Tag Archives: an naml

Mewarnai Gambar Kaligrafi Nama Surah An-Naml

19 Okt

Mewarnai Gambar Kaligrafi
Nama-Nama Surah Al-Qur’an Anak Muslim

mewarnai gambar tulisan surah an-naml anak muslim

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 91-93 (26)

5 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 91-93“91. aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri. 92. dan supaya aku membacakan Al Quran (kepada manusia). Maka Barangsiapa yang mendapat petunjuk Maka Sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan Barangsiapa yang sesat Maka Katakanlah: “Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan”. 93. dan Katakanlah: “Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, Maka kamu akan mengetahuinya. dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan”. (an-Naml: 91-93)

Allah berfirman mengabarkan kepada Rasul-Nya serta memerintahkannya untuk mengatakan: innamaa umirtu an a’buda rabba Haadzal baldati ladzii harramaHaa wa laHuu kullu syai-in (“Aku hanya diperintahkan untuk beribadah kepada Rabb negeri ini [Makkah] Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya lah segala sesuatu.”) menyandarkan rubbubiyyah-Nya kepada sebuah negeri sebagai cara penghormatan dan perhatian terhadapnya [Makkah]. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Maka hendaklah mereka beribadah kepada Rabb pemilik rumah ini [Ka’bah]. Yang telah memberikan makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Quraisy: 3-4)

Firman Allah: alladzii harramaHaa (“Yang telah menjadikannya suci.”) yakni Yang menjadikannya tanah haram menurut hukum syar’i dan memberikan nilai yang tinggi dengan penghormatan Allah terhadapnya.

Sebagaimana telah ditetapkan di dalam ash-Shahihain, bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: Rasulullah saw. pada hari fathu Makkah: “Sesungguhnya negeri ini telah diharamkan oleh Allah sejak hari penciptaan langit dan bumi. Maka dia adalah haram dengan kehormatan Allah hingga hari kiamat. Tidak ada yang mencabut satu duri pun, tidak ada yang memburu binatang buruannya dan tidak ada yang mengambil barang temuannya kecuali untuk mengetahui siapa pemiliknya dan tidak dipotong tumbuh-tumbuhannya yang masih hidup.” (al-Hadits)

Telah tercantum pula di dalam kitab-kitab Shahih, kitab-kitab Hasan dan kitab-kitab Musnad dari jalan jama’ah yang memberi manfaat pasti sebagaimana dijelaskan di dalam tempatnya pada kitab-kitab hukum. Hanya milik Allah segala puji.

Firman Allah Ta’ala: wa laHuu kullu syai-in (“dan kepunyaan-Nyalah segala sesuatu”) termasuk bab ‘athaf umum yang khusus, yakni Dialah Rabb negeri ini serta Rabb dan Raja segala sesuatu, tidak ada ilah kecuali Dia. wa umirtu an akuuna minal muslimiin (“Dan aku diperintahkan agar aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”) yaitu orang-orang yang bertauhid, ikhlas dan tunduk kepada perintah-perintah-Nya serta taat kepada-Nya.

firman-Nya: wa an atluwal qur-aana (“Dan agar aku membacakan al-Qur’an”) yaitu kepada manusia, dimana aku sampaikan hal itu kepada mereka. Aku seorang penyampai dan pemberi peringatan. Fa maniHtadaa fa innamaa yaHtadii linafsiHii wa man dlalla fa qul innamaa ana minal mundziriin (“Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk dirinya. Dan barangsiapa yang sesat, maka katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan.’”) yakni, aku memiliki suri tauladan dengan para Rasul yang mengancam kaum mereka dan menegakkan kewajiban atas mereka dalam menunaikan risalah serta membebaskan diri dari tugas mereka. sedangkan perhitungan umat-umat mereka kembali kepada Allah Ta’ala, seperti firman Allah yang artinya: “Karena sesungguhnya tugasnya hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisap amalan mereka.” (ar-Ra’du: 40)

wa qulil hamdu lillaaHi sayuriikum aayaatiHii fa ta’rifuunaHaa (“Dan katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya.’”) yaitu milik Allah pujian yang tidak akan menyiksa seseorang kecuali setelah ditegakkannya hujjah dan peringatan kepadanya. Untuk itu Allah berfirman: sayuriikum aayaatiHii fa ta’rifuunaHaa (“Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya.”) sebagaimana firman Allah yang artinya: “Kami akan memperlihatkan kepadanya tanda-tanda [kekuasaan] Kami di segenap ufuk dan pada diri merek sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an ini adalah benar.” (Fushilat: 53)

firman Allah: wa maa rabbuka bighaafilin ‘ammaa ta’maluun (“Dan Rabbmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan.”) bahkan Dialah saksi atas segala sesuatu.

