Tag Archives: an najm

Mewarnai Gambar Kaligrafi Nama Surah An-Najm

19 Okt

Mewarnai Gambar Kaligrafi
Nama-Nama Surah Al-Qur’an Anak Muslim

mewarnai gambar tulisan surah an-najm anak muslim

53. An-Najm

28 Nov

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat An Najm terdiri atas 62 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Ikhlash. Nama An Najm (bintang), diambil dari perkataan An Najm yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Allah bersumpah dengan An Najm (bintang) adalah karena bintang-bintang yang timbul dan tenggelam, amat besar manfaatnya bagi manusia, sebagai pedoman bagi manusia dalam melakukan pelayaran di lautan, dalam perjalanan di padang pasir, untuk menentukan peredaran musim dan sebagainya.

Pokok-pokok isinya:

1. Keimanan: Al Quran adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. dengan perantaraan Jibril a.s. kebatilan penyembah berhala; tak ada seseorangpun memberi syafa’at tanpa izin Allah; tiap-tiap orang hanya memikul dosanya sendiri.

2. Hukum-hukum:
Kewajiban menjauhi dosa-dosa besar; kewajiban bersujud dan menyembah Allah saja;

3. Dan lain-lain:
Nabi Muhammmad s.a.w. melihat malaikat Jibril 2 kali dalam bentuk aslinya, yaitu sekali waktu menerima wahyu pertama dan sekali lagi di Sidratul Muntaha; anjuran supaya manusia jangan mengatakan dirinya suci karena Allah sendirilah yang mengetahui siapa yang takwa kepada-Nya; orang-orang musyrik selalu memperolok-olok- kan Al Quran.
Surat An Najm mengandung hal-hal yang berhubungan dengan penegasan risalah Muhammad s.a.w. dan Al Quran adalah wahyu dari Allah, menerangkan kebatalan berhala-berhala yang disembah orang-orang musyrik yang tidak dapat memberi manfaat dan mudharat, menerangkan sifat orang-orang yang muhsin.
Dan surat ini juga menyebutkan sebahagian hakekat Islam yang tersebut pada Suhuf-suhuf Musa dan Suhuf-suhuf Ibrahim.

Hubungan surat An Najm dan surat Al Qamar
1. Pada akhir surat An Najm disebutkan hal yang mngenai hari kiamat, sedang pada awal surat Al Qamar disebutkan pula hal itu.
2. Dalam surat An Najm disinggung secara sepintas lalu keadaan umat-umat yang terdahulu, sedang pada surat Al Qamar disebutkan pula keadaan umat-umat yang terdahulu yang mendustakan rasul-rasul mereka.

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (11)

11 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)
Surat Makkiyyah; Surat ke 53: 62 ayat
Firman-Nya lebih lanjut: Wa annHuu  Huwa rabbusy syi’raa (“Dan bahwasannya Dia adalah Rabb [yang memiliki] bintang syi’ra.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, Ibnu  Zaid dan lain-lain berkata: “Ia termasuk bintang yang sangat terang yang diberi nama Marzamul Jauza’, yang disembah oleh sekelompok masyarakat Arab.” Wa annaHuu aHlaka ‘aadanil uulaa (“Dan bahwasannya  Dia telah membinasakan kaum ‘Aad yang pertama.”) yakni kaum Hud yang  dikenal dengan ‘Aad bin Iram bin Saam bin Nuh, mereka adalah manusia yang paling kasar, kuat dan paling ingkar kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, lalu Allahpun membinasakan mereka. Bi riihing sharsharin ‘aathiyah. sakhkharaHaa ‘alaiHim sab’a layaaliw wa tsamaaniyata ayyaamin husuumaa (“Dengan angin yang sangat dingin lagi sangat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus.”)(al-Haaqqah: 6-7)

Dan firman Allah selanjutnya: Wa tsamuuda famaa abqaa (“Dan kaum Tsamud. Maka tidak seorangpun yang ditinggalkan-Nya.”) maksudnya, Dia membinasakan mereka, sehingga tidak seorangpun dari mereka yang tersisa. Wa qauma nuuhim ming qabl (“Dan kaum Nuh sebelum itu”) yakni sebelum orang-orang itu. InnaHum kaanuuHum adzlama wa athghaa (“Sesungguhnya  mereka adalah orang-orang yang paling dzalim dan paling durhaka.”) maksudnya, yang lebih ingkar dari orang-orang yang hidup setelahnya. Wal mu’tafikata aHwaa (“Dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah”) yakni kota-kota tempat Luth. Kota-kota itu dibalikkan, sehingga bagian atas berubah menjadi bagian bawah. Dan kepada mereka diturunkan hujan batu dari sijjil [tanah panas] secara bertubi-tubi. Oleh karena itu  Dia berfirman: Fa ghasysyaaHaa maa ghasysyaa (“Lalu Allah menimpakan atas negeri itu adzab besar yang menimpanya.”) yaitu berupa batu-batu  yang telah dikirimkan Allah kepada mereka. Wa amtharnaa ‘alaiHim matharan fasaa-a matharul mundzariin (“Dan Kami hujani mereka dengan hujan batu, maka sangat jelek  hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.”(asy-Syu’araa’: 173)

Firman-Nya: Fa bi-ayyi aalaa-i rabbika tatamaaraa (“Maka terhadap nikmat Rabb-mu yang manakah kamu ragu-ragu?”) maksudnya, pada nikmat manakah yang  telah dikaruniakan Allah kepadamu, wahai manusia yang kalian ragukan itu? Demikianlah yang dikemukakan oleh Qatadah.

tulisan arab alquran surat an najm ayat 56-62“56. ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang terdahulu. 57. telah dekat terjadinya hari kiamat. 58. tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. 59. Maka Apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? 60. dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? 61. sedang kamu melengahkan(nya)? 62. Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).” (an-Najm: 56-62)

Haadzaa nadziirun (“Ini adalah seorang pemberi peringatan”), yakni Muhammad saw.. Minan nudzuril uulaa (“di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu.”) yakni dari jenis mereka sendiri. Beliau diutus sebagaimana para Nabi telah diutus. Sebagaimana yang difirmankan-Nya: Qul maa kuntu bid’am minar rusuli (“Katakanlah: ‘Aku bukan Rasul pertama di antara para Rasul.”) (al-Ahqaf: 9).

Kemudian Allah berfirman: azifatil aazifaH (“Telah dekat terjadinya kiamat”) yakni suatu kejadian yang dekat sudah semakin mendekat, yaitu hari kiamat. Laisa laHaa minduunillaaHi kaasyifaH (“Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah.”) maksudnya, tidak ada seorangpun yang dapat menolaknya selain Allah. Dan tidak ada yang mempunyai pengetahuan tentangnya kecuali hanya Dia semata.

