Tag Archives: an-nisa’

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 116-122

28 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 116-122“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu )dengan-Nya, dan Dia mengampuni dosa yang lain dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) denganAllah, maka sesunggubnya ia telah tersesat sejauh jauhnya. (QS. 4:116) Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, (QS. 4:117) yang dilaknat Allah dan syaitan itu mengatakan: ‘Aku benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba-Mu bagian yang sudah ditentukan (untukku), (QS. 4:118) dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya”. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. (QS. 4:119) Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka, dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka. Padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka, selain tipuan belaka. (QS. 4:120) Mereka itu tempatnya jahannam dan mereka tidak memperoleh tempat lari daripadanya. (QS. 4:121) Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, kelak akan Kami masukkan dalam Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? (QS. 4: 122)” (an-Nisaa’: 116-122)

Pembicaraan tentang ayat ini sudah berlalu, yaitu firman Allah: innallaaHa laa yaghfiru ay yusyraka biHii wa yaghfiru maa duuna dzaalik (“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Allah mengampuni segala dosa yang selain dari [syirik].”) (QS. An-Nisaa’: 48).

Dan kita telah menyebutkan hadits yang berkaitan dengannya di awal surat ini.

At-Tirmidzi meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Tsuwair bin Abi Fakhitah Said bin ‘Alaqah dari bapaknya, dari ‘Ali bahwa ia berkata: “Tidak ada satu ayat pun di dalam al-Qur’an yang lebih aku cintai daripada ayat ini: innallaaHa laa yaghfiru ay yusyraka biHii (“Sesungguhnya Allah tidak akanpuni dosa syirik.”) Beliau (at-Tirmidzi) berkata: “Hadits ini hasan gharib.

Firman-Nya: wa may yusyrik billaaHi faqad dlalla dlalaalam ba’iidan (“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya,”) maka berarti ia menempuh jalan yang tidak haq, sesat dari petunjuk, jauh dari kebenaran, membinasakan dan merugikan dirinya di dunia dan akhirat serta kehilangan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Firman-Nya: iy yad’uuna min duuniHi illaa inaatsan (“Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah berhala.”) Ibnu Abi Hatim mengatakan dari Ubay bin Ka’ab tentang firman Allah ini, ia berkata: “Yaitu bersama setiap berhala itu ada jin perempuan.”

Aisyah berkata tentang firman-Nya ini: “Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah inaatsan, yaitu berhala-berhala perempuan.”
Diriwayatkan dari Abu Salamah, dari `Abdurrahman, `Urwah bin az-Zubair, Mujahid, Abu Malik, as-Suddi dan Muqatil hal yang semisal.

Ibnu Jarir mengatakan dari adh-Dhahhak tentang ayat ini: “Orang-orang musyrik berkata bahwa Malaikat adalah anak-anak perempuan Allah. Kami beribadah kepada mereka hanya sebagai perantara agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah. Lalu mereka menjadikannya sebagai rabb-rabb dan mengilustrasikaniya dengan wanita.”

Tafsir ini hampir sama dengan firman Allah yang artinya: “Dan mereka menjadikan Malaikat-Malaikat, yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah yang Mahapemurah, sebagai orang-orang perempuan,” (QS. Az-Zukhruf: 19).
Dan Allah berfirman,”Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin.” (QS. Ash-Shaaffaat: 158) (Hingga akhir ayat berikutnya).

Firman-Nya: wa iy yad’uuna illaa syaithaanam mariidan (“Yang mereka sembah itu tidak lain hanyalah syaitan yang durhaka”.) Yaitu dia yang memerintahkan mereka, memperindah dan menghiasinya kepada mereka, walaupun pada hakikatnya mereka adalah penyembah iblis. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam, supaya kamu tidak menyembah syaitan?” (QS. Yaasiin: 60).

Firman-Nya: la’anaHullaaHu (“Yang dilaknat oleh Allah.”) Yaitu diusir dan dijauhkan dari rahmat-Nya dan dikeluarkan dari perlindungan-Nya. Allah berfirman: la attakhidzanna min ‘ibaadika nashiibam mafruudlan (“Aku benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba-Mu, bagian yang sudah ditentukan”) Yaitu bagian yang terukur dan diketahui. Qatadah berkata: Dari setiap 1000 ada 999 yang masuk Neraka dan satu yang masuk Surga.”

Wa la udlillannaHum (“Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka,”) dari kebenaran; wa la amanniyyannaHum (“Dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka.”) Yaitu, aku akan menghiasi perbuatan mereka dalam meninggalkan taubat, aku bangkitkan angan-angan (mereka), aku akan perintahkan mereka untuk menunda-nunda dan aku menipu mereka melalui diri mereka sendiri.

Firman-Nya: wa la amurannaHum falayubattikunna aadzaana an’aami (“Dan aku akan menyuruh mereka memotong telinga-telinga binatang ternak, lalu mereka benar-benar memotongnya”.) Qatadah, as-Suddi dan yang lainnya berkata: “Yaitu membelahnya dan menjadikannya sebaai tanda dan bukti bagi baahirah, saa-ibailah.”

Wa la amurannaHum falayughayyirunna khalqallaaHi (“Dan aku akan suruh mereka merubah ciptaan Allah, lalu mereka benar-benar merubahnya.”) Ibnu `Abbas berkata, “Yang dimaksud adalah mengebiri binatang.” Demikian pula yang diriwayatkan Ibnu `Umar dan Anas. Sedangkan menurut al-Hasan bin Abil Hasan al-Bashri, yang dimaksud adalah tato. Di dalam kitab Shahih Muslim terdapat larangan bertato di wajah. Di dalam satu lafazh, Allah melaknat orang yang melakukan hal itu.

Di dalam hadits shahih, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: “Allah telah melaknat wanita-wanita yang bertato dan meminta ditato, yang mencukur alisnya dan meminta dicukur alisnya, serta wanita-wanita yang minta direnggangkan giginya untuk mempercantik diri, yang mereka semua merusak ciptaan Allah,” kemudian dia berkata: “Mengapa aku tidak melaknat orang yang dilaknat Rasulullah, dan itu terdapat dalam Kitabullah, yaitu: “Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr: 7).

Ibnu `Abbas dalam satu riwayatnya, Mujahid, `Ikrimah, Ibrahimin an-Nakha’i, al-Hasan, Qatadah, al-Hakam, as-Suddi, adh-Dhahhak dan ‘Atha’al-Khurasani berkata tentang firman Allah: Wa la amurannaHum falayughayyirunna khalqallaaHi (“Dan aku akan suruh mereka merubah ciptaan Allah, lalu mereka benar-benar merubahnya.”) yaitu agama Allah. Hal ini seperti firman-Nya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah”. (QS. Ar-Ruum: 30).

Ada pendapat yang mengatakan bahwa ini merupakan perintah. Artinya yaitu, “Janganlah kalian merusak fitrah Allah dan biarkanlah manusia pada fitrah-fitrah mereka.” Sebagaimana hadits yang terdapat dalama sh-Shahihain dari Abu Hurairah: “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi, sebagaimana binatang melahirkannya dalam keadaan lengkap, apakah kalian mendapatkan anggota tubuhnya yang terpotong?”

Di dalam kitab Shahih Muslim dari `Iyadh bin Hammad, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Allah berfirman: ‘Sesungguhnya aku menciptakan hamba-Ku dalam ke-adaan hanif. Lalu syaitan datang dan memalingkan mereka dari agama mereka, mengharamkan apa yang Aku halalkan kepada mereka.”

Kemudian Allah berfirman: wa may yattakhidzisy syaithaana waliyyam min duunillaaHi faqad khasira khusraanam mubiinan (“Barangsiapa yang menjadikan syatian menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata”.) Maka berarti ia rugi dunia dan akhirat. Itulah kerugian yang tidak dapat diganti dan tidak dapat diperoleh kembali.

Firman-Nya: ya’iduHum wa yumanniiHim wa maa ya’idumusy syaithaanu illaa ghuruuran (“Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka”.) Ayat ini mengabarkan tentang kenyataan yang ada, karena sesungguhnya syaithan itu menjanjikan para walinya (pengikutnya) dan membangkitkan angan-angan mereka, bahwa merekalah orang-orang yang beruntung di dunia dan di akhirat. Padahal itu merupakan kedustaan.

Oleh karena itu, Allah berfirman: wa maa ya’idumusy syaithaanu illaa ghuruuran (“Padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka, selain dari tipuan belaka.”) Sebagaimana Allah berfirman mengabarkan tentang iblis di hari yang dijanjikan (hari Kiamat), berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan:

“Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Sekali-sekali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu, lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencercaku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.’ Sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS. Ibrahim: 22).

