Tag Archives: Kematian

Kematian ayah, ibu, dan kakek Nabi Muhammad saw.

9 Mei

Sejarah Rasulullah saw.
Al-Hafiz Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisy
Penerjemah: Team Indonesia; Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah; IslamHouse.com

Ayahnya meninggal dunia ketika ia berusia dua puluh delapan bulan. Menurut sebagian ulama usianya tujuh bulan ketika ayahnya meninggal. Ada lagi yang berpendapat bahwa ayahnya meninggal di perkampungan an-Nabighah ketika ia masih janin. Dan dikatakan pula bahwa ayahnya wafat di daerah Abwa yang terletak antara Makkah dan Madinah.

Abu Abdillah Zubair bin Bakkar az-Zubairi berkata: Abdullah bin Abdul Mutthalib wafat di Madinah ketika Muhammad berusia dua bulan.
Sedangkan ibunya meninggal dunia ketika ia berusia empat tahun. Sementara kakeknya meninggal dunia ketika usia Muhammad delapan tahun. Dikatakan pula bahwa ibunya wafat ketika ia berusia enam tahun.

&

Makhluk Bernama “Kematian” Dieksekusi di Antara Surga dan Neraka

7 Mar

Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Saat ada pangginlan, ahli surga ditanya tentang apa saja yang tampak oleh mereka, dengan kalimat pertanyaan, “Tahukah kalian, apakah ini?” Mereka menjawab, “Ya kami tahu, ini adalah kematian.” Kemudian dieksekusi-lah kematian tersebut di depan mereka sehingga bahagialah jiwa mereka dengan kebahagiaan yang sangat besar. Mereka sangat senang sebab makhluk yang bernama kematian sudah dieksekusi, dan yang tinggal adalah keabadian di surga yang penuh kenikmatan.

Diceritakan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ketika Allah memasukkan seluruh ahli surga ke dalam surga, dan masuklah seluruh ahli neraka ke dalam neraka. Lalu didatangkanlah makhluk bernama ‘kematian’ di atas jembatan di antara ahli surga dan ahli neraka. Allah berfirman kepada ahli surga, ‘Wahai seluruh ahli surga.’ Mereka pun menampakkan diri dengan raut wajah ketakutan. Dikatakan [oleh Allah] kepada ahli neraka, ‘Wahai seluruh ahli neraka.’ mereka pun menampakkan diri dengan raut wajah riang gembira karena mengharap syafaat [pertolongan dari Allah].

Ditanyakan [oleh Allah] kepada ahli surga dan ahli neraka, ‘Tahukah kalian, makhluk apakah ini?’ Mereka semua menjawab, ‘Ya. Kami mengetahuinya. Ia adalah makhluk yang bernama kematian, karenanyalah kami semua tidur [meninggal dunia].’ Lalu dieksekusilah makhluk yang bernama kematian tersebut di sebuah jembatan antara surga dan neraka. Lalu Allah berfirman, ‘Wahai ahli surga, kekal-lah dan tidak mati lagi. Wahai ahli neraka, kekal-lah dan tidak mati lagi.’” (HR Turmudzi dan Nasa’i) hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Albani.

Disebutkan dalam dua kitab hadits Shahih [Bukhari dan Muslim], “Kematian didatangkan dalam bentuk seperti seekor kambing kibas dengan bulu yang indah, lalu ia disembelih dengan posisi di antara surga dan neraka. Kemudian datanglah suara [dari Allah swt.] seraya memanggil, ‘Wahai ahli surga, kekal-lah dan tidak ada kematian lagi.’ Penduduk neraka pun memperoleh panggilan yang sama, ‘Wahai ahli neraka, kekallah dan tidak ada kematian lagi.’” (HR Bukhari dan Muslim)

Diceritakan dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Pada hari kiamat, makhluk Allah yang bernama ‘kematian’ itu didatangkan dengan rupa seperti seekor kambing kibas dengan bulu yang indah, lalu ia diposisikan di antara surga dan neraka. Kemudian ditanyakan [oleh Allah] kepada ahli surga, ‘Wahai ahli surga, tahukah kalian, makhluk apakah ini?’ Mereka semua menjawab, ‘Ya. Kami mengetahuinya. Ia adalah makhluk yang bernama kematian.’ Lalu ditanyakanlah kepada ahli neraka, ‘Wahai ahli neraka, tahukah kalian, makhluk apakah ini?’ Mereka semua menjawab, ‘Ya. Kami mengetahuinya. Ia adalah makhluk yang bernama kematian.’ Lalu Allah memerintahkan malaikat untuk menyembelih. Kemudian Allah swt. berfirman, ‘Wahai ahli surga, kekallah dan tidak ada kematian lagi! Wahai ahli neraka, kekallah dan tidak ada kematian lagi!’ Lalu Rasulullah saw. membacakan ayat [yang artinya]: “Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, [yaitu] ketika segala perkara telah diputus, sedangkan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman. (Maryam: 39).”

