Tag Archives: an-nisa’

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 37-39

8 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 37-39“(Yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan. (QS. 4:37) Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruk-nya. (QS. 4:38) Apakah kemudharatannya bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan menafkahkan sebahagian rizki yang telah diberikan Allah kepada mereka?. Dan adalah Allah Maha-mengetahui keadaan mereka. (QS. 4:39)” (an-Nisaa’: 37-39)

Allah berfirman, mencela orang-orang yang kikir dengan harta mereka untuk dinafkahkan sesuai perintah Allah berupa berbakti kepada orang tua, berbuat baik pada kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahaya kalian, serta mencela orang-orang yang tidak menyerahkan hak Allah dalam harta mereka, dan menyuruh orang lain berbuat kikir.

Firman Allah: wa yaktumuuuna maa aataaHumullaaHu min fadl-liHi (“Dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka.”) Kikir berarti mengingkari nikmat Allah dan tidak menampakkannya. Tidak ditampakkan dalam makanan, pakaian, pemberian dan kedermawanannya. Untuk itu mereka diancam dengan firman-Nya:

Wa a’tadnaa lil kaafiriina ‘adzaabam muHiinan (“Dan Kami telah menyediakan untuk orang kafir siksa yang menghinakan.”) “Al-kufru” adalah tirai dan tutupan. Orang yang bakhil itu menutup nikmat Allah yang diberikan kepadanya, menyembunyikan dan mengingkarinya. Maka berarti ia kafir kepada nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Begitu pula ayat sesudahnya yaitu:

Wal ladziina yunfiquuna amwaalaHum ri-aa-an naasi (“Dan orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia.”)

(Pada ayat pertama) Allah menyebutkan orang-orang yang memegang harta yang tercela yaitu orang-orang yang kikir, kemudian (pada ayat berikutnya) Allah menyebutkan pula para dermawan yang riya’, dimana tujuan pemberiannya hanyalah kebanggaan dan pujian orang lain dan sama sekali tidak mencari keridhaan Allah swt.

Di dalam hadits shahih mengenai tiga golongan manusia yang mana api Neraka itu dinyalakan pertama kali untuk mereka. Mereka itu adalah orang `alim, pejuang dan dermawan, mereka semua ini riya dalam amal mereka.

“Sang dermawan berkata: ‘Aku tidak tinggalkan sesuatu pun yang Engkau cintai untuk dinafkahkan kecuali aku pun menafkahkannya di jalan-Mu.’ Allah berfirman: ‘Kamu dusta, kamu lakukan hal itu hanyalah untuk dikatakan dermawan dan kamu telah dikatakan dermawan.’”

Artinya, kamu telah terima balasanmu di dunia, yaitu sesuatu yang engkau tuju dalam perbuatanmu. Untuk itu Allah berfirman:

Wa laa yu’minuuna billaaHi walaa bil yaumil aakhiri (“Dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian.”) Yaitu, yang membawa mereka melakukan perbuatan buruk dan memalingkan mereka dari ketaatan ke arah mencari keridhaan dunia adalah syaitan. Karena ia (syaitan itu) membujuk, memberi angan-angan dan menemani mereka, lalu membagus-baguskan sesuatu yang buruk kepada mereka. Karena itu, Allah berfirman:

Wa may yakunisy syaithaanu laHuu qariinan fasaa-a qariinan (“Barang siapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.”) Untuk itu seorang penya’ir berkata:

“Jangan engkau bertanya tentang seseorang, tanyalah tentang temannya.
Karena setiap teman akan mengikuti temannya.”

Kemudian Allah berfirman: wa maa dzaa ‘alaiHim lau aamanu billaaHi wal yaumil aakhiri wa anfaquu mimmaa razaqaHumullaaHu (“Apakah kemudharatannya bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan menafkahkan sebahagian rizki yang telah diberikan Allah kepada mereka?”)

Artinya, adakah sesuatu yang membahayakan mereka, seandainya mereka beriman kepada Allah, menempuh jalan terpuji, berpaling dari riya’ menuju ikhlas, beriman kepada Allah karena mengharap janji-Nya di akhirat bagi siapa yang memperbaiki amalnya, serta menafkahkan sebagian rizki yang diberikan olehAllah kepada mereka ke jalan-jalan yang dicintai dan diridhai-Nya.?

Firman-Nya: wa kaanallaaHu biHim ‘aliiman (“Dan adalah Allah Mahamengetahui keadaan mereka.”) Yaitu Dia Mahamengetahui tentang niat-niat mereka yang baik dan yang buruk, serta Mahamengetahui siapa yang berhak mendapatkan taufiq di antara mereka, lalu diberinya taufiq, diilhamkannya petunjuk serta diarahkannya kepada amal shalih yang diridhai-Nya dan Dia mengetahuipula siapa yang berhak dihinakan dan dijauhkan dari perlindungan Ilah Yang Agung, di mana siapa yang dijauhkan dari pintu-Nya itu, maka ia telah gagal dan merugi, baik di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah melindungi kitadari semua itu.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 36

8 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 36“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. an-Nisaa’: 36)

Ibnu sabil ialah, seorang musafir yang terputus (terhenti) perjalanan kembali ke tempat asal-nya, karena kehabisan bekal.

Allah memerintahkan untuk beribadah hanya kepada-Nya, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebab Dia-lah Pencipta, Pemberi rizki, Pemberi nikmat dan Pemberi karunia terhadap makhluk-Nya, di dalam seluruh keadaan. Maka Dia-lah yang berhak agar mereka meng-Esakan, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun dari makhluk-Nya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. kepada Mu’adz bin Jabal:

“Tahukah engkau, apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya?” Mu’adz menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” Kemudian beliau bertanya lagi: “Tahukah engkau, apa hak hamba atas Allah, jika mereka melakukannya?” Beliau menjawab: “Yaitu Dia tidak akan mengadzab mereka.”

Kemudian Allah mewasiatkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Karena Allah menjadikan keduanya sebagai sebab yang mengeluarkan kamu, dari tidak ada menjadi ada. Banyak sekali Allah menyandingkan antara ibadah kepada-Nya dan berbuat baik kepada orang tua. Seperti firman Allah, “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu.” (QS. Luqman: 14)

Kemudian setelah perintah berbuat baik kepada kedua orang tua, dilanjutkan dengan berbuat baik kepada kerabat, baik laki-laki maupun perempuan. Kemudian Allah berfirman: wal yataamaa (“Dan anak-anak yatim.”) Hal itu dikarenakan mereka kehilangan orang yang menjaga kemaslahatan dan nafkah mereka, maka Allah perintahkan untuk berbuat baik dan lemah lembut kepada mereka.

Kemudian Allah berfirman: wal masaakiini (“Dan orang-orang miskin.”) Yaitu orang-orang yang sangat butuh dimana mereka tidak mendapatkan orang-orang yang dapat mencukupi mereka, maka Allah perintahkan untuk membantu mencukupi kebutuhan mereka dan menghilangkan kesulitan mereka. Pembicaraan tentang fakir dan miskin akan diuraikan pada surat Bara’ah (at-Taubah).

Firman-Nya: wal jaari dzil qurbaa wal jaaril junubi (“Tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.”) Tetangga yang dekat yaitu orang yang antara kamu dan dia memiliki hubungan kekerabatan. Sedangkan antara kamu dan dia tidak memiliki hubungan kerabat. Demikian pendapat yang diriwayatkan dari `Ikrimah, Mujahid, Maimun bin Mahran, adh-Dhahhak, Zaid bin Aslam, Muqatil bin Hayyan, dan Qatadah. Abu Ishaq mengatakan, dari Nauf al-Bakkali tentang firman Allah: “tetangga yang dekat,” yaitu tetangga muslim sedangkan “tetangga jauh” yaitu orang Yahudi dan Nasrani. (HR. Ibnu Jarii dan Ibnu Abi Hatim).

Jabir al-Ju’fi mengatakan dari asy-Sya’bi dari Ali dan ibnu Mas’ud bahwa “jaari dzil qurbaa” yaitu wanita. Sedangkan Mujahid berkata pula tentang “wal jaaril junubi” yaitu teman dalam perjalanan. Banyak hadits yang menjelaskan tentang wasiat untuk tetangga. Kita akan sebutkan beberapa yang mudah dan hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.

Hadits pertama, Imam Ahmad meriwayatkan dari `Abdullah bin `Umar, bahwa Rasulullah bersabda: “Jibril senantiasa mewasiatkan aku tentang tetangga, hingga aku menyangka akan mewariskannya.” (Dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam ash-Shahihain, juga Abu Dawud dan at-Tirmidzi meriwayatkan yang sama).

Hadits kedua, Imam Ahmad meriwayatkan pula dari `Umar, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Janganlah seseorang kenyang tanpa (memperhatikan) tetangganya.” (Hanya Imam Ahmad yang meriwayatkan)

Hadits ketiga, Imam Ahmad meriwayatkan, `Ali bin `Abdullah telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Fudhail bin Ghazwan telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Sa’ad al-Anshari telah menceritakan kepada kami, aku mendengar Abu Zhabyah al-Kala-i berkata, Aku mendengar al-Miqdad bin al-Aswad berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada para Sahabatnya: “Apa yang kalian katakana tentang zina?” Mereka menjawab: “Perilaku yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, maka hal itu akan tetap haram hingga hari Kiamat.” Beliau bersabda: “Zinanya seseorang dengan sepuluh wanita, lebih ringan baginya daripada berzina dengan isteri tetangga.” Beliau melanjutkan pertanyaannya: “Apa yang kalian katakan tentang pencurian?” Mereka menjawab: “Perilaku yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, maka hal itu akan tetap haram hingga hari Kiamat.” Beliau bersabda: “Seseorang yang mencuri di sepuluh buah rumah lebih ringan baginya dari pada mencuri dari rumah tetangganya.” (Hanya Imam Ahmad yang meriwayatkan).

