Tag Archives: moral islam

Ziarah Kubur dan Larangan Minta Mati

13 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits; Bukhari-Muslim

Dari Buraidah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Semula aku melarang kalian untuk ziarah kubur, tetapi sekarang berziarahlah kalian!” (HR Muslim)

Dalam riwayat lain dikatakan: “Maka siapa saja yang menginginkan ziarah kubur, maka berziarahlah. Sesungguhnya ziarah kubur dapat mengingatkan akhirat.”

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Setiap giliran Rasulullah saw. bermalam di tempat ‘Aisyah, pada akhir malam Rasulullah saw. keluar menuju ke makam Baqi’, kemudian mengucapkan: “Assalaamu ‘alaikum daara qaumim mu’miniin wa ataakum maa tuu-‘aduuna ghadam mu-ajjaluuna. Wa innaa insyaa-allaaHu bikum laahiquun. AllaaHummaghfir li-aHli baqii’il gharqadi (“Salam sejahtera semoga terlimpah atas kalian wahai penghuni perkampungan kaum mukminin, dan akan diberikan kepada kalian apa yang dijanjikan-Nya, pada masa yang telah ditentukan. Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian. Ya Allah, ampunilah dosa penghuni Baqi’al ghardad”)” (HR Muslim)

Dari Buraidah ra. ia berkata: Nabi saw. sering mengajarkan kepada para shahabat apabila mereka berziarah kubur, hendaklah mengucapkan: assalaamu ‘alaikum aHlad diyaari minal mu’miniina wal muslimiina wa innaa insyaa-allaHu bikum laahiquun. As-alullaaHa lanaa wa lakumul ‘aafiyaH (“Salam sejahtera semoga terlimpahkan atas kalian wahai penghuni perkampungan [yang terdiri dari] orang-orang mukmin dan muslim, dan kami insya Allah akan menyusul kalian. Semoga Allah melimpahkan keselamatan kepada kami dan kepada kalian.” (HR Muslim)

Dari Ibnu ‘Abbas ra. ia berkata: Rasulullah saw. melewati sebuah kuburan di Madinah, kemudian beliau menghadapkan wajahnya ke pekuburan dan mengucapkan: assalaamu ‘alaikum yaa aHlal qubuuri yaghfirullaaHu lanaa wa lakum, antum salafunaa wa nahnu bil atsar (“Salam sejahtera semoga terlimpahkan atas kalian wahai penghuni kubur, semoga Allah memberi ampunan kepada kami dan kepada kalian. Kalian telah mendahului kami dan kami akan mengikuti kalian.”)” (HR Tirmdzi)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah sekali-sekali salah seorang di antara kalian mengharapkan mati. Apabia ia orang baik, masih ada kemungkinan dapat menambah kebaikan. Dan apabila ia orang jahat, mungkin ia akan berhenti dari kejahatannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim dikatakan, dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan mati. Dan janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan mati. Dan janganlah berdoa ingin mati sebelum ajal datang. Karena jika ia mati maka terputuslah segala amalnya. Sesungguhnya orang yang bertambah umurnya akan bertambah pula amal baiknya.”

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah sekali-sekali salah seorang di antara kalian mengharapkan mati karena menderita. Andaikan terpaksa menginginkan mati, maka hendaklah ia berdoa: AllaaHumma ahyinii maa kaanatil hayaatu khairan lii, wa tawaffanii idzaa kaanatil wafatu khairan lii (“Ya Allah, panjangkanlah hidupku ini jika hidup lebih baik bagiku. Dan matikanlah, andaikan mati itu lebih baik bagiku.”)” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Qais bin Abu Hazim, ia berkata: Kami berkunjung ke tempat Khabbab bin al-Arat. Ia terkena besi panas pada tujuh tempat, lalu ia berkata: “Sesungguhnya kawan-kawan kami, mereka telah meninggal dan mereka tidak tergoda oleh dunia. Tetapi kini, kami tergoda oleh harta yang tidak pantas diletakkan kecuali di dalam tanah. Andaikan Nabi saw. tidak melarang kami untuk berdoa minta mati, niscaya aku memintanya.” Selang beberapa saat, kami datang lagi dan ia sedang membuat tembok, seraya berkata: “Sesungguhnya orang Islam selalu mendapat pahala dari yang dibelanjakannya, kecuali harta yang dibelanjakan untuk tanah ini.” (HR Bukhari dan Muslim)

Menangis karena Takut kepada Allah

3 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (al-Israa’: 109)

Firman Allah: “Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitahuan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis?” (an-Najm: 59-60)

