Tag Archives: metode

Metode Psikologi Belajar

12 Mar

Psikologi Belajar
Drs.Syaiful Bahri Djamarah
asyHadu allaa ilaaHa illallaaH, wa asyHadu anna muhammadar rasuulullaaH

1. Metode Eksperimen (Eksperimental Method)
Maksud dilakukannya eksperimen dalam psikologi adalah untuk “mengetes” keyakinan atau pendapat tentang tingkah laku manusia dalam situasi dan kondisi tertentu. Dengan kata lain eksperimen dilakukan dengan anggapan bahwa semua situasi atau kondisi dapat dikontrol dengan teliti, yang keadaannya berbeda dari observasi yang terkontrol. Melalui usaha eksperimen demi eksperimen, kemudian kebenaran-kebenaran psikologi yang semula didasarkan atas terkaan, pemikiran dan perenungan, kini didasarkan atas percobaan-percobaan (eksperimen).

Untuk mendukung pelaksanaan eksperimen, setidaknya menggunakan dua kelompok yang diperbandingkan. Kelompok pertama sebagai kelompok “kontrol” dan kelompok kedua sebagai “eksperimen”. Fungsi kelompok kontrol adalah untuk mengecek pengaruh dari faktor eksperimen atau variabel independen; dan kelompok kontrol tersebut sedapat mungkin diusahakan sama dengan kelompok eksperimen.

Melalui penerapan metode eksperimen banyak aspek belajar dapat diteliti dengan baik, yang hasilnya dapat disumbangkan bagi kelancaran proses interaksi edukatif di kelas. Aspek-aspek dimaksud antara lain keefektifan komparatif dari metode-metode mengajar yang berbeda (seperti metode diskusi versus metode ceramah) untuk mempelajari informasi faktual, pengaruh praktek bagian versus praktek keseluruhan terhadap belajar ketrampilan, kelas yang optimal, sampai seberapa jauh transfer belajar itu terjadi, penyusunan kurikulum untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu dan sosial, asas kesiapan dalam melakukan suatu tugas belajar, pengaruh overlearning terhadap ingatan, dan lain sebagainya.

Studi eksperimen, selain dilakukan di lapangan, yaitu dalam suasana kelas, juga dilakukan di laboratorium untuk individu atau sekelompok individu dan hewan.

2. Metode Observasi
Metode observasi adalah metode untuk mempelajari gejala kejiwaan melalui pengamatan dengan sengaja, teliti, dan sistematis. Sejauh yang dapat dilakukan, observasi bisa dibedakan menjadi dua, yaitu metode instropeksi dan metode ekstropeksi.

a. Metode instropeksi
Metode instropeksi adalah metode untuk mempelajari gejala-gejala kejiwaan dengan jalan meninjau gejala-gejala jiwa sendiri secara sengaja, teliti dan sistematis.
Dalam melakukan instropeksi (intro= ke dalam, spectare= melihat) tak mungkin memberi hasil yang baik, karena tak ada orang yang dapat mempelajari peristiwa-peristiwa jiwanya sendiri secara objektif. Misalnya, seseorang yang sedang marah, tak mungkin ia dengan tenang dan objektif menyelidiki jiwanya. Jika ia menyelidikinya, maka hilanglah kemarahan tersebut dari dirinya.
Keberatan-keberatan terhadap metode instropeksi adalah bahwa instropeksi yang diselidiki hanya bagian-bagian yang disadari saja, sedang bagian-bagian yang tidak disadari tidak diselidiki. Juga hal-hal yang dapat merendahkan diri sendiri terkadang disembunyikan karena malu dan sebagainya

b. Metode ekstropeksi
Metode ekstropeksi adalah metode untuk mempelajari gejala-gejala kejiwaan dengan jalan mempelajari peristiwa-peristiwa jiwa orang lain dengan teliti dan sistematis. Atau metode yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis oleh satu atau lebih dari seorang.

