Tag Archives: kaidah

Lawan Tauhid Uluhiah

9 Okt

Tauhid Uluhiah
Muhammad Ibn Ibrahim al Hamd; Islamhouse.com

1. Syirik: menghapus tauhid sama sekali.
2. Bid’ah: menghapus kesempurnaannya yang wajib.
3. Maksiat: menciderai dan mengurangi pahalanya.

Firkah Yang Menyekutukan Tauhid uluhiah

Firkah yang menyekutukan jenis tauhid ini banyak, di antaranya:
1. Yahudi: mereka menyembah patung anak sapi (dari logam mulia), dan hingga kini masih menyembah dinar dan dirham. Harta adalah sesembahan mereka.
2. Nasharo (Kristen): dengan klaim mereka akan ketuhanan Isa almasih alaihi salam dan peribadatan mereka kepadanya.
3. Rafidhah (syia’ah): dengan doa mereka meminta kepada Ali dan Abbas radiallahu ‘anhuma serta ahlul bait lain selain keduanya.
4. Nusyairiah (sempalan syi’ah): dengan ibadah mereka terhadap Ali dan mengklaim bahwa ia adalah tuhan. (Lihat Al-Bakûrah As-Sulaimaniah Fi Kasyfi Asrar Ad-Diyanah An-Nushairiah (Alawaiah) oleh Sulaiman Afandi al-Adzany, terbitan Dâr as-Sohwah hal.36. lihat juga An-Nushairiah oleh Suhair al-Fîl terbitan Dâr al-Manâr hal.47-48.)
5. Ad-Druz: dengan pernyataan mereka akan ketuhanan penguasa dengan perintah tuhan al-Ubaidy. (Lihat Aqidah ad-Drûz, ‘Ardh wa Naqd oleh Muhamad Ahmad al-Khathib hal.117-135 terbitan Dâr Âlamul Kutub.)
6. Sufi Ekstrim dan penyembah kubur: akibat pengkultusan mereka terhadap para wali, memalingkan nazar dan kurban (yang seharusnya untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadi) untuk penghuni kubur, tawaf mereka mengelilingi kubur dan pendekatan-pendekatan lain yang ditujukan kepada penghuni kubur.

&

Hubungan Tauhid Uluhiah Dengan Tauhid Rububiah

9 Okt

Tauhid Uluhiah
Muhammad Ibn Ibrahim al Hamd; Islamhouse.com

(Lihat Al-Irsyad hal.21-23.)
Jenis-jenis tauhid saling berhubungan, sebagiannya berkaitan dengan yang lain. Berikut ini penjelasan hubungan antara tauhid uluhiah dengan rububiah dan sebaliknya:

1. Tauhid rububiah mengharuskan tauhid uluhiah, maknanya bahwa penetapan tauhid uluhiah mewajibkan penetapan tauhid uluhiah. Siapa yang mengetahui bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah tuhan, pencipta, pengatur urusannya, dan telah menyeru untuk mengibadahi -Nya, wajib baginya mengibadahi -Nya saja tanpa menyekutukan -Nya. Jika hanya -Dia pencipta, pemberi rizki, pemberi manfaat dan mudarat, mengharuskan untuk mengesakan -Nya dalam ibadah.

2. Tauhid uluhiah mengandung tauhid rububiah, maknanya tauhid rububiah masuk dalam kandungan tauhid uluhiah. Maka siapa yang beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla semata tanpa menyekutukan -Nya, sudah pasti berkeyakinan bahwa -Dia adalah Tuhan nya, pencipta dan pemberi rezeki, dimana tidak disembah melainkan karena ditangan –Nya lah manfaat dan mudarat dan pada –Nya lah penciptaan dan segala urusan.

3. Rububiah merupakan amalan hati, tidak lebih dari itu, karena itu dinamakan pula dengan tauhid al-makrifah wal itsbat (tauhid pengetahuan dan penetapan) atau tauhidul ilmi (tauhid ilmu).
Sedangkan tauhid uluhiah merupakan amalan hati dan badan, tidak cukup hanya hati, bahkan pada prilaku dan amal, yang dimaksudkan untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla semata tanpa menyekutukan -Nya.

4. Tauhid rububiah semata tidaklah cukup. Yang demikian itu karena tauhid rububiah konsentrasinya ada pada cara pandang. Seandainya itu cukup, tentunya manusia tidak butuh diutus rasul dan diturunkan kitab suci. Tidaklah cukup hanya menetapkan sifat-sifat yang layak bagi tuhan dan bahwa hanya ia semata tuhan pencipta.
Belum menjadi ahli tauhid kecuali jika mempersaksikan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, menetapkan bahwa -Dia adalah yang disembah dan diibadahi semata, dan mengibadahi -Nya sesuai dengan pengetahuan tersebut.