Diceritakan dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah swt. memasukkan ahli surga ke dalam surga dan memasukkan ahli neraka ke dalam neraka. Lalu, dibangkitkan malaikat pemanggil di antara mereka dan berkata, ‘Wahai ahli surga, tidak ada kematian bagi kalian. Wahai ahli neraka, tidak ada kematian bagi kalian. Semuanya kekal dengan apa yang ada sekarang!’” (HR Bukhari dan Muslim)

Diceritakan dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ketika seluruh ahli surga sudah masuk surga, dan seluruh ahli neraka sudah masuk ke dalam neraka, lalu didatangkan makhluk bernama ‘kematian’. Lalu ia disembelih dengan posisi di antara surga dan neraka. kemudian datanglah suara [dari Allah] seraya memanggil, ‘Wahai ahli surga, tidak ada kematian bagimu! Wahai ahli neraka, tidak ada kematian bagimu!’ Ahli surga bertambah senang, sedangkan ahli neraka semakin bertambah berduka.” (HR Muslim)

&

Kematian adalah Kaffarah bagi Setiap Muslim

17 Feb

At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi; Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Abu Nu’aim telah meriwayatkan dari Ashim al-Ahwal, dari Anas bin Malik berkata, Sabda Rasulullah saw., “Kematian adalah kaffarah bagi setiap Muslim.” (Maudlu; dlaif al-Jami’ [5950] karya al-Albani)
Demikian disebutkan oleh al-Qadli Abu Bakar bin al-Arabi dalam kibatnya, Siraj al-Muridin, dimana dikatakannya hadits ini shahih-hasan.

PENGERTIAN KAFFARAH

Pada mulanya maksud hadits di atas adalah, bahwa kematian itu menjadi penghapus terhadap segala macam penderitaan dan rasa sakit yang dirasakan oleh si mayit selama sakitnya. Dalam pada itu Nabi saw. bersabda, “Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah berupa sakit atau lainnya, melainkan Allah mengurangi keburukan-keburukannya dengan musibah itu, sebagaimana pohon merontokkan daun-daunnya.” (HR Muslim)

Dalam al-Muwaththa’ terdapat riwayat dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw., “Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, maka Dia memberinya musibah.”

Adapun dalam sebuah khabar yang ma’tsur, Allah swt, berfirman: “Sesungguhnya Aku tidak akan mengeluarkan seseorang dari dunia, sedang Aku berkehendak merahmatinya, sebelum Aku memberinya balasan yang setimpal atas setiap keburukan yang telah dia lakukan, berupa sakit pada tubuhnya, musibah pada keluarga dan anaknya, kesempitan pada penghidupannya, dan kekurangan pada rizkinya. Aku membalasnya sampai kepada keburukan-keburukan yang sebiji sawi sekalipun. Dan jika masih tesisa, maka akan Aku persulit kematiannya. Dengan demikian dia datang kepada-Ku dalam keadaan seperti pada hari dia dilahirkan ibunya.”

Penulis mengatakan bahwa, ini berbeda dengan orang yang tidak dicintai oleh Allah dan tidak diridlai-Nya, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah khabar, dimana Allah berfirman:
“Demi kejayaan dan keagungan-Ku, Aku tidak akan mengeluarkan seseorang pun dari dunia, yang Aku berkehendak mengadzabnya, sebelum Aku memberinya balasan yang setimpal atas setiap kebaikan yang telah dia lakukan, berupa kesehatan pada tubuhnya, kelapangan pada rizkynya, kenyamanan pada penghidupannya, dan keamanan pada jalan yang ditempunya. Aku memberinya balasan sampai kepada kebaikan-kebaikan yang seberat biji sawi sekalipun. Dan jika masih tersisa dari kebaikannya, maka akan Aku ringankan kematiannya. Dengan demikian, dia akan datang kepada-Ku dalam kedaan tidak mempunyai satu kebaikan pun untuk menjaga dirinya dari neraka.”

