Tag Archives: pahala

Makanan Ahli Surga

17 Feb

Makanan Ahli Surga
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Makanan pertama yang dihidangkan Allah sebagai penghormatan untuk ahli surga adalah menu hati ikan laut, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hamparan bumi di hari kiamat laksana sepotong roti yang digenggam sendiri oleh Allah swt. seperti kalian memegang roti saat perjalanan. Allah melakukannya karena perhatian-Nya kepada ahli surga.” Lalu seorang Yahudi datang dengan berkata, “Semoga keberkahan Allah akan senantiasa kepadamu, wahai Abul Qasim [julukan Muhammad saw.).” “Bukankah telah aku katakan tentang penghormatan terhadap ahli surga pada hari kiamat?” Si Yahudi berkata, “Ya, sudah.” Abu Said al-Khudri berkata, “Bumi menjadi seperti sepotong roti, sebagaimana sabda Rasulullah saw. kepada kami.” Rasulullah saw. memandangi kami, kemudian tertawa hingga gigi gerahamnya terlihat. Kemudian beliau bersabda, “Bukankah telah aku katakan tentang idam [lauk] mereka, yaitu dengan kata Lam dan Nun.” Para shahabat bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulallah?” Rasulullah saw. menjawab, “Daging sapi dan ikan, yang keduanya dimakan sebagai tambahan hati, sebanyak 70.000.” (HR Bukhari dan Muslim)

Imam Nawawi menjelaskan seputar penjelasan hadits di atas. Menurutnya, “Lafal nuzul [penghormatan] itu adalah seperti yang biasa disuguhkan kepada tamu di saat mereka datang dan Allah swt menyediakan hidangan tersebut dengan tangan [kekuasaan]-Nya.” maksudnya, mengalihkan dari tangan yang menjulurkan pada tangan yang akan menerima sehingga kedua tangan dapat bertemu karena tidak terbentang seperti halnya hamparan kertas atau sejenisnya. Maksud dari hadits tersebut bahwa Allah swt. menciptakan bumi ibarat roti yang besar, dan itu yang akan menjadi makanan ahli surga. Maksud dari kata “nun” adalah ikan, sedangkan “lam” adalah kata perumpamaan yang berarti daging sapi. Sedangkan, yang dimaksud “tambahan hati ikan” adalah sepotong tersendiri yang berhubungan dengan hati, yang diambil dari yang terbaik.

Diriwayatkan dari Tsauban bahwa ada seorang Yahudi bertanya kepada Rasulullah saw. “Apa saja penghormatan pertama yang diberikan Allah kepada ahli surga?” Rasulullah saw. menjawab, “Hidangan hati ikan.” Orang Yahudi bertanya lagi, “Lalu, apa makan siangnya?” Rasulullah menjawab, “Seekor sapi surga akan disembelih untuk mereka, yang akan dimakan dari ujungnya.” Orang Yahudi itu bertanya lagi, “Lalu apa minumannya?” Rasulullah saw. menjawab, “Sebuah mata air surga yang dinamakan salsabila.” Orang Yahudi itu berkata, “Anda benar.” (HR Muslim)

Dalam kitab shahih Bukhari disebutkan bahwa Abdullah bin Salam menyampaikan beberapa pertanyaan kepada Rasulullah saw. ketika pertama kali datang ke Madinah. Antara lain ia bertanya, “Apa yang pertama kali dimakan ahli surga?” Rasulullah saw. menjawab, “Hidangan hati ikan.” (HR Bukhari)

Betapa pun manusia bisa memberikan suatu karakteristik tentang makanan ahli surga, serperti hendak menyampaikan tentang madzaqah [rasa], boleh jadi coretan pena tidak mampu membahasnya. Madzaq adalah pewarnaan atau pemberian bumbu oleh Allah swt. sebagaimana kita bisa mewarnai atau memberi bumbu makanan kita di dunia. Kadar selera mereka di surga akan seimbang dengan status penghormatan yang abadi, yang diberikan kepada mereka oleh Allah swt yang abadi. sedangkan, makanan yang dihidangkan juga merupakan makanan yang beraroma rasa yang membuat jiwa dan penciuman mereka bahagia. Makanan tersebut dihidangkan pada bejana-bejana yang keindahannya tidak dapat dibahasakan, yang terbuat dari emas murni dan perak murni.

Allah berfirman yang artinya:
“Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya”. (az-Zukhruf: 71)

Ayat ini sangat mulia, bahkan bisa dikatakan termasuk ayat-ayat mulia. Pada ayat tersebut memuat keterangan tentang keutamaan Allah swt, kemuliaan, dan nikmat-Nya terhadap orang-orang mumin di surga.

