Tag Archives: al qashash

Mewarnai Gambar Kaligrafi Nama Surah Al-Qashash

19 Okt

Mewarnai Gambar Kaligrafi
Nama-Nama Surah Al-Qur’an Anak Muslim

mewarnai gambar tulisan surah al-qashash anak muslim

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qashash ayat 85-88 (29)

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashshash (Cerita-Cerita)
Surah Makkiyyah; surah ke 28: 88 ayat

tulisan arab alquran surat al qashash ayat 85-88“85. Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah: “Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata”. 86. dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir. 87. dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan. 88. janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain. tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (al-Qashshash: 85-88)

Allah berfirman memerintahkan Rasul-Nya untuk menyampaikan risalah dan membacakan al-Qur’an kepada manusia serta mengabarkan kepadanya, bahwa ia akan dikembalikan ke alam akhirat, yakni hari kiamat, untuk dimintai pertanggung jawabannya tentang apa yang dijagannya dari perkara kenabian.

Untuk itu Allah berfirman: innal ladzii faradla ‘alaikal qur-aana laraadduka ilaa ma’aad (“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu [melaksanakan hukum-hukum] al-Qur’an benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali.”) mewajibkan kepadamu untuk melaksanakannya atas manusia.

Laraadduka ilaa ma’aad (“benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali.”) yaitu pada hari kiamat, maka Allah akan menanyaimu tentang hal itu, sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus para Rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai pula para Rasul [Kami].” (al-A’Raaf: 6)

Al-Hakam bin Abban berkata dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, Laraadduka ilaa ma’aad (“benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali.”) ia berkata: “Pada hari kiamat.” Diriwayatkan oleh Malik dari az-Zuhri, diriwayatkan pula dari Ibnu ‘Abbas.

Selain itu, sebagaimana al-Bukhari berkata di dalam kitab at-Tafsiir dalam shahihnya, dari Ibnu ‘Abbas: Laraadduka ilaa ma’aad (“benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali.”) ia berkata: “Ke Makkah.” Demikian yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i di dalam at-Tafsiir di Sunannya dan Ibnu Jarir dari hadits Ya’la, yaitu Ibnu ‘Ubaid ath-Thanafisi.

Demikian pula yang diriwayatkan oleh al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas, Laraadduka ilaa ma’aad (“benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali.”) yaitu benar-benar akan mengembalikanmu ke Makkah sebagaimana engkau diusir darinya.

Firman Allah: Qur rabbii a’lamu man jaa-a bil Hudaa wa man Huwa fii dlalaalim mubiin (“Katakanlah, Rabbku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang [ada] dalam kesesatan yang nyata.”) yaitu katakanlah kepada orang yang menyelisihi dan mendustakanmu hai Muhammad, di antara kaummu golongan orang musyrik dan orang yang mengikuti mereka dalam kekafiran: “Rabbku telah mengetahui orang yang berjalan di atas petunjuk, baik dari golongan kalian maupun golonganku, dan kalian akan mengetahui siapa yang memiliki akibat buruk dan siapa yang mendapatkan kenikmatan serta pertolongan di dunia dan di akhirat.”

Kemudian Allah berfirman mengingatkan Nabi-Nya tentang nikmat-nikmat-Nya yang besar kepadanya dan kepada hamba-hamba-Nya dengan diutusnya dia kepada mereka.
Wa maa kunta tarjuu ay yulqaa ilaikal kitaab (“Dan kamu tidak pernah mengharap agar al-Qur’an diturunkan kepadamu.”) yaitu, apakah dulu sebelum diturunkan wahyu kepadamu engkau menyangka bahwa wahyu akan diturunkan kepadamu?
Wa lakir rahmatam mir rabbika (“Tetapi ia diturunkan karena suatu rahmat yang besar dari Rabbmu.”)(al-Qashshash: 46) yaitu wahyu itu diturunkan kepadamu dari Allah dengan rahmat-Nya untukmu dan untuk hamba-hamba-Nya dengan sebab engkau. Untuk itu Dia menganugerahimu dengan nikmat besar ini.
Falaa takuunanna dhaHiiran (“Sebab itu janganlah sekali-sekali engkau menjadi pendukung,”) yaitu penolong; lilkaafiriin (“bagi orang-orang kafir”), akan tetapi berpisahlah, jauhilah dan selisihilah mereka.

