Tag Archives: annahl

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 126-128

21 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 126-128“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (QS. 16:126) Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (QS. 16:127) Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. 16:128)” (an-Nahl: 126-128)

Allah Ta’ala memerintahkan untuk berlaku adil dalam pemberlakuan hukuman qishash dan penyepadanan dalam pemenuhan hak, sebagaimana yang dikatakan `Abdurrazzaq dari Ibnu Sirin, di mana dia berkata mengenai firman Allah Ta’ala: fa’aaqibuu bimitsli maa ‘uuqibtum biHii (“Maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepada kalian.”) Artinya, jika salah seorang di antara kalian mengambil sesuatu, maka ambillah dengan kadar yang sama.

Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid, Ibrahim, al-Hasan al-Bashri, dan selain mereka, serta menjadi pilihan Ibnu Jarir.
Ibnu Zaid mengatakan: “Mereka diperintahkan untuk memberi maaf kepada kaum musyrikin.” Setelah pemberian maaf itu, banyak orang-orang kuat yang masuk Islam. Kemudian mereka berkata, “Ya Rasulullah, jika Allah mengizinkan, niscaya kami akan menuntut hak dari anjing-anjing itu.” Maka turunlah ayat ini, yang kemudian dinasakh dengan ayat jihad.

Firman-Nya: washbir wa maa shab-ruka illa billaaHi (“Dan bersabarlah [hai Muhammad] dan tidaklah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah,”) sebagai tekanan dalam perintah untuk bersabar dan sebagai pemberitahuan bahwa (siapa pun) tidak akan mencapainya kecuali hanya dengan kehendak Allah dan pertolongan-Nya serta kekuatan-Nya.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: wa laa tahzan ‘alaiHim (“Dan janganlah kamu bersedih Kati terhadap [kekafiran] mereka,”) maksudnya atas orang-orang yang menyalahimu, sesungguhnya Allah telah menentukan untuk itu; wa laa taku fii dlaiqin (“Dan janganlah kamu bersempit dada,”) maksudnya gundah-gulana; mimmaa yamkuruun (“Terhadap apa yang mereka tipu dayakan,”) maksudnya dari kesungguhan mereka dalam memusuhimu dan
menyebabkan keburukan terhadapmu, Allah Ta’ala sebagai Pemeliharamu dan Penolongmu, juga yang memberikan kekuatan kepadamu dengan memenangkan atas mereka.

Firman-Nya: innallaaHa ma’al ladziina taqaw wal ladziina Hum muhsinuun (“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”) Maksudnya, Allah bersama mereka dengan dukungan, bantuan, pertolongan, petunjuk, dan usaha-Nya. Ma’iyyah (kebersamaan) di atas adalah Ma’iyyah khusus. Penggalan ayat itu sama seperti firman-Nya:

“(Ingatlah), ketika Rabbmu mewahyukan kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersamamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.’” (Al-Anfaal: 12).
Juga firman-Nya kepada Musa dan Harun:
“Jangan kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua. Aku mendengar dan Aku melihat.” (QS. Thaahaa: 46)

Demikian juga dengan sabda Nabi kepada Abu Bakar ash-Shiddiq ketika keduanya sedang berada di gua Hira: “Janganlah kamu bersedih, karena Allah selalu bersama kita.”

Sedangkan ma’iyyah yang bersifat umum adalah berupa pendengaran, penglihatan, dan pengetahuan. Sebagaimana firman-Nya: “Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Mahamelihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadiid: 4)

Juga seperti firman-Nya: “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya, ” dan ayat seterusnya. (QS. Al-Mujaadilah: 7)

Dan juga sama seperti yang Dia firmankan: “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari al-Qur an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atas kamu,” dan ayat seterusnya. (QS. Yunus: 61)

Dan makna: alladziinat taqaw (“Orang-orang yang bertakwa,”) yakni, orang-orang yang meninggalkan segala macam larangan. Wal ladziina Hum muhsinuun (“Dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”) Yakni, yang mengerjakan ketaatan, mereka itulah orang-orang yang dipelihara, dilindungi, ditolong, diperkuat, dan dimenangkan oleh Allah atas musuh-musuh mereka dan orang-orang yang menentang mereka.