Hadits ini memiliki syahid (penguat) dalam kitab ash-Shahihain dari hadits Ibnu Mas’ud, aku bertanya: “Ya Rasulullah. Apakah dosa yang paling besar?” Beliau menjawab: “Engkau menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakanmu.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Engkau bunuh anakmu, karena takut makan bersamamu”. Aku melanjutkan pertanyaan: “Lalu apa lagi?” Beliau pun menjawab: “Engkau berzina dengan isteri tetanggamu.”

Hadits keempat, Imam Ahmad meriwayatkan, bahwa `Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw.: “Sesungguhnya aku memiliki dua orang tetangga, mana di antara keduanya yang paling berhak aku beri hadiah?” Beliau menjawab: “Orang yang pintunya paling dekat denganmu.” (HR. Al-Bukhari).

Firman Allah: wash shaahibil bil jambi (“Teman Sejawat.”) Ats-Tsauri mengatakan dari `Ali dan Ibnu Mas’ud, keduanya berkata: “Yaitu wanita.” Ibnu Abi Hatim berkata: “Pendapat serupa diriwayatkan dari `Abdurrahman bin Abi Laila, Ibrahim an-Nakha’i, al-Hasan dan Sa’id bin Jubair dalam salah satu riwayat.” Ibnu `Abbas dan jama’ah berkata: “Yaitu orang yang lemah”. Sedang-kan Ibnu `Abbas, Mujahid, `Ikrimah dan Qatadah berkata: “Yaitu teman dalam perjalanan”. Sedangkan dan jama’ah adalah tamu.

Firman Allah: wa maa malakat aimaanukum (“hamba sahayamu”) ayat ini merupakan wasiat untuk para budak, karena mereka lemah dalam bertindak dan tawanan di tangan manusia. Untuk itu Rasulullah di saat sakit menjelang wafatnya, beliau mewasiatkan umatnya dengan sabdanya: “Jagalah shalat, jagalah shalat, dan hamba sahayamu”. Beliau terus mengulangnya hingga lisannya tidak mampu lagi berucap.

Imam Ahmad meriwayatkan dari al-Miqdam bin Ma’dikarb, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Apa yang engkau makan untuk dirimu sendiri, maka itu shadaqah bagimu. Dan makanan yang engkau berikan untuk anakmu, maka itu shadaqah bagi-mu. Makanan yang engkau berikan untuk isterimu, maka itu shadaqah bagi-mu. Dan makanan yang engkau berikan untuk pembantumu, maka itu shadaqah bagimu.” (HR. An-Nasa’i dari hadits Baqiyah dan isnadnya shahih), segala puji hanya bagi Allah.

Dari `Abdullah bin `Amr bahwa ia berkata kepada bendaharanya: “Apakah telah engkau berikan makanan kepada budakmu ?” Dia menjawab: “Tidak.” Beliau pun berkata: “Pergilah dan berikan kepada mereka, karena Rasulullah bersabda: “Cukuplah berdosa bagi seseorang, jika ia menahan makanan orang yang dibawah kepemilikannya.” (HR Muslim).

Dari Abu Hurairah juga, bahwa Nabi bersabda: “Seorang budak berhak mendapatkan makanan dan pakaian. Dan hendaklah ia tidak dibebani pekerjaan kecuali yang dia mampu (mengerjakannya)”. (HR.Muslim).

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda: “Apabila pembantu mendatangi salah seorang di antara kalian dengan membawa makanannya, kalau ia tidak mendudukkannya bersamanya, maka berikanlah (ambilkanlah) untuknya satu atau dua jenis makanan, sesuap atau dua suap makanan, karena ia telah mengurusi panasnya dan penghidangannya.” (Dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dan lafazhnya ini bagi al-Bukhari)

Sedangkan dalam lafazh Muslim: “Maka hendaklah ia mendudukannya dan makan bersamanya, jika makanannya adalah untuk orang banyak, tetapi hanya ada sedikit, maka letakkanlah di tangannya satu atau dua suapan.”

Dari Abu Dzar, bahwa Nabi saw bersabda: “Mereka adalah saudara dan kerabat kalian, yang dijadikan Allah di tangan kalian. Barangsiapa yang saudaranya berada di bawah tangannya, maka berilah makan dari apa yang dia makan, berikanlah pakaian apa yang dia pakai. Dan janganlah kalian tugaskan mereka sesuatu yang mereka tidak mampu dan jika kalian membebankan pekerjaan kepada mereka, maka bantulah mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Firman Allah: innallaaHa laa yuhibbu man kaana mukhtaalan fakhuuran (“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”) Artinya, sombong dalam dirinya, bangga, angkuh dan sombong pada orang lain. Dia melihat dirinya lebih baik dari mereka dan ia merasa besar dalam dirinya, padahal di sisi Allah ia hina dan di sisi manusia ia dibenci.

Mujahid berkata tentang firman-Nya: mukhtaalan; yaitu sombong. Fakhuuran; yaitu setelah diberikan berbagai nikmat, ia tidak bersyukur kepada Allah, yaitu merasa sombong kepada manusia dengan apa yang diberikan Allah berupa nikmat-Nya serta sedikit rasa syukurnya kepada Allah.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 35

7 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 35“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki, dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.” (QS. an-Nisaa’: 35)

Allah menyebutkan keadaan pertama, yaitu, jika terdapat ketidakcocokan dan pembangkangan dari isteri (pada ayat sebelumnya). Kemudian menyebutkan kasus kedua, yaitu jika ketidak cocokan muncul dari keduanya (suami isteri).

Allah berfirman: wa in khiftum syiqaaqa bainiHimaa fab’atsuu hakamam min aHliHii wa hakaman min aHliHaa (“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (pendamai/penengah) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan.”)

Para fuqaha (ulama ahli fiqih) berkata, jika terjadi persengketaan di antara suami isteri, maka didamaikan oleh hakim sebagai pihak penengah, meneliti kasus keduanya dan mencegah orang yang berbuat zhalim dari keduanya dari perbuatan zhalim. Jika perkaranya tetap berlanjut dan persengketaannya semakin panjang, maka hakim dapat mengutus seseorang yang dipercaya dari keluarga wanita dan keluarga laki-laki untuk berembug dan meneliti masalahnya, serta melakukan tindakan yang mengandung maslahat bagi keduanya berupa perceraian atau berdamai.

Dan syariat menganjurkan untuk berdamai, untuk itu Allah berfirman: iy yuriidaa ish-laahay yuwafiqillaaHu bainaHumaa (“Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu.”)

Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu`Abbas: “Allah memerintahkan mereka untuk mengutus seorang laki-laki yang shalih (terpercaya) dari pihak keluarga laki-laki, dan seorang yang sama dari pihak keluarga wanita, untuk meneliti siapa di antara keduanya yang berlaku buruk. Jika sang suami yang melakukan keburukan, maka mereka dapat melindungi sang isteri dan membatasi kewajibannya dalam memberi nafkah. Jika seorang isteri yang melakukan keburukan, maka mereka dapat mengurangi haknya dari suami dan menahan nafkah yang diberikan kepadanya. Jika, keduanya sepakat untuk bercerai atau menyatu kembali, maka boleh saja perkara itu ditetapkan. Jika keduanya berpendapat untuk disatukan kembali, lalu salah satu suami isteri itu ridha, sedangkan yang lain tidak suka, kemudian salah satunya mati, maka yang meridhainya dapat waris dari yang tidak meridhai. Sedangkan yang tidak suka tidak dapat waris dari yang ridha.” (HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir).

Syaikh Abu `Umar bin `Abdil Barr berkata, para ulama sepakat bahwa, apabila terjadi perbedaan pendapat di antara kedua hakam tersebut, maka pendapat yang lain tidak berlaku. Dan para ulama pun sepakat bahwa pendapat keduanya untuk menyatukan kembali harus dilaksanakan sekalipun suami isteri tak mewakilkan. Akan tetapi mereka berbeda pendapat apakah pendapat kedua hakam tentang perceraian harus dilaksanakan pula. Dihikayatkan dari jumhur ulama bahwa pendapat itu wajib pula dilaksanakan walaupun tanpa penyerahan perwakilan.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 34

7 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 34“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya, maka nasehatilah mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mababesar.” (QS. an-Nisaa’: 34)

Allah berfirman: ar riajaalu qawwaamuuna ‘alan nisaa-i (“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.”) Yaitu laki-laki adalah pemimpin kaum wanita dalam arti pemimpin, kepala, hakim dan pendidik wanita, jika ia menyimpang; bimaa fadl-dlalallaaHu ba’dlaHum ‘alaa ba’dlin (“Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka [laki-laki] atas sebahagian yang lain [wanita].”)

Yaitu karena laki-laki lebih utama dari wanita dan laki-laki lebih baik daripada wanita. Karena itu, kenabian dikhususkan untuk laki-laki. Begitu pula raja (Presiden), berdasarkan sabda Rasulullah: “Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang mengangkat wanita (sebagai pemimpin) dalam urusan mereka.” (HR. Al-Bukhari).

Begitu pula dengan jabatan kehakiman dan lain-lain.

