Tag Archives: az-zumar

Mewarnai Gambar Kaligrafi Nama Surah Az-Zumar

22 Okt

Mewarnai Gambar Kaligrafi
Nama-Nama Surah Al-Qur’an Anak Muslim

mewarnai gambar kaligrafi nama surah az-zumar

39. Az-Zumar

27 Nov

Pembahasan Tentang Surat-Surat Al-Qur’an (Klik di sini)
Tafsir Ibnu Katsir (Klik di sini)

Surat Az Zumar terdiri ataz 75 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Saba’. Dinamakan Az Zumar (Rombongan-rombongan) karena perkataan Az Zumar yang terdapat pada ayat 71 dan 73 ini. Dalam ayat-ayat tersebut diterangkan keadaan manusia di hari kiamat setelah mereka dihisab, di waktu itu mereka terbagi atas dua rombongan; satu rombongan dibawa ke neraka dan satu rombongan lagi dibawa ke syurga. Masing- masing rombongan memperoleh balasan dari apa yang mereka kerjakan di dunia dahulu. Surat ini dinamakan juga Al Ghuraf (kamar-kamar) berhubung perkataan ghuraf yang terdapat pada ayat 20, dimana diterangkan keadaan kamar-kamar dalam syurga yang diperoleh orang-orang yang bertakwa.

Pokok-pokok Isinya:

1. Keimanan:
Dalil-dalil ke-Esaan dan kekuasaan Allah; malaikat-malaikat berkumpul di sekeliling ‘arsy bertasbih kepada Tuhannya; pada hari kiamat tiap-tiap orang mempunyai catatan amalannya masing-masing.

2. Kisah-kisah:
Perintah memurnikan ketaatan kepada Allah; larangan berputus asa terhadap rahmat Allah.

3. Dan lain-lain:
Tabiat orang-orang musyrik dalam keadaan senang dan susah; perumpamaan dalam al Quran dan faedahnya; kedahsyatan hari kiamat; air muka orang musyrik dan air muka orang mukmin pada hari kiamat; janji Allah mengampuni orang-orang yang bersalah bila mereka bertaubat.
Dari surat Az Zumar dapat diambil pelajaran sebagai berikut:
a. Al Quran adalah petunjuk yang paling sempurna bagi manusia.
b. Tiap-tiap makhluk akan mati dan di akhirat akan dihisab tentang amalan-amalannya.
c. Sekalipun manusia itu banyak dosanya, dilarang berputus-asa terhadap rahmat Allah.

HUBUNGAN SURAT AZ ZUMAR DENGAN SURAT AL MU’MIN
1. Surat Az Zumar menerangkan bagaimana kesudahan orang-orang mukmin dan kesudahan orang-orang kafir yang selalu mengingkari Nabi yang diutus kepada mereka. Surat Al Mu’min menerangkan bahwa Allah mengampuni segala dosa hamba-Nya yang mau mengikuti jalan yang benar. Hal ini merupakan ajakan Allah kepada orang-orang kafir agar mereka beriman.
2. Sama-sama mengutarakan hal-hal yang berhubungan dengan keadaan hari kiamat, keadaan mahsyar, syurga dan neraka

Tafsir Ibu Katsir Surah Az-Zumar (19)

17 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Az-Zumar (Rombongan-Rombongan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 39: 75 ayat

Firman Allah: hattaa idzaa jaa-uuHaa wa futihat abwaabuHaa wa qaala laHum khazanatuHaa salaamun ‘alaikum thibtum fadkhuluuHaa khaalidiina (“Sehingga apabila mereka sampai di surga itu, sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaganya: ‘Keselamatan [dilimpahkan] atasmu, berbahagialah kamu. Maka masuklah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.’”) jawabannya [dari kata sehingga] tidak disebutkan di sini. Maknanya adalah, sehingga apabila sampai di surga itu – sedangkan perkara-perkara ini adalah dibukakan pintu-pintu untuk mereka sebagai penghormatan dan pengagungan terhadap mereka dan para malaikat penjaga menyampaikan kabar gembira dan salam serta pujian, seperti para malaikat Zabaniyah menyampaikan celaan dan hinaan kepada orang-orang kafir, maka jika demikian- mereka bergembira, ceria dan senang, sesuai kenikmatan yang mereka terima. Maka jawabannya dibuang disini, agar pilihan menerawang kepada harapan dan keinginan. Siapa yan mengira bahwa “wau” dalam firman Allah: wa futihat abwaabuHaa; adalah “wau” yang kedelapan, serta menjadikannya dalil bahwa pintu-pintu surga itu berjumlah delapan, maka amat jauh dari harapan dan tengah tenggelam dalam perbantahan. Karena [dalil tentang] pintu-pintu surga yang berjumlah delapan itu diambil dari hadits-hadits shahih.

Imam Ahmad meriwatkan, bahwasannya Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang harta [emas dan perak, sapi jantan dan betina dan lain-lain] dari hartanya di jalan Allah, maka ia dipanggil dari pintu-pintu surga. Sedangkan surga memiliki beberapa pintu. Barangsiapa rajin mengerjakan shalat, maka ia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa rajin bershadaqah, maka ia dipanggil dari pintu shadaqah. Barangsiapa berjihad, maka dia dipanggil dari pintu jihad. Dan barangsiapa yang berpuasa, maka dia dipanggil dari pintu ar-Rayyan.”
Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulallah, apakah setiap orang dipanggil dari pintu-pintu tersebut? Adakah orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?” Rasulullah menjawab: “Ya, dan aku berharap bahwa engkau termasuk dari mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Semuanya dari hadits Abu Hazim Salamah bin Dinar, dari Sahl bin Sa’ad r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya surga memiliki delapan pintu. Satu pintu diberi nama ar-Rayyan yang tidak dimasuki kecuali oleh orang-orang yang berpuasa.”

Di dalam Shahih Muslim dinyatakan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudlu, kemudian menyempurnakan wudlunya, lalu membaca: AsyHadu al laa ilaaHa illallaaHu wa anna muhammadan ‘abduHuu wa rasuuluHu, melainkan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang berjumlah delapan dan dia masuk dari pintu mana yang dia kehendaki.”

Hadits tentang luasnya pintu-pintu surga:
Di dalam ash-Shahihain, dari hadits Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah tentang syafaat yang panjang: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai Muhammad, masukkan umatmu yang tidak dihisab melalui pintu sebelah kanan. Mereka bebas masuk pintu-pintu lainnya bersama orang-orang lain.’ [Rasulullah saw. bersabda]: ‘Demi Rabb Yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, jarak di antara dua daun pintu surga adalah seperti Makkah dan Hajar [Sebuah kota Bahrain] –atau antara Hajar dan Makkah- dalam salah satu riwayat –antara Makkah dan Bushra-.”

Di dalam Shahih Muslim, dari ‘Utbah bin Ghazwan, bahwa dia berkhutbah kepada mereka dalam satu kesempatan khutbah, di dalamnya dia berkata: “Sungguh telah diceritakan kepada kami, sesungguhnya jarak di antara dua daun pintu adalah perjalanan empat puluh tahun. Pada suatu hari, ia penuh sesak.