Penulis katakan, bahwa semakna dengan khabar di atas, ada hadits Abu Dawud dengan sanad shahih, yang disebutkan oleh Abu al-Hasan bin al-Hishar, dari Ubaid bin Khalid as-Sulami, dari Nabi saw., “Kematian mendadak adalah maut yang menyedihkan bagi orang kafir.” (shahih al jami’ [631] karya al-Albani. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud secara mursal)

Sedang menurut riwayat at-Tirmidzi dair ‘Aisyah ra. “Sesungguhnya mati mendadak itu kenyamanan bagi orang mukmin, dan hukuman yang menyedihkan atas orang kafir.”

Bahkan diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. bahwa Nabi Dawud as. meninggal dunia secara mendadak pada hari Sabtu.

Dan dari Zaid bin Aslam, bekas budak Umar bin al-Khaththab ra, dia berkata, “Apakah masih tersisa suatu dosa pada seorang mukmin, yang tidak diimbangi dengan amalnya (yang baik), maka dia dipersulit kematiannya, agar –dengan merasakan sakaratul maut dan berbagai kesulitannya- dia bisa sampai ke derajat masuk surga. Dan sesungguhnya seorang kafir, apabila telah melakukan suatu kebaikan di dunia, maka kematiannya dipermudah, supaya pahala kebaikannya terbalas dengan sempurnanya semasa di dunia, kemudian dia dimasukkan ke neraka.” demikian disebutkan Abu Muhammad Abdul Haq.

Al-Hafidz Abu Nu’aim juga telah mengeluarkan sebuah hadits dari al-A’masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah, dia berkata, Sabda Rasulullah saw.: “Nyawa orang mukmin itu keluar bagaikan keringat. Dan sesungguhnya nyawa orang kafir itu terhunus bagaikan dihunusnya nyawa keledai. Dan sesungguhnya orang mukmin itu telah melakukan kesalahan juga. Maka dia dipersulit ketika meninggal, agar dengan demikian terhapus dosanya. Dan sesungguhnya orang kafir itu pun telah melakukan kebaikan. Maka dimudahkan ketika meninggal, agar dengan demikian terbalas kebaikannya.” Demikian disebutkan oleh Abu Muhammad Abdul Haq.

Dan Ibnul Mubaraq menyebutkan pula bahwa Abu ad-Darda’ ra. berkata, “Aku menyukai mati, karena rinduku kepada Tuhanku. Aku menyukai sakit, karena dia menghapus kesalahanku. Dan aku menyukai kefakiran, karena rendah diri kepada Tuhanku Azza wa jalla.”

&

Ketika Sekarat dan Menderita Kematian

19 Jul

Dr. Yusuf Qardhawy; Fatwa Kontemporer; Fiqih Kontemporer

Apabila keadaan si sakit sudah berakhir dan memasuki pintu maut –yakni saat-saat meninggalkan dunia dan menghadapi akhirat, yang diistilahkan dengan ihtidhar (detik-detik kematian/kedatangan tanda-tanda kematian)– maka seyogianya keluarganya yang tercinta mengajarinya atau menuntunnya mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah (Tidak ada tuhan selain Allah) yang merupakan kalimat tauhid, kalimat ikhlas, dan kalimat takwa, juga merupakan perkataan paling utama yang diucapkan Nabi Muhammad saw. dan nabi-nabi sebelumnya.

Kalimat inilah yang digunakan seorang muslim untuk memasuki kehidupan dunia ketika ia dilahirkan dan diazankan di telinganya (bagi yang berpendapat demikian; Penj.), dan kalimat ini pula yang ia pergunakan untuk mengakhiri kehidupan dunia. Jadi, dia menghadapi atau memasuki kehidupan dengan kalimat tauhid dan meninggalkan kehidupan pun dengan kalimat tauhid.

