Tag Archives: muhammad

Mewarnai Gambar Kaligrafi Nama Surah Muhammad

25 Okt

Mewarnai Gambar Kaligrafi
Nama-Nama Surah Al-Qur’an Anak Muslim

mewarnai gambar kaligrafi nama surah muhammad

Umat Muhammad Separuh Penghuni Surga Atau Lebih

21 Mei

At-Tadzkirah Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Menurut riwayat Muslim dari Abu Sa’id ra, dia berkata, Bersabda Rasulullah saw. “Allah swt. berfirman, ‘Hai Adam.’
‘Laibbaika, hamba memenuhi panggilan-Mu, sepenuh kebahagiaan dari-Mu, dan segala kebaikan ada pada kedua tangan-Mu.’ Jawab Adam.
Maka Allah berfirman, ‘Keluarkan delegasi neraka dari keturunanmu.’
‘Apa itu delegasi neraka?’ tanya Adam, lalu dijawab, ‘Dari tiap-tiap seribu orang kirimkan 999 orang.’
Itulah saat anak kecil beruban, tiap-tiap wanita yang mengandung menggugurkan kandungannya, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk padahal sebenarnya mereka tidak mabuk tetapi adzab Allah amatlah keras.”

Cerita Rasulullah itu agaknya dirasakan berat sekali oleh para sahabat, maka mereka berkata, “Ya Rasulallah, siapakah diantar kami orang itu?”
Rasulullah bersabda, “Bergembiralah, karena sesungguhnya dari Ya’juj –Ma’juj seribu orang, dan dari kamu sekalian seorang.” Kemudian Rasulullah bersabda pula, “Demi Allah Yang menggenggam jiwaku, sesungguhnya aku sangat berharap kamu sekalian merupakan seperempat dari seluruh penghuni surga.” [Mendengar itu] kami pun memuji Allah dan bertakbir.

Kemudian Rasul bersabda pula, “Demi Allah Yang menggenggam jiwaku, sesungguhnya aku sangat berharap kamu sekalian merupakan sepertiga dari seluruh penghuni surga.” Kami pun memuji Allah dan bertakbir.

Kemudian Rasul bersabda pula, “Demi Allah Yang menggenggam jiwaku, sesungguhnya aku sangat berharap kamu sekalian merupakan separo dari seluruh penghuni surga. Sesunguhnya perumpamaan kamu sekalian di tengah-tengah umat-umat lainnya adalah seumpama seutas rambut putih di kulit lembu hitam, atau seperti sebuah titik di hasta seekor binatang.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dan diriwayatkan pula dari Nabi salallaaHu ‘alaiHi was salaam, bahwa beliau bersabda, “Seluruh makhluk pada hari kiamat ada seratus duapuluh baris. Panjang setiap barisnya sejauh perjalanan empat puluh ribu tahun, dan lebar setiap barisnya sejauh perjalanan dua ribu tahun.” Rasulullah ditanya, “Ya Rasulallah, berapa baris kaum mukminin?” beliau menjawab, “Tiga baris.” Rasul ditanya, “Bagaimana sifat kaum mukminin dibanding orang-orang kafir ?” Beliau menjawab, “Kaum mukminin seperti seutas rambut putih pada kulit lembu yang hitam.”

Demikian, disebutkan oleh al-Qutaibi dalam kitabnya, Uyun al-Akhbar. Hadits ini gharib sekali, berbeda dengan keterangan tentang barisan kaum mukminin dalam hadits-hadits lainnya.

