Tag Archives: ar-ruum

Mewarnai Gambar Kaligrafi Nama Surah Ar-Ruum

25 Okt

Mewarnai Gambar Kaligrafi
Nama-Nama Surah Al-Qur’an Anak Muslim

mewarnai gambar kaligrafi nama surah ar-ruum

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (14)

3 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 55-57“55. dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)”. seperti Demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran). 56. dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): “Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; Maka Inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya).” 57. Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi.” (ar-Ruum: 55-57)

Allah Ta’ala menggambarkan tentang kebodohan orang-orang kafir di dunia dan di akhirat. Di dunia mereka dapat melakukan apasaja dengan menyembah berhala, sedangkan di akhirat masih juga terdapat kebodohan besar yang menjangkiti sebagian manusia. Diantaranya adalah sumpah mereka bahwa mereka tidak tinggal kecuali sesaat saja. yang mereka maksudkan adala tidak akan ditegakkannya hujjah bagi mereka serta tidak akan dipandang, hingga mereka dimaafkan.

Firman Allah: kadzaalika kaanuu yu’fakuuna wa qaalalladziina uutul ‘ilma wal iimaana laqad labitstum fii kitaabillaaHi ilaa yaumil ba’tsi faHaadzaa yaumul ba’tsi (“Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan [dari kebenaran]. Dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan berkata [kepada orang yang kafir]: ‘Sesungguhnya kamu telah berdiam [dalam kubur] menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit.’”)
Yaitu orang-orang yang beriman yang diberi ilmu pengetahuan menjawab dalih tersebut, sebagaimana mereka menegakkan hujjah kepada orang-orang kafir di dunia. Mereka berkata kepada saat orang-orang kafir itu bersumpah tidak tinggal kecuali hanya sesaat saja. laqad labitstum fii kitaabillaaHi (“Sesungguhnya kamu telah berdiam [dalam kubur] menurut ketetapan Allah.”) yaitu di dalam catatan, ilaa yaumil ba’tsi (“sampai hari berbangkit”) yaitu dari mulai hari kalian diciptakan hingga kalian dibangkitkan: walaakinnakum kuntum laa ta’lamuun (“akan tetapi kamu selalu tidak meyakini[nya].”)

Firman Allah: fayauma-idzin (“maka pada hari itu.”) yaitu pada hari kiamat, laa yanfa’ulladzina dhalamuu ma’dziratuHum (“Tidak bermanfaat [lagi] bagi orang-orang yang dhalim permintaan udzur mereka.”) yaitu permintaa udzur dari apa yang telah mereka lakukan. Wa laa Hum yusta’tabuun (“Dan tidak pula mereka diberi kesempatan [untuk] bertaubat lagi.”) yaitu mereka tidak akan kembali ke dunia, sebagaimana firman Allah: wa iy yasta’tibuuna famaaHum minal mu’tabiina (“Dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan, maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya.”)(Fushshilat: 24)

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 58-60“58. dan Sesungguhnya telah Kami buat dalam Al Quran ini segala macam perumpamaan untuk manusia. dan Sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka.” 59. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami. 60. dan bersabarlah kamu, Sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (ar-Ruum: 58-60)

Allah berfirman: laqad dlarabnaa linnaasi fii Haadzal qur-aani min kulli matsalin (“Dan sesungguhnya telah Kami buat dalam al-Qur’an ini segala macam perumpamaan untuk manusia.”) yaitu sesungguhnya Kami telah menjelaskan dan menegaskan kebenaran kepada mereka serta membuat perumpamaan-perumpamaan di dalamnya agar kebenaran itu tampak bagi mereka dan mereka mau mengikutinya.

Wa la in ji’taHum bi aayatil layaquulul ladziina kafaruu in antum illaa mubthiluuna (“Dan sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang kafir itu berkata: ‘Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka.’”) yaitu seandainya mereka melihat apa saja ayat yang ada, baik dengan buatan mereka sendiri atau yang lainnya, niscaya mereka tidak akan mengimaninya serta meyakini hal tersebut sebagai sihir yang bathil, sebagaimana yang mereka katakan tentang terbelahnya bulan dan mukjizat sejenisnya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: innalladziina haqqat ‘alaiHim kalimatu rabbika laa yu’minuuna walau jaa-atHum kullu aayatin hattaa yarawul ‘adzaabal aliima (“Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Rabb-mu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan adzab yang pedih.” (Yunus: 96-97)

Untuk itu dalam ayat ini Allah berfirman: kadzaalika yathba’ullaaHu ‘alaa quluubil ladzinna laa ya’lamuuna fashbir inna wa’dallaaHi haqqun (“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak [mau] memahami. Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar.”) yaitu sabarlah atas pengingkaran dan pembangkangan mereka. sesungguhnya Allah akan merealisasikan apa yang dijanjikan-Nya kepadamu dengan memberi pertolongan-Nya untukmu atas mereka serta menjadikan akibat yang baik bagimu dan orang-orang yang mengikutmu di dunia dan di akhirat.

Wa laa yastakhif-fannakal ladziina laa yuuqinuun (“Dan sekali-sekali janganlah orang-orang yang tidak meyakini [kebenaran ayat-ayat Allah] itu menggelisahkanmu.”) akan tetapi, kokohlah di atas risalah yang dengannya engkau diutus oleh Allah. Karena itulah, kebenaran yang tidak mengandung keraguan dan tidak ada yang menandinginya. Tidak ada lagi hidayah yang dapat diikuti selainnya, bahkan seluruh kebenaran hanya terbatas di dalamnya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari salah seorang shahabat Rasulullah saw: Bahwa Rasulullah saw. shalat shubuh bersama mereka, lalu beliau membaca surah ar-Ruum di dalamnya. Kemudian beliau tersamar dalam bacaannya. Maka tatkala selesai beliau bersabda: “Sesungguhnya al-Qur’an tersamar bagi kami. Lalu, sesungguhnya satu kaum di antara kalian melaksanakan shalat bersama kami dengan tidak memperbaiki wudlu. Barangsiapa di antara kalian yang melaksanakan shalat bersama kami, maka hendaknya ia memperbaiki wudlu-nya.”
Hadits ini isnadnya hasan dan matannya bagus serta mengandung rahasia yang menakjubkan dan berita yang aneh. Yaitu Rasulullah saw. mendapatkan pengaruh oleh kekurang sempurnaan wudlu orang yang bermakmum dengan beliau. Atas dasar ini, shalat seorang makmum berkaitan erat dengan shalat seorang imam. Menurut Syaikh al-Albani dalam kitab al-Misykaat [295] hadits ini dla’if.

