Tag Archives: fushilat

Mewarnai Gambar Kaligrafi Nama Surah Fushshilat

22 Okt

Mewarnai Gambar Kaligrafi
Nama-Nama Surah Al-Qur’an Anak Muslim

mewarnai gambar kaligrafi nama surah fushshilat

Tafsir Ibu Katsir Surah Fushshilat (12)

15 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Fushshilat (Yang Dijelaskan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 41: 54 ayat

Firman Allah: wa laqad aatainaa muusal kitaaba fakhtulifa fiiHi (“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Taurat, lalu diperselisihkan tentang Taurat itu.”) yaitu didustakan dan disakiti.
Fashbir kamaa shabara ulul ‘azmi minar rusuli (“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul yang telah bersabar.”)(al-Ahqaaf: 35) wa lau laa kalimatun sabaqat mir rabbika (“Kalau tidak ada keputusan yang telah terdahulu dari Rabb-mu.”) untuk menunda hingga hari kebangkitan. Laqu-dliya bainaHum (“tentulah orang-orang kafir itu sudah dibinasakan.”) yakni, niscaya hukuman akan disegerakan kepada mereka, bahkan bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-sekali tidak akan menemukan tempat berlindung darinya.

Wa innaHum lafii syakkim minHu muriib (“Dan sesungguhnya mereka terhadap al-Qur’an benar-benar berada dalam keragu-raguan yang membingungkan.”) maksudnya, pendustaan mereka terhadap al-Qur’an bukan berdasarkan pengetahuan mereka tentang apa yang mereka katakan, akan tetapi mereka berada dalam keraguan, maka apa yang mereka ucapkan tidak dapat memperkuat kondisi yang mereka alami. Demikian alasan yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir, meskipun hal itu masih mungkin. wallaaHu a’lam.

tulisan arab alquran surat fushilat ayat 46-48“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu Menganiaya hamba-hambaNya. Kepada-Nyalah dikembalikan pengetahuan tentang hari Kiamat. Dan tidak ada buah-buahan keluar dari kelopaknya dan tidak seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya. pada hari Tuhan memanggil mereka: “Dimanakah sekutu-sekutu-Ku itu?”, mereka menjawab: “Kami nyatakan kepada Engkau bahwa tidak ada seorangpun di antara Kami yang memberi kesaksian (bahwa Engkau punya sekutu)”. Dan hilang lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka sembah dahulu, dan mereka yakin bahwa tidak ada bagi mereka satu jalan keluarpun.” (Fushshilat: 46-48)

Allajh berfirman: man ‘amila shaalihan falinafsiHi (“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka [pahalanya] untuk dirinya sendiri.”) yakni manfaat amalnya itu akan kembali kepada dirinya sendiri. Wa man asaa-a fa ‘alaiHaa (“Dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka [dosanya] atas dirinya sendiri.”) yakni bahaya amalnya itupun akan kembali kepadanya. Wamaa rabbuka bidhallaamil lil’abiid (“Dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba-Nya.”) artinya, Dia tidak menghukum seorang pun kecuali disebabkan oleh dosanya dan Dia tidak akan menyiksa seorangpun kecuali setelah tegaknya hujjah dan diutusnya para Rasul kepadanya.

Kemudian Allah berfirman: ilaiHi yuraddu ‘ilmus saa’ati (“Kepada-Nya lah dikembalikan pengetahuan tentang hari kiamat.”) yaitu tidak ada seorangpun selain-Nya yang mengetahui hal tersebut, sebagaimana Allah berfirman: laa yujalliiHaa liwaqtiHaa illaa Huwa (“Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia.”)(al-A’raaf: 187)

Firman Allah: wa maa takhruju min tsamaraatim min akmaamiHaa wa maa tahmilu min untsaa wa laa ta-dla-u illaa bi-‘ilmiHi (“Dan tidak ada buah-buahan dari kelopaknya dan tidak seorang perempuan pun mengandung dan tidak [pula] melahirkan, melainkan dengan pengetahuan-Nya.”) artinya, semua itu menurut sepengetahuan-Nya. tidak ada sesuatu seberat dzarrah pun di bumi dan di langit yang luput dari pengetahuan-Nya.

Firman Allah: wa yauma yunaadiiHim aina syurakaa-ii (“Pada hari [Rabb] memanggil mereka: ‘Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu?”) yaitu pada hari kiamat, Allah memanggil orang-orang musyrik di hadapan para makhluk-Nya: “Dimanakah sekutu-sekutu-Ku yang kalian sembah bersama-Ku?” qaaluu aadzannaaka (“Mereka menjawab: ‘Kami nyatakan kepada Engkau.”) yaitu, kami beritahukan kepada-Mu. Maa minnaa min syaHiid (“Bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang memberi kesaksian.”) yakni, tidak ada seorangpun di antara kami yang dapat memberi kesaksian pada hari ini bahwa Engkau mempunyai sekutu.

Wa dlalluu ‘anHum maa kaanuu yad’uuna ming qablu (“Dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka sembah dahulu.”) yakni mereka hilang dan tidak bermanfaat bagi mereka (para penyembahnya). Wa dhannuu maa laHum mim mahiish (“Dan mereka yakin bahwa tidak ada bagi mereka suatu jalan keluar pun.”) artinya, orang-orang musyrik meyakini pada hari kiamat, kata dhann di sini memiliki makna meyakini: maa laHum mim mahiish (“Tidak ada bagi mereka suatu jalan keluar pun.”) yaitu, tidak ada tempat berlari bagi mereka dari adzab Allah.

tulisan arab alquran surat fushilat ayat 49-51“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka Dia menjadi putus asa lagi putus harapan. Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah Dia ditimpa kesusahan, pastilah Dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku Maka Sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya.” Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras. Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, Maka ia banyak berdoa.” (Fushshilat: 49-51)

Allah berfirman: “Manusia tidak jemu memohon kebaikan dari Rabbnya berupa harta, kesehatan badan dan lain-lain. Dan jika ditimpa malapetaka berupa bencana atau kemiskinan, faya-uusung qanuuth (“Dia menjadi putus asa lagi putus harapan.”) maksudnya, muncul perasaan dalam benaknya bahwa tidak ada lagi kebaikan yang akan diperolehnya setelah itu.
Wa la-in adzaqnaaHu rahmatam minnaa mim ba’di dlarraa-a massatHu layaquulanna Haadzaalii (“Dan jika Kami merasakan kepadanya suatu nikmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: ‘Ini adalah hakku.’”) yaitu jika dia mendapatkan kebaikan dan rizky setelah sebelumnya berada dalam kesulitan, niscaya dia berkata: ‘Ini adalah hakku, aku memang dari dahulu berhak menerimanya di sisi Rabb-ku. Wa maa adhunnus saa’ata qaa-imatan (“Dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang.”) yaitu, dia mengingkari terjadinya hari kiamat.

