Tag Archives: fitnah

Prioritas Beramal Pada Zaman Fitnah

27 Jun

Yusuf Qardhawy; Fiqih Prioritas

PRIORITAS yang sangat dianjurkan ialah tetap bekerja pada saat terjadinya fitnah, cobaan, dan ujian yang sedang menimpa umat. Amal shaleh merupakan dalil kekuatan beragama seseorang, dan keteguhannya dalam berkeyakinan dan memegang kebenaran. Keperluan untuk melakukan amal shaleh pada masa seperti ini lebih ditekankan daripada masa-masa yang lain. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan, “Orang mu’min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mu’min yang lemah.” (Diriwayatkan oleh Ahmad. Muslim, dan Ibn Majah dari Abu Hurairah r.a. (Shahih al-Jami’ as-Shaghir, 6650)

Hadits ini lebih ditegaskan lagi oleh sabda Nabi saw, “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran di depan penguasa yang zalim.” (Diriwayatkan oleh Ibn Majah dari Abu Sa’id; dan juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibn Majah, Thabrani, dan Baihaqi dalam as-Syu’ab dari Abu Umamah, Ahmad, Nasai, dan Baihaqi dari Thariq bin Syihab, ibid. 1100.)

Rasulullah saw juga bersabda, “Penghulu para syahid ialah Hamzah bin Abd al-Muttallib, dan orang yang menghadap kepada penguasa, kemudian dia menyuruh dan melarangnya, lalu penguasa itu membunuhnya.” (Diriwayatkan oleh Hakmin dan Dhiya’ dari Jabir, dan di-hasan-kan olehnya dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir, 3676)

“Seutama-utama orang yang mati syahid adalah orang-orang yang berperang di barisan yang paling pertama dengan tidak memalingkan wajah mereka sama sekali hingga terbunuh. Mereka itu akan berguling-guling di kamar-kamar utama di surga. Rabb-mu tersenyum kepada mereka. Jika Rabb-mu tersenyum kepada seorang hamba disuatu tempat, maka tiada hisab (perhitungan) lagi atasnya.” (Ahmad, Abu Ya’la dan Thabrani dari Abu Nu’aim bin Hammad, Shahih al-Jami’ as-Shagir, 1107)

Oleh karena itulah, kelebihan dan keutamaan diberikan kepada orang yang teguh dalam memegang agamanya pada masa-masa terjadinya fitnah dan cobaan, sehingga ada beberapa hadits yang mengatakan bahwa orang yang berpegang teguh kepada ajaran agamanya pada hari-hari yang memerlukan kesabaran, maka dia akan mendapatkan lima puluh pahala sahabatnya.

Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibn Majah meriwayatkan dalam Kitab Sunan mereka. Dari Abu Umayyah as-Sya’bani berkata, “Aku bertanya kepada Abu Tsa’labah al-Khasyani berkata, ‘Hai Abu Tsa’labah, bagaimanakah engkau memahami ayat ini,’ … jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya… (al-Ma’idah, 105)?, Abu Tsa’labah menjawab, ‘Demi Allah engkau telah menanyakan hal ini kepada orang yang pernah diberitahu mengenai perkara ini. Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw, kemudian beliau Rasulullah menjawab, ‘Lakukan amar ma’ruf, dan cegahlah kemungkaran, sehingga apabila engkau melihat kekikiran yang dipatuhi, hawa nafsu yang dituruti. dan dunia yang diutamakan, dan setiap orang membanggakan pemikirannya, ( Ibn Majah menambahkan, “Dan engkau melihat suatu perkara yang kamu tidak dapat disalahkan karenanya.” Artinya, engkau melihat kerusakan yang tiada tandingannya dan tidak ada kemampuan bagimu untuk menyingkirkannya. Ini merupakan tambahan yang sangat penting dalam hadits ini, yang menunjukkan bahwa seorang manusia tidak boleh meninggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar kecuali ketika dia merasa lemah, karena untuk bisa mengubahnya dia memerlukan kekuatan dan usaha yang lebih besar.) maka hendaklah engkau menjaga dirimu sendiri, dan tinggalkan orang awam, karena sesungguhnya di belakangmu masih ada hari-hari yang panjang. Kesabaran untuk menghadapi hal itu seperti orang-orang yang menggenggam bara api. Bagi orang yang melakukan amal kebaikan pada masa seperti ini akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan perbuatan seperti itu.'” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan Tirmidzi) dia berkata, “Hadits ini hasan gharib.” Abu Dawud dan Tirmidzi menambahkan, “Dikatakan kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang daripada kami atau mereka?’ Rasulullah menjawab, ‘Pahala lima puluh orang dari kalian.'”” (30 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam al-Malahim (4341) dan Tirmidzi dalam al-Tafsir (3060) dan dia berkata: “Hadits ini hasan gharib.” Dan juga diriwayatkan oleh Ibn Majah dalam al-Fitan (4014)

