Tag Archives: kekal

Kekekalan Siksa Penghuni Neraka

23 Jan

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Dalam tulisan sebelumnya telah dijelaskan bahwa siksa pelaku maksiat dari kalangan orang-orang yang beriman beserta hadits-hadits Rasulullah saw. yang berkenaan dengan ini. Jika pelaku maksiat dari orang yang beriman keluar dari neraka setelah mendapatkan siksa atas dosa-dosa yang mereka perbuat, tetaplah penghuni neraka kekal didalamnya. Tingkatan-tingkatan mereka juga berbeda-beda, sesuai dengan kadar kekufuran, kesyirikan, maksiat, dosa dan kekejian mereka.

Para penghuni surga juga bermacam-macam tingkatannya berdasarkan iman, taqwa dan apa yang mereka lakukan di dunia berupa taat, ibadah, ilmu serta melayani masyarakat dan umat Islam secara umum. Amal-amal baik menaikkan tingkat atau derajat. Begitu juga neraka yang mempunyai tingkat-tingkatan, sebagian berada di bawah sebagian yang lain. Al-Qur’an dan al-hadits telah menjelaskan hal ini.

Dari Samurah bin Jundab ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Di antara mereka yang diambil oleh neraka hingga kedua mata kakinya, di antara mereka yang diambil oleh neraka hingga kedua lututnya, di antara mereka diambil oleh neraka hingga tengah [tubuhnya], dan di antara mereka yang diambil oleh neraka hingga tulang selangkangnya.” (HR Muslim)

Dari Abu Sa’id ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya siksa penghuni neraka yang paling ringan adalah seseorang yang memakai dua sendal dari api yang otaknya mendidih karena kedua sendal ini walaupun siksa neraka cukup dengan ini. Di antara mereka ada yang sampai kedua lututnya walaupun siksa neraka cukup dengani ini. Di antara mereka di neraka ada yang sampai ujung hidungnya walaupun siksa neraka cukup dengan ini. Di antara mereka ada yang sampai dadanya walaupun siksa neraka cukup dengan ini, dan di antara mereka ada yang seluruh tubuhnya disiksa dengan api.” (HR Imam Ahmad dalam Musnad)

Dari an-Nu’man bin Buysair ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya siksa penghuni neraka yang paling ringan adalah orang yang mempunyai dua sendal dandua talinya dari api yang membuat otaknya mendidih, seperti ketel mendidih. Dia tidak melihat seseorang yang lebih hebat siksaannya daripada dia, sesungguhnya itu adalah siksa yang paling ringan.” (HR Bukhari)

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya siksa penghuni neraka yang paling ringan adalah orang yang memakai dua sendal dari neraka, otaknya mendidih karena panas dua sendalnya.” (HR Muslim)

Dari al-Abbas bin Abdul Muthalib ra. ia berkata, “Wahai Rasulallah, apakah engkau memberikan manfaat kepada Abu Thalib karena sesungguhnya ia telah melindungimu dan marah karenamu.” Beliau bersabda, “Ya, dia berada di bagian yang dangkal dari neraka. Jika bukan karena aku, niscaya dia berada di tingkatan paling dasar dalam neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. dari Nabi saw. bahwa Abu Thalib disebutkan di sisi beliau, lalu beliau bersabda, “Barangkali syafaatku memberikan manfaat untuknya pada hari kiamat, lalu dia ditempatkan di perairan api yang dangkal yang mencapai kedua mata kakinya hingga otaknya mendidih dibuatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib, dia memakai dua sendal dari neraka yang otaknya mendidih dibuatnya.”

&

Pakaian Penghuni Neraka

23 Jan

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Penghuni surga mempunyai pakaian dari sutra tipis dan tebal serta berhiaskan giwang dari emas dan permata, sangat berbeda dengan pakaian yang dimiliki oleh penghuni nereka. Pakaian penghuni surga adalah pakaian kenikmatan, sedangkan pakaian penghuni neraka adalah pakaian kesengsaraan.

“…maka bagi orang kafir akan dibuatkan pakaian-pakaian dari api neraka untuk mereka….” (al-Hajj: 19)

Jika membaca ayat ini, Ibrahim at-Taimiy mengucapkan, “Mahasuci Yang Menciptakan pakaian dari api.” Ibnu Abbas juga berkata, “Orang-orang kafir dibuatkan pakaian dari api, bahkan qaba’ [jenis pakaian], baju, dan kummah [songkok atau kopyah yang bulat]. Mahasuci Allah swt yang tidak dilemahkan oleh sesuatu, baik di bumi, langit, surga, maupun neraka.

Allah berfirman tentang penghuni surga:

“Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu [bermacam-macam nikmat] yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (as-Sajdah: 17)

Orang-orang kafir tidak mengetahui apa yang Allah sembunyikan bagi mereka dari berbagai macam azab yang lama, bahkan kekekalan mereka di neraka.

“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan), ‘Rasailah azab yang membakar ini.’” (al-Hajj: 19-22)

Penjelasan makna kalimat:

“Dua golongan”: dua kelompok yang saling bertengkar atau bermusuhan, yaitu kelompok orang-orang mukmin yang bertakwa dan kelompok orang-orang kafir yang banyak dosa.

“Mereka bertengkar mengenai Tuhan mereka”: Berbeda dan berselisih tentang Allah swt. dan agama. Menurut Mujahid, dua kelompok itu adalah orang-orang mukmin dan kafir. Orang-orang mukmin akan menolong agama Allah, sedangkan orang-orang kafir akan berusaha memadamkan cahaya Allah [menentang agama-Nya].

“Maka orang-orang kafir akan dibuatkan pakaian-pakaian dari api [neraka] untuk mereka”: pakaian mereka dipotongkan dari api sesuai dengan ukuran badan mereka agar memakainya kembali ketika kembali ke neraka. menurut al-Qurthubi, api itu diserupakan dengan pakaian karena itulah pakaian mereka. makna dari quti’at adalah dijahit atau direbus. Penyebutan fi’il madhi di sini karena orang yang dijanjikan dengannya pasti akan terjadi.

“Ke atas mereka akan disiramkan air yang sedang mendidih”: dituangkan ke atas mereka air yang sangat panas yang mendidih dengan api neraka.

“Dengan [air mendidih] itu dihancur luluhkan apa yang ada dalam perut dan kulit mereka”: melelehkan apa yang ada di perut, termasuk usus, isi perut, dan kulit.

Ibnu Abbas berkata: “Jika setetes air itu terjatuh ke atas gunung, niscaya akan melelehkannya.” Dalam sebuah hadits disebutkan: “Sesungguhnya hamim itu akan dituangkan ke atas kepala orang-orang kafir dan menembus tengkorak kepala hingga sampai ke perut, kemudian memotong-motong apa yang ada di dalamnya, lalu menembus hingga ke kedua kaki. Itulah air yang meleleh. Setelah itu mereka dikembalikan seperti semula, begitu seterusnya.” (HR Turmudzi). Dikatakan bahwa hadits ini hasan shahih gharib.

Imam al-Fakhr berkata, “Maksud dari dituangkan hamim di atas kepala mereka adalah pengaruhnya sampai ke dalam, sebagaimana pengaruhnya yang tampak di luar. Oleh karena itu, usus dan isi perut mereka meleleh, sebagaimana kulit mereka juga meleleh.

“Dan [azab] untuk mereka cambuk-cambuk dari besi”: bagi mereka [orang-orang kafir], palu dan cambuk dari besi. Palu dan besi ini dipakai untuk memukul dan menghalau mereka.

Dalam sebuah hadits disebutkan: “Seandainya palu dari neraka itu diletakkan di bumi, niscaya akan terkumpul kepadanya semua isi perut bumi, bahkan sampai yang terkecil sekalipun.” (HR Ahmad)

“Setiap kali mereka hendak keluar darinya [neraka] karena tersiksa, mereka dikembalikan [lagi] ke dalamnya”: setiap kali penghuni neraka itu akan keluar dari neraka karena penderitaan yang mereka rasakan di dalamnya, mereka dikembalikan lagi ke dalam neraka.

Hasan berkata: “Neraka memukul penghuninya dengan lidah apinya sehingga ia sampai ke puncak. Ketika itulah ia dipukul dengan palu besi hingga jatuh lagi ke neraka dan baru akan sampai ke dasarnya setelah tujuh puluh tahun.”

“Rasakanlah azab yang membakar ini”: ungkapan ini ditujukan untuk penghuni neraka yang terbakar disebabkan apa yang telah mereka dustakan.

Ibnu Katsir menafsirkan surat al-Hajj ayat 19-22 sebagai berikut:

Dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Dzar telah ditetapkan bahwa ayat (“Inilah dua golongan [golongan mukmin dan golongan kafir] yang bertengkar. Mereka bertengkar mengenai Tuhan mereka.”) ini turun berkenaan dengan Hamzah dan dua shahabatnya (Ubaidah dan Ali) serta ‘Utbah dan kedua sahabatnya (Syaibah dan Ali bin ‘Utbah) yang berselisih mengenai Tuhan mereka. peristiwa ini terjadi dalam Perang Badar.

Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Ali bin Abi Thalib bahwa ia berkata, “Akulah orang yang pertama kali berlutut di hadapan Allah untuk berdebat pada hari kiamat.” Kemudian Qais berkata, “Ketika itulah turun ayat: (“Inilah dua golongan [golongan mukmin dan golongan kafir] yang bertengkar. Mereka bertengkar mengenai Tuhan mereka.”).

Maksudnya mereka yang keluar pada perang Badar adalah Ali, Hamzah, Ubaidah, Syaibah bin Rabi’ah, ‘Utbah bin Rabi’ah, dan Al-Walid bin ‘Utbah.”

Menurut Qatadah, yang dimaksud ayat: (“Inilah dua golongan [golongan mukmin dan golongan kafir] yang bertengkar. Mereka bertengkar mengenai Tuhan mereka.”) adalah orang-orang muslim dan ahlil kitab. Ahli kitab berkata, “Nah, kami [diutus] sebelum nabi kalian dan kitab kami [diturunkan] sebelum kitab kalian. Jadi kami lebih utama daripada kalian.”

Orang-orang muslim pun berkata, “Kitab kami sebagai pelengkap dari seluruh kitab sebelumnya dan nabi kami merupakan penutup para nabi. Jadi kami lebih utama daripada kalian. Oleh karena itu Allah swt memenangkan Islam atas siapa saja yang memusuhinya.” Kemudian turunlah ayat tersebut.

Mujahid berpendapat bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah orang kafir dan mukmin yang berselisih mengenai hari kebangkitan.

Lain halnya menurut Ikrimah, yang dimaksud ayat tersebut adalah surga dan neraka. neraka berkata, “Jadikanlah aku sebagai siksa.” Surga juga berkata, “Jadikanlah aku sebagai rahmat.”

Menurut Mujahid dan ‘Atha’, yang dimaksud ayat tersebut adalah orang-orang kafir dan mukmin, yang meliputi semua ucapannya, sebagaimana yang terjadi di dalam perang Badar. Orang-orang mukmin hendak menolong agama Allah, sedangkan orang-orang kafir hendak memadamkan cahaya iman dan mengalahkan kebenaran serta menyebarkan kebathilan.

Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Oleh karena itu, pada ayat berikutnya dikatakan: (“Maka bagi orang kafir akan dibuatkan pakaian-pakaian dari api [neraka] untuk mereka.”) maknanya mereka dibuatkan pakaian dari bagian api neraka. Sa’id bin Jubair berpendapat bahwa pakaian itu terbuat dari tembaga, yang panasnya melebihi dari yang lain jika meleleh.

“Ke atas kepala mereka akan disiramkan air yang sedang mendidih. Dengan [air mendidih] itu dihancurluluhkan apa yang ada dalam perut dan kulit mereka.”): kepala mereka disiram dengan hamim, yaitu air mendidih yang sangat panas. Sa’id bin Jubair berpendapat, yaitu tembaga yang lebur sehingga melelehkan apa yang ada di perut, baik lemak maupun usus. Begitu juga dengan kulit.

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya hamim itu akan dituangkan ke atas kepala orang-orang kafir dan menembus tengkorak kepala hingga sampai ke perut, kemudian memotong-motong apa yang ada di dalamnya, lalu menembus hingga ke kedua kaki. Itulah air yang meleleh. Setelah itu mereka dikembalikan seperti semula, begitu seterusnya.” (HR Ibnu Jarir, Turmudzi, dan Ibnu Abi Hatim) dikatakan bahwa hadits ini hasan shahih.

Dalam rirwayat lain disebutkan, “Dan didatangi oleh malaikat Malik yang membawa bejana dengan dua pengapit besi [biasa digunakan untuk tukang pandai besi] karena panasnya. Jika didekatkan ke wajahnya [orang kafir], ia tidak menyukainya.” Kemudian ditambahkan, “Maka diangkatlah palu besi bersamanya [orang kafir], lalu dipukulkan ke kepalanya sehingga kosonglah otak dan tengkorak kepalanya, lalu sampai ke dalam perutnya.” Oleh karena itu dalam ayat berikutnya disebutkan:

(“Ke atas kepala mereka akan disiramkan air yang sedang mendidih. Dengan [air mendidih] itu dihancurluluhkan apa yang ada dalam perut dan kulit mereka.”)

(“Dan [azab] untuk mereka cambuk-cambuk dari besi”) Rasulullah saw. bersabda, “Seandainya palu dari besi itu diletakkan di bumi, niscaya akan berkumpul kepadanya isi perut bumi, bahkan yang terkecil sekalipun.” (HR Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudri)

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seandainya gunung dipukul dengan palu besi itu, pasti akan hancur luluh, kemudian dikembalikan seperti semula. Dan seandainya satu ember dari ghassaq ditumpahkan ke dunia, niscaya penduduk dunia akan busuk.” (HR Ahmad dalam Musnad)

Menurut Ibnu Abbas, orang-orang kafir tersebut dipukul dengan palu besi sehingga setiap anggota tubuhnya jatuh ke lembah. Oleh karena itu mereka meminta untuk dibinasakan.

(“Setiap kali mereka hendak keluar darinya [neraka] karena tersiksa, mereka dikembalikan [lagi] ke dalamnya.”) Sulaiman berpendapat bahwa neraka sangat gelap. Api dan baranya tidak bersinar menerangi. Sedangkan menurut Zaid bin Aslam, para penghuni neraka itu tidak bernafas. Fudhail bin Iyyad berkata, “Demi Allah, mereka tidak akan bisa keluar karena tangan dan kaki mereka terikat kuat. Mereka juga dilemparkan ke atas oleh apinya, lalu dikembalikan lagi dengan palu besinya.”

(“Rasakanlah azab yang membakar ini”) semakna dengan ayat (“Kepada mereka dikatakan: ‘Rasakanlah azab yang membakar ini.’”) maksudnya mereka dihinakan, baik secara perbuatan maupun perkataan.

Wa taral mujrimiina yauma-idzim muqarraniina fil ashfaad. saraabiiluHum min qathiraaniw wa taghsya wujuuHaHumun naar (“Dan pada hari itu engkau akan melihat orang yang berdosa bersama-sama diikat dengan belenggu. Pakaian mereka dari cairan aspal dan wajah mereka ditutup oleh api neraka.”)(QS. Ibrahim: 49-50)

Makna al-asfaad: tali besi [borgol] yang diletakkan di tangan.
saraabiiluHum: baju mereka atau pakaian mereka.
qathiraan: materi yang menyala-nyala atau ter yang meleleh.

Makna dua ayat di atas bahwa pada hari yang mengerikan itu orang-orang yang berdosa dan setan-setan mereka diikat dengan kuat dan dirantai. Menurut al-Qurthubi, tangan dan kaki mereka diikat ke lutut mereka dengan tali dari besi, yaitu belenggu dan rantai.

(“Pakaian mereka dari cairan aspal”): pakaian yang mereka kenakan terbuat dari ter yang meleleh, yaitu materi yang mudah terbakar. Ter biasa dioleskan pada unta yang berkudis agar kudisnya hilang karena panas dan kerasnya. Warna ter adalah hitam dan berbau tidak sedap.

(“Dan wajah mereka ditutup oleh api neraka”): wajah mereka terlingkup api. Inilah balasan atas tipu muslihat dan kesombongan mereka.

Dalam ensiklopedi al-Qur’an disebutkan bahwa pada hari kiamat, orang-orang kafir diikat dengan borgol, yaitu tali besi yang diikatkan di tangan dan kaki, sedangkan pakaian mereka terbuat dari ter [yang hitam dan berbau busuk]. Ter ini dioleskan pada wajah mereka sehingga tubuh mereka terbakar.

Hushain menukil pendapat Ikrimah tentang ayat: (“Pakaian mereka dari cairan aspal”), “Yaitu dari kuningan atau tembaga yang dituangkan dari atasnya. Sedangkan menurut Ma’mar dari Qatadah, pakaian itu terbuat dari tembaga. Dan menurut Ali bin Thalhah, menukil pendapat dari Ibnu Abbas, qathran adalah tembaga yang meleleh.

Dari Abu Malik al-Asy’ari ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ada empat perkara yang tidak akan ditinggalkan oleh umatku, yaitu berbangga-bangga dengan leluhur, mencela dalam nasab [keturunan], meminta hujan dengan ramalan, dan meratapi mayat. Jika orang yang meratapi mayat tidak sempat bertobat sebelum ia meninggal, pada hari kiamat akan dibangkitkan dengan pakaian yang terbuat dari ter dan baju besi dari karat.” (HR Muslim dalam kitab Shahih dan Ahmad dalam Musnad)

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang meratapi mayat dan jika tidak sempat bertobat sebelum ia meninggal, pada hari kiamat akan dibangkitkan dengan pakaian yang terbuat dari ter yang dipanaskan dan berpakaian dari nyala api neraka.” (HR Ibnu Majah)

&

MANUSIA TERAKHIR YANG KELUAR DARI NERAKA

23 Jan

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Dalam shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh aku mengetahui orang yang terakhir keluar dari neraka; seseorang yang keluar darinya dengan merangkak, lalu dikatakan kepadanya, ‘Berjalanlah dan masuklah ke surga.’”
Beliau bersabda, “Lalu ia pergi memasuki surga, dan menemukan manusia telah mengambil tempatnya masing-masing. Dikatakan kepadanya, ‘Apakah kamu ingat masa ketika kamu berada di dalamnya?’ Dia menjawab, ‘Ya,’ Dikatakan kepadanya, ‘Berangan-anganlah.’ Dia pun berangan-angan. Dikatakan kepadanya, ‘Kamu berhak atas apa yang kamu angankan dan sepuluh kali lipatnya.’ Lalu dia berkata, ‘Apakah Engkau menghina aku? Sedangkan Engkau adalah Raja?’
Perawi berkata, “Sungguh aku melihat Rasulullah saw. tertawa hingga gigi-gigi gerahamnya terlihat.” (HR Bukhari, Muslim, dan Turmudzi)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui akhir penghuni neraka keluar darinya dan akhir penghuni surga masuk ke dalamnya; seseorang yang keluar dari neraka dengan merangkak, lalu berkata, ‘Wahai Tuhanku, aku menemukannya penuh.’ Allah swt berfirman, ‘Pergilah dan masuklah surga karena sesungguhnya bagimu seperti dunia dan sepuluh kali lipatnya, atau bagimu seperti sepuluh kali lipat dunia.’ Dia berkata, ‘Apakah Engkau menghinaku? –atau mentertawakanku- sedangkan Engkau adalah Sang Raja?’
Perawi berkata, “Sungguh aku melihat Rasulullah saw. tertawa hingga gigi-gigi gerahamnya tampak. Beliau bersabda, ‘Itu adalah tempat penghuni surga yang paling rendah.’” (HR Bukhari dan Muslim)

&

SIKSAAN BAGI PARA PELAKU MAKSIAT DAN DOSA BESAR DARI AHLI TAUHID

23 Jan

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Para penghuni neraka berbeda-beda dalam siksaan dan tempat, sesuai dengan dosa-dosa yang telah mereka lakukan, tindakan mereka dalam meninggalkan shalat, puasa, zakat dan haji, serta perbuatan dhalim terhadap para hamba dan memakan hak-hak mereka.

Mereka itu akan disiksa di dalam neraka berdasarkan apa yang telah mereka lakukan. Allah swt. dan Rasulullah saw. tidak menyebutkan masa menetap di neraka bagi mereka. sebagian lama waktunya dan sebagian lagi pendek waktunya. Dan di antara keduanya terdapat banyak keadaan. Akan tetapi pada akhirnya mereka mendapat syafaat dalam perbedaan-perbedaan tersebut.

Dengan rahmat-Nya, Allah menghendaki ahli tauhid yang durhaka bisa keluar dari neraka. akan tetapi yang perlu kita ketahui adalah mereka disiksa di neraka, bahkan terkadang dengan siksaan yang keras. Sebagian mereka mendekam di dalamnya dalam waktu yang lama yang tidak diketahuinya kecuali Allah swt.

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Penghuni neraka adalah penghuni yang ada di dalamnya, mereka tidak mati dan tidak hidup. Tetapi sebagian manusia ditimpa siksa karena dosa-dosa mereka [atau beliau berkata: “kesalahan-kesalahan mereka.”], lalu mereka dimatikan oleh kematian sehingga jika mereka telah menjadi arang maka syafaat diizinkan. Mereka didatangkan dalam kelompok-kelompok, dan disebarkan di atas sungai-sungai surga, kemudian dikatakan, “Wahai ahli surga, curahkanlah kepada mereka.” kemudian mereka tumbuh seperti biji-bijian padang pasir yang terbawa oleh banjir.” (HR Muslim)

Dari Jabir bin Abdillah ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya [suatu] kaum keluar dari neraka, mereka terbakar di dalamnya, kecuali wajah-wajahnya berputar hingga masuk surga.” (HR Muslim)

Dari Imran bin Hushain ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Suatu kaum keluar dari neraka dengan syafaat Muhammad, lalu memasuki surga, mereka dijuluki al-Jahanamiyyin.” (HR Bukhari)

Dari Anas bin Malik ra. dari Nabi saw. beliau bersabda, “Suatu kaum keluar dari neraka setelah dihanguskan olehnya, lalu memasuki surga dan ahli surga menjuluki mereka dengan jahannamiyyin.” (HR Bukhari)

Ahli surga menjuluki demikian, hal ini dikarenakan mereka barangkali keluar setelah lama di dalam neraka sehingga bekas atau tanda masih tampak pada mereka. Ahli surga menjuluki mereka demikian karena merekalah yang menyiramkan air surga kepada para bekas penghuni neraka setelah mereka keluar dari neraka.

