Tag Archives: baik

Berbaik Sangka kepada Allah Ta’ala

13 Mar

Berbaik Sangka kepada Allah Ta’ala
Dr. Yusuf Qardhawy; Fatwa Kontemporer; Fiqih Kontemporer

Disukai bagi si sakit –khususnya bagi yang telah kedatangan tanda-tanda mendekati kematian– untuk berprasangka baik kepada Allah Ta’ala. Dalam arti, pengharapannya kepada rahmat Allah melebihi perasaan takutnya kepada azab-Nya, selalu mengingat betapa besar kemurahan-Nya, betapa indah pengampunan-Nya, betapa luas rahmat-Nya, betapa sempurna karunia-Nya, dikedepankan-Nya kebaikan dan kebajikan-Nya, membayangkan apa yang dijanjikan-Nya kepada ahli tauhid dan rahmat yang disediakan-Nya untuk mereka pada hari kiamat. Jabir meriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda:
“Jangan sekali-kali salah seorang diantara kamu meninggal dunia melainkan dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah Ta’ala.”90

Hal ini diperkuat oleh hadits qudsi yang telah disepakati kesahihannya, bahwa Allah berfirman: “Aku menuruti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”91

Ibnu Abbas berkata, “Apabila Anda melihat seseorang kedatangan tanda-tanda kematian maka gembirakanlah dia agar dia menghadap kepada Allah dengan berbaik sangka kepada-Nya; dan apabila Anda lihat orang yang hidup –yakni sehat– maka takut-takutilah dia akan Tuhannya Azza wa Jalla.”

Mu’tamir bin Sulaiman berkata, “Ketika akan meninggal dunia, ayah berkata kepadaku, ‘Wahai Mu’tamir, bicaralah kepadaku tentang rukhshah-rukhshah (kemurahan-kemurahan), supaya aku menghadap Allah Ta’ala dengan berbaik sangka kepada-Nya.”92

Imam Nawawi berkata, “Orang yang sedang menunggu orang yang akan meninggal dunia disukai membangkitkan harapannya kepada rahmat Allah, menganjurkannya untuk berbaik sangka kepada Allah, mengingatkannya dengan ayat-ayat dan hadits-hadits mengenai pengharapan dan ditimbulkan semangatnya. Petunjuk mengenai apa yang saya sebutkan ini banyak terdapat dalam hadits-hadits sahih, diantaranya sejumlah hadits yang saya sebutkan dalam “Kitab al-Jana’iz” dari kitab al-Adzkar. Hal ini juga dilakukan oleh Ibnu Abbas terhadap Umar bin Khattab r.a. ketika menghadapi maut, juga dilakukan Ibnu Abbas terhadap Aisyah, dan dilakukan pula oleh Ibnu Amr bin Ash terhadap ayahnya. Semua ini tersebut dalam hadits dan riwayat yang sahih.”93

&

Berbuat Baik terhadap Saudara Seiman

9 Mar

Berbuat Baik terhadap Saudara Seiman
Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Merupakan hak seorang muslim atas saudaranya seagama, agar ia berbuat baik kepadanya. Islam memerintahkan hal ini kepada semua orang, terutama kepada saudaranya sesama muslim.

Salah satu bentuk perbuatan baik adalah berkata, bersikap, dan bertingkah laku baik. Perbuatan baik itu bisa dipahami dari ayat firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar berlaku adil dan berbuat baik.” (an-Nahl: 90)

Di antara bentuk perbuatan baik [ihsan] adalah seorang muslim beribadah kepada Allah seolah-olah ia melihat-Nya, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits, tatkala beliau ditanya, “Apakah ihsan itu?” Rasulullah saw. menjawab, “Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Yang hendak kita bicarakan di sini adalah perbuatan baik seorang muslim kepada saudara seagama. Ini karena Allah swt. suka apabila makhluk-makhluk-Nya saling berbuat kebaikan, sampai-sampai terhadap burung yang berada dalam sangkar atau kucing yang berada dalam rumahmu.

&

Trik Menjadi Penulis Yang Baik

11 Feb

Trik Menjadi Penulis Yang Baik
Cara menjadi Penulis Yang Baik

Menjadi penulis itu bukanlah sesuatu yang sulit. Sebab hal ini adalah termasuk ketrampilan yang bisa dilatih dan diupayakan. Tergantung ada kemauan atau tidak. Di sinilah dibutuhkan sebuah niat dan tekad yang kuat agar ketika menggoreskan pena bisa mencurahkan isi fikiran kita dengan lancar, bagai turunnya hujan yang deras. Hahaha…. ini tidak lebay, tapi fakta.

Langkah pertama adalah kita harus banyak membaca. Ini syarat yang tak bisa ditawar. Sebab hakekatnya manusia itu mirip komputer. Jika banyak diisi dengan file yang mengandung ilmu pengetahuan, maka ketika diminta outputnya tentu akan mengeluarkan apa yang disimpannya. Atau mirip sebuah teko. Jika teko itu kosong maka dituang sampai nungging poll, mustahil akan keluar isinya setetespun sebab tak pernah diisi. Jika dipenuhi dengan air kopi maka akan keluar air kopi, diisi air teh akan keluar air teh, bahkan jika diisi dengan air got maka akan keluar juga air got.