Yuthaafu ‘alaiHim bi shihaafin; istilah shihaaf hanya untuk makanan yang disajikan seperti yang telah dibicarakan oleh Allah swt. tentang hal tersebut dengan kata-kata “wa fiiHaa” (dan di dalamnya). Maksudnya, di piring-piring yang berisi makanan-makanan tersebut terdapat segala apa yang mengundang selera dan sedap [dipandang] mata.

Artinya, ini menunjukkan kemuliaan hidangan yang dibuat sebagai penghormatan kepada orang-orang mukmin di surga Allah swt. Ini benar-benar menjadi petunjuk yang sangat jelas akan adanya bermacam-macam makanan.

“Wa fiiHaa maa tasy-taHiiHil anfus.” Maksudnya segala yang menjadi keinginan orang-orang mukmin, dari berbagai macam makanan akan dihidangkan kepadanya, yang akan dibawa oleh barisan anak-anak, yang rupa mereka seolah seperti mutiara yang tersimpan dengan baik, indah dalam keindahan, hebat dalam kehebatan, baik dalam kebaikan, lezat dalam kelezatan yang tidak henti dan tidak tercegah. Tidak seorang pun yang tidak bisa makan manakala ia menginginkannya.

Ibnu Katsir menjelaskan maksud firman Allah swt. pada surah az-Zukhruf: 71 adalah sebagai berikut:
Yuthaafu ‘alaiHim bi shihaafim min dzaHabin; maksudnya adalah piring-piring, wadah makanan. Wa fiiHaa maa tasy-taHiiHil anfus; sebagian ulama ahli Qiraat membacanya dengan tasy-taHil anfus. Wa taladzdzul a’yun; berarti makanan yang baik, beraroma, serta sedap dipandang mata.

Ibnu Katsir mengatakan, diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ahli surga yang paling rendah pangkatnya dan paling rendah pula posisinya bagi seseorang, yang setelah itu tidak ada lagi orang yang msuk surga, akan dilonggarkan pandangannya sejauh perjalanan 100 tahun dalam sebuah istana yang terbuat dari emas serta tenda dan mutiara. Di sana tidak akan ditemukan sejengkal tempat pun, kecuali kesejahteraan, diberi makan, serta bersenang-senang bersama 70.000 lapis emas dimana tidak satu lapis pun terdapat warna yang tidak ada duanya. Dari awal hingga akhir kesenangannya tidak akan mengalami perubahan, akan selalu sama. Kalau saja seluruh penduduk bumi turun ke tempat tersebut, niscaya tempat tersebut masih cukup dan tidak berkurang sedikitpun dari apa yang telah dianugerahkan Allah swt.”

Firman Allah yang artinya: “Dan daging burung apa pun yang mereka inginkan.” (Al-Waaqi’ah: 21)

Yang dimaksud disini burung-burung yang jenisnya sangat banyak, enak rasanya, dan lezat dagingnya. Tidak seorang pun tahu seperti apa burung-burung surga itu, baik warna, bentuk, maupun rasanya kecuali Allah swt. Seperti itulah yang akan disuguhkan Allah swt di atas piring yang terbuat dari emas, yang dikelilingi oleh anak-anak yang tinggal di surga. Itulah makanan yang mengundang selera dan sedap dipandang mata.

Ibnu Abbas ra. mengatakan bahwa daging burung tersebut adalah yang mereka senangi dan mengundang selera. Ibnu Abbas mengatakan bahwa ketika di hati ahli surga terbersit keinginan menyantap daging burung, burung yang diinginkan tersebut berbang dan hinggap di depannya sesuai dengan apa yang diinginkan, baik direbus maupun dibakar, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits, “Engkau akan melihat burung di surga, lalu ia akan tunduk hinggap dalam keadaan matang terbakar.” (HR Ibnu Hatim)

Firman Allah yang artinya: “Dan Kami berikan kepada mereka tambahan berupa buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini.” (ath-Thuur: 22)

Kata “lahm” (daging) yang terdapat dalam ayat tersebut merupakan kata umum dan tidak tertentu pada suatu macam atau nama. Kata tersebut meliputi semua jenis daging yang dijanjikan Allah swt kepada orang-orang mukmin di surga.

Sesungguhnya sebagian dari nikmat terbesar itu adalah ketika Allah swt memanggil kita di surga dan berkenan untuk berbicara dengan kita, dengan firman: “[kepada mereka dikatakan] ‘Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.’” (ath-Thuur: 19)

Yang dimaksud dalam firman Allah tersebut adalah makan dan minumlah apa saja yang kalian haramkan atau diharamkan pada diri kalian dari berbagai macam makanan dan minuman. Inilah surga-Ku, makanlah apa saja yang kamu sukai dan mintalah apa saja yang kamu mau. Aku telah mengharamkan kepada kalian sebentar saja saat di dunia. Sekarang kalian berada dalam keabadian. Di surga ini kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan dan kalian akan kekal dan abadi.

