Tag Archives: almaidah

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 119-120

26 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 119-120“119. Allah berfirman: ‘Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling besar.’ 120. kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (al-Maaidah: 119-120)

Allah memberikan jawaban kepada hamba dan Rasul-Nya, ‘Isa Putra Maryam mengenai pembebasan dirinya dari kaum Nasrani yang ingkar lagi mendustakan Allah dan Rasul-Nya, dan mengenai pengembalian kehendak kepada Allah swt. mengenai mereka, maka pada saat itu Allah berfirman:
Haadzaa yaumuy yanfa’ush shaadiqiina shidquHum (“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.”)

Adh-Dhahhak mengatakan, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Yaitu hari yang mana ketauhidan orang-orang yang bertauhid bermanfaat bagi mereka.”

laHum jannaatun tajrii min tahtiHal anHaaru khaalidiina fiiHaa abadan (“Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”) maksudnya mereka akan tinggal di dalamnya dengan tidak mengalami perubahan, dan tidak pula mengalami kebinasaan, Allah ridla terhadap mereka dan merekapun ridla terhadap-Nya. hal ini sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan keridlaan Allah adalah lebih besar.” (at-Taubah: 72) dan nanti akan dikemukakan lebih lanjut hadits yang berkenaan dengan ayat ini.

Firman-Nya: dzaalikal fauzul ‘adhiim (“Itulah keberuntungan yang paling besar.”) maksudnya, inilah keberuntungan yang sangat besar yang tidak ada sesuatu pun yang lebih besar dari itu. Sebagaimana difirmankan-Nya yang artinya:
“Untuk kemenangan serupa ini, hendaklah berusaha orang-orang yang beramal.” (ash-Shaaffaat: 61)

Firman Allah selanjutnya: lillaaHi mulkus samaawaati wal ardli wa maa fiiHinna wa Huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir (“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan apa yang ada di dalamnya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”)

Maksudnya, Allah lah pencipta segala sesuatu dan juga sebagai pemiliknya, Allah lah yang mengendalikan segala sesuatu dan yang berkuasa atasnya. Dengan demikian, segala sesuatu adalah milik-Nya dan berada di bawah pemaksaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan kehendak-Nya. maka tidak ada yang dapat menandingin-Nya, tidak ada yang membantu-Nya, tidak ada pula yang setara, tidak ber-orang tua, tidak ber-anak, tidak tidak beristri; tidak ada Ilah dan Rabb [yang sebenarnya] selain Dia.

Ibnu Wahab mengatakan: “Aku pernah mendengar Huyay bin ‘Abdullah menceritakan hadits dari Abu ‘Abdurrahman al-Hibali, dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata: ‘Surah al-Qur’an yang terakhir diturunkan adalah surah al-Maaidah.’”

&

Iklan

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 109

26 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 109“109. (ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan Para Rasul lalu Allah bertanya (kepada mereka): ‘Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu?.’ Para Rasul menjawab: ‘Tidak ada pengetahuan Kami (tentang itu); Sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib.’” (al-Maaidah: 109)

Ini merupakan pemberitahuan tentang dialog Allah dengan para Rasul-Nya pada hari Kiamat, yaitu mengenai jawaban umat mereka yang telah diutus para rasul kepada mereka. sebagaimana yang difirmankan Allah yang artinya:
“Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus para Rasul kepada mereka, dan sesungguhnya Kami akan menanyai [pula] Rasul-Rasul [Kami].” (al-A’raaf: 6)

Dari Ibnu ‘Abbas: yauma yajma’ullaaHur rusula fayaquulu maa dzaa ujibtum, qaaluu laa ‘ilma lanaa, innaka anta ‘allaamul ghuyuub (“Ingatlah, hari pada waktu Allah mengumpulkan para Rasul. Lalu Allah bertanya [kepada mereka]: ‘Apa jawaban kaummu terhadap [seruan]mu ?’ Para Rasul menjawab: ‘Tidak ada pengetahuan kami [tentang itu], sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib.’”)
Mereka berkata kepada Rabb: “Tidak ada ilmu yang kami miliki, melainkan ilmu yang telah Engkau lebih mengetahuinya daripada kami.” Demikian yang diriwayatkan Ibnu Jarir, kemudian ia memilih penafsiran ini.

Tidak diragukan lagi bahwa jawaban itu merupakan ungkapan yang sangat bagus, dan ia merupakan bagian dari sopan santun berinteraksi dengan Rabb. Maksudnya: “Kami tidak mempunyai ilmu sama sekali jika dibandingkan dengan ilmu-Mu yang meliputi segala sesuatu. Meskipun kami menjawab dan mengetahui siapa yang menanggapi kami ketika di dunia, kami hanya melihat lahiriyahnya saja dan tidak mengetahui batinnya, sedangkan Engkau mengetahui segala sesuatu, yang mengawasi segala sesuatu. Dengan demikian, dibandingkan dengan ilmu-Mu, seolah-olah Kami tidak mempunyai ilmu sama sekali. Sesungguhnya: anta ‘llaamul ghuyuub (“Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghaib”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 100-102

26 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 100-102“100. Katakanlah: ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.’ 101. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. 102. Sesungguhnya telah ada segolongsn manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya.” (Al-Maaidah: 100-102)

Allah berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad saw.: Qul (“Katakanlah”) hai Muhammad: laa yastawil khabiitsu wath thayyibu wa lau a’jabaka (“Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun menarik hatimu.”) hai sekalian manusia, kats-ratul khabiits (“Banyaknya yang buruk”) yakni bahwa sesuatu yang halal lagi bermanfaat dan berjumlah sedikit adalah lebih baik bagi kalian daripada hal yang haram lagi berbahaya yang berjumlah banyak.

Fat taqullaaHa yaa ulil albaab (“Maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal”) maksudnya, hai orang-orang yang berakal yang sehat dan normal, hindari dan tinggalkanlah hal-hal yang haram, serta berpuas diri dari merasa cukuplah dengan hal-hal yang halal.
La’allakum tuflihuun (“Agar kamu mendapat keberuntungan”) yaitu di dunia dan di akhirat.

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tas-aluu ‘an asy-yaa-a in tubda lakum tasu’kum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan [kepada Muhammad] hal-hal yang tidak diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkanmu.”) hal ini merupakan pendidikan dari Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Allah melarang mereka menanyakan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi mereka. karena jika hal itu diterangkan kepada mereka, mungkin akan menyusahkan mereka, dan menjadikan orang yang mendengarnya merasa keberatan.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: Nabi berkhutbah yang belum pernah aku mendengarnya sama sekali sebelumnya, beliau bersabda: “Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”
Anas bin Malik melanjutkan: Maka para sahabat beliau menutupi wajah mereka seraya menangis. Kemudian ada seseorang yang bertanya: “Siapakah ayahku?” Beliau menjawab: “Si Fulan.” Maka turunlah ayat ini: laa yas-aluu ‘an asy-yaa-a (“Janganlah kamu menanyakan [kepada Nabi mu] hal-hal….”
(Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh Muslim, Ahmad, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i)

Mengenai firman-Nya: Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tas-aluu ‘an asy-yaa-a in tubda lakum tasu’kum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan [kepada Muhammad] hal-hal yang tidak diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkanmu.”) Ibnu Jarir mengatakan dari Qatadah: Dia menceritakan kepada kami bahwa Anas bin Malik pernah mengabarkan kepadanya: Para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw. sehingga mereka terlalu berlebihan dalam bertanya. Lalu pada suatu hari beliau menemui mereka, kemudian beliau menaiki mimbar seraya bersabda: “Tidaklah kalian bertanya kepadaku pada hari ini tentang sesuatu, melainkan aku akan menjelaskannya kepada kalian.”

Maka para sahabat Rasulullah saw merasa takut akan mendapatkan suatu perintah yang telah diturunkan. Lalu aku tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri melainkan aku melihat setiap orang menyembunyikan kepalanya di balik kainnya seraya menangis. Lalu muncullah seseorang, yang mana ia dicela dan diseru bukan dengan nama ayahnya, kemudian bertanya: “Wahai Nabiyullah [Nabi Allah], siapakah ayahku?” Beliau menjawab: “Ayahmu adalah Hudzaifah.”

Lebih lanjut Anas menceritakan, kemudian ‘Umar bangkit dan berkata: “Kami ridla Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul, dan berlindung kepada Allah –atau ia [‘Umar] mengucapkan: “Aku berlindung kepada Allah –dari keburukan fitnah.”

Selanjutnya Anas menuturkan: maka Rasulullah saw. bersabda: “Aku belum pernah sama sekali menyaksikan kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Telah digambarkan kepadaku surga dan neraka sampai aku dapat melihat keduanya tanpa dinding penghalang.”
(Dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim melalui jalan Sa’id)

Lahiriyah ayat di atas menunjukkan larangan menanyakan sesuatu, yang jika diberitahukan kepada seseorang hanya akan menjadikannya merasa kesusahan, maka yang lebih baik adalah menghindari dan meninggalkannya.

Sungguh amat baik hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabat beliau: “Janganlah ada seseorang yang menyampaikan kepadaku sesuatu tentang orang lain. Aku lebih suka menemui kalian, sementara itu hatiku dalam keadaan bersih.” (hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Firman-Nya: wa in tas-aluu ‘anHaa hiina yunazzalul qur-aanu tubda lakum (“Dan jika kamu menanyakan pada waktu al-Qur’an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu.”)
Maksudnya jika kalian menanyakan tentang sesuatu yang kalian telah dilarang untuk menanyakannya ketika diturunkan wahyu kepada Rasulullah saw, wahyu itu akan menjelaskan kepada kalian.

Kemudian Allah berfirman: ‘afallaaHu ‘anHaa (“Allah memaafkan [kamu] tentang hal-hal itu”) maksudnya hal-hal yang telah berlalu dari kalian sebelum itu. wallaaHu ghafuurun haliim (“Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang”)

Ada yang menyatakan, bahwa maksud firman Allah: wa in tas-aluu ‘anHaa hiina yunazzalul qur-aanu tubda lakum (“Dan jika kamu menanyakan pada waktu al-Qur’an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu.”) yaitu janganlah kalian menanyakan segala sesuatu yang kalian memang ingin menyegerakannya, karena mungkin dengan pertanyaan itu akan turun kepada kalian keberatan dan kesempitan.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits: “Orang Muslim yang paling besar kesalahannya adalah orang yang menanyakan tentang sesuatu yang tidak diharamkan sebelumnya, lalu menjadi haram serbab pertanyaannya tersebut.” (Muttafaq ‘alaiHi)

Tetapi jika al-Qur’an menurunkan perkara itu secara global lalu kalian menanyakan penjelasannya, pada saat itu akan dijelaskan kepada kalian. Karena kalian memang membutuhkannya.

‘afallaaHu ‘anHaa (“Allah memaafkan [kamu] tentang hal-hal itu.”) maksudnya apa-apa yang tidak Allah sebutkan di dalam kitab-Nya, adalah dari sesuatu yang Allah maafkan. Maka diamlah kalian darinya, sebagaimana Allah diam.

Disebutkan dalam hadits shahih dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda: “Janganlah kalian bertanya kepadaku mengenai apa yang aku diamkan pada kalian. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian, karena mereka banyak bertanya dan menyalahi Nabi-Nabi mereka.”

Dalam hadits shahih juga disebutkan: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya. Allah juga menetapkan beberapa batasan maka janganlah kalian melampauinya. Allah juga mengharamkan beberapa hal maka janganlah kalian melanggarnya. Dan Allah mendiamkan beberapa hal sebagai rahmat bagi kalian, bukan karena lupa, maka janganlah kalian menanyakannya.”

Setelah itu firman Allah: qad sa-alaHaa qaumum min qablikum tsumma ash-bahuu biHaa kaafiriin (“Sesungguhnya telah ada segolongan manusia sebelum kamu, menanyakan hal-hal yang serupa itu [kepada Nabi mereka], kemudian mereka tidak percaya kepadanya.”)

Maksudnya: ada suatu kaum sebelum kalian yang menanyakan hal-hal yang dilarang, lalu diberikan jawaban kepada mereka atas pertanyaan tersebut, tetapi setelah itu mereka tidak mempercayainya. Sehingga dengan demikian mereka menjadi kafir, yaitu sebab pertanyaan tersebut. Maksudnya, mereka diberi penjelasan, tetapi mereka tidak memanfaatkan hal itu karena mereka menanyakan hal itu bukan untuk mencari petunjuk, tetapi hanya sebagai bentuk keingkaran dan pembangkangan.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 96-99

26 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 96-99“96. Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. 97. Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. 98. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya dan bahwa Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 99. kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.” (al-Maa-idah: 96-99)

Dalam sebuah riwayat yang masyur, Ibnu Abbas berkata: “Yang dimaksud dengan buruan laut adalah binatang yang ditangkap dalam keadaan hidup, wa tha’aamuHuu (“dan makanan [yang berasal] dari laut.”) adalah binatang laut yang diambil dalam keadaan telah mati.” Demikian pula yang diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq, Zaid bin Tsabit, ‘Abdullah bin ‘Amr, dan Abu Ayyub al-Anshari, juga ‘Ikrimah, Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, Ibrahim an-Nakha’i dan al-Hasan al-Bashri.

Firman Allah: mataa’al lakum wa lis-sayyaarati (“Sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan.”) maksudnya sebagai sesuatu yang berguna dan makanan pokok bagi kalian, hai orang-orang yang diajak bicara.

Wa lis-sayyaarati (“Dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan.”) kata “sayyaaratun” adalah jamak dari “sayyaarun”.

Ikrimah berkata: “Yaitu bagi orang yang tinggal di sekitar laut dan juga dalam perjalanan.” Sedangkan ulama lain berkata: “Yaitu ikan laut segar bagi orang yang berburu dari kalangan penduduk sekitar laut.” Makanan laut adalah bangkai ikan atau hasil tangkapan yang digarami, dan biasanya dijadikan persediaan bekal oleh para musafir dan orang-orang yang tinggal jauh dari laut. Hal yang sama juga telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, as-Suddi, dan ulama lainnya.