Kata “an-nadziir” berarti peringatan terhadap keburukan yang sudah nyata yang dikhawatirkan akan menimpa orang yang diperingatkan. Sebagaimana firman-Nya: in Huwa illaa nadziirul lakum baina yadai ‘adzaabing syadiid (“Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagimu sebelum [menghadapi] adzab yang keras.”)(Saba’: 46)

Imam Ahmad meriwayatkan, Anas bin ‘Iyadh memberitahu kami, Abu Hatim memberitahuku, aku tidak mengetahui kecuali dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil, sesungguhnya perumpamaan dosa-dosa kecil itu seperti kaum yang singgah di perut lembah, lalu masing-masing mencari sepotong ranting dan mengumpulkannya. Sehingga ranting-ranting itu dapat mematangkan roti mereka. Dan kapan saja pelakunya disiksa karenanya, maka ia akan membinasakannya.”

Abu Hazim berkata: “Rasulullah bersabda, -Abu Nadlrah berkata, ‘Aku tidak mengetahui kecuali dari Sahl bin Sa’ad-; ‘Perumpamaan diriku dan perumpamaan hari kiamat adalah seperti ini.’ Dan beliau mengumpulkan [merapatkan] antara dua jarinya, jari tengah dan jari telunjuk. Setelah itu beliau bersabda: ‘Perumpamaanku dan perumpamaan hari kiamat adalah seperti seseorang yang diutus kaumnya untuk melakukan pengintaian. Ketika ia khawatir didahului, ia mengisyaratkan dengan bajunya: ‘Kalian telah datang, kalian telah datang.’ Lebih lanjut beliau: ‘Dan itu adalah aku.’” Dan hadits tersebut mempunyai beberapa syahid dari beberapa sisi lain yang termasuk hadits-hadits shahih dan hasan.

Kemudian Allah berfirman seraya menentang orang-orang musyrik mengenai sikap mereka yang mendengar al-Qur’an, namun berpaling darinya: a fa min Haadzal hadiitsi ta’jabuun (“Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini.”) karena keadaannya memang benar. Wa tadlhakuuna (“dan kamu menertawakan”) dengan maksud mengolok dan menghina, wa laa tabkuun (“dan tidak menangis”) sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang yakin terhadapnya, seperti yang diberitakan tentang mereka: wa yakhirruuna lil adzqaani yabkuuna wa yaziiduHum khusyuu’aa (“Dan mereka menyungkur di atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’”)(al-Israa’: 109).

Firman Allah Ta’ala: wa antum saamiduun (“Sedang kamu melengahkan[nya]?”) Syufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Lagu [nyanyian] sangat menjadikan kami lengah.” Demikian pula yang dikemukakan oleh ‘Ikrimah. Dan di dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas tentang “Saamiduun” ia berkata: “Yakni berpaling.” Begitu pula yang dikemukakan oleh Mujahid dan ‘Ikrimah. Sedangkan al-Hasan berkata: “Yakni orang-orang yang lengah.” Dan itu merupakan riwayat dari Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib. Juga sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu orang-orang yang sombong.” Hal yang sama juga dikemukakan oleh as-Suddi.

Lebih lanjut, Allah Ta’ala berfirman seraya memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bersujud kepada-Nya  serta beribadah  sesuai dengan ajaran Rasul-Nya, bertauhid dan ikhlash: fasjuduu lillaaHi wa’buduu (“Maka bersujudlah kepada Allah dan ibadahilah [Dia].” Artinya, tunduklah kalian kepada-Nya, ikhlashkan dan tauhidkanlah Dia.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Nabi saw. melakukan sujud ketika membaca surat an-Najm, dan kaum Muslimin melakukan sujud bersama beliau, dan juga orang-orang musyrik, jin dan manusia.” (HR al-Bukhari).

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (10)

11 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)
Surat Makkiyyah; Surat ke 53: 62 ayat

Dan firman-Nya:  Wa anna sa’yaHuu saufa yuraa (“Dan bahwasannya usahanya itu kelak akan diperlihatkan [kepadanya]”), yakni pada hari kiamat kelak. Maksudnya Allah akan memberitahukan [amal] kepada kalian sekaligus memberikan balasan atasnya dengan sepenuhnya. Jika berupa kebaikan, maka akan dibalas dengan kebaikan, dan jika berupa keburukan maka akan dibalas pula dengan keburukan. Demikianlah Allah berfirman disini: Tsumma yujzaaHul jazaa al aufaa (“Kemudian akan diberi balasan kepadanya  dengan balasan yang paling sempurna.”)

tulisan arab alquran surat an najm ayat 42-55“42. dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu), 43. dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis, 44. dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan, 45. dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. 46. dari air mani, apabila dipancarkan. 47. dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), 48. dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan, 49. dan bahwasanya Dialah yang Tuhan (yang memiliki) bintang syi’ra, 50. dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum ‘Aad yang pertama, 51. dan kaum Tsamud. Maka tidak seorangpun yang ditinggalkan nya (hidup). 52. dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka, 53. dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah. 54. lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. 55. Maka terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah kamu ragu-ragu?”  (an-Najm: 42-55)

Allah berfirman: Wa anna ilaa rabbikal muntaHaa (“Dan bahwasannya kepada Rabb-mulah kesudahan [segala sesuatu]”) yakni tempa kembali pada hari kiamat kelak. Ibnu Abi Hatim menceritakan dari ‘Amr bin Maimun al-Audi, ia berkata bahwa Mu’adz bin Jabal pernah berdiri di tengah-tengah kami, lalu ia bekata: “Wahai bani Aud, sesungguhnya aku adalah utusan Rasulullah saw. kepada kalian. Ketahuilah bahwa tempat kembali kepada Allah itu  bisa ke Surga atau  ke Neraka.” Al-Baghawi menyebutkan dari Ubay  bin Ka’ab, dari Nabi saw. mengenai firman-Nya: Allah berfirman: Wa anna ilaa rabbikal muntaHaa (“Dan bahwasannya kepada Rabb-mulah kesudahan [segala sesuatu]”) beliau berkata: “Tidak ada pemikiran terhadap Rabb [Allah].” Dan dalam hadits shahih disebutkan: “Syaitan akan mendatangi salah seorang di antara kalian seraya bertanya: ‘Siapakah yang telah menciptakan ini dan siapa pula yang menciptakan itu?’ Hingga akhirnya ia bertanya: ‘Siapakah yang menciptakan Rabb-mu?’ Dan jika salah seorang di antara kalian sampai pada hal tersebut, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dan menghentikan pertanyaan.” (Mutafaq ‘Alaihi).