Firman-Nya: ulaa-ika (“Mereka itu,”) yaitu orang-orang yang menganggap baik sesuatu yang dinilai dan diangan-angankan syaitan kepada mereka; ma’waaHum jaHaannamu (“Tempat kembali mereka adalah Jahannam,”) yaitu tempat kembali mereka pada hari Kiamat. Wa laa yajiduuna ‘anHaa mahiishan (“Mereka tidak dapat memperoleh tempat lari,”) yaitu mereka tidak lagi memiliki ruang, jalan keluar, jalan lolos dan jalan lari.

Kemudian Allah menyebutkan kondisi orang-orang yang bahagia dan bertakwa yang mendapatkan kemuliaan yang sempuma. Allah berfirman: wal ladziina aamanu wa ‘amilush shaalihaati (“Orang-orang yang beriman dan beramal shalih.”) Yaitu, hati-hati mereka jujur serta anggota tubuh mereka mengamalkan kebaikan yang diperintahkan kepada mereka, dan meninggalkan kemunkaran yang dilarang atas mereka.

Sanud-khiluHum jannaatin tajrii min tahtiHal anHaaru (“Kami akan masukkan mereka ke dalam Surga yang mengalliir sungai-sungai dari bawahnya.”) Yaitu, mereka mengalirkannya sesuai keinginan mereka dan kemana saja mereka sukai. Khaalidiina fiiHaa abadan (“Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya,”) tidak punah dan tidak berpindah. Wa’dallaaHi haqqan (“Janji Allah adalah benar,”) yaitu hal ini adalah janji dari Allah. Dan janji Allah secara hakiki telah maklum pasti terjadi. Untuk itu Dia memperkuatnya dengan mashdar yangmenunjukkan pastinya berita yang disampaikan, yaitu firman-Nya: “haqqan” (“Benar.”)

Kemudian Allah berfirman: wa man ashdaqu minallaaHi qiilan (“Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah”.) Yaitu, tidak ada yang lebih jujur perkataan atau beritanya selain Allah. Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Allah, dan tidak ada Rabb selain-Nya.

&

Iklan

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 114-115

28 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 114-115“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (QS. 4:114) Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. 4:115).” (an-Nisaa’: 114-115)

Allah berfirman: laa khaira fii katsiirim min najwaaHum (“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka”.) Yaitu pembicaraan manusia; illaa man amara bi shadaqatin au ma’ruufin au ishlaahim bainan naasi (“Kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh [manusia] memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia.”) Yaitu, kecuali bisikan orang yang berkata demikian.

Imam Ahmad meriwayatkan, Ya’qub menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, Shalih bin Kaisan menceritakan kepada kami, Muhammad bin Muslim bin `Ubaidillah bin Syihab menceritakan kepada kami, bahwa Humaid bin `Abdurrahman bin `Auf mengabarkan kepadanya bahwa ibunya, Ummu Kultsum binti ‘Uqbah, mengabarkan kepadanya bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Bukanlah pendusta, orang yang mendamaikan antara manusia untuk menumbuhkan kebaikan atau berkata baik.”

Dia (Ummu Kultsum binti ‘Uqbah) berkata: “Aku belum pernah mendengar suatu perkataan manusia yang diberi rukhshah (keringanan), kecuali dalam tiga hal; Dalam peperangan, mendamaikan antara manusia dan perkataan seorang suami kepada isterinya, serta perkataan seorang isteri kepada suaminya.” Imam Ahmad berkata: “Ummu Kultsum binti ‘Uqbah adalah termasuk wanita-wanita berhijrah, yang berbai’at kepada Rasulullah saw. (HR Al-jama’ah kecuali Ibnu Majah).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abud Darda’, is berkata: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Maukah kalian kuberitahu tentang sesuatu yang lebih utama daripada puasa, shalat, dan shadaqah?’ Mereka menjawab: ‘Tentu, ya Rasulullah!’ Beliau berkata: ‘Mendamaikan antara manusia.’ Beliau bersabda: ‘Sedangkan merusaknya itu adalah pencukur.”‘ (Yang mencukur agama)-” Abu Dawud dan at-Tirmidzi pun meriwayatkannya dan ia (at-Tirmidzi) berkata: “Hasan shahih.”

Wa may yaf’al dzaalikabtighaa-a mardlaatillaaHi (“Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari ridha Allah”) yaitu ikhlas dalam mengamalkannya serta mengharapkan pahala dari Allah.”) fasaufa nu’tiiHi ajran ‘adhiiman (“Kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.”) Yaitu pahala yang melimpah, banyak dan luas.

Dan firman-Nya: wa may yusyaaqiqir rasuula mim ba’di maa tabayyanul Hudaa (“Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya.”) yaitu barangsiapa yang menempuh bukan jalan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah, maka berarti berada dalam satu sisi, sedangkan syari’at berada pada sisi lain. Hal itu dilakukannya dengan sengaja setelah jelas serta nyata dan tegasnya kebenaran.

Firman-Nya: wat tabi’ ghaira sabiilil mu’miniin (“Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang beriman.”) (Bagian ayat) ini saling berkaitan dengan yang pertama tadi. Akan tetapi, bentuk penyimpangan itu terkadang terhadap nash dari pemberi syari’at dan terkadang terhadap ijma’ [kesepakatan] umat Muhammad yang telah diketahuinya secara pasti. Karena ayat ini mengandung jaminan untuk kesepakatan mereka yang tidak mungkin salah, sebagai kehormatan bagi mereka dan pengagungan bagi Nabi mereka.

Banyak sekali hadits shahih yang menjelaskan hal tersebut. Dan ayat ini pula yangan sandaran (dasar) oleh Imam asy-Syafi’i, dalam berhujjah, bahwa ijma’ merupakan hujjah yang diharamkan bagi seseorang untuk menyelisihinya, setelah melalui penelitian dan pemikiran panjang. Hal tersebut merupakan istinbath (kesimpulan) yang paling baik dan kuat, sekalipun sebagian ulama,mempersoalkannya dan menganggapnya terlalu jauh.

Untuk itu, Allah mengancam hal tersebut dengan firman-Nya: nuwalliHii maa tawallaa wa nushliHi jaHannama wa saa-at mashiiran (“Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam danjahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”.) Yaitu jika ia menempuh jalan ini, niscaya Kami akan balas ia dengan cara menganggap baik dalam dadanya dan menghiasinya sebagai istidraj. Sebagaimana firman Allah:

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka”. (QS. Ash-Shaff: 5).
Dan juga firman-Nya: “Dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam ke-sesatan yang sangat”. (QS. Al-An’aam: 110).

Dia menjadikan api Neraka sebagai tempat kembalinya di akhirat. Karena barangsiapa yang keluar dari hidayah, tidak ada jalan lain baginya kecuali jalan menuju ke Neraka pada hari Kiamat kelak, sebagaimana firman-Nya: “(Kepada Malaikat diperintahkan): Kumpulkanlah orang-orang yang dhalim beserta teman sejawat mereka.” (QS. Ash-Shaaffaat:22)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 110-113

27 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 110-113“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 4:110) Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.(QS. 4:111) Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkan kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. 4:112) Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri dan mereka tidak dapat membahayakan sedikit pun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan al-Kitab dan al-Hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu. (QS. 4:113)” (an-Nisaa’: 110-113)

Allah mengabarkan tentang kemuliaan dan kedermawanan-Nya, bahwa setiap orang yang bertaubat niscaya akan diterima, sebesar apapun dosa yang ada padanya. Allah berfirman: wa may ya’mal suu-an, au yadhlim nafsaHuu tsumma yastaghfirillaaHa yajidillaaHa ghafuurar rahiiman (“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”)

`Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, ia berkata tentang ayat ini: “Allah mengabarkan kepada para hamba-Nya tentang pemaafan-Nya, ke-santunan-Nya, kemurahan-Nya, kemuliaan-Nya, keluasan rahmat-Nya, dan ampunan-Nya. Maka barangsiapa yang melakukan suatu dosa, baik kecil ataupun besar; tsumma yastaghfirillaaHa yajidillaaHa ghafuurar rahiiman (“Kemudian dia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia akan mendapati Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Sekalipun dosanya lebih besar dari langit, bumi dan gunung-gunung.” (HR Ibnu Jarir).

