Tag Archives: Ibnu ‘Abbas

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 2

4 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 2“Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,” (QS. 2:2)

Ibnu Juraij menceritakan, Ibnu Abbas mengatakan, “dzaalikal kitaabu” berarti kitab ini. Hal yang sama juga dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Said bin jubair, as-Suddi, Muqatil bin Hayyan, Zaid bin Aslam, Ibnu Juraij, bahwa “dzaalika'” (itu) berarti “Haadzaa” (ini). Bangsa Arab berbeda pendapat mengenai kedua ismul isyarah (kata petunjuk) tersebut. Mereka sering memakai keduanya secara tumpang tindih. Dalam percakapan yang demikian itu sudah menjadi sesuatu yang dimaklumi. Dan hal itu juga telah diceritakan Imam al-Bukhari dari Mu’ammar bin Mutsanna, dari Abu Ubaidah.

“al kitaabu” yang dimaksudkan dalam ayat di atas adalah al-Qur’an. Dan ar-Raib maknanya: asy-syakku artinya keragu-raguan. Laa raiba fiiHi berarti tidak ada keraguan di dalamnya. Artinya, bahwa al-Qur’an ini sama sekali tidak mengandung keraguan di dalamnya, bahwa ia diturunkan dari sisi Allah, sebagimana yang difirmankan-Nya dalam surat as-Sajdah:

Alif laam miim. Tanziilul kitaabi laa raiba fiiHi mir rabbil ‘aalamiin (“Alif Laam Miim. Turunnya al-Qur’an yang tidak ada keraguan terhadapnya adalah dari Rabb semesta alam. “) (QS. As-Sajdah: 1).

Sebagian mereka mengatakan, yang demikian itu merupakan berita yang berarti larangan. Artinya, janganlah kalian meragukannya. Di antara qurra’ ada yang menghentikan bacaanya ketika sampai pada kata “laa raiba fiiHi” dan memulainya kembali dengan firman-Nya, yaitu: “fiiHi Hudal lil muttaqiin”.

Dan ada juga yang menghentikan bacaan pada kata “laa raiba fiiHi. Bacaan yang (terakhir ini) lebih tepat. Karena dengan bacaan seperti itu firman-Nya, yaitu “Hudan” yang menjadi sifat bagi al-Qur’an itu sendiri. Dan yang demikian itu lebih baik dan mendalam dari sekadar pengertian yang menyatakan adanya petunjuk di dalamnya.

“Hudan” ditinjau dari segi bahasa arab bisa berkedudukan Marfu’ sebagai naat (sifat), dan bisa juga Manshub sebagai hal (keterangan keadaan). Dan hudan (petunjuk) itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa, sebagai- mana yang difirmankan Allah swt: yaa ayyuHannaasu qad jaa-atkum mau’idhatum mir rabbikum wa syifaaul liman fish-shuduur wa Hudaw wa rahmatul lil mu’miniin (“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada klain pelajaran dan Rabb kalian dan penyembuh bagi berbagai penyakit [yang ada] di dalam dada serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. ” (QS. Yunus: 57)

As-Suddi menceritakan, dari Abu Malik dan dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas dan dari Murrah al-Hamadani, dari Ibnu Mas’ud, dari beberapa sahabat Rasulullah , bahwa makna “Hudal lil muttaqiin”, berarti cahaya bagi orang-orang yang bertakwa.

Abu Rauq menceritakan, dari adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan bahwa “almuttaqiin” adalah orang-orang mukmin yang sangat takut berbuat syirik kepada Allah dan senantiasa berbuat taat kepada-Nya.

Muhammad bin Ishak, dari Muhammad bin Abi Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, al-Muttaqin adalah orang-orang yang senantiasa menghindari siksaan Allah Ta’ala dengan tidak meninggalkan petunjuk yang diketahuinya dan mengharapkan rahmat-Nya dalam mempercayai apa yang terkandung di dalam petunjuk tersebut.

