Tag Archives: keutamaan

Keutamaan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir

3 Jan

Kumpulan Doa dalam Al-Qur’an dan Hadits;
Said bin Ali Al-Qahthani

keutamaan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir 1 keutamaan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir 2 keutamaan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir 3 keutamaan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir 4 keutamaan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir 5

Keutamaan mengunjungi orang sakit

1 Jan

Kumpulan Doa dalam Al-Qur’an dan Hadits;
Said bin Ali Al-Qahthani

keutamaan mengunjungi orang sakit

Keutamaan membaca shalawat

31 Des

Kumpulan Doa dalam Al-Qur’an dan Hadits;
Said bin Ali Al-Qahthani

keutamaan membaca shalawat nabi 1keutamaan membaca shalawat nabi 2

Keutamaan ilmu dan buah hasilnya

25 Feb

Pilar-pilar Keberhasilan Seorang Da’i
Dr. Ali bin Umar bin Ahmad Ba Dahdah;
islamhouse.com

Harus bagi seorang da’i untuk yakin bahwa ilmu adalah kemulian bagi orang yang ingin meraihnya, keutamaan yang sedang di cari oleh seorang penuntut ilmu, dan yang akan memberi kecukupan bagi orang yang sedang mengkaisnya. (Adabu ad- Dunya wa ad- Diin hal: 40)

Maka permulaan dari mengambil ilmu hendaknya di mulai dengan cara dan metode yang benar di karenakan ilmu itu di dahulukan dari perkataan dan perbuatan sebagaimana yang tertera dalam firman Allah Ta’ala:
“Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan yang hak untuk di sembah) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan”. QS Muhammad: 19.
Dengan ilmu akan mengantarkan seorang da’i pada kedudukan yang tinggi di dalam mizan Rabbani, seperti yang ada dalam firmanNya:
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS al-Mujaadilah: 11)

Oleh karenanya bersegera pergi untuk menuntut ilmu termasuk bentuk pelaksanaan yang paling sempurna dari apa yang di inginkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, yang memperkuat hal itu adalah firman Allah Ta’ala:
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. QS at-Taubah: 122.

Di dalam ayat di atas Allah Ta’ala membagi umat ini menjadi dua golongan, mewajibkan salah satunya untuk berjihad di jalanNya dan memperdalam pengetahuan mereka tentang agama bagi kelompok yang lain, supaya nantinya semua tidak terputus dari yang namanya jihad fi sabilillah dan tidak hilang jihad tersebut dari syari’at, tidak adanya para penuntut ilmu yang mau mengabdikan dirinya kepada ilmu maka akan menjadikan orang-orang kafir menguasai umat ini, oleh karena itu pelihara dan lindungi kemulian Islam dengan jihad fi sabilillah dan jagalah syari’at iman dengan pembelajaran umat.

Dan Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada mereka untuk bertanya dan mengembalikan persoalan-persoalan yang baru terjadi, Allah Ta’ala berfirman:
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. (QS an-Nahl: 43)

Dalam firmanNya yang lain Allah mengatakan:
“Dan kalau sekiranya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri)…”. (QS an-Nisaa’: 83)

Dan jika seorang da’i telah menempuh jalannya ilmu maka dia akan memperoleh kebaikan Rabbaniyah (surga.pent) sebagaimana yang di jelaskan dalam hadits yang shahih dari Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang menempuh jalan yang di dalamnya ingin mencari ilmu maka Allah Ta’ala akan memudahkan bagi dirinya jalan dari jalan-jalan menuju surga”. Di riwayatkan oleh Abu Dawud kitab ilmu bab yang menjelaskan anjuran untuk mau menuntut ilmu no: 3641.

