Tag Archives: keluarga

Istilah Keluarga dalam Bahasa Arab

18 Agu

Berbagai Contoh Pembahasan Bahasa Arab;
Belajar Bahasa Arab

istilah keluarga dalam bahasa arab

Percakapan Bahasa Arab 07: Keluarga

20 Mei

60 CONTOH PERCAKAPAN DALAM BAHASA ARAB
Mumtaz Production

percakapan bahasa arab ttg keluarga

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ar-Ruum (6)

3 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ruum (Bangsa Romawi)
Surah Makkiyyah; surah ke 30:60 ayat

Inna fii dzaalika la aayaatil lil ‘aalimiina wa min aayaatiHii manaamukum bil laili wan naHaari wabtighaa-ukum min fadl-liHi (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah, tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya.”) yaitu di antara bukti-bukti kekuasaan-Nya adalah, Allah jadikan sifat tidur di waktu malam dan di waktu siang yang dengannya dapat mencapai istirahat dan ketenangan, serta menghilangkan rasa lemah dan lelah. Serta menjadikan untuk kalian upaya bertebaran, mencari nafkah dan melakukan perjalanan di waktu siang. Dan semua ini adalah lawan dari tidur.

Inna fii dzaalika la aayaatil liqaumiy yasma’uuna (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.”) yaitu yang memperhatikan.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 24-25“24. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. 25. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).” (ar-Ruum: 24-25)

Firman Allah: wa min aayaatiHii (“dan di antara tanda-tanda.”) yang menunjukkan keagungan-Nya; yuriikumul barqa khaufaw wa thama’aw (“Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk [menimbulkan] ketakutan dan harapan.”) yaitu terkadang mereka takut dengan kejadian-kejadian sesudahnya berupa hujan deras dan kilat yang menggelegar. Dan terkadang juga mereka berharap akan sinarnya serta cukupnya hujan yang dibutuhkan yang datang kemudian. Untuk itu Allah berfirman: wa yunazzilu minas samaa-i fa yuhyii biHil ardla ba’da mautiHaa (“Dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya.”) yaitu setelah sebelumnya gersang tanpa tumbuh-tumbuhan dan tanpa sesuatu pun. Maka air itu datang: “Hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (al-Hajj: 5)

Dalam masalah ini terdapat pelajaran dan bukti-bukti yang nyata tentang hari kembali dan terjadinya Kiamat. Untuk itu Dia berfirman: inna fii dzaalika la aayaatil liqaumiy ya’qiluuna (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang menggunakan akalnya.”
Wa min aayaatiHii an taquumas samaa-u wal ardlu bi amriHi (“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah, berdirinya langit dan bumi dengan iradah-Nya.”) seperti firman-Nya: innallaaHa yumsikus samaawaati wal ardli an tazuulan (“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap.”)(Faathir: 41). Yaitu ketika tegak dan kokoh dengan perintah dan pengaturan-Nya. kemudan ketika hari kiamat tiba, bumi akan digantikan dengan bumi dan langit yang lain. Serta keluarlah orang-orang yang mati dari kubur mereka dalam keadaan hidup dengan perintah Allah swt. serta seruan-Nya kepada mereka. Untuk itu Dia berfirman: tsumma idzaa da’aakum da’watam minal ardli idzaa antum takhrujuuna (“Kemudian apabila Dia memanggilmu sekali panggil dari bumi, seketika itu [juga] kamu keluar [dari kubur].”) yaitu dari [dalam] bumi.

tulisan arab alquran surat ar ruum ayat 26-27“26. dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. semuanya hanya kepada-Nya tunduk. 27. dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (ar-Ruum: 27)

Allah Ta’ala berfirman: wa laHuu man fis samaawaati wal ardli (“Dan kepunyaan-Nya lah siapa saja yang ada di langit dan di bumi.”) yaitu, milik dan abdi-Nya. kullu laHuu qaanituun (“Semuanya hanya tunduk kepada-Nya.”) yaitu tunduk dan khusyu’ dalam keadaan suka maupun terpaksa.

Di dalam hadits Diraj, dari Abul Haitsam, dari Abu Sa’id secara marfu’: “Setiap huruf dari al-Qur’an yang menyebutkan qunut di dalamnya, maka artinya adalah taat.”

