Tag Archives: ali-‘imraan

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 199-200

20 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 199-200“Dan Sesungguhnya diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah Amat cepat perhitungan-Nya. (Ali ‘Imraan: 199) Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Ali ‘Imraan: 200)

Allah swt. memberitahukan mengenai segolongan orang-orang dari Ahlil Kitab yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya, serta beriman kepada apa yang dibawa oleh Muhammad saw., disamping mereka juga beriman kepada kitab-kitab sebelumnya, dan mereka khusyuk kepada Allah, artinya taat dan tunduk kepada-Nya sambil merendahkan diri di hadapan-Nya dengan tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, yakni mereka tidak menyembunyikan sedikitpun mengenai kabar gembira akan kedatangan Muhammad saw. Mereka menceritakan mengenai sifat, karakter, tempat diutusnya beliau, serta sifat umatnya. Mereka itu adalah orang-orang pilihan dari ahlil kitab, baik orang-orang yang berasal dari Yahudi maupun Nasrani.

Dalam surah al-Qashash Allah berfirman yang artinya:

“Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka al-Kitab sebelum al-Qur’an, mereka beriman (pula) dengan al-Qur’an itu. Dan apabila dibacakan (al-Qur’an itu) kepada mereka, mereka berkata, ‘Kami beriman kepadanya, sesungguhnya al-Quran itu adalah suatu kebenaran dari Rabb kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya).’ Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka.” (QS. Al-Qashash: 52-54)

Dan sifat-sifat dalam ayat tersebut terdapat pada diri orang-orang Yahudi tetapi jumlahnya sangat sedikit sekali, seperti ‘Abdullah bin Salam dan orang-orang semisalnya yang beriman dari kalangan pendeta Yahudi. Itu pun tidak sampai sepuluh orang. Sedangkan di kalangan orang-orang Nasrani terdapat banyak orang yang mendapat petunjuk dan mengikuti kebenaran.

Sebagaimana yang difirmankan-Nya yang artinya: “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.’ Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (al-Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: ‘Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Qur’an dan kenabian Muhammad saw.). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Rabb kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang shalih.’ Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).” (QS. Al-Maa-idah: 82-85)

Karena itu di sini Allah berfirman, ulaa-ika laHum ajruHum ‘inda rabbiHim (“Mereka memperoleh pahala di sisi Rabb-nya.”)

Dalam hadits shahih telah ditegaskan bahwa ketika Ja’far bin Abi Thalib membaca surat, “Kaaf Haa Yaa ‘Aiin Shaad” (surat Maryam) dihadapan Najasyi, Raja Habasyah (Ethiopia), yang di sisi raja itu terdapat para uskup dan pendeta Nasrani, maka ia (Najasyi) pun menangis dan mereka pun menangis bersamanya sehingga air mata mereka membasahi janggut mereka.

Dan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim ditegaskan bahwa ketika raja Najasyi meninggal dunia, Rasulullah memberitahu para Sahabatnya, “Sesungguhnya saudara kalian di Habasyah telah meninggal dunia, maka laksanakanlah shalat (ghaib) untuknya.” Kemudian beliau pergi ke tanah lapang dan mengatur shaf para Sahabat-nya, kemudian mengerjakan shalat.

Dalam kitab al-Mustadrak, al-Hafizh Abu ‘Abdullah al-Hakim meriwayatkan dari `Amir bin ‘Abdullah bin az-Zubair dari ayahnya, ia berkata: Bahwa Raja Najasyi mendapatkan ancaman dari musuh dalam negerinya. Lalu orang-orang Muhajirin mendatanginya dan berkata, “Sesungguhnya kami senang jika engkau berangkat menghadapi mereka sehingga kami dapat berperang bersamamu dan engkau akan tahu keberanian kami dan kami akan memberikan balasan kepadamu atas apa yang telah engkau lakukan kepada kami.” Maka ia pun berkata, “Penyakit yang diakibatkan pertolongan Allah swt. adalah lebih baik daripada obat yang diakibatkan pertolonan manusia.”

Pada peristiwa itu turunlah ayat, wa inna min aHlil kitaabi lamay yu’minu billaaHi wa maa unzila ilaikum wa maa unzila ilaiHim khaasyi-‘iina lillaaHi (“Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka, sedang mereka berendah hati kepada Allah.”) Kemudian al-Hakim berkata, bahwa hadits ini sanadnya shahih, sedangkan al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.

Mengenai firman-Nya, wa inna min aHlil kitaabi la may yu’minu billaaHi (“Dan sesungguhnya di antara Ahlil Kitab ada orang yang beriman kepada Allah.”) Ibnu Abi Najih mengatakan dari Mujahid, yakni, Ahli Kitab yang Muslim.

Sedang ‘Ubbad bin Manshur berkata, aku pernah bertanya kepada al-Hasan al-Bashri mengenai firman Allah: wa inna min aHlil kitaabi la may yu’minu billaaHi (“Dan sesungguhnya di antara Ahlil Kitab ada orang yang beriman kepada Allah.”) la menjawab, mereka itu adalah Ahlul Kitab sebelum diutusnya Muhammad lalu mereka mengikuti beliau serta mengenal (masuk) Islam, maka Allah memberikan dua pahala kepada mereka, yaitu pahala untuk keimanan mereka sebelum (diutusnya) Muhammad dan pahala mereka mengikuti ajarannya. (Diriwayatkan Ibnu Abi Hatim).

Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim telah ditegaskan sebuah hadits dari Abu Musa, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Ada tiga golongan yang pahala mereka diberikan dua kali.” Kemudian beliau menyebutkan, di antaranya adalah seorang dari ahlil kitab yang beriman kepada Nabinya dan kepada diriku [Muhammad saw.]

Dan firman-Nya: laa yasy-taruuna bi-aayaatillaaHi tsamanan qaliilan (“Mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit.”) artinya mereka tidak menyembunyikan ilmu yang mereka miliki sebagaimana telah dilakukan oleh segolongan dari mereka, bahkan sebaliknya, mereka menyebar luaskannya dengan cuma-Cuma.

Oleh karena itu Allah berfirman: ulaa-ika laHum ajruHum ‘inda rabbiHim innallaaHa sarii-‘ul hisaab (“Mereka memperoleh pahala di sisi Rabbnya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya.”) Mujahid berkata, yakni cepat perhitungannya. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dan lainnya.

Firman-Nya: yaa ayyuHal ladziina aamanushbiruu wa shaabiruu wa raabithuu (“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu serta tetaplah bersiap siaga [di perbatasan negerimu].”) Hasan al-Bashri berkata: mereka diperintahkan untuk senantiasa bersabar dalam menjalankan agamanya yang diridhai oleh Allah, yaitu agama Islam. Sehingga mereka tidak akan meninggalkannya pada saat sengsara maupun pada saat bahagia, pada saat kesusahan maupun pada saat penuh kemudahan, hingga akhirnya mereka benar-benar mati dalam keadaan muslim. Selain itu, mereka juga diperintahkan untuk memperkuat kesabaran mereka terhadap musuh-musuh yang menyembunyikan agama mereka. Hal yang lama juga dikatakan oleh beberapa ulama Salaf.

Sedangkan murabathah berarti teguh dan senantiasa berada di tempat ibadah. Ada juga yang mengartikannya dengan tindakan menunggu shalat setelah shalat. Hal itu dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Sahl bin Hunaif, Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi dan yang lainnya.

Di sini Ibnu Abi Hatim meriwayatkan sebuah hadits yang juga diriwayatkan Imam Muslim dan an-Nasa’i dari Malik bin Anas dari Abu Hurairah, dari Nabi saw., beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan sesuatu yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa dan meninggikan derajat?” Para Sahabat menjawab, “Mau, ya Rasulullah.” Beliau pun bersabda, “Yaitu, menyempurnakan wudhu pada saat-saat sulit (seperti pada saat udara sangat dingin), banyak melangkahkan kaki ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Demikian itu adalah ribath. Demikian itu adalah ribath (menahan diri atas ketaatan yang disyari’atkan). Demikian itu adalah ribath.” Wallahu a’lam.

Ada yang mengatakan, yang dimaksud dengan murabathah di sini adalah keteguhan berperang melawan musuh, mempertahankan kemuliaan Islam, serta menjaganya agar musuh tidak masuk ke daerah Islam. Telah banyak hadits yang menganjurkan hal tersebut disertai dengan penyebutan pahala yang besar bagi yang melakukannya.

Imam al-Bukhari pernah meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Sahl binSa’ad as-Sa’idi, bahwa Rasulullah, bersabda: “Ribath (bersikap siaga di perbatasan) selama satu hari di jalan Allah, lebih baik dari pada dunia seisinya.” (HR. Al-Bukhari)

Sedangkan Imam Muslim meriwayatkan dari Salman al-Farisi, dari Rasulullah, beliau bersabda: “Ribath satu hari satu malam lebih baik daripada puasa satu bulan penuh dan qiyamul lail pada bulan itu. Jika meninggal dunia, maka amal yang dilakukannya masih terus berlaku, rizkinya pun terus mengalir, dan dia aman dari berbagai fitnah.” (HR. Muslim)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Haiwah bin Syuraih, Abu Hani’ al-Khaulani memberitakan kepadaku, bahwa ‘Amr bin Malik al-Haini pernah memberitahukan kepadanya bahwa ia telah mendengar Fadhalah bin ‘Ubaid berkata, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Setiap orang yang meninggal itu berakhir amalannya kecuali yang meninggal dalam keadaan ribath di jalan Allah maka amalnya itu senantiasa berkembang sampai hari Kiamat dan dia diamankan dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad)

Demikian juga yang diriwayatkan Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan Imam at-Tirmidzi berkata, bahwa hadits ini hasan shahih. Dan Ibnu Hibban mengeluarkannya dalam kitab Shahihnya.

Sedangkan Abu Dawud berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Taubah, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah Ibnu Salam, telah menceritakan kepadaku as-Saluli, bahwasanya disampaikan kepadanya sebua hadits oleh Sahl bin al-Hanzhalah, bahwa mereka pernah berjalan bersama Rasulullah pada waktu perang Hunain, sampai pada waktu ‘Isya’. Kemudian aku mengerjakan shalat bersama Rasulullah, lalu datanglah seseorang penunggang kuda dan mengatakan: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku bertolak dari hadapan kalian, sehingga aku melihat gunung ini dan itu, tiba-tiba aku melihat kabilah Hawazin, semuanya tanpa ada yang ketinggalan sedang berkemah dengan unta-untanya, berbagai barang berharga, serta domba-domba mereka.”

Maka Rasulullah pun tersenyum seraya bersabda: “Itu semua adalah ghanimah kaum muslimin besok insya Allah (jika Allah menghendaki).’ Lebih lanjut beliau bertanya: “Siapa yang akan menjaga kami malam ini?” Anas bin Abi Martsad berkata: “Aku, ya Rasulullah.” “Kalau begitu, tunggang-lah,” sahut Rasulullah. Maka Anas pun menunggangi kuda miliknya. Setelah itu ia mendatangi Rasulullah, maka beliau bersabda kepadanya: “Telusuri jalan pengunungan ini hingga sampai ke puncaknya dan jangan engkau serang orang yang menjumpaimu malam ini.” Ketika pagi hari tiba, beliau berangkat ke tempat shalat dan mengerjakan shalat dua rakaat dan setelah itu beliau bertanya: “Apakah kalian telah memperoleh berita mengenai utusan berkuda kalian?” Seseorang menjawab: “Kami belum mengetahuinya, ya Rasulullah.”