5. Tauhid uluhiah adalah tauhid yang dibawa para rasul. Tauhid inilah yang menimbulkan perselisihan antara para rasul alaihim salam dan umatnya. Sebagaimana perkataan kaum Nabi Hud alahis salam ketika mengatakan kepada mereka:
“…ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain -Nya’….” (QS.al-A’raf:59)

Mereka menjawab:
“Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?’….” (QS.al-A’raf:70)

Juga yang dikatakan kaum kafir Quraisy, ketika diperintahkan untuk mengesakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam beribadah,
“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.”(QS.Shad:5)
Adapun tauhid rububiah, mereka tidak mengingkarinya, bahkan Iblis tidak mengingkarinya:
“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, …”(QS.al-Hijar:39)

6. Keduanya jika disebutkan bersamaan, memiliki makna tersendiri, dan jika terpisah mengandung makna lain. Maknanya: jika keduanya disebutkan bersamaan, maka setiap kata sesuai dengan maksudnya, sebagaimana firman Allah ta’ala :
1. Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. 2. Raja manusia. 3. Sembahan manusia.” (QS.an-Nas:1-3)

Sehingga makna Rab: Al-Malik Mutasharif (raja yang mengatur). Inilah tauhid rububiah (ketuhanan). Makna Ilah: yang disembah dengan hak, yang berhak diibadahi tanpa selain -Nya. Inilah tauhid uluhiah.
Terkadang keduanya disebut secara sendiri-sendiri sehingga memiliki kesamaan makna, seperti pertanyaan dua malaikat kepada mayat di dalam kubur: “Siapa Tuhan -mu?” Maknanya “Siapa Sesembahan-mu?” juga sebagaimana firman Allah ta’ala,

“(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, ‘Tuhan kami hanyalah Allah’….” (QS.al-Haj:40)

Dan firman -Nya:
“Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah….” (QS.al-An’am:164)

Dan firman -Nya mengenai kekasih Allah Shubhanahu wa ta’all, Nabi Ibrahim:
“…Tuhan -ku ialah yang menghidupkan dan mematikan’….” (QS.al-Baqarah:258)

Dan sebagaimana firman Allah ta’ala:
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada -Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu ngingati (-Nya).” (QS.an-Naml:62)

7. Agar tauhid benar dan selamat dunia dan akhirat, hendaklah merealisasikan kedua hal tersebut.

&

Metode Dakwah Kepada Tauhid uluhiah Dalam Al-Quran Al-Karim

9 Okt

Tauhid Uluhiah
Muhammad Ibn Ibrahim al Hamd; Islamhouse.com

(Lihat Taisîrul Azizil Hamid hal.38-39 dan Da’watut Tauhid oleh al-Harrâs hal.39-45, Al-Irsyad oleh Syaik Soleh al-Fauzan hal.25-28 dan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di wa Juhudihi fi Taudhihil Aqidah hal.154-156.)

Beragam metode dan teknik dakwah kepada tauhid uluhiah di dalam al-Quran, di antaranya sebagai berikut:

1. Allah Shubhanahu wata’ala memerintahkan untuk mengibadahi -Nya. Firman Allah Ta’ala:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan -Nya dengan sesuatu pun….” (QS.an-Nisa:36)

2. Larangan mengibadahi selain Allah. Firman -Nya:

“…Janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS.al-Baqarah:22)

3. Pengkhabaran Allah Shubhanahu wa ta’alla bahwa Dia menciptakan makhluk untuk mengibadahi -Nya. Sebagaimana firman -Nya:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada -Ku.” (QS.ad-Dzariat:56)

4. Pengkhabaran Allah Shubhanahu wa ta’alla bahwa -Dia mengutus rasul untuk mengajak agar mengibadahi -Nya dan melarang mengibadahi selian -Nya. Sebagaimana firman -Nya:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’…” (QS.an-Nahl:36)

5. Menggunakan tauhid rububiah sebagai argumen tauhid uluhiah. Jika Allah Ta’ala adalah pencipta lagi pemberi rezeki, yang telah memberi nikmat kepadamu dengan nikmat lahir dan batin tanpa kesertaan sekutu yang lain, maka wajib bagimu untuk tidak menuhankan dan mengibadahi selain -Nya. Haruslah engkau mengkhususkan -Nya dengan tauhid, sebagaimana firman -Nya:

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah:21)

6. Mengargumeni kewajiban mengibadahi -Nya dikarenakan -Dia adalah Maha pendatang manfaat dan mudarat, Pemberi dan Pencegah. Siapa yang berkarakter seperti itu, dialah sesembahan yang hak yang tidak ada sesembahan selain -Nya.
7. Mengargumeni kewajiban mengibadahi -Nya dengan keunikan sifat -Nya yang sempurna dan ketiadaan hal itu pada sesembahan sekutu, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“…Maka sembahlah -Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada -Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan -Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam:65)

Dan firman -Nya:
“Hanya milik Allah asmaaul husna (nama-nama yang baik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaul husna itu….” (QS. Al-A’raf:180)

Dan firman -Nya mengenai Nabi Ibrahim kekasih Allah Shubhanahu wa ta’alla, yang berkata kepada bapaknya:

“Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: ‘Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?’” (QS.Maryam:42)