Ulama-ulama kita mengatakan, “Yang lebih disukai untuk mendekati si sakit ialah famili yang paling sayang kepadanya, paling pandai mengatur, dan paling takwa kepada Tuhannya.
Karena tujuannya adalah mengingatkan si sakit kepada Allah Ta’ala, bertobat dari maksiat, keluar dari kezaliman, dan agar berwasiat. Apabila ia melihat si sakit sudah mendekati ajalnya, hendaklah ia membasahi tenggorokannya dengan meneteskan air atau meminuminya dan membasahi kedua bibirnya dengan kapas, karena yang demikian dapat memadamkan kepedihannya dan memudahkannya mengucapkan kalimat syahadat.”94

Kemudian dituntunnya mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah mengingat hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abi Sa’id secara marfu’: “Ajarilah orang yang hampir mati diantara kalian dengan kalimat laa illaaha illallah.”95

Orang yang hampir mati didalam hadits ini disebut dengan “mayit” (orang mati) karena ia menghadapi kematian yang tidak dapat dihindari.

Jumhur ulama berpendapat bahwa menalkin (mengajari atau menuntun) orang yang hampir mati dengan kalimat laa ilaaha illallah ini hukumnya mandub (sunnah), tetapi ada pula yang berpendapat wajib berdasarkan zhahir perintah. Bahkan sebagian pengikut mazhab Maliki mengatakan telah disepakati wajibnya.96

Hikmah menalkin kalimat syahadat ialah agar akhir ucapan ketika seseorang meninggal dunia adalah kalimat tersebut, mengingat hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Hakim serta disahkan olehnya dari Mu’adz secara marfu’: “Barangsiapa yang akhir perkataannya kalimat laa ilaaha illallah, maka ia akan masuk surga.”97

Dicukupkannya dengan ucapan laa ilaaha illallah karena pengakuan akan isi kalimat ini berarti pengakuan terhadap yang lain, karena dia mati berdasarkan tauhid yang diajarkan Nabi
Muhammad saw., disamping itu agar jangan terlalu banyak ucapan yang diajarkan kepadanya.

Sebagian ulama berpendapat agar menalkinkan dua kalimat syahadat, karena kalimat kedua (Muhammad Rasulullah) mengikuti kalimat pertama. Tetapi yang lebih utama ialah mencukupkannya dengan syahadat tauhid, demi melaksanakan zhahir hadits.

Seyogyanya, dalam menalkinkan kalimat tersebut jangan diperbanyak dan jangan diulang-ulang, juga janganlah berkata kepadanya: “Ucapkanlah laa ilaaha illallah,” karena dikhawatirkan ia merasa dibentak sehingga merasa jenuh, lalu ia mengatakan, “Saya tidak mau mengucapkannya,” atau bahkan mengucapkan perkataan lain yang tidak layak. Hendaklah kalimat ini diucapkan kepadanya sekiranya ia mau mendengarnya dan memperhatikannya, kemudian mau mengucapkannya .

Atau mengucapkan apa yang dikatakan oleh sebagian ulama, yaitu berdzikir kepada Allah dengan mengucapkan: “Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah.”

Apabila ia sudah mengucapkan kalimah syahadat satu kali, maka hal itu sudah cukup dan tidak perlu diulang, kecuali jika ia mengucapkan perkataan lain sesudah itu, maka perlu diulang menalkinnya dengan lemah lembut dan dengan cara persuasive (membujuknya agar mau mengucapkannya), karena kelemahlembutan dituntut dalam segala hal terlebih lagi dalam kasus ini. Pengulangan ini bertujuan agar perkataan terakhir yang diucapkannya adalah kalimat laa ilaaha illallah.

Diriwayatkan dari Abdullah bin al-Mubarak bahwa ketika ia kedatangan tanda-tanda kematian (yakni hampir meninggal dunia) ada seorang laki-laki yang menalkinkannya secara berulang-ulang, lantas Abdullah berkata, “Seandainya engkau ucapkan satu kali saja, maka saya tetap atas kalimat itu selama saya tidak berbicara lain.”

Dalam hal ini, sebaiknya orang yang menalkinkannya ialah orang yang dipercaya oleh si sakit, bukan orang yang diduga sebagai lawannya (ada rasa permusuhan dengannya) atau orang yang hasad kepadanya, atau ahli waris yang menunggu-nunggu kematiannya.98

Sementara itu, sebagian ulama menyukai dibacakan surat Yasin kepada orang yang hampir mati berdasarkan hadits: “Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang hampir mati diantara kamu.”99
Namun demikian, derajat hadits ini tidak sahih, bahkan tidak mencapai derajat hasan, sehingga tidak dapat dijadikan hujjah.