Dengan sengaja artinya pengamatan itu dilakukan dengan sadar dan dengan tujuan yang jelas. Sedangkan dengan sistematis artinya pengamatan itu dilakukan secara terencana dan dengan cara-cara tertentu yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dengan kata lain, praktek pengamatan serupa ini kondisi-kondisinya dikendalikan secara cermat dan hati-hati oleh satu atau lebih dari seorang. Itulah sebabnya pengamatan ini dikenal dengan pengamatan yang objektif (objective observation)

Melalui penerapan metode ini laporan-laporan yang ditulis akan dapat menghasilkan informal yang objektif, lebih-lebih yang dilakukan oleh orang yang terlatih, terampil, dan berpengalaman. Studi observasi telah banyak dilakukan terhadap hubungan sosial yang diperlihatkan oleh anak-anak pada taman kanak-kanak dan dalam situasi permainan bebas. Penggunaan metode ini antara lain dapat dimanfaatkan untuk membantu mendiagnosa kesulitan belajar anak di sekolah.

3. Metode Genetik (the genetic method)
Metode ini disebut juga metode perkembangan (development method), merupakan teknik observasi yang digunakan untuk meneliti masa pertumbuhan mental dan fisik dan juga hubungannya dengan anak-anak lain dan orang-orang dewasa, yakni perkembangan sosialnya, kemudian dicatat dengan cermat. Pendekatannya bisa menempuh satu atau dua pendidikan sekaligus, yaitu cross-sectional (horizontal) dan longitudinal (vertikal). Perbedaan cross sectional (horizontal) digunakan untuk memperoleh data, misalnya, mengenai pertumbuhan kecerdasan, gerak, dan perasaan anak sejak lahir sampai masa tertentu. Sedangkan pendekatan longitudinal digunakan untuk individu atau sekelompok individu sejak lahir dan seterusnya.

Sekalipun dua pendekatan tersebut dapat dihasilkan data yang lebih shahih (valid), khusunya yang berhubungan dengan perubahan-perubahan pertumbuhan pada umumnya, namun keduanya mengandung kelemahan, terutama pendekatan longitudinal, antara lain dianggap tidak praktis dan bahkan sulit dilaksanakan.

4. Metode Riwayat Hidup atau Klinis
Metode riwayat hidup adalah metode untuk menyelidiki gejala-gejala kejiwaan dengan jalan mengumpulkan riwayat hidup sebanyak-banyaknya, baik yang ditulis sendiri maupun yang ditulis oleh orang lain. Dalam penyelidikan ini buku-buku harian dan kenang-kenangan besar sekali manfaatnya.

Studi dengan metode riwayat hidup (the case history) ini biasanya penerapannya terbatas untuk mencoba memecahkan kesulitan-kesulitan belajar yang benar-benar dihadapi oleh pelajar. Jadi pendekatan ini pada pokoknya tidak berhubungan dengan prinsip-prinsip psikologis atau pendidikan. Sebaliknya, tujuan satu-satunya adalah diagnosis atau treatment. Case history memasukkan riwayat hidup masa lalu, status, dan keadaannya yang sekarang dari seorang individu, yang kemudian dapat digunakan oleh konselor untuk memberikan treatmen (perhatian dan perawatan). Oleh sebab itu, studi kasus yang disusun secara hati-hati, sudah tentu akan memasukkan data mengenai latar belakang keluarga dan sosial, kesehatan jasmani dan perkembangan emosi, serta pengalaman pendidikannya. Termasuk pula minat, hobi, dan kegiatan individu di masa sekarang, yang semuanya relevan dengan masalah yang hendak dipecahkan. Data dimaksud bisa diperoleh melalui interviu (wawancara) atau angket. Kemudian haruslah dianalisa yang diarahkan kepada diagnosis dan treatment (perbaikan).

Walaupun metode ini merupakan cara penyelidikan yang lebih leliti dan bersifat menyeluruh, namun terdapat pula kelemahan-kelemahannya, antara lain tidak seluruh kejadian di masa lalu akan tetap dapat diingat, sehingga keterangan-keterangan yang diberikan boleh jadi tidak objektif. Akibat lebih lanjut, kesimpulan yang ditarik pun akan jauh dari kebenaran.

5. Metode tes
Tes adalah suatu alat yang di dalamnya berisi sejumlah pertanyaan yang harus dijawab atau perintah-perintah yang harus dikerjakan, untuk mendapatkan gambaran tentang kejiwaan seseorang atau sekelompok orang.

