Tag Archives: istri

Cara Menghadapi Istri yang Cerewet

24 Feb

Cara Menghadapi Istri yang Cerewet
Trik dan Cara Bersikap yang Benar ketika Istri Anda Cerewet; Opini dan Dakwah

Jika anda seorang penikmat kesenangan di dunia ini, maka janganlah sekali-sekali berkhayal bisa mendapatkan pendamping hidup yang benar-benar ideal menurut selera anda dan memuaskan anda. Sekali-kali tidak. Kenapa ? sebab motivasi mengejar kesenangan itulah letak persoalannya. Padahal jika kita merenungi dan mencari informasi Islam memandang hidup ini, maka jelas sekali bahwa hidup ini diciptakan untuk “bersusah payah” dan bukan bersenang-senang.

Demikian juga dengan istri. Bisa dipahami bahwa istri adalah ujian bagi anda. Meskipun anda bisa memetik beberapa kesenangan darinya, akan tetapi dalam banyak hal kaum suami akan diuji kesabarannya dengan adanya “fitnah wanita” yang menjadi istrinya itu. Bahkan dalam beberapa nash Islam mengingatkan bahwa anak dan istri merupakan musuh bagi kalian. Nah lho, apa maksudnya? Naon teh maksudna ? Opo tho karepe sampeyan iku? Hehehe…. tenang bro…. biasa saja tidak perlu lebay. Sebab semua itu sudah ada jawabannya dalam Islam. Yang penting adalah kita harus bersikap mau menerima nasehat. Sebab kalau kepala manusia sudah keras dan sombong untuk menerima kritik dan saran, maka artinya manusia sudah binasa sebelum kematian.

Serem amat sih? Sebenarnya ente muter-muter mau ngomong apa? Katakanlah terus terang, jangan ragu-ragu…. begitulah orang yang keras kepala akan memotong pembicaraan saya ini. Akan tetapi saya tidak gentar, karena yang namanya kebaikan dan kebenaran itu haruslah disampaikan walaupun pahit di hati…..

&

Istri-Istri Rasulullah saw

9 Mei

Sejarah Rasulullah saw.
Al-Hafiz Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisy
Penerjemah: Team Indonesia; Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah; IslamHouse.com

1. Khadijah binti Khuwailid
Wanita pertama yang dinikahi Rasulullah SAW adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab. Saat itu Rasulullah saw berusia 25 tahun. Tatkala turun wahyu pertama kali, Khadijah menjadi wanita yang membenarkan dan mendukung Rasulullah saw. Ia wafat 3 tahun sebelum hijrah. Ada riwayat yang menyebutkan 4 tahun sebelum itu dan ada pula yang menyebutkan 5 tahun sebelumnya.

2. Saudah binti Zam’ah
Rasulullah saw juga menikahi Saudah binti Zam’ah bin Qois bin Abdu Syams bin Abdu Wud bin Nasr bin Malik bin Hisl bin Amir bin Luayyi. Pernikahan tersebut dilakukan Rasulullah saw di Mekah sebelum beliau hijrah ke Madinah. Sebelum dinikahi Rasulullah saw, Saudah adalah seorang istri yang dicerai suaminya, yaitu Sakran bin Amr, saudara Suhail bin Amr. Ketika Rasulullah saw telah menikahi Aisyah, Saudah memberikan jatah hari gilirnya pada Aisyah.

3. Aisyah binti Abu Bakar as Siddiq
Rasulullah menikahi Aisyah binti Abu Bakar as Siddiq di Mekah 2 tahun sebelum hijrah. Ada riwayat yang mengatakan 3 tahun sebelum itu. Saat itu ia baru berusia 6 tahun. Ada yang menyebutkan 7 tahun.Tetapi yang benar adalah 6 tahun. Rasulullah saw menggaulinya baru pada usia 9 tahun. Pada waktu itu Rasulullah saw di Madinah baru 7 bulan. Ada riwayat yang menyebutkan baru 18 bulan. Ketika Rasulullah saw wafat, ia berusia 18 tahun. Ia juga wafat di Madinah tahun 58 Hijiyah dan dimakamkan di Baqi’ atas wasiatnya. Ada riwayat yang menyebutkan wafat tahun 57 H, tetapi yang benar 58 H. Abu Hurairah ra turut menshalati jenazahnya. Rasulullah saw tidak pernah menikahi gadis lain selainnya. Ada riwayat yang menyebutkan ia pernah keguguran, tetapi riwayat ini lemah. Julukannya adalah Ummu Abdillah.