Wa laa yashuddannaka ‘an aayaatillaaHi ba’da idz unzilat ilaika (“Dan janganlah sekali-sekali mereka dapat menghalangimu dari [menyampaikan] ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu.”) yaitu janganlah engkau terpengaruh dengan perselisiham mereka terhadapmu dan penghalangan mereka dari jalanmu, jangan engkau menoleh dan peduli. Karena Allah yang meninggikan kalimatmu, Pendukung agamamu dan Penolong apa yang diutus kepadamu atas seluruh agama.

Untuk itu Dia berfirman: wad’u ilaa rabbika (“Dan serulah mereka kepada Rabbmu.”) yaitu untuk beribadah kepada Rabbmu yang Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya. wa laa takuunanna minal musyrikiin (“Dan janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan.”)

Firman-Nya: wa laa tad’u ma’allaaHi ilaaHan aakhara laa ilaaHa illaa Huwa (“Janganlah kamu sembah di samping [menyembah] Allah, ilah-ilah apapun yang lain. Tidak ada ilah [yang berhak diibadahi] melainkan Dia.”) yaitu ibadah itu tidak layak kecuali untuk-Nya dan Uluhiyyah tidak patut kecuali karena keagungan-Nya.

Firman-Nya: kullu syai-in Haalikun illaa wajHaHu (“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya.”) merupakan kabar bahwa Dia kekal selama-lama-Nya, Yang Hidup, Yang Berdiri sendiri, dimana seluruh makhluk akan mati sedangkan Dia tidak mati. Dia mengungkap Dzat dengan wajah.

Demikian pula firman-Nya disini: kullu syai-in Haalikun illaa wajHaHu (“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya.”) kecuali Dia.

Sungguh telah ada di dalam hadits shahih dari jalan Abu Salamah, bahwa Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Kalimat paling benar yang diucapkan penyair adalah perkataan Labid: ‘Ketahuilah, setiap sesuatu selain Allah adalah bathil.’”

Mujahid dan ats-Tsauri berkata tentang firman-Nya: kullu syai-in Haalikun illaa wajHaHu (“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya.”) yang dimaksud wajah di sini adalah wajah-Nya.
Hal itu diceritakan oleh al-Bukhari dalam shahihnya, sepertinya dia menetapkan pendapat tersebut. Ibnu Jarir berkata dengan mengajukan saksi pendapat tersebut dengan sebuah syair:

Aku meminta ampun kepada Allah dari satu dosa yang aku tidak dapat menghitungnya.
Rabbnya hamba, kepada-Nya lah dimohonkan wajah-Nya dan amal.

Perkataan ini tidak bertentangan dengan pendapat yang pertama. karena perkataan ini hanya kabar tentang setiap amal yang menjadi bathil, kecuali yang dikehendaki adalah wajah Allah Ta’ala berupa amal shalih yang sesuai dengan syariat. Sedangkan pendapat pertama berisi tuntunan berisi tuntunan bahwa setiap dzat akan hancur dan hilang kecuali Dzat-Nya dan Mahasuci Dia. Karena Dia adalah yang awal dan yang akhir, yang ada sebelum segala sesuatu dan tetap ada setelah segala sesuatu.

Firman-Nya: laHul hukmu (“Bagi-Nya lah segala penentuan.”) yaitu kerajaan, penataan dan tidak ada yang membangkang ketentuan-Nya. wa ilaiHi turja’uun (“Dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”) yaitu pada hari kembalinya kalian, lalu amal-amal kalian dibalas. Jika baik maka akan mendapat kebaikan. Dan jika buruk akan mendapat keburukan.
wallaaHu a’lam.