Diceritakan dari Imam Ahmad, bahwasannya beliau bersenandung dengan dua bait syair ini:
“Jika suatu hari engkau sendiri, maka janganlah engkau katakan
aku sendiri. Akan tetapi, katakanlah aku memiliki pengawas.
Jangan engkau kira Allah lalai sesaatpun.
Dan jangan kira apa yang tersembunyi dari-Nya itu akan hilang.”

Selesai.

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 87-90 (25)

5 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 87-90“87. dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, Maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri. 88. dan kamu Lihat gunung-gunung itu, kamu sangka Dia tetap di tempatnya, Padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. 89. Barangsiapa yang membawa kebaikan, Maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu. 90. dan barang siapa yang membawa kejahatan, Maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (an-Naml: 87-90)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang keterkejutan manusia pada hari ditiupkan sangkakala. Hal itu sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits yang mana terompet ditiupkan pada waktu itu. Di dalam hadits sangkakala tersebut dinyatakan bahwa Israfil-lah yang meniupkannya dengan perintah Allah Ta’ala. Tiupan pertama adalah tiupan yang mengejutkan, hingga cukup lama waktunya dan hal ini terjadi di akhir umur dunia ketika hari kiamat terjadi, menimpa manusia-manusia terburuk. Maka saat itu terkejutlah penghuni langit dan penghuni bumi.
Illaa maa syaa-allaaHu (“Kecuali siapa yang dikehendaki Allah”) mereka adalah para syuhada, karena mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapat rizky.

Imam Muslim bin al-Hajjaj meriwayatkan, ‘Ubaidullah bin Mu’adz al-Anbarry bercerita kepada kami, ayahku bercerita kepada kami bahwasannya Syu’bah bercerita kepada kami dari an-Nu’man bin Salim, aku mendengar Ya’qub bin ‘Ashim bin ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi berkata, aku mendengar Abdullah bin ‘Amr didatangi seseorang dan berkata, “Hadits apa yang engkau ceritakan bahwa hari kiamat itu akan terjadi demikian dan demikian?” dia menjawab, “SubhaanallaaH?” atau laa ilaaHa illallaaH, atau kalimat semisalnya. Sesungguhnya aku berkeinginan untuk tidak menceritakan sesuatu selama-lamanya. Aku hanya mengatakan, sesungguhnya kalian akan menyaksikan sebentar lagi sebuah perkara besar yang dapat menghancurkan rumah, lalu terjadi ini dan itu, kemudian ia mengatakan, Rasulullah bersabda: ‘Dajjal akan keluar pada umatku, lalu tinggal selama 40 –aku tidak tahu 40 hari, 40 bulan, atau 40 tahun-, Allah mengutus ‘Isa bin Maryam seakan-akan ia seperti ‘Urwah bin Mas’ud, lalu ia mencari dan membinasakannya. Kemudian manusia tinggal selama 7 tahun, dimana tidak ada lagi permusuhan di antara mereka. kemudian Allah mengirimkan angin dingin dari arah Syam, sehingga tidak ada satu makhluk pun yang di dalam hatinya terdapat sedikit saja kebaikan atau keimanan di permukaan bumi yang tersisa, kecuali angin itu yang akan mewafatkannya. Sehingga seandainya salah seorang kalian masuk ke dalam bagian terdalam gunung pun, angin itu akan mengejar dan mewafatkannya.’”

Dia berkata, aku mendengarnya dari Rasulullah saw. ia bersabda: “Maka tersisalah manusia-manusia yang terburuk seperti ringannya burung dan buasnya binatang buas. Mereka tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang munkar. Lalu syaitan dalam bentuk manusia datang kepada mereka dan berkata: ‘Apakah kalian tidak memperkenankan kami?’ Mereka berkata, ‘Lalu apa yang akan engkau perintahkan kepada kami?’ maka syaitan itu memerintahkan mereka untuk menyembah patung-patung, dan dengan demikian mereka memiliki banyak rizky dan kehidupan yang baik. Kemudian ditiupkanlah sangkakala, maka tidak ada satu orangpun yang mendengarkannya kecuali dia mendongak ke atas terheran-heran. Dan orang pertama yang mendengarnya adalah seseorang yang sedang memperbaiki dan melumuri kolam minum ontanya dengan lumpur, lalu ia pingsan dan matilah seluruh manusia. Kemudian Allah mengirimkan hujan, seolah-olah rintik-rintik atau awan gelap [Nu’man ragu-ragu], lalu tumbuhlah jasad-jasad manusia. Kemudian ditiupkan kembali sangkakala dan tiba-tiba mereka berdiri, bangun dan memandang. Lalu dikatakan: ‘Hai manusia! Datanglah kalian menuju Rabb kalian.’ Dan tahanlah merek [di tempat perhentian], karena merek akan ditanya, kemudian dikatakan: ‘Keluarkanlah utusan api neraka.’ maka ditanyakan, ‘Berapa orang?’ dijawab: ‘Dari setiap 1000 ada 999.’ Itulah hari dijadikannya anak-anak beruban dan betis-betis tersingkap.’”