Firman Allah: wa qaala laHum khazanatuHaa salaamun ‘alaikum thibtum (“Berkatalah kepada mereka para penjaga: ‘Kesejahteraan [dilimpahkan] atasmu, berbahagialah kamu.’”) yaitu baguslah amal-amal dan kata-kata kalian, baguslah sikap kalian dan baguslah balasan kalian. Sebagaimana Rasulullah saw. menyeru kaum Muslimin dalam sebagian peperangan: “Sesungguhnya surga tidak akan dimasuki kecuali oleh jiwa yang Muslim –dalam satu riwayat, yang mukmin.” (diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam Kitaabul Hajj)

Firman-Nya: fadkhuluuHaa khaalidiin (“Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.”) yaitu mereka tinggal di dalamnya, kekal selama-lamanya, tidak lagi mereka mengharap keluar. Ketika orang-orang Mukmin di dalam surga menyaksikan pahala yang melimpah, pemberian yang besar, nikmat yang kekal dan kerajaan yang agung, di saat itu mereka berkata: alhamdu lillaaHil ladzii shadaqanaa wa’daHu (“Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami.”) yaitu yang dulu Dia janjikan kepada kami melalui lisan-lisan para Rasul-Nya yang mulia. Sebagaimana yang mereka serukan di dunia: “Ya Rabb kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan Rasul-Rasul-Mu. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (Ali Imraan: 194)

Dan ucapan mereka: wa auratsanal ardla natabawwa-u minal jinnati haitsu nasyaa-u fani’ma ajrul ‘aamiliin (“Dia telah [memberi] kepada kami tempat ini, sedang kami [diperkenankan] menempati tempat dalam surga dimana saja kami kehendaki. Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.”) Abul ‘Aliyah, Abu Shalih, Qatadah, as-Suddi dan Ibnu Zaid berkata: “Yaitu bumi [tanah] surga. Ayat ini seperti firman Allah: “Dan sesungguhnya telah kami tulis di dalam Zabur sesudah [Kami tulis dalam] Lauhul Mahfudz, bahwasannya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shalih.”) (al-Anbiyaa’: 105).

Maka mereka berkata: natabawwa-u minal jannati haitsu nasyaa-u (“Sedang kami [diperkenankan] menempati tempat di surga dimana saja kami kehendaki.”) yaitu dimana saja kami kehendaki, kami akan tempati. Maka sebaik-baik pahala adalah pahala kami atas amal-amal kam.

Di dalam ash-Shahihain dari hadits az-Zuhri, bahwa Anas berkata mengenai kisah Mi’raj: Nabi saw. bersabda: “Aku dimasukkan ke surga, ternyata di dalamnya terdapat kubah-kubah permata dan tanah [lantai]nya adalah minyak kasturi.”

tulisan arab alquran surat az zumar ayat 75“Dan kamu [Muhammad] akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy, mereka bertasbih sambil memuji Rabb mereka; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: ‘Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.’” (az-Zumar: 75)

Ketika Allah menyebutkan ketetapan-Nya bagi penghuni surga dan neraka dan Dia tempatkan masing-masing di tempat yang layak dan pantas, sedang Dia Mahaadil dalam masalah tersebut tanpa mendhalimi mereka, Dia pun memberikan kabar tentang para malaikat, bahwa mereka melingkar di sekeliling ‘Arsy yang kokoh, berasbih dengan memuji-Nya, mengagungkan, menghormati, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan dan kedhaliman. Dia memutuskan berbagai masalah, menetapkan berbagai urusan dan menghukum dengan keadilan.

Wa qu-dliya bainaHum (“Dan diberi putusan di antara mereka”) yaitu di antara makhluk-makhluk-Nya; bil haqqi (“dengan adil”); wa qiilal hamdu lillaaHi rabbil ‘aalamiin (“Dan diucapkan: ‘Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.”) yaitu seluruh alam berbicara, baik yang mampu bicara maupun binatang-binatangnya, mereka berbicara kepada Allah Rabb semesta alam dengan pujian pada hukum dan keadilan-Nya.

Untuk itu, perkataan tersebut tidak disandarkan kepada siapa yang mengatakannya, bahkan dimutakkan. Hal tersebut menunjukkan bahwa seluruh makhluk menyaksikan-Nya dengan pujian. Qatadah berkata: “Penciptaan dibuka dengan pujian dalam firman Allah Ta’ala: alhamdulillaaHil ladzii khalaqas samaawaati wal ardla (“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi.”)(al-An’am: 1) dan Dia menutupnya pula dengan pujian dalam firman Allah: Wa qu-dliya bainaHum bil haqqi wa qiilal hamdu lillaaHi rabbil ‘aalamiin (“Dan diberi putusan di antara mereka dengan adil Dan diucapkan: ‘Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.”)

Sekian.

Tafsir Ibu Katsir Surah Az-Zumar (18)

17 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Az-Zumar (Rombongan-Rombongan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 39: 75 ayat

Firman Allah: qiiladkhuluu abwaaba jahannama khaalidiina fiiHaa (“Dikatakan [kepada mereka]: ‘Masukilah pintu-pintu neraka jahanam itu, sedang kamu kekal di dalamnya.’”) yaitu setiap orang yang melihat dan mengetahui kondisi mereka, dia akan menyaksikan bahwa mereka berhak mendapatkan siksa.

Untuk itu ucapan ini tidak disandarkan kepada orang tertentu, tetapi dimutlakkan agar menunjukkan bahwa alam ini menjadi saksi bagi mereka bahwa mereka memang berhak mengalami hal itu dengan ketetapan dari Rabb Yang Mahaadil dan Mahamengetahui terhadap mereka.

Firman Allah: qiiladkhuluu abwaaba jahannama khaalidiina fiiHaa (“Dikatakan [kepada mereka]: ‘Masukilah pintu-pintu neraka jahanam itu, sedang kamu kekal di dalamnya.’”) yaitu kalian tinggal di dalamnya, kalian tidak akan keluar dan tidak hilang darinya.
Fabi’sa matswal mutakabbiriin (“Maka, neraka jahanam itulah seburuk-buruk tempat kembali bagi orang-orang yang menyombongkan diri.”) yaitu seburuk-buruk tempat kembali dan seburuk-buruk tempat istirahat bagi kalian dengan sebab kesombongan kalian di dunia dan keengganan kalian mengikuti kebenaran. Itulah yang menjadikan kalian mengalami kondisi ini, itulah seburuk-buruk kondisi dan seburuk-buruk tempat kembali.

tulisan arab alquran surat az zumar ayat 73-74“73. dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan (pula). sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.’ 74. dan mereka mengucapkan: ‘Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada Kami dan telah (memberi) kepada Kami tempat ini sedang Kami (diperkenankan) menempati tempat alam syurga di mana saja yang Kami kehendaki; Maka syurga Itulah Sebaik-baik Balasan bagi orang-orang yang beramal.” (az-Zumar: 73-74)

