Tag Archives: asy-Syuura

42. Asy-Syuura

27 Nov

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat Asy Syuura terdiri atas 53 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Fushshilat. Dinamai dengan Asy Syuura (musyawarat) diambil dari perkataan Syuura yang terdapat pada ayat 38 surat ini. Dalam ayat tersebut diletakkan salah satu dari dasar-dasar pemerintahan Islam ialah musyawarat. Dinamai juga Haa Miim ‘Ain Siin Qaaf karena surat ini dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah itu. Pokok-pokok isinya: 1. Keimanan: Dalil-dalil tentang Allah Yang Maha Esa dengan menerangkan kejadian langit dan bumi, turunnya hujan, berlayarnya kapal di lautan dengan aman dan sebagainya; Allah memberi rezki kepada hamba-Nya dengan ukuran tertentu sesuai dengan kemaslahatan mereka dan sesuai pula dengan hikmah dan ilmu-Nya; Allah memberikan anak laki-laki dan perempuan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, atau tidak memberi anak seorangpun; cara-cara Allah menyampaikan perkataan-Nya kepada manusia; pokok-pokok agama yang dibawa para rasul adalah sama. 2. Hukum: Tidak ada dasar untuk menuntut orang yang mempertahankan diri. 3. Dan lain-lain: Keterangan bagaimana keadaan orang-orang kafir dan keadaan orang-orang mukmin nanti di akhirat; memberi ampun lebih baik dari pada membalas dan membalas jangan sampai melampaui batas; orang-orang kafir mendesak Nabi Muhammad s.a.w. supaya hari kiamat disegerakan datangnya; kewajiban rasul hanya menyampaikan risalahnya. Surat Asy Syuura dimulai dengan menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan wahyu, keimanan, Al Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. benar-benar berasal dari Allah; agama yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. sama pokok-pokoknya dengan agama yang dibawa para rasul yang dahulu; janji kepada orang-orang mukmin dan ancaman kepada orang-orang kafir. Surat ini ditutup dengan menerangkan bagaimana caranya Allah berhubungan dengan manusia. HUBUNGAN SURAT ASY SYUURA DENGAN SURAT AZ ZUKHRUF 1. Kedua surat ini sama-sama dimulai dengan pembicaraan mengenai Al Quran yang diturunkan dari Tuhan Yang MAha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 2. Kedua surat ini sama-sama mengutarakan bagaimana sikap orang-orang kafir terhadap Al Quran dan mengemukakan dalil-dalil atas keesaan dan kekuasaan Allah.

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syuura (13)

18 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syuura (Musyawarah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 42: 53 ayat

Firman Allah: fa in a’radluu (“Jika mereka berpaling.”) yaitu orang-orang musyrik. Fa maa arsalnaaka ‘alaiHim hafiidhaa (“Maka Kami tidak mengutusmu sebagai pengawas bagi mereka.”) artinya kamu bukanlah pengawas bagi mereka.
Fa inna maa ‘alaikal balaaghu wa ‘alainal hisaab (“Karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.”)(ar-Ra’du: 40). Sedangkan di ayat ini Allah berfirman: in ‘alaika illal balaaghu (“Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan [risalah].”) yaitu, Kami hanya menugaskanmu untuk menyampaikan risalah Allah kepada mereka.

Kemudian Allah berfirman: wa innaa idzaa adzaqnal insaana minnaa rahmatan fariha biHaa (“Sesungguhnya, apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami, dia bergembira ria karena rahmat itu.”) yakni jika dia diberikan nikmat dan kesenangan, dia bersuka cita. Wa in tushibHum (“Dan jika mereka ditimpa.”) yaitu, manusia. Sayyi-ata (“kesusahan”) yaitu kekeringan, bencana, kesulitan dan bahaya, fa innal insaana lakafuur (“karena sesungguhnya manusia itu sangat ingkar [kepada nikmat].”) artinya, dia mengingkari nikmat yang lalu dan tidak mengakui kecuali apa yang [ada] saat sekarang saja. maka, jika dia mendapatkan kenikmatan, dia angkuh dan sombong, dan jika mendapatkan bencana, dia berputus asa dan kecewa. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda kepada kaum wanita: “Hai kaum wanita, bersedekahlah kalian, karena aku melihat kalian adalah penghuni neraka yang paling banyak.” Lalu seorang wanita bertanya: “Mengapa ya Rasulallah?” Beliau menjawab: “Karena kalian banyak mengeluh dan mengingkari kebaikan suami. Seandainya salah seorang dari kalian diperlakukan baik sepanjang tahun, lalu diabaikan sehari saja, dia berkata: ‘Aku tidak melihat sedikitpun kebaikan darimu.’”

Inilah kondisi mayoritas kaum wanita, kecuali wanita-wanita yang diberikan hidayah oleh Allah dan diarahkan-Nya kepada kebaikan, dan dia berada dalam golongan orang yang beriman dan beramal shalih, itulah orang mukmin. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda: “Jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur, dan itu lebih baik baginya. Jika ia mendapatkan kesusahan dia bersabar dan itu lebih baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh seseorang kecuali oleh orang mukmin.”

tulisan arab alquran surat asy syuura ayat 49-50“49. kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, 50. atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.” (asy-Syuura: 49-50)

Allah memberitakan bahwa Dia adalah Pencipta, Pemilik dan Pengatur langit dan bumi, serta seisinya. Apa saja yang dikehendaki-Nya, pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakinya pasti tidak terjadi. Dia memberi kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mencegah siapa yang dikehendakinya. Tidak ada yang mampu mencegah apa yang diberikan-Nya dan tidak ada yang mampu memberikan apa yang dicegah-Nya, dan Dia menciptakan apa saja yang dikehendaki-Nya. yaHabu limay yasyaa-u inaatsaa (“Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki.”) yaitu, Dia dapat memberikan kepadanya rizky anak perempuan saja. al-Baghawi berkata: “Di antara mereka adalah Luth.”

Wa yaHabu limay yasyaa-udz dzukuur (“dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.”) yaitu Dia dapat memberikan kepadanya rizky anak laki-laki saja. al-Baghawi berkata: “Seperti Ibrahim al-Khalil yang tidak mempunyai anak perempuan.”

Aw yuzawwijuHum dzukraanaw wa inaatsaa (“Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan [kepada siapa yang dikehendaki-Nya.]”) artinya, dan Dia memberikan pasangan suami istri yang dikehendaki-Nya anak laki-laki dan anak perempuan. Al-Baghawi berkata: “Yakni seperti Muhammad saw.”

Wa yaj’alu may yasyaa-u ‘aqiimaa (“Dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia dikehendakinya.”) yaitu tidak melahirkan anak. Al-Baghawi berkata: “Yakni, seperti Yahya dan ‘Isa. Sehingga Dia menjadikan manusia menjadi empat golongan; ada yang diberikan anak-anak perempuan saja, ada yang diberikan anak-anak lelaki saja, ada yang diberikan kedua-duanya dan ada juga yang sama sekali tidak diberikan dengan dijadikan-Nya mandul, tidak mempunyai keturunan dan anak.”

innaHuu ‘aliimun (“Sesungguhnya Dia Mahamengetahui.”) siapa yang berhak untuk masing-masing mendapat bagiannya. Qadiirun (“Lagi Mahakuasa”) atas kehendak-Nya membuat tingkat perbedaan antara manusia dalam masalah tersebut. Konteks ini sama dengan firman Allah kepada ‘Isa as.: wa lanaj’alaHu aayatallin naasi (“Dan agar Kami jadikan tanda kebesaran bagi manusia.”) yakni tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi bagi mereka, dimana Dia menciptakan makhluk [manusia] menurut empat golongan. Adam diciptakan dari tanah, bukan dari wanita dan pria. Hawwa diciptakan dari pria tanpa wanita. Seluruh manusia selian ‘Isa diciptakan dari pria dan wanita. Sedangkan ‘Isa as. diciptakan dari wanita tanpa pria. Tanda-tanda tersebut sempurna dengan penciptaan ‘Isa. Untuk itu Allah berfirman: wa lanaj’alaHu aayatallin naasi (“Dan agar Kami jadikan tanda kebesaran bagi manusia.”) konteks ini adalah untuk para bapak. Sedangkan konteks pertama adalah pada anak-anak. Dan setiap keduanya menrupakan empat bagian. Mahasuci Allah Yang Mahamengetahui lagi Mahakuasa.

tulisan arab alquran surat asy syuura ayat 51-53“51. dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. 52. dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. 53. (yaitu) jalan Allah yang Kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (asy-Syuura: 51-53)

Ini merupakan tingkatan-tingkatan wahyu dari sisi Allah. Dia terkadang menanamkan dalam jiwa Rasulullah saw. sesuatu, dimana beliau tidak meragukan bahwa hal itu adalah dari Allah swt. sebagaimana tercantum dalam Shahih Ibni Hibban, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Ruhul Qudus meniupkan di dalam jiwaku, bahwa satu jiwa tidak akan mati sampai mendapatkan rizky dan ajalnya secara sempurna. Maka bertakwalah kepada Allah dan carilah rizky dengan sebaik-baiknya.”