Maka jika seorang da’i telah mempunyai ilmu yang cukup banyak dan termasuk bagian orang yang telah menempuh jalannya para penuntut ilmu maka sesungguhnya akan menjadikan dirinya pada lingkungan masyarakatnya bagaikan pelita yang akan memberi petunjuk sebagaimana hal ini pernah di katakan oleh Imam Ibnu Qoyim berkaitan dengan kedudukannya para ulama, beliau mengatakan: “Sesungguhnya mereka (para ulama) di dunia kedudukan menjadi seperti bintang di langit, karena dengan mereka (orang) akan mendapat petunjuk di tengah-tengah kegelapan, kebutuhan manusia kepada mereka sangatlah besar di bandingkan kebutuhannya mereka terhadap makanan dan minuman, dan ketaatan kepada mereka menjadi lebih utama di bandingkan ketaatannya mereka terhadap bapak dan ibu mereka”. (I’lam Muwaqi’in 1/9)

Ketika seorang da’i sudah bergerak menyebarkan ilmunya, berada di tengah-tengah manusia untuk mengajak perbaikan diri, memperingatkan mereka dari kelalaian dan kerusakan maka sesungguhnya ia sedang meraih kemulian sifat sebagaimana yang telah di sebutkan oleh Imam Ahmad, yang mana beliau mengatakan: “Segala puji hanya milik Allah yang telah menjadikan pada setiap zaman di utusnya para Rasul dan tetap adanya para ulama yang mengajak manusia yang tersesat untuk kembali kepada kebenaran, yang tetap sabar atas gangguan mereka. Mereka telah menghidupkan (hati-hati) yang telah mati dengan kitab Allah, memberi cahaya kepada orang yang telah buta dari (kebenaran) dengan cahaya Allah, betapa banyak orang yang telah terbunuh oleh anak panahnya iblis berhasil mereka hidupkan kembali, dan betapa banyak orang yang telah tersesat sanggup memperoleh petunjuknya kembali, betapa indahnya hasil perbuatan mereka terhadap manusia namun betapa buruknya perilaku balasan manusia kepada mereka”. (I’lam Muwaqi’in 1/9)

Dan para ulama dan para da’i sungguh sejarah telah mencatat nama harum mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang di jadikan rujukan bagi orang yang sedang kebingungan, yang sedang berdiri (sehingga) turut di belakangnya, orang yang tadinya menolak pun dengan rela mau menerima (kebenaran), sebagai penyempurna bagi kekurangan yang ada, orang yang sedang tersesat pun bisa kembali lagi, dan mereka juga bisa mengembalikan kekuatan setelah (sebelumnya) dalam kelemahan. (Madaariju Saalikin 3/304)

Bagi para ulama dalam hal menjelaskan tentang kemuliaan dan keutamaan ilmu banyak perkataan-perkataan mereka yang sangat indah, diantaranya apa yang di katakan al-Khathib al-Baghdadi dalam bukunya yang berjudul al-Faqiih wal Mutafaqih (2/71) beliau mengatakan: “Sungguh Allah Ta’ala telah menjadikan ilmu sebagai sarana bagi para waliNya, dan pegangan bagi orang yang telah memilihnya dari para pengagumnya”.

Berkata Muhammad bin al-Qosim bin Khalaad: “Telah di katakan bahwa akal itu menunjukan kepada kebaikan,sedangkan ilmu adalah cahaya bagi akal, dia adalah pembuka hati dari pintu kebodohan, ilmu adalah sarana yang bisa menyakinkan teman duduknya, suatu hal yang sangat membahagiakan bagi para perindunya, sebaik-baik teman dan karib, tali (pegangan) yang paling suci, perdagangan paling menguntungkan, jerih payah yang paling baik, tempat untuk bernaung yang paling indah, sebaik-baik peliharaan yang ada di dunia yang dengannya akan menjadi cerah jalan menuju akhirat, tercegah dirinya dari melakukan perbuatan dosa, hati menjadi tenang, dan akan bertambah kemulian orang yang telah mulia, dan semakin tinggi kedudukannya, lupa pada ketakutan, merasa aman tatkala dalam kesusahan, akan menunjukan kepada ketaatan kepada Allah serta mencegahnya dari perbuatan maksiat, pemimpin menuju keridhoanNya, dan sarana untuk menggapai rahmatNya”. (al-Faqiih wal Mutafaqih 2/71)

Dan telah mengatakan Abu Hilal al-Askari dalam bukunya al-Hats ‘Ala Tholibil ilmi (hal: 43) beliau mengatakan: “Dan jika engkau – wahai saudaraku yang mulia- menginginkan kedudukan yang tinggi, sampai pada popularitasnya, tinggi kedudukannya di mata manusia, menyandang kemulian yang tidak runtuh di telan zaman, tidak terlupakan oleh lamanya zaman, mempunyai wibawa walau dirinya tidak memiliki kekuasaan, kaya tanpa harta, menang tanpa harus menggunakan senjata, tinggi dan luhur tanpa adanya sanak kerabat, akan menjadi dermawan tanpa pamrih, pasukan tanpa adanya barak, maka wajib atas kamu dari itu semua dengan ilmu, carilah ilmu di tempat-tempat yang engkau sangka akan memberi manfaat pada ilmumu dan engkau anggap layak untuk engkau jadikan sandaran dalam ilmumu”.