Menurut penuturan Abu Bakar bin Abu Syaibah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami, Ibnu Numair, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku, Musa al-Juhani, dan asy-Sya’bi, dia berkata: saya dengar al-Juhani berkata, bersabda Nabiyullah saw, “Apakah kalian senang menjadi sepertiga dari seluruh penghuni surga?” Para shahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasul bersabda, “Apakah kamu sekalian senang menjadi separuh dari seluruh penghuni surga?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasul bersabda pula, “Sesungguhnya umatku pada hari kiamat merupakan dua pertiga dari seluruh penghuni surga. Sesungguhnya umat manusia pada hari kiamat ada seratus dua puluh baris, dan dari sekian itu umatku ada delapan puluh baris.” (Isnad hadist ini dlaif karena mursal)

Dari Abu Bakar bin Abu Syaibah meriwayatkan pula hadits yang serupa secara marfu’, dari Abdullah bin Mas’ud ra, dimana antara lain dikatakan, “Maka Rasulullah saw. bersabda, ‘Penghuni surga pada hari kiamat ada seratus dua puluh baris. Di antaranya kamu sekalian, ada delapan puluh baris.’” (isnad hadits ini dlaif, pada sanad hadits ini terdapat al-Harits bin Hudhairah, seorang perawi yang dlaif, yakni dinyatakan dhaif oleh Muslim dalam pendahuluan kitabnya)

Sementara itu Ibnu Majah dan at-Tirmidzi meriwayatkan hadits yang serupa dari Buraidah bin Hushaid, dia berkata, “Bersabda Rasulullah saw., ‘Penghuni surga itu ada seratus dua puluh baris. Delapan puluh baris di antaranya dari umat ini, dan yang empat baris dari umat-umat lainnya.’” (Abu Isa at-Tirmidzi bekata hadits ini gharib. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani ra. dalam Shahih al-Jami’ [2526])

&

Mewarnai lafal Muhammad utk anak muslim

23 Mar

Mewarnai Gambar Islami Untuk Anak Muslim
Untuk Kreatifitas dengan Mewarnai Gambar
alquranmulia.wordpress.com

mewarnai lafal Muhammad utk anak muslim

 

&

 

Hikmah Diperlihatkannya Neraka kepada Nabi Muhammad ketika Isra’ Mi’raj

23 Feb

Hikmah Diperlihatkannya Neraka kepada Nabi Muhammad ketika Isra’ Mi’raj
Neraka, Kengerian dan Siksaannya; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Menurut Imam al-Qurthubi dalam kitabnya at-Tadzkirah fii Ahwalil Mauta wa Umuril Aakhirah; jahanam adalah nama alam untuk seluruh neraka. sedangkan makna dari “Neraka diperlihatkan” adalah dia didatangkan dari tempatnya diciptakan oleh Allah swt. lalu dia dikelilingkan di bumi mahsyar sehingga tidak ada jalan ke surga kecuali sirath, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Adapun makna dari “tali kekang” adalah sesuatu yang diikatkan dengan kuat. Tali kekang ini dipergunakan untuk mengendalikan neraka agar tidak keluar dari bumi mahsyar. Tidak ada yang keluar dari neraka itu, kecuali leher-leher yang diperintahkan Allah swt. untuk membakar siapa saja yang dikehendaki-Nya. Adapun sifat para malaikatnya garang dan bengis.

Para ulama mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw. dikhususkan untuk menolak neraka dan mengekangnya dari penduduk mahsyar karena Allah swt telah memperlihatkan neraka kepadanya dalam perjalanan isra’ dan shalatnya. Dalam hal ini terdapat delapan manfaat sebagai berikut.

1. Pertama, ketika orang-orang kafir memperolok-olok Nabi Muhammad saw., mendustakan, dan menyiksanya dengan keras, Allah swt memperlihatkan kepadanya neraka yang disediakan bagi mereka. hal ini dimaksudkan untuk menenangkan hati Nabi Muhammad saw.

2. Kedua, sebagai petunjuk bahwa berbuat baik kepada para penolong dan orang yang dicintai dengan memberikan kehormatan dan syafaat serta kemuliaan lebih utama daripada berbuat baik kepada musuhnya yang menghinakannya.

3. Ketiga, diperlihatkannya neraka kepada Nabi Muhammad saw. agar orang-orang yang beriman mengetahui karunia Allah swt yang diberikan kepada mereka, yaitu ketika mereka diselamatkan dari neraka dengan syafaat-Nya.