Demikianlah akhir dart penafisran surat an-Nahl. Segala puji dan sanjungan hanya bagi Allah. Semoga shalawat dan dalam senantiasa dilimpahkan kepada Muhammad saw, keluarga, dan para Sahabatnya. Aamiin

Selesai

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 125

21 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 125“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetabui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl: 125)

Allah Ta’ala berfirman seraya memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad saw. agar menyeru umat manusia dengan penuh hikmah. Ibnu Jarir mengatakan: “Yaitu apa yang telah diturunkan kepada beliau berupa al-Qur’an dan as-Sunnah serta pelajaran yang baik, yang di dalamnya berwujud larangan dan berbagai peristiwa yang disebutkan agar mereka waspada terhadap siksa Allah Ta’ala.

Firman-Nya: wa jaadilHum bil latii Hiya ahsanu (“Dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik,”) yakni, barangsiapa yang membutuhkan dialog dan tukar pikiran, maka hendaklah dilakukan dengan cara yang baik, lemah lembut, serta tutur kata yang baik. Yang demikian itu sama seperti firman Allah Ta’ala: “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang dhalim di antara mereka,” dan ayat seterusnya. (QS. Al-‘Ankabuut: 46)

Dengan demikian, Allah Ta’ala memerintahkannya untuk berlemah lembut, sebagaimana yang Dia perintahkan kepada Musa as. dan Harun as. ketika Dia mengutus keduanya kepada Fir’aun, melalui firman-Nya: “Maka bicaralah kamu berdua dengan kata-kata yang lemah lebut. Mudah-mudahan dia ingat atau takut.” (QS. Thaahaa: 44)

Firman Allah Ta’ala: inna rabbaka Huwa a’lamu biman dlalla ‘an sabiiliHii (“Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya,” )dan ayat seterusnya. Maksudnya, Dia mengetahui siapa yang sengsara dan siapa pula yang bahagia. Hal itu telah Dia tetapkan di sisi-Nya dan telah usai pemutusannya. Serulah mereka kepada Allah Ta’ala, janganlah kamu bersedih hati atas kesesatan orang-orang di antara mereka, sebab hidayah itu bukanlah urusanmu. Tugasmu hanyalah memberi peringatan dan menyampaikan risalah, dan perhitungan-Nya adalah tugas Kami.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 124

21 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 124“Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya. Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar akan memberi keputusan di antara mereka di hari Kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu.” (QS. an-Nahl: 124)

Tidak diragukan lagi bahwa Allah Ta’ala telah mensyari’atkan kepada setiap umat satu hari dalam satu minggu supaya mereka berkumpul untuk beribadah. Karenanya, Allah mensyari’atkan hari Jum’at bagi umat ini, karena hari Jum’at adalah hari keenam yang padanya Allah menyempurnakan penciptaan serta sempurna pula nikmat bagi hamba-hamba-Nya.

Dikatakan bahwa Allah mensyari’atkan hari tersebut (Jum’at) kepada Bani Israil melalui lisan
Musa, tetapi mereka menolaknya dan malah memilih hari Sabtu, karena Sabtu merupakan hari di mana Allah tidak menciptakan makhluk apa pun di dalamnya, karena penciptaan semua makhluk telah sempurna pada hari sebelumnya, yaitu Jum’at. Yang kemudian Allah menetapkan hari itu bagi mereka di dalam syari’at Taurat. Dia berpesan kepada mereka supaya berpegang teguh padanya serta memeliharanya, disertai perintah-Nya kepada mereka supaya mengikuti Muhammad jika Dia telah mengutusnya dan mengambil janji dari mereka untuk itu.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: innamaa ju’ilas sabtu ‘alal ladziina yakhtalafuuna fiiHi (“Sesungguhnya diwajibkan [menghormati] hari Sabtu atas orang-orang [Yahudi] yang berselisih padanya.”) Mujahid mengemukakan, mereka mengikuti hari Sabtu dan meninggalkan hari Jum’at, lalu mereka masih tetap terus berpegang teguh padanya sehingga Allah Ta’ala mengutus `Isa putera Maryam. Ada yang mengatakan, bahwa dia merubahnya kepada hari Ahad. Ada juga yang mengatakan, bahwa dia tidak meninggalkan syari’at Taurat kecuali beberapa hukum yang dinasakh, dan bahwasanya’Isa masih terus memelihara hari Sabtu sehingga dia diangkat ke langit. Sepeninggal `Isa, kaum Nasrani pada masa Costantine, memindahkan hari Sabtu ke hari Minggu, dengan tujuan agar tidak bersamaan dengan orang-orang Yahudi. Mereka berpindah arah dalam shalat, yang sebelumnya menghadap ke Shakhrah menuju ke Timur. Wallahu a’lam.