Ibnu Jarir meriwayatkan pula, dari Abu Wa-il, bahwa `Abdullah berkata: “Dahulu, jika salah seorang Bani Israil melakukan suatu dosa, maka di pagi, penghapusan dosa itu tertulis di atas pintunya. Dan jika air seninya mengenai sesuatu, maka (sesuatu itu) akan diguntingnya. Lalu seseorang (muslim) berkata: ‘Sungguh, Allah telah memberikan kebaikan pada Bani Israil.’ Maka Abdullah ra. berkata: ‘Apa yang telah Allah berikan kepada kalian (muslimin) lebih baik dari apa yang diberikan kepada mereka (Bari Israil). Allah menjadikan air sebagai alat bersuci untuk kalian’. Allah berfirman: “Dan [juga] orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.” (QS. Ali Imran: 135) dan Allah berfirman:

wa may ya’mal suu-an, au yadhlim nafsaHuu tsumma yastaghfirillaaHa yajidillaaHa ghafuurar rahiiman (“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Asma’ atau Ibnu Asma’ dari Bani Fazzarah bahwa `Ali berkata: “Dahulu, jika aku mendengar sesuatu dari Rasulullah saw. maka Allah memberiku manfaat sesuai kehendak-Nya. Abu Bakar menceritakan kepadaku dan Abu Bakar itu jujur, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada seorang muslim pun yang melakukan satu dosa, kemudian berwudhu, lalu shalat dua raka’at, lalu meminta ampun kepada Allah dari dosa tersebut, kecuali Allah pasti mengampuninya.”

Kemudian beliau membaca dua ayat ini:
wa may ya’mal suu-an, au yadhlim nafsaHuu (“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya”)
“Dan [juga] orang-orang yang apabila dan perbuatan keji atau menganiaya diri-sendiri”. (QS. Ali-‘Imran: 135)

Firman-Nya: wa may yaksib itsman fa innamaa yaksibuHuu ‘alaa nafsiHi (“Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk [kemudharatannya] sendiri.”) Seperti firman Allah yang artinya: “Dan seorang yang berdosa, tidak akan memikul dosa orang lain”. (QS Al-An’aam: 164).

Yaitu tidak ada seorang pun yang dapat mencukupi (menolong) orang lain. Setiap jiwa hanya akan bertanggung jawab terhadap apa yang diamalkannya, serta orang lain tidak dapat menanggung beban orang lain itu.

Untuk itu Allah berfirman: wa kaanallaaHu ‘aliiman hakiiman (“Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana,”) antara ilmu dan kebijaksanaan-Nya serta keadilan dan kasih sayang-Nya.

Kemudian Allah berfirman: wa may yaksib khathii-atan au itsman tsumma yarmi biHii barii-an (“Barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkan kepada orang yang tidak bersalah”) Sebagaimana tuduhan yang dilakukan Bani Ubairiq, tentang perilaku busuk mereka kepada laki-laki shalih yaitu Labid bin Sahl seperti pada hadits yang telah lalu, atau Zaid bin Samin orang Yahudi, menurut pendapat yang lainnya, padahal dia bebas atau bersih.

Mereka adalah orang-orang zhalim lagi penghianat seperti yang ditunjukkan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Kemudian cacian dan celaan ini berlaku umum untuk mereka dan siapa pun selain mereka yang memiliki sifat seperti mereka, lalu melakukan tindakan kesalahan seperti mereka, maka mereka akan mendapatkan hukuman yang sama dengan mereka.

Firman-Nya: walau laa fadl-lullaaHi ‘alaika wa rahmatauHuu laHammat thaa-ifatum minHum ay yu-dlilluuka wa maa yu-dlilluuna illaa anfusaHum wamaa ya-dlurruunaka min syai-in (“Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu, tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri dan mereka tidak dapat membahayakan sedikit pun kepadamu.”)

Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ashim bin `Umar bin Qatadah al-Anshari dari ayahnya dari kakeknya, Qatadah bin an-Nu’man, yang menceritakan kisah Bani Ubairiq, lalu Allah menurunkan: laHammat thaa-ifatum minHum ay yu-dlilluuka wa maa yu-dlilluuna illaa anfusaHum wamaa ya-dlurruunaka min syai-in (“tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu, tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri dan mereka tidak dapat membahayakan sedikit pun kepadamu.”)
Yaitu Usaid bin `Urwah dan para sahabatnya, ketika mereka memuji Bani Ubairiq dan mencela Qatadah bin an-Nu’man karena ia menuduh mereka, sedangkan mereka orang-orang yang shalih dan tidak bersalah, padahal duduk perkara, tidak seperti yang mereka laporkan kepada Rasulullah saw.

Untuk itu Allah menurunkan suatu keputusan ketegasan hukum kepada Rasulullah. Kemudian dikaruniakan kepadanya dengan dukungan-Nya dalam seluruh keadaan serta pemeliharaan-Nya dan yang diturunkan kepadanya yang berupa Kitab dan Hikmah, yaitu as-Sunnah. Wa ‘allamaka maa lam takun ta’lamu (“Dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahul.”)

Yaitu, sebelum turunnya hal tersebut kepadamu. Untuk itu Allah berfirman: wa kaana fadl-lullaaHi ‘alaika ‘adhiiman (“Dan karunia Allah sangat besar kepadamu.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 105-109

27 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 105-109“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu. Dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, (QS. 4:105) dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 4:106) Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa, (QS. 4:107) mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan Allah Mahameliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. (QS. 4:108) Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat(membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari Kiamat? Atau
Siapakah yang jadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)? (QS. 4:109).” (an-Nisaa’: 105-109)

Allah berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad saw: innaa anzalnaa ilaikal kitaaba bil haqqi (“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran.”) Yaitu, dia adalah kebenaran dari Allah. Dan dia mengandung kebenaran dalam berita dan tuntutannya.

Dan firman-Nya: litahkuma bainan naasi bimaa arakallaaHu (“Agar kamu mengadili manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu.”) Di antara ulama ushul ada yang berdalil dengan ayat ini, bahwa Nabi dapat berhukum dengan berijtihad, serta didasarkan kepada hadits yang ada dalam kitab ash-Shahihain dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah saw. mendengar ada keributan di pintu kamarnya, lalu beliau keluar dan bersabda:

“Ketahuilah, sesungguhnya aku ini hanya manusia biasa. Dan bahwasanya aku memutuskan sesuai penjelasan yang aku dengar. Boleh jadi, salah seorang kalian lebih jelas dalam argumentasinya, dibandingkan lainnya, lalu aku putuskan hal tersebut untuknya. Maka barangsiapa yang telah aku putuskan bagi-nya ada hak seorang muslim, maka hal itu merupakan potongan dari api Neraka, maka bawalah (api itu) atau tinggalkanlah ia.”

Imam Ahmad meriwayatkan dan Ummu Salamah, ia berkata: Dua orang laki-laki Anshar datang mengajukan sengketa kepada Rasulullah saw. tentang harta waris yang telah hilang. Sedangkan keduanya tidak memiliki bukti. Maka Rasulullah saw. bersabda: “Kalian mengajukan perkara kepadaku dan aku hanyalah manusia biasa. Boleh jadi, sebagian kalian lebih jelas dalam mengajukan argumennya dibandingkan yang lain. Aku hanya memutuskan sesuai yang aku dengar (sesuai zhahirnya). Barangsiapa yang telah aku putuskan baginya ada hak saudaranya, maka hendaklah ia tidak mengambilnya karena berarti aku telah putuskan satu bagian dari api Neraka yang akan dibawa membebani lehernya pada hari kiamat.”

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari al-‘Aufi, dari Ibnu `Abbas bahwa sekelompok kaum Anshar ikut berperang bersama Rasulullah saw. dalam sebagian perang beliau, lalu sebagian baju perang di antara mereka dicuri. Diduga yang mencuri adalah salah seorang dari Anshar. Maka pemilik baju perang mendatangi Rasulullah saw. dan berkata: “Sesungguhnya Thu’mah bin Ubairiq mencuri baju perangku.” Ketika pencuri itu mengetahui dia dituduh, lalu ia simpan baju itu di rumah seorang laki-laki yang tidak tahu masalah apa-apa. Dan ia berkata kepada keluarganya, “Sesungguhnya aku sembunyikan baju perang itu di rumah seseorang dan engkau akan mendapatkannya di sana.” Lalu mereka mendatangi Rasulullah di waktu malam. Mereka berkata: “Ya Nabi Allah, sesungguhnya saudara kami tidak mencuri, tapi pencurinya adalah si fulan. Kami sudah mengetahuinya secara jelas. Maka bersihkanlah nama baik keluarga kami itu di depan orang-orang dan belalah ia, karena jika ia tidak dijaga Allah dengan sebabmu, ia pasti akan binasa. Lalu Rasulullah berdiri di depan orang-orang untuk membebaskannya dan membersihkan nama baiknya.

Maka, Allah menurunkan: innaa anzalnaa ilaikal kitaaba bil haqqi litahkuma bainan naasi bimaa arakallaaHu wa laa takul lil khaa-iniina khashiiman. wastaghfirillaaHa innallaaHa kaana ghafuurar rahiiman. Wa laat tujaadil ‘anil ladziina yakhtaanuuna anfusaHum (“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang [orang tidak bersalah], karena [membela] orang-orang yang khianat, dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. Dan janganlah kamu berdebat [untuk membela] orang-orang yang mengkhianati diri mereka.”)