Sufyan ats-Tsauri menceritakan, dari seseorang, dari al-Hasan al-Bashri, ia mengatakan, firman-Nya “lil muttaqiin” berarti mereka yang benar-benar takut mengerjakan apa yang telah diharamkan Allah swt bagi mereka serta menunaikan apa yang telah diwajibkan kepada mereka.

Sedangkan Qatadah mengatakan “lil muttaqiin” adalah mereka yang disifati Allah dalam firman-Nya: alladziina yu’minuuna bil ghaibi wa yuqiimuunash-shalaata” (“Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib serta mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka. “) (QS. Al- Baqarah: 3).

Dan pendapat yang dipilih Ibnu Jarir adalah bahwa ayat ini mencakup kesemuanya itu, dan itulah yang benar.

Telah diriwayatkan dari Imam at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Athiyyah as-Suddi, ia menceritakan, Rasulullah bersabda:
“Tidaklah seorang hamba mencapai derajat muttaqin (orang yang bertakwa) hingga ia meninggalkan apa yang boleh dilakukannya untuk menghindari apa yang tidak boleh dikerjakannya.” (Imam at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Didlaifkan oleh syaikh al-Albani dalam Dla’iiful jami’ [6320])

Yang dimaksud dengan “Hudan” petunjuk, adalah keimanan yang tertanam di dalam hati. Dan tiada yang dapat meletakkannya di dalam hati manusia kecuali Allah swt. Dalam hal ini Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberikan petunjuk kepada orang yang ngkau cintai. ” (QS. Al-Qashash: 56)

Dia juga berfirman yang artinya: “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleb Allah, maka dialah yang mendapatkan petunjuk. Dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat- kan orang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. ” (QS. Al- 17)

Selain itu, Hudan dimaksudkan juga sebagai penjelasan mengenai kebenaran, pemberian dalil terhadapnya, serta bimbingan menuju kepadanya. Allah swt telah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (asy-Syuura: 57)
Juga firman-Nya berikut ini: “Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” (QS. Ar-Ra’ad: 7).
Dan firman Allah: “Dan Adapun kaum Tsamud, Maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk,” (QS. Fushshilat: 17)

Ketahuilah bahwa taqwa pada dasarnya berarti menjaga diri dari hal-hal dibenci, karena kata takwa berasal dari kata “al wiqaayatu” (penjagaan).

An-Nabighah bersyair:
Penutup kepalanya terjatuh padahal ia tidak bermaksud menjatuhkannya.
Lalu ia mengambilnya sambil menutupi wajahnya -dari pandangan kami- dengan tangannya.

Diceritakan, Umar bin al-Khaththab ra. pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab mengenai takwa, maka Ubay bertanya kepadanya: “Tidakkah engkau pernah melewati jalan yang berduri?” Umar menjawab: “Ya.” Ia bertanya lagi: “Lalu apa yang engkau kerjakan?” Ia menjawab: “Aku berusaha keras dan bekerja sungguh-sungguh untuk menghindarinya.” Kemudian ia menuturkan: “Yang demikian itu adalah takwa.”

Ibnul Mu’taz telah mengambil pengertian itu seraya mengatakan:
Tinggalkanlah dosa kecil maupun besar dan yang demikian itu adalah takwa.
Jadilah seperti orang yang berjalan di atas tanah berduri, berhati-hati terhadap apa yang dilihatnya.
Dan janganlah engkau meremehkan suatu hal yang kecil, sesungguhnya gunung itu berasal dari batu kerikil.

Pada suatu hari, Abud Darda’ pernah membacakan sebuah sya’ir:
Seseorang menginginkan agar harapannya dipenuhi, namun Allah menolaknya kecuali apa yang dikehendaki-Nya.
Ia mengucapkan: “Keuntungan dan harta kekayaanku.” Padahal takwa kepada Allah-lah sebaik-baik apa yang diperoleh dan dimiliki.