Kemudian beliau berangkat shalat, dan ketika sedang mengerjakan shalat, beliau menoleh ke arah jalan pegunungan tersebut, hingga ketika shalatnya telah usai beliau bersabda; “Berbahagialah, sesungguhnya utusan berkuda kalian telah datang kepada kalian.” Maka kami pun melihatnya melalui sela-sela pepohonan, ternyata memang benar ia telah datang. Lalu orang itupun berhenti di hadapan Nabi seraya berkata: “Sesungguhnya aku telah ber-tolak hingga aku sampai di puncak gunung itu seperti yang telah engkau perintahkan. Dan ketika pagi harinya, aku menaiki kedua lereng tersebut, lalu aku mengamati (mengawasi) ternyata aku tidak melihat seorang pun. Rasulullah saw. bertanya kepadanya: “Apakah engkau pada tadi malam turun?” Ia menjawab: “Tidak, kecuali untuk shalat atau buang hajat.” Maka Rasulullah bersabda: “Engkau telah mendapatkan pahalanya, maka sesudah itu tidak akan membahayakanmu bila kamu tidak beramal lagi.” (HR. An-Nasa’i)

Dalam kitab Shahih al-Bukhari telah diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda: “Celakalah hamba dinar, hamba dirham, hamba pakaian. Hingga jika diberi,ia senang dan jika tidak diberi, ia marah. Celaka dan sengsaralah. Dan jika tertusuk duri, maka ia tidak dapat mencabutnya. Beruntunglah bagi seorang hamba yang mempergunakan kudanya untuk kepentingan di jalan Allah, rambutnya kusut masai, kedua kakinya berlumuran debu. Jika ia diperintahkan untuk berjaga, maka ia berjaga dan bila ia diperintahkan untuk berada di akhir pasukan maka ia siap berada di garis belakang. Jika ia meminta izin (untuk menemui penguasa), tidak diberikan izin kepadanya, dan jika meminta
syafa’at (untuk menjadi perantara), tidak diberikan syafa’at untuknya (tidak diterima perantaraannya).” (Karena tawadhu’ dan jauh dari sikap ingin terkenal).

Ini hadits terakhir yang kami kemukakan berkaitan dengan pembahasan ini. Segala puji bagi Allah atas berbagai nikmat yang datang dari tahun ke tahun, dari hari ke hari.

Ibnu Jarir berkata: Abu ‘Ubaidah pernah menulis surat kepada ‘Umar bin al-Khaththab yang memberitahukan kepadanya beberapa golongan dari bangsa Romawi dan apa yang ditakutkan dari mereka. Maka ‘Umar pun mengirimkan balasan surat itu kepadanya. (Dituliskan), Amma Ba’du. Meskipun apa saja yang menimpa seorang mukmin dari satu kesulitan (penderitaan), maka pasti setelah itu Allah menjadikan baginya kelapangan, karena sesungguhnya satu kesulitan itu tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Sesunguhnya Allah swt. berfirman, yaa ayyuHal ladziina aamanushbiruu wa shaabiruu wa raabithuu (“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu serta tetaplah bersiap siaga [di perbatasan negerimu].”)

Demikianlah yang diriwayatkan al Hafizh Ibnu ‘Asakir dalam biografi Abdullah Ibnu al-Mubarak melalui jalan Muhammad bin Ibrahim bin Abi Sakinah, ia menceritakan, aku pernah mendiktekan kepada ‘Abdullah bin al-Mubarak bait-bait berikut ini di Tharsus dan aku berpamitan kepadanya untuk keluar. Dan kau bacakan bait-bait itu kepada al-Fudhail bin ‘Iyadh padatahun 170 H, dalam riwayat lain disebutkan pada tahun 177 H:

Wahai yang beribadah di Haramain, andai saja engkau melihat kami,
niscaya engkau akan mengetahui bahwa engkau bermain-main dalam beribadah.
Jika orang membasahi pipinya dengan air matanya, maka kami membasahi wajah kami dengan darah kami.
Atau jika orang melelahkan kudanya dalam kebathilan, maka kuda-kuda kami merasa kelelahan pada pagi hari esok.
Bau wangi menyerbak untuk kalian, sedang bau wangi kami adalah tanah pada kuku kaki kuda dan debu yang baik. Telah datang kepada kami ungkapan Nabi kami, ungkapan yang benar dan tidak berbohong.
Tidak sama antara debu kuda Allah di hidung seseorang dan asap api yang berkobar.
Inilah kitab Allah berbicara di tengah-tengah kita, dan saksi terhadap mayat itu tidak berbohong.

Kemudian ia melanjutkan ceritanya, lalu aku menyerahkan tulisan itu kepada al-Fudhail bin ‘Iyadh di Masjidilharam. Ketika ia membacanya, maka kedua matanya pun meneteskan air mata, dan ia pun berkata, “Abu ‘Abdir-Rahman itu memang benar,” ia telah menasihatiku.

Dan firman-Nya, wat taqullaaHa (“Dan bertakwalah kepada Allah.”) Yakni dalam segala urusan dan keadaan kalian. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. kepada Mu’adz ketika beliau mengutusnya ke Yaman: “Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan perbuatan buruk itu. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”
Hadits tersebut diriwayatkan Imam at-Tirmidzi. la berkata bahwa hadits ini hasan.

La-‘allakum tuflihuun (“Supaya kamu beruntung.”) Yaitu, beruntung di dunia dan di akhirat.

Demikianlah penafsiran surat Ali-‘Imran. Dan hanya milik Allahlah segala puji dan anugerah. Kami memohon kepada-Nya, semoga kita semua meninggal dunia dalam keadaan berpegang kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.
Aamiin.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 196-198

20 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 196-198“Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. (QS. Ali ‘Imraan: 196). Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. (QS. Ali ‘Imraan: 197). Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Rabb-nya, bagi mereka Surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.” (QS. Ali ‘Imraan: 198)

Allah berfirman, janganlah kalian melihat kepada orang-orang kafir yang berlebih-lebihan dan bergelimang didalam kenikmatan, kesenangan dan kegembiraan, karena semuanya itu akan binasa dengan segera dan mereka akan tergadai dengan amal keburukan mereka. Sebenarnya Kami memperpanjang sedikit waktu mereka dalam menikmati itu hanyalah sebagai tipuan dari semua yang ada pada mereka, mataa-‘un qaliilun tsumma ma’waaHum jaHannamu wa bi’sal miHaad (“Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam, dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.”)

Firman Allah tersebut sama seperti firman-Nya yang artinya, “Katakanlah: Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung. (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia. Kemudian kepada Kamilah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka.” (QS. Yunus: 69-70)

Demikianlah, ketika Allah swt. menceritakan keadaan orang-orang kafir di dunia, di mana Allah menyebutkan bahwa tempat kembali mereka adalah Neraka, maka setelah itu Allah berfirman yang artinya: “Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Rabb-nya, bagi mereka Surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.”

Ibnu Abi Hatim mengatakan dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: Allah swt. menyebut mereka sebagai orang-orang baik. Lantaran mereka berbuat baik kepada orang tua dan anak-anak mereka, sebagaimana orang tua anda mempunyai hak atas diri anda, seperti halnya anak-anak anda mempunyai hak atas diri anda.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 195

20 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 195
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 195“Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam Surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik “. (QS. Ali ‘Imraan: 195)

Allah berfirman, fastajaaba laHum rabbuHum (“Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya.”) Maksudnya, maka Rabb mereka mengabulkan mereka. Sebagaimana yang diungkapkan seorang penyair:
Seorang hamba berseru: “Wahai Rabb yang mendengar seruan.”
Maka pada saat itu tidak ada seorang pun yang dapat menjawabnya.

Sa’id bin Manshur berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari ‘Amr bin Dinar, dari Salamah, seorang dari keluarga Ummu Salamah, ia mengatakan, Ummu Salamah pernah berkata: “Ya Rasulullah, kami tidak mendengar Allah menyebut kaum wanita sedikit pun dalam hijrah.” Maka Allah menurunkan ayat yang artiny: “Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantaramu, baik laki-laki maupun perempuan, karena sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilahakan Aku masukkan mereka ke dalam Surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.”

Kaum Anshar berkata: “Ummu Salamah adalah wanita yang pertama kali datang kepada kami.”

Hadits itu juga diriwayatkan al-Hakim dari Sufyan bin ‘Uyainah. Ia (al-Hakim) mengatakan, hadits ini shahih sesuai dengan syarat al-Bukhari, tetapi al-Bukhari dan Muslim sendiri tidak mengeluarkannya.

Makna ayat di atas adalah bahwa orang-orang yang beriman yang berakal memohon apa yang dikemukakan di depan, maka permohonan itu dikabulkan oleh Rabb mereka. Hal itu disambung dengan menggunakan (fa’) fa’ ta’qib (menggabungkan dengan yang sebelumnya). Sebagaimana yang difirmankan-Nya yang artinya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. “(QS. Al-Baqarah: 186)

Firman-Nya, innii laa ‘u-dlii-‘u ‘amala ‘aamilim minkum min dzakarin au untsaa (“Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan.”) Penggalan ayat ini merupakan penafsiran dari pengabulan do’a itu. Dengan kata lain, Allah memberitahukan kepada mereka bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan amal seorang dari kalian, bahkan Allah akan memberikan balasan kepada setiap orang dari kalian dengan sempurna sesuai dengan amal perbuatannya, baik laki-laki maupun perempuan.

Firman-Nya: ba’dlukum mim ba’dlin (“[Karena] sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.”) Artinya, di hadapan-Ku, perolehan pahala kalian adalah sama. Fal ladziina Haajaruu (“Maka orang-orang yang berhijrah.”) Yakni, meninggalkan kampung yang penuh kesyirikan mendatangi kampung yang penuh keimanan, di mana mereka rela meninggalkan orang-orang yang dicintainya, saudara, paman, dan tetangganya. Wa ukhrijuu min diyaariHim (“Yang diusir dari kampung halamannya.”) Yakni mereka dipersempit oleh orang-orang musyrik dengan cara disakiti sehingga mendorong mereka pergi dari tengah-tengah mereka.

Oleh karena itu Allah berfirman: wa uudzuu fii sabiilii (“Yang disakiti pada jalan-Ku.”) Kesalahan mereka di mata orang-orang musyrik itu adalah karena mereka hanya beriman kepada Allah semata. Sebagaimana firman-Nya: wa maa naqamuu minHum illaa ay yu’minuu billaaHil ‘aziizil hamiid (“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Mahaperkasa lagi Mahaterpuji.”) (QS. Al-Buruuj: 8)

Dan firman-Nya, wa qaataluu wa qutiluu (“Yang berperang dan yang dibunuh.”) Artinya, inilah maqam tertinggi agar manusia berjihad di jalan Allah, menjadikan tubuhnya terluka dan wajahnya berlumuran darah dan debu.

Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim ditegaskan bahwasanya ada seseorang yang berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menurut pendapatmu jika aku berperang di jalan Allah dengan penuh kesabaran, mencari keridhaan-Nya dan pantang menyerah, apakah Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahanku?” “Ya,” jawab beliau. Lalu beliau bertanya: “Bagaimana pertanyaanmu tadi?” Maka orang itu pun mengulangi pertanyaan itu. Dan beliau pun menjawab, “Ya, kecuali urusan utang, demikianlah apa yang baru saja dikatakan oleh Jibril kepadaku tadi.”

Oleh karena itu, Allah berfirman, la ukaffiranna ‘anHum sayyi-aatiHim wa la-ud-khilannaHum jannaatin tajrii min tahtiHal anHaaru (“Pastilah akan Ku hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam Surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.”) Yakni, di tengah-tengah Surga itu mengalir berbagai macam minuman, berupa susu, madu, khamr, air tawar dan lain-lainnya yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga serta tidak pernah terbetik dalam hati manusia.

Dan firman-Nya, tsawaabam min ‘indillaaHi (“Sebagai pahala di sisi Allah.”) Pahala itu didasarkan dan dinisbatkan kepada-Nya agar menjadi petunjuk bahwa Allah itu Mahaagung, karena Rabb yang Mahaagung lagi Mahamulia itu tidaklah memberi kecuali dalam jumlah yang banyak.