Kemudian, ditiupkanlah sangkakala, maka tidak ada satu orang pun yang mendengarnya melainkan ia mendengarkan seraya mengangkat kepalanya dalam keadaan bingung. Al-lait adalah bagian tengkuk, yaitu miring tengkuknya untuk mendengarkan dengan seksama sesuatu dari langit, inilah tiupan yang mengagetkan. Kemudian setelah itu tiupan kematian. Kemudian, setelah itu lagi tiupan yang membangunkan manusia di hadapan Rabbul ‘aalamiin, yaitu saat dibangkitkan dari kubur untuk seluruh makhluk. Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: wa kullu atauHu daakhiriin (“Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.”) dibaca dengan madd [panjang] atau tidak di atas fi’il [kata kerja] semuanya memiliki satu makna (daakhiriin) yaitu, rendah diri dan taat, tidak ada satu makhlukpun yang menyelisihi-Nya sebagaimana firman Allah yang artinya: “Yaitu pada hari Dia memanggilmu, lalu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya, dan kamu mengira bahwa kamu tidak berdiam [di dalam kubur] kecuali sebentar saja.” (al-Israa’: 52)

Di dalam hadits sangkakala dinyatakan bahwa pada tiupan ketiga, Allah memerintahkan ruh-ruh untuk diletakkan di lubang sangkakala. Kemudian Israfil meniupkannya setelah jasad-jasad itu tumbuh di dalam kubur dan tempatnya. Jika sangkakala itu ditiup, ruh-ruh itu beterbangan, dimana ruh orang-orang Mukmin bercahaya dan ruh orang-orang kafir begitu gelap. Maka Allah berfirman: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh setiap ruh akan kembali kepada jasadnya.” Lalu ruh-ruh itu datang menuju jasadnya masing-masing dengan menyusup ke dalamnya seperti menyusupnya bisa ular orang yang disengat. Kemudian mereka berdiri dengan membersihkan debu dari kubur-kubur mereka.”

Allah berfirman yang artinya: “[yaitu] pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala [sewaktu di dunia].” (al-Ma’aarij: 43)

Firman Allah Ta’ala: wa taral jibaala tahsabuHaa haamidataw wa Hiya tamurru marras sahaab (“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan.”) yaitu engkau lihat dia seakan-akan tetap tidak bergerak seperti apa adanya, padahal ia berjalan seperti gerakan awan, yaitu bergerak dari tempat-tempatnya, sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “Dan [ingatlah] akan hari [yang ketika itu] Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar.” (al-Kahfi: 47).
Dan firman Allah: shun’allaaHil ladzii atqana kulla syai-in (“Demikianlah perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu.”) yaitu Dia melakukan itu dengan ketetapan-Nya yang besar. Alladzii atqana kulla syai-in (“Yang membuat kokoh tiap-tiap sesuatu”) yaitu membuat kokoh setiap apa yang diciptakan-Nya dan meletakkan hikmah-hikmah di dalamnya.

innaHuu khabiirum bimaa taf’aluun (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.”) yaitu Dia mengetahui tentang apa yang dikerjakan hamba-hamba-Nya, baik dan buruk. Lalu mereka akan dibalas dengan balasan yang sempurna. Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan kondisi orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang celaka di saat itu. Dia berfirman: man jaa-a bil hasanati falaHuu khairum minHaa (“Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh yang lebih baik daripadanya.”) Qatadah berkata: “Keikhlasan.”

Sedangkan Zainul ‘Abidin berkata: “Yaitu, Laa ilaaHa illallaaH.” Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjelaskan di tempat yang lain bahwa satu kebaikan memiliki 10 nilai bandingan. Wa Hum min faza’iy yauma-idzin aaminuun (“Sedangkan mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari kejutan yang dahsyat pada hari itu.”) sebagaimana Dia berfirman dalam ayat lain yang artinya: “Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar [pada hari kiamat].” (al-Anbiyaa’: 103).

Firman Allah Ta’ala: wa man jaa-a bis sayyi-ati fakubbat wujuuHuHum fin naari (“Dan barangsiapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka.”) yaitu barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan membawa keburukan, tidak memiliki kebaikan, atau keburukannya mengalahkan kebaikannya, seluruhnya akan dibalas sesuai keadaannya. Untuk itu, Allah berfirman: Hal tujzauna illaa maa kuntum ta’maluun (“Tiadalah kamu dibalasi, kecuali setimpal dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.”)

Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah, Anas bin Malik, ‘Atha’, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, Mujahid, Ibrahim an-Nakha’i, Abu Wa-il, Abu Shalih, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam, az-Zuhri, as-Suddi, adh-Dhahhak, al-Hasan, Qatadah dan Abu Zaid berkata tentang firman-Nya: waman jaa-a bis sayyi-ati (“Dan barangsiapa yang membawa kejahatan”) yaitu syirik.