Dalam Kitabnya, as-Sunan, Ibnu Majah meriwayatkan, dari Abu Umamah ra:
“Tidak ada sesuatu bagi seseorang setelah takwa yang lebih baik dari seorang isteri shalihah, yang jika sang suami melihatnya ia selalu membahagiakannya, jika suami menyuruhnya ia senantiasa menaatinya, jika suami bersumpah terhadap sesuatu kepadanya, maka dia penuhi sumpahnya. Dan jika suaminya tidak berada di sisinya, ia selalu setia menjaga dirinya dan harta suaminya.” (HR. Ibnu Majah. Dha’if, didha’ifkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Dha’iiful jaami’ (4999).-ed.)

Alladziina yu’minuuna bil ghaibi “(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib)” Abu Ja’far ar-Razi menceritakan, dari Abdullah, ia mengatakan: “Iman itu adalah kebenaran.”

Ali bin Abi Thalhah dan juga yang lainnya menceritakan,dari Ibnu Abbas , ia mengatakan: “Mereka beriman (maksudnya adalah) mereka membenarkan.”
Sedangkan Mu’ammar mengatakan, dari az-Zuhri, “Iman adalah amal.”

Ibnu Jarir mengatakan, yang lebih baik dan tepat adalah mereka harus mensifati diri dengan iman kepada yang ghaib baik melalui ucapan maupun perbuatan. Kata iman itu mencakup keimanan kepada Allah, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya sekaligus membenarkan pernyataan itu melalui amal perbuatan.

Demikian itulah pendapat yang menjadi pegangan mayoritas ulama. Bahkan telah menyatakan secara ijma’ (sepakat) Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Ubaidah, dan lain-lainnya, “Bahwa iman adalah pembenaran dengan ucapan dan amal perbuatan,bertambah dan berkurang.” Mengenai hal ini telah banyak hadits dan atsar yang membahasnya. Dan kami telah menyajikannya secara khusus dalam kitab Syarhu al-Bukhari.

Sebagian mereka mengatakan, beriman kepada yang ghaib sama seperti beriman. kepada yang nyata, dan bukan seperti yang difirmankan Allah mengenai orang-orang munafik: “dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok.” (QS. Al-Baqarah: 14)

Dengan demikian, firman-Nya “kepada yang ghaib” berkedudukan sebagai haal (menerangkan keadaan), artinya pada saat keadaan mereka ghaib dari penglihatan manusia. Sedangkan mengenai makna ghaib yang dimaksud ini terdapat berbagai ungkapan ulama salaf yang beragam, semua benar maksudnya.

Mengenai firman Allah: yu’minuuna bilghaibi (“Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib,”) Abu Ja’far ar-Razi menceritakan, dari ar-Rabi’ bin Anas, dari Abu al-‘Aliyah, ia mengatakan: “Mereka beriman kepada Allah, malaikat- malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, surga dan neraka, serta pertemuan dengan Allah, dan juga beriman akan adanya kehidupan setelah kematian ini, serta adanya kebangkitan. Dan semuanya itu adalah hal yang ghaib.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Muhairiz, ia menceritakan, aku pernah mengatakan kepada Abu Jam’ah: “Beritahukan kepada kami sebuah hadits yang engkau dengar dari Rasulullah saw”. la pun berkata: “Baiklah, aku akan beritahukan sebuah hadits kepadamu. Kami pernah makan siang bersama Rasulullah , dan bersama kami terdapat Abu Ubaidah bin al Jarrah, lalu ia bertanya: ‘Ya Rasulullah, adakah seseorang yang lebih baik dari kami? Sedangkan kami telah masuk Islam bersamamu dan berjihad bersamamu pula?’ Beliau menjawab: “Ya ada. Yaitu suatu kaum setelah kalian, mereka beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku.”