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda kepadaku: “Bacalah al-Qur’an untukku.” Saya menjawab: “Wahai Rasulallah, bagaimana saya harus membacakan buat engkau, padahal al-Qur’an diturunkan kepadamu?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku ingin mendengar al-Qur’an itu dibaca oleh orang lain.” Kemudian saya membacakan untuk beliau surat an-Nisaa’. Sampai pada ayat: fa kaifa idzaa ji’naa ming kulli ummatim bisyaHiidiw wa ji’naa bika ‘alaa Haa ulaa-i syaHiidaa (“Maka bagaimanakah [halnya orang kafir itu nanti], apabila Kami mendatangkan seorang saksi [rasul] dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu [Muhammad] sebagai saksi atas mereka itu [sebagai umatmu],” beliau bersabda: “Cukup sampai di situ!” kemudian saya menoleh kepada beliau dan saat itu kedua matanya sedang bercucuran air mata.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. pernah berkhutbah, dan saya belum pernah mendengarny. Beliau bersabda: “Andaikan kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan pasti akan banyak menangis.” Anas berkata: “Mendengar yang demikian para shahabat Rasulullah saw. menutupi muka mereka sambil menangis terisak-isak.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, sehingga air susu itu kembali ke puntingnya. Tidak akan berkumpul debu yang menempel karena berjuang di jalan Allah dengan asap neraka jahanam.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Ada tujuh kelompok yang akan memperoleh naungan Allah, pada hati yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: 1) pemimpin yang adil. 2) pemuda yang giat beribadah kepada Allah. 3) seseorang yang hatinya selalu digantungkan [ditautkan] dengan masjid. 4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah. 5) seorang laki-laki yang dirayu oleh seorang perempuan bangsawan yang cantik rupawan, lalu ia berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah. 6) seseorang yang memberikan sedekah lalu disembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. 7) seseorang yang mengingat [berdzikir] kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian kedua matanya bercucuran air mata.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Asy-Syaikhkhir ra. ia berkata: saya mendatangi Rasulullah saw. sedangkan beliau sedang shalat, dan di dalam perutnya terdengar suara seperti suara air sedang mendidih, saat beliau menangis.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada Ubay bin Ka’ab: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla itu menyuruhku untuk membacakan: lam yakunilladziina kafaruu. Ubay bertanya: “Allah menyebut nama saya kepadamu?” Beliau menjawab: “Ya.” Maka Ubay menangis. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Setelah Rasulullah saw. wafat Abu Bakar mengajak Umar ra. ia berkata: “Mari kita berkunjung ke rumah Ummu Aiman ra. sebagaimana Rasulullah dulu sering mengunjunginya.” Ketika keduanya sampai di tempat Ummu Aiman, ia menangis, lalu keduanya bertanya: “Apa yang menyebabkan engkau menangis? Bukankah engkau sudah tahu bahwa yang disediakan Allah untuk Rasul-Nya itu sangat baik?” ia menjawab: “Sesungguhnya saya menangis bukan sebab itu, saya tahu bahwa apa yang disediakan Allah untuk Rasulullah itu sangat baik, namun saya menangis karena wahyu dari langit telah terputus.” Ternyata perkataan Ummu Aiman itu mendorong keduanya untuk menangis, maka menangislah keduanya.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: ketika Rasulullah saw. sakit keras, ada seseorang yang menanyakan tentang imam shalat, kemudian beliau bersabda: “Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami shalat.” ‘Aisyah berkata: “Sesungguhnya Abu Bakar itu orang yang amat lembut hatinya, apabila ia membaca al-Qur’an ia tidak dapat menahan tangisnya.” Namun beliau bersabda: “Suruhlah ia [Abu Bakar] untuk menjadi imam.”
Dalam riwayat Aisyah ra. yang lain dikatakan, bahwa ‘Aisyah berkata: “Sesungguhnya Abu Bakar apabila menempati tempatmu [menjadi imam], orang-orang tidak mendengar bacaan shalatnya karena menangis.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibrahim bin Abdurrahman bin ‘Auf ia berkata: Dihidangkan makanan kepada Abdurrahman bin ‘Auf ra. tetapi waktu itu ia sedang berpuasa, dan ia berkata: “Mush’ab bin Umair ra. adalah orang yang lebih baik daripada aku, ketika ia terbunuh di dalam peperangan tidak ada kain yang dapat mengkafaninya kecuali sepotong selimut yang terbuat dari bulu. Apabila kepalanya ditutupi, maka terbukalah kakinya. Kemudian kami telah diberi kekayaan dunia yang banyak.” Atau ia berkata: “Kami telah diberi kekayaan dunia sebanyak-banyaknya. Kami khawatir, jika kebaikan kami telah dibalas dengan kekayaan ini.” Kemudian ia terus menangis dan meninggalkan makanan itu. (HR Bukhari)

Dari Abu Umamah Shuday bin ‘Ajlan al-Bahiliy ra., dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tidak ada sesuatupun yang lebih dicintai Allah daripada dua tetes dan dua bekas, yaitu tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang menetes sewaktu berjuang di jalan Allah. Adapun dua bekas adalah bekas luka sewaktu berjuang di jalan Allah dan bekas dari menjalankan salah satu kewajiban-kewajiban Allah Ta’ala.” (HR Tirmidzi)

Dari al-‘Irbadh bin Sariyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. telah memberi suatu nasehat kepada kami, nasehat itu dapat menggetarkan hati dan mencucurkan air mata.”

Sunnah Menjawab Bila Ditanya Namanya

3 Mei

Riyadhush shalihin; Imam nawawi; al-Qur’an-Hadits

Dari Anas ra. di dalam hadits tentang Isra’ yang telah masyhur, dimana ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kemudian Jibril membawa aku ke langit dunia dan minta dibukakan pintu langit, ketika ditanya: Siapa ini? Ia menjawaba: Jibril. Ditanya lagi: Bersama siapa kamu? Ia menjawab: Muhammad. Kemudian ia naik ke langit kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Pada setiap pintu langit ditanya; “Siapa ini?” maka ia menjawab: “Jibril.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Dzar ra. ia berkata: Saya keluar pada suatu malam, tiba-tiba saya bertemu dengan Rasulullah saw. dimana beliau berjalan sendirian. Pada saat itu saya berjalan dalam keadaan terang bulan, kemudian beliau menoleh dan melihat saya, lalu bertanya: “Siapa ini?” saya menjawab: “Abu Dzar.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ummu Hani’ ra. ia berkata: Saya datang kepada Nabi saw. dan beliau sedang mandi dan ditutupi kain oleh Fatimah, kemudian beliau bertanya: “Siapa ini?” Saya menjawab: “Ummu Hani’” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Jabir ra. ia berkata: saya datang kepada Nabi saw. dan mengetuk pintu, kemudian beliau bertanya: “Siapa ini?” saya menjawab: “Saya.” Beliau bersabda: “Saya, saya..” seolah-olah beliau membenci ucapan itu. (HR Bukhari dan Muslim)