Bersambung ke bagian 26

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 83-86 (24)

5 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 83-86“83. dan (ingatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka dibagi-bagi (dalam kelompok-kelompok). 84. hingga apabila mereka datang, Allah berfirman: “Apakah kamu telah mendustakan ayat-ayat-Ku, Padahal ilmu kamu tidak meliputinya, atau Apakah yang telah kamu kerjakan?”. 85. dan jatuhlah Perkataan (azab) atas mereka disebabkan kezaliman mereka, Maka mereka tidak dapat berkata (apa-apa). 86. Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Kami telah menjadikan malam supaya mereka beristirahat padanya dan siang yang menerangi? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (an-Naml: 83-86)

Wa yauma nahsyuru min kulli ummatin faujan (“Dan [ingatlah] hari [ketika] Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan umat.”) yaitu setiap kaum dan kurun satu faujan, yakni satu kelompok, mim may yukadzdzibu bi aayaatinaa (“orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.”) sebagaimana Allah berfirman yang artinya: “[Kepada malaikat diperintahkan]: ‘Kumpulkanlah orang-orang yang dhalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu merek sembah.’”) (ash-Shaaffaat: 22)

Firman Allah: faHum yuuza’uun (“lalu merek dibagi-bagi”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Dipilah-pilah.” Qatadah berkata: waz’atun; adalah kelompok pertama dari mereka dikembalikan kepada kelompok terakhir. ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Mereka digiring.”
hattaa idzaa jaa-uu (“Hingga apabila mereka datang”) diam di hadapan Allah, di tempat pengajuan pertanyaan, qaala a kadzdzabtum bi aayaatii wa lam tuhiithuu biHaa ‘ilman ammaa dzaa kuntum ta’lamuun (“Allah berfirman: ‘Apakah kamu telah mendustakan ayat-ayat-Ku, padahal ilmumu tidak meliputinya atau apakah yang telah kamu kerjakan?’”) yakni mereka ditanya tentang ‘aqidah dan amal-amal mereka. ketika mereka tidak termasuk golongan orang-orang yang berbahagia dan mereka termasuk dalam firman Allah:

falaa shaddaqa walaa shallaa. Wa laa kin kadzdzaba wa tawallaa (“Dan ia tidak mau membenarkan [Rasul dan al-Qur’an] dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan [Rasul] dan berpaling [dari kebenaran].)” (al-QiyaamaH: 31-32). Maka di saat itu bukti-bukti ditegakkan kepada mereka dan mereka sama sekali tidak memiliki alasan yang dapat mereka ajukan. Demikian Dia berfirman di sini:

wa waqa’al qaulu ‘alaiHim bimaa dhalamuu faHum laa yanthiquun (“Dan jatuhlah perkataan [adzab] atas mereka disebabkan kedhaliman mereka, maka mereka tidak dapat berkata [apa-apa].”) mereka bisu tidak mampu menjawab, karena mereka di dunia mendhalimi diri mereka sendiri. Dan sesungguhnya mereka akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui yang ghaib dan nyata yang tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya. Kemudian Allah Ta’ala berfirman menyadarkan tentang ketetapan-Nya yang sempurna dan kekuasaan-Nya yang agung serta keadaan-Nya yang tinggi dan wajib dibenarkan para Nabi dan kebenaran yang mereka bawa.

Maka Allah berfirman: alam yarau annaa ja’alnal laila liyaskunuu fiiHi (“Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Kami menjadikan malam agar mereka beristirahat di dalamnya.”) di dalam kegelapan malam agar mereka istirahat dari aktifitas mereka dan menentramkan diri mereka serta beristirahat dari rasa lelah di siang hari.
Wan naHaara mubshiran (“dan siang yang menerangi”) yaitu menyinari dan menerangi. Maka oleh sebab itulah kalian beraktifitas untuk mencari kehidupan, usaha, perjalanan, bisnis dan hal-hal lain yang menyangkut urusan yang kalian butuhkan. Inna fii dzaalika la aayaati liqaumiy yu’minuun (“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang beriman.”

Bersambung ke bagian 25

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 82 (23)

5 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 82“82. dan apabila Perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (an-Naml: 82)

Binatang itu akan keluar di akhir zaman ketika kerusakan melanda manusia dan mereka sudah berani meninggalkan perintah-perintah Allah serta merubah agama mereka yang haq. Allah mengeluarkan binatang itu dari bumi. Ada yang mengatakan, dimulai dari Makkah. Dan ada yang mengatakan, dari kota lain, sebagaimana akan datang rincian penjelasannya insya Allah. Kemudian binatang ini berbicara kepada manusia tentang hal itu.

Ibnu ‘Abbas, al-Hasan, Qatadah berkata, dan diriwayatkan dari ‘Ali ra. ia berkata: “Dia mengajak mereka bicara tentang satu pembicaraan, yaitu berdialog dengan mereka.” wallaaHu a’lam.