4. Keempat, diperlihatkannya neraka kepada Nabi Muhammad agar hari kiamat ketika seluruh Nabi mengatakan “selamatkanlah aku, selamatkanlah aku,” maka Nabi Muhammad saw. mengatakan, “Umatku, umatku,” dan hal itu terjadi ketika neraka dinyalakan. Oleh karena itu, Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw. mengatakan lewat firman-Nya, “Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi.” Al-Hafidz Abul Khaththab mengatakan bahwa hikmah dari semua itu agar Nabi Muhammad saw. pergi ke umatnya untuk memberi syafaat. Jika Allah belum menenteramkannya, Nabi Muhammad saw. akan sibuk, sebagaimana para nabi lain.

5. Kelima, para nabi lain belum melihat sesuatu pun tentang neraka sebelum hari kiamat. Jika mereka diperlihatkan neraka, tentu mereka akan terkejut dan membungkam mulut mereka karena merasa ngeri melihatnya dan sibuk dengan urusan mereka sendiri. Namun Nabi Muhammad saw. telah diperlihatkan semuanya sehingga tidak terkejut seperti mereka. Jadi beliau mampu menceritakan tentang neraka kepada umatnya.

6. Keenam, terdapat dalil fikih bahwa surga an neraka telah diciptakan. Hal ini bertentangan dengan keyakinan kaum mu’tazilah yang mengingkari bahwa keduanya belum diciptakan. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang artinya “disediakan bagi orang-orang yang kafir”

7. Ketujuh, diperlihatkannya neraka kepada Nabi Muhammad saw. agar beliau tahu kehinaan dunia daripada apa yang diperlihatkan kepadanya. Dengan demikian, beliau dapat menjadi zuhud ketika di dunia, bahkan sabar terhadap kekerasannya hingga ditunjukkan ke surga. Dikatakan pula oleh para ulama, “Alangkah baik cobaan yang mengakibatkan pelakunya pada kebahagiaan. Dan alangkah buruknya kenikmatan yang mengakibatkan pelakunya pada penderitaan.”

8. Kedelapan, Allah swt menghendaki agar tidak seorang pun yang memiliki kehormatan seperti yang yang dimiliki Nabi Muhammad saw.. Adapun ketika Nabi Idris as. diberi kehormatan untuk memasuki surga sebelum hari kiamat, hal itu dikarenakan kesucian, keberhasilan dan kepercayaannya terhadap wahyu yang akan diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Semua itu dikatakan oleh al-Hafidz bin Dihyah ra. dalam kitab al-Ibtihaj yang membahas mi’raj Nabi Muhammad saw.

&

Hadits 33 Hadits Dlaif dan Maudlu’

19 Jan

Silsilah Hadits Dlaif (Lemah) dan Maudlu’ (Palsu);
Muhammad Nashiruddin al-Albani

Ad-dun-yaa adl-dliratul aakhirati

“Dunia adalah istri kedua (saingan) akhirat.”

Hadits ini tidak ada sumbernya dari Rasulullah saw.. Ini ditegaskan dalam kitab Kasyful Khafa dan lain-lain. Konon termasuk ucapan-ucapan yang dinisbatkan kepada Nabi Isa a.s.

&

Hadits 32 Hadits Dlaif dan Maudlu’

19 Jan

Silsilah Hadits Dlaif (Lemah) dan Maudlu’ (Palsu);
Muhammad Nashiruddin al-Albani

Ad-dun-yaa haraamun ‘alaa aHlil aakhirati, wal aakhiratu haraamun ‘alaa aHlid dun-yaa, wad-dun-yaa wal aakhiratu haraamun ‘alaa aHlillaaH.

“Dunia itu haram bagi ahli akhirat dan akhirat itu haram bagi ahli dunia, sedangkan dunia dan akhirat adalah haram bagi ahlullah.”

Ini salah satu dari sedereran hadits maudhu’. Dalam sanadnya terdapat JIibillah bin Sulaiman yang oleh adz-Dzahabi dinyatakan dalam deretan perawi tidak tsiqah (tidak terpercaya).