Di dalam kitab ash-Shahihain disebutkan hadits `Abdurrazzaq, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Kami adalah orang-orang terakhir yang paling pertama pada hari Kiamat kelak, meskipun mereka telah diberi al-Kitab sebelum kita. Kemudian inilah
hari mereka yang telah diwajibkan kepada mereka, lalu mereka berselisih pendapat mengenai hari tersebut. Kemudian Allah memberi kita petunjuk padanya, dan mengenai hari itu, orang-orang mengikuti kita; kaum Yahudi besok, sedangkan kaum Nasrani lusa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dan lafazh hadits di atas adalah lafazh al-Bukhari)

Dari Abu Hurairah dan Hudzaifah, keduanya bercerita, Rasulullah saw. bersabda: “Allah telah menyesatkan umat sebelum kita dari hari Jum’at. Kaum Yahudi memiliki hari Sabtu, sedangkan kaum Nasrani memiliki hari Ahad. Kemudian Allah mendatangkan kita dan menunjukkan kepada kita hari Jum’at. Maka Allah jadikan hari Jum’at, Sabtu, dan Ahad. Demikianlah mereka menjadi pengikut kita pada hari Kiamat kelak. Kami adalah umat terakhir dari penduduk dunia, tetapi menjadi umat yang pertama pada hari Kiamat dan yang
pertama kali diselesaikan perkara di antara mereka sebelum makhluk-makhluk yang lain.” (HR. Muslim)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 120-123

21 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 120-123“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabb), (QS. 16:120) (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. (QS. 16:121) Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shalih. (QS. 16:122) Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif,’ dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb. (QS. 16:123)” (an-Nahl: 120-123)

Allah Ta’ala memuji hamba, Rasul, sekaligus kekasih-Nya, Ibrahim as, imam bagi orang-orang hanif (yang condong kepada kebenaran), dan bapak para Nabi. Allah telah membebaskannya dari kaum musyrikin, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Nasrani, di mana Dia berfirman: inna ibraaHiima kaana ummatan qaanital lillaaHi haniifan (“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif.”) Adapun ummah berarti imam yang diikuti, sedangkan al-qaanit berarti orang yang khusyu’ lagi patuh. Al-hanif berarti orang yang berpaling dari kemusyrikan menuju kepada tauhid. Oleh karena itu, Dia berfirman: wa lam yaku minal musyrikiin (“Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan [Rabb].”)

Sufyan ats-Tsauri menceritakan dari Abul ‘Ubaidin, bahwasanya dia pernah bertanya kepada `Abdullah bin Mas’ud mengenai al-ummatul qaanit, maka dia menjawab, al-ummah berarti pengajar kebaikan, sedangkan al-qaanit berarti yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan Mujahid mengemukakan: “Al-ummah berarti umat itu sendiri.”

Firman-Nya: syaakira li-an’umiHi (“Yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah,”) yakni, dia senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepadanya. Hal itu senada dengan firman-Nya: wa ibraaHiimal ladzii waffaa (“Dan Ibrahim yang senantiasa menyempurnakan janji.”) (QS. An-Najm: 37). Maksudnya, dia menjalankan semua yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala kepadanya.

Firman-Nya: ijtabaaHu (“Allah telah memilihnya.”) Kata ijtaba berarti memilih dan menyaring. Kemudian Dia berfirman: wa HadaaHu ilaa shiraathim mustaqiim (“Dan menunjukinya kepada jalan yang lurus,”) yaitu, beribadah kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya sesuai dengan syari’at yang diridhai-Nya.

Firman-Nya: wa aatainaaHu fid dun-yaa hasanatan (“Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia.”) Yakni, Kami (Allah) menghimpunkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh orang mukmin dalam menyempurnakan kehidupannya yang baik. Wa innaHuu fila aakhirati laminash shaalihiin (“Dan sesungguhnya di akhirat kelak dia benar-benar termasuk orang-orang yang shalih.”)