Selesai.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (13)

3 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 52-53“52. Maka Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang. 53. dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka Itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami).” (ar-Ruum: 52-53)

Allah Ta’ala berfirman: “Sebagaimana kamu tidak kuasa memberi pendengaran orang-orang yang mati di dalam kuburnya dan kata-katamu tidak mampu dijangkau oleh orang tuli yang tidak dapat mendengar, padahal di samping itu mereka membelakangimu. Demikian pula engkau tidak mampu memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta dari kebenaran dan menggiring mereka dari kesesatan. Akan tetapi serahkanlah semua itu kepada Allah, karena Allah dengan kekuasaan-Nya, orang-orang yang mati dapat mendengar berbagai suara orang yang hidup, jika Dia menghendaki, memberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan hal tersebut tidak dikuasai oleh siapapun selain-Nya.

Untuk itu Allah berfirman: in tusmi’u illaa may yu’minu bi-aayaatinaa faHum muslimuun (“Dan kamu tidak dapat memperdengarkan [petunjuk Rabb] melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri [kepada Kami].” Yaitu orang-orang yang tunduk, orang-orang yang menerima dan orang-orang yang taat. Mereka itulah orang-orang yang mendengar kebenaran dan mengikutinya, itulah keadaan orang-orang yang beriman.

Yang pertama adalah perumpamaan orang-orang kafir. ‘Aisyah menggunakan ayat ini: fa innaka laa tusmi’ul mautaa (“Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu mendengar.”) sebagai dalil atas rancunya riwayat ‘Abdullah bin ‘Umar tentang dialog Nabi dengan orang-orang yang terbunuh di perang Badar setelah tiga hari serta celaan dan omelan beliau kepada mereka. Hingga ‘Umar bertanya kepada beliau: “Ya Rasulallah, mengapa engkau berbicara kepada orang yang sudah menjadi bangkai?” Beliau menjawab: “Demi Rabb yang jiwaku ada ditangan-Nya, kalian tidak lebih mendengar dari mereka apa yang aku katakan kepada mereka, akan tetapi mereka tidak menjawabnya.” ‘Aisyah mentakwilkan bahwasannya beliau berkata: “Sesungguhnya sekarang mereka mengetahui apa yang aku katakan kepada mereka adalah kebenaran.” Qatadah berkata: “Allah menghidupkan mereka karenanya, hingga mereka mendengar kata-katanya yang mencela, mengomel dan memarahi. Pendapat yang shahih menurut para ulama adalah riwayat Ibnu ‘Umar berdasarkan saksi-saksi yang mendukung keshahihannya dair jalan yang banyak. Riwayat yang paling masyhur adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr, dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’: “Tidak ada seorang pun yang melewati kuburan saudaranya yang Muslim yang dikenalnya di dunia, lalu dia mengucapkan salam kepadanya kecuali Allah akan mengembalikan ruhnya hingga dia menjawab salam tersebut.”

Demikian pula, adanya perintah Nabi saw. kepada umatnya, jika mereka mengucapkan salam kepada penghuni kubur, mereka mengucapkannya seperti mengucapkan salam kepada orang yang diajaknya berdialog. Seorang Muslim mengucapkan: “Assalaamu ‘alaikum daara qaumin mu’miniiin.”
“Salam sejahtera kepada kalian di tempat kaum yang beriman.” Ini adalah sebuah kata yang digunakan untuk orang yangn mendengar dan berakal. Seandainya tidak menggunakan dialog ini, niscaya mereka menggunakan dialog atas sesuatu yang tidak ada dan [benda] mati.

Ulama salaf sepakat atas masalah ini. Atsar-atsar dari mereka telah mutawatir bahwa seorang mayit mengetahui orang hidup yang menziarahi dan memberinya kabar gembira. Masalah ini pun banyak ditunjukkan oleh atsar-atsar para shahabat. sebagian orang Anshar yang berasal dari kerabat ‘Abdullah bin Rawahah berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sebuah amal yang dihinakan oleh ‘Abdullah bin Rawahah.” Hal ini dikatakannya setelah mati syahidnya ‘Abdullah.

Ucapan salam kepada orang-orang yang mati disyariatkan. Sedangkan salam yang yang ditujukan kepada orang yang tidak merasa dan tidak mengetahui orang yang mengucapkan salam adalah suatu yang mustahil. Sesungguhnya Nabi saw. mengajarkan umatnya jika melihat kubur hendaknya mereka mengucapkan: “Assalaamu ‘alaikum aHlad diyaari minal mu’miniin. Wa innaa insyaa allaaHu bikum laa hiquuna, yarhamullaaHul mustaqdimiina minnaa wa minkum wal musta’khiriina, nas-alullaaHa lanaa wa lakumul aafiyata.” (Salam sejahtera kepada kalian penghuni kuburan di antara orang-orang yang beriman. Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian. Semoga Allah mengasihi orang-orang yang mendahului kami dan kalian dan orang-orang yang terakhir. Kami meminta kepada Allah ‘afiat kepada kami dan untuk kalian.”) salam, dialog dan panggilan ini untuk sesuatu yang dapat mendengar, berdialog, berakal dan menjawab, sekalipun orang yang mengucapkan salam tidak mendengar jawaban tersebut.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 54“54. Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari Keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah Keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.” (ar-Ruum: 54)

Allah Ta’ala mengingatkan tentang proses penciptaan manusia yang berproses dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Dia berasal dari tanah, kemudian berupa nuthfah [air mani], kemudian berupa segumpal darah, lalu berupa segumpal daging, menjadi tulang yang dibalut dengan daging dan ditiupkan ruh ke dalamnya. Kemudian dia keluar dari perut ibunya dalam keadaan dla’if dan kecil serta kondisi lemah, tumbuh menjadi anak kecil, balita, baligh, menjadi pemuda, itulah kekuatan setelah kelemahan. Kemudian barulah ia mengalami kekurangan, yaitu saat bongkok dan tua, dan itulah kelemahan setelah kekuatan. Saat itu tekad, langkah dan gerak makin lemah, rambut beruban, bentuk dzahir dan sifat batin makin berubah.
Untuk itu Allah berfirman: tsumma ja’ala mim ba’di dla’fing quwwatan tsumma ja’ala mim ba’dli quwwatin dla’faa wa syaibatan. Yakhluqu maa yasyaa-u (“Kemudian Dia menjadikan[mu] sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan [mu] itu sesudah kuat itu lemah [kembali] dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.”) yaitu Dia melakukan apa yang dikehendaki-Nya. wa Huwal ‘aliimul qadiir (“Dan Dia-lah Yang Mahamengetahui lagi Mahakuasa.”