8. Argumentasi atas kewajiban mengibadahi -Nya dengan detail penciptaan -Nya. Manakala orang yang berakal menadaburi fikirnya dan merenunginya, dia akan tahu bahwa Allahlah yang berhak diibadahi.
9. Argumentasi atas kewajiban mengibadahi -Nya dengan keragaman nikmat -Nya. Jika sadar bahwa apapun nikmat yang ada pada hamba berasal dari Allah semata, dan bahwa tidak ada seorang pun dari makhluk yang dapat memberi manfaat kepada yang lain tanpa seizin Allah Shubhanahu wata’ala dan bahwa -Dia adalah Maha pemberi manfaat dan mudarat; menjadi tahu bahwa Allahlah yang berhak diibadahi semata tanpa sekutu.
10. Pendiskreditkan Allah Shubhanahu wata’ala terhadap tuhan orang-orang musyrik, seperti dalam firman -Nya:

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang.
Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” (QS.al-A’raf:191,192)

Dan firman -Nya:

“Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya.'” (QS.al-Isra’:56)

Dan firman -Nya:
“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS.al-Hajj:73)

11. Celaan terhadap orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, sebagaimana firman -Nya :
“Ibrahim berkata: ‘Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?” Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?” (QS.al-Anbiya:66,67)

Dan firman -Nya:
“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri….” (QS.al-Baqarah:130)

12. Menjelaskan akibat orang-orang musyrik yang beribadah kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla dan pengakhiran mereka dengan apa yang diibadahi, dimana yang diibadahi berlepas diri di saat yang paling pelik, sebagaimana firman Allah ta’ala,

165. Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).
166. (yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.
167. dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS.al-Baqarah:165-167)

Dan firman -Nya:
“…Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh yang Maha mengetahui.” (QS.Fathir:14)

13. Menjelaskan tempat kembali muwahidin (pelaku tauhid) serta akibatnya di dunia dan akhirat, sebagaimana yang dinyatakan mengenai imam mereka, Nabi Ibarahim alaihi salam:

“… dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS.al-Baqarah:130)

Dan firman -Nya:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.al-An’am:82)
14. Sanggahan Allah Shubhahanu wa ta’alla terhadap orang-orang musyrik yang mengambil perantara-perantara antara mereka dengan Allah Shubhahanu wa ta’alla, bahwa syafaat adalah miliki -Nya, tidak diminta dari selain -Nya. Dia tidak memberi syafaat kecuali dengan seizin -Nya dan setelah keridaan -Nya kepada yang akan disyafaati. Sebagaimana Firman -Nya:

43. Bahkan mereka mengambil pemberi syafa’at kepada selain Allah. Katakanlah: “Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatu pun dan tidak berakal?”
44. Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan -Nya kerajaan langit dan bumi….” (QS.az-Zumar:43,44)

Dan firman -Nya:
“…Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin -Nya?…” (QS.al-Baqarah:255)
15. Menjelaskan bahwa apa-apa yang diibadahi selain Allah tidak dapat memberi manfaat bagi yang mengibadahinya dari segala sisi, sebagaimana firman Allah -ta’ala-:

22. Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi -Nya.
23. Dan Tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan -Nya memperoleh syafa’at itu….” (QS.as-Saba’:22,23)

16. Menyebutkan bukti dan contoh yang menunjukkan kebatilan syirik dan akibat buruknya, yang menjadikan jiwa yang bersih menjauh darinya. Sebagaimana Firman Allah -ta’ala-:

“…Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS.al-Hajj:31)

&

Penyebab Tumbuhnya Tauhid Di Dalam Hati

9 Okt

Tauhid Uluhiah
Muhammad Ibn Ibrahim al Hamd; Islamhouse.com

Tauhid ibarat pohon yang tumbuh dalam hati seorang mukmin. Cabangnya meninggi dan bertambah besar. Bertambah keindahannya manakala disiram dengan ketaatan yang mendekatkan kepada Allah Azza wajalla. Sehingga cinta hamba bertambah kepada Tuhan -Nya, bertambah takut dan harap kepada -Nya, serta menjadi kuat tawakal kepada -Nya. Dengan demikian, tauhid menjadi sempurna dan terealisai. Merealisasikannya bukan dengan angan-angan, tidak juga dengan klaim yang kosong dari kenyataan.