Kemudian Allah berfirman kepada orang-orang yang datang kepada Rasulullah saw. dengan menyembunyikan kedustaan: yastakhfuuna minan naasi wa laa yastakhfuuna minallaaHi (“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapia tidak bersembunyi dari Allah”) Yaitu orang-orang yang datang kepada Rasulullah saw. untuk menyembuyikan kedustaan, untuk membela pengkhianat.

Kemudian Allah berfirman: wa may ya’mal suu-an au yadhlim nafsaHu (“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya.”) (QS. An-Nisaa’: 110)
Yaitu orang-orang yang datang kepada Rasulullah untuk menyembuyikan kedustaan.

Kemudian Dia berfirman: wa may yaksib khathii-atan au itsman tsumma yarmi biHii barii-an faqadihtamala buHtaanaw wa istmam mubiinan (“Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.”) (QS. An-Nisaa’: 112).

Yaitu, pencuri dan orang-orang yang membela pencuri itu, lafazh riwayat ini gharib. Mujahid, `Ikrimah, Qatadah,as-Suddi, Ibnu Zaid dan lain-lain menyebutkan, bahwa ayat ini turun tentang pencuri Bani Ubairiq dengan redaksi yang berbeda, akan tetapi maknanya hampir sama.

Firman Allah: yastakhfuuna minan naasi walaa tastakhfuuna minallaaHi (“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah.”) Ini merupakan penyangkalan terhadap orang-orang munafik yang berupaya menyembunyikan karakter busuk mereka dari orang lain agar mereka tidak disangkal. Akan tetapi, perihal mereka itu pasti tampak bagi Allah, karena Allah mengetahui rahasia-rahasia mereka, serta apa yang ada dalam bathin mereka.

Untuk itu, Allah berfirman: wa Huwa ma’aHum idz yubayyituuna maa laa yardlaa minal qauli wa kaanallaaHu bimaa ta’maluuna muhiithan (“Padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Mahameliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan,”) ayat ini merupakan ancaman untuk mereka.

Kemudian Allah berfirman: Haa antum Haa-ulaa-i jaadaltum ‘anHum fil hayaatid dun-yaa (“Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk [membela] mereka dalam kehidupan dunia ini.”) Kalaupun mereka menang di dunia dengan apa yang mereka tampakkan atau ditampakkan untuk membela mereka di hadapan para hakim yang berhukum dengan zhahir dan memang para hakim itu diperintahkan demikian. Lalu apa yang akan mereka perbuat pada hari Kiamat, tatkala berada di hadapan mahkamah Allah Yang Mahamengetahui berbagai rahasia dan yang tersembunyi. Saat itu, siapa lagi yang dapat mewakili untuk membela pengakuan mereka. Artinya, tidak ada seorang pun yang mampu membelanya.

Untuk itu, Allah berfirman: am may yakuunu ‘alaiHim wakiilan (“Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 103-104

27 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 103-104“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, diwaktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesunggubnya shalat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. 4:103) Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. (QS. 4:104)” (an-Nisaa’: 103-104)

Allah memerintahkan banyak berdzikir setelah shalat khauf, dzikir tetap disyari’atkan dan dianjurkan setelah shalat lainnya. Akan tetapi di sini lebih ditekankan karena adanya keringanan dalam rukun-rukunnya serta keringanan pada posisi maju mundurnya dan gerakan lain yang tidak ada pada selain shalat khauf. Sebagaimana firman Allah tentang bulan-bulan haram: “Maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu”. (QS. At-Taubah: 36).

Sekalipun hal-hal tersebut dilarang pada bulan-bulan lain, akan tetapi pada bulan-bulan haram lebih ditekankan lagi, karena sangat terhormat dan agungnya bulan-bulan itu. Untuk itu Allah berfirman: fa idzaa qadlaitumush shalaata fadzkurullaaHa qiyaamaw wa qu’uudaaw wa ‘alaa junuubikum (“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat[mu], ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaringmu.”) Yaitu dalam seluruh kondisi kalian.

Kemudian Allah berfirman: fa idzath-ma’nantum (“Kemudian jika kamu telah merasa aman”.) Yaitu, jika kalian telah aman dan hilang perasaan serta telah tercapai ketenangan. Fa aqiimush shalaata (“Maka dirikanlah shalat”) yakni sempurnakanlah dan dirikanlah sesuai yang diperintahkan kepada kalian dengan batasan-batasannya, khusyu’, ruku’, sujud dan seluruh urusannya.

Firman-Nya: innash shalaata kaanat ‘alal mu’miniina kitaabam mauquutan (“Sesungguhnya shalat itu alah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”)

Ibnu’Abbas berkata: “Yaitu difardhukan.” Dia berkata pula: “Sesungguhnya shalat memiliki waktu seperti waktu haji.” `Abdurrazzaq mengatakan bahwa Ibnu Mas’ud berkata: “Sesungguhnya shalat memiliki waktu seperti waktu haji.”

Sedangkan tentang firman Allah: wa laa taHinuu fibtighaa-il qaumi (“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka.”) Dia berkata, yaitu janganlah kalian lemah dalam mencari musuh-musuh kalian. Tapi bersungguh-sungguhlah, perangilah mereka dan tunggulah mereka di setiap pelosok.

In takuunuu ta’lamuuna fa innaHum ya’lamuuna kamaa ta’lamuun (“Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan [pula] sebagaimana kamu menderitanya.”) sebagaimana kalian terkena luka dan kematian, demikian pula mereka. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Jika kamu [pada perang Uhud] mendapat luka, maka sesungguhnya kaum [kafir] itu pun [pada perang Badar] mendapat luka yang serupa” (QS. Ali-‘Imran: 140).

Kemudian Allah berfirman: wa tarjuuna minallaaHi maa laa yarjuuna (“Sedangkan kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan “) Kalian dan mereka sama saja dalam hal apa yang menimpa kalian, seperti luka-luka dan cacat. Akan tetapi, kalian mempunyai harapan meraih pahala, pertolongan dan dukungan dari Allah, sebagaimana yang dijanjikan kepada kalian di dalam Kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya, itulah janji yang benar dan berita yang jujur. Sedangkan mereka tidak mengharapkan apa pun. Maka kalian lebih utama dengan jihad dari mereka dan lebih antusias dibandingkan mereka, dalam menegakkan kalimat Allah dan meninggikannya.

Wa kaanallaaHu ‘aliiman hakiiman (“Dan adalah Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana,”) yaitu Allah lebih mengetahui dan lebih bijaksana pada apa yang ditentukan, diputuskan, dilaksanakan dan dijalankan-Nya berupa hukum-hukum alam dan syari’at-Nya. Dan Dia Mahaterpuji atas semua keadaan.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 102

27 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 102“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu dan hendaklah mereka bersiap-siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan adzab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.” (QS. an-Nisaa’: 102)

Shalat khauf mempunyai banyak cara (macam). Terkadang musuh berada di arah kiblat dan terkadang berada bukan di arah kiblat. Shalatnya terkadang empat rakaat, terkadang tiga rakaat seperti Maghrib dan terkadang dua seperti Shubuh dan shalat safar. Terkadang mereka shalat berjama’ah dan terkadang perang sedang berkecamuk, sehingga mereka tidak sanggup berjama’ah, bahkan shalat sendiri-sendiri menghadap kiblat atau tidak, serta berjalan atau naik kendaraan dan pada keadaan seperti (perang), mereka boleh berjalan, keadaan ini sambil memukul dengan berturut-turut dalam keadaan shalat.

Sebagian ulama ada yang berkata bahwa dalam keadaan demikian mereka shalat hanya satu rakaat, berdasarkan hadits Ibnu `Abbas yang lalu. Itulah pendapat Ahmad bin Hanbal. Ada pula yang membolehkan menta’khirkan shalat karena udzur peperangan dan pertempuran, sebagaimana Nabi mengakhirkan shalat Zhuhur dan `Ashar pada perang Ahzab, di mana beliau shalat setelah matahari terbenam. Kemudian setelah itu, shalat Maghrib dan `Isya. Sebagaimana perkataan beliau sesudahnya (sesudah perang Ahzab), pada perang Bani Quraizhah ketika tentara dipersiapkan: “Kalian tidak boleh shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah.” Lalu mereka mendapatkan waktu shalat di tengah jalan. Sebagian orang berpandangan, “Rasulullah tidak menghendaki dari kita kecuali agar kita mempercepat perjalanan, dan tidak bermaksud agar kita mengakhirkan shalat dari waktunya. Maka mereka shalat pada waktunya dijalan.” Sedangkan yang lain melaksanakan shalat `Ashar di Bani Quraizhah setelah tenggelam.” Rasulullah tidak mencela seorang pun di antara dua kelompok itu.