Berharap Kepada Allah (3)

2 Mei

Riyadhush shalihin; Imam nawawi; al-Qur’an-Hadits

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Kami duduk-duduk dengan Rasulullah saw., Abu Bakar dan Umar ra., serta para sahabat yang lain, kemudian Rasulullah saw. berdiri dan meninggalkan kami. Mak kami menunggu-nunggu, tetapi beliau tidak kembali. Kami merasa khawatir dan cemas kalau-kalau beliau terhalang oleh sesuatu, maka kami semua berdiri dan sayalah orang yang pertama kali merasa cemas. Saya lalu keluar mencari Rasulullah saw. sehingga saya sampai ke pagar tembok seorang Anshar.” Ia bercerita panjang lebar, sampai ia mengucapkan: “Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Pergilah dan jumpai siapa saja yang kamu temui di pagar tembok ini menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dengan keyakinan hatinya, maka gembirakanlah dia dengan surga.” (HR Muslim)

Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash ra. ia berkata: Ketika Nabi saw. membaca firman Allah yang menceritakan tentang keadaan Nabi Ibrahim as.: Rabbi innaHunna adl-lalnaa katsiiram minannaasi faman tabi’anii fa innaHuu minnii (“Wahai Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia. Maka barangsiapa saja yang mengikuti aku, maka sesungguhnya ia termasuk golonganku”) dan juga tentang keadaan Nabi Isa: in tu-‘adz-dzibHum fa innaHum ‘ibaaduka wa in taghfirlaHum fa innaka antal ‘aziizul hakim.” (Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).” Kemudian Rasulullah mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: “AllaaHumma ummatii, ummatii.(Ya Allah tolonglah umatku, tolonglah umatku).” Dan beliau terus menangis. Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Hai Jibril, datanglah kepada Muhammad, dan tanyakan kenapa ia menangis?” kemudian Jibril mendatangi Rasulullah saw. dan menceritakan semua yang barusaja difirmankan-Nya kepada Jibril setelah kembali, kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Hai Jibril datanglah kepada Muhammad dan katakanlah: “Sesungguhnya Kami (Allah) akan memberikan keridlaan [kesenangan] kepadamu tentang umatmu dan Kami tidak sampai menyakiti hatimu.” (HR Muslim)

Dari Mu’adz bin Jabal ra. ia berkata: Saya menemani Nabi saw. di atas keledai, kemudian beliau bertanya: “Wahai Mu’adz tahukah kamu apakah hak Allah atas hamba-Nya dan apakah hak hamba atas Allah?” Saya menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya hak Allah atas hamba-Nya, adalah mereka menyembah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Sedangkan hak hamba atas Allah, adalah tidak menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” Kemudian saya bertanya: “Wahai Rasulullah, bolehkah saya menyampaikan kabar gembira ini kepada orang banyak?” Beliau menjawab: “Jangan kamu kabarkan berita gembira ini kepada mereka, karena mereka nanti akan berlaku seenaknya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari al-Barra’ bin ‘Azib ra., dari Nabi saw. beliau bersabda: “Seorang muslim, apabila ditanya di dalam kubur, maka ia bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala yang artinya: “Allah akan menetapkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang baik di kala hidup di dunia maupun di akhirat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya orang kafir itu apabila melakukan kebaikan, ia langsung diberi balasan yang ia rasakan di dunia. Sedangkan bagi orang mukmin, sesungguhnya Allah Ta’ala menyimpan kebaikan-kebaikannya untuk di akhirat, dan ia dikaruniai rizky di dunia karena ketaatannya.”
Dalam riwayat lain dikatakan Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya kebaikan orang mukmin, dia diberi karunia di dunia, karena kebaikannya dan kebaikan itu masih dibalas lagi kelak di akhirat. Adapun orang kafir, ia mendapat karunia di dunia karena kebaikan-kebaikan yang ia kerjakan tidak karena Allah. Sehingga apabila ia pulang ke akhirat, maka ia tidak akan memperoleh balasan apa-apa atas kebaikan yang ia kerjakan itu.” (HR Muslim)

Dari Jabir ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan shalat lima waktu, bagaikan sungai yang penuh dengan air mengalir pada pintu salah satu seorang di antara kalian. Dan ia mandi lima kali setiap hari dari sungai itu.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Seorang Muslim yang meninggal dunia kemudian jenazahnya dishalati oleh empat puluh orang yang tidak mempersekutukan Allah, maka Allah menerima syafaat dan doa mereka terhadap orang yang meninggal dunia itu.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Kami bersama-sama Rasulullah saw. di dalam suatu majelis yang berbentuk lingkaran berjumlah kurang lebih empat puluh orang, kemudian beliau bertanya:”Apakah kalian suka, seandainya kalian merupakan seperempat penghuni surga?” Kami menjawab: “Ya, suka.” Beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, aku berharap semoga kalian merupakan setengah dari penghuni surga. Dan surga itu hanya akan dimasuki orang Islam. Kalian di tengah-tengah orang musyrik itu, bagaikan rambut putih pada kulit lembu hitam, atau bagaikan rambut hitam pada kulit lembu merah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Musa al-Asy’ari ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:”Jika hari kiamat tiba, Allah akan memberi untuk orang Islam masing-masing seorang Yahudi atau seorang Nasrani seraya berfirman: “Inilah tebusanmu dari neraka.”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Dari Abu Musa al-Asy’ari ra. dari Nabi saw. beliau bersabda:”Kelak di hari kiamat orang-orang Islam datang dengan membawa dosa sebesar gunung, kemudian Allah memberi ampunan kepada mereka.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Di hari kiamat, orang mukmin didekatkan kepada Rabb-nya, kemudian memberikan perlindungan kepadanya, dan bertanya: “Tahukah kamu dosa ini?” orang mukmin itu menjawab: “Wahai Rabb-ku, saya tahu.” Allah berfirman: “Sesungguhnya aku telah menutup-nutupi dosamu di duia, dan sekarang Aku ampuni dosa-dosa itu.” Kemudian diberikan kepadanya catatan amal kebaikannya.” (HR Bukhari dan Muslim.)

