Tag Archives: amtsaal

Macam-Macam Amtsaal dalam al-Qur’an

19 Mar

Ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an)
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Amtsaal dalam al-Qur’an ada tiga macam: amtsaal musarrahah, amtsaal kaaminah dan amtsaal mursalah.

1. Amtsaal Musarrahah, ialah yang di dalamnya dijelaskan dengan lafaz masal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih. Amtsaal seperti ini banyak ditemukan dalam al-Qur’an dan berikut ini di antaranya:

a. Firman Allah mengenai orang munafik:

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (al-Baqarah: 17-20)

Di dalam ayat ini Allah membuat dua perumpamaan [matsaal] bagi orang munafik: matsaal yang berkenaan dengan api [naar] dalam firman-Nya: “adalah seperti orang yang menyalakan api…” karena di dalam api terdapat unsur cahaya. Dan matsaal yang berkenaan dengan air [maa’]: “…atau seperti [orang-orang yang ditimpa] hujan lebat dari langit…” karena di dalam air terdapat materi kehidupan.

Dan wahyu yang turun dari langit pun bermaksud untuk menerangi hati dan menghidupkannya. Allah menyebutkan juga kedudukan dan fasilitas orang munafik dalam dua keadaan. Di satu sisi mereka bagaikan orang yang menyalakan api untuk penerangan dan kemanfaatan; mengingat mereka memperoleh kemanfaatan materi dengan sebab masuk Islam.

Namun di sisi lain Islam tidak memberikan pengaruh “nur”-nya terhadap hati mereka [munafik] karena Allah menghilangkan cahaya [nur] yang ada dalam api tersebut: “Allah menghilangkan cahaya [yang menyinari] mereka,” dan membiarkan unsur “membakar” yang ada padanya. Inilah perumpamaan mereka yang berkenaan dengan api.

Mereka matsaal mereka yang berkenaan dengan air [maa’], Allah menyerupakan mereka dengan keadaan orang yang ditimpa hujan lebat yang disertai gelap gulita, guruh dan kilat, sehingga terkoyaklah kekuatan orang itu dan ia meletakkan jari-jemari untuk menyumbat telinga serta memejamkan mata karena takut petir menimpanya. Ini mengingat bahwa al-Qur’an dengan segala peringatan, perintah, larangan, dan khitabnya bagi mereka tidak ubahnya seperti petir yang turun sambar menyambar.

b. Allah menyebutkan pula dua macam matsaal, maa’i dan naari, dalam surah ar-Ra’d, bagi yang hak dan yang batil:

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, Maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (ar-Ra’d: 17)

Wahyu yang diturunkan Allah dari langit untuk kehidupan hati diserupakan dengan air hujan yang diturunkan-Nya untuk kehidupan bumi dan tumbuh-tumbuhan. Dan hati diserupakan dengan lembah. Arus air yang mengalir di lembah membawa buih dan sampah. Begitu pula hidayah dan ilmu bila mengalir di hati akan berpengaruh terhadap nafsu dan syahwat, dengan menghilangkannya. Inilah matsaal maa’i dalam firman-Nya yang artinya: “Dia telah menurunkan air [hujan] dari langit…” demikianlah Allah membuat matsaal bagi yang hak dan yang batil.

Mengenai matsaal naari, dikemukakan dalam firman-Nya: “Dan dari apa [logam] yang mereka lebur dalam api…” Logam, baik emas, perak, tembaga maupun besi, ketika dituangkan ke dalam api, maka api akan menghilangkan kotoran, karat yang melekat padanya, dan memisahkannya dari substansi yang dapat dimanfaatkan sehingga hilanglah karat itu dengan sia-sia. Begitu pula syahwat akan dilemparkan dan dibuang dengan sia-sia oleh hati orang mukmin sebagaimana arus air menghanyutkan sampah atau api melemparkan karat logam.