Dari Jabir bin Abdillah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda, “Kemudian datanglah syafaat, mereka disyafaati sehingga keluar dari neraka orang yang mengucapkan ‘Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah,’ dan di dalam hatinya terdapat seberat gandum kebaikan, lalu mereka ditempatkan di halaman surga dan ahli surga mencurahkan air kepada mereka hingga mereka tumbuh, seperti tumbuhnya sesuatu yang dibawa banjir dan hilanglah bekas-bekas api yang membakar, kemudian ia meminta hingga dijadikan baginya duniadan sepuluh kali lipat sepertinya.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hingga apabila Allah telah selesai memberikan keputusan di antara manusia dan berkeinginan dengan rahmat-Nya mengeluarkan orang yang Dia inginkan dari ahli neraka. Dia memerintahkan kepada para malaikat untuk mengeluarkan mereka dari neraka, yaitu orang yang tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan Allah dan atas rahmat-Nya dari orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah.’ Para malaikat mengenal mereka di neraka dengan bekas sujud. Api neraka memakan tubuh anak Adam kecuali bekas sujud. Allah mengharamkan atas neraka untuk memakan bekas sujud. Mereka keluar dari neraka setelah terbakar, lalu air kehidupan dicurahkan kepada mereka dan tumbuhlah mereka, sebagaimana biji-bijian tumbuh di sepanjang aliran sungai.” (HR Muslim)

Lebih dari satu hadits menyebutkan bahwa Allah swt mengeluarkan dari neraka, orang yang dalam hatinya terdapat satu dinar atau setengah dinar iman, bahkan mengeluarkan kaum yang tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali.

Dalam hadits Abu Said al-Khudri ra. disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah memasukkan ahli surga ke surga, memasukkan orang yang Dia kehendaki dengan rahmat-Nya, memasukkan ahli neraka ke neraka, kemudian berfirman, ‘Lihatlah orang yang kalian temukan di dalam hatinya seberat biji sawi iman, keluarkanlah.’” (HR Muslim)

Dari Anas bin Malik ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah,’ dan di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum, kemudian keluar dari neraka orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah,’ dan dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum, kemudian keluar dari neraka orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah,’ dan dalam hatinya terdapat kebaikan seberat dzarrah.” (HR Muslim)

Macam-Macam Siksa Neraka Berdarakan Perbuatan yang Dilakukan

23 Jan

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Neraka ada beberapa macam –seperti yang telah dijelaskan di awal pembahasan- sebagiannya di bawah sebagian yang lain. Allah swt tidak mendhalimin seorang pun. Masing-masing penghuninya berada dalam tingkatan dan tempatnya berdasarkan kekafiran dan kesyirikannya, serta berdasarkan apa yang telah dilakukan kedua tangannya, baik berupa mendhalimi, menyakiti, merampas hak orang lain, maupun berdasarkan dosa, perbuatan keji dan mengikuti syahwat.

Penghuni neraka yang paling ringan siksaannya adalah pelaku maksiat dan dosa besar dari ahli tauhid, sedangkan yang paling besar siksaannya adalah orang-orang munafik karena mereka berada dalam tingkat yang paling bawah di neraka. di antara keduanya terdapat tingkatan-tingkatan yang akan dijelaskan di bagian lain.

PARA PELAKU MAKSIAT DAN DOSA BESAR DARI AHLI TAUHID

Para penghuni neraka berbeda-beda dalam siksaan dan tempat, sesuai dengan dosa-dosa yang telah mereka lakukan, tindakan mereka dalam meninggalkan shalat, puasa, zakat dan haji, serta perbuatan dhalim terhadap para hamba dan memakan hak-hak mereka.

Mereka itu akan disiksa di dalam neraka berdasarkan apa yang telah mereka lakukan. Allah swt. dan Rasulullah saw. tidak menyebutkan masa menetap di neraka bagi mereka. sebagian lama waktunya dan sebagian lagi pendek waktunya. Dan di antara keduanya terdapat banyak keadaan. Akan tetapi pada akhirnya mereka mendapat syafaat dalam perbedaan-perbedaan tersebut.

Dengan rahmat-Nya, Allah menghendaki ahli tauhid yang durhaka bisa keluar dari neraka. akan tetapi yang perlu kita ketahui adalah mereka disiksa di neraka, bahkan terkadang dengan siksaan yang keras. Sebagian mereka mendekam di dalamnya dalam waktu yang lama yang tidak diketahuinya kecuali Allah swt.

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Penghuni neraka adalah penghuni yang ada di dalamnya, mereka tidak mati dan tidak hidup. Tetapi sebagian manusia ditimpa siksa karena dosa-dosa mereka [atau beliau berkata: “kesalahan-kesalahan mereka.”], lalu mereka dimatikan oleh kematian sehingga jika mereka telah menjadi arang maka syafaat diizinkan. Mereka didatangkan dalam kelompok-kelompok, dan disebarkan di atas sungai-sungai surga, kemudian dikatakan, “Wahai ahli surga, curahkanlah kepada mereka.” kemudian mereka tumbuh seperti biji-bijian padang pasir yang terbawa oleh banjir.” (HR Muslim)

Dari Jabir bin Abdillah ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya [suatu] kaum keluar dari neraka, mereka terbakar di dalamnya, kecuali wajah-wajahnya berputar hingga masuk surga.” (HR Muslim)

Dari Imran bin Hushain ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Suatu kaum keluar dari neraka dengan syafaat Muhammad, lalu memasuki surga, mereka dijuluki al-Jahanamiyyin.” (HR Bukhari)

Dari Anas bin Malik ra. dari Nabi saw. beliau bersabda, “Suatu kaum keluar dari neraka setelah dihanguskan olehnya, lalu memasuki surga dan ahli surga menjuluki mereka dengan jahannamiyyin.” (HR Bukhari)

Ahli surga menjuluki demikian, hal ini dikarenakan mereka barangkali keluar setelah lama di dalam neraka sehingga bekas atau tanda masih tampak pada mereka. Ahli surga menjuluki mereka demikian karena merekalah yang menyiramkan air surga kepada para bekas penghuni neraka setelah mereka keluar dari neraka.

Dari Jabir bin Abdillah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda, “Kemudian datanglah syafaat, mereka disyafaati sehingga keluar dari neraka orang yang mengucapkan ‘Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah,’ dan di dalam hatinya terdapat seberat gandum kebaikan, lalu mereka ditempatkan di halaman surga dan ahli surga mencurahkan air kepada mereka hingga mereka tumbuh, seperti tumbuhnya sesuatu yang dibawa banjir dan hilanglah bekas-bekas api yang membakar, kemudian ia meminta hingga dijadikan baginya duniadan sepuluh kali lipat sepertinya.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hingga apabila Allah telah selesai memberikan keputusan di antara manusia dan berkeinginan dengan rahmat-Nya mengeluarkan orang yang Dia inginkan dari ahli neraka. Dia memerintahkan kepada para malaikat untuk mengeluarkan mereka dari neraka, yaitu orang yang tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan Allah dan atas rahmat-Nya dari orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah.’ Para malaikat mengenal mereka di neraka dengan bekas sujud. Api neraka memakan tubuh anak Adam kecuali bekas sujud. Allah mengharamkan atas neraka untuk memakan bekas sujud. Mereka keluar dari neraka setelah terbakar, lalu air kehidupan dicurahkan kepada mereka dan tumbuhlah mereka, sebagaimana biji-bijian tumbuh di sepanjang aliran sungai.” (HR Muslim)

Lebih dari satu hadits menyebutkan bahwa Allah swt mengeluarkan dari neraka, orang yang dalam hatinya terdapat satu dinar atau setengah dinar iman, bahkan mengeluarkan kaum yang tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali.

Dalam hadits Abu Said al-Khudri ra. disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah memasukkan ahli surga ke surga, memasukkan orang yang Dia kehendaki dengan rahmat-Nya, memasukkan ahli neraka ke neraka, kemudian berfirman, ‘Lihatlah orang yang kalian temukan di dalam hatinya seberat biji sawi iman, keluarkanlah.’” (HR Muslim)

Dari Anas bin Malik ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah,’ dan di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum, kemudian keluar dari neraka orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah,’ dan dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum, kemudian keluar dari neraka orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah,’ dan dalam hatinya terdapat kebaikan seberat dzarrah.” (HR Muslim)

MANUSIA TERAKHIR YANG KELUAR DARI NERAKA

Dalam shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh aku mengetahui orang yang terakhir keluar dari neraka; seseorang yang keluar darinya dengan merangkak, lalu dikatakan kepadanya, ‘Berjalanlah dan masuklah ke surga.’”
Beliau bersabda, “Lalu ia pergi memasuki surga, dan menemukan manusia telah mengambil tempatnya masing-masing. Dikatakan kepadanya, ‘Apakah kamu ingat masa ketika kamu berada di dalamnya?’ Dia menjawab, ‘Ya,’ Dikatakan kepadanya, ‘Berangan-anganlah.’ Dia pun berangan-angan. Dikatakan kepadanya, ‘Kamu berhak atas apa yang kamu angankan dan sepuluh kali lipatnya.’ Lalu dia berkata, ‘Apakah Engkau menghina aku? Sedangkan Engkau adalah Raja?’
Perawi berkata, “Sungguh aku melihat Rasulullah saw. tertawa hingga gigi-gigi gerahamnya terlihat.” (HR Bukhari, Muslim, dan Turmudzi)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui akhir penghuni neraka keluar darinya dan akhir penghuni surga masuk ke dalamnya; seseorang yang keluar dari neraka dengan merangkak, lalu berkata, ‘Wahai Tuhanku, aku menemukannya penuh.’ Allah swt berfirman, ‘Pergilah dan masuklah surga karena sesungguhnya bagimu seperti dunia dan sepuluh kali lipatnya, atau bagimu seperti sepuluh kali lipat dunia.’ Dia berkata, ‘Apakah Engkau menghinaku? –atau mentertawakanku- sedangkan Engkau adalah Sang Raja?’
Perawi berkata, “Sungguh aku melihat Rasulullah saw. tertawa hingga gigi-gigi gerahamnya tampak. Beliau bersabda, ‘Itu adalah tempat penghuni surga yang paling rendah.’” (HR Bukhari dan Muslim)

&

Ranjang Neraka, Tempat Tidur dan Naungannya

23 Jan

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Allah swt. menjadikan ranjang dari api bagi penghuni neraka yang terdiri dari orang-orang kafir, musyrik, dan munafik. Selain itu, Allah swt menjadikan naungan dari api di atas mereka yang asapnya sebagai penutup dan selimut. Dipan dan kelambu mereka juga terbuat dari api.