Dari Ibnu Mas’ud dia berkata: ada seorang laki-laki mencium seorang wanita kemudian ia menghadap Nabi saw. dan menceritakan kepada beliau tentang apa yang telah ia kerjakan, kemudian turunlah firman Allah Ta’ala: aqimish shalaata tharafayin naHaari wa zulfam minal laili innal hasanaati yudz Hibnaa yudz Hibnas sayyi-aati (“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang [pagi dan petang] dan pada sebagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapus [dosa] perbuatan-perbuatan yang buruk.”) orang itu bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah ini hanya untuk saya?” Beliau menjawab: “Untuk semua umatku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Adab (Tata Cara) Minta Izin

2 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits Bukhari-Muslim

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu, sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (an-Nuur: 27)

Allah berfirman: “Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin.” (an-Nuur: 29)

Dari Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Minta izin itu sampai tiga kali. Apabila diizinkan maka masuklah kamu dan apabila tidak diizinkan maka pulanglah kamu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Sahal bin Sa’ad ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya minta izin itu dijadikan ketentuan karena untuk menjaga pandangan mata.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Rabi’iy bin Hirasy ia berkata: “Seseorang dari bani ‘Amir menceritakan kepada kami sewaktu ia minta izin untuk masuk ke rumah Nabi saw. dan waktu itu beliau berada di dalam rumah. Orang itu mengucapkan: “Bolehkah saya masuk?” Kemudian Rasulullah saw. bersabda kepada pelayannya: “Keluarlah dan ajarkanlah kepada orang itu tentang tata cara meminta izin, katakanlah kepadanya: “Ucapkanlah Assalaamu ‘alaikum, bolehkah saya masuk?” Orang itu mendengar apa yang disabdakan oleh Nabi, maka ia mengucapkan: “Assalaamu ‘alaikum, bolehkah saya masuk?” Kemudian Nabi saw. memberi izin kepadanya, dan ia pun terus masuk.” (HR Abu Dawud)

Dari Kildah bin Hanbal ra. ia berkata: Saya datang ke rumah Nabi saw. dan langsung masuk tanpa mengucapkan salam, kemudian Nabi saw. bersabda: “Kembalilah, dan ucapkanlah: assalaamu ‘alaikum, bolehkah saya masuk?” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Adab Memberi Salam

2 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadit-hadist Bukhari-Muslim

Bagi orang yang memberi salam disunnahkan untuk mengucapkan: assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaaHi wa barakaatuH (“Kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah semoga dilimpahkan kepadamu”) walaupun orang-orang yang diberi salam hanya seorang. Dan bagi orang yang menjawab salam disunnahkan untuk mengucapkan: wa ‘alaikumus salaam wa rahmatullaaHi wa barakaatuH (“Dan kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah semoga dilimpahkan atas kamu pula.”), dengan menggunakan “wawu ‘athaf” pada ucapan “wa ‘alaikum.”

Dari Imran bin al-Hushain ra. ia berkata: ada seorang yang datang kepada Nabi saw. dan mengucapkan: “Assalaamu ‘alaikum.” Maka salam itu dijawab oleh beliau, dan ia duduk. Kemudian beliau bersabda: “Sepuluh.” Sesudah itu datang lagi seseorang dan mengucapkan: “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaaH.” Salam itu dijawab oleh beliau dan ia duduk, kemudian beliau bersabda: “Dua puluh.” Sesudah itu datang lagi seorang dan mengucapkan salam: “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaaHi wa barakaatuH.” Salam dijawab oleh beliau dan ia duduk lalu beliau bersabda: “Tiga puluh.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada saya: “Ini Jibril menyampaikan salam untuk kamu.” Maka saya menjawab: “Wa ‘alaikumus salaam wa rahmatullaHi wa barakaatuH.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. bahwasannya apabila Nabi saw. mengatakan suatu perkataan, beliau mengulanginya tiga kali, sehingga benar-benar dapat dipahami. Dan apabila beliau mendatangi suatu kaum maka beliau mengucapkan salam kepada mereka sampai tiga kali.” (HR Bukhari)

Dari Miqdad ra. di dalam haditsnya yang panjang ia berkata: “Kami biasa menyediakan susu yang menjadi bagian Nabi saw. Apabila beliau datang pada malam hari, beliau mengucapkan salam yang tidak sampai membangunkan orang tidur, tetapi dapat didengar oleh orang yang jaga. Nabi biasa datang dan mengucapkan salam sebagaimana biasanya.”

Dari Asma’ binti Yazid ra. bahwasannya pada suatu hari Rasulullah saw. melewati sekelompok wanita yang sedang duduk di masjid, maka beliau melambaikan tangan dan mengucapkan salam.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Juray al Juhamiy ra. ia berkata: Saya datang kepada Rasulullah saw. dan mengucapkan: “Alaikas salaamu yaa RasuulallaaH.” Beliau menjawab: “Janganlah engkau mengucapkan: alaikas salaam, karena sesungguhnya ucapan itu adalah salam untuk orang yang sudah meninggal.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang naik kendaraan memberi salam kepada yang berjalan, orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk, orang yang sedikit memberi salam kepada orang yang banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan di dalam riwayat Bukhari dikatakan: “Yang kecil [muda] mengucapkan salam kepada yang besar [tua].”