4. Hafshah binti Umar bin Khatthab ra
Sebelum menjadi istri Rasulullah saw, Hafshah adalah istri Hunais bin Hudzafah, salah seorang sahabat yang gugur di Perang Badar. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah saw pernah menceraikan Hafshah, namun datanglah Malaikat Jibril dan berkata:“Sesungguhnya Allah menyuruhmu (hai Muhammad) untuk rujuk kembali dengan Hafshah, karena ia rajin puasa, shalat malam dan kelak akan menjadi istrimu di surga“.
Uqbah bin Amir al-Juhani meriwayatkan: “Rasulullah saw menceraikan Hafshah binti Umar, lalu kabar itu pun sampai ke telinga Umar. Lalu Umar pun menabur kepalanya dengan tanah dan berkata dengan penuh kesedihan: “Allah sudah tidak peduli lagi pada Umar dan putrinya setelah peristiwa ini.“ Lalu turunlah Malaikat Jibril dan berkata: “Sesungguhnya Allah menyuruhmu (hai Muhammad) untuk rujuk kembali dengan Hafshah, karena Dia menyayangi Umar.“
Hafshah wafat tahun 27. Ada riwayat yang menyebutkan wafat tahun 28.

5. Ummu Habibah binti Abu Sofyan
Nama aslinya adalah Ramlah binti Shokhr bin Harb bin Umaiyyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf. Hijrah bersama suaminya, Ubaidullah bin Jahsy ke Habasyah. Suaminya berpindah agama menjadi Kristen, sementara ia tetap pada keislaman. Rasulullah saw menikahinya saat ia masih di Habasyah. Negus, raja Habasyah saat itu memberikan mas kawin atas nama Rasulullah saw senilai 400 dinar. Rasulullah saw mengutus Amr bin Umayyah ad Dhomari untuk mengurus pernikahan ini ke Habasyah. Bertindak sebagai wali nikah adalah Usman bin Affan. Ada riwayat yang menyebutkan Khalid bin Said bin As. Ummu Habibah wafat tahun 44 H.

6. Ummu Salamah
Nama aslinya adalah Hindun bin Abu Umayyah bin Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqadzh bin Murrah bin Ka’b bin Luayyi bin Ghalib. Sebelum menjadi istri Rasulullah saw, Ummu Salamah adalah istri Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, salah seorang sahabat Rasulullah saw. Ummu Salamah wafat tahun 62 Hijriah dan dimakamkan di Baqi’, Madinah. Ia adalah istri Rasulullah saw yang paling akhir wafatnya. Tetapi ada yang menyebutkan bahwa yang paling akhir adalah Maimunah.

7. Zaenab binti Jahsy
Zaenab adalah puteri Jahsy bin Riab bin Ya’mur bin Shabirah bin Murrah bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Muad bin Adnan, puteri bibi Rasulullah saw, Umamah bin Abdul Mutthalib. Sebelumnya ia adalah istri Zaid bin Harisah, mantan budak Rasulullah saw yang telah menceraikannya. Kemudian Allah pun menikahkan Rasulullah saw dengannya langsung dari langit, tiada seorang pun yang mengakadkannya. Sebuah riwayat sahih menyebutkan bahwa beliau berkata pada istri-istri Nabi yang lain: “Kalian dinikahkan oleh ayah-ayah kalian, sementara aku dinikahkan langsung oleh Allah dari atas langit ketujuh.“ Ia wafat di Madinah pada tahun 20 H dan dimakamkan di Baqi’

8- Zainab binti Khuzaimah
Zaenab putri Khuzaimah bin al-Harits bin Abdullah bin Amr bin Abdu Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’a bin Muawiyah. Dijuluki “ibu orang-orang miskin“ karena kedermawanannya terhadap orang-orang miskin. Sebelumnya menikah dengan Rasulullah saw ia adalah istri Abdullah bin Jahsy. Ada riwayat yang mengatakan ia istri Abdu Thufail bin al-Harits, tetapi pendapat pertama adalah yang sahih. Ia dinikahi Rasulullah saw pada tahun ke 3 H dan hidup bersamanya selama dua atau tiga bulan.

9. Juwairiyah binti al-Harits
Juwairiyah putri al-Harits bin Abi Dhirar bin Habib bin A’idz bin Malik bin al-Musthalik al-Khuzaiyah. Ia sebelumnya adalah tawanan perang pada perang bani Musthalik dan menjadi milik Tsabit bin Qais bin Syimas. Tsabit lalu menawarkan pembebasannya dengan syarat ia dapat membayar tebusannya. Kemudian Rasulullah saw membayar tebusannya dan menikahinya di tahun 6 H. Ia wafat pada bulan Rabiul Awal tahun 56 H.

10. Shafiyyah binti Huyay
Shafiyyah binti Huyyay bin Akhtab bin Abi Yahyabin Kaab bin al-Khazraj an-Nadhriyyah keturunan dari Nabi Harun bin Imran –saudara nabi Musa- alaihimassalam. Menjadi tawanan pada perang Khaibar tahun 7 H. Sebelummya ia adalah istri Kinanah bin Abi al-Huqaiq yang dibunuh atas perintah Rasulullah saw. Nabi saw membebaskan Shafiyyah dan menikahinya serta menjadikan pembebasannya sebagai mas kawinnya. Wafat pada tahun 30 H atau menurut riwayat lain tahun 50 H.