Ini merupakan kabar tentang kondisi orang-orang mukmin yang berbahagia ketika mereka digiring kepada keutamaan menuju Surga Zumara, yaitu segolongan demi segolongan, Muqarrabin, kemudian Abrar, kemudian kelompok sesudahnya kemudian kelompok sesudahnya. Setiap kelompok akan bersama orang yang sesuai dengan mereka. Para nabi bersama para nabi, orang-orang jujur bersama dengan orang yang serupa dengan mereka, syuhada bersama kelompok mereka dan ulama bersama orang-orang yang setingkat dengan mereka. Setiap bagian bersama dengan bagian lainnya dan setiap kelompok sesuai dengan kelompok lainnya.
Hattaa idzaa-uuHaa (“Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu.”) yaitu mereka telah sampai di pintu-pintu surga setelah melintasi ash-Shirath [jembatan], mereka ditahan di atas satu jembatan yang ada di antara surga dan neraka. Lalu Allah membalas kedhaliman-kedhaliman yang terjadi di antara mereka di dunia. Sehingga, jika [urusan] mereka telah diselesaikan dan dibersihkan, mereka diizinkan memasuki surga.

Tercantum di dalam Shahih Muslim, bahwasannya Anas r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Aku adalah yang pertama-tama memberi syafaat di surga.”
Di dalam lafadz Muslim: “Dan aku adalah orang pertama yang mengetuk pintu surga.”

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Anas bin Malik berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Aku mendatangi pintu surga pada hari kiamat, lalu aku meminta dibukakan.” Penjaga berkata: “Siapa engkau?” Aku menjawab: “Muhammad.” Penjaga berkata: “Aku diperintahkan untuk tidak membuka[kannya] untuk seorang pun sebelummu.” (HR Muslim)

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kelompok pertama yang akan memasuki Surga penampilannya seperti bulan purnama di malam yang terang benderang, mereka tidak meludah, tidak mengeluarkan ingus dan tidak buang air besar. Bejana-bejana dan sisir-sisir dari emas dan perak, dupa mereka adalah kayu yang wangi dan keringat mereka seharum minyak kasturi. Setiap orang di antara mereka memiliki dua istri yang sumsum betisnya terlihat dari balik tulangnya karena begitu indah. Tidak ada perselisihan dan tidak juga pertengkaran di antara mereka. Hati mereka satu dalam bertasbih kepada Allah di waktu pagi dan petang.” (HR al-Bukahri dan Muslim)

Al-Hafizh Abu Ya’la meriwayatkan bahwa Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kelompok pertam yang memasuki surga seperti bulan di malam purnama. Sedangkan orang yang sesudah mereka seperti cahaya bintang yang paling terang cahayanya di langit. Mereka tidak buang air kecil dan tidak buang air besar, tidak meludah dan tidak mengeluarkan ingus. Sisir-sisir mereka adalah kayu harum, istri-istri mereka adalah para bidadari dan akhlak mereka di atas akhlak seorang laki-laki dalam bentuk nenek moyang mereka, Adam, setinggi 60 hasta di langit.” (Keduanya mentakhrij pula dari hadits Jarir)

Az-Zuhri berkata dari Sa’id, dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Akan masuk surga di antara umatku satu golongan yang berjumlah 70.000, wajah mereka bercahaya seperti bulan pada bulan purnama.” ‘Ukkasyah bin Mihshan berkata: “Ya Rasulallah, berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku [termasuk] di antara mereka.” Lalu beliau berdoa: “Ya Allah, jadikanlah dia termasuk golongan mereka.” Kemudian seorang lelaki Anshar berdiri dan berkata: “Ya Rasulallah, berdoalah kepada Allah agar dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.” Beliau menjawab: “’Ukkasyah telah mendahuluimu.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini tentang 70.000 yang masuk surga tanpa hisab –diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas, Jabir bin ‘Abdillah, ‘Imran bin Hushain, Ibnu Mas’ud, Rifa’ah bin ‘Arabah al-Juhani dan Ummu Qais binti Mihshan.

Bersambung ke bagian 18

Tafsir Ibu Katsir Surah Az-Zumar (17)

17 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Az-Zumar (Rombongan-Rombongan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 39: 75 ayat

Dia mengatakan: Aku mendengar hal itu dari Rasulullah saw.: “Dan tersisalah manusia-manusia terburuk seringan burung dan seganas binatang buas. Mereka tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang munkar. Lalu setan menampakkan diri kepada mereka dan berkata: ‘Tidakkah kalian memenuhi ajakan.’ Maka dia perintahkan mereka untuk menyembah patung-patung, lalu mereka menyembahnya, padahal mereka berada dalam keadaan rizky yang melimpah dan kehidupan yang mewah. Kemudian ditiupkanlah sangkakala, dimana tidak ada seorangpun yang mendengarnya kecuali mendengar ini dan itu, orang yang pertama kali mendengar adalah seorang laki-laki yang sdang memperbaiki tempat airnya [demikian yang tertulis dalam naskah asli. Adapun yang tertulis dalam Shahih Muslim adalah: “…seorang laki-laki yang sedang memperbaii tempat air untanya.’ wallaaHu a’lam] lalu dia mati. Kemudian tidak ada seorangpun yang tersisa kecuali pasti mati. Kemudian Allah Ta’ala mengirimkan atau menurunkan hujan seperti gerimis. –Nu’man ragu, apakah gerimis atau hujan-, maka darinya tumbuh jasad-jasad manusia. Kemudian ditiupkan yang terakhir, tiba-tiba mereka berdiri memandang. Kemudian dikatakan: ‘Hai manusia, berjalanlah menuju Rabb kalian. “Dan tahanlah mereka [di tempat perhentian], karena sesungguhnya mereka akan ditanya.” (ash-Shaaffaat: 24). Kemudian dikatakan: “Keluarkanlah utusan neraka.” dikatakan: “Berapa banyak?” dijawab: “Dari setiap 1000 adalah 999 [orang].” Maka pada hari itu anak-anak dibangkitkan dalam keadaan beruban dan pada hari itu tersingkaplah betis.”’ (Muslim meriwayatkannya sendiri dalam Shahihnya)

Al-Bukhari meriwayatkan, Umar bin Hafsh bin Ghiyats bercerita kepada kami, ayahku bercerita kepada kami, bahwa al-A’masy berkata: Aku mendengar Abu Shalih berkata: Aku mendengar Abu Hurairah r.a. menceritakan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: “Di antara dua tiupan itu adalah 40.” Mereka bertanya: “Ya Abu Hurairah, 40 hari?” Dia menjawab: “Aku enggan.” Mereka bertanya lagi: “40 tahun?” dia menjawab: “Aku enggan.” Mereka bertanya lagi: “40 bulan?” dia menjawab: “Aku enggan. Seluruh manusia akan binasa kecuali tulang ekor, dimana dengan itulah penciptaan kembali disusun.”