Firman Allah: au miw waraa-i hijaab (“atau di belakang tabir.”) sebagaimana Dia mengajak bicara Musa, lalu Musa meminta melihat-Nya setelah diajak bicara, akan tetapi dilarang-Nya.
Di dalam hadits shahih dinyatakan bahwa Rasulullah saw. berkata kepada Jabir bin ‘Abdillah: “Tidak ada seorangpun yang diajak bicara oleh Allah, kecuali dari balik tabir, dan sesungguhnya Dia berbicara kepada ayahmu secara langsung.” Demikian dinyatakan dalam hadits. Dan ayahnya itu telah terbunuh dalam perang Uhud, akan tetapi ini terjadi di alam Barzakh, sedang ayat ini adalah di dunia.

Firman Allah: au yursila rasuulan fa yuuhiya bi-idzniHii maa yasyaa-u (“Atau dengan mengutus seorang utusan [malaikat], lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.”) sebagaimana Jibril dan malaikat-malaikat lain turun kepada para Nabi. innaHuu ‘aliyyun hakiim (“Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi Mahabijaksana.”) yakni, Dia Mahatinggi, Mahamengetahui, Mahamendalami lagi Mahabijaksana.

Firman Allah: wa kadzaalika au hainaa ilaika ruuham min amrinaa (“Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu wahyu dengan perintah Kami.”) yaitu al-Qur’an. Maa kunta tadrii mal kitaabu walal iimaan (“Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu.”) yakni secara rinci yang disyariatkan bagimu di dalam al-Qur’an. Walaa kin ja-‘alnaaHu (“tetapi Kami menjadikannya”) yakni al-Qur’an itu, nuuran naHdiibiHii man nasyaa-u min ‘ibaadinaa (“cahaya yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.”)

Dan firman Allah: wa innaka (“Dan sesungguhnya kamu”) hai Muhammad. lataHdii ilaa shiraathim mustaqiim (“benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”) yaitu kebenaran yang lurus. Kemudian Dia menafsirkannya dengan firman-Nya: “[yaitu] jalan Allah.” Yakni syariat yang diperintahkan-Nya: alladzii laHuu maa fis samaawaati wa maa fil ardli (“Yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bum.”) yaitu Rabb, Pemilik, Pengatur dan Penguasa keduanya, tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya. Alaa ilallaaHi tashiirul umuur (“Ingatlah bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.”) artinya, kepada-Nya seluruh urusan dikembalikan, lalu dirinci dan diberikan putusan oleh Allah. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang dikatakan oleh orang-orang yang dhalim dan menentang.
Selesai.

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syuura (12)

18 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syuura (Musyawarah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 42: 53 ayat

Setelah Allah mencela tindak kedhaliman dan mensyariatkan qishash [hukum pembalasan], Dia pun menganjurkan kepada pemberi maaf dan ampun, dengan berfirman: wa laman shabara wa ghafara (“Tetapi orang-orang yang bersabar dan memberi maaf”) yakni bersabar atas perbuatan yang menyakitkan dan menutupi kesalahan [orang lain]. Inna dzaalika lamin ‘azmil umuur (“Sesungguhnya [perbuatan] yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.”) Sa’id bin Jubair berkata: “Yakni termasuk hal-hal yang haq, yang diperintahkan Alah Ta’ala. Artinya termasuk perkara-perkara yang tersanjung dan perbuatan-perbuatan yang terpuji, yang mendapatkan pahala besar dan pujian baik. Maka kembalilah kepada pintu maaf, karena itu merupakan pintu yang luas. Barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah. Dan orang yang suka memaafkan, dapat tidur di atas kasurnya pada malam hari; sedang orang yang suka membela diri akan selalu berusaha membalik-balikkan segala perkara.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Ada seorang laki-laki mencaci-maki Abu Bakar ra. ketika Nabi saw. sedang duduk. Maka Nabi pun merasa heran dan tersenyum. Setelah orang itu berulang kali mencaci maki, Abu Bakar membalas sebagian ucapannya. Lalu Nabi marah dan berdiri, maka Abu Bakar menyusul beliau saw. dan berkata: “Ya Rasulallah, sungguh ia tadi mencaci makiku ketika engkau sedang duduk. Dan tatkala aku membalas sebagian ucapannya, engkaupun marah dan berdiri.” Nabi pun bersabda: “Sungguh, tadi ada seorang malaikat bersamamu yang melindungimu. Tetapi setelah engkau membalas sebagian ucapannya, datanglah syaitan. Karena itu, tidak patut aku duduk bersama syaitan.” Kemudian beliau bersabda: “Wahai Abu Bakar. Ada tiga perkara yang semuanya adalah haq. Yaitu tiada seorang hamba yang didhalimi dengan suatu kedhaliman lalu ia memaafkannya karena Allah, melainkan Allah pasti memuliakannya dan membelanya karena kedhaliman itu. Tiada seorang laki-laki membuka pintu pemberian karena ingin menyambung [hubungan kekeluargaan], melainkan Allah semakin menambah banyak hartanya karena pemberian itu. Dan tiada seorang laki-laki membuka pintu meminta-minta karena ingin memperoleh banyak [harta], melainkan Allah semakin mempersedikit hartanya.” (diriwayatkan pula oleh Abu Dawud) hadits ini mempunyai makna yang sangat indah, dan sesuai bagi Abu Bakar ash-Shiddiq.

tulisan arab alquran surat asy syuura ayat 44-46“44. dan siapa yang disesatkan Allah Maka tidak ada baginya seorang pemimpinpun sesudah itu. dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?” 45. dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam Keadaan tunduk karena (merasa) hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. dan orang-orang yang beriman berkata: “Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan (kehilangan) keluarga mereka pada hari kiamat. Ingatlah, Sesungguhnya orang- orang yang zalim itu berada dalam azab yang kekal. 46. dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung-pelindung yang dapat menolong mereka selain Allah. dan siapa yang disesatkan Allah Maka tidaklah ada baginya satu jalanpun (untuk mendapat petunjuk).” (asy-Syuura: 44-46)

Allah memberitakan tentang diri-Nya Yang Mulia, bahwa apa saja yang dikehendaki-Nya pasti terjadi, tidak ada yang mampu menolak-Nya. Dan apa saja yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak terjadi dan tidak ada yang mampu untuk mengadakannya. Barangsiapa yang diberi-Nya hidayah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Sebagaimana Allah berfirman: wa may yudl-lilillaaHu fa maa laHuu miw waliyyim mim ba’diHi (“Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada baginya seorang pemimpin pun sesudah itu.”) kemudian Allah mengabarkan tentang orang-orang dhalim, yaitu mereka menyekutukan Allah. Lammaa ra-awul ‘adzaaba (“Ketika mereka melihat adzab.”) yaitu pada hari kiamat, mereka mengharapkan kembali ke dunia. Yaquuluuna Hal ilaa maraddim min sabiil (“Mereka berkata: ‘Adakah kiranya jalan untuk kembali [ke dunia]?’”)