Wa bimaa anfaquu min amwaaliHim (“Dan karena mereka telah menafkahkan sebagian harta mereka.”) Yang berupa mahar, nafkah dan berbagai tanggung jawab yang diwajibkan Allah kepada mereka dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Maka, laki-laki lebih utama dari wanita dalam hal jiwanya dan laki-laki memiliki keutamaan dan kelebihan sehingga cocok menjadi penanggung jawab atas wanita, sebagaimana firman Allah: “Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.”(QS. Al-Baqarah: 228)

`Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu `Abbas tentang: ar riajaalu qawwaamuuna ‘alan nisaa-i (“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.”) Yaitu, pemimpin-pemimpin atas wanita yang harus ditaati sesuai perintah Allah untuk mentaatinya. Dan ketaatan padanya adalah berbuat baik terhadap keluarganya dan memelihara hartanya. Demikian pendapat Muqatil, as-Suddi dan adh-Dhahhak.

Asy-Sya’bi berkata tentan ayat ini: ar riajaalu qawwaamuuna ‘alan nisaa-i bimaa fadl-dlalallaaHu ba’dlaHum ‘alaa ba’dliw Wa bimaa anfaquu min amwaaliHim (“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka [laki-laki] atas sebahagian yang lain [wanita], dan karena mereka [laki-laki] telah menafkahkan sebahagian harta mereka.”) Yaitu, berupa mahar suami kepada isterinya. Apakah tidak engkau lihat seandainya suami menuduh isterinya berzina, maka terjadilah li’an. Dan jika si isteri yang menuduhnya, maka dikenakan hukum jild (cambuk).”

(Li’an menurut bahasa, kutuk-mengutuk. Menurut syara’: menuduh isteri berzina. Lihat surat an-Nuur, ayat 6-10)

Firman Allah: fash shaalihaatu (“Maka orang-orang shalih,”) maksudnya, dari kaum wanita. Qaanitaatun (“Yang taat.”) Ibnu `Abbas dan banyak ulama berkata, artinya wanita-wanita yang taat pada suaminya. Haafidhaatul lilghaibi (“Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.”) As-Suddi dan ulama yang lain berkata: “Yaitu wanita yang menjaga suaminya di waktu tidak ada (di samping-nya) dengan menjaga dirinya sendiri dan harta suaminya.”

Firman Allah: bimaa hafidhallaaHu (“Oleh karena Allah telah memelihara mereka.”) Yaitu, orang yang terpelihara adalah orang yang dijaga oleh Allah.

Imam Ahmad meriwayatkan, dari `Abdullah bin Abu Ja’far, Ibnu Qaridz mengabarkan kepadanya bahwa `Abdurrahman bin `Auf berkata, Rasulullah saw. bersabda: “
“Apabila seorang wanita menjaga shalat yang lima waktu, puasa Ramadhannya, menjaga farjinya (kemaluannya) dan mentaati suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya; ‘Masuklah ke dal am jannah (Surga) dari pintu mana saja yang kamu kehendaki.’”
Hanya Ahmad yang meriwayatkan dari jalan`Abdullah bin Qaridzdari `Abdurrahman bin `Auf.

Firman Allah: wal laatii takhaafuuna nusyuuzaHunna (“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya.”) Yaitu, wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya kepada suami mereka. An-Nusyuz adalah merasa lebih tinggi. Berarti wanita yang nusyuz adalah wanita yang merasa tinggi di atas suami-nya dengan meninggalkan perintahnya, berpaling dan membencinya. Kapansaja tanda-tanda nusyuz itu timbul, maka nasehatilah dia dan takut-takutilah dengan siksa Allah, jika maksiat kepada suaminya. Karena Allah telah mewajibkan hak suami atas isteri, dengan ketaatan isteri kepada suami, serta mengharamkan maksiat kepadanya, karena keutamaan dan kelebihan yang dimiliki suami atas isteri.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seorang suami mengajak isterinya ke pembaringan, lalu ia tidak mau, maka para Malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” (HR. Muslim).

Karena itu Allah berfirman: wal laatii takhaafuuna nusyuuzaHunna fa-‘idhuHunna (“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka.”)

Sedangkan firman Allah: waHjuruuHunna fil madlaaji’i (“Dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka”) `Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu`Abbas: “Al-hajru yaitu tidak menjima’ (menyetubuhi) dan tidak tidur dengan dia di atas pembaringannya, serta berupaya membelakanginya.”

Demikianlah yang dikatakan banyak ulama, sedangkan ulama lain seperti as-Suddi, adh-Dhahhak, `Ikrimah dan Ibnu `Abbas dalam satu riwayatnya menambahkan: “Tidak berbicara dan tidak bercengkrama.” `Ali bin Abi Thalhah pun menceritakan dari Ibnu `Abbas: “Yaitu, hendaklah ia nasehati, jika ia terima. Jika tidak, hendaklah ia pisahkan tempat tidurnya dan tidak berbicara dengannya tanpa terjadi perceraian. Dan hal tersebut sudah pasti memberatkannya.”

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Murrah ar-Raqqasyi dari paman-nya, bahwa Nabi saw. bersabda: “Jika kalian khawatir nusyuznya mereka para isteri, maka berpisahlah dari tempat tidurnya.” Hammad berkata: “Yaitu, (tidak) menggaulinya (menyetubuhinya).”

Di dalam Sunan dan Musnad, dari Mu’awiyah bin Haidah al-Qusyairi bahwa ia berkata: “Ya Rasulullah, Apakah hak isteri atas suaminya?” Beliau menjawab: “Hendaklah engkau memberinya makan jika engkau makan, memberinya pakaian jika engkau berpakaian, jangan memukul wajah, jangan mencelanya dan jangan pisah ranjang kecuali di dalam rumah.”

Firman-Nya: wadl-ribuuHunna (“pukullah mereka”) yaitu jika nasehat dan pemisahan tempat tidur tidak menggentarkannya, maka kalian boleh memukulnya dengan tidak melukai. Sebagaimana hadits dalam Shahih Muslim dari Jabir, bahwa Nabi dalam Haji Wada’ bersabda: “Bertakwalah kepada Allah tentang wanita, sesungguhnya mereka adalah pendamping kalian, kalian mempunyai hak terhadap mereka. Yaitu, mereka tidak boleh membiarkan seorangpun yang kalian benci menginjak hamparan kalian (masuk ke rumah kalian). Jika mereka melakukannya, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai dan mereka memiliki hak untuk mendapatkan rizki dan pakaian dengan cara yang ma’ruf.”

Ibnu `Abbas dan ulama-ulama lain berkata: “Yaitu pukulan yang tidak melukai.” Al-Hasan al-Bashri berkata: “Yaitu, (pukulan yang) tidak meninggalkan bekas.” Para fuqaha berkata: “Yaitu tidak melukai anggota badan dan tidak meninggalkan bekas sedikitpun.” `Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu`Abbas: “Yaitu, memisahkannya dari tempat tidur, jika ia terima. Jika tidak, Allah mengizinkanmu untuk memukulnya, dengan pukulan yang tidak mencederai dan tidak melukai tulang, jika ia terima. Dan jika tidak juga, maka Allah menghalalkanmu untuk mendapatkan tebusan darinya.”

Sufyan bin `Uyainah mengatakan dari Iyas bin `Abdullah bin Abu Dzu-ab, ia berkata, Nabi bersabda: “Janganlah kalian memukul isteri-isteri kalian.” Lalu datanglah `Umar ra. kepada Rasulullah dan berkata: “Para wanita mulai membangkang kepada suami-suaminya. Maka Rasulullah memberikan rukhshah (keringanan hukum) untuk memukul mereka.

Lalu datanglah banyak wanita kepada isteri-isteri Rasulullah saw, mengadukan tentang pemukulan suami mereka. Maka bersabdalah Rasulullah saw: “Sungguh banyak wanita yang berdatangan kepada isteri-isteri Muhammad, mengadukan tentang pemukulan suami mereka. Mereka itu bukanlah yang terbaik di antara kalian”. Hadits ini riwayat Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah.

Firman Allah: fa in atha’nakum falaa tabghuu ‘alaiHinna sabiilan (“Jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.”) Yaitu jika isteri mentaati suaminya dalam semua kehendak yang dibolehkan oleh Allah, maka tidak boleh mencari-cari jalan lain setelah itu, serta tidak boleh memukul dan menjauhi tempat tidurnya.”

Firman-Nya: innallaaHa kaana ‘aliyyan kabiiran (“Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”) (Hal ini) adalah ancaman untuk laki-laki, jika mereka berbuat zhalim kepada para isteri tanpa sebab, maka Allah Mahatinggi lagi Mahabesar. Allah yang akan menjaga mereka dan Allah akan menghukum orang yang berbuat zhalim kepada mereka.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 33

7 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 33“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris pewarisnya. Dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.” (QS. an-Nisaa’: 33)

Ibnu `Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Abu Shalih, Qatadah, Zaid bin Aslam, as-Suddi, adh-Dhahhak, Muqatil bin Hayyan dan yang lainnya berkata tentang firman-Nya: wa likullin ja’alnaa mawaaliya (“Bagi tiap-tiap [harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib-kerabatnya] Kami jadikan mawali.”) Yaitu, ahli waris.

Dalam satu riwayat dari Ibnu `Abbas, artinya adalah `ashabah (`Ashabah: Jamak dari `ashab, yaitu saudara-saudara atau keluarga yang mendapat bagian harta secara tidak tertentu kadarnya, hanya mendapatkan mana yang tersisa dari yang diambil oleh`ashabah furudh [yang mendapat bagian secara pasti])

IbnuJarir berkata: “Orang Arab menamakan anak paman dengan maula, sebagaimana perkataan al-Fadhl bin `Abbas:
Tenanglah wahai anak paman kami, tenanglah dan maula maula kami.
Janganlah sekali-kali tampak di antara kita sesuatu yang terpendam diantara kita.”