&

Pakaian dan Perhiasan Ahli Surga

16 Feb

Pakaian dan Perhiasan Ahli Surga
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Tidak diragukan lagi bahwa pakaian adalah salah satu unsur keindahan, fitnah, gengsi dan kenikmatan. Itulah sebabnya manusia di dunia sangat memiliki kecenderungan terhadap sisi ini, bahkan mereka sangat mementingkan masalah mode berbusana, termasuk dalam jenis dan macamnya, terlebih lagi di kalangan perempuan. Mereka saling berkompetisi dalam hal berbusana, dengan kadar jauh di atas laki-laki.

Allah menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan orang-orang beriman laki-laki. Mereka tidak diperkenankan menggunakan sutra dan emas. Namun dihalalkan untuk perempuan. Sedangkan penggunaan wadah atau bejana yang terbuat dari emas dan perak dilarang bagi laki-laki dan perempuan. Semua itu akan diberikan pada saat di akhirat. Pencegahan tersebut semata-mata demi ketaatan mereka kepada Allah swt.

Tentang pakaian dan perhiasan ahli surga, Allah swt. berfirman:
“Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. Mereka Itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera Halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah;” (al-Kahfi: 30-31)

“[dalam surga itu] mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera Halus dan sutera tebal” maksudnya, di surga mereka mengenakan perhiasan dengan gelang emas.
Para mufassir mengatakan, “Tak seorangpun dari ahli surga, kecuali di tangannya terdapat tiga perhiasan, satu dari emas, satu dari perak, dan satu dari mutiara. Sebab Allah berfirman, “Mereka memakai pakaian sutera Halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih.” (al-Insaan: 21) dan “(bagi mereka) syurga ‘Adn mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka didalamnya adalah sutera.” (Fathir: 33)

Diriwayatkan dalam sebuah hadits: “Perhiasan orang mukmin akan sampai sejauh mana sampainya anggota badan yang basah oleh air wudlu.” (HR Muslim dalam al-Mukhtashar)

“dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera Halus dan sutera tebal” maksudnya mereka mengenakan pakaian berwarna-warni yang terbuat dari sutra yang halus dan yang tebal.
Menurut Imam Thabari, maksud ayat di atas adalah mereka mengenakan perhiasan tebal yang terbuat dari emas, pakaian yang terbuat dari sutra, terhalus dan tebal.

Firman Allah yang artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air; mereka memakai sutera yang Halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan,” (ad-Dukhaan: 51-53)

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.” (al-Hajj: 23)

“(bagi mereka) syurga ‘Adn mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka didalamnya adalah sutera.” (Fathir: 33)

“Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera,” (al-Insaan: 11-12)

Seluruh ayat di atas menjelaskan keberadaan pakaian dan perhiasan di surga, yang pada kenyataannya hanya namanya yang sama, tapi barangnya tak satupun yang menyerupai pakaian dan perhiasan di dunia. Kenikmatan di surga tidak akan dapat dijangkau oleh lintasan bayangan dan khayalan, atau pemikiran manusia.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Barra’ bin Azib disebutkan, “Aku hadiahakan pakaian tenun dari sutra.” Lalu mereka saling membicarakan di antara mereka. Rasulullah saw. bersabda, “Apakah kalian menyenanginya?” Mereka menjawab, “Ya, wahai Rasulallah.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, sapu tangan Sa’ad bin Muyad di surga lebih baik daripada pakaian ini.” (HR Bukhari dan Muslim)

Diceritakan dari Umar bin Sa’ad bin Mu’ad bahwa ‘Atharad bin Hajib menghadiahkan kepada Rasulullah saw. sebuah pakaian dari sutera halus, sebagaimana raja Kisra, lalu orang-orang berkumpul. Mereka pun menyentuh dan memegangnya dan mereka kagum, lalu berkata, “Wahai Rasulallah, apakah pakaian ini turun kepadamu dari langit?” Rasulullah saw. bersabda, “Apa yang kalian kagumi? Demi Allah yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, sapu tangan Sa’ad bin Muyad di surga lebih baik daripada pakaian ini. Hai nak, bawalah pakaian ini ke Abi Jahm, dan datanglah kepadaku dengan anbijah [buah mangga]!” (HR Thabrani dalam Mu’jam Kabir)