Firman Allah: wa taraaHum yu’ridluuna ‘alaiHaa (“Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan di atasnya.”) yaitu di atas neraka. khaasyi-‘iina minadzdzull (“Dalam keadaan tunduk karena [merasa] terhina.”) yakni, kehinaan yang menimpa mereka disebabkan kemaksiatan kepada Allah yang dahulu mereka lakukan.

Yandhuruuna min tharfin khafiyy (“mereka melihat dengan pandangan yang lesu.”) Mujahid berkata: “Yaitu hina.” Artinya, mereka memandang kepadanya dengan pandangan mencuri karena takut terhadapnya. Sedangkan apa yang mereka takutkan pasti terjadi dan bahkan sesuatu yang lebih besar dari apa yang tergambar di dalam jiwa mereka. Semoga Allah melindungi kita dari semua itu.”

Wa qaalalladziina aamanuu (“Dan orang-orang yang beriman berkata.”) yaitu mereka berkata pada hari kiamat. Innal khaasiriina (“sesungguhnya orang-orang yang merugi.”) yaitu dengan kerugian besar. Lilladziina khasiruu anfusaHum wa aHliHim yaumal qiyaamaH (“ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan [kehilangan] keluarga mereka pada hari kiamat.”) yakni mereka digiring ke dalam api neraka, lalu mereka kehilangan kesenangan diri mereka di negeri yang kekal selama-lamanya dan mereka merugikan diri sendiri. Serta mereka dipisahkan dari kekasih-kekasih, teman-teman, dan kerabat-kerabat mereka, sehingga mereka kehilangan semuanya.

Alaa innadh dhaalimiina fii ‘adzaabim muqiiim (“Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu berada dalam adhab yang kekal.”) yakni, abadi selama-lamanya, mereka tidak dapat keluar dan meloloskan diri darinya.
Firman Allah: wa maa kaana laHum min auliyaa-a yanshuruunaHum min duunillaaH (“dan mereka sekali-sekali tidak mempunyai pelindung-pelindung yang dapat menolong mereka selain Allah.”) yakni yang dapat menyelamatkan mereka dari siksaan dan hukuman yang mereka alami. Wa may yudl-lilillaaHu fa maa laHuu min sabiil (“dan siapa yang disesatkan Allah, maka tidaklah baginya sesuatu jalan pun [untuk mendapat petunjuk].”) yaitu, tidak ada baginya jalan selamat.

tulisan arab alquran surat asy syuura ayat 47-48“47. Patuhilah seruan Tuhanmu sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. kamu tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak (pula) dapat mengingkari (dosa-dosamu). 48. jika mereka berpaling Maka Kami tidak mengutus kamu sebagai Pengawas bagi mereka. kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami Dia bergembira ria karena rahmat itu. dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena Sesungguhnya manusia itu Amat ingkar (kepada nikmat).” (asy-Syuura: 47-48)

Setelah Allah menceritakan apa yang terjadi pada hari kiamat berupa huru-hara dan hal-hal besar yang mengerikan, Dia memperingatkan mereka tentang peristiwa tersebut dan memerintahkan mereka untuk mempersiapkan diri. Dia berfirman: istajiibuu lirabbikum ming qabli ayya’tia yaumul laa maraddalaHuu minallaaH (“Patuhilah seruah Rabbmu sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya.”) yakni, jika Dia diperintahkan terjadinya, maka semuanya menjadi seperti kejapan mata, tidak ada yang mampu menolak dan mencegahnya.

Firman Allah: maa lakum mim malja-iy yauma-idziw wa maa lakum min nakiir (“kamu tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak [pula] dapat mengingkari [dosa-dosamu].”) yaitu tidak ada benteng yang mampu melindungimu dan tidak ada tempat yang mampu menutupimu dan mengingkari semua itu, hingga kalian mampu menghilang dari pandangan Allah. Bahkan, Dia Mahameliputi kalian dengan ilmu, pandangan dankekuasaan-Nya, tidak ada lagi tempat kembali kecuali kepada-Nya.
(bersambung ke bagian 13)

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syuura (11)

18 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syuura (Musyawarah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 42: 53 ayat

Firman Allah: walladziina idzaa ashaabaHumul baghyu Hum yangtashiruuna (“Dan [bagi] orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan dhalim, mereka membela diri.”) yakni sebenarnya mereka memiliki kemampuan membela diri dari orang yang mendhalimi dan sewenang-wenang terhadap mereka, mereka bukanlah orang-orang yang lemah dan hina, bahkan mereka mampu melakukan pembalasan terhadap orang yang mendhalimi mereka. Akan tetapi mereka memberi maaf. Sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya: “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadapmu, mudah-mudahan Allah mengampunimu.” (Yusuf: 92). Padahal, dia memiliki kemampuan untuk membalas sikap mereka kepadanya.
Demikian pula Rasulullah saw. memberikan maaf kepada 80 orang yang bermaksud menghalanginya pada tahun Hudaibiyah dan mereka turun dari bukit Tan’im. Ketika beliau mampu membalas mereka, beliau pun memberi maaf kepada mereka. Beliau juga memberi maaf kepada Ghaurats bin al-Harits yang hendak membunuhnya, ketika dia menghunus pedangnya terhadap beliau ketika beliau dalam keadaan tidur, lalu Rasulullah bangun hingga membuat gemetar al-Harits dan pedangnya jatuh. Rasulullah mengambil pedangnya dan memanggil para shahabat, memberitahukan kepada mereka tentang peristiwa itu dan beliau pun memaafkannya. Beliau juga memaafkan Labid bin al-A’Sham yang menyihir beliau, dimana beliau tidak menghukum dan mencelanya. Beliau juga memaafkan wanita Yahudi [yaitu Zainab, saudari Marhab, Yahudi Khaibar yang dibunuh oleh Mahmud bin Salamah] yang menghadiahkan kambing beracun kepada beliau pada perang Khaibar. Paha kambing itupun memberitahukan tentang keadaannya, lalu Nabi saw. memanggilnya dan wanita itupun mengakuinya. Rasulullah saw. bertanya: “Apa yang membuatmu melakukan hal ini?” wanita itu menjawab: “Aku ingin menguji. Jika engkau seorang Nabi, tentu hal itu tidak akan mencelakaimu. Dan jika engkau bukan seorang Nabi, kami merasa bebas dengan kematianmu.” Maka Rasulullah saw. membebaskannya. Akan tetapi setelah salah seorang shahabat, Bishir bin al-Barra’ wafat disebabkan racun tersebut, wanita itupun dibunuh karenanya. Dan masih banyak lagi hadits yang menerangkan sifat maaf Rasulullah saw. wallaaHu a’lam.

tulisan arab alquran surat asy syuura ayat 40-43“40. dan Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik Maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. 41. dan Sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka. 42. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. mereka itu mendapat azab yang pedih. 43. tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, Sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diutamakan.” (asy-Syuura: 40-43)

Firman Allah: wa jazaa-u sayyi-atin sayyi-atum mitsluHu (“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.”) seperti firman Allah: “Oleh karena itu, barangsiapa yang menyerangmu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.” (al-Baqarah: 194)

Maka Dia mensyariatkan keadilan, yaitu qishash serta menganjurkan keutamaan, yaitu memaafkan. Dia berfirman: fa man ‘afaa wa ashlaha fa ajruHuu ‘alallaaHi (“Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas [tanggungan] Allah.”) yaitu semua itu tidak akan sia-sia di sisi Allah. Sebagaimana penjelasan hadits: “Allah tidak menambahkan bagi seorang hamba yang suka memaafkan melainkan kemuliaan [semakin mulia].”

Firman Allah: innaHuu laa yuhibbudh dhaalimiina (“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang dhalim.”) yakni orang-orang yang melampaui batas, yaitu orang yang memulai berbuat kesalahan. Kemudian Allah berfirman: wa lamanin tashara ba’da dhulmiHii fa ulaa-ika maa ‘alaiHim min sabiilin (“dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka.”) yakni tidaklah berdosa jika mereka melakukan pembelaan diri dari orang yang mendhalimi mereka.