Tes merupakan instrumen riset yang penting dalam psikologi masa sekarang. Ia digunakan untuk mengukur semua jenis kemampuan, minat, bakat, prestasi, sikap, dan ciri kepribadian. Tes memungkinkan ahli ilmu jiwa memperoleh data dalam jumlah besar dari orang-orang tanpa banyak gangguan atas kebiasaan mereka sehari-hari tanpa memerlukan perlengkapan laboratorium yang rumit.

Pada pokoknya semua tes mengemukakan suatu situasi yang seragam pada kelompok sekelompok orang yang berbeda-beda pada aspek-aspek yang relevan dengan situasi tersebut. Misalnya, inteligensi, kecekatan ketrampilan tangan, kegelisahan, dan ketrampilan persepsual. Kemudian hasilnya dianalisa dengan menghubungkan perbedaan dalam skor tes dengan perbedaan di antara orang-orang tersebut.

Untuk memenuhi kebutuhan di atas, para ahli telah membuat berbagai alat pengukuran yang dibakukan. Walaupun demikian hendaknya disadari bahwa ramalan atau perkiraan yang dihasilkan seringkali tidak mudah dilakukan. Sebabnya antara lain, karena banyaknya faktor yang tidak ikut mencampuri fakta kejiwaan dan mudahnya berubah. Sudah tentu keadaan yang serupa ini seringkali menyebabkan kekurangtegasan dalam mengambil keputusan, dan sekaligus merupakan salah satu kelemahannya. Lagi pula penyusunan tes dan penggunaannya bukanlah hal yang mudah. Hal ini menghendaki banyak langkah yang harus ditempuh, seperti penyiapan item, penyekalan, dan penentuan norma-normanya.

Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada metode yang digunakan dalam psikologi belajar yang seratus persen baik, demikian pula sebaliknya. Untuk itu dalam praktek, para ahli sering menggunakan lebih dari satu metode agar bisa saling melengkapi dan sekaligus data yang dihasilkan dapat dipercaya. Kemudian data tersebut dianalisa dan barulah disusun suatu laporan.

Akhirnya dari laporan inilah pada gilirannya dapat ditelaah dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan praktik. Terlebih jika sudah berulangkali diuji dan dibuktikan, yang kemudian melahirkan prinsip-prinsip yang secara empiris dapat dibenarkan dan dapat pula disampaikan secara efektif, sebagai salah satu persiapan kepada mereka yang berprofesi sebagai guru.

&

Metode Dakwah Kepada Tauhid uluhiah Dalam Al-Quran Al-Karim

9 Okt

Tauhid Uluhiah
Muhammad Ibn Ibrahim al Hamd; Islamhouse.com

(Lihat Taisîrul Azizil Hamid hal.38-39 dan Da’watut Tauhid oleh al-Harrâs hal.39-45, Al-Irsyad oleh Syaik Soleh al-Fauzan hal.25-28 dan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di wa Juhudihi fi Taudhihil Aqidah hal.154-156.)

Beragam metode dan teknik dakwah kepada tauhid uluhiah di dalam al-Quran, di antaranya sebagai berikut:

1. Allah Shubhanahu wata’ala memerintahkan untuk mengibadahi -Nya. Firman Allah Ta’ala:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan -Nya dengan sesuatu pun….” (QS.an-Nisa:36)

2. Larangan mengibadahi selain Allah. Firman -Nya:

“…Janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS.al-Baqarah:22)

3. Pengkhabaran Allah Shubhanahu wa ta’alla bahwa Dia menciptakan makhluk untuk mengibadahi -Nya. Sebagaimana firman -Nya:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada -Ku.” (QS.ad-Dzariat:56)

4. Pengkhabaran Allah Shubhanahu wa ta’alla bahwa -Dia mengutus rasul untuk mengajak agar mengibadahi -Nya dan melarang mengibadahi selian -Nya. Sebagaimana firman -Nya:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’…” (QS.an-Nahl:36)