Selesai.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qashash ayat 83-84 (28)

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashshash (Cerita-Cerita)
Surah Makkiyyah; surah ke 28: 88 ayat

tulisan arab alquran surat al qashash ayat 83-84“83. negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. 84. Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, Maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, Maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” (al-Qashshash: 83-84)

Ibnu Juraij berkata: laa yuriiduuna ‘uluwwan fil ardli (“Orang-orang yang tidak ingin menyongkan diri di [muka] bumi,”) membesarkan dan membanggakan diri; wa laa fasaadan (“serta berbuat kerusakan”) yaitu berbuat maksiat.

Di dalam hadits shahih dinyatakan bahwa Nabi saw. bersabda: “Diberikan wahyu kepadaku, hendaknya kalian berwudlu’ hingga tidak ada seseorang yang menyombongkan dirinya atas orang lain dan tidak ada seorang pun yang berbuat dhalim kepada orang lain.”

Firman Allah: man jaa-a bilhasanati (“Barangsiapa yang datang dengan kebaikan,”) yaitu pada hari kiamat. Fa laHuu khairum minHaa (“maka baginya yang lebih baik daripada kebaikan itu.”) yaitu pahala Allah lebih baik daripada kebaikan hamba itu, sebagaimana Allah melipat gandakannya dengan kelipatan yang banyak dan ini merupakan maqam keutamaan.

Kemudian firman Allah: wa man jaa-a bis sayyi-ati fa laa yujzal ladziina ‘amilus sayyi-ati illaa maa kaanuu ya’maluun (“Dan barang siapa yang datang dengan kejahatan, maka tidaklah diberi balasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan seimbang dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.”)

Sebagaimana Dia berfirman dalam ayat yang lain yang artinya: “Dan barangsiapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkan muka mereka ke dalam neraka. tidaklah kamu dibalas melainkan [setimpal] dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (al-Naml: 90) dan ini adalah maqam keputusan dan keadilan.

Bersambung ke bagian 29

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qashash ayat 81-82 (27)

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashshash (Cerita-Cerita)
Surah Makkiyyah; surah ke 28: 88 ayat

tulisan arab alquran surat al qashash ayat 81-82“81. Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan Tiadalah ia Termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). 82. dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah)”. (al-Qashshash: 81-82)

Kemudian Allah melanjutkan cerita tentang dilongsorkan-Nya Qarun dan istananya ke dalam tanah. Sebagaimana hal tersebut diceritakan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari hadits az-Zuhri, dari Salim, ayahnya bercerita, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ketika terdapat seorang laki-laki yang menjulurkan pakaiannya, tiba-tiba dilongsorkan dan dia terbenam ke dalam bumi hingga hari kiamat.”

Hadits ini diriwayatkan pula dari Jarir bin Zaid bin Salim, dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. Imam Ahmad berkata, bahwa Abu Sa’id berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Ketika ada seorang laki-laki sebelum kalian keluar dengan mengenakan dua mantel hijau, dia sombong dengan pakaiannya itu, maka Allah memerintahkan bumi untuk menelannya dan dia terbenam ke dalamnya hingga hari kiamat.” (HR Ahmad dan isnadnya hasan)

Firman Allah: famaa kaana laHuu min fi-atiy yanshuruunaHuu min duunillaaHi wa maa kaana minal muntashiriin (“Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap adzab Allah, dan tidaklah ia termasuk orang-orang [yang dapat] membela dirinya.”) yaitu harta, kekayaan, pembantu dan pelayannya tidak dapat menolongnya dari Allah, serta tidak mampu menolaknya dari kemurkaan, siksaan dan penghinaan Allah. Dan dia pun tidak dapat menolong dirinya sendiri dan orang lain.

Firman Allah: wa ash-bahalladziina tamannau makaanaHuu bil amsi (“Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu,”) yaitu orang-orang yang melihat perhiasannya. qaaluu yaa laita lanaa mitsla maa uutiya qaaruunu innaHuu ladzuu hadh-dhin ‘adhiim (“Mereka berkata: ‘Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’”) (al-Qashshash: 79) ketika Qarun dibenamkan ke dalam bumi, mereka berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rizky bagi siapa yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkan-Nya.”) yaitu harta tidak menunjukkan keridlaan Allah kepada pemiliknya. Karena Allah memberi dan mencegah, menyempitkan dan meluaskan, serta menurunkan dan mengangkat seseorang.
Dia memiliki hikmah yang sempurna dan bukti yang kuat.