Firman Allah: wa Huwal ladzii yabda-ul khalqa tsumma yu’iidzuHuu wa Huwa aHwanu ‘alaiHi (“dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.”) Ibnu Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu, lebih ringan bagi-Nya.” sedangkan Mujahid berkata: “Mengulanginya lebih mudah bagi Allah daripada memulainya.” “Sedangkan memulainya sendiri begitu mudah bagi-Nya.” demikian yang dikatakan oleh ‘Ikrimah dan lain-lain. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Anak Adam mendustakan Aku padahal Aku tidak demikian. Dia mencerca-Ku, padahal Aku tidak demikian. Adapun kedustannya terhadap-Ku, yaitu perkataannya: ‘Allah tidak akan menghidupkanku kembali sebagaimana Dia memulainya.’ Padahal awal penciptaan tidak lebih mudah bagi-Ku daripada mengulanginya. Sedangkan cercaannya kepada-Ku adalah perkataannya: ‘Allah mempunyai anak, padahal Aku Mahaesa tempat bergantung yang tidak beranak dan tidak diperanakkan serta tidak ada seorang pun yang setera dengan-Nya.’”

Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini sendiri dan diriwayatkannya sendiri pula oleh Imam Ahmad. Sedangkan pendapat yang lain mengatakan keduanya [dalam menciptakan pertama kali dan dalam mengulanginya] dilihat dari sudut kekuasaan Allah swt. adalah sama saja. sedangkan al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas, semuanya amat mudah bagi-Nya, demikian yang dikatakan oleh ar-Rabi’ bin Khaitsam dan Ibnu Jarir cenderung kepada pendapat itu, serta menyebutkan beberapa pendukung yang banyak sekali. Dia berkata: “Boleh jadi dhamir dalam firman-Nya: wa Huwa aHwanu ‘alaiHi (“Dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.”) kembali kepada penciptaan. Hal ini berarti menghidupkannya kembali lebih mudah daripada menciptakannya.

Firman Allah: wa laHul matsalul a’laa fis samaawaati wal ardli (“Dan bagi-Nya-lah sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi.”) ‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas, seperti firman-Nya: laisa kamitsliHii syai-un (“Tidak ada yang serupa dengan-Nya”) Qatadah berkata bahwa tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi secara benar] kecuali Dia dan tidak ada Rabb selain-Nya. Ibnu Jarir mengatakan seperti itu. Sebagian ahli tafsir ketika menyebut ayat ini menyenandungkan sya’ir kepada sebagian ahli ma’rifah:
“Jika kolam yang jernih tenang airnya,
Dan tidak ada angin yang menggoyangnya,
Niscaya langit di dalamnya dapat terlihat tanpa ragu.
Demikian pula matahari dan bintang-bintang jelas nyata.
Demikianlah hati orang-orang yang sampai pada tajalli,
Dalam kebersihan dapat terlihat Allah Yang Mahaagung.

Bersambung ke bagian 7

Keutamaan Kesabaran Keluarga yang Sakit

24 Jul

Dr. Yusuf Qardhawy; Fatwa Kontemporer; Fiqih Kontemporer

Keluarga si sakit wajib bersabar terhadap si sakit, jangan merasa sesak dada karenanya atau merasa bosan, lebih-lebih bila penyakitnya itu lama. Karena akan terasa lebih pedih dan lebih sakit dari penyakit itu sendiri jika si sakit merasa menjadi beban bagi keluarganya, lebih-lebih jika keluarga itu mengharapkan dia segera dipanggil ke rahmat Allah. Hal ini dapat dilihat dari raut wajah mereka, dari cahaya pandangan mereka, dan dari gaya bicara mereka.

Apabila kesabaran si sakit atas penyakit yang dideritanya akan mendapatkan pahala yang sangat besar –sebagaimana diterangkan dalam beberapa hadits sahih– maka kesabaran keluarga dan kerabatnya dalam merawat dan mengusahakan kesembuhannya tidak kalah besar pahalanya. Bahkan kadang-kadang melebihinya, karena kesabaran si sakit menyerupai kesabaran yang terpaksa, sedangkan kesabaran keluarganya merupakan kesabaran yang diikhtiarkan (diusahakan). Maksudnya, kesabaran si sakit merupakan kesabaran karena ditimpa cobaan, sedangkan kesabaran keluarganya merupakan kesabaran untuk berbuat baik.