Ibnu Jarir berkata: “Yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala: mimmaa tarakal waalidaani wal aqrabuun; adalah dari warisan peninggalan kedua orang tua dan kerabat-kerabatnya, maka tafsirnya adalah bagi setiap kalian hai manusia, kami jadikan `ashabah yang akan mewarisi dari peninggalan kedua orang tua dan kerabat-kerabat ahlinya dari harta peninggalannya.

Firman Allah: wal ladziina ‘aqadat aimaanukum fa aatuuHum nashiibaHum (“Dan [jika ada] orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya.”) Yaitu, orang-orang yang telah bersumpah setia antara kamu dan mereka, maka berikanlah bagian waris mereka sebagaimana yang telah kamu janjikan dalam sumpah setia tersebut. Sesungguhnya Allah menjadi saksi di antara kalian dalam berbagai kontrak dan perjanjian tersebut. Hal ini berlaku di masa permulaan Islam, kemudian setelah itu dibatalkan dan mereka diperintahkan untuk menunaikan hak orang-orang yang telah sepakat melakukan suatu akad serta tidak melupakannya, setelah turun ayat ini.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu `Abbas: wa likullin ja’alnaa mawaaliya (“Bagi tiap-tiap [harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib-kerabatnya] Kami jadikan mawali.”) yaitu, ahli waris.

wal ladziina ‘aqadat aimaanukum (“Dan orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka.”) Dahulu, kaum Muhajirin ketika datang ke Madinah, mereka mewarisi kaum Anshar tanpa ikatan kerabat, tetapi karena ukhuwwah dimana Nabi saw. pernah mempersaudarakan antara Quraisy dan Anshar. Maka ketika turun ayat, maka dibatalkan/dihapus. Kemudian Ibnu `Abbas berkata tentang ayat ini:
wal ladziina ‘aqadat aimaanukum fa aatuuHum nashiibaHum (“Dan [jika ada] orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya.”) berupa pertolongan, bantuan dan nasehat. Sedangkan kewarisannya telah hilang (karena hukumnya telah dinasakh atau dibatalkan) dan hendaknya memberikan wasiat kepadanya. Lalu, hal itu (wasiat) dibatalkan oleh ayat yang artinya:
“Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam kitab Allah.” (QS. Al-Anfaal: 75)

Diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, Mujahid, `Atha’, al-Hasan, Ibnul Musayyab, Abu Shalih, Sulaiman bin Yasar, asy-Sya’bi, `Ikrimah, as-Suddi, adh-Dhahhak, Qatadah dan Muqatil bin Hayyan, bahwa mereka berkata: “Mereka itu adalah orang-orang yang bersumpah setia.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Sa’id bin Ibrahim, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada sumpah setia dalam Islam dan sumpah setia apapun yang ada pada masa Jahiliyyah, maka Islam tidak menambahkan apapun kepadanya, melainkan hanya memberatkan.” Demikianlah riwayat Muslim dan an-Nasa’i.

Pendapat yang benar adalah bahwa pada permulaan Islam, mereka saling waris-mewarisi berdasarkan janji sumpah setia, kemudian dinasakh (dihapus). Sedangkan pengaruh sumpah tetap diberlakukan, sekalipun mereka diperintahkan untuk memenuhi berbagai perjanjian, kontrak dan sumpah setia yang dahulu mereka ikrarkan. Dan pada hadits Jubair bin Muth’im yang lalu dijelaskan bahwa, “Tidak ada sumpah setia dalam Islam, dan sumpah setia apapun yang ada pada masa Jahiliyyah, maka Islam tidak menambah apa-pun kepadanya, malainkan hanya memberatkan.”

Hal ini merupakan nash yang menolak pendapat yang mengatakan masih berlakunya waris-mewarisi atas dasar sumpah setia pada hari ini, sebagaimana pendapat madzhab Abu Hanifah dan para pengikutnya serta satu riwayat pendapat dari Ahmad bin Hanbal. Pendapat yang benar adalah pendapat Jumhur (mayoritas) ulama, serta Imam Malik, Imam asy-Syafi’i dan berdasarkan pendapat yang terkenal dari Imam Ahmad.

Untuk itu, Allah berfirman: wa likullin ja’alnaa mawaaliya mimmaa tarakal waalidaani wal aqrabuun (“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu-bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya.”) Yaitu, ahli waris dari kerabat dekat dari kedua orang tua dan para kerabat keduanya. Mereka itu mewarisinya tanpa orang-orang yang lain. Di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Ibnu `Abbas, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Berikanlah fara-idh (bagian-bagian waris) kepada yang berhak atau pemilik-nya (ahlinya). Apa yang tersisa, maka untuk laki-laki yang lebih utama.”

Artinya, berikanlah oleh kalian harta warisan itu kepada para penerima waris yang telah disebutkan Allah dalam dua ayat fara-idh. Apa yang tersisa setelah itu, maka berikanlah kepada `ashabah.

Firman Allah: wal ladziina ‘aqadat aimaanukum (“Dan [jika ada] orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka.”) Sebelum turun ayat ini, berikanlah bagian mereka dari harta warisan. Sedang sumpah setia apa saja yang dilakukan setelah itu, tidak akan ada pengaruhnya.

Satu pendapat mengatakan bahwa ayat ini membatalkan berbagai sumpah setia yang ada pada masa yang akan datang, serta hukum sumpah setia yang telah dilakukan pada masa yang lalu, sehingga tidak ada lagi saling waris-mewarisi dengan sumpah mereka.

Sebagaimana Ibnu Abi Hatim meniwayatkan dari Ibnu `Abbas, ia berkata: fa atuuHum nashiibaHum (“Maka berilah kepada mereka bagiannya.”) Yaitu; pertolongan, nasehat, pembelaan dan wasiat. Dan telah hilang kewarisannya.” (HR. IbnuJarir).

Demikian pula diriwayatkan hadits serupa, dari Mujahid dan Abu Malik.`Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu `Abbas, ia berkata: “Firman Allah: wal ladziina ‘aqadat aimaanukum (“Dan [jika ada] orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka.”) Yaitu, seorang yang mengikat sumpah setia dengan seseorang, dimana jika salah satu mati, yang lain akan mendapatkan warisannya, maka Allah menurunkan Ayat: “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama).” (QS. Al-Ahzab: 6 )

Beliau (Ibnu `Abbas) pun berkata: “Kecuali jika kalian berwasiat, maka hal itu dibolehkan bagi mereka dari 1/3 harta. Inilah yang dikatakan berbuat baik (ma’ruf)”

Demikian pula yang ditetapkan oleh banyak ulama Salaf bahwa ayat tersebut dinasakh (dihapus hukumnya) oleh firman Allah: “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebib berhak (waris-mewarisi) di dalam kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama).” (QS. A1-Ahzab: 6). Maka di antara sumpah setia adalah perjanjian untuk saling menolong dan membantu, juga di antaranya perjanjian untuk waris-mewarisi, sebagaimana diriwayatkan oleh banyak ulama Salaf. WallaHu a’lam.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 32

7 Feb

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 32“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagianmu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi oranglaki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala sesuatu.” (QS. an-Nisaa’: 32)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata, Ummu Salamah berkata: “Wahai Rasulullah! Kaum laki-laki dapat ikut serta berperang, sedangkan kami tidak diikutsertakan berperang dan hanya mendapat setengah bagian warisan.” Maka Allah menurunkan: walaa tamannau fadl-dlalallaaHu biHii ba’dlakum ‘alaa ba’dlin (“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagianmu lebih banyak dari sebahagian yang lain.”).” (HR. At-Tirmidzi).

`Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu `Abbas tentang ayat ini, ia berkata: “Hendaklah laki-laki tidak berkhayal, dan ia berkata: ‘Seandainya aku memiliki harta si fulan dan keluarganya.’ (Maka Allah melarang hal itu), akan tetapi (hendaklah) ia memohon kepada Allah swt. dari karunia-Nya. Al-Hasan, Muhammad bin Sirin, `Atha’ dan adh-Dhahhak juga berkata demikian. Itulah makna yang tampak dari ayat ini. Hal ini tidak menolak hadits yang terdapat dalam hadits shahih: “Tidak boleh iri hati, kecuali dalam dua hal; (diantaranya) terhadap seseorang yang diberikan harta oleh Allah, lalu dihabiskan penggunaannya dalam kebenaran, lalu seseorang berkata: ‘Seandainya aku memiliki harta seperti sifulan, niscaya aku akan beramal sepertinya.’ Maka pahala keduanya adalah sama.”

Sesungguhnya hal tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh ayat. Di mana hadits itu menganjurkan untuk berharap mendapatkan nikmat seperti yang dimiliki oleh orang itu, sedangkan ayat tersebut melarang berharap mendapatkan pengkhususan nikmat tersebut.

Allah berfirman: walaa tamannau fadl-dlalallaaHu biHii ba’dlakum ‘alaa ba’dlin (“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagianmu lebih banyak dari sebahagian yang lain.”) Yaitu dalam perkara dunia dan agama berdasarkan hadits Ummu Salamah dan Ibnu `Abbas. Demikian pula, Ibnu Abi Rabah berkata: “Ayat ini turun berkenaan dengan larangan iri hati terhadap apa yang dimiliki seseorang, dan juga iri hati wanita untuk menjadi laki-laki, lalu mereka akan berperang.” (HR. Ibnu Jarir).

Kemudian firman-Nya: lir rijaalin nashiibum mimmaktasabuu wa lin nisaa-i nashiibumm mimmaktasabn (“[Karena] bagi orang laki-laki ada bahagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi para wanita [pun] ada bahagian dari apa yang mereka usahakan.”) Yaitu, masing-masing mendapatkan pahala sesuai dengan amal yang dilakukannya. Jika amalnya baik, maka pahalanya adalah kebaikan dan jika amalnya jelek maka balasannya adalah kejelekan pula. Inilah pendapat Ibnu Jarir.