Lau laa am mannallaaHu ‘alainaa lakhasafa binaa (“Kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita, benar-benar Dia telah membenamkan kita [pula].”) yaitu seandainya tidak ada kelembutan dan kasih sayang Allah kepada kita, niscaya Dia telah membenamkan kita sebagaimana Dia membenamkan Qarun, karena kita ingin sekali seperti Qarun.

Wai ka-annaHuu laa yuflihul kaafiruun (“Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari.”) yang mereka maksud, Qarun itu orang kafir. Sedangkan orang-orang kafir tidak beruntung di sisi Allah di dunia maupun di akhirat.

Pendapat lain mengatakan, makna “wai ka-anna” adalah: apakah engkau tidak melihat, itulah yang dikatakan Qatadah.

Huruf “way” untuk pembagian, atau untuk mengatakan kekaguman atau perhatian. Sedangkan “ka-anna” artinya: aku menyangka atau mengira, demikian pendapat Ibnu Jarir. Sedangkan pendapat yang terkuat adalah pendapat Qatadah.

Bersambung ke bagian 28

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qashash ayat 79-80 (26)

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashshash (Cerita-Cerita)
Surah Makkiyyah; surah ke 28: 88 ayat

tulisan arab alquran surat al qashash ayat 79-80“79. Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. 80. berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar”. (al-Qashshash: 79-80)

Allah berfirman mengabarkan tentang Qarun, dimana suatu hari ia keluar kepada kaumnya dengan suatu perhiasan yang sangat besar dan keindahannya sangat menakjubkan berupa kendaraan dan pakaian yang digunakan, serta pembantunya dan para pekerjanya. Lalu di saat orang yang menghendaki dunia dan cenderung kepada kebanggaan dan perhiasan melihatnya, mereka berharap seandainya merika diberikan sesuatu yang sama dengannya, mereka berkata: yaa laita lanaa mitsla maa uutiya qaaruunu innaHuu ladzuu hadh-dhin ‘adhiim (“Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”) yaitu bagian yang melimpah di dunia.

Ketika ahli ilmu mendengar perkataan mereka, dia berkata kepada mereka: wailakun tsawaabullaaHi khairul liman aamana wa ‘amila shaalihan (“Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih.”) yaitu balasan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal shalih di negeri akhirat adalah lebih baik daripada yang kalian lihat. Sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits shahih:

“Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku persiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terlintas dalam hati. Jika kalian suka bacalah: Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.’” (as-Sajdah: 17)

Firman-Nya: wa laa yulaqqaaHaa illash shaabiruun (“Dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar.”)
As-Suddi berkata: “Surga tidak diperoleh kecuali oleh orang-orang yang sabar.” Seakan-akan hal itu dijadikan kalimat penyempurna dan perkataan seorang ahli ilmu tersebut.

Ibnu Jarir berkata: “Kalimat itu tidak terdapat kecuali pada orang-orang yang sabar dari mencintai dunia serta gemar terhadap negeri akhirat.”
Ini seakan-akan diputuskan dari pembicaraan ahli ilmu tadi serta dijadikannya sebagai firman Allah Ta’ala dan pengetahuan-Nya.

Bersambung ke bagian 27

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qashash ayat 78 (25)

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashshash (Cerita-Cerita)
Surah Makkiyyah; surah ke 28: 88 ayat

tulisan arab alquran surat al qashash ayat 78“78. Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. dan Apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (al-Qashshash: 78)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang jawaban Qarun kepada kaumnya ketika memberikan nasehat dan petunjuk kepada kebaikan, qaala innamaa uutiituHuu ‘alaa ‘ilmin ‘indii (“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta ini karena ilmu yang ada pada diriku.’”) yaitu aku tidak butuh pada apa yang kalian katakan. Allah Ta’ala telah memberikan harta ini kepadaku, karena Dia mengetahui bahwa aku berhak menerimanya dan karena Dia mencintaiku.