Ibnu Ishak bin Abi Farwah pernah mengatakan: “Manusia yang paling dekat dengan tingkatan kenabian adalah para ulama dan mujahid adapun para ulama maka mereka yang menunjuki manusia kepada apa yang dengannya para Rasul datang, adapun para mujahid maka mereka berjihad untuk memperjuangkan apa yang di bawa oleh para Rasul”. (al-Faqiih wal Mutafaqih 1/35)

&

Keutamaan Tujuh Surat Yang Panjang

4 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Rasulullah pernah bersabda:
“Barangsiapa memperoleh tujuh surat terpanjang dalam al-Qur’an, maka ia adalah seorang alim.”

&

Keutamaan Surat al-Baqarah bersama Ali-‘Imran

4 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Abu Umamah, ia berkata, aku pemah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Bacalah al-Qur’an, karena al-Qur’an itu akan memberi syafaat bagi pembacanya pada hari kiamat kelak. Dan bacalah az-Zahrawain, yaitu surah al-Baqarah dan Ali Imran, karena kedua surat itu akan datang pada hari kiamat, seolah-olah keduanya bagai tumpukan awan, atau bagai dua bentuk payung yang menaungi, atau bagai dua kelompok burung yang mengembangkan sayapnya. Keduanya akan berdalih untuk membela pembacanya pada hari kiamat.” Kemudian beliau bersabda: “Bacalah al-Baqarah, karena membacanya akan mendatangkan berkah dan meninggalkannya berarti kerugian. Dan para tukang sihir tidak akan sanggup menjangkau (pembacanya).” Hadits ini diriwayatkan juga oleh Muslim dalam kitab ash-Shalah.

Dalam shahih al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah membaca kedua surat itu dalam satu rakaat.

&

Keutamaan Surat al-Baqarah

4 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

Imam Ahmad, Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i meriwayatkan dari Suhail bin Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah bersabda:
“Janganlah kalian menjadikan rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya rumah yang di dalamnya dibacakan surat al-Baqarah tidak akan dimasuki syaitan.”
At-Tirmidzi mengatakan, “hadits ini hasan shahih.”

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, Rasulullah bersabda:
“Semoga aku tidak mendapatkan salah seorang di antara kalian meletakkan salah satu kakinya di atas kakinya yang lain, sambil bernyanyi dan meninggalkan Surat al-Baqarah tanpa membacanya, sesungguhnya syaitan akan lari dari rumah yang dalamnya dibacakan Surat al-Baqarah. Sesungguhnya rumah yang paling kosong adalah bagian dalam rumah yang hampa dari kitab Allah (al- Qur’an).” (HR. An-Nasa’i dalam kitab al-Yaum wa al-Lailah.)

Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Barangsiapa membaca sepuluh ayat dari surat al-Baqarah pada suatu malam, maka syaitan tidak akan masuk ke rumahnya pada malam itu. Yaitu empat ayat dari awal Surat al-Baqarah, ayat kursi dan dua ayat selanjutnya, serta tiga ayat terakhir Surat al-Baqarah. Dalam satu riwayat disebutkan pada hari itu dia dan keluarganya tidak akan didekati syaitan, dan tidak ada sesuatu yang dibencinya. Dan tidaklah ayat-ayat itu dibacakan atas orang gila, melainkan dia akan sadar (sembuh).”