Apa yang dimaksudkan oleh hadits ini bukanlah orang-orang yang terdahulu masuk Islam, yang terdiri atas para Muhajirin dan Anshar, para pengikut Perang Badar, orang-orang yang ikut serta dalam Bai’at Ridhwan, dan yang semisal dengan mereka, karena tak seorangpun sesudah mereka yang bisa mencapai derajat seperti mereka. Akan tetapi, sasaran hadits itu: hendak memacu semangat orang-orang yang bekerja untuk Islam pada hari di mana terjadi banyak sekali ujian (fitnah) terhadapnya. Allah berjanji melalui lidah Rasulullah saw, Dia akan memberikan pahala yang berlipat ganda, atau lima puluh kali lipat pahala pada zaman kemenangan dan kejayaan.

Apa yang pernah diberitahukan oleh Rasulullah saw telah menjadi kenyataan. Orang-orang yang bekerja untuk agamanya, yang terus bersabar dalam pekerjaannya bagaikan orang yang hendak mati. Mereka menghadapi serangan dari dalam dan juga serangan dari luar. Semua kekuatan kafir bersatu padu menyerang dan memperdaya dirinya, walaupun berbeda-beda bentuknya, padahal Allah SWT sedang mengepung mereka dari belakang. Allah akan memberikan bantuan kepada orang-orang yang teguh dalam menghadapi tipu daya musuh yang hendak menghancurkan Islam. Allah akan mempersempit ruang gerak mereka, dan akan memporak-porandakan mereka, sehingga mereka sama sekali tidak menemukan jalan ke luar.

Diriwayatkan dari Ma’ qal bin Yasar r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ibadah yang dilakukan pada walau terjadinya fitnah pembunuhan (al-haraj), adalah sama dengan hijrah kepadaku.’ (31 Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Tirmidzi, dan Ibn Majah (Shahih al-Jami’ as-Shaghir, 3974)

Al-Haraj pada hadits ini berarti perselisihan pendapat dan fitnah. Ada pula yang menafsirkan dengan pembunuhan, karena sesungguhnya fitnah dan perselisihan pendapat merupakan sebab timbulnya pembunuhan tersebut.

&

Fitnah dan Suara Wanita

24 Jun

Dr. Yusuf Qardhawi; Fatwa Kontemporer; Fiqih Kontemporer

Pertanyaan:
Sebagian orang berprasangka buruk terhadap wanita. Mereka menganggap wanita sebagai sumber segala bencana dan fitnah. Jika terjadi suatu bencana, ereka berkata, “Periksalah kaum wanita!” Bahkan ada pula yang berkomentar, “Wanita merupakan sebab terjadinya penderitaan manusia sejak zaman bapak manusia (Adam) hingga sekarang, karena wanitalah yang mendorong Adam untuk memakan buah terlarang hingga dikeluarkannya dari surga dan terjadilah penderitaan dan kesengsaraan atas dirinya dan diri kita sekarang.”

Anehnya, mereka juga mengemukakan dalil-dalil agama untuk menguatkan pendapatnya itu, yang kadang-kadang tidak sahih, dan adakalanya – meskipun sahih – mereka pahami secara tidak benar, seperti terhadap hadits-hadits yang berisi peringatan terhadap fitnah wanita, misalnya sabda Rasulullah saw: “Tidaklah aku tinggalkan sesudahku suatu fitnah yang lebih membahayakan bagi laki-laki daripada (fitnah) perempuan.”

Apakah maksud hadits tersebut dan hadits-hadits lain yang seperti itu? Hadits-hadits tersebut kadang-kadang dibawakan oleh para penceramah dan khatib, sehingga dijadikan alat oleh suatu kaum untuk menjelek-jelekkan kaum wanita dan oleh sebagian lagi untuk menjelek-jelekkan Islam. Mereka menuduh Islam itu dusta (palsu) karena bersikap keras terhadap wanita dan kadang-kadang bersikap zalim. Mereka juga mengatakan, “Sesungguhnya suara wanita – sebagaimana wajahnya – adalah aurat. Wanita dikurung dalam rumah sampai meninggal dunia.”