Maksud kalimat itu adalah, sesungguhnya aku diberi harta itu karena Allah mengetahui bahwa aku berhak menerimanya. Seperti firman Allah yang artinya: “Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru Kami. Kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata: ‘Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanya karena kepintaranku.’” (az-Zumar: 49) yaitu karena Allah mengetahui tentangku.

Diriwayatkan dari sebagian mereka [ahli tafsir], bahwasannya yang dikehendaki, innamaa uutiituHuu ‘alaa ‘ilmii (“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada pada diriku.”) yaitu dia ahli dalam ilmu kimia. Pendapat ini amat lemah. Ilmu kimia [bagian dari ilmu sihir] pada hakekatnya adalah ilmu bathil. Karena perubahan benda tidak dapat dilakukan oleh sesuatupun kecuali oleh Allah.

Dia berfirman yang artinya: “Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, Maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, Tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan Amat lemah (pulalah) yang disembah.” (al-Hajj: 73)

Diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang membuat sesuatu seperti ciptaan-Ku. Maka ciptakanlah dzarrah, biji syair.’”

Hadits ini berkenaan dengan para penggambar [pemahat] yang menyerupai ciptaan Allah dalam gambar atau pahatan. Maka bagaimana pula dengan orang yang mengaku bahwa dia dapat merubah dzat sesuatu menjadi dzat yang lainnya? Ini adalah suatu kebohongan, kemustahilan, kebodohan dan kesesatan.
Mereka hanya mampu mencelup [menyepuh] bentuk-bentuk dhahir. Padahal itu suatu kedustaan, tipu daya dan muslihat, bahwa itu benar pada hakekatnya. Sesungguhnya tidaklah demikian, serta tidak ada menurut cara syar’i, bahwa benar ada seseorang yang mampu mampu melakukan cara tersebut yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, fasik dan pendusta. Sedangkan perkara luar biasa yang diberikan Allah terhadap sebagian para wali-Nya, berupa mengubah sesuatu menjadi emas, perak atau lainnya, ini perkara yang tidak dipungkiri oleh setiap muslim dan mukmin. Akan tetapi ini bukan bagian dari proses kimia, namun hanya dari kehendak, pilihan dan perbuatan Rabb bumi dan langit. Sebagaimana diriwayatkan oleh Haiwah bin Syuraih al-Mishri, di saat orang meminta kepadanya. Akan tetapi dia tidak memiliki sesuatu untuk diberikannya dan dia melihat orang tersebut sangat membutuhkannya. Maka dia mengambil kerikil-kerikil dari tanah, menggenggamnya, kemudian diberikan kepada orang yang meminta itu, lalu tiba-tiba berubah menjadi emas merah. Hadits-hadits serta atsar-atsar banyak sekali, cukup panjang untuk dikemukakan. Yang shahih adalah makna yang pertama.

Untuk itu Allah berfirman menolak apa yang mereka sangka, bahwa Allah sangat perhatian terhadap mereka dengan diberikan-Nya harta, a walam ya’lam annallaaHa qad aHlaka min qabliHii minal quruuni man Huwa asyaddu minHu quwwataw wa aktsara jam’an (“Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasannya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta.”) yaitu dahulu telah ada orang yang lebih banyak hartanya dan hal itu bukan karen kecintaan-Nya memberikan itu semua. bahkan Allah membinasakan mereka karena kekufuran dan tidak bersyukurnya mereka.

Untuk itu Allah berfirman: wa laa yus-alu ‘an dzunuubiHimul mujrimuun (“Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu tentang dosa-dosa mereka.”) yaitu karena banyaknya dosa-dosa mereka.