Mengenai firman Allah Ta’ala: wa aatainaaHu fid dun-yaa hasanatan (“Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia.”) Mujahid mengatakan, yakni lisan kejujuran. Dan di antara kesempurnaan, keagungan, keshahihan tauhid dan jalannya adalah Kami wahyukan kepadamu, hai penutup Para Rasul dan pemuka para Nabi:

An tabi’ millata ibraaHiima haniifaw wamaa kaana minal musyrikiin (“Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif. Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb.”) Yang demikian itu senada dengan firman-Nya dalam surat al-An’aam:
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah ditunjui oleh Rabbku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.’” (QS. Al-An’aam: 161)

Selanjutnya, dengan nada mengingkari orang-orang Yahudi, Allah Ta’ala berfirman:

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 118-119

21 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 118-119“Dan terhadap orang-orang Yahudi, Kami haramkan apa yang telah Kami ceritakan dahulu kepadamu; dan Kami tiada menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya dirt’ mereka sendiri. (QS. 16:118) Kemudian, sesungguhnya Rabbmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya); sesungguhnya Rabbmu sesudah itu benar-benar Mahapengampun lagi Mahapemurah. (QS. 16:119)” (an-Nahl: 118-119)

Setelah Allah Ta’ala menerangkan bahwa Dia mengharamkan kepada kita semua bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, Dia hanya memberikan rukhshah (keringanan) dalam hal tersebut ketika dalam keadaan darurat saja -dan yang demikian itu merupakan pemberian keleluasaan bagi umat ini karena Allah mengiinginkan kemudahan bagi mereka dan tidak menginginkan kesulitan bagi mereka-.

Allah menceritakan apa yang Dia haramkan bagi orang-orang Yahudi dalam syari’at mereka sebelum dihapuskan serta kesempitan dan belenggu juga beban besar yang mereka dapatkan, di mana Dia berfirman: wa ‘alal ladziina Haaduu harramnaa maa qashashnaa ‘alaika min qablika (Dan terhadap orang-orang Yahudi, Kami haramkan apa yang telah Kami ceritakan dahulu kepadamu,”) yakni yang terdapat di dalam Surat al-An’aam, firman-Nya:
“Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku; dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat dipunggung keduanya atau yang diperut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Mahabenar.” (QS. Al-An’aam: 146)

Oleh karena itu di sini Allah Ta’ala berfirman: wa maa dhalamnaaHum (“Dan Kami tidak mendhalimi mereka,”) atas kesempitan yang Kami berikan kepada mereka; wa laakin anfusaHum yadh-limuun ( “Akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”) Maksudnya, mereka itu memang berhak mendapatkan hal tersebut. Yang demikian itu sama seperti firman Allah Ta’ala:
“Maka disebabkan kedhaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (makan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah.” (QS. An-Nisaa’: 160)

Setelah itu, sebagai pemberian kemurahan dan karunia, Allah Ta’ala memberitahukan mengenai hak orang-orang mukmin yang melakukan kemaksiatan, bahwa barangsiapa di antara mereka yang bertaubat kepada-Nya, maka Dia akan menerima taubatnya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 114-117

21 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 114-117“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika hanya kepada-Nya saja kamu beribadah. (QS. 16:114) Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barang siapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak Pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapemurah. (QS. 16:115) Dan janganlah kamu mengatakan terhadapa apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini Karam”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. 16:116) (Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka adzab yang pedih. (QS. 16:117)” (an-Nahl: 114-117)

Allah Ta’ala berfirman seraya memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk memakan rizki yang halal lagi baik yang telah diberikan-Nya, serta mensyukurinya. Sesungguhnya Dialah yang memberikan dan mengaruniakan nikmat yang hanya Dia yang berhak mendapatkan penghambaan, yang tiada sekutu bagi-Nya.

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan hal-hal yang diharamkan bagi mereka yang memang berbahaya bagi mereka dalam memeluk agama dan dunia mereka, baik yang berupa bangkai, darah, dan daging babi: wa maa uHilla lighairillaaHi biHii (“Dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah.”) Artinya, binatang yang disembelih dengan menyebut selain nama Allah. Meskipun demikian; fa manidl-thurra (“Barangsiapa yang terpaksa memakannya,”) yaitu, yang dia butuhkan, tanpa penganiayaan dan tidak pula melampaui batas; fa innallaaHa laghafuurur rahiim (“Maka sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapemurah.”) Pembahasan mengenai ayat seperti ini telah disampaikan pada surat al-Baqarah, yang sudah mencukupi sehingga tidak perlu dilakukan pengulangan. Segala puji dan sanjungan hanya bagi Allah semata.