Dari Abu Ummah Muday bin Ajlan al-Bahiliy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya seutama-utama manusia menurut Allah adalah orang yang lebih dulu memberi salam.” (HR Abu Dawud)
Diriwayatkan pula oleh Turmudzi dari Abu Umamah: Ada seorang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ada dua orang yang saling bertemu, maka siapakah yang terlebih dahulu harus memberi salam?” Beliau menjawab: “Orang yang lebih utama menurut Allah Ta’ala.”

Dari Abu Hurairah ra. ketika menceritakan orang yang salah shalatnya, dimana ia datang dan shalat, kemudian datang kepada Nabi saw. dan mengucapkan salam, maka beliau menjawab salamnya, kemudian bersabda: “Kembalilah kamu dan shalatlah karena sesungguhnya kamu belum shalat.” Maka ia pun kembali dan shalat lagi, kemudian datang dan mengucapkan salam kepada Nabi. Ia berbuat demikian sampai tiga kali.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian bertemu dengan saudaranya, maka hendaklah mengucapkan salam kepadanya. Dan seandainya di antara keduanya terpisah oleh pohon, dinding atau batu, kemudian bertemu lagi maka hendaklah ia mengucapkan salam lagi.” (HR Abu Dawud)

Allah berfirman: “Maka apabila kamu memasuki [sesuatu rumah dari] rumah-rumah [ini] hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya, salam yang ditetapkan di sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (An-Nuur: 61)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Hai anakku, apabila kamu datang kepada keluargamu maka ucapkanlah salam, niscaya kamu dan keluargamu mendapat berkah.” (HR Turmudzi)

Dari Anas ra. bahwasannya ia berjalan melewati anak-anak, kemudian ia mengucapkan salam untuk mereka, serta berkata: “Rasulullah saw. biasa melakukan hal yang demikian ini.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Sahl bin Sa’ad ra. ia berkata: “Di tengah-tengah kami ada seorang wanita..” dan di dalam riwayat yang lain dikatakan: “Ada seorang wanita tua yang biasa mencari rempah-rempah kemudian dimasak dalam kuali dan dicampur dengan gandum. Apabila kami selesai shalat Jum’at maka kami datang ke tempatnya dan memberi salam kepadanya, kemudian ia menghidangkan masakan itu kepada kami.” (HR Bukhari)

Dari Ummu Hani’ Fakhitah binti Abi Thalib ra. ia berkata: “Saya mendatangi Nabi saw. pada hari penaklukan kota Makkah dimana pada waktu itu beliau sedang mandi dengan ditutupi kain oleh Fatimah, kemudian saya mengucapkan salam.” (HR Muslim)

Dari Asma’ binti Yazid ra. ia berkata: “Nabi saw. berjalan melewati sekelompok wanita kemudian beliau mengucapkan salam kepada kami.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu sekalian memulai lebih dulu mengucapkan salam kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Apabila kamu sekalian bertemu dengan salah satu di antara mereka di tengah jalan, maka berusahalah agar ia menuju tempat yang sempit [pinggiran jalan].” (HR Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila ahli kitab mengucapkan salam kepadamu sekalian maka jawablah: “Wa ‘alaikum.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Usamah ra. bahwasannya Nabi saw. berjalan melewati majelis yang di dalamnya terdapat orang-orang Islam, orang-orang musyrik yang menyembah berhala, serta orang-orang Yahudi, kemudian Nabi saw. mengucapkan salam kepada mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian sampai pada suatu majelis, maka hendaklah ia mengucapkan salam. Tidaklah yang pertama ia berhak daripada yang terakhir.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Menyebarkan Salam

2 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an; hadits-hadits Bukhari Muslim

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (an-Nuur: 27)

Allah berfirman: “Maka apabila kamu memasuki [suatu rumah dari] rumah-rumah [ini] hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya, salam yang ditetapkan di sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (An-Nuur: 61)

Allah berfirman: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu salam penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah penghormatan itu [dengan serupa dengannya].” (an-Nisaa’: 86)

Allah berfirman: “Sudahkah sampai kepadamu [Muhammad] cerita tamu Ibrahim [malaikat-malaikat] yang dimuliakan? [ingatlah] ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun,” Ibrahim menjawab: “Salaamun.” (adz-Dzaariyaat: 24-25)

Dari Abdullah bin Amir bin Ash. Bahwasannya ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Bagaimana Islam yang baik itu?” Beliau menjawab: “Yaitu kamu memberi makanan, dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan kepada orang yang belum kamu kenal.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tatkala Allah meciptakan Adam as. Allah berfirman kepadanya: ‘Pergilah dan ucapkan salam kepada para malaikat yang sedang duduk itu, kemudian dengarkanlan jawaban mereka kepadamu, karena sesungguhnya jawaban itu merupakan penghormatan bagimu dan penghormatan bagi anak cucumu.’ Maka Adam mengucapkan: ‘Assalaamu ‘alaikum.’ Mereka menjawab: ‘Assalaamu ‘alaika wa rahmatullaaH.’ Mereka memberi tambahan dengan: ‘wa rahmatullah.’” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ubadah al-Barra’ bin ‘Azib ra. ia berkata: Rasulullah saw. menyuruh kami untuk mengerjakan tujuh perbuatan, yaitu menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang yang bersin, menolong orang yang lemah, membantu orang yang teraniaya, menyebar luaskan salam dan menepati sumpah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum kamu beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum kamu saling mencintai. Maukah kamu sekalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu mengerjakannya maka kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kamu sekalian.” (HR Muslim)

Dari Abu Yusuf (Abdullah) bin Salam ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah makanan, hubungkanlah tali persaudaraan, dan salatlah pada waktu manusia sedang tidur, niscaya kamu sekalian masuk surga dengan selamat.” (HR Turmudzi)