Jumhur ulama telah menjadikan ayat tersebut sebagai dalil mengenai penghalalan bangkai laut, dan juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Malik bin Anas, dari Ibnu Wahab dan Ibnu Kisan, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: “Rasulullah pernah mengirim sebuah utusan menuju ke daerah pantai. Beliau mengangkat Ubaidah Ibnul Jarrah untuk memimpin mereka.

Rombongan itu terdiri dari tiga ratus orang, dan aku adalah salah satu dari mereka. maka kami pun berangkat hingga tiba di salah jalan dan kami kehabisan bekal. Lalu Abu Ubaidah memerintahkan untuk mengumpulkan semua bekal pasukan tersebut. Kemudian semuanya itu dikumpulkan dan ternyata yang terkumpul hanya kurma saja. maka Abu Ubaidah menjatahkan kepada kami setiap hari sedikit demi sedikit sampai habis, sehingga yang ada pada kami masing-masing satu butir kurma.

Kami benar-benar membutuhkan pada saat bekal telah habis. Hingga akhirnya tibalah kami di pantai, ternyata ada seekor ikan paus sebesar anak bukit. Kemudian rombongan itu memakan ikan itu selama 18 hari. Selanjutnya Ubaidah menyuruh mengambil dua potong tulang iganya, lalu dipancangkan. Setelah itu ia menyuruh rombongan itu lewat di bawah kedua tulang itu, dan ternyata tidak menyentuhnya.”

(Hadits tersebut terdapat dalam kitab ash-Shahihain melalui jalur dari Jabir)

Sedangkan di dalam Shahih Muslim disebutkan, “Setelah sampai di Madinah, kami langsung menemui Rasulullah saw. lalu kami ceritakan hal itu, maka beliau bersabda: ‘Yang demikian itu adalah rizki yang dikeluarkan Allah untuk kalian. Apakah kalian masih membawa dagingnya untuk kalian berikan kepada kami?’

Selanjutnya kami mengirimkan utusan kepada Rasulullah saw. untuk memberikan beberapa potong daging kepada beliau, maka beliau pun memakannya.”

Malik meriwayatkan dari Shafwan bin Salim, dari Sa’id bin Salamah seorang keturunan Ibnu Azraq, bahwa Mughirah bin Abu Burdah seorang keturunan Bani Abduddar pernah mendengar Abu Hurairah ra berkata: Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw., orang itu mengatakan: “Ya Rasulallah, kami pernah berlayar mengarungi lautan, dan kami hanya membawa sedikit air. Jika kami gunakan untuk berwudlu, kami akan kehausan. Apakah kami boleh berwudlu dengan air laut?” Maka Rasulullah pun menjawab: “Air [laut] itu suci, dan bangkainya pun halal.”

(Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal, serta para penulis kitab as-Sunan yang berjumlah empat orang, dan dishahihkan oleh Imam al-Bukhari, at-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan yang lainnya.)

Menurut riwayat an-Nasa’i juga Imam Ahmad dan Abu Dawud, dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: “Rasulullah saw. melarang membunuh katak.”

Ulama lainnya berpendapat: binatang buruan laut yang dapat dimakan adalah ikan, dan tidak diperbolehkan memakan katak. Lalu mereka berbeda pendapat tentang binatang selain kedua binatang di atas [ikan dan katak].

Ada juga yang berpendapat bahwa binatang selain kedua hal itu tidak boleh dimakan. Dan ada lagi yang berpendapat, apa yang serupa dengan yang boleh dimakan di darat boleh juga dimakan di laut. Dan apa saja yang serupa tidak boleh dimakan di darat tidak boleh juga dimakan di laut. Semua itu merupakan pendapat-pendapat yang ada di kalangan madzhab Syafi’i.

Adapun Abu Hanifah mengatakan, bangkai binatang laut tidak boleh dimakan, sebagaimana halnya bangkai binatang darat juga tidak boleh dimakan. Yang demikian itu berdasarkan kepada keumuman firman Allah: hurrimat ‘alaikumul maitatu (“Diharamkan bagi kamu [memakan] bangkai.”) (al-Maa-idah: 3)

Jumhur pengikut Imam Malik, Imam asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal menggunakan dalil dengan hadits tetang ikan paus yang telah dikemukakan di atas dan dengan hadits Rasulullah saw.: “Air [laut] itu suci dan bangkainya pun halal.”

Allah berfirman: wa harrama ‘alaikum shaidul barri maa dumtum huruman (“Dan diharamkan [menangkap] binatang buruan darat selama kamu dalam ihram.”) yaitu ketika kalian sedang menjalani ihram, kalian diharamkan untuk berburu. Dalam hal ini terdapat dalil yang menunjukkan pengharaman hal itu.

Jadi, jika seseorang yang berihram berburu binatang buruan dengan sengaja, ia berdosa dan harus membayar denda, atau jika membunuhnya karena kelalaian [tidak sengaja], ia harus membayar denda dan diharamkan baginya memakannya, karena baginya binatang itu adalah ibarat bangkai. Demikian halnya bagi yang lainnya dari kalangan orang-orang yang berihram dan yang tidak berihram, menurut Imam Malik dan Imam asy-Syafi’i pada salah satu dari dua pendapatnya. Dan hal itu juga dikemukakan oleh ‘Atha’, al-Qasim, Salim, Abu Yusuf, Muhammad bin al-Hasan, dan yang lainnya.

Jika ia memakannya atau sebagian darinya, apakah ia harus membayar denda yang kedua kalianya? Mengenai hal ini ada dua pendapat:

Pertama, pendapat yang menyatakan bahwa ia harus membayar denda. Abdurrazzaq mengatakan dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’: “Jika ia menyembelih, lalu memakannya, dia harus membayar dua kafarat.” Dan pendapat itu pula yang menjadi pegangan sekelompok ulama.

Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa ia tidak harus membayar denda karena memakannya. Demikian ditetapkan oleh Imam Malik bin Anas.

Abu Umar bin Abdil Barr berkata: “Pendapat ini merupakan pendapat para fuqaha kota-kota besar dan jumhur ulama.” Kemudian Abu Umar berkomentar terhadap permasalahan, jika seseorang berhubungan badan, lalu ia melakukan hubungan badan lagi, kemudian ia melakukan lagi [ketiga kalinya] sebelum diputuskan baginya hukuman, maka baginya hanya satu hukuman.

Abu Hanifah berkata: “Ia berkewajiban membayar nilai yang setara dengan apa yang ia makan.” wallaaHu a’lam.

Jika orang yang bertahallul berburu binatang buruan, lalu ia memberikannya kepada orang yang berihram, menurut Imam Malik, Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih dalam sebuah riwayat, dan jumhur ulama berpendapat: orang yang berihram itu tidak boleh memakannya. Hal ini didasarkan pada hadits ash-Sha’b bin Jas-tsamah. Dia pernah menghadiahkan seekor keledai liar kepada Nabi saw ketika beliau sedang berada di Abwa’ atau Waddan. Maka beliau mengembalikannya. Tatkala beliau melihat perubahan raut wajahnya, beliau bersabda:

“Sesungguhnya kami tidak mengembalikannya kepadamu, melainkan karena kami tengah mengerjakan ihram.”
(Hadits ini dikeluarkan di dalam ash-Shahihain, dan hadits ini mempunyai lafadz yang banyak sekali)

Para ulama berkata: “Maksud dari penolakan Nabi saw. adalah beliau menduga orang itu memburu keledai liar tersebut semata-mata untuk diberikan kepada beliau. Oleh karena itu beliau menolaknya.” Akan tetapi jika hal tersebut tidak dimaksudkan demikian, dagingnya boleh dimakan, yaitu berdasarkan hadits Abu Qatadah ketika ia berburu keledai liar, yang ketika itu ia tidak dalam keadaan berihram. Sedangkan para shahabanya tengah berihram. Maka mereka tidak langsung memakannya, tetapi mereka bertanya terlebih dahulu kepada Rasulullah saw. beliau bertanya: “Apakah ada seorang di antara kalian yang menunjukkannya, atau membantu membunuhnya?” “Tidak,” jawab mereka. Maka beliau bersabda: “Makanlah.” Rasulullah saw pun ikut memakan daging buruan itu. (kisah ini telah ditegaskan dalam ash-shahihain dengan lafadz yang banyak).

Imam Ahmad mengatakan dari Jabir bin ‘Abdillah: “Rasulullah bersabda –Qutaibah menceritakan dalam haditsnya: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Berburu binatang daratan adalah halal bagi kalian.”
Sa’id berkata: “Dan kalian dalam keadaan berikhram, selama kalian bukan orang yang memburunya, atau bukan sengaja diburu untuk kalian.”

(Hal yang sama juga diriwayatkan Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Nasa-i, yang semuanya dari Qutaibah. At-Tirmidzi mengatakan: “Kami tidak mengetahui bahwa Muththalib pernah mendengar dari Jabir.” Juga diriwayatkan Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i melalui jalan ‘Amr bin Abi ‘Amr, dari maulanya, al-Muththalib, dari Jabir. Kemudian asy-Syafi’i berkata: “Ini merupakan hadits terbaik yang diriwayatkan dalam masalah ini.”)

Malik mengatakan dari ‘Abdullah bin Abu Bakar, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Rabi’ah, ia berkata: Aku pernah melihat ‘Utsman bin ‘Affan di ‘Araj ketika ia sedang berihram saat di musim panas, dan ia menutup wajahnya dengan kain beludru berwarna ungu. Lalu ia datang dengan membawa daging binatang buruan. Kemudian ia berkata kepada para sahabatnya: “Makanlah.” Maka mereka berkata: “Apakah engkau tidak ikut makan?” Utsman menjawab: “Keadaanku tidaklah seperti kalian, sesungguhnya binatang buruan itu diburu hanya untukku.”

Allah berfirman: wat taqullaaHal ladzii ilaiHi tuhsyaruun (“Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan.”) maksudnya bertakwalah kepada Allah atas apa yang Allah larang kalian melakukannya. Yaitu yang kepada-Nya kalian akan dikumpulkan dan bukan kepada selain-Nya. Dalam penggalan ayat tersebut terdapat penekanan dan penegasan pada peringatan. Setelah itu Allah menyebutkan tentang pengumpulan dan hari kiamat sebagai tekanan pada ancaman dan peringatan.

Allah berfirman: ja’alallaaHul ka’batal baital haraama qiyaamal linnaasi wasy syaHral haraama wal Hadya wal qalaa-ida dzaalika lita’lamuu annallaaHa ya’lamu maa fis samaawaati wamaa fil ardli wa annallaaHa bikulli syai-in ‘aliim.
(“Allah telah menjadikan ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat [peribadatan dan urusan dunia] bagi manusia, dan [demikian pula] bulan Haram, hadya, dan qalaid. [Allah menjadikan yang] demikian itu agar kamu tahu bahwa –sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala sesuatu.”)

Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya bahwa Allah telah membangunkan Baitul Haram sebagai tempat ibadah, tempat berlindung, dan mencari keamanan bagi umat manusia, di sana mereka tinggal dengan penuh rasa aman. Ada yang berpendapat: di tempat itu mereka menjalankan semua syariat-Nya.

Mengenai firman-Nya: qiyaamal linnaasi (“Sebagai pusat [peribadatan dan urusan dunia] bagi manusia”) Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: “Sebagai tempat ummat untuk menjalankan agama mereka, dan sebagai syi’ar bagi haji mereka.” dari Mujahid, ia mengatakan: “Sebagai tempat beribadah bagi umat manusia.”

Disebut Ka’bah, karena ia merupakan bangunan persegi empat. Dan Baitul Haram disebut bait [rumah], karena ia mempunyai atap dan dinding, dan ia adalah hakekat rumah yang sebenarnya, meskipun tidak ada seorang pun yang menempatinya. Dan disebut “haram” karena pengharamannya oleh Allah, seperti pengharaman-Nya atas berburu binatang buruannya [di Tanah Haram] atau memotong pohonnnya.

Allah berfirman: al ka’batal baital haraama qiyaaman (“Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat [peribadatan dan urusan dunia]”) Ka’bah merupakan maf’ul [obyek] pertama bagi kata ja’ala [menjadikan]. Adapun kata al-bait [rumah] merupakan ‘athaf bayan. Adapun kata al-haram merupakan na’at [sifat] bagi kata al-bait. Dan kata qiyaman merupakan maf’ul kedua.

Dalam menafsirkan ayat ini, al-Qurthubi mengatakan: “Para ulama mengemukakan: Hikmah dijadikannya semua itu sebagai tempat ibadah bagi umat manusia, adalah manusia menciptakan manusia dengan tabiat kemanusiaan, yaitu berupa kedengkian, saling bersaing, saling memutuskan, saling membelakangi, saling merampas, menyerang, membunuh, dan balas dendam. Merupakan suatu kepastian di balik hikmah Ilahiyyah dan kehendak-Nya, bahwa barangsiapa yang selalu menjaga dirinya dari sifat-sifat tercela tersebut, kesudahannya akan terpuji.

Allah berfirman: innii jaa’ilun fil ardli khaliifatan (“Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di muka bumi”) dengan demikian Allah memerintahkan mereka untuk mendirikan kekhalifahan dan urusan mereka kepada satu orang, yang dapat menghindarkan mereka dari perselisihan dan mengarahkan mereka pada persatuan, serta menolak orang dhalim dari yang didhalimi, dan melindungi orang yang mengajukan perwakilan kepadanya.”

Ibnu Qasim meriwayatkan: Malik menceritakan kepada kami, bahwa ‘Utsman bin ‘Affan pernah berkata: “Karunia yang diberikan oleh Allah kepada seorang imam sehingga dapat berbuat adil, melebihi karunia yang Allah berikan kepada seseorang yang memahami al-Qur’an.”

Abu ‘Umar menyebutkan: “Adanya penguasa selama satu tahun dalam keadaan kacau akan lebih sedikit dampak negatifnya daripada keadaan manusia yang kacau tanpa penguasa dalam waktu sesaat.”
Lalu Allah mengadakan kekhalifahan untuk mendapatkan manfaat ini, supaya dengan demikian, semuanya dapat berjalan sesuai dengan pandangannya, dan karenanya Allah akan menjaga sikap berlebihan masyarakat. Maka Allah mengagungkan Baitul Haram di dalam hati mereka, dan memunculkan di dalam diri mereka kewibawaannya [Baitul Haram], dan mengagungkan kesuciannya di tengah-tengah mereka. orang yang berlindung kepadanya, akan terperlihara dan orang yang tertindas akan terjaga jika berada di dalamnya.