Yang shahih adalah hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan Ibnu Majah, bahwa ‘Aisyah berkata: “Aku tidak tahu sampai aku masuk menemui Zainab tanpa izin, dan dia dalam keadaan marah. Kemudian dia berkata kepada Rasulullah saw.: “Cukuplah bagimu, jika puteri Abu Bakar membalikkan untukmu pakaiannya.” Kemudian dia menghadap kepadaku dan aku pun berpaling darinya sehingga Nabi saw. berkata: “Lakukan pembelaan untuk dirimu.” Maka akupun menghadap kepadanya, sehingga aku lihat air liurnya telah kering dalam mulutnya, tanpa menjawabku sepatah katapun. Lalu aku melihat wajah Nabi saw. berseri-seri.” (demikian menurut lafadz an-Nasa’i)

Firman Allah: innamas sabiilu (“sesungguhnya dosa itu”) yakni kesalahan dan kebinasaan itu, ‘alalladziina yadhlimuunan naasa wa yabghuuna fil ardli bighairil haqqi (“Atas orang-orang yang berbuat dhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak.”) yaitu, orang yang memulai kedhaliman kepada manusia, sebagaimana dinyatakan dalam hadits shahih: “Bagi kedua orang yang saling mencela [adalah] apa yang dikatakannya. Dan [kesalahan] atas orang yang memulai selama orang yang didhalimi tidak melampaui batas.”

Ulaa-ika laHum ‘adzaabun aliimun (“Mereka itu mendapat adzab yang pedih.”) yakni keras dan menyakitkan.

Abu Bakar bin Abi Syaibah meriwayatkan dari Muhammad bin Wasi’ ia berkata: ketika aku tiba di Makkah, aku mendapati sebuah jembatan berada di atas parit. Tatkala aku menyeberanginya, aku pun dibawa pergi kepada Marwan bin al-Muhallab, Gubernur Bashrah. Lalu dia berkata: “Apa keperluanmu, hai Abu ‘Abdillah?” aku menjawab: “Keperluanku, jika engkau mampu, agar anda menjadi seperti saudara Bani ‘Adi sebelumnya.” Ia pun bertanya: “Siapa itu saudara Bani ‘Adi?” Jawabku: “Ialah al-‘Ala’ bin Ziyad, pernah suatu saat ia mengangkat seorang temannya sebagai pelaksana untuk suatu pekerjaan. Lalu ia menulis pesan untuknya: ‘Amma ba’du, jika anda mampu, usahakanlah jangan sampai anda berangkat tidur malam kecuali dalam keadaan punggungmu ringan, perutmu lapar, dan telapak tanganmu bersih dari darah dan harta kaum Muslimin. Karena jika anda melaksanakan hal itu, maka tidak ada satu dosapun atasmu. ‘Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dhalim kepada manusia dan malampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat adzab yang pedih.’ (asy-Syura: 42). Marwan pun berkata: “Benarlah dia, demi Allah, dan telah bersikap tulus.” Kemudian dia berkata pula: “Apa lagi keperluanmu, hai Abu ‘Abdillah?” Aku menjawab: “Keperluanku, pertemukanlah aku dengan keluargaku.” Dan dia berkata: “Ya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim)
(bersambung ke bagian 12)

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syuura (10)

18 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syuura (Musyawarah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 42: 53 ayat

Firman Allah: au yuubiqHunna bimaa kasabuu (“atau kapal-kapal itu dibinasakan-Nya karena perbuatan mereka.”) yaitu seandainya Dia menghendaki, niscaya Dia akan membinasakan kapal-kapal itu dan menenggelamkannya disebabkan dosa-dosa para penumpangnya. Wa ya’fu ‘ang katsiirin (“atau Dia memberi maaf sebagian besar dari [mereka].”) yaitu atas dosa-dosa mereka. Seandainya Dia akan menghukum mereka dengan seluruh dosa-dosa mereka, niscaya Dia akan binasakan orang yang mengarungi lautan.

Sebagian ulama tafsir berkata: “Makna firman Allah: au yuubiqHunna bimaa kasabuu (“atau kapal-kapal itu dibinasakan-Nya karena perbuatan mereka.”) yakni seandainya Dia menghendaki, niscaya Dia akan mengirimkan angin dahsyat yang sangat panas, lalu menerpa kapal-kapal tersebut dan memalingkannya dari jalan yang lurus yang ditujunya, serta menggoncangkannya ke arah kanan dan kiri hingga menjadi kacau tanpa jalan dan arah yang dituju. Perkataan ini mengandung sesuatu tentang hancurnya kapal-kapal itu. Dan sesuai dengan pendapat yang pertama, yaitu seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia akan mendiamkan angin, lalu angin pun berhenti. Atau Dia kencangkan angin itu hingga kapal-kapal itu hancur binasa. Akan tetapi, karena kelembutan dan rammat-Nya, Dia mengirimkan angin sesuai dengan kebutuhan, sebagaimana Dia mengirimkan hujan sesuai kecukupan. Seandainya Dia mengirimkan hujan secara berlimpah sekali, niscaya hancurlah gedung-gedung. Atau menurunkannya sedikit saja, niscaya tidak tumbuh tanam-tanaman dan buah-buahan. Sampai-sampai Dia mengirimkan ke negeri Mesir, misalnya air yang mengalir dari negeri lain, karena mereka tidak membutuhkan hujan. Seandainya hujan turun menimpa mereka, niscaya hancurlah bangunan-bangunan mereka dan runtuhlah tembok-tembok mereka.

Firman Allah: wa ya’lamalladziina yujaadiluuna fii aayaatinaa maa laHum mim mahiish (“dan supaya orang-orang yang membantah ayat-ayat [kekuasaan] Kami mengetahui, bahwa mereka sekali-sekali tidak akan memperoleh jalan keluar [dari siksaan].”) yakni tidak ada jalan keluar bagi mereka dari adzab Kami, karena mereka berada di bawah kekuasaan Kami.

tulisan arab alquran surat asy syuura ayat 36-39“36. Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal. 37. dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. 38. dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. 39. dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.” (asy-Syuura: 36-39)

Allah berfirman, merendahkan kehidupan dunia dan perhiasannya serta keindahannya dan kenikmatan fana yang terdapat di dalamnya dengan firman-Nya: famaa uutiitum min syai-in fa mataa’ul hayaatiddun-yaa (“maka sesuatu apa pun yang diberkan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia.”) yakni apa saja yang kalian raih dan kalian kumpulkan, maka janganlah kalian tertipu, karena semua itu hanyalah nikmat kehidupan dunia. Dunia adalah tempat tinggal yang rendah, fana dan pasti akan binasa. Wa maa ‘indallaaHi khairuw wa abqaa (“dan yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.”) yakni pahala di sisi Allah lebih baik daripada dunia, karena dia adalah kekal selama-lamanya. Maka janganlah mendahulukan sesuatu yang fana atas sesuatu yang kekal.

Untuk itu Allah berfirman: lilladziina aamanuu (“Bagi orang-orang yang beriman.”) yaitu bagi orang-orang yang sabar dalam meninggalkan kelezatan dunia. Wa ‘alaa rabbiHim yatawakkaluuna (“Dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakal”) yakni guna menolong mereka bersikap sabar dalam menunaikan berbagai kewajiban dan meninggalkan berbagai larangan. Kemudian Allah berfirman: walladziina yajtanibuuna kabaa-iral itsmi wal fawaahisya (“Dan [bagi] orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji.”) pembicaraan tentang dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji telah dijelaskan dalam surah al-A’raaf. Wa idzaa maa ghadlibuu Hum yaghfiruuna (“Dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf.”) yakni tabiat mereka menyebabkan mereka berlapang dada dan memaafkan manusia, bukan mendendam manusia.

Tercantum di dalam hadits shahih, bahwa Rasulullah saw. tidak mendendam untuk dirinya sedikitpun, kecuali bila larangan-larangan Allah dilanggar.
Di dalam hadits lain, beliau bersabda kepada salah seorang kami, ketika mencela: “Mengapa dia, rugilah apa yang diperbuatnya.”