Firman Allah: wa asyraqatil ardlu binuuri rabbiHaa (“Dan terang benderanglah bumi [padang Mahsyar] dengan cahaya [keadilan] Rabb-nya.”) yaitu bercahaya pada hari kiamat ketika Yang Mahabenar Jalla wa ‘Alaa menampakkan diri kepada makhluk-Nya untuk memutuskan berbagai perkara.

Wa wu-dli’al kitaabu (“Dan diberikanlah kitab.”) Qatadah berkata: “Kitab berbagai amal perbuatan.” Wajii-a bin nabiyyiina (“Dan datangkanlah para Nabi.”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Mereka menjadi saksi atas umat-umat, bahwa mereka telah menyampaikan risalah Allah kepada [umat] mereka semuanya.”
Wasy syuHadaa-i (“dan saksi-saksi”) yaitu para saksi dari kalangan Malaikat Hafadhah yang menulis amal-amal para hamba, yang baik dan yang buruk.
Wa qu-dliya bainaHum bil haqqi (“Dan diberi keputusan di antara mereka dengan kebenaran.”) yaitu dengan keadilan. Wa Hum laa yudhlamuun(“Sedang mereka tidak dirugikan.”)

Wa wuffiyat kullu nafsim maa ‘amilat (“Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa [balasan] apa yang telah dikerjakannya.”) yaitu dari kebaikan dan keburukan. Wa Huwa a’lamu bimaa yaf’aluun (“Dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.”)

tulisan arab alquran surat az zumar ayat 71-72“71. orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: ‘Apakah belum pernah datang kepadamu Rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan Pertemuan dengan hari ini?’ Mereka menjawab: ‘Benar (telah datang)’. tetapi telah pasti Berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir. 72. dikatakan (kepada mereka): ‘Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya.’ Maka neraka Jahannam Itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.” (az-Zumar: 71-72)

Allah memberikan kabar tentang keadaan orang-orang celaka, yaitu orang-orang kafir, bagaimana mereka digiring ke neraka. mereka digiring dengan hina, penuh siksaan, gertakan dan hinaan. Sebagaimana firman Allah: yauma yuda’-‘uuna ilaa naari jaHannama da’-‘aa (“Pada hari mereka didorong ke neraka jahanam dengan sekuat-kuatnya.”)(ath-Thuur: 13) yaitu mereka didorong ke dalamnya dengan sekuat-kuatnya. Ini terjadi saat mereka berada dalam keadaan haus yang sangat. Sebagaiman firman Allah: “[Ingatlah] hari [ketika] Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada Yang Mahapemurah sebagai putusan yang terhormat, dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka jahanam dalam keadaan dahaga.”)(Maryam: 85-86)
Dalam keadaan itu mereka bisu, tuli dan buta serta di antara mereka ada orang yang berjalan di atas wajahnya. “Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat [diseret] di atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan tuli. Tempat kediaman mereka adalah neraka jahanam. Tiap-tiap kali nyala api jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.”)(al-Israa’: 97)

Firman Allah: hattaa idzaa jaa-uuHaa futihat abwaabuHaa (“Sehingga apabila mereka telah sampai di neraka, dibukakanlah pintu-pintunya.”) yaitu hanya sesampainya mereka di sana, dibukakanlah pintu-pintu dengan cepat untuk mereka, agar siksaan disegerakan untuk mereka. Kemudian para penjaganya dari kalangan Malikat Zabaniyah yang keras akhlaknya dan sangat kuat dengan sikap mencela, menghina dan merendahkan mereka berkata: alam ya’tikum rusulum minkum (“Apakah belum pernah datang kepadamu Rasul-Rasul di antaramu?”) yaitu dari jenis kalian yang dapat kalian ajak bicara dan dapat kalian ambil [pelajaran] dari mereka, yatluuna ‘alaikum aayaati rabbikum (“Yang membacakan kepadamu ayat-ayat Rabb-mu.”) yaitu menegakkan hujjah-hujjah dan bukti-bukti atas kebenaran apa yang diserukan kepada kalian.
Wa yundziruunakum liqaa-a yaumikum Haadzaa (“Dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini.”) yaitu memperingatkan kepada kalian tentang keburukan hari ini. Lalu orang-orang kafir menjawab: balaa (“Benar”) mereka telah datang dan memberikan peringatan kepada kami serta menegakkan hujjah-hujjah dan bukti-bukti. Walaakin haqqat kalimatul ‘adzaabi ‘alal kaafiriina (“Akan tetapi telah pasti berlaku ketetapan adzab terhadap orang-orang yang kafir.”) yaitu akan tetapi kami mendustakan dan menyelisihi mereka karena telah ditetapkannya kesengsaraan kepada kami yang berhak kami dapat akibat kami berpaling dari kebenaran kepada kebathilan.

Bersambung ke bagian 18

Tafsir Ibu Katsir Surah Az-Zumar (16)

17 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Az-Zumar (Rombongan-Rombongan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 39: 75 ayat

tulisan arab alquran surat az zumar ayat 67“67. dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (az-Zumar: 67)

Allah berfirman: wamaa qadarullaaHa haqqa qadriHi (“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.”) yaitu orang-orang musyrik tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenarnya ketika mereka menyembah selain Dia bersama-Nya. Dia Mahaagung, tidak ada sesuatupun yang lebih agung dari-Nya, Mahakuasa atas segala sesuatu Mahamemiliki segala sesuatu dan semuanya berada di bawah kekuasaan-Nya.
Mujahid berkata: “Ayat ini turun kepada orang Quraisy.” As-Suddi berkata: “Mereka tidak mengagungkan-Nya dengan pengagungan yang sebenarnya.” Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: wamaa qadarullaaHa haqqa qadriHi (“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.”) mereka adalah orang-orang kafir yang tidak beriman kepada kekuasaan Allah terhadap mereka. Barangsiapa yang beriman bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, maka dia pasti mengagungkan-Nya dengan pengagungan yang sebenarnya. Dan barangsiapa yang tidak beriman dengan hal itu, maka pasti dia tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenarnya.”

Banyak hadits yang diriwayatkan berkaitan dengan ayat yang mulia ini. Cara yang ditempuh untuk mengagungkan-Nya dan yang semisalnya menurut madzhab Salaf yaitu memberlakukannya sebagaimana adanya, tanpa takyif (menanyakan bagaimana) dan tanpa tahrif (menyelewengkan maknanya).