2. Amtsaal kaaminah, yaitu yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafadz tamsil [pemisalan] tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah, menarik, dalam kepadatan redaksinya, dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan pada orang yang serupa dengannya. Untuk matsaal ini mereka mengajukan beberapa contoh, di antaranya:

# Ayat-ayat yang senada dengan perkataan: “Sebaik-baik urusan adalah pertengahannya”, yaitu:

a. Firman Allah tentang sapi betina:
“Sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan di antara kedua itu…” (al-Baqarah: 68)

b. Firman-Nya tentang Nafkah:
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (al-Furqaan: 67)

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. (al-Israa’: 110)

d. Firman-Nya mengenai infaq:
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya.” (al-Israa’: 29)

# Ayat yang senada dengan perkataan: “Kabar itu tidak sama dengan menyaksikan sendiri.” Misalnya frman Allah tentang Ibrahim as.:
“Allah berfirman: ‘Belum yakinkah kamu ?’ Ibrahim menjawab: ‘Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar bertambah mantap hatiku.” (al-Baqarah: 260)

# Ayat yang senada dengna perkataan: “Sebagaimana kamu telah menghutangkan, maka kamu akan dibayar.” Misalnya:
“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu..” (an-Nisaa’: 123)

# Ayat yang senada dengan perkataan: “Orang mukmin tidak akan disengat dua kali pada lubang yang sama.” Misalnya pada firman-Nya melalui lisan Ya’qub:
“Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?” (Yusuf: 64)

3. Amtsaal Mursalah, yaitu kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafadz tasybih secara jelas. Tetapi kalimat-kalimat itu berlaku sebagai matsaal. Berikut ini contoh-contohnya:

a. “Sekarang ini jelaslah kebenaran itu.” (Yusuf: 51)

b. “Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain dari Allah.” (an-Najm: 58)

c. “Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya [kepadaku].” (Yusuf: 41)

d. “Bukankah subuh itu sudah dekat?” (Huud: 81)

e. “Untuk tiap-tiap berita [yang dibawa oleh rasul-rasul] ada [waktu] terjadinya.” (al-An’am: 67)

f. “Dan rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.” (Fathir: 43)

g. “Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” (al-Israa’: 84)

h. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu amat baik bagi kamu.” (al-Baqarah: 216)

i. “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (al-Muddatstsir: 38)

j. “Adakah balasan kebaikan selain dari kebaikan [pula]?” (ar-Rahmaan: 60)

k. “Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka [masing-masing].” (al-Mu’minuun: 53)

l. “Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah [pulalah] yang disembah.” (al-Hajj: 73)

m. “Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja!” (ash-Shaffat: 61)

n. “Tidak sama yang buruk dengan yang baik.” (al-Ma’idah: 100)

o. “Betapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.” (al-Baqarah: 249)

p. “Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah.” (al-Hasyr: 14)

Para ulama berbeda pendapat tentang ayat-ayat yang mereka namakan amtsaal mursalah ini, apa atau bagaimana hukum mempergunakannya sebagai matsaal?

Sebagian ahli ilmu memandang hal demikian sebagai telah keluar dari adab al-Qur’an. Berkata ar-Razi ketika menafsirkan ayat: “Untukmu-lah agamamu, dan untukku-lah agamaku.” (al-Kaafiruun: 6): “Sudah menjadi tradisi orang, menjadikan ayat ini sebagai matsaal [untuk membela, membenarkan perbuatannya] ketika ia meninggalkan agama, padahal hal demikian tidak dibenarkan. Sebab Allah menurunkan al-Qur’an bukan untuk dijadikan matsaal, tetapi untuk direnungkan lalu diamalkan kandungannya.”