Selanjutnya, Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya untuk menempuh jalan orang-orang musyrik dalam menghalalkan dan mengharamkan sebutan- sebutan yang mereka istilahkan hanya berdasarkan pendapat mereka sendiri, seperti misalnya, al-bahiirah, as-saa-ibah, al-washiilah, al-haam, dan lain-lainnya yang mereka buat sendiri pada masa Jahiliyyah.

Maka Allah Ta’ala berfirman: wa laa taquuluu limaa tashifu alsinatukumul kadziba Haadzaa halaaluw wa Haadzaa haraamul litaftaruu ‘alallaaHil kadziba (“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.”) Yang termasuk dalam hal ini adalah orang yang melakukan suatu bid’ah yang tidak didasarkan pada sandaran syari’at, atau orang yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, atau mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah hanya berdasarkan pada pendapat dan hawa nafsunya saja.

Apa yang terdapat pada firman-Nya: limaa tashifu (“apa yang disebut-sebut”) merupakan mashdariyyah, dengan pengertian, janganlah kalian mengatakan kebohongan karena apa yang dikatakan oleh lidah kalian.

Kemudian Allah mengancam tindakan hal tersebut seraya berfirman: innal ladziina yaftaruuna ‘alallaaHil kadziba laa yuflihuun (“Sesungguhnya orang yang mengadakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.”) Yakni, di dunia dan juga di akhirat. Adapun di dunia adalah berupa kenikmatan yang sangat sedikit, sedangkan di akhirat mereka akan mendapatkan adzab yang sangat pedih.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 112-113

21 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 112-113“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rizkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (QS. 16:112) Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang Rasul dari mereka sendiri; tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan adzab dan mereka adalah orang-orang yang zhalim. (QS. 16:113)” (an-Nahl: 112-113)

Ini merupakan perumpamaan yang ditujukan kepada penduduk Makkah. Sebelumnya Makkah merupakan kota yang aman, nyaman, dan penuh ketenteraman, di mana orang-orang yang hidup di sekitarnya banyak yang tergiur untuk tinggal di sana. Barangsiapa memasukinya, maka dia akan aman, dan tidak akan takut. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala:
“Dan mereka berkata: jika kami mengikuti petunjuk bersamamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.’ Dan apakah Kami tidak meneuhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rizki (bagimu) dari sisi Kami?” (QS. Al-Qashash: 57)

Demikian pula di sini Allah Ta’ala berfirman: ya’tiiHaa rizquHaa raghadan (“Rizkinya datang kepadanya melimpah ruah,”) yakni banyak lagi penuh kemudahan; min kulli makaanin fakafarat bi-an’umillaaHi (“Dari segenap tempat, tetapi [penduduknya] mengingkari nikmat-nikmat Allah.”) Yakni, mengingkari berbagai nikmat Allah Ta’ala yang dilimpahkan, dan nikmat terbesar yang diingkari adalah diutusnya Muhammad kepada mereka, sebagaimana yang difirmankan-Nya:
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya kelembah kebinasaan, yaitu neraka Jahannam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruknya tempat kediaman.” (QS. Ibrahim: 28-29)

Oleh karena itu, Allah Ta’ala mengganti dua keadaan mereka dengan keadaan yang lain, di mana Allah Ta’ala berfirman: fa adzaaqaHallaaHu libaasal juu’i wal khaufi (“Karena itu, Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan.”) Yakni, Allah memakaikan dan merasakan kelaparan kepada penduduk Makkah, setelah sebelumnya mereka memperoleh berbagai jenis buah-buahan dan rizkinya datang dengan melimpah ruah dari segenap penjuru. Yang demikian itu karena mereka mendurhakai Rasulullah dan menentangnya. Kemudian beliau mendo’akan keburukan terhadap mereka berupa kekurangan pangan selama tujuh tahun seperti yang menimpa kaum Nabi Yusuf. Mereka ditimpa dengan kekeringan yang melenyapkan segala sesuatu, sehingga mereka memakan kotoran unta yang dicampur dengan darahnya Jika mereka menyembelihnya.

Firman-Nya: wal khaufi (“Dan rasa takut.”) Yang demikian itu karena mereka telah mengganti rasa aman dengan rasa takut kepada Rasulullah dan para Sahabatnya ketika mereka telah berhijrah ke Madinah, yaitu rasa takut kepada kekuatan pasukan dan bala tentaranya. Allah menghancurkan dan menghinakan segala sesuatu yang mereka miliki, sehingga Allah membebaskan kota Makkah untuk Rasulullah yang disebabkan oleh ulah mereka sendiri, kedhaliman, dan pendustaan mereka terhadap Rasulullah yang diutus kepada mereka dari kalangan mereka sendiri.