Al-Bukhari meriwayatkan tentang firman Allah: wamaa qadarullaaHa haqqa qadriHi (“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.”) bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata: “Salah seorang pendeta datang kepada Rasulullah saw. datang dan berkata: “Ya Muhammad, sesungguhnya kami mendapati bahwa Allah swt. menjadikan langit di satu jari-Nya dan bumi di satu jari-Nya, pohon di satu jari-Nya, maka Dia berfirman: ‘Akulah Raja.’ Lalu Rasulullah saw. tertawa, hingga tampak gigi gerahamnya karena membenarkan perkataan pendeta itu, kemudian Rasulullah saw. membaca: wamaa qadarullaaHa haqqa qadriHi wal ardlu jamii’an qabdlatuHuu yaumal qiyaamati (“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat”) al-Bukhari meriwayatkan pula selain pada tempat ini dalam shahihnya, juga Imam Ahmad, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i di kitab tafsir dalam Sunan keduanya.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, bahwa Abu Hurairah berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. kemudian Dia berfirman: ‘Akulah Raja [yang sebenarnya], dimanakah raja-raja bumi?’” (al-Bukhari meriwayatkannya sendiri dengan jalan ini dan diriwayatkan oleh Muslim dari jalan lain)

tulisan arab alquran surat az zumar ayat 68-70“68. dan ditiuplah sangkakala, Maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi Maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing). 69. dan terang benderanglah bumi (padang Mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah Para Nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. 70. dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (az-Zumar: 68-70)

Allah memberikan kabar tentang huru-hara hari kiamat serta ayat-ayat [tanda-tanda] yang besar dan goncangan-goncangan dahsyat yang terjadi di saat itu.
Firman-Nya: wanufikha fishshuuri man fis samaawaati wa man fil ardli illaa man syaa-allaaHu (“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang ada di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah,”) tiupan ini adalah tiupan yang kedua, yaitu tiupan kematian, dimana penghuni langit dan bumi yang hidup akan mati, kecuali orang yang dikehendaki oleh Allah. Sebagaimana telah datang penegasan dan penafsirannya di dalam hadits sangkakala yang masyhur. Kemudian ruh-ruh sisa makhluk-Nya digenggam, hingga makhluk yang mati paling akhir adalah malaikat Maut dan sendirilah Rabb Yang Mahahidup lagi Mahaberdiri sendiri, Yang Mahaawal dan Dia pula Yang Mahakekal pada akhirnya selama-lamanya.

Firman-Nya: limanil mulkul yauma (“Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?”)(al-Mukminun: 16). Dia mengucapkannya tiga kali, lalu Dia sendiri yang menjawabnya secara langusng dengan firman-Nya: lillaaHil waahidil qaHHaar (“Kepunyaan Allah Yang Mahaesa lagi Mahamengalahkan.”)(al-Mukminun: 16). Akulah yang Mahaesa. Sesungguhnya Aku telah memaksa segala sesuatu dan telah memutuskan kebinasaan atas segala sesuatu. Kemudian makhluk yang pertama kali hidup kembali adalah Israfil yang diperintahkan untuk meniup sangkakala yang ketiga kalinya sebagai tiupan kebangkitan.

Firman Allah: tsumma nufikha fiiHi ukhraa fa idzaaHum qiyaamuy yandhuruun (“Kemudian, ditiupkanlah sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu [putusan masing-masing].”) yaitu, hidup kembali. yang dahulunya tulang belulang, kini hidup kembali menunggu huru-hara hari kiamat, sebagaimana Allah berfirman: fa innamaa Hiya zajratuw waahidatun, fa idzaaHum bis saaHiratin (“Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi.”)(an-Naazi’aat: 13-14)

Imam Ahmad meriwayatkan, Muhammad bin Ja’far bercerita kepada kami, Syu’bah bercerita kepada kami, bahwa an-Nu’man bin Salim berkata: Aku mendengar Ya’kub bin ‘Ashim bin ‘Urwah bin Mas’ud berkata: Aku mendengar seorang laki-laki berkata kepada ‘Abdullah bin ‘Amr: Sesungguhnya engkau berkata: “Hari Kiamat terjadi hinggi begini dan begitu.” Dia berkata: “Aku berkeinginan untuk tidak menceritakan sedikitpun kepada kalian. Aku hanya mengatakan bahwa sebentar lagi kalian akan melihat perkara besar.” Kemudian Abdullah bin Amr berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Dajjal akan keluar kepada umatku, lalu tinggal di tengah-tengah mereka selama 40, aku tidak tahu apakah 40 hari, 40 bulan, 40 tahun atau 40 malam. Lalu Allah mengutus ‘Isa bin Maryam a.s. seakan-akan [seperti] ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqifi, lalu dia menang dan Allah Ta’ala membinasakannya [dajjal]. Kemudian beliau tinggal selama tujuh tahun, dimana di antara dua orang tidak ada permusuhan. Kemudian Allah Ta’ala mengirimkan angin yang dingin dari Syam, dimana tidak ada seorangpun tersisa di dalam hatinya seberat dzarrah pun keimanan, melainkan angin itu akan mewafatkannya. Sampai-sampai seandainya salah seorang mereka berada di dalam gunung pun, pasti akan memasukinya.”

Bersambung ke bagian 17

Tafsir Ibu Katsir Surah Az-Zumar (15)

17 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Az-Zumar (Rombongan-Rombongan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 39: 75 ayat

tulisan arab alquran surat az zumar ayat 60-61“60. dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat Dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri? 61. dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita.” (az-Zumar: 60-61)

Allah Ta’ala memberikan kabar tentang hari kiamat, bahwa di waktu itu ada wajah-wajah yang menjadi hitam dan ada pula wajah-wajah yang menjadi putih. Wajah-wajah kelompok yang berpecah belah dan yang berselisih adalah hitam, dan wajah-wajah ahlus sunah wal jama’ah adalah putih. Di sini Allah berfirman: wa yaumal qiyaamati taralladziina kadzdzabuu ‘alallaaHi (“Dan pada hari kiamat, kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta kepada Allah.”) yaitu mereka mengaku bahwa Allah memiliki sekutu dan memiliki anak. wujuuHuHum muswaddatun (“Muka mereka menjadi hitam.”) yaitu karena mereka mendustakan dan mengada-ada.
Alaisa fii jahannama matswal lilmuttaqiin (“Bukankah dalam neraka jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?”) yaitu bukankah neraka jahanam cukup sebagai penjara dan tempat hina bagi mereka yang di dalamnya mengandung kehinaan dan kerendahan disebabkan keangkuhan dan kesombongan mereka serta keengganan mereka untuk tunduk pada kebenaran? Firman Allah: wa yunajjillaaHul ladziinat taqau bimafaazatiHim (“Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka.”) yaitu dengan apa yang telah ditetapkan oleh mereka berupa kebahagiaan dan kemenangan di sisi Allah.
Laa yamassaHumus suu-u (“Mereka tidak akan disentuh oleh adzab.”) pada hari kiamat. Wa laa Hum yahzanuun (“Dan tidak pula mereka berduka cita.”) yaitu kekagetan besar tidak menyebabkan mereka bersedih, bahkan mereka merasa aman dari setiap kekagetan, selamat dari setiap keburukan serta meraih seluruh kebaikan.