&

Ibnu ‘Abbas

13 Mar

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

RIWAYAT HIDUP IBNU ‘ABBAS

Ia adalah Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf al-Quraisy al-Hasyimi, putra paman Rasulullah saw. Ibnunya bernama Ummul Fadl Lubanah binti al-Haris al-Hilaliyah. Ia dilahirkan ketika Bani Hasyim berada di Syi’b, tiga atau lima tahun sebelum hijrah; namun pendapat pertama lebih kuat.

Abdullah bin Abbas menunaikan ibadah haji pada tahun Utsman terbunuh, atas perintah Utsman. Ketika terjadi perang Siffin, ia berada di al-Maisarah, kemudian diangkat menjadi gubernur Basrah dan selanjutnya menetap di sana sampai Ali terbunuh. Kemudian ia mengangkat Abdullah bin al-Haris, sebagai penggantinya, menjadi gubernur Basrah, sedang ia sendiri pulang ke Hijaz. Wafat di Taif pada 65 H. Pendapat lain mengatakan 67 H atau 68 H. Namun pendapat terakhir inilah yang dipandang shahih oleh jumhur ulama. Al-Waqidi menerangkan, tidak ada selisih pendapat di antara para imam bahwa Ibn Abbas dilahirkan di Syi’ib ketika kaum Quraisy diboikot Bani Hasyim, dan ketika Nabi wafat ia baru berusia tiga belas tahun.

KEDUDUKAN DAN ILMU IBN ‘ABBAS

Ibn ‘Abbas dikenal dengan julukan Turjumaanul Qur’an [juru tafsir al-Qur’an], Habrul Ummah [tokoh ulama umat] dari Raiisul Mufassirin [pemimpin para mufasirin].
Baihaqi dalam ad-Dalaail meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang mengatakan: “Juru tafsir al-Qur’an paling baik adalah Ibn ‘Abbas.” Abu Nu’aim meriwayatkan keterangan dari Mujahid, “Adalah Ibn ‘Abbas dijuluki orang dengan al-Bahr [lautan] karena banyak dan luas ilmunya.”

Ibn Sa’d meriwayatkan pula dengan sanad shahih dari Yahya bin Sa’id al-Anshari: Ketika Zaid bin Tsabit wafat Abu Hurairah berkata: “Orang paling pandai umat ini telah wafat, dan semoga Allah menjadikan Ibn ‘Abbas sebagai penggantinya.”

Dalam usia muda, Ibn ‘Abbas telah memperoleh kedudukan Istimewa di kalangan para pembesar shahabat mengingat ilmu dan ketajaman pengetahuannya, sebagai realisasi doa Rasulullah saw. kepadanya. Dalam sebuah hadits berasal dari Ibn Abbas dijelaskan: “Nabi pernah merangkulku dan mendoakan, ‘Ya Allah, ajarkanlah kepadanya hikmah.’”

Dalam Mu’jam al-Baghawi dan lainnya, dari Umar, “Bahwa Umar mendekati Ibn Abbas dan berkata, Sungguh saya pernah melihat Rasulullah saw. mendoakanmu, lalu membelai kepalamu, meludahi mulutmu dan berdoa, ‘Ya Allah, berilah ia pemahaman dalam urusan agama dan ajarkanlah kepadanya ta’wil.’”

