Tag Archives: Definisi

Definisi Amtsaal

9 Mar

Ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an)
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Amtsaal adalah jamak dari kata matsal. Kata matsal, mitsl dan matsil adalah sama dengan syabah, syibh dan syabih, baik lafadz maupun maknanya.

Dalam sastra, matsal adalah suatu ungkapan perkataan yang dihikayatkan dan sudah populer dengan maksud menyerupakan keadaan yang terdapat dalam perkataan itu dengan keadaan sesuatu yang karenanya perkataan itu diucapkan. Maksudnya, menyerupakan sesuatu [seseorang, keadaan] dengan apa yang terkandung dalam perkataan itu.

Misalnya: rubba ramyatin min ghairi raamin (“Betapa banyak lemparan panah yang mengenai tanpa sengaja”) artinya, betapa banyak lemparan panah yang mengenai sasaran itu dilakukan seorang pelempar yang biasanya tidak tepat lemparannya. Orang pertama mengucapkan matsal ini adalah al-Hakam bin Yaghus an-Nagri. Matsal ini ia katakan kepada orang yang biasanya berbuat salah yang kadang-kadang ia berbuat benar. Atas dasar ini, matsal harus mempunyai maurid [sumber] yang kepadanya sesuatu yang lain diserupakan.

Kata matsal digunakan pula untuk menunjukkan arti “keadaan” dan “kisah yang menakjubkan”. Dengan pengertian inilah ditafsirkan kata-kata “matsal” dalam jumlah besar ayat. Misalnya firman Allah yang artinya:

“[Apakah] matsal surga yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya…” (Muhammad: 15). Maksudnya, kisah dan sifat surga yang sangat mengagumkan.

Zamakhsyari telah mengisyaratkan akan ketiga arti ini dalam kitabnya. Al-karsysyaaf. Ia berkata: “Matsal menurut asal perkataan mereka berarti al-mitsl dan an-nadzir [yang serupa, yang sebanding]. Kemudian setiap perkataan yang berlaku, populer, yang menyerupakan sesuatu [orang, keadaan dan sebagainya] dengan “maurid” [atau apa yang terkandung dalam] perkataan disebut matsal.

Mereka tidak menjadikan sebagai matsal dan tidak memandang pantas untuk dijadikan matsal yang layak diterima dan dipopulerkan kecuali perkataan yang mengandung keanehan dari beberapa segi.

Dan katanya lebih lanjut, “matsal” dipinjam [dipakai secara pinjaman] untuk menunjukkan keadaan, sifat atau kisah jika ketiganya dianggap penting dan mempunyai keanehan.

Masih terdapat makna lain, yakni makna keempat, dari matsal menurut ulama Bayan. Menurut mereka, matsal adalah majaaz murakhab yang ‘alaaqah-nya musyaabahah jika penggunaannya telah populer. Majaz ini pada asalnya adalah isti’aarah tamsiliyah, seperti kata-kata yang diucapkan terhadap orang yang ragu-ragu dalam melakukan suatu urusan: maa lii araaka tuqaddimu rijlan wa tu-akhkhiru ukhraa (“Mengapa aku lihat engkau melangkahkan satu kaki dan mengundurkan kaki yang lain?”)

Dikatakan pula, definisi matsal ialah menonjolkan suatu makna [yang abstrak] dalam bentuk yang indrawi agar menjadi indah dan menarik. Dengan pengertian ini maka matsal tidak diisyaratkan harus mempunyai maurid sebagaimana tidak disyaratkan pula harus berupa majaz murakkab.

Apabila memperhatikan matsal-matsal al-Qur’an yang disebutkan oleh para pengarang, kita dapatkan bahwa mereka mengemukakan ayat-ayat yang berisi penggambaran keadaan suatu hal dengan keadaan hal lain, baik penggambaran itu dengan cara isti’aarah maupun dengan tasybih sarih [penyerupaan yang jelas]; atau ayat-ayat yang menunjukkan makna yang menarik dengan redaksi ringkas dan padat; atau ayat-ayat yang dapat dipergunakan bagi sesuatu yang menyerupai dengan apa yang berkenaan dengan ayat itu. Sebab, Allah mengungkapkan ayat-ayat itu secara langsung, tanpa sumber yang mendahuluinya.