Bersambung ke bagian 14

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (12)

3 Jan

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 48-51“48. Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu Lihat hujan keluar dari celah-celahnya, Maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. 49. dan Sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa. 50. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. 51. dan sungguh, jika Kami mengirimkan angin (kepada tumbuh-tumbuhan) lalu mereka melihat (tumbuh-tumbuhan itu) menjadi kuning (kering), benar-benar tetaplah mereka sesudah itu menjadi orang yang ingkar.” (ar-Ruum: 48-51)

Allah menjelaskan bagaimana Dia menciptakan awan yang dapat menurunkan hujan. Dia berfirman: AllaaHul ladzii yursilur riyaaha fatutsiiru sahaaban (“Allah, Dia lah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan.”) adakalanya dari lautan –sebagaimana yang diceritakan oleh banyak orang–, atau sesuai apa yang dikehendaki Allah.
Fa yabsuthuHuu fis samaa-i kaifa yasyaa-u (“Dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya.”) yaitu dibentangkan, diperbanyak dan ditumbuhkan serta membuat sesuatu yang sedikit menjadi banyak, yang memunculkan awan seperti yang engkau lihat dengan mata kepala sendiri seperti tameng. Kemudian Dia bentangkan hingga memenuhi bagian-bagian ufuk, dan terkadang awan datang dari arah lautan membawa sesuatu yang berat dan penuh. Sebagaimana firman Allah yang artinya:
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. seperti Itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (al-A’raaf: 57)

Demikian pula Dia berfirman disini:
AllaaHul ladzii yursilur riyaaha fatutsiiru sahaaban fayabsuthuHuu fis samaa-i kaifa yasyaa-u wa yaj’aluHuu kisafan (“Allah, Dia lah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan, dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal.”) Mujahid, Abu ‘Amr bin al-‘Alla dan Mathar al-Waraq berkata: “Yaitu, potongan-potongan.” Sedangkan yang lain berkata: “Yaitu bergumpal-gumpal.” Sebagaimana dikatakan oleh adh-Dhahhak. Dan yang lain berkata: “Hitam karena banyaknya air. Engkau melihatnya bertumpuk-tumpuk, berat dan dekat ke bumi.”

Firman Allah: fataral wadqa yakhruju min khilaaliHi (“Lalu kamu melihat hujan keluar dari celah-celahnya.”) yakni engkau melihat hujan, yaitu tetasannya keluar dari celah-celah awan.
Fa idzaa ashaaba biHii may yasyaa-u min ‘ibaadiHii idzaaHum yastabsyiruun (“Maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.”) yaitu karena kebutuhan mereka terhadapnya, mereka merasa gembira dengan turun dan sampainya hujan kepada mereka.

Dan firman Allah: wa in kaanuu ming qabli ay yunazzala ‘alaiHim ming qabliHii lamublisiin (“Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.”) Ibnu Jarir berkata: “Kalimat ini sebagai taukid/penguat dan dia menceritakan hal tersebut dari sebagian ahli bahasa Arab. Kemudian, hujan datang secara tiba-tiba kepada mereka setelah mereka berputus asa. Setelah sebelumnya tanah-tanah mereka dalam keadaan gersang dan kering, lalu bumi itu menjadi hidup, subur dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”

Untuk itu Allah berfirman: fandhur ilaa aatsaari rahmatillaaHi (“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah.”) yakni hujan. Kaifa yuhyil ardla ba’da mautiHaa (“Bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati.”) kemudian dengan hal itu Dia menyandarkan tentang hidupnya jasad-jasad manusia setelah mengalami kematian, terpisah-pisah dan kehancuran. Maka Allah befirman: inna dzaalika lamuhyil mautaa (“Sesungguhnya [Rabb yang berkuasa seperti] demikian benar-benar [berkuasa] menghidupkan orang-orang yang telah mati.”) yaitu, Rabb yang melakukan hal tersebut tentu Mahakuasa untuk menghidupkan orang-orang yang mati. Wa Huwa ‘alaa kulli syai-ing qadiir (“Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”)

Wa la in arsalnaa riihan fara-auHu mushfarral ladhalluu mim ba’di yakfuruun (“dan sungguh, jika kami mengirimkan angin [kepada tumbuh-tumbuhan] lalu mereka melihat [tumbuh-tumbuhan itu] menjadi kuning [kering], benar-benar tetaplah mereka sesudah itu menjadi orang yang ingkar.”

Allah berfirman: wa la-in arsalnaa riihan (“Dan sungguh, jika kami mengirimkan angin.”) yang kering pada tumbuh-tumbuhan yang mereka tanam lalu tumbuh, menua dan tegak lurus di atas pokoknya, maka mereka melihat tumbuh-tumbuhan itu mushfarra, yaitu menguning. Maka mulailah terjadi kerusakan, dimana mereka setelah itu tetap menjadi orang-orang yang ingkar. Yaitu mengingkari nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada mereka.

Ibnu Abi Hatim berkata bahwa ‘Ubaidullah bin ‘Amr berkata: “Angin itu ada delapan; empat di antaranya mengandung rahmat dan empat lainnya mengandung adzab.

Sedangkan empat angin yang mengandung rahmat adalah: an-Naasyiraat, al-Mubasysyiraat, al-Mursaalaat dan adz-Dzaariyaat. Sedangkan angin yang mengandung adzab adalah: ‘aqiim, dan Sharshar di daratan serta ‘Aashif dan Qaashif di lautan.

Jika Allah menghendaki, niscaya Dia menggerakkannya dengan gerakan rahmat, hingga menjadi lapang, rahmat, gembira dan kasih sayang-Nya, dibawa oleh awan yang berisi air, seperti laki-laki memancarkan air maninya kepada wanita hingga hamil. Dan jika Dia menghendaki, niscaya Dia menggerakkannya dengan gerakan adzab dengan menjadikannya mandul dan mengandung siksaan yang pedih serta menjadikannya siksa bagi hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Lalu Dia menjadikannya angin Sharshar [gemuruh], ‘Aatiya [sangat dingin] dan merusak apa saja yang dijangkaunya.

Angin-angin itu berbeda-beda dalam hembusannya yang deras dan sepoi-sepoi, selatan dan utara. Dan dalam masalah manfaat dan pengaruhnya lebih besar perbedaannya. Angin yang lembut dan basah mampu memperkuat tumbuh-tumbuhan dan tubuh-tubuh hewan, sedangkan angin yang lain mengeringkannya. Angin yang lain dapat menggerakkan dan mengeraskannya, yang lainnya lagi dapat memperkuat dan memperkokohnya dan yang lainnya meringankan dan melemahkannya.