Diantara orang yang paling wajib bersabar apabila keluarganya ditimpa sakit ialah suami atas istrinya, atau istri atas suaminya. Karena pada hakikatnya kehidupan adalah bunga dan duri, hembusan angin sepoi dan angin panas, kelezatan dan penderitaan, sehat dan sakit, perputaran dari satu kondisi ke kondisi lain. Oleh sebab itu, janganlah orang yang beragama dan berakhlak hanya mau menikmati istrinya ketika ia sehat tetapi merasa jenuh ketika ia menderita sakit. Ia hanya mau memakan dagingnya untuk membuang tulangnya, menghisap sarinya ketika masih muda lalu membuang kulitnya ketika lemah dan layu. Sikap seperti ini bukan sikap setia tidak termasuk mempergauli istri dengan baik, bukan akhlak lelaki yang
bertanggung jawab, dan bukan perangai orang beriman.

Demikian juga wanita, ia tidak boleh hanya mau hidup bersenang-senang bersama suaminya ketika masih muda dan perkasa, sehat dan kuat, tetapi merasa sempit dadanya ketika suami jatuh sakit dan lemah. Ia melupakan bahwa kehidupan rumah tangga yang utama ialah yang ditegakkan di atas sikap tolong-menolong dan bantu-membantu pada waktu manis dan ketika pahit, pada waktu selamat sejahtera dan ketika ditimpa cobaan.

Seorang penyair Arab masa dulu pernah mengeluhkan sikap istrinya “Sulaima” ketika merasa bosan terhadapnya karena ia sakit, dan ketika si istri ditanya tentang keadaan suaminya dia menjawab, “Ia tidak hidup sehingga dapat diharapkan dan tidak pula mati sehingga patut dilupakan.” Sementara ibu sang penyair sangat sayang kepadanya, berusaha untuk kesembuhannya, dan sangat mengharapkan kehidupannya. Lalu sang penyair itu bersenandung duka:

“Kulihat Ummu Amr tidak bosan dan tidak sempit dada Sedang Sulaima jenuh kepada tempat tidurku dan tempat tinggalku Siapakah gerangan yang dapat menandingi bunda nan pengasih Maka tiada kehidupan kecuali dalam kekecewaan dan kehinaan Demi usiaku, kuingatkan kepada orang yang tidur Dan kuperdengarkan kepada orang yang punya telinga.”

Yang lebih wajib lagi daripada kesabaran suami-istri ketika teman hidupnya sakit ialah kesabaran anak laki-laki terhadap penyakit kedua orang tuanya. Sebab hak mereka adalah sesudah hak Allah Ta’ala, dan berbuat kebajikan atau berbakti kepada mereka termasuk pokok keutamaan yang diajarkan oleh seluruh risalah Ilahi. Karena itu Allah menyifati Nabi Yahya a.s. dengan firman-Nya: “Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.” (Maryam: 14)

Allah menjadikannya –yang masih bayi dalam buaian itu– berkata menyifati dirinya: “Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (Maryam: 32)

Demikian juga dengan anak perempuan, bahkan dia lebih berhak memelihara dan merawat kedua orang tuanya, dan lebih mampu melaksanakannya karena Allah telah mengaruniainya rasa kasih dan sayang yang melimpah, yang tidak dapat ditandingi oleh anak laki-laki.

Al-Qur’an sendiri menjadikan kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua ini dalam urutan setelah mentauhidkan Allah Ta’ala, sebagaimana difirmankan-Nya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu bapak…” (an-Nisa’: 36)

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya …” (al-lsra’: 23)

Dalam ayat yang mulia ini Al-Qur’an mengingatkan tentang kondisi khusus atau pencapaian usia tertentu yang mengharuskan bakti dan perbuatan baik seorang anak kepada orang tuanya semakin kokoh. Yaitu, ketika keduanya telah lanjut usia, dan pada saat-saat seusia itu mereka amat sensitif terhadap setiap perkataan yang keluar dari anak-anak mereka, yang sering rasakan sebagai bentakan atau hardikan terhadap keberadaan mereka. Kata-kata yang mempunyai konotasi buruk inilah yang dilarang dengan tegas oleh Al-Qur~an:

“… Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai ke umur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.'” (al-Isra’: 23-24)

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa beliau berkata, “Kalau Allah melihat ada kedurhakaan yang lebih rendah daripada perkataan ‘uff (ah), niscaya diharamkan-Nya.”

