Tag Archives: maknawiyah

Hukum Terjemah Manawiyah Al-Qur’an

20 Jan

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Menerjemahkan makna-makna sanawi al-Qur’an bukanlah hal mudah sebab tidak ada satu bahasa pun yang sesuai dengan bahasa Arab dalam dalalah [petunjuk] lafadz-lafadznya terhadap makna-makna yang oleh ahli ilmu bayan dinamakan khawaassut tarkib (karakteristik-karakteristik susunan). Hal demikian tidak mudah didakwakan seseorang. Dan itulah yang dimaksudkan Zamarkasyi dalam pernyataan sebelumnya.

Segi-segi balaghah al-Qur’an dalam lafadz maupun susunan, baik nakirah maupun ma’rifatnya, taqdiim dan ta’khiir-nya, disebutkan dan dihilangkannya maupun hal-hal lainnya adalah yang menjadi keunggulan bahasa al-Qur’an, dan ini mempunyai pengaruh tersendiri terhadap jiwa. Segi-segi kebalaghahan al-Qur’an ini tidak mungkin terpenuhi jika makna-makna tersebut dihiliangkan dalam bahasa lain, karena bahasa mana pun tidak mempunyai khawas tersebut.

Adapun makna-makna asli, dapat dipindahkan ke dalam bahasa lain. Dalam al-Muwaffaqaat, Syatibi menyebutkan makna-makna asli dan makna-makna sanawi, kemudia ia menjelaskan, menerjemahkan al-Qur’an dengan cara pertama, yakni dengan memperhatikan makna asli adalah mungkin. Dari segi inilah dibenarkan menafsirkan al-Qur’an dan menjelaskan makna-maknanya kepada kalangan awam dan mereka tidak mempunyai pemahaman kuat untuk mengetahui maknanya. Cara demikian diperbolehkan berdasarkan konsensus ulama Islam. Dan konsensus ini menjadi hujjah bagi dibenarkannya penerjemahan makna asli al-Qur’an.

Namun demikian, terjemahan makna-makna asli itu tidak terlepas dari kerusakan karena satu buah lafadz di dalam al-Qur’an terkadang mempunyai makna atau lebih yang diberikan oleh ayat. Maka dalam keadaan demikian biasanya penerjemah hanya meletakkan satu lafadz yang hanya menunjukkan satu makna, karena tidak mendapatkan satu lafadz serupa dengan lafadz Arab yang dapat memberikan lebih dari satu makna itu.

Terkadang al-Qur’an menggunakan sebuah lafadz dalam pengertian majaz (kiasan), maka dalam hal demikian penerjemah hanya mendatangkan satu lafadz yang sama dengan lafadz Arab dimaksud dalam pengertian yang hakiki. Karena hal ini dan hal lain maka terjadilah banyak kesalahan dalam penerjemahan makna-makna al-Qur’an.

Pendapat yang dipilih oleh Syatibi sebelumnya yang dianggapnya sebagai hujjah tentang kebolehan menerjemahkan makna asli al-Qur’an tidaklah mutlak. Sebab sebagian ulama membatasi kebolehan penerjemahan seperti itu dengan kadar darurat dalam menyampaikan dakwah. Yaitu yang berkenaan dengan tauhid dan rukun-rukun ibadah, tidak lebih dari itu. Sedang bagi mereka yang ingin menambah pengetahuannya, diperintahkan untuk mempelajari bahasa Arab.

&