Tag Archives: kenikmatan

Sifat-Sifat Pintu Surga

17 Feb

Sifat-Sifat Pintu Surga
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Rasulullah menjelaskan karakteristik pintu-pintu surga dalam sebuah hadits yang sangat panjang tentang syafa’atul udzma atau pertolongan besar.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa suatu hari Rasulullah saw. disuguhi sekerat daging. Beliau pun mengambilnya dengan terheran-heran. Beliau mencicipinya satu gigitan dan bersabda, “Aku adalah pemimpin manusia kelak pada hari kiamat. Tahukah kalian mengapa demikian ?” dan seterusnya [hadits ini sengaja dipotong karena sangat panjang] hingga beliau berkata, “Akhirnya, orang-orang pun mendatangiku. Mereka berkata, ‘Wahai Muhammad, engkau adalah Rasulullah dan penutup para Nabi. Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Syafaatilah kami di hadapan Tuhanmu. Tidakkah engkau memperhatikan keadaan kami? Tidakkah engkau memperhatikan apa yang kami alami?’ kemudian aku pergi ke bawah ‘Arsy. Aku bersujud kepada Tuhanku. Kemudian Allah membukakan dan memberikan ilham kepadaku tentang puji-pujian dan sanjungan terbaik pada-Nya yang tidak diberikan kepada siapapun selain diriku. Kemudian Allah berfirman, ‘Hai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah niscaya permintaanmu akan dikabulkan. Mintalah syafaat, niscaya engkau akan diberi wewenang untuk memberi syafaat.’ Aku pun mengangkat kepalaku, lalu berkata, ‘Wahai Tuhanku, umatku, umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Hai Muhammad, umatmu yang tidak perlu dihisab, masukkan ke dalam surga dari pintu sebelah kanan di antara pintu-pintu surga yang ada. Sedangkan umatmu yang lain, masukkan dari pintu-pintu surga selain pintu kanan itu.’ Demi Allah, Dzat yang menguasai diriku, sungguh jarak antara dua sisi pintu surga seperti jarak antara kota Makkah dan kota Hajar, atau seperti jarak antara kota Makkah dan kota Bushra.” (HR Muttafaq ‘alaiHi, Muslim, dan Turmudzi)

Hajar adalah nama salah satu kota di Bahrain. Jarak antara kota Hajar dan Makkah adalah 1.160 km. Sedangkan Bushra ada di Suriah. Jarak antara kota Bushra dan Makkah adalah 1.250 km. Artinya, luar sebuah pintu surga sekitar 1.200 km. Di dalam hadits di sebutkan tentang luasnya sebuah pintu surga karena hari itu benar-benar penuh sesak oleh manusia.

&

Orang-Orang Beriman Dipanggil untuk Memasuki Pintu-Pintu Surga

17 Feb

Orang-Orang Beriman Dipanggil untuk Memasuki Pintu-Pintu Surga
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Pintu surga berjumlah delapan. Jarak antara dua sisi pintu surga seperti jarak antara kota Makkah dan kota Hajar, atau seperti jarak antara kota Makkah dan kota Bushra. Hajar adalah nama salah satu kota di Bahrain. Jarak antara kota Hajar dan Makkah adalah 1.160 km. Sedangkan Bushra ada di Suriah. Jarak antara kota Bushra dan Makkah adalah 1.250 km. Artinya, luar sebuah pintu surga sekitar 1.200 km.

Orang-orang shalih akan dipanggil untuk memasukinya karena amal-amal sunnah mereka. orang-orang yang senang berpuasa akan dipanggil untuk masuk surga dari pintu ar-Rayyan. Setiap golongan akan dipanggil dari pintu-pintu tersebut. Boleh jadi, di antara golongan orang-orang yang tidak perlu dihisab adalah golongan orang-orang yang paling awal masuk Islam, antara lain Abu Bakar ash-Shiddiq ra, sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits setelah dua ayat ini.

Firman Allah yang artinya:
“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan (pula). sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”. (az-Zumar: 73)

“Ini adalah kehormatan (bagi mereka). dan Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) syurga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka,” (Shaad: 49-50)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa bersedekah kepada sepasang suami istri di jalan Allah, ia akan dipanggil dari balik pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah yang lebih baik.’ Barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang berjihad, ia akan dipanggil dari balik pintu jihad. Barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang berpuasa, ia akan dipanggil dari balik pintu ar-Rayyan [pintu kesegaran]. Dan barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang suka bersedekah, ia akan dipanggil dari balik pintu sedekah.
Abu Bakar ra. berkata, “Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, bagi orang yang dipanggil dari salah satu pintu itu, tentunya tidak ada keberatan baginya? Namun, apakah ada orang yang dipanggil dari semua pintu itu?” Rasulullah saw. menjawab, “Ada, dan aku berharap engkau termasuk golongan mereka itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Hadits ini menunjukkan sedikitnya orang yang bisa dipanggil dari semua pintu itu, sekaligus menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan amalan-amalan sunnah adalah amalan-amalan yang bukan amalan wajib. Hal ini dikarenakan banyak orang yang melakukan berbagai macam amalan. Sehingga orang yang melaksanakan semua amalan sunnah, akan dipanggil dari semua pintu surga. Hal ini sebagai penghargaan kepadanya. Kalau tidak demikian, maksudnya tetap dari satu pintu, yang barangkali merupakan amal terbanyak dari orang tersebut. wallaaHu a’lam.

Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya di surga ada pintu yang bernama ar-Rayyan [pintu kesegaran] yang pada hari kiamat nanti, orang-orang yang berpuasa akan masuk melewati pintu itu, dan tidak ada seorang pun yang bisa lewat pintu itu selain mereka. akan ada suara panggilan, ‘Mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka mereka pun masuk melalui pintu tersebut. Jika mereka telah masuk ke dalam surga semua melalui pintu itu, ditutuplah pintu tersebut hingga tidak ada seorang pun yang dapat masuk melalui pintu itu.” (HR Muslim)

&

Minuman Ahli Surga

17 Feb

Minuman Ahli Surga
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Makanan dan minuman adalah dua hal yang menjadi suatu keharusan. Keduanya termasuk diantara kenikmatan surga, sebagaimana makan dan minum termasuk salah satu kesenangan dan kenikmatan dunia. Oleh karena itu, Allah swt berkenan memberi bermacam-macam jenis makanan dan minuman kepada ahli surga, sesuatu yang tidak pernah mereka ketahui atau dengar sebelumnya. Hal itu patut dimaklumi sebab surga adalah alam yang selain alam kehidupan dunia ini.

Bermacam-macam minuman yang lezat dan enak akan disuguhkan oleh anak-anak kecil di surga, mereka akan berkeliling di antara orang-orang mukmin di surga. Di sana terdapat jenis minuman spesial dengan rasa yang enak dan diberi misik untuk menambah kelezatannya.

Di dalam al-Qur’an banyak firman Allah yang menyatakan tentang minuman ahli surga, sebagaimana dijelaskan tentang wadah, gelas, dan cawannya. Ini adalah keutamaan yang agung dari Allah swt karena telah menjelaskan kepada kita sebagian dari kemuliaan dan keutamaan Allah serta apa yang telah dijanjikan kepada para hamba-Nya yang beriman, yaitu orang-orang yang akan masuk surga yang bagi mereka rumah yang kekal dan abadi.

Allah swt berfirman yang artinya:
“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk,” (al-Waaqi’ah: 17-19)

Di surga terdapat anak-anak surga yang mengelilingi orang-orang mukmin dengan membawa gelas, cerek, serta minuman, dengan keindahan dan kelezatannya, yang di antaranya adalah minuman khamr [khamr surga], sebagaimana difirmankan Allah swt, “Mereka tidak pening karenanya dan tidak mabuk,” artinya mereka tidak pernah merasakan pusing karena meminumnya atau menyebabkan hilang ingatan, sebagaimana yang terjadi kalau meminum khamr di dunia.

Firman Allah yang artinya:
“Di dalam syurga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil.” (al-Insaan: 17-18)

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur, (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.” (al-Insaan: 5-6)

“Mereka memakai pakaian sutera Halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih [dan suci].” (al-Insaan: 21)

“Ini adalah kehormatan (bagi mereka). dan Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) syurga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka, di dalamnya mereka bertelekan (diatas dipan-dipan) sambil meminta buah-buahan yang banyak dan minuman di surga itu.” (Shaad: 49-51)

Arti kata “mizaajuHaa zanjabiilaa” dalam surah al-Insan ayat 17 adalah minuman yang bisa dicampur dan ditaruh dalam gelas, seperti jahe, dengan kualitas yang sangat bagus.

mizaajuHaa kafuuraa; adalah minuman yang bisa dicampur dan ditaruh dalam gelas dicampur dengan air kafur [nama suatu mata air di surga yang airnya putih dan baunya sedap serta enak sekali rasanya], dengan kualitas yang bagus.

Syaraaban thaHuuraa; adalah minuman yang disuguhkan, yang tidak cacat atau kotor sedikitpun, bahkan minuman tersebut adalah suci.

BifaakiHatin katsiiratiw wa syaraab; adalah minuman yang disuguhkan dalam berbagai macam warna dan jenis minuman.

Di surga, Allah telah mengalirkan sungai yang bermacam-macam, baik jenis maupun karakteristik yang bermacam-macam. Di sana juga terdapat minuman untuk ahli surga yang dapat diminum setiap saat tidak terputus-putus, sebagaimana tidak terputusnya aliran sungai tersebut selamanya.

Firman Allah swt yang artinya:
“(apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?” (Muhammad: 15)

Para ahli tafsir mengatakan tentang ayat ini bahwa Allah swt menyatakan tentang sungai-sungai itu. Allah swt juga mengalirkan sungai berupa minuman untuk ahli surga, perhiasan dan pemandangan yang menggiurkan. Sungai-sungai tersebut mengalir dengan berbagai macam warna minuman dan perhiasan terus-menerus, di sekitar dan di bawah istana mereka serta taman-taman mereka. mereka akan memperolehnya tanpa harus capai atau bersusah payah.