Qatadah berkata: ‘ala ‘ilmi ‘indii (“karena ilmu yang ada padaku”) yaitu karena kebaikanku. Alangkan indah tafsir ayat ini yang diberikan oleh Imam ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dimana ia berkata tentang firman-Nya: innamaa uutiituHuu ‘alaa ‘ilmii (“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada pada diriku.”) seandainya bukan karena keridlaan Allah kepadaku dan pengetahuan-Nya tentang keutamaanku, niscaya Dia tidak memberikanku harta ini, dan ia membaca:

a walam ya’lam annallaaHa qad aHlaka min qabliHii minal quruuni man Huwa asyaddu minHu quwwataw wa aktsara jam’an (“Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasannya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta.”) dan ayat seterusnya.

Demikianlah orang yang sedikit ilmunya berkata jika melihat orang yang diberi keluasan oleh Allah. Seandainya dia tidak berhak, niscaya tidak diberikan.

Bersambung ke bagian 26

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qashash ayat 76-77 (24)

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashshash (Cerita-Cerita)
Surah Makkiyyah; surah ke 28: 88 ayat

tulisan arab alquran surat al qashash ayat 76-77“76. Sesungguhnya Karun adalah Termasuk kaum Musa, Maka ia Berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”. 77. dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (al-Qashshash: 76-77)

Al-a’masy berkata dari al-Minhal bin ‘Amr dari Sa’id bin Jubair, bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: inna qaaruuna kaana min qaumi muusaa (“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa.”) dia adalah anak pamannya.

Demikian pula yang dikatakan oleh Ibrahim an-Nakha’i, ‘Abdullah bin al-Harits bin Naufal, Simak bin Harb, Qatadah, Malik bin Dinar, Ibnu Juraij dan selain mereka, bahwa Qarun adalah anak dari pamannya Musa as.
Ibnu Juraij berkata: “Dia adalah Qarun bin Yash-hab bin Qahits. Dan Musa [adalah] bin ‘Imraan bin Qahits.”

Ibnu Juraij dan kebanyakan ahli ilmu berkata: “Bahwa Qarun adalah anak dari pamannya Musa.” wallaaHu a’lam.

Firman-Nya: wa aatainaaHu minal kunuuzi (“dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan.”) yaitu harta benda, maa anna mafaatihaHuu latanuu bil ‘ushbati ulil quwwati (“Yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.”) yaitu kunci-kunci itu berat sekali karena begitu banyaknya yang dibawa oleh sejumlah orang.

Al-A’masy berkata dari Khaitsamah: “Kunci-kunci perbendaharaan Qarun terbuat dari kulit. Setiap satu kunci seperti satu buah jari dan setiap satu kunci berada di sebuah kotak penyimpanannya.” Wallaahu a’lam.

Firman-Nya: idz qaala laHuu qaumuHuu laa tafrah innallaaHa laa yuhibbul farihiin (“ketika kaumnya berkata kepadanya: ‘Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.’”) yaitu orang-orang shalih dari kaumnya menasehatinya. Maka mereka berkata dengan memberikan nasehat: “Janganlah engkau terlalu bangga dengan apa yang engkau miliki.” Yang mereka maksudkan adalah, janganlah engkau sombong dengan harta yang engkau miliki.

innallaaHa laa yuhibbul farihiin (“sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.”)

ibnu ‘Abbas berkata: “Yaitu orang-orang yang sombong.” Sedangkan Mujahid berkata: “Yaitu orang-orang yang sombong dan angkuh, tidak bersyukur kepada Allah atas karunia yang diberikan-Nya kepada mereka.”

firman-Nya: wabtaghi fiimaa aataakallaaHud daaral aakhirata walaa tansa nashiibaka minad dun-yaa (“Dan carilah dari apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu [kebahagiaan] negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari [keselamatan] dunia ini.”) yaitu gunakanlah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu berupa harta yang melimpah dan kenikmatan yang panjang dalam berbuat taat kepada Rabbmu serta bertaqarrub kepada-Nya dengan berbagai amal-amal yang dapat menghasilkan pahala di dunia dan di akhirat.

Wa laa tansa nashiibaka minad dun-yaa (“janganlah kamu melupakan bagianmu dari [keselamatan] dunia ini”) yaitu apa-apa yang dibolehkan Allah di dalamnya berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan pernikahan. Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak, dirimu memiliki hak, keluargamu memiliki hak serta orang yang berziarah kepadamu pun memiliki hak. Maka berikanlah setiap sesuatu dengan haknya.