Kemudian Allah mengarahkan mereka pada sesuatu yang memberikan maslahat (kebaikan) bagi mereka dengan firman-Nya: was-alullaaHa min fadl-liHii (“Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.”) Janganlah kalian iri hati terhadap apa yang telah Kami karuniakan kepada sebagian kalian, karena hal ini merupakan suatu keputusan. Dalam arti bahwa iri hati tidak merubah sesuatu apapun. Akan tetapi mohonlah kalian kepada-Ku sebagian dari karunia-Ku, niscaya Aku akan berikan pada kalian. Sesungguhnya Aku Mahapemurah lagi Mahapemberi.

Kemudian Allah berfirman: innallaaHa kaana bikulli syai-in ‘aliiman (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala sesuatu.”) Yaitu, Allah Mahamengetahui siapa yang berhak memperoleh dunia maka Dia akan memberikan kepadanya, siapa yang berhak fakir maka Dia akan memfakirkannya. Dan Allah pun Mahamengetahui siapa yang berhak memperoleh akhirat, maka Ia akan memantapkannya terhadap amalnya, dan terhadap orang yang berhak mendapat kehinaan maka Ia pun akan menghinakannya sehingga ia tidak dapat menjalankan kebaikan dan sarana-sarananya.

Untuk itu Allah berfirman: innallaaHa kaana bikulli syai-in ‘aliiman (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala sesuatu.”)

&

Mewarnai Gambar Kaligrafi Nama Surah An-Nisaa’

25 Okt

Mewarnai Gambar Kaligrafi
Nama-Nama Surah Al-Qur’an Anak Muslim

mewarnai gambar kaligrafi nama surah an-nisaa'

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 29-31

5 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 29-31“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Mahapenyayang kepadamu. (QS. 4:29) Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam Neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. 4:30) Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Surga). (QS. 4:31)” (an-Nisaa’: 29-31)

Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman memakan harta sebagian mereka tehadap sebagian lainnya dengan bathil, yaitu dengan berbagai macam usaha yang tidak syar’i seperti riba, Judi dan berbagai hal serupa yang penuh tipu daya, sekalipun pada lahiriahnya cara-cara tersebut berdasarkan keumuman hukum syar’i, tetapi diketahui oleh Allah dengan jelas bahwa pelakunya hendak melakukan tipu muslihat terhadap riba. Sehingga Ibnu Jarirberkata: “Diriwayatkan dari Ibnu `Abbas tentang seseorang yang membeli baju dari orang lain dengan mengatakan jika anda senang, anda dapat mengambilnya, dan jika tidak, anda dapat mengembalikannya dan tambahkan satu dirham.” Itulah yang difirmankan oleh Allah: laa ta’kuluu amwaalakum bainakum bil baathili (“Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil.”).”

`Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu `Abbas, ia berkata: “Ketika diturunkan oleh Allah: yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa ta’kuluu amwaalakum bainakum bil baathili (“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil,”) kaum muslimin berkata, “Sesungguhnya Allah telah melarang kita untuk memakan harta di antara kita dengan bathil. Sedangkan makanan adalah harta kita yang paling utama, untuk itu tidak halal bagi kita makan di tempat orang lain, maka bagaimana dengan seluruh manusia?” Maka, Allah setelah itu menurunkan ayat yang artinya:
“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) di rumahmu sendiri atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudara-saudaramu yang perempuan, di rumah saudara-saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara-saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya atau di rumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkati lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.” (QS. An-Nuur: 61)
Demikianlah kata Qatadah.

Firman Allah: illaa an takuuna tijaaratan ‘an taraadlim minkum (“Kecuali dengan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka.”) Lafazd (tijaaratan) dibaca dengan rafa’ (dhammah) atau nashab (fathah) yaitu, menjadi istitsna munqathi’ (pengecualian terpisah). Seakan-akan Allah berfirman: “Janganlah kalian menjalankan (melakukan) sebab-sebab yang diharamkan dalam mencari harta, akan tetapi dengan perniagaan yang disyari’atkan, yang terjadi dengan saling meridhai antara penjual dan pembeli, maka lakukanlah hal itu dan jadikanlah hal itu sebagai sebab dalam memperoleh harta benda. Sebagaimana Allah berfirman, “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS. Al-An’aam: 151)

Dari ayat yang mulia ini, asy-Syafi’i berhujjah bahwa jual-beli tidak sah kecuali dengan qabul (sikap menerima). Karena qabul itulah petunjuk nyata suka sama suka, berbeda dengan mu aathaat yang terkadang tidak menunjukkanadanya suka sama suka. Dalam hal ini Malik, Abu Hanifah dan Ahmad berbeda pendapat dengan Jumhur ulama, bahwa mereka melihat perkataan merupakan tanda suka sama suka, begitu pula dengan perbuatan, pada sebagian kondisi secara pasti menunjukkan keridhaan, sehingga mereka menilai sah jual-beli mu’aathaat. Mujahid berkata, “Kecuali perniagaan yang mengandung suka sama suka,” menjual atau membeli antara satu orang dengan yang lainnya. (Begitu juga Ibnu Jarir meriwayatkan).

Ba’i mu’aathaath: Jual-beli dengan cara memberikan barang dan menerima harga, tanpa ijab qabul oleh pihak penjual dan pembeli, seperti yang berlaku di masyarakat sekarang. (Pen-jualan secara tukar-menukar).

Di antara kesempurnaan suka sama suka adalah menetapkan khiyar majelis (memilih barang di tempat). Khiyar majelis: Hak untuk menjadikan suatu akad jual beli atau membatalkannya selama masih berada di tempat jual beli itu.

Sebagaimana terdapat dalam ash-Shahihain,bahwa Rasulullah bersabda: “Penjual dan pembeli berhak memilih (jadi atau batal jual belinya) selama keduanya belum berpisah.”
Di dalam lafazh al-Bukhari; “Jika dua orang melakukan jual-beli, maka masing-masing memiliki hak pilih selama keduanya belum berpisah.”

Di antara ulama yang berpendapat yang sesuai dengan kandungan hadits ini adalah Ahmad, asy-Syafi’i dan para pengikut keduanya serta Jumhur ulama Salaf dan Khalaf. Termasuk di dalamnya disyari’atkannya khiyar syarat (hak pilih dengan menetapkan syarat) hingga tiga hari setelah akad sesuai dengan kejelasan barang yang diperjual belikan, bahkan hingga satu tahun di lokasi, sebagaimana pendapat yang masyhur dari Malik. Mereka menilai sah jual-beli mu’aathaat secara mutlak, yaitu satu pendapat dalam madzhab asy-Syafi’i.

Firman Allah: walaa taqtuluu anfusakum (“janganlah kamu membunuh dirimu.”) Yaitu dengan melakukan hal-hal yang diharamkan Allah, sibuk melakukan kemaksiatan terhadap-Nya dan memakan harta di antara kalian dengan bathil.
innallaaHa kaana bikum rahiiman (“Sesungguhnya Allah Mahapenyayang terhadapmu,”) yaitu pada apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya untuk kalian.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Amr bin al-‘Ash ia berkata, “Ketika Rasulullah mengutusnya pada tahun Dzatus-Salasil, ia berkata: “Di malam yang sangat dingin menggigil aku pernah mimpi jima’, aku khawatir jika mandi aku akan binasa. Maka aku pun tayammum, kemudian shalat Shubuh dengan sahabat-sahabatku. Ketika kami menghadap Rasulullah, aku menceritakan hal tersebut kepada beliau.” Beliau pun bersabda: “Hai `Amr, engkau shalat dengan sahabat-sahabatmu dalam keadaan junub?” Aku menjawab: “Ya Rasulullah! Di malam yang dingin menggigil aku pernah mimpi jima’, lalu aku khawatir jika aku mandi, aku akan binasa. Lalu aku ingat firman Allah: walaa taqtuluu anfusakum innallaaHa kaana bikum rahiiman (“Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Mahapenyayang kepadamu.”) Maka aku pun tayammum, kemudian shalat. Maka Rasulullah saw. tertawa dan tidak berkata apa-apa lagi. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. (al-Bukhari meriwayatkannya secara mu’alaq)

Kemudian Ibnu Marudawaih ketika membahas ayat yang mulia ini mengemukakan hadits dari al-A’masy dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa bunuh diri dengan sebuah besi, maka besi itu akan ada di tangannya untuk merobek-robek perutnya pada hari Kiamat kelak di Neraka Jahannam kekal selamanya. Dan barangsiapa membunuh dirinya dengan racun, niscaya racun itu berada di tangannya, dia meneguknya di Neraka Jahannam kekal selamanya.” (Hadits ini terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim).

Oleh karena itu, Allah berfirman: wa may yaf’al dzaalika ‘udwaanaw wa dhulman (“Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan dhalim.”) Yaitu, barang-siapa yang melakukan apa yang dilarang oleh Allah dengan melampaui batas lagi dhalim dalam melakukannya, dalam arti mengetahui keharamannya tetapi berani melanggarnya; fasaufa nushliiHi naaran (“Maka kelak akan Kami masukkan kedalam Neraka.”) Ayat ini merupakan peringatan keras dan ancaman serius, maka hendaklah waspada setiap orang yang berakal yang menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikannya.