Ibnu ‘Abbas berkata dalam riwayat yang lain, melukai/mencela mereka. dalam riwayatnya yang lain, ia berkata, yaitu mereka berkata: “Cobalah engkau tidak melakukan ini dan itu.” Ini merupakan kata-kata yang baik dan tidak ada pertentangan, wallaaHu a’lam. Cerita tentang binatang ini telah dicantumkan dalam banyak hadits dan atsar. Kita akan menceritakan yang mudah saja, hanya kepada Allahh kita memohon pertolongan.

Imam Ahmad meriwayatkan, bahwa Hudzaifah bin Usaid al-Ghifari berkata, Rasulullah saw. mengawasi kami dari kamar saat kami berdialog tentang hari kiamat, maka beliau bersabda: “Hari kiamat tidak akan terjadi hingga kalian melihat sepuluh tanda: terbitnya matahari dari barat, kepulan asap, binatang [daabbaH], keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, keluarnya ‘Isa bin Maryam as. dan keluarnya Dajjal serta tiga kelongsorang: kelongsoran di barat, kelongsoran di timur dan kelongsoran di jazirah Arab, serta api yang keluar dari bawah bumi ‘Adn yang menggiring manusia dimana saja mereka bermalam dan dimana saja mereka tidur siang.” (demikian diriwayatkan oleh Muslim dan ash-haabus Sunan. At-Turmudzi berkata: “Hasan shahih”)

Dalam hadits lain, Imam Muslim bin al-Hajjaj meriwayatkan, bahwasannya ‘Abdullah bin ‘Amr berkata: Aku hafal dari Rasulullah saw. sebuah hadits yang tidak pernah aku lupakan setelah itu, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya tanda-tanda pertama adalah terbitnya matahari dari barat, keluarnya binatang [daabbaH] kepada manusia di waktu dluha. Tanda mana saja di antara yang sudah datang, maka yang lain akan mengiringinya tidak lama lagi.”

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Segeralah beramal sebelum datang yang enam: terbitnya matahari dari barat, kepulan asap, Dajjal, binatang, kekhususan salah seorang kalian dari urusan umum.”

Abu Dawud ath-Thayalisi berkata, bahwa Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Binatang bumi itu keluar membawa tongkat Musa dan cincin Sulaiman. Lalu binatang itu memukul [mencap] hidung orang kafir dengan tongkat itu dan mencap wajah orang Mukmin dengan cincin tersebut, hingga manusia berkumpul di sebuah perkumpulan, dimana orang Mukmin dapat diketahui dari orang kafir.” (HR Ahmad)

Dalam hadits Ibnu Majah dikatakan bahwa beliau bersabda: “Lalu hidung orang kafir dipukul dengan cincin dan wajah orang Mukmin dicap dengan tongkat, hingga orang-orang yang berkumpul dalam satu pertemuan berkata: ‘Ini, hai Mukmin dan ini hai kafir.’” (HR Ibnu Majah)

Bersambung ke bagian 24

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 76-81 (22)

5 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 76-81“76. Sesungguhnya Al Quran ini menjelaskan kepada Bani lsrail sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya. 77. dan Sesungguhnya Al qur’an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. 78. Sesungguhnya Tuhanmu akan menyelesaikan perkara antara mereka dengan keputusan-Nya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. 79. sebab itu bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata. 80. Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. 81. dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (memalingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka. kamu tidak dapat menjadikan (seorangpun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri.” (an-Naml: 76-81)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang Kitab-Nya yang mulia serta kandungannya yang berisi petunjuk, penjelasan dan pembeda, dimana ia mengisahkan tentang Bani Israil yang merupakan pengemban amanat Taurat dan Injil, aktsaral ladzii Hum fiiHi yakhtalifuun (“Sebagian besar perkara yang mereka berselisih tentangnya.”) seperti perselisihan mereka tentang ‘Isa as. Orang Yahudi membuat kedustaan terhadapnya, sedangkan Nashrani terlalu berlebihan, maka al-Qur’an datang sebagai penengah yang benar dan adil bahwa dia adalah seorang hamba di antara hamba-hamba Allah serta seorang Nabi dan Rasul-Nya yang mulia. Sebagaimana firman Allah: dzaalika ‘iisabnu maryama qaulal haqil ladzii fiiHi yamtaruun (“Itulah ‘Isa putera Maryam, yang mengucapkan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.”) (Maryam: 34)

Firman-Nya: wa innaHuu laHudaw wa rahmatul lil mu’miniin (“Dan sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”) yaitu petunjuk bagi orang-orang yang mengimaninya serta rahmat bagi mereka dalam segi amal. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: inna rabbaka yaqdlii bainaHum (“Sesungguhnya Rabbmu akan menyelesaikan perkara antara mereka.”) yaitu pada hari kiamat. bihukmiHii wa Huwal ‘aziizu (“dengan keputusan-Nya dan Dia Mahaperkasa.”) yaitu dalam memberikan adzab-Nya. al’aliim (“Mahamengetahui”) tentang perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan hamba-hamba-Nya. fa tawakkal ‘alallaaHi (“Sebab itu bertakwalah kepada Allah”) dalam seluruh urusanmu dan sampaikanlah risalah Rabbmu.