“Rasulullah pernah mengutus utusan yang terdiri dari beberapa orang. Kemudian beliau memeriksa mereka. Selanjutnya beliau menguji hafalan al-Qur’an mereka masing-masing. Lalu beliau menghampiri orang yang paling muda usianya seraya bertanya: “Surat apa yang telah kamu hafal?” Orang itu menjawab: “Aku sudah hafal surat ini dan itu serta surat al-Baqarah.” “Apakah kamu hafal surat al-Baqarah?” Tanya Rasulullah. Orang itu menjawab: “Ya, hafal.” Setelah itu beliau bersabda: “Berangkatlah, dan kamulah pemimpin bagi mereka. Kemudian salah seorang yang terpandang di antara mereka berkata: “Ya Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku mempelajari surat al- Baqarah melainkan karena aku khawatir tidak dapat mengamalkannya. Maka beliau bersabda: “Pelajarilah al-Qur’an dan bacalah. Sesungguhnya perumpamaan al-Qur’an bagi orang yang mempelajarinya lalu membaca dan mengamalkannya adalah seperti kantong kulit berisi minyak kesturi yang aromanya menyebar ke segala penjuru. Sedangkan perumpamaan orang yang mempelajarinya, lalu dia tidur (tidak mengamalkannya), padahal al-Qur’an ada dalam dirinya laksana kantong kulit atau cap tanda yang diletakkan di atas minyak kesturi.” (Menurut at-Tirmidzi, hadits ini hasan. Didlaifkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitabnya “Dha’iif at-Tirmidzi)

Al-Bukhari meriwayatkan, dari al-Laits, dari Yazid bin al-Haad, dari Muhammad bin Ibrahim, dari Usaid bin Hudhair, katanya: “Pada suatu malam is membaca surat al-Baqarah -sementara kudanya ditambatkan di dekatnya.- Tiba-tiba kuda itu berputar-putar. Ketika Usaid berhenti membaca, maka kuda itupun merasa tenang. Kemudian Usaid membacanya kembali, maka kuda itu kembali berputar-putar. Tatkala berhenti membacanya, kuda itu pun terdiam. Setelah itu ia membacanya lagi, dan kudanya itupun berputar- putar. Maka ia pun kembali, sedangkan puteranya, Yahya berada di dekat kuda tersebut. Karena merasa kasihan dan khawatir kuda itu akan menerjangnya mengambil anaknya itu, ia menengadahkan kepalanya ke langit sampai ia tidak melihatnya.
Ketika pagi hari tiba, ia menceritakan peristiwa itu kepada Nabi maka beliau bersabda: “Wahai putera Hudhair, baca terus.” Ia pun menjawab: “Ya Rasulullah, aku merasa kasihan kepada Yahya, karena ia berada dekat dengan kuda tersebut. Kemudian aku mengangkat kepalaku dan kembali melihat arahnya. Setelah itu aku menengadahkan kepalaku ke langit, tiba-tiba aku melihat sesuatu seperti bayangan yang mirip dengan lampu-lampu. Setelah itu aku keluar rumah hingga aku tidak dapat melihatnya lagi. “Tahukah engkau, apa itu?” Tanya Rasulullah. “Tidak,” jawabnya. Beliau pun bersabda: “Itulah malaikat yang mendekati karena suara bacaanmu. Seandainya kamu terus membacanya, niscaya pada pagi hari esok manusia akan dapat melihat malaikat itu tanpa terhalang.”

&

Keutamaan Tauhid Uluhiah

9 Okt

Tauhid Uluhiah
Muhammad Ibn Ibrahim al Hamd; Islamhouse.com

(Lihat Taisîrul Azizil Hamid hal.36-39 dan Al-Qoulul as-Sadîd oleh Ibnu Sa’di hal.16, bab Fadlut Tauhid Wa Mâ Yukafiru Minaz Zunub dan Ma’ârijul Qobul Fil Hadits ‘An Fadhailis Shahadah I/268-271, La ilâha illallah oleh al-Kâtib hal.10-35.)

Mengesakan dan menunggalkan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam beribadah merupakan nikmat yang paling mulia dan utama secara mutlak. Keutamaan dan faedahnya tidak terkira dan terbatas. Keutamaan tauhid meliputi kebaikan dunia dan akhirat. Di antara keutamaan itu sebagai berikut:

1. Ia merupakan nikmat teragung yang dianugrahkan kepada hamba -Nya. Yang menunjuki mereka kepadanya, sebagaimana yang terdapat dalam surat an-Nahl yang dinamai dengan surat an-Ni’am. Allah Azza wajalla mendahulukan nikmat tauhid dari nikmat lain. Allah Shubahanu wa ta’alla menyebut di awal surat an-Nahl:

“Dia menurunkan para Malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah -Nya kepada siapa yang -Dia kehendaki di antara hamba-hamba -Nya, yaitu: ‘Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada -Ku’.” (QS.an-Nahl:2)