Firman Allah: walladziinas tajaabuu rabbaHum (“dan [bagi] orang-orang yang menerima [mematuhi] seruah Rabbnya.”) yakni mengikuti Rasul-Nya, mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Wa aqaamush shalaata (“dan mendirikan shalat.”) dan shalat merupakan ibadah terbesar kepada Allah.
Wa amruHum syuuraa bainaHum (“sedang urusan mereka [diputuskan] dengan musyawarah antara mereka.”) yaitu, mereka tidak menunaikan satu urusan hingga mereka bermusyawarah agar mereka saling mendukung dengan pendapat mereka, seperti dalam peperangan dan urusan sejenisnya, sebagaimana firman Allah: wa syaawirHum fil amri (“dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan ini.”)(Ali Imraan: 159)

Untuk itu Rasulullah saw. bermusyawarah dengan para shahabat dalam menentukan peperangan dan urusan sejenisnya, agar hati mereka menjadi baik. Demikian pula ketika Umar bin al-Khaththab menjelang wafat setelah ditusuk oleh seseorang, dijadikan masalah sesudahnya berdasarkan musyawarah enam orang shahabat, yaitu Utsman, ‘Ali, Thalhah, az-Zubair, Sa’ad dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf, maka para shahabat bermufakat untuk mengangkat Utsman.

Wa mimmaa razaqnaaHum yungfiquuna (“dan mereka menafkahkan sebagian dari rizky yang Kami berikan kepada mereka.”) hal itu dilakukan dengan berbuat baik kepada para makhluk Allah, dari mulai kerabat dan orang-orang terdekat setelahnya.
(bersambung ke bagian 11)

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syuura (9)

18 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syuura (Musyawarah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 42: 53 ayat

Firman Allah: wa Huwalladzii yunazzalul ghaitsa mim ba’di maa qanathuu (“dan Dia-lah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa.”) yaitu setelah manusia berputus asa akan turunnya hujan, dengan menurunkannya di saat mereka membutuhkannya dan amat menghajatkannya, seperti firman Allah: “Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar berputus asa.” (ar-Ruum: 49)

Firman Allah: wa yansyuru rahmataHu (“Dan menyebarkan rahmat-Nya.”) yaitu menyamakan keberadaannya untuk penduduk dan wilayah itu.
Qatadah berkata: Telah diceritakan kepada kami, bahwa seorang laki-laki berkata kepada ‘Umar bin al-Khaththab: “Hai Amirul Mukminin, hujan tidak turun dan manusia mulai berputus asa.” Umar berkata: “Kalian akan ditimpa hujan.” Lalu ia membaca: wa Huwalladzii yunazzalul ghaitsa mim ba’di maa qanathuu wa yansyuru rahmataHu wa Huwal ‘aliyyul hamiid (“Dan menyebarkan rahmat-Nya.”) (“dan Dia-lah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dia-lah Yang Mahamelindungi lagi Mahaterpuji.”) Dia-lah Yang mengatur urusan makhluk-Nya dengan sesuatu yang memberikan manfaat bagi dunia dan akhirat mereka. Dia-lah Mahaterpuji kesudahannya dalam seluruh apa yang ditentukan dan diperbuat-Nya.

tulisan arab alquran surat asy syuura ayat 29-31“29. di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya. 30. dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). 31. dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah.” (asy-Syuura: 29-31)

Allah berfirman: wa min aayaatiHii (“dan di antara ayat-ayat-Nya.”) yakni yang menunjukkan keagungan-Nya, keperkasaan-Nya yang besar dan kekuasaan-Nya yang memaksa, khalqus samaawaati wal ardli wa maa batstsa minHumaa (“Ialah menciptakan langit dan bumi dan Dia sebarkan di antara keduanya.”) yaitu Dia menciptakan di antara keduanya yaitu langit dan bummii, min daabbaH (“makhluk-makhluk yang melata.”) mencakup para malaikat, manusia, jin dan seluruh hewan dengan bentuk, warna, bahasa, tabiat, jenis dan macam-macam mereka. Dia menebarkan mereka di seluruh pelosok langit dan bumi. Wa Huwa (“Dan Dia.”) di samping seluruhnya ini, ‘alaa jam’iHim idzaa yasyaa-u qadiir (“Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.”) yaitu pada hari kiamat, Dia mengumpulkan makhluk pertama dan makhluk terakhir serta seluruhnya di satu padang, dimana orang yang menyeru akan didengar mereka, dan pandangan mata akan menjangkau mereka. Lalu Dia menghukum mereka dengan hukum-Nya yang adil dan benar.

Firman Allah: wa maa ashaabakum mim mushiibatin fabimaa kasaba aidiikum (“Dan apa saja musibah yang menimpamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.”) apa saja musibah yang menimpa kalian hai manusia, maka hanyalah disebabkan kesalahan-kesalahan yang kalian lakukan. Wa ya’fuu ‘ang katsiir (“Dan Allah memaafkan sebagian besar.”) yakni dari kesalahan-kesalahan kalian. Maka Dia tidak membalas kalian dengan kesalahan pula, bahkan Dia memaafkannya. “Jikalau Allah menghukum manusia karena kedhalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu makhluk pun dari makhluk yang melata.” (an-Nahl: 61)

Dinyatakan dalam sebuah hadits shahih: “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada sesuatupun yang menimpa seorang mukmin, berupa kesalahan, penyakit, kesedihan dan duka cita, melainkan Allah akan menghapuskan dari dosa-dosanya, sampai-sampai duri yang menusuk kakinya [sekalipun].”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa ‘Ali berkata: Maukah kuberitahukan kepada kalian ayat dalam Kitabullah yang paling utama, dimana Rasulullah saw. bercerita kepada kami tentang hal itu. Beliau bersabda: “’Dan apa saja musibah yang menimpamu, maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendir dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu.’ Dan aku akan menafsirkannya untukmu hai Ali: Tidak ada satupun yang menimpamu, berupa penyakit, hukuman atau cobaan di dunia, maka disebabkan oleh tangan kalian sendiri. Sedangkan Allah Mahapenyantun untuk menimpakan lagi hukuman-Nya di akhirat. Dan apa saja yang Allah maafkan di dunia, maka Allah Mahapemurah untuk kembali [menghukumnya] setelah memberikan maaf-Nya.’”
(Demikian pula diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Marwan bin Mu’awiyah dan ‘Abdah, dari Abu Sakhilah, bahwa ‘Ali ra. berkata, lalu dia menyebutkannya secara marfu’)

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jika dosa seorang hamba begitu banyak, sedangkan dia tidak memiliki sesuatu yang dapat menghapusnya, maka Allah akan mengujinya dengan kedukaan agar dapat menghapusnya.”

tulisan arab alquran surat asy syuura ayat 32-35“32. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal di tengah (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung. 33. jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, Maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaannya) bagi Setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur, 34. atau kapal-kapal itu dibinasakan-Nya karena perbuatan mereka atau Dia memberi maaf sebagian besar (dari mereka). 35. dan supaya orang-orang yang membantah ayat-ayat (kekuasaan) Kami mengetahui bahwa mereka sekali-kali tidak akan memperoleh jalan ke luar (dari siksaan).” (asy-Syuura: 32-35)

Allah berfirman bahwa di antara ayat-ayat-Nya yang menunjukkan keperkasaan-Nya yang hebat, dan kekuasaan-Nya adalah ditundukkan-Nya lautan agar kapal-kapal dapat berlayar sesuai dengan perintah-Nya: kal a’laam (“seperti gunung-gunung”) demikian yang dikatakan oleh Mujahid, al-Hasan, as-Suddi dan adl-Dlahhak. Maksudnya kapal-kapal di lautan itu seperti gunung-gunung di daratan.