Sedangkan firman-Nya, wallaaHu ‘indaHuu husnuts tsawaab (“Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.”) Artinya, Allah mempunyai pahala yang baik bagi orang yang beramal shalih.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 190-194

19 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 190-194“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan Siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS. Ali ‘Imraan: 190). (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka. (QS. Ali ‘Imraan: 191). Ya Rabb kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun. (QS. Ali ‘Imraan: 192). Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): ‘Berimanlah kamu kepada Rabb-mu.’; maka kamipun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosakami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. (QS. Ali ‘Imraan: 193). Ya Rabb kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan Rasul-Rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS. Ali ‘Imraan: 194)

Makna ayat ini, bahwa Allah berfirman, inna fii khalqis samaawaati wal ardli (“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi.”) Artinya, yaitu pada ketinggian dan keluasan langit dan juga pada kerendahan bumi serta kepadatannya. Dan juga tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terdapat pada ciptaan-Nya yang dapat dijangkau oleh indera manusia pada keduanya (langit dan bumi), baik yang berupa bintang-bintang, komet, daratan dan lautan, pegunungan, dan pepohonan, tumbuh-tumbuhan, tanaman, buah-buahan, binatang, barang tambang, serta berbagai macam warna dan aneka ragam makanan dan bebauan,

Wakh-tilafil laili wan naHaari (“Dan silih bergantinya malam dan siang.”) Yakni, silih ber-gantinya, susul menyusulnya, panjang dan pendeknya. Terkadang ada malam yang lebih panjang dan siang yang pendek. Lalu masing-masing menjadi seimbang. Setelah itu, salah satunya mengambil masa dari yang lainnya sehingga yang terjadi pendek menjadi lebih panjang, dan yang diambil menjadi pendek yang sebelumnya panjang. Semuanya itu merupakan ketetapan Allah yang Mahaperkasa lagi Maha-mengetahui.

Oleh karena itu Allah berfirman: la aayaati li-ulil albaab (“Terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal [Uulul Albaab].”) Yaitu mereka yang mempunyai akal yang sempurna lagi bersih, yang mengetahui hakikat banyak hal secara jelas dan nyata. Mereka bukan orang-orang tuli dan bisu yang tidak berakal.

Allah berfirman tentang mereka yang artinya, “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya. Dan sebahagian besar dan mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 105-106)

Kemudian Allah menyifatkan tentang Uulul Albaab, firman-Nya: alladziina yadzkuruunallaaHa qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubiHim (“[Yaitu] orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring.”)

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari ‘Imran bin Hushain, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak mampu, maka lakukanlah sambil duduk, jika kamu tidak mampu, maka lakukanlah sambil berbaring.”

Maksudnya, mereka tidak putus-putus berdzikir dalam semua keadaan, baik dengan hati maupun dengan lisan mereka. Wa yatafakkaruuna fii khalqis samaawaati wal ardli (“Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”) Maksudnya, mereka memahami apa yang terdapat pada keduanya (langit dan bumi) dari kandungan hikmah yang menunjukkan keagungan “al-Khaliq” (Allah), ke-kuasaan-Nya, keluasan ilmu-Nya, hikmah-Nya, pilihan-Nya, juga rahmat-Nya.

Syaikh Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Sesungguhnya aku keluar dari rumahku, lalu setiap sesuatu yang aku lihat, merupakan nikmat Allah dan ada pelajaran bagi diriku.” Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dun-ya dalam “Kitab at-Tawakkul wal I’tibar.”

Al-Hasan al-Bashri berkata: “Berfikir sejenak lebih baik dari bangun shalat malam.”

Al-Fudhail mengatakan bahwa al-Hasan berkata, “Berfikir adalah cermin yang menunjukkan kebaikan dan kejelekan-kejelekanmu.”

Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Berfikir (tentang kekuasaan Allah,”) adalah cahaya yang masuk ke dalam hatimu.”

Nabi ‘Isa as. berkata: “Berbahagialah bagi orang yang lisannya selalu berdzikir, diamnya selalu berfikir (tentang kekuasaan Allah), dan pandangannya mempunyai ‘ibrah (pelajaran).”

Luqman al-Hakim berkata: “Sesungguhnya lama menyendiri akan mengilhamkan untuk berfikir dan lama berfikir (tentang kekuasaan Allah,) adalah jalan-jalan menuju pintu Surga.”

Sungguh Allah mencela orang yang tidak mengambil pelajaran tentang makhluk-makhluk-Nya yang menunjukkan kepada dzat-Nya, sifat-Nya, syari’at-Nya, kekuasaan-Nya dan tanda-tanda (kekuasan)-Nya, “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 105-106)

Dan di sisi lain Allah memuji hamba-hamba-Nya yang beriman: alladziina yadzkuruunallaaHa qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubiHim Wa yatafakkaruuna fii khalqis samaawaati wal ardli (“[yaitu] orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”) Yang mana mereka berkata, rabbanaa maa khalaqta Haadzaa baathilan (“Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.”) Artinya, Engkau tidak menciptakan semuanya ini dengan sia-sia, tetapi dengan penuh kebenaran, agar Engkau memberikan balasan kepada orang-orang yang beramal buruk terhadap apa-apa yang telah mereka kerjakan dan juga memberikan balasan orang-orang yang beramal baik dengan balasan yang lebih baik (Surga). Kemudian mereka menyucikan Allah dari perbuatan sia-sia dan penciptaan yang bathil seraya berkata, subhaanaka (“Mahasuci Engkau.”) Yakni dari menciptakan sesuatu yang sia-sia. Wa qinaa ‘adzaaban naar (“Maka peliharalah kami dari siksa Neraka.”) Maksudnya, wahai Rabb yang menciptakan makhluk ini dengan sungguh-sungguh dan adil. Wahai Dzat yang jauh dari kekurangan, aib dan kesia-siaan, peliharalah kami dari adzab Neraka dengan daya dan kekuatan-Mu. Dan berikanlah taufik kepada kami dalam menjalankan amal shalih yang dapat mengantarkan kami ke Surga serta menyelamatkan kami dari adzab-Mu yang sangat pedih.

Setelah itu mereka berkata, rabbanaa innaka man tud-khilin naara faqad akh-zaitaHu (“Ya Rabb kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia.”) Yaitu Engkau menghinakan dan memperlihatkan kerendahannya kepada seluruh makhluk. Wa maa lidh-dhaalimiina min anshaar (“Dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun.”) Yaitu pada hari Kiamat kelak, mereka tidak akan mendapatkan perlindungan dari-Mu dan mereka tidak dapat menghindar dari apa yang Engkau kehendaki terhadap mereka.

Rabbanaa innanaa sami’naa munaadiyay yunaadii lil iimaani (“Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar [seruan] yang menyeru kepada iman.”) Yakni, penyeru yang menyeru kepada keimanan. Yaitu, Rasulullah saw: an aaminuu birabbikum fa aamannaa (“Berimanlah kamu kepada Rabb-mu, maka kami pun beriman.”) Penyeru itu berseru, “Berimanlah kepada Rabb kalian.” Maka kami pun beriman, lalu kami menyambut dan mengikutinya, yaitu dengan keimanan dan kepengikutan kita terhadap Nabi-Mu.

Rabbanaa faghfir lanaa dzunuubanaa (“Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami.”) Artinya, tutup dan hapuskanlah dosa-dosa kami itu. Wa kaffir ‘annaa sayyi-aatinaa (“Dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami,”) antara kami dengan Engkau. Wa tawaffanaa ma-‘al ab-raar (“Dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.”) Maksudnya, pertemukanlah kami dengan orang-orang yang shalih. Rabbanaa wa aatinaa maa wa ‘attanaa ‘alaa rusulika (“Ya Rabb kami, berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan Rasul-Rasul Engkau.”) Ada yang mengatakan, artinya, atas iman dengan Rasul-Rasul-Mu. Dan ada yang mengatakan maksudnya melalui lisan para Rasul-Mu. Dan inilah yang lebih mendekati kebenaran. Wallahu a’lam.

Dan firman-Nya, wa laa tukhzinaa yaumal qiyaamati (“Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari Kiamat.”) Yaitu, di hadapan pemuka para makhluk. Innaka laa tukhliful mii-‘aad (“Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.”) Maksud-nya, keharusan akan janji yang telah disampaikan oleh Rasul-Rasul-Mu, yaitu bangkitnya umat manusia pada hari Kiamat kelak di hadapan-Mu. Dalam sebuah hadits telah ditegaskan bahwa Rasulullah membaca sepuluh ayat terakhir dari Surat Ali-`Imran ini jika beliau bangun malam untuk mengerjakan shalat tahajud.

Imam al-Bukhari pernah meriwayatkan dari Kuraib, bahwa Ibnu ‘Abbas memberitahukan kepadanya, ia pernah menginap di rumah Maimunah isteri Nabi, sekaligus bibinya (Ibnu ‘Abbas) sendiri, ia berkata, lalu aku membaringkan diri di bagian pinggir tempat tidur, sedangkan Rasulullah saw. dan keluarganya membaringkan diri di bagian tengahnya. Maka beliau pun tidur. Dan pada pertengahan malam, tak lama sebelum atau sesudah pertengahan malam, Rasulullah bangun dari tidurnya, lalu beliau mengusap wajahnya dengan tangan beliau. Kemudian beliau membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Ali-‘Imran. Selanjutnya beliau menuju ke tempat air yang tergantung didinding dan beliau berwudhu’ dan menyempurnakannya. Setelah itu beliau mengerjakan shalat.

Lebih lanjut Ibnu ‘Abbas berkata, kemudian aku bangun dan melakukan hal yang sama seperti yang dikerjakan beliau, lalu aku berjalan dan berdiri di sisi beliau. Kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku dan memegang telingaku. Seusai itu beliau mengerjakan shalat dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, kemudian mengerjakan shalat witir. Lalu beliau berbaring hingga datang muadzin, maka beliau bangun dan mengerjakan shalat dua rakaat ringan (shalat sunnah Subuh), selanjutnya
beliau pergi ke masjid untuk mengerjakan shalat Subuh.

Hal senada juga diriwayatkan oleh perawi lain yang diriwayatkan oleh iman-iman ahli hadits lain melalui beberapa sumber dari Malik. Juga diriwayatkan Imam Muslim, Abu Dawud (melalui jalan yang lain). Serta diriwayatkan Ibnu Mardawaih dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah keluar rumah pada suatu malam, dan ketika malam berlalu, beliau menatap ke langit dan membaca ayat ini: inna fii khalqis samaawaati wal ardli wakh-tilaafil laili wan naHaari la aayaatil li ulil albaab (“Sungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”) Sampai terakhir dari surah Ali ‘Imraan.

Setelah itu beliau berdo’a: “Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dalam pandanganku, cahaya pada sebelah kananku, cahaya pada sebelah kiriku, cahaya pada bagian depanku, cahaya pada belakangku, cahaya pada bagian atasku, dan cahaya pada bagian bawahku, serta besarkanlah cahaya bagiku pada hari Kiamat.”

Do’a ini telah ditegaskan dalam beberapa jalan hadits shahih yang di-riwayatkan dari Kuraib dari Ibnu ‘Abbas ra.

Dalam tafsirnya, Abdu bin Humaid meriwayatkan dari Ja’far bin Aun al-Kalby, dari Abu Hubab ‘Atha’, ia berkata, bersama ‘Abdullah bin ‘Umar dan ‘Ubaid bin ‘Umair, aku masuk menemui Ummul Mukminin, ‘Aisyah dalam biliknya. Kemudian kami mengucapkan salam kepadanya. Maka ‘Aisyah bertanya: “Siapa mereka?” Kami pun menjawab: “Ini ‘Abdullah bin ‘Umar dan `Ubaid bin `Umair.” Lalu ‘Aisyah berkata: “Wahai ‘Ubaid bin ‘Umair, apa yang menghalangimu mengunjungi kami?” Ubaid menjawab: “Karena orang terdahulu pernah berkata: “Berkunjunglah jarang-jarang, niscaya engkau akan bertambah dekat.” Setelah itu ‘Aisyah berkata: “Sesungguhnya kami menyukai kunjungan dan kedatanganmu.” Lalu ‘Abdullah bin ‘Umar berkata: “Biarkanlah kita mengalihkan pembicaraan lain dan beritahukanlah kepada kami mengenai sesuatu yang mengagumkanmu dari apa yang pernah engkau saksikan dari Rasulullah.” Maka ia (‘Aisyah) pun menangis dan kemudian berkata: “Semua perkara yang dilakukannya sungguh mengagumkan. Pada malam giliranku, beliau pernah mendatangiku, lalu beliau masuk dan tidur bersamaku di tempat tidurku sehingga kulitnya menyentuh kulitku, kemudian beliau bersabda: “Ya Aisyah, izinkan aku beribadah kepada Rabb-ku,” Maka ‘Aisyah pun berkata: “Sesungguhnya aku senang sekali berada di sisimu, tetapi aku pun menyukai keinginanmu itu (beribadah kepada Allah).”