Dari Tufail bin Ubay bin Ka’ab bahwasannya ia datang ke tempat Abdullah bin Umar, kemudian mereka pergi bersama-sama ke pasar. Thufail berkata: “Ketika kami pergi bersama-sama ke pasar setiap melewati tukang rombeng, orang yang menjual dagangannya, orang miskin, bahkan melewati siapa saja, ia pasti mengucapkan salam kepadanya.” Thufail berkata: “Pada suatu hari saya datang ke tempat Abdullah bin Umar kemudian ia mengajak saya ke pasar, maka saya berkata kepadanya: “Apa yang akan kamu lakukan di pasar nanti, karena kamu tidak akan membeli sesuatu, tidak akan mencari sesuatu, tidak akan menawar sesuatu, dan tidak akan duduk di pasar? Lebih baik kita duduk-duduk di sini dan berbincang-bincang saja.” Abdullah menjawab: “Wahai Abu Bathn [disebut demikian karena Thufail mempunyai perut yang besar] kita pergi ke pasar untuk menyebarluaskan salam. Kita mengucapkan salam kepada siapa saja yang kita jumpai.” (HR Malik)

Adab duduk

2 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits; Bukhari-Muslim

Dari Abdullah bin Yazid ra. bahwasannya ia melihat Rasulullah saw. terlentang di masjid dengan meletakkan salah satu dari kedua kakinya pada kaki yang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Jabir bin Samurah ra. ia berkata: “Apabila Nabi saw. telah selesai shalat shubuh, maka beliau duduk bersila dengan baiknya sampai matahari terbit.” (HR Abu Dawud)

Dari Ibnu Samurah ra. ia berkata: “Saya melihat Rasulullah saw. berada di halaman Ka’bah sedang duduk mendekapkan lutut dengan kedua tangannya begini.” Ia menggambarkan cara duduk itu dengan kedua tangannya. (HR Bukhari)

Dari Ibnu Umar ra. Ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah sekali-sekali salah seorang di antara kamu sekalian membangkitkan seseorang dari tempat duduknya, kemudian ia duduk pada tempatnya itu, tetapi hendaklah kamu sekalian memperluas untuk member tempat.” Dan bagi Ibnu Umar, apabila ada seseorang bangkit dari tempat duduknya dan Ibnu Umar dipersilakan duduk di tempat itu, maka ia tidak mau duduk di tempat itu. (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang dari kamu sekalian bangkit dari tempat duduknya kemudian ia kembali lagi, maka ia adalah orang yang paling berhak untuk menempati tempat itu.” (HR Muslim)

Dari Jabir bin Samurah ra. Ia berkata: “Apabila kami datang kepada Nabi saw. maka salah seorang di antara kami duduk dimana ia sampai.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Abdullah (Salman) al-Farisiy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada seorangpun yang mandi pada hari Jum’at, kemudian bersuci dengan sempurna dan memakai minyak atau memakai harum-haruman yang ada di rumahnya, kemudian pergi ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang yang sudah duduk lebih dulu, kemudian shalat sebagaiamana yang telah ditentukan, serta memperhatikan imam yang sedang berkhutbah, melainkan diampuni dosa-dosanya yang diperbuat antara hari itu sampai Jum’aat berikutnya.” (HR Bukhari)

Dari Amr bin Sya’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Seseorang tidak diperbolehkan memisahkan antara dua orang (yang sudah duduk lebih dulu) kecuali dengan izin keduanya.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Dalam riwayat Abu Dawud: “Tidak boleh seorang duduk di antara dua orang, kecuali dengan izin keduanya.”

Dari Hudzaifah bin al-Yaman ra. bahwasannya Rasulullah saw. mengutuk orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis. (HR Abu Dawud)

Dari Abu Mijlaz, bahwasannya ada seseorang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis, kemudiian Hudzaifah berkata: “Allah mengutuk orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis melalui lisan Muhammad saw.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik majelis adalah majelis yang lapang.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang duduk dalam suatu majelis dan ia banyak bercakap-cakap, kemudian sebelum bangkit untuk meninggalkan majelis itu ia membaca: subhaanakallaaHumma wa bihamdika asy-Hadu allaa IlaaHa illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Engkau, saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu) melainkan diampuni dosa yang diperbuatnya selama ia duduk di dalam majelis itu.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Barzah ra. ia berkata: Apabila Rasulullah saw. hendak bangkit untuk meninggalkan suatu majelis, maka ucapan yang paling akhir diucapkannya adalah: subhaanakallaaHumma wa bihamdika asy-Hadu allaa IlaaHa illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Engkau, saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu). Maka ada seseorang berkata: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya Engkau mengucapkan suatu ucapan yang tidak biasa engkau baca pada waktu-waktu sebelumnya.” Beliau bersabda: “Ucapan itu sebagai kaffarat (pelebur) atas dosa yang diperbuat selama dalam majelis.” (HR Abu Dawud, dan diriwayatkan juga oleh al-Hakim Abu Abdullah dari ‘Aisyah ra.)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Jarang sekali Rasulullah saw. bangkit dari suatu majelis sebelum membaca doa-doa ini: allaaHummaqsim lanaa min khasy-yatika maa tahuulu biHi bainanaa wa baina ma’shiyatika wa min thaa-‘atika maa tuballighunaa biHi jannataka wa minal yaqiini maa tuHawwinu biHi ‘alainaa mashaa-ibad dun-yaa. allaaHuma matti’naa bi asmaa’inaa wa abshaarinaa wa quwwatinaa maa ahyaitanaa waj’alHul waritsa minnaa waj’al tsa’ranaa ‘alaa man dhalamanaa wanshurnaa ‘alaa man ‘aadaanaa wa laa taj’al mushiibatanaa fii diininaa wa laa taj’alid dud-yaa akbara Hamminaa wa laa mablagha ‘ilminaa wa laa tusallith ‘alainaa man laa yarhamunaa (Ya Allah, bagikanlah kepada kami dari rasa takut kepada-Mu yaitu rasa yang dapat menghalangi kami dari berbuat maksiat kepada-Mu. Dan bagikanlah rasa takut kepada-Mu, yaitu rasa yang dapat menghantarkan kami ke dalam surga-Mu, serta bagikanlah kami rasa yakin, yaitu raya yang dapat meringankan cobaan dunia yang menimpa kami. Ya Allah puaskanlah kami dengan pendengaran, penglihatan dan kekuatan kami selama Engkau masih memberi hidup kepada kami, dan jadikanlah semua itu mewarisi kami [jangan sampai semua itu ditinggalkan sebelum kami meninggal]. Balaslah orang yang berbuat aniaya kepada kami, tolonglah kami dalam menghadapi musuh-musuh kami. Janganlah Engkau menimpakan cobaan dalam agama kami, dan jangan pula Engkau jadikan dunia itu sebagai tujuan utama kami atau sebagai puncak pengetahuan kami; serta janganlah Engkau jadikan orang yang tidak mempunyai rasa belas kasih terhadap kami menjadi pemimpin kami)” (HR Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Suatu kaum yang bangkit dari suatu majelis dimana mereka tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala ketika duduk, maka mereka bangkit bagaikan keledai. Mereka mendapat kerugian yang besar sekali.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Suatu kaum yang duduk di suatu majelis dimana mereka tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala dan tidak pula membaca salawat Nabi mereka maka mereka sungguh mendapatkan kerugian, (tergantung Allah) apakah Ia akan menyiksa mereka atau mengampuni mereka.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Barangsiapa yang duduk dalam suatu tempat duduk kemudian ia tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka ia akan mendapatkan kerugian di hadapan Allah. Dan barangsiapa yang berbaring kemudian ia tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka ia juga mendapat kerugian di hadapan Allah.” (HR Abu Dawud).