“Di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau.” Artinya di surga terdapat sungai-sungai yang mengalir dengan air yang baunya tidak pernah berubah. Ibnu Mas’ud ra. mengatakan bahwa sungai-sungai di surga memancar dari sebuah gunung yang terdiri atas parfum misik.

“Dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya.” Artinya sungai-sungai yang mengalir, yang terdiri atas susu yang warnanya sangat putih manis dan benar-benar full cream, tidak akan basi dan juga tidak akan rusak, berbeda dengan susu yang ada di dunia, serta tidak pernah keluar dari susu binatang ternak.

“Dan sungai-sungai madu yang murni.” Artinya sungai-sungai yang mengalir terdiri atas madu dan kualitas yang benar-benar murni, berwarna, dan beraroma baik, serta tidak keluar dari perut lebah. Abu as-Su’ud mengatakan tentang firman Allah, “Asalin mushaffaa”, yang berarti madu yang tidak bercampur dengan sarang lebah atau hal-hal lain yang berkaitan dengan lebah. Semuanya mengalir dan tangan orang-orang mukmin mudah meraihnya kapan saja mereka inginkan, bukan hanya satu, dua, seribu atau sepuluh juta kali. Sungguh tidak terbatas, tidak terputus, tidak akan berkurang, tidak akan tertutup, tidak berubah dan tidak terlarang. Hal itu akan berlaku terus-menerus selamanya, dari Allah Dzat Yang Maha Penyayang serta Mahamulia.

&

Makanan Ahli Surga

17 Feb

Makanan Ahli Surga
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Makanan pertama yang dihidangkan Allah sebagai penghormatan untuk ahli surga adalah menu hati ikan laut, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hamparan bumi di hari kiamat laksana sepotong roti yang digenggam sendiri oleh Allah swt. seperti kalian memegang roti saat perjalanan. Allah melakukannya karena perhatian-Nya kepada ahli surga.” Lalu seorang Yahudi datang dengan berkata, “Semoga keberkahan Allah akan senantiasa kepadamu, wahai Abul Qasim [julukan Muhammad saw.).” “Bukankah telah aku katakan tentang penghormatan terhadap ahli surga pada hari kiamat?” Si Yahudi berkata, “Ya, sudah.” Abu Said al-Khudri berkata, “Bumi menjadi seperti sepotong roti, sebagaimana sabda Rasulullah saw. kepada kami.” Rasulullah saw. memandangi kami, kemudian tertawa hingga gigi gerahamnya terlihat. Kemudian beliau bersabda, “Bukankah telah aku katakan tentang idam [lauk] mereka, yaitu dengan kata Lam dan Nun.” Para shahabat bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulallah?” Rasulullah saw. menjawab, “Daging sapi dan ikan, yang keduanya dimakan sebagai tambahan hati, sebanyak 70.000.” (HR Bukhari dan Muslim)

Imam Nawawi menjelaskan seputar penjelasan hadits di atas. Menurutnya, “Lafal nuzul [penghormatan] itu adalah seperti yang biasa disuguhkan kepada tamu di saat mereka datang dan Allah swt menyediakan hidangan tersebut dengan tangan [kekuasaan]-Nya.” maksudnya, mengalihkan dari tangan yang menjulurkan pada tangan yang akan menerima sehingga kedua tangan dapat bertemu karena tidak terbentang seperti halnya hamparan kertas atau sejenisnya. Maksud dari hadits tersebut bahwa Allah swt. menciptakan bumi ibarat roti yang besar, dan itu yang akan menjadi makanan ahli surga. Maksud dari kata “nun” adalah ikan, sedangkan “lam” adalah kata perumpamaan yang berarti daging sapi. Sedangkan, yang dimaksud “tambahan hati ikan” adalah sepotong tersendiri yang berhubungan dengan hati, yang diambil dari yang terbaik.

Diriwayatkan dari Tsauban bahwa ada seorang Yahudi bertanya kepada Rasulullah saw. “Apa saja penghormatan pertama yang diberikan Allah kepada ahli surga?” Rasulullah saw. menjawab, “Hidangan hati ikan.” Orang Yahudi bertanya lagi, “Lalu, apa makan siangnya?” Rasulullah menjawab, “Seekor sapi surga akan disembelih untuk mereka, yang akan dimakan dari ujungnya.” Orang Yahudi itu bertanya lagi, “Lalu apa minumannya?” Rasulullah saw. menjawab, “Sebuah mata air surga yang dinamakan salsabila.” Orang Yahudi itu berkata, “Anda benar.” (HR Muslim)

Dalam kitab shahih Bukhari disebutkan bahwa Abdullah bin Salam menyampaikan beberapa pertanyaan kepada Rasulullah saw. ketika pertama kali datang ke Madinah. Antara lain ia bertanya, “Apa yang pertama kali dimakan ahli surga?” Rasulullah saw. menjawab, “Hidangan hati ikan.” (HR Bukhari)