2. Ia merupakan tujuan penciptaan jin dan manusia. Firman Allah Shubhanahu wa ta’alla:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada -Ku.” (QS.ad-Dzariat:56)

3. Ia merupakan tujuan diturunkannya kitab suci, yang salah satunya al-Quran. Firman Allah -ta’ala-:
4.
1. Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayat -Nya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,
2. agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada -Nya.” (QS.Hud:1,2)

5. Ia merupakan sebab terbesar untuk lepas dari penderitaan dunia dan akhirat serta mencegah sanksi dunia dan akhirat, sebagaimana kisah Nabi Yunus alaihi salam.
6. Ia mencegah dari kekekalan di neraka, jika di hatinya ia masih ada, meski sebesar biji zarah.
7. Jika ia sempurna di dalam hati, mencegah dari masuk neraka sama sekali, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Utban, dalam Sahihain, Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi yang mengucapkan ‘La ilaha illallah’, mengharap dengan hal itu wajah Allah.” (HR.al-Bukhari I/110 dan Muslim I/61.)

8. Memperoleh petunjuk sempurna, dan keamanan yang utuh bagi pelakunya di dunia dan akhirat. Firman Allah:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.al-An’am:82)

9. Ia merupakan sebab mendapatkan rida Allah Shubhanahu wa ta’alla dan pahala -Nya.

10. Bahwa orang yang paling berbahagia dengan syafaat Muhamad Salallahu ‘alaihi wasallam adalah yang mengucapkan ‘La ilaha illallah’ ikhlas dari hatinya.
11. Bahwa segala amal dan ucapan, baik lahir maupun batin tertangguh penerimaan, kelengkapan dan pahala yang diperoleh pada tauhid. Manakala kuat tauhid dan keikhlasan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, sempurna dan lengkaplah hal itu.

12. Ia memudahkan hamba melakukan perbuatan baik, meninggalkan kemungkaran dan meloloskannya dari musibah. Orang yang ikhlas kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla pada iman dan tauhidnya, ringan baginya melakukan ketaatan, karena yang diharapnya pahala dan keridaan. Menjadi mudah baginya meninggalkan keinginan nafsu dari kemaksiatan, karena takut dari kemurkaan dan pedihnya siksa Allah Shubhanahu wa ta’alla.

13. Jika tauhid sempurna dalam hati, Allah Shubhanahu wa ta’alla jadikan dia cinta kepada keimanan, dijadikan indah di hatinya, dan dijadikan benci kepada kekufuran, kefasikan serta kemaksiatan, dan dia digolongkan sebagai orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.
14. Ia menjadikan hamba ringan menjalani penderitaan dan meremehkan kepedihan, sesuai dengan kesempurnaan tauhid dan iman hamba itu. Menghadapi penderitaan dan kesakitan dengan hati yang lapang, jiwa yang tenang; menerima dan rida dengan takdir -Nya yang menyakitkan.

15. Ia membebaskan seseorang dari penghambaan kepada makhluk; ketergantungan kepadanya, takut, mengharap dan beramal karenanya.
Itulah kehormatan hakiki dan kemuliaan yang tinggi. Hal itu dengan bertuhan dan menghamba kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla. Tidak mengharapkan selain -Nya, tidak takut kepada selain -Nya, tidak mengadu kecuali hanya kepadan -Nya dan tidak bergantung kecuali hanya kepada -Nya. Dengan demikian, lengkaplah kebahagiaannya dan menjadi nyata kesuksesannya.

16. Di antara keutamaannya yang tidak dapat diperoleh oleh apa pun yang lain, bahwa jika tauhid lengkap dan sempurna dalam hati, serta terealisasi sempurna dengan ikhlas yang utuh, ia merubah amal yang sedikit menjadi banyak dan dilipat gandakan pahala pemilikinya tanpa batas.

17. Allah Shubhanahu wa ta’alla menjamin pemilikinya dengan memeperoleh pertolongan, kehormatan, kemuliaan, petunjuk, jalan kemudahan, diperbaiki keadannya dan tepat dalam ucapan dan perbuatan.