Sebagaimana Allah Ta’ala telah membalikkan kondisi kaum kafir dari aman menjadi takut dan dari limpahan rizki menjadi kelaparan. Maka, demikian pula Allah membalikkan keadaan orang-orang mukmin dari rasa takut menjadi rasa aman dan dari kekurangan menjadi banyak rizki. Dia menjadikan mereka sebagai pemimpin umat manusia, hakim, pemuka, panglima, dan imam mereka.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 110-111

21 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 110-111“Dan sesungguhnya Rabbmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Rabbmu sesudah itu benar-benar Mahapengampun lagi Mahapemurah. (QS. 16:110) (Ingatlah) suatu hari (ketika) tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi tiap-tiap diri disempurnakan (balasan) apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan). (QS. 16:111)” (an-Nahl: 110-111)

Mereka ini adalah kelompok lain, yaitu kelompok kaum mustadhafiin (orang-orang yang lemah) di Makkah yang dihinakan di tengah-tengah masyarakatnya dengan diserang berbagai macam fitnah. Kemudian Allah memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyelamatkan diri dengan berhijrah. Maka mereka pun meninggalkan tanah kelahiran mereka dan juga keluarga serta harta benda mereka, dalam rangka mencari keridhaan dan ampunan Allah Ta’ala. Mereka berbaris di jalan orang-orang yang beriman dan berjihad bersama mereka melawan orang-orang kafir seraya bersabar.

Selanjutnya, Allah Ta’ala memberitahukan bahwa setelah mereka menjalani semuanya itu, yaitu fitnah, maka sesungguhnya Dia benar-benar Mahapengampun lagi Mahapemurah terhadap mereka pada hari kebangkitan mereka kelak; yauma ta’tii kullu nafsin tujaadilu (“Pada hari ketika tiap-tiap diri datang untuk membela.”) Maksudnya tiap orang membela: ‘an nafsiHaa (“dirinya sendiri”) dan tidak seorang pun dapat membela orang lain, baik bapak, anak, saudara, maupun isteri.

Wa tuwaffaa kullu nafsin maa ‘amilat (“Dan bagi tiap-tiap diri sempurnakan [balasan] apa yang telah dikerjakannya,”) amal perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Wa Hum laa yudh-lamuun (“Sedang mereka tidak dianiaya [dirugikan],”) yakni, pahala kebaikannya tidak akan dikurangi dan balasan keburukannya pun tidak akan ditambah, dan mereka tidak akan didhalimi sedikit pun.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 106-109

21 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 106-109“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafr padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar. (QS. 16:106) Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. (QS. 16:107) Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 16:108) Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi. (QS. 16:109)” (an-Nahl: 106-109)

Allah Ta’ala menceritakan tentang orang-orang yang kafir kepada-Nya setelah mereka beriman. Mereka melapangkan dadanya bagi kekafiran dan merasa tenteram kepadanya. Allah ; murka terhadap mereka, karena mereka telah mengetahui keimanan. Lalu Allah mengancam mereka bahwa di akhirat kelak mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih, karena mereka lebih mencintai dunia daripada akhirat, serta lebih memilih kemurtadan demi dunia.

Allah tidak akan memberi petunjuk kepada hati mereka dan tidak meneguhkan mereka pada satu agama yang benar. Oleh karenanya, Allah Ta’ala mengunci mati hati mereka sehingga mereka tidak bisa memahami sesuatu pun yang dapat bermanfaat bagi mereka, serta menutup pendengaran dan pandangan mereka sehingga mereka tidak mengambil manfaat sama sekali darinya. Mereka benar-benar lengah terhadap apa yang diinginkan dari penciptaan mereka.

Laa jarama (“Pastilah,”) maksudnya, suatu keharusan dan tidak juga heran jika di antara sifatnya ini adalah: annaHum fil aakhirati Humul khaasiruun (“Mereka itu termasuk orang-orang yang merugi di akhirat.”) Maksudnya, orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan juga keluarga mereka pada hari Kiamat kelak.