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. bahwa ketika ia dan para shahabat berada di sisi Rasulullah saw., datanglah seseorang lalu bertanya, “Wahai Rasulallah, kabarkanlah kepadaku tentang pakaian surga, apakah buatan ataukah tenunan?” sebagian shahbat ada yang tertawa. Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Mengapa kalian tertawa? Kalau ia tidak tahu, ia akan bertanya kepada orang yang tahu.” Rasulullah saw. duduk sebentar, kemudian bersabda, “Dimana orang yang bertanya tentang pakaian surga tadi?” Mereka menjawab, “Itu dia, wahai Rasulallah.” Rasulullah saw. bersabda, “Tidak, tapi dihasilkan dari buah-buahan surga.” [Rasulullah saw. mengulang sabdanya sebanyak tiga kali]. (HR Ahmad dan Nasa’i)

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Kurma surga itu cabang-cabangnya adalah zamrud hijau, warnanya emas merah, daunnya adalah kiswah ahli surga, sebagian jadi kain perca dan sebagian jadi perhiasannya. buahnya seperti Qilal dan Dila’, lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, lebih lembut dari yoghurt, dan tidak ada noda sedikitpun.” (HR Hakim, Abu Nu’aim, Baghawy, Ibnu Abi Ad-Dun-ya, Baihaqi, Ibnul Mubarak, dan Abu Syaikh)

&

Permadani Ahli Surga

16 Feb

Permadani Ahli Surga
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Allah swt. telah menyediakan istana-istana, kamar-kamar, dan tenda-tenda untuk orang-orang mukmin di surga. Di dalamnya semua itu, juga di kebun dan di taman-taman surga, terdapat dipan-dipan dan permadani yang indah dengan warna-warna yang mengagumkan. Kita tidak pernah melihat sebelumnya, tidak dari segi keindahannya ataut dari kesenangan yang abadi. ia adalah permadani yang sebelah dalamnya terdiri atas sutra. Permadani-permadani itu terhampar di setiap tempat dengan keindahan bentuk dan warna yang menyejukkan mata, menggoda, dan menggugah jiwa.

Firman Allah yang artinya:
“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (al-Hijr: 47)

“Mereka Itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera Halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah;” (al-Kahfi: 31)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah dengan enak sebagai Balasan dari apa yang telah kamu kerjakan”, mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.” (ath-Thuur: 17-20)

“Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. dan buah-buahan di kedua syurga itu dapat (dipetik) dari dekat.” (ar-Rahmaan: 54)

“Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.” (ar-Rahmaan: 76)

“Dan orang-orang yang beriman paling dahulu, mereka Itulah yang didekatkan kepada Allah. berada dalam jannah kenikmatan. segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian, mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.” (al-Waaqi’ah: 10-16)

“Banyak muka pada hari itu berseri-seri, merasa senang karena usahanya, dalam syurga yang tinggi, tidak kamu dengar di dalamnya Perkataan yang tidak berguna. di dalamnya ada mata air yang mengalir. di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya), dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar.” (al-Ghaasyiyah: 8-16)

Dalam Shafwah at-Tafasir, karya ash-Shabuni, yang menggabungkan antara penafsiran Ibnu Jarir ath-Thabari dan Ibnu Katsir dalam menafsirkan Surah al-Ghasyiyah ayat 8-16, disebutkan tentang kenikmatan surga.

“WujuHuy yauma-idzin naa’imaH.” Artinya wajah-wajah orang-orang mukmin pada hari kiamat memperoleh kenikmatan cerah dan berseri-seri, seperti firman Allah, “Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan.” (al-Muthaffifiin: 24)

Sedangkan firman-Nya: “….merasa senang karena usahanya [sendiri]…” (al-Ghasyiyah: 9) bermakna karena amal yang telah ia perbuat selama di dunia dan ketaatannya kepada Allah dengan rela. Sebab, amal yang seperti inilah yang membuatnya memperoleh warisan surga firdaus, yaitu rumah orang-orang bertakwa.

Fii jannatin ‘aaliyaH; artinya di kebun-kebun atau taman-taman yang tinggi tempat dan kualitasnya, mereka aman berada di kamar-kamar mereka.

Laa tasma’u fiiHaa laaghiyaH; artinya di surga tidak pernah didengar kata-kata cacian, kata-kata jelek, dan kata-kata jorok.
Ibnu Abbas ra. mengatakan: “Tidak akan pernah didengar kata-kata cemoohan dan yang tidak berguna.”

fiiHaa ‘ainun jaariyaH; artinya di surga terdapat mata air yang mengalir tidak pernah berhenti dan tidak pernah putus selamanya.

fiiHaa sururum marfuu’aH; artinya di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggalkan, dihiasi dengan zabarjad dan yakut. Di sana terdapat bidadari. Ketika kekasih Allah menghendaki bidadari tersebut di atas dipan, ia pun melakukannya.