Berdasarkan perumpamaan itu maka selayaknya seorang manusia pembelajar hanya mengimput bacaan-bacaan yang baik dan bermanfaat saja, sebab ketika ia menuangkan idenya dalam bentuk tulisan, dikhawatirkan akan muncul isi aslinya. Bisa direkayasa sih, tapi tentu hal demikian itu akan menjadi lebih rumit lagi karena butuh aplikasi tambahan untuk mengolah bahan yang sudah terlanjur dikandung. Semacam alat penyuling agar air got keluar menjadi air mineral. Nah dalam hal ini aku rasa tidak lebay…

Langkah kedua adalah “paksakan” untuk menulis apa yang terlintas dalam fikiran kita. Apapun, dan jangan terlalu merisaukan dulu kalimat atau alur ceritanya. Pokoknya tulis…tulis…tulis… terus sampai kering ide yang ada di kepala (padahal aku yakin tidak bakal kering). Buang jauh-jauh perasaan dan pertanyaan “kapan aku jadi penulis hebat?”. Pokoknya tulis dulu…tulis lagi…tulis dulu… tambah lagi tulisan….

Setelah kita melakukan goresan-goresan kalimat yang lumayan banyak, tanpa disadari kita akan mampu mengoreksi: “Ah sepertinya kalimat ini kurang begini…..” atau “Wah, alangkah baiknya kalau di bagian ini ditambah kalimat begini…” atau “Seharusnya kalimat ini tidak berbunyi demikian, tetapi begini….” atau… atau… atau…. atau…. pada akhirnya: “Sip, alhamdulillaah. Sepertinya ini sudah oke…” atau anda akan cukup mengangguk-angguk saja seperti burung bangau ketika mengoreksi tulisan yang anda buat itu. Dan hebatnya lagi (boleh jadi) anda akan mengigau membuat tulisan saat anda sedang tidur. Dan di pagi harinya anda menemukan bahwa tangan anda telah menuliskan sebuah cerita yang memukau…. (terus terang kalau ini memang lebay!!)

Nah, selamat mencoba. Jika anda butuh referensi untuk bacaan yang bermutu berkaitan dengan misi anda menulis, silakan klik setiap tautan yang ada di tulisan ini. Terimakasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat.

&

LANGKAH 2 MEMBERI ANAK NAMA YANG BAIK

29 Sep

30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama
Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi; IslamHouse.com

Nama memiliki pengaruh penting dalam membangun kepribadian, cara hidup, bahkan lingkungan.
Ketika Nabi -shalallahu alaihi wasallam- tiba di Kota Madinah, kota Madinah masih bernama Yatsrib. Beliau menggantinya dengan nama Thoibah atau Madinah. Keduanya menunjukkan makna nama yang baik. Nama yang baik itu sendiri pada dasarnya menjadi sumber pengharapan yang baik. Karena itu, sudah seharusnya kedua orang tua memilih nama yang baik, hingga menjadi penginspirasi kebaikan bagi anak.
* * *

Contoh Praktis Dan Kisah-Kisah Pentingnya Memilih Nama Dalam Membangun Kepribadian Anak

a. Sisi positif nama baik.

Abdurrahman Ibn Auf berkata:
“Dahulu namaku Abdu Amr (artinya budak Amr). Ketika memeluk Islam Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- menamaiku Abdurrahman (artinya hamba Allah Yang Maha Pengasih) (Siar a’lam an-Nubala I/74)
Diriwayatkan bahwa Abdurrahman menjual tanahnya. Hasilnya dibagikan kepada orang fakir dari bani Zahroh, Muhajirin dan Ummul Mukminin (istri-istri Nabi). Al-Musawar berkata:
‘Aku mendatangi Aisyah untuk menyerahkan pemberian itu.’
Aisyah -radiallahu’anha- bertanya:
‘Siapa yang mengirimkan ini?’
‘Abdurrahman Ibn Auf.’ Jawabku.
Aisyah -radiallahu’anha- berkata:
‘Aku mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:
‘Tidaklah berempati kepada kalian setelahku selain Sôbirun (para penyabar).’” (Siar a’lam an-Nubala I/86)
Nama Abdurrahman diserap dari kata [ar-rahman] yang diambil dari sifat kasih. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- mendapati pada diri lelaki ini sifat kasih dan sayang sehingga beliau menamainya Abdurrahman.
* * *

B. Sisi yang sejalan dengan nama yang tidak baik.

Diriwayatkan oleh Ibnu al-Musayyib dari ayahnya, bahwa ayahnya datang kepada Nabi -shalallahu alaihi wasallam-. Nabi menanyakan namanya:
“Siapa namamu?”
“Huzn (=sedih).” Jawabnya.
“Engkau Sahl (=mudah).” Timpal Nabi.
“Aku tak dapat merubah nama yang telah diberikan oleh ayahku.” Tolaknya.
Ibnu al-Musayyib berkata:
‘Kesedihan itu senantiasa merundung kami setelahnya.” (Al-Bukhari, kitab: al-Adab bab: Ismul Huzn juz. 10 no. 6190)
Ad-Dawudi berkata:
“Maksud Sa’id Ibn Musayyib adalah kesedihan akan sulitnya merubah tabiat akhlak mereka. Dalam hal ini Sa’id membawakannya kepada hal yang memicu kemurkaan Allah.”
Yang lain berkata:
“Ibn Musayyib mengisyaratkan akan kejumudan yang masih tersisa pada akhlak mereka.” (Fathul Bâri X/703)
Demikianlah. Ketika kita ingin anak keturunan kita baik, hendaknya kita melakukan tahap kedua, yaitu memilih nama-nama yang baik, karena ia mempengaruhi kepribadian anak seperti yang kita dapati pada contoh di atas.

&