tulisan arab alquran surat az zumar ayat 62-66“62. Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. 63. kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka Itulah orang-orang yang merugi. 64. Katakanlah: “Maka Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, Hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?” 65. dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi. 66. karena itu, Maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu Termasuk orang-orang yang bersyukur”. (az-Zumar: 62-66)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia Mahamenciptakan segala sesuatu; Rabb, Pemilik dan Pengatur semuanya serta seluruhnya berada di bawah aturan, diminasi dan pemeliharaan-Nya.
Firman Allah: laHuu maqaaliidus samaawaati wal ardli (“Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci [perbendaharaan] langit dan bumi.”) Mujahid berkata: “Maqaaliidun; yaitu kunci-kunci menurut bahasa Persia.” Demikian yang dikatakan oleh Qatadah, Ibnu Zaid dan Sufyan bin ‘Uyainah. Sedangkan as-Suddi berkata: laHuu maqaaliidus samaawaati wal ardli (“Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci [perbendaharaan] langit dan bumi.”) yaitu perbendaharaan langit dan bumi.” Makna menurut kedua pendapat tersebut berarti bahwa krisis yang menimpa seluruh perkara berada di tangan-Nya, milik-Nyalah kekuasaan dan segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Untuk itu Allah berfirman: walladziina kafaruu bi aayaatillaaHi (“Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah.”) yaitu hujjah-hujjah dan bukti-bukti-Nya. ulaa-ika Humul khaasiruuna (“Mereka itulah orang-orang yang merugi.”) wallaaHu a’lam.

Firman Allah: qul afaghairallaaHi ta’murunnii a’budu ayyuHal jaaHiluun (“Katakanlah: ‘Maka apakah kamu menyuruhku beribadah kepada selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?’”) mereka menceritakan tentang sebab turunnya hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan lain-lain dari Ibnu ‘Abbas, bahwa di antara kebodohan orang-orang musyrik adalah mereka menyerukan Rasulullah saw. untuk menyembah tuhan-tuhan mereka dan merekapun menyembah tuhan-tuhan mereka bersama dengan menyembah Rabb-nya. lalu turunlah: qul afaghairallaaHi ta’murunnii a’budu ayyuHal jaaHiluuna walaqad uuhiya ilaika wa ilalladziina ming qablika la in asyrakta layahbathanna ‘amaluka wala takuunanna minal khaasiriina (“Katakanlah: ‘Maka apakah kamu menyuruhku beribadah kepada selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?’ dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada [Nabi-nabi] sebelummu: ‘Jika kamu mempersekutukan [Allah], niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi’”)

Firman Allah: fa lillaaHa ta’bud wakum minasy syaakiriina (“Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu ibadahi dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.”) yaitu ikhlaskanlah ibadah –kepada Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya- olehmu serta orang yang mengikuti dan membenarkanmu.

Bersambung ke bagian 16

Tafsir Ibu Katsir Surah Az-Zumar (14)

17 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Az-Zumar (Rombongan-Rombongan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 39: 75 ayat

Kemudian, Dia menyeru kepada orang yang mengatakan sesuatu yang lebih besar [sesat] dari ucapan mereka agar ia bertaubat, yaitu orang yang berkata: “Aku adalah Rabb kalian yang Mahatinggi.” Dan orang yang berkata: maa ‘alimtu lakum min ilaaHi ghairii (“Aku tidak mengetahui ilah bagimu selain aku.”)(al-Qashash: 38) ibnu Abbas berkata: “Barangsiapa di antara hamba-hamba Allah yang berputus asa dari taubat setelah itu, maka berarti ia mengingkari Kitabullah. Akan tetapi hamba tidak mampu bertaubat, hingga Allah memperkenankan taubatnya.” Ath-Thabrani meriwayatkan dari jalan asy-Sya’bi, dari Sunaid bin Syakl, bahwa dia berkata: Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: “Sesungguhnya ayat yang paling agung dalam al-Qur’an adalah: AllaaHu laa ilaaHa illaa Huwal hayyul qayyuum (“Allah, tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi dengan benar] melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus [makhluk-Nya].”)(al-Baqarah: 255), sesungguhnya ayat yang paling lengkap tentang kebaikan dan keburukan dalam al-Qur’an adalah: innallaaHa ya’muru bil’adli wal ihsaan (“Sesungguhnya Allah menyuruh [kamu] berlaku adil dan berbuat kebaikan.”)(an-Nahl: 90). Ayat yang paling banyak mengandung kegembiraan adalah yang terdapat dalam surah az-Zumar, yaitu: Qul yaa ‘ibaadil ladziina asrafuu ‘alaa anfusiHim laa taqnathuu mir rahmatillaaHi (“Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”) dan ayat yang paling kokoh tentang penyerahan diri adalah: wamay yaqtaq illaaHa yaj’allaHuu makhrajan. Wa yarzuqHu min haitsu laa yahtasibuu (“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.”)(ath-Thalaaq: 2) lalu Masruq berkata kepadanya: “Engkau benar.”)

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abu Ayyub al-Anshari berkata ketika menjelang wafat: “Aku menyembunyikan dari kalian sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Seandainya kalian tidak berdosa, niscaya Allah menciptakan suatu kaum yang berdosa lalu Dia mengampuni mereka.” (demikian yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya dan at-Tirmidzi semuanya, dari Qutaibah, dari al-Laits bin Sa’ad. Dan diriwayatkan oleh Muslim dari jalan lain).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abul Jauza’, bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Kaffarat dosa adalah penyesalan.”

Allah mendorong hamba-hamba-Nya untuk bertaubat dengan firman-Nya: wa aniibuu ilaa rabbikum wa aslimuu laHu (“Dan kembalilah kamu kepada Rabb-mu, dan berserah dirilah kepada-Nya.”) yaitu kembali dan berserah dirilah kalian kepada Allah. Ming qabli ay ya’tiyakumul ‘adzaabu tsumma laa tunsharuun (“Sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong [lagi].”) yaitu bersegeralah bertaubat dan beramal shalih sebelum tertimpa kemurkaan.

Wattabi’uu ahsana maa unzila ilaikum mir rabbikum (“Dan ikutilah sebaik-baik apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu.”) yaitu al-Qur’an al-Adhiim.
Ming qabli ay ya’tiyakumul ‘adzaabu baghtataw wa antum laa tasy’uruuna (“Sebelum datang adzab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.”) yaitu dari arah yang tidak kalian ketahui dan tidak disadari.
An taquula nafsuy yaa hasrataa ‘alaa maa farrath-tu fii janbillaaHi (“Supaya jangan ada orang yang mengatakan: ‘Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam [menunaikan kewajiban] terhadap Allah.”) yaitu pada hari kiamat, orang yang dhalim lagi lalai merasa menyesal tentang taubat dan berserah diri. Dia berharap seandainya dulu dia termasuk orang-orang yang berbuat baik, ikhlas dan taat kepada Allah swt.
Wa ing kuntu laminas saakhiriina (“Sedang aku sungguh termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan [agama Allah].”) yaitu amalku di dunia hanyalah amal orang yang memperolok-olok, tidak meyakini dan tidak membenarkannya.