Hal itu berarti bahwa saat dia mendapatkan kenikmatan, dia berbangga diri, sombong dan kufur. Sebagaimana firman Allah: “Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (al-‘Alaq: 6-7)

Bersambung ke bagian 13

Tafsir Ibu Katsir Surah Fushshilat (11)

15 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Fushshilat (Yang Dijelaskan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 41: 54 ayat

Wa innaHuu lakitaabun ‘aziiz (“Dan sesungguhnya al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia.”) yakni suci terlindungi, tidak ada seorang pun yang dapat mendatangkan kitab semisal dengannya. Laa ya’tiiHil baathilu mim baini yadaiHi wa laa min khalfiHim (“Yang tidak datang kepadanya [al-Qur’an] kebathilan, baik dari depan maupun dari belakangnya.”) artinya, tidak ada satu jalanpun bagi kebathilan untuk mendatanginya, karena al-Qur’an diturunkan dari Rabb semesta alam. Untuk itu Dia berfirman: tanzilum min hakiimin hamiid (“yang diturunkan dari [Rabb] Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji.”) yakni Mahabijaksana dalam perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan-Nya. hamiid berarti Rabb yang Mahaterpuji dalam seluruh apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya. seluruhnya memiliki akibat dan tujuan yang terpuji.

Kemudian Allah berfirman: maa yuqaalu laka illaa maa qad qiila lir rusuli ming qablika (“Tidaklah ada yang dikatakan [oleh orang-orang kafir] kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada Rasul-Rasul sebelummu.”) Qatadah, as-Suddi dan lain-lain berkata: “Tidak ada satu pendustaan pun yang dilontarkan kepadamu, kecuali hal tersebut sudah dikatakan pula kepada para Rasul sebelummu. Sebagaimana engkau didustakan, merekapun telah didustakan. Dan sebagaimana mereka telah sabar dalam menanggung derita atas hal-hal yang menyakitkan dari kaum mereka, maka bersabarlah engkau terhadap hal-hal yang menyakitkan dari kaummu.” Inilah yang menjadi pendapat pilihan Ibnu Jarir. Beliau sendiri dan Ibnu Abi Hatim tidak menuturkan pendapat lainnya.

Firman Allah: inna rabbaka ladzuu maghfiraH (“Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mempunyai ampunan.”) yaitu bagi orang yang bertaubat kepada-Nya. wa dzuu ‘iqaabin aliim (“Dan hukuman yang pedih”). Yaitu bagi orang yang terus bergelimang dalam kekufuran, pembangkangan, penentangan, perlawanan dan perselisihan kepada-Nya.

tulisan arab alquran surat fushilat ayat 44-45“Dan Jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.” Dan Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Taurat lalu diperselisihkan tentang Taurat itu. kalau tidak ada keputusan yang telah terdahulu dari Rabb-mu, tentulah orang-orang kafir itu sudah dibinasakan. dan Sesungguhnya mereka terhadap Al Quran benar-benar dalam keragu-raguan yang membingungkan.” (Fushshilat: 44-45)

Tatkala Allah menyebutkan tentang al-Qur’an, kefashihan, keindahan dan kerapihan dalam lafazh dan maknanya, namun demikian orang-orang musyrik tetap tidak mengimaninya, maka Allah mengingatkan bahwa kekufuran mereka merupakan kufur pembangkangan dan kesombongan. Demikian pula seandainya al-Qur’an seluruhnya diturunkan dengan bahasa ‘ajam, niscaya mereka dengan penuh kesombongan dan pembangkangan akan berkata: lau laa fushshilat aayaatuHu aa’jamiyyuw wa ‘arabiyy (“Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah [patut al-Qur’an] dalam bahasa asing sedang [Rasul adalah orang] Arab?”) yakni niscaya mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan secara rinci dengan bahasa Arab.” Dan niscaya merekapun mengingkarinya. Mereka mengatakan: aa’jamiyy wa ‘arabiyy; artinya, bagaimana al-Qur’an diturunkan dengan bahasa ‘ajam, sementara pihak yang menerimanya adalah orang Arab yang tidak dapat memahaminya.” Demikianlah makna ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, as-Suddi dan lain-lain.

Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan perkataan mereka: lau laa fushshilat aayaatuHu aa’jamiyyuw wa ‘arabiyy; yaitu apakah sebagiannya diturunkan dengan bahasa ‘ajam, sedangkan sebagian lainnya diturunkan dalam bahasa Arab?” ini adalah penafsiran al-Hasan al-Bashri dan beliaupun membacanya demikian, tanpa kalimat tanya dalam firman-Nya: aa’jamiyy; ini juga merupakan satu riwayat pendapat dari Sa’id bin Jubair. Hal tersebut lebih menunjukkan kesombongan dan pembangkangan.

Kemudian firman Allah: qul Huwa lilladziina aamanuu Hudaw wa syifaa-un (“Katakanlah: ‘Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.”) yakni, katakanlah wahai Muhammad: “Al-Qur’an ini bagi orang yang mengimaninya adalah petunjuk qalbunya dan obat penawar keraguan yang terdapat di dalam dadanya.” Walladziina laa yu’minuuna fii aadzaaniHim waqrun (“Dan orang-orang yang tidak beriman, pada telinganya ada sumbatan.”) maksudnya mereka tidak dapat memahami isi kandungannya. Wa Huwa ‘alaiHim ‘amaa (“Sedang al-Qur’an itu kegelapan bagi mereka.”) yakni mereka tidak dapat meraih petunjuk dari penjelasan kandungannya. Ulaa-ika yunaadauna mim makaanim ba’iid (“Mereka itu adalah [seperti] orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.”) Mujahid berkata: “Yakni, jauh dari hati-hati mereka.” Sedangkan Ibnu Jarir berkata: “Seakan-akan orang yang mengajaknya bicara, menyeru mereka dari tempat yang jauh, hingga mereka tidak dapat memahami apa yang diucapkannya. Menurutku ini firman Allah Ta’ala: “Dan perumpamaan [orang yang menyeru] orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. mereka tuli, bisu, dan buta, maka [oleh sebab itu] mereka tidak mengerti.”)(al-Baqarah: 171)

Adh-Dhahhak berkata: “Pada hari kiamat, mereka dipanggil dengan nama-nama mereka yang paling buruk.”