Firman Allah: in tajtanibuu kabaa-ira maa tunHauna ‘anHu nukaffir ‘ankum sayyi-aatikum (“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu [dosa-dosamu yang kecil].”) Artinya, jika kalian menjauhi dosa-dosa besar, niscaya Kami hapuskan dosa-dosa kecil kalian dan Kami masukkan kalian ke dalam Surga. Karena itu, Allah berfirman: wa nud-khilkum mud-khalan kariiman (“Dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia.”) Terdapat hadits-hadits yang berkaitan dengan ayat yang mulia ini, kami akan menyebutkan beberapa di antaranya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Salman al-Farisi, ia berkata, Nabi saw. bersabda kepadaku: “Apakah engkau tahu, apakah hari Jum’at itu?” Aku menjawab: “Yaitu hari di mana Allah himpunkan bapak-bapak kalian.” Beliau pun bersabda: “Akan tetapi, aku tahu apa itu hari Jum’at. Tidak ada seseorang yang bersuci, lalu membaguskan wudhunya dan pergi melaksanakan shalat Jum’at. Kemudian diam hingga imam menyelesaikan shalatnya, kecuali hal itu menjadi penghapus dosa baginya antara hari itu dan Jum’at sesudahnya selama ia menjauhi dosa-dosa besar.”

Al-Bukhari meriwayatkan dari jalan lain, melalui Sahabat yang sama dengan hadits itu, yakni Salman al-Farisi. Abu Ja’far bin Jarir meriwayatkan dari Nu’aim al-Mujmir, telah mengabarkan kepadaku Shuhaib, maula ash-Shawari, bahwa dia mendengar Abu Hurairah dan Abu Sa’id ra. berkata, suatu hari Rasulullah berkhutbah kepada kami: “Demi Rabb yang jiwaku di tangan-Nya,” kemudian Rasulullah saw. menunduk penuh tangis. Kami tidak tahu apa yang menyebabkan beliau bersumpah. Kemudian, beliau mengangkat kepala dan pada wajahnya tampak keceriaan yang bagi kami hal itu lebih kami senangi daripada unta merah, beliau bersabda: “Tidak ada seorang hamba pun yang shalat lima waktu, puasa Ramadhan, mengeluarkan zakat dan menjauhi tujuh dosa besar, kecuali akan dibukakan untuknya pintu-pintu Surga. Kemudian dikatakan padanya: ‘Masuklah dengan aman.’” Demikian riwayat an-Nasa’i, al-Hakim dalam al-Mustadrak dan Ibnu Hibban dalam shahihnya. Al-Hakim berkata, shahih atas syarat al-Bukhari dan Muslim, akan tetapi keduanya tidak mengeluarkannya.

Penjelasan tentang Tujuh Dosa Besar

Tercantum dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadits Sulaiman bin Hilal, dari Tsaur bin Zaid, dari Salim Abil Mughits, dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah bersabda: “Jauhilah tujuh hal yang membinasakan.” Beliau ditanya: “Ya Rasulullah apakah itu?” Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, sihir, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan peperangan, serta menuduh berbuat zina pada wanita mukminah yang baik-baik yang suci lagi beriman.”

Nash yang menetapkan tujuh macam ini sebagai dosa-dosa besar, tidak berarti meniadakan dosa-dosa lainnya. Wallahu a’lam.

(Hadits yang lain) dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dari hadits `Abdurrahman bin Abi Bakar dari ayahnya, ia berkata, Nabi bersabda: “Maukah kuberitahu pada kalian tentang dosa-dosa besar?” Kami menjawab: “Tentu, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Yaitu-berbuat syirik kepada Allah, dan durhaka kepada orang tua.” [-Tadinya beliau bersandar, kemudian beliau duduk-] dan bersabda: “Hati-hatilah, dan juga persaksian palsu, hati-hatilah dan juga perkataan dusta.” Beliau terus-menerus mengulangnya, hingga kami berkata mudah-mudahan beliau diam.

(Hadits lain yang di dalamnya terdapat pembunuhan anak). Di dalam kitab ash-Shahihain dari ‘Abdullah bin Masud, ia berkata: Aku bertanya: “Ya Rasulullah, apakah dosa yang paling besar?” Beliau menjawab: “Yaitu, engkau jadikan tandingan bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakanmu.” Aku bertanya: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Kamu bunuh anakmu, karena takut makan bersamamu.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Kamu berzina dengan isteri tetanggamu.” Lalu beliau membaca: “Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (Yakni) akan dilipat-gandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat.” (QS. Al-Furqaan: 68-70).

(Hadits lain) dari ‘Abdullah bin `Amr yang di dalamnya terdapat sumpah palsu. Imam Ahmad meriwayatkan, dari `Abdullah bin ‘Amr, bahwa Nabi saw. bersabda: “Dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, atau bunuh diri (dalam hal ini Syu’bah ragu) dan sumpah palsu.” (HR. Al-Bukhari, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i).

(Hadits lain) dari `Abdullah bin ‘Amr, yang di dalamnya terdapat perilaku yang menyebabkan pencelaan kepada kedua orang tua. Ibnu AbiHatim meriwayatkan, dari `Abdullah bin ‘Amr yang dirafa’kan (disambungkan wayatnya) oleh Sufyan kepada Nabi. Sedangkan Mas’ar memauqufkannya (menghentikannya) pada `Abdullah bin ‘Amr: “Di antara dosa besar adalah seseorang yang mencaci-maki kedua orang tuanya.” Mereka bertanya: “Bagaimana seseorang dapat mencaci-maki kedua orang tuanya?” Beliau menjawab: “Yaitu seseorang mencaci-maki ayah orang lain, lalu orang lain itu membalas mencaci-maki ayahnya. Dan seseorang mencaci-maki ibu orang lain, lalu orang lain itu membalas mencaci-maki ibunya.”

Dikeluarkan oleh al-Bukhari dari `Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Di antara dosa besar yang paling besar adalah seseorang melaknat kedua orangtuanya.” Mereka bertanya: “Bagaimana seseorang melaknat kedua orang tuanya?” Beliau menjawab: “seseorang mencaci ayah orang lain lalu orang lain itu mencaci kembali ayahnya. Dan seseorang mencaci ibu orang lain, lalu orang lain itupun mencaci kembali ibunya.” Demikianlah yang diriwayatkan oleh Muslim secara marfu’ (riwayatnya sampai pada Nabi saw) at-Tirmidzi berkata: “Shahih.”

Di dalam hadits shahih dikatakan, bahwa Rasulullah bersabda: “Mencaci orang muslim adalah fasik dan membunuhnya adalah kafir.”

(Hadits lain tentang itu), Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari al-‘Alla bin `Abdurrahman, dari ayahnya dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Di antara dosa besar yang paling besar adalah merampas (mencemarkan) kehormatan seseorang muslim dan dua orang yang saling mencaci dengan cacian.”

Demikian riwayat hadits ini, dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunannya, kitab “al Adab”, dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi bersabda: “Di antara dosa besar yang paling besar adalah (mendhalimi) melampaui batas terhadap kehormatan seorang muslim tanpa haq dan termasuk di antara dosa besar, dua orang yang saling mencaci-maki dengan cacian.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Qatadah al-‘Adwah, ia berkata: “Kami telah dibacakan surat `Umar yang di dalamnya tertulis; Di antara dosa besar adalah menjamak dua waktu shalat [-yaitu tanpa udzur-], lari dari pertempuran dan merampok,” dan riwayat ini isnadnya shahih. Maksudnya adalah, jika ancaman ditujukan terhadap orang yang menjamak dua waktu shalat, seperti Zhuhur dan `Ashar, baik takdim atau ta-khir, begitu pula Maghrib dan `Isya’, seperti menjamak dengan syar’i, orang yang melakukannya tanpa sebab-sebab tersebut, berarti ia pelaku dosa besar. Maka, bagaimana dengan orang yang meninggalkan shalat secara total. Untuk itu Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Pemisah antara seorang hamba dengan kemusyrikan adalah meninggalkan shalat.”

Di dalam kitab as-Sunan secara marfu’, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Perjanjian yang memisahkan antara kami dan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya maka ia kafir.” Beliau pun bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan shalat ‘Ashar, maka terhapuslah amalnya.” Sunan Ibni Majah kitab ash-Shalat: No. 694: 1/227 dan Musnad Ahmad dari Buraidah: 5/361.

“Barangsiapa yang tertinggal (kehabisan waktu) shalat `Ashar, maka seakan ia telah kurangi keluarga dan hartanya.” (Muttafaq ‘alaiHi)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu ath-Thufail, ia berkata, Ibnu Masud berkata: “Dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah, putus asa dari nikmat atau karunia Allah dan rahmat Allah, serta merasa aman dari tipu daya Allah.” Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan pula dari berbagai jalan yang berasal dari Abi ath-Thufail dari Ibnu Mas’ud. Dan tidak diragukan lagi, ini shahih dari beliau (Ibnu Mas’ud).

(Hadits lain) Imam Ahmad meriwayatkan dari Salamah bin Qais al-Asyja’i, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya dosa besar ada empat; Janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesutu apapun, janganlah kalian membunuh jiwa yang di-haramkan oleh Allah kecuali dengan haq, jangan kalian berzina, dan jangan kalian mencuri.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Mardawaih).

Perkataan Para Ulama Salaf mengenai Dosa-Dosa Besar

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Ali ra. ia berkata: “Dosa-dosa besar adalah: berbuat syirik kepada Allah, kembali tinggal di perkampungan (dusun) setelah hijrah, memisahkan diri dari jama’ah, dan melanggar perjanjian.”