5. Menggunakan tauhid rububiah sebagai argumen tauhid uluhiah. Jika Allah Ta’ala adalah pencipta lagi pemberi rezeki, yang telah memberi nikmat kepadamu dengan nikmat lahir dan batin tanpa kesertaan sekutu yang lain, maka wajib bagimu untuk tidak menuhankan dan mengibadahi selain -Nya. Haruslah engkau mengkhususkan -Nya dengan tauhid, sebagaimana firman -Nya:

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah:21)

6. Mengargumeni kewajiban mengibadahi -Nya dikarenakan -Dia adalah Maha pendatang manfaat dan mudarat, Pemberi dan Pencegah. Siapa yang berkarakter seperti itu, dialah sesembahan yang hak yang tidak ada sesembahan selain -Nya.
7. Mengargumeni kewajiban mengibadahi -Nya dengan keunikan sifat -Nya yang sempurna dan ketiadaan hal itu pada sesembahan sekutu, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“…Maka sembahlah -Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada -Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan -Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam:65)

Dan firman -Nya:
“Hanya milik Allah asmaaul husna (nama-nama yang baik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaul husna itu….” (QS. Al-A’raf:180)

Dan firman -Nya mengenai Nabi Ibrahim kekasih Allah Shubhanahu wa ta’alla, yang berkata kepada bapaknya:

“Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: ‘Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?’” (QS.Maryam:42)

8. Argumentasi atas kewajiban mengibadahi -Nya dengan detail penciptaan -Nya. Manakala orang yang berakal menadaburi fikirnya dan merenunginya, dia akan tahu bahwa Allahlah yang berhak diibadahi.
9. Argumentasi atas kewajiban mengibadahi -Nya dengan keragaman nikmat -Nya. Jika sadar bahwa apapun nikmat yang ada pada hamba berasal dari Allah semata, dan bahwa tidak ada seorang pun dari makhluk yang dapat memberi manfaat kepada yang lain tanpa seizin Allah Shubhanahu wata’ala dan bahwa -Dia adalah Maha pemberi manfaat dan mudarat; menjadi tahu bahwa Allahlah yang berhak diibadahi semata tanpa sekutu.
10. Pendiskreditkan Allah Shubhanahu wata’ala terhadap tuhan orang-orang musyrik, seperti dalam firman -Nya:

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang.
Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” (QS.al-A’raf:191,192)

Dan firman -Nya:

“Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya.'” (QS.al-Isra’:56)

Dan firman -Nya:
“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS.al-Hajj:73)

11. Celaan terhadap orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, sebagaimana firman -Nya :
“Ibrahim berkata: ‘Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?” Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?” (QS.al-Anbiya:66,67)

Dan firman -Nya:
“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri….” (QS.al-Baqarah:130)

12. Menjelaskan akibat orang-orang musyrik yang beribadah kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla dan pengakhiran mereka dengan apa yang diibadahi, dimana yang diibadahi berlepas diri di saat yang paling pelik, sebagaimana firman Allah ta’ala,

165. Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).
166. (yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.
167. dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS.al-Baqarah:165-167)

Dan firman -Nya:
“…Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh yang Maha mengetahui.” (QS.Fathir:14)

13. Menjelaskan tempat kembali muwahidin (pelaku tauhid) serta akibatnya di dunia dan akhirat, sebagaimana yang dinyatakan mengenai imam mereka, Nabi Ibarahim alaihi salam:

“… dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (QS.al-Baqarah:130)

Dan firman -Nya:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.al-An’am:82)
14. Sanggahan Allah Shubhahanu wa ta’alla terhadap orang-orang musyrik yang mengambil perantara-perantara antara mereka dengan Allah Shubhahanu wa ta’alla, bahwa syafaat adalah miliki -Nya, tidak diminta dari selain -Nya. Dia tidak memberi syafaat kecuali dengan seizin -Nya dan setelah keridaan -Nya kepada yang akan disyafaati. Sebagaimana Firman -Nya:

43. Bahkan mereka mengambil pemberi syafa’at kepada selain Allah. Katakanlah: “Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatu pun dan tidak berakal?”
44. Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan -Nya kerajaan langit dan bumi….” (QS.az-Zumar:43,44)

Dan firman -Nya:
“…Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin -Nya?…” (QS.al-Baqarah:255)
15. Menjelaskan bahwa apa-apa yang diibadahi selain Allah tidak dapat memberi manfaat bagi yang mengibadahinya dari segala sisi, sebagaimana firman Allah -ta’ala-:

22. Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi -Nya.
23. Dan Tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan -Nya memperoleh syafa’at itu….” (QS.as-Saba’:22,23)

16. Menyebutkan bukti dan contoh yang menunjukkan kebatilan syirik dan akibat buruknya, yang menjadikan jiwa yang bersih menjauh darinya. Sebagaimana Firman Allah -ta’ala-:

“…Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS.al-Hajj:31)

&

Metode Berdebat yang Ditempuh Al-Qur’an

20 Jan

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Al-Qur’anul Karim dalam berdebat dengan para penentangnya banyak mengemukakan dalil dan bukti kuat serta jelas yang dapat dimengerti kalangan awam dan orang ahli. Ia membatalkan setiap kerancuan dan mematahkan setiap perlawanan dan pertahanan dalam uslub yang konkrit hasilnya, indah susunannya dan tidak memerlukan pemerasan akal atau banyak penelitian.

Al-Qur’an tidak menempuh metode yang dipegang teguh oleh para ahli kalam yang memerlukan adanya mugaddimah (premis) dan natijah (konklusi), seperti dengan cara ber-istidlal (inferensi) dengan sesuatu yang bersifat kulliy (universal) atau yang juz’iy (partial) dalam qiyas syumuul, beristidlal dengan salah satu dua juz’iy atas yang lain dalam qiyas tamsiil, atau ber-istidlal dengan juz’iy atau kulliy dalam qiyas istiqraa’. Hal itu disebabkan:
a. Al-Qur’an datang dalam bahawa Arab dan menyeru mereka dengan bahasa yang mereka ketahui.
b. Berdasarkan pada fitrah jiwa, yang percaya pada apa yang disaksikan dan dirasakan, tanpa perlu penggunaan pemikiran mendalam dalam beristidlal adalah lebih kuat pengaruhnya dan lebih efektif hujjahnya.
c. Meninggalkan pembicaraan yang tidak jelas, yang mempergunakan tutur kata yang rumit dan pelik, merupakan kerancuan teka-teki yang hanya dapat dimengerti kalangan ahli. Cara demikian yang biasa ditempuh oleh para ahli mantiq (logika) ini tidak sepenuhnya benar. Karena itu dalil-dalil tentang tauhid dan hidup kembali di akhirat yang diungkapkan dalam al-Qur’an merupakan hal terntentu yang dapat memberikan makna yang ditunjukkan secara otomatis tanpa harus memasukkannya ke dalam universal proportion.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya, ar-Raddu ‘alaa Mantiqiyyin: “Dalil-dalil analogi yang dikemukakan para ahli debat, yang mereka namakan ‘bukti-bukti’ untuk menetapkan adanya Tuhan, Sang Pencipta, Yang Suci dan Mahatinggi itu, sedikitpun tidak dapat menunjukkan esensi Dzat-Nya. Tetapi hanya menunjukkan sesuatu yang mutlak dan universal yang konsepnya itu sendiri tidak bebas dari kemusyrikan. Sebab jika kita mengatakan: ‘Ini adalah baru, dan setiap yang baru mempunyai pencipta’; atau ‘Ini adalah sesuatu yang mungkin dan setiap yang mungkin harus mempunyai yang wajib’. Pernyataan seperti ini hanya menunjukkan baru mutlak atau wajib mutlak… Konsepnya tidak bebas dari kemusryikan.”

Selanjutnya ia mengatakan: “Argumentasi mereka tidak menunjukkan kepada sesuatu tertentu secara pasti dan spesifik, tidak menunjukkan waajibul wujuud atau yang lainnya. Tetapi ia hanya menunjukkan kepada sesuatu yang kulliy, padahal sesuatu yang kully itu konsepnya tidak terlepas dari kemusyrikan. Sedang waajibul wujuud, pengetahuan mengenainya, dapat menghindarkan dari kemusyrikan. Dan barangsiapa yang tidak mempunyai konsep tentang sesuatu yang bebas dari kemusryikan, maka ia belum berarti telah mengenal Allah…” lanjutnya: “Ini berbeda dengan ayat-ayat yang disebutkan Allah dalam Kitab-Nya, seperti firman-Nya yang artinya:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (al-Baqarah: 164)