Kami yakin bahwa tidak ada agama seperti Islam, yang menyadarkan kaum wanita, melindunginya, memuliakannya, dan memberikan hak-hak kepadanya. Namun, kami tidak memiliki penjelasan dan dalil-dalil sebagai yang Ustadz miliki. Karena itu, kami mengharap ustadz dapat menjelaskan makna dan maksud hadits-hadits ini kepada orang-orang yang tidak mengerti Islam atau berpura-pura tidak mengerti.
Semoga Allah menambah petunjuk dan taufik-Nya untuk Ustadz dan menebar manfaat ilmu-Nya melalui Ustadz. Amin.

Jawaban:
Sebenarnya tidak ada satu pun agama langit atau agama bumi, kecuali Islam, yang memuliakan wanita, memberikan haknya, dan menyayanginya. Islam memuliakan wanita, memberikan haknya, dan memeliharanya sebagai manusia. Islam memuliakan wanita, memberikan haknya, dan memeliharanya sebagai anak perempuan.

Islam memuliakan wanita, memberikan haknya, dan memeliharanya sebagai istri. Islam memuliakan wanita, memberikan haknya, dan memeliharanya sebagai ibu. Dan Islam memuliakan wanita, memberikan haknya, dan memelihara serta melindunginya sebagai anggota masyarakat.

Islam memuliakan wanita sebagai manusia yang diberi tugas (taklif) dan tanggung jawab yang utuh seperti halnya laki-laki, yang kelak akan mendapatkan pahala atau siksa sebagai balasannya. Tugas yang mula-mula diberikan Allah kepada manusia bukan khusus untuk laki-laki, tetapi juga untuk perempuan, yakni Adam dan istrinya (lihat kembali surat al-Baqarah: 35)

Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun nash Islam, baik Al-Qur’an maupun As-Sunnah sahihah, yang mengatakan bahwa wanita (Hawa; penj.) yang menjadi penyebab diusirnya laki-laki (Adam) dari surga dan menjadi penyebab penderitaan anak cucunya kelak, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Perjanjian Lama. Bahkan Al-Qur’an menegaskan bahwa Adamlah orang pertama yang dimintai pertanggungjawaban (lihat kembali surat Thaha: 115-122).

Namun, sangat disayangkan masih banyak umat Islam yang merendahkan kaum wanita dengan cara mengurangi hak-haknya serta mengharamkannya dari apa-apa yang telah ditetapkan syara’. Padahal, syari’at Islam sendiri telah menempatkan wanita pada proporsi yang sangat jelas, yakni sebagai manusia, sebagai perempuan, sebagai anak perempuan, sebagai istri, atau sebagai ibu.

Yang lebih memprihatinkan, sikap merendahkan wanita tersebut sering disampaikan dengan mengatas namakan agama (Islam), padahal Islam bebas dari semua itu. Orang-orang yang bersikap demikian kerap menisbatkan pendapatnya dengan hadits Nabi saw. yang berbunyi: “Bermusyawarahlah dengan kaum wanita kemudian langgarlah (selisihlah).”
Hadits ini sebenarnya palsu (maudhu’). Tidak ada nilainya sama sekali serta tidak ada bobotnya ditinjau dari segi ilmu (hadits).

Yang benar, Nabi saw. pernah bermusyawarah dengan istrinya, Ummu Salamah, dalam satu urusan penting mengenai umat. Lalu Ummu Salamah mengemukakan pemikirannya, dan Rasulullah pun menerimanya dengan rela serta sadar, dan ternyata dalam pemikiran Ummu Salamah terdapat kebaikan dan berkah.
Mereka, yang merendahkan wanita itu, juga sering menisbatkan kepada perkataan Ali bin Abi Thalib bahwa “Wanita itu jelek segala-galanya, dan segala kejelekan itu berpangkal dari wanita.”
Perkataan ini tidak dapat diterima sama sekali; ia bukan dari logika Islam, dan bukan dari nash.1

Bagaimana bisa terjadi diskriminasi seperti itu, sedangkan Al-Qur’an selalu menyejajarkan muslim dengan muslimah, wanita beriman dengan laki-laki beriman, wanita yang taat dengan laki-laki yang taat, dan seterusnya, sebagaimana disinyalir dalam Kitab Allah.

Mereka juga mengatakan bahwa suara wanita itu aurat, karenanya tidak boleh wanita berkata-kata kepada laki-laki selain suami atau mahramnya. Sebab, suara dengan tabiatnya yang merdu dapat menimbulkan fitnah dan membangkitkan syahwat. Ketika kami tanyakan dalil yang dapat dijadikan acuan dan sandaran, mereka tidak dapat menunjukkannya.

