakan ancaman sekaligus intimidasi. Dimana Allah Ta’ala berfirman: kuluu wa tamatta’uu qaliilan (“Makan dan bersenang-senanglah kamu dalam waktu yang pendek.”) yakni dalam waktu yang tidak lama [sebentar]. Innakum mujrimuun (“Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa.”) kemudian kalian akan diseret ke neraka jahanam yang telah disebutkan sebelumnya. Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Kecelakaan yang besar-lah pada hari itu itu bagi orang-orang yang mendustakan.”)

Firman Allah: wa idzaa qiila laHumur ka-‘uu laa yarka-‘uuna (“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Rukuklah niscaya mereka tidak mau ruku’.”) maksudnya, jika orang-orang kafir bodoh itu diperintahkan untuk mengikuti orang-orang yang mengerjakan shalat dengan berjamaah, maka mereka menolak hal tersebut dan bahkan menyombongkan diri atas hal itu. Oleh karena itu, Dia berfirman: Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Kecelakaan yang besar-lah pada hari itu itu bagi orang-orang yang mendustakan.”)

setelah itu Allah berfirman: fabi-ayyi hadiitsim ba’daHuu yu’minuuna (“Maka kepada perkataan apakah selain al-Qur’an ini mereka akan beriman?”) maksudnya, jika mereka tidak juga beriman dengan al-Qur’an ini, lalu kepada perkataan siapa [lagi] mereka akan beriman.
Selesai.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mursalaat (2)

5 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mursalaat (Malaikat-Malaikat yang Diutus)
Surah Makkiyyah; Surah ke 77: 50 ayat

tulisan arab alquran surat al mursalaat ayat 16-28“16. Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang dahulu? 17. lalu Kami iringkan (azab Kami terhadap) mereka dengan (mengazab) orang-orang yang datang kemudian. 18. Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa. 19. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 20. Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? 21. kemudian Kami letakkan Dia dalam tempat yang kokoh (rahim), 22. sampai waktu yang ditentukan, 23. lalu Kami tentukan (bentuknya), Maka Kami-lah Sebaik-baik yang menentukan. 24. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 25. Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul, 26. orang-orang hidup dan orang-orang mati? 27. dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air tawar? 28. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (al-Mursalaat: 16-28)

Allah Ta’ala berfirman: alam nuHlikil awwaliina (“Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang dahulu?”) yakni, dari kalangan orang-orang yang mendustakan para Rasul serta menentang apa yang dibawa oleh para Rasul tersebut kepada mereka. Tsumma nutbi-‘uHumul aakhiriina (“lalu Kami iringkan [adzab Kami terhadap] mereka dengan [mengadzab] orang-orang yang datang kemudian.”) yakni, dari orang-orang yang semisal dengan mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman: Kadzaalika naf’alu bil mujrimiin. Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa. Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”) demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu Jarir.

Lalu Allah berfirman seraya melimpahkan karunia kepada makhluk-makhluk-Nya sekaligus berhujjah tentang pengembalian makhluk dengan penciptaan awal: alam nakhluqkum mim maa-im maHiin (“Bukankah Kami menciptakanmu dari air yang hina.”) yakni yang lemah lagi hina dibandingkan dengan kekuasaan Allah. Fa ja-‘alnaaHu fii qaraarim makiinin (“Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh.”) yakni Kami kumpulkan di dalam rahim, yaitu tempat menetapnya sperma laki-laki dan ovum perempuan. Dan rahim itu memang disediakan untuk menjaga ari yang dititipkan di sana.

Firman Allah: ilaa qadarim ma’luum (“Sampai waktu yang ditentukan.”) yakni sampai batas waktu tertentu, enam bulan atau Sembilan bulan. Oleh karena itu, Dia berfirman: faqadarnaa fani’mal qaadiruuna. Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Lalu Kami tentukan [bentuknya], maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”)

Kemudian firman Allah: alam naj’alil ardla kifaatan. Ahyaa-aw wa amwaatan (“Bukankah Kami yang menjadikan bumi [tempat] berkumpul orang-orang hidup dan orang-orang mati?”) Ibu ‘Abbas mengatakan: “[Maksudnya] pembungkus.” Dan Mujahid mengatakan: “Orang yang meninggal dibungkus, sehingga tidak terlihat sedikitpun darinya.” Sedangkan asy-Sya’bi mengatkan: “Yakni perut bumi bagi orang-orang yang sudah meninggal dunia di antara kalian dan bagian luarnya bagi orang-orang yang masih hidup.” Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah. Waja-‘alnaa fiiHaa rawaasiya syaamikhatin (“Dan Kami jadikan padanya gunung-gungun yang tinggi.”) yakni gunung-gunung yang ditanam di bumi agar bumi tidak goyah dan goncang. Wa asqainaakum maa-an furaatan (“Dan Kami beri minum kamu dengan air tawar.”) yakni, air tawar yang diturunkan dari langit maupun yang disumberkan dari mata air bumi. Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”) yakni, celaka bagi orang yang merenungi berbagai macam makhluk yang menunjukkan keagungan Penciptanya, tetapi setelah itu dia terus menerus dalam kedustaan dan kekufuran.