Wa akwaabum maudluu’aH; artinya gelas-gelas yang letaknya dekat dan kelihatan dan telah beisi minuman sehingga tidak perlu ada yang harus mengisi lagi.

Wa namaariqu mash-fuufaH; artinya bantal-bantal yang tersusun untuk dijadikan sandaran.
Wa zaraabiyyu mabtsuutsaH; artinya di surga terdapat permadani indah dan halus yang terhampar di surga.

&

Dua Macam Orang yang Dijanjikan Surga oleh Allah jika Mereka Sabar

16 Feb

Dua Macam Orang yang Dijanjikan Surga oleh Allah jika Mereka Sabar
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Allah swt. berfirman dalam hadits Qudsi, “Jika hamba-Ku ditimpa musibah dengan kedua matanya [matanya buta], lalu ia bersabar maka Aku akan mengganti kedua matanya dengan surga.” (HR Ahmad dari Anas ra. dan Thabrani dari Ibnu Jarir ra)

Pada hadits qudsi yang lain Allah berfirman: “Ketika Aku mencabut kemuliaan-Ku pada hamba-Ku, lalu ia bersabar sambil instropeksi diri, maka aku tidak melihat imbalan yang setimpal kecuali surga.” (HR Bukhari dari Anas ra. dan Ahmad dari Abu Umamah ra)

Pada hadits qudsi yang lain Allah berfirman: “Ketika Aku mencabut kemuliaan-Ku pada hamba-Ku di dunia maka tidak ada balasan yang setimpal dari sisi-Ku kecuali surga. Oleh karena itu, ia tetap memuji hal tersebut.” (HR Turmudzi dari Anas ra.)

Sebuah hadits riwayat Ibnu Abdillah bin Namir, dari Ishaq bin Sulaiman Hariz Ibnu Usman, dari Syurahbil bin Syuf’ah, dari Ibnu Abdi Salma bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang tiga orang putranya meninggal dunia dalam keadaan masih berlum baligh, kecuali mereka akan menemuinya pada salah satu di antara delapan pintu surga, dari mana saja ia akan memasukinya.” (Sunan Ibnu Majah)

Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abdurrahman bin al-Asbahani, dari Dzukwan, dari Abu Sa’id ra. bahwa sejumlah perempuan memohon kepada Rasulullah saw. “Sempatkanlah waktu untuk kami, wahai Rasulallah, untuk menasehati kami.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Wanita [muslimah] manapun yang tiga anaknya meninggal dunia dalam keadaan masih belum baligh maka mereka akan menjadi tamengnya dari api neraka.” seorang wanita bertanya, “Bagaimana jika hanya dua?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, dua juga.” Syarik mengatakan dari Ibnu Ashbahani, dari Abu Shalih, dari Abu Sa’id, dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Anak yang belum usia baligh.” (Shahih Bukhari)

Diriwayatkan dari Yahya bin Yahya, dari Imam Malik, dari Ibnu Syihab, dari Sa’id bin Musayyab, dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seorang muslim yang ditinggal mati oleh tiga orang putranya, lalu ia disentuh api neraka, kecuali sumpah akan menjadi penghalangnya.” (Shahih Muslim)

&

Di Surga Tidak Ada Tidur

16 Feb

Di Surga Tidak Ada Tidur
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Diceritakan dari Jabir bin Abdullah dan Abdullah bin Abi Aufa ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidur adalah saudara kematian, sedangkan di surga tidak ada tidur.” (HR Ibnu Adiy dalam al-Kamil, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah dan Abu Syaikh dalam Tarikh Ashfahany. Syaikh Albani menyebutkan dalam silsilah al-Ahadits ash-Shahihah)

Ini adalah kenikmatan besar yang diterima orang-orang beriman saat di surga. Mereka membayangkan dan sedikit berfikir tentang kenikmatan tersebut, tetapi yang mereka dapatkan ternyata berupa kenikmatan agung, yang telah Allah ciptakan untuk orang-orang mukmin. Kenikmatan itu akan terus-menerus dan tidak akan terputus. Orang-orang mukmin akan hidup di surga dalam seluruh waktunya, tidak sedetikpun hilang tanpa kenikmatan dan kegembiraan. Bersama panjangnya usia yang tidak ada habisnya itu. Sedangkan kalau saja tidur akan terjadi di surga, berarti kenikmatan itu sempat terputus.