Dengan demikian, maka amtsaal Qur’an tidak dapat diartikan dengan arti etimologis, asy-syabiih dan an-nadzir. Juga tidak dapat diartikan dengan pengertian yang disebutkan dalam kitab-kitab kebahasaan yang dipakai oleh para penggubah matsal-matsal, sebab amtsal al-Qur’an bukanlah perkataan-perkataan yang dipergunakan untuk menyerupakan sesuatu dengan isi perkataan itu. Juga tidak dapat diartikan dengan arti matsal menurut ulama Bayan, karena di antara amtsal al-Qur’an ada juga yang bukan isti’aarah dan penggunaannya pun tidak begitu populer.

Oleh karena itu maka definisi terakhir lebih cocok dengan pengertian amtsal dalam al-Qur’an. Yang menonjol makna dalam bentuk [perkataan] yang menarik dan padat serta mempunyai pengaruh mendalam terhadap jiwa, baik berupa tasybih ataupun perkataan bebas [lepas, bukan tasybih].

Ibnul Qayyim mendefinisikan amtsal al-Qur’an dengan “menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hal hukumnya, dan mendekatkan sesuatu yang abstrak [ma’qul] dengan yang idrawi [konkrit, mahsus], atau mendekatkan salah satu dari dua mahsus dengan yang lain dan menganggap salah satunya itu sebagai yang lain.”

Lebih lanjut ia mengemukakan sejumlah contoh. Contoh-contoh tersebut sebagian besar berupa penggunaan tasbiih sariih, seperti firman Allah:

“Sesungguhnya matsal kehidupan duniawi itu adalah seperti air [hujan] yang Kami turunkan dari langit.” (Yunus: 24). Sebagian lain berupa penggunaan tasybih dimni [penyerupaan secara tidak tegas, tidak langsung], misalnya:

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (al-Hujuraat: 12). Dikatakan dimni karena dalam ayat ini tidak terdapat tasybih sariih. Dan ada pula yang tidak mengandung tasybih maupun isti’arah, seperti firman-Nya:

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, Maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, Tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan Amat lemah (pulalah) yang disembah.” (al-Hajj: 73) firman-Nya: “Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-sekali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun” oleh Allah disebut dengan matsal padahal di dalamnya tidak terdapat isti’arah maupun tasybih.

&

Definisi Kemukjizatan al-Qur’an dan Ketetapannya

6 Mar

Ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an)
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

I’jaz [kemukjizatan] adalah menetapkan kelemahan. Kelemahan menurut pengertian umum ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari kemampuan. Apabila kemukjizatan telah terbukti, maka nampaklah kemampuan mu’jiz [sesuatu yang melemahkan].

Yang dimaksud dengan i’jaz dalam pembicaraan ini adalah menampakkan kebenaran Nabi dalam pengakuannya sebagai seorang rasul dengan menampakkan kelemahan orang Arab untuk menghadapi mukjizat yang abadi, yaitu al-Qur’an, dan kelemahan generasi-generasi sesudah mereka. Dan mu’jizat adalah sesuatu yang luar biasa yang disertai dengan tantangan dan selamat dari perlawanan.

Al-Qur’anul Karim digunakan oleh Nabi untuk menantang orang-orang Arab tetapi mereka tidak sanggup menghadapinya, padahal mereka sedemikian tinggi tingkat fashaahah dan balaghah-nya. Hal ini tiada lain karena al-Qur’an adalah mu’jizat.

Rasulullah saw. telah meminta orang-orang Arab menandingin al-Qur’an dalam tiga tahapan:

1. Menantang mereka dengan seluruh al-Qur’an dalam uslub umum yang meliputi orang Arab sendiri dan orang lain, manusia dan jin, dengan tangangan yang mengalahkan kemampuan mereka secara padu melalui firman-Nya:

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.’” (al-Israa’: 88)

2. Menantang mereka dengan sepuluh surah saja dari al-Qur’an dalam firman-Nya:

“Ataukah mereka mengatakan: ‘Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu,’ Katakanlah: ‘(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.’ Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu Maka ketahuilah, Sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah,” (Huud: 13-14)

3. Menantang mereka dengan satu surah saja dari al-Qur’an, dalam firman-Nya:

“Atau (patutkah) mereka mengatakan: ‘Muhammad membuat-buatnya.’ Katakanlah: ‘(Kalau benar yang kamu katakan itu), Maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.’” (Yunus: 38)

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah[31] satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (al-Baqarah: 23)

Orang yang mempunyai sedikit saja pengetahuan tentang sejarah bangsa Arab dan sastra bahasanya, tentu akan mengetahui faktor-faktor bagi diutusnya Rasulullah yang meninggikan bahasa Arab, menghaluskan tutur katanya dan mengumpulkan ragam dialeknya yang paling banyak dari pasar-pasar sastra dan perlombaan puisi dan prosa. Sehingga muara selokan-selokan fasahah dan peredaran kalam yang retorik berakhir pada bahasa Quraisy, dengan bahasa mana al-Qur’an diturunkan.