Tentang ahli surga, Allah berfirman:

“Mereka bersandar di atas permadani yang bagian dalamnya dari sutra tebal. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat [dipetik] dari dekat.” (ar-Rahmaan: 54)

“Mereka bersandar pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.” (Ar-Rahmaan: 76)

“Di sana ada dipan-dipan yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang tersedia [di dekatnya], dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar.” (al-Ghasyiyah: 13-16)

Adapun tentang naungan penghuni surga, Allah juga berfirman:

“… di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.” (an-Nisaa’: 57)

“Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan.” (Yaasiin: 56)

“Dan naungan [pepohonan]nya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah-mudahnya untuk memetik [buah]nya.” (al-Insaan: 14)

Lalu Allah berfirman tentang dipan penghuni neraka, sprei dan naungannya:

“… maka pantaslah baginya neraka jahanam. Dan sungguh [jahanam itu] tempat tinggal terburuk.” (al-Baqarah: 206)

“Katakanlah [wahai Muhammad] kepada orang-orang kafir: ‘Kamu [pasti] akan dikalahkan dan digiring ke dalam neraka jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.’” (Ali Imraan: 12)

“Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka adalah jahanam. [Jahanam] itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Ali Imraan: 197)

“…. orang-orang itu mendapat hisab [perhitungan] yang buruk dan tempat kediaman mereka jahanam, dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (ar-Ra’d: 18)

“Beginilah [keadaan mereka]. Dan, sungguh, bagi orang-orang yang durhaka pasti [disediakan] tempat kembali yang buruk. [Yaitu] neraka jahanam yang mereka masuki maka itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Shaad: 55-56)

Adapun tentang selimut dan naungan penghuni neraka, Allah swt juga berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang zalim,” (al-A’raaf: 40-41)

“Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia. Katakanlah: ‘Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat.’ ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku Hai hamba-hamba-Ku.” (az-Zumar: 15-16)

Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat tersebut bahwa tempat tidur dari api itu adalah tempat tidurnya orang-orang kafir di dalam neraka. oleh karena itu Allah menyebutkan (“Dan sungguh [jahanam itu] tempat tinggal terburuk.”) hal ini disebutkan karena Allah swt Mahatahu bahwa dipan itu merupakan seburuk-buruk tempat bagi penghuni neraka.

Adapun ayat: (“Bagi mereka tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut [api neraka]”) merupakan ungkapan ketika mereka dikepung oleh api dari segala penjuru.

(“Di atas mereka ada lapisan-lapisan dari api dan di bawahnya juga ada lapisan-lapisan yang disediakan bagi mereka.”): mereka tidak dapat keluar dan istirahat serta lari ke sisi manapun karena di atas, bawah, kanan, dan kiri mereka terdapat api. Oleh karena itu kemanapun mereka bergerak api selalu mengepungnya. Sungguh neraka adalah perkara yang sangat besar, menakutkan, keras, dan tidak masuk akal kita [di dunia].

Bayangkan, kehidupan yang kekal dan api neraka yang mengepung orang-orang kafir dari segala sisi. Tidak ada rahmat dan tempat keluar, sedangkan azab mereka tidak mereda. Begitu pula dengan kehinaan, pukulan, rasa lapar dan dahaga, kerugian, penyesalan, tangis, air mata, dan teriakan mereka.

Oleh karena itu perhatikanlah ayat: (“Di atas mereka ada lapisan-lapisan dari api dan di bawahnya juga ada lapisan-lapisan yang disediakan bagi mereka. demikianlah Allah mengancam hamba-hamba-Nya [dengan azab itu]. ‘Wahai hamba-hamba-Ku maka bertakwalah kepada-Ku.’”)

Allah menyebutkan api, azabnya, dipannya, selimutnya, dan naungannya hanyalah untuk menakut-nakuti para hamba-Nya, termasuk siksaan dan penderitaan yang ada di dalamnya. Dalam ayat di atas disebutkan dengan jelas [mengancam], maksudnya peringatan itu harus diberikan agar manusia berhati-hati dan berfikir serta kembali ke jalan yang lurus.

Jika setelah ada peringatan itu manusia tidak kembali ke jalan-Nya, mereka itulah orang-orang yang telah hilang pendengaran dan akal fikiran mereka, sebagaimana yang difirmankan Allah tentang para penghuni neraka pada hari kiamat, yaitu ketika mereka ditanya oleh para penjaga neraka, “Apakah belum datang kepada kalian kitab dan peringatan dari Allah?”

“Dan mereka berkata, ‘Sekiranya [dahulu] kami mendengarkan atau memikirkan [peringatan itu] tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.’” (al-Mulk: 10)

Mereka telah menafikan [meniadakan] pendengaran dan akal fikiran mereka sendiri karena orang yang berakal dan berfikir, pasti akan bergetar dari kekafiran dan kemaksiatan mereka sehingga kembali ke jalan Allah swt. agar memperoleh keridlaan-Nya dan surga-Nya yang kekal.

Mahabenar Allah yang telah berfirman yang artinya:

“Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang*, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun.” (az-Zumar: 23)

*Maksud berulang-ulang di sini ialah hukum-hukum, pelajaran dan kisah-kisah itu diulang-ulang menyebutnya dalam Al Quran supaya lebih kuat pengaruhnya dan lebih meresap. sebahagian ahli tafsir mengatakan bahwa Maksudnya itu ialah bahwa ayat-ayat Al Quran itu diulang-ulang membacanya seperti tersebut dalam mukaddimah surat Al Faatihah.

&

Minuman Penghuni Neraka

22 Jan

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Sesungguhnya diantara azab yang paling besar bagi para penghuni neraka adala rasa dahaga yang sangat dan kebutuhan mereka akan air. Hal ini untuk meredakan panas di dalam perut mereka setelah memakan buah zaqqum dan dlarii’.

Betapa besar kebutuhan manusia [di dunia ini] terhadap air. Manusia dapat lebih tahan dan lebih sabar terhadap makanan daripada kebutuhannya terhadap air. Bisa jadi manusia dapat hidup lebih dari satu bulan tanpa makanan, tetapi ketika tidak mendapatkan air, bisa jadi manusia hanya bisa bertahan dalam lima atau tujuh hari. Kita semua telah mencoba menahan rasa dahaga, khususnya pada bulan Ramadlan yang tiba pada musim panas. Bahkan ada juga seorang dari kita yang memakan makanan berat dan berlemak, tetapi masih saja membutuhkan air.

Lalu bagaimana dengan orang yang memakan buah zaqqum dan dlarii’ yang mendidih dalam perut pada hari kiamat di dalam neraka? berapa banyak air yang dibutuhkannya? Oleh karena itu Allah menerangkan kepada kita bagaimana para penghuni neraka meminta pertolongan kepada para penghuni surga untuk memberikan air yang oleh Allah berikan kepada ahli surga.

“Dan penghuni neraka menyeru penghuni syurga: ‘Limpahkanlah kepada Kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.’ mereka (penghuni surga) menjawab: ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir,’” (al-A’raaf: 50)

Maksud ayat di atas adalah Allah mengharamkan air dan makanan itu [yang telah diberikan kepada penduduk surga] atas orang-orang yang kafir. Padahal keadaan orang-orang yang beriman sangat bertolak belakang dengan penghuni neraka, sebagaimana firman Allah tentang penghuni surga.

“Dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian, mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir,” (al-Waaqi’ah: 14-18)

“Dan Diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam syurga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe.” (al-Insaan: 15-17)

Dari perbedaan yang sangat jauh ini [atau katakanlah tidak dapat dibandingkan antara tempat penghuni surga dan penghuni neraka]. Allah berfirman dalam ayat lain yang menerangkan perbedaan antara siapa yang dilemparkan ke neraka, makanannya [zaqqum], dan minumannya [hamim]. Begitu juga bagi orang yang datang dengan keimanan dan akan menjadi penghuni surga dan kekal di dalamnya, makanan yang lezat berasal dari daging burung dan minumannya dengan gelas bening, seperti kaca yang terbuat dari campuran jahe dan kafur.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari kami. Maka Apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik, ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat? perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (Fushshilat: 40)

Lalu bagaimana dengan minuman penghuni neraka ? apakah mereka ditolong jika meminta pertolongan? Bagaimana pula mereka memadamkan panasnya api yang mendidih dalam perut mereka, setelah memakan zaqqum dan dlarii’? Allah swt juga berfirman untuk membandingkan perbedaan antara minumman penghuni surga dan neraka:

“(apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?” (Muhammad: 15)

Orang-orang beriman meminum dari sungai-sungai yang menyegarkan bagi peminumnya, bahkan mendapatkan ampunan dan keridlaan dari Tuhan mereka. sedangkan orang-orang kafir kekal di dalam neraka. jika mereka meminum air, diberikanlah kepada mereka air yang mendidih yang dapat memutuskan usus karena sangat panasnya. Air itu masuk dari mulut mereka untuk memadamkan atau meredakan gejolak zaqqum dan dlarii’. Namun air itu tidak dapat meredakannya, bahkan memutus usus mereka dan merobek-robeknya.

Dalam Hasyiyah ash-Shawiy dan Tafsir al-Qurthubi disebutkan tentang penafsiran ayat di atas.

“Samakah mereka dengan orang yang kekal dalam neraka” maknanya apakah sama dengan orang yang kekal dalam neraka jahim? Kalimat tanya disini sebagai pengingkaran. Maknanya, perbedaan antara orang yang berada dalam kenikmata [surga] dan orang yang kekal dalam neraka jahim.

“Dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga ususnya terpotong-potong” maknanya gelas [tempat minum] yang indah milik penghuni surga dituangi air yang segar, sedangkan yang berada dalam neraka diberi minum yang sangat panas sehingga dapat memotong usus. Menurut para mufasir, air itu mencapai derajat didih yang sangat tinggi. Jika didekatkan kepada mereka, wajah dan bagian kepala mereka dapat terbakar. Jika diminum, air itu dapat memutus usus sehingga keluar dari dubur mereka.

Dalam ensiklopedi al-Qur’an, para mufasir menafsirkan ayat “Samakah mereka dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberikan minuman dengan air yang mendidih sehingga ususnya terpotong-potong?” bahwa penghuni surga itu tidaklah sama dengan kelompok yang kekal dalam neraka, yang diberi minum dengan minuman yang sangat panas dan dapat memotong usus mereka. maksudnya, apakah sama antara penghuni surga [yang mempunyai banyak kenikmatan] dan penghuni neraka yang kekal di dalamnya? Jawabannya sangat jelas. Tidak sama antara keduanya.

“Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai [bagi penjaga yang mengawasi isi neraka] lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pambalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan Sesungguh- sungguhnya. Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. karena itu rasakanlah. dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.” (an-Naba’: 21-30)

Ayat di atas merupakan ayat yang menerangkan keadaan penghuni neraka di dalam neraka. betapa mengerikan apa yang akan mereka dapatkan dalam neraka itu. Kalimat di dalam ayat tersebut merupakan peringatan keras bagi orang-orang kafir, musyrik, munafik dan yang melampaui batas. Neraka jahanam adalah tempat mereka kembali. mereka kekal di dalamnya. Mereka tidak mendapatkan minuman yang menyegarkan, tidak merasakan selain api neraka, dan tidak minum kecuali hamim dan ghassaq. Itulah balasan yang adil bagi mereka karena mereka tidak meyakini akan kembali kepada Rabb mereka, kemudian dihisab atas perbuatan dan kekafiran mereka. bahkan mereka mendustakan ayat-ayat Allah swt, padahal segala yang mereka perbuat di dunia tidak lepas dari catatan yang ada dalam kitab. Oleh karena itu, mereka dibiarkan merasakan adzab [neraka] dan setiap kali mereka merasakannya, Allah justru akan menambahkan adzab-Nya.