11. Maimunah binti al-Harits
Maimunah binti al-Harits bin Hazn bin Bujair bin al-Harm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’a bin Muawiyah bibi dari Khalid bin Walid dab Abdullah bin Abbas. Rasulullah saw menikahinya di tempat yang bernama Sarif suatu tempat mata air yang berada sembilan mil dari kota Mekah. Ia adalah wanita terakhir yang dinikahi oleh Rasulullah saw. Wafat di Sarif pada tahun 63 H.

Inilah istri-istri Rasulullah saw berjumlah sebelas orang, sementara terdapat tujuh orang lagi yang beliau nikahi, tetapi tidak beliau gauli.

&

Adab Istri Kepada Suami

11 Jul

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Hadits

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk tidur bersama, kemudian istrinya tidak mau memenuhi ajakannya dan membuat suami itu bermalam dalam keadaan marah terhadap istrinya, maka istri itu dilaknat oleh malaikat sampai waktu pagi.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Sampai istri itu mendatangi suaminya.”

Haram seorang istri puasa sunnah tanpa izin suaminya bila suami berada di rumah:
Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Tidak halal bagi seorang istri mengerjakan puasa sunnah sedangkan suaminya berada di rumah, kecuali atas izinnya. Dan istri tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke rumahnya, kecuali mendapat izin suaminya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Larangan Menyebut Keindahan Perempuan di hadapan suami:
Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah seorang perempuan bergaul dengan perempuan lain, kemudian menceritakan perempuan lain itu kepada suaminya, sehingga seakan-akan suaminya melihat perempuan yang diceritakan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Wanita sebagai Istri

25 Jun

Yusuf Qardhawy; Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an & Sunnah

Sebagian agama dan sistem menganggap wanita sebagai barang yang najis atau sesuatu yang menjijikkan dari perbuatan syetan yang harus dijauhi dan lebih baik hidup menyendiri.
Sebagian yang lainnya menganggap bahwa kedudukan seorang istri sekedar sebagai alat pemuas nafsu bagi suaminya atau yang meladeni makanannya dan menjadi pelayan di dalam rumah tangganya.

Maka Islam datang untuk mengumumkan batalnya kerahiban dan melarang hidup menyendiri (tak mau menikah selamanya). Sebaliknya, Islam mengajarkan kepada kita bahwa pernikahan adalah salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah dalam kehidupan ini. Allah SWT berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasann-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhrya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Rum: 21)

Ada sebagian sahabat Rasulullah SAW yang ingin memusatkan perhatiannya untuk beribadah dengan cara berpuasa sepanjang siang dan shalat sepanjang malam serta menjauh dari wanita. Maka Rasulullah SAW mengingkari hal itu dengan mengatakan: “Adapun saya, berpuasa dan makan, shalat dan tidur dan menikahi wanita, maka barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka tidak termasuk golonganku.” (HR. Bukhari)

Islam telah menjadikan istri yang shalihah merupakan kekayaan paling berharga bagi suaminya setelah beriman kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya. Islam menganggap istri yang shalihah itu sebagai salah satu sebab kebahagiaan.

Rasulullah SAW bersabda, “Seorang mukmin tidak memperoleh kemanfaatan setelah bertaqwa kepada Allah Azza wa jalla yang lebih baik selain istri yang shalihah, jika suami menyuruhnya dia taat, jika dipandang dia menyenangkan, jika ia bersumpah kepadanya dia mengiyakan, dan jika Suami pergi (jauh dari pandangan) maka dia memelihara diri dan harta (suami)nya” (HR. Ibnu Majah)

Rasulullah SAW bersabda, “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)

Rasulullah SAW bersabda, “Di antara kebahagiaan anak Adam (adalah) istri shalihah, tempat tinggal yang baik, dan kendaraan yang baik. (HR. Ahmad)

Islam mengangkat nilai wanita sebagai istri dan menjadikan pelaksanaan hak-hak suami-istri itu sebagai jihad di jalan Allah.

Ada seorang wanita datang kepada Nabi SAW bertanya, “Wahai RasuIullah, sesungguhnya aku adalah delegasi wanita yang diutus kepadamu dan tidak ada satu wanita pun kecuali agar aku keluar untuk menemui engkau.” Kemudian wanita itu mengemukakan permasalahannya dengan mengatakan, “Allah adalah Rabb-nya laki-laki dan wanita dan ilah mereka. Dan engkau adalah utusan Allah untuk laki-laki dan wanita, Allah telah mewajibkan jihad kepada kaum laki-laki sehingga apabila mereka memperoleh kemenangan akan mendapat pahala, dan apabila mati syahid mereka akan tetap hidup di sisi Rabb-nya dan diberi rizki. Amal perbuatan apakah yang bisa menyamai perbuatan mereka dari ketaatan? Nabi SAW menjawab, “Taat kepada suami dan memenuhi hak-haknya tetapi sedikit dari kaum yang bisa melaksanakannya.” (HR. Tabrani)

Islam telah menetapkan untuk istri hak-hak yang wajib dipenuhi oleh suaminya. Hak-hak itu tak sekedar tinta di atas kertas, akan tetapi Islam menjadikan lebih dari itu yaitu yang mampu memelihara dan mengawasi. Pertama, keimanan dan ketaqwaan seorang Muslim, kedua, hati nurani masyarakat dan kesadarannya, dan ketiga keterikatan dengan hukum Islam.