Apakah mereka tidak tahu bahwa Al-Qur’an memperbolehkan laki-laki bertanya kepada isteri-isteri Nabi saw. dari balik tabir? Bukankah isteri-isteri Nabi itu mendapatkan tugas dan tanggung jawab yang lebih berat daripada istri-istri yang lain, sehingga ada beberapa perkara yang diharamkan kepada mereka yang tidak diharamkan kepada selain mereka? Namun demikian, Allah berfirman: “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir …”(al-Ahzab: 53)

Permintaan atau pertanyaan (dari para sahabat) itu sudah tentu memerlukan jawaban dari Ummahatul Mukminin (ibunya kaum mukmin: istri-istri Nabi). Mereka biasa memberi fatwa kepada orang yang meminta fatwa kepada mereka, dan meriwayatkan hadits-hadits bagi orang yang ingin mengambil hadits mereka.

Pernah ada seorang wanita bertanya kepada Nabi saw. dihadapan kaum laki-laki. Ia tidak merasa keberatan melakukan hal itu, dan Nabi pun tidak melarangnya. Dan pernah ada seorang wanita yang menyangkal pendapat Umar
ketika Umar sedang berpidato di atas mimbar. Atas sanggahan itu, Umar tidak mengingkarinya, bahkan ia mengakui kebenaran wanita tersebut dan mengakui kesalahannya sendiri seraya berkata, “Semua orang (bisa) lebih mengerti daripada Umar.”

Kita juga mengetahui seorang wanita muda, putri seorang syekh yang sudah tua (Nabi Syu’aib; ed.) yang berkata kepada Musa, sebagai dikisahkan dalam Al-Qur’an: “… Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)-mu memberi minum (ternak) kami …” (al-Qashash: 25)

Sebelum itu, wanita tersebut dan saudara perempuannya juga berkata kepada Musa ketika Musa bertanya kepada mereka: “… Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)? Kedua wanita itu menjawab, ‘Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedangkan bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya.” (al-Qashash: 23)

Selanjutnya, Al-Qur’an juga menceritakan kepada kita percakapan yang terjadi antara Nabi Sulaiman a.s. dengan Ratu Saba, serta percakapan sang Ratu dengan kaumnya yang laki-laki.

Begitu pula peraturan (syariat) bagi nabi-nabi sebelum kita menjadi peraturan kita selama peraturan kita tidak menghapuskannya, sebagaimana pendapat yang terpilih.

Yang dilarang bagi wanita ialah melunakkan pembicaraan untuk menarik laki-laki, yang oleh Al-Qur’an diistilahkan dengan al-khudhu bil-qaul (tunduk/lunak/memikat dalam berbicara), sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: “Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (al-Ahzab: 32)

Allah melarang khudhu, yakni cara bicara yang bisa membangkitkan nafsu orang-orang yang hatinya “berpenyakit.” Namun, dengan ini bukan berarti Allah melarang semua pembicaraan wanita dengan setiap laki-laki. Perhatikan ujung ayat dari surat di atas: “Dan ucapkanlah perkataan yang baik” Orang-orang yang merendahkan wanita itu sering memahami hadits dengan salah. Hadits-hadits yang mereka sampaikan antara lain yang diriwayatkan Imam Bukhari bahwa Nabi saw. bersabda: “Tidaklah aku tinggalkan sesudahku suatu fitnah yang lebih membahayakan bagi laki-laki daripada (fitnah) wanita.”

Mereka telah salah paham. Kata fitnah dalam hadits diatas mereka artikan dengan “wanita itu jelek dan merupakan azab, ancaman, atau musibah yang ditimpakan manusia seperti ditimpa kemiskinan, penyakit, kelaparan, dan ketakutan.” Mereka melupakan suatu masalah yang penting, yaitu bahwa manusia difitnah (diuji) dengan kenikmatan lebih banyak daripada diuji dengan musibah. Allah berfirman: “… Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) ….” (al-Anbiya: 35)

Al-Qur’an juga menyebutkan harta dan anak-anak – yang merupakan kenikmatan hidup dunia dan perhiasannya- sebagai fitnah yang harus diwaspadai, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu)…” (at-Taghabun: 15)

“Dan ketabuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan …” (al-Anfal: 28)

Fitnah harta dan anak-anak itu ialah kadang-kadang harta atau anak-anak melalaikan manusia dari kewajiban kepada Tuhannya dan melupakan akhirat. Dalam hal iniAllah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (al-Munaafiqun: 9)