Adapun firman Allah Ta’ala: illaa man akriHa wa qalbuHu muth-ma-innum bil iimaani (“Keuali orang yang dipaksa sedang hatinya merasa tenteram dalam keimanan,”) merupakan pengecualian bagi orang-orang yang kafir secara lisan, dan tutur katanya sejalan dengan kaum musyrikin karena dipaksa, dipukul dan disakiti, padahal hatinya menolak apa yang dikatakan mulutnya, dan hatinya tetap beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Al-‘Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu `Abbas bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan `Ammar bin Yasar, yaitu ketika dia disiksa oleh orang-orang musyrik sehingga dia kufur terhadap Muhammad, dia menyetujui mereka dalam hal itu karena dipaksa. Setelah itu, dia datang kepada Nabi untuk memohon maaf, hingga akhirnya turunlah ayat ini.

Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa orang yang dipaksa untuk kafir boleh melakukan perbuatan yang mendekati tujuan si pemaksa demi menjaga nyawanya. Dia juga boleh menolak paksaan itu sebagaimana yang dilakukan oleh yang menolak paksaan mereka untuk kafir, padahal mereka melakukan berbagai macam tindakan menyakitkan kepadanya, bahkan mereka menidihkan batu besar ke dada Bilal di bawah terik matahari. Mereka menyuruhnya untuk menyekutukan Allah, tetapi Bilal menolak seraya berkata, “Ahad… Ahad.” Bilal juga berkata: “Demi Allah, seandainya aku mengetahui ungkapan yang paling kalian benci, niscaya aku akan mengucapkannya.” Mudah-mudahan Allah meridhai dan memberikan keridhaan kepadanya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari `Ikrimah bahwa `Ali ra. pernah membakar beberapa orang yang murtad dari Islam. Lalu hal itu didengar oleh Ibnu `Abbas, kemudian dia berkata: “Aku tidak akan membakar mereka dengan api, karena Rasulullah telah bersabda: ‘Janganlah kalian mengadzab dengan adzab Allah.’ Dan aku memerangi mereka berdasarkan sabda Rasulullah: ‘Barangsiapa mengganti agamanya, maka perangilah dia.’” Kemudian hal tersebut didengar oleh `Ali, maka dia pun berkata: ‘Celaka ibu Ibnu `Abbas.’” (HR. Al-Bukhari)

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Burdah, dia bercerita, Mu’adz bin Jabal pernah mendatangi Abu Musa di Yaman. Ternyata sudah ada orang bersamanya. Lalu Mu’adz bin Jabal bertanya: “Siapakah orang ini?” Dia menjawab: “Dia adalah seorang Yahudi, dia sudah masuk Islam tetapi kemudian menjadi Yahudi lagi, sedang kami ingin dia tetap memeluk Islam semenjak -dia berkata, kira-kira- dua bulan yang lalu.” Kemudian dia berkata: “Demi Allah, aku tidak akan duduk sehingga kalian memenggal lehernya.” Kemudian lehernya pun dipenggal. Lebih lanjut dia berkata: “Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan, barangsiapa keluar dari agamanya (murtad), maka bunuhlah. Atau beliau juga bersabda: ‘Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia. Kisah ini terdapat dalam kitab ash-Shahihain dengan lafazh yang lain.

Yang utama dan terbaik adalah hendaklah orang muslim tetap teguh memeluk agamanya meski dia harus dibunuh, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu `Asakir di dalam biografi `Abdullah bin Hudzafah as-Sahami, salah seorang Sahabat, di mana dia pernah ditawan oleh Romawi. Kemudian mereka membawanya ke hadapan raja mereka. Maka raja Romawi itu berkata: “Masuklah agama Nasrani, aku akan sertakan dirimu dalam pengurusan kerajaanku ini dan akan aku nikahkan dirimu dengan puteriku.”

Maka `Abdullah berkata: “Kalaupun engkau memberikan semua yang engkau miliki dan semua yang dimiliki oleh bangsa Arab kepadaku, dengan harapan aku mau meninggalkan agama Muhammad meski hanya sekejap mata, niscaya hal itu tidak akan pernah aku lakukan.” “Kalau begitu aku akan membunuhmu,” lanjut si raja itu. `Abdullah pun menjawab: “Silakan.”

Kemudian raja itu memerintahkan untuk menyalibnya, dan mereka pun menyalibnya. Dia juga memerintahkan pemanah untuk memanahnya, maka mereka pun memanahnya dari dekat, pada bagian dua tangan maupun dua kakinya, seraya menawarkan kepadanya agar dia memeluk agama Nasrani, tetapi dia tetap menolaknya. Kemudian si raja itu menyuruh anak buahnya untuk menurunkannya, dan dia pun diturunkan (dilepaskan dari salib).