Pertama kali hak yang wajib dipenuhi seorang suami terhadap istrinya adalah mas kawin yang telah diwajibkan oleh Islam sebagai tanda kecintaan seorang suami terhadap istrinya. Allah SWT berfirman, “Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika: mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati; maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (An-Nisa’: 4)

Maka di manakah letak wanita dalam peradaban selain Islam yang memberikan sebagian hartanya kepada kaum lelaki, padahal fithrah Allah telah menjadikan wanita itu menuntut dan tidak dituntut (untuk memberi harta).

Hak yang kedua yang harus dipenuhi seorang suami terhadap istrinya adalah nafkah. Seorang suami diwajibkan untuk mencukupi makanan, pakaian, tempat tinggal dan pengobatan kepada istrinya.

Rasulullah SAW menjelaskan hak-hak wanita yang harus dipenuhi oleh seorang suami dalam sabdanya, “Dan bagi wanita (yang diwajibkan) atas kamu (kaum lelaki) rizki mereka dan pakaian mereka dengan ma’ruf (baik).” Yang dimaksud dengan ma’ruf adalah sesuatu yang dianggap baik oleh ahli agama tanpa berlebihan dan tanpa mengurangi. Allah berfirman: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannnya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadannya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kesanggupan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (At-Thalaq:7)

Hak yang ketiga adalah mempergauli dengan baik. Allah SWT berfirman, “Dan pergaulilah mereka (istri-istrimu), baik dalam berbicara, wajah yang berseri-seri, menghibur dengan bersendagurau dan mesra dalam hubungan.
Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang paling bersikap lemah lembut terhadap keluarganya.” (HR. Tirmidzi)

Ibnu Hibban berkata dari Aisyah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan saya adalah sebaik-baik (perlakuan) terhadap keluarga saya.”

Sirah Nabawiyah secara aplikatif telah membuktikan kelembutan RasuIullah SAW terhadap keluarganya dan akhlaq beliau sangat mulia terhadap para istrinya. Sampai-sampai Rasulullah SAW sering membantu para istrinya untuk menyelesaikan tugas-tugas di rumah dan di antara kelembutan Rasulullah SAW adalah bahwa beliau pernah mendahului Aisyah berlomba lari dua kali, lalu Aisyah mengalahkan beliau sekali dan sekali lagi dalam kesempatan yang lainnya. Maka beliau berkata kepada Aisyah “Ini dengan itu (skor sama).”

Sebagai timbal balik dari pelaksanaan hak-hak yang wajib dipenuhi seorang suami terhadap istrinya, maka Islam mewajibkan kepada istri untuk mentaati suami di luar perkara maksiat. Serta memelihara hartanya, sehingga seorang istri tidak boleh mempergunakan harta tersebut kecuali dengan izinnya. Demikian juga seorang istri wajib memelihara rumahnya sehingga tidak boleh memasukkan orang ke dalam rumahnya kecuali atas seizin suaminya, walaupun itu keluarganya.

Kewajiban-kewajiban ini tidak banyak dan tidak bersifat menzhalimi seorang istri, jika dibandingkan dengan kewajiban yang harus dipenuhi oleh suaminya. Oleh karena itu setiap hak selalu diimbangi dengan kewajiban, dan di antara keadilan Islam bahwa Islam tidak menjadikan kewajiban itu hanya dibebankan pada wanita saja atau laki-laki saja.

Diriwayatkan bahwa sesungguhnya Ibnu Abbas pernah berdiri di depan cermin untuk memperbagus penampilannya. Ketika ditanya beliau menjawab, “Aku berhias untuk istriku sebagaimana istriku berhias untukku,” kemudian membacakan ayat yang artinya:
“Dan para wanita mernpunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya .” (Al Bagarah: 228)
Ini adalah bukti yang nyata tentang dalamnya pemahaman Rasul dan sahabat terhadap Al Qur’an.

Kemandirian Seorang Istri

Islam tidak membiarkan kepribadian wanita itu larut untuk mengikuti kepribadian suaminya sebagaimana tradisi barat. Mereka menjadikan wanita mengikuti suaminya, sehingga nama sang istri tidak begitu dikenal. Demikian juga nasab dan marganya, tetapi cukup dikatakan “fulanah istrinya si fulan.”

Adapun Islam telah menempatkan kepribadian wanita secara mandiri. Oleh karena itu kita mengenal istri-istri Rasul SAW dengan nama-nama dan nasabnya seperti: Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar, Maimunah binti Al Harits, dan Shafiyah binti Huyyai yang bapaknya adalah seorang Yahudi yang pernah memerangi Rasulullah SAW.
Sebagaimana kepribadian wanita saat ini tak akan terkurangi dengan ia menikah dan tidak akan kehilangan kemampuannya dalam hal perjanjian jual beli dan muamalah. Dia berhak menjual dan membeli, dia berhak memberi upah, dia berhak memberikan hartanya, bershadaqah, memberi makan dan sebagainya.