Sebagaimana dikhawatirkan manusia akan terfitnah oleh harta dan anak-anak, mereka pun dikhawatirkan terfitnah oleh wanita, terfitnah oleh istri-istri mereka yang menghambat dan menghalangi mereka dari perjuangan, dan menyibukkan mereka dengan kepentingan-kepentingan khusus (pribadi /keluarga) dan melalaikan mereka dari kepentingan-kepentingan umum. Mengenai hal ini Al-Qur’an memperingatkan: “Hai orang-orang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka …” (at-Taghabun: 14)

Wanita-wanita itu menjadi fitnah apabila mereka menjadi alat untuk membangkitkan nafsu dan syahwat serta menyalakan api keinginan dalam hati kaum laki-laki. Ini merupakan bahaya sangat besar yang dikhawatirkan dapat menghancurkan akhlak, mengotori harga diri, dan menjadikan keluarga berantakan serta masyarakat rusak.
Peringatan untuk berhati-hati terhadap wanita disini seperti peringatan untuk berhati-hati terhadap kenikmatan harta, kemakmuran, dan kesenangan hidup, sebagaimana disebutkan dalam hadits sahih: “Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku takutkan atas kamu, tetapi yang aku takutkan ialah dilimpahkan (kekayaan) dunia untuk kamu sebagaimana dilimpahkan untuk orang-orang sebelum kamu, lantas kamu memperebutkannya sebagaimana mereka dahulu berlomba-lomba memperebutkannya, lantas kamu binasa karenanya sebagaimana mereka dahulu binasa karenanya.” (Muttafaq alaih dari hadits Amr bin Auf al-Anshari)

Dari hadits ini tidak berarti bahwa Rasulullah saw. hendak menyebarkan kemiskinan, tetapi beliau justru memohon perlindungan kepada Allah dari kemiskinan itu, dan mendampingkan kemiskinan dengan kekafiran. Juga tidak berarti bahwa beliau tidak menyukai umatnya mendapatkan kelimpahan dan kemakmuran harta, karena beliau sendiri pernah bersabda: “Bagus nian harta yang baik bagi orang yang baik” (HR. Ahmad 4:197 dan 202, dan Hakim dalam al-Mustadrak 2:2, dan Hakim mengesahkannya menurut syarat Muslim, dan komentar Hakim ini disetujui oleh adz-Dzahabi)

Dengan hadits diatas, Rasulullah saw. hanya menyalakan lampu merah bagi pribadi dan masyarakat muslim di jalan (kehidupan) yang licin dan berbahaya agar kaki mereka tidak terpeleset dan terjatuh ke dalam jurang tanpa mereka sadari.

Catatan kaki:
1 Perkataan ini sudah kami sangkal dalam Fatwa-fatwa Kontemporer jilid I ini.

&

Menjauhi Fitnah Agama

13 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an –Hadits

Allah berfirman: “Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku utusan Allah untuk memberi peringatan yang nyata.” (adz-Dzaariyaat)

Dari Sa’ad bin Abu Waqqash ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang takwa, kaya, lagi pula suka merahasiakannya.” (HR Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasulallah, siapakah manusia yang paling utama?” Beliau menjawab: “Orang Mukmin yang berjuang di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya.” Ia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Seseorang yang menyendiri pada sebuah desa dengan tujuan untuk beribadah kepada Tuhannya.”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Dengan tujuan untuk bertakwa kepada Allah dan manjauhi manusia karena kejahatannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Hampir terjadi bahwa sebaik-baik harta seseorang muslim adalah kambing yang digembalakan di puncak gunung dan tempat-tempat menetesnya air, karena menjauhi fitnah-fitnah yang mengganggu agamanya.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apabila Allah mengutus seorang Nabi, pasti ia menggembala kambing.” Para shahabat bertanya: “Dan engkau?” Beliau menjawab: “Ya, dulu saya jugal menggembala kambing dengan upah dari penduduk Makkah.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Pertama, sebaik-baik kehidupan manusia adalah seseorang yang memegang kendali kudanya untuk berjuang di jalan Allah. Ia melompat ke punggung kuda setiap kali ia mendengar panggilan perang atau semacamnya, dengan lompatan itu, ia mencari musuh atau mati di tempat yang disangka ada musuh. Kedua, seseorang yang menggembala anak kambing di puncak salah satu gunung atau lembah salah satu jurang dengan mengerjakan shalat, menunaikan zakat dan senantiasa beribadah, sehingga sampai ajalnya. Ia tidak berhubungan dengan manusia sedikitpun kecuali dalam kebaikan.” (HR Muslim)