Betapa pun manusia bisa memberikan suatu karakteristik tentang makanan ahli surga, serperti hendak menyampaikan tentang madzaqah [rasa], boleh jadi coretan pena tidak mampu membahasnya. Madzaq adalah pewarnaan atau pemberian bumbu oleh Allah swt. sebagaimana kita bisa mewarnai atau memberi bumbu makanan kita di dunia. Kadar selera mereka di surga akan seimbang dengan status penghormatan yang abadi, yang diberikan kepada mereka oleh Allah swt yang abadi. sedangkan, makanan yang dihidangkan juga merupakan makanan yang beraroma rasa yang membuat jiwa dan penciuman mereka bahagia. Makanan tersebut dihidangkan pada bejana-bejana yang keindahannya tidak dapat dibahasakan, yang terbuat dari emas murni dan perak murni.

Allah berfirman yang artinya:
“Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya”. (az-Zukhruf: 71)

Ayat ini sangat mulia, bahkan bisa dikatakan termasuk ayat-ayat mulia. Pada ayat tersebut memuat keterangan tentang keutamaan Allah swt, kemuliaan, dan nikmat-Nya terhadap orang-orang mumin di surga.

Yuthaafu ‘alaiHim bi shihaafin; istilah shihaaf hanya untuk makanan yang disajikan seperti yang telah dibicarakan oleh Allah swt. tentang hal tersebut dengan kata-kata “wa fiiHaa” (dan di dalamnya). Maksudnya, di piring-piring yang berisi makanan-makanan tersebut terdapat segala apa yang mengundang selera dan sedap [dipandang] mata.

Artinya, ini menunjukkan kemuliaan hidangan yang dibuat sebagai penghormatan kepada orang-orang mukmin di surga Allah swt. Ini benar-benar menjadi petunjuk yang sangat jelas akan adanya bermacam-macam makanan.

“Wa fiiHaa maa tasy-taHiiHil anfus.” Maksudnya segala yang menjadi keinginan orang-orang mukmin, dari berbagai macam makanan akan dihidangkan kepadanya, yang akan dibawa oleh barisan anak-anak, yang rupa mereka seolah seperti mutiara yang tersimpan dengan baik, indah dalam keindahan, hebat dalam kehebatan, baik dalam kebaikan, lezat dalam kelezatan yang tidak henti dan tidak tercegah. Tidak seorang pun yang tidak bisa makan manakala ia menginginkannya.

Ibnu Katsir menjelaskan maksud firman Allah swt. pada surah az-Zukhruf: 71 adalah sebagai berikut:
Yuthaafu ‘alaiHim bi shihaafim min dzaHabin; maksudnya adalah piring-piring, wadah makanan. Wa fiiHaa maa tasy-taHiiHil anfus; sebagian ulama ahli Qiraat membacanya dengan tasy-taHil anfus. Wa taladzdzul a’yun; berarti makanan yang baik, beraroma, serta sedap dipandang mata.

Ibnu Katsir mengatakan, diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ahli surga yang paling rendah pangkatnya dan paling rendah pula posisinya bagi seseorang, yang setelah itu tidak ada lagi orang yang msuk surga, akan dilonggarkan pandangannya sejauh perjalanan 100 tahun dalam sebuah istana yang terbuat dari emas serta tenda dan mutiara. Di sana tidak akan ditemukan sejengkal tempat pun, kecuali kesejahteraan, diberi makan, serta bersenang-senang bersama 70.000 lapis emas dimana tidak satu lapis pun terdapat warna yang tidak ada duanya. Dari awal hingga akhir kesenangannya tidak akan mengalami perubahan, akan selalu sama. Kalau saja seluruh penduduk bumi turun ke tempat tersebut, niscaya tempat tersebut masih cukup dan tidak berkurang sedikitpun dari apa yang telah dianugerahkan Allah swt.”

Firman Allah yang artinya: “Dan daging burung apa pun yang mereka inginkan.” (Al-Waaqi’ah: 21)

Yang dimaksud disini burung-burung yang jenisnya sangat banyak, enak rasanya, dan lezat dagingnya. Tidak seorang pun tahu seperti apa burung-burung surga itu, baik warna, bentuk, maupun rasanya kecuali Allah swt. Seperti itulah yang akan disuguhkan Allah swt di atas piring yang terbuat dari emas, yang dikelilingi oleh anak-anak yang tinggal di surga. Itulah makanan yang mengundang selera dan sedap dipandang mata.

Ibnu Abbas ra. mengatakan bahwa daging burung tersebut adalah yang mereka senangi dan mengundang selera. Ibnu Abbas mengatakan bahwa ketika di hati ahli surga terbersit keinginan menyantap daging burung, burung yang diinginkan tersebut berbang dan hinggap di depannya sesuai dengan apa yang diinginkan, baik direbus maupun dibakar, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits, “Engkau akan melihat burung di surga, lalu ia akan tunduk hinggap dalam keadaan matang terbakar.” (HR Ibnu Hatim)

Firman Allah yang artinya: “Dan Kami berikan kepada mereka tambahan berupa buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini.” (ath-Thuur: 22)

Kata “lahm” (daging) yang terdapat dalam ayat tersebut merupakan kata umum dan tidak tertentu pada suatu macam atau nama. Kata tersebut meliputi semua jenis daging yang dijanjikan Allah swt kepada orang-orang mukmin di surga.