Bersambung ke bagian 12

Tafsir Ibu Katsir Surah Fushshilat (10)

15 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Fushshilat (Yang Dijelaskan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 41: 54 ayat

tulisan arab alquran surat fushilat ayat 37-39“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah. jika mereka menyombongkan diri, Maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu. Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau Lihat bumi kering dan gersang, Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan yang menghidupkannya, pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Fushshilat: 37-39)

Allah berfirman mengingatkan makhluk ciptaan-Nya tentang kekuasaan-Nya yang agung, Dia-lah Rabb yang tidak ada tandingan-Nya serta Mahakuasa atas segala sesuatu. Wa min aayaatiHil lailu wan naHaaru wasy syamsu walqamaru (“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan.”) yaitu bahwa Dia-lah yang menciptakan malam dengan gelap gulitanya dan siang dengan cahaya benderangnya, dimana keduanya silih berganti tanpa lelah. Dia pula yang menciptakan matahari dengan cahaya dan sinarnya, bulan dengan cahayanya, ketentuan perputaran di orbitnya di atas sana dengan rotasi matahari agar dengan perbedaan rotasi itu dapt diketahui ukuran malam dan siang, hari , bulan dan tahun serta akan jelas pula masa ketentuan hak-hak, waktu-waktu ibadah dan mu’amalah. Kemudian dikarenakan matahari dan bulan merupakan benda langit terindah yang dapat dilihat di alam atas dan bawah, maka Allah mengingatkan bahwa keduanya hanyalah ciptaan-Nya dan hamba-Nya yang berada di bahwa kekuasaan dan aturan-Nya.

Maka Allah berfirman: laa tasjuduu lisysyamsi wa laa lilqamari wasjuduu lillaaHil ladzii khalaqaHunna in kuntum iyyaaHu ta’buduun (“Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja beribadah.”) yakni janganlah kalian berbuat syirik kepada-Nya. Tidaklah bermanfaat bagi kalian penyembahan kalian kepada benda-benda itu bersama dengan pengabdian kepada-Nya, karena sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa perbuatan syirik.

Untuk itu Allah berfirman: fa inistakbaruu (“Jika mereka menyombongkan diri.”) yakni tidak memurnikan peribadahan kepada-Nya serta menolak apa pun kecuali menyekutukan-Nya bersama selain-Nya: falladziina ‘inda rabbika (“Maka mereka yang di sisi Rabb-mu.”) yaitu para malaikat, yusabbihuuna laHuu billaili wan naHaari wa Hum laa yas-amuun (“bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak pernah jemu.”)

Dan firman-Nya: wa min aayaatiHii (“Dan sebagian dari tanda-tanda-Nya”) yakni, atas kekuasaan-Nya menghidupkan kembali orang-orang yang mati. Annaka taral ardla khaasyi’atan (“Bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus.”) artinya kering tanpa tumbuh-tumbuhan, bahkan [sebagai] tanah yang mati.
Fa idzaa anzalnaa ‘alaiHal maa-aH tazzat wa rabat (“Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur.”) yaitu mengeluarkan berbagai jenis tanam-tanaman dan buah-buahan. Innalladzii ahyaaHaa lamuhyil mautaa. innaHuu ‘alaa kulli syai-ing qadiir (“Sesungguhnya [Rabb] yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”)

tulisan arab alquran surat fushilat ayat 40-43“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari kami. Maka Apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik, ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat? perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quran ketika Al Quran itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan Sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Tidaklah ada yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu itu selain apa yang Sesungguhnya telah dikatakan kepada Rasul-rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih.” (Fushshilat: 40-43)

Firman Allah: innalladziina yulhiduuna fii aayaatinaa (“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami.”) Ibnu Abbas berkata: ilhad adalah meletakkan suatu pembicaraan bukan pada tempatnya.” Sedangkan Qatadah dan lain-lain berkata: “Yaitu kekufuran dan pembangkangan.”
Firman Allah: laa yakhfauna ‘alainaa (“Mereka tidak tersembunyi dari Kami.”) di dalamnya terdapat gertakan yang keras dan ancaman yang kuat. Artinya, bahwa Allah Mahamengetahui siapakah yang mengingkari ayat-ayat, Nama-nama dan sifat-Nya, karena itu Dia akan membalasnya dengan siksaan dan hinaan. Untuk itu Allah berfirman: afamay yulqaa fin naari khairun am may ya’tii aaminay yaumal qiyaamati (“Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat?”) yaitu apakah sama antara yang pertama dengan yang kedua ini? Tentu keduanya tidaklah sama. Kemudian Allah berfirman mengancam orang-orang kafir: i’maluu maa syi’tum (“Berbuatlah apa yang kamu kehendaki.”)

Mujahid, adh-Dhahhak dan ‘Atha’ al-Khurasani berkata: i’maluu maa syi’tum (“Berbuatlah apa yang kamu kehendaki.”) merupakan ancaman, yakni berupa kebaikan ataupun kejahatan, karena Allah Mahamengetahui kalian dan Mahamelihat amal-amal kalian.”
Untuk itu Allah berfirman: innaHuu bimmaa ta’maluuna bashiir (“Sesungguhnya Dia Mahamelihat apa yang kamu kerjakan.”)

Kemudian Allah berfirman: innalladziina kafaruu bidz-dzikri lammaa jaa-aHum (“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari adz-Dzikru ketika ia datang kepada mereka.”) adh-Dhahhak, as-Suddi dan Qatadah berkata: “Yaitu al-Qur’an.”

Bersambung ke bagian 11

Tafsir Ibu Katsir Surah Fushshilat (9)

15 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Fushshilat (Yang Dijelaskan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 41: 54 ayat

tulisan arab alquran surat fushilat ayat 33-36“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?’ Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai Keuntungan yang besar. Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, Maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Fushshilat: 33-36)

Firman Allah: wa man ahsanu qaulan mimman da’aa ilallaaHi (“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah.”) yakni menyeru para hamba Allah kepada-Nya. Wa ‘amila shaalihaw wa qaala innanii minal muslimiin (“Dan mengerjakan amal yang shalih dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’”) artinya dia sendiri menjalankan apa yang dikatakannya, maka manfaaatnya untuk dirinya sendiri dan orang lain. Dia bukan termasuk orang-orang yang memerintahkan kepada yang ma’ruf akan tetapi dia sendiri mengerjakannya. Serta melarang dari kemungkaran akan tetapi dia sendiri mengerjakannyha. Akan tetapi ia adalah orang yang melaksanakan kebaikan, meninggalkan keburukan dan menyeru manusia kepada kebaikan yang menyeru manusia kepada kebaikan dan dia sendiri melaksanakannya. Rasulullah saw. adalah manusia yang lebih utama dalam masalah ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad bin Sirin, as-Suddi dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam.