Lebih lanjut ‘Aisyah menceritakan, setelah itu Rasulullah berjalan menuju ke tempat air yang terdapat di dalam rumah dan berwudhu dengan tidak memboroskan air. Seusai berwudhu’ beliau membaca al-Qur’an dan kemudian menangis hingga aku melihat bahwa air matanya membasahi janggutnya. Selanjutnya beliau duduk, lalu memanjatkan pujian kepada Allah. Setelah itu beliau menangis hingga aku melihat air matanya jatuh sampai ditenggorokannya. Kemudian beliau membaringkan diri pada lambung sebelah kanan dan meletakkan tangannya di bawah pipinya, lalu beliau menangis hingga aku melihat air matanya jatuh ke lantai.

Setelah itu Bilal masuk menemuinya, lalu ia mengumandangkan adzan shalat Subuh, dan kemudian ia mengatakan: “Shalat, ya Rasulullah.” Ketika melihatnya sedang menangis, Bilal mengatakan: “Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis sedang Allah telah memberikan ampunan kepadamu atas dosa yang telah engkau kerjakan maupun yang belum engkau kerjakan.” Maka beliau bersabda: “Wahai Bilal, tidakkah aku boleh menjadi hamba yang bersyukur?” Dan bagaimana aku tidak menangis sedang pada malam ini telah turun ayat, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bum, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka.” Selanjutnya beliau bersabda: “Celaka bagi orang yang membaca ayat-ayat ini lalu ia tidak memikirkan apa yang ada di dalamnya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 187-189

19 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 187-189“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakangpunggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (QS. Ali ‘Imraan: 187). Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan. Janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa dan bagi mereka siksa yang pedih. (QS. Ali ‘Imraan: 188). Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi: dan Allah Maha- kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali ‘Imraan: 189)

Yang demikian itu merupakan teguran sekaligus ancaman Allah terhadap Ahlul Kitab, di mana Allah telah mengambil perjanjian terhadap mereka melalui lisan para Nabi, yaitu janji agar mereka beriman kepada Muhammad saw. dan agar menjelaskannya kepada umat manusia. Sehingga keadaaan mereka siap menerima perintahnya, supaya apabila Allah mengutus Muhammad mereka pun mengikutinya. Namun mereka menyembunyikan hal itu dan mengganti apa yang pernah mereka janjikan berupa kebaikan di dunia dan di akhirat dengan sesuatu yang sangat sedikit, serta hal duniawi yang sangat murah. Maka seburuk-buruk sifat adalah sifat mereka, dan seburuk-buruk bai’at adalah bai’at mereka.

Dan dalam hal itu terdapat peringatan bagi para ulama agar jangan mengikuti jejak mereka, sehingga tidak menimpa apa yang telah menimpa mereka. Para ulama hendaknya mengajarkan apa yang ada pada mereka dari ilmu yang bermanfaat yang dapat menunjukkan kepada amal shalih dan tidak menyembunyikan ilmu barang sedikitpun.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari beberapa sumber yang berbeda, dari Nabi saw. Beliau pernah bersabda: “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka pada hari Kiamat kelak ia akan dimasukkan tali kekang kedalam mulutnya dengan kekang dari api.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dengan sanad hasan)

Firman-Nya, laa tahsabannal ladziina yaf-rahuuna bimaa ataw watuhibbuuna ay yuhmaduu bimaa lam yaf’aluu (“Janganlah sekali-sekali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan.”) Yakni orang-orang yang suka berbuat riya’, yang ingin dinilai lebih dengan apa-apa yang mereka tidak perbuat.

Sebagaimana yang telah ditegaskan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Barangsiapa yang mengaku-ngaku dengan pengakuan dusta supaya memperoleh penilaian lebih yang tidak ada pada dininya, maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kekurangan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Masih dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, beliau bersabda: “Orang yang ingin dinilai lebih dengan apa yang tidak ada pada dirinya, adalah seperti orang yang memakai dua pakaian palsu.”

Imam Ahmad meriwayatkan, Hajjaj telah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraij, Ibnu Abi Mulaikah memberitahukan kepadaku bahwa Humaid bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf pernah memberitahukan kepadanya, bahwa Marwan pernah mengatakan kepada pengawalnya, “Wahai Rafi’, pergilah kepada Ibnu ‘Abbas, dan katakan, jika setiap orang dari kami merasa senang dengan apa yang dilakukannya dan suka mendapat pujian atas sesuatu perbuatan yang tidak dikerjakannya, kemudian kami mendapat siksaan, maka niscaya semua orang akan kena siksa.” Maka Ibnu ‘Abbas menyahut, “Apa yang kalian maksudkan dengan ini? Sesungguhnya ayat ini turun berkenaan dengan Ahlul Kitab.”

Setelah itu Ibnu ‘Abbas membacakan ayat ini [yang artinya], “Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya. Lalu mereka melemparkan janji itu kebelakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amat buruk tukaran yang mereka terima. Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan.”

Ibnu ‘Abbas berkata, Nabi saw. pernah bertanya kepada mereka mengenai sesuatu, lalu mereka menyembunyikannya dari beliau, dan memberi-tahukan kepada beliau sesuatu hal yang lain. Setelah itu mereka pun pergi dan mengklaim bahwa mereka telah memberitahukan apa yang ditanyakan Nabi saw. Selanjutnya mereka meminta pujian kepada beliau atas apa yang dilakukannya itu, serta mereka merasa gembira atas apa yang mereka sembunyikan kepada Nabi.

Demikian itulah hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam kitab tafsirnya, Imam Muslim, Imam at-Tirmidzi, an-Nasa’i dalam tafsirnya, Ibnu Abi Hakim, Ibnu Khuzaimah, al-Hakim dan Ibnu Mardawaih, yang semuanya berasal dari hadits ‘Abdul Malik bin Juraij.

Hal yang sama juga diriwayatkan Imam al-Bukhari dari hadits Ibnu Juraij dari Ibnu Abi Mulaikah dari ‘Alqamah bin Waqqash, bahwa Marwan pernah mengatakan kepada penjaganya, “Ya Rafi’, pergilah kepada Ibnu ‘Abbas. Lalu ia menyebutkan hadits di atas.”

Imam al-Bukhari juga meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa pada masa Rasulullah ada beberapa orang munafik, yang jika Rasulullah berangkat perang, mereka enggan menyertai beliau dan merasa gembira dengan ketidak ikutsertaan mereka bersama beliau. Dan ketika Rasulullah datang dari perang, mereka mencari-cari alasan untuk disampaikan kepada beliau, mereka pun bersumpah, serta mereka suka mendapatkan pujian atas suatu hal yang tidak mereka lakukan, maka turunlah ayat ini: laa tahsabannal ladziina yaf-rahuuna bimaa ataw watuhibbuuna ay yuhmaduu bimaa lam yaf’aluu (“Janganlah sekali-sekali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan.”)

Hadits yang sama juga diriwayatkan Imam Muslim dari Ibnu AbiMaryam.

Dan firman-Nya: falaa tahsabannaHum bimafaazatim minal ‘adzaab (“Janganlah kamu me-nyangka bahwa mereka terlepas dari siksa.”) Artinya, janganlah kalian mengira bahwa mereka akan selamat dari siksa, bahkan mereka pasti mendapatkan siksa.

Oleh karena itu Allah berfirman, wa laHum ‘adzaabun aliim (“Dan bagi mereka siksa yang pedih.”)

Setelah itu Allah berfirman: wa lillaaHi mulkus samaawaati wal ardli wallaaHu ‘alaa kulli syai-in qadiir (“Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”) Artinya, Allah adalah pemilik segala sesuatu dan berkuasa untuk berbuat segala sesuatu sehingga tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya. Karena itu, janganlah kalian menentang-Nya dan hindarilah kemurkaan dan laknat-Nya. Karena Allah adalah Rabb yang Mahaagung yang tidak adasesuatu pun yang lebih agung dari-Nya dan Mahakuasa yang tiada sesuatu pun yang lebih berkuasa dari diri-Nya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 185-186

19 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 185-186“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.(QS. Ali ‘Imraan: 185). Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan diri-mu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali ‘Imraan: 186)

Allah memberitahukan kepada seluruh makhluk-Nya bahwa setiap jiwa itu akan merasakan kematian. Sebagaimana firman-Nya, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajab Rabb-Mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahmaan: 26-27) Hanya Allah yang akan terus hidup, yang tiada akan pernah mati. Seluruh umat manusia dan jin akan mengalami kematian, demikian juga dengan para Malaikat termasuk Malaikat yang memikul `Arsy. Yang tetap hidup kekal abadi hanyalah Rabb yang Mahaesa dan Maha-
perkasa. Allah-lah yang Akhir, sebagaimana pula Allah-lah yang Awal. Dalam ayat ini terdapat ta’ziyah bagi seluruh umat manusia, bahwasanya tidak akan ada seorang pun yang akan tetap berada di muka bumi sehingga dia mati. Jika waktu yang telah ditetapkannya berakhir dan keberadaan nuthfah yang telah ditakdirkan oleh-Nya dari sulbi Adam telah habis, serta semua makhluk-Nya ini telah berakhir, maka Allah langsung menjadikan Kiamat. Dan selanjutnya Allah akan memberikan balasan kepada semua makhluk-Nya sesuai dengan
amalnya yang mulia maupun hina, besar maupun yang kecil, banyak maupun sedikit, sehingga tidak ada seorang pun yang dizhaliminya meski hanya sebesar biji sawi.

Oleh karena itu Allah berfirman, wa inna maa tuwaffaunaa ujuurakum yaumal qiyaamati (“Dan sesungguhnya pada hari Kiamat saja disempurnakan pahalamu.”) Ibnu Abi Hatim mengatakan dari ‘Ali bin Abi Thalib, ia berkata: Ketika Rasulullah meninggal dunia, maka ta’ziyah pun berdatangan, mereka didatangi oleh seseorang yang mereka dengar suaranya tetapi tidak terlihat sosoknya, yang berkata, “Salam sejahtera untuk kalian semua, wahai ahlul bait, semoga rahmat dan berkah Allah senantiasa terlimpah kepada kalian.” “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat saja disempurnakan pahalamu. ” “Sesungguhnya dalam diri Allah ada bela sungkawa dari setiap musibah, pengganti dari setiap yang binasa, dan penyusul dari suatu yang luput. Maka yakinlah serta berharaplah kepada-Nya, karena musibah itu merupakan pahala yang tertangguhkan, Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.”
Ja’far bin Muhammad berkata, ayahku memberitahukan kepadaku bahwa Ali bin Abi Thalib
berkata, “Apakah kalian tahu, siapakah orang itu? Ia itu adalah Khidir as.”

Dan firman Allah: faman zuhziha ‘anin naari wa udkhilal jannata faqad faaz (“Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia telah beruntung.”) Artinya, barangsiapa dihindarkan dari api Neraka dan diselamatkan darinya serta dimasukkan ke dalam Surga, maka ia benar-benar beruntung.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tempat untuk sebuah cemeti di Surga lebih baik daripada dunia dan seisinya. Bacalah oleh kalian, jika kalian suka, ‘Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia beruntung.’”
Hadits di atas diriwayatkan juga dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim tidak melalui jalan ini, dan tanpa adanya tambahan tersebut.