Selanjutnya, raja itu minta dibawakan kuali besar, dan dalam satu riwayat disebutkan, dengan sapi dari baja, lalu dipanaskan. Kemudian ada tawanan dari kaum muslimin dipanggil, maka tawanan itu dilemparkan dan ternyata hanya tinggal tulang, sedang `Abdullah melihatnya. Selanjutnya, ditawarkan lagi kepada `Abdullah untuk pindah agama, tetapi `Abdullah tetap menolaknya.

Setelah itu, raja itu minta agar dia dimasukkan ke dalam kuali besar. Lalu `Abdullah diangkat untuk kemudian dimasukkan ke dalamnya, maka dia pun menangis dan dia benar-benar ingin memasukinya. Kemudian dia dipanggil, maka dia berkata: “Sesungguhnya aku menangis karena jiwaku ini hanyalah satu jiwa, yang dimasukkan ke dalam kuali besar ini karena Allah, dan aku ingin memiliki jiwa (nyawa) sebanyak jumlah rambut yang ada di dalam tubuhku, disiksa dengan siksaan ini karena Allah.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa `Abdullah dipenjara, tidak
diberi makan dan minum dalam beberapa hari. Kemudian dikirimkan kepadanya minuman khamr dan daging babi, tetapi dia tidak mau mendekatinya. Lalu dia pun dipanggil dan ditanya: “Apa yang membuatmu menolak makan?” `Abdullah menjawab: “Sesungguhnya khamr dan daging itu telah dihalalkan bagiku tetapi aku tidak ingin membuatmu gembira karenaku.” Kemudian raja itu berkata: “Kalau begitu, ciumlah kepalaku, dan setelah itu aku akan melepaskanmu.” Abdullah menjawab: “Tetapi kamu harus melepaskan juga seluruh tawanan muslim.” “Baiklah.” Kemudian `Abdullah pun mencium kepala raja itu sehingga dia dan seluruh tawanan muslim dibebaskan.

Setelah pulang, `Umar bin al-Khaththab berkata: “Merupakan suatu keharusan bagi setiap orang muslim untuk mencium kepala `Abdullah bin Hudzafah, dan aku yang akan memulainya.” Maka `Umar pun mencium kepala `Abdullah bin Hudzafah.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nahl ayat 104-105

21 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl (Lebah)
Surah Makkiyyah; surah ke 16: 128 ayat

tulisan arab alquran surat an nahl ayat 104-105“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (al-Qur’an), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka adzab yang pedih. (QS. 16:104) Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta. (QS. 16:105)” (an-Nahl: 104-105)

Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang menolak berdzikir kepada-Nya serta melengahkan diri terhadap apa yang telah Dia turunkan kepada Rasul-Nya serta tidak memiliki tujuan untuk beriman kepada apa yang datang dari sisi Allah. Manusia jenis ini tidak akan mendapatkan petunjuk menuju iman kepada tanda-tanda kekuasaan-Nya serta apa yang dibawa oleh Rasul yang diutus-Nya di dunia, dan di akhirat kelak dia akan mendapatkan siksaan yang menyedihkan lagi menyakitkan.

Selanjutnya, Dia juga memberitahukan bahwa Rasul-Nya bukan seorang yang mengada-ada dan bukan pula pembohong, sebab yang mengada-ada kebohongan terhadap Allah dan Rasul-Nya adalah makhluk yang paling jahat; innal ladziina laa yu’minuuna bi aayaatillaaHi (“Yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah”) dari kalangan kaum kafir, atheis, yang di masyarakat dikenal sebagai pendusta.

Sedangkan Rasulullah, Muhammad saw, merupakan orang yang paling jujur, paling baik, dan paling sempurna ilmu, amal, iman dan keyakinannya. Beliau dikenal sebagai orang yang paling jujur di kalangan kaumnya, dan tidak ada seorang pun yang meragukan hal tersebut, sehingga di kalangan mereka, beliau diberi gelar “al-Amin”.

Oleh karena itu, ketika Heraclius, raja Romawi, bertanya kepada Abu Sufyan mengenai berbagai persoalan yang berkenaan dengan sifat Rasulullah saw, yang di antaranya ditanyakan: “Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum dia mengatakan sesuatu?” Abu Sufyan menjawab: “Tidak pernah.” “Jika kepada manusia saja dia tidak pernah berdusta, apalagi kepada Allah,” lanjut Heraclius.

Bersambung