Firman Allah Ta’ala: Wa annaHuu Huwa adlhaka wa abkaa (“Dan bahwasannya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” Maksudnya, Allah telah menciptakan tawa dan tangis serta sebab-sebab pada diri hamba-hamba-Nya. Yang keduanya merupakan dua hal yang berbeda. Wa annaHuu Huwa amaata wa ahyaa (“Dan bahwasannya Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan.”) wa annaHuu khalaqaz zaujainidz dzakara wal untsaa. Min nuthfatin idzaa tumnaa (“Dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan. Dari air mani, apabila dipancarkan.”)

Dan firman Allah Ta’ala: Wa anna ‘alaiHin nasy-atal ukhraa (“Dan bahwasannya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain [kebangkitan sesudah mati]”). Maksudnya  sebagaimana Dia telah menciptakan kejadian permulaan, maka Dia pasti berkuasa untuk mengembalikan, yaitu kejadian yang terakhir pada hari kiamat. Wa annaHuu Huwa aghnaa wa aqnaa (“Dan bahwasannya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan.” Maksudnya, menyerahkan kepemilikan harta kepada hamba-hamba-Nya dan menjadikan harta itu sebagai hak milik yang sangat berharga bagi mereka. Mereka tidak perlu membeli terlebih dahulu. Ini merupakan kesempurnaan nikmat bagi mereka. Dan berkisar pada pengertian itulah ungkapan para ahli tafsir.

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (8)

11 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)
Surat Makkiyyah; Surat ke 53: 62 ayat
Mengenai firman-Nya: illal lamam (“Selain kesalahan-kesalahan kecil”) ‘Ali bin Abi  Talhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas r.a. bahwa ia berkata: “Kecuali hal-hal yang telah berlalu.”) demkian pula yang dikemukakan oleh Zaid bin Aslam.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid mengenai ayat ini: illal lamam (“Selain kesalahan-kesalahan kecil”) ia berkata: “Yaitu orang yang mengerjakan perbuatan dosa kemudian meninggalkannya.” Seorang penyair pernah mengungkapkan: “Jika engkau memberikan ampunan, ya Allah, maka Engkau mengampuni [dosa] yang banyak, dan siapakah hamba-Mu yang tidak berbuat dosa kecil?”

Dan telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan yang lainnya secara marfu’ [sampai kepada Nabi saw] dari Ibnu ‘Abbas, tentang ayat: Alladziina yajtanibuuna kabaa-iral itsmi wal fawaahisya illal lamam (“Orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar  dan perbuatan keji selain dari kesalahan-kesalahan kecil.”) ia berkata: “Yakni, orang yang mengerjakan perbuatan keji lalu bertaubat.” Dan ia menceritakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Jika engkau memberikan ampunan, ya Allah, maka Engkau mengampuni [dosa] yang banyak, dan siapakah hamba-Mu yang tidak berbuat dosa kecil?”

Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dari Ahmad bin ‘Utsman Abu ‘Utsman al-Bashri, dari Abu ‘Ashim an-Nabil. Kemudian at-Tirmidzi mengungkapkan: “Hadits tersebut shahih hasan gharib, yang kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Zakariya bin Ishaq.” Demikian pula yang dikemukakan oleh al-Bazzar, dimana ia berkata: “Kami tidak mengetahui [bahwa hadits itu] diriwayatkan secara muttashil [tersambung] kecuali dari sisi ini. Hal itu pula yang disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Baghawi dari hadits Abu ‘Ashim an-Nabil. Al-Baghawi menyebutkannya ketika menafsirkan surat Tanziil, dan mengenai keshahihannya sebagai marfu’ masih dipertanyakan.”

Mengenai firman-Nya: illal lamam (“Selain kesalahan-kesalahan kecil”) al-‘Aufi mengatakan dari Ibnu ‘Abbas: “Segala dosa yang berstatus antara dua had (hukuman); had dunia dan had akhirat yang dapat dihapuskan oleh shalat, maka ia termasuk al-lamam (dosa kecil), yaitu dosa-dosa yang statusnya di bawah setiap dosa yang mewajibkan adanya had. Adapun had dunia adalah setiap hukuman yang oleh Allah diberikan di dunia, sedangkan had akhirat adalah setiap dosa yang oleh Allah diakhiri dengan ancaman api neraka dan ditangguhkan hukumannya di akhirat.” Demikian pula yang dikemukakan oleh ‘Ikrimah, Qatadah, dan adl-Dlahhak.

Dan firman Allah Ta’ala: inna rabbaka waasi’ul maghfirah (“Sesungguhnya Rabb-mu Mahaluas ampunannya.”) maksudnya, rahmat-Nya mencakup segala  sesuatu dan ampunan-Nya pun meliputi segala macam dosa bagi siapa saja yang bertaubat darinya.

Dan firman-Nya: huwa a’lamu bikum idz ansya-akum minal ardli (“Dan Dia lebih mengetahui [tentang keadaan]mu ketika Dia menjadikanmu dari tanah.”) maksudnya, Dia Mahamengetahui dan Mahamelihat keadaan, perbuatan dan ucapan kalian, serta apa yang terjadi pada diri kalian ketika Dia menciptakan ayah kalian, Adam dari tanah dan mengeluarkan keturunannya dari tulang rusuknya bagaikan dzarrah [atom]. Kemudian Dia membagi mereka semua menjadi dua golongan. Satu golongan ke surga dan golongan lainnya ke neraka.

Demikian juga firman-Nya: wa idz antum ajinnatung fii buthuuni ummahaatikum (“Dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu.”) Malaikat yang diserahi tugas telah  menulis rizki, ajal, amal, kebahagiaan dan kesengsaraan. Mak-hul mengatakan: “Kita semua dahulu menjadi janin dalam perut ibu kita. Ada di antara [kita] yang gugur dan kita termasuk yang masih hidup. Kemudian kita menjadi bayi, tapi ada di antara kita yang meninggal, dan kita termasuk yang masih tetap hidup. Selanjutnya kita tumbuh menjadi anak-anak sehingga ada di antara kita yang meninggal dan kita termasuk yang tetap hidup. Setelah itu tumbuh menjadi dewasa sehingga ada di antara kita menjadi tua tanpa orang tua, lalu apa lagi yang harus kita tunggu?” demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Firman Allah Ta’ala: fa laa tuzakkuu anfusakum (“Maka janganlah kalian mengatakan dirimu suci.”) maksudnya, janganlah kalian memuji dan mensyukuri diri kalian serta berharap banyak terhadap amalan kalian. Huwa a’lamu bimanihtadaa (“Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”)

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, dari Muhammad bin ‘Amr bin ‘Atha’, ia berkata: “Aku telah memberi nama anak perempuanku dengan Barrah.  Kemudian Zainab binti Abi Salamah berkata kepadaku bahwa Rasulullah saw. bersabda: ‘Jangan kalian anggap diri kalian suci, sesungguhnya Allah lebih mengetahui orang-orang yang baik di antara kita.’ Para shahabat bertanya: ‘Lalu dengan apa kami boleh memberinya nama?’ Beliau menjawab: ‘Namailah ia Zainab.’”