Dan firman-Nya: wa mal hayaatud dun-yaa illaa mataa-‘ul ghuruur (“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”) Hal itu dimaksudkan untuk memperkecil nilai dunia sekaligus menghinakannya, dan bahwa dunia juga bersifat sangat fana dan sebentar serta akan musnah binasa. Sebagaimana firman-Nya: bal tu’tsiruunal hayaatad dun-yaa, wal aakhiratu khairuw wa abqaa (“Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia. Sedangkan kehidupan akhirat itu adalah lebih baik dan lebih kekal.”)

Mengenai firman-Nya: wa mal hayaatud dun-yaa illaa mataa-‘ul ghuruur (“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”) Qatadah berkata, yaitu kesenangan yang pasti ditinggalkan. Demi Allah, yang tiada ilah selain Allah, dunia itu nyaris akan lenyap dari tangan pemiliknya. Jika kalian mampu ,maka ambillah dari kesenangan itu untuk ketaatan, sesungguhnya tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah.

Dan firman-Nya: latub-lawunna fii amwaalikum wa anfusikum (“Kamu sungguh-sungguh akan diuji tentang hartamu dan dirimu,”) seperti firman-Nya yang artinya: “Sungguh kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikan berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Dengan pengertian, merupakan suatu keharusan bagi seorang mukmin akan diuji tentang harta kekayaan, dirinya, anak-anak, serta keluarganya. Dan ia akan diuji menurut kadar pemahaman agamanya, jika ia kuat dalam agamanya, maka akan diberikan ujian yang lebih berat.

Firman-Nya, wa latasma-‘unnal ladziina uutul kitaaba min qablikum wa minal ladziina asy-rakuu adzan katsiiran (“Dan [juga] kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelummu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati.”) Allah berfirman ditujukan kepada kalangan orang beriman ketika tiba di Madinah, yaitu sebelum terjadinya perang Badar, sebagai hiburan buat mereka atas gangguan dan siksaan dari Ahlul Kitab dan orang-orang musyrik. Selain itu Allah juga memerintahkan kepada mereka bersabar dan memberikan maaf sehingga Allah menghilangkan kedukacitaan mereka. Wa in tashbiruu wa tattaquu fa inna dzaalika min ‘azmil umuur (“Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”)

Dalam penafsiran ayat tersebut, Imam al-Bukhari menyebutkan dari az-Zuhri, ‘Urwah bin az-Zubair memberitahukan kepadaku, Usamah bin Zaid menceritakan kepadanya, bahwa Rasulullah saw. menaiki seekor keledai yang di atasnya terdapat pelana terbuat dari beludru, sedang Usamah bin Zaid dibonceng di belakang beliau dengan tujuan menjenguk Sa’ad bin ‘Ubadah yang berada di Bani al-Harits bin al-Khazraj, yaitu sebelum peristiwa Badar, sehingga beliau melewati suatu majelis yang di dalamnya terdapat ‘Abdullah bin Ubay bin Salul. Dan itu terjadi sebelum ‘Abdullah bin Ubay bin Salul masuk Islam. Ternyata dalam majelis tersebut bercampur antara kaum muslimin, orang-orang musyrik penyembah berhala, Ahlul Kitab dan Yahudi. Dan dalam majelis tersebut terdapat ‘Abdullah bin Rawahah. Ketika majelis tersebut dipenuhi oleh debu yang diterbangkan hewan (keledai Rasulullah), maka Abdullah bin Ubay menutupi hidungnya dengan selendangnya seraya ber-kata: “Jangan menyebarkan debu pada kami.”

Kemudian Rasulullah mengucapkan salam, lalu berhenti dan turun dari keledainya. Setelah itu beliau menyeru mereka kepada menyembah Allah , serta membacakan al-Qur’an kepada mereka, kemudian ‘Abdullahbin Ubay bin Salul berkata, “Wahai saudara, tidak ada sesuatu yang baik dariapa yang kau katakan itu. Jika apa yang kau katakan itu memang benar, maka
janganlah engkau mengganggu kami dengan kata-kata itu di majelis kami. Lanjutkan saja perjalananmu itu dan ceritakan saja kepada orang yang datang kepadamu.”

Kemudian ‘Abdullah bin Rawahah berkata, “Kami menerimanya, ya Rasulallah, perdengarkanlah kepada kami hal itu dalam majelis-majelis kami, karena kami menyukai perkataanmu tersebut.” Maka antara kaum muslimin, orang-orang munafik, dan orang-orang Yahudi saling menghardik hingga hampir saja terjadi bentrok fisik. Sedangkan Nabi saw. masih terus berusaha melerai mereka, sehingga mereka pun terdiam. Kemudian beliau menaiki kendaraannya dan melanjutkan perjalanan hingga masuk ke rumah Sa’ad bin Ubadah. Nabi pun berkata kepadanya, “Wahai Sa’ad, apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakan Abu Hubab,” yang dimaksudkannya adalah Abdullah bin Ubay. Kemudian beliau mengutarakan ini dan itu hingga Sa’ad pun berkata, “Ya Rasulullah, maafkan dan biarkan saja mereka. Demi Rabb yang menurunkan kepadamu al-Qur’an, Allah telah datang kepadamu dengan membawa kebenaran yang diturunkan kepadamu. Penduduk perkampungan ini telah bersepakat untuk mengangkatnya sebagai pemimpin.” Mengabaikan hal itu dengan hak yang Allah berikan kemuliaan kepadamu dengan hal itu, maka begitulah ia berbuat sebagaimana yang engkau lihat, lalu Rasul pun memaafkannya.

Adalah Rasulullah dan para Sahabatnya memaafkan orang-orang musyrik dan Ahlul Kitab, sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada mereka, dan diperintahkan juga untuk bersabar atas gangguan mereka. Allah berfirman, wa latasma-‘unnal ladziina uutul kitaaba min qablikum wa minal ladziina asy-rakuu adzan katsiiran (“Dan [juga] kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelummu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati.”)

Allah juga berfirman yang artinya, “Sebagian besar Ahlul Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikankamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang [timbul] dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 109)

Nabi menafsirkan pemberian maaf yang diperintahkan Allah kepadanya itu adalah sampai Allah mengizinkan beliau mengambil tindakan terhadap mereka, dan ketika Rasulullah berjihad dalam perang Badar, lalu melalui diri beliau Allah membinasakan banyak dari tokoh-tokoh orang kafir Quraisy, maka ‘Abdullah bin Ubay bin Salul dan orang-orang yang bersamanya serta para penyembah berhala mengatakan, “Ini merupakan suatu kemenangan yang beralih.” Kemudian mereka berjanji setia (bai’at) kepada Rasulullah dan akhirnya mereka pun memeluk Islam. Dengan demikian, setiap orang yang menegakkan kebenaran atau amar ma’ruf, atau nahi munkar, pasti akan mendapatkan gangguan yang menyakitkan, yang tiada obatnya kecuali bersabar karena Allah, serta dengan memohon pertolongan kepada-Nya. Dan hanya kepada-Nya tempat kembali.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 181-184

18 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 181-184“Sekali-kali Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.’ Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh Nabi-Nabi tanpa alasan yang benar dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): ‘Rasakanlah olehmu adzab yang membakar.” (QS. Ali ‘Imraan: 181) (Adzab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya. (QS. Ali ‘Imraan: 182) (Yaitu) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang Rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami kurban yang dimakan api.” Katakanlah: “Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang Rasul sebelumku, membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Ali ‘Imraan: 183) Jika mereka mendustakankamu, maka sesungguhnya Rasul-Rasul sebelum kamupun telah didustakan (pula), mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.” (QS. Ali ‘Imraan: 184)

Sa’id bin Jubair meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ketika firman Allah berikut ini turun: man dzalladziina yuqridlullaaHa qardlan hasanan fayudlaa’ifu laHuu adl-‘aafan katsiiran (“Siapakah yang memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik [menakahkan hartanya di jalan Allah], maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.”) Maka orang-orang Yahudi berkata, “Hai Muhammad, apakah Rabb-mu itu miskin, sehingga Dia masih mencari pinjaman dari hamba-hamba-Nya?” Maka Allah pun menurunkan firman-Nya: laqad sami’allaaHu qaulal ladziina qaaluu innallaaHa faaqirun wa nahnu aghniyaa-u (“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.’”)

Dan firman-Nya, sanaktubu maa qaaluu (“Kami akan mencatat perkataan mereka itu,”) hal ini merupakan ancaman. Oleh karena itu Allah menyandingkannya dengan firman-Nya: wa qatla Humul ambiyaa-a bighairi haqqi (“Dan perbuatan mereka membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar.”) Artinya, demikian itulah ucapan mereka mengenai Allah dan inilah perlakuan mereka terhadap para Rasul-Nya. Dan atas perbuatan mereka itu, Allah akan memberikan balasan yang paling buruk.

Oleh karena itu Allah berfirman yang artinya, “Dan kami akan mengatakan (kepada mereka), Rasakanlah olehmu adzab yang membakar. (Adzab) yang demikian itu disebabkan perbuatan tanganmu sendiri dan babwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya.” Maksudnya, apa yang dikatakan kepada mereka itu merupakan teguran, celaan, penghinaan dan ejekan.

Firman-Nya yang artinya, “Yaitu orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: ‘Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang Rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami kurban yang dimakan api.” Allah berfirman dalam mendustakan mereka yang menganggap bahwa Allah telah mengambil janji dari mereka dalam kitab-kitab mereka, untuk tidak beriman kepada seorang Rasul pun, sehingga terjadi mukjizat yaitu jika ada orang dari umatnya bersedekah, lalu sedekahnya itu diterima, maka akan turun api dari langit yang melalap sedekah tersebut. Demikian yang dikatakan Ibnu ‘Abbas, al-Hasan al-Bashri dan lain-lainnya.

Allah berfirman, qul qad jaa-akum rusulum min qablii bil bayyinaati (“Katakanlah, ‘Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang Rasul sebelumku, membawa keterangan-keterangan yang nyata.’”) Yakni dengan membawa berbagai hujjah dan bukti,” wa bil ladzii qultum (“Dan membawa apa yang kamu sebutkan.”) Artinya, dengan api yang melalap kurban-kurban yang diterima. Fa lima qataltumuuHum (“Maka mengapa kamu membunuh mereka.”) Artinya, lalu mengapa kalian menyambut mereka dengan kebohongan, penentangan dan keengganan, bahkan pembunuhan terhadap mereka; in kuntum shaadiqiin (“Jika kamu orang-orang yangbenar.”) Maksud-nya, jika kalian mengikuti kebenaran dan tunduk kepada para Rasul.

Setelah itu Allah menghibur Rasul-Nya, Muhammad saw., Firman-Nya: fa in kadz-dzabuuka faqad kudz-dziba rusulum min qablika jaa-uu bil bayyinaati waz-zuburi wal kitaabil muniir (“Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya Rasul-Rasul sebelum kamu pun telah didustakan [pula], mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna,”) Artinya, janganlah kedustaan mereka terhadapmu itu melemahkanmu, karena telah ada bagimu teladan dari Rasul-Rasul sebelummu, di mana mereka telah didustakan, padahal mereka datang dengan membawa penjelasan yaitu hujjah dan bukti yang pasti.

Waz zuburi (“Dan Zabur,”) yaitu kitab yang diturunkan dari langit sebagaimana halnya Shuhuf (kitab-kitab) yang diturunkan kepada para Rasul, wal kitaabil muniir (“Dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna”) yaitu yang benar, jelas lagi nyata.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 176-180

18 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 176-180“Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka adzab yang besar. (QS. Ali ‘Imraan:176) Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-sekali mereka tidak akan dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka adzab yang pedih. (QS. Ali ‘Imraan:177) Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka adzab yang menghinakan. (QS. Ali ‘Imraan:178) Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Allah menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang di-kehendaki-Nya di antara Rasul-Rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar. (QS. Ali ‘Imraan:179) Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari Kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imraan:180)

Allah berfirman kepada Nabi-Nya: wa laa yahzunkal ladziina yusaari’uuna fil kufri (“Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir.”) Hal itu terjadi karena keinginan kuat beliau pada keimanan keseluruhan manusia, maka beliau bersedih ketika melihat orang-orang kafir segera menyelisihi, mengingkari dan menentang sehingga Allah pun berfirman, janganlah hal itu menjadikanmu sedih.

innaHum lay yadlurrullaaHa syai-an. yuriidullaaHu allaa yaj’ala laHum hadh-dhan fil aakhirati (“Sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian [dari pahala] kepada mereka di akhirat.”) Yakni, hikmah Allah terhadap mereka, bahwa melalui kehendak dan kekuasaan-Nya, Allah bermaksud agar mereka tidak mendapatkan apa-apa di akhirat kecuali adzab, wa laHum ‘adzaabun ‘adhiim (“Dan bagi mereka adzab yang besar.”)