tulisan arab alquran surat al mursalaat ayat 29-40“29. (Dikatakan kepada mereka pada hari kiamat): “Pergilah kamu mendapatkan azab yang dahulunya kamu mendustakannya. 30. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang 31. yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka”. 32. Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana. 33. seolah-olah ia iringan unta yang kuning. 34. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 35. ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu),36. dan tidak diizinkan kepada mereka minta uzur sehingga mereka (dapat) minta uzur. 37. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. 38. ini adalah hari keputusan; (pada hari ini) Kami mengumpulkan kamu dan orang-orang terdahulu. 39. jika kamu mempunyai tipu daya, Maka lakukanlah tipu dayamu itu terhadap-Ku. 40. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (al-Mursalaat: 29-40)

Allah Ta’ala berfirman seraya mengabarkan tentang orang-orang kafir yang mendustakan hari kebangkitan, pemberian balasan, surge, dan neraka. Dimana pada hari kiamat kelak, akan dikatakan kepada mereka: inthaliquu ilaa maa kuntum tukadzdzibuuna. Inthaliquu ilaa dhillin dzii tsalaatsi syu-‘ab (“Pergilah kamu untuk mendapatkan adzab yang dahulunya kamu mendustakannya. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang.”) yakni jika kobaran api semakin tinggi dan naik bersamaan dengan asap, maka karena kedasyatan dan kekuatannya ia mempunyai tiga cabang. Laa dhaliiliw walaa yughnii minal laHabi (“Yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka.”) maksudnya, naungan asap yang muncul akibat kobaran api itu sendiri tidak bisa dijadikan naungan dan tidak pula bisa melindungi dari kobaran api. Artinya, asap itu tidak bisa melindungi mereka dari panasnya kobaran api.

Firman Allah: innaHaa tarmii bisyararing kal qashri (“Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana.”) yakni bunga-bunga api itu beterbangan dari kobaran api itu sebesar istana. Ibnu Mas’ud mengataka: “Seperti benteng.” Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, dan Malik dari Zaid bin Aslam dan selainnya mengatakan: “Yakni, akar pohon.” Ka annaHuu jimaalatun shufri (“Seolah-olah ia iringan unta yang kuning.”) yaitu seperti unta hitam. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, al-Hasan, Qatadah, adl-Dlahhak, dan menjadi pilihan Ibnu Jarir. Dan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair; jimaalatun shufrun; yakni tambang kapal. Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiina (“Kecelakaan yang besar-lah pada hari itu itu bagi orang-orang yang mendustakan.”)
(bersambung ke bagian 3)

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mursalaat (1)

5 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mursalaat (Malaikat-Malaikat yang Diutus)
Surah Makkiyyah; Surah ke 77: 50 ayat

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah –yaitu Ibnu Mas’ud ra. dia bekata: “Ketika kami tengah berjalan bersama Rasulullah saw. di sebuah gua di Mina, turunlah firman Allah kepada beliau; wal mursalaati. Lalu beliau membacanya sedang aku menerimanya dari mulut beliau. Dan sesungguhnya mulut beliau menjadi basah oleh bacaan tersebut. Tiba-tiba ada seekor ular melompati kami, maka Nabi saw. bersabda: “Bunuhlah ia!” lalu kami pun mengejarnya tetapi ular itu menghilang. Selanjutnya Nabi bersabda: “Ular itu dilindungi dari kejahatan kalian sebagaimana kalian dilindungi dari kejahatannya.” dan diriwayatkan oleh Muslim.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dari ibunya bahwasannya dia pernah mendengar Nabi saw. membaca: wal mursalaati ‘urfan; dalam shalat Magrib. Dan dalam riwayat Malik dari az-Zuhri, dari ‘Ubaidilah, dari Ibnu ‘Abbas bahwa Ummul Fadl pernah mendengarnya membaca: wal mursalaati ‘urfan. Kemudian dia berkata: “Wahai anakku, dengan bacaanmu tadi engkau telah mengingatkan diriku, bahwasannya surat inilah yang terakhir aku dengar dari Rasulullah saw. dimana beliau membacanya pada waktu shalat magrib.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab ash-Shahihain, melalui jalan Malik.