Au taquula lau annallaaHa Hadaanii lakuntu minal muttaqiina, au taquula hiina taral ‘adzaaba lau annalii karratan fa kuuna minal muhsiniiin (“atau supaya jangan ada yang berkata: ‘Kalau Sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku Termasuk orang-orang yang bertakwa’. 58. atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ‘Kalau Sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan Termasuk orang-orang berbuat baik’.) yaitu ia ingin seandainya ia dikembalikan ke dunia untuk memperbaiki amal. Lalu Allah memberikan kabar, bahwa seandainya mereka dikembalikan, mereka tetap tidak sanggup berjalanke arah petunjuk.
Walau rudduu la’aaduu limaa nuHuu ‘anHu wa innaHum lakaadzibuuna (“Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka.” (al-An’am: 28)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasannya Rasulullah bersabda: “Setiap penghuni neraka akan melihat tempat duduknya di surga, lalu dia berkata: ‘Seandainya Allah memberikan hidayah kepadaku.’ Ketika itu ia menyesal. Dan setiap penghuni surga akan melihat tempat duduknya di neraka, lalu berkata: ‘Seandainya Allah tidak memberikan hidayah kepadaku.’ Ketika itu ia bersyukur.” (HR an-Nasa’i dari hadits Abu Bakar bin ‘Iyasy).

Ketika para pelaku kejahatan berangan-angan untuk kembali ke dunia dan menyesal karena [tidak] membenarkan ayat-ayat Allah dan mengikuti Rasul-Nya, Allah berfirman: balaa qad jaa-atka aayaatii fakadzdzabta biHaa wastakbarta minal kaafiriina (“[Bukan demikian], sebenarnya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu, lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri, dan kamu termasuk orang-orang yang kafir.”) yaitu telah datang kepadamu –hai hamba yang menyesal- ayat-ayat-Ku di dunia dan telah tegak hujjah-hujjah-Ku kepadamu, lalu engkau mendustakannya dan menyombongkan diri dengan tidak mengikutinya dan engkaupun termasuk orang-orang kafir yang menentangnya.

Bersambung ke bagian 15

Tafsir Ibu Katsir Surah Az-Zumar (12)

17 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Az-Zumar (Rombongan-Rombongan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 39: 75 ayat

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ‘Abdullah bin Mas’ud berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan: AllaaHumma faathiras samaawaati wal ardli ‘aalimal ghaibi wasy syaHaadati innii a’Hadu ilaika fii HaadziHiid dun-yaa annii asyHadu al laa ilaaHa illaa anta wahdaka laa syariikalaka, wa anna muhammadan ‘abduka wa rasuuluka fa innaka in takilnii ilaa nafsii tuqarribunii minasy syarri wa tubaa’idunii minal khairi, wa innii laa atsiqu illaa birahmatika faj’al lii ‘indaka ‘aHdan tuwaffiiniiHi yaumal qiyaamati innaka laa tukhliful mii’aada (Ya Allah, Pencipta langit dan bumi serta Yang Mahamengetahui hal-hal ghaib dan yang nyata. Aku berjanji kepada-Mu di dunia ini, sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada yang diibadahi dengan benar kecuali Engkau semata yang tidak ada sekutu bagi-Mu dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Mu. Sesungguhnya jika Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri, hal itu akan mendekatkanku kepada keburukan dan menjauhkan aku dari kebaikan. Sesungguhnya aku tidak percaya kecuali dengan rahmat-Mu. Maka jadikanlah untukku perjanjian yang akan Engkau penuhi di sisi-Mu pada hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji). Melainkan Allah swt. berfirman kepada para malaikat-Nya pada hari kiamat: ‘Sesungguhnya hamba-Ku telah membuat perjanjian kepada-Ku, maka tunaikanlah oleh kalian untuknya.’ Lalu Allah memasukkannya ke dalam surga.’” (Imam Ahmad meriwayatkannya sendiri)

Firman Allah: wa lau anna lilladziina dhalamu (“Dan sekiranya orang-orang yang dhalim”) yaitu orang-orang musyrik. Maa fil ardli jamii’aw wa mitslaHuu ma’aHu (“Mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan [ada pula] sebanyak itu besertanya.”) yaitu sekiranya seluruh apa yang ada di bumi ditambahkan apa yang sama dengannya, laftadaubiHii min suu-il ‘adzaabi (“Niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk.”) yaitu yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala kepada mereka pada hari kiamat. Walaupun demikian, Dia tidak menerima tebusan dari mereka, sekalipun emas sepenuh bumi, sebagaimana Dia berfirman pada ayat yang lain.

Wa badaalaHum minallaaHi maalam yakuunuu yahtasibuuna (“Dan jelaslah bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.”) yaitu, tampak jelas adzab dan hukuman dari Allah kepada mereka, sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam fikiran dan perkiraan mereka. Wa badaa laHum syayyiaatu maa kasabuu (“Dan [jelaslah] bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat.”) yaitu akan jelas bagi mereka balasan perbuatan-perbuatan haram dan dosa yang mereka kerjakan di dunia.
Wa haaqa biHim maa kaanuu biHii yastaHzi-uun (“dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-oloknya.”) yaitu, mereka diliputi oleh adzab dan hukuman disebabkan mereka memperolok-oloknya di dunia.

tulisan arab alquran surat az zumar ayat 49-52“49. Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: ‘Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku. ‘ Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. 50. sungguh orang-orang yang sebelum mereka (juga) telah mengatakan itu pula, Maka Tiadalah berguna bagi mereka apa yang dahulu mereka usahakan. 51. Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri. 52. dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.” (az-Zumar: 49-52)

Allah memberikan kabar tentang manusia bahwa di saat keadaan terdesak, mereka merendahkan diri kepada Allah swt. kembali dan berdoa kepada-Nya. Akan tetapi jika nikmat menyelimutinya, diapun dhalim dan melampaui batas. Dia berfirman: innamaa uutiituHu ‘alaa ‘ilmi (“Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.”) yaitu karena Allah Ta’ala mengetahui bahwa dia berhak menerimanya. Seandainya aku tidak istimewa di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberikannya kepadaku.
Qatadah berkata: “’Alaa ‘ilmi ‘indii; adalah atas kemampuan yang aku miliki.”

Allah berfirman: bal Hiya fitnatun (“Sebenarnya itu adalah ujian.”) perkaranya tidak seperti yang diduganya. Akan tetapi, Kami memberikan kenikmatan-kenikmatan itu kepadanya adalah untuk Kami uji dia dengannya, apakah dia taat ataukah durhaka. Walaupun telah ada pengetahuan Kami yang qadim tentang hal tersebut. Maka hal itu merupakan fitnah dan ujian.
Walaakinna aktsaraHum laa ya’lamuuna (“Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”) karena itu, mereka mengucapkan apa yang mereka ucapkan dan menyeru apa yang mereka seru.
Qad qaalaHal ladziina ming qabliHim (“Sungguh orang-orang sebelum mereka telah mengatakan itu pula.”) yaitu sesungguhnya ucapan, dugaan dan klaim seperti ini telah diucapkan, diduga dan diklaim oleh mayoritas umat terdahulu.
Famaa aghnaa ‘anHum maa kaanuu yaksibuuna (“Maka tidaklah berguna bagi mereka apa yang dahulu mereka usahakan.”) yaitu perkataan mereka tidak benar, persatuan mereka dan apa yang mereka kerjakan tidak akan bermanfaat.