Dan juga telah ditegaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari ayahnya, ia berkata: “Ada seseorang yang memuji  orang lain di sisi Nabi saw. maka beliau bersabda: ‘Celaka engkau, engkau telah memenggal leher temanmu –berkali-kali-, Jika salah seorang di antara kalian  harus memuji temannya, maka hendaklah ia mengatakan: Aku hanya mengira tentang si Fulan, Allah-lah yang mengetahuinya dengan sebenarnya, dan aku tidak menganggap seseorang terpuji dengan mendahului Allah, ‘aku kira dia begini dan begitu.’ Jika ia mengetahui orang itu memang demikian.’” Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah  melalui jalan Khalid al-Hadza’.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Hamam bin Harits, ia berkata: “Ada seseorang yang datang kepada ‘Utsman, lalu ia memujinya di hadapannya. Kemudian al-Miqdad bin al-Aswad menaburkan tanah pada wajahnya  seraya berkata: ‘Rasulullah saw. memerintahkan kepada kami apabila bertemu dengan orang-orang yang suka memuji-muji agar menaburkan tanah pada wajah mereka.’” Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud dari hadits  ats-Tsauri dari Manshur.

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (7)

11 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)
Surat Makkiyyah; Surat ke 53: 62 ayat
tulisan arab alquran surat an najm ayat 27-30“27. Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan Malaikat itu dengan nama perempuan. 28. dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang Sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. 29. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. 30. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (an-Najm: 27-30)

Allah SWT berfirman seraya mengingkari orang-orang musyrik yang menyebut para malaikat sebagai makhluk berjenis perempuan dan mereka jadikan para malaikat itu sebagai anak perempuan Allah, yang Dia Mahatinggi dari semua itu. Oleh karena itu Dia berfirman: Wa maa lahum bihii min ‘ilm (“Dan mereka tidak mempunyai suatu pengetahuan pun tentang itu.”) maksudnya, mereka tidak mempunyai pengetahuan yang benar untuk mendukung pernyataan itu, bahkan hal itu hanya merupakan kedustaan, tipu daya dan rekayasa, serta kekufuran yang menjijikkan.

Iy yattabi’uuna illadz dzanna wa innadz dzanna laa yughnii minal haqqi syai-aa (“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.”) maksudnya, tidak akan pernah mendatangkan manfaat sedikitpun dan tidak pula akan dapat menempati posisi kebenaran. Dan di dalam hadits shahih telah ditetapkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah sedusta-dusta ucapan.”

Firman Allah Ta’ala: Fa a’ridl ‘am mantawallaa ‘ang dzikrinaa (“Maka berpalinglah [hai Muhammad] dari orang yang berpaling  dari peringatn Kami.”) maksudnya, berpaling dan menjauh dari orang yang berpaling dari kebenaran serta menyelisihi orang tersebut.

Firman-Nya: Wa lam yurid illal hayaatad dun-yaa (“Dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi.”) maksudnya, keinginan dan pengetahuannya didominasi oleh dunia saja, dan itulah yang menjadi tujuan puncak yang di dalamnya tidak mengandung  kebaikan sama sekali. Oleh karena itu  Allah berfirman: Dzaalika mablaghuhum minal ‘ilm (“Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka.”) yakni mencari dan mengejar dunia, dan itulah tujuan akhir yang mereka capai.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a. ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Dunia ini adalah tempat tinggal orang yang tidak mempunyai rumah, harta bagi orang yang tidak mempunyai harta benda. Dan karenanya [dunia] orang-orang yang tidak berakal berlomba-lomba untuk mengumpulkannya.” Dan dalam doa dari Rasulullah saw. disebutkan: Allaahumma laa taj’alid dun-yaa akbara Hamminaa, wa laa mablagha ‘ilminaa (“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai puncak cita-cita dan tujuan akhir pengetahuan kami.”)

Firman Allah Ta’ala: inna rabbaka huwa a’lamu bimang dlalla ‘ang sabiilihii wa huwa a’lamu bimaniHtadaa (“Sesungguhnya Rabb-mu, Dia pula lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”) maksudnya, Dia adalah Pencipta bagi seluruh makhluk, Mahatahu  kemashlahatan hamba-hamba-Nya, dan Dia-lah yang memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki pula. Semua itu karena kekuasaan, ilmu, dan hikmah-Nya. Dan Dia Mahaadil, yang tidak akan berbuat aniaya sama sekali, baik dalam syariat maupun kekuasaan-Nya.

tulisan arab alquran surat an najm ayat 31-32“31. dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga). 32. (yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunanNya. dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (an-Najm: 31-32)

Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia adalah Penguasa langit dan bumi, dan Dia sama sekali tidak memerlukan pihak lain. Dia yang mengatur makhluk-Nya dengan penuh keadilan dan menciptakan makhluk dengan benar. Liyajziyal ladziina asaa-uu bimaa ‘amiluu wa yajziyal ladziina ahsanuu bil husnaa (“Supaya dia beri balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik [surga].”) maksudnya, dia akan memberi balasan kepada setiap individu sesuai dengan amalnya. Jika amalnya baik maka akan dibalas dengan kebaikan, dan keburukan dibalas dengan keburukan.