Firman-Nya: iy yasyaa-u yuskinir riiha (“Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin”) yaitu yang menggerakkan kapal-kapal di lautan. Seandainya Dia menghendaki, niscaya Dia akan mendiamkannya, sehingga kapal-kapal itu tidak dapat bergerak, bahkan tetap diam, tidak pergi dan tidak pulang, terus berhenti di permukaan air. Inna fii dzaalika la-aayaati likulli shabbaarin (“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda [kekuasaan]Nya bagi setiap orang yang banyak bersabar.”) yakni dalam menghadapi kesulitan. Syakuur (“dan banyak bersyukur”) yakni sesungguhnya di dalam proses ditundukkan-Nya lautan dan ditiupkannya angin sesuai kebutuhan perjalanan mereka terdapat tanda-tanda atas segala nikmat yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya bagi orang-orang yang banyak bersabar dalam menghadapi berbagai kesulitan dan banyak bersyukur di saat memperoleh kesenangan.
(bersambung ke bagian 10)

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syuura (8)

18 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syuura (Musyawarah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 42: 53 ayat

tulisan arab alquran surat asy syuura ayat 25-28“25. dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan, 26. dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras. 27. dan Jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha melihat.28. dan Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. dan Dialah yang Maha pelindung lagi Maha Terpuji.” (asy-Syuura: 25-28)

Allah berfirman tentang karunia-Nya yang dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya dengan diterimanya taubat mereka jika mereka bertaubat dan kembali kepada-Nya. Dan di antara kemuliaan dan kemurahan-Nya adalah memaafkan, menghapuskan, menutupi dan mengampuni, seperti firman Allah yang artinya: “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah [adalah] Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (an-Nisaa’: 10)

Tercantum dalam shahih Muslim –semoga rahmat Allah untuknya, dia berkata: Muhammad bin ash-Shabah dan Zubair bin Harb berkata: Umar bin Yunus meriwayatkan kepada kami, dari ‘Ikrimah bin ‘Ammar, dari Ishaq bin Abi Thalhah, bahwa pamannya, yaitu Anas bin Malik berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala amat bergembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat [melebihi] dibanding dengan [kegembiraan] seseorang di antara kalian yang sedang mengendarai binatang tunggangan di tengah padang pasir. Lalu binatang tunggangannya itu tiba-tiba lenyap, padahal di atasnya terdapat makanan dan minumannya. Saat ia berputus asa mencarinya, lalu iapun mendatangi sebuah pohon dan berbaring di bawahnya. Tiba-tiba binatang kendaraannya itu berada di sisinya, lalu iapun mengambil tali pengikatnya. Kemudian ia berkata karena amat gembiranya: ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah rabb-Mu,’ dia salah berkata karena gembiranya.”
Tercantum juga dalam sebuah kitab shahih, dalam riwayat ‘Abdullah bin Mas’ud dengan redaksi serupa.

Firman Allah: wa ya’fuu ‘anis sayyi-aati (“dan memaafkan kesalahan-kesalahan.”) yaitu menerima taubat pada masa yang akan datang dan memaafkan kesalahan-kesalahan di masa lalu. Wa ya’lamu maa taf’aluuna (“dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.”) yaitu Dia Mahamengetahui seluruh apa yang kalian kerjakan, lakukan dan katakan. Di samping itu, Dia pun menerima taubat orang yang mau bertaubat kepada-Nya.

Firman Allah: wa yastajiibulladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati (“Dan Dia memperkenankan [doa] orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang shalih.”) as-Suddi berkata: “Yaitu mengabulkan bagi mereka.” Begitu pula Ibnu Jarir berkata: “Maknanya adalah mengabulkan doa mereka untuk mereka sendiri, shahabat-shahabat mereka dan saudara-saudara mereka. Dia menceritakan dari sebagian ahli nahwu, yang menjadikannya seperti firman Allah: fastajaaba laHum rabbuHum (“Lalu Rabb mereka memperkenankan bagi mereka.”)(Ali ‘Imraan: 195)

Ibnu Jarir menceritakan dari sebagian ahli bahasa Arab yang menjadikan firman Allah: alladziina yastami-‘uunal qaula (“orang-orang yang mendengarkan perkataan.”)(az-Zumar: 18). Yaitu mereka menerima kebenaran dan mengikutinya, seperti firman Allah: “Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi [seruan Allah], dan orang-orang yang meninggal akan dibangkitkan oleh Allah.” (al-An’am: 36). Makna yang pertama lebih jelas berdasarkan firman Allah: wa yaziiduHum min fadl-liHi (“Dan menambahkan [pahala] kepada mereka dari karunia-Nya.”) yaitu, Dia memperkenankan doa-doa mereka dan memberikan tambahan lagi mereka di atas semua itu.

Untuk itu, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Abdullah, bahwa Rasulullah saw. bersabda tentang firman Allah: wa yaziiduHum min fadl-liHi (“Dan menambahkan [pahala] kepada mereka dari karunia-Nya.”): “Syafaat [itu] bagi orang yang harus masuk api neraka di antara orang yang telah melakukan kebaikan kepada mereka di dunia.”

Qatadah bekata bahwa Ibrahim an-Nakha’i berkata tentang firman Allah: wa yastajiibulladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati (“Dan Dia memperkenankan [doa] orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang shalih.”) yakni mereka memberi syafaat kepada saudara-saudara mereka. wa yaziiduHum min fadl-liHi (“Dan menambahkan [pahala] kepada mereka dari karunia-Nya.”) yakni mereka memberikan syafaat kepada para saudaranya saudara-saudara mereka.”

Firman Allah: wal kaafiruuna laHum ‘adzaabun syadiidun (“Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka adzab yang sangat keras.”) setelah Dia menyebutkan orang-orang beriman dan pahala yang melimpah yang mereka dapatkan, Dia pun menyebutkan orang-orang kafir dan adzab yang pedih yang menyakitkan yang mereka peroleh pada hari kiamat, yaitu hari kembali dan hari perhitungan mereka.

Firman Allah: walau basathallaaHur rizqa li-‘ibaadiHii labaghau fil ardli (“Dan jikalau Allah melapangkan rizky kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi.”) seandainya Dia memberikan kepada mereka rizky di atas kebutuhan mereka, niscaya hal itu akan membawa mereka berlaku sewenang-wenang dan saling mendhalimi satu dengan yang lainnya karena angkuh dan sombong.
Qatadah berkata: “Ada ungkapan: kehidupan yang baik adalah yang tidak melalaikanmu dan tidak menjadikanmu melampaui batas.”

Firman Allah: wa laa kiy yunazzalu biqadarim maa yasyaa-u innaHuu bi-‘ibaadiHii khabiirum bashiir (“Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Mahamengetahui [keadaan] hamba-hamba-Nya lagi Mahamelihat.”) yaitu, akan tetapi Dia memberikan rizky kepada mereka sesuatu yang dipilih-Nya untuk kemashlahatan mereka. Dia mengetahui tentang hal tersebut. Dia menjadikan kaya orang yang berhak menerima kekayaan dan menjadikan fakir kepada orang yang berhak menerima kefakiran.
(bersambung ke bagian 9)

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syuura (7)

18 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syuura (Musyawarah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 42: 53 ayat

Di dalam hadits shahih, bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq berkata kepada Ali: “Demi Allah, sesungguhnya kerabat Rasulullah saw. lebih aku cintai daripada aku sambung kerabatku.”

Umar bin al-Khaththab berkata kepada al-‘Abbas: “Demi Allah, keislamanmu pada hari engkau masuk Islam lebih aku cintai daripada keislaman al-Khaththab tatkala dia masuk Islam. Karena kislamanmu lebih dicintai Rasulullah daripada keislaman al-Khaththab.”

Sikap dua tokoh shahabat itu wajib kita lakukan. Karena itulah, kedua tokoh ini menjadi manusia paling utama setelah para Nabi dan Rasul-Nya, semoga Allah meridlai keduanya dan seluruh shahabat.