Sesungguhnya sebagian dari nikmat terbesar itu adalah ketika Allah swt memanggil kita di surga dan berkenan untuk berbicara dengan kita, dengan firman: “[kepada mereka dikatakan] ‘Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.’” (ath-Thuur: 19)

Yang dimaksud dalam firman Allah tersebut adalah makan dan minumlah apa saja yang kalian haramkan atau diharamkan pada diri kalian dari berbagai macam makanan dan minuman. Inilah surga-Ku, makanlah apa saja yang kamu sukai dan mintalah apa saja yang kamu mau. Aku telah mengharamkan kepada kalian sebentar saja saat di dunia. Sekarang kalian berada dalam keabadian. Di surga ini kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan dan kalian akan kekal dan abadi.

&

Surga Dipermudah dengan Segala yang Tidak Disenangi, Neraka Dipermudah dengan Gelora Syahwat

16 Feb

Surga Dipermudah dengan Segala yang Tidak Disenangi, Neraka Dipermudah dengan Gelora Syahwat
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Surga tidak akan terbuka kecuali dengan iman, amal shalih, taat serta menegakkan apa yang difardlukan oleh Allah swt.

Sulaiman bin Harb meriwayatkan [sebagaimana] Hammad bin Salamah meriwayatkan hadits dari Tsabit, yang diterima dari Anas bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Surga dipermudah dengan segala yang disenangi, sedangkan neraka dipermudah dengan gelora syahwat.”

Hasan bin Sufyan meriwayatkan sebuah hadits gharib, sebagaimana Hudbah bin Khalid al-Qisy, Hammad bin salamah meriwayatkan hadits dari Tsabit dan Hamid dari Anas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Surga dipermudah dengan segala yang tidak disenangi, sedangkan neraka dipermudah dengan gelora syahwat.” (HR Ibnu Hibban)

Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab meriwayatkan sebuah hadits, sebagaimana Hammad bin Salamah dari Tsabit dan Hamid, dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Surga dipermudah dengan segala yang tidak disenangi, sedangkan neraka dipermudah dengan gelora syahwat.” (Shahih Muslim)

&

Segala Sesuatu di Surga Kekal

16 Feb

Segala Sesuatu di Surga Kekal
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Segala sesuatu yang ada di surga itu abadi, tidak fana dan tidak binasa. Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ada suara menyeru bahwa kalian semua harus sehat dan tidak sakit selamanya, kalian semua hidup dan tidak mati selamanya, kalian semua muda dan tidak tua selamanya, kalian semua bersenang-senang dan tidak letih selamanya.” (HR Muslim)

“….diserukan kepada mereka, ‘Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu karena apa yang telah kamu kerjakan.’” (al-A’raaf: 43)

Firman Allah di atas diserukan kepada mereka, “Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu karena apa yang telah kamu kerjakan.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa masuk surga, ia akan bersenang-senang dan tidak akan lelah, pakaiannya tidak akan basah, kemudaannya tidak akan hilang.” (HR Muslim)

&

Penciptaan Manusia di Akhirat

16 Feb

Penciptaan Manusia di Akhirat
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Allah swt. berfirman:
“Untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan membangkitkan kamu kelak (di akhirat) dalam Keadaan yang tidak kamu ketahui. dan Sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, Maka Mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)?” (al-Waaqi’ah: 61-62)

Beberapa ayat al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits Rasulullah saw menyatakan bahwa penciptaan fisik orang-orang mukmin ketika sudah sampai di surga akan berbeda dengan ketika berada di dunia. Hal ini terjadi karena adanya penyesuaian dengan kenikmatan surga serta keadaan yang telah dijanjikan Allah kepada orang-orang mukmin.

Syaikh ash-Shabuni dalam Shafwah at-Tafasir menjelaskan berkenaan dengan ayat di atas, “… dan membangkitkan kamu kelak (di akhirat) dalam Keadaan yang tidak kamu ketahui.” (al-Waaqi’ah: 61)

Sepertinya Allah hendak berfirman kepada manusia, “Kami bukan tidak dapat mengembalikan kalian nanti pada hari kiamat dalam penciptaan yang baru, sama sekali kalian tidak mengetahuinya, dan akal kalian juga tidak akan mampu menangkap sama sekali.”

Sedangkan menurut Imam Ibnu Katsir, tafsir dari firman Allah “…. dan membangkitkan kamu kelak [di akhirat] dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.” Adalah Allah mengubah sifat-sifat dan situasi hari kiamat.