Kemudian Allah memberitahukan dan memberikan ketegasan mengenai hal itu, Allah berfirman, innal ladziina yasytarul kufra bil iimaani (“Sesungguhnya orang orang yang menukar iman dengan kekafiran.”) Artinya, menggantinya. Lay yadlurrullaaHa syai-an (“Sekali-kali mereka tidak akan dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun.”) Bahkan sebaliknya, mereka memberi mudharat terhadap diri mereka sendiri. wa laHum ‘adzaabun ‘adhiim (“Dan bagi mereka adzab yang besar.”)

Kemudian Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka adzab yang menghinakan,” seperti firman-Nya, “Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah: 55)

Selanjutnya Allah berfirman yang artinya, “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Allah menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin).” Maksudnya, merupakan suatu keharusan adanya suatu ujian, untuk menampakkan mana yang termasuk wali-Nya dan mana yang termasuk musuh-Nya.

Dengan ujian itu akan tampaklah mana orang mukmin yang sabar dan mana orang munafik yang durhaka. Yaitu pada waktu terjadi perang Uhud, yang didalamnya Allah memberikan ujian kepada orang-orang yang beriman. Dan dari sana terlihat keimanan, kesabaran, keteguhan, dan ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan di sana pula terbukalah kedok orang-orang munafik, maka terlihatlah kedurhakaan, pembangkangan, dan keengganan orang-orang munafik untuk berjihad, serta pengkhianatan mereka kepada Allah
dan Rasul-Nya.

Mujahid berkata, “Pada saat terjadi perang Uhud itu Allah membedakan antara orang-orang mukmin dengan orang-orang munafik.” Sedangkan Qatadah berkata, “Allah membedakan mereka melalui jihad dan hijrah.”

Setelah itu Allah berfirman, wa maa kaanallaaHu liyuth-li’akum ‘alal ghaibi (“Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib.”) Arti-nya, kalian tidak akan mengetahui perkara ghaib yang Allah sembunyikan tentang makhluk-Nya sehingga Allah membedakan orang-orang mukmin dari orang-orang munafik dengan sebab-sebab yang menyingkap keadaan mereka.

Selanjutnya Allah berfirman, wa laakinnallaaHa yajtabii mir rusuliHii may yasyaa-u (“Akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara Rasul-Rasul-Nya,”) seperti firman-Nya, “(Allah adalah Rabb) yang mengetahui yang ghaib, maka Allah tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang di-ridhai-Nya. Maka sesungguhnya Allah mengadakan penjaga penjaga (Malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS. Al-Jin: 26-27)

Kemudian Allah berfirman, fa aaminuu billaaHi wa rusuliHii (“Karena itu berimanlah kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya.”) Maksudnya, taatilah Allah dan Rasul-Nya serta ikutilah apa yang telah disyari’atkan kepada kalian. Wa in tu’minuu wa tattaquu falakum ajrun ‘adhiim (“Dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.”)

Dan firman-Nya, “Janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepadamereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.” Artinya, janganlah orang bakhil mengira bahwa harta kekayaan yang ia kumpulkan bermanfaat baginya, bahkan harta itu memberikan mudharat kepadanya dalam agamanya, atau bahkan dalam kehidupan duniawinya. Selanjutnya Allah memberitahukan ihwal kesudahan harta kekayaan itu pada hari Kiamat kelak melalui firman-Nya, sayuthawwaquuna maa bakhiluu biHii yaumal qiyaamati (“Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari Kiamat.”)

Imam Bukhaari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa diberi harta kekayaan oleh Allah, lalu ia tidak menunaikan zakatnya, maka hartanya akan diperumpamakan baginya seperti seekor ular besar yang mempunyai dua taring yang akan mengalunginya pada hari Kiamat. Kemudian ular itu akan mematuknya dengan dua tulang rahangnya seraya berkata, ‘Aku adalah harta kekayaanmu, aku adalah simpananmu.”‘ Setelah itu Rasulullah membacakan ayat ini, “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak dilehernya di hari Kiamat.”

Firman Allah: wa lillaaHi miiraatsus samaawaati wal ardla (“Dan kepunyaan Allah segala warisan [yang ada] di langit dan di bumi.”) Maksudnya, dan nafkahkanlah sebagian dari harta kalian yang Allah telah menjadikan kalian menguasainya, karena tempat kembali semua perkara itu hanya kepada Allah itu, nafkahkanlah sebagian dari harta yang kalian miliki itu yang akan memberikan manfaat kepada kalian pada hari Kiamat kelak. wallaaHu bimaa ta’maluuna bashiir (“Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”) Yaitu mengetahui segala hal yang ada pada kalian, niat-niat kalian dan hati-hati kalian.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 169-175

18 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 169-175“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb-nya dengan mendapat rezeki. (QS. Ali ‘Imraan: 169) Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka. Dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka. Bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Ali ‘Imraan: 170) Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (QS. Ali ‘Imraan: 171) (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (QS. Ali ‘Imraan: 172) (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”; maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung”. (QS. Ali ‘Imraan: 173) Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Ali ‘Imraan: 174) Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imraan: 175)

Allah memberitahukan mengenai keadaan orang-orang yang mati syahid bahwa mereka itu meskipun telah mati di dunia ini, namun ruh mereka tetap hidup dan mendapat rizki di akhirat. Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dan kitab-kitab lainnya telah ditegaskan bahwa ayah Jabir, yaitu Abdullah bin ‘Amr bin Haram al-Anshari terbunuh dalam perang Uhud sebagai syahid.

Al-Bukhari meriwayatkan, Abu Walid mengatakan dari Syu’bah, dari Ibnu Munkadir, ia berkata, aku pernah mendengar Jabir berkata, ketika ayahku terbunuh, aku menangis dan membuka kain penutup wajahnya. Lalu para Sahabat Rasulullah melarangku, sedang Nabi sendiri tidak melarangku, maka beliau bersabda, “Jangan engkau menangisinya, Malaikat masih terus menaunginya dengan kedua sayapnya sehingga ia diangkat.” Al-Bukhari, Muslim, dan an-Nasa’i menyandarkan sanad kepadanya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Ketika saudara-saudara kalian mendapatkan musibah perang Uhud, Allah telah menempatkan arwah mereka dalam perut burung hijau yang mendatangi sungai-sungai di Surga, dan makan dari buah-buahannya serta kembali ke pelita yang terbuat dari emas di bawah naungan ‘Arsy. Ketika mereka mendapatkan makan dan minum mereka yang baik, mereka berkata, ‘Andai saja sahabat-sahabat kami mengetahui apa yang diperbuat oleh Allah terhadap kami niscaya mereka tidak enggan dalam berjihad dan tidak mundur dari perang.’ Maka Allah pun berfirman, ‘Aku akan menyampaikan kepada mereka mengenai keadaan kalian.’ Lalu Dia menurunkan ayat, ‘Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb-nya dengan mendapat rizki.’ Dan ayat-ayat setelah-nya.” (HR. Imam Ahmad).

Dan juga diriwayatkan Abu Dawud dan al-Hakim dari Ibnu ‘Abbas Dan ini lebih kuat. Sedang al-Hakim meriwayatkannya dalam kitab al-Mustadrak. Seolah-olah para syuhada’ itu terbagi menjadi beberapa kelompok, ada yang arwahnya berterbangan di Surga, ada juga yang berada di atas sungai-sungai di pintu Surga. Bisa diartikan perjalanan mereka berakhir sampai pada sungai tersebut. Di sana mereka berkumpul dan disana pula mereka diberi makan dan rizki serta beristirahat. Wallahu a’lam.

Dan kami telah meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Musnad Imam Ahmad, yang di dalamnya terdapat kabar gembira untuk semua orang yang beriman, bahwa arwah mereka bebas di Surga, makan dari buah-buahan yang terdapat di sana, dan di sana pula mereka merasakan kesenangan dan kebahagiaan. Selain itu arwah-arwah mereka juga menyaksikan kemuliaan yang dijanjikan Allah kepadanya.

Hadits di atas dengan isnad shahih, di dalamnya terdapat tiga orang dari empat imam. Imam Ahmad meriwayatkan dari Muhammad bin Idris asy-Syafi’i – dari Malik bin Anas al-Ashbahi dari az-Zuhri Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik, dari ayahnya, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Arwah seorang mukmin itu adalah berupa burung yang bergantung pada pohon di Surga sehingga Allah mengembalikannya ke jasadnya pada hari ia dibangkitkan.”
Sabda beliau (bergantung), maksudnya ialah makan.

Dalam hadits ini juga disebutkan: “Sesungguhnya arwah seorang mukmin itu berwujud burung di Surga.”

Sedangkan arwah para syuhada’, sebagaimana yang di sebutkan pada hadits sebelumnya, yaitu berada dalam perut burung hijau. Arwah mereka itu seperti bintang jika dibandingkan arwah orang-orang mukmin lainnya, karena itu dapat terbang. Kita berdo’a semoga Allah mematikan kita dalam keadaan beriman.

Firman-Nya yang artinya, “Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati,” Artinya, para syuhada’ yang terbunuh di jalan Allah tetap hidup di sisi Rabb mereka dan mereka merasa gembira atas kenikmatan dan kesenangan bersama saudara-saudara mereka yang terbunuh setelah mereka berjihad di jalan Allah, karena mereka dipertemukan dengan saudara-saudara mereka. Dan mereka tidak pernah takut terhadap apa yang ada di hadapan mereka dan tidak bersedih atas apa yang mereka tinggalkan. Dan kita memohon kepada Allah dimasukkan ke Surga.

Mengenai firman-Nya, wa yastabsyiruuna (“Dan mereka bergirang hati,”) Muhammad bin Ishaq berkata, maksudnya, mereka merasa senang hati bertemu dengan saudara-saudara mereka atas apa yang mereka pernah lakukan dari jihad di jalan Allah. Dan mereka berharap agar dapat bergabung menikmati pahala Allah yang diberikan kepada mereka.

As-Suddi berkata, “Orang yang mati syahid akan didatangkan sebuah kitab yang di dalamnya tercata, akan datang kepadamu si fulan pada hari ini dan ini, dan akan datang kepadamu si fulan hari ini dan ini. Maka bergembiralah dia atas kedatangannya, sebagaimana penduduk dunia bergembira ketidak hadiran mereka apabila datang.

Sa’id bin Jabir berkata, “Ketika mereka memasuki surga dan menyaksikan kemuliaan yang disediakan untuk para syuhada, mereka berkata, ‘Seandainya saudara-saudara kami yang masih hidup di dunia mengetahui kemuliaan yang kami saksikan ini, maka apabila mereka mendapati perang pasti mereka akan menyambut dengan sendirinya sehingga mereka mati syahid dan mendapatkan sebagaimana kami peroleh dari kebaikan.’ Maka Rasulullah memberitahukan tentang keadaan mereka serta kemuliaan yang mereka terima. Dan Allah memberitahukan mereka, sesungguhnya Aku telah menurunkan dan memberitahukan Nabi kalian mengenai keadaan kalian dan apa yang kalian peroleh, maka bergembiralah atas itu. Dan itulah makna firman Allah: wa yastab-syiruunal ladziina lam yalhaquu biHim min khalfiHim (“Dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka dan belum menyusul mereka.”)