Wa ahsin kamaa ahsanallaaHu ilaikum (“Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”) yaitu berbuat baiklah kepada makhluk-Nya sebagaimana Dia telah berbuat baik kepadamu. Wa laa tabghil fasaada fil ardli (“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.”) yaitu janganlah semangatmu hanya menjadi perusak di muka bumi dan berbuat buruk kepada makhluk Allah. innallaaHa laa yuhibbul mufsidiin (“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”)

Bersambung ke bagian 25

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qashash ayat 74-75 (23)

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashshash (Cerita-Cerita)
Surah Makkiyyah; surah ke 28: 88 ayat

tulisan arab alquran surat al qashash ayat 74-75“74. dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata: “Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?” 75. dan Kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi, lalu Kami berkata “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu”, Maka tahulah mereka bahwasanya yang hak itu kepunyaan Allah dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulunya mereka ada-adakan.” (al-Qashshash: 74-75)

Ayat ini merupakan panggilan kedua yang berupa penghinaan dan ejekan bagi orang yang menyembah ilah selain Allah. Maka Allah menyeru mereka di hadapan banyak saksi: aina syurakaa-iyaladziina kuntum taz’umuun (“Dimanakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?”) yaitu di dunia, wa naza’naa min kulli ummatin syaHiidan (“Dan Kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi.”)
Mujahid berkata: “Yaitu seorang Rasul.”

Faqulnaa Haatuu burHaanakum: “Lalu Kami berkata: ‘Tunjukkanlah bukti kebenaran kalian.’” Yaitu atas kebenaran yang kalian sangkakan, bahwa Allah memiliki sekutu-sekutu, fa ‘alimuu annal haqqa lillaaHi (“Maka tahulah mereka, bahwa yang haq itu kepunyaan Allah.”) yaitu tidak ada ilah (yang hak untuk diibadahi) selain-Nya. Hingga mereka tidak bisa bisa bicara dan tidak mampu memberikan jawaban, wa dlalla ‘anHum maa kaanuu yaftaruun (“Dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulu mereka ada-adakan.”) yaitu semuanya hilang, hingga tidak dapat memberikan manfaat bagi mereka.

Bersambung ke bagian 24

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qashash ayat 71-73 (22)

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashshash (Cerita-Cerita)
Surah Makkiyyah; surah ke 28: 88 ayat

tulisan arab alquran surat al qashash ayat 71-73“71. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaKu, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka Apakah kamu tidak mendengar?” 72. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaKu, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?” 73. dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (al-Qashshash: 71-73)

Allah Ta’ala berfirman, memberikan anugerah kepada hamba-Nya dengan apa yang diberikan kepada mereka berupa malam dan siang yang tidak ada penopang bagi mereka tanpa keduanya. serta Dia menjelaskan bahwa seandainya Dia menjadikan malam terus-menerus kekal bagi mereka hingga hari kiamat, niscaya hal itu akan menyulitkan mereka serta membosankan dan mencekam jiwa. Untuk itu Allah berfirman:

Man ilaaHun ghairullaaHi ya’tiikum bidiyaa’ (“Siapakah ilah selain Allah yang mendatangkan sinar terang kepadamu?”) yaitu kalian dapat melihat dengan sinar terang itu dan merasa senang karenanya, a fa laa tasma’uun (“Maka apakah kalian tidak mendengar.”)

Kemudian Allah ta’ala mengabarkan bahwa seandainya Dia menjadikan siang sarmadan, yaitu terus-menerus hingga hari kiamat, niscaya hal itu akan menyulitkan mereka, serta menjadikan badan lelah dan lunglai disebabkan banyakknya aktifitas dan kesibukan. Karena itu Allah berfirman:

Man ilaaHun ghairullaaHi ya’tiikum bi lailin taskunuuna fiiHi (“Siapakah Ilah selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu istirahat padanya?”) yaitu kalian istirahat dari aktifitas dan kesibukan kalian. A fa laa tubshiruun, wa mir rahmatiHii (“Maka apakah kamu tidak memperhatikan ? Dan karena rahmat-Nya.”) yaitu Dia ciptakan ini dan itu. Li taskunuuna fiiHi (“agar kamu istirahat padanya”) yaitu pada malam hari. Wa li tabtaghuu min fadl-liHii (“Dan agar kamu mencari sebagian dari karunia-Nya.”) yaitu di waktu siang dengan mengadakan perjalanan, kunjungan, aktifitas dan kesibukan. Ini termasuk bab istirahat dan aktifitas.