Pemahaman seperti ini belum sampai pada wanita Barat kecuali baru-baru ini saja. Dan di sebagian negara, wanita masih sangat terikat dengan keinginan suaminya.

&

Hak Istri Atas Suami

24 Jun

Dr. Yusuf Qardhawi; Fatwa Kontemporer; Fiqih Kontemporer

Pertanyaan:
Saya menikah dengan seorang laki-laki yang usianya lebih tua daripada saya dengan selisih lebih dari dua puluh tahun. Namun, aya tidak menganggap perbedaan usia sebagai penghalang yang menjauhkan saya daripadanya atau membuat saya lari daripadanya. Kalau dia memperlihatkan wajah, lisan, dan hatinya dengan baik sudah barang tentu hal itu akan melupakan saya terhadap perbedaan usia ini. Tetapi sayang, semua itu tak saya peroleh. Saya tidak pernah mendapatkan wajah yang cerah, perkataan manis, dan perasaan hidup yang menenteramkan. Dia tidak begitu peduli dengan keberadaan saya dan kedudukan saya sebagai isteri. Dia memang tidak bakhil dalam memberi nafkah dan pakaian, sebagaimana dia juga tidak pernah menyakiti badan saya. Tetapi, tentunya bukan cuma ini yang diharapkan oleh seorang isteri terhadap suaminya.

Saya melihat posisi saya hanya sebagai objek santapannya, untuk melahirkan anak, atau sebagai alat untuk bersenang-senang manakala ia butuh bersenang-senang. Inilah yang menjadikan saya merasa bosan, jenuh, dan hampa. Saya merasakan hidup ini sempit. Lebih-lebih bila saya melihat teman-teman saya yang hidup bersama suaminya dengan penuh rasa cinta, tenteram, dan bahagia.

Pada suatu kesempatan saya mengadu kepadanya tentang sikapnya ini, tetapi dia menjawab dengan bertanya, “Apakah aku kurang dalam memenuhi hakmu? Apakah aku bakhil dalam memberi nafkah dan pakaian kepadamu?”

Masalah inilah yang ingin saya tanyakan kepada Ustadz agar suami isteri itu tahu: Apakah hanya pemenuhan kebutuhan material seperti makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal itu saja yang menjadi kewajiban suami terhadap isterinya menurut hukum syara’? Apakah aspek kejiwaan tidak ada nilainya dalam pandangan syari’at Islam yang cemerlang ini?

Saya, dengan fitrah saya dan pengetahuan saya yang rendah ini, tidak percaya kalau ajaran Islam demikian. Karena itu, saya mohon kepada Ustadz untuk menjelaskan aspek psikologis ini dalam kehidupan suami isteri, karena hal itu mempunyai dampak yang besar dalam meraih kebahagiaan dan kesakinahan sebuah rumah tangga.
Semoga Allah menjaga Ustadz.

Jawaban:
Apa yang dipahami oleh saudara penanya berdasarkan fitrahnya dan pengetahuan serta peradabannya yang rendah itu merupakan kebenaran yang dibawakan oleh syari’at Islam yang cemerlang. Syari’at mewajibkan kepada suami untuk memenuhi kebutuhan isterinya yang berupa kebutuhan material
seperti nafkah, pakaian, tempat tinggal, pengobatan dan sebagainya, sesuai dengan kondisi masing- masing, atau seperti yang dikatakan oleh Al Qur’an “bil ma’ruf”
(menurut cara yang ma’ruf/patut)

Namun, Syari’at tidak pernah melupakan akan kebutuhan-kebutuhan spiritual yang manusia tidaklah bernama manusia kecuali dengan adanya kebutuhan-kebutuhan tersebut, sebagaimana kata seorang pujangga kuno: “Maka karena jiwamu itulah engkau sebagai manusia, bukan cuma dengan badanmu.”

Bahkan Al Qur’an menyebut perkawinan ini sebagai salah satu ayat diantara ayat-ayat Allah di alam semesta dan salah satu nikmat yang diberikan-Nya kepada
hamba-hamba-Nya. Firman-Nya: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar Rum: 21)

Ayat ini menjadikan sasaran atau tujuan hidup bersuami isteri ialah ketenteraman hati, cinta, dan kasih saying antara keduanya, yang semua ini merupakan aspek
kejiwaan, bukan material. Tidak ada artinya kehidupan bersuami isteri yang sunyi dari aspek-aspek maknawi ini, sehingga badan berdekatan tetapi ruh berjauhan.

Dalam hal ini banyak suami yang keliru – padahal diri mereka sebenarnya baik – ketika mereka mengira bahwa kewajiban mereka terhadap isteri mereka ialah member nafkah, pakaian, dan tempat tinggal, tidak ada yang lain lagi. Dia melupakan bahwa wanita (isteri) itu bukan hanya membutuhkan makan, minum, pakaian, dan lain-lain kebutuhan material, tetapi juga membutuhkan perkataan yang baik, wajah yang ceria, senyum yang manis, sentuhan yang lembut, ciuman yang mesra, pergaulan yang penuh kasih sayang, dan belaian yang lembut yang menyenangkan hati dan menghilangkan kegundahan.