Allah berfirman yang artinya:
“Adapun orang-orang yang berbahagia, Maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (Huud: 108)

Ghairu maj-dzuudz, berarti tidak putus-putusnya dari mereka. surga merupakan kerajaan yang sangat besar, tempat orang-orang beriman akan berjalan-jalan di dalamnya senantiasa dalam kesibukan.

&

Cuaca Surga

16 Feb

Cuaca Surga
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Di surga tidak ada terik matahari yang menyengat dan salju yang sangat dingin. Cuaca cerah menerangi penghuninya, dengan suasana yang sangat menghanyutkan perasaan dan tiada bandingannya, tidak mungkin untuk dapat diungkapkan dengan kata-kata, kecuali kalau kita sudah mengalaminya.

Di dunia, dalam satu tahun, ada saatnya kita merasa nyaman dan segar dengan cuaca dan suhu udara yang pas terasa di kulit. Biasanya itu terjadi pada malam hari. Sedangkan di surga cuacanya senantiasa sesuai dengan fisik dan jiwa manusia, dengan ukuran yang pas, sebagaimana yang telah dijanjikan Allah berkaitan dengan kesenangan-kesenangan di surga.

Firman Allah yang artinya:
“Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi Balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera, di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.” (al-Insaan: 11-14)

Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, ayat “Laa yarauna fiiHaa syamsaw wa laa zam Hariiran” berarti mereka tidak merasakan panas yang terik dan dingin yang menyengat. Menurut kebanyakan mufasir, masa-masa di surga seperti saat menjelang fajar atau saat matahari akan terbenam. Pendapat ini sangat jelas. Allah swt. menyebutkan: “Laa yarauna fiiHaa syamsaw wa laa zam Hariiran” juga firman Allah: “wa daaniyatan ‘alaiHim dhilaaluHaa” naungan di sini memiliki tingkat ketebalan yang mengandung udara sehingga menjadikan iklim di surga menjadi sangat menyenangkan, wallaaHu a’lam.

Abu Abdillah Turmudzi dalam Nawadirul Ushul menyebutkan sebuah hadits dari Abban dari Hasan dan Abu Qilabah bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah saw. “Wahai Rasulallah, apakah di surga ada malam?” Rasulullah saw. menjawab, “Apa yang telah engkau siapkan untuk itu?” Orang itu menjawab, “Aku mendengar firman Allah: ‘Dan di dalamnya bagi mereka ada rizki pagi dan petang.’ [Maryam: 62].’” Aku [perawi hadits] berkata, “Malam itu waktu antara pagi dan petang.” Rasulullah saw. bersabda, “Di surga tidak ada malam. Di sana ada sinar dan cahaya. Pagi mengantarkan mereka pada keadaan santai dan santai mereka mengantarkan mereka pada pagi. Lalu, akan datang pada mereka saat-saat untuk shalat. Pada saat itulah mereka menunaikan shalat. Para malaikat pun mengucapkan salam kepada mereka.” (HR Ibnul Mubarak, dalam Zawa-id az-Zuhd)

&

Bejana di Surga

16 Feb

Bejana di Surga
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Bejana di surga bermacam-macam, ada yang berfungsi sebagai perhiasan, ada pula yang berfungsi untuk makan dan minum. Al-Qur’an telah menjelaskan tentang hal ini. Bejana-bejana itu terbuat dari emas dan ada juga yang terbuat dari perak, dengan berbagai bentuk dan model yang mengagumkan sehingga menambah keindahan segala yang ada di surga. Makan dan minum pun menjadi santai. Keindahan teko, cawan dan gelas makin menyempurnakan rasa minuman sehingga menambah kenikmatan dan kesenangan orang-orang mukmin. Mereka pun hidup dalam kekekalan, kenikmatan, dan kesenangan yang mengagumkan. Tidak ada sesuatupun yang telah disiapkan Allah di surga, kecuali itu bentuk keindahan dan kesenangan. Inilah salah satu bentuk pahala yang telah dijanjikan Allah kepada para hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya yang artinya:

“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik, sebagai Balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” (al-Waaqi’ah: 17-24)

Imam Ibnu Katsir, Ibnu Jarir, ash-Shabuni, dalam Mausu’ah al-Qur-aniyah al-Muyassarah, menjelaskan makna ayat-ayat di atas.
“Bi akwaabin,” berarti gelas-gelas yang sangat besar dan bundar tanpa bungkus.
“Abaariq” merupakan bentuk jamak dari kata “ibriq”, yang berarti teko atau cerek yang terbungkus dengan warna yang bening.
“wa ka’sim min ma’iin” artinya gelas-gelas berisi khamr yang lezat bagi yang meminumnya, yang memancar dari mata air.