Berkenaan dengan ini Allah berfirman: awalam yaraw annaa ja’alnaa haraman aaminaw wa yutakhaththafun naasu min hauliHim (“Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan [negeri mereka] tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya saling merampok?”)(al-Ankabuut: 67). Dan Baitul Haram adalah rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia. Firman Allah yang artinya:
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia.” (Ali ‘Imraan: 96-97)

Firman Allah: wasy syaHral haraama (“Dan [demikian pula] bulan Haram”) maksudnya dan Allah menjadikan bulan Haram itu sebagai tempat perlindungan yang lain, yang memberikan rasa aman kepada umat manusia, dalam tindakan dan kehidupan mereka. dengan demikian Baitula Haram adalah perlindungan yang bersifat makani [tempat], sementara bulan Haram adalah sebagai perlindungan yang bersifat zamani [waktu]. Yang dimaksud dengan bulan Haram adalah empat bulan Haram, dan hal itu merupakan nama jenis. Allah berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya adalah empat bulan Haram.” (at-Taubah: 36)

Tiga bulan di antaranya berturut-turut: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, yang keempat adalah Rajab. Allah telah menjadikannya pada pertengahan tahun sebagai wujud kelembutan [kasih sayang-Nya] bagi semua hamba-Nya, dan pemberian rasa aman kepada mereka dalam setahun. Dengan rahmat dan kasih-sayang-Nya, Allah menciptakan “penghormatan” dan “pengagungan” pada hati dan diri manusia terhadap bulan-bulan Haram tersebut. Jiwa dan hati seseorang tidak merasa takut atau ingin membalas dendam pada bulan-bulan tersebut, sehingga ada seseorang yang bertemu dengan pembunuh ayahnya tetapi ia tidak melakukan balas dendam dan menyakiti sedikitpun.

Allah berfirman: wal Hadya wal qalaa-ida (“Dan [demikian pula] hadya dan qalaid.”) Allah telah menjadikan hadya sebagai pemberi rasa aman bagi orang yang menggiringnya. Karena menggiringnya berarti memberitahukan bahwa pelakunya itu tengah beribadah, sehingga tidak ada yang berbuat jahat kepadanya. Demikian halnya dengan pemakaian al-qalaid [kalung pada hewan kurban]. Dulu pada zaman Jahiliyyah, orang yang hendak berangkat haji mengalungi diri dengan tombak dan ketika pulang kembali ke rumah, ia mengalungi diri dengan salah satu pohon Tanah Haram. Hal tersebut diharapkan akan menghindarkannya dari pencuri atau perampok atau yang lainnya.
Hal yang sama terdapat pada pengalungan hewan kurban dan pemberian syi’ar padanya, maka hal itu memberikan rasa aman baginya. Kemudian datang Islam, maka rasa aman pun tersebar dimana-mana, dan dunia pun berjalan dengan teratur dan pada rel keadilan. Islam mengakui dan mendukung setiap kemaslahatan dan kebaikan; membasmi segala bentuk khurafat dan berbagai kebiasaan buruk. Segala puji dan karunia hanya milik Allah.

Firman Allah: dzaalika lita’lamuu annallaaHa ya’lamu maa fis samaawaati wa maa fil ardli wa annallaaHa bikulli syai-in ‘aliim (“[Allah menjadikan yang] demikian itu agar kamu tahu bahwa sesungguhnya Allah Mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala sesuatu.”)

Firman-Nya tersebut memberikan isyarat kepada dijadikannya semuanya itu sebagai tempat ibadah bagi manusia, agar kalian mengetahui bahwa Allah Ta’ala mengetahui semua urusan secara terinci, baik yang terdapat di langit maupun dibumi, dan Allah mengetahui kemaslahatan makhluk yang menghuninya. Allah Mahalembut lagi Mahamengetahui.

Firman-Nya: i’lamuu annallaaHa syadiidul ‘iqaabi wa annallaaHa ghafuurur rahiim (“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksaan-Nya, dan bahwa sesungguhnya Allah Mahapengampun Lagi Mahapenyayang.”)

Allah memberitahukan bahwa Allah memiliki siksa yang amat pedih sebagai ancaman bagi orang-orang yang suka berbuat maksiat kepada-Nya, dan mendustakan Rasul-Rasul-Nya. Selain itu, agar orang-orang yang berbuat maksiat itu tidak merasa aman akan adzab-Nya, hanya karena keluasan rahmat-Nya dan penangguhan adzab-Nya yang cukup lama.

Allah pun memberitahukan bahwa Allah Mahapengampun Lagi Mahapenyayang, sebagai pemberi harapan dan dorongan bagi orang-orang yang bertaubat kepada-Nya, menaati-Nya, membenarkan Rasul-Rasul-Nya, khususnya apa yang dibawa oleh Rasul-Nya, Muhammad saw., yang merupakan penutup para Nabi sekaligus pemimpin para Rasul.

Firman-Nya: maa ‘alar rasuuli illaal balaaghu (“Kewajiban Rasul itu tidak lain hanyalah menyampaikan”) maksudnya tidak ada kewajiban baginya untuk memberikan hidayah, taufiq maupun pahala, karena tugasnya tidak lain hanyalah menyampaikan saja, sebagaimana yang difirmankan Allah yang artinya:
“Jika mereka berpaling, maka Kami tidak mengutusmu sebagai pengawas bagi mereka. kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan [risalah].” (asy-Syuura: 48)

Dan Rasulullah saw. telah menyampaikan dan menunaikan amanah yang diembankan kepada beliau, dan sudah pula memberikan nasehat kepada umatnya. Allah berfirman yang artinya: “Maka berpalinglah kamu dari mereka, dan kamu sekali-sekali tidak tercela.” (adz-Dzaariyaat: 54)

Dalam hadits mengenai Haji Wada’, sebagaimana yang terdapat dalam riwayat Muslim dan Abu Dawud, Rasulullah saw. bersabda:
“Aku telah meninggalkan kepada kalian sesuatu, yang kalian tidak akan tersesat setelahku jika kalian berpegang teguh kepadanya, yaitu Kitabullah. Dan kalian akan ditanya mengenai diriku, maka apa yang hendak kalian katakan?” Mereka menjawab: “Kami akan bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan dan menunaikan amanat, serta memberikan nasehat.” Kemudian beliau bersabda seraya mengangkat jari telunjuk, dan mengarahkan kepada orang-orang: “[Ya] Allah saksikanlah!” sebanyak tiga kali.

Firman-Nya: wallaaHu ya’lamu maa tubduuna (“Dan Allah mengetahui apa yang kamu tampakkan.”) Yaitu yang kalian perlihatkan. Wa maa taktumuun (“Dan apa yang kamu sembunyikan”) maksudnya apa yang kalian rahasiakan di dalam hati kalian, berupa kekufuran dan yang lainnya. Dengan kata lain, tidak ada sesuatu pun dari amal kalian yang tersembunyi bagi Allah, dan Dia akan memberikan balasan atasnya. Jika baik akan diberi balasan kebaikan, dan jika buruk akan diberi balasan keburukan. Dalam penggalan ayat ini terdapat ancaman dan peringatan yang keras.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 94-95

7 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 94-95“94. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, Maka baginya azab yang pedih. 95. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, Maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi Makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya Dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. dan Barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.” (al-Maa-idah: 94-95)

Mengenai firman Allah: layabluwannakumullaaHu bisyai-im minash-shaidi tanaaluHu aidiikum wa rimaahukum (“Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu.”)

Al-Walibi mengatakan dari Ibnu Abbas: “Yaitu binatang buruan yang lemah dan masih kecil, yang dengannya Allah akan menguji hamba-hamba-Nya ketika mereka mengerjakan ihram, bahkan jika menghendaki mereka bisa menangkap binatang-binatang buruan itu dengan tangannya. Namun Allah melarang mereka dari mendekatinya.”

Mengenai firman-Nya: tanaaluHu aidiikum (“Yang mudah didapat oleh tanganmu.”) Mujahid mengatakan: “Yakni binatang-binatang buruan yang masih kecil dan masih dalam asuhan induknya. Wa rimaahukum (“Dan tombakmu”) yakni binatang-binatang buruan yang sudah besar.”

Liya’lamallaaHu may yakhaafuHu bil ghaiib (“Supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya.”) yakni Allah Ta’ala menguji mereka dengan binatang-binatang dengan buruan yang berkeliaran di sepanjang perjalanan mereka, yang memungkinkan bagi mereka menangkap dengan tangan dan dengan tombaknya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, untuk melihat ketaatan orang-orang taat dari mereka baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, sebagaimana Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (al-Mulk: 12)

Mengenai firman Allah: fa mani’tadaa ba’da dzaalika (“Barangsiapa yang melanggar batas sesudah itu.”) as-Suddi dan ulama lainnya berkata, “Yakni setelah pemberitahuan, peringatan dan penjelasan ini.” falaHuu ‘adzaabun aliim (“Maka baginya adzab yang pedih.”) yaitu, disebabkan oleh pelanggarannya terhadap perintah dan syariat-Nya.

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa taqtuluush shaida wa antum hurum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram.”) yang demikian itu merupakan pengharaman oleh Allah dalam membunuh binatang buruan ketika sedang mengerjakan ihram, dan Allah melarang orang yang sedang berihram melakukannya.

Dari segi pengertiannya, pengharaman itu mencakup binatang yang dapat dimakan meskipun anak yang dilahirkan darinya dan dari selainnya. Adapun binatang-binatang darat yang tidak dapat dimakan, maka menurut imam Syafi’i, orang yang sedang berihram boleh membunuhnya. Sebaliknya jumhur ulama sepakat untuk mengharamkan pembunuhan terhadap binatang tersebut dan tidak ada pengecualian di dalamnya kecuali apa yang ditegaskan di dalam ash-shahihain, melalui jalan az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah Ummul Mukminin, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Ada lima binatang fasik [jahat] yang boleh dibunuh, baik di tanah halal [di luar Makkah] maupun di tanah Haram [di Makkah], yaitu burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus dan anjing gila.”

Imam Malik meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ada lima binatang yang tidak berdosa bagi seseorang yang sedang berihram membunuhnya, yaitu burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus dan anjing gila.” (al-Bukhari dan Muslim mengeluarkan pula hadits ini)

Ayyub berkata: “Aku tanyakan kepada Nafi’: ‘Bagaimana dengan ular?’ Nafi’ menjawab: ‘Tidak ada keraguan lagi dalam masalah ular ini, dan tidak ada pendapat mengenai dibolehkannya membunuh ular.’”

Ada beberapa ulama seperti misalnya Malik dan Imam Ahmad yang mengelompokkan serigala, binatang buas, macan tutul, cheetah, singa, dan semua binatang buas dengan anjing gila, karena binatang-binatang itu lebih berbahaya daripada anjing gila. wallaaHu a’lam. Mereka mengatakan: jika membunuh binatang selain binatang tersebut maka ia harus membayar fidyah. Misalnya dubuk [sejenis macan tutul], musang, kelinci, dan sebangsanya. Imam Malik berkata: “Begitu pula dikecualikan dari hal itu yaitu binatang-binatang yang masih kecil dari kelima binatang di atas, dan yang mengqiyaskan dengannya.”

Imam Syafi’i berkata: “Seorang yang sedang berihram boleh membunuh semua binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya. Dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara yang masih kecil dan yang sudah besar.” Beliau menggunakan sebab yang bersifat umum, yaitu karena binatang-binatang tersebut tidak boleh dimakan.

Adapun Abu Hanifah berkata: “Seseorang yang sedang berihram boleh membunuh anjing gila dan serigala, karena itu merupakan anjing liar, maka jika ia membunuh binatang selain kedua binatang tersebut, ia harus membayar fidyah. Kecuali jika ia diserang oleh selain kedua hewan tersebut lalu ia membunuhnya. Maka tidak ada kewajiban fidyah baginya.” Ini adalah pendapat al-Auza’i dan al-Hasan bin Shalih bin Huyay.

Zufar bin Hudzail berkata: “Ia berkewajiban membayar fidyah jika membunuh selain binatang tersebut, meskipun binatang yang dibunuhnya itu menyerangnya.”

Imam Malik berkata: “Orang yang berihram tidak diperbolehkan membunuh burung gagak, kecuali jika binatang tersebut menyerang dan menyakitinya.”

Firman Allah: wa man qatalaHuu minkum muta’ammidan fajazaa-um mitslu maa qatala minan na’ami (“Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya.”) yang menjadi pendapat jumhur ulama ialah orang yang sengaja dan orang yang lalai sama dalam kewajiban membayar denda. Az-Zuhri berkata: “Ayat al-Qur’an menunjukkan terhadap orang yang sengaja, dan as-Sunnah berlaku terhadap orang yang lalai.” Makna al-Qur’an menunjukkan keharusan membayar denda bagi orang yang membunuh binatang dengan sengaja dan atas perbuatan dosanya, yaitu melalui firman-Nya:

Shiyaamal liyadzuuqa wa baala amriHii ‘afallaaHu ‘ammaa salafa wa man ‘aada fayantaqimullaaHu minHu (“Supaya ia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya.”)

Adapun sunnah Nabi saw. dan para shahabatnya datang dengan mewajibkan pembayaran denda terhadap pembunuhan yang dilakukan karena kesalahan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an terhadap pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja. Juga bahwa pembunuhan binatang buruan itu adalah sebagai bentuk pembinasaan, sedangkan pembinasaan itu mencakup kesengajaan dan kelalaian. Tetapi orang yang sengaja melakukannya berdosa, sedangkan orang yang melakukannya karena kesalahan tidak tercela.”

Firman-Nya: fa ja-zaa-um mitslu maa qatala minan na’ami (“Maka dendanya adalah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya.”) sebagian ulama membacanya dengan menggunakan idhafah (fajazaa-u mitsli) dan yang lainnya membacanya dengan ‘athaf: fajazaa-um mistlu.