Golongan lain berpendapat, tak ada halangan apabila seseorang mempergunakan al-Qur’an sebagai matsal dalam keadaan sungguh-sungguh. Misalnya ia merasa sedih dan berduka karena tertimpa bencana, sedangkan sebab-sebab tersingkapnya bencana itu telah terputus dari manusia, lalu ia mengatakan: “Tidak ada yang menyingkapnya selain Allah.” (an-Najm: 58)

Atau ia diajak bicara oleh penganut ajaran sesat yang berusaha membujuknya agar mengikuti ajarannya itu, maka ia menjawab: “Untukmu-lah agamamu dan untukku-lah agamaku.” (al-Kaafiruun: 6). Tetapi berdosa besarlah seseorang yang dengan sengaja pura-pura pandai lalu ia menggunakan al-Qur’an sebagai matsal, sampai-sampai ia terlihat bagai sedang bersenda-gurau. (Balaaghatul Qur-aan, hal. 33)

&

Definisi Amtsaal

9 Mar

Ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an)
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Amtsaal adalah jamak dari kata matsal. Kata matsal, mitsl dan matsil adalah sama dengan syabah, syibh dan syabih, baik lafadz maupun maknanya.

Dalam sastra, matsal adalah suatu ungkapan perkataan yang dihikayatkan dan sudah populer dengan maksud menyerupakan keadaan yang terdapat dalam perkataan itu dengan keadaan sesuatu yang karenanya perkataan itu diucapkan. Maksudnya, menyerupakan sesuatu [seseorang, keadaan] dengan apa yang terkandung dalam perkataan itu.

Misalnya: rubba ramyatin min ghairi raamin (“Betapa banyak lemparan panah yang mengenai tanpa sengaja”) artinya, betapa banyak lemparan panah yang mengenai sasaran itu dilakukan seorang pelempar yang biasanya tidak tepat lemparannya. Orang pertama mengucapkan matsal ini adalah al-Hakam bin Yaghus an-Nagri. Matsal ini ia katakan kepada orang yang biasanya berbuat salah yang kadang-kadang ia berbuat benar. Atas dasar ini, matsal harus mempunyai maurid [sumber] yang kepadanya sesuatu yang lain diserupakan.

Kata matsal digunakan pula untuk menunjukkan arti “keadaan” dan “kisah yang menakjubkan”. Dengan pengertian inilah ditafsirkan kata-kata “matsal” dalam jumlah besar ayat. Misalnya firman Allah yang artinya:

“[Apakah] matsal surga yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya…” (Muhammad: 15). Maksudnya, kisah dan sifat surga yang sangat mengagumkan.

Zamakhsyari telah mengisyaratkan akan ketiga arti ini dalam kitabnya. Al-karsysyaaf. Ia berkata: “Matsal menurut asal perkataan mereka berarti al-mitsl dan an-nadzir [yang serupa, yang sebanding]. Kemudian setiap perkataan yang berlaku, populer, yang menyerupakan sesuatu [orang, keadaan dan sebagainya] dengan “maurid” [atau apa yang terkandung dalam] perkataan disebut matsal.

Mereka tidak menjadikan sebagai matsal dan tidak memandang pantas untuk dijadikan matsal yang layak diterima dan dipopulerkan kecuali perkataan yang mengandung keanehan dari beberapa segi.

Dan katanya lebih lanjut, “matsal” dipinjam [dipakai secara pinjaman] untuk menunjukkan keadaan, sifat atau kisah jika ketiganya dianggap penting dan mempunyai keanehan.

Masih terdapat makna lain, yakni makna keempat, dari matsal menurut ulama Bayan. Menurut mereka, matsal adalah majaaz murakhab yang ‘alaaqah-nya musyaabahah jika penggunaannya telah populer. Majaz ini pada asalnya adalah isti’aarah tamsiliyah, seperti kata-kata yang diucapkan terhadap orang yang ragu-ragu dalam melakukan suatu urusan: maa lii araaka tuqaddimu rijlan wa tu-akhkhiru ukhraa (“Mengapa aku lihat engkau melangkahkan satu kaki dan mengundurkan kaki yang lain?”)

Dikatakan pula, definisi matsal ialah menonjolkan suatu makna [yang abstrak] dalam bentuk yang indrawi agar menjadi indah dan menarik. Dengan pengertian ini maka matsal tidak diisyaratkan harus mempunyai maurid sebagaimana tidak disyaratkan pula harus berupa majaz murakkab.

