Tag Archives: ayat 32-35

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Naml ayat 32-35 (7)

22 Mei

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml (Semut)
Surah Makkiyyah; surah ke 27: 93 ayat

tulisan arab alquran surat an naml ayat 32-35“32. berkata Dia (Balqis): “Hai Para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)”. 33. mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: Maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”. 34. Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia Jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. 35. dan Sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”. (An-Naml ayat 32-35)

Ketika ratu telah membacakan surat Nabi Sulaiman as. kepada mereka, ia pun bermusyawarah dengan mereka tentang urusan tersebut dan apa [kira-kira] yang akan terjadi. Untuk itu ia berkata, yaa ayyuHal mala-u aftuunii fii amrii maa kuntu qaathi’atan amran hattaa tasyHaduun (“Hai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku [ini], aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)”.) yaitu hingga kalian datang dan mengemukakan pendapat kalian.

Qaaluu nahnu uluu quwwatiw wa uluu ba’sin syadiidin (“mereka menjawab: ‘Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan [juga] memiliki keberanian yang sangat [dalam peperangan],’”) mereka menyebutkan kuantitas, kualitas dan kekuatan mereka, dan setelah itu mereka menyerahkan urusan tersebut kepada sang ratu. Mereka berkata: wal amru ilaiki fandhurii maa dzaa taraa (“keputusan berada ditanganmu: Maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”.) kami tidak memiliki kebiasaan membangkang dan juga tidak mengapa bagi kami jika engkau hendak mendatangi dan memeranginya. Setelah itu semua, terserah padamu, maka perintahkanlah kami dengan pendapatmu yang akan kami junjung tinggi dan taati.

Al-Hasan al-Bashri berkata: “Mereka menyerahkan urusan mereka kepada sang ratu. Ketika mereka telah mengemukakan pendapat, maka tentu ratu memiliki pendapat yang lebih kuat dan lebih mengerti tentang urusan Nabi Sulaiman.” Ratu berkata kepada mereka: “Aku takut, jika memerangi dan membangkang kepadanya, dia akan datang kepada kita dengan membawa bala tentaranya dan menghancurkan kita serta membuat kehancuran dan kebinasaan tanpa sisa.” Untuk itu ia berkata:

Iinal muluuka idzaa dakhaluu qaryatan afsaduuHaa (“Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka menghancurkannya.”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Yaitu apabila mereka memasuki suatu negeri untuk mengadakan penyerangan, niscaya mereka menghancurkannya, yaitu membinasakannya.” Wa ja’aluu a-‘izzata aHliHaa adzillatan (“Dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina”) mereka mengincar para pembesar dan tentara untuk dihinakan serendah-rendahnya, baik dengan membunuhnya maupun menawannya.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Balqis berkata: ‘Iinal muluuka idzaa dakhaluu qaryatan afsaduuHaa Wa ja’aluu a-‘izzata aHliHaa adzillatan (“Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka menghancurkannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina”)
Rabb berfirman: wa kadzaalika yaf’aluun (“Dan memang demikianlah yang mereka perbuat.”)
Kemudian dia mencoba melakukan perundingan, perdamaian, diplomasi dan dialog, dimana dia berkata: wa innii mursilatun ilaiHim biHadiyyatin fanaadhiratun bimaa yarji’ul mursaliin (“Dan sesungguhnya aku akan mengirimkan utusan kepada mereka dengan [membawa] hadiah, dan [aku akan] menunggu apa yang akan dibawa oleh utusan-utusan itu.”) yakni aku akan mengutus seseorang untuk membawa hadiah yang pantas dan aku akan tunggu apa yang akan dijawabnya. Mudah-mudahan ia mau menerimanya dan menahan diri dari menyerang kita. Atau ia akan menetapkan pajak yang harus kita serahkan kepadanya setiap tahun dan tidak membunuh dan menyerang kita.”

Qatadah berkata, “Dia tetap paling cerdik, baik pada masa keislaman maupun di saat dia masih musyrik. Dia mengetahui bahwa hadiah akan sangat berpengaruh pada manusia.” Ibnu ‘Abbas dan lain-lain berkata, “Ia berkata kepada kaumnya, jika ia mau menerima hadiah itu berarti ia adalah seorang raja, maka perangilah ia. Dan jika ia tidak menerimanya, itu berarti ia adalah seorang Nabi, maka ikutilah dia.”

Bersambung ke bagian 8