Imam Ghazali mengemukakan sejumlah hak suami isteri dan adab pergaulan diantara mereka yang kehidupan berkeluarga tidak akan dapat harmonis tanpa semua itu. Diantara adab-adab yang dituntunkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah itu ialah berakhlak yang baik terhadapnya dan sabar dalam menghadapi godaannya. Allah berfirman: “… Dan gaulilah mereka (isteri-isterimu) dengan cara yang ma’ruf (patut) …, An Nisa’: 19)
“… Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (An Nisa’: 21 )
“… Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman
sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu ….” (An Nisa: 36)

Ada yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan “teman sejawat” dalam ayat di atas ialah isteri. Imam Ghazali berkata, “Ketahuilah bahwa berakhlak baik kepada mereka (isteri) bukan cuma tidak menyakiti mereka, tetapi juga sabar menerima keluhan mereka, dan penyantun ketika mereka sedang emosi serta marah, sebagaimana diteladankan Rasulullah saw. Isteri-isteri beliau itu sering meminta beliau untuk mengulang-ulangi perkataan, bahkan pernah ada pula salah seorang dari mereka menghindari beliau sehari semalam. Beliau pernah berkata kepada Aisyah, “Sungguh, aku tahu kalau engkau marah dan kalau engkau rela.” Aisyah
bertanya, “Bagaimana engkau tahu?” Beliau menjawab, “Kalau engkau rela, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Muhammad,’ dan bila engkau marah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Ibrahim.’ Aisyah menjawab, “Betul, (kalau aku marah) aku hanya menghindari menyebut namamu.”

Dari adab yang dikemukakan Imam Ghazali itu dapat ditambahkan bahwa disamping bersabar menerima atau menghadapi kesulitan isteri, juga bercumbu, bergurau, dan bermain-main dengan mereka, karena yang demikian itu dapat menyenangkan hati wanita. Rasulullah saw. biasa bergurau dengan isteri-isteri beliau dan menyesuaikan diri dengan pikiran mereka dalam bertindak dan berakhlak, sehingga diriwayatkan bahwa beliau pernah melakukan perlombaan lari cepat dengan Aisyah.

Umar r.a. – yang dikenal berwatak keras itu – pernah berkata, “Seyogyanya sikap suami terhadap isterinya seperti anak kecil, tetapi apabila mencari apa yang ada
disisinya (keadaan yang sebenarnya) maka dia adalah seorang laki-laki.”

Dalam menafsirkan hadits: “Sesungguhnya Allah membenci alja’zhari al-jawwazh,” dikatakan bahwa yang dimaksud ialah orang yang bersikap keras terhadap isteri
(keluarganya) dan sombong pada dirinya. Dan ini merupakan salah satu makna firman Allah: ‘utul. Ada yang mengatakan bahwa lafal ‘utul berarti orang yang
kasar mulutnya dan keras hatinya terhadap keluarganya.

Keteladanan tertinggi bagi semua itu ialah Rasulullah saw. Meski bagaimanapun besarnya perhatian dan banyaknya kesibukan beliau dalam mengembangkan dakwah dan menegakkan agama, memelihara jama’ah, menegakkan tiang daulah dari dalam dan memeliharanya dari serangan musuh yang senantiasa mengintainya dari luar, beliau tetap sangat memperhatikan para isterinya. Beliau adalah manusia yang senantiasa sibuk berhubungan dengan Tuhannya seperti berpuasa, shalat, membaca Al-Qur’an, dan berzikir, sehingga kedua kaki beliau bengkak karena lamanya berdiri ketika melakukan shalat lail, dan menangis sehingga air matanya membasahi jenggotnya.

Namun, sesibuk apa pun beliau tidak pernah melupakan hak-hak isteri-isteri beliau yang harus beliau penuhi. Jadi, aspek-aspek Rabbani tidaklah melupakan beliau
terhadap aspek insani dalam melayani mereka dengan memberikan makanan ruhani dan perasaan mereka yang tidak dapat terpenuhi dengan makanan yang mengenyangkan perut dan pakaian penutup tubuh.

Dalam menjelaskan sikap Rasulullah dan petunjuk beliau dalam mempergauli isteri, Imam Ibnu Qayyim berkata: “Sikap Rasulullah saw. terhadap isteri-isterinya ialah
bergaul dan berakhlak baik kepada mereka. Beliau pernah menyuruh gadis-gadis Anshar menemani Aisyah bermain. Apabila isterinya (Aisyah) menginginkan sesuatu yang tidak terlarang menurut agama, beliau menurutinya. Bila Aisyah minum dari suatu bejana, maka beliau ambil bejana itu dan beliau minum daripadanya pula dan beliau letakkan mulut beliau di tempat mulut Aisyah tadi
(bergantian minum pada satu bejana/tempat), dan beliau juga biasa makan kikil bergantian dengan Aisyah.”