Terealisasi dengan apa yang tertanam di dalam hati dari keyakinan iman, hakikat ihsan, dibarengi dengan akhlak yang indah dan amal-amal saleh yang mulia.
Di antara penyebab tumbuhnya tauhid di dalam hati sebagai berikut (Lihat kitab Al-Madarijus Sâlikin oleh Ibnul Qoyyim III/18-19.):

1. Melakukan ketaatan; mengharap apa yang ada di sisi Allah Shubhanahu wa ta’alla.
2. Meninggalkan maksiat; takut dari sanksi -Nya.
3. Merenungi apa-apa yang ada dalam kerajaan langit dan bumi.
4. Mengetahui nama-nama dan sifat-sifat -Nya, esensi dan pengaruhnya serta apa-apa yang menunjukkan akan kemulian dan kesempurnaan -Nya.
5. Menambah ilmu yang bermanfaat serta mengamalkannya.
6. Membaca al-Quran sambil mentadaburi (merenungi) dan berusaha memahami makna-makna dan maksudnya.
7. Takarub kepada Allah Ta’ala dengan amal nafilah setelah mengerjakan amalan fardu.
8. Senantiasa berzikir kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam segala keadaan, dengan lisan dan hati.
9. Mendahulukan apa yang dicintai -Nya saat terdapat beberapa kecintaan.
10. Merenungi nikmat Allah Shubhanahu wa ta’alla yang lahir dan batin serta mempersaksikan kebaikan, kasih dan anugrah -Nya kepada hamba-hamba -Nya.
11. Meluluhkan hati dihadapan Allah Shubhanahu wa ta’alla dan kefakiran kepada -Nya.
12. Berkhalwat dengan Allah Shubhanahu wa ta’alla saat ‘turunnya’ Allah Shubhanahu wa ta’alla di pertiga malam terakhir. Membaca al-Quran pada waktu itu dan mengakhirinya dengan istigfar dan tobat.
13. Bergaul dengan ahli kebaikan, kesalehan, ikhlas dan pecinta Allah Azza wajalla. Mengambil faedah dari ucapan dan amal mereka.
14. Menjauhkan segala penyebab kesibukkan yang dapat memisahkan antara hati dengan Allah Shubhanahu wa ta’alla.
15. Menghindari over bicara, makan, bergaul dan melihat.
16. Mencintai saudaranya mukmin seperti mencintai dirinya sendiri dan bermujahadat atas hal itu.
17. Bersih hati dari kedengkian kepada mukmin dan bersih dari iri, hasad, sombong, ego dan takabur.
18. Rida dengan pengaturan Allah Azza wajalla.
19. Bersukur kala mendapat nikmat dan bersabar kala mendapat musibah.
20. Kembali (bertobat) kepada -Nya bila melakukan dosa.
21. Memperbanyak amal saleh seperti berbakti, berakhlak baik, menyambung tali silaturahmi dan lain sebagainya.
22. Menauladani Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam dalam perkara kecil dan besar.
23. Berjihad fisabilillah.
24. Baik dalam menjamu.
25. Amar makruf dan nahi munkar.

&

Keutamaan Tauhid Uluhiah

9 Okt

Tauhid Uluhiah
Muhammad Ibn Ibrahim al Hamd; Islamhouse.com

(Lihat Taisîrul Azizil Hamid hal.36-39 dan Al-Qoulul as-Sadîd oleh Ibnu Sa’di hal.16, bab Fadlut Tauhid Wa Mâ Yukafiru Minaz Zunub dan Ma’ârijul Qobul Fil Hadits ‘An Fadhailis Shahadah I/268-271, La ilâha illallah oleh al-Kâtib hal.10-35.)

Mengesakan dan menunggalkan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam beribadah merupakan nikmat yang paling mulia dan utama secara mutlak. Keutamaan dan faedahnya tidak terkira dan terbatas. Keutamaan tauhid meliputi kebaikan dunia dan akhirat. Di antara keutamaan itu sebagai berikut:

1. Ia merupakan nikmat teragung yang dianugrahkan kepada hamba -Nya. Yang menunjuki mereka kepadanya, sebagaimana yang terdapat dalam surat an-Nahl yang dinamai dengan surat an-Ni’am. Allah Azza wajalla mendahulukan nikmat tauhid dari nikmat lain. Allah Shubahanu wa ta’alla menyebut di awal surat an-Nahl:

“Dia menurunkan para Malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah -Nya kepada siapa yang -Dia kehendaki di antara hamba-hamba -Nya, yaitu: ‘Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada -Ku’.” (QS.an-Nahl:2)

2. Ia merupakan tujuan penciptaan jin dan manusia. Firman Allah Shubhanahu wa ta’alla:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada -Ku.” (QS.ad-Dzariat:56)

3. Ia merupakan tujuan diturunkannya kitab suci, yang salah satunya al-Quran. Firman Allah -ta’ala-:
4.
1. Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayat -Nya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,
2. agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada -Nya.” (QS.Hud:1,2)

5. Ia merupakan sebab terbesar untuk lepas dari penderitaan dunia dan akhirat serta mencegah sanksi dunia dan akhirat, sebagaimana kisah Nabi Yunus alaihi salam.
6. Ia mencegah dari kekekalan di neraka, jika di hatinya ia masih ada, meski sebesar biji zarah.
7. Jika ia sempurna di dalam hati, mencegah dari masuk neraka sama sekali, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Utban, dalam Sahihain, Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi yang mengucapkan ‘La ilaha illallah’, mengharap dengan hal itu wajah Allah.” (HR.al-Bukhari I/110 dan Muslim I/61.)