18. Allah Shubhanahu wa ta’alla mencegah dari pelaku-pelaku tauhid keburukan dunia dan akhirat, mengaruniai mereka kehidupan yang baik, ketenangan baginya dan dengan mengingat -Nya.
Bukti hal itu banyak terdapat dalam al-Quran dan Hadis. Siapa yang merealisasikan tauhid, dia akan memperoleh seluruh keutamaan-keutamaan tersebut dan lebih dari itu. Demikian pula sebaliknya.

&

Keutamaan Berdzikir

2 Apr

Kumpulan Doa dalam Al-Qur’an dan Hadits;
Said bin Ali Al-Qahthani

 

Allah  berfirman:

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan). Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta jangan ingkar (pada nikmat-Ku)” (QS. Al Baqarah: 152)

“Hai orang-orang yang beriman ber-dzikirlah yang banyak kepada Allah (dengan menyebut nama-Nya)” (QS. Al Ahzaab: 41)

“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah menyediakan untuk mereka pengampunan dan pahala yang agung” (QS. Al Ahzaab: 35).

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut (pada siksaan-Nya), tidak mengeraskan suara, di pagi dan sore hari. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (QS. Al A’raf: 205)
Rasulullah  bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang menyebut (nama) Tuhannya dengan orang yang tidak menyebut (nama)-Nya, laksana orang hidup dengan orang yang mati ”.
Rasulullah  juga bersabda:

مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ الله َفِيْهِ وَ الْبَيْتِ الَّذِي لَا يُذْكَرُ الله فِيْهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan rumah yang digunakan untuk zikir kepada Allah dengan rumah yang tidak digunakan untuknya, laksana orang hidup dengan yang mati”.
Rasulullah  juga bersabda:

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فيِ دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرَقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟ قَالُوا بَلَى. قَالَ: ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى.

“Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci disisi rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari infaq emas atau perak, dan lebih baik bagimu dari-pada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?”. Para shahabat yang hadir berkata: “Mau wahai Rasulullah!”. Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah yang Maha Tinggi”.

Allah  Yang Maha Tinggi berfirman (Dalam hadits Qudsi):

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْراً تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعاً وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعاً تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعاً وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً.

“Aku terserah persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya (memberi rahmat dan membelanya) bila dia menyebut nama-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam dirinya, aku menyebut namanya pada diri-Ku. Bila dia menyebut nama-Ku dalam perkumpulan orang banyak, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih banyak dari mereka. Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal (dengan melakukan amal shaleh atau berkata baik), maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Bila dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat (lari)”.

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ شَرَاِئعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. قَالَ: لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللهِ

“Dari Abdullah bin Busr  dia berkata: Sesungguhnya seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah! sesungguhnya syari’at Islam telah banyak aku terima, oleh karena itu, beri tahulah aku sesuatu hal buat peganganku”. Beliau bersabda: “Tidak henti-hentinya lidahmu basah karena dzikir kepada Allah (lidahmu selalu mengucapkannya) ”.

مَنْ قَرَأَ حَرْفاً مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُوْلُ لَكَ ((آلـم)) حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran, akan mendapatkan satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan akan dilipatkan sepuluh semisalnya. Aku tidak berkata: Alif Laaam Miim, satu huruf. Akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf ”.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجَ رَسُوْلُ الله  وَنَحْنُ فِي الصُّفَّةِ فَقَالَ: أَيـُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيْقِ فَيَأْتِي مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِي غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ؟ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ نُحِبُّ ذَلِكَ. قَالَ: أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلىَ الْمَسْجِدِ فَيُعَلِّم، أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ اْلإِبِلِ.

“Dari Uqbah bin Amir  berkata: “Rasulullah  keluar, sedangkan kami berada di serambi masjid (Madinah). Lalu beliau bersabda: “Siapakah diantara kamu yang senang berangkat pagi setiap hari ke Buthan atau Al Aqiq, lalu kembali dengan membawa dua unta yang besar punuknya tanpa mengerjakan dosa dan memutus silaturrahmi?” kami (yang hadir) berkata: “Yaa kami senang ya Rasulullah!”, lalu beliau bersabda: “Seseorang di antara kamu berangkat pagi ke mesjid, lalu mengajar atau membaca dua ayat Al Qur’an, hal itu lebih baik baginya daripada dua unta. Dan (bila mengajar atau membaca) tiga (ayat) akan lebih baik daripada memperoleh tiga (unta). Dan (bila membaca atau mengajar) empat ayat akan lebih baik baginya daripada memperoleh empat (unta) dan dari seluruh bilangan unta”.
Rasulullah  bersabda:

مَنْ قَعَدَ مَقْعَداً لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَـتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ، وَمَنِ اضْطَجَــــعَ مَضْجَـعاً لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ.