Sesuai dengan kedua bacaan tersebut, terdapat dalil pada pendapat yang dipegang oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan jumhur, yaitu kewajiban membayar denda yang sebanding dengan binatang yang dibunuh oleh orang yang ihram. Hal itu jika ia mempunyai binatang jinak yang seimbang untuk itu.

Hal ini berbeda pendapat dengan Abu Hanifah, ia mewajibkan nilainya [harganya], baik denda yang dibayarkannya itu sama dengan binatang yang dibunuhnya maupun tidak. Beliau berkata: “Si pelaku diberi pilihan; jika menghendaki ia boleh menyedekahkan dengan nilai harga binatang yang dibunuhnya itu. Dan jika menghendaki, ia membeli binatang yang setara dengannya sebagai gantinya.”

Adapun kesepadanan yang ditetapkan oleh para shahabat adalah lebih pantas untuk diikuti. Mereka menetapkan denda seekor unta bagi pembunuh seekor burung unta, denda seekor sapi untuk pembunuhan terhadap seekor sapi liar, dan denda seekor kambing untuk pembunuhan kijang. Semua ketetapan para shahabat dan sanad-sanadnya telah tertulis di dalam kitab al-Ahkam. Sedangkan jika binatang buruan itu tidak ada padanannya, Ibnu ‘Abbas menetapkan dengan harga pembeliannya yang berlaku di Makkah. Demikian menurut riwayat Imam al-Baihaqi.

Firman Allah: yahkumu biHii dzawaa ‘adlim minkum (“Menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu.”) yakni, yang memutuskan denda berupa binatang yang sepadan atau denda dengan perhitungan nilai harga bagi binatang yang tidak sepadan adalah dua orang yang adil dari kaum muslimin.

Para ulama berbeda pendapat mengenai pembunuh binatang itu, apakah ia boleh jadi salah satu dari dua hakim tersebut? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Pertama, menyatakan tidak boleh, karena dimungkinkan akan membela dirinya sendiri, ini adalah pendapat Imam Malik. Kedua, menyatakan boleh, yaitu didasarkan pada keumuman pengertian ayat, ini adalah madzhab Syafi’i dan Ahmad.

Kemudian mereka berbeda pendapat, apakah pemerintah harus ikut campur dalam memutuskan segala sesuatu yang menimpa orang yang berihram sehingga harus ada dua orang hakim adil yang memutuskan masalah tersebut meskipun hal yang sama telah diputuskan oleh para shahabat, ataukah cukup hanya dengan hukum-hukum Shahabat terdahulu?

Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berkata: “Dalam hal itu mengikuti apa yang telah diputuskan oleh para shahabat.” kedua ulama ini menjadikannya sebagai syari’at baku yang tidak dapat diubah. Sebaliknya hal-hal yang belum diputuskan oleh para shahabat, maka hal itu dikembalikan kepada dua orang hakim yang adil.”

Imam Malik dan Abu Hanifah berkata: “Bahwa keputusan itu berlaku pada setiap individu, apakah hukum itu ditemukan kesamaan pada zaman shahabat atau tidak. Hal ini didasarkan pada firman Allah Ta’ala: yahkumu biHii dzawaa ‘adlim minkum (“Menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu.”)

Firman Allah: Hadyam baalighal ka’bati (“Sebagai hadya yang dibawa sampai ke Ka’bah”) maksudnya binatang kurban itu dibawa sampai ke Ka’bah. Yakni kurban itu sampai ke Tanah Haram untuk disembelih di sana, dan dagingnya dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin yang terdapat di Tanah Haram tersebut. Yang demikian itu merupakan sesuatu hal yang telah disepakati.

Firman Allah: au kaffaaratu tha’aami masaakiina au ‘adlu dzaalika syiyaaman (“Atau [dendanya] membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu.”) Maksudnya jika seseorang yang berihram itu tidak mendapatkan binatang buruan itu tidak ada padanannya.

[Maksud kata] “atau” menurut kami dalam hal ini bermakna memberi pilihan antara denda, memberi makan dan berpuasa. Seperti halnya pendapat Malik, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad bin al-Hasan, dan salah satu pendapat Imam Syafi’i, serta pendapat yang mahsyur adalah pendapat yang dikemukakan oleh Imam Ahmad. Hal ini didasarkan pada lahiriyah kata “au” [atau] yang dimaksudkan sebagai pemberian pilihan.

Sedangkan pendapat lain menyatakan bahwa kata “au” itu sebagai urutan. Gambarannya adalah, hendaknya ia memulai dengan memperhitungkan nilai, atau harga binatang yang dibunuh. Demikian menurut Imam Malik, Abu Hanifah dan para shahabatnya, Hamad, dan Ibrahim.

Asy-Syafi’i berkata: “Jika ada yang sepadan dengan binatang yang dibunuh itu, boleh diperhitungkan harganya kemudian dibelikan makanan, selanjutnya disedekahkan, yaitu diberikan kepada masing-masing orang miskin satu mud.” Demikian menurut Imam Syafi’i, Imam Malik, para fuqaha Hijaz, dan menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Abu Hanifah dan para shahabatnya berpendapat, kepada masing-masing orang miskin diberi dua mud. Pendapat yang terakhir ini juga merupakan pendapat Mujahid. Imam Ahmad berkata: “Satu mud dari biji gandum atau dua mud dari yang lainnya. Jika ia tidak mendapatkannya, -atau kami katakan dengan memilih- ia harus berpuasa sebagai ganti atas pemberian makan kepada setiap satu orang miskin satu hari.”

Ibnu Jarir berkata: “Para ulama lainnya mengemukakan: ‘Ia harus berpuasa untuk menggantikan setiap satu sha’ makanan, satu hari.’ Sebab Rasulullah saw. pernah memerintahkan Ka’ab bin ‘Ujrah untuk membagikan makanan sebanyak satu faraq kepada enam orang miskin, atau berpuasa selama tiga hari, satu faraq sama dengan tiga sha’.”

Mereka berbeda pendapat mengenai tempat pemberian makanan. Asy-Syafi’i berkata: “Tempatnya adalah [di] Tanah Haram.” Dan hal ini merupakan pendapat ‘Atha’. Imam Malik berkata: “Pemberian makanan itu dilakukan di tempat pembunuhan binatang tersebut.” Abu Hanifah berkata: “Jika ia menghendaki, ia boleh memberikan makanan di Tanah Haram, dan jika ia mau, ia boleh melakukannya di tempat yang lain.”

Firman Allah: liyadzuuqa wa baala amriHi (“Supaya ia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya.”) maksudnya, Kami [Allah] wajibkan kepadanya membayar kafarat supaya ia merasakan hukuman atas perbuatannya tersebut yang melanggar ketentuan.

‘afallaaHu ‘ammaa salafa (“Allah telah memaafkan apa yang telah lalu”) yaitu pada zaman jahiliyah bagi orang yang baik keislamannya, dan mengikuti syariat Allah, serta tidak berbuat maksiat.

Firman Allah: wa man ‘aada fayantaqimullaaHu minHu (“Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya.”) maksudnya barangsiapa yang melakukan hal itu setelah diharamkan di dalam Islam dan setelah hukum syariat sampai kepadanya; fayantaqimullaaHu minHu wallaaHu ‘aziizun dzuntiqaam (“niscaya Allah akan menyiksanya. Alllah Mahakuasa lagi mempunyai [kekuasaan untuk] menyiksa.”)

Jumhur ulama salaf dan khalaf berpendapat: jika orang yang berihram itu membunuh binatang buruan, maka ia wajib membayar denda, tidak ada perbedaan antara denda memberi ganti yang setimpal, memberi makan orang miskin, atau berpuasa, sekalipun pelanggaran itu dilakukan berulang-ulang, baik pembunuhan itu dilakukan karena faktor kesalahan maupun karena faktor kesengajaan.

Mengenai firman Allah: wallaaHu ‘aziizun dzuntiqaam (“Allah Mahakuasa lagi mempunyai [kekuasaan untuk] menyiksa.”) Ibnu Jarir berkata: “Allah berfirman bahwa Allah Mahakokoh dalam kekuasaan-Nya. Tidak ada yang dapat memaksa-Nya, dan tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi-Nya untuk memberi siksaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan tidak pula seorang pun mampu menghindarkan diri dari siksa-Nya, jika Dia telah menghendaki, karena semua makhluk yang ada ini adalah ciptaan-Nya, semua perintah [syariat] hanya milik-Nya, Dia lah yang mempunyai kemuliaan dan keperkasaan.”

Allah berfirman: dzuntiqaam (“Mempunyai [kekuasaan untuk] menyiksa.”) maksudnya Allah mempunyai kemampuan untuk memberi siksaan kepada orang-orang yang mendurhakai-Nya, atas pelanggarannya itu.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 90-93

7 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 90-93“90. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. 91. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). 92. dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. jika kamu berpaling, Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. 93. tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka Makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (al-Maa-idah: 90-93)

Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman meminum khamr dan bermain judi. Diriwayatkan dari Amirul Mu’minin ‘Ali bin Abi Thalib ra, bahwa ia pernah berkata, “Catur itu termasuk dari permainan judi.” Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Az-Zuhri mengatakan dari al-A’raj: “Yang disebut al-maisir adalah pelemparan anak panah yang taruhannya berupa harta dan buah-buahan.”

Al-Qasim bin Muhammad berkata, “Segala sesuatu yang menjadikan lupa mengingat Allah dan shalat, yang demikian termasuk maisir.” Sepertinya yang dimaksud dengan hal ini adalah permainan dadu yang disebutkan di dalam Shahih Muslim, dari Buraidah bin al-Hushaib al-Aslami; Rasulullah saw. bersabda:
“Baransiapa bermain dadu, seakan-akan ia mencelupkan tangannya ke dalam daging babi dan darahnya.”

Adapun dalam l-Muwaththa’ Imam Malik, Musnad Imam Ahmad, Sunan Abi Dawud, dan Sunan Ibni Majah, diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“Baransiapa bermain dadu, berarti ia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Mengenai permainan catur, ‘Abdullah bin ‘Umar pernah mengatakan: “Catur itu lebih buruk dari pada permainan dadu.” Pengharaman catur ini telah ditegaskan oleh Imam Malik, Abu Hanifah dan Ahmad. Adapun Imam asy-Syafi’i hanya memakruhkannya.

Mengenai al-Anshaab, Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Atha’, Sa’id bin Jubair, al-Hasan, dan ulama lainnya berkata: “Yaitu batu-batu yang menjadi tempat mereka menyembelih kurban-kurban mereka.” sedangkan mengenai al-azlam, mereka berkata: “Yaitu anak panah yang mereka pergunakan untuk mengundi nasib.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim)

Allah berfirman: rijsum min ‘amalisy syaithaani (“Adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan”) Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu Abbas: “Yaitu perbuatan yang dimurkai, termasuk perbuatan setan.” Said bin Jubair berkata, “Yaitu perbuatan dosa.” Dan Zaid bin Aslam berkata: “Yaitu perbuatan jahat, merupakan perbuatan setan.”

fajtanibuuHu (“Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu.”) Dhamir [kata ganti] tersebut kembali kepada kata ar-rijsu. Maksudnya adalah tinggalkanlah. La’allakum tuflihuun (“agar kamu mendapat keberuntungan.”) hal ini merupakan targhib /dorongan/anjuran.

Innamaa yuriidusy syaithaanu ay yuuqi’a bainakumul ‘adaawata wal baghdlaa-a fil khamri wal maisiri wa yashuddakum ‘an dzikrillaaHi wa ‘anish shalaati faHal antum muntaHuun (“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran [meminum] khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat. Maka berhentilah kamu [dari mengerjakan perbuatan itu].”) ayat ini merupakan ancaman dan targhib /peringatan.

BEBERAPA HADITS TENTANG PENGHARAMAN KHAMR

Di dalam ash-shahihain telah diriwayatkan, dari Umar bin al-Khaththab, bahwa ia pernah berkata dalam khutbahnya di atas mimbar Rasulullah saw.: “Hai sekalian manusia, sesungguhnya telah turun ayat yang mengharamkan khamr, yaitu yang terbuat dari lima hal: anggur, kurma, madu, biji gandum, dan gandum. Dan khamr adalah minuman yang dapat menutupi akal.”

Abu Dawud ath-Thayalisi mengatakan, “Aku pernah mendengar Ibnu Umar berkata: ‘Mengenai minuman khamr, telah turun tiga ayat, yang pertama adalah: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi.” (al-Baqarah: 219). Kemudian dikatakan: ‘Khamr telah diharamkan.’ Kemudian mereka mengatakan, ‘Ya Rasulallah, biarkanlah kami memanfaatkannya seperti yang telah difirmankan Allah.’ Maka Rasulullah saw. diam, lalu turunlah ayat ini: “Janganlah kamu mendekati shalat, sementara kamu dalam keadaan mabuk.’ (an-Nisaa’: 43). Kemudian dikatakan: ‘Khamr telah diharamkan.’ Maka mereka berkata, ‘Ya Rasulallah, sesungguhnya kami tidak meminumnya bila dekat dengan waktu shalat.’ Maka Rasulullah saw. diam, lalu turunlah ayat:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu innamal khamru wal maisiru wal anshaabu wal azlaamu rijsum min ‘amalisy syaithaani fajtanibuuHu (“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamr, berjudi, [berkorban untuk] berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji yang termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu.’”) selanjutnya Rasulullah saw. bersabda: ‘Khamr telah diharamkan.’”

Imam Ahmad mengatakan dari al-Qa’qa’ bin Hakim, bahwa Abdurrahman bin Wa’lah berkata: aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang jual beli khamr, maka ia berkata: Rasulullah saw. pernah mempunyai seorang teman dari Tsaqif atau dari suku Daus. Ia menemui beliau pada hari penaklukan kota Makkah dengan membawa segelas khamr yang dihadiahkan kepada beliau, maka beliau pun bersabda:

“Hai Fulan, tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah telah mengharamkannya?” Kemudian orang itu menoleh kepada anaknya seraya berkata, “Pergi dan juallah khamr ini.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Hai Fulan, apa yang engkau perintahkan kepadanya?” Ia menjawab, “Aku perintahkan ia untuk menjualnya.” Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya apa yang diharamkan meminumnya diharamkan pula menjualnya.” Kemudian beliau menyuruhnya untuk membuang khamr itu. Maka ia pun membuangnya di gundukan pasir.