Firman-Nya: wa la’allakum tasykuruun (“Agar kamu bersyukur kepada-Nya”) yaitu agar kalian bersyukur kepada Allah dengan berbagai macam ibadah di waktu malam dan siang. Barangsiapa yang tidak dapat melakukannya di waktu malam, dia dapat melakukannya di waktu siang. Atau sebaliknya. Sebagaimana firman Allah: wa Huwal ladzii ja’alal laila wan naHaara khilfatal liman araada ay yadzdzakkara au araada syukuuran (“Dan Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.”) (al-Furqaan: 62) dan ayat-ayat dalam masalah ini cukup banyak.

Bersambung ke bagian 23

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qashash ayat 68-70 (21)

8 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashshash (Cerita-Cerita)
Surah Makkiyyah; surah ke 28: 88 ayat

tulisan arab alquran surat al qashash ayat 68-70“68. dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). 69. dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. 70. dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (al-Qashshash: 68-70)

Allah Ta’ala berfirman bahwa Dia-lah yang Maha Esa dalam mencipta dan memilih, serta dalam hal itu, Dia tidak memiliki penentang dan pembangkang. Allah berfirman: wa rabbuka yakhluqu maa yasyaa-u wa yakhtaar (“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.”) yaitu apa yang dikehendaki-Nya. maka apa saja yang dikehendaki-Nya pasti ada dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak ada. Seluruh urusan, baik dan buruknya berada di tangan-Nya dan tempat kembali semua itu adalah kepada-Nya.

Firman-Nya: maa kaana laHumul khiyaratu (“Sekali-sekali tidak ada pilihan bagi mereka.”) ini adalah peniadaan –menurut dua pendapat yang paling shahih- seperti firman Allah yang artinya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

subhaanallaaHi wa ta’aalaa ‘ammaa yusyrikuun (“Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.”) yaitu berupa patung-patung dan berhala yang tidak dapat mencipta dan memilih sedikitpun.
Kemudian firman-Nya: wa rabbuka ya’lamu maa tukinnu shuduuruHum wa maa yu’linuun (“Dan Rabbmu mengetahui apa yang disembunyikan [dalam] dada mereka dan apa yang mereka nyatakan.”) Dia mengetahui apa yang terukir dalam hati dan apa yang terlintas di dalam sanubari, sebagaimana Dia mengetahui apa yang ditampakkan oleh dhahir seluruh makhluk-Nya.

Firman-Nya: wa HuwallaaHu laa ilaaHa illaa Huwa (“Dan Dialah Allah, tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] melainkan Dia”) Dialah yang Mahaesa dalam Uluhiyyah, maka tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia, sebagaimana tidak ada Ilah yang mencipta dan memilih apa yang dikehendaki-Nya selain Dia.

laHul hamdu fil uulaa wa fil aakhirati (“Bagi-Nya lah segala puji di seluruh dunia dan di akhirat.”) dari seluruh apa yang dikerjakan-Nya, Dia Maha terpuji dengan keadilan dan kebijaksanaan-Nya. wa laHul hukmu (“Dan bagi-Nya lah segala penentuan”) tidak ada yang dapat mengalahkan-Nya karena keperkasaan, kemenangan, kebijaksanaan dan rahmat-Nya.”) wa ilaiHi turja’uun (“dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan”) yaitu kalian seluruhnya pada hari kiamat. Lalu setiap pelaku akan dibalas sesuai amalnya. Baik dan buruk, dan tidak ada satupun yang tersembunyi bagi Allah dari mereka dalam seluruh amal.

Bersambung ke bagian 22