Dalam kitab shahih al-Bukhari dan Muslim disebutkan sebuah hadits dari Anas bin Malik mengenai kisah 70 shahabat dari kaum Anshar di sumur Ma’unah yang terbunuh dalam waktu satu hari. Kemudian Rasulullah saw. membacakan qunut nazilah seraya mendoakan atas pembunuh serta melaknat mereka yang membunuh para shahabat beliau itu. Anas berkata, dan mengenai mereka ini diturunkan ayat yang kami baca, hingga kemudian ayat tersebut diangkat. “Sampaikanlah kepada kaum kami dari kami, sesungguhnya kami telah bertemu Rabb kami, lalu Dia ridla kepada kami dan kami pun ridla.”

Kemudian Dia berfirman: yastabsyiruuna bi ni’matim minallaaHi wa fadl-liw wa annallaaHa laa yudlii’u ajral mu’miniin (“Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.”)

Muhammad bin Ishaq berkata, mereka merasa senang hati atas dipenuhinya apa yang dijanjikan, serta pahala yang besar yang diberikan kepada mereka.

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata, “Ayat ini mencakup orang-orang mukmin secara keseluruhan, baik yang mati sebagai syuhada’ maupun yang tidak. Tidak sedikit Allah menyebutkan karunia dan pahala yang diberikan kepada para Nabi, maka Allah juga menyebutkan apa yang diberikan kepada orang-orang yang beriman setelah mereka.”

Dan firman-Nya, alladziina yastajaabuu lillaaHi war rasuuli mim ba’di maa ashaabaHumul qarh (“Yaitu orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka [dalam perang Uhud].”) Ini terjadi pada hari Hamra’ul Asad, di mana ketika orang-orang musyrik mendapatkan musibah seperti yang menimpa kaum muslimin, maka mereka berputar dan kembali pulang ke negerinya. Dan pada saat mereka meneruskan perjalanan, mereka menyesal, mengapa tidak menyerang dan membinasakan penduduk Madinah. Ketika berita itu terdengar oleh Rasulullah, maka beliau menganjurkan kaum muslimin untuk menyusul mereka guna menakut-nakuti mereka, serta memperlihatkan bahwa kaum muslimin mempunyai kekuatan dan kemampuan. Dan untuk itu, beliau tidak mengizinkan seorang pun melainkan yang pernah mengikuti peristiwa perang Uhud kecuali Jabir bin ‘Abdullah karena suatu sebab yang akan kami kemukakan nanti.

Maka kaum muslimin pun berangkat meskipun mereka dalam keadaan terluka dan letih, sebagai wujud ketaatan mereka kepada Allah danRasul-Nya.

Ibnu Abi Hatim mengatakan dari ‘Ikrimah, ia berkata, ketika orang-orang musyrik kembali dari Uhud, mereka berkata: “Bukan Muhammad yang kalian bunuh dan bukan persendian tulangnya yang kalian hantam. Alangkah buruknya apa yang kalian lakukan, maka kembalilah.” Kemudian Rasulullah mendengar hal tersebut, maka beliau pun menganjurkan kaum muslimin untuk berangkat. Dan mereka pun berangkat hingga sampai di Hamra’ul Asad yaitu sumur Abu ‘Uyainah. Maka orang-orang musyrik berkata, “Kami akan kembali tahun depan.” Lalu Allah menurunkan ayat: alladziina yastajaabuu lillaaHi war rasuuli mim ba’di maa ashaabaHumul qarhu lilladziina ahsanuu minHum wat taqau ajrun ‘adhiim (“Orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka [dalam perang Uhud]. Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.”) Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Mardawih dari Ibnu ‘Abbas.

Muhammad bin Ishaq berkata, peristiwa perang Uhud itu terjadi pada hari Sabtu, pertengahan bulan Syawal. Dan pada keesokan harinya, yaitu hari Ahad pada enam belas malam berlalu dari bulan Syawal, penyeru Rasulullah menyerukan kepada khalayak untuk mengejar musuh. Selain itu, penyeru itu juga menyerukan agar tidak seorang pun keluar bersama kami kecuali mereka yang hadir dalam perang Uhud kemarin. Kemudian Jabir bin ‘Abdullahbin ‘Amr bin Haram memberitahukan kepada Rasulullah: ‘Ya Rasulullah, ayahku mengamanatkan kepadaku untuk menjaga saudara-saudara perempuanku yang berjumlah tujuh orang’, dan ayahku berkata: ‘Hai anakku, tidak seharusnya aku dan engkau meninggalkan para wanita sendirian tanpa adanya seorang laki-laki pun di tengah-tengah mereka, dan aku bukanlah orang yang mengutamakanmu untuk berjihad bersama Rasulullah atas diriku sendiri. Tinggallah bersama saudara perempuanmu. Maka aku tinggal bersama mereka. “‘

Maka Rasulullah pun mengizinkannya, dan akhirnya ia berangkat bersama beliau. Beliau keluar dengan maksud untuk menakut-nakuti musuh dan untuk menyampaikan kepada mereka bahwa beliau keluar dengan maksud mencari mereka, agar dengan demikian mereka menduga beliau masih mempunyai kekuatan, dan apa yang menimpa beliau bersama para Sahabatnya tidak menyebabkan mereka menjadi gentar menghadapi musuh.

Muhammad bin Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Kharijah bin Zaid bin Tsabit, dari Abu Sa’ib maula ‘Aisyah binti ‘Utsman, bahwasanya ada seorang Sahabat Rasulullah dari Bani ‘Abdul Asyhal, yang ikut menyaksikan perang Uhud, ia berkata, “Kami ikut menyaksikan perang Uhud bersama Rasulullah, lalu bersama saudaraku aku pulang dalam keadaan luka. Dan ketika penyeru Rasulullah menyerukan agar keluar mencari musuh, maka kukatakan kepada saudaraku. “Apa kita harus melewatkan kesempatan berperang bersama Rasulullah?” Demi Allah, pada saat itu kami tidak memiliki binatang yang dapat dikendarai sedang kami menderita luka yang cukup parah. Namun demikian, kami tetap berangkat berperang bersama Rasulullah, ternyata aku menderita luka yang lebih ringan daripada beliau. Hingga akhirnya kami sampai di tempat kaum muslimin ber-kumpul.

Dan mengenai ayat: alladziinas tajaabuullaaHa war rasuuli (“Yaitu orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya,”) Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah. ‘Aisyah berkata kepada ‘Urwah, “Wahai putera saudara perempuanku, orang tuamu termasuk dalam golongan mereka, yaitu az-Zubair dan Abu Bakar Ketika sesuatu telah menimpa Rasulullah pada perang Uhud, dan orang-orang musyrik telah pulang meninggalkannya, beliau khawatir mereka akan kembali. Maka beliau telah bersabda, “Siapakah yang akan pergi menyusul (mengejar mereka)?” Maka tujuh puluh orang dari mereka mengajukan diri, antara lain adalah Abu Bakar dan az-Zubair.

Redaksi hadits di atas hanya diriwayatkan Imam al-Bukhari. Hadits yang sama juga diriwayatkan al-Hakim dalam Kitab al-Mustadrak. Maka Allah – menurunkan firman-Nya, alladziina yastajaabuu lillaaHi war rasuuli mim ba’di maa ashaabaHumul qarhu (“Yaitu orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka [dalam perang Uhud].”)

Lebih lanjut Muhammad bin Ishaq berkata, maka Rasulullah pun berangkat hingga sampai di Hamra’ul Asad, sebuah tempat yang jaraknya darikota Madinah 8 Mil.

Ibnu Hisyam berkata: “Rasulullah menjadikan Ibnu Ummi Maktum sebagai Amir di Madinah, beliau tinggal di Hamra’ul Asad hari Senin, Selasa dan Rabu kemudian pulang ke Madinah.”

Ibnu Hisyam berkata, telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin AbuBakar tentang Ma’bad bin Abi Ma’bad al-Khuza’i dan ketika itu suku Khuza’ahbaik yang muslim maupun yang musyrik mempunyai perjanjian setia dengan Rasulullah di Tihamah yang tidak tersembunyi sedikitpun di antara mereka. Dan Ma’bad ketika itu masih musyrik, dia berkata: “Wahai Muhammad, demi Allah sungguh berat kami atas apa yang menimpamu dan para Sahabatmu dan mudah-mudahan Allah memberikan keselamatan kepadamu.” Kemudian Ma’bad keluar dari Hamra’ul Asad sampai bertemu dengan Abu Sufyan bin Harb dan orang yang bersamanya di Rauha’. Mereka sepakat kembali menyerang Rasulullah dan para Sahabatnya. Mereka berkata: “Kami sudah melukai Muhammad dan para Sahabatnya, komandan dan pemimpinnya, kemudian kita pulang sebelum meluluh lantakkan mereka? Kami akan kembali dan menghancurkan sisa mereka.” Ketika berbicara demikian Abu Sufyan melihat Ma’bad seraya berkata: “Siapa dibelakangmu wahai Ma’bad?” “Muhammad dan para Sahabatnya mengejar kalian dengan pasukan yang sangat banyak yang aku belum pernah melihat sebanyak itu dan mereka akan membakar kamu. Telah berhimpun bersamanya orang-orang yang tertiggal pada hari pertempuran, mereka menyesal terhadapnya yang mereka perbuat, maka mereka marah terhadap kalian yang aku tidak pernah melihat marah yang seperti itu.” Abu Sufyan berkata: “Celakalah apa yang kamu katakan.” Ma’bad berkata:
“Demi Allah saya tidak melihat bahwa anda menaiki pelana sehingga anda melihat jambul-jambul kuda.” Abu Sufyan jawab: “Demi Allah kami sudah siap untuk menyerang lagi dan menghabisi mereka.” Kata Ma’bad: “Aku larang kalian, Demi Allah, apa yang aku lihat itu telah membawaku untuk mengungkapkan beberapa bait sya’ir yang menggambarkan keadaan mereka. “Apakah yang akan kau katakan itu?” Tanya Abu Sufyan. Ma’bad lalu bersya’ir:

Hampir roboh untaku, karena hiruk pikuk suara itu
Tatkala bumi mengalirkan sekawanan kuda-kuda yang berpacu
Yang membinasakan dengan para pemberani ketika, menyongsong per-tempuran
Bukan pemberani yang kerdil, bukan pula yang dungu
Aku melompat, karena mengira bumi ini miring
Ketika mereka keluar bersama pimpinan yang disegani
Kukatakan: “Celakalah putra Harb” karena peperangan dengan kalian
Saat tanah lapang penuh dengan bala tentara berkuda
Aku ingatkan dengan lantang kepada penghuni daerah banjir
Kepada setiap yang berakal dan dapat berfikir di antara mereka
Dari tentara Ahmad yang tidak sedikit dan tidak kecil
Dan yang kuingatkan ini bukanlah isu belaka

Kata Ma’bad selanjutnya: “Maka hal itu membuat Abu Sufyan dan para pengikutnya mengurungkan niat mereka.” Ketika bertemu dengan kafilah dari suku ‘Abdul Qais, Abu Sufyan berkata: “Kemana kalian hendak pergi?” Mereka menjawab: “Ke Madinah.” Ia pun bertanya lagi: “Untuk apa?” Jawab mereka: “Keperluan persediaan bahan makanan.” Abu Sufyan: “Maukah kalian mengirimkan surat yang aku kirimkan untuk Muhammad melalui kalian, dan sebagai gantinya kubawakan untuk kalian anggur keying jika kalian menemui kami di Ukazh.” Mereka menjawab: “Ya, kami setuju.” Kata Abu Sufyan lagi: “Jika kalian menemuinya, kabarkan kepadanya bahwa kami telah siap dan bertekad menyerangnya lagi untuk menghabiskan sisa-sisa pengikutnya.” Maka bertemulah kafilah dengan Rasul di Hamra’ul Asad, lalu merekapun menyebarkan dengan apa yang dikatakan Abu Sufyan dan sahabatnya. Mendengar hal itu Nabi dan para Sahabatnya menyatakan: “Hasbunallah Wani’mal Wakil.”