Kami telah membicarakan hal ini di dalam kitab Sirah dan telah pula kami jelaskan bahwa orang-orang yang shalat `Ashar pada waktunya lebih mendekati kebenaran, sekalipun pendapat yang lain dimaafkan pula. Hujjah (Mereka) dalam hal ini, dalam udzur mereka menta’khirkan shalat, adalah karena jihad dan penyegeraan (mereka) dalam mengepung orang-orang yang melanggar perjanjian terhadap sekelompok orang-orang Yahudi yang terkutuk. Sedangkan Jumhur berkata: “Semua ini dinasakh dengan shalat khauf, karena waktu itu shalat khauf belum turun. Maka ketika ia turun, berarti menasakh ta’khir shalat. Pendapat ini lebih jelas pada hadits Abu Sa’id al-Khudri yang diriwayatkan oleh asy-Syafi’i dan Ahlus Sunan.

Wa idzaa kunta fiiHim fa aqamta laHumush shalaata (“Dan apabila kamu berada ditengah mereka, lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka.”) Yaitu engkau shalat bersama mereka menjadi imam dalam shalat khauf. Keadaan (qashar yang dikemukakan) ini berbeda dengan keadaan pertama. Karena pada keadaan yang pertama shalat diqashar hingga satu rakaat, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits (sendiri-sendiri, berjalan kaki dan berkendaraan, menghadap kiblat dan tidak menghadap kiblat).

Kemudian, Dia menyebutkan situasi berjama’ah dan bermakmum dengan satu imam. Alangkah baiknya pengambilan dalil yang dilakukan oleh orang yang berpendapat wajibnya shalat berjama’ah dengan ayat yang mulia ini, di mana banyak perbuatan yang diringankan karena berjama’ah. Seandainya shalat berjama’ah itu bukan kewajiban, niscaya tidak mungkin dibolehkan hal itu. Sedangkan orang yang mengambil dalil dengan ayat ini bahwa shalat khauf dinasakh setelah (wafatnya) Rasulullah saw. karena berdasarkan firman-Nya: wa idzaa kunta fiiHim (“Apabila kamu berada di tengah-tengah mereka”) sehingga setelah beliau tidak ada, maka cara seperti ini hilang.

Sesungguhnya, penyimpulan seperti ini merupakan cara pengambilan dalil yang lemah. Tertolaknya pendapat ini sama dengan tertolaknya pendapat orang yang enggan berzakat, di mana ia berdalil dengan firman-Nya, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdo’alah untuk mereka, sesungguhnya do’a mu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.” (QS. At-Taubah: 103).

Mereka mengatakan bahwa kita tidak perlu membayar zakat kepada seorangpun setelah Nabi saw. wafat. Akan tetapi kita langsung mengeluarkannya kepada orang yang kita pandang do’anya menenteramkan kita. Dalam hal ini, para Sahabat menolak pendapat mereka dan menolak cara pendalilan mereka, serta memaksa mereka untuk membayar zakat dan memerangi orang yang enggan membayarnya diantara mereka.

Pertama-tama kita akan menceritakan sebab turunnya ayat yang mulia ini, sebelum menceritakan cara-caranya. Dari Abu `Iyasy az-Zarqa ia berkata: “Dahulu kami bersama Rasulullah saw. di `Asfan, di saat kaum musyrikin pimpinan Khalid bin al-Walid berhadapan dengan kami. Sedangkan mereka berada di arah kiblat, lalu Nabi saw. shalat Zhuhur bersama kami. Mereka berkata: `Sesungguhnya mereka dalam keadaan dimana seandainya kita bisa mendapatkan kesempatan lengah mereka. Kemudian mereka berkata: `Sekarang telah datang waktu shalat yang mereka lebih cintai dibandingkan anak-anak dan jiwa mereka’. Maka Jibril turun membawa ayat-ayat ini antara Zhuhur dan `Ashar: wa idzaa kunta fiiHim (“Apabila kamu berada ditengah-tengah mereka.”) Maka waktunya tiba, dan Rasulullah saw. memerintahkan mereka untuk mengambil senjata, lalu kami membuat dua shaf di belakang beliau. Kemudian beliau ruku’ dan kami pun ruku’ seluruhnya, lalu beliau bangkit dan kami pun bangkit seluruhnya. Kemudian Nabi sujud dengan shaf yang pertama, sedangkan shaf kedua berdiri menjaga mereka. Ketika shaf pertama selesai sujud dan berdiri, maka shaf kedua sujud menempati shaf pertama, kemudian setelah itu mereka menempati kembali shaf masing-masing, lalu beliau ruku’ bersama mereka seluruhnya. Kemudian beliau bangkit dan mereka bangkit seluruhnya, lalu di saat Nabi saw. sujud dan (diikuti) shaf yang pertama, maka shaf kedua berdiri menjaga mereka. Di saat mereka duduk, maka shaf kedua duduk, lalu sujud. Kemudian beliau salam, lalu pergi. Nabi saw. melaksanakan hal tersebut dua kali. Satu kali di `Asfan dan satu kali di tempat Bani Sulaim.”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan an-Nasa’idari hadits Syu’bah dan `Abdul `Aziz bin `Abdush shamad, isnad hadits ini shahih dan memiliki banyak saksi.

Di antaranya adalah riwayat al-Bukhari, dari Ibnu `Abbas, ia berkata: “Nabi berdiri dan diiringi oleh para Sahabat. Di saat beliau takbir, merekapun takbir. Di saat beliau ruku’, sebagian di antara mereka rukuk, kemudian beliau sujud dan mereka sujud. Lalu beliau berdiri untuk raka’at kedua, maka jama’ah yang pertama sujud tadi bangun menjaga saudara-saudara mereka. Lalu datanglah bagian yang lain, lalu mereka ruku’ dan sujud bersama beliau. Semua orang berada dalam shalat, akan tetapi sebagian mereka menjaga sebagian lainnya.”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Sulaiman bin Qais al-Yasykuri bahwa dia bertanya kepada Jabir bin `Abdillah tentang qashar shalat, pada hari apakah hal itu diturunkan atau hari apakah itu? Jabir berkata: “Kami bertolak untuk menghadang satu kafilah Quraisy yang datang dari Syam. Hingga setibanya kami di Nikhlah, seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata: ‘Hai Muhammad, apakah engkau takut padaku?’ Beliau menjawab: `Tidak.’ Dia berkata: `Siapakah yang dapat menghalangimu dariku?’ Beliau menjawab: ‘Allah yang melindungiku darimu.’ Lalu beliau menghunus pedangnya laki-laki itu digertak dan diancam, lalu beliau menyuruh kami berangkaat dan beliau sudah mengambil senjata. Kemudian diserukan panggilan shalat. Maka Rasulullah saw. shalat dengan satu kelompok, sedangkan kelompok lain menjaga mereka. Beliau saw. shalat dengan kelompok pertama dua rakaat. Kemudian kelompok pertama mundur ke belakang untuk berjaga, lalu datang kelompok yang sebelumnya dan berjaga, maka beliau shalat bersama mereka dua rakaat. Sedangkan kelompok yang lain berjaga. Kemudian beliau salam. Nabi shalat empat rakaat. Sedangkan kelompok tadi masing-masing dua rakaat. Pada waktu itulah Allah menurunkan ayat tentang qashar shalat dan memerintahkan kaum mukminm untuk membawa senjata.”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir bin `Abdillah, bahwa Rasulullah saw. melaksanakan shalat khauf bersama para Sahabat. Dalam hal ini, ada yang berada di depan beliau dan ada shaf yang di belakang beliau. Beliau shalat ma shaf yang di belakang satu rakaat dan dua sujud. Kemudian shaf belakang maju menempati shaf depan yang belum shalat. Sedangkan shaf depan mundur untuk shalat bersama Rasulullah satu rakaat dan dua sujud kemudian beliau salam. Maka Nabi shalat dua rakaat, sedangkan mereka masing-masing satu raka’at.

Hadits ini diriwayatkan pula oleh an-Nasai. Hadits ini memiliki banyak jalan dari Jabir, dan terdapat dalam kitab Shahih Muslim melalui sanad yang lain, dengan lafazh yang lain pula. Banyak ahli hadits yang meriwayatkan dari Jabir dalam kitab-kitab Shahih Sunan, dan Shahih Musnad.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Salim, dari bapaknya, ia berkata: wa idzaa kunta fiiHim fa aqamta Humush shalaata (“jika engkau berada bersama mereka, lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama mereka”) yaitu shalat khauf. Dan Rasulullah shalat dengan salah satu dari dua kelompok satu rakaat dan kelompok lain menghadapi musuh. Kemudian kelompok yang berhadapan dengan musuh itu shalat bersama Rasullullah satu rakaat, kemudian beliau salam bersama mereka. Kemudian setiap kelompok berdiri shalat satu rakaat, satu rakaat.

Hadits ini diriwayatkan oleh jama’ah dalam kitab-kitab mereka dari jalan Ma’mar. Hadits ini memiliki banyak jalan dari banyak Sahabat.