Beliau biasa bersandar di pangkuan Aisyah, beliau membaca Al Qur’an sedang kepala beliau berada di pangkuannya. Bahkan pernah ketika Aisyah sedang haidh,
beliau menyuruhnya memakai sarung, lalu beliau memeluknya. Bahkan, pernah juga menciumnya, padahal beliau sedang berpuasa.

Diantara kelemahlembutan dan akhlak baik beliau lagi ialah beliau memperkenankannya untuk bermain dan mempertunjukkan kepadanya permainan orang-orang Habsyi ketika mereka sedang bermain di masjid, dia (Aisyah) menyandarkan kepalanya ke pundak beliau untuk melihat permainan orang-orang Habsyi itu. Beliau juga pernah berlomba lari dengan Aisyah dua kali, dan keluar dari rumah bersama-sama.
Sabda Nabi saw: “Sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.”

Apabila selesai melaksanakan shalat ashar, Nabi senantiasa mengelilingi (mengunjungi) isteri-isterinya dan beliau tanyakan keadaan mereka, dan bila malam tiba beliau pergi ke rumah isteri beliau yang pada waktu itu tiba giliran beliau untuk bermalam. Aisyah berkata, “Rasulullah saw. tidak melebihkan sebagian kami terhadap sebagian yang lain dalam pembagian giliran. Dan setiap hari beliau mengunjungi kami semuanya, yaitu mendekati tiap-tiap isteri beliau tanpa menyentuhnya, hingga sampai kepada isteri yang menjadi giliran beliau, lalu beliau bermalam di situ.”

Kalau kita renungkan apa yang telah kita kutip disini mengenai petunjuk Nabi saw. tentang pergaulan beliau dengan isteri-isteri beliau, kita dapati bahwa beliau sangat memperhatikan mereka, menanyakan keadaan mereka, dan mendekati mereka. Tetapi beliau mengkhususkan Aisyah dengan perhatian lebih, namun ini bukan berarti beliau bersikap pilih kasih, tetapi karena untuk menjaga kejiwaan Aisyah yang beliau nikahi ketika masih perawan dan karena usianya yang masih muda.

Beliau mengawini Aisyah ketika masih gadis kecil yang belum mengenal seorang laki-laki pun selain beliau. Kebutuhan wanita muda seperti ini terhadap laki-laki
lebih besar dibandingkan dengan wanita janda yang lebih tua dan telah berpengalaman. Yang kami maksudkan dengan kebutuhan disini bukan sekadar nafkah, pakaian, dan hubungan biologis saja, bahkan kebutuhan psikologis dan
spiritualnya lebih penting dan lebih dalam daripada semua itu. Karena itu, tidaklah mengherankan jika kita lihat Nabi saw. selalu ingat aspek tersebut dan
senantiasa memberikan haknya serta tidak pernah melupakannya meskipun tugas yang diembannya besar, seperti mengatur strategi dakwah, membangun umat, dan menegakkan daulah.

“Sungguh pada diri Rasulullah itu terdapat teladan yang bagus bagi kamu.” Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya.

Catatan kaki:
1 Zadul Ma’ad 1:78-79, terbitan Sunnah Muhammadiyyah.

Sumber: http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Halal/index.html#3

Keutamaan Berbuat Baik Kepada Teman Ayah dan Ibu, Kerabat, Istri dan Orang-orang yang Pantas Dihormati

23 Apr

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits

Dari Ibnu Umar dia berkata: Nabi saw. bersabda: “Sebaik-baik kebajikan adalah seseorang yang menyambung tali persaudaraan kenalan bapaknya.”

Dari Abdullah bin Dinar, dari Abdullah bin Umar ra. ia berkata: kami bertemu seorang lelaki Badui di tengah perjalanan menuju ke Makkah, kemudian Abdullah bin Umar memberi salam dan mengajaknya untuk naik ke atas keledai serta memberikan surban yang dipakai di kepalanya. Ibnu Dinar berkata kepada Ibnu Umar: “Semoga Allah selalu memberikan kebaikan kepadamu, sesungguhnya orang itu adalah orang Badui dan mereka senang sekali diberi, walaupun hanya sedikit.” Abdullah bin Umar berkata: “Sesungguhnya orang itu adalah kenalan baik (ayahku) Umar Ibnul Khaththab ra. sesungguhnya sebaik-baik kebajikan adalah seseorang yang menyambung tali persaudaraan dengan kenalan ayahnya.”