Apabila memperhatikan matsal-matsal al-Qur’an yang disebutkan oleh para pengarang, kita dapatkan bahwa mereka mengemukakan ayat-ayat yang berisi penggambaran keadaan suatu hal dengan keadaan hal lain, baik penggambaran itu dengan cara isti’aarah maupun dengan tasybih sarih [penyerupaan yang jelas]; atau ayat-ayat yang menunjukkan makna yang menarik dengan redaksi ringkas dan padat; atau ayat-ayat yang dapat dipergunakan bagi sesuatu yang menyerupai dengan apa yang berkenaan dengan ayat itu. Sebab, Allah mengungkapkan ayat-ayat itu secara langsung, tanpa sumber yang mendahuluinya.

Dengan demikian, maka amtsaal Qur’an tidak dapat diartikan dengan arti etimologis, asy-syabiih dan an-nadzir. Juga tidak dapat diartikan dengan pengertian yang disebutkan dalam kitab-kitab kebahasaan yang dipakai oleh para penggubah matsal-matsal, sebab amtsal al-Qur’an bukanlah perkataan-perkataan yang dipergunakan untuk menyerupakan sesuatu dengan isi perkataan itu. Juga tidak dapat diartikan dengan arti matsal menurut ulama Bayan, karena di antara amtsal al-Qur’an ada juga yang bukan isti’aarah dan penggunaannya pun tidak begitu populer.

Oleh karena itu maka definisi terakhir lebih cocok dengan pengertian amtsal dalam al-Qur’an. Yang menonjol makna dalam bentuk [perkataan] yang menarik dan padat serta mempunyai pengaruh mendalam terhadap jiwa, baik berupa tasybih ataupun perkataan bebas [lepas, bukan tasybih].

Ibnul Qayyim mendefinisikan amtsal al-Qur’an dengan “menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hal hukumnya, dan mendekatkan sesuatu yang abstrak [ma’qul] dengan yang idrawi [konkrit, mahsus], atau mendekatkan salah satu dari dua mahsus dengan yang lain dan menganggap salah satunya itu sebagai yang lain.”

Lebih lanjut ia mengemukakan sejumlah contoh. Contoh-contoh tersebut sebagian besar berupa penggunaan tasbiih sariih, seperti firman Allah:

“Sesungguhnya matsal kehidupan duniawi itu adalah seperti air [hujan] yang Kami turunkan dari langit.” (Yunus: 24). Sebagian lain berupa penggunaan tasybih dimni [penyerupaan secara tidak tegas, tidak langsung], misalnya:

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (al-Hujuraat: 12). Dikatakan dimni karena dalam ayat ini tidak terdapat tasybih sariih. Dan ada pula yang tidak mengandung tasybih maupun isti’arah, seperti firman-Nya:

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, Maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, Tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan Amat lemah (pulalah) yang disembah.” (al-Hajj: 73) firman-Nya: “Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-sekali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun” oleh Allah disebut dengan matsal padahal di dalamnya tidak terdapat isti’arah maupun tasybih.

&

Membuat Amtsaal dengan Al-Qur’an

9 Mar

Ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an)
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Telah menjadi tradisi para sastrawan, menggunakan amtsaal di tempat-tempat yang kondisinya seupa atau sesuai dengan isi amtsaal tersebut. Jika hal demikian dibenarkan dalam ucapan-ucapan manusia yang telah berlaku sebagai matsal, maka para ulama tidak menyukai menggunakan ayat-ayat al-Qur’an sebagai matsal. Mereka tidak memandang perlu bahwa orang harus membacakan suatu ayat amtsal dalam Kitabullah ketika ia menghadapi suatu urusan duniawi. Hal ini demi menjaga keagungan al-Qur’an dan kedudukannya dalam jiwa orang-orang mukmin.