Kemudian Allah Swt. menjelaskan orang-orang yang berbuat baik sebagai orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Artinya mereka tidak mengerjakan semua itu. Kalaupun ada di antara mereka yang mengerjakan dosa-dosa kecil, maka sesungguhnya Dia akan memberikan ampunan kepada mereka dan menutupinya. Sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam ayat lain: In tajtanibuu kabaa-ira maa tunHauna ‘anHu nukaffir ‘ankum sayyi-aatikum wa nudkhilakum mudkhalan kariima (“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu [dosa-dosamu yang kecil]  dan Kami masukkan kamu  ke tempat yang mulia [surga].”)(an-Nisaa’: 31)

Sedangkan di sini, Allah  berfirman: Alladziina yajtanibuuna kabaa-iral itsmi wal fawaahisya illal lamam (“Orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji selain dari kesalahan-kesalahan kecil.”) yang demikian itu merupakan istitsna’ munqathi’ [pengecualian terputus], karena al-lamam itu merupakan bagian dari dosa-dosa kecil dan amal-amal yang tidak terpuji.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas r.a. ia berkata: “Aku tidak melihat suatu perkara yang lebih menyerupai al-lamam  selain apa yang dikatakan oleh Abu Hurairah  r.a dari Nabi saw., beliau  bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang ia pasti akan mengalaminya, tidak mungkin tidak. Zina mata berupa pandangan, zina lidah berupa perkataan, sedang hati mengangankan dan menginginkan, dan kemaluan(lah) yang membenarkan atau mendustakan hal itu.” Hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab ash-Shahihain.

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (5)

4 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 53: 62 ayat

tulisan arab alquran surat an najm ayat 19-26 “19. Maka Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza,20. dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? 21. Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? 22. yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. 23. itu tidak lain hanyalah Nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. 24. atau Apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? 25. (Tidak), Maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. 26. dan berapa banyaknya Malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (an-Najm: 19-26)

Allah berfirman seraya  mencela orang-orang musyrik atas penyembahan mereka terhadap berhala-berhala dan sekutu-sekutu serta patung-patung, juga tindakan mereka membuatkan rumah-rumah untuk sembahan-sembahan mereka itu sebagai tandingan bagi Ka’bah yang telah dibangun oleh kekasih Allah, Ibrahim a.s.. Afa ra-aitumul laata (“Maka apakah patut kamu [hai orang-orang musyrik] menganggap al-Lata?”) al-Lata adalah batu putih besar yang  diukir, difasilitasi dengan rumah, tirai, para penjaga, dikelilingi oleh halaman, dan sangat diagungkan oleh kalangan penduduk Tha’if, mereka adalah bani Tsaqif dan para pengikutnya. Mereka membanggakan diri dengan al-Lata atas orang lain dari bangsa Arab setelah Quraisy. Ibnu Jarir mengatakan: “Mereka telah mengambil nama al-Lata itu dari Nama Allah seraya mengatakan: ‘Al-Lata,’ yang mereka maksudkan adalah pasangan perempuan dari Allah. Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan itu setinggi-tingginya.”

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman-Nya: al-laata wal ‘uzzaa (“Al-Lata dan al-‘Uzza”) ia mengatakan: “Al-Lata adalah seorang laki-laki yang menumbuk tepung bagi para jama’ah haji.”

Ibnu Jarir mengungkapkan bahwa demikian halnya dengan al-‘Uzza yang berasal dari kata al-‘Aziiz, yaitu sebuah pohon yang dinaungi bangunan dan tirai dari daerah Nikhlah yang terletak antara Mekah dan Tha-if, dimana orang-orang Quraisy sangat mengagungkannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Sufyan pada saat terjadi perang Uhud: ‘Kami mempunyai al-‘Uzza sedang kalian tidak.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Katakanlah: ‘Allah adalah Pelindung kami dan tidak ada pelindung bagi kalian.’”

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa bersumpah, maka hendaklah ia mengucapkan: laa ilaaha illallaah (“Tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah”). Dan barangsiapa berkata kepada temannya: ‘Kemarilah, mari kita main undian.’ Maka hendaklah ia bershadaqah.” Hadits tersebut diarahkan kepada orang yang lidahnya terlanjur mengucapkan sumpah tersebut, sebagaimana lidah-lidah mereka sudah terbiasa mengucapkannya di masa jahiliyah.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh an-Nasa-i, Yunus memberitahu kami dari ayahnya, Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash  memberitahuku dari ayahnya, ia berkata: “Aku pernah bersumpah dengan al-Lata dan al-‘Uzza,” lalu para sahabatku berkata: “Sungguh buruk apa yang engkau katakan itu. Engkau telah mengatakan sesuatu yang  menyimpang.” Kemudian aku mendatangi Rasulullah saw. lalu kuceritakan hal tersebut kepada beliau, maka beliau bersabda: “Ucapkanlah: ‘Tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.’ Kemudian meludahlah tiga kali ke sebelah kirimu dan berlindunglah kepada Allah dari syaitan yang terkutuk, dan kemudian janganlah engkau  mengulangi lagi.”

Adapun Manat terdapat di Musyallal, daerah Qadid yang terletak antara Mekah dan Madinah. Bani Khuza’ah, Aus, dan Khazraj sangat mengagungkannya pada masa jahiliyah dan mereka mengucapkan talbiyah dari sana ketika hendak menunaikan ibadah haji menuju Ka’bah. Hal yang senada juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dari ‘Aisyah. Di jazirah Arab dan yang lainnya terdapat thaghut-thaghut lain selain ketiga thaghut di atas yang senantiasa diagungkan oleh orang-orang Arab layaknya mereka mengagungkan Ka’bah, dimana dalil tentang semua itu telah tercantum di dalam Kitab-Nya yang mulia. Disebutkannya ketiga hal di atas secara khusus karena ketiganya adalah yang paling masyhur.

Di dalam kitab as-Siirah, Ibnu Ishaq mengatakan: “Dahulu masyarakat Arab membuat thaghut-thaghut sebagai rumah selain Ka’bah yang mereka agung-agungkan seperti pengagungan mereka terhadap Ka’bah. Thaghut-thaghut itu mempunyai penjaga dan tirai, juga diberi persembahan sebagaimana persembahan yang diberikan kepada Ka’bah. Serta dijadikan sebagai tempat thawaf sebagaimana halnya thawaf di Ka’bah, juga dijadikan tempat penyembelihan kurban. Namun mereka mengetahui bahwa Ka’bah lebih utama daripada thaghut-thaghut tersebut karena Ka’bah adalah rumah yang dibangun oleh Ibrahim a.s. sekaligus sebagai masjidnya.

Sementara itu kaum Quraisy dan bani Kinanah mempunya al-‘Uzza di Nikhlah, yang menjadi penjaga dan pemberi tirainya adalah Bani Syaiban dari Salim, para sekutu Bani Hasyim. Kemudian kukatakan bahwa Rasulullah saw. mengutus Khalid bin al-Walid, yang menghancurkannya seraya berucap: “Wahai ‘Uzza, kekufuran menyelimutimu dan tidak ada kesucian padamu, sesungguhnya aku melihat Allah telah menghinakanmu.”