Satu pendapat mengatakan bahwa yang dimaksud adalah para muadzin yang baik, sebagaimana tercantum dalam shahih Bukhari: “Para muadzin adalah manusia yang terpanjang lehernya pada hari kiamat.”
Dan di dalam kitab sunan secara marfu’: “Imam adalah penanggungjawab dan muadzin adalah pemegang amanah. Semoga Allah memberikan hidayah kepada para imam dan mengampuni para muadzin.”

Ibnu Mas’ud berkata: “Seandainya dulu aku seorang muadzin, niscaya aku tidak berhaji, tidak berumrah, ataupun berjihad.”
Umar bin al-Khaththab berkata: “Seandainya dulu aku seorang muadzin, niscaya sempurnalah urusanku. Dan aku tidak peduli apakah aku tidak mendirikan qiyamul lail ataupun shiyam sepanjang hari.” Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Ya Allah ampunilah para muadzin.” (3x)

Al-Baghawi menyebutkan dari Abu Umamah al-Bahili, bahwa dia berkata tentang firman Allah: wa ‘amila shaalihan (“Mengerjakan amal yang shalih.”) yaitu shalat dua rakaat antara adzan dan iqamat. Kemudian al-Baghawi membawakan hadits Abdullah al-Mughaffal, ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Di antara setiap dua adzan terdapat shalat –kemudian beliau bersabda pada [ucapan] yang ketiga- bagi orang yang menghendakinya.’”)

Dan diriwayatkan oleh beberapa ahli hadits dalam kitab-kitab mereka, dari Abdullah bin Buraidah dan ats-Tsauri dari Zaid al-‘Ama, dari Abu Iyasy Mu’awiyah bin Qurrah, dari Anas bin Malik, dimana ats-Tsauri berkata: “Aku tidak melihatnya kecuali hal itu dinyatakannya sebagai hadits marfu’, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Doa tidak ditolak antara adzan dan iqamat.” (Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i di dalam al-Yaum wal lailah, dari hadits ats-Tsauri, at-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan.” Dan diriwayatkan pula oleh an-Nasa’i dari hadits Salman at-Taimi dari Qatadah, dari Anas.)

Pendapat yang shahih bahwa ayat ini bersifat umum, mencakup para muadzin dan selain mereka.

Firman Allah: walaa tastawil hasanatu walas sayyiatu (“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.”) yaitu terdapat perbedaan yang amat besar antara kebaikan dan kejahatan. Idfa’ billati Hiya ahsan (“Tolaklah [kejahatan itu] dengan cara yang lebih baik.”) yaitu jika ada orang yang berlaku buruk kepadamu, maka tolaklah dengan cara yang lebih baik. Sebagaimana Umar berkata: “Tolaklah menghukum orang yang berbuat maksiat kepada Allah dalam dirimu sebagaimana bila engkau berbuat taat kepada Allah dalam dirinya.”

Firman Allah: fa idzalladzii bainaka wa bainaHu ‘adaawatun ka annaHu waliyyun hamiim (“Maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”) yaitu sebagai teman baik. Yakni jika engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadamu, niscaya kebaikan itu akan mengarahkannya untuk bersikap tulus kepadamu, mencintaimu dan merindukanmu, sehingga seakan-akan dia menjadi teman setia, dalam arti mendekatimu dengan rasa kasih sayang dan berbuat baik.

Kemudian Allah berfirman: wa maa yulaqqaaHaa illalladziina shabaruu (“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar.” Tidak ada yang dapat menerima dan mengamalkan wasiat ini kecuali orang yang sabar atas hal ini, karena ini amat berat bagi jiwa.
Wa maa yulaqqaaHaa illaa dzuu hadhdhin ‘adhiim (“Dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang sangat besar.”) yaitu orang yang mendapatkan bagian terbersar berupa kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas dalam menafsirkan ayat ini: “Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk sabar ketika marah, dan lapang dada ketika dibodohi, serta memaafkan ketika disalahkan. Jika mereka melakukan hal itu niscaya Allah memelihara mereka dari syaitan serta menundukkan musuh-musuh mereka, seakan-akan menjadi teman setia.”

Firman Allah: wa immaa yanzaghannaka minasy syaithaani nazghun fasta-‘idz billaaHi (“Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah.”) maksudnya syaitan dari bangsa manusia terkadang dapat ditundukkan dengan cara berbuat baik kepadanya, sedangkan syaitan dari bangsa jin jika melakukan waswas, tidak ada jalan keluar baginya kecuali meminta perlindungan kepada [Rabb] Mahapencipta yang telah memperkenankannya menguasaimu. Jika engkau memohon perlindungan kepada Allah dan menuju kepada-Nya, niscaya Dia akan mencegahnya darimu dan menolak tipu dayanya.

Bersambung ke bagian 10

Tafsir Ibu Katsir Surah Fushshilat (8)

15 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Fushshilat (Yang Dijelaskan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 41: 54 ayat

tulisan arab alquran surat fushilat ayat 30-32“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 30-32)

Allah berfirman: innalladziina qaaluu rabbunallaaHu tsummastaqaamuu (“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka.”) yaitu memurnikan amal untuk Allah dan beramal karena taat kepada Allah atas apa yang telah disyariatkan-Nya kepada mereka.

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman Allah: innalladziina qaaluu rabbunallaaHu tsummastaqaamuu (“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka.”) yaitu dalam menunaikan hal-hal yang fardlu. Demikian pula dikatakan oleh Qatadah. Al-Hasan pernah berkata: “Ya Allah, Engkau adalah Rabb kami maka anugerahkanlah rizky istiqamah kepada kami.”

Dari Sufyan bin ‘Abdillah ats-Tsaqafi: “Aku berkata: ‘Ya Rasulallah, ceritakanlah kepadaku sebuah perkara yang dapat aku pegang.’ Rasulullah saw. bersabda: ‘Katakanlah: Rabbku adalah Allah, kemudian istiqamahlah.’ Aku bertanya: ‘Ya Rasulallah, apakah hal yang paling engkau takutkan dariku?’ lalu Rasulullah saw. memegang ujung lisannya sendiri dan menjawab: ‘Ini.’

Demikian diriwayatkan oleh Muslimm dalam shahihnya dan an-Nakha’i, dari hadits Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, bahwa Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi berkata: Aku berkata: “Ya Rasulallah, katakanlah kepadaku dalam ajaran Islam ini suatu perkataan yang membuatku tidak bertanya kepada seorang pun sesudahmu.” Rasulullah saw. bersabda: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.’” Dan seterusnya.