Fa ashaabaHum sayyi-aatu maa kasabuu walladziina dhalamuu min Haa-ulaa-i (“Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang dhalim di antara mereka.”) yaitu orang-orang yang pembicaraan ini dituukan kepada mereka.
sayushiibuHum sayyi-aatu maa kasabuu (“Akan ditimpa akibat buruk dari usahanya.”) yaitu, sebagaimana yang menimpa mereka.
Wamaa Hum bimu’jiziin (“dan mereka tidak dapat melepaskan diri.”)

Awalam ya’lamuu annallaaHa yabsuthur rizqa limay yasyaa-u wa yaqdiru (“Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rizky dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya?”) yaitu, Dia melapangkan [rizky] bagi satukaum dan menyempitkannya kepada kaum yang lain.
Inna fii dzaalika la aayaatil liqaumiy yu’minuun (“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.”) artinya, pelajaran-pelajaran dan hujjah-hujjah.

Bersambung ke bagian 13

Tafsir Ibu Katsir Surah Az-Zumar (11)

17 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Az-Zumar (Rombongan-Rombongan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 39: 75 ayat

Fayamsikullatii qadlaa ‘alaiHal mauta (“Maka Dia tahan jiwa [orang] yang telah Ia tetapkan kematiannya.”) yang telah pasti mati. Dan yang dibiarkan hingga batas waktu yang ditentukan. As-Suddi berkata: “Hingga sisa ajalnya.” Ibnu ‘Abbas r.a. berkata: “Jiwa-jiwa yang mati akan ditahan dan jiwa-jiwa yang hidup akan dilepas dan tidak keliru.”
Inna fii dzaalika la aayaatil liqaumiy yatafakkaruun (“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.”)

tulisan arab alquran surat az zumar ayat 43-45“43. bahkan mereka mengambil pemberi syafa’at selain Allah. Katakanlah: ‘Dan Apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?’ 44. Katakanlah: ‘Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. kemudian kepada- Nyalah kamu dikembalikan.’ 45. dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” (az-Zumar: 43-45)

Allah Ta’ala mencela orang-orang musyrik karena menjadikan berhala-berhala dan tandingan-tandingan selain Allah sebagai pemberi syafaat. Dia memberikan kabar kepada mereka bahwa syafaat itu tidak bermanfaat di sisi Allah kecuali bagi orang yang diridlai-Nya dan diizinkan-Nya. tempat kembali semuanya adalah kepada-Nya. man dzalladzii yasyfa’u ‘indaHuu illaa bi-idzniHi (“Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.”)(al-Baqarah: 255)

laHuu mulkus samaawaati wal ardli (“Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi.”) yaitu Dialah pengatur semua itu. Tsumma ilaiHi turja’uun (“Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”) pada hari kiamat. Lalu Dia memutuskan hukum di antara kalian dengan keadilan-Nya dan masing-masing akan dibalas sesuai amalnya.
Kemudian Allah berfirman yang juga sebagai celaan terhadap orang-orang musyrik. Wa idzaa dzukirallaaHu wahdaHu (“Dan apabila nama Allah saja yang disebut.”) yaitu jika dikatakan tidak ada ilah yang haq kecuali Allah Yang Mahaesa, isyma-azzat quluubul ladziina laa yu’minuuna bil aakhirati (“Kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat.”)

Mujahid berkata: “Isyma-azzat; yaitu kesal.” Sedangkan Malik berkata dari Zid bin Aslam: “[Artinnya adalah] sombong.” Sebagaimana Allah berfirman: “InnaHum kaanuu idzaa qiila laHum laa ilaaHa illallaaHu yastakbiruun [Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Laa ilaaHa illallaaH [tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah], mereka menyombongkan diri.” (ash-Shaaffaat: 35) yaitu untuk mengikuti dan mematuhinya. Hati mereka tidak menerima kebaikan. Dan barangsiapa yang tidak menerima kebaikan, dia menuju keburukan.
Maka Allah berfirman: wa idzaa dzukkiral ladziina min duuniHi (“Dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut.”) yaitu berhala-berhala dan tandingan-tandingan, sebagaimana yang dikatakan Mujahid: “Idzaa Hum yastabsyiruuna [tiba-tiba mereka bergirang hati]” yaitu bergembira dan senang.

tulisan arab alquran surat az zumar ayat 46-48“46. Katakanlah: ‘Wahai Allah, Pencipta langit dan bumi, yang mengetahui barang ghaib dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya.’ 47. dan Sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. 48. dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.” (az-Zumar: 46-48)

Allah berfirman setelah menceritakan orang-orang musyrik berupa celaan kepada mereka karena mereka mencintai kesyirikan dan benci terhadap tauhid: Qul lillaaHumma faathiras samaawaati wal ardli ‘aalimal ghaibi wasy syaHaadati (“Katakanlah: ‘Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata.”) yaitu hendaklah engkau menyeru kepada Allah Yang Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya, yang telah menciptakan langit dan bumi, Dia menjadikan contoh sebelumnya.
‘Aalimal ghaibi wasy syaHaadati (“Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata”) yaitu Mahamengetahui yang rahasia dan yang terang-terangan.
Anta tahkumu baina ‘ibaadika fii maa kaanuu fiiHi yakhtalifuuna (“Engkaulah yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang mereka selalu memperselisihkannya.”) di dunia mereka. Engkau akan memutuskan perselisihan di antara mereka pada hari kembali dan dikumpulkan serta hari dibangkitkan mereka dari kubur mereka.

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahih-nya, ‘Abd bin Humaid bercerita kepada kami, ‘Umar bin Yunus bercerita kepada kami, ‘Ikrimah bin ‘Ammar bercerita kepada kami, Yahya bin Katsir bercerita kepada kami, bahwa Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bercerita kepadaku, ia berkata: “Aku bertanya kepada ‘Aisyah: ‘Dengan apa Rasulullah saw. memulai shalatnya di waktu malam?’ ‘Aisyah r.a. berkata: ‘Jika Rasulullah saw. shalat malam, beliau membuka shalatnya dengan membaca: AllaaHumma rabbi jibriila wa miikaa-iila wa israa-fiila faathiras samaawaati wal ardli ‘aalimal ghaibi wasy syaHaadati anta tahkumu baina ‘ibaadika fiimaa kaanuu fiiHi yakhtalifuuna, iHdinii limakhtulifa fiiHi minal haqqi bi-idznika innaka taHdii man tasyaa-u ilaa shiraathim mustaqiimin (‘Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi serta Mahamengetahui hal-hal ghaib dan yang nyata. Engkau memutuskan di antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang mereka perselisihkan. Berilah petunjuk kepadaku tentang apa yang diperselisihkan padanya dari kebenaran dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.’)”

Bersambung ke bagian 12