(HR Muslim, melalui jalur Ibnu Wahb, dari Malik. Juga diriwayatkan an-Nasa’i)

Imam Ahmad berkata dari Abu Tha’mah maula mereka, dan dari Abdurrahman al-Ghafiqi, keduanya pernah mendengar Ibnu Umar berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Khamr itu dilaknat dari sepuluh segi: wujud khamr itu sendiri, peminumnya, orang yang memberikan minum dengan khamr tersebut [menyuguhkan], penjualnya, pembelinya, pemerasnya [penadah] dan orang yang memakan uang hasil jualannya.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi mengatakan, dari Sa’ad: “Mengenai minuman khamr telah turun empat ayat.” Kemudian ia menyebutkan hadits tersebut. Ia mengatakan, “Ada seorang Anshar yang menyuguhkan makanan, lalu ia mengundang kami, selanjutnya kami meminum khamr sebelum khamr itu diharamkan, sehingga kami mabuk, dan kami berbangga-bangga. Lalu orang-orang Anshar itu berkata, “Kami yang paling baik.” Dan kaum Quraisy berkata, “Kami yang lebih baik.” Kemudian seseorang dari kaum Anshar mengambil tulang rahang unta [kambing] dan dipukulkannya ke hidung Sa’ad sehingga hidung Sa’ad terluka. Maka turunlah ayat:

innamal khamru wal maisiru … faHal antum muntaHuun (“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya [meminum] khamr, berjudi…… maka berhentilah kamu [dari mengerjakan perbuatan itu.”)

(Dikeluarkan oleh Muslim)

Imam asy-Syafi’i mengatakan: Malik memberitahu kami, dari Nafi’ dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa minum khamr di dunia, lalu ia tidak bertaubat darinya, maka khamr itu diharamkan baginya kelak di akhirat.” (Dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits Malik)

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Ibnu Umar ra, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap yang memabukkan itu haram. Barangsiapa meminum khamr lalu meninggal, sedang ia dalam keadaan kecanduan meminumnya, dan ia juga tidak bertaubat darinya, maka ia tidak akan meminumnya kelak di akhirat.”

Dalam kitab ash-shahihain disebutkan, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Tidaklah seorang pezina itu ketika melakukan zina sebagai seorang Mukmin [yang sempurna imannya], tidak pula seorang pencuri ketika mencuri sebagai seorang yang Mukmin [yang sempurna imannya], dan tidaklah peminum khamr ketika meminum khamr sebagai seorang Mukmin [yang sempurna imannya].”

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Setelah khamr diharamkan, ada beberapa orang berkata, ‘Ya Rasulallah, bagaimana dengan shahabat-shahabat kami yang meninggal dunia, sedang mereka meminum khamr?’ Maka Allah menurunkan ayat:

Laisa ‘alal ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati junaahun fiimaa tha’imuu… (“Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang shalih karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu….”)

Dan ketika arah kiblat diubah, ada beberapa orang berkata, “Ya Rasulallah, bagaimana dengan saudara-saudara kami yang meninggal dunia sedang mereka mengerjakan shalat menghadap ke Baitul Maqdis?” Maka Allah menurunkan firman-Nya: “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.” (al-Baqarah: 143)

Al-‘Amasy ra mengatakan, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah saw. bersabda ketika turun ayat: Laisa ‘alal ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati junaahun fiimaa tha’imuu idzaa mat taquu wa aamanuu (“Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang shalih karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertaqwa serta beriman.”)
Dikatakan kepadaku: “Engkau termasuk golongan mereka.”
(Demikianlah yang diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 89

7 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 89“Allah tidak menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah kalianyang tidak dimaksud (untuk bersumpah) , tetapi Dia menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah yang kalian sengaja, maka kifarat (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan (jenis pertengahan) yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kifaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kifarat sumpah-sumpah kalian bila kalian bersumpah (dan kalian langgar). Dan jagalah sumpah kalian. Demikianlah Allah menerangkan kepada kalian hukum-hukum-Nya agar kalian bersyukur (kepadaNya).” (Al-Maa-idah ayat 89)

Dalam pembahasan yang lalu telah diterangkan masalah bermain-main dalam sumpah, yaitu dalam surat Al Baqarah, sehingga tidak perlu diulangi lagi dalam pembahasan ini. Pada garis besarnya sumpah yang main-main ialah perkataan seorang lelaki yang menyangkut makna sumpah tanpa disengaja, misalnya, “Tidak, demi Allah.” dan “Benar, demi Allah.” Demikianlah menurut mazhab Imam Syafi’i.

Menurut pendapat lain, bermain-main dalam sumpah ialah sumpah seseorang yang dilakukan dalam omongan yang mengandung seloroh (gurauan); menurut pendapat yang lain dalam masalah maksiat. Menurut pendapat yang lain lagi atas dasar dugaan kuat, pendapat ini dikatakan oleh Abu Hanifah dan Imam Ahmad. Menurut pendapat yang lainnya adalah sumpah yang dilakukan dalam keadaan marah. Sedangkan menurut pendapat yang lainnya atas dasar lupa. Dan menurut pendapat yang lainnya lagi yaitu sumpah yang menyangkut masalah meninggalkan makan, minum dan pakaian, serta lain-lainnya yang semisal, dengan berdalilkan firman Allah Swt.:

laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum (“janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian.”) (AlMaidah: 87)

Tetapi pendapat yang benar ialah yang mengatakan bahwa sumpah yang main-main ialah yang diutarakan tanpa sengaja, dengan berdalilkan firman Allah Swt. yang mengatakan:

Wa laakiy yu-aakhidzukum bimaa ‘aqadtumum aimaan (“Tetapi Dia menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah yang kalian sengaja.”) (Al Maidah: 89) Yakni sumpah yang kalian tekadkan dan sengaja kalian lakukan.

Fa kaffaaratuHuu ith’aamu ‘asyarati masaakiina (“Maka kifarat [melanggar] sumpah itu ialah memberi makan sepuluhorang miskin. (Al Maidah: 89)

Yakni orang-orang yang membutuhkan pertolongan dari kalangan orang-orang miskin dan orang-orang yang tidak dapat menemukan apa yang mencukupi penghidupannya.

Firman Allah Swt:

Min ausathi maa tuth’imuuna aHliikum (“Yaitu dari makanan [jenis pertengahan] yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian. (Al-Maidah: 89)

Ibnu Abbas, Sa’id ibnu Jubair, dan Ikrimah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah dari standar jenis makanan yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian. Menurut Ata al-Khurasani, makna yang dimaksud ialah makanan yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar, dari Hajjaj, dari Abu Ishaq As Subai’i, dari Al-Haris, dari Ali yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah roti dan air susu, atau roti dan minyak samin.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A’la secara qiraat (bacaan), telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Sulaiman (yakni Ibnu Abui Mughirah), dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sebagian orang ada yang memberi nafkah keluarganya dengan makanan pokok yang berkualitas rendah, ada pula yang memberi makan keluarganya dengan makanan pokok yang berkualitas tinggi. Maka Allah Swt. berfirman:

Min ausathi maa tuth’imuuna aHliikum (“Yaitu dari makanan [jenis pertengahan] yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian. (Al-Maidah: 89) Yakni berupa roti dan minyak.

Abu Sa’id Al-Asyaj mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami lsrail, dari Jabir, dari Amir, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

Min ausathi maa tuth’imuuna aHliikum (“Yaitu dari makanan [jenis pertengahan] yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian. (Al-Maidah: 89) Yakni dari jenis pertengahan antara jenis yang biasa dikonsumsi oleh orang-orang miskin dan oleh orang-orang kaya mereka.

Telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Khalaf Al Himsi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Syu’aib (yakni Ibnu Syabur), dan telah menceritakan kepada kami Syaiban ibnu Abdur Rahman At Tamimi, dari Lais ibnu Abu Sulaim, dari Asim AI-Ahwal, dari seorang lelaki yang dikenal dengan nama Abdur Rahman At-Tamimi, dari Ibnu Umar ra. sehubungan dengan firmanNya:

Min ausathi maa tuth’imuuna aHliikum (“Yaitu dari makanan [jenis pertengahan] yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian. (Al-Maidah: 89) Yakni berupa roti dan daging, atau roti dan samin, atau roti dan susu, atau roti dan minyak, atau roti dan cuka.

Dan telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Harb Al-Mausuli, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Asim, dari Ibnu Sirin, dari Ibnu Umar sehubungan dengan firman-Nya:

Min ausathi maa tuth’imuuna aHliikum (“Yaitu dari makanan [jenis pertengahan] yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian. (Al-Maidah: 89) Yakni roti dan samin atau roti dan susu, atau roti dan minyak atau roti dan kurma. Makanan yang paling utama kalian berikan kepada keluarga kalian ialah roti dan daging.

Atsar yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Hannad dan Ibnu Waki’, keduanya dari Abu Mu’ awiyah. Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ubaidah dan Al-Aswad, Syuraih Al-Qadi, Muhammad ibnu Sirin, Al-Hasan Ad-Dahhak serta Abu Razin, semuanya mengatakan hal yang semisal.

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan pula atsar yang sama dari Makhul.

Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan sehubungan dengan makna firmanNya:

Min ausathi maa tuth’imuuna aHliikum (“Yaitu dari makanan [jenis pertengahan] yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian. (Al-Maidah: 89)

Bahwa makna yang dimaksud ialah menyangkut sedikit dan banyaknya makanan tersebut. Kemudian para ulama berbeda pendapat mengenai standar jumlah yang biasa diberikan kepada keluarga. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al Ahmar, dari Hajjaj, dari Husain Al-Harisi, dari Asy-Sya’bi , dari Al-Haris, dari Ali r.a. sehubungan dengan firmanNya:

Min ausathi maa tuth’imuuna aHliikum (“Yaitu dari makanan [jenis pertengahan] yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian. (Al-Maidah: 89) Yakni makanan yang biasa ia berikan untuk makan siang dan makan malam keluarganya.

Al-Hasan dan Muhammad ibnu Sirin mengatakan, orang yang bersangkutan cukup memberi makan sepuluh orang miskin sekali makan, berupa roti dan daging. Al-Hasan menambahkan bahwa jika ia tidak menemukan daging, maka cukup dengan roti, minyak samin, dan susu; jika ia tidak menemukannya , maka cukup dengan roti, minyak, dan cuka hingga mereka merasa kenyang.

Ulama yang lain mengatakan, orang yang bersangkutan memberi makan setiap orang dari sepuluh or ang itu setengah sha’ jewawut atau buah kurma atau lainnya. Pendapat ini dikatakan oleh Umar, Siti Aisyah, Mujahid, Asy-Sya’bi , Sa’id ibnu Jubair, Ibrahim An-Nakha’i, Maimun Ibnu Mahran, Abu Malik, Ad-Dahhak, Al-Hakam, Makhul, Abu Qilabah, dan Muqatil ibnu Hayyan.

Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, jumlah makanan yang diberikan kepada tiap orang ialah setengah sa’ jewawut atau satu sa’ makanan jenis lainnya.

Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnul Hasan As-Saqafi, telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnul Hasan ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Ziad ibnu Abdullah ibnu at Tufail ibnu Sakhbirah (anak lelaki saudara seibu Siti Aisyah), telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Ya’la, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abba s yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah membayar kifarat dengan satu sa’ buah kurma, dan beliau Saw. memerintahkan kepada orang-orang supaya melakukan hal yang sama. Barang siapa yang tidak menemukan buah kurma, maka dengan setengah sa’ jewawut.

Ibnu Majah meriwayatkannya dari Al Abbas ibnu Yazid, dari Ziyad ibnu Abdullah Al-Bakka, dari Umar ibnu Abdullah ibnu Ya’la As-Saqafi, dari Al-Minhal ibnu Amr dengan sanad yang sama. Tetapi hadis ini tidak sahih, mengingat keadaan Umar ibnu Abdullah, karena dia telah disepakati akan kedaifannya. Menurut mereka, Uma r ibnu Abdullah ini sering minum khamr. Menurut Imam Daruqutni, Umar ibnu Abdullah hadisnya tidak terpakai.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris, dari Daud (yakni Ibnu Abu Hindun), dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa yang dimaksud ialah satu mud makanan berupa jewawut —yakni bagi tiap-tiap orang miskin — disertai lauk pauknya.

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, Zaid ibnu Sabit, Sa’id ibnul Musayyab, Ata, Ikrimah, Abusy Sya’sa, Al-Qasim, Salim, Abu Salamah ibnu Abdur Rahman, Sulaiman ibnu Yasar, Al-Hasan, Muhammad ibnu Sirin, dan Az-Zuhri hal yang semisal.

Imam Syafii mengatakan bahwa hal yang diwajibkan dalam kifarat sumpah ialah satu mud berdasarkan ukuran mud yang dipakai oleh Nabi Saw. untuk tiap orang miskin, tanpa memakai lauk pauk. Imam Syafii mengatakan demikian dengan berdalilkan perintah Nabi Saw. kepada seseorang yang menyetubuhi istrinya di siang hari Ramadan. Nabi Saw memerintahkannya untuk memberi makan enam puluh orang miskin dari tempat penyimpanan makanan yang berisikan lima belas sa’, untuk tiap-tiap orang dari mereka kebagian satu mud.

Di dalam hadis lain hal itu disebutkan dengan jelas. Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ali Ibnul Hasan Al Muqri, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu lshaq As Siraj, telah menceritakan kepada kami Qutaibah ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami An-Nadr ibnu Zurarah Al-Kufi, dari Abdullah ibnu Umar Al-Umari, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Saw. menetapkan standar takaran kifarat sumpah dengan memakai takaran mud pertama, makanan yang ditakarnya berupa gandum.

Sanad hadis ini daif karena keadaan An-Nadr ibnu Zurarah ibnu Abdul Akram Az Zuhali AlKufi yang tinggal di Balakh. Abu Hatim Ar-Razi mengatakan bahwa dia adalah orang yang tidak dikenal, padahal bukan hanya seorang yang telah mengambil riwayat hadis darinya. Tetapi Ibnu Hibban menyebutnya di antara orang-orang yang tsiqah. Ibnu Hibban mengatakan, telah mengambil riwayat darinya Qutaibah ibnu Sa’id banyak hal yang benar. Kemudian gurunya yang bernama Al-Umari orangnya daif pula.

Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan bahwa hal yang diwajibkan ialah satu mud jewawut atau dua mud jenis makanan lainnya.

Firman Allah Swt.: au kiswatuHum (“atau memberi pakaian kepada mereka.”) (Al Maidah: 89)

Imam Syafii rahimahullah mengatakan, “Seandainya orang yang bersangkutan menyerahkan kepada tiap-tiap orang dari sepuluh orang miskin itu sesuatu yang dinamakan pakaian, baik berupa ghamis, celana, kain sarung, kain sorban, ataupun kerudung, maka hal itu sudah cukup baginya.”

Tetapi murid-murid Imam Syafii berbeda pendapat mengenai masalah peci, apakah peci di anggap mencukupi atau tidak; ada dua pendapat mengenainya di kalangan mereka. Di antara mereka ada yang membolehkannya; karena berdasarkan riwayat yang diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Sa’i d Al-Asyaj dan Ammar ibnu Khalid Al Wasiti, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Al Qasim ibnu Malik, dari Muhammad ibnuz Zubair, dari ayahnya yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Imran ibnul Husain mengenai firman-Nya:

au kiswatuHum (“atau memberi pakaian kepada mereka.”) (Al Maidah: 89)

Imran ibnul Husain r.a. menjawab, “Seandainya ada suatu delegasi datang kepada amir kalian, lalu amir kalian memakaikan kepada tiap orang dari mereka sebuah peci, maka tentu kalian akan mengatakan bahwa mereka telah diberi pakaian.”

Akan tetapi, sanad riwayat ini daif karena keadaan Muhammad ibnuz Zubair.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Syekh Abu Hamid Al Isfirayini dalam masalah khuff (kaos kaki yang terbuat dari kulit), ada dua pendapat mengenainya. Hanya saja pendapat yang benar mengatakan tidak mencukupi.

Imam Malik dan Imam Ahma d ibnu Hambal mengatakan bahwa hal yang diserahkan kepada masing-masing mereka harus berupa pakaian yang sah dipakai untuk salat seorang laki-laki atau seorang wanita, masing-masing disesuaikan dengan keperluannya.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa pakaian itu ialah sebuah baju ‘abayah atau baju jas bagi tiap-tiap orang miskin.

Mujahid mengatakan bahwa minimalnya adalah sebuah baju, sedangkan maksimalnya menurut kehendak orang yang bersangkutan.

Lais telah meriwayatkan dari Mujahid bahwa dianggap cukup dalam kifarat sumpah segala jenis pakaian, kecuali celana pendek.

Al-Hasan, Abu Ja’far AlBaqir, Ata, Tawus , Ibrahim An-Nakha’i, Hammad ibnu Abu Sulaiman, dan Abu Malik mengatakan bahwa setiap orang miskin cukup diberi sebuah baju. Dari Ibrahim An-Nakha’i disebutkan pula pakaian yang menutupi, seperti baju jas dan baju luar; tetapi ia beranggapan tidak mencukupi pakaian yang berupa kaos, baju ghamis, dan kain kerudung serta lain-lainnya yang sejenis.

Al-Ansari telah meriwayatkan dari Asy’as, dari Ibnu Sirin dan Al-Hasan, bahwa yang mencukupi adalah masing-masing orang diberi satu setel pakaian.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Sa’id ibnul Musayyab, bahwa cukup dengan kain sorban yang dililitkan di kepala atau baju ‘abayah yang dipakai sebagai baju luar.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hannad, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, dari Asim Al-Ahwal, dari Ibnu Sirin, dari Abu Musa, bahwa ia pernah mengucapkan sumpah atas sesuatu (lalu ia melanggarnya), maka ia memberi pakaian berupa satu setel pakaian (untuk tiap orang miskin) buatan Bahrain.

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Ma’la, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ayyasy, dari Muqatil ibnu Sulaiman, dari Abu Usman, dari Abu Iyad, dari Aisyah, dari Rasulullah Saw. sehubungan dengan firman Allah Swt.:

au kiswatuHum (“atau memberi pakaian kepada mereka.”) (Al Maidah: 89)

Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Baju ‘abayah untuk tiap orang miskin.” (Hadis ini berpredikat garib.)

Firman Allah Swt.: au tahriiru raqabatin (“atau memerdekakan seorang budak.”) (Al-Maidah: 89)

Imam Abu Hanifah menyimpulkan makna mutlak dari ayat ini. Untuk itu, ia mengatakan bahwa dianggap cukup memerdekakan budak yang kafir, sebagaimana dianggap cukup memerdekakan budak yang mukmin.

Imam Syafii dan lain-lainnya mengatakan, diharuskan memerdekakan seorang budak yang mukmin. Imam Syafii menyimpulkan ikatan mukmin ini dari kifarat membunuh, karena adanya kesamaan dalam hal yang mewajibkan memerdekakan budak, sekalipun latar belakangnya berbeda.

Disimpulkan pula dari hadis Mu’awiyah ibnul Hakam As Sulami yang ada di dalam kitab Muwatta’ Imam Malik, Musnad Imam Syafii, dan Sahih Muslim. Di dalamnya disebutkan Mu’awiyah terkena suatu sanksi yang mengharuskan dia memerdekakan seorang budak, lalu ia datang kepada Nabi Saw. dengan membawa seorang budak perempuan berkulit hitam, maka Rasulullah Saw. bertanya kepadanya:

“Di manakah Allah? “la menjawab, “Di atas.” Nabi Saw. bertanya, “Siapakah aku ini?” la menjawab, “Utusan Allah. ” Rasulullah Saw. bersabda, “Merdekakanlah dia, sesungguhnya dia adalah seorang yang mukmin.”

Demikianlah tiga perkara dalam masalah kifarat sumpah; mana saja di antaranya yang dilakukan oleh si pelanggar sumpah, dinilai cukup menurut kesepakatan semuanya. Sanksi ini dimulai dengan yang paling mudah, memberi makan lebih mudah daripada memberi pakaian, sebagaimana memberi pakaian lebih mudah daripada memerdekakan budak. Dalam hal ini sanksi menaik, dari yang mudah sampai yang berat.

Dan jika orang yang bersangkutan tidak mampu melakukan salah satu dari ketiga perkara tersebut, hendaklah ia menebus sumpahnya dengan puasa selama tiga hari, seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman yang selanjutnya, yaitu:

Fa mal lam yajid fashiyaamu tsalaatsati ayyaam (“Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kifaratnya puasa selama tiga hari.”) (AlMaidah: 89)

Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Sa’id ibnu Jubair dan Al-Hasan Al Basri. Mereka mengatakan bahwa barang siapa yang memiliki tiga dirham, dia harus memberi makan; dan jika ia tidak memilikinya, maka ia harus puasa (sebagai kifarat sumpahnya ).

Ibnu Jarir menceritakan pendapat sebagian ahli fiqih masanya, bahwa orang yang tidak mempunyai lebihan dari modal yang dipakainya untuk keperluan penghidupannya diperbolehkan melakukan puasa sebagai kifarat sumpahnya. Orang yang tidak mempunyai lebihan dari modal itu dalam jumlah yang cukup diperbolehkan pula melakukan puasa untuk membayar kifarat sumpahnya.

Tetapi Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa yang diperbolehkan melakukan puasa itu adalah orang yang tidak mempunyai lebihan dari penghidupan untuk dirinya dan keluarganya pada hari itu dalam juml ah yang cukup untuk menutupi kifarat sumpahnya.

Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah apakah puasa itu wajib dilakukan berturut-turut ataukah hanya sunat, dan dianggap cukupkah melakukannya secara terpisah-pisah?

Ada dua pendapat mengenainya, salah satunya mengatakan tidak wajib berturut-turut. Hal ini disebutkan oleh imam syafi’i dalam kitab al-Iman. Dan hal ini merupakan pendapat Imam Malik, berdasarkan kepada keumuman firman Allah: fashiyaamu tsalaatsati ayyaamin (“Maka kafaratnya puasa selama tiga hari.”) yaitu mencakup puas yang dilakukan secara berturut-turut dan mencakup pula secara berselang-seling, seperti halnya pada qadla’ puasa Ramadlan, sebagaimana firman-Nya: fa ‘iddatum min ayyaamin ukhara (“Maka [wajib baginya berpuasa] sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”)

Di tempat yang lain dalam kitab al-Umm, Imam Syafi’i menetapkan keharusan mengerjakan puasa itu berturut-turut, sebagaimana halnya dengan pendapat para penganut madzhab Hanafi dan madzhab Hambali, karena telah diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab dan yang lainnya, bahwa mereka membacanya: fashiyaamu tsalaatsati ayyaamim mutataabi’aatin (“Maka berpuasalah tiga hari secara berturut-turut.”)

Firman Allah: dzaalika kaffaaratun aimaanikum idzaa halaftum (“Yang demikian itu adalah kafarah sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah [dan kamu langgar].”) yakni inilah kafarat sumpah yang disyariatkan. Wah fadhuu aimaanakum (“Dan jagalah sumpahmu.”) Ibnu Jarir berkata, “Artinya, janganlah kalian meninggalkan sumpah-sumpah kalian ini tanpa adanya kafarat. Kadzaalika yubayyinullaaHu lakum aayaatiHi (“Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya.”) maksudnya, menjelaskan dan menafsirkannya. La’allakum tasykuruun (“Agar kamu bersyukur [kepada-Nya]”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 87-88

10 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 87-88“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian, dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepada kalian, dan bertakwalah kepada Allah yang kalian beriman kepada-Nya.” (Al-Maa-idah ayat 87-88)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari ibnu Abbas, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan segolongan orang dari sahabat Nabi Saw. yang mengatakan, “Kita kebiri diri kita, tinggalkan nafsu syahwat duniawi dan mengembara di muka bumi seperti yang dilakukan oleh para rahib di mas a lalu.”

Ketika berita tersebut sampai kepada Nabi Saw., maka beliau mengirimkan utusan untuk menanyakan hal tersebut kepada mereka. Mereka menjawab, “Benar.” Maka Nabi Saw. bersabda:

“Tetapi aku puasa, berbuka, salat, tidur, dan menikahi wanita. Maka barang siapa yang mengamalkan sunnahku (tuntunanku), berarti dia termasuk golonganku; dan barang siapa yang tidak mengamalkan sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku.” (Riwayat Ibnu Abu Hatim)

Ibnu Murdawa ih telah meriwayatkan melalui jalur Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, hal yang semisal. Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Siti Aisyah r.a. bahwa pernah ada segolongan orang dari kalangan sahabat Rasulullah Saw. bertanya kepada istri-istri Nabi Saw. tentang amal perbuatan Nabi Saw. yang bersifat pribadi. Maka sebagian dari para sahabat itu ada yang menyangkal, “Kalau aku tidak makan daging.” Sebagian yang lain mengatakan, “Aku tidak akan mengawini wanita.” Dan sebagian lagi mengatakan, “Aku tidak tidur di atas kasur. “Ketika hal itu sampai kepada Nabi Saw., maka beliau bersabda:

“Apakah gerangan yang dialami oleh kaum, seseorang dari mereka mengatakan anu dan anu, tetapi aku puasa, berbuka, tidur, bangun, makan daging, dan kawin dengan wanita. Maka barang siapa yang tidak suka dengan sunnah (tuntunan)ku. maka dia bukan dari golonganku.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isam Al-Ansari, telah menceritakan kepada kami Abu Asim Ad-Dahhak ibnu Mukhallad , dari Usman (yakni Ibnu Sa’id), telah menceritakan kepadaku Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepada Nabi Saw., lalu lelaki itu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku apabila makan daging ini, maka berahiku terhadap wanita memuncak, dan sesungguhnya aku sekarang mengharamkan daging atas diriku.” Maka turunlah firman-Nya:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. (Al Maidah: 87)

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Imam Ibnu Jarir, keduanya dari Amr ibnu Ali Al-Fallas, dari Abu Asim An-Nabil dengan sanad yang sama. Menurut Imam Turmuzi hadis ini hasan garib.

Telah diriwayatkan pula melalui jalur lain secara mursal, dan telah diriwayatkan secara mauquf pada Ibnu Abbas .

Sufyan As-Sauri dan Waki’ mengatakan bahwa Ismail ibnu Abu Khalid telah meriwayatkan dari Qais ibnu Abu Hazim, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang menceritakan: “Kami pernah berperang bersama Nabi Saw., sedangkan kami tidak membawa wanita. Maka kami berkata, ‘Sebaiknya kita kebiri saja diri kita.’ Tetapi Rasulullah Saw. melarang kami melakukannya dan memberikan rukhsah (kemurahan) bagi kami untuk mengawini wanita dengan maskawin berupa pakaian, dalam jangka waktu yang ditentukan. “Kemudi an Abdullah ibnu Mas’ud membacakan firman-Nya:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. (Al Maidah: 87) hingga akhir ayat.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Ismail. Peristiwa ini terjadi sebelum nikah mut’ah diharamkan.

Al-A’masy telah meriwayatkan dari Ibrahim, dari Hammam ibnul Haris, dari Amr ibnu Syurahbil yang menceritakan bahwa Ma’qal ibnu Muqarrin datang kepada Abdullah ibnu Mas’ud, lalu Ma’qal berkata, “Sesungguhnya aku sekarang telah mengharamkan tempat tidurku (yakni tidak mau tidur di kasur lagi)” Maka Abdullah ibnu Mas’ud membacakan firman-Nya:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. (Al Maidah: 87) hingga akhir ayat.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Mansur, dari Abud Duha, dari Masruq yang menceritakan, “Ketika kami sedang berada di rumah Abdullah ibnu Mas’ud, maka disuguhkan kepadanya air susu perahan. Lalu ada seorang lelaki (dari para hadirin) yang menjauh. Abdullah ibnu Mas’ud berkata kepadanya, ‘Mendekatlah.’ Lelaki itu berkata, ‘Sesungguhnya aku telah mengharamkan diriku meminumnya.’ Abdullah ibnu Mas’ud berkata, ‘Mendekatlah dan minumlah, dan bayarlah kifarat sumpahmu,’ lalu Abdullah ibnu Mas’ud membacakan firmanNya:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. (Al Maidah: 87) hingga akhir ayat.