Dan telah diketengahkan dari Ibnu Masud, ia berkata: “Dosa besar yang paling besar adalah; syirik kepada Allah, putus asa dari keluasan dan rahmat Allah, serta merasa aman dari makar Allah.”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, dari Ibnu Masud, ia berkata: “Dosa-dosa besar adalah dari awal an-Nisaa’ hingga 30 ayat.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Buraidah dari ayahnya, ia berkata: “Dosa besar yang paling besar adalah syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, melarang kelebihan air (untuk diambil) setelah kenyang (mencukupinya) dan mencegah pemanfaatan hewan pejantan, kecuali dengan membayar upah.”

Di dalam kitab ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim), bahwa Nabi bersabda: “Tidak boleh melarang (diambilnya) kelebihan air untuk mencegah tumbuhnya rumput.”

Di dalam kitab ash-Shahihain, bahwa Nabi bersabda: “Ada tiga golongan yang tidak dipandang oleh Allah pada han Kiamat, tidak disucikan dan akan mendapatkan adzab yang pedih (di antaranya): seseorang yang memiliki kelebihan air di sebuah gurun (tanah kosong), akan tetapi melarang (diambil) oleh Ibnu sabil (musafir).” Dan beliau menyebutkan kelanjutan hadits ini.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari `Aisyah, ia berkata: “Melanggar bai’at (janji setia) yang diambil atas para wanita adalah termasuk dosa-dosa besar.” Ibnu Abi Hatim berkata, yaitu firman Allah [yang artinya]: “Bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, dan tidak akan mencuri.”

Pendapat Ibnu `Abbas tentang Dosa-Dosa Besar:

Ibnu Abi Hatim meriwatkan dari Thawus, ia berkata, aku bertanya kepada Ibnu `Abbas: “Apakah tujuh dosa-dosa besar itu?” Ibnu `Abbas menjawab: “Dosa besar itu mencapai tujuh puluh macam, hal itu adalah lebih tepat dibandingkan hanya tujuh macam saja.” (HR. Ibnu Jarir)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu `Abbas: “Apakah dosa-dosa besar itu ada tujuh?” Beliau menjawab: “Dosa besar mencapai tujuh ratus macam lebih tepat(nya), di-bandingkan yang hanya berjumlah tujuh. Akan tetapi, tidak ada dosa besar jika disertai istighfar dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus.” Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari hadits Syibl.

`Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu `Abbas tentang firman Allah: in tajtanibuu kabaa-ira maa tunHauna ‘anHu (“Dosa-dosa besar adalah setiap dosa yang diancam Allah dengan api Neraka, kemurkaan, laknat atau adzab.”) (HR. Ibnu Jarir).

Ibnu Jarir menceritakan dari Muhammad bin Sirin, ia berkata, Aku diberi kabar bahwa Ibnu `Abbas berkata: “Setiap hal yang dilarang oleh Allah adalah bagian dari dosa besar.” Dia pun berkata, bahwa Abul Walid berkata: “Aku bertanya kepada Ibnu `Abbas tentang dosa-dosa besar.” Beliau menjawab: “Setiap sesuatu yang merupakan kemaksiatan kepada Allah adalah dosa besar.”

Beberapa Perkataan (Pendapat) Para Tabi’in:

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari al-Mughirah, ia berkata: “Dikatakan bahwa mencela Abu bakar dan `Umar merupakan dosa besar.” (Aku berkata): “Sebagian ulama menilai kafir orang yang mencela para Sahabat.” Itulah satu riwayat pendapat dari Malik bin Anas ra. Muhammad bin Sirin berkata: “Aku tidak menduga ada seseorang yang benci kepada Abu Bakar dan `Umar dan bersamaan dengan itu ia mencintai Rasulullah.” (HR. At-Tirmidzi).

`Abdurrazzaq meriwayatkan, bahwa Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Tsabit, dari Anas, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Syafa’atku untuk para pelaku dosa besar di kalangan umatku.” (Isnadnya shahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim dan diriwayatkan oleh Abu `Isa at-Tirmidzi, kemudian ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”).

Di dalam hadits shahih terdapat penguat (saksi) bagi maknanya, yaitu sabda Rasulullah, setelah menyebutkan syafa’at: “Apakah engkau berpendapat bahwa syafa’at itu untuk orang-orang yang beriman lagi bertakwa? Tidak. Akan tetapi syafa’at adalah untuk orang-orang yang bergelimang dosa.”

Para ulama ushul dan furu’ berbeda pendapat tentang batasan dosa besar. Sebagian ada yang berpendapat bahwa batasan dosa besar ialah sesuatu yang memiliki hukuman hadd (yang ditentukan batasannya) dalam syari’at. Ada pula yang berpendapat bahwa dosa besar adalah sesuatu yang memiliki ancaman khusus dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Imam al-Haramain dalam kitab al-Irsyaad dan yang lainnya berkata: “Dosa besar adalah setiap pelanggaran yang menunjukkan minimnya perhatian pelakunya pada agama dan kurangnya sikap keber-agamaan, maka hal itu dapat membatalkan keistiqamahan.”
Furu’: cabang-cabang. Yang dimaksud ulama furu’ yaitu, ulama fiqih. Ulama ushul yaitu, ulama i’tiqad (tauhid) Pent.

Al-Qadhi Abu Said al-Harawi menyatakan: “Dosa besar adalah setiap perilaku yang secara nash oleh al-Qur’an diharamkan dan setiap maksiat yang mendapat konsekuensi hukuman hadd, seperti membunuh atau yang lainnya, meninggalkan setiap fardhu yang diperintahkan agar dilaksanakan dengan segera, serta berdusta dalam persaksian, riwayat dan sumpah.” Inilah yang mereka sebutkan secara akurat.

Al-Qadhi ar-Ruyani berkata secara rinci: “Dosa-dosa besar ada tujuh: Membunuh jiwa tanpa haq, zina, homoseks, minum khamr, mencuri, merampas harta dan menuduh zina.” Di dalam asy-Syaamil ia menambahkan dari yang tujuh tersebut, yaitu saksi palsu.

Pengarang al-‘Uddah menambahkan dengan memakan riba, berbuka puasa di bulan Ramadhan (sebelum waktunya) tanpa udzur, sumpah palsu, memutuskan silaturahmi, mendurhakai kedua orang tua, lari dari pertempuran, memakan harta anak yatim, khianat dalam timbangan dan takaran, mendahului shalat dari waktunya, mengakhirkan waktu shalat tanpa udzur, memukul orang muslim tanpa haq, berdusta dengan sengaja atas nama Rasulullah, mencaci para Sahabat beliau, menyembunyikan persaksian tanpa udzur, menerima suap, melokalisasi lelaki dan wanita (dalam zina/menjadi mucikari), memfitnah di hadapan raja, enggan menunaikan zakat, meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar padahal mampu, melupakan al-Qur’an setelah mempelajarinya, membakar hewan dengan api, penolakan isteri terhadap (ajakan untuk berhubungan dari) suaminya tanpa sebab, putus asa dari rahmat Allah dan merasa aman dari makar Allah.

Dikatakan pula (menurut pendapat yang lain): Menuduh (mencemarkan) ahli ilmu dan ahli al-Qur’an. Di antaranya juga yang dinilai termasuk dosa besar adalah zhihar, memakan daging babi dan bangkai kecuali karena darurat.
Zhihar: Perkataan suami kepada isteri, “Kamu bagiku seperti punggung ibuku,” dengan maksud, dia tidak boleh lagi menggauli isterinya, sebagaimana ia tidak menggauli ibunya. Menurut adat Jahiliyyah, kalimat zhihar ini sama dengan mentalak (mencerai) isteri.

Jika dikatakan, sesungguhnya dosa besar itu adalah apa yang diancam oleh Allah dengan api Neraka secara khusus, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu`Abbas dan yang lainnya, maka hal tersebut akan terhimpun cukup banyak. Dan jika dikatakan, dosa besar itu adalah setiap yang dilarang oleh Allah, maka sangat banyak. Wallahu a’lam.

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 26-28

5 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 26-28“Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada sunnah-sunnah orang yang sebelum kamu (para Nabi dan shaalihiin) dan (hendak) menerima taubatmu. Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. (QS. 4:26) Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh jauhnya (dari kebenaran). (QS. 4:27) Allah bendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (QS. 4:28)” (an-Nisaa’: 26-28)

Allah mengabarkan bahwa Dia hendak menjelaskan bagi kalian hai orang-orang yang beriman, apa yang dihalalkan dan diharamkan untuk kalian sebagaimana yang telah disebutkan dalam surat ini dan surat-surat lainnya. Wa yaHdiyakum sunanal ladziina min qablikum (“Dan menunjukimu kepada sunah-sunah orang yang sebelum kamu.”) yaitu jalan-jalan mereka yang terpuji mengikuti syari’at yang dicintai dan diridhai-Nya. Wa yatuuba ‘alaikum (“dan hendak menerima taubatmu,”) dari dosa dan pelanggaran perkataan-perkataan-Nya.

Firman Allah: wa yuriidul ladziina yattaba’uunasy-syaHawaati an tamiiluu mailan ‘adhiiman (“Sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh jauhnya.”) Yaitu, para pendukung syaitan dari golongan Yahudi, Nasrani, dan para pezina bermaksud agar kalian berpaling dari kebenaran menuju kebathilan sejauh-jauhnya.

yuriidullaaHu ay yukhaffifa ‘ankum (“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu”) dalam syari’at, perintah-perintah, larangan-larangan dan ketentuan-ketentuan-Nya bagi kalian. Untuk itu, dibolehkan menikahi para budak wanita dengan beberapa syarat, sebagaimana kata Mujahid dan lain-lain.