Bersambung ke bagian 13

30. Ar-Ruum

22 Nov

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat Ar Ruum terdiri atas 60 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah diturunkan sesudah ayat Al Insyiqaq. Dinamakan Ar Ruum karena pada permulaan surat ini, yaitu ayat 2, 3 dan 4 terdapat pemberitaan bangsa Rumawi yang pada mulanya dikalahkan oleh bangsa Persia, tetapi setelah beberapa tahun kemudian kerajaan Ruum dapat menuntut balas dan mengalahkan kerajaan Persia kembali. Ini adalah suatu mukjizat Al Quran, yaitu memberitakan hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dan juga suatu isyarat bahwa kaum muslimin yang demikian lemahnya di waktu itu akan menang dan dapat menghancurkan kaum musyrikin. Isyarat ini terbukti pertama kali pada perang Badar.

Pokok-pokok isinya:

1. Keimanan:
Bukti-bukti atas kerasulan Nabi Muhammad s.a.w. dengan memberitahukan kepadanya hal yang ghaib seperti menangnya kembali bangsa Rumawi atas kerajaan Persia; bukti-bukti ke-Esaan Allah yang terdapat pada alam sebagai makhluk-Nya dan kejadian- kejadian pada alam itu sendiri; bukti-bukti atas kebenaran adanya hari berbangkit; contoh-contoh dan perumpamaan yang menjelaskan bahwa berhala-berhala dan sembahan-sembahan itu tidak dapat menolong dan memberi manfaat kepada penyembah-penyembahnya sedikitpun.

2. Hukum-hukum:
Kewajiban menyembah Allah dan mengakui ke-EsaanNya karena hal itu sesuai dengan fitrah manusia; kewajiban berda’wah; kewajiban memberi nafkah (sedekah) kepada kaum kerabat, fakir miskin, musafir dan sebagainya; larangan mengikuti orang musyrik; hukum riba.

3. Kisah-kisah:
Pemberitaan tentang bangsa Rumawi sebagai suatu umat yang beragama walaupun dikalahkan pada mulanya oleh kerajaan Persia yang menyembah api akhirnya dapat menag kembali.

4. Dan lain-lain:
Manusia pada umumnya bersifat gembira dan bangga apabila mendapat nikmat dan berputus asa apabila ditimpa musibah, kecuali orang- orang yang beriman; kewajiban rasul hanya menyampaikan da’wah; kejadian-kejadian yang dialami oleh umat-umat yang terdahulu patut menjadi i’tibar dan pelajaran bagi ummat yang kemudian.
Surat Ar Ruum menyebutkan hal-hal yang berhubungan dengan kekuasaan Allah yang mutlak terhadap semua urusan baik sebelum atau sesudah maupun di saat terjadinya suatu peristiwa; agama tauhid (Islam) pasti menang; ancaman-ancaman terhadap kaum musyrikin ; watak-watak manusia; penyebutan kejadian-kejadian pada alam ini sebagai bukti kekuasaan dan ke-Esaan Allah.

HUBUNGAN SURAT AR RUUM DENGAN SURAT LUQMAN

1. Dalam surat Ar Ruum disebutkan bahwa di dalam Al Quran Allah banyak membuat tamsil/ibarat yang bermanfaat bagi manusia, sedang dalam surat Luqman Allah mengisyaratkan yang demikian.

2. Pada bagian akhir surah Ar Ruum disebutkan bahwa keadaan orang kafir itu bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Al Quran mereka selalu membantah dan mendustakannya, sedang pada bahagian permulaan surat Luqman diterangkan keadaan mereka yaitu mereka selalu berpaling dan bersifat sombong terhadap ayat-ayat Al Quran itu.

3. Pada surat Ar Ruum terdapat ketegasan bahwa Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk dan Dia pulalah yang menciptakannya pada kali yang kedua. Hal itu amat mudah bagi-Nya. Dalam surat Luqman Allah menegaskan bahwa penciptaan manusia dan membangkitkannya kembali di akhirat adalah mudah pula bagi Allah.

4. Pada surat Ar Ruum Allah menerangkan tabi’at manusia bahwa apabila mereka ditimpa bahaya mereka berserah diri kepada Tuhannya dan bila mendapat rahmat sebahagian dari mereka kembali mempersekutukan-Nya. Dalam surat Luqman diterangkan tentang watak manusia itu dengan memberikan contoh, yaitu ketika manusia ditimpa bahaya di tengah lautan, dan ketika mereka telah selamat sampai di darat.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (11)

3 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

Firman Allah: liyudziiqaHum ba’dlal ladzii ‘amiluu (“Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari [akibat] perbuatan mereka.”) yaitu menguji mereka dengan kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan sebagai ujian dari-Nya dan balasan atas perilaku mereka. La’allaHum yarji’uun (“Agar mereka kembali.”) dari berbagai perilaku maksiat, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
Wa balaunaaHum bil hasanaati was sayyi-aati la’allaHum yarji’uun (“Dan Kami menguji mereka dengan berbagai kebaikan dan keburukan agar mereka kembali.”) dan Allah Ta’ala berfirman: qul siiruu fil ardli fandhuruu kaifa kaana ‘aaqibatul ladziina ming qablu (“Katakanlah: ‘Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikan bagaimaan kesudahan orang-orang yang dahulu.”) yaitu sebelum kalian. Kaana aktsaruHum musyrikiin (“Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan [Allah].”) yaitu perhatikanlah apa yang menimpa mereka akibat mendustakan para Rasul dan mengkufuri berbagai nikmat.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 43-45“43. oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang Lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya): pada hari itu mereka terpisah-pisah. 44. Barangsiapa yang kafir Maka Dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan Barangsiapa yang beramal saleh Maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan), 45. agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar.” (ar-Ruum: 43-45)

Allah Ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera beristiqamah dalam ketaatan dan bersegera dalam kebaikan.
Fa aqim wajHaka lid diinil qayyimi ming qabli ay ya’tiya yaumul laa maraddalaHuu minallaaHi (“Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu pada agama yang lurus [Islam] sebelum datang dari Allah suatu hari yang tak dapat ditolak [kedatangannya].”) yaitu hari kiamat. Jika Dia menghendaki terjadinya, maka tidak ada yang mampu menolaknya.
Yauma-idziy yashshadda’uun (“Pada hari itu mereka terpisah-pisah.”) yaitu satu golongan di surga dan satu golongan di neraka yang menyala-nyala. Untuk itu Allah berfirman yang artinya: “Barangsiapa yang kafir Maka Dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan Barangsiapa yang beramal saleh Maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan), agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari karunia-Nya.”
Dia akan membalas mereka dengan balasan keutamaan, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat [dan] hingga tak terbatas sesuai kehendak Allah. innaHuu laa yuhibbul kaafiriin (“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar.”) di samping itu, Dia Mahaadil terhadap mereka serta tidak akan mendhaliminya.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 46-47“46. dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; mudah-mudahn kamu bersyukur. 47. dan Sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang Rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (ar-Ruum: 46-47)

Allah menceritakan nikmat-nikmat-Nya kepada para makhluk, yaitu dikirimnya angin sebagai pembawa berita dari Pemilik rahmat dengan datangnya hujan setelah itu. Untuk itu Allah berfirman: wa layudziiqakum mir rahmatiHii (“Dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya.”) yaitu hujan yang diturunkan-Nya, sehingga dengan air itu para hamba dan negeri-negeri jadi hidup.