Berharap Kepada Allah (1)

30 Apr

Riyadhush shalihin; Imam nawawi; al-Qur’an-Hadits

Firman Allah: “Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (az-Zummar; 53)

Firman Allah: “Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu) melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (Saba’: 17)

Firman Allah: “Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.” (Thaha: 48)

Firman Allah: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (al-A’raaf: 156)

Dari ‘Ubadah bin Shamit ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang bersaksi, bahwa tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tidak menyekutukannya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba dan utusan –Nya serta bukti kekuasaannya yang diberikan kepada Maryam dan ruh daripada-Nya; serta bersaksi bahwa Surg dan neraka itu itu adalah haq (benar-benar ada) maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai dengan amal perbuatannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim dikatakan: “Siapa saja yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka Allah mengharamkannya dari api neraka.”

Dari Abu Dzar ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Siapa saja yang mengerjakan satu kebaikan, ia akan dibalas dengan sepuluh kali lipat atau lebih. Dan siapa saja yang mengerjakan satu kejahatan, ia akan dibalas dengan satu kejahatan atau Aku mengampuninya. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka aku mendekat kepadanya sehasta. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Siapa saja yang datang kepadaku dengan berjalan, maka aku datang kepadanya dengan berlari. Dan siapa saja yang menghadap kepadaku dengan membawa dosa seisi bumi banyaknya, sedangkan ia tidak menyekutukan Aku dengan sesuatupun, maka aku akan menerimanya dengan ampunan sebanyak isi bumi juga.” (HR Muslim)

Dari Jabir ra. ia berkata: Seorang Badui datang kepada Nabi saw. dan bertanya: “Apakah dua hal yang sudah pasti itu?” Beliau menjawab: “Siapa saja meninggal dunia sedangkan ia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk surga. Dan siapa saja yang meninggal dunia sedangkan ia menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk neraka.” (HR Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Ketika Nabi saw. bepergian, ditemani Mu’adz beliau memanggil: “Wahai Mu’adz.” Ia menjawab: “Ya, ada apa ya Rasulallah?” Beliau memanggil lagi: “Wahai Mu’adz.” Ia menjawab: “Ya, ada apa ya Raasulallah?” Beliau memanggil lagi: “Wahai Mu’adz.” Ia menjawab: “Ya, ada apa ya Raasulallah?” Ini adalah panggilan yang ketiga kalinya. Kemudian beliau bersabda: “Seorang hamba yang bersaksi, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dengan sebenar-benar keluar dari lubuk hati, Allah pasti mengharamkan dirinya dari api neraka.” kemudian Mu’adz bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah saya diperbolehkan memberitahukan hal ini kepada orang banyak supaya mereka gembira?” beliau bersabda: “Kalau mereka mengetahui, mungkin akan sembrono.”Tatkala Mu’adz akan meninggal ia memberitahukan hal itu karena takut berdosa.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. atau Abu Sa’id al-Khudriy, ia berkata: ketika perang Tabuk, para shahabat menderita kelaparan. Maka mereka berkata: “Wahai Rasulallah, andaikan engkau mengizinkan, kami akan menyembelih binatang kami untuk dimakan, sehingga dapat menambah kekuatan kami.” Rasulullah saw. bersabda: “Laksanakanlah.” Kemudian Umar ra. datang dan berkata: “Wahai Rasulallah, andaikan engkau memberi izin mereka, maka kendaraan kita tinggal sedikit, tetapi perintahkanlah mereka yang masih mempunyai sisa-sisa bekal makanan, untuk mengumpulkannya kemudian berdoalah kepada Allah agar sisa bekal makanan itu membawa berkah bagi mereka. Dengan demikian semoga Allah memberi keberkahan terhadap sisa bekal makanan itu bagi mereka.” Rasulullah saw. bersabda: “Ya, benar.”
Kemudian beliau menghamparkan kain dan menyeru kepada orang-orang yang masih mempunyai sisa bekal makanan untuk mengumpulkan pada kain itu. Ada seseorang yang menyerahkan segenggam jagung, ada yang menyerahkan segenggam kurma dan ada juga yang menyerahkan segenggam kurma dan ada pula yang menyerahkan sepotong roti, sehingga terkumpul sisa-sisa bekal makanan yang sedikit itu.
Kemudian Rasulullah berdoa agar sisa-sisa makanan yang sedikit itu diberi berkah. Sesudah itu beliau bersabda: “Ambillah dengan membawa bejana (wadah) kalian masing-masing.” Maka mereka membawa bejana dan diisi dengan makanan dari kain yang terhampar itu sampai akhirnya semua bejana mereka penuh dan makan dengan kenyang, bahkan pada kain itu masih tersisa makanan. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan-Nya. Tidak ada seorang hamba pun yang merasa bimbang terhalang dari surga, ketika menghadap kepada Allah dengan dua kalimat ini.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tatkala Allah menciptakan makhluk, Ia menulis pada suatu kitab. Kitab itu berada di sisi-Nya di atas ‘Arsy, bertulis: “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Takut Kepada Allah (2)