Firman Allah: tatanazzalu ‘alaiHimul malaa-ikatu (“Maka malaikat akan turun kepada mereka.”) Mujahid, as-Suddi, Zaid bin Aslam dan anaknya berkata: “Yaitu ketika [datang] kematian, para malaikat itu mengatakan: alaa takhaafuu (‘Janganlah kamu merasa takut.’) Mujahid, ‘Ikrimah dan Zaid bin Aslam berkata: “Yaitu dari perkara akhirat yang kalian hadapi.” Walaa tahzanuun (‘dan janganlah kalian merasa sedih.’) atas perkara dunia yang kalian tinggalkan, berupa anak, keluarga, harta atau utang piutang. Karena sesungguhnya Kami akan menggantikan hal itu untuk kalian.

Wa abshiruu bil jannatillatii kuntum tuu’aduun (“Dan bergembiralah kamu dengan [memperoleh] surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”) lalu mereka diberikan kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan tercapainya kebaikan.
Yaitu Allah Ta’ala memberikan keamanan dari rasa takutnya dan menyejukkan pandangan matannya, kecuali hal itu bagi seorang mukmin merupakan sesuatu yang menyujukkan jiwa, karena hidayah yang diberikan Allah kepadanya, juga karena amal yang dilakukannya di dunia.

Zaid bin Aslam berkata: “Mereka [para malaikat] memberi kabar gembira ketika kematiannya, di dalam kuburnya dan ketika dibangkitkan.” (HR Ibnu Abi Hatim). Pendapat ini menghimpun seluruh pendapat sebelumnya dan pendapat ini amat baik dan realistis.

Firman Allah: nahnu auliyaa-ukum fil hayaatid dun-yaa wa fil aakhirati (“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan di dunia dan akhirat.”) yaitu para malaikat berkata kepada kaum mukminin di saat kematian: “Kamilah pelindung-pelindungmu.” Yaitu kami adalah pendamping-pendamping kalian di dalam kehidupan dunia, kami menunjukkan, mengarahkan dan melindungi kalian dengan perintah Allah. Begitu pula kami akan bersama kalian di akhirat, mengamankan kalian pada hari kebangkitan dan perhimpunan serta membawa kalian melintasi ash-Shiraathul mustaqiim dan menyampaikan kalian ke jannatun Na’iim.

Firman Allah: wa lakum fiiHaa ma tasytaHii anfusukum (“Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan.”) yaitu di dalam surga, kalian akan memperoleh seluruh pilihan yang diinginkan oleh jiwa kalian dan disenangi oleh diri kalian. Wa lakum fiiHaa maa tadda’uun (“dan memperoleh [pula] di dalamnya apa yang kamu minta.”) yaitu kapan saja kamu minta, kalian pasti dapatkan dan langsung datang ke hadapan kalian seperti apa yang kalian pilih.

Nuzulam min ghafuurir rahiim (“Sebagai hidangan [bagimu] dari [Rabb] Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) yaitu hidangan, pemberian dan kenikmatan dari Rabb Yang Mahapengampun dosa-dosa kalian, Mahapengasihi kalian serta Mahalembut, dimana Dia mengampuni, memaafkan, menyayangi dan mengasihi (kalian).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang mencintai perjumpaan dengan Allah, niscaya Allah cinta menjumpainya. Dan barangsiapa yang membenci perjumpaan dengan Allah, niscaya Allah benci menjumpainya.” Kami bertanya: “Ya Rasulallah, kami seluruhnya benci kepada kematian.” Rasulullah menjawab: “Bukan itu yang dimaksud benci kematian. Akan tetapi jika seorang mukmin beraa dalam detik kematiannya, maka datanglah kabar gembira dari Allah Ta’ala tentang tempat kembali yang ditujunya. Maka tidak ada sesuatu [pun] yang lebih dicintainya daripada menjumpai Allah Ta’ala, maka Allah pun cinta menjumpainya. Dan sesungguhnya orang yang jahat atau kafir jika berada dalam detik kematiannya, maka datanglah berita tentang tempat kembali yang dituju berupa keburukan atau apa yang akan dijumpainya berupa keburukan, lalu dia benci bertemu dengan Allah, maka Allah pun benci menemuinya.” (Hadits ini shahih dan tercantum pula dalam kitab shahih dari jalan yang lain).

 

Bersambung ke bagian 9

Tafsir Ibu Katsir Surah Fushshilat (7)

15 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Fushshilat (Yang Dijelaskan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 41: 54 ayat

tulisan arab alquran surat fushilat ayat 25-29“Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jinn dan manusia, Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka”. Maka Sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi Balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Demikianlah Balasan terhadap musuh-musuh Allah, (yaitu) neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai Balasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat kami. Dan orang-orang kafir berkata: “Ya Rabb Kami perlihatkanlah kepada Kami dua jenis orang yang telah menyesatkan Kami (yaitu) sebagian dari jinn dan manusia agar Kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki Kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina”. (Fushshilat: 25-29)

Allah menyebutkan bahwa Dia-lah yang menyesatkan kaum musyrikin dan semua itu dengan kehendak, ketentuan dan kekuasaan-Nya; Dia-lah yang Mahabijaksana dalam perbuatan-perbuatan-Nya, dengan menetapkan bagi mereka teman-teman pendamping dari setan-setan manusia dan jin. Fazayyanuu laHum maa baina aidiiHim wa maa khalfaHum (“Yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka.”) yakni membuat mereka menganggap bagus amal-amal mereka yang telah lalu, sedangkan untuk masa yang akan datang mereka tidak melihat diri mereka melainkan orang-orang yang berbuat baik. Sebagaimana firman Allah: “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan Sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (az-Zukhruf: 36-37)

Dan firman Allah: wa haqqa ‘alaiHimul qaulu (“Dan tetaplah atas mereka keputusan adzab.”) yaitu tetaplah atas mereka keputusan adzab sebagaimana yang ditetapkan umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari bangsa jin dan manusia, sesungguhnya mereka golongan orang-orang yang merugi. Artinya, mereka semua sama-sama dalam kerugian dan kehancuran.

Firman Allah: wa qaalaladziina kafaruu laa tasma’uu liHaadzal qur-aani (“Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan al-Qur’an ini.”) maksudnya, di antara mereka saling berpesan agar tidak mentaati al-Qur’an dan tidak tunduk kepada perintah-perintahnya.
Wal ghaufiiHi (“Dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya.”) artinya, jika al-Qur’an dibacakan maka janganlah kalian dengarkan. Sebagaimana dikatakan oleh Mujahid: “Dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya, yakni dengan bersiul dan bertepuk tangan serta mencampuraduk perkataan terhadap Rasulullah saw.” jika beliau membaca al-Qur’an, orang-orang Quraisy melakukannya.
Adl-Dhahhak berkata dari Ibnu Abbas: “wal ghaufiiHi; yaitu ejeklah dia.”