Ibnu Abbas berkata, “Tidak diperas sebagaimana khamr di dunia, bak air, khamr maupun yang lain. Sedangkan khamr yang dimaksud di sini adalah khamr yang mengalir atau memancar dari mata air, tidak seperti khamr di dunia yang akan keluar kalau sudah diperas dan melalui suatu proses.

Firman Allah swt. yang artinya:
“(yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan”. Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya”. (az-Zukhruf: 69-71)

Dalam tafsir disebutkan bahwa makna ayat “Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas.” Adalah diedarkan kepada seluruh ahli surga bejana-bejana yang terbuat dari emas, di dalamnya terdapat makanan dan gelas-gelas yang di dalamnya terdapat minuman. Para ahli tafsir berkata, “Bejana-bejana surga adalah alat yang mereka gunakan untuk minum, yang di dalamnya terdapat minuman, sebagaimana firman Allah: “Dan Diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca,” (al-Insaan: 15)

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Janganlah kalian mengenakan sutra [haris] dan sutra [dibaj], dan janganlah kalian menggunakan bejana dari emas dan perak, dan jangan pula makan menggunakan piring dari emas dan perak. Sebab bejana emas dan perak [di dunia] untuk mereka [orang-orang kafir]. Sedangkan bagi kalian adalah di akhirat.” (HR Muslim, periwayatan ini dengan makna, sedangkan lafalnya mirip dan diringkas, lihat Mukhtashar Shahih Muslim)

Firman Allah yang artinya:
“Dan Diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam syurga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe.” (al-Insaan: 15-17)

“Dan Diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak” artinya mereka akan dikelilingi oleh pelayan-pelayan yang membawakan bejana-bejana yang terbuat dari perak, di dalamnya terdapat makanan dan minuman, sebagaimana kebiasaan orang-orang terhormat dan memiliki kemewahan di dunia (ash-Shabuni).

Dengan demikian, keperluan setiap orang akan terpenuhi. Bejana-bejana ini adalah piring-piring yang sebagian terbuat dari emas, sedangkan sebagian lagi terbuat dari perak, sebagaimana firman Allah, yang artinya:
“Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya”. (az-Zukhruf: 71)

Imam ar-Razi berkata, “Di antara dua ayat ini tidak terdapat pertentangan karena mereka terkadang menggunakan bejana dari emas dan terkadang dari perak.” (Tafsir al-Kabir)

Allah berfirman: wa akwaabin kaanat qawaariiraa. Kata “akwaab” berarti gelas-gelas yang halus dan bening seperti kaca. Disebutkan dalam al-Muhith, arti dari kata “Kaanat” pada ayat di atas adalah Allah menciptakan dengan kekuasaan-Nya. Hal ini makin menguatkan kekaguman terhadap Allah yang memadukan antara putihnya perak dan kemurniannya, serta perpaduan antara transparannya kaca dan kejernihannya.

“Qawaariira min fidl-dlatin” berarti perpaduan antara beningnya kaca dan indahnya perak. Ibnu Abbas berkata, “Tidak ada benda di surga yang sama dengan di dunia, kecuali sekedar nama yang sama. Artinya, di surga pasti lebih indah, lebih mulia, dan lebih tinggi. Jika kamu mengambil satu perak dari jenis perak dunia, lalu kamu bentuk setipis mungkin hingga seperti tipisnya sayap lalat, niscaya tak ada satupun benda yang ada di belakangnya yang terlihat. Namun gelas-gelas surga terlihat bening, dipadu dengan putihnya perak.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Musa al-Asy’ari bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin di surga memiliki tenda-tenda yang terbuat dari mutiara yang diberi lubang, dua kebun terbuat dari perak, baik bejana maupun segala yang ada di kebun tersebut, dan dua kebun terbuat dari emas, baik bejana maupun segala yang ada di kebun tersebut.” Artinya, setiap mukmin memiliki dua kebun. (Misykah al-Mashabih)

&

Berdakwah Mendapat pahala yang sangat besar

6 Okt

Pilar Keberhasilan Seorang Da’i
Dr. Ali bin Umar bin Ahmad Ba Dahdah;
islamhouse.com

Allah Tabaraka wa ta’ala berfirman dalam salah satu ayatNya:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri?”. QS Fushshilat: 33.

Inilah salah satu pujian bagi siapa saja (dari kalangan orang-orang yang beriman) yang menyeru (berda’wah) tanpa mengaitkan dengan hasil dari da’wahnya tersebut, lantas apa kiranya yang akan di dapat kalau bukan pujian serta ganjaran yang besar dari Allah Ta’ala seandainya da’wahnya itu di terima oleh mad’unya (target da’wahnya), maka sungguh pahala itu sangatlah besar dan agung hal itu sebagaimana yang telah di kabarkan dalam hadits yang shahih dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk seorang saja dengan sebab perantaraanmu maka itu lebih baik bagimu dari pada mendapatkan onta yang berwarna merah (harta yang mewah)”. HR Bukhari di dalam kitab fadhilah sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, di dalam Fathul Bari 7/70, dan Muslim di dalam kitab fadhilah sahabat, Syarh Shahih Muslim an-Nawawi 15/178.