Sedangkan perintah membawa senjata di waktu shalat khauf, menurut sekelompok para ulama adalah wajib berdasarkan zhahir ayat. Hal itu adalah salah satu pendapat dari Imam asy-Syafi’i. Hal tersebut ditunjukkan oleh firman Allah: walaa junaaha ‘alaikum in kaana bikum adzam mim matharin au kuntum mardlaa an tadla’uu aslihatakum wa khudzuu hidz-rakum (“Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatarnu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu.”) Di mana saja kalian berada, hendaklah selalu siap siaga. Jika kalian membutuhkannya, kalian dapat langsung memakainya tanpa kesulitan.

innallaaHa a-‘adda lil kaafiriina ‘adzaabam muHiinan (“Sesungguhnya Allah telah menyediakan adzab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 101

27 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 101“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengahsar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. an-Nisaa’: 101)

Allah berfirman: wa idzaa dlarabtum fil ardli (“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi ini,”) yakni kalian melakukan perjalanan di sebuah negeri. Firman-Nya: fa laisa ‘alaikum junaahun an taqshuruu minash shalaati (“Maka tidaklah mengapa kamu menqashar shalatmu”.) Yaitu kalian diberi keringanan, yaitu dari segi jumlahnya dari empat menjadi dua, sebagaimana yang difahami oleh Jumhur ulama dari ayat ini.

Mereka mengambil dalil bolehnya menqashar shalat di dalam perjalanan, walaupun ada perbedaan pendapat di kalangan mereka. Sebagian berpendapat, perjalanan harus dalam rangka taat seperti jihad, haji, umrah, menuntut ilmu atau ziarah dan lain-lain. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu `Umar, `Atha’ dan Yahya, dari Malik dalam satu riwayatnya, karena zhahir firman-Nya: in khiftum ay yaftinakumul ladziina kafaruu (“Jika kamu takut diserang orang-orang kafir.”)

Ada pula yang berpendapat, tidak disyaratkan perjalanan dalam rangka taqarrub. Akan tetapi perjalanan harus dalam perkara yang mubah, karena firman-Nya yang artinya: “Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa” (QS. Al-Maa-idah: 3). Sebagaimana dibolehkannya memakan bangkai dalam keadaan darurat dengan syarat bukan maksiat dalam safarnya. Ini adalah pendapat asy-Syafi’i, Ahmad dan imam-imam yang lain. Ada pula yang berpendapat, cukup apa saja yang dinamakan perjalanan, baik mubah maupun haram, sekalipun seandainya ia keluar untuk merampok dan membegal, maka diringankan baginya (untuk menqashar), karena mutlaknya kata perjalanan. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, ats-Tsauri dan Dawud, karena keumuman ayat. Dan ini berbeda dengan Jumhur ulama.

Adapun firman Allah: in khiftum ay yaftinakumul ladziina kafaruu (“Jika kamu takut diserang orang-orang kafir.”) ayat ini hanya menggambarkan yang terjadi saat diturunkannya, karena sesungguhnya di permulaan masa Islam hijrah, kebanyakan perjalanan mereka adalah penuh rasa takut. Bahkan mereka tidak keluar kecuali menuju perang umum atau dalam suatu pasukan khusus. Seluruh waktu di saat itu adalah gambaran peperangan terhadap Islam dan para penganutnya.

Suatu manthuq (bahasa Nash) jika menempati kebiasaan atau peristiwa, maka tidak berlaku majhumnya (istinbath/analisis) seperti firman Allah yang artinya: “Dan jangan paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian.” (QS. An-Nuur: 33). Dan seperti Firman Allah yang artinya: “Dan anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu.” (QS. An-Nisaa’: 23).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ya’la bin Umayyah, ia berkata: Aku bertanya kepada `Umar bin al-Khaththab tentang firman Allah: fa laisa ‘alaikum junaahun an taqshuruu minash shalaati in khiftum ay yaftinakumul ladziina kafaruu (“Maka tidaklah mengapa kamu menqashar shalatmu jika kamu takut diserang orang-orangkafir.”) Padahal manusia sekarang sudah aman. Maka `Umar berkata padaku: “Aku juga merasa heran sebagaimana yang engkau herankan.” Lalu aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang hal tersebut. Beliau bersabda: “Itulah shadaqah yang diberikan Allah kepada kalian. Maka terimalah shadaqah-Nya.” (Demikian pula yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahlus Sunan. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”).

Al-Bukhari berkata, Ma’mar `Abdul Warits menceritakan kepada kami, Yahya bin Abu Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata, aku mendengar Anas berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah saw. dari Madinah menuju Makkah. Beliau shalat dua rakaat dua rakaat, hingga kami kembali ke Madinah.” Aku berkata: “Berapa lama kalian tinggal di Makkah?” Dia menjawab: “Sepuluh hari.” (Demikian pula yang dikeluarkan oleh jama’ah).

(Berdasarkan) lafazh al Bukhari, Abul Walid menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, Abu Ishaq mengabarkan kepada kami, aku mendengar Haritsah bin Wahb berkata: “Rasulullah shalat bersama kami dalam keadaan aman selama di Mina dua rakaat.”

Al-Bukhari meriwayatkan dan `Abdullah bin `Umar, ia berkata: “Aku pernah shalat bersama Rasulullah saw. dua rakaat dan begitu juga dengan Abu Bakar, `Umar, serta `Utsman di awal pemerintahannya, kemudian dia (Utsman )menyempurnakannya (tidak mengqashar).” (Demikian juga riwayat Muslim).

Al-Bukhari meriwayatkan juga dari al-A’masy, Ibrahim menceritakan kepada kami, aku mendengar `Abdurrahman bin Yazid berkata: ‘Utsman bin Affan shalat bersama kami di Mina empat rakaat, maka hal itu disampaikan kepada `Abdullah bin Mas’ud dan dia pun mengucapkan: “Innaa lillaahiwainnaa ilaihi raaji’uun,” kemudian berkata: “Saya telah shalat bersama Rasulullaha di Mina dua rakaat dan shalat bersama Abu Bakar di Mina dua rakaat dan shalat bersama `Umar di Mina juga dua rakaat. Semoga dua rakaat dari empat rakaat itu di terima.”

Hadits-hadits ini menunjukkan secara tegas bahwa syarat shalat qashar bukan adanya kondisi takut. Untuk itu, sebagian ulama ada yang berkata, bahwa yang dimaksud qashar di sini adalah qashar kaifiyyat (meringkas cara), bukan meringkas bilangan rakaatnya (karena bilangan shalat itu aslinya dua rakaat –penterjemah-)

Inilah pendapat Mujahid, adh-Dhahhak dan as-Suddi, sebagaimana akan datang penjelasannya. Mereka berpegang pula dengan hadits yang diriwayatkan Imam Malik dari `Aisyah bahwa ia berkata: “Shalat diwajibkan dua-dua rakaat di dalam perjalanan dan di tempat. Lalu hal itu ditetapkan untuk shalat safar dan ditambahkan pada shalat di tempat.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Yahya bin Yahya serta Abu Dawud dari al-Qa’nabi dan an-Nasa’i dari Qutaibah.

Keempat dari Malik. Mereka berkata: “Jika asal shalat dalam safar itu dua rakaat, maka bagaimana mungkin maksud qashar di sini adalah qashar dalam bilangan (rakaatnya)?” Karena sesuatu yang merupakan bentuk asal, maka tidak mungkin dikatakan terhadapnya,” Maka tidaklah mengapa kamu mengashar shalatmu.

Hal yang lebih jelas lagi penunjukannya dari ayat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari `Umar, ia berkata: “Shalat safar dua rakaat, shalat Dhuha dua rakaat, shalat Idul Fitri dua rakaat dan shalat Jum’at dua rakaat adalah sempurna tanpa qashar menurut lisan Rasulullah saw. (Hal yang sama diriwayatkan pula oleh an-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya menurut beberapa jalan dari Zubaid al-Yami dan sanad hadits ini sesuai dengan syarat Muslim).

Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, (juga) Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah dari `Abdullah bin `Abbas berkata: “Allah mewajibkan shalat atas lisan Nabi kalian Muhammad, di tempat empat rakaat dan di dalam perjalanan dua rakaat, serta pada waktu takut satu rakaat. Sebagaimana ditempat itu ada shalat sebelum dan sesudahnya, begitu pula di dalam perjalanan.” (Hadits Riwayat Ibnu Majah ini benar dari Ibnu `Abbas,).

Hadits ini tidak berarti bertentangan dengan hadits `Aisyah terdahulu, karena dia (`Aisyah) mengabarkan bahwa asal shalat adalah dua rakaat, akan tetapi ditambah di waktu ada di tempat. Ketika hal itu sudah tetap, maka sah jika dikatakan, bahwa ketentuan shalat di tempat adalah empat rakaat, seperti yang dilakukan oleh Ibnu `Abbas. Wallahu a’lam.