Ungkapan Al-Qur’an “sampai ke usia lanjut dalam pemeliharaanmu” menunjukkan bahwa si anak bertanggung jawab atas kedua orang tuanya, dan mereka telah menjadi
tanggungannya. Sedangkan bersabar terhadap keduanya –ketika kondisi mereka telah lemah atau tua– merupakan pintu yang paling luas yang mengantarkannya ke surga dan ampunan; dan orang yang mengabaikan kesempatan ini berarti telah mengabaikan keuntungan yang besar dan merugi dengan kerugian yang nyata.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda: “Merugi, merugi, dan merugi orang yang mendapat kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau kedua-duanya, lantas ia tidak masuk surga.”57 (HR Ahmad dan Muslim)58

Juga diriwayatkan dalam hadits lain dari Ka’ab bin Ujrah dan lainnya bahwa Malaikat Jibril pembawa wahyu mendoakan buruk untuk orang yang menyia-nyiakan kesempatan ini, dan doa Jibril ini diaminkan oleh Nabi saw.59

Sedangkan yang sama kondisinya dengan usia lanjut ialah kondisi-kondisi sakit yang menjadikan manusia dalam keadaan lemah dan memerlukan perawatan orang lain, serta tidak mampu bertindak sendiri untuk menyelenggarakan keperluannya.

Jika demikian sikap umum terhadap kedua orang tua, maka secara khusus ibu lebih berhak untuk dijaga dan dipelihara berdasarkan penegasan Al-Qur’an dan pesan Sunnah Rasul.

Allah berfirman:

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan …” (al-Ahqaf: 15)

“Dan Kami perintahkan manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman: 14)

Imam Thabrani meriwayatkan dalam al-Mu’jamush-Shaghir dari Buraidah bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi saw., lalu ia berkata: “Wahai Rasululah, saya telah menggendong ibu saya di pundak saya sejauh dua farsakh melewati padang pasir yang amat panas, yang seandainya sepotong daging dilemparkan ke situ pasti masak maka apakah saya telah menunaikan syukur kepadanya?” Nabi menjawab, “Barangkali itu hanya seperti talak satu.”60

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Umar bin Khattab, “Ibuku sangat lemah dan tua renta sehingga tidak dapat memenuhi keperluannya kecuali punggungku ini telah menjadi hamparan tunggangannya –dia berbuat untuk ibunya seperti ibunya berbuat untuk dia dahulu– maka apakah saya telah melunasi utang saya kepadanya?” Umar menjawab, “Sesungguhnya engkau berbuat begitu terhadap ibumu, tetapi engkau menantikan kematiannya esok atau esok lusa; sedangkan ibumu berbuat begitu terhadapmu justru mengharapkan engkau berusia panjang.”

Selain itu, tanggung jawab keluarga terhadap si sakit bertambah berat apabila ia tidak punya atau kehilangan kelayakan untuk berbuat sesuatu, misalnya anak kecil –apalagi belum sampai mumayiz– atau seperti orang gila, yang masing-masing membutuhkan perawatan ekstra dan penanganan yang serius. Karena orang yang mumayiz dan berpikiran normal dapat meminta apa saja yang ia inginkan dapat menjelaskan apa yang ia butuhkan, dapat minta disegerakan kebutuhannya bila terlambat, dan dapat memuaskan orang yang mengobati atau merawatnya.

Sedangkan anak kecil, orang gila, dan yang sejenisnya, maka tidak mungkin dapat melakukan hal demikian. Karena itu berlipatgandalah beban keluarganya. Dengan demikian, mereka harus benar-benar menyadari kondisi kesehatannya dan mengusahakan pengobatannya, sehingga terkadang harus membawanya ke dokter, memasukkannya ke rumah sakit, atau hal-hal lain yang tidak dapat dibatasi.

&

Memuliakan Keluarga Rasulullah saw.

23 Apr

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Hadits-hadits

Firman Allah: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (al-Ahzab: 33)

Allah berfirman: “Dan siapa saja mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 32)