“Sesungguhnya pada apa yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal, bagi kaum yang berfikir.” Dan lain sebagainya; menunjukkan sesuatu yang tertentu, seperti matahari yang merupakan tanda bagi siang hari… dan firman-Nya:

“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan.” (al-Israa’: 12)

Ayat-ayat tersebut menunjukkan esensi Pencipta yang Tunggal, Allah swt. tanpa serikat antara Dia dengan yang lain. Segala sesuatu selain Dia selalu membutuhkan Dia, karena itu eksistensi segala sesuatu itu menuntut secara pasti eksistensi Pencipta itu sendiri.”

Dalil-dalil Allah atas ketauhidan-Nya, ma’aad (hidup kembali di akhirat) yang diberitakan-Nya dan bukti-bukti yang ditegakkan-Nya bagi kebenaran Rasul-Rasul-Nya, tidak memerlukan qiyaas syumuul atau qiyaas tamsiil. Akan tetapi dalil-dalil tersebut benar-benar menunjukkan maknanya secara nyata. Pengetahuan tentang itu menuntut pengetahuan tentang makna yang ditunjukkannya; dan perpindahan pikiran dari dalil tersebut kepada madlulnya pun sangat jelas bagai proses perpindahan pikiran dari melihat sinar matahari ke pengetahuan tentang terbitnya matahari itu. Inferensi semacam ini bersifat aksiomatik dan dapat dipahami oleh semua akal.

Berkata az-Zarkasyi (lihat al-Burhaan hal. 24 dan seterusnya. Kutipan ini sudah diedit): “Ketahuilah bahwa al-Qur’an telah mencakup segala macam dalil dan bukti. Tidak ada satu dalil pun, satu bukti atau definisi-definisi mengenai sesuatu, baik berupa persepsi akal maupun dalil naql yang universal, kecuali telah dibicarakan oleh Kitabullah. Tetapi Allah mengemukakannya sejalan dengan kebiasaan-kebiasaan bangsa Arab; tidak menggunakan metode-metode berfikir ilmu kalam yang rumit, karena dua hal:
1. Mengingat firman-Nya: “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul-pun melainkan dengan bahasa kaumnya.” (Ibrahim: 4)
2. Orang yang cenderung menggunakan argumentasi pelik dan rumit itu sebenarnya ia tidak sanggup menegakkan hujjah dengan kalam agung. Sebab orang yang mampu memberikan pengertian (persepsi) tentang sesuatu dengan cara lebih jelas yang bisa dipahami sebagian besar orang, tentu tidak perlu melangkah ke cara yang lebih kabur, rancu dan berupa teka-teki yang hanya dipahami oleh segelintir orang.

Oleh karena itu Allah memaparkan seruan-Nya dalam berargumentasi dengan makhluk-Nya dalam bentuk argumentasi yang paling agung yang meliputi juga bentuk paling pelik, agar orang awam dapat memahami dari yang agung itu apa yang dapat memuaskan dan mengharuskan mereka menerima hujjah, dan dari celah-celah keagungannya kalangan ahli dapat memahami juga apa yang sesuai dengan tingkat pemahaman para sastrawan.

Dengan pengertian itulah hadits: “Sesungguhnya setiap ayat itu mempunyai lahir dan bathin, dan setiap hurufnya mempunyai hadd dan matla, diartikan, tidak dengan pendapat kaum batiniyah. Dari sisi ini maka setiap orang yang mempunyai ilmu pengetahuan lebih banyak, tentu akan lebih banyak pula pengetahuannya tentang ilmu al-Qur’an.

Itulah sebabnya apabila Allah menyebutkan hujjah atas rubbubiyah [ketuhanan] dan wahdaniyah [keesaan-Nya] selalu dihubungkan, kadang-kadang, dengan “mereka yang berakal”, dengan “mereka yang mendengar”, dengan “mereka yang berfikir”, dan terkadang dengan “mereka yang mau menerima pelajaran”. Hal ini untuk mengingatkann, setiap potensi dari potensi-potensi tersebut dapat digunakan untuk memahami hakekat hujjah-Nya itu. Misalnya firman-Nya: “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda [kebesaran Allah] bagi kaum yang berakal.” (ar-Ra’du: 4) dan sebagainya.