Innaka ‘alal haqqil mubiin (“Sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata.”) yakni engkau berada di atas kebenaran yang nyata, sekalipun terdapat orang yang menyelisihimu di antara orang-orang ditentukan mendapat kecelakaan dan berhak menerima kalimat Rabbmu bahwa mereka tidak beriman sekalipun engkau datangkan kepada mereka setiap ayat. Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: innaka laa tusmi’ul mautaa (“Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar”) yakni engkau tidak dapat memperdengarkan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. demikian juga kafirnya orang yang di dalam hati mereka terdapat penutup dan di telinga mereka terdapat sumbat.

Untuk itu Allah berfirman: wa laa tusmi’ush shummad du’aa-a idzaa wallau mudbiriin. Wa maa anta biHaadil ‘umyi ‘an dlalaatiHim in tusmi’u illaa may yu’minu bi aayaatinaa faHum muslimuun (“Dan [tidak pula] menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. Dan kamu sekali-sekali tidak dapat memimpin [memalingkan] orang-orang buta dari kesesatan mereka. kamu tidak dapat menjadikan [seorang pun] mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri.”) yaitu yang dapat memperkenankanmu hanyalah Rabb Yang Mahamendengar lagi Mahamelihat dengan pendengaran dan penglihatan yang membawa manfat di dalam hati dan pandangan orang yang tunduk kepada-Nya serta apa yang dibawa melalui lisan para Rasul.

Bersambung ke bagian 23

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 71-75 (21)

5 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 71-75“71. dan mereka (orang-orang kafir) berkata: “Bilakah datangnya azab itu, jika memang kamu orang-orang yang benar”. 72. Katakanlah: “Mungkin telah hampir datang kepadamu sebagian dari (azab) yang kamu minta (supaya) disegerakan itu. 73. dan Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya). 74. dan Sesungguhnya Tuhanmu, benar-benar mengetahui apa yang disembunyikan hati mereka dan apa yang mereka nyatakan. 75. tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” (an-Naml: 71-75)

Wa yaquuluuna mataa Haadzal wa’du in kuntum shaadiqiin (“Dan mereka [orang-orang kafir] berkata: ‘Bilakah datangnya adzab itu, jika memang kamu orang-orang yang benar.’”) Allah berfirman menjawab perkataan mereka: qul (“Katakanlah”) hai Muhammad, ‘asaa ay yakuuna radifa lakum ba’dul ladzii tasta’jiluun (“Mungkin telah hampir datang kepadamu sebagian dari [adzab] yang kamu minta [supaya] disegerakan itu.”) Ibnu ‘Abbas berkata, telah dekat atau mendekati kalian sebagian adzab yang kalian meinta agar disegerakan. Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, adh-Dhahhak, ‘Atha’ al-Khurasani, Qatadah dan as-Suddi. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah: wa yaquuluuna mataa Huwa qul ‘asaa ay yakuuna qariiban (“Dan mereka berkata: ‘Kapan itu [akan terjadi]?’ Katakanlah: ‘Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat.’”)(al-Israa’: 51). Huruf lam hanya masuk dalam firman-Nya: radifa lakum (“datang kepadamu”) karena ia mengandung makna akan segera datang kepada kalian, demikian pendapat Mujahid. Dalam satu riwayat pendapatnya, ‘asaa ay yakuuna radifa lakum (“Mungkin telah hampir datang kepadamu.”) [adzab] yang disegerakan kepada kalian.

Kemudian Allah berfirman: wa inna rabbaka ladzuu fadl-lin ‘alan naasi (“Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar mempunyai karunia yang besar [yang diberikan-Nya] kepada manusia.”) yaitu dengan memenuhi nikmat-nikmat-Nya kepada mereka, padahal mereka mendhalimi diri-diri mereka sendiri, di samping itu mereka tidak mensyukuri hal tersebut kecuali sedikit saja di antara mereka.

Wa inna rabbaka ya’lamu maa tukinnu shuduuruHum wa maa yu’linuun (“Dan sesungguhnya Rabbmu, benar-benar mengetahui apa yang disembunyikan hati mereka dan apa yang mereka nyatakan.”) yaitu mengetahui berbagai hal yang tersembunyi di dalam hati, sebagaimana Dia mengetahui perkara-perkara yang nyata. Kemudian Allah mengabaran bahwa Dia mengetahui perkara-perkara yang ghaib di langit dan di bumi serta mengetahui perkara yang ghaib dan yang nyata. Yaitu apa-apa yang ghaib dari hamba-hamba-Nya dan apa-apa yang mereka saksikan.