8. Memperoleh petunjuk sempurna, dan keamanan yang utuh bagi pelakunya di dunia dan akhirat. Firman Allah:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.al-An’am:82)

9. Ia merupakan sebab mendapatkan rida Allah Shubhanahu wa ta’alla dan pahala -Nya.

10. Bahwa orang yang paling berbahagia dengan syafaat Muhamad Salallahu ‘alaihi wasallam adalah yang mengucapkan ‘La ilaha illallah’ ikhlas dari hatinya.
11. Bahwa segala amal dan ucapan, baik lahir maupun batin tertangguh penerimaan, kelengkapan dan pahala yang diperoleh pada tauhid. Manakala kuat tauhid dan keikhlasan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, sempurna dan lengkaplah hal itu.

12. Ia memudahkan hamba melakukan perbuatan baik, meninggalkan kemungkaran dan meloloskannya dari musibah. Orang yang ikhlas kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla pada iman dan tauhidnya, ringan baginya melakukan ketaatan, karena yang diharapnya pahala dan keridaan. Menjadi mudah baginya meninggalkan keinginan nafsu dari kemaksiatan, karena takut dari kemurkaan dan pedihnya siksa Allah Shubhanahu wa ta’alla.

13. Jika tauhid sempurna dalam hati, Allah Shubhanahu wa ta’alla jadikan dia cinta kepada keimanan, dijadikan indah di hatinya, dan dijadikan benci kepada kekufuran, kefasikan serta kemaksiatan, dan dia digolongkan sebagai orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.
14. Ia menjadikan hamba ringan menjalani penderitaan dan meremehkan kepedihan, sesuai dengan kesempurnaan tauhid dan iman hamba itu. Menghadapi penderitaan dan kesakitan dengan hati yang lapang, jiwa yang tenang; menerima dan rida dengan takdir -Nya yang menyakitkan.

15. Ia membebaskan seseorang dari penghambaan kepada makhluk; ketergantungan kepadanya, takut, mengharap dan beramal karenanya.
Itulah kehormatan hakiki dan kemuliaan yang tinggi. Hal itu dengan bertuhan dan menghamba kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla. Tidak mengharapkan selain -Nya, tidak takut kepada selain -Nya, tidak mengadu kecuali hanya kepadan -Nya dan tidak bergantung kecuali hanya kepada -Nya. Dengan demikian, lengkaplah kebahagiaannya dan menjadi nyata kesuksesannya.

16. Di antara keutamaannya yang tidak dapat diperoleh oleh apa pun yang lain, bahwa jika tauhid lengkap dan sempurna dalam hati, serta terealisasi sempurna dengan ikhlas yang utuh, ia merubah amal yang sedikit menjadi banyak dan dilipat gandakan pahala pemilikinya tanpa batas.

17. Allah Shubhanahu wa ta’alla menjamin pemilikinya dengan memeperoleh pertolongan, kehormatan, kemuliaan, petunjuk, jalan kemudahan, diperbaiki keadannya dan tepat dalam ucapan dan perbuatan.

18. Allah Shubhanahu wa ta’alla mencegah dari pelaku-pelaku tauhid keburukan dunia dan akhirat, mengaruniai mereka kehidupan yang baik, ketenangan baginya dan dengan mengingat -Nya.
Bukti hal itu banyak terdapat dalam al-Quran dan Hadis. Siapa yang merealisasikan tauhid, dia akan memperoleh seluruh keutamaan-keutamaan tersebut dan lebih dari itu. Demikian pula sebaliknya.

&

Penghambaan Makhluk Kepada Allah

9 Okt

Tauhid Uluhiah
Muhammad Ibn Ibrahim al Hamd; Islamhouse.com

(Lihat Qaulul Mufid I/28-29.)
Penghambaan makhluk kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla terbagi menjadi tiga macam:

1. Ubudiah Amah (penghambaan umum): mencakup seluruh makhluk: yang baik, buruk, mukminnya dan kafirnya.
Firman Allah -ta’ala-,

“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha pemurah selaku seorang hamba.” (QS.Maryam:93)

Itu adalah ubudiah rububiah (penghambaan ketuhanan). Makhluk seluruhnya hamba bagi Allah dan menghamba kepada -Nya.

2. Khas (penghambaan khusus): ubudiah uluhiah (penghambaan ilahiah). Ia merupakan penghambaan hamba-hamba Allah Shubhanahu wa ta’alla yang saleh, dan mereka adalah setiap yang beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan syariat -Nya dan ikhlas dalam mengibadahi -Nya.

Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman,

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Mahapenyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati….” (QS.al-Furqan:63)

Karena itulah mereka disandarkan kepada nama -Nya; mengisyaratkan bahwa mereka sampai kepada derajat itu disebabkan rahmat -Nya. Ini merupakan idhafatut tasyrif (penyandaran penghormatan).