Imam Ahmad meriwayatkan, Isma’il bin Ibrahim bercerita kepadaku, dari Abu Hayyan at-Taimi, bahwa Yazid bin Hayyan berkata: Aku, Husain bin Maisarah dan Umar bin Muslim berangkat menuju Zaid bin Arqam. Ketika kami duduk, Hushain berkata: “Hai Zaid, engkau telah mendapatkan banyak kebaikan. Engkau melihat Rasulullah saw., mendengarkan haditsnya, ikut berperang dan shalat bersamanya. Hai Zaid, engkau telah melihat banyak kebaikan, maka ceritakanlah kepada kami apa yang engkau dengar dari Rasulullah saw.” Lalu dia berkata: “Hai anak saudaraku, umurku telah lanjut, masaku telah berlalu dan aku telah lupa dengan sebagian yang aku hafal dari Rasulullah saw. Maka apa saja yang aku ceritakan kepdamu, terimalah. Dan apa saja yang tidak kuceritakan, jangan kalian bebankan diriku dengannya.” Kemudian dia berkata: “Pada suatu hari Rasulullah saw. berdiri menyampaikan khutbah di sebuah kolam yang disebut Khumm, antara Makkah dan madinah. Beliau memuji dan mengagungkan Allah, mengingatkan dan memberi nasehat. Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Adapun setelah itu hai sekalian manusia, aku hanyalah manusia biasa yang sebentar lagi akan didatangi oleh utusan Rabb-ku [malaikat], lalu aku memperkenankannya. Dan sesungguhnya aku tinggalkan bagi kalian dua perkara penting: pertama Kitabullah yang mengandung hidayah dan cahaya. Maka, ambillah dan berpegang teguhlah dengan kitabullah.”

Beliau menganjurkan dan mengajak kepada kitabullah. Beliau melanjutkan: “Dan ahlu Baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlu Baitku dan aku ingatkan kepada Allah tentang Ahlu Baitku.”
Husain bertanya kepadanya: “Siapakah Ahlu Bait beliau, wahai Zaid? Bukankah istri-istri beliau termasuk ahlu Baitnya?” Dia menjawab: “Istri-istri beliau tidak termasuk Ahlu Baitnya. Akan tetapi Ahlu Baitnya adalah orang yang haram mendapatkan shadaqah setelahnya.” Husain bertanya: “Siapakah mereka?” Zaid menjawab: “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Uqail, keluarga Ja’far dan keluarga al-‘Abbas.” Husain bertanya kembali: “Apakah kepada mereka semua diharamkan harta shadaqah?” Zaid menjawab: “Ya.” (demikianlah diriwayatkan oleh Muslim dan an-Nasa-i dari berbagai jalan melalui Yazid bin Hayyan).

Penulis tafsir ini telah menyampaikan pula hadits-hadits lain dalam firman Allah: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa darimu, hai Ahlu Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (al-Ahzab: 33) yang tidak perlu lagi diulang disini.

Firman Allah: wa may yaqtarif hasanatan nazidlaHuu fiiHaa husnaa (“dan siapa yang mengerjakan kebaikan, Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu.”) yaitu barangsiapa yang melakukan kebaikan, Kami akan tambahkan baginya kebaikan, yakni sebagai balasan dan pahalanya. Sebagian ulama salaf berkata: “Sesungguhnya di antara pahala kebaikan adalah satu kebaikan setelahnya. Dan di antara balasan keburukan adalah satu keburukan setelahnya.”
Firman Allah: innallaaHa ghafuurun syakuur (“Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahamensyukuri.”) yaitu Dia mengampuni banyak kesalahan dan mengampuni [kesalahan] serta melipatgandakan dan mensyukuri [kebaikan].

Firman Allah: am yaquuluunaf taraa ‘alallaaHi kadziban fa iy yasya-illaaHu yakhtim ‘alaa qalbika (“Bahkan mereka mengatakan: ‘Dia [Muhammad] telah mengada-adakan dusta terhadap Allah.’ Maka jika Allah menghendaki, niscaya Dia mengunci mati hatimu.”) maksudnya, seandainya engkau membuat kedustaan terhadap Allah, sebagaimana yang dikira oleh orang-orang jahil itu. Yakhtim ‘alaa qalbika (“Niscaya Dia mengunci mati hatimu.”) yaitu menutup rapat hatimu dan menghapuskan apa yang engkau peroleh dari al-Qur’an.

Firman Allah: wa yamhullaaHul baathila; bukan di-‘athaf [dihubung]kan dengan firman-Nya: yakhtim, sehingga menjadi dijazmkan, akan tetapi dia dirafa’kan sebagai mubtada’. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Jarir. Dia berkata: “wawu dibuang dalam penulisannya di mush-haf imam [induk], sebagaimana dibuang pula dalam firman-Nya: sanad’uz zabaaniyata bilkhairi; dan firman Allah: wa yad’ul insaanu bisysyarri du-‘aa-uHu.

Firman Allah: wayuhiqqul haqqa bikalimaatiHi (“Dan membenarkan yang haq dengan kalimat-kalimat-Nya.”) di-‘athafkan atas: wa yamhullaaHul baathila wa yuhiqqul haqqa; yaitu: menjelaskan, menetapkan, dan menegaskan yang haq dengan kalimat-kalimat-Nya, yaitu hujjah dan bukti-bukti-Nya. innaHuu ‘aliimum bidzaatish shuduuri (“Sesungguhnya Dia Mahamengetahui segala isi hati.”) yaitu sesuatu yang disembunyikan dalam dada dan disimpan dalam rahasia.
(bersambung ke bagian 8)

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syuura (6)

18 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syuura (Musyawarah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 42: 53 ayat

Firman Allah: walladziina aamanuu wa-‘amilush shaalihaati fii raudlaatil jannaati laHum mua yasyaa-uuna ‘inda rabbiHim (“Dan orang-orang yang beriman dan beramal shalih [berada] di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Rabb mereka.”) betapa beda antara golongan pertama dengan golongan kedua ini? Betapa beda antara orang yang ketika di padang kiamat berada dalam kehinaan, kerendahan dan rasa takut yang mencekam karena kedhalimannya dengan orang-orang yang berada dalam surga-surga penuh kenikmatan yang mereka inginkan berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, pemandangan, pernikahan dan berbagai kelezatan yang belum pernah dilihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terlintas dalam hati manusia.

Untuk itu Allah berfirman: dzaalika Huwal fadl-lul kabiir (“Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”) yaitu kebahagiaan yang besar serta kenikmatan yang sempurna, lengkap, meliputi dan menyeluruh.

tulisan arab alquran surat asy syuura ayat 23-24“23. Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. 24. bahkan mereka mengatakan: ” Dia (Muhammad) telah mengada-adakan Dusta terhadap Allah “. Maka jika Allah menghendaki niscaya Dia mengunci mati hatimu; dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (Al Quran). Sesungguhnya Dia Maha mengetahui segala isi hati.” (asy-Syuura: 23-24)

Setelah selesai menyebutkan taman-taman surga bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal shalih, Allah berfirman: dzaalikalladzii yubasysyirullaaHu ‘ibaadaHulladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati (“Itulah [karunia] yang [dengan itu] Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal shalih.”) yakni, hal itu pasti akan terjadi untuk mereka sebagai kabar gembira dari Allah Ta’ala.

Firman Allah: qul laa as-alukum ‘alaiHi ajran illal mawaddata fil qurbaa (“Katakanlah: ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku, kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.”) yaitu katakanlah hai Muhammad, kepada orang-orang musyrik kafir Quraisy: “Aku tidak meminta kepada kalian atas penyampaian dan nasehat yang aku berikan suatu upah berupa harta benda yang dapat kalian berikan. Aku hanya meminta kalian untuk menahan keburukan kalian dariku dan membiarkan aku menyampaikan risalah Rabb-ku. Jika kalian tidak mau membantuku, maka janganlah kalian menyakitiku, karena kekerabatan yang ada antara aku dan kalian.”

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa beliau ditanya tentang firman Allah Ta’ala: illal mawaddata fil qurbaa (“kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”) lalu Sa’id bin Jubair menjawab: “Kekeluargaan adalah keluarga Muhammad.” Maka, Ibnu Abbas berkata: “Engkau terlalu tergesa-gesa. Sesungguhnya Nabi saw., tidak ada kabilah dari Quraisy, melainkan beliau memiliki kekerabatan dengan mereka.” Maka beliau mengatakan: “Artinya, kecuali kalian menjalin kekerabatan antara aku dan kalian.” (al-Bukhari meriwayatkannya sendirian. Dan Imam Ahmad meriwayatkannya dari Yahya al-Qaththan, dari Syu’bah. Demikian yang diriwayatkan oleh ‘Amir asy-Sya’bi, adl-Dlahhak, ‘Ali bin Abi Thalhah, al-‘Aufi, Yusuf bin Mihran dan lain-lain, dari Ibnu ‘Abbas. Pendapat itu pula yang dikemukakan oleh Mujahid, ‘Ikrimah, Qatadah, as-Suddi, Abu Malik, ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan lain-lain).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Aku tidak meminta kepada kalian atas penjelasan dan hidayah yang aku sampaikan, kecuali saling mencintai Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan mentaati-Nya.