Dalam riwayat lain, Ibnu Dinar bercerita tentang Ibnu Umar ra. menurutnya apabila Ibnu Umar pergi ke Makkah selalu membawa keledai sebagai gantinya onta apabila ia merasa jemu, dan ia biasa memakai surban di kepalanya. Kali tertentu, ketika ia pergi ke Makkah dengan keledainya, tiba-tiba ada seorang Badui lewat, dan bertanya: “Apakah kamu fulan bin fulan?” Orang Badui itu menjawab: “Benar.” Kemudian Ibnu Umar memberikan keledai itu kepadanya dan berkata: “Naikilah keledai ini.” Ia juga memberikan surbannya seraya berkata: “Pakailah surban ini di kepalamu.” Salah seorang teman Ibnu Umar berkata kepadanya: “Semoga Allah memberikan ampunan kepadamu yang telah memberikan kepada orang Badui ini seekor keledai yang biasa untuk gantian, dan surban yang biasa kamu pakai di kepalamu.” Ibnu Umar berkata: “Sesungguhnya sebaik-baik kebajikan yaitu seseorang yang menyambung tali persaudaraan dengan kenalan baik ayahnya setelah meninggal dunia, sesungguhnya ayah orang ini adalah kenalan baik (ayahku) Umar ra.” (HR Muslim)

Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah as-Sa’idiy ra. ia berkata: “Tatkala kami duduk di hadapan Rasulullah saw. tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dari Bani Salimah dan bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah ada kebaikan yang dapat saya lakukan untuk berbakti kepada kedua orang tua saya setelah mereka meninggal dunia?” Beliau menjawab: “Ya. Yaitu menshalati, memohonkan ampun, melaksanakan janji (wasiat) menghubungi keluarga yang tidak dapat dihubungi, kecuali dengan keduanya dan memuliakan kenalan baik mereka. (HR Abu Daud)

Dari Aisyah ra. ia berkata: “Saya tidak pernah merasa cemburu terhadap istri-istri Nabi saw. yang lain kecuali terhadap Khadijah ra. padahal saya tidak pernah berjumpa dengannya, tetapi karena Nabi sering menyebut-nyebutnya, dan beliau sering menyembelih kambing kemudian memotong beberapa bagian dan dikirimkan kepada kenalan-kenalan baik Khadijah. Saya sering berkata kepadanya: “Seolah-olah dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah.” Maka beliau menjawab: “Sesungguhnya Khadijah itu begini dan begitu, dan hanya dengan dialah aku dikaruniai anak.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain dikatakan: Apabila beliau menyembelih kambing, beliau memberi kenalan-kenalan baik Khadijah apa yang mereka inginkan.”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Apabila beliau menyembelih kambing, beliau bersabda: “Kirimlah daging ini kepada kenalan-kenalan Khadijah.”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Halal binti Khuwailid saudari Khadijah pernah meminta izin untuk masuk ke rumah Rasulullah saw. kemudian beliau teringat cara Khadijah meminta izin, maka terharulah beliau seraya bersabda: “Ya Allah, inilah Halal binti Khuwailid.”

Dari Anas bin Malik ra. ia berkata: “Aku keluar bersama-sama Jarir Ibnu Abdullah al-Bajaliy ra. dalam suatu perjalanan, ia selalu melayani saya, maka saya katakan kepadanya: “Kamu jangan berbuat seperti itu.” Ia menjawab: “Sesungguhnya saya melihat shahabat Anshar senantiasa melayani Rasulullah saw. dalam segala hal, maka aku pun bersumpah pada diriku untuk tidak berkawan dengan shahabat Anshar kecuali saya harus melayaninya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hak Suami Atas Istri

17 Apr

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits

Allah berfirman: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (an-Nisaa’: 34)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk tidur bersama, kemudian ia menolak lalu suaminya marah kepada istrinya pada malam itu, maka istrinya akan mendapat laknat (kutukan) malaikat sampai pagi.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seorang istri meninggalkan tempat tidur suaminya semalam, maka akan mendapat laknat (kutukan) malaikat sampai pagi.”

Dalam riwayat lain juga disebutkan: Rasulullah saw. bersabda: “Demi zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seorang suami yang mengajak istrinya untuk tidur bersama, kemudian istrinya menolak, maka semua makhluk yang ada di langit memarahi istrinya itu sampai suaminya meridlai.”

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Seorang istri tidak diperbolehkan berpuasa sunnah sewaktu suaminya ada di rumah, kecuali dengan seizin suaminya, juga tidak diperbolehkan mengizinkan orang masuk ke rumahnya kecuali dengan seizin suaminya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian. Seorang penguasa adalah pemimpin, seorang suami adalah pemimpin seluruh keluarganya, demikian pula seorang istri adalah pemimpin atas rumah suami dan anaknya. Kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abi Ali Thalq bin Ali ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk bersetubuh maka ia harus memenuhi walaupun ia sedang masak di dapur.” (HR Tirmidzi dan Nasa-i)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw, beliau bersabda: “Seandainya aku boleh memerintah seseorang untuk bersujud kepada seseorang niscaya aku menyuruh seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR Tirmidzi)

Dari Ummu Salamah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Setiap istri yang meninggal dunia dan suaminya meridlainya, ia pasti masuk surga.” (HR Tirmidzi)

Dari Mu’adz bin Jabal ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tiada seorang istri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan calon istrinya di akhirat (bidadari) berkata: “Jangan kamu menyakitinya, semoga Allah mencelakaimu, sebab ia hanya sementara berkumpul denganmu, sebentar lagi ia akan berpisah dan akan kembali kepada kami.” (HR Tirmidzi)

Dari Usamah bin Zaid ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tiada aku tinggalkan suatu fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi laki-laki dari fitnah perempuan.” (HR Bukhari dan Muslim)