3. Khasul khas (khusus dari yang khusus): ia juga ubudiah uluhiah, ada pada para nabi dan rasul yang tidak tertandingi oleh seorang pun dalam ibadah mereka kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla. Sebagaimana:

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami (Dalam naskah asli hanya sampai disini. Nama nabi-nabi turut dinukilkan karena itulah inti dari pendalilan yang dimaksud -pent.) : (Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub…)” (QS.Shad:45)

Dan berfirman mengenai Nabi Nuh alaihi salam:

“…sesungguhnya Dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS.al-Isra’:3)

Dan mengenai Nabi Dawud alaihi salam:

“…dan ingatlah hamba Kami, Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya Dia amat taat (kepada Tuhan).” (QS.Shad:17)

Dan menyatakan mengenai Muhamad Salallahu ‘alaihi wasallam:

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba -Nya….” (QS.al-Isra’:1)

Dan firman -Nya:

“Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah -Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak- mendesak mengerumuninya.” (QS.al-Jin:19)

&

Mana yang lebih ditekankan, harap atau takut?

9 Okt

Tauhid Uluhiah
Muhammad Ibn Ibrahim al Hamd; Islamhouse.com

(Lihat Al-Âdâbus Syar’iah oleh Ibnul Muflih II/30-32, Al-Qoulul Mufîd I/51-52 & II/164-165. Lihat juga Ar-Risâlah At-Tâsi’ah, disitu terdapat perincian mengenai cinta, takut dan harap.)

Jawab: ada perbedaan pendapat dalam hal ini, di antaranya:

1. Ada yang mengatakan: seseorang mestilah lebih menekankan sisi takut, agar hal itu membawanya melakukan ketaatan dan meninggalkan maksiat.

2. Ada yang mengatakan: lebih menekankan sisi harap, agar memiliki motivasi, dan Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam menyukai optimisme.

3. Ada yang mengatakan: dalam mengerjakan ketaatan lebih menekankan harap, agar memotivasinya untuk beramal. Siapa yang dikaruniai ketaatan, akan dikaruniai kobul (diterimanya amal). Karenanya, sebagian salaf berkata: “Jika engkau diberi taufik untuk berdoa, maka tunggulah ijabatnya, karena -Dia berfirman:

“…Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu….” (QS.Ghafir:60)

Dalam kemaksiatan lebih menekankan sisi takut, agar mencegahnya dari perbuatan maksiat. Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman,

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat) jika aku mendurhakai Tuhanku.'” (QS.al-An’am:15)

Penjelasan ini lebih dekat, tetapi belum sempurna, masih dapat bersinggungan dengan firman Allah ta’ala,

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut,…” (QS.al-Mukminum:60)

4. Ada yang mengatakan: lebih menekankan sisi takut saat sehat dan harap saat sakit.

5. Ada yang mengatakan: keduanya seperti sayap burung. Seorang mukmin menuju Tuhan-nya dengan dua sayap: harap dan takut. Jika seimbang, akan stabil terbangnya. Jika kurang salah satunya, kurang juga dayanya. Jika tidak ada keduanya saat terbang, maka sedang berada di ujung kebinasaannya.

6. Ada yang mengatakan: berbeda antara orang ke orang dan kondisi ke kondisi. Wallahu a’lam.

Takut wajib dan takut mustahab (disukai)
Takut wajib adalah takut yang mendorong melakukan perbuatan wajib dan meninggalkan yang diharamkan. Takut mustahab (disukai) adalah takut yang mendorong melakukan perbuatan mustahabat dan meninggalkan makruhat (perkara makruh= dibenci).

&

Macam-Macam Ibadah

9 Okt

Tauhid Uluhiah
Muhammad Ibn Ibrahim al Hamd; Islamhouse.com

(Lihat Taisîrul Azizil Hamid hal.39-42 dan Al-Irsyad oleh Syaik Soleh al-Fauzan hal.19. Lihat juga Aqidatut Tauhid oleh Syaikh Muhamad Khalil Harrâs hal.47-70.)

Ibadah memiliki banyak macam, sebagiannya qouli (ucapan) seperti syahadat Lailaha illallah, sebagian lagi fi’li (perbuatan) seperti jihad fisabilillah, menyingkirkan ganguan yang ada di tengah jalan, dan sebagian lagi qolbi (ibadah hati), seperti malu, cinta, takut, harap dan sebagainya, sebagian lagi musytarok (gabungan dari tiga pertama), seperti shalat yang menggabungkan semua macam itu.

Di antara macam ibadah tambahan dari yang sebelumnya, seperti: zakat, puasa, haji, jujur, menunikan amanat, berbakti kepada orang tua, menyambung tali silaturahmi, menunaikan perjanjian, amar makruf, nahi munkar, berjihad melawan orang-orang munafik dan kafir, baik kepada: anak yatim, orang miskin, orang terlantar, pekerja dan hewan (Penyebutan hewan sengaja diurutkan diakhir untuk penyesuaian –pent.), berdoa, zikir, penyembelihan, nazar, isti’adzah (minta perlindungan), istiqhasah (minta bantuan), isti’anah (minta tolong), tawakal, tobat, istighfar (minta pengampunan dosa). Ibadah-ibadah tersebut tidak boleh dipalingkan kecuali hanya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla. Siapa yang memalingkannya kepada selain -Nya, maka dia telah berbuat syirik.

