Tag Archives: fiqih sunnah

Imam Memerintahkan untuk Meluruskan Shaf Shalat Berjamaah

7 Jul

Imam Memerintahkan untuk Meluruskan Shaf Shalat Berjamaah
Fiqih Ibadah

 

bacaan imam ketika memerintahkan untuk meluruskan shaf

 

&

Air Sisa Minum yang suci / najis

1 Mei

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq; al-Qur’an-Hadits

Air sisa minuman yang dimaksud adalah apa yang masih terdapat pada bejana setelah diminum, dan ia bermacam-macam.

1. Sisa Manusia atau anak cucu Adam
Ia adalah suci, baik muslim maupun kafir, junub maupun haid. Adapun firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.” Maka maksudnya adalah najis ma’nawi dilihat dari segi kepercayaan mereka yang salah dan tiada waspadanya menjaga diri dari kotoran-kotoran dan najis. Karena mereka bergaul dengan kaum Muslimin. Sementara para utusan dan duta-duta mereka berdatangan kepada Nabi saw. dan memasuki masjid, dan tidaklah disuruh oleh Nabi mencuci apa juga yang dikenai tubuh mereka.
Dari ‘Aisyah ra. katannya: “Saya minum dan saya waktu itu sedang haid, lalu saya berikan kepada Nabi saw. maka diletakkannya mulutnya pada bekas tempat mulutku.” (HR Muslim)

2. Sisa binatang yang dimakan dagingnya
Ia adalah suci karena air liurnya terbit dari daging suci hingga hukumnya tiada berbeda. Berkata Abu Bakar Ibnul Mundzir: “Ahli-ahli sama berpendapat (ijma’) bahwa sisa binatang yang dimakan dagingnya, boleh diminum dan dipakai untuk berwudlu.”

3. Sisa bagal, keledai, binatang seperti burung buas
Ia juga suci karena hadits Jabir ra: Ditanya Nabi saw: “Bolehkah kita berwudlu dengan sisa keledai?” Jawab Nabi saw.: “Boleh, juga dengan sisa semua binatang buas.” (diriwayatkan oleh Syafi’i, Daruquthni dan Baihaqi, katanya: “Hadits ini mempunyai sanad yang bila dihimpun sebagian dengan yang lain, maka akan menjadi kuat.)

Dari Ibnu Umar ra. katanya: “Dalam salah satu perjalanan Nabi saw. berangkat di waktu malam. Rombongan itu lewat pada seorang laki-laki yang sedang duduk dekat kolamnya. Umar pun bertanya kepadanya: “Apakah ada binatang buas yang minum di kolammu pada malam ini?” Nabi saw. bersabda: “Hai empunya kolam, jangan katakan padanya. Itu keterlaluan. Yang masuk perutnya adalah miliknya, sedang yang tertinggal, jadi minuman kita dan ia suci lagi menyucikan.” (HR Daruquthni)

Dan dari Yahya bin Sa’id bahwa Umar pergi bersama rombongan yang di dalamnya terdapat ‘Amru bin ‘Ash, hingga sampailah mereka ke dalam sebuah kolam. ‘Amru bertanya: “Hai empunya kolam, apakah kolam ini didatangi binatang buas untuk diminum?” “Tak usah dijawab.” Kata Umar, “Karena kita boleh minum di tempat minumnya binatang buas, dan ia dapat minum di tempat kita.” (Diriwayatkan oleh Malik dalam Muwaththa’)

4. Sisa Kucing
Ia adalah suci berdasarkan hadits Kabsyah binti Ka’ab yang tinggal bersama Qatadah, bahwa Abu Qatadah suatu ketika masuk rumah, maka disediakan untuknya air minum oleh Kabsyah. Tiba-tiba datang seekor kucing yang meminum air itu, dan Abu Qatadah pun memiringkan mangkok hingga binatang itu dapat minum.
Ketika Abu Qatadah melihat Kabsyah memperhatikannya, ia pun bertanya: “Apakah kau tercengang hai anak saudaraku?” “Benar.” Ujarnya. Berkatalah Abu Qatadah: Sesungguhnya Rasulullah bersabda: “Kucing itu tidak najis, ia termaduk binatang yang berkeliling dalam lingkunganmu.” (diriwayatkan oleh yang berlima. Kata Turmudzi: “Hadits ini hasan lagi shahih.” Juga dinyatakan shahih oleh Bukhari dan lain-lain)

5. Sisa anjing dan babi
Ia adalah najis yang harus dijauhi. Mengenai sisa anjing ialah berdasarkan riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra: Bahwa Nabi saw. bersabda: “Bila anjing minum pada bejana salah seorang di antaramu, hendaknya dicucinya sebanyak tujuh kali.”
Dan menurut riwayat Ahmad dan Muslim: “Membersihkan bejana salah seorang kamu bila dijilat oleh anjing dengan membasuhnya sebanyak tujuh kali, permulaannya dengan tanah.” Adapun sisa babi ialah, karena kotorannya dan menjijikkan.”