Selain itu bangsa Arab mempunyai kebanggaan diri yang mereka unggul-unggulkan atas bangsa-bangsa lain dengan congkak dan sombong, sehingga menjadi perumpamaan di dalam sejarah yang mencatat “kejayaan” mereka karena pertempuran dan peperangan hebat yang dinyalakan oleh api kesombongan dan kecongkakan.

Bangsa seperti mereka, dengan terpenuhinya potensi kebahasaan dan kekuatan retorika yang dinyalakan oleh semangat kesukuan dan dikobarkan oleh tungku fanatisme, andaikata telah dapat menandingi al-Qur’an tentu hal demikian akan menjadi buah bibir dan beritanya akan tersiar di setiap generasi.

Sebenarnya mereka telah menelaah ayat-ayat kitab, membolak-baliknya dan mengujinya dengan metode yang mereka gunakan untuk menguntai puisi dan prosa, namun mereka tidak mendapatkan jalan untuk menirunya atau celah-celah untuk menghadapinya.

Sebaliknya yang meluncur dari mulut mereka adalah kebenaran yang membuat mereka bisu secara spontan ketika ayat-ayat al-Qur’an menggoncangkan hati mereka, seperti yang terjadi pada Walid bin Mughirah.

Dan di saat mereka sudah tidak sanggup lagi berdaya upaya, mereka melemparkan kepada al-Qur’an itu kata-kata yang membingungkan: “Al-Qur’an ini adalah sihir yang dipelajari, karya penyair gila atau dongengan bangsa purbakala.”

Mereka tidak dapat menghindar lagi di hadapan kelemahan dan kesombongannya selain harus menyerahkan leher kepada pedang; seakan-akan keputusasaan yang mematikan telah memindahkan para penderitanya dari pandangan mereka terhadap kehidupan panjang dan umur panjang ke saat kematian, sampai akhirnya mereka menyerah pada kematian yang mendadak. Dengan demikian terbuktilah sudah kemukjizatan al-Qur’an tanpa diragukan lagi.

Mendengarkan al-Qur’an juga merupakan hujjah yang pasti: “Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah.” (at-Taubah: 6).

Aspek-aspek mukjizat yang dikandungnya pun melebihi segala mukjizat kauniyah terdahulu dan tidak membutuhkan semua itu:

“Dan orang-orang kafir Mekah berkata: ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya mukjizat- mukjizat itu terserah kepada Allah. dan Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata.’ Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) sedang Dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (al-Ankabut: 50-51)

Kelemahan orang Arab untuk menandingi al-Qur’an padahal mereka memiliki faktor-faktor dan potensi untuk itu, merupakan bukti tersendiri bagi kelemahan bahasa Arab di masa bahasa itu berada pada puncak kemajuan dan kejayaannya.

Kemukjizatan al-Qur’an bagi bangsa-bangsa lain tetap berlaku di sepanjang zaman dan akan selalu ada dalam posisi tantangan yang tegar. Misteri-misteri yang disingkapkan oleh ilmu pengetahuan modern hanyalah sebagian dari fenomena hakekat-hakekat tinggi yang terkandung dalam misteri alam wujud yang merupakan bukti bagi eksistensi Pencipta dan Perencananya. Dan inilah yang dikemukakan secara global atau diisyaratkan oleh al-Qur’an. Dengan demikian, al-Qur’an tetap merupakan mukjizat bagi seluruh umat manusia.