Disamping itu, disukai menghadapkan orang yang hampir mati ke arah kiblat jika memungkinkan –karena kadang-kadang si sakit tengah menjalani perawatan di rumah sakit hingga ia menghadap ke arah yang sesuai dengan posisi ranjang tempat ia tidur.

Yang menjadi dalil bagi hal ini adalah hadits Abu Qatadah yang diriwayatkan oleh Hakim, bahwa ketika Nabi saw. datang di Madinah, beliau bertanya tentang al-Barra’ bin Ma’rur, lalu
para sahabat menjawab bahwa dia telah wafat, dan dia berpesan agar dihadapkan ke kiblat ketika hampir wafat, lalu Rasulullah saw. bersabda: “Sesuai dengan fitrah.”100

Imam Hakim berkata, “Ini adalah hadits sahih, dan saya tidak mengetahui dalil tentang menghadapkan orang yang hampir mati ke arah kiblat melainkan hadits ini.”101

Ada dua macam pendapat dari para ulama mengenai cara menghadapkan orang sakit ke arah kiblat ini:

Pertama, ditelentangkan di atas punggungnya, kedua telapak kakinya ke arah kiblat, dan kepalanya diangkat sedikit agar wajahnya menghadap ke arah kiblat, seperti posisi orang yang dimandikan. Pendapat ini dipilih oleh beberapa imam dari mazhab Syafi’i, dan ini merupakan pendapat dalam mazhab Ahmad.

Kedua, miring ke kanan dengan menghadap kiblat, seperti posisi dalam liang lahad. Ini merupakan pendapat mazhab Abu Hanifah dan Imam Malik, dan nash Imam Syafi’i dalam al-Buwaithi, dan pendapat yang mu’tamad (valid) dalam mazhab Imam Ahmad.

Sebagian ulama memperbolehkan kedua cara tersebut, mana yang lebih mudah. Sedangkan Imam Nawawi membenarkan pendapat yang kedua, kecuali jika tidak memungkinkan cara itu karena tempatnya yang sempit atau lainnya, maka pada waktu itu boleh dimiringkan ke kiri dengan menghadap kiblat. Jika tidak memungkinkan, maka di atas tengkuknya atau punggungnya.102

Imam Syaukani berkata, “Yang lebih cocok ialah menghadap kiblat dengan miring ke kanan, berdasarkan hadits al-Barra’ bin Azib dalam Shahihain: “Apabila engkau hendak naik ke tempat tidurmu maka berwudhulah seperti wudhumu ketika hendak shalat, kemudian berbaringlah di atas lambungmu sebelah kanan.”

Dalam riwayat lain disebutkan: “Jika engkau meninggal dunia pada malam harimu itu, maka engkau berada pada fitrah (kesucian).”103
Dari riwayat ini tampak bahwa seyogyanya orang yang hampir meninggal dunia hendaklah dalam posisi seperti itu.

Diriwayatkan juga dalam al-Musnad dari Salma Ummu Walad Abu Rafi’ bahwa Fatimah binti Rasulullah saw. radhiyallahu ‘anha, ketika akan meninggal dunia beliau menghadap kiblat, kemudian berbantal dengan miring ke kanan.104

&

Orang Sakit Mengharap Kematian

19 Jul

Dr. Yusuf Qardhawy; Fatwa Kontemporer; Fiqih Kontemporer

Apabila si sakit diperbolehkan mengeluhkan penderitaannya sebagaimana saya sebutkan, maka tidaklah baik baginya mengharapkan kematian atau meminta kematian karena penderitaan yang dialaminya, mengingat hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Anas bahwa Nabi saw. bersabda:

“Jangan sekali-kali seseorang diantara kamu mengharapkan kematian karena penderitaan yang dialaminya. Jika ia harus berbuat begitu, maka hendaklah ia mengucapkan, ‘Ya Allah, hidupkanlah aku jika hidup itu lebih baik bagiku; dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik
bagiku.”83

Hadits Abu Hurairah r.a. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan lainnya menjelaskan hikmah larangan ini, maka Nabi saw. bersabda: “Dan jangan sekali-kali salah seorang diantara kamu
mengharapkan kematian, karena kalau ia orang baik maka boleh jadi akan menambah kebaikannya; dan jika ia orang yang jelek maka boleh jadi ia akan bertobat dengan tulus.”84

Makna kata yasta’tibu ialah kembali dari segala sesuatu yang menjadikannya tercela, caranya ialah dengan melakukan tobat nashuha (tobat yang tulus).