Dari Yazid bin Hayyan, ia berkata: “Saya, Hushain bin Sairah dan ‘Amr bin Muslim datang ke tempat Zaid bin Arqam ra.. Setelah kami duduk, Hushain berkata kepada Zaid: “Wahai Zaid, sungguh kamu telah mendapatkan keuntungan yang besar, yaitu kamu bertemu Rasulullah saw. dan mendengar haditsnya, berperang bersamanya, shalat bersamanya, sungguh kamu benar-benar mendapatkan keuntungan yang besar. Oleh karena itu ceritakanlah wahai Zaid tentang apa saja yang pernah kamu dengar dari Rasulullah saw.” Zaid menjawab: “Hai keponakanku. Demi Allah usiaku telah lanjut, sudah lama aku ditinggal beliau dan aku lupa sebagian apa yang aku peroleh dari beliau. Maka apa yang dapat aku sampaikan, terimalah dengan baik. Sedangkan yang tidak dapat, janganlah kamu menuntutnya.” Kemudian Zaid melanjutkan ceitanya: “Pada suatu hari Rasulullah saw. berdiri di tengah-tengah kami di Khum, yaitu sebuah tempat antara Makkah dan Madinah guna menyampaikan khutbah. Waktu itu beliau memuji serta menyanjung Allah, memberi nasehat dan peringatan. Setelah itu beliau bersabda: “Ketahuilah wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku ini adalah manusia biasa, mungkin saja utusan Rabb-ku (malaikat Izrail) hampir datang dan aku harus menerimanya. Aku tinggalkan kalian dua perkara yang berat, yang pertama yaitu kitabullah yang di dalamnya penuh dengan petunjuk dan cahaya, maka ambillah dan pegang teguhlah kitabullah itu.” Beliau menegaskan agar kita benar-benar berpegang teguh pada kitabullah. Lanjutnya ia bersabda lagi: “Dan ahli baitku (keluargaku), aku memperingatkan kamu sekalian kepada Allah tentang ahli baitku (keluargaku).” Husein menyela: “Wahai Zaid, siapakah ahli bait beliau, bukankah istri-istri beliau itu ahli baitnya?” Zaid menjawab: “Ya, juga orang-orang yang diharamkan menerima sedekah sesudah beliau wafat.” Husein bertanya lagi: “Siapakah mereka itu?” Zaid menjawab: “Mereka adalah keluarga /keturunan Ali, Aqil, Ja’far dan Abbas.” Husein bertanya lagi: “Apakah masing-masing dari mereka diharamkan menerima sedekah?” Zaid menjawab: “Benar.” (HR Muslim)

Dalam riwayat lain dikatakan: “Ingatlah, sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian semua dua perkara yang berat, salah satunya adalah kitabullah yaitu tali (pedoman hidup) dari Allah. Siapa saja yang mengikutinya, maka ia berada dalam petunjuk, dan siapa saja yang meninggalkannya maka ia dalam kesesatan.”

Dari Umar ra. dari Abu Bakar ash-Shiddiq ra. ia berkata: “Peliharalah kehormatan Nabi Muhammad saw. yaitu dengan memuliakan ahli baitnya (keluarganya).” (HR Bukhari)

Memberi Nafkah Terhadap Keluarga

17 Apr

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits

Allah berfirman: “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.” (al-Baqarah: 233)

Allah berfirman: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (at-Thalaq: 7)

Allah berfirman: “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya.” (Saba’: 39)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.” (HR Muslim)

Dari Abu Abdullah (Abu Abdurrahman) Tsauban bin Bujdud, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang pada keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk kendaraan di jalan Allah, dan dinar yang dinafkahkan untuk membantu teman seperjuangan di jalan Allah.” (HR Muslim)

Dari Ummu Salamah ra. ia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah saw.: “Apakah saya mendapat pahala apabila saya memberi nafkah kepada putera-putera Abu Salamah, karena saya tidak akan membiarkan mereka berkeliaran mencari makan kesana-kemari. Sesungguhnya merekapun anak-anak saya?” Beliau menjawab: “Ya, kamu mendapat pahala terhadap apa yang kamu nafkahkan kepada mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. dalam hadits yang panjang kami tulis pada bab niat, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadanya: “Sesungguhnya apa yang kamu nafkahkan dengan maksud kamu mencari keridlaan Allah, niscaya kamu akan diberi pahala sampai apa saja yang kamu sediakan untuk istrimu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Mas’ud al-Badriy ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apabila seseorang menafkahkan harta untuk keperluan keluarganya dan hanya berharap dapat memperoleh pahala, maka hal itu akan dicatat sebagai sedekah baginya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Seseorang cukup dianggap berdosa apabila ia menyia-nyiakan orang yang harus diberi belanja.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Setiap ada dua malaikat yang datang kepada seseorang, yang satu berdoa: Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya. Dan yang lain berdoa: Ya Allah, binasakanlah harta orang yang kikir.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tangan di atas (pemberi) itu lebih baik daripada tangan yang di bawah (yang meminta) dan dahulukanlah orang yang menjadi tanggunganmu. Sebaik-baik sedekah adalah sedekah yang diberikan oleh orang yang mempunyai kelebihan. Siapa saja yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan menjaga kehormatannya, dan siapa saja yang merasa dirinya cukup, maka Allah akan mencukupkannya.” (HR Bukhari)