Ketahuilah bahwa terkadang nampak dari ayat-ayat al-Qur’an, melalui kelembutan pemikiran, penggalian dan penggunaan bukti-bukti rasional menurut ilmu kalam… di antaranya adalah pembuktian tentang Pencipta alam ini hanya satu, berdasarkan induksi yang diisyaratkan dalam firman-Nya: “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah hancur binasa.” (al-Anbiyaa’: 22)

Sebab seandainya alam ini ada dua pencipta, tentu pengendalian dan pengaturan keduanya tidak akan berjalan secara teratur dan kokoh, dan bahkan sebaliknya. Kelemahan akan menimpa salah seorang dari mereka atau keduanya. itu disebabkan andaikan salah seorang dari keduanya ingin menghidupkan satu makhluk, sedangkan yang lainnya ingin mematikannya maka hal itu tidak terlepas dari tiga kemungkinan: a) keinginan keduanya dilaksanakan maka hal itu akan menimbulkan kontradiksi, karena mustahil terjadi pemilahan kerja andai terjadi kesepakatan antara mereka berdua, dan tidak mungkin dua hal yang bertentangan dapat berkumpul jika tidak terjadi kesepakatan. b) keinginan mereka berdua tidak terlaksana. Maka yang demikian itu menyebabkan kelemahan mereka. c) keinginan salah satunya tidak terlaksana, dan ini menyebabkan kelemahannya, padahal Tuhan tidaklah lemah.

&

Methode Ideal untuk Mempelajari Aqidah Islam

16 Apr

Sebaik apapun suatu agama atau ideologi, kalau cara dan methode memahami dan mempelajarinya tidak benar, maka akan melahirkan suatu agama atau ideologi yang tidak benar pula. Oleh karena itu menjadi sangat penting methode yang benar dalam mempelajari aqidah yang benar tersebut. Berikut ini adalah beberapa methode yang harus kita ikuti dalam mempelajari aqidah Islam:
1. Fiqih aqidah bukan ilmu aqidah. Allah berfirman: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (at-Taubah: 122)
Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Allah menjadikan ia faqih dalam agama.”
Rasulullah saw. bersabda (untuk doa Ibnu Abbas): Yaa Allah jadikan ia faqih dalam agama dan ajarilah ta’wil (tafsir)
2. Kembali kepada al-Qur’an dan sunnah Rasul bukan taqlid atau fanatik kepada madzab atau orang tertentu. Allah berfirman: “..Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (an-Nuur: 63).
Firman Allah dalam ayat lain: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisaa’: 59)
Rasulullah saw. bersabda: “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, selama kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan sesat selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.
3. Kembali ke pamahaman ulama salaf bukan ahli kalam dan bid’ah kaum khalaf. Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik masa adalah masaku, kemudian masa berikutnya, kemudian berikutnya…” Rasulullah juga bersabda: “Kalian harus berpegang teguh dengan sunnahku, sunnah khulafaur rasyidin almahdiyyiin, gigitlah ia dengan gigi geraham (peganglah erat-erat dan jangan sampai lepas)
4. Perhatian dan focus kepada pokok-pokok aqidah terdahulu sebelum yang cabang. Dalam mempelajari aqidah Islam harus dimulai dari yang pokok-pokok dahulu sebelum yang cabang. Seperti dalam sebuah hadits bahwa Jibril mengajarkan rukun Iman lalu rukun Islam dan Ikhsan.
5. Merasakan kesederhanaan bukan mempersulit dan berbelit-belit. Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-ada.” (Shaad: 86). Anas berkata: “Dulu kami pada masa ‘Umar bin al-Khaththab, aku mendengar beliau berkata: ‘Kami dilarang untuk mempersulit diri.’”
6. Obyektif, jelas dan mudah bukan tidak jelas dan bukan pula susah, serta menjauhi tanfir (saling mengkafirkan). Rasulullah bersabda: “Permudahlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan dibuat takut dan lari [dari agama]”. Allah berfirman: “dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan..” (al-Hajj: 78)