&

Definisi dan Sighat Qasam

6 Mar

Ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an)
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Aqsaam adalah bentuk jamak dari qasam yang berarti al-hilf dan al-yamiin, yakni sumpah. Sighat asli qasam ialah fi’il atau kata kerja “aqsama” atau “ahlafa” yang di-muta’addi [transisi]-kan dengan “ba” untuk sampai pada muqsam biHi [sesuatu yang digunakan untuk bersumpah], lalu disusul dengan muqsam ‘alaiHi [sesuatu yang karena sumpah diucapkan] yang dinamakan dengan jawab qasam.

Misalnya firman Allah: “Mereka bersumpah dengan nama Allah, dengan sumpah yang sungguh-sungguh, bahwasannya Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.” (an-Nahl: 38)

Dengan demikian, ada tiga unsur dalam sighat qasam: fi’il yang ditransitifkan dengan “ba”, muqsam biHi dan muqsam ‘alaiHi.

Oleh karena qasam itu sering dipergunakan dalam percakapan maka ia diringkas, yaitu fi’il qasam dihilangkan dan dicukupkan dengan “ba”. Kemudian “ba” pun diganti dengan “wawu” pada isim zahir, seperti: wal laili idzaa yaghsyaa (“Demi malam, bila menutupi [cahaya siang]”) (al-Lail: 1)

Dan digantinya “ta” pada lafadz jalalah, misalnya: wa tallaaHi la akiidanna ash-naamakum (“Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu”) (al-Anbiyaa’: 57). Namun qasam dengan “ta” ini jarang dipergunakan, sedang yang banyak adalah dengan “wawu”.

Qasam dan yamiin adalah dua kata sinonim, mempunyai makna yang sama. Qasam didefinisikan sebagai “mengikat jiwa [hati] agar tidak melakukan, atau melakukan sesuatu, dengan “suatu makna” yang dipandang besar, agung, baik secara haqiqi maupun i’tiqadi, oleh orang yang bersumpah itu.”

Bersumpah dinamakan juga dengan yamiin [tangan kanan] karena orang Arab ketika sedang bersumpah memegang tangan kanan sahabatnya.

&

Arti Wahyu

6 Mar

Ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an)
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Dikatakan: wa haitu ilaiHi; dan: au-haitu; bila kita berbicara kepadanya agar tidak diketahui orang lain. Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraan yang berupa rumus dan lambang, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat dengan sebagian anggota badan.

Al-Wahy atau wahyu adalah kata masdar (infinitif); dan materi kata itu menunjukkan dua pengertian dasar, yaitu: tersembunyi dan cepat. Oleh karena itu, maka dikatakan bahwa wahyu ialah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus ditujukan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain. Inilah pengertian masdarnya. Tetapi terkadang juga bahwa yang dimaksud adalah al-muuhaa, yaitu pengertian isim maf’ul, yang diwahyukan. Pengertian wahyu dalam arti bahasa meliputi:

1. Ilham sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa: “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa: ‘Susuilah dia…’” (al-Qashash: 7)

2. Ilham yang berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah: “Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah: ‘Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di rumah-rumah yang didirikan manusia.’” (an-Nahl: 68)

3. Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode, seperti isyarat Zakaria yang diceritakan al-Qur’an: “Maka keluarlah dia dari mihrab, lalu memberi isyarat kepada mereka: ‘Hendaklah kamu bertasbih di waktu padi dan petang.’” (Maryam: 11)

4. Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri manusia: “Sesungguhnya syaitan-syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu.” (al-An’am: 121)

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan dari jenis manusia dan dari jenis jin; sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia.” (al-An’am: 112)

5. Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk dikerjakan: “Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang beriman.’” (al-Anfaal: 12)

Sedang wahyu Allah kepada para Nabi-Nya secara syara’ mereka didefinisikan sebagai “kalam Allah yang diturunkan kepada seorang Nabi.” Definisi ini menggunakan pengertian maf’ul, yaitu al-muuhaa [yang diwahyukan]. Ustadz Muhammad Abduh mendifinisikan wahyu di dalam Risalatut Tauhid sebagai “pengetahuan yang didapati seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan pengetahuan itu datang dari Allah, baik dengan melalui perantara ataupun tidak; yang pertama melalui suara yang terjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali.

Beda antara wahyu dan ilham adalah bahwa ilham itu intuisi yang diyakini jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa diketahui darimana datangnya. Hal seperti ini serupa dengan perasaan lapar, haus, sedih dan senang.” (lihat al-Wahyul Muhammad oleh Syaikh Muhammad Rasyid Rida, hal 44)

Definisi di atas adalah definisi wahyu dengan pengertian masdar. Bagian awal definisi ini mengesankan adanya kemiripan antara wahyu dengan suara hati atau kasyaf; tetapi pembedaannya dengan ilham diakhir definisi meniadakan hal ini.