La’allakum taghlibuun (“Supaya kamu dapat mengalahkan [mereka].”) inilah kondisi orang-orang kafir yang bodoh dan orang-orang yang menempuh sikap yang sama dengan mereka ketika mendengarkan al-Qur’an. Untuk itu Allah memerintahkan hamba-Nya yang beriman agar tidak bersikap demikian dengan firman-Nya: wa idzaa quri-al qur-aanu fastami’uu laHu wa anshituu la’allakum turhamuun (“Dan apabila dibacakan al-Qur’an, maka dengarlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (al-A’raaf: 204)

Kemudian Allah berfirman dalam rangka membela al-Qur’an dan mencela orang-orang kafir yang menentangnya: falanudziiqannalladziina kafaruu ‘adzaaban syadiidan (“Maka sesungguhnya Kami akan merasakan kepada orang-orang kafir adzab yang keras.”) yaitu sebagai balasan atas sikap mereka terhadap al-Qur’an dan ketika mereka mendengarnya. Wa lanajziyannaHum aswa-alladzii kaanuu ya’maluun (“Dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.”) yakni disebabkan keburukan amal-amal mereka dan kejelekan sikap-sikap mereka.

Firman Allah: dzaalika jazaa-u a’daa-illaaHin naaru laHum fiiHaa daarul khuldi jazaa-am bimaa kaanuu bi aayaatinaa yajhaduun. Wa qaalalladiina kafaruu rabbanaa arinal ladzaini a-dlallanaa minal jinni wal insi naj’alHumaa tahta aqdaaminaa liyakuunaa minal asfaliin (“Ya Rabb Kami perlihatkanlah kepada Kami dua jenis orang yang telah menyesatkan Kami (yaitu) sebagian dari jinn dan manusia agar Kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki Kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina”)

Sufyan ats-Tsauri berkata dari Salamah bin Kuhail, dari Malik bin al-Hushain al-Fazari, dari ayahnya tentang firman Allah: alladzaaini a-dlallanaa (“Dua orang yang menyesatkan kami.”) Ali berkata: “Iblis dan anak Adam yang membunuh saudaranya.”)

Diriwayatkan pula senada dengan ini oleh al-Aufi dari ‘Ali. As-Suddi menuturkan bahwa Ali berkata: “Iblis diseru demikian oleh pelaku syirik dan anak Adam pun diseru demikian oleh setiap pelaku dosa besar. Karena iblis adalah penyeru kepada segala keburukan, dari syirik hingga yang lebih rendah darinya, sedangkan anak Adam yang pertama sebagaimana yang tercantum di dalam hadits: “Tidak ada satu jiwa pun terbunuh secara dhalim kecuali anak Adam yang pertama menanggung pula darahnya. Karena dialah orang pertama kali melakukan pembunuhan.”

Perkataan mereka: naj’alHumaa tahta aqdaaminaa (“Agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami.”) yaitu di bawah kami dalam siksaan, agar keduanya mendapat siksa yang lebih keras dari kami. Untuk itu mereka berkata: liyakuunaa minal asfaliin (“Supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina.”) yaitu di dasar terbawah api neraka.

Bersambung ke bagian 8

Tafsir Ibu Katsir Surah Fushshilat (6)

15 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Fushshilat (Yang Dijelaskan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 41: 54 ayat

Banyak hadits dan atsar yang telah disebutkan sebelumnya pada firman Allah Ta’ala dalam surah Yaasiin: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkata kepada Kami tangan mereka dan kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (Yaasiin: 65) maka tidak perlu diulangi lagi.

Firman Allah: wa maa kuntum tastatiruuna ay yasy-Hada ‘alaikum sam’ukum wa laa abshaarukum wa laa juluudukum (“Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu.”) yaitu anggota-anggota tubuh dan kulit-kulit itu berkata kepada mereka ketika mereka mencelanya karena mengutarakan persaksiannya: “Kalian sekali-sekali tidak dapat menyembunyikan apa yang kalian kerjakan itu dari kami, bahkan kalian jelas-jelas menyatakan kekufuran dan kemaksiatan kalian kepada Allah. Dan kalian tidak peduli kepada-Nya dalam prasangka kalian, karena kalian tidak meyakini bahwa Dia Mahamengetahui seluruh perbuatan kalian.

Untuk itu Allah berfirman: wa laakin dhanantum annallaaHa laa ya’lamu katsiiram mimmaa ta’maluun. Wa dzaalikum dhannukumulladzii dhanantum birabbikum ardaakum (“Bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu, prasangka itu telah membinasakanmu.”)
Prasangka yang rusak itu adalah keyakinan kalian, bahwa Allah tidak dapat mengetahui kebanyakan dari apa yang kalian kerjakan. Itulah yang menghancurkan dan membinasakan kalian dari sisi Rabb kalian. Fa-ashbahtum minal khaasiriin (“Maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”) yakni, di tempat berkumpul pada hari kiamat, kalian akan membuat rugi diri kalian sendiri dan keluarga kalian.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abdullah berkata: “Dahulu aku pernah bersembunyi di belakang tirai Ka’bah, lalu datanglah tiga orang, satu orang Quraisy dan dua orang iparnya dari Tsaqif –atau satu orang dari Tsaqif dan dua orang iparnya dari Quraisy-. Perut mereka buncit dan akal fikiran mereka sedikit. Mereka berbicara tentang sesuatu yang tidak dapat aku dengar. Maka salah seorang dari mereka berkata: “Bagaimana pendapatmu, apakah Allah mendengar apa yang kita katakan?” yang lain menjawab: “Jika kita berbicara keras Ia akan mendengar, tetapi jika berbisik maka tentu tidak.” Tetapi seorang lagi berkata: “Jika Dia dapat mendengar di waktu kita bicara keras, pasti Dia mendengar seluruhnya.” Lalu hal itu aku ceritakan kepada Rasulullah saw. maka Allah menurunkan: wa maa kuntum tastatiruuna ay yasy-Hada ‘alaikum sam’ukum wa laa abshaarukum wa laa juluudukum (“Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu.”) sampai pada firman-Nya: “termasuk orang-orang yang merugi.” Demikian pula diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, juga al-Bukhari dan Muslim dari hadits Sufyanain, dari Ibnu Mas’ud.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabari ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah salah seorang kalian mati kecuali dia dalam kedaan berbaik sangka kepada Allah. Sungguh ada suatu kaum yang menjadi binasa karena buruk sangka mereka kepada Allah, maka Allah berfirman: ‘Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangkakan terhadap Rabb-mu, prasangka itu telah membinasakanmu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”

Firman Allah: fa iy yashbiruu fan naaru matswal laHum wa iy yasta’tibuu famaa Hum minal mu’tabiin (“Jika mereka bersabar [menerima adzab], maka nerakalah tempat diam mereka. Dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan, maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya.” Artinya, sama saja bagi mereka, bersabar ataupun tidak, mereka tetap berada di neraka, tidak dapat lolos dan tidak ada jalan keluar bagi mereka. Jika mereka meminta dimaafkan dan mengemukakan alasan-alasan, maka alasan mereka itu tidak diterima dan kesalahan mereka tidak dapat dimaafkan.