Bukhari, melalui sanad Sa’ad bin Jubair, meriwayatkan dari Ibn Abbas, ia menceritakan: Umar memasukkan aku bergabung dengan tokoh-tokoh tua veteran perang Badar. Nampaknya sebagian mereka tidak suka dengan kehadiranku dan berkata, “Mengapa anda memasukkan anak kecil ini bergabung bersama kami padahal kami pun mempunyai anak-anak sepadan dengannya?” Umar menjawab, “Ia memang seperti yang kamu ketahui.”
Pada suatu hari Umar memanggilku dan memasukkan ke dalam kelompok mereka. Aku yakin bahwa Umar memanggilku semata-mata hanya untuk ‘memamerkan’ aku kepada mereka. Lalu ia berkata, “Bagaimana pendapat kalian tentang firman Allah: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan…[an-Nashr:1]?”
Di antara mereka ada yang menjawab, “Kami diperintahkan agar memuji Allah dan memohon ampunan kepada-Nya ketika kita memperoleh pertolongan dan kemenangan.” Sedangkan sebagian yang lain bungkam, tidak berkata apa-apa. Umar kemudian bertanya kepadaku, “Begitukah pendapatmu, wahai Ibn Abbas?” “Bukan,” jawabku. “Lalu bagaimanakah pendapatmu?” tanyanya lebih lanjut. Aku menjawab, “Ayat ini menunjukkan tentang ajal Rasulullah saw. yang diberitahukan Allah kepadanya. Dia berfirman: ‘Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan itulah tanda-tanda datangnya ajalmu [Muhammad], maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Ia Maha Penerima taubat.” Maka kata Umar, “Aku tidak mengetahui maksud ayat itu kecuali apa yang kamu katakan itu.” (HR Bukhari)

TAFSIRNYA

Riwayat dari Ibn Abbas mengenai tafsir tidak terhitung banyaknya, dan apa yang dinukil darinya itu telah dihimpun dalam sebuah kitab tafsir ringkas yang campur aduk yang diberi nama “Tafsir Ibn Abbas”. Di dalamnya terdapat bermacam-macam riwayat dan sanad yang berbeda-beda, tetapi sanad paling baik adalah yang melalui Ali bin Abi Thalhah al-Hasyimi, dari Ibn Abbas; sanad ini dipedomani oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya. Sedang sanad yang cukup baik, jayyid, ialah yang melalui Qais bin Muslim al-Kufi, dari ‘Atha’ bin as-Sa’ib.

Di dalam kitab-kitab tafsir besar yang mereka sandarkan kepada Ibn Abbas terdapat kerancuan sanad. Sanad paling rancu dan lemah adalah sanad melalui al-Kalbi dari Abu Salih. Al-Kalbi adalah Abun Nasr Muhammad bin as-Sa’ib [wafat 146 H]. Dan jika dengan sanad ini digabungkan riwayat Muhammad bin Marwan as-Sadi as-Saghir, maka hal ini akan merupakan silsilah kadzib, mata rantai kedustaan. Demikian juga sanad Muqatil bin Sulaiman bin Bisyr al-Azdi. Hanya saja al-Kalbi lebih baik daripadanya karena pada diri Muqatil terdapat berbagai madzab atau paham yang rendah.

Sementara itu sanad ad-Dahhak bin Muzahim al-Kufi, dari Ibn Abbas adalah Munqathi’, terputus; karena ad-Dahhak tidak bertemu langsung dengan Ibn Abbas. Apabila digabungkan kepadanya riwayat Bisyr bin ‘Imarah maka riwayat ini tetap lemah karena Bisyr adalah lemah. Dan jika sanad ini melalui riwayat Juwaibir, dari ad-Dahhak, maka riwayat tersebut sangat lemah karena Juwaibir sangat lemah dan ditinggalkan riwayatnya.

Sanad melalui al-‘Aufi, dan seterusnya dari Ibn Abbas, banyak dipergunakan oleh Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim, padahal al-‘Aufi itu seorang yang lemah meskipun lemahnya tidak keterlaluan dan bahkan terkadang dinilai hasan oleh Tirmidzi.

Dengan demikian, dapatlah kiranya pembaca menyelidiki jalan periwayatan tafsir Ibn Abbas dan mengetahui mana jalan yang cukup baik dan diterima, serta mana pula jalan yang lemah atau ditinggalkan, sebab tidak setiap apa yang diiwayatkan dari Ibn Abbas itu shahih dan pasti.