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda:
“Jangan sekali-kali salah seorang diantara kamu mengharapkan kematian dan jangan pula berdoa memohon kematian sebelum datang waktunya. Sesungguhnya kematian itu apabila datang kepada salah seorang diantara kamu maka putuslah amalnya, dan sesungguhnya tidak bertambah umur orang mukmin itu melainkan hanya menambah kebaikan baginya.”85

Para ulama mengatakan, “Sebenarnya dimakruhkannya mengharapkan kematian itu hanyalah apabila berkenaan dengan kemudaratan atau kesempitan hidup duniawi, tetapi tidak dimakruhkan apabila motivasinya karena takut fitnah terhadap agamanya, karena kerusakan zaman, sebagaimana dipahami dari hadits Anas di atas. Banyak diriwayatkan dari kalangan salaf yang mengharapkan kematian ketika mereka takut fitnah terhadap agamanya.”86

Hal ini diperkuat oleh hadits Mu’adz bin Jabal mengenai doa Nabi saw.: “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu (agar Engkau menolongku untuk) melakukan kebaikan, meninggalkan kemunkaran, dan mencintai orang-orang miskin. Dan apabila Engkau menghendaki suatu fitnah kepada suatu kaum, maka wafatkanlah aku untuk menghadapMu tanpa terkena fitnah.”87

Selain itu, juga disebutkan dalam beberapa hadits yang membicarakan tanda-tanda hari kiamat bahwa kelak akan ada seseorang yang melewati kubur saudaranya, lalu ia mengatakan, “Alangkah baiknya kalau aku yang menempati tempatnya (kuburnya).”

Tidak disukainya (dimakruhkannya) mengharapkan kematian ini dengan ketentuan apabila hal itu dilakukan sebelum datangnya pendahuluan kematian; namun jika setelah pendahuluan kematian itu datang, maka tidak terlarang dia mengharapkannya karena merasa rela bertemu Allah, dan tidak terlarang pula bagi orang yang meminta kematian karena kerinduannya untuk bertemu dengan Allah Azza wa Jalla.

Karena itu, dalam bab ini pula Imam Bukhari mencatat hadits Aisyah yang mengatakan, “Saya mendengar Nabi saw., sambil bersandar pada saya, berdoa: “Ya Allah, ampunilah aku dan kasih sayangilah aku, dan pertemukanlah aku dengan teman yang luhur.”88

Hal ini sebagai isyarat bahwa larangan tersebut khusus untuk keadaan sebelum datangnya pendahuluan kematian.89

&

Keutamaan Orang yang Kematian Anak Kecil

10 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Setiap orang Islam yang kematian tiga anaknya yang belum dewasa, maka ia akan dimasukkan ke dalam surga atas berkat rahmat Allah terhadap anak-anaknya itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah seseorang di antara umat Islam yang kematian tiga orang anaknya akan tersentuh api neraka, kecuali hanya sekedar untuk menepati sumpah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Yang dimaksud dengan menepati sumpah adalah firman Allah Ta’ala yang artinya: “Dan tidak ada seorangpun di antara kamu sekalian melainkan melewati neraka itu.” Yang dimaksud dengan melewati neraka adalah melewati shirat yaitu titian yang dipasang di atas neraka jahanam. Semoga Allah memberi keteguhan kepada kita dalam melewati titian itu.

Dai Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Ada seorang perempuan datang kepada Rasulullah saw. dan berkata: “Wahai Rasulallah, banyak orang yang telah memperoleh hadits dari engkau, maka berilah kami kesempatan suatu hari yang mana kami akan datang dan di situ sudilah kiranya engkau mengajarkan kepada kami, tentang apa yang telah Allah diajarkan kepadamu.” Beliau bersabda: “Kumpullah kalian semua pada hari anu dan hari anu.” Maka berkumpullah mereka pada hari yang telah ditentukan, dan Nabi saw. mendatangi mereka serta mengajarkan apa yang telah diajarkan Allah, dimana beliau bersabda: “Tiada seorang perempuan pun yang kematian tiga anaknya melainkan mereka menjadi tirai bagi perempuan itu.” Kemudian ada seorang perempuan bertanya: “Juga dua anak [juga akan menjadi tirai?]” Rasulullah saw. bersabda: “Dan juga dua orang anak.” (HR Bukhari dan Muslim)