Ibnu Jarir berkata: “Makna firman Allah: wa iy yasta’tibuu; yaitu jika mereka meminta dikembalikan ke dunia, maka tidak lagi diperkenankan.” Hal ini seperti firman Allah yang telah memberitakan tentang mereka: “Mereka berkata: ‘Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan kami adalah orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya [dan kembalikanlah kami ke dunia], maka jika kami kembali [juga kepada kekafiran], sesungguhnya kami adalah orang-orang yang dhalim.’ Allah berfirman: ‘Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku.’”

Bersambung ke bagian 7

Tafsir Ibu Katsir Surah Fushshilat (5)

15 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Fushshilat (Yang Dijelaskan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 41: 54 ayat

Firman Allah: fii ayyaamin nahisaat (“Dalam beberapa hari yang naas.”) yakni berturut-turut. Seperti firman Allah: fii yaumin nahsim mustaqarr (“Pada hari naas yang terus-menerus”)(al-Qamar: 19). Artinya, mereka mulai ditimpa adzab ini pada hari naas atas mereka dan kenaasan tersebut terus berlangsung. Sab’a layaaliw wa tsamaaniyata ayyaamin husuuman (“Selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus.”)(al-Haaqqah: 7) hingga hancur secara keseluruhan serta dikenakan kepada mereka kehinaan dunia dan siksa akhirat.

Untuk itu Allah berfirman: linudziiqaHum ‘adzaabal khizyi fil hayaatid dun-yaa wa la-‘adzaabul aakhirati akhzaa (“Karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan.”) yaitu amat menghinakan bagi mereka. Wa Hum laa yunsharuun (“Sedang mereka tidak diberi pertolongan.”) yaitu di akhirat, sebagaimana mereka tidak diberi pertolongan di dunia, serta Dia tidak berikan kepada mereka seorang pelindungpun yang mampu memelihara mereka dari adzab dan yang mampu menolak mereka dari siksaan.

Firman Allah: wa ammaa tsamuudu faHadainaaHum (“Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk.”) Ibnu ‘Abbas, Abul ‘Aliyah, Sa’id bin Jubair, Qatadah, as-Suddi dan Ibnu Zaid berkata: “Kami telah jelaskan kepada mereka.” Sedangkan ats-Tsauri berkata: “Kami telah serukan kepada mereka.” Fastahabbul ‘amaa ‘alal Hudaa (“Tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu.”) yakni Kami telah perlihatkan, jelaskan dan tegaskan kebenaran kepada mereka melalui lisan Nabi mereka, yaitu Shalih as. Akan tetapi mereka tetap menyelisihinya, mendustakannya dan menyembelih unta Allah yang dijadikan-Nya sebagai bukti dan tanda kebenaran Nabi mereka itu. Fa akhadzatHum shaa-‘iqatul ‘adzaabil Huuni (“Maka mereka disambar petir, adzab yang menghinakan.”) yaitu Allah mengirimkan suara, getaran, hinaan, adzab dan siksaan kepada mereka. Bimaa kaanuu yaksibuun (“Disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.”) yaitu, berupa sikap mendustakan dan penentangan.

Wa najjainal ladziina aamanuu (“Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman.”) yaitu dari lingkungan mereka dengan tidak tersentuh siksaan dan tidak tertimpa bencana, bahkan Allah Ta’ala menyelamatkan mereka bersama Nabi mereka, Shalih as, disebabkan keimanan dan ketakwaan mereka kepada Allah swt.

tulisan arab alquran surat fushilat ayat 19-24“Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah di giring ke dalam neraka, lalu mereka dikumpulkan semuanya. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: ‘Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?’ kulit mereka menjawab: ‘Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan Kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.’ Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, Maka jadilah kamu Termasuk orang-orang yang merugi. Jika mereka bersabar (menderita azab) Maka nerakalah tempat diam mereka dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan, Maka tidaklah mereka Termasuk orang-orang yang diterima alasannya.” (Fushshilat: 19-24)

Firman Allah: wa yauma yuhsyaru a’daa-ullaaHi ilannaari faHum yuuza-‘uun (“Dan [ingatlah] hari [ketika] musuh-musuh Allah digiring digiring ke neraka lalu mereka dikumpulkan [semuanya].”) yaitu, ingatlah kepada orang-orang musyrik itu pada hari ketika mereka digiring ke dalam neraka. lalu mereka dikumpulkan. Artinya, para malaikat Zabaniyah mengumpulkan mereka dari awal hingga akhir. Dan firman Allah: hattaa idzaa maa jaa-uuHaa (“sehingga apabila mereka sampai di neraka.”) artinya mereka berhenti di atasnya.
syaHida ‘alaiHim sam’uHum wa abshaaruHum wa juluuduHum bimaa kaanuu ya’maluun (“Pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.”) yaitu, amal perbuatan mereka, yang mereka lakukan dahulu dan kemudian tidak ada satu huruf pun yang dapat disembunyikan dari-Nya. Wa qaaluu lijuluudiHim lima syaHidtum ‘alainaa (“Dan mereka berkata kepada kulit mereka: ‘Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?’”) yaitu mereka mencaci maki anggota tubuh dan kulit-kulit mereka tatkala bersaksi terhadap mereka. Di saat itu anggota tubuh menjawab: qaaluu an thaqanallaaHul ladzii anthaqa kulla syai-iw wa Huwa khalaqakum awwala marraH (“Mereka menjawab: ‘Allah telah menjadikan segala sesuatu pandai berkata, telah menjadikan kami pandai [pula] berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama.’”) artinya, tidak ada yang mampu menentang atau mencegah-Nya dan hanya kepada-Nya kalian dikembalikan.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas ra. berkata kepada Ibnul Azraq: “Sesungguhnya hari kiamat mendatangi manusia di saat mereka tidak berbicara, tidak memiliki alasan dan tidak dapat berkomunikasi, hingga diberi izin kepada mereka. Kemudian mereka mendapatkan izin, lalu merekapun berdebat, dimana orang yang menentang mengingkari kesyirikannya kepada Allah Ta’ala, mereka bersumpah kepada-Nya sebagaimana mereka dahulu bersumpah kepada kalian. Maka di saat mereka mengingkarinya, Allah Ta’ala mengirimkan kepada mereka saksi-saksi dari diri mereka sendiri, berupa kulit, mata, tangan dan kaki mereka, sedangkan Dia mengunci mulut mereka. Kemudian mulut-mulut itu dibuka, lalu anggota tubuh itu saling bertengkar dan berkata: qaaluu an thaqanallaaHul ladzii anthaqa kulla syai-iw wa Huwa khalaqakum awwala marratiw wa ilaiHi turja’uun (“Mereka menjawab: ‘Allah telah menjadikan segala sesuatu pandai berkata, telah menjadikan kami pandai [pula] berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan’”) maka lisan-lisan itu mengakuinya setelah sebelumnya mengingkari.