&

Arti Taubat

20 Mei

At-Tadzkirah Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Ali ra. pernah melihat seseorang seusai shalatnya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu dengan segera.” Ali menanggapi, “Apa ini? Sesungguhnya cepatnya istighfar adalah taubatnya para pendusta. Dan taubatmu itu memerlukan taubat lagi.”
Orang itu bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, apakah taubat itu sebenarnya?”
Ali menjawab, “Taubat adalah sebuah kata yang mempunyai enam arti:
1. Taubat atas dosa-dosa yang telah lalu adalah menyesal
2. Taubat atas melakukan kewajiban-kewajiban secara serampangan adalah mengulang
3. Taubat atas mengambil barang orang lain secara dhalim adalah mengembalikannya kepada pemiliknya
4. Membiasakan diri melakukan ketaatan, sebagaimana sebelumnya terbiasa melakukan kemaksiatan
5. Membuat nafsu merasa pahitnya taat, sebagaimana sebelumnya merasakan manisnya maksiat
6. Menghiasi diri taat kepada Allah, sebagaimana sebelumnya menghiasinya dengan maksiat kepada-Nya, serta menangis sebagai ganti tiap-tiap ketawa yang kamu lakukan.”

&

Definisi dan Syarat Kalam

18 Mei

Ilmu Nahwu Terjemahan Matan al-Ajurumiyyah dan ‘Imrithy
KH. Moch. Anwar; Sinar Baru Algensindo

belajar bahasa arab ilmu nahwu definisi kalam & syaratnya

belajar bahasa arab ilmu nahwu definisi kalam & syaratnya2 belajar bahasa arab ilmu nahwu definisi kalam & syaratnya3

 

&

Definisi Jamak Mudzdzakkar Salim

18 Mei

Ilmu Nahwu Terjemahan Matan al-Ajurumiyyah dan ‘Imrithy
KH. Moch. Anwar; Sinar Baru Algensindo

belajar bahasa arab ilmu nahwu definisi jamak mudzakkar salim

 

&

Definisi Mantiq dan Macam-Macamnya

11 Apr

Definisi Mantiq dan Macam-Macamnya
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Mantuq adalah sesuatu (makna) yang ditunjukkan oleh lafadz menurut ucapannya, yakni penunjukkan makna berdasarkan materi huruf-huruf yang diucapkan.

Mantuq ada yang berupa nass, zahir dan mu’awwal.
Nass adalah lafadz yang bentuknya sendiri telah dapat menunjukkan makna yang dimaksud secara tegas (sariih), tidak mengandung kemungkinan makna lain. Misalnya firman Allah yang artinya:

“Maka (wajib) berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah (sepuluh) hari yang sempurna…” (al-Baqarah: 196)

Penyipatan “sepuluh” dengan “sempurna” telah mematahkan kemungkinan “sepuluh” ini diartikan lain secara majaz (metafora). Inilah yang dimaksud dengan nass.

Telah dinukil dari suatu kaum yang mengatakan, jarang sekali terdapat mantuq nass dalam kitab dan sunnah. Akan tetapi Imam Haramain secara berlebihan menyanggah pendapat mereka itu. Ia berkata: “Tujuan utama dari mantuq nass ialah kemandirian dalam penunjukan makna secara pasti dengan mematahkan segala ta’wil dan kemungkinan. Yang demikian itu jarang sekali terjadi bila dilihat dari bentuk lafdz yang mengacu kepada bahasa, akan tetapi betapa banyak lafadz tersebut karena ia disertai qarimah haaliyah dan maqaaliyah.

DhaaHir ialah lafadz yang menunjukkan sesuatu makna yang segera dipahami ketika ia diucapkan tetapi disertai kemungkinan makna lain yang lemah (marjuuh). Jadi zahir itu sama dengan nass dalam hal penunjukannya kepada makna yang berdasarkan pada ucapan. Namun dari segi lain ia berbeda dengannya karena nass hanya menunjukkan satu makna secara tegas dan tidak mengandung kemungkinan menerima makna lain, sedang zahir di samping menunjukkan satu makna ketika diucapkan juga disertai kemungkinan menerima makna lain meskipun lemah.