Akan tetapi antara hadits Ibnu `Abbas dan `Aisyah sepakat bahwasanya shalat safar adalah dua rakaat dan hal tersebut dilaksanakan secara sempurna dan bukan qashar. Jika demikian, maka maksud firman-Nya: “Maka tidaklah mengapa kamu mengashar shalat kamu,” adalah qashar kaifiyyat, sebagaimana dalam shalat khauf. Untuk itu Allah berfirman: in khiftum ay yaftinakumul ladziina kafaruu (“Jika kamu takut diserang orang-orang kafir”.) Oleh karena itu, Allah setelah ayat ini berfirman: “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kanm hendak mendirikan shalat,… ” dan ayatseterusnya (QS. An-Nisaa’: 102). Maka pada ayat berikutnya, Dia menjelaskan maksud qashar di sini (pada ayat ini), serta menyebutkan sifat-sifat dan cara-caranya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 97-100

27 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 97-100“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab: ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah).’ Para Malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Orang-orang itu tempatnya Neraka Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali, (QS. 4:97) kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), (QS. 4:98) Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Mahapemaaf lagi Mahapengampun. (QS. 4:99) Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 4:100)” (an-Nisaa’: 97-100)

Al-Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yazid al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Haiwah dan lainnya, telah meceritakan kepada kami Muhammad bin `Abdirrahman Abul Aswad, ia berkata: “Telah diputuskan bagi penduduk Madinah untuk mengirimkan pasukan, dan aku pun mendaftarkan diri untuk ikut di dalamnya. Lalu aku menjumpai `Ikrimah, maula Ibnu `Abbas, lalu aku mengabarkan kepadanya dan ia melarangku dengan keras terhadap hal tersebut.” Ikrimah berkata: “’Ibnu Abbas memberitahuku bahwa ada beberapa orang dari kalangan kaum Muslimin berada bersama kaum musyrikin, memperbanyak jumlah mereka pada masa Rasulullah Saw. Lalu datanglah sebuah anak panah yang dilepaskan dan mengenai salah seorang di antara mereka, sehingga mematikannya atau memenggal leher-nya.” Maka Allah pun menurunkan firman-Nya: innalladziina tawaffaaHumul malaa-ikatu dhaalimii anfusiHim (“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri.”) Ayat yang mulia ini umum untuk setiap orang yang tinggal di kalangan kaum musyrikin, padahal sanggup berhijrah dan tidak mampu menegakkan agama, maka ia termasuk orang yang dhalim pada dirinya sendiri dan melanggar hal yang haram, ber-dasarkan ijma.

Dengan nash ayat ini di mana Allah berfirman: innalladziina tawaffaaHumul malaa-ikatu dhaalimii anfusiHim (“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri.”) Yaitu dengan meninggalkan hijrah.
Qaala fiima kuntum (“Para Malaikat bertanya: Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”) Yaitu, kenapa kalian tinggal di sini dan meninggalkan hijrah.
Qaaluu kunnaa mustadl’afiina fil ardli (“Mereka berkata: ‘Kami adalah orang-orang tertindas di negeri ini.”) Yaitu kami tidak mampu keluar dari kota ini dan tidak mampu menempuh perjalanan. Qaaluu alam takun ardlullaaHi waasi’atan (“Bukankah bumi Allah itu luas.”)

Abu Dawud meriwayatkan dari Samurah bin Jundab. Amma ba’du Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang bergabung dengan orang musyrik dan tinggal bersamanya, berarti ia sama seperti mereka.”

Firman-Nya: illal mustadl-‘afiina (“Kecuali orang-orang yang tertindas”) ini adalah udzur dari Allah bagi mereka yang meninggalkan hijrah. Hal ini dikarenakan mereka tidak sanggup keluar dari tangan kaum musyrikin. Dan kalaupun mereka berhasil lolos, mereka tidak tahu jalan yang ditempuh.

Untuk itu, Allah berfirman: laa yastathii’uuna hiilataw walaa yaHtaduuna sabiilan (“Mereka tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan.”) Mujahid, `Ikrimas-Suddi berkata, (kata “sabiilan” pada ayat ini) maksudnya adalah “thariiqan” (jalan).

Firman-Nya: fa ulaa-ika ‘asallaaHu ay ya’fuwa ‘anHum (“Mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkan mereka.”) Yaitu Allah memaafkan mereka karena meninggalkan hijrah. Kata-kata `asaa (semoga), jika itu dari Allah, maka berarti pasti; wa kaanallaaHu ‘afuwwan ghafuuran (“Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapengasih.”)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: “Di saat kami bersama Rasulullah saw. menunaikan shalat `Isya, di saat beliau berkata:- sami ‘allaahu liman hamidah. “Kemudian beliau berdo’a, yakni sebelum sujud:

”Ya Allah, selamatkan `Ayyas bin Abi Rabi’ah. Ya Allah, selamatkanlah Salamah bin Hisyam. Ya Allah, selamatkanlah al-Walid bin Walid. Ya Allah, selamatkanlah orang-orang yang lemah dari kaum mukmin. Ya Allah, perkuatlah siksamu kepada Mudharr. Ya Allah, jadikanlah padanya musim paceklik seperti paceklik pada zaman Yusuf.”

Al-Bukhari mengatakan dari Ibnu `Abbas: illal mustadl’afiina (“kecuali orang-orang yang tertindas,”) ia berkata: “Dahulu aku dan ibuku termasuk orang yang diberi udzur oleh Allah.”

Finnan-Nya: wa may yuHaajir fii sabiilillaaHi yajid fil ardli muraaghaman katsiiraw wa sa’atan (“Barangsiap berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak.”) Ini merupakan dorongan untuk hijrah dan anjuran untuk memisahkan diri dari orang-orang musyrik dan bahwa kemana saja seorang mukmin pergi, ia akan mendapatkan keluasan dan tempat perlinungan yang mana ia dapat membentengi dirinya di sana.

Al-muraagham adalah mashdar, Ibnu `Abbas berkata: “Al-muraagham adalah berpindah dari satu tempat ke tempat lain.” Mujahid berkata: “Muraagham katsiiran; yaitu menjauhi dari sesuatu yang tidak disukai, yang jelas –wallahu a’lam- bahwa ia adalah upaya pencegahan yang dengannya ia berusaha untuk membebaskan diri dan dengan hal itu pula musuh-musuh marah.”

Firman-Nya: wa sa’atan (“luas”) yaitu rizki, seperti yang dikatakan oleh banyak ulama, dia adalah Qatadah, mengenai firman-Nya: yajid fil ardli muraaghaman katsiiraw wa sa’atan (“Mereka mendapati di muka bumi tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak.”) ia berkata: “Dari kesesatan menuju hidayah dan dari kekurangan menuju kekayaan.”

Firman-Nya: wa may yakhruj mim baitiHii muHaajiran ilallaaHi wa rasuuliHii tsumma yudrikHul mautu faqad waqa’a ajruHuu ‘alallaaHi (“Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan kemudian kematian menimpanya [sebelum sampai ke tempat yang dituju], maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah”.) Maksudnya, barangsiapa keluar dari rumahnya dengan niat hijrah, lalu mati di tengah perjalanan, maka telah memperoleh di sisi Allah pahala orang yang berhijrah. Sebagaimana ditegaskan dalam kitab ash-Shahihain dan kitab-kitab lain seperti kitab-kitab Shahih, Musnad dan Sunan.

Diriwayatkan dari `Umar bin al-Khaththab, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya suatu amal itu tergantung dari niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu memperoleh apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Sedang barangsiapa berhijrah untuk kepentingan dunia yang ingin diperolehnya, seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu untuk apa yang ia berhijrah kepadanya”.

Ini berlaku umum, untuk hijrah dan semua perbuatan. Di antaranya hadits yang terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim tentang seorang laki-laki yang membunuh 99 orang. Kemudian disempurnakan dengan yang keseratus dengan membunuh orang yang ahli ibadah. Kemudian dia bertanya kepada seorang alim tentang taubatnya. Maka ia (orang alim) berkata: “Siapa yang dapat menghalangi antara kamu dan taubat?” Lalu diberi petunjuk untuk pindah dari kotanya, menuju kota lain untuk beribadah kepada Allah. Maka ketika ia melangkah hijrah dari kotanya ke kota yang dituju itu, kematian datang menjemputnya di tengah perjalanan.

Maka para Malaikat rahmat berselisih dengan Malaikat adzab. Malaikat rahmat berkata: “Ia datang dalam keadaan taubat”, Malaikat adzab berkata: “Dia belum sampai”. Lalu mereka diperintah mengukur di antara dua negeri tersebut, mana yang lebih dekat dari lelaki itu, maka ia termasuk bagiannya. Maka Allah memerintahkan lokasi yang ia tuju agar mendekat dari yang ia tinggalkan dan Allah memerintahkan lokasi yang ia tinggalkan untuk menjauh. Sehingga mereka mendapatkan lebih dekat dengan tempat hijrahnya sejengkal, maka Malaikat rahmat membawanya.