Dalam hadits ini di jelaskan bahwa hanya dengan menjadi perantara seseorang itu mendapat hidayah engkau akan mendapat begitu besar pahala yang di peroleh lalu bagaimana kiranya kalau yang mendapat petunjuk itu sekelompok manusia? Maka sudah pasti pahala yang akan diperoleh akan bertambah dan berlipat-lipat, hal itu sebagaimana yang telah di contohkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Siapa yang mengajak kedalam kebaikan maka sesungguhnya baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa di kurangi sedikitpun pahala-pahala mereka”. HR Muslim dalam kitab Ilmu, Syarh Shahih Muslim Imam Nawawi 16/227.

&

Naungan Surga

12 Mei

Surga Kenikmatan Yang Kekal;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Selain pepohonan yang tak pernah putus berbuah selama 100 tahun, Allah juga menuturkan tentang pohon-pohon surga dan tempat bernaungnya,

“Dan golongan kanan, Alangkah bahagianya golongan kanan itu. berada di antara pohon bidara yang tak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas,” (al-Waaqi’ah: 27-30)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air.” (al-Mursalaat: 41)

“Perumpamaan syurga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti dan teduh….” (ar-Ra’du: 35)

“Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.” (Yaasiin: 55-56)

“Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.” (al-Insaan: 14)

“Dan selain dari dua syurga itu ada dua syurga lagi. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? kedua syurga itu (kelihatan) hijau tua warnanya.” (ar-Rahmaan: 62-64)

Dalam Tafsir ash-Shabuni disebutkan, dzawaataa afnaan adalah cabang karena ia memiliki daun dan buah, dan di antaranya yang menaungi dan memberikan buah.
Dalam tafsir lain juga disebutkan, mud Hammataan; maksudnya adalah yang kelihatan seperti gelap karena sangat hijau. Hal itu karena banyak disiram air. Dalam al-Qur’an disebutkan, yang artinya:

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang Suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.”(an-Nisaa’: 57)

Ayat ini menguatkan adanya naungan yang menaungi di surga, dan tentu akan kelihatan sangat indah berada di bawah pohon rindang, banyak daunnya yang dapat menaungi. Hal ini diungkapkan dengan ungkapan yang sangat indah, dhillan dhaliilan.

Dalam Mausu’ah al-Qur’aniyah al-Muyassarah disebutkan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta beramal shalih, akan dimasukkan ke dalam surga yang kekal dan penuh kenikmatan. Di sana, mereka tinggal untuk selamanya. Mereka memiliki istri-istri dari para bidadari yang sebelumnya menjadi istri di dunia. Allah memasukkan mereka ke dalam surga dengan senantiasa ada naungan sehingga akan terasa sejuk dan tidak panas.

Ibnu Katsir mengatakan bahwa lafadz “dhillan dhaliilan”, berarti tempat dengan naungan yang banyak, lebat, baik dan jernih. Berarti di sana akan ada naungan yang seantiasa menaungi, orang-orang akan hidup di sana dengan tenang.

&

Cahaya di Surga

12 Mei

Surga Kenikmatan Yang Kekal;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Berkenaan dengan pembahasan ini, Ibnu Taimiyah berkata, “Di surga tidak ada matahari, juga tidak ada bulan, tidak ada malam dan tidak ada siang, tetapi mereka akan mengetahui pagi dan petang dengan cahaya yang tampak dari arah ‘Arsy.”

Imam Qurthubi berkata, “Para ulama mengatakan bahwa di surga tidak ada malam dan siang, tetapi mereka senantiasa dalam cahaya selamanya. Mereka dapat mengetahui datangnya malam dengan tertutupnya tirai atau hijab dan terkuncinya pintu, dan mereka dapat mengetahui datanganya siang dengan tersingkapnya tirai atau hijab dan terbukanya pintu. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu Farah bin al-Jauzy.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna ayat, “….dan di dalamnya bagi mereka ada rizky pagi dan petang. Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.” (Maryam: 62-63). Maksudnya adalah dalam rentang masa seperti waktu pagi dan petang sebab di surga tidak ada malam dan siang. Akan tetapi, mereka berada dalam rentang masa yang di sana mereka dapat mengetahui melalui cahaya dan pelita.

&