Ibnu Hisyam meriwayatkan dari Abu ‘Ubaidah, ia berkata, bahwa ketika sampai kepada Rasulullah berita kepulangan pasukan musyrikin Quraisy, maka beliau bersabda: “Demi Rabb yang jiwaku berada ditangan-Nya, sesungguhnya telah di panaskan bebatuan untuk mereka, jika mereka bangun pagi, niscaya nasib mereka akan menjadi seperti kemarin.”

Dan firman-Nya, Alladziina qaala laHumun naasu innan naasa qad jama’uu lakum fakhsyauHum fazaadaHum iimaanan (“Yaitu orang-orang [yang mentaati Allah dan Rasul] yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.’ Maka perkataan itu menambah keimanan mereka.”) Maksudnya, orang-orang yang diancam dengan kumpulan pasukan dan ditakut-takuti dengan banyaknya jumlah musuh tidak menjadikan mereka gentar, bahkan mereka semakin bertawakkal kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya. Dan mereka menjawab, “Cukup-lah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.

Mengenai firman-Nya ini, hasbunallaaHa wa ni’mal wakiil (“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung,”) Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, yang demikian itu juga dikatakan oleh Ibrahim as. ketika ia dilemparkan ke dalam api, dan dikatakan pula oleh Muhammad ketika orang-orang mengatakan kepada orang-orang beriman, sesungguhnya orang-orang telah berkumpul untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka. Namun hal itu justru semakin menambah keimanan mereka, merekapun berkata, “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.” Hadits tersebut juga diriwayatkan an-Nasa’i.

Dan kami juga meriwayatkan dari Ummul Mukminin Zainab dan Aisyah ra, ketika keduanya saling membanggakan diri, lalu Zainab berkata, “Allah-lah yang menikahkanku dari langit sementara kalian dinikahkan oleh wali kalian.” Sedangkan’Aisyah berkata, “Allah-lah yang menerangkan kebersihan dan kesucianku langsung dari langit dan hal itu termaktub dalam
al-Qur’an. Maka menyerahlah Zainab, lalu ia bertanya, “Apa yang anda ucapkan ketika menaiki kendaraan Shafwan bin al-Mu’aththal?” “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.” Zainab pun berkata, “Anda telah mengucapkan, ungkapan orang-orang yang beriman.”

Oleh karena itu Allah berfirman, fanqalibuu bini’matim minallaaHi wa fadl-lil lam yamsasHum suu’ (“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia [yang besar] dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa.”) Artinya, ketika mereka benar-benar bertawakkal kepada Allah yam, maka mereka pun diberikan kecukupan dari berbagai hal yang membuat mereka gelisah dan dihindarkan dari serangan orang-orang yang hendak menipunya, sehingga mereka kembali ke negerinya sendiri; bini’matim minallaaHi wa fadl-lil lam yamsasHum suu’ (“dengan nikmat dan karunia [yang besar] dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa.”) Yaitu, dari apa yang disembunyikan musuh-musuh mereka., wattaba’uu ridl-waanallaaHi wallaaHu dzuu fadl-lin ‘adhiim (“Mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”)

Setelah itu Dia berfirman, innamaa dzaalikumusy-syaithaanu yukhawwifu auliyaa-aHu (“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti [kamu] dengan
kawan-kawannya [orang-orang musyrik Quraisy].”) Maksudnya, syaitan itu menakut-nakuti kalian serta menanamkan perasaan pada diri kalian bahwa mereka memiliki kekuatan dan pengaruh.

Maka Allah swt. berfirman, falaa takhaafuuHum wa khaafuuni in kuntum mu’miniin (“Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”) Apabila kalian ditakut-takuti, maka bertawakkallah kepada-Ku, dan berlindunglah kepada-Ku, sebab cukuplah Aku sebagai Pelindung dan Penolong kalian, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah?” (QS. Az-Zumar: 36).

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 165-168

18 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 165-168“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.’ Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali ‘Imraan: 165) Dan apa yang menimpamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman. (QS. Ali ‘Imraan: 166) Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang dijalan Allah atau pertahankanlah (dirimu).’ Mereka berkata: ‘Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikutimu.’ Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (QS. Ali ‘Imraan: 167) Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: ‘Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh “. Katakanlah: ‘Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.’” (QS. Ali ‘Imraan:168)

Allah berfirman, a wa lammaa ashaabaatkum mushiibatun (“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah.”) Yaitu musibah yang menimpa kalian pada waktu perang Uhud, dengan terbunuhnya 70 orang dari kaum muslimin. Qad ashab-tum mits-laiHaa (“Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu.”) Yaitu pada perang Badar, di mana mereka (para Sahabat) berhasil membunuh 70 orang-orang musyrik dan menawan 70 orang lainnya. Kemudian kalian berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” artinya, dari mana musibah yang menimpa kami ini? Qul Huwa min ‘indi anfusikum (“Katakanlah, ‘Itu dari [kesalahan] dirimu sendiri.”)

Ibnu Abi Hatim berkata, telah menceritakan kepada kami Simak al-Hanafi Abu Zumail, telah menceritakan kepadaku Ibnu ‘Abbas, telah menceritakan kepadaku ‘Umar bin al-Khaththab, ia berkata, pada waktu perang Uhud yang terjadi setahun kemudian, (setelah perang Badar.’-) mereka diberi hukuman atas apa yang mereka perbuat pada waktu perang Badar, di mana mereka mengambil fida’ (barang tebusan) akibatnya 70 orang dari mereka (Sahabat) terbunuh, sebagian Sahabat Rasulullah melarikan diri, dan beliau sendiri mengalami tanggal gigi serinya, pecah topi baja yang ada di kepalanya dan mengalir darah dari wajahnya. Maka Allah menurunkan ayat yang artinya: “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat pada musuh-musuhmu (pada perang Badar) kamu berkata, ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah, ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Dengan pengambilan tebusan oleh kalian.

Demikianlah yang diriwayatkan Imam Ahmad dengan matan yang lebih panjang lagi. Demikian pula yang dikatakan oleh al-Hasan al-Bashri.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib, ia berkata, Jibril pernah datang kepada Nabi seraya berkata, “Hai Muhammad, sesungguhnya Allah tidak menyukai apa yang dilakukan oleh kaummu dalam mengambil (tebusan) para tawanan. Dia telah memerintahkanmu untuk memberikan dua pilihan kepada mereka (Sahabat); Mereka memenggal kepala-kepala mereka (Para tawanan), atau mereka mengambil fida’ (tebusan), tetapi sebagai akibatnya, kelak akan terbunuh di antara mereka sejumlah mereka (para tawanan yang ditebus).”

Maka Rasulullah memanggil para Sahabat dan mengingatkan hal itu kepada mereka, ketika mereka berkata, “Ya Rasulullah, demi keluarga dan saudara-saudara kami, lebih baik kita mengambil tebusan mereka sehingga akan memperkuat kita dalam memerangi musuh kita, dan kita juga dapat memantau jumlah mereka, dan dalam hal itu kami tidak memaksa.” Maka akhirnya 70 orang dari mereka (kaum muslimin) terbunuh sama dengan jumlah tawanan pada perang Badar.

Demikian yang diriwayatkan Imam an-Nasa’i dan at-Tirmidzi dari hadits Abu Dawud al-Hafri. Selanjutnya Imam at-Tirmidzi berkata hadits ini hasan gharib, kami tidak mengetahui kecuali dari Ibnu Abi Zaidah.

Mengenai firman-Nya: Qul Huwa min ‘indi anfusikum (“Katakanlah, ‘Itu dari [kesalahan] dirimu sendiri.”) Muhammad bin Ishaq, Ibnu Jarir, ar-Rabi’ bin Anas dan as-Suddi berkata, yaitu disebabkan oleh pelanggaran yang mereka lakukan terhadap perintah Rasulullah, ketika beliau memerintahkan mereka untuk tidak beranjak dari posisi mereka, namun mereka para pemanah melanggar perintah tersebut. innallaaHa ‘alaa kulli syai-in qadiir (“Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”) Artinya, Dia dapat berbuat apa saja yang Dia kehendaki serta menetapkan apa yang dikehendaki-Nya pula, tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya.

Setelah itu Allah berfirman: wa maa ashaabakum yaumal taqal jam-‘aani fa bi-idznillaaHi (“Apa yang menimpamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka [kekalahan] itu adalah dengan izin [takdir] Allah.”) Yaitu, pelarian kalian dari hadapan musuh-musuh kalian dan keberhasilan mereka membunuh dan melukai sebagian dari kalian, itu merupakan qadha dan takdir Allah. Dan pada kejadian tersebut Allah memiliki hikmah. Wa liya’lamal mu’miniin (“Dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.”) Yaitu, orang-orang yang bersabar, teguh dan tidak tergoyahkan.

“Dan supaya Allah mengetahui siapa orang- orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan, ‘Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu). ‘Mereka berkata, ‘Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikutimu.”) Yang dimaksudkan adalah para Sahabat ‘Abdullah bin Ubay bin Salul yang bersamanya mereka kembali pulang saat di tengah perjalanan, lalu mereka dijemput oleh beberapa orang-orang mukmin untuk mengajak mereka kembali membantu berperang.

Oleh karena itu, Allah berfirman: awidfa-‘uu (“Atau pertahankanlah [dirimu].”) Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, adh-Dhahhak, Abu Shalih, al-Hasan al-Bashri dan as-Suddi berkata, “Artinya, perbanyaklah jumlah kaum muslimin.” Al-Hasan bin Shalih berkata: “Pertahankanlah melalui do’a.” Sedangkan yang lainnya berkata, “Tetaplah bersiap siaga.”

Setelah itu mereka mencari alasan: lau na’lamu qitaalal lattaba’naakum (“Sekiranya kami mengetahui akan terjadinya peperangan, tentulah kami mengikutimu.”) Mujahid berkata, mereka menuturkan, “Seandainya saja kami mengetahui bahwa kalian akan berperang, niscaya kami akan ikut bersama kalian. Namun ternyata kalian tidak berperang.”

Allah berfirman: Hum lilkufri yauma-idzin aq-rabu minHum lil iimaan “Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan.”) Dengan ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa keadaan seseorang dapat berubah-ubah, bisa lebih dekat dengan kekufuran atau lebih dekat dengan keimanan. Hal itu sebagaimana yang difirmankan-Nya, “Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan.”

Selanjutnya Allah berfirman, yaquuluuna bi afwaaHiHim maa laisa fii quluubiHim (“Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya.”) Yakni mereka mengucapkan suatu perkataan tetapi mereka tidak beri’tikad terhadap kebenarannya. Di antara ucapan mereka itu adalah “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikutimu.” Mereka secara pasti telah mengetahui bahwa pasukan orang-orang musyrik telah datang dari negeri yang jauh untuk membalas dendam kepada kaum muslimin atas terbunuhnya tokoh-tokoh dan para pemuka mereka pada waktu perang Badar. Jumlah mereka beberapa lipat dari jumlah kaum muslimin, dan dipastikan di antara mereka akan terjadi perang.

Oleh karena itu Allah berfirman: wallaaHu a’lamu bimaa yaktumuun (“Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.”)

Setelah itu Allah berfirman: alladziina qaaluu li-ikhwaaniHim wa qa’aduu lau athaa’uunaa maa qutiluu (“Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang, ‘Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.’”) Artinya, seandainya mereka mendengar hasil musyawarah kita terdahulu dengan mereka, yaitu tetap tinggal di Madinah serta tidak pergi menghadapi musuh, niscaya mereka tidak akan terbunuh bersama mereka yang terbunuh.

Allah berfirman: qul fad-ra-uu an anfusikumul mauta in kuntum shaadiqiin (“Katakanlah, ‘Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang orang yang benar.’”) Jika ketidak pergian itu dapat menyelamatkan seseorang dari terbunuh dan kematian, maka seharusnya kalian juga tidak akan mati. Sedangkan kematian merupakan suatu keharusan yang pasti menjemput kalian meskipun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kuat. Maka tolaklah kematian itu dari diri kalian jika kalian adalah orang-orang yang benar.

Mujahid meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata, “Ayat ini turun sehubungan dengan ‘Abdullah bin Ubay bin Salul dan rekan-rekannya.

&