30 Apr

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Dari al-Miqdad ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Pada hari kiamat matahari didekatkan kepada para makhluk, sehingga jaraknya kira-kira hanya satu mil.” Sulaim bin ‘Amir yang meriwayatkan dari al-Miqdad, berkata: “Demi Allah, saya tidak mengerti yang dimaksud oleh Rasulullah dengan mil itu; apakah ukuran jarak pada perjalanan ataukah mil yang biasa dipakai untuk mencelaki mata.” Rasulullah saw. bersabda: “Manusia tenggelam dalam keringat sesuai dengan amal perbuatannya. Di antara mereka ada yang terbenam sebatas kedua mata kakinya, sebatas pusarnya, dan ada pula yang terbenam sampai pada mulutnya.” Rasulullah saw. memberikan isyarat dengan tangan ke arah mulut beliau.” (HR Muslim)

Dari abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Pada hari kiamat manusia akan berkeringat, sehingga setinggi tujuh puluh hasta, dan mereka akan tenggelam dalam lautan keringat, sehigga ada yang mencapai telinga mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Kami bersama-sama Rasulullah saw. tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Beliau bertanya: “Apakah kamu tahu, bunyi apakah ini?” kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lah yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Ini adalah suara batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun. Batu itu sekarang baru sampai ke dasar neraka, maka kalian mendengar suara gemuruhnya.” (HR Muslim)

Dari ‘Adiy bin Hatim ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Seseorang di antara kalian akan berbicara langsung dengan Tuhannya, padahal di antara dia dengan Tuhannya tidak ada juru bahasa, kemudian ia melihat ke kanan, tiada terlihat kecuali amal yang pernah diperbuatnya, ia melihat ke kiri tiada terlihat kecuali amal yang diperbuatnya, dan ia melihat ke depan tiada yang terlihat kecuali api yang tepat di depannya. Maka takutlah kalian terhadap neraka walaupun hanya bersedekah dengan separuh kurma.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Dzarr ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya aku takut melihat apa yang tidak kamu lihat. Langit itu berkeriut-keriut; di situ tidak ada tempat untuk bisa menyisipkan empat jari-jari melainkan ada malaikat yang meletakkan dahinya untuk bersujud kepada Allah Ta’ala. Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit sekali tertawa dan pasti akan banyak menangis, dan kamu tidak akan bersuka ria dengan istrimu di perduan. Bahkan kalian akan keluar ke tempat-tempat yang ramai untuk memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Barzah Nadlah bin ‘Ubaid al-Aslamiy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kedua kaki seseorang tidak akan bergerak, sebelum ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan. Tentang ilmunya untuk apa ia pergunakan. Tentang hartanya darimana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan. Dan tentang badannya, untuk apa ia rusakkan.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. membaca ayat: yauma-idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) Kemudian beliau bertanya: “Tahukah kalian, apa yang diberitakan oleh bumi?” Para shahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya berita bumi, adalah bumi menjadi saksi terhadap terhadap semua perbuatan manusia, baik laki-laki maupun perempuan, yang mereka perbuatan di atasnya. Bumi ini akan berkata: “Ia telah berbuat begini dan begitu pada hari ini dan hari itu.” Inilah yang diberitakan oleh bumi.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Bagaimana aku bisa bersenang-senang padahal malaikat meniup sangkakala telah memasukkan ke dalam mulut dan ia hanya menunggu ijin, kapan ia diperintah untuk meniup sangkakalanya.” Berita ini terasa berat sekali oleh para shahabat, kemudian beliau bersabda: “Ucapkanlah: hasbunallaaHu wa ni’mal wakiil (Allah yang mencukupi kami dan Ia sebaik-baik yang menjamin.)”

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang takut, ia harus berangkat lebih pagi, dan siapa saja yang berangkat lebih pagi, ia pasti akan lebih cepat sampai pada tempat tujuan. Ingatlah bahwa dangangan Allah itu mahal. Ingatlah dagangan Allah itu surga.” (HR Tirmidzi)

Dari ‘Aisyah ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Manusia akan dikumpulkan nanti pada hari kiamat dalam kedadaan tidak beralas kaki dan telanjang bulat.” Saya bertanya: “Wahai Rasulallah, waktu itu laki-laki dan perempuan berkumpul, mereka dapat saling memandang kepada yang lain?” Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah, pada saat itu urusannya sangat berat, sehingga mereka tidak sempat memperhatikan hal-hal demikian itu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Urusan pada saat itu lebih penting daripada saling pandang di antara mereka.”