&

Ibnu ‘Abbas

14 Mei

‘Ulumul Qur’an; Riwayat Hidup Mufasir; Mannaa’ Khalil al-Qattaan

Ia adalah Abdullah bin ‘Abbas bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abdi Manaf al-Quraisy al-Hasyimi, putra paman Rasulullah saw. Ibunya bernama Ummul Fadl Lubanah al-Haris al-Hilaliyah. Ia dilahirkan ketika bani Hasyim berada di Syi’b, tiga atau lima tahun sebelum hijrah; namun pendapat pertama lebih kuat.

Abdullah bin ‘Abbas menunaikan ibadah haji pada tahun ‘Utsman terbunuh, atas perintah ‘Utsman. Ketika terjadi perang Siffin ia berada di al-Maisarah, kemudian diangkat menjadi gubernur Basrah dan kemudian menetap disana sampi Ali terbunuh. Kemudian ia mengangkat Abdullah bin al-Haris, sebagai penggantinya, menjadi gubernur Basrah sedang ia sendiri pulang ke Hijaz. Ia wafat di Taif pada 65 H. Pendapat lain mengatakan pada 67 atau 68 H. Namun pendapat yang terakhir inilah yang dipandang shahih oleh jumhur ulama. Al-Waqidi menerangkan, tidak ada selisih pendapat di antara para imam bahwa Ibnu Abbas dilahirkan di Syi’b ketika kaum Quraisy diboikot Bani Hasyim, dan ketika Nabi wafat ia baru berusia tiga belas tahun.

Kedudukan dan Keilmuannya;
Ibnu Abbas dikenal dengan julukan Turjumaanul Qur’an (juru tafsir al-Qur’an), Habrul Ummah (tokoh ulama umat) dan Ra’isul Mufassirin (pemimpin para mufasir). Baihaqi dalam ad-Dalaa’il meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang mengatakan: “Juru tafsir al-Qur’an paling baik adalah Ibnu ‘Abbas.” Abu Nu’aim meriwayatkan keterangan dari Mujahid, “Adalah Ibnu ‘Abbas dijuluki orang dengan al-Bahr (lautan) karena banyak dan luas ilmunya.” Ibnu Sa’d meriwayatkan pula dengan sanad shahih dari Yahya bin Sa’id al-Anshari: Ketika Zaid bin Tsabit wafat, Abu Hurairah berkata: “Orang paling pandai umat ini telah wafat, dan semoga Allah menjadika Ibnu Abbas sebagai penggantinya.”

Dalam usia muda, Ibnu Abbas telah memperoleh kedudukan istimewa di kalangan para pembesar shahabat mengingat ilmu dan ketajaman pemahamannya, sebagai realisasi doa Rasulullah saw. kepadanya. Dalam sebuah hadits berasal dari Ibnu Abbas dijelaskan: “Nabi pernah merangkul dan mendoakannya: “Ya Allah, ajarkanlah kepadanya hikmah.”
Dalam Mu’jam al-Baghawi dan lainnya, dari Umar, Bahwa Umar mendekati Ibnu Abbas dan berkata: “Sungguh saya pernah melihat Rasulullah mendoakanmu, lalu membelai kepalamu, meludahi mulutmu dan berdoa: ‘Ya Allah, berilah ia pemahaman dalam urusan agama dan ajarkanlah kepadanya ta’wil.’”