“Maka karena itu rasakanlah! Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain adzab” ayat ini ditujukan kepada penghuni neraka dan tidak akan ditemui oleh penghuni surga. Sebagai perbandingan, Allah swt juga menyebutkan kenikmatan yang diperoleh penghuni surga dalam surah Qaaf: 35 yang artinya: “Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada Kami ada tambahannya.” Maksudnya, para penghuni surga itu akan memperoleh apa yang mereka kehendaki atau apa yang mereka minta dari berbagai kenikmatan, termasuk berbagai minuman atau selain yang mereka harapkan. Di sisi Allah swt, mereka justru akan diberi tambahan kenikmatan. Lain halnya dengan penghuni neraka, Allah justru akan menambahkan adzab neraka, hamim, ghassaq dan kehinaan.

Penafsiran ayat di atas dalam Shafwah at-Tafasir, menurut ash-Shabuni.

Makna kalimat “Sungguh, [neraka] jahanam itu [sebagai] tempat pengintai [bagi penjaga yang mengawasi isi neraka” dengan neraka itu menunggu para penghuninya, yaitu orang-orang kafir. Penantian neraka itu diibaratkan dengan pengintaian seseorang terhadap musuhnya agar sewaktu-waktu dapat mengetahuinya.

Para mufasir berpendapat, makna “mirshaad” adalah tempat pengintaian musuh. Jadi neraka jahanam itu mengintai musuh-musuh Allah untuk diadzab dengan api-Nya. oleh karena itu, ia menunggu dan melongok untuk melihat orang-orang kafir yang lewat, yang akan disambar dan dimasukkan ke dalamnya.

“Menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas” tempat kembali atau rumah bagi orang-orang yang melampaui batas dan berbuat dosa.

“Mereka tinggal di sana dalam masa yang lama”: orang-orang kafir itu akan menempati dan tetap di dalam neraka berabad-abad lamanya dan tidak berakhir. Kata “ahqaabaa” maksudnya ungkapan masa yang tidak pernah habis. Sedangkan menurut al-Qurthubi, mereka akan tetap berada dalam neraka selama masih ada masa. Padahal masa di akhirat itu tidak pernah habis. Adapun menurut ar-Rabi’ dan Qatadah, masa ini tidak akan pernah berhenti atau terputus.

“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak [pula mendapat] menuman”: para penghuni neraka itu tidak pernah merasakan dingin atau surutnya panas api neraka serta tidak mendapatkan minuman yang dapat menghilangkan dahaga mereka.

“Selain air yang mendidih dan nanah”: selain air yang sangat panas, yang derajatnya melampaui derajat didih dan nanah bercampur darah yang mengalir dari kulit penghuni neraka.

“Sebagai balasan yang setimpal”: Allah swt mengadzab mereka sebagai balasan yang setimpat dengan perbuatan jahat mereka.

“Sesungguhnya dahulu mereka tidak pernah mengharapkan perhitungan”: mereka tidak yakin dengan adanya hisab, balasan, dan pertemuan dengan Allah. Oleh karena itu, Allah swt memberikan balasan yang setimpal atau adil tersebut.

“Dan mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami” mereka mendustakan ayat-ayat Allah swt yang menunjukkan adanya hari kebangkitan dan ayat-ayat Al-Qur’an secara keseluruhan.

“Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab [buku catatan amal manusia]” segala perbuatan dosa mereka telah dicatat dalam suatu kitab agar Allah swt memberikan balasannya.

“Maka karena itu rasakanlah! Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain adzab”: wahai orang-orang kafir, rasakanlah adzab Allah swt karena Dia tidak akan menambah kepada kalian selain adzab yang pedih. Para mufasir berpendapat bahwa di dalam al-Qur’an tidak ada ayat yang lebih keras daripada ayat itu. Setiap kali mereka meminta pertolongan dari adzab itu, Allah swt justru menambahkannya dengan adzab yang lebih keras.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir juga disebutkan tenang penafsiran ayat tersebut.

Makna kalimat: “Sungguh, [neraka] jahanam itu [sebagai] tempat pengintai [bagi penjaga yang mengawasi isi neraka]”: tempat pengintaian yang disediakan.

“Menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas”: bagi orang-orang yang berbuat maksiat dan menentang para Rasul.

“Tempat kembali”: tempat tinggal orang-orang kafir. Hasan dan Qatadah berpendapat bahwa seseorang tidak akan masuk surga hingga neraka meminta identitas kepadanya. Jika ia memiliki identitas itu, ia selamat. Namun jika ia tidak memilikinya maka ia terpenjara di dalam neraka.

“Mereka tinggal di sana dalam masa yang lama.” : orang-orang kafir itu tinggal di dalam neraka dalam masa yang lama [ahqaba]. Ahqaba adalah bentuk jamak dari huqbin, yang berarti batas masa dari suatu zaman. Para ulama berbeda pendapat tentang batasan masa atau lamanya mereka berada di dalam neraka.

Ibnu Jarir menukil pendapat Ali bin Abi Thalib ra, yang berkata kepada Hilal al-Hijriy, “Apa yang kalian ketahui tentang huqb di dalam firman Allah swt yang diturunkan?” Hilal al-Hijriy menjawab, “Kami mendapatkannya delapan puluh tahun. Satu tahun dua belas bulan, setiap bulan ada tiga puluh hari, sedangkan satu hari sama dengan seribu tahun.”

Adapun menurut Hasan dan as-Sudi, satu huqb sama dengan tujuh puluh tahun. Lain halnya dengan pendapat Abdullah bin Amr. Ia berpendapat bahwa satu huqb itu ada empat puluh tahun. Satu harinya sama dengan seribu tahun dalam hitungan manusia.

Basyir bin Ka’ab juga berpendapat bahwa satu huqb sama dengan tiga ratus enam puluh hari, sedangkan satu harinya sama dengan seribu tahun.
Menurut as-Sudi, orang-orang kafir itu berada di neraka selama 700 huqb. Setiap huqb ada 70 tahun, sedangkan satu tahun ada 360 hari, padahal satu hari sama dengan 1000 tahun dalam hitungan manusia.

Khalid bin Mi’dan berpendapat bahwa makna huqb [masa] di sini sebagaimana maksud ayat “Kecuali Tuhanmu menghendaki” untuk orang-orang yang termasuk ahli tauhid.

Ibnu Jarir berpendapat, yang benar adalah tidak terbatas, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Salim ketika mendengar Hasan ditanya tentang ayat “Mereka tinggal di sana dalam masa yang lama”). Kemudian Hasan menjawab bahwa huqb tidak memiliki batas waktu. Jadi orang-orang kafir itu tetap tinggal kekal di dalam neraka. meskipun demikian para mufasir menyebutkan bahwa satu huqb itu sama dengan 70 tahun, sedangkan satu harinya sama dengan 1000 tahun dalam hitungan manusia.

Menurut Qatadah, batas waktu itu tidak diketahui oleh siapapun selain Allah swt. akan tetapi disebutkan pula bahwa satu huqb itu sama dengan 80 tahun. Satu tahun sama dengan 360 hari, sedangkan satu hari sama dengan 1000 tahun dalam hitungan manusia.

“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak [pula mendapat minuman]” orang-orang kafir tidak mendapatkan kesejukan hati di dalam neraka, tidak pula air yang baik untuk menghilangkan dahaga.

“Selain air yang mendidih dan nanah” menurut Abu al-‘Aliyah, Allah swt mengecualikan hamim dan ghassaq dari sifat dingin. Sedangkan menurut ar-Rabi’ bin Anas, hamim itu sangat panas dan derajat panasnya sudah habis. Adapun ghassaq adalah kumpulan darah, nanah, keringat, air mata, dan bekas luka penghuni neraka. ghassaq ini sangat dingin dan busuk baunya.

“Sebagai balasan yang setimpal” itulah yang menjadi siksa mereka, sesuai dengan amal perbuatan yang telah mereka lakukan di dunia.

“Sungguh dahulu mereka tidak pernah mengharapkan penghitungan” mereka tidak percaya bahwa di kemudian hari akan ada tempat pembalasan dan penghitungan [terhadap amal mereka]

“Dan mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami” mereka mendustakan sebagai argumen, alasan, atau ayat-ayat Allah atas ciptaan-Nya yang diturunkan kepada para Rasul-Nya, bahkan mereka menentangnya.

“Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab [buku catatan amal manusia]” Allah swt mengetahui apa yang dikerjakan oleh manusia. Allah swt mencatat amal perbuatan mereka dalam suatu kitab untuk memberikan balasan kepada manusia. Jika amal itu baik, niscaya akan dibalas dengan kebaikan. Jika amal itu buruk, Allah swt juga akan membalasnya dengan keburukan.

“Maka karena itu, rasakanlah ! maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain adzab.” Dikatakan kepada penghuni neraka, “Rasakanlah oleh kalian apa yang kalian dapatkan di dalamnya. Sesungguhnya Allah swt tidak akan menambah bagi mereka kecuali adzab yang sejenis atau bentuk yang serupa itu.” Menurut Qatadah, tidak ada ayat al-Qur’an yang lebih keras dari ayat ini karena adzab mereka di dalam neraka akan selalu bertambah.

“Dan mereka memohon diberi kemenangan (atas musuh-musuh mereka) dan binasalah semua orang yang Berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala, di hadapannya ada Jahannam dan Dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumnnya air nanah itu dan hampir Dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi Dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat.” (Ibrahim: 15-17)

“Dan mereka memohon diberi kemenangan”: menurut Ibnu Abbas dan Qatadah berarti para Rasul memohon kemenangan dan perlindungan kepada Allah swt atas kaum mereka.

“Dan binasalah semua orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala.” Sewenang-wenang terhadap diri mereka sendiri dan menentang kebenaran, sebagaimana firman Allah swt dalam surah Qaaf: 24-25:
“[Allah berfirman]: ‘Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka jahanam, semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat enggan melakukan kebajikan, melampaui batas dan bersikap ragu-ragu.”

Diriwayatkan bahwa ada hadits yang menyebutkan: “Sesungguhnya pada hari kiamat akan didatangkan neraka. maka setiap makhuk saling memanggil. Kemudian kamu [neraka] mengatakan, ‘Aku diwakilkan bagi segenap orang yang berbuat sewenang-wenang dan menentang [kebenaran].’”

Di hadapan [wara’] berarti depan sebagaimana firman Allah yang artinya: “…. karena di hadapan mereka ada seorang raja yang menumpas setiap perahu.” (al-Kahfi: 79)

Menurut Ibnu Abbas, ayat ini maknanya adalah di belakang orang-orang yang berbuat sewenang-wenang lagi menentang kebenaran itu ada neraka jahanam. Neraka yang mempunyai tempat pengintai itulah tempat tinggal mereka pada hari kiamat kelak. Neraka itu diperlihatkan kepada mereka, setiap pagi dan sore hingga hari yang ditentukan.