Para mufassir menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah manusia nanti akan menjadi makhluk yang baru di hari kiamat, sebagaimana dikuatkan oleh sabda Rasulullah saw. dalam sebuah riwayat:
Diceritakan oleh Ubai ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah menciptakan Nabi Adam sebagaimana rupanya, dengan panjang sekitar 60 hasta. Dan setiap orang yang masuk surga akan berpostur sama seperti Nabi Adam as. dengan tinggi sekitar 60 hasta. Sedangkan makhluk sesudahnya makin berkurang.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya kelompok pertama yang akan masuk surga itu berwajah tampan dan cantik, seperti bulan di malam purnama. Kemudian cahaya wajah orang-orang yang mengikuti di belakangnya seperti bintang kejora yang paling gemerlap cahayanya di langit –dalam sebuah riwayat disebutkan, setelah itu cahaya-cahaya pun turun. Mereka tidak perlu buang air kecil dan buang air besar, perapian /tempat rias mereka seperti kayu gaharu yang sangat harum, istri-istri mereka adalah para bidadari yang bermata bening –dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa setiap orang memiliki dua istri yang air sumsum betisnya terlihat di balik daging karena kecantikannya, dan tidak ada perseteruan atau saling dengki di antara mereka. postur tubuh mereka sama rata, seperti postur kakek moyang mereka, yaitu Nabi Adam as. yang tingginya sekitar 60 hasta.” (HR Muslim)

Dari ayat-ayat dan hadits di atas, makin jelas bahwa ahli surga akan masuk surga dengan wajah yang lebih sempurna dengan postur tubuh seperti kakek mereka yaitu Nabi Adam as. yang diciptakan Allah dengan kekuasaan-Nya, dengan tinggi sekitar 60 hasta. Hal ini merupakan penciptaan yang lain di hari kiamat, sebagaimana dikehendaki Allah swt. dalam firman-Nya yang artinya:

“Untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan membangkitkan kamu kelak (di akhirat) dalam Keadaan yang tidak kamu ketahui. dan Sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, Maka Mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)?” (al-Waaqi’ah: 61-62)

Masalah penciptaan ini tidak lain adalah agar bisa beradaptasi dengan agungnya kenikmatan yang akan diperoleh di surga yang penuh dengan berbagai kenikmatan.

Usia ahli surga rata-rata sekitar 33 tahun dan matanya seperti bercelak atau bersifat mata. Usia inilah yang dipilih Allah swt. untuk hamba-hamba-Nya yang beriman manakala mereka masuk surga. Pada usia tersebut manusia menikmati sempurnanya kekuatan fisik, kemudaan hati, akal dan fikiran.

Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ahli surga yang akan masuk surga berkulit mulus, bersih dan matanya seperti bercelak atau bersifat mata, dengan usia rata-rata 33 tahun.” (HR Ahmad dalam Musnad, dan Turmudzi dalam Sunan, serta Shahibul Jami’)

Usia rata-rata ahli surga sekitar 33 tahun. Mata mereka seperti bercelak atau bersifat mata, mereka tidak berjenggot, juga tidak berkumis, kecuali bulu pelipis, dan bulu mata. Mereka seolah memasang sifat mata pada mata mereka untuk menambah ketampanan, kebersihan, dan kebeningan kulit mereka.

&

Wanita Ahli Surga Melihat Suaminya di Dunia

16 Feb

Wanita Ahli Surga Melihat Suaminya di Dunia
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Ibnu Zaid berkata, “Dikatakan kepada wanita ahli surga ketika ia berada di atas langit, ‘Apakah engkau ingin melihat suamimu di dunia?’ Dia pun menjawab, ‘Ya.’ Lalu dibukakan tabir serta pintu-pintu yang menjadi penghalang penglihatan di antara dia dan suaminya sehingga dia pun dapat melihat dan mengetahui suaminya. Dia pun mengawasinya dan melihatnya sehingga dia pun mendatanginya dengan pelan-pelan. Dia merindukan suaminya sebagaimana kerinduan seorang istri kepada suaminya yang sedang pergi lama. Bahkan boleh jadi antara sang suami dan istrinya di dunia adalah sebagaimana yang terjadi antara para wanita pada umumnya dan suami-suami mereka, baik dari sisi pembicaraan maupun perselisihan. Lalu sang suami di dunia memarahinya. Hal tersebut membuat hati wanita sang ahli surga tersebut terluka sehingga bidadari pun berkata, ‘Celaka kamu, hai perempuan. Biarkan dia berbuat kejelekan kepadamu. Dia menyertaimu hanya pada malam-malam yang tidak lama.’”

Imam Turmudzi juga mengeluarkan hadits yang sama, tetapi dengan maknanya, dari Muadz bin Jabal ra. Ia berkata, “Janganlah wanita di dunia menyakiti suaminya karena bidadari di akhirat akan berkata, ‘Jangan sakiti dia. Semoga Allah memusuhimu. Saat ini dia berada di sisimu. Namun sebentar lagi ia akan meninggalkanmu untuk bertemu dengan kami.’” (HR Turmudzi dan Ibnu Majah). Syaikh al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih.