Demikian pula yang diriwayatkan oleh Qatadah dari al-Hasan al-Bashri. Seakan-akan ini menjadi pendapat kedua tentang tafsir ayat ini, dimana seolah-olah dia berkata: “Kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan, yaitu, kecuali kalian mengamalkan ketaatan dan dapat mendekatkan diri kalian di sisi Allah.”
Sedangkan pendapat ketiga adalah apa yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan lain-lain, salahsatu riwayat dari Sa’id bin Jubair, bahwa dia mengatakan: “Kecuali kalian saling kasih mengasihi dalam kekerabatanku.” Yaitu kalian berbuat baik dan berbakti kepada mereka. Tafsir yang benar adalah tafsir yang dikemukakan oleh seorang ulama umat dan penerjemah al-Qur’an, yaitu Ibnu ‘Abbas, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Kita tidak mengingkari berbuat baik kepada ahlul Bait, serta memerintahkan bersikap hormat dan memuliakan mereka, karena mereka adalah keturunan suci dari rumah tersuci yang ada di muka bumi, baik keagungan kehormatan maupun keturunan. Apalagi jika mereka mengikuti sunnah Nabawiyyah yang shahih, tega dan jelas, sebagaimana yang ada pada pendahulu mereka, seperti al-‘Abbas dan anak-anaknya, serta ‘Ali, Ahlul Bait dan keturunannya. Semoga Allah meridlai mereka semuanya.

Tercantum dalam hadits shahih, bahwa Rasulullah saw. bersabda dalam khutbahnya di Ghadirkhum: “Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua hal berharga; Kitabullah dan keluargaku. Sesungguhnya keduanya tidak akan terpisah hingga keduanya mendatangi [menuju] haudh [telaga].”

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib berkata: Aku berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya orang Quraisy, jika saling berjumpa satu dengan yang lainnya, mereka saling menebar kegembiraan. Dan jika mereka berjumpa dengan kita, seakan berjumpa dengan seseorang yang tidak mereka kenal.” Nabi sangat murka dan bersabda: “Demi Rabb yang jiwaku ada di tangan-Nya, iman itu tidak akan masuk ke dalam hati seseorang hingga ia mencintai kalian karena Allah dan Rasul-Nya.”

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Abu Bakar berkata: “Perhatikanlah Muhammad saw. pada Ahlu Baitnya.”
(bersambung ke bagian 7)

Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syuura (5)

18 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syuura (Musyawarah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 42: 53 ayat

tulisan arab alquran surat asy syuura ayat 19-22“Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah yang Maha kuat lagi Maha Perkasa. Barang siapa yang menghendaki Keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki Keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari Keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang Amat pedih. Kamu Lihat orang-orang yang zalim sangat ketakutan karena kejahatan- kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. yang demikian itu adalah karunia yang besar.” (asy-Syuura: 19-22)

Allah memberitahukan tentang kemahalembutan-Nya terhadap makhluk-Nya dalam memberikan rizky kepada mereka hingga akhir, dimana Dia tidak melupakan seorang pun juga di antara mereka, baik orang yang berbakti maupun orang yang durhaka. Seperti firman Allah: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rizkynya, dan Dia mengetahui tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata [Lauhul Mahfudh].” (Hudd: 6)

Firman Allah: yarzuqu may yasyaa-u (“Dia memberi rizky kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”) yaitu Dia melapangkan [bagi] siapa saja yang dikehendaki-Nya. Wa Huwal qawiyyul ‘aziiz (“Dan Dia-lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.”) tidak ada sesuatupun yang dapat melemahkan-Nya.

Man kaana yuriidu hartsal aakhiraH (“barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat.”) yakni amal akhirat. Nazid laHuu fii hartsiHi (“Akan Kami tambah keuntungan itu baginya.”) yakni Kami dukung dan Kami bantu atas apa yang sedang diusahakannya, serta Kami perbanyak pertumbuhannya dan Kami balas satu kebaikan dengan berbanding sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat hingga batas yang dikehendaki Allah.

Wa man kaana yuriidu hartsad dun-yaa nu’tiiHi minHaa wa maa laHuu fil aakhirati min nashiib (“Dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.”) artinya, dan barangsiapa yang usahanya hanya untuk mencapai bagian dunia, tidak ada satu pun [ditujukan] untuk kepentingan akhirat sama sekali, niscaya Allah mengharamkan baginya dunia dan akhirat. Jika Dia menghendaki, Dia akan berikan sebagian dari dunia, dan jika Dia tidak menghendaki, Dia tidak akan memperolehnya baik di dunia maupun di akhirat. Dengan niat ini, si pelaku akan memperoleh perniagaan yang merugi di dunia dan di akhirat.

Dalil dalam masalah ini bahwa ayat ini dibatasi dengan ayat yang terdapat dalam surah al-Israa’, yaitu firman Allah yang artinya:
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam Keadaan tercela dan terusir. Dan Barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). dan pasti kehidupan akhirat lebih Tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (al-Israa’: 17-21)

Ats-Tsauri berkata dari Ma’mar, dari Abul ‘Aliyah, bahwa Ubay bin Ka’ab ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Gembirakanlah umat ini dengan kemuliaan, ketinggian, kemenangan dan kekuasaan di muka bumi. Barangsiapa di antara mereka yang beramal dengan amal akhirat guna meraih dunia, niscaya ia tidak akan mendapatkan sedikit pun bagian di akhirat.”

Firman Allah: am laHum syurakaa-u syara’uu laHum minaddaini maa lam ya’dzam biHillaaH (“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?”) yakni, mereka tidak mengikuti agama lurus yang disyari’atkan Allah kepadamu, bahkan mereka mengikuti apa yang disyariatkan oleh syaitan dari jin dan manusia, seperti mengharamkan apa yang mereka haramkan atas diri mereka sendiri, berupa Bahiirah, saa-ibah, wahiilah dan Haam, serta menghalalkan memakan bangkai, darah, judi dan berbagai bentuk kesesatan dan kebodohan yang bathil yang dahulu mereka buat-buat di masa jahiliyyah dalam bentuk penghalalan, pengharaman, ibadah-ibadah yang bathil dan harta-harta yang rusak.

Ditegaskan dalam kitab Shahih, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Aku melihat ‘Amr bin Luhay bin Qama’ah menarik ususnya di dalam neraka.”
Karena dialah yang pertama kali membuat saa-ibah. Laki-laki ini adalah seorang raja Khuza’ah. Dia yang pertama kali melakukan itu dan membawa orang Quraisy melakukan penyembahan kepada berhala-berhala, semoga Allah melaknat dan mengutuknya.

Firman Allah: wa lau laa kalimatul fashli laqudliya bainaHum (“Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan [dari Allah], tentulah mereka telah dibinasakan.”) artinya, hukuman mereka akan disegerakan, seandainya tidak ada ketetapan terdahulu yang menundanya hingga hari kembali. wa innadhdhaalimiina laHum ‘adzaabun aliim (“Dan sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu akan memperoleh adzab yang amat pedih.”) yakni, sangat menyakitkan di neraka jahanam dan itulah sejelek-jelek tempat kembali.

Kemudian firman Allah: taradhdhaalimiina musyfiqiina mimmaa kasabuu (“Kamu lihat orang-oang yang dhalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan.”) yaitu, di padang kiamat. Wa Huwa waaqi-‘um biHim (“Sedang siksaan menimpa mereka.”) yaitu siksaan yang mereka takutkan itu pasti menimpa mereka. Begitulah kondisi mereka di hari kiamat dalam keadaan takut dan khawatir.
(bersambung ke bagian 6)