Bukhari, melalui sanad Sa’id bin Jubair, meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan: “Umar mengikutsertakan saya ke dalam kelompok tokoh-tokoh tua perang Badar. Nampaknya sebagian mereka merasa tidak senang lalu berkata: “Kenapa anak ini diikutsertakan ke dalam kelompok kami padahal kamipun mempunyai anak-anak yang sepadan dengannya?” Umar menjawab: “Ia memang seperti yang kamu ketahui.”
Pada suatu hari Umar memanggil mereka dan memasukkan saya bergabung dengan mereka. Saya yakin, Umar memanggilku agar bergabung itu semata-mata hanya untuk “memperlihatkan” saya kepada mereka. Ia berkata: “Bagaimana pendapat tuan-tuan mengenai firman Allah: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (an-Nashr: 1)?” Sebagian mereka menjawab: “Kita diperintahkan untuk memuji Allah dan memohon ampunan kepada-Nya ketika Ia memberikan pertolongan dan kemenangan kepada kita.” Sedangkan yang lain bungkam, tidak berkata apa-apa. Lalu ia bertanya kepadaku: “Begitukah pendapatmu hai Ibnu Abbas?” “Tidak,” jawabku. “Lalu bagaimana menurutmu?” tanyanya lebih lanjut. “Ayat itu,” jawabku, “adalah pertanda ajal Rasulullah saw. yang diberitahukan Allah kepadanya. Ia berfirman, apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan itu adalah pertanda ajalmu (Muhammad), maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Ia Maha Penerima taubat.” Umar berkata: “Aku tidak mengetahui maksud ayat itu kecuali apa yang kamu katakan.”

Tafsirnya;
Riwayat dari Ibnu Abbas mengenai tafsir tidak terhitung banyaknya, dan apa yang dinukil darinya itu telah terhimpun dalam sebuah kitab ringkas yang campur aduk yang diberi nama “Tafsir Ibnu Abbas”. Di dalamnya terdapat bermacam-macam riwayat dan sanad yang berbeda-beda, tetapi sanad paling baik adalah yang melalui Ali bin Abi Thalhah al-Hasyimi, dari Ibnu Abbas; sanad ini dipedomani oleh Bukhari dalam kitab shahihnya. Sedangkan sanad yang cukup baik, jayyid, ialah yang melalui Qais bin Muslim al-Kufi, dari ‘Atha’ bin as-Sa’ib.

Di dalam kitab-kitab tafsir besar yang mereka sandarkan kepada Ibnu Abbas terdapat kerancuan sanad. Sanad paling rancu dan lemah adalah sanad melalui al-Kalbi dari Abu Salih. Al-Kalbi adalah Abun Nasr Muhammad bin as-Sa’ib (w.146 H). Dan jika dengan sanad ini digabungkan riwayat Muhammad bin Marwan as-Sadi as-Saghir, maka hal ini akan merupakan silsilah kadzib, mata rantai kedustaan. Demikian juga sanad Muqatil bin Sulaiman bin Bisyr al-Azdi. Hanya saja al-Kalbi lebih baik daripadanya karena pada diri Muqatil terdapat berbagai madzab atau paham yang rendah.

Sementara itu sanad adl-Dlahhak bin Muzahim al-Kufi, dari Ibnu Abbas adalah Munqati’, terputus, karena adl-Dlahhak tidak bertemu langsung dengan Ibnu Abbas. Apabila digabungkan kepadanya riwayat Bisyr bin ‘Imarah maka riwayat ini tetap lemah karena Bisyr adalah lemah. Dan jika sanad itu melalui riwayat Juwaibir, dari adl-Dlahhak, maka riwayat tersebut sangat lemah karena Juwaibir sangat lemah dan ditinggalkan riwayatnya.

Sanad melalui al-‘Aufi, dan seterusnya dari Ibnu Abbas, banyak dipergunakan oleh Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim, padahal al-‘Aufi itu seorang yang lemah meskipun lemahnya tidak keterlaluan dan bahkan terkadang dinilai hasan oleh Tirmidzi.

Dengan penjelasan tersebut dapatlah kiranya pembaca menyelidiki jalan periwayatan tafsir Ibn Abbas dan mengetahui mana jalan yang cukup baik dan diterima, serta mana pula jalan yang lemah atau ditinggalkan, sebab tidak setiap yang diriwayatkan dari Ibn Abbas itu shahih dan pasti.
Sekian.