An-Nasa-i meriwayatkan dari Abuth Thufail, ia berkata bahwa setelah Rasulullah saw. membebaskan kota Mekah, beliau mengutus Khalid bin al-Walid ke Nikhlah yang disana terdapat al-‘Uzza. Khalid mendatanginya, ketika al-‘Uzza berada di atas tiga pohon Samurah, maka Khalid memotong ketiga pohon itu kemudian menghancurkan rumah yang terdapat di sana. Lalu mendatangi Nabi saw, dan Khalid memberitahukannya. Maka beliau bersabda: “Kembalilah ke tempat itu, sesungguhnya engkau belum berbuat apa-apa.”

Khalid pun kembali, ketika ia dilihat oleh para penjaga thaghut al-‘Uzza, maka mereka berusaha membuat tipu muslihat. Mereka berkata: “Ya ‘Uzza, ya ‘Uzza.” Maka Khalid mendatanginya. Ternyata ada seorang wanita dalam keadaan telanjang dengan rambut terurai dan menaburkan debu di kepalanya. Khalid langsung menebas leher wanita itu dengan pedang hingga azal menjemputnya. Kemudian Khalid kembali kepada Rasulullah saw. dan memberitahukan hal itu kepada beliau, maka beliaupun bersabda: “Itulah al-‘Uzza.”

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (4)

4 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 53: 62 ayat

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Masruq, ia berkata: “Aku pernah berada di sisi ‘Aisyah, lalu kutanyakan: ‘Bukankah Allah telah berfirman: wa laqad ra-aahu bil ufuqil mubiin (“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.”) wa laqad ra-aahu nazlatan ukhraa (“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu [dalam rupa yang asli] pada waktu yang lain”) ?” maka ‘Aisyah menjawab: ‘Aku adalah orang pertama dari umat ini yang menanyakan hal itu  kepada RAsulullah saw. Beliau menjawab: “Sesungguhnya ia adalah Jibril”.

Dan Rasulullah tidak pernah melihat Jibril dalam bentuk aslinya kecuali hanya dua kali saja. Beliau melihatnya turun dari langit ke bumi. Bentuk ciptaannya yang besar telah menutupi ruang antara langit dan bumi. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab Shahih keduanya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Syuqaq, ia berkata: “Aku pernah berkata kepada Abu Dzarr: ‘Seandainya aku melihat Rasulullah, niscaya aku akan bertanya kepadanya.’ Ia bertanya: ‘Apa yang ingin engkau tanyakan kepada beliau?’ aku menjawab: ‘Aku akan menanyakan kepada beliau: Apakah beliau pernah melihat Rabb-nya.’ Lalu  ia [Abu Dzarr] berkata: ‘Sesungguhnya aku telah menanyakan hal itu kepada beliau, dan beliau menjawab: ‘Aku sudah pernah melihat-Nya, (dalam wujud) cahaya, maka sungguh aku melihat-Nya.”

Demikianlah yang ada dalam riwayat Imam Ahmad. Dan Imam Muslim telah meriwayatkannya dari melalui dua jalan dan dua lafazh. Ia meriwayatkan dari Abu Dzarr, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw.: ‘Apakah engkau pernah melihat Rabb-mu?’ Beliau menjawab: ‘(Dalam wujud) cahaya, sesungguhnya  aku  telah melihat-Nya.’”

Dan diriwayatkan pula dari ‘Abdullah bin Syaqiq, ia berkata: “Aku pernah katakan kepada Abu  Dzarr: ‘Seandainya aku sempat melihat Rasulullah saw. Niscaya aku akan bertanya  kepada beliau.’ Maka Abu  Dzarr bertanya: ‘Tentang masalah apa yang akan engkau tanyakan?’ ia menjawab: ‘Aku akan menanyakan: Apakah engkau telah melihat Rabb-mu?’ Maka Abu Dzarr berkata: ‘Aku telah tanyakan hal itu pada beliau, maka beliau menjawab: aku  telah melihat cahaya.’” Dalam meng’ilahnya, al-Khallal telah menyebutkan bahwa Imam Ahmad pernah ditanya tentang hadits ini, maka ia menjawab: “Aku telah mengingkarinya dan aku tidak mengetahui sisinya.”

Firman Allah Ta’ala: idz yaghsyas sidrata maa yaghsyaa (“[Muhammad melihat Jibril] ketika sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.”) telah diuraikan di dalam hadits-hadits tentang Isra’, bahwa Sidratil Muntaha itu diliputi oleh para malaikat seperti burung-burung gagak, dan diliputi pula oleh cahaya Rabb serta aneka warna yang aku sendiri tidak tahu apakah itu.” Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Ketika Rasulullah saw. diisra’kan hingga sampai ke Sidratul Muntaha –yaitu langit ketujuh-, di sanalah batas akhir sesuatu yang yang turun dari tempat yang ada di atas Sidratul Muntaha, kemudian diambillah sesuatu itu dari sana.”

Idz yaghsyas sidrata maa yaghsyaa (“ketika sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya”) Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa ia berupa permadani dari emas. Lebih lanjut ia berkata: “Telah diberikan kepada Rasulullah saw. tiga hal: shalat lima waktu, beberapa ayat terakhir surat al-Baqarah, dan ampunan bagi seseorang di antara umatnya yang tidak mempersekutukan Allah dengan selain-Nya atas perbuatan-perbuatan yang dilakukan tanpa berfikir terlebih dahulu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim sendiri.

Firman Allah Ta’ala: maa zaaghal bashara wa maa thaghaa (“Penglihatannya [Muhammad] tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Pandangan beliau tidak melihat ke kanan dan ke kiri.” Wa maa thaghaa (“Dan tidak pula melampauinya”) maksudnya ia tidak melampaui  batas yang telah diperintahkan kepada beliau. Ini merupakan sifat agung dari ketepatan hati dan ketaatan kepadanya dan tidak pula meminta lebih dari apa yang telah Allah perintahkan kepadanya dan tidak pula meminta lebih dari apa yang telah Allah perintahkan. Sungguh indah ungkapan  salah seorang penyair: “Ia melihat Surga Ma-wa dan segala yang ada di atasnya. Seandainya  orang lain yang melihat apa yang pernah dilihatnya, niscaya dia tinggi hati.”

Firman Allah Ta’ala: laqad ra-aa min aayaati rabbihil kubraa (“Sesungguhnya ia telah melihat sebagian tanda-tanda kekuasaan Rabbnya yang paling besar.”) sebagaimana firman-Nya: linuriyahuu min aayaatinaa (“Untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat kami.”) (al-Israa’: 1) yakni tanda-tanda yang menunjukkan pada kekuasaan dan keagungan Kami.