Maka Allah Ta’ala berfirman: wa maa min ghaa-ibatin (“Tidak ada satu pun yang ghaib”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Yaitu tidak ada satu pun, fis samaa-i wal ardli illaa fii kitaabim mubiin (“di langit dan di bumi melainkan terdapat dalam kitab yang nyata.”) dan ini seperti firman-Nya yang artinya: “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasannya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab [Lauhul Mahfudz]. Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (al-Hajj: 70)

Bersambung ke bagian 22

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 67-70 (20)

5 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 67-70“67. berkatalah orang-orang yang kafir: “Apakah setelah kita menjadi tanah dan (begitu pula) bapak-bapak kita; Apakah Sesungguhnya kita akan dikeluarkan (dari kubur)? 68. Sesungguhnya Kami telah diberi ancaman dengan ini dan (juga) bapak-bapak Kami dahulu; ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang dahulu kala”. 69. Katakanlah: “Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa. 70. dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka, dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap apa yang mereka tipudayakan”. (an-Naml: 67-70)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang orang-orang musyrik yang mengingkari hari kebangkitan, dimana mereka menganggap mustahil akan kembalinya jasad setelah berubah menjadi tulang belulang yang hancur remuk dan menjadi debu. Kemudian dia berkata: laqad wu-‘idnaa Haadzaa nahnu wa aabaa-unaa min qablu (“Sesungguhnya kami telah diberi ancaman dengan ini dan [juga] bapak-bapak kami dahulu.”) yaitu kami senantiasa mendengar masalah ini, juga nenek moyang kami. Kami tidak pernah melihat hakekatnya akan terjadinya. Perkataan mereka: in Haadzaa illaa asaathiirul awwaliin (“Ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang dahulu kala.”)
Yang mereka maksud adalah, janji tentang pengembalian badan mereka seperti semula. illaa asaathiirul awwaliin (“dongengan-dongengan orang dahulu kala.”) yaitu kitab yang diambil oleh satu kaum dari orang-orang sebelum mereka yang dibacakan secara turun-temurun dan beritanya tidak memiliki hakekat.

Allah Ta’ala berfirman menjawab apa yang mereka sangka tentang kekufuran dan tidak adanya tempat kembali. qul (“katakanlah”) hai Muhammad kepada mereka: siiruu fil ardli fandhur kaifa kaana ‘aaqibatul mujrimiiin (“Berjalanlah kamu [di muka] bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.”) yaitu orang-orang yang mendustakan para Rasul dan apa yang disampaikan kepada mereka tentang hari kembali dan lain-lain. Bagaimana kemurkaan, siksa dan hukuman Allah menimpa mereka dan bagaimana pula Allah menyelamatkan para Rasul mulia di antara mereka dan kaum mukminin yang mengikuti mereka. hal tersebut menunjukkan tentang kebenaran dan ketepatan risalah para Rasul.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman menghibur Rasul-Nya: walaa tahjan ‘alaiHim (“Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka”) yaitu terhadap orang-orang yang mendustakan apa yang engkau bawa. Wa laa takun fii dlaifim mimmaa tamkuruun (“dan janganlah [dadamu] merasa sempit terhadap apa yang mereka tipudayakan.”) karena Allah akan menjadi Pendukung dan Penolongmu serta yang akan memenangkan agamamu terhadap orang-orang yang menentang dan menyelisihi, baik di timur maupun di barat.

Bersambung ke bagian 21

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 65-66 (19)

5 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 65-66“65. Katakanlah: “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. 66. sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (kesana) Malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta daripadanya.” (an-Naml: 65-66)

Allah Ta’ala berfirman memerintahkan Rasul-Nya untuk mengucapkan sesuatu yang mengajarkan seluruh manusia bahwa tidak ada seorangpun penghuni langit dan bumi yang dapat mengetahui perkara ghaib kecuali Allah. Firman Allah: illallaaH (“Kecuali Allah”) adalah istisna’ munqathi’, yaitu tidak ada satupun yang mengetahui hal itu kecuali Allah swt. Karena Dia sajalah yang mengetahui hal itu dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan pada sisi-Nya lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahui kecuali Dia sendiri.” (al-An’aam: 59). Ayat-ayat dalam masalah ini amat banyak.

Firman Allah: wa maa yasy’uruuna ayyaana yub’atsuun (“Dan mereka tidak mengetahui bila [kapan] mereka akan dibangkitkan.”) yaitu para makhluk yang tinggal di langit dan di bumi tidak mengetahui waktu terjadinya hari kiamat, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Kiamat itu amat berat [huru-haranya bagi makhluk] yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.” (al-A’raaf: 187) yaitu mengetahui hal tersebut amat berat bagi penghuni langit dan bumi.