Wa litajriyal fulku bi amriHi (“dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya.”) di lautan. Kapal itu dilayarkan melalui perantaraan hembusan angin. Wa litabtaghuu min fadl-liHii (“Dan [juga] supaya kamu dapat mencari karunia-Nya.”) di dalam perdagangan, mencari nafkah serta melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain dan dari satu negara ke negara lain.
Wala-‘allakum tasykuruun (“Mudah-mudahan kamu bersyukur.”) yaitu bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang dilimpahkan kepada kalian, baik berupa nikmat-nikmat lahir maupun nikmat-nikmat bathin yang tidak dapat dihitung dan dicatat.

Wa laqad arsalnaa ming qablika rusulan ilaa qaumiHim fajaa-uuHum bil bayyinaati fantaqamnaa minalladziina ajramuu (“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus sebelummu beberapa orang Rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan [yang cukup], lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa.”) ini merupakan hiburan dari Allah swt. untuk seorang hamba dan utusan-Nya, yaitu Muhammad saw. yang didustakan. Sesungguhnya mayoritas kaumnya dan manusia telah mendustakan dan menentang para Rasul serta menyelamatkan orang-orang yang mengimani mereka.
Wa kaana haqqan ‘alainaa nashrul mu’miniin (“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.”) semua itu adalah hak yang diwajibkan pada diri-Nya Yang Mahamulia sebagai kehormatan dan keutamaan, seperti firman Allah: kataba ‘alaa nafsiHir rahmata (“Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang.”)(al-An’am: 12)

Bersambung ke bagian 12

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (9)

3 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

Sebagian ulama berkata: “Demi Allah, seandainya yang mengancamku adalah seorang penjaga yang ahli, niscaya akupun takut kepadanya. Bagaimana kalau yang mengancam di dalam ayat ini adalah Rabb yang berkata terhadap segala sesuatu: kun fayakuun [“jadilah” maka jadilah ia]. Kemdian Allah berfirman mengingkari orang-orang musyrik tentang perkara yang mereka perselisihkan tentang penyembahan kepada selain-Nya tanpa dalil, hujjah dan bukti. Am anzalnaa ‘alaiHim sulthaanan (“Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan?”) yaitu dalil, faHuwa yatakallamu (“lalu keterangan itu menunjukkan”) berbicara tentang, bimaa kaanuu biHii musyrikuuna (“Kebenaran apa yang mereka selalu mempersekutukan dengan Rabb”), dan ini adalah istifham inkari [pertanyaan yang menunjukkan pengingkaran], artinya mereka tidak memiliki semua itu sedikitpun.

Firman Allah: wa idzaa adzaqnan naasa rahmatan fariha biHaa wa in tushibHum sayyiatum bimaa qaddamat aidiiHim idzaaHum yaqnathuuna (“Apabila Kami rasakan suatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah [bahaya] disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.”) ini merupakan pengingkaran kepada manusia dimanapun dia berada, kecuali orang-orang yang dipelihara dan diberi taufik oleh Allah. Sesungguhnya manusia jika ditimpa kenikmatan maka dia akan berbangga diri dengan merasa bergembira terhadap dirinya dan menyombongkan diri terhadap orang lain. Sedangkan jika ditimpa kesulitan, dia merasa putus asa dan kecewa terhadap adanya kebaikan yang akan diraih sesudahnya.

Illalladziina shabaruu wa’amilush shaalihaati (“Kecuali orang-orang yang sabar [terhadap bencana], dan mengerjakan amal-amal shalih.”)(Huud: 11). Yaitu mereka bersabar di saat kesulitan dan beramal shalih di waktu lapang, sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits shahih:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal itu tidak terdapat melainkan pada seorang Mukmin. Jika ia ditimpa kelapangan ia bersyukur, maka itu merupakan kebaikan baginya dan jika ia ditimpa kesulitan ia bersabar, maka itu pun merupakan kebaikan baginya.”

Firman Allah: awalam yarau annallaaHa yabsuthur rizqa limay yasyaa-u wa yaqdir (“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rizky bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia [pula] yang menyempitkan [rizky itu].”) yaitu Dia-lah Rabb yang mengatur lagi melakukan semua itu dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya. Dia memberikan keluasan kepada suatu kaum dan memberikan kesempitan kepada kaum yang lain.
Inna fii dzaalika la aayaatil liqaumiy yu’minuuna (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi kaum yang beriman.”)

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 38-40“38. Maka berikanlah kepada Kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan[1171]. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka Itulah orang-orang beruntung. 39. dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). 40. Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (ar-Ruum: 38-40)

[1171] Yang berhak menerima zakat Ialah: 1. orang fakir: orang yang Amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya. 2. orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam Keadaan kekurangan. 3. Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat. 4. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah. 5. memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan Muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir. 6. orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya. 7. pada jalan Allah (sabilillah): Yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain. 8. orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.

Allah Ta’ala berfirman untuk memberikan: dzal qurbaa haqqaHuu (“Pada kerabat yang terdekat akan haknya.”) berupa kebaikan dan silaturahim, wal miskiina (“demikian [pula] pada fakir miskin”) yaitu orang yang tidak memiliki sesuatu yang dinafkahkan atau memiliki sesuatu akan tetapi tidak mencukupi kebutuhannya. Wabnas sabiili (“dan orang-orang yang dalam perjalanan.”) yaitu seorang musafir yang membutuhkan nafkah dan bekal di dalam perjalanannya.
Dzaalika khairul lilladziina yuriiduuna wajHallaaHi (“Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridlaan Allah.”) yaitu memandang-Nya pada hari kiamat dan itulah tujuan yang besar. Wa ulaa-ika Humul muflihuun (“dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”) di dunia dan di akhirat.