“Dan dia akan diberi minuman dengan air nanah; di dalam neraka itu tidak akan mendapatkan minuman, kecuali hamim dan ghassaaq, sebagaimana yang akan diterangkan.

Menurut Mujahid, kata “shadid” pada ayat tersebut adalah nanah yang bercampur darah. Sedangkan menurut Qatadah “shadid” adalah apa yang mengalir dari daging dan kulitnya. Dalam sebuah riwayat dari Qatadah disebutkan juga bahwa “shadid” adalah sesuatu yang keluar dari dalam perut orang kafir yang telah bercampur dengan darah dan nanah. Dalam hadits dari Sahr bin Hausyah dari Asma binti Yazid bin As-Sakan mengatakan bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw., “Apakah itu thinatul khabal ?” Beliau menjawab, “Nanah penghuni neraka.” Dalam riwayat lain juga disebutkan, “Ampas penghuni neraka.”

“Dia akan diberi minuman dengan air nanah”: menyebabkan tercekat di kerongkongan atua meminumnya seteguk demi seteguk. Jika tidak, ia akan dipukul oleh malaikat penjaga neraka dengan palu dari besi, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Hajj ayat 21, “….dan bagi mereka palu dari besi…”

“Dia hampir tidak bisa menelannya”: ia tidak bisa menelan karena jeleknya minuman itu, begitu pula dengan warna, bau, panas atau dinginnya yang sangat.

“Dan datanglah [bahaya] maut kepadanya dari segala penjuru”: seluruh tubuh orang kafir merasa sakit, baik tulang, urat saraf maupun keringat. Ikrimah juga menambahkan hingga ujung rambutnya.

Menurut Ibnu Abbas, jenis azab yang diberikan Allah swt pada hari kiamat di neraka akan mengakibatkan kematian, tetapi penghuni neraka tidak dapat mati karena Allah swt. telah berfirman dalam QS Fathir: 36: “Mereka tidak dibinasakan [sehingga mereka mati] dan tidak [pula] diringankan dari mereka azabnya…”

Makna dari penafsiran Ibnu Abbas tersebut bahwa segala bentuk azab di neraka yang diberikan Allah swt itu telah dikehendaki agar tidak mematikan orang yang diazabnya. Hal ini dimaksudkan agar kekal menerima azab. Oleh karena itu dalam ayat berikutnya disebutkan: “Dan datanglah [bahaya] maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati.”

“Dan di hadapannya [masih ada azab yang berat”: setelah keadaan mereka demikian, akan ada azab lain lagi yang lebih berat, yang menyakitkan urat syaraf. Dan itulah sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam surat ash-Shaffat: 66-68: “

“Maka Sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, Maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah Makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. Kemudian Sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim.”

Ayat ini memberitahukan kepada kita bahwa terkadang penghuni neraka itu memakan buah zaqqum, terkadang minum air yang sangat panas [hamim], dan terkadang pula dikembalikan ke neraka jahim. Begitulah Allah juga berfirman dalam surat ad-Dukhan: 43-46:

“Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang Amat panas.”

“Inilah (azab neraka), Biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam.” (QS Shaad: 57-58)

Masih banyak lagi ayat lain yang menerangkan bermacam-macam azab bagi orang-orang kafir, baik bentuk maupun jenisnya. Tidak dapat menghitungnya kecuali Allah. Dan itulah balasan setimpal bagi mereka. sesungguhnya Allah itu tidak berbuat dhalim kepada hamba-Nya.

Dalam kitab at-Takhwif min an-Naar, karya Rajab al-Hanbali disebutkan tentang perincian jenis minuman penghuni neraka, yang dibagi menjadi empat macam, setelah menyebutkan ayat-ayat yang menerangkan minuman penghuni neraka.

“Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas.” (al-Waaqi’ah: 54)

“dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?” (QS Muhammad: 15)

“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah,” (an-Naba’: 24-25)

“Inilah (azab neraka), Biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. Dan azab yang lain yang serupa itu berbagai macam.” (Shaad: 57-58)

“di hadapannya ada Jahannam dan Dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumnnya air nanah itu dan hampir Dia tidak bisa menelannya …” (QS Ibrahim: 16-17)

“… dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (al-Kahfi: 29)

“diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas.” (al-Ghasyiyah: 5)

2. HAMIM

Abdullah bin Isa al-Kharraz berkata dari Daud dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, “Hamim adalah panas yang membakar.” Sedangkan menurut Hasan dan as-Suddi, adalah panas yang panasnya mencapai panas yang paling puncak. Adapun menurut pendapat Juwaibir dari adh-Dhahhak adalah air yang mendidih, sejak penciptaan langit dan bumi hingga air itu disiramkan kepada orang-orang kafir, yang dituangkan ke atas kepala mereka. dan menurut Ibnu Wahab dari Ibnu Zaid adalah air mata penghuni neraka yang dikumpulkan dalam kolam mereka, lalu disiramkan kepada orang-orang kafir, sebagaimana disebutkan dalam surat ar-Rahman: 44: “Mereka berkeliling di sana dan di antara air yang mendidih.”

Muhammad bin Ka’ab berkata: “hamiiman, berarti air yang yang panas yang ada sekarang.” Pendapat ini ditentang oleh jumhur ulama karena menurut mereka yang dimaksud dengan hamiiman adalah air panas yang panasnya mencapai puncak.

Adapun menurut Syubaib dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan hamiiman adalah air mendidih dan derajat didihnya telah mencapai titik didih yang paling panas.

Sa’id bin Basyir juga berpendapat dari Qatadah bahwa hamiiman adalah air yang masaknya paling matang, sejak penciptaan langit dan bumi, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ghasyiyah: 5, “Diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas.”

Menurut Mujahid adalah air yang panasnya paling puncak, sedangkan meminumnya mengakibatkan kebinasaan.

Hasan berkata: “Jika orang Arab mengatakan sesuatu itu habis panasnya, berarti tidak ada lagi yang lebih panas darinya. Jadi maksud dari hamiiman adalah air yang paling panas, sebagaimana dalam ayat: “Diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas.”
Ia menambahkan bahwa Allah swt. telah menyalakan neraka jahanam sejak diciptakannya, sedangkan panas apinya merupakan panas yang paling puncak dan orang-orang kafir akan didorong ke dalamnya dengan cakar-cakar besi.

2. GHASSAAQ

Menurut Ibnu Abbas, ghassaaq adalah sesutu yang mengalir di antara kulit dan daging orang-orang kafir. Ia menambahkan, ghassaaq juga berarti angin yang sangat dingin, tetapi dapat membakar.

Abdullah bin Amr ra. berkata, “Ghassaaq adalah nanah yang kental. Jika setetes saja dituangkan di barat, tentu penduduk timur akan mencium bau busuknya. Jika dituangkan di timur, pasti penduduk di barat akan mencium bau busuknya.”

Menurut Mujahid, ghassaaq adalah sesutu yang tidak bisa dirasakan karena sifatnya yang sangat dingin. Adapun menurut Athiyah, ghassaaq adalah apa yang tertumpah pada kulit orang-orang kafir atau yang mengalir dari kulit mereka.

Ka’ab berpendapat bahwa ghassaaq adalah sumber air yang mengalir kepadanya setiap sumber air panas yang di dalamnya terdapat ular dan kalajengking. Lalu ia berendam di dalamnya, kemudian diberi sifat kemanusiaan. Kemudian ia menyelah di dalamnya, lalu keluar, sedangkan kulit dan dagingnya telah terlepas dari tulangnya. Dengan demikian, kulit dan dagingnya bergantung pada mata kaki dan tumit, sebagaimana seseorang yang melepas bajunya.

Adapun menurut as-Suddi, ghassaaq adalah yang mengalir dari mata dan air mata orang-orang kafir, yang dituangkan bersama hamiim [air yang sangat panas].

Diraj meriwayatkan dari Abu al-Haitsam dari Abu Sa’ad bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jika satu ember ghassaaq [nanah] ditumpahkan di dunia, niscaya penduduk dunia akan menjadi bangkai [busuk].” (HR Ahmad, Turmudzi, dan Hakim)

Bilal bin Sa’ad berkata: “Jika satu ember ghassaaq diletakkan dibumi, niscaya akan mati siapa saja yang ada di atasnya.” Ia juga menambahkan, “Jika setetes dari ghassaaq itu tumpah di bumi, niscaya akan menjadi bangkai [busuk] siapa saja yang ada di atasnya.” (HR Abu Nu’aim)

Ibnu Abbas dan Mujahid menerangkan bahwa yang dimaksud ghassaaq dalam riwayat Bilal tersebut adalah air yang sangat dingin. Sedangkan yang menunjukkan terhadap pengertian ini adalah firman Allah:

“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah,” (an-Naba’: 24-25)

Dalam ayat ini ada istisna’ [pengecualian] dari kesejukan, yaitu ghassaaq dan istisna’ dari minuman, yaitu hamiim.

Dikatakan pula bahwa ghassaaq adalah yang dingin dan berbau busuk. Kata ini bukan dari bahasa Arab, tetapi ada juga yang menyebutkan bahwa kata ini berasal dari bahasa Arab, yaitu dari ghasaqa-yaghsiqu, dan ghasiq berarti malam. Lalu dinamakan ghasiqan karena dinginnya.

3. SHADIID

Menurut Mujahid, shadiid adalah nanah dan darah. Sedangkan menurut Qatadah, shadiid adalah sesuatu yang mengalir di antara daging dan kulit orang kafir. Lalu ia berkata, “Apakah dengan azab ini kalian mempunyai dua tangan ataukah kalian dapat bersabar atau menahan azab ini ?” sesungguhnya taat kepada Allah swt itu lebih mudah bagi kalian. Maka taatilah Allah swt dan Rasul-Nya.”

Imam Ahmad dan Turmudzi menerangkan maksud hadits dari Abi Umamah tentang ayat “Dan dia akan diberi minuman dengan air nanah, diteguk-teguknya [air nanah itu]”, yaitu didekatkan ke mulutnya [orang kafir] tetapi mereka tidak suka. Jika telah dekat dengannya, wajahnya menjadi hangus dan kepalanya menunduk. Apabila diminum, ia akan memutuskan ususnya sehingga keluar dari duburnya.

Abu Yahya al-Qatar meriwayatkan dari Mujahid dari Ibnu Abbas bahwa mereka merupakan lembah dari nanah, yang kemudian dituangkan ke dalam mulut orang kafir atau menciduknya dengan gayung.

Jabir meriwayatkan dalam shahih Muslim bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah berjanji, barangsiapa yang minum minuman memabukkan, niscaya Allah akan memberinya minuman dari tinah al-khabal.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulallah, apa itu thinal al-khabal ?” Beliau menjawab, “Keringat penghuni neraka atau ampas penghuni neraka.”

Dalam kitab shahih Imam Ahmad, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. dari Rasulullah saw. tentang hadits yang sama dengan hadits di atas. Dalam sebagian riwayat juga disebutkan, “Dari sumber air al-khabal.”

Sedangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dari Abdullah bin Amr ra. tentang hadits yang sama disebutkan, “Dari sungai al-khabal.” Dikatakan pula, “Ya Abdurrahman, apa itu sungai al-khabal?” Beliau menjawab, “Sungai dari nanah penghuni neraka.” disebutkan bahwa hadits ini hasan.

Masih dalam hadits yang serupa, Abu Daud juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Dari thinah al-khabal.” Dikatakan, “Ya Rasulallah, apa itu thinah al-khabal?” Beliau menjawab, “Nanah penghuni neraka.”

Dalam riwayat yang sama disebutkan, “Sesuatu yang keluar dari angin yang berbau busuk milik penghuni neraka dan nanahnya.” Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits dari Abu Dzar dari Asma Yazid dengan makna yang sama.

Dalam kitab shahih Imam Ahmad dan Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits dari Abu Musa bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang meninggal, sedangkan ia peminum khamr, niscaya Allah akan memberinya minum dari sungai ghuthah.” Dikatakan kepada beliau, “Apa itu ghuthah?” Beliau menjawab, “Sungai yang mengalir dari kemaluan perempuan pezina, yang bau busuknya mengazab penghuni neraka.”

Dalam hadits Amr bin Syu’aib dari ayahnya dan kakeknya, dari Rasulullah saw. juga disebutkan tentang orang-orang yang sombong, “Mereka diberi minuman dari ampas penghuni neraka, yaitu thinah al-khabal.”

4. MUHL

Imam Ahmad dan Turmudzi meriwayatkan hadits Darij dari Abu al-Haitsam dan Abu Sa’id yang menafsirkan tentang muhl, “Seperti mendidihnya minyak. Jika didekatkan ke wajahnya [penghuni neraka], niscaya bagian pangkal kepalanya akan jatuh ke dalamnya.”

‘Athiyah mengatakan bahwa Ibnu Abbas ditanya tentang pengertian muhl, lalu ia menjawab, “Endapan minyak.”

Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas, “Hitam seperti endapan minyak.” Sa’id bin Jubair dan yang lain juga berpendapat sama.

Adh-Dhahhak mengatakan bahwa Ibnu Mas’ud melelehkan tembaga dari baitul mal, lalu membawanya ke orang-orang yang ada di masjid seraya berkata, “Barangsiapa yang hendak mengetahui muhl, hendaknya melihat kemari.”

Menurut Mujahid, muhl adalah nanah dan darah, hitam seperti minyak yang mendidih.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seandainya barat dijadikan dari hamim neraka, lalu di tengahnya dijadikan bumi, niscaya bau busuk dan panasnya akan menyiksa dan menyakiti yang ada di antara barat dan timur.” (HR Thabrani)

Dalam Mau’idhah al-Auza’i disebutkan bahwa Jibril berkata kepada Nabi Muhammad saw, “Seandainya sebagian dari minuman neraka itu dituangkan pada air di bumi, niscaya rasanya akan membunuh [penduduk bumi].”

&

Seruan Terbuka untuk Keluar dari Neraka dan Masuk Surga

6 Jul

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Seruan dari neraka menuju surga merupakan seruan terbuka dari Dzat Yang Mahapengasih kepada hamba-hamba-Nya di dunia sampai matahari terbit dari arah terbenamnya. Maksudnya adalah bertobat dan kembali kepada jalan Allah swt. dari segala dosa dan perbuatan-perbuatan durhaka, perbuatan keji dan mengikuti bujukan hawa nafsu, serta tidak mau menyembah Allah swt. dan taat kepada-Nya secara global mengharuskan pelakunya masuk neraka ketika ia meninggal dunia dalam kekufuran dan dosa-dosanya.

Allah swt. telah menciptakan surga yang mampu menampung semua makhluk-Nya dengan berbagai kenikmatan agung di dalamnya, keluasan tempat, dan kedudukan yang terhormat dan aman. Allah swt. telah menyeru kepada kita untuk memasuki surga-surga-Nya dan tidak menyeru kita untuk memasuki neraka-Nya.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (Ali ‘Imraan: 133)

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (al-Hadid: 21)

Dalam al-Qur’an Allah juga sering mengajak kita untuk segera bertobat dan kembali kepada-Nya serta meninggalkan berbagai perbuatan durhaka dan dosa karena Allah swt. adalah Dzat yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Oleh karena itu Dia berkeinginan memasukkan kita ke dalam surga-Nya yang kekal.

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (az-Zumar: 53)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: ‘Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’” (at-Tahrim: 8)

Agar manusia tidak berputus asa dari mendapatkan rahmat Allah swt dan diterima tobatnya atau merasa takut dan khawatir kepada Allah swt. jika sampai Allah tidak menerima tobatnya setelah melakukan dosa-dosa dan berbagai perbuatan keji yang telah dilakukannya, lalu apa yang akan dilakukan dengan tobatnya dalam mengisi umur yang tersisa setelah melakukan perbuatan durhaka, dosa-dosa, tidak taat, dan tidak beribadah kepada-Nya, serta tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban dari Nya? Oleh karena itu Allah swt mengajak dan menyeru kepada semua hamba-Nya tanpa terkecuali bahwa apabila mereka mau kembali dan memohon ampun kepada Allah swt dan bertobat kepada-Nya dengan sungguh-sungguh, Allah swt tidak hanya mengabulkan tobat mereka, bahkan Dia akan menggantikan keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan-kebaikan meskipun sebesar apapun dosa-dosanya.

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, Maka Sesungguhnya Dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (al-Furqaan: 70-71)

Setiap kehidupan dan peristiwa akan mencapai titik penghabisannya, kecuali surga dan neraka, yang tidak akan pernah berakhir. Di dalam surga dan neraka tersebut terdapat kekekalan dan keabadian. Dan ini adalah perjalanan akhir manusia, semoga manusia mampu memilih tempat akhir yang terbaik baginya.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari kami. Maka Apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik, ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat? perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (Fushilat: 40)

“Dan Kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah Sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, supaya jangan ada orang yang mengatakan: ‘Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah), atau supaya jangan ada yang berkata: ‘Kalau Sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa’. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ‘Kalau Sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan Termasuk orang-orang berbuat baik.’” (az-Zumar: 54-58)

&

Rantai, Belenggu, Dan Tali Kekang Penghuni Neraka

6 Jul

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Alangkah ngeri bermacam-macam adzab yang disediakan Allah swt bagi penghuni neraka, sedangkan adzab itu tidak pernah berhenti.

Setiap kali kiat membicarakan berbagai kesengsaraan dan adzab penghuni neraka di dalamnya, ternyata siksaan itu justru bertambah pedih dari yang sebelumnya. Semua adzab itu menyakitkan dan menghinakan. Semua itu melampaui batas kemampuan akal manusia di dunia bahkan khayalan kita. Sebenarnya orang-orang kafir, musyrik dan munafik itu mengetahui jika mereka akan masuk neraka, bahkan mereka mengetahui betapa besar adzab yang disediakan Allah swt. untuk mereka. oleh karena itu mereka berharap, sedang mereka dalam keadaan hina akan masuk neraka dan mendapatkan adzab-Nya tersebut. Mereka akan dihisab, sebagaimana yang tela disebutkan sebelumnya.

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” (al-Haaqqah: 18)

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:”Alangkah baiknya Sekiranya dahulu aku jadi tanah”. (an-Naba’: 40)

Orang kafir berharap musnah selamanya daripada harus menghadap Allah swt karena dosa-dosa yang telah mereka perbuat, kekafiran, dan kesyirikan mereka terhadap-Nya. Sementara orang-orang yang beriman berada dalam kenikmatan, yaitu masuk ke dalam surga yang telah disediakan Allah swt. dan ia kekal di dalamnya. Hal itu karena orang-orang kafir hidup di dunia dalam kesesatan bahkan menutup telinga dari pendengaran, nasehat dan peringatan serta sesuatu yang berharap kepada mereka untuk beriman dan kembali kepada kebenaran.

Sesungguhnya kehinaan, penderitaan, dan kesengsaraan yang didapatkan orang-orang kafir itu merupakan hasil atau akibat yang pasti karena kekafiran, kemaksiatan dan kejahatan serta ejekan mereka terhadap orang-orang beriman.

Selama 950 tahun Nabi Nuh as. menyeru kaumnya, tetapi tidak seorangpun dari orang-orang kafir mengikuti seruannya itu. Bahkan mereka memasukkan jari-jari mereka ke telinga dan menutupkan baju mereka setiap kali Nabi Nuh as menyeru mereka.

“Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan Sesungguhnya Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.” (Nuh: 5-7)

Kaum Nabi Nuh as. dan yang seperti mereka merupakan jumlah besar dari orang kafir yang telah disediakan adzab oleh Allah swt. Kepedihan adzab itu melampaui batas khayalan manusia. Di antara adzab yang telah disediakan Allah adalah belenggu, rantai, palu besi, dan tali kekang. Semua itu merupakan bentuk atau jenis siksaan yang didapatkan penghuni neraka di dalamnya. Selain adzab api yang membakar dan memanggang tubuh mereka adalah belenggu dan rantai yang dipergunakan untuk menyeret dan mengikat mereka, seperti mengikat binatang. Tangan mereka terbelenggu sampai ke leher, sedang rantai mengikat mereka dari berbagai sisi, baik dari kaki maupun leher. Rantai yang diikatkan itu dipergunakan untuk menyeret atau menarik mereka ke dalam neraka.

“Mereka Itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka Alangkah beraninya mereka menentang api neraka!” (al-Baqarah: 175)

Allah juga memperingatkan orang-orang yang menentang dan sombong terhadap keimanan dan ketaatan bahwa bagi mereka adalah adzab yang pedih.

“….. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (al-Baqarah: 165)

Maksud ayat ini bahwa Allah swt telah memperingatkan kepada mereka akan adzab-Nya yang berat dan pedih. Di antara adzab Allah itu adalah mereka kekal di dalam neraka, sedang mereka dalam keadaan bergandengan, terbelenggu dan terikat pada rantai.

“….dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir….” (Saba’: 33)

“Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala.” (al-Insaan: 4)

“Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api,” (al-Mu’min: 71-72)

“(Allah berfirman): “Peganglah Dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah Dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. kemudian belitlah Dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.” (al-Haaqqah: 30-32)

“Karena Sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang menyala-nyala. Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih.” (al-Muzzammil: 12-13)

“Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka,” (Ibrahim: 49-50)

Tubuh para penghuni neraka itu besar tetapi mereka tetap tidak kuat dan tidak berdaya di hadapan kehendak Allah swt. itulah adzab yang disediakan Malaikat Zabaniyah, pengawas adzab dan yang akan menambah kehinaan mereka.

Dalam Shafwah at-Tafasir, ash-Shabuni berpendapat bahwa makna ayat “dan Kami pasangkan belenggu di leher orang-orang yang kafir” adala Allah menjadikan rantai-rantai yang mengikat leher mereka sebagai siksa mereka di neraka.

Adapun menurut Ibnu Katsir, ayat “dan Kami pasangkan belenggu di leher orang-orang yang kafir” ini bermakna rantai-rantai itu mengumpulkan atau menyatukan tangan dan leher mereka.

Ibnu Katsir juga menafsirkan ayat “Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala.” Dengan makna bahwa Allah swt memberitahukan apa yang telah disiapkan-Nya untuk orang-orang kafir, yaitu belenggu, rantai, dan api yang menyala-nyala di dalam nereka, sebagaimana ayat “Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api.”