Bersambung ke bagian 6

Tafsir Ibu Katsir Surah Fushshilat (4)

15 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Fushshilat (Yang Dijelaskan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 41: 54 ayat

Wa auhaa fii kulla samaa-in amraHaa (“Dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.”) yaitu Dia tetapkan ketentuan pada setiap langit apa yang diperlukannya, berupa para malaikat dan makhluk-makhluk lain yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Wa zayyannas samaa-ad dun-yaa bi mashaabiiha (“Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang.”) yakni bintang-bintang yang bersinar terang di atas penghuni bumi. Wa hifdhan (“Dan Kami memeliharanya.”) yaitu menghalangi syaitan-syaitan dari mendengarkan berita alam atas (langit).
Dzaalika taqdiirul ‘aziizil ‘aliim (“Demikianlah ketentuan (Rabb) Yang Mahaperkasa lagi Mahamengetahui,” al-‘Aziiz, Yang Mahaperkasa atas segala sesuatu dengan mengalahkan dan menguasainya; al-‘Aliim, Yang Mahamengetahui seluruh gerak-gerik para makhluk.

tulisan arab alquran surat fushilat ayat 13-18“Jika mereka berpaling Maka Katakanlah: ‘Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud.’ ketika Para Rasul datang kepada mereka dari depan dan belakang mereka (dengan menyerukan): ‘Janganlah kamu menyembah selain Allah.’ mereka menjawab: ‘Kalau Tuhan Kami menghendaki tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikat-Nya, Maka Sesungguhnya Kami kafir kepada wahyu yang kamu diutus membawanya.’ Adapun kaum ‘Aad Maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: ‘Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?’ dan Apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) kami. Maka Kami meniupkan angin yang Amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. dan Sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan. Dan Adapun kaum Tsamud, Maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, Maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa.” (Fushshilat: 13-18)

Allah berfirman: “Katakanlah hai Muhammad kepada kaum musyrikin yang mendustakan kebenaran yang engkau sampaikan itu: ‘Jika kalian berpaling dari kebenaran yang aku sampaikan kepada kalian dari Allah Ta’ala, maka sesungguhnya aku memperingatkan kalian akan turunnya kemurkaan Allah kepada kalian sebagaimana yang telah menimpa ummat-ummat yang mendustakan para Rasul sebelumnya?’”) shaa’iqatam mits-la shaa-‘iqati ‘aadiw wa tsamuud (“Dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan kaum Tsamud.”) yakni, dan orang-orang seperti mereka yang melakukan apa yang dilakukan oleh kedua kaum itu. Idz jaa-atHumur rusulu mim baini aidiiHim wa min khalfiHim (“Ketika Rasul-rasul datang kepada mereka dari depan dan dari belakang mereka.”)

Allah telah mengutus Rasul-rasul kepada mereka untuk memerintahkan beribadah kepada Allah Yang Mahaesa, tidak ada sekutu baginya sebagai pembawa kabar gembira dan ancaman. Mereka pun telah menyaksikan hukuman yang ditimpakan oleh Allah kepada musuh-musuh-Nya serta kenikmatan yang diberikan kepada para wali-Nya. Walaupun demikian, mereka tidak beriman dan tidak membenarkan, bahkan mereka mendustakan dan menentang. Mereka berkata, lau syaa-a rabbunaa la anzalna malaa-ikatan (“Kalau Rabb kami menghendaki, tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikat-Nya.”) yakni seandainya Allah mengutus para Rasul, niscaya mereka adalah para Malaikat dari sisi-Nya. Fa innaa bimaa ursiltum biHii (“Maka sesungguhnya kami kepada apa yang kamu diutus membawanya.”) hai manusia, kaafiruuna (“kafir”). Artinya, kami tidak akan mengikuti kalian, karena kalian adalah manusia seperti kami.

Firman Allah: fa ammaa ‘aadun fastakbaruu fil ardli (“Adapun kaum ‘Aad, maka mereka menyombongkan diri di muka bumi.”) yaitu angkuh melampaui batas, sombong dan membangkang. Wa qaaluu man asyaddu minnaa quwwaH (“Dan berkata: ‘Siapakah yang lebih bersar kekuatannya dari kami?’”) mereka diberi cobaan berupa keperkasaan dan kekuatan, serta mereka berkeyakinan bahwa dengan semua itu mereka akan mampu menolak siksa Allah.

Awalam yarau annallaaHalladzii khalaqaHum Huwa asyaddu minHum quwwaH (“Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka?”) maksudnya apakah mereka tidak memikirkan tentang siapakah yang mereka menyatakan permusuhan terhadap-Nya itu? Sesungguhnya Dia Mahaagung, Rabb yang menciptakan segala sesuatu, dan di dalamnya merakitkan kekuatan yang dapat menopangnya, dan sesungguhnya hukuman-Nya amat dahsyat. Mereka menyatakan permusuhan kepada Allah Yang Mahaperkasa, mengingkari ayat-ayat-Nya dan menentang Rasul-rasul-Nya.

Untuk itu Dia berfirman: fa arsalnaa ‘alaiHim riihan sharsharan (“Maka kami meniupkan angin sharshar kepada mereka.”) sebagian mereka berkata: “[yaitu] angin yang bertiup sangat kencang.” Pendapat lain mengatakan: “Yaitu angin yang amat dingin.” Dan yang lain mengatakan: “Angin yang memiliki suara gemuruh.” Yang benar, angin tersebut memiliki sifat semua itu, karena dia berbentuk angin yang amat dahsyat dan kuat, agar hukuman yang menimpa mereka sebanding dengan apa yang mereka banggakan berupa kekuatan yang mereka miliki, sedangkan angin itu sendiri amat dingin. Seperti firman Allah: bi riihin sharsharin ‘aatiyaH (“Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang.”)(al-Haaqqah: 6) yaitu sangat dingin dan bersuara amat gemuruh.

Bersambung ke bagian 5