Wa maa aataitum mir ribaa lyarbuu fii amwaalin naasi falaa yarbuu ‘indallaaHi (“Dan suatu riba [tambahan] yang kamu berikan agar menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.”) yaitu barangsiapa yang memberikan sesuatu guna mengharapkan balasan manusia yang lebih banyak kepadanya dari apa yang dia berikan, maka perilaku itu tidak mendapatkan pahala di sisi Allah. Demikian yang ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, adh-Dhahhak, Qatadah, ‘Ikrimah, Muhammad bin Ka’ab dan asy-Sya’bi. “Sikap demikian ini dibolehkan sekalipun tidak memiliki pahala. Akan tetapi Rasulullah saw. melarangnya secara khusus.” Itulah yang dikatakan oleh adh-Dhahhak dan dia berdalih dengan firman Allah: walaa tamnun tastaktsir (“Dan janganlah kamu memberi [dengan maksud] memperoleh [balasan] yang lebih banyak.”)(al-Muddatstsir: 6). Yaitu, janganlah engkau memberikan sesuatu karena menghendaki sesuatu yang lebih besar dari pemberianmu itu. Dan Ibnu ‘Abbas berkata: “Riba itu ada dua; riba yang tidak sah yaitu riba buyu’/ jual-beli, dan riba yang tidak mengapa, yaitu hadiah yang diberikan seseorang karena berharap kelebihan dan pelipatannya. Kemudian beliau membaca ayat ini, Wa maa aataitum mir ribaa lyarbuu fii amwaalin naasi falaa yarbuu ‘indallaaHi (“Dan suatu riba [tambahan] yang kamu berikan agar menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.”) sedangkan pahala pada sisi Allah adalah zakat.

Bersambung ke bagian 10

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (8)

3 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

Untuk itu Ibnu ‘Abbas, Ibrahim, an-Nakha’i, Sa’id bin Jubair, Mujahid, ‘Ikrimah, Qatadah, adh-Dhahhak dan Ibnuz Zaid berkata tentang firman-Nya: laa tabdiila likhalqillaaH (“Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.”) yaitu pada agama Allah.
Khalqul awwaliin adalah agama orang-orang terdahulu. Dien dan fitrah adalah Islam.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah saw. ditanya tentang anak-anak orang-orang musyrik, lalu beliau bersabda: “Allah Mahamengetahui tentang apa yang dahulu mereka kerjakan, ketika Dia menciptakan mereka.” Ditakhrij dari ash-Shahihain.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Iyadh bin Himar, bahwa suatu hari Rasulullah saw. berkhutbah. Di dalam khutbahnya itu beliau bersabda: “Sesungguhnya Rabb-ku memerintahkanku untuk mengajarkan kalian sesuatu yang kalian tidak ketahui. Di antaranya adalah apa yang diberitahukan kepadaku hari ini: ‘Seluruh apa yang aku berikan kepada hamba-hamba-Ku adalah halal. Dan sesungguhnya Aku menciptakan seluruh hamba-Ku dalam keadaan hanif (cenderung pada kebenaran). Kemudian syaitan datang menyesatkan mereka dari agama yang mengharamkan sesuatu yang telah Aku halalkan kepada mereka serta memerintahkan mereka untuk menyekutukan-Ku tanpa dalil yang Aku turunkan.’ Kemudian Allah swt. memandang penghuni bumi, lalu memurkai mereka, baik yang berbangsa Arab maupun non Arab kecuali beberapa gelintir ahlul kitab. Dia berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengutusmu hanya untuk mengujimu dan aku uji manusia dengan sebabmu serta Aku turunkan kepadamu sebuah kitab yang tidak terhapus oleh air lagi engkau membacakannya kepada orang yang tidur dan orang yang sadar.’ Sesungguhnya Allah memerintahkan aku untuk membakar orang Quraisy, lalu aku berkata: ‘Ya Rabb-ku, kalau itu aku lakukan, mereka pasti akan membelahku dan menjadikannya seperti sebuah roti.’ Dia berfirman: ‘Keluarkanlah mereka, sebagaimana mereka mengeluarkanmu, perangilah mereka niscaya Kami akan perang bersamamu, berinfaklah niscaya Kami akan memberi nafkah kepadamu dan kirimlah satu pasukan niscaya Kami akan mengutus lima pasukan yang seperti itu serta perangilah orang-orang yang menentangmu bersama orang yang mentaatimu.
Beliau bersabda: “Penghuni surga itu ada tiga; Penguasa yang adil, suka bersedekah dan disetujui, seorang laki-laki yang penyayang, lembut hati kepada setiap kerabat dan menjaga kehormatan orang lain.
Sedangkan penghuni neraka itu ada lima: orang lemah yang tidak memiliki kecerdikan, dimana mereka mengikuti kalian tanpa mengharapkan keluarga dan harta, pengkhianat yang terang-terngan tamak sekalipun kecil dia akan mengkhianatinya, serta laki-laki yang tidak berpagi-pagi dan bersore-sore kecuali dia akan memperdayakanmu terhadap keluarga dan hartamu.” Beliau menyebutkan orang yang berakhlak buruk, pendusta dan golongan-golongan busukk. (Ditakhrij sendiri oleh Muslim dari beberapa jalan dari Qatadah)

Firman Allah: dzaalikad diinul qayyimu (“[itulah] agama yang lurus.”) yaitu berpegang teguh dengan syariat dan fitrah yang selamat adalah agama yang tegak lurus. Walaakinna aktsarannaasi laa ya’lamuuna (“tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”) yaitu sekalipun demikian, dengan sikap menyimpang darinya. Dan firman-Nya: muniibiina ilaiHi (“Dengan kembali bertobat kepada-Nya.”) Ibnu Zaid dan Ibnu Juraij berkata: “Yaitu mereka kembali kepada-Nya.” wattaquuHu (“dan bertakwalah kepada-Nya”) yaitu mereka takut dan merasa diawasi, wa aqiimush shalaata (“Serta dirikanlah shalat.”) yaitu, ia sebagai ketaatan yang besar. Wa laa takuunuu minal musyrikiina (“dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.”) yaitu jadilah kalian orang-orang yang bertauhid dan mengikhaskan hanya kepada-Nya serta tidak menghendaki selain-Nya.

Firman Allah: minalladziina farraquu diinaHum wa kaanuu syiya’an kullu khizbim bimaa ladaiHim farihuuna (“Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi orang-orang musyrik yang memecah belah agama mereka, yaitu dengan mengganti dan merubahnya serta mengimani sebagiannya dan mengingkari sebagian lainnya.

Sebagian ahli qiraat membacanya dengan faaraquu diiinaHum, yaitu mereka tinggalkan agamanya di belakang mereka. Mereka seperti orang Yahudi, orang Nasrani, orang majusi, penyembah berhala dan seluruh penganut agama-agama yang bathil selain penganut Islam.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 33-37“33. dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripada-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya, 34. sehingga mereka mengingkari akan rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu). 35. atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan, lalu keterangan itu menunjukkan (kebenaran) apa yang mereka selalu mempersekutukan dengan Tuhan? 36. dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa. 37. dan Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.” (ar-Ruum: 33-37)

Allah Ta’ala berfirman memberikan kabar tentang manusia yang berada dalam keadaan terjepit, mereka berdoa kepada Allah Mahaesa Yang tidak ada sekutu bagi-Nya. jika mereka dilimpahkan berbagai nikmat, tiba-tiba segolonga mereka yang berada dalam keadaan lapang, berbuat musyrik kepada Allah dan menyembah kepada selain-Nya. liyakfuruu bimaa aatainaaHum (“Sehingga mereka mengingkari akan rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka.”) huruf lam pada ayat ini adalah lam ‘aaqibah [lam yang menunjukkan tentang akibat suatu peristiwa] menurut pendapat sebagian ulama. Sedangkan menurut ulama yang lainnya, laam nya adalah lam ta’liil [lam yang menunjukkan alasan hukum sebuah kasus], akan tetapi laam itu adalah ‘illat tentang ketentuan Allah kepada mereka. Kemudian Allah mengancam mereka dengan firman-Nya: fatamatta’uu fasaufa ta’lamuun (“Maka bersenang-senanglah kammu sekalian, kelak kamu akan mengetahui [akibat perbuatanmu].”)