Abu ‘Ubaid berkata: “Demikianlah, seseorang yang ingin bertemu dengan shahabatnya atau ada kepentingan dengannya, tiba-tiba shahabat itu datang tanpa diminta, maka ia berkata kepadanya secara humor: ‘Kamu datang menurut waktu yang telah ditetapkan wahai Musa,’ (ThaaHaa: 40) Perbuatan demikian merupakan penghinaan terhadap al-Qur’an.”

Ibn Syihab az-Zuhri berkata, “Janganlah kamu menyerupakan [sesuatu] dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah.” Maksudnya, kata Abu ‘Ubaid, janganlah kamu menjadikan bagi keduanya sesuatu perumpamaan, baik berupa ucapan maupun perbuatan.

&

Amtsaalul Qur’an

6 Mar

Ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an)
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Hakekat-hakekat yang tinggi makna dan tujuannya akan lebih menarik jika dituangkan dalam kerangka ucapan yang baik dan mendekatkan pada pemahaman, melalui analogi dengan sesuatu yang telah diketahui secara yakin.

Tamsiil [membuat permisalan, perumpamaan] merupakan kerangka yang dapat menampilkan makna-makna dalam bentuk yang hidup dan mantap di dalam fikiran, dengan cara menyerupakan sesuatu yang ghaib dengan yang hadir, yang abstrak dengan yang konkrit, dan dengan menganalogikan sesuatu dengan hal yang serupa.

Betapa banyak makna yang baik, dijadikan lebih indah, menarik dan mempesona oleh tamsil. Karena itulah maka tamsiil lebih dapat mendorong jiwa untuk menerima makna yang dimaksud dan membuat akal merasa puas dengannya. Dan tamsiil adalah salah satu uslub al-Qur’an dalam mengungkapkan berbagai penjelasan dan segi-segi kemukjizatannya.

Di antara para ulama ada sejumlah orang menulis sebuah kitab yang secara khusus membahas perumpamaan-perumpamaan [amtsaal] dalam al-Qur’an, dan ada pula yang hanya membuat satu bab mengenainya dalam salah satu kitab-kitabnya. Kelompok pertama misalnya Abul Hasan al-Mawardi. Sedangkan kelompok kedua, antara lain, Suyuti dalam al-Itqaan dan Ibnul Qayyim dalam A’laamul Muwaqqi’iin.

Bila kita meneliti amtsaal dalam al-Qur’an yang mengandung penyerupaan [tasybiih] sesuatu dengan hal serupa lainnya dan penyamaan antara keduanya dalam hukum, maka amtsaal demikian mencapai jumlah lebih dari empat puluh buah.

Allah mengemukakan dalam Kitab-Nya yang mulia bahwa Dia membuat sejumlah amtsaal, misalnya:

“Dan perumpamaan-perumpamaan itu dibuat-Nya untuk manusia supaya mereka berfikir.” (al-Hasyr: 21)

“Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (al-Ankabuut: 43)

“Dan sungguh Kami telah membuat bagi manusia di dalam al-Qur’an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka mendapat pelajaran.” (az-Zumar: 27)

Dari Ali diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah menurunkan al-Qur’an sebagai perintah dan larangan, tradisi yang telah lalu dan perumpamaan yang dibuat.” (HR Tirmidzi)

Sebagaimana para ulama menaruh perhatian bersar terhadap amtsaal al-Qur’aan, mereka menaruh perhatian pula terhadap amtsaal yang dibuat oleh Nabi. Abu ‘Isa at-Tirmidzi telah membuat satu bab berisi amtsaal Nabi dalam kitab Jami’-nya, yang memuat 40 hadits.

Qadi Abu Bakar ibnul ‘Arabi berkata: “Aku tidak melihat di antara para ahli hadits, seseorang yang menulis satu bab khusus tentang amtsaal Nabi selain Abu ‘Isa. Sungguh sangat mengagumkan ia. Ia telah membuka sebuah pintu dan membangun sebuah istana atau rumah. Sekalipun ia menulisnya hanya sedikit, namun kita merasa puas dan patut berterimakasih kepadanya.”

&