Keadaan mereka itu sungguh berbeda dengan keadaan yang disediakan Allah swt bagi orang-orang yang berbahagia mendapatkan surga:

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur.” (al-Insaan: 5)

Di dalam air kafur tersebut terkandung sifat segar dan mempunyai bau yang sedap. Kafur adalah mata air surga yang airnya putih dan baunya sedap serta enak rasanya.

Menurut ash-Shabuni, ayat “Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api.” Ini maknanya ketika orang-orang kafir itu memasuki neraka, tangan mereka terbelenggu ke leher mereka dengan belenggu dan rantai. Kemudian, dengan rantai itulah mereka diseret ke dalam air yang mendidih, lalu dinyalakan dan dibakar di dalam neraka.

Ibnu Katsir menafsirkan ayat: “Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api.” Dengan makna rantai itu tersambung ke tangan Malaikat Zabaniyah yang terkadang menyeret orang-orang kafir di atas wajah mereka ke dalam air panas yang mendidih dan terkadang menyeret mereka ke neraka.

“(Allah berfirman): “Peganglah Dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah Dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. kemudian belitlah Dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.” (al-Haaqqah: 30-32) merupakan ayat yang banyak menerangkan tentang belenggu, rantai, dan tali pengikat yang digunakan untuk mengikat orang-orang kafir. Oleh karena itu itu akan diterangkan makna setiap kata dari ayat ini:

khudzuHu: ucapan yang disampaikan untuk penjaga neraka.
faghulluuH: ikatlah dengan kuat dan kumpulkan kedua tangannya ke lehernya dengan rantai.
Tsummal jahiima: api menyala-nyala yang membakar.
shalluuH: masukkan dia ke dalam neraka yang apinya menyala-nyala dan membakar.
Dzar’uHaa: yang panjangnya.
Sab’uuna dziraa’an: maksudnya adalah rantai yang panjang. Rantai ini sangat panjang karena orang kafir di dalam neraka tubuhnya dibesarkan sehingga jarak antara kedua bahunya sejauh perjalanan tiga hari, ketebalan kulitnya sepanjang empat puluh dua hasta, dan tempat duduknya sejauh antara Makkah dan Madinah. Oleh karena itu rantai yang diikatkan kepada mereka sangat besar dan panjang. Panjangnya mencapai tujuh puluh hasta, yaitu hasta malaikat.

faslukuuHu: masukkan orang kafir itu ke dalam rantai, setelah dimasukkan ke dalam neraka, lalu ikatkan rantai itu ke tubuhnya agar tidak bergerak. Neraka dan rantai disebutkan lebih dahulu untuk menunjukkan kekhususan dan perhatian terhadap jenis siksaan atau adzab bagi orang kafir.

Tsumma: sebagai perbedaan antara berat adzab keduanya.
Dalam tafsir al-Munir disebutkan bahwa Dr.Wahbah az-Zahiliy berpendapat sekitar penafsiran ayat yang menerangkan adanya siksa dengan belenggu dan rantai: “(Allah berfirman): “Peganglah Dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah Dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. kemudian belitlah Dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.” (al-Haaqqah: 30-32)

Menurut Dr.Wahbah az-Zahiliy, ayat tersebut bermakna bahwa Allah swt menyuruh Malaikat Zabaniyah untuk memegang orang kafir dengan mengumpulkan tangannya ke lehernya, lalu diikat dengan tali dan belenggu. Kemudian Allah swt memerintahkan malaikat itu untuk memasukkan orang kafir itu ke dalam neraka agar dibakar dengan panasnya, lalu dimasukkannya ke rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Rantai ini digunakan untuk melipat dan mengikat tubuhnya agar tidak bergerak.

Menurut ash-Shabuni, ayat “tangkaplah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya” bermakna bahwa Allah swt berfirman kepada Malaikat Zabaniyah agar memegang orang kafir dan mengikatnya dengan belenggu.

Menurut al-Qurthubi ayat ini bermakna bahwa seratus ribu malaikat berebut memegang orang kafir, kemudian mengumpulkan tangannya ke lehernya. Adapun ayat “kemudian masukkan dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala” berarti malaikat memasukkan orang kafir ke dalam api neraka yang bergejolak agar ia dibakar panasnya.
“Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta” bermakna kemudian masukkan orang kafir itu ke dalam rantai besi yang panjangnya mencapai tujuh puluh hasta. Sedangkan menurut Ibnu Abbas, rantai itu dimasukkan tangan malaikat dari dubur orang kafir dan keluar dari tenggorokannya, kalu kepala dan kedua kakinya dikumpulkan dan dilipat.

Menurut Ibnu Katsir, tafsir dari ayat “Peganglah Dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah Dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. kemudian belitlah Dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.” Adalah Allah swt. menyuruh Malaikat Zabaniyah untuk mengambil tindakan terhadap orang kafir di padang mahsyar. Malaikat itupun segera membelenggu orang kafir dan meletakkan rantai pada lehernya atau mengikatnya. Kemudian ia ditarik ke neraka untuk dibakar di dalamnya.

Menurut Minhal bin Amr, ketika Allah swt memerintahkan malaikat untuk memegang orang kafir, ada tujuh puluh ribu malaikat yang berebut, lalu mereka melemparkan tujuh puluh ribu orang kafir ke dalam neraka.

Menurut al-Fadhil bin ‘Iyadh, ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk memegang orang-orang kafir, ada tujuh puluh ribu malaikat yang meletakkan rantai pada leher orang-orang kafir. Adapun maksud ayat “kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala” ini menerangkan bahwa orang-orang kafir itu dibanjiri api dalam neraka. sedangkan ayat “kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta” menurut Ka’ab bin al-Akhbar adalah setiap mata rantai itu besarnya sama dengan besi di dunia. Ibnu Abbas berpendapat bahwa maksud dari “hasta” dalam ayat tersebut adalah hasta malaikat. Sedangkan al-Aufi berkata dari Ibnu Abbas bahwa belenggu itu dimasukkan ke dalam duburnya [orang kafir] hingga keluar dari hidungnya sehingga ia tidak mengetahui kedua kakinya.

Dari Abdullah bin Umar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seandainya satu remukan [bubuk] seperti ini [lalu beliau menunjuk tempat minum dari kayu] dijatuhkan dari langit ke bumi, niscaya baru akan sampai ke bumi setelah perjalanan lima ratus tahun, sebelum malam tiba. Akan tetapi, jika dijatuhkan dari kepala rantai, niscaya baru akan sampai ke ujungnya setelah perjalanan empat puluh tahun, siang dan malam.” (HR Ahmad dan Turmudzi)

“Karena Sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang menyala-nyala.” (al-Muzzammil: 12)

Allah menyebutkan dan mensifati adzab dalam neraka yang telah disediakan bagi orang-orang kafir, yaitu belenggu. Belenggu ini adalah tali yang berat, yang membebani punggung orang-orang kafir dan menambah berat timbangan mereka sehingga mereka tetap berada dalam timbangan yang berat. Dalam at-Tashil disebutkan, “ankal” adalah jamak dari “niklun” yaitu tali dari besi. Ada pula yang berpendapat bahwa “ankal” adalah tali-tali hitam dari neraka.

“Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu.” (Ibrahim: 49)

Sebelum menafsirkan ayat di atas, Ibnu Katsir menyebutkan firman Allah yang artinya: “[yaitu] pada hari [ketika] bumi diganti dengan bumi yang lain dan [demikian pula] langit…” (Ibrahim: 48) atau semua makhluk dikumpulkan di padang mahsyar, umat demi umat dan kamu [Muhammad] pada hari itu akan melihat orang-orang yang berdosa karena kekafiran dan suka berbuat kerusakan [di muka bumi] diikat dengan sebagian yang lain serta dikumpulkan secara berkelompok, sebagaimana firman Allah:

“(kepada Malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka ….” (ash-Shaaffaat: 22)

Selain itu Allah swt juga menerangkan keadaan setiap jiwa dan orang kafir pada hari kiamat.

“Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh).” (at-Takwir: 7)

“Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.” (al-Furqaan: 13)

Maksudnya: mereka mengharapkan kebinasaan, agar terlepas dari siksaan yang Amat besar, Yaitu azab di neraka yang Amat panas dengan dibelenggu, di tempat yang sempit pula, sebagai yang dilukiskan itu.

&

Palu Besi Penghuni Neraka

6 Jul

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Dalam neraka terdapat beberapa palu dari besi, selain rantai, belenggu, dan tali. Palu-palu itu disediakan Allah bagi orang-orang yang akan keluar dari neraka. orang-orang kafir itu terikat dengan tali rantai yang membebani mereka serta memberatkan timbangan mereka sehingga mereka tetap berada di dasar meskipun mereka berusaha untuk keluar darinya. Kemudian mereka bergerak lamban menuju puncak [agar keluar dari neraka]. ketika malaikat yang mengawasi mereka melihat, ia membiarkan mereka agar penderitaan dan siksa mereka bertambah, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Muddatstsir: 17: “Aku akan membebaninya dengan pendakian yang memayahkan.”

Ketika salah seorang di antara mereka sampai ke tempat yang memungkinkannya keluar, didatangkanlah sesuatu yang belum pernah mereka perhitungkan sebelumnya. Maka ia dipukul oleh malaikat Zabaniyah dengan palu besi [yang berat dan besarnya hanya diketahui Allah swt] maka jatuhlah ia kembali ke dalam neraka.

“Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan), “Rasailah azab yang membakar ini”. (al-Hajj: 21-22)

“Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.” Artinya bagi mereka palu-palu dan cambuk-cambuk dari besi yang dipukulkan untuk mendorong mereka kembali ke dasar neraka. dalam sebuah hadits disebutkan, “Jika palu itu diletakkan di bumi, niscaya segala isi bumi akan terkumpul hingga bagian yang terkecil sekalipun.” (HR Ahmad)

“Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya.” Berarti setiap kali penghuni neraka itu hendak berusaha keluar darinya karena penderitaan yang mereka rasakan, mereka dikembalikan lagi ke dalamnya.

Menurut Hasan, lidah api neraka itu memukul para penghuninya sehingga mereka terlempar ke atas. Ketika sampai di atas, mereka dipukul dengan palu besi hingga jatuh lagi ke neraka dan baru akan sampai ke dasarnya setelah tujuh puluh tahun.

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jika sebuah gunung dipukul dengan palu besi itu, niscaya akan kembali remuk [hancur].” (HR Ahmad)

Dalam kitab az-Zuhdi, Imam Ahmad mengatakan bahwa ia diberitahu oleh Sayyar dari Ja’far bahwa ia pernah mendengar Malik bin Dinar berkata, “Jika penghuni neraka itu merasakan pukulan palu besi itu, mereka menyelam ke dalam air yang mendidih, dan pergi ke bawah, sebagaimana seseorang yang sedang menyelam dalam air [di dunia], lalu berenang sampai ke bawah.”

Sa’id berkata dari Qatadah bahwa Umar bin Khaththab ra. berkata, “Sesungguhnya panas api neraka itu sangat dahsyat, dasarnya sangat dalam, minumannya adalah nanah yang bercampur darah, dan palunya adalah besi.”

&