Bersambung ke bagian 9

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (7)

3 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

Dia-lah Mahaperkasa yang tidak dapat dikalahkan dan ditandingi. Sesungguhnya Dia mengalahkan dan memaksa segala sesuatu dengan kekuasaan dan kerajaan-Nya Yang Mahabijaksana dalam perkataan dan perbuatan-Nya, baik secara syar’i maupun secara qadari.

Dari Malik dalam tafsirnya yang diriwayatkan dari Muhammad bin al-Munkadir tentang firman Allah Ta’ala: wa laHul matsalul a’laa (“Dan bagi-Nya lah sifat yang Mahatinggi.”) ia berkata bahwa tidak ada Ilah [yang haq] kecuali Allah.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 28-29“28. Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada diantara hamba-sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu; Maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal. 29. tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; Maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? dan Tiadalah bagi mereka seorang penolongpun.” (ar-Ruum: 28-29)

Ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah swt. untuk orang-orang musyrik yang menyembah selain Dia bersama-Nya serta menjadikan untuk-Nya berbagai sekutu. Padahal mereka sendiri mengakui bahwa sekutu-sekutu Allah yang berupa berhala-berhala dan patung-patung itu adalah hamba dan milik-Nya. sebagaimana mereka berkata: “Aku penuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu untuk-Mu, Engkau memilikinya dan apayang ia miliki.” Maka Allah berfirman: dlaraba lakum matsalam min anfusikum (“Dia membuat perumpamaan untukmu dari dirimu sendiri.”) yaitu, kalian menyaksikan dan memahami-Nya dari diri kalian sendiri.

Hal lakum mim maa malakat aimaanukum min syurakaa-a fii maa razaqnaakum fa antum fiiHi sawaa-un (“Apakah ada di antara hamba sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam [memiliki] rizky yang telah Kami berikan kepadamu; maka kamu sama dengan mereka dalam [hak menggunakan] adalah sama dengan dia [yang menjadikan budaknya sebagai sekutu dalam hartanya).

takhaafuunaHum kakhiifatikum anfusakum (“Kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri?”) yaitu kamu takut mereka mendapatkan bagian harta dari kalian. Abu Mijlaz berkata: “Sesungguhnya hamba sahaya kalian tidak takut membagi-bagi harta kalian, padahal itu bukan miliknya. Demikian pula Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Makna hal itu bahwa salah seorang kalian mengecilkan terhadap hal demikian. Bagaimana kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah di antara makhluk-makhuk-Nya. Demikian pula mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah dari kalangan hamba-hamba dan makhluk-Nya, padahal salah seorang mereka sangat menolak dan amat benci seandainya budak yang dimilikinya menjadi sekutu dalam hartanya secara sama yang dapat dibagi-baginya. Mahatinggi Allah dari segala sifat seperti itu setinggi-tinggi-Nya. Dan dikarenakan, memberi peringatan dengan contoh-contoh tersebut menunjukkan bebas dan sucinya Allah swt dari semua itu dengan cara yang lebih utama dan lebih tinggi.

Firman Allah: kadzaalika nufashshilul aayaati liqaumiy ya’qiluuna (“Demikianlah kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal.”) kemudian Allah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik menyembah selain Dia hanya karena kepandiran dan kebodohan diri mereka sendiri.
Balittabi’alladziina dhalamuu (“Tetapi orang-orang yang dhalim mengikuti.”) yaitu orang-orang musyrik, aHwaa-aHum (“Hawa nafsu mereka.”) yaitu dalam penyembahan mereka terhadap tandingan-tandingan-Nya tanpa ilmu pengetahuan, famay yaHdii man adlallallaaH (“Maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan oleh Allah?”) yaitu tidak ada seorang pun yang dapat menunjuki mereka jika Allah telah menetapkan kesesatan bagi mereka.

Wa maa laHum min naashiriin (“Dan tidaklah bagi mereka seorang penolong pun.”) yaitu tidak ada satu pun penyelamat, penjaga dan penolong bagi mereka dari kekuasaan Allah terhadapnya. Karena, apa saja yang dikehendaki-Nya, pasti terjadi dan apa saja yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak terjadi.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 30-32“30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, 31. dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, 32. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”(ar-Ruum: 30-32)

Allah berfirman, maka perkokohlah pandanganmu dan istiqamahlah di atas agama yang disyariatkan Allah kepadamu, berupa kesucian millah Ibrahim yang Allah bimbing kamu kepadanya dan disempurnakan Allah agama itu untukmu dengan sangat sempurna. Disamping itu hendaknya kamu konsekuen terhadap fitrah lurusmu yang difitrahkan Allah atsa makhluk-Nya. karena Allah telah memfitrahkan makhluk-Nya untuk mengenal dan mengesakan-Nya yang tidak ada Ilah [yang haq] selain-Nya, sebagaimana penjelasan yang lalu dalam firman-Nya: wa ash-HadaHum ‘alaa anfusiHim lalastu birabbikum qaaluu balaa syaHidnaa (“Dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka [seraya berfirman]: ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul [Engkau Rabb kami], kami menjadi saksi.’”)(al-A’raaf: 172)

Firman-Nya: laa tabdiila likhalqillaaH (“Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.”) sebagian mereka berkata: “Maknanya adalah, janganlah kalian merubah ciptaan Allah, lalu kalian rubah pula manusia dari fitrah yang diciptakan oleh Allah bagi mereka.” Kaliamat ini menjadi kabar dengan makna thalab [tuntutan], seperti firman Allah: wa man dakhalaHuu kaana aaminan (“Barangsiapa memasukinya [Baitullah itu] menjadi amanlah dia.”) (Ali ‘Imraan: 97). Dan itulah makna yang baik dan tepat. Sedangkan ulama lain berkata: “Kalimat ini menjadi kabar pada kalimat sebenarnya. Maknanya bahwa Allah menyamakan seluruh makhluk-Nya dengan fitrah dengan tabiat yang lurus, dimana tidak ada satu anakpun yang lahir kecuali dalam kondisi demikian serta tidak ada tingkat perbedaan manusia dalam masalah tersebut.