Misalnya firman Allah: fa manidl-thurra ghaira baaghiw wa laa ‘aadin (al-Baqarah: 173). Lafadz “al-balagh” digunakan untuk makna “al-jaahil” (bodoh, tidak tahu) dan “adh-dhaalim” (melampaui batas, dhalim). Tetapi pemakaian untuk makna kedua lebih tegas dan populer sehingga makna inilah yang kuat (raajih), sedang makna yang pertama lemah (marjuuh).

Juga seperti firman-Nya: wa laa taqrabuuHunna hattaa yath-Hurn (“Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka bersuci…”)(al-Baqarah: 222).
Berhenti haid dinamakan “suci” (ThuHr), berwudlu dan mandi pun disebut “thuHr”. Namun penunjukkan kata “thuHr” kepada makna kedua lebih konkrit, jelas (dhaaHir) sehingga itulah makna yang raajih, sedang penunjukkan kepada makna yang pertama adalah marjuuh.

Mu’awwal adalah lafadz yang diartikan dengan makna marjuh karena ada sesuatu dalil yang menghalangi dimaksudkannya makna yang rajih. Mu’awwal berbeda dengan dhaaHir, dhaaHir diartikan dengan makna yang rajih sebab tidak ada dalil yang memalingkannya kepada yang marjuh, sedang mu’awwal diartikan dengan makna marjuuh karena ada dalil yang memalingkannya dari makna rajih. Akan tetapi masing-masing kedua makna itu ditunjukkan oleh lafadz menurut bunyi ucapannya.

Misalnya firman Allah: wakhfidl laHumaa janaahadz dzulli minar rahmati (al-Israa’: 24), lafadz “janaah adz-dzulli” diartikan dengan “tunduk, tawadlu’ dan bergaul dengan baik” dengan kedua orang tua, tidak diartikan “sayap” karena mustahil manusia mempunyai sayap.

&

Pengertian Belajar

12 Mar

Psikologi Belajar
Drs.Syaiful Bahri Djamarah
asyHadu allaa ilaaHa illallaaH, wa asyHadu anna muhammadar rasuulullaaH

Para ahli psikologi dan pendidikan mengemukakan definisi yang berfariasi sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing. Tentu saja mereka mempunyai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

James O.Whittaker, mendefinisikan belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.

Cronbach berpendapat bahwa learning is shown by change in behavior as a result of experience. Belajar sebagai suatu aktifitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

Howard L.Kingskey mengatakan bahwa learning is the process by which behavior (in the broader sense) is originated or changed through practice or training. Belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktik atau latihan. Sedangkan Geoch merumuskan learning is change is prformance as a result of practice.

Drs.Slameto juga merumuskan definisi belajar, yaitu proses usaha yang dilaukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Gerak raga yang ditunjukkan harus sejalan dengan proses jiwa untuk mendapatkan perubahan. Tentu saja perubahan yang didapat itu bukan perubahan fisik, tetapi perubahan jiwa dengan sebab masuknya kesan-kesan yang baru. Dengan demikian perubahan fisik akibat serangan serangga, patah tangan, buta mata, tuli telinga, penyakit bisul dan lain sebagainya bukanlah termasuk proses belajar. Oleh karenanya perubahan sebagai hasil dari proses belajar adalah perubahan jiwa yang mempengaruhi tingkah laku seseorang.

Maka belajar adalah: serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.

&

Pengertian Fiqh

5 Mar

Definisi Fiqh
Madzab Fiqih, Kedudukan dan Cara Menyikapinya
Abdullah Haidir; islamhouse.com

Dari segi bahasa, Fiqh bermakna : Faham atau mengerti. Seperti firman Allah ta’ala :
qaaluu yaa syu’aibu maa nafqaHu katsiiram mimmaa taquulu (“Mereka berkata: “Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu.”) (QS Hud : 91)
Perhatikan juga Surat An-Nisa, ayat 78 dan surat Thaha, ayat 27-28.

Sedangkan menurut istilah, fiqih adalah :
“Hukum-hukum praktis dalam syariat yang diambil dari dalil-dalil yang terperinci.” (Tarikh at-Tasyri’ al-Islamy; at-Tasyri’ wa aI fiqh, Manna’ al-Qaththan, hal. 183.)