“Siapa yang duduk di suatu tempat, lalu tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, maka dia akan mendapat sesuatu yang tidak disenangi dari Allah. Barang siapa yang berbaring di suatu tempat, lalai tidak berdzikir kepada Allah, maka dia akan mendapatkan sesuatu yang tidak disenangi dari Allah”.

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِساً لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيْهِ، وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةٌ فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ.

“Apabila suatu kaum duduk di majlis, lantas tidak berdzikir kepada Allah dan tidak membaca shalawat kepada Nabi-Nya, niscaya mereka mendapat sesuatu yang tidak disenangi dari Allah. Apabila Allah berkehendak, maka Dia akan menyiksa mereka; dan apabila tidak, Allah akan mengampuni dosa mereka”.

مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ قَامُوا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةٌ

“Setiap kaum yang berdiri dari suatu majlis, yang mereka tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, maka mereka laksana berdiri dari bangkai keledai dan mereka akan menyesal (di hari kiamat) ”.

&

Keutamaan dan Pahala Iman

20 Nov

·  Keutamaan dan pahala iman

  • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat: 2:38, 2:62, 2:112, 2:262, 2:274, 2:277, 3:103, 3:107, 3:170, 4:173, 5:69, 6:16, 6:48, 6:81, 6:82, 6:127, 7:35, 7:43, 7:49, 7:96, 10:62, 10:64, 10:103, 11:58, 14:27, 15:46, 16:30, 16:32, 16:97, 20:47, 20:123, 21:101, 21:103, 22:54, 24:55, 27:89, 37:40, 39:61, 41:30, 43:68, 43:69, 72:13
  • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala: 2:38, 2:137, 2:194, 2:249, 2:257, 3:13, 3:55, 3:111, 3:120, 3:122, 3:139, 3:175, 4:45, 4:90, 4:158, 5:11, 5:42, 5:55, 5:64, 5:67, 6:54, 7:64, 7:72, 7:83, 7:117, 7:165, 7:196, 7:200, 8:17, 8:19, 8:26, 8:30, 8:40, 8:62, 8:68, 9:40, 9:51, 9:117, 10:62, 11:41, 11:48, 11:58, 11:66, 11:81, 11:94, 12:21, 14:27, 15:40, 15:42, 15:59, 16:99, 16:100, 16:128, 17:65, 17:103, 18:16, 20:38, 20:39, 20:40, 20:46, 20:68, 20:77, 20:123, 21:9, 21:69, 21:70, 21:71, 21:74, 21:76, 21:77, 21:84, 21:88, 22:38, 23:27, 23:28, 26:15, 26:52, 26:62, 26:63, 26:118, 26:119, 26:170, 26:218, 27:50, 27:53, 27:57, 28:7, 28:9, 28:20, 28:25, 28:31, 28:35, 29:15, 29:24, 29:32, 29:33, 34:20, 34:21, 37:76, 37:98, 37:115, 37:134, 37:146, 38:83, 40:45, 40:51, 41:18, 44:20, 44:24, 44:56, 45:19, 46:13, 47:11, 48:20, 48:24, 48:27, 51:35, 52:48, 54:13, 54:14, 54:34, 54:35, 54:37, 58:22, 66:4, 68:49, 69:11
  • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin: 2:214, 2:251, 3:13, 3:68, 3:123, 3:124, 3:125, 3:126, 3:139, 3:148, 3:150, 3:152, 3:160, 4:73, 4:84, 4:139, 4:141, 5:23, 5:56, 6:34, 7:64, 7:72, 7:83, 7:117, 7:118, 7:129, 7:137, 8:10, 8:11, 8:12, 8:17, 8:18, 8:19, 8:26, 8:40, 8:43, 8:44, 8:64, 8:66, 9:14, 9:25, 9:26, 9:32, 9:40, 9:48, 10:90, 10:103, 11:30, 11:49, 11:94, 14:14, 14:47, 20:68, 20:69, 21:9, 21:105, 22:15, 22:38, 22:39, 22:40, 22:60, 22:78, 24:55, 25:31, 28:6, 30:47, 33:9, 33:10, 33:25, 33:26, 36:9, 37:116, 37:171, 37:172, 37:173, 40:51, 47:4, 47:7, 47:35, 48:1, 48:3, 48:4, 48:18, 48:20, 48:21, 48:22, 58:21, 59:2, 61:8, 61:13, 61:14, 63:8, 84:19, 110:1, 110:2
  • Allah memperkokoh orang mukmin: 8:11, 8:12, 9:26, 9:40, 14:27, 16:102, 47:7
  • Pahala iman: 2:5, 2:25, 2:82, 2:103, 2:126, 2:202, 2:212, 2:218, 2:221, 2:223, 3:57, 3:148, 3:179, 3:198, 3:199, 4:39, 4:67, 4:68, 4:122, 4:146, 4:152, 4:162, 4:170, 4:173, 4:175, 5:9, 5:66, 5:85, 6:127, 7:43, 7:44, 7:49, 7:128, 7:165, 7:170, 8:74, 9:20, 9:72, 9:88, 10:9, 10:26, 10:64, 10:98, 11:11, 12:57, 13:18, 13:29, 14:23, 14:51, 15:45, 15:46, 15:47, 15:48, 16:30, 16:31, 16:32, 16:41, 16:97, 18:2, 18:30, 18:31, 18:88, 18:107, 19:60, 19:61, 19:63, 19:96, 20:75, 20:76, 20:112, 20:132, 22:14, 22:23, 22:50, 22:54, 22:56, 22:58, 22:59, 23:1, 23:58, 23:61, 23:102, 23:111, 24:52, 25:15, 25:75, 29:9, 29:58, 30:15, 30:45, 31:8, 31:9, 32:17, 32:19, 33:35, 33:43, 33:44, 33:47, 33:71, 33:73, 34:4, 34:37, 35:7, 35:33, 35:34, 35:35, 36:11, 36:26, 36:27, 37:40, 37:41, 37:61, 37:105, 37:110, 37:121, 37:131, 37:160, 37:172, 37:181, 38:25, 38:49, 38:50, 39:10, 39:17, 39:20, 39:22, 39:33, 39:34, 39:35, 39:61, 39:74, 40:40, 40:51, 41:8, 41:18, 41:30, 41:31, 41:32, 42:22, 43:35, 43:70, 43:72, 43:73, 44:51, 44:52, 44:53, 44:54, 44:55, 44:56, 44:57, 45:30, 46:14, 46:16, 46:31, 47:2, 47:12, 47:17, 47:36, 48:5, 48:17, 48:23, 48:29, 49:3, 49:15, 50:31, 51:15, 51:16, 52:17, 52:18, 52:19, 52:20, 52:22, 52:23, 52:24, 52:27, 54:13, 54:14, 54:35, 54:54, 54:55, 55:46, 56:12, 56:24, 56:89, 56:91, 57:7, 57:10, 57:12, 57:19, 57:21, 57:28, 58:22, 61:10, 61:11, 61:12, 61:13, 61:14, 64:9, 64:11, 65:11, 66:8, 67:12, 68:34, 69:21, 69:24, 70:35, 71:4, 72:13, 72:16, 74:40, 76:5, 76:6, 76:11, 76:12, 76:13, 76:14, 76:15, 76:16, 76:17, 76:18, 76:19, 76:20, 76:21, 76:22, 77:41, 77:42, 77:43, 77:44, 78:31, 78:34, 78:35, 78:36, 79:41, 80:38, 80:39, 82:13, 83:18, 83:19, 83:20, 83:22, 83:23, 83:24, 83:25, 83:28, 83:34, 83:35
    • : 84:8, 84:9, 84:25, 85:11, 87:14, 88:8, 88:9, 88:10, 88:11, 88:12, 88:13, 88:14, 88:15, 88:16, 89:27, 89:28, 89:29, 89:30, 90:18, 91:9, 92:6, 92:7, 92:17, 95:6, 98:7, 98:8, 101:7, 103:3
  • Orang mukmin kelompok minoritas: 6:116, 7:102, 8:26, 26:8, 26:67, 26:103, 26:121, 26:139, 26:158, 26:174, 26:190