Bersambung ke bagian 8

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (6)

3 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

Inna fii dzaalika la aayaatil lil ‘aalimiina wa min aayaatiHii manaamukum bil laili wan naHaari wabtighaa-ukum min fadl-liHi (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah, tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya.”) yaitu di antara bukti-bukti kekuasaan-Nya adalah, Allah jadikan sifat tidur di waktu malam dan di waktu siang yang dengannya dapat mencapai istirahat dan ketenangan, serta menghilangkan rasa lemah dan lelah. Serta menjadikan untuk kalian upaya bertebaran, mencari nafkah dan melakukan perjalanan di waktu siang. Dan semua ini adalah lawan dari tidur.

Inna fii dzaalika la aayaatil liqaumiy yasma’uuna (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.”) yaitu yang memperhatikan.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 24-25“24. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. 25. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).” (ar-Ruum: 24-25)

Firman Allah: wa min aayaatiHii (“dan di antara tanda-tanda.”) yang menunjukkan keagungan-Nya; yuriikumul barqa khaufaw wa thama’aw (“Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk [menimbulkan] ketakutan dan harapan.”) yaitu terkadang mereka takut dengan kejadian-kejadian sesudahnya berupa hujan deras dan kilat yang menggelegar. Dan terkadang juga mereka berharap akan sinarnya serta cukupnya hujan yang dibutuhkan yang datang kemudian. Untuk itu Allah berfirman: wa yunazzilu minas samaa-i fa yuhyii biHil ardla ba’da mautiHaa (“Dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya.”) yaitu setelah sebelumnya gersang tanpa tumbuh-tumbuhan dan tanpa sesuatu pun. Maka air itu datang: “Hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (al-Hajj: 5)

Dalam masalah ini terdapat pelajaran dan bukti-bukti yang nyata tentang hari kembali dan terjadinya Kiamat. Untuk itu Dia berfirman: inna fii dzaalika la aayaatil liqaumiy ya’qiluuna (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang menggunakan akalnya.”
Wa min aayaatiHii an taquumas samaa-u wal ardlu bi amriHi (“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah, berdirinya langit dan bumi dengan iradah-Nya.”) seperti firman-Nya: innallaaHa yumsikus samaawaati wal ardli an tazuulan (“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap.”)(Faathir: 41). Yaitu ketika tegak dan kokoh dengan perintah dan pengaturan-Nya. kemudan ketika hari kiamat tiba, bumi akan digantikan dengan bumi dan langit yang lain. Serta keluarlah orang-orang yang mati dari kubur mereka dalam keadaan hidup dengan perintah Allah swt. serta seruan-Nya kepada mereka. Untuk itu Dia berfirman: tsumma idzaa da’aakum da’watam minal ardli idzaa antum takhrujuuna (“Kemudian apabila Dia memanggilmu sekali panggil dari bumi, seketika itu [juga] kamu keluar [dari kubur].”) yaitu dari [dalam] bumi.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 26-27“26. dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. semuanya hanya kepada-Nya tunduk. 27. dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (ar-Ruum: 27)

Allah Ta’ala berfirman: wa laHuu man fis samaawaati wal ardli (“Dan kepunyaan-Nya lah siapa saja yang ada di langit dan di bumi.”) yaitu, milik dan abdi-Nya. kullu laHuu qaanituun (“Semuanya hanya tunduk kepada-Nya.”) yaitu tunduk dan khusyu’ dalam keadaan suka maupun terpaksa.

Di dalam hadits Diraj, dari Abul Haitsam, dari Abu Sa’id secara marfu’: “Setiap huruf dari al-Qur’an yang menyebutkan qunut di dalamnya, maka artinya adalah taat.”

Firman Allah: wa Huwal ladzii yabda-ul khalqa tsumma yu’iidzuHuu wa Huwa aHwanu ‘alaiHi (“dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.”) Ibnu Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu, lebih ringan bagi-Nya.” sedangkan Mujahid berkata: “Mengulanginya lebih mudah bagi Allah daripada memulainya.” “Sedangkan memulainya sendiri begitu mudah bagi-Nya.” demikian yang dikatakan oleh ‘Ikrimah dan lain-lain. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Anak Adam mendustakan Aku padahal Aku tidak demikian. Dia mencerca-Ku, padahal Aku tidak demikian. Adapun kedustannya terhadap-Ku, yaitu perkataannya: ‘Allah tidak akan menghidupkanku kembali sebagaimana Dia memulainya.’ Padahal awal penciptaan tidak lebih mudah bagi-Ku daripada mengulanginya. Sedangkan cercaannya kepada-Ku adalah perkataannya: ‘Allah mempunyai anak, padahal Aku Mahaesa tempat bergantung yang tidak beranak dan tidak diperanakkan serta tidak ada seorang pun yang setera dengan-Nya.’”

Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini sendiri dan diriwayatkannya sendiri pula oleh Imam Ahmad. Sedangkan pendapat yang lain mengatakan keduanya [dalam menciptakan pertama kali dan dalam mengulanginya] dilihat dari sudut kekuasaan Allah swt. adalah sama saja. sedangkan al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas, semuanya amat mudah bagi-Nya, demikian yang dikatakan oleh ar-Rabi’ bin Khaitsam dan Ibnu Jarir cenderung kepada pendapat itu, serta menyebutkan beberapa pendukung yang banyak sekali. Dia berkata: “Boleh jadi dhamir dalam firman-Nya: wa Huwa aHwanu ‘alaiHi (“Dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.”) kembali kepada penciptaan. Hal ini berarti menghidupkannya kembali lebih mudah daripada menciptakannya.

Firman Allah: wa laHul matsalul a’laa fis samaawaati wal ardli (“Dan bagi-Nya-lah sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi.”) ‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas, seperti firman-Nya: laisa kamitsliHii syai-un (“Tidak ada yang serupa dengan-Nya”) Qatadah berkata bahwa tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi secara benar] kecuali Dia dan tidak ada Rabb selain-Nya. Ibnu Jarir mengatakan seperti itu. Sebagian ahli tafsir ketika menyebut ayat ini menyenandungkan sya’ir kepada sebagian ahli ma’rifah:
“Jika kolam yang jernih tenang airnya,
Dan tidak ada angin yang menggoyangnya,
Niscaya langit di dalamnya dapat terlihat tanpa ragu.
Demikian pula matahari dan bintang-bintang jelas nyata.
Demikianlah hati orang-orang yang sampai pada tajalli,
Dalam kebersihan dapat terlihat Allah Yang Mahaagung.

Bersambung ke bagian 7