Keduanya diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Imam Hakim telah meriwayatkan atsar yang terakhir ini di dalam kitab Mustadraknya melalui jalur Ishaq ibnu Rahawaih, dari Jarir, dari Mansur dengan sanad yang sama. Kemudi an Imam Hakim mengatakan bahwa atsar ini sahih dengan syarat Syaikhain (Bukhari dan Muslim), tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Hisyam ibnu Sa’d, bahwa Zaid ibnu Aslam pernah menceritakan kepadanya bahwa Abdullah ibnu Rawwahah kedatangan tamu dari kalangan keluarganya di saat ia sedang berada di rumah Nabi Saw. Kemudian ia pulang ke rumah dan menjumpai keluarganya masih belum menjamu tamu mereka karena menunggu kedatangannya.

Maka ia berkata kepada istrinya, “Engkau tahan tamuku karena aku, makanan ini haram bagiku.” Istrinya mengatakan, “Makanan ini haram bagiku.” Tamunya pun mengatakan, “Makanan ini haram bagiku.” Ketika Abdullah ibnu Rawwahah melihat reaksi tersebut, maka ia meletakkan tangannya (memungut makanan) dan berkata, “Makanlah dengan menyebut nama Allah.” Lalu Abdullah ibnu Rawwahah pergi menemui Nabi Saw. dan menceritakan apa yang ia alami bersama mereka. Kemudi an Allah Swt. menurunkan firmanNya:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. (Al Maidah: 87) Asar ini berpredikat munqati’.

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan kisah Abu Bakar As-Siddiq bersama tamu-tamunya yang isinya serupa dengan kisah di atas.

Berangkat dari makna kisah ini, ada sebagian ulama—seperti Imam Syafi’i dan lain-lainnya— yang mengatakan: barangsiapa mengharamkan suatu makanan atau pakaian atau yang lainnya kecuali wanita, maka hal itu tidak haram baginya dan tidak ada kifarat atas orang yang bersangkutan (bila melanggarnya), karena Allah Swt. telah berfirman:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. (Al Maidah: 87)

Demikian pula apabila seseorang mengharamkan daging atas dirinya, seperti yang disebutkan pada hadits di atas, Nabi saw. tidak memerintahkan kepadanya untuk membayar kifarat.

Ulama lainnya —antara lain Imam Ahmad ibnu Hambal—berpendapat bahwa orang yang mengharamkan sesuatu makanan atau minuman atau pakaian atau yang lainnya diwajibkan membaya r kifarat sumpah.

Begitu pula apabila seseorang be r sumpah akan meninggalkan sesuatu, maka ia pun dikenakan sanksi begitu ia mengharamkannya atas dirinya, sebagai hukuman atas apa yang telah ditetapkannya. Seperti yang telah difatwakan oleh Ibnu Abbas, dan seperti yang terdapat di dalam firmanNya yang artinya:

“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (AtTahrim: 1)

Kemudian dalam ayat selanjutnya disebutkan:
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpah kalian.” (AtTahrim: 2), hingga akhir ayat.

Demikian pula dalam surat ini, setelah disebutkan hukum ini, lalu diiringi dengan ayat yang menerangkan tentang kifarat sumpah. Maka hal ini menunjukkan bahwa masalah yang sedang kita bahas sama kedudukannya dengan kasus sumpah dalam hal wajib membayar kifarat.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, dari Ibnu Juraij, dari Mujahid yang menceritakan bahwa ada segolongan kaum laki-laki –antara lain Usman ibnu Maz’un dan Abdullah ibnu Amr— bermaksud melakukan tabattul (membaktikan seluruh hidupnya untuk ibadah) dan mengebiri diri mereka serta memakai pakaian yang kasar. Maka turunlah ayat ini sampai dengan firmanNya:

wattaqullaaHal ladzii antum biHii mu’minuun (“dan bertakwalah kepada Allah yang kalian beriman kepada-Nya.” (Al-Maidah: 88)

Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ikrimah, bahwa Usman ibnu Maz’un, Ali ibnu Abu Talib, Ibnu Mas’ud, dan Al-Miqdad ibnul Aswad serta Salim maula Abu Huzaifah bersama sahabat lainnya melakukan tabattul, lalu mereka tinggal di rumahnya masing-masing, memisahkan diri dari istri-istri mereka, memakai pakaian kasar, dan mengharamkan atas diri mereka makanan dan pakaian yang dihalalkan kecuali makanan dan pakaian yang biasa dimakan dan dipakai oleh para pengembara dari kaum Bani Israil. Mereka pun bertekad mengebiri diri mereka serta sepakat untuk giyamul lail dan puasa pada siang harinya. Maka turunlah firmanNya:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum, wa laa ta’taduu innallaaHa laa yuhibbul mu’tadiin (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al Maidah: 87)

Dengan kata lain, janganlah kalian berjalan bukan pada jalan tuntunan kaum muslim. Yang dimaksud ialah hal-hal yang diharamkan oleh mereka atas diri mereka -yaitu wanita, makanan, dan pakaian—serta apa yang telah mereka sepakati untuk melakukannya, yaitu salat qiyamul lail sepanjang malam, puasa pada siang harinya, dan tekad mereka untuk mengebiri diri sendiri.

Setelah ayat ini diturunkan berkenaan dengan mereka, maka Rasulullah Saw. mengirimkan utusannya untuk memanggil mereka, lalu beliau Saw. bersabda:

“Sesungguhnya kalian mempunyai kewajiban atas diri kalian, dan kalian mempunyai kewajiban atas mata kalian. Berpuasalah dan berbukalah, salatlah dan tidurlah, maka bukan termasuk golongan kami orang yang meninggalkan sunnah kami.”

Mereka berkata, “Ya Allah, kami tunduk dan patuh kepada apa yang telah Engkau turunkan.”

Kisah ini disebutkan pula oleh bukan hanya seorang dari kalangan tabi’in secara mursal, dan mempunyai bukti yang menguatkannya di dalam kitab Sahihain melalui riwayat Siti Aisyah Ummul Muminin, seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Asbat telah meriwayatkan dari As-Saddi sehubungan dengan firman-Nya:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum, wa laa ta’taduu innallaaHa laa yuhibbul mu’tadiin (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al Maidah: 87)

Pada awal mulanya terjadi di suatu hari ketika Rasulullah Saw. sedang duduk dan memberikan peringatan kepada orang-orang yang hadir, kemudian pergi dan tidak melanjutkan perintahnya lagi kepada mereka. Maka segolongan dari sahabat-sahabatnya yang berjumlah sepuluh orang —antara lain Ali ibnu Abu Talib dan Usman ibnu Maz’un —mengatakan, “Apakah yang akan kita peroleh jika kita tidak melakukan amal perbuatan? Karena sesungguhnya dahulu orang-orang Nasrani mengharamkan atas diri mereka banyak hal, maka kita pun harus berbuat hal yang sama.”

Sebagian dari mereka ada yang mengharamkan atas dirinya makan daging, makanan wadak, dan makan pada siang hari; ada yang mengharamkan tidur, ada pula yang mengharamkan wanita (istri).

Tersebutlah bahwa Usman ibnu Maz’un termasuk orang yang mengharamkan wanita atas dirinya. Sejak saat itu dia tidak lagi mendekati istri-istrinya, dan mereka pun tidak berani mendekatinya. Lalu istri Usman ibnu Maz’un datang kepada Siti Aisyah r.a. Istri Usman ibnu Maz’un dikenal dengan nama panggilan Khaula. Siti Aisyah dan istri Nabi Saw. yang lainnya bertanya kepada Khaula, “Apakah yang engkau alami, hai Khaula, sehingga penampilanmu berubah, tidak merapikan rambutmu, dan tidak memakai wewangian?” Khaula menjawab, “Bagaimana aku merapikan rambut dan memakai wewangian, sedangkan suamiku tidak menggauliku lagi dan tidak pernah membuka pakaianku sejak beberapa lama ini.”

Maka semua istri Nabi Saw. tertawa mendengar jawaban Khaula. Saat itu masuklah Rasulullah Saw., sedangkan mereka dalam keadaan tertawa, maka beliau bertanya, “Apakah yang menyebabkan kalian tertawa?” Siti Aisyah menjawab, “Wahai Rasulullah, saya bertanya kepada Khaula tentang keadaannya yang berubah. Lalu ia menjawab bahwa suaminya sudah sekian lama tidak pernah membuka pakaiannya (menggaulinya).”

Lalu Rasulullah Saw. mengirimkan utusan untuk memanggil suaminya, dan beliau bersabda, “Hai Usman, ada apa denganmu?” Usman ibnu Maz’un menjawab, “Sesungguhnya aku tidak menggaulinya lagi agar dapat menggunakan seluruh waktuku untuk ibadah.” Lalu ia menceritakan duduk perkaranya kepada Nabi Saw. Usman menyebutkan pula bahwa dirinya telah bertekad untuk mengebiri dirinya.

Mendengar pengakuannya itu Rasulullah Saw. bersabda, “Aku bersumpah kepadamu, kamu harus kembali kepada istrimu dan menggaulinya.” Usman ibnu Maz’un menjawab, “Wahai Rasulullah, sekarang aku sedang puasa.” Rasulullah Saw. bersabda, “Kamu harus berbuka.” Ma ka Usman berbuka dan menyetubuhi istrinya.

Khaula kembali kepada Siti Aisyah dalam keadaan telah merapikan rambutnya, memakai celak mata dan wewangian. Maka Siti Aisyah tersenyum dan berkata, “Mengapa engkau, hai Khaula ?” Khaula menjawab bahwa suaminya telah menggaulinya kembali kemarin. Dan Rasulullah Saw. bersabda:

“Apakah gerangan yang telah dilakukan oleh banyak orang; mereka mengharamkan wanita, makanan, dan tidur. Ingatlah, sesungguhnya aku tidur, berbuka, puasa, dan menikahi wanita. Barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku.”

Lalu turunlah firmanNya:

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum, wa laa ta’taduu (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. dan janganlah kalian melampaui batas.” (Al Maidah: 87)

Seakan-akan ayat ini mengatakan kepada Usman, “Janganlah kamu mengebiri dirimu, karena sesungguhnya perbuatan itu merupakan perbuatan melampaui batas.” Dan Allah memerintahkan kepada mereka agar membayar kifarat sumpahnya. Untuk itu Allah Swt. berfirman yang artinya:

“Allah tidak menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah kalian yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah yang kalian sengaja.” (Al-Maidah: 89)

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Firman Allah Swt.: wa laa ta’taduu (“dan janganlah kalian melampaui batas.”) (Al Maidah: 87)
Makna yang dimaksud dapat diinterpretasikan sebagai berikut: Janganlah kalian belebih-lebihan dalam mempersempit kalian dengan mengharamkan hal-hal yang diperbolehkan bagi kalian. Demikianlah menurut pendapat sebagian ulama Salaf.

Dapat pula diinterpretasikan: Sebagaimana kalian tidak boleh mengharamkan yang halal, maka jangan pula kalian melampaui batas dalam memakai dan mengkonsumsi yang halal, melainkan ambillah darinya sesuai dengan keperluan dan kecukupan kalian, janganlah kalian melampaui batas. Seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat yang lain, yang artinya:

“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.” (al-A’raf: 31), hingga akhir ayat.

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Al-Furqan: 67)

Allah Swt. mensyariatkan sikap pertengahan antara yang berlebihan dan yang kikir dalam bernafkah, yakni tidak boleh melampaui batas, tidak boleh pula menguranginya. Dalam surat ini disebutkan oleh firmanNya:

laa tuharrimuu thayyibaati maa ahallallaaHu lakum, wa laa ta’taduu innallaaHa laa yuhibbul mu’tadiin (“janganlah kalian haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al Maidah: 87)

Kemudian dalam ayat selanjurnya Allah Swt. berfirman: wa kuluu mimmaa razaqakumullaaHu halaalan thayyiban (“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telak rezekikan kepada kalian.”) (Al Maidah: 88) Yakni keadaan rezeki itu halal lagi baik.

Wat taqullaaHa (“dan bertakwalah kepada Allah”) (Al Maidah: 88)
Yakni dalam semua urusan kalian, ikutilah jalan taat kepada Nya dan yang diridai-Nya serta tinggalkanlah jalan yang menentang-Nya dan yang durhaka terhadap-Nya.

Alladzii antum biHii mu’minuun (“Yang kalian beriman kepada-Nya”) (AlMaidah: 88)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 83-86

10 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 83-86“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkankebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad Saw.). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?’ Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedangkan mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orangyang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya). Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka.” (Al-Maa-idah: 83-86)

Selanjutnya Allah menyebutkan sifat mereka yang lain, yaitu taat kepada kebenaran dan mengikutinya serta menyadarinya. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

Wa idzaa sami’uu maa unzila ilaa rasuuli taraa a’yunaHum tafiidlu minad dam’i mimmaa ‘arafuu minal haqqi (“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul [Muhammad], kalian lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran [Al-Qur’an] yang telah mereka ketahui [dari kitab-kitab mereka sendiri]”) (al-Maa-idah: 83)

Yakni melalui apa yang terdapat di dalam kitab mereka menyangkut berita gembira akan datangnya seorang rasul, yaitu Nabi Muhammad Saw.

Yaquuluuna rabbanaa aamannaa faktubnaa ma’asy syaaHidiin (“seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi [atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad Saw]’”.) (Al-Maidah: 83)

Yakni bersama orang-orang yang menjadi saksi atas kebenarannya dan yang beriman kepadanya.