tulisan arab alquran surat al mursalaat ayat 1-15bismillaaHir rahmaanir rahiim.
“1. demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan, 2. dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya. 3. dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Tuhannya) dengan seluas-luasnya. 4. dan (malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang hak dan yang bathil) dengan sejelas-jelasnya, 5. dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu,6. untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan, 7. Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti terjadi.8. Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan,9. dan apabila langit telah dibelah, 10. dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu, 11. dan apabila Rasul-rasul telah ditetapkan waktu (mereka). 12. (niscaya dikatakan kepada mereka:) “Sampai hari Apakah ditangguhkan (mengazab orang-orang kafir itu)?” 13. sampai hari keputusan. 14. dan tahukah kamu Apakah hari keputusan itu?15. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (al-Mursalaat: 1-15)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Hurairah, wal mursalaati (“Demi Malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan.”) dia mengatakan: “Yaitu para Malaikat.” Demikian pula yang dikatakan oleh Abu Shalih, mengenai kalimat: al-‘Aashifaat, an-Naasyiraat, al-Faariqaat, dan al-Mulqiyaat, bahwa semuanya itu adalah malaikat. Tetapi yang jelas bahwa al-Mursalaat adalah angin, sebagaimana yang difirmankan Allah: wa arsalnar riyaaha lawaaqiha (“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan.”) (al-Hijr: 22) demikian juga dengan al-‘Aashifaat. Dikatakan ‘ashfatir riyaah, jika angin itu berhembus dengan mengeluarkan suara. Hal yang sama juga ada ada pada kata an-Naasyiraat, yaitu angin yang menyebarkan awan di ufuk langit sesuai dengan kehendak Rabb.

Firman Allah: fal faariqaati farqan, fal mulqiyaati dzikran, ‘udzran au nudzran (“Dan yang membedakan dengan sejelas-jelasnya, dan yang menyampaikan wahyu, untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan.”) yakni para malaikat. Dan tidak ada perbedaan di sini, dimana malaikat itu turun atas perintah Allah untuk menemui Rasul-Rasul-Nya guna membedakan antara yang haq dengan yang bathil, petunjuk dengan kesesatan, yang halal dan yang haram. Di dalamnya para Rasul juga menerima wahyu, baik dalam rangka memberi alasan kepada umat manusia atau memberi peringatan kepada mereka akan siksa Allah jika mereka menyalahi perintah-Nya.

Firman-Nya: innamaa tuu-‘aduuna lawaaqi’ (“Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu itu pasti terjadi.”) demikianlah yang disumpahkan dengan sumpah-sumpah tersebut. Dengan kata lain apa yang dijanjikan kepada kalian berupa hari kiamat, peniupan sangkakala, pembangkitan jasad, pengumpulan kembali orang-orang yang pertama sampai yang terakhir dalam satu tempat serta pemberian balasan kepada masing-masing pihak sesuai dengan amal perbuatannya, jika baik akan mendapatkan kebaikan. Dan jika buruk maka akan mendapatkan balasan berupa keburukan serupa, semua itu pasti terjadi, dan tidak mungkin tidak.

Kemudian Allah berfirman: fa idzan nujuumu thumisat (“Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan.”) yakni, telah hilang cahayanya.
Wa idzas samaa-u furijat (“Dan apabila langit telah dibelah.”) yakni pecah dan terbelah serta ujung-ujungnya telah digulung. Wa idzal jibaalu nusifat (“Dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu.”) yakni, dibawa menghilang sehingga tidak sedikitpun yang tersisa dan tidak pula ada bekasnya.

Firman Allah: wa idzar rusuli uqqitat (“Dan apabila Rasul-Rasul telah ditetapkan waktu.”) al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu dikumpulkan.” Ibnu Zaid mengatakan: “Yang demikian itu sama seperti firman Allah Ta’ala: yauma yajma-‘ullaaHurusula (“Pada hari dimana Allah mengumpulkan para Rasul.”) Mujahid mengatakan: “Uqqitat; yaitu ditangguhkan waktunya.”

Selanjutnya firman Allah: li ayyi yaumin ujjilat. Li yaumil fashli. Wa maa adraaka maa yaumaul fashli. Wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiin (“Sampai hari Apakah ditangguhkan (mengazab orang-orang kafir itu)? sampai hari keputusan. dan tahukah kamu Apakah hari keputusan itu? kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”) Allah Ta’ala berfirman: “Sampai kapan para Rasul itu ditangguhkan dan dikembalikan urusannya?” Allah Ta’ala berfirman: liyaumil fahsli (“sampai hari keputusan.”)

Firman Allah: wa maa adraaka maa yaumul fashli. Wailuy yaumaidzil lil mukadzdibiina (“Dan tahukah kamu apakah hari keputusan itu? Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” Yaitu kecelakaan bagi mereka dari adzab Allah pada hari-hari mendatang.
(bersambung ke bagian 2)

Asbabun Nuzul Surah Al-Mursalaat

5 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

48. dan apabila dikatakan kepada mereka: “Rukuklah, niscaya mereka tidak mau ruku’*.
(Al-Mursalaat: 48)
* Sebagian ahli tafsir mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan rukuk di sini ialah tunduk kepada perintah Allah; sebagian yang lainnya mengatakan, Maksudnya ialah shalat.
Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Mujahid bahwa Firman Allah, wa idzaa qiila lahumurka’uu laa yarka’uun (dan apabila dikatakan kepada mereka: “Rukuklah, niscaya mereka tidak mau ruku’) (Al-Mursalaat: 48) turun berkenaan dengan suku Tsaqif yang tidak mau rukuk (shalat).
Sumber: Asbabunnuzul, KHQ. Shaleh dkk
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 153 pengikut lainnya.