Di dalam satu riwayat (disebutkan), bahwa di saat kematian datang menjemputnya, dia berupaya dengan dadanya mendekat ke tempat hijrahnya.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, ia berkata: “Dhamrah bin Jundub keluar menuju Rasulullah saw, lalu ia mati di jalan sebelum sampai kepada Rasul, maka turunlah ayat: wa may yakhruj mim baitiHii muHaajiran ilallaaHi wa rasuuliHii tsumma yudrikHul mautu faqad waqa’a ajruHuu ‘alallaaHi (“Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan kemudian kematian menimpanya [sebelum sampai ke tempat yang dituju], maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah”.)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 95-96

27 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 95-96“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang), yang tidak mempunyai udzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka, Allah menjanjikan pahala yang baik (Surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (QS. 4:95) (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 4:96)” (an-Nisaa’: 95-96)

Al-Bukhari meriwayatkan dari al-Barra’, ia berkata: “Tatkala turun: laa yastawil qaa’iduuna minal mu’miniina (“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk [yang tidak turut berperang].”) Rasulullah saw. memanggil Zaid untuk menulisnya. Lalu Ibnu Ummi Maktum datang mengadukan kebutaan yang dideritanya. Maka Allah menurunkan: ghairu ulidl-dlarari (“Yang tidak mempunyai udzur.”)

Al-Bukhari meriwayatkan pula dari Ibnu Syihab ia berkata, Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi menceritakan kepadaku, bahwa ia melihat Marwan bin al-Hakam di dalam masjid. Lalu aku pun menuju kepadanya serta duduk di sampingnya, ia pun mengabarkan kepada kami, bahwa Zaid bin Tsabit mengabarkan kepada-nya, bahwa Rasulullah saw. mendiktekan kepadaku: laa yastawil qaa’iduuna minal mu’miniina ghairu ulidl-dlarari wal mujaaHiduuna fii sabiilillaaHi (“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk [yang tidak turut berperang] yang tidak mempunyai udzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah.”) Tiba-tiba Ibnu Ummi Maktum datang, ia berkata: “Ya Rasulullah! Demi Allah, seandainya aku mampu berjihad, tentu aku akan berjihad.” Padahal dia tunanetra. Lalu Allah menurunkan firman-Nya kepada Rasulullah saw, dan ketika itu paha beliau berada di atas pahaku, aku pun merasa berat sehingga aku khawatir pahaku akan remuk, setelah beliau merasa lega hatinya, maka Allah menurunkan: ghairu ulidl-dlarari (“Yang tidak mempunyai udzur.”) (Al-Bukhari meriwayatkan sendiri tanpa Muslim).

Firman-Nya: laa yastawil qaa’iduuna minal mu’miniina (“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk,”) adalah mutlak. (tidak terikat satu kriteria). Tatkala wahyu diturunkan secara cepat, ghairu ulidl-dlarari (“Yang tidak mempunyai udzur.”) Jadilah hal itu sebagai jalan keluar bagi orang-orang yang memiliki udzur untuk meninggalkan jihad; seperti buta, pincang dan sakit, yang disamakan dengan mujahidin di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka.

Kemudian, Allah mengabarkan keutamaan para pejuang disbanding orang-orang yang hanya duduk. Ibnu `Abbas berkata: “Yaitu, yang tidak mempunyai udzur, sebagaimana dalam Shahih al Bukhari dari Anas bahwasanya Rasullullah saw. bersabda: ‘Sesungguhnya di Madinah terdapat kaum yang kalian tidak menempuh perjalanan, tidak mengeluarkan infak dan tidak melintasi suatu lembah. Kecuali mereka bersama kalian.’ Mereka bertanya: ‘Padahal mereka berada di Madinah ya Rasulullah?’ Beliau menjawab: `Ya, mereka terhalang udzur.’” (Dita’liq oleh al-Bukhari dengan lafazh yang pasti dan diriwayatkan pula oleh Abu Dawud).

Dalam makna ini, seorang penyair berkata:

“Wahai para perantau menuju Baitul `Atiq (Ka’bah). Kalian berjalan dengan jasad. Sedangkan kami berjalan dengan ruh.
Kami diam karena udzur dan qadar (takdir). Siapa yang tinggal karena udzur berarti seperti berangkat.”

Firman-Nya: wa kullaw wa ‘adallaaHul husnaa (“Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik.”) Yaitu Surga dan balasan yang banyak sekali. Di dalamnya terdapat dalil bahwa jihad bukan fardhu `ain, akan tetapi fardhu kifayah.

Allah berfirman: wa fadl-dlalallaaHul mujaaHidiina ‘alal qaa’idiina ajran ‘adhiiman (“Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.”) Kemudian Allah memberitahukan tentang karunia yang dilimpahkan-Nya bagi mereka berupa derajat di kamar-kamar jannah yang tinggi, pengampunan terhadap berbagai dosa dan kesalahan, serta limpahan berbagai rahmat dan berkah. Sebagai kebaikan dan kernuliaan dari-Nya.

Untuk itu Allah berfirman: darajaatim minHu wa maghfirataw wa rahmataw wa kaanallaaHu ghafuurar rahiiman (“Yaitu beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah pengampun lagi Mahapenyayang”.)

Dinyatakan dalam ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim), dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasullullah saw. bersabda: “Sesungguhnya di Surga terdapat 100 derajat, yang dipersiapkan Allah untuk para pejuang di jalan-Nya. Jarak antara setiap dua derajat, seperti jarak antara langit dan bumi.”

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 94

27 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 94“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan ‘salam’ kepadamu: ‘Kamu bukan seorang mukmin,’ (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaanmu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atasmu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. an-Nisaa’: 94)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu `Abbas: wa laa taquuluu liman alqaa ilaikumus salama lasta mu’minan (“Dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: ‘Kamu bukan seorang mukmin”) Dia berkata: “Terdapat seorang laki-laki yang membawa ghanimahnya, lalu ia berjumpa dengan kaum muslimin dan berkata: “Assalaamu ‘alaikum.” Akan tetapi mereka tetap membunuhnya dan mengambil ghanimahnya. Maka Allah menurunkan ayat: wa laa taquuluu liman alqaa ilaikumus salama lasta mu’minan (“Dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: ‘Kamu bukan seorang mukmin”)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, ia berkata, Rasullullah saw. bersabda kepada Miqdad: “Apabila ada seorang mukmin yang menyembunyikan keimanannya di saat bersama kaum kafir, lalu ia menampakkan imannya, tetapi engkau membunuhnya, maka demikian pula halnya kamu pun dahulu menyembunyikan ketika di Makkah.” Demikian yang disebutkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq dan ringkas.

Yaa ayyuHal ladziina aamanuu idzaa dlarabtum fii sabiilillaaHi fatabayyanuu wa laa taquuluu liman alqaa ilaikumus salaama lasta mu’minan tabtaghuuna ‘aradlal hayaatid dun-yaa fa ‘indallaaHi maghaanimu katsiiratun kadzaalika kuntum min qablu famannallaaHu ‘alaikum fatabayyanuu (“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi [berperang] di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan ‘salam’ kepadamu: ‘Kamu bukan seorang mukmin’ [lalu kamu membunuhnya], dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaanmu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atasmu, maka telitilah.”

Firman-Nya: fa ‘indallaaHi maghaanimu katsiiratun (“Karena di sisi Allah ada harta yang banyak”.) Yaitu lebih baik dari harta benda kehidupan dunia yang kalian sukai, yang membawa kalian untuk membunuh orang yang mengucapkan salam pada kalian dan menampakkan keimanannya. Kalian mengabaikan dan menuduh dia berpura-pura dan menyembunyikan jati diri, untuk memperoleh harta kehidupan dunia. Sesungguhnya apa yang di sisi Allah berupa rizki yang halal, lebih baik bagi kalian dari pada harta ini.

Firman-Nya: kadzaalika kuntum min qablu famannallaaHu ‘alaikum (“lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atasmu.”) Yaitu, sesungguhnya dahulu sebelum kondisi ini kalian seperti keadaan orang-orang ini, yang merahasiakan dan menyembunyikan keimanan mereka dari kaumnya. Sebagaimana dalam hadits marfu’ yang lalu. Fa mannallaaHu ‘alaikum (“Lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atasmu.”) Yaitu Allah terima taubat kalian. Dan firman-Nya: fatabayyanuu (“Maka telitilah”) adalah penguat yang terdahulu.

Firman-Nya: innallaaHa kaana bimaa ta’maluuna khabiiran (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.”) Sa’id bin Jubair berkata: “Ini adalah penegasan dan ancaman.”

&