Istri seorang yang beriman di dunia adalah istrinya di akhirat bersama istri-istrinya yang lain. Firman Allah yang artinya:
“[yaitu] surga-surga ‘adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang shalih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya…” (ar-Ra’d: 23)

“Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan.” (Yaasiin: 56)

“Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan.” (az-Zukhruf: 70)

Jika sang istri saat di dunia adalah seorang beriman dan shalihah, dialah yang akan menjadi istrinya juga saat di surga. Ini salah satu nikmat dan anugerah yang Allah anugerahkan kepada pasangan suami istri. Selain itu juga akan mendapatkan anugerah istri berupa para bidadari yang akan diberikan Allah kepadanya ketika di surga, sebagaimana telah dinyatakan dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah saw.

Sedangkan, bagi seorang wanita beriman kalau bersuamikan seorang beriman dan shalih, dialah pasangan suami dalam iman sehingga persatuan mereka di dunia akan membawanya pada persatuan di surga Allah yang kekal.

Firman Allah yang artinya: “…. laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut [nama] Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)

Imam Baihaqi meriwayatkan sebuah hadits dalam as-Sunan, dari Hudzaifah bin al-Yaman ra. bahwa ia berkata kepada istrinya, “Jika kamu mau, kau bisa menjadi istriku di dunia, tetapi tidak bisa menjadi istriku setelah itu. Sebab wanita di surga bisa untuk suami-suaminya yang di dunia. Oleh karena itu, tidak boleh menikahi istri-istri Rasulullah saw. setelah dinikahi beliau karena mereka juga istri-istri Rasulullah saw. ketika di akhirat.” (Tahqiq Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, Syaikh Nashir al-Albani)

&

Kenikmatan Dunia dan Akhirat

16 Feb

Kenikmatan Dunia dan Akhirat
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Tidak ada bandingan bagi kenikmatan akhirat. Tidak dikatakan “kenikmatan dunia” karena istilah yang lebih tepat adalah “kesenangan dunia” sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun’” (an-Nisaa’: 77)

Dunia secara umum merupakan rumah cobaan dan ujian, bukan rumah kebahagiaan dan ketenangan. Allah swt. telah menjadikan dunia sebagai terminal untuk bisa melintas ke alam akhirat sebagai rumah ketetapan.

Firman Allah yang artinya:
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” (al-Mulk: 2)

Banyak ayat Allah yang menjelaskan bahwa sebenarnya kehidupan dunia hanyalah ujian bagi manusia dalam hal keimanan dan amal. Dalam pandangan Allah swt, dunia tidak sebanding dengan sayap seekor nyamuk, betapapun manusia telah mengetahui kehendak Allah swt, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an:

“…kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Anfaal: 67)

Allah swt. Maha Mengetahui karena Dialah Dzat yang telah menciptakan apa saja yang ada di alam akhirat dan segala apa yang dijanjikan Allah swt kepada orang-orang mukmin yang mengesakan-Nya di dalam surga-Nya. Seperti bidadari, kenikmatan yang abadi, besar dan agung, di tempat yang disenangi [maksunya tempat yang penuh dengan kebahagiaan, yang bersih dari hiruk pikuk dan perbuatan-perbuatan dosa] di sisi Tuhan Yang Mahakuasa.

Kini sempurnalah perbandingan dalam al-Qur’an antara kenikmatan akhirat dengan kesenangan dunia sehingga siapapun dapat mengambil peringatan, terutama orang-orang yang selama ini lupa terhadap realita ini atau mungkin lali dan malas-malasan. Hal ini dimaksud agar mereka sadar bahwa Allah swt menghendaki kebahagiaan di akhirat. Dengan demikian saat di dunia mereka akan berusaha untuk mencari keridlaan Allah swt, beramal dalam rangka kepatuhan kepada-Nya, serta menegakkan segala yang telah diwajibkan Allah swt kepada mereka.

Allah swt. juga berfirman yang artinya:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Ali ‘Imraan: 14-15)

“Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.” (Ali ‘Imraan: 198)

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (ThaaHaa: 131)

Masih banyak ayat al-Qur’an yang menjelaskan bahwa kesenangan di dunia ini jika dibandingkan dengan kenikmatan akhirat, sungguh sangat sedikit dan tidak bernilai. Namun banyak orang yang sudah memperoleh sedikit dari rizki Allah, hidup dalam kenikmatan dan serba kecukupan sehingg menjadi benci terhadap akhirat. Mereka menjauh dari Allah dan tidak kembali, tidak berlatih atau membiasakan untuk menyenangi akhirat hanya karena kesenangan dunia yang sangat sedikit. Setan-setan telah menenggelamkan mereka sehingga mereka senang dengan kenikmatan yang sedikit yang terdapat di dunia. Pemahaman setelah kematian ditolak, bahkan bagi mereka surga itu benar-benar tidak ada, sebagaimana mereka juga meniadakan kehidupan akhirat karena bagi mereka kehidupan hanya ada di dunia saja. Firman Allah yang artinya:

“Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika Sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”. (al-Kahfi: 35-36)

Kebun dunia beserta pepohonan, buah-buahan, dan air telah membuat mereka terpedaya, mereka tidak tahu semua itu akan sirna, betapapun masanya relatif lama.

“Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah Dia ditimpa kesusahan, pastilah Dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku Maka Sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya.” Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras.” (Fushilat: 50)

“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, Maka ia banyak berdoa.” (Fushilat: 51)

Ayat-ayat yang membicarakan tentang hal ini banyak sekali sehingga seharusnya kita tidak condong pada dunia dan tertipu olehnya atau sebagian kesenangannya. Rasulullah saw. benar-benar telah menjelaskan seperti apa nilai dunia di akhirat.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Demi Allah, tiada dunia ini [jika dibandingkan dengan] akhirat, kecuali hanya seperti ketika kalian memasukkan jari-jari telunjuk ke dalam laut, lalu lihatlah apa yang terjadi ketika kembali diangkat.” (HR Muslim)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tempat kacau di surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh, jarak antara tengah dan akhir, dari simpul dalam jarak dekat panah kalian [kata kiasan], dari surga, masih lebih dekat daripada daerah dimana di sana terdapat matahari terbit.” (HR Bukhari dan Muslim)

Demikian juga Rasulullah saw. telah menjelaskan karakteristik seorang wanita dari kalangan bidadari. Diceritakan dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Kalau saja seorang wanita ahli surga keluar ke bumi, niscaya dunia akan bercahaya dan akan penuh dengan angin. Mahkota yang ada di kepalanya lebih baik daripada dunia beserta seluruh isinya.” (HR Bukhari)

Allah swt telah menjelaskan bahwa kesenangan atau kenikmatan di dunia meskipun berada dalam jangka waktu yang lama, semuanya akan binasa. Sedangkan segala yang ada di sisi Allah akan abadi dan tidak rusak, tidak binasa, serta tidak berkurang, yaitu di rumah akhirat. Sebagaimana Allah berfirman, “…..senantiasa berbuah dan teduh…” (ar-Ra’du: 35) dan “Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal…” (an-Nahl: 96)

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, Maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (al-Kahfi: 45-46)

Artinya, setiap kuntum bunga dan tumbuhan meskipun berbunga dan hijau, akan sirna dan mati sebagaimana matinya manusia. Meskipun saat masih muda seseorang sangat kuat, pada saatnya nanti akan menjadi tua, lemah, dan tidak berdaya, lalu mati. Yang kekal hanyalah Allah swt, tidak seorang pun manusia kekal, sebagaimana tidak kekalnya dunia.

Di antara kenikmatan surga yang agung, yang senantiasa diharap oleh manusia adalah benar-benar kebalikan yang ada di dunia. Di surga penuh dengan kebersihan, kebeningan, kebaikan, dan akhlak mulia sehingga tidak akan terdengar kata-kata jelek atau jorok, sebagaimana kita dengar di dunia. Di sana tidak terdapat orang yang riya’ [ingin dilihat orang lain], pendusta, hina, dan munafik. Di surga, dengan keabadian yang tiada akhir, tidak akan terdengar perkataan bohong dan tidak akan dijumpai hal yang buruk atau lebih ringan dari hal tersebut.

“…di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaedah dan tiada pula perbuatan dosa.” (ath-Thuur: 23)

“… di dalamnya mereka tidak mendengar Perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) Perkataan dusta.” (an-Naba’: 35)

“…mereka tidak mendengar Perkataan yang tak berguna di dalam syurga, kecuali Ucapan salam. bagi mereka rezkinya di syurga itu tiap-tiap pagi dan petang.” (Maryam: 62)

“….tidak kamu dengar di dalamnya Perkataan yang tidak berguna.” (al-Ghaasyiyah: 11)

“… mereka tidak mendengar di dalamnya Perkataan yang sia-sia dan tidak pula Perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar Ucapan salam.” (al-Waaqi’ah: 25-26)

&

Kebutuhan Surga dan Neraka

16 Feb

Kebutuhan Surga dan Neraka
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Surga dan neraka sama-sama membutuhkan. Neraka berkata, ‘Aku dipenuhi oleh orang-orang yang sombong.’ Sedangkan surga berkata, ‘Tidaklah aku dimasuki kecuali oleh orang-orang yang lemah dan kalah.’”

Dalam hadits riwayat lain ada tambahan kata, “… ‘dan orang-orang yang tertipu. Lalu Allah berfirman kepada surga, ‘Engkaulah rahmat-Ku. Aku merahmatimu dari kebusukan hamba-hamba-Ku.’ Lalu Allah berfirman kepada neraka, ‘Engkaulah siksaku. Aku persilakan untuk menyiksa hamba-hamba-Ku. Dan tiap-tiap satu dari kalian berdua masing-masing akan dipenuhi, sedangkan neraka tidak akan dipenuhi.’ Allah menaruh kehendak-Nya.

Dalam riwayat yang lain dijelaskan dengan kalimat, “Allah swt. menaruh kehendak-Nya, lalu neraka berkata, ‘Cukup, cukup, cukup.’ Dengan demikian neraka langsung penuh dan bertumpuk antara satu dengan yang lain. Dan Allah tidak akan aniaya terhadap satu makhluk pun. Sementara itu, terhadap surga, di sana Allah swt senantiasa mengembangkan penciptaan-Nya.” (HR Bukhari dan Muslim)

&