Kedua ayat tersebut dijadikan dalil oleh Ahlus Sunnah yang berpendapat  bahwa “ru’yah” (melihatnya Nabi kepada Rabb) pada malam itu tidaklah terjadi. Karena Allah telah berfirman: laqad ra-aa min aayaati rabbihil kubraa (“Sesungguhnya ia telah melihat sebagian tanda-tanda kekuasaan Rabbnya yang paling besar.”) Seandainya Nabi melihat Rabb-nya, niscaya hal itu akan diberitahukan kepada umat manusia, dan pastilah hal itu akan diperbincangkan banyak orang. Penegasan mengenai hal itu telah diuraikan dalam surat al-Israa’.

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (2)

4 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 53: 62 ayat

tulisan arab alquran surat an najm ayat 5-18 “5. yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. 6. yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) Menampakkan diri dengan rupa yang asli. 7. sedang Dia berada di ufuk yang tinggi. 8. kemudian Dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. 9. Maka jadilah Dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). 10. lalu Dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. 11. hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. 12. Maka Apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? 13. dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, 14. (yaitu) di Sidratil Muntaha. 15. di dekatnya ada syurga tempat tinggal, 16. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. 17. penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. 18. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”(al-Qamar: 5-18)

Allah Swt. berfirman seraya memberitahukan tentang hamba dan Rasul-Nya, Muhammad saw, bahwa beliau telah diberi pelajaran yang ia bawa kepada umat manusia oleh makhluk yang sangat kuat, yaitu Jibril a.s. sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala:

“19. Sesungguhnya Al Qur’aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), 20. yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan Tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, 21. yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (at-Takwiir: 19-21)

Disini Allah berfirman: dzuu mirrah (“Yang mempunyai akal yang cerdas”) yakni yang mempunyai kekuatan. Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, al-Hasan, dan Ibnu Zaid. Dalam sebuah hadits shahih telah disebutkan, dari riwayat Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah, bahwa Nabi saw. telah bersabda: “Tidak diperbolehkan memberi sedekah kepada orang kaya dan orang yang mempunyai kekuatan normal.”

Dan firman Allah Ta’ala: fas tawaa (“Dan yang menampakkan diri dengan rupa yang asli.”) yakni Jibril a.s. Demikianlah yang dikemukakan oleh al-Hasan, Mujahid, Qatadah, ar-Rabi’ bin Anas. Wa huwa bil ufuqil a’laa (“Sedang dia berada di ufuk yang tinggi”) yakni Jibril bertempat di ufuk yang tinggi. Demikian yang dikatakan oleh ‘Ikrimah dan beberapa ulama lainnya. ‘Ikrimah mengemukakan: “Ufuk yang tinggi adalah (tempat) yang darinya  shubuh datang.”

Penglihatan Rasulullah saw. terhadap Jibril itu tidak terjadi pada malam isra’, tetapi sebelumnya, ketika itu  beliau tengah berada di muka bumi, lalu Jibril turun dan mendekati beliau sampai benar-benar dekat.  Pada waktu  itu Jibril dalam wujud yang telah diciptakan Allah, dimana ia mempunyai enamratus sayap. Setelah itu beliau melihatnya lagi di Sidratul Muntaha, yaitu pada malam isra’. Penglihatan tersebut adalah pemandangan pertama pada awal-awal masa pengutusan setelah beliau didatangi Jibril a.s. pada kali pertama, dan kepadanya diwahyukan beberapa ayat permulaan surat Iqra’ (al-‘Alaq). Setelah itu wahyu pun terputus dalam beberapa masa, yang pada masa itu pula Rasulullah saw. berkali-kali ke puncak gunung hendak menjatuhkan diri. Setiap kali beliau berniat seperti itu, Jibril a.s. pun memanggilnya dari udara: “Hai Muhammad, engkau benar-benar utusan Allah, dan aku adalah Jibril.” Maka jiwa beliau menjadi tenang dan pandangan mata beliau pun menjadi sejuk.

Kemudian setiap kali kejadian itu berlangsung lama, beliau mengulangi perbuatannya itu sehingga Jibril menampakkan diri kepada beliau yang ketika itu beliau berada di daerah Abthah dalam wujud aslinya yang telah diciptakan Allah. Ia mempunyai enam ratus sayap yang masing-masing sayap besarnya mampu menutupi ufuk. Lalu ia mendekati Nabi dan mewahyukan kepada beliau dari Allah tentang apa yang Dia perintahkan. Pada saat itu Rasulullah mengetahui keagungan Malaikat yang telah datang kepadanya dengan membawa risalah, juga mengetahui kebesaran kekuasaannya serta ketinggian kedudukannya di sisi Penciptanya yang telah mengutusnya kepada beliau. Wallaahu a’lam.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah, bahwasannya ia pernah berkata: “Rasulullah saw. pernah melihat Jibril dalam wujud aslinya yang ia mempunyai enam ratus sayap, yang setiap sayapnya telah menutupi ufuk. Dari sayapnya itu berguguran batu permata, mutiara, dan batu mulia, yang Allah benar-benar mengetahuinya.”

Demikianlah hadits yang diriwayatkan sendiri oleh Ahmad. Dan Ibnu ‘Asakir juga meriwayatkan dalam terjemahan ‘Utbah bin Abi Lahab melalui jalan Muhammad dari Hanad bin al-Aswad, ia berkata: “Abu Lahab dan putra-putranya, ‘Utbah pernah bersiap-siap berangkat ke Syam, maka akupun bersiap-siap berangkat bersama keduanya. Lalu putranya, ‘Utbah berkata: “Demi Allah, aku pasti akan pergi menemui Muhammad dan menyakitinya berkenaan dengan Rabbnya. Lalu  dia berangkat hingga menemui Nabi saw. seraya berkata: ‘Hai Muhammad,’ ia kufur terhadap malaikat yang mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah ia dekat (kepada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Maka Nabi saw. berucap: ‘Ya Allah, kuasakanlah atasnya seekor anjing dari anjing-anjing-Mu.’ Kemudian dia berpaling dan kembali lagi kepada ayahnya, lalu ayahnya bertanya: ‘Wahai anakku, apa yang telah engkau katakan kepadanya?’ lalu ia menceritakan apa yang terjadi. Maka ayahnya berkata: ‘Apa yang telah diucapkan dari lisannya?’ Anaknya berkata: ‘Ia mengucapkan: Ya Allah, kuasakanlah atasnya seekor anjing dari anjing-anjing-Mu.’ Maka sang ayah berkata: ‘Wahai putraku, demi Allah, aku tidak dapat menahan doanya atas dirimu.’ Kemudian kami terus berjalan sampai kami singgah di suatu tempat, lalu kami singgah di tempat ibadah seorang rahib. Maka rahib itu berkata: ‘Wahai bangsa Arab sekalian, dimanapun tempat kalian singgah, maka akan berkeliaran di dalamnya singa, sebagaimana berkeliarannya kambing.’ Lalu Abu Lahab berkata kepada kami: ‘Sesungguhnya kalian telah mengetahui usiaku yang sudah lanjut, dan sesungguhnya orang ini (Muhammad) telah mendoakan keburukan  kepada putraku. Demi Allah aku tidak dapat mencegah doanya atas putraku ini. Oleh karena itu kumpulkanlah bekal makanan kalian ke tempat ini dan hamparkan hamparan untuk putraku di atasnya. Kemudian hamparkanlah hamparan di sekitar makanan tersebut.’ Maka kamipun melakukannya. Tiba-tiba ada seekor singa, lalu mencium wajah-wajah kami. Ketika singa itu tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, iapun menyingkir dan melompat dengan sekali lompat, tiba-tiba ia sudah berada di atas makanan dan kemudian mencium wajahnya (putra Abu Lahab) dan kemudian menerkamnya dengan sekali terkaman sehingga kepalanya pun tercabik-cabik. Kemudian Abu Lahab berkata: ‘Aku sudah tahu bahwa ia tidak akan lepas dari doa Muhammad.’”