Imam Nasai telah meriwayatkan dari Amr ibnu Ali Al-Fallas, dari Umar ibnu Ali ibnu Miqdam, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Abdullah ibnuz Zubair yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Raja Najasyi dan teman-temannya, yaitu firman Allah Swt.:

Wa idzaa sami’uu maa unzila ilaa rasuuli taraa a’yunaHum tafiidlu minad dam’i mimmaa ‘arafuu minal haqqi Yaquuluuna rabbanaa aamannaa faktubnaa ma’asy syaaHidiin (“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul [Muhammad], kalian lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran [Al-Qur’an] yang telah mereka ketahui [dari kitab-kitab mereka sendiri] seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi [atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad Saw]’”.) (Al-Maidah: 83)

Ibnu Abu Hatim, Ibnu Murdawaih, dan imam Hakim di dalam kitab Mustadraknya telah meriwayatkan melalui jalur Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah Swt.:

faktubnaa ma’asy syaaHidiin (“maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi”.) Yakni bersama Nabi Muhammad Saw. dan umatnya adalah orang-orang yang menjadi saksi. Mereka mempersaksikan terhadap Nabi Saw. bahwa Nabi Saw. telah menyampaikan risalahnya, juga mempersaksikan terhadap para rasul, bahwa mereka telah menyampaikan risalah.

Kemudian Imam Hakim berkata, “Sanad hadis ini sahih, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.”

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Syubail (yaitu Abdullah ibnu Abdur Rahman ibnu Waqid), telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnul Fadl, dari Abdul Jabbar ibnu Na fi’ Ad-Dabbi, dari Qatadah dan Ja’far ibnu Iyas, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman Allah Swt.:

Wa idzaa sami’uu maa unzila ilaa rasuuli taraa a’yunaHum tafiidlu minad dam’i (“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul [Muhammad], kalian lihat mata mereka mencucurkan air mata.”) (Al-Maidah: 83)

Ibnu Abbas mengatakan, mereka adalah para petani yang tiba bersama Ja’far ibnu Abu Talib dari negeri Habsyah. Ketika Rasulullah Saw. membacakan Al Qur’an kepada mereka, lalu mereka beriman, dan air mata mereka bercucuran. Maka Rasulullah Saw. bersabda:
“Barangkali apabila kalian kembali ke tanah air kalian, maka kalian akan berpindah ke agama kalian lagi.” Mereka menjawab, “Kami tidak akan pindah dari agama kami sekarang.”

Perkataan mereka disitir oleh Allah Swt. melalui wahyu yang diturunkanNya, yaitu:
Wa maa lanaa laa nu’minu billaaHi wa maa jaa-anaa minal haqqi, wa nath-ma’u ay yudkhilanaa rabbunaa ma’al qaumish shaalihiin (“Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?”) (Al Maidah: 84)

Golongan orang-orang Nasrani inilah yang disebutkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya yang artinya:

“Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka, sedangkan mereka berendah hati kepada Allah.” (Ali Imran:199), hingga akhir ayat.

“Orang-orang yang telah kami datangkan kepada mereka Al-Kitab sebelumnya Al-Our’an, mereka beriman (pula) dengan Al-Qur’an itu. Dan apabila dibacakan (Al-Qur’an itu) kepada mereka, mereka berkata, ‘Kami beriman kepadanya, sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkannya” (AlQasas: 52-53)

sampai dengan firman-Nya yang artinya:
“…kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” (Al-Qasas: 55)

Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

fa atsaabaHumullaaHu bimaa qaaluu jannaatin tajrii min tahtiHal anHaaru (“Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan [yaitu] surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.”) (Al Maidah: 85)

Yakni Allah membalas mereka sebagai pahala atas iman mereka, kepercayaan dan pengakuan mereka kepada perkara yang hak, yaitu berupa:
jannaatin tajrii min tahtiHal anHaaru (“surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.”) (Al Maidah: 85)

Yakni mereka tinggal di dalam surga untuk selamanya, tidak akan pindah dan tidak akan fana.

Wa dzaalika jazaa-ul muhsiniin (“Dan itulah balasan [bagi] orang-orang yang berbuat kebaikan.”) (al-Maa-idah: 85)

Yakni karena mereka mengikuti perkara yang hak dan taat kepadanya di manapun perkara yang hak ada dan kapan saja serta dengan siapa pun, mereka tetap berpegang kepada perkara yang hak.

Selanjutnya Allah menceritakan perihal orang-orang yang celaka melalui firman-Nya:

Wal ladziina kafaruu wa kadzdzabuu bi aayaatinaa (“Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami.” (Al-Maidah: 86)
Yakni ingkar kepada ayat-ayat Allah dan menentangnya.
Ulaa-ika ash-haabul jahiim (“mereka itulah penghuni neraka”) (Al Maidah: 86)
Yakni mereka adalah ahli neraka yang akan masuk ke dalamnya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 82

10 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa-idah (Hidangan)
Surah Madaniyyah; surah ke 5: 120 ayat

tulisan arab alquran surat al maidah ayat 82“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.’ Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (al-Maa-idah: 82)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan An-Najasyi dan teman-temannya, yaitu ketika Ja’far ibnu Abu Talib membacakan Al-Qur’an kepada mereka di negeri Habsyah (Etiopia), maka mereka menangis karena mendengarnya hingga membasahi janggut mereka, akan tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, mengingat ayat ini Madaniyah, sedangkan kisah Ja’far ibnu AbuTalib terjadi sebelum hijrah (yakni dalam masa Makkiyyah).

Said ibnu Jubair dan As-Saddi serta selain keduanya mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan delegasi Raja Najasyi yang diutus kepada Nabi Saw. untuk mendengarkan ucapan Nabi Saw. dan melihat sifat-sifatnya. Tatkala mereka melihat Nabi Saw. dan Nabi Saw. membacakan Al-Qur’an kepada mereka, maka mereka masuk Islam seraya menangis dan dengan penuh rasa khusyuk (tunduk patuh). Sesudah itu mereka pulang kepada Raja Najasyi dan menceritakan apa yang mereka alami kepadanya.

Menurut As-Saddi, Raja Najasyi berangkat berhijrah (bergabung dengan Nabi Saw. di Madinah), tetapi ia meninggal dunia di tengah perjalanan. Hal ini merupakan riwayat yang hanya dikemukakan oleh As-Saddi sendiri, karena sesungguhnya Raja Najasyi meninggal dunia dalam keadaan sebagai Raja Habsyah. Nabi Saw. beserta para sahabatnya menyalatkannya di hari kewafatannya, dan Nabi Saw. memberitahukan bahwa Raja Najasyi meninggal dunia di tanah Habsyah.

Para ulama berbeda pendapat mengenai bilangan delegasi Raja Najasyi. Menurut suatu pendapat, jumlah mereka ada dua belas orang; tujuh orang di antara mereka adalah pendeta, sedangkan yang lima orang lainnya adalah rahib. Tetapi pendapat yang lain mengatakan sebaliknya.

Menurut pendapat lain, jumlah mereka ada lima puluh orang; dikatakan pula ada enam puluh orang lebih, dan dikatakan lagi ada tujuh puluh orang laki-laki.

Ata ibnu Abu Rabah mengatakan bahwa mereka adalah suatu kaum dari negeri Habsyah; mereka masuk Islam setelah kaum muslim yang berhijrah tiba di negeri Habsyah.

Qatadah mengatakan bahwa mereka adalah suatu kaum yang memeluk agama Isa ibnu Maryam. Ketika mereka melihat kaum muslim dan mendengarkan Al-Qur’an, maka dengan spontan mereka masuk Islam tanpa ditangguh-tangguhkan lagi.

Sedangkan Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa ayat-ayat ini diturunkan berkenaan dengan banyak kaum yang mempunyai ciri khas dan sifat tersebut, baik mereka dari kalangan bangsa Habsyah ataupun dari bangsa lainnya.

Firman Allah Swt.: latajidanna asyaddan naasi ‘adaawatal lil ladziina aamanul yaHuuda wal ladziinaa asyrakuu (“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.”) (Al-Maidah: 82)

Hal itu tiada lain karena kekufuran orang-orang Yahudi didasari oleh pembangkangan, keingkaran, dan kesombongannya terhadap perkara yang benar serta meremehkan orang lain dan merendahkan kedudukan para penyanggah ilmu. Karena itulah mereka banyak membunuh nabi-nabi mereka, sehingga Rasulullah Saw. tak luput dari percobaan pembunuhan yang direncanakan oleh mereka berkali-kali.

Mereka meracuni Nabi Saw. dan menyihirnya, dan mereka mendapat dukungan dari orang-orang musyrik yang sependapat dengan mereka; semoga laknat Allah terus-menerus menimpa mereka sampai hari kiamat.

Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih sehubungan dengan tafsir ayat ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnus Sirri, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnu Habib Ar-Ruqqi, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sa’id Al-Allaf, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, dari Al-Asyja’i, dari Sufyan, dari Yahya ibnu Abdullah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

“Tidak sekali-kali seorang Yahudi berduaan dengan seorang muslim melainkan pasti orang Yahudi itu berniat ingin membunuhnya.”

Kemudian Ibnu Murdawaih meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ishaq Al-Askari, telah menceritakan kepada kami Ahmad Ibnu Sahi ibnu Ayyub Al-Ahwazi, telah menceritakan kepada kami Faraj ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnul Awwam, dari Yahya ibnu Abdullah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“Tidak sekali-kali seorang Yahudi berduaan dengan seorang muslim lain melainkan terbetik dalam hati si Yahudi itu hasrat untuk membunuhnya.” (Hadis ini garib sekali.)

Firman Allah Swt.: wa latajidanna aqrabaHum mawaddatal lilladziina aamanul ladziina qaaluu innaa nashaaraa (“Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.’”) (AlMaidah: 82)

Yakni orang-orang yang mengakui dirinya sebagai orang-orang Nasrani, yaitu pengikut Al-Masih dan berpegang kepada kitab Injilnya. Di kalangan mereka secara globalnya terdapat rasa persahabatan kepada Islam dan para pemeluknya. Hal itu tiada lain karena apa yang telah tertanam di hati mereka, mengingat mereka pemeluk agama Al-Masih yang mengajarkan kepada lemah lembut dan kasih sayang, seperti yang disebutkan oleh firmanNya yang artinya:

“Dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang serta rahbaniyah.” (Al-Hadid: 27)

Di dalam kitab mereka tertera bahwa barang siapa yang memukul pipi kananmu, maka berikanlah kepadanya pipi kirimu; dan perang tidak disyariatkan di dalam agama mereka. Karena itulah disebutkan oleh Allah Swt. melalui firmanNya:

Dzaalika bi-anna minHum qissiisiina wa ruHbaanaw wa annaHum laa yastakbiruun (“Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu [orang-orang Nasrani] terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.”) (Al-Maidah: 82)

Yakni didapati di kalangan mereka para pendeta, yaitu juru khotbah dan ulama mereka; bentuk tunggalnya adalah qasisun dan qissun, adakalanya dijamakkan dalam bentuk qususun. Arrauhban adalah bentuk jamak dari rahib yang artinya ahli ibadah, diambil dari akar kata rahbah yang artinya takut; sewazan dengan lafaz rakib yang jamaknya rukban, dan lafaz faris yang jamaknya fursan.

Ibnu Jarir mengatakan, adakalanya lafaz ruhban ini merupakan bentuk tunggal, sedangkan bentuk jamaknya ialah rahabin, semisal dengan lafaz qurban yang bentuk jamaknya qarabin, dan lafaz jarzan (tikus) yang bentuk jamaknya jarazin. Adakalanya dijamakkan dalam bentuk rahabinah.

Termasuk dalil yang menunjukkan bahwa lafaz rahban bermakna tunggal di kalangan orang-orang Arab ialah perkataan seorang penyair mereka yang mengatakan:

Seandainya aku saksikan ada rahib gereja di puncak itu, niscaya
rahib itu akan keluar dan berjalan menuruni (puncak tersebut).

AlHafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Adam, telah menceritakan kepada kami Nasir ibnu Abui Asy’as, telah menceritakan kepadaku As-Salt Ad-Dahhan, dari Jasiman ibnu Riab yang menceritakan bahwa ia pemah bertanya kepada Salman mengenai firman Allah Swt.:

Dzaalika bi-anna minHum qissiisiina wa ruHbaanaw (“Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu [orang-orang Nasrani] terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib.”) (Al-Maidah: 82)

Maka Salman berkata, “Biarkanlah para pendeta itu tinggal di dalam gereja-gereja dan reruntuhannya, karena Rasulullah Saw. pemah bersabda kepadaku bahwa yang demikian itu disebabkan di antara mereka (orang-orang Nasrani) itu terdapat orang-orang yang percaya dan rahib-rahib.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih melalui jalur Yahya ibnu Abdul Hamid Al-Hammani, dari Nadir ibnu Ziyad At-Ta-i, dari Silt Ad-Dahhan, dari Jasimah ibnu Riab, dari Salman dengan lafaz yang semisal.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, ayahnya pernah menceritakan bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdul Hamid Al-Khani, telah menceritakan kepada kami Nadir ibnu Ziyad At-Ta-i, telah menceritakan kepada kami Silt Ad-Dahhan, dari Jasimah ibnu Riab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar sahabat Salman ditanya mengenai firmanNya:

Dzaalika bi-anna minHum qissiisiina wa ruHbaanaw (“Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu [orang-orang Nasrani] terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib.”) (Al-Maidah: 82)

Maka Salman berkata bahwa mereka adalah para rahib yang tinggal di dalam gereja-gereja dan bekas-bekas peninggalan di masa lalu, biarkanlah mereka tinggal di dalamnya. Salman mengatakan, dia pernah membacakan kepada Nabi Saw. firmanNya:

Dzaalika bi-anna minHum qissiisiina wa ruHbaanaw (“Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu [orang-orang Nasrani] terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib.”) (Al-Maidah: 82)

Maka Nabi Saw. membacakannya kepadaku dengan qiraah seperti berikut: Dzaalika bi-anna minHum shiddiiqiina wa ruHbaanan (“Yang demikian itu karena di antara mereka [orang-orang Nasrani] itu terdapat orang-orang yang percaya [kepada Allah] dan rahib-rahib.”)

Firman Allah Swt.:
Dzaalika bi-anna minHum qissiisiina wa ruHbaanaw wa annaHum laa yastakbiruun (“Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu [orang-orang Nasrani] terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib. [juga] sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.”) (Al-Maidah: 82)

Ayat ini mengandung penjelasan mengenai sifat mereka, bahwa di kalangan mereka terdapat ilmu, dan mereka adalah ahli ibadah serta orang-orang yang rendah diri.

&