Menurut saya, penyebar hadits ini bukan saja tidak kuat, terapi jelas seorang pendusta ulung. Yang pasti, riwayat ini batil. Seorang mukmin tidak akan ragu terhadap pernyataan ini, sebab bagaimana mungkin Rasulullah mengharamkan sesuatu yang dihalalkan bagi orang-orang mukmin.

Tampaknya pemalsu hadits ini berasal dari kalangan sufi yang dungu, yang berkeinginan menabur benih akidah sufiyah batil. Di antaranya, yaitu mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan Allah dengan dalih mendidik jiwa, seolah-olah apa yang didatangkan oleh syariat tidak cukup atau kurang sempurna. Sehingga mereka membuat peraturan untuk menyempurnakan ketetapan Ilahi.

&

Hadits 31 Hadits Dlaif dan Maudlu’

19 Jan

Silsilah Hadits Dlaif (Lemah) dan Maudlu’ (Palsu);
Muhammad Nashiruddin al-Albani

Ad dun-yaa khuth-watu rajulin mu’minin

“Dunia adalah langlah seorang mukmin.”

Hadits tersebut tidak ada sumber aslinya. Ibnu Taimiyah dalam al-Fatawa l/196 juga mengatakan bahwa hadits tersebut tidak diketahui sumbernya, tidak dari Rasulullah saw, tidak dari salafus salih, juga tidak dari para imam.

Hadis tersebut oleh Imam as-Suyuthi diriwayatkan dalam deretan hadits-hadits maudhu’ dengan nomor 1187.

&

Hadits 30 Hadits Dlaif dan Maudlu’

19 Jan

Silsilah Hadits Dlaif (Lemah) dan Maudlu’ (Palsu);
Muhammad Nashiruddin al-Albani

Al khairu fiyya wa fii ummatii ilaa yaumil qiyaamati

“Kebaikan itu ada pada diriku dan umatku sampai hari kiamat.”

Hadits tersebut tidak ada sumbernya. Dinyatakan dalam kitab al-Maqashid bahwa Ibnu Hajar mengatakan, “Aku tidak mengetahui sumber aslinya.”

&

Hadits 29 Hadits Dlaif dan Maudlu’

19 Jan

Silsilah Hadits Dlaif (Lemah) dan Maudlu’ (Palsu);
Muhammad Nashiruddin al-Albani

Khiyaaru ummatii ahiddaa-uHumul ladziina idzaa ghadlibuu raja’uu

“Umatku yang terbaik ialah mereka yang berwatak keras (tegas) yang bila mereka marah segera sadar.”

Ini hadits batil. Al-Uqaili meriwayatkannya dalam kitrab Kumpulan Hadits-hadits Dha’if, halaman 2I7, kemudian menyatakan, “Sanadnya dari Abdullah bin Qunbur dan dia ini tidak suka meneliti sanad.”

Kemudian al-Uzdi mengatakan”, Riwayat Abdullah bin Qunbur tersebut tidak diterima jumhur pakar hadits. Bahkan adz-Dzahabi menyatakan bahwa riwayatnya batil dan dibenarkan oleh Ibnu Hajar.

&

Hadits 28 Hadits Dlaif dan Maudlu’

19 Jan

Silsilah Hadits Dlaif (Lemah) dan Maudlu’ (Palsu);
Muhammad Nashiruddin al-Albani

Al hiddatu laa takuunu illaa fii shaalihii ummatii wa abraariHaa tsumma tafii’

” Sikap tegas itu tidak akan ada kecuali pada umatku yang saleh dan yang paling baik, kemudian akan sirna.”

Hadits ini maudhu’ dan diriwayatkan oleh Bisyran dalam kitab al-‘Amali dengan sanad dari Bisyr bin Husain.

Saya katakan, Bisyr ini pendusta. Bahkan oleh ad-Daru Qhuthni dinyatakan tertolak riwayatnya. Kemudian Abu Hatim mengatakan bahwa Bisyir ini telah berdusta pada Zubair.

&