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (1)

4 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 53: 62 ayat

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Abdullah, ia berkata: “Surat yang pertama kali diturunkan yang di dalamnya terdapat as-Sajdah (ayat yang di dalamnya ada perintah untuk melakukan sujud [baik secara langsung atau tidak] setelah membaca ayat tersebut, di dalam shalat atau di luar shalat) adalah surah an-Najm. Maka Nabi saw. bersujud, lalu orang-orang di belakang beliaupun ikut sujud, kecuali satu orang yang aku lihat mengambil segenggam tanah dan bersujud di atasnya, dan setelah itu aku lihat ia terbunuh dengan sebab kekafirannya, yaitu Umayyah bin Khalaf.”

Dan telah diriwatkan oleh Imam Muslim dan Abu Dawud serta an-Nasa-i, melalui beberapa jalan dari Abu Ishaq. Mengenai ungkapannya (‘Abdullah) dalam al-Mumtani’, baha ia adalah Umayyah bin Khalaf, maka dalam riwayat ini terdapat musykil (persoalan), karena ada juga riwayat  yang diperoleh selain dari jalan ini menyebutkan bahwa ia adalah ‘Utbah bin Rabi’ah.

tulisan arab alquran surat an najm ayat 1-4 “1. demi bintang ketika terbenam. 2. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. 3. dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.4. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (an-Najm: 1-4)

Asy-Sya’bi dan juga ulama lainnya mengatakan: “Al-Khalik (Allah) itu dapat bersumpah dengan makhluk ciptaan-Nya yang  Dia kehendaki. Sedangkan makhluk-Nya tidak boleh bersumpah kecuali dengan menyebut nama sang Pencipta (Allah) saja.” Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna firman-Nya: wan najmi idzaa hawaa (“Demi bintang  ketika terbenam”) dimana Ibnu Abi Najih menceritakan dari Mujahid: “Yang dimaksud dengan an-Najm adalah bintang tujuh (tatasurya) yang hilang/jatuh bersamaan dengan terbitnya fajar.” Demikian yang diriwayatkan  dari Ibnu ‘Abbas dan Sufyan ats-Tsauri serta menjadi pilihan Ibnu Jarir. Mengenai firman-Nya: wan najmi idzaa hawaa (“Demi bintang  ketika terbenam”) adl-Dlahhak mengatakan: “Yakni ketika melempari syaitan-syaitan dengannya.” Dan pendapat ini mempunyai beberapa sudut pandang.

Dan firman Allah Ta’ala: maa dlalla shaahibukum wa maa ghawaa (“Kawanmu tidak sesat dan tidak pula keliru.”) inilah yang menjadi tujuan sumpah Allah Ta’ala, yaitu kesaksian dari-Nya atas Rasul-Nya, Muhammad saw. bahwa beliau adalah seorang yang lurus, mengikuti kebenaran dan bukan orang yang sesat. Yang dimaksud sesat disini adalah orang bodoh yang berjalan tanpa petunjuk dan ilmu pengetahuan. Sedangkan yang dimaksud dengan al-ghawi adalah orang yang mengetahui kebenaran tapi menyimpang darinya kepada selainnya dengan sengaja.

Maka Allah Ta’ala mensucikan Rasul dan syariat-Nya dari keserupaan dengan orang-orang sesat seperti pemeluk-pemeluk Nasrani dan orang-orang Yahudi. Keserupaan itu dalam hal kepemilikan ilmu tentang sesuatu, lalu menyembunyikannya serta mengerjakan hal yang bertolak belakang dengan apa yang diketahuinya tersebut. Sedang Rasulullah saw. dan syariat yang dibawa dari Allah berada di puncak istiqamah, keseimbangan, dan kelurusan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: wa maa yanthiqu ‘anil hawaa (“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.”) maksudnya, beliau tidak mengucapkan sesuatu yang bersumber dari hawa nafsu.

In huwa illaa wahyuy yuuhaa (“Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan [kepadanya]”) artinya, beliau hanya mengatakan apa yang telah diperintahkan kepada beliau dan menyampaikannya kepada umat manusia secara sempurna tanpa melakukan penambahan dan pengurangan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata: “Aku senantiasa menulis setiap apa yang aku dengar dari Rasulullah saw. dengan maksud memeliharanya, lalu dilarang oleh kaum Quraisy. Mereka berkata: ‘Sesungguhnya engkau menulis segala sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah saw. padahal ia hanya manusia biasa yang bisa [saja] berbicara dalam keadaan marah.’ Maka aku pun berhenti menulis, selanjutnya aku ceritakan hal tersebut kepada Rasulullah saw. maka beliau bersabda: ‘Tulislah, demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada yang keluar dari diriku melainkan kebenaran.’” (HR Abu Dawud).

Al-Hafizh Abu Bakar al-Bazzar meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apa yang telah aku kabarkan kepada kalian bahwasannya ia berasal dari sisi Allah, maka itulah yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya.” Kemudian al-Hafizh mengemukakan: “Kami tidak meriwayatkan kecuali dengan sanad ini.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Aku tidak berkata kecuali kebenaran.” Sebagian shahabat beliau berkata: “Sesungguhnya engkau bergurau dengan kami ya Rasulullah.” Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku tidak berkata kecuali kebenaran.”