&

Rukun Ibadah

9 Okt

Tauhid Uluhiah
Muhammad Ibn Ibrahim al Hamd; Islamhouse.com

Ibadah memiliki tiga rukun (pilar):
1. Cinta
2. Takut
3. Harap

Sebagian ahli ilmu menjadikannya empat: cinta, pengagungan, takut dan harap. Kedua pembagian tersebut tidaklah saling bertentangan. Sesungguhnya harap timbul dari cinta, sehingga seseorang tidaklah berharap kecuali kepada yang dicintai. Demikian pula takut muncul dari pengagungan. Tidaklah seseorang takut kecuali dari sesuatu yang agung.

Allah Shubhanahu wa ta’alla memuji pelaku takut dan harap dari para nabi dan rasul. Firman -Nya:

“…Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas….” (QS.al-Anbiya:90)

Lebih memuji pelakunya dibanding ibadah lain:

“(Apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? …” (QS.az-Zumar:9)

Dan firman -Nya:

“…dan mengharapkan rahmat -Nya dan takut akan azab -Nya.…” (QS.al-Isra’:57)

Dan firman -Nya:

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan berbagai rezki yang Kami berikan….” (QS.as-Sajadah:16)

Sebagaimana perintah Allah ‘Azza wajalla untuk menghadirkan dan mengerjakannya. Firman -Nya:

“…dan berdoalah kepada -Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan)….” (QS.al-A’raf:56)

Demikian itulah ibadah para nabi dan rasul serta hamba-hamba -Nya yang beriman. Maka siapakah lagi yang lebih baik dan lebih mendapat petunjuk dari mereka?
Apakah klaim semata bisa diterima?

Jawabnya: tidak. Takut dan harap saling berkaitan. Keduanya adalah paket kemenangan mendapat surga dan selamat dari neraka. Jika engkau tanya mukmin yang tidak berzina, padahal bisa melakukannya dengan: “Kenapa kamu tidak berzina?” niscaya akan segera menjawab, “Aku takut kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan berharap -Dia membalas dengan pahala.”

Jika engkau tanya mengapa melakukan shalat, niscaya dia akan menjawab, “Takut kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan berharap pahala -Nya.” Demikian juga hal lain. Selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, mungkin dicinta tapi tidak ditakuti. Mungkin juga ditakuti tapi tidak dicintai. Sedangkan pada -Nya, tergabung kedua hal itu pada -Nya, ditakuti dan dicintai. Karenanya, seorang mukmin haruslah menggabungkan atara cinta, takut, harap dan pengagungan. Ibadah hanya semata dengan cinta tidaklah cukup dan tidak benar, karena tidak mengandung pengagungan terhadap Allah Shubhanahu wa ta’alla, tidak pula takut. Dia hanya mendudukkan Allah Shubhanahu wa ta’alla seperti orang tua dan teman. Tidak berusaha komit menghindari perkara haram, bahkan meremehkannya dengan alasan kekasih tidak akan menyiksa yang dicintainya, sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, ‘Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih -Nya’….” (QS.al-Maidah:18)

Dan sebagaimana yang dikatakan ekstremis sufi: “Kami menyembah Allah Shubhanahu wa ta’alla bukan karena takut siksa -Nya, tidak juga mengharap pahala -Nya, tetapi mengibadahi Allah Shubhanahu wa ta’alla Karena cinta kepada -Nya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Rabi’ah al-‘Adawiah, yang berkata:
(Syair):

Kucinta Engkau karena dua cinta:
Cinta nafsu dan cinta karena Kau layak untuk itu
Tentang cinta nafsu, telah membuatku sibuk berzikir
Menyebut-nyebut -Mu dibanding yang lain
Tentang -Mu yang layak dicinta,
Telah tersingkap tirai hingga aku dapat melihat –Mu (Kitab As-Shufiah Fi Nadzril Islam: Dirosah Wa Tahlil oleh Samîh Âthifuzzain hal.257.)

Juga sebagaimana yang dikatakan Ibnu Arabi:

Aku beragama dengan agama cinta,
Dengannya aku bertawajuh
Cinta adalah agama dan imanku,
Dengannya aku berpijak
(Kitab As-Syi’rus Shûfi Ila Mathla’il Qornit Tâsi’ Lilhijrah oleh Dr.Muhamad Ibn Sa’ad Ibn Husain hal.172.)