Wa khuliqal insaanu dla’iifan (“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.”) Keringanan itu sesuai dengan kelemahan diri manusia, tekad dan kemauannya. Ibnu Abi Hatim mengatakan dari Ibnu Thawus dari ayahnya, ia berkata tentang: Wa khuliqal insaanu dla’iifan (“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.”) Yaitu, dalam urusan wanita. Waki’ berkata: “Akalnya (laki-laki) hilang ketika di sisi wanita.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 25

5 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 25“Dan barangsiapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang mereka pun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yangmengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatanyang keji (zina), maka atas mereka separuh hukuman dari hukuman bagi wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesulitan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antaramu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. An-Nisaa’: 25)

Allah berfirman: wamal lam yastathi’ minkum thaulan (“Barangsiapa di antara kamu yang belum memiliki thaul.”) Yaitu, keluasan dan kemampuan; fa mimmaa malakat aimaanukum min fatayaatikumul mu’minaat (“Ia boleh mengawini wanita yang beriman,dari budak-budak yang kamu miliki.”) Artinya, maka kawinilah wanita beriman dari budak-budak yang dimiliki oleh kaum mukminin. Untuk itu Allah berfirman: min fatayaatikumul mu’minaat (“Dari budak-budak wanitamu yang beriman.”) Ibnu `Abbas dan lain-lain berkata: “Maka hendaklah ia menikahi budak-budak wanita milik orang-orang beriman.” Demikianlah yang dikatakan oleh as-Suddi dan Muqatil bin Hayyan.

Lalu Allah selingi dengan firman-Nya: wallaaHu a’lamu bi-iimaanikum ba’dlukum mim ba’dlin (“Allah Mahamengetahui keimananmu, sebagian kamu adalah dari sebagianyang lain.”) Artinya, Allah Mahamengetahui hakekat dan rahasia berbagai urusan. Sedangkan bagi kalian, wahai manusia, hanya mengetahui perkara yang lahir saja.
fankihuuHunna bi-idzniHi aHliHinna (“Karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka.”) HaI itu menunjukkan bahwa tuan adalah wali bagi budak-budak wanitanya yang tidak boleh dikawini kecuali dengan seizinnya. Begitupula ia menjadi wali bagi budak laki-lakinya di mana ia tidak boleh menikah kecuali dengan izinnya.

Firman Allah: wa aatuuHunna ujuuraHunna bil ma’ruuf (“Dan berilah maskawin mereka menurut yang patut.”) Artinya, serahkanlah mahar-mahar mereka dengan ma’ruf, yaitu dengan kebaikan jiwa kalian dan janganlah kalian kurangi sedikitpun karena merendahkan mereka, karena kedudukannya sebagai budak-budak wanita yang dimiliki. Firman Allah: muhshanaatin (“Wanita-wanita yang melihara diri.”) Artinya, wanita-wanita yang menjaga diri dari zina, tidak melakukannya. Untuk itu Allah berfirman: ghaira mushaafihaatin (“bukan wanita musaafihaat.”) Yaitu, bukan wanita-wanita pezina yang membiarkan dirinya dijamah oleh siapa saja.

Serta firman-Nya: walaa muttakhidzaati akhdaan (“Dan bukan wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya.”) Ibnu `Abbas berkata: almusaafihaati adalah wanita-wanita pezina terlaknat yang membiarkan dirinya dijamah oleh siapa saja. Dan ia berkata, muttakhidzaati akhdaan (al-akhdan) adalah laki-laki simpanan. Demikian pula pendapat yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Mujahid, asy-Sya’bi, adh-Dhahhak, `Atha’ al-Khurasani, Yahya Ibnu AbiKatsir, Muqatil bin Hayyan dan as-Suddi, yang semuanya mengatakan: muttakhidzaati akhdaan (al-akhdan) adalah laki-laki simpanan.

Allah telah melarang untuk menikahi wanita tersebut (yang mengambil laki-laki lain sebagai simpanan, selama mereka melakukan hal yang demikian itu.

Firman Allah: fa idzaa uhshinna fa in ataina bifaahisyatin fa’alaiHinna nishfu maa ‘alaa muhshanaati minal ‘adzaab (“Dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji [zina], maka atas mereka separuh hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami.”) Para ahli qira-at berbeda dalam membaca uhshinna. Sebagian membacanya dengan mendhammahkan hamzah dan mengkasrahkan shad dengan mabni tatkala tidak disebut fa’ilnya. Dan ada yang membacanya dengan memfathahkan hamzah dan shad sebagai fi’il lazim (yang tidak membutuhkan obyek). Kemudian dikatakan bahwa dua qira-at itu me-miliki makna yang sama.

Abu Bakar, Hamzah dan Kisa-i membacanya dengan memfathahkan hamzah dan shad (ahshanna). Sedangkan yang lainnya membacanya dengan mendhammahkan hamzah dan mengkasrahkan shad (ahshinna).

Mereka berbeda pendapat tentang maknaal-ihshan, menjadi dua pendapat:
Pertama, yang dimaksud al-ihshan di sini adalah Islam. Pendapat ini diriwayatkan dari `Abdullah bin Mas’ud, Ibnu `Umar dan Anas.
Kedua, yang dimaksud dalam ayat ini adalah perkawinan, itulah pendap at Ibnu `Abbas ra.

Pendapat yang paling jelas -wallahu a’lam- bahwa yang dimaksud dengan al-ihshan di sini adalah perkawinan. Karena redaksi ayat tersebut menunjukkan demikian, dimana Allah swt. berfirman yang artinya:
“Barangsiapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman dari budak-budak yang kamu miliki.” (Wallahu a’lam).

Redaksi ayat yang mulia tersebut adalah tentang budak-budak wanita yang mukminah, maka jelaslah bahwa yang dimaksud dengan “fa idzaa uhshinna” adalah apabila mereka telah kawin, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Ibnu `Abbas dan lain-lain. Banyak hadits-hadits umum yang menjelaskan tentang ditegakkannya hukuman hadd terhadap budak.
(Hadd yang jamaknya hudud, adalah batasan atau peraturan yang sudah ditentukan bentuk hukumnya oleh Allah di antaranya hukum zina, qadzaf (menuduh zina), minum khamr, mencuri, mengganggu keamanan, murtad, dan durhaka kepada Allah.)

Di antaranya ialah hadits yang diriwayatkan Muslim dalam Shahihnya bahwa `Ali ra. dalam khutbahnya berkata: “Hai manusia! Tegakkanlah hadd kepada budak-budak kalian, yang sudah kawin atau yang belum. Karena salah seorang budak wanita Rasulullah pernah berzina, lalu aku (`Ali) diperintahkan untuk menderanya (mencambuknya). Akan tetapi, diketahui bahwa ia baru menempuh masa nifas. Jika aku menderanya, aku khawatir akan membunuhnya. Lalu hal itu kuceritakan kepada Nabi dan beliau bersabda: “Bagus, biarkanlah hingga ia bersih.”

Di dalam riwayat `Abdullah bin Ahmad, bukan dari ayahnya, tercantum: “Jika ia telah suci dari nifasnya, maka deralah (cambuklah) dia 50 kali.”
Sedangkan dalam riwayat Muslim tercantum: “Apabila ia berzina untuk yang ketiga kalinya, maka juallah pada (kasus zina) yang keempat kalinya.”

Firman Allah: dzaalika liman khasyiyal ‘anata minkum (“Hal itu adalah bagi orang-orang yang takut pada kesulitan menjaga diri.”) Artinya, menikahi wanita-wanita budak dengan syarat-syarat yang lalu itu, hanya dibolehkan bagi orang yang takut dirinya terjatuh pada zina, dan berat baginya untuk sabar dari jima’, serta semua itu sangat menyulitkannya, maka di saat itu bolehlah ia mengawini budak-budak wanita. Jika ia biarkan dininya untuk tidak mengawini budak-budak itu dan memperjuangkan dirinya untuk tidak terjerumus pada zina, maka itu lebih baik baginya. Karena jika ia menikahinya, maka anak-anaknya menjadi budak bagi tuan-tuannya, kecuali suaminya adalah kerabat tuannya, maka anak-anaknya tidak menjadi budak, menurut pendapat lama Imam asy-Syafi’i.

Untuk itu Allah berfirman: wa an tashbiruu khairul lakum wallaaHu ghafuurur rahiim (“Dan kesabaran itu lebih baik bagimu, dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Dari ayat yang mulia ini, Jumhur ulama mengambil dalil tentang bolehnya menikahi budak-budak wanita dengan syarat tidak memiliki kemampuan menikahi wanita-wanita merdeka dan karena khawatir terjatuh dalam kemaksiatan. Karena dengan nikah tersebut mengandung bahaya, di mana anak-anaknya akan menjadi budak, serta merupakan kehinaan ketika meninggalkan menikahi wanita-wanita merdeka lalu memilih menikahi budak-budak. Dalam hal ini, Abu Hanifah dan para pengikutnya berbeda (pendapat) dengan pendapat Jumhur ulama dengan memberikan syarat dua hal; Jikaseseorang tidak menikah dengan wanita merdeka, maka dia dibolehkan menikahi budak mukminah dan seseorang wanita Ahli Kitab, baik ia memiliki kemampuan menikahi wanita merdeka atau tidak, serta takut terjatuh pada zina atau tidak.

Dalil mereka adalah firman Allah yang artinya: “(Dan dihalalkan menikahi) wanita-wanita yang menjaga kehormatannya, di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelummu.” (QS. Al-Maa-idah: 5) Artinya, wanita-wanita iffah (menjaga diri) mencakup merdeka atau budak. Ayat ini bersifat umum, serta secara jelas menjadi dalil apa yang dikatakan oleh Jumhur ulama. WallaHu a’lam.

Bersambung

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 182 pengikut lainnya