Qatadah berkata: “Bintang-bintang hanya dijadikan Allah untuk tiga hal: dijadikannya ia sebagai hiasan langit, dijadikannya ia untuk petunjuk dan juga menjadi pelontar syaitan. Barangsiapa yang memanfaatkan bintang-bintang itu untuk selain hal itu, maka berarti ia berkata dengan pendapatnya sendiri dan keliru dalam menempatkannya, menyia-nyiakan usahannya dan berlebih-lebihan dalam sesuatu yang tidak terjangkau oleh ilmunya. Sesungguhnya manusia-manusia yang jahil tentang perintah Allah telah membuat bintang-bintang itu sebagai ramalan. Barangsiapa yang menikah pada waktu bintang ini, niscaya begini dan begini. Barangsiapa yang pergi pada waktu bintang ini niscaya begini dan begitu. Dan lain-lain, sesungguhnya tidak ada satu bintang pun yang menyebabkan seseorang itu lahir dalam keadaan merah atau hitam, pendek atau tinggi, tampan atau jelek. Dan tidak ada bintang ini, bintang itu atau burung ini yang dapat memberitahukan sesuatu yang ghaib. Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa tidak ada penghuni langit dan bumi yang dapat mengetahui perkara ghaib kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan. Hal itu diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dengan kalimat aslinya. Ini merupakan perkara yang penting dan benar.”

Firman-Nya: balid daaraka ‘ilmuHum fil aakhirati bal Hum fii syakkim minHaa (“Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai [kesana], bahkan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu.”) yaitu ilmu mereka terbatas dan amat lemah untuk mengetahui waktunya. Ulama lain membaca: bali ad-raka ‘ilmuHum (“Sebenarnya pengetahuan mereka”) yakni samalah ilmu mereka dalam masalah itu.

Sebagaimaan dijelaskan dalam shahih Muslim, bahwa Rasulullah berkata kepada Jibril saat ditanya tentang waktu terjadinya hari kiamat: “Yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya.”
Artinya, pengetahuan orang yang ditanya dan yang bertanya sama saja kelemahannya dalam [mengetahui] hal tersebut.

‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: balid daaraka ‘ilmuHum fil aakhirati (“Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai [kesana],”) yakni hal yang ghaib.
Qatadah berkata: “Yaitu disebabkan kebodohan mereka,” ada yang berkata: “Tidak berlaku amal mereka di akhirat sedikitpun.” Ini satu pendapat.

Ibnu Juraij berkata dari ‘Atha’ al-Khurasani, dari Ibnu ‘Abbas: balid daaraka ‘ilmuHum fil aakhirati (“Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai [kesana],”) di saat ilmu tidak bermanfaat. Itu pula yang dikatakan oleh ‘Atha’ al-Khurasani dan as-Suddi bahwa pengetahuan mereka menjadi luas dan lengkap pada hari kiamat, dimana hal tersebut tidak lagi dapat bermanfaat bagi mereka.

Dan firman Allah Ta’ala: bal Hum fii syakkim minHaa (“Bahkan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu.”) ini kembali pada jenis. Yang dimaksud adalah orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang ragu tentang adanya hari kiamat dan kejadiannya. Bal Hum minHaa ‘amuun (“lebih-lebih lagi mereka buta dari padanya.”) yaitu berada dalam kebutuhan dan kebodohan besar tentang perkara dan urusan akhirat.

Bersambung ke bagian 20

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 64 (18)

5 Jun

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 64“64. atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)?. Katakanlah: “Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar”. (an-Naml: 64)

Allah memulai penciptaan dengan ketetapan dan kekuasaan-Nya, kemudian mengulanginya kembali, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain yang artinya: “Sesungguhnya adzab Rabbmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah Yang Menciptakan [makhluk] dari permulaan dan menghidupkannya [kembali].”) (al-Buruuj: 12-13)

Wa may yarzuqukum minas samaa-i wal ardli (“Dan siapa pula yang memberikan rizky kepadamu dari langit dan bumi.”) yaitu dengan apa yang diturunkan-Nya berupa hujan dari langit serta menumbuhkan berbagai keberkahan bumi. Dia Yang Mahaberkah lagi Mahatinggi menurunkan air yang penuh berkah dari langit. Lalu diadakanlah sumber-sumber air dari dalam tanah, kemudian menumbuhkan berbagai macam tanam-tanaman, buah-buahan dan lain-lain.

A ilaaHum ma’allaaH (“Apakah di samping Allah ada ilah yang lain.”) yaitu yang dapat melakukan itu semua. sedangkan menurut pendapat lain, adakah ilah yang lain di sampaing Allah?
Qul Haatuu burHaanakum (“Katakanlah: ‘Tunjukkanlah bukti kebenaranmu.’”) yang shahih atas apa yang kalian katakan tentang penyembahan kepada ilah-ilah lain. In kuntum shaadiqiin (“Jika kamu memang orang-orang yang benar.”) dalam hal tersebut. Sesungguhnya telah diketahui bahwa mereka tidak memiliki hujjah dan keterangan.

Bersambung ke bagian 19