Tidak diragukan bila cara seperti itu tidak benar dan metode cacat yang berefek merugikan. Di antaranya, merasa aman dengan murka Allah Shubhanahu wa ta’alla dan yang berujung pada lepas dari agama. Siapa yang sengaja lalai dan berbuat dosa kemudian mengharap rahmat -Nya tanpa amal, dia tertipu, aspirasi batil (sesat) dan harapan dusta. Demikian pula ibadah semata dengan takut, tanpa cinta dan harap tidaklah sahih. Bahkan merupakan kebatilan dan kerusakan. Itu merupakan metode Khawarij, yang tidak menjadikan ibadah mereka kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla diiringi cinta, sehingga tidak mendapati nikmat dalam ibadah, tidak pula berhasrat. Posisi Tuhan bagi mereka seperti posisi penguasa bengis, atau raja zalim. Ini mewariskan putus asa atau harapapan dari rahmat -Nya. Berujung pada kekufuran kepada -Nya dan berburuk sangka kepada -Nya. Rasul -Salallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

“Allah Azza wajalla berkata, ‘Aku sesuai praduga hambaku kepada -Ku dan aku bersamanya saat mengingat -Ku.'” (HR.al-Bukhari dalam al-Fath no.7405, Muslim no.2675.)

Dari Jabir Radiallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda sebelum tiga hari kematiannya:

“Janganlah kalian mati kecuali dengan berbaik sangka kepada Allah Azza wajall.” (HR.Muslim no.2877.)

Prasangka baik adalah motivasi amal. Ia harus ada tatkala mengharap ijabat doa, diterimanya taubat, ampunan saat beristighfar dan pahala ketika beramal. Namun berprasangka diampuni, diijabat dan diberi pahala sambil terus-terusan berbuat dosa dan lalai dalam beramal bukanlah prasangka baik sama sekali, bahkan itu merupakan kelemahan, kebodohan dan tertipu. Bagi hamba, Allah Shubhanahu wa ta’alla haruslah menjadi yang paling dicintai dibanding apapun yang lain, dan menjadikan -Nya sebagai yang paling agung dari segala sesuatu, yang menuntut rasa takut. Bila tidak demikian, dia akan merasa aman-aman saja.

Takut menuntut rasa harap. Bila tidak demikian, akan menjadi putus harapan dan asa. Setiap orang jika takut akan berlari menghindar, kecuali kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla. Jika engkau takut kepada -Nya, justru berlari mendekat kepada -Nya. Orang yang takut kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah yang lari mendekat kepada -Nya. Allah ta’ala berfirman,

“Maka segeralah berlari kembali kepada (mentaati) Allah….” (QS.adz-Dzariat:50)
Terdapat pernyataan yang terkenal dikalangan salaf, yaitu pernyataan mereka:
“Siapa yang hanya beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan cinta semata, maka dia adalah zindik. Siapa yang mengibadahi -Nya dengan takut semata, dia adalah haruri (khawarij). Siapa yang mengibadahi -Nya dengan harap semata, maka dia adalah murji’. Dan siapa yang mengibadahi -Nya dengan takut, harap dan cinta, maka dia adalah mukmin muwahid (yang mengesakan Allah). (Lihat al-Ubudiah hal.128.)

&

Urgensi ikhlas dan Mutaba’ah (mengikuti tuntunan)

9 Okt

Tauhid Uluhiah
Muhammad Ibn Ibrahim al Hamd; Islamhouse.com

Di antara yang menunjukkan urgensi ikhlas dan mutaba’ah, yang merupakan syarat diterimanya ibadah sebagai berikut:

1. Allah Shubhanahu wa ta’alla memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada -Nya. Sebagaimana Firman -Nya,

“…dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada -Nya.…” (QS.al-A’raf:29)

2. Allah Shubhanahu wa ta’alla mengkhususkan diri -Nya dalam pensyariatan dan itu adalah hak -Nya semata. Siapa yang beribadah kepada –Nya dengan sesuatu yang tidak disyariatkanya, maka telah menyekutukan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam pensyariatan. Allah Ta’ala berfirman,

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu agama sebagaiaman yang telah diwasiatkan -Nya kepada Nuh dan yang telah Kami wahyukan kepadamu….” (QS.as-Syuro:13)

Dan firman -Nya,

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan -Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan -Nya….” (QS.al-An’am:153)

Allah mengingkari siapa yang membuat syariat sendiri. Firman Allah ta’ala,

“Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?…” (QS.as-Syuro:21)

3. Allah telah menyempurnakan agama untuk kita dan meridainya untuk kita. Sebagaimana Firman -Nya,

“…pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat -Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu….” (QS.al-Maidah:3)

Bid’ah dalam agama pada hakikatnya pengingkaran terhadap Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya dan menuduh agama memiliki kekurangan.

4. Seandainya manusia dibolehkan beribadah dengan tata cara yang mereka kehendaki, maka setiap orang akan memiliki caranya sendiri-sendiri dalam beribadah, dan kehidupan manusia menjadi neraka tak tertahankan. Persaingan berlaku dan saling menjatuhkan karena adanya perbedaan rasa, yang mengakibatkan perselisihan dan perpecahan. Ittiba (mengikuti tuntunan) dan meninggalkan bid’ah merupakan sebab terbesar kekompakan dan persatuan.

5. Seandainya manusia dibolehkan mengibadahi Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan tata cara semaunya, itu berarti manusia tidak membutuhkan Rasul. Ini tidak dikatakan oleh orang berakal. (Pernyataan ini diambil dari Mudzakaroh fit Tauhid oleh Syaikh Dr.Abdullah Jasir.)

&