Tag Archives: Rambut

Penampilan Rambut

13 Jul

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Hadits

Larangan menyemir rambut dengan warna hitam:
Dari Jabir ra. ia berkata: “Pada hari penaklukan kota Makkah, Abu Qahafah ayah Abu Bakar ash-Shiddiq dihadapkan kepada Rasulullah saw., dimana rambut kepala dan jenggotnya seperti bunga matahari karena putihnya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Ubahlah warna rambut itu, tetapi jauhilah warna hitam.” (HR Muslim)

Larangan membuat jambul:
Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Rasulullah saw. melarang untuk membuat jambul.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. melihat seorang anak yang sudah dicukur sebagian rambutnya dengan sebagian yang lain dibiarkannya, kemudian beliau melarang manusia untuk berbuat seperti demikian serta beliau bersabda: “Cukurlah semuanya atau biarkanlah semuanya.” (HR Abu Dawud)

Dari Abdullah bin Ja’far ra. bahwasannya Nabi saw. telah memberikan kesempatan tiga hari kepada keluarga Ja’far. Setelah tiga hari beliau mendatangi mereka dan bersabda: “Janganlah kalian menangisi saudaraku lagi setelah hari ini.” Kemudian beliau bersabda: “Panggillah kemari anak-anak saudaraku.” Maka kami dihadapkan kepada beliau seakan-akan kami adalah anak kecil. Beliau lantas bersabda: “Panggillah tukang cukur.” Kemudian beliau menyuruh untuk mencukur rambut kepala kami. (HR Abu Dawud)

Dari Ali ra. ia berkata: Rasulullah saw. melarang orang perempuan mencukur rambut kepalanya.” (HR Nasa’i)

Haram menyambung rambut, membuat tahi lalat dan meratakan gigi:
Firman Allah: “Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala[349], dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, yang dila’nati Allah dan syaitan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya)[350], dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya[351], dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya[352]”. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, Maka Sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (an-Nisaa’: 117-119)

[349] Asal makna Inaatsan ialah wanita-wanita. patung-patung berhala yang disembah Arab Jahiliyah itu biasanya diberi nama dengan Nama-nama perempuan sebagai Laata, Al Uzza dan Manah. dapat juga berarti di sini orang-orang mati, benda-benda yang tidak berjenis dan benda-benda yang lemah.
[350] Pada tiap-tiap manusia ada persediaan untuk baik dan ada persediaan untuk jahat, syaitan akan mempergunakan persediaan untuk jahat untuk mencelakakan manusia.
[351] Menurut kepercayaan Arab jahiliyah, binatang-binatang yang akan dipersembahkan kepada patung-patung berhala, haruslah dipotong telinganya lebih dahulu, dan binatang yang seperti ini tidak boleh dikendarai dan tidak dipergunakan lagi, serta harus dilepaskan saja.
[352] Meubah ciptaan Allah dapat berarti, mengubah yang diciptakan Allah seperti mengebiri binatang. ada yang mengartikannya dengan meubah agama Allah.

Dari Asma’ ra. bahwasannya ada seorang perempuan bertanya kepada Nabi saw.: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya putriku tertimpa sakit panas sehingga rambutnya rontok dan saya akan segera menikahkannya, maka apakah boleh saya menyambung rambutnya?” Beliau menjawab: “Allah melaknat orang yang menyambung rambut dan yang disambung rambutnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Orang yang menyambung rambut dan yang minta disambung rambutnya.”

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya ada seorang perempuan bertanya kepada Nabi saw.: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya putriku tertimpa sakit panas sehingga rambutnya rontok dan saya akan segera menikahkannya, maka apakah boleh saya menyambung rambutnya?” Beliau menjawab: “Allah melaknat orang yang menyambung rambut dan yang disambung rambutnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dai Humaid bin Abdurrahman bahwasannya pada musim haji ia mendengar Mu’awiyah ketika berkhutbah di atas mimbar dimana ia menerima ikatan rambut dari tangan pengawalnya, kemudian ia berkata: “Wahai ahli Madinah, dimanakah ulama-ulama kalian? Saya mendengar Nabi saw. melarang ikatan rambut semacam ini, serta mendengar beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kebiasaan Bani Israil adalah ketika para wanitanya mempergunakan ikatan rambut.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Nabi saw. mengutuk orang yang menyambung rambut dan orang yang disambung rambutnya, serta orang yang membuat tahi lalat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra. bahwasannya ia berkata: Allah mengutuk orang yang membuat tahi lalat dan orang yang minta dibuatkan tahi lalat, orang yang mengerok alisnya dan orang yang memangkur (Menggosok dengan gerinda agar rata) giginya dengan maksud untuk memperindah dengan merubah ciptaan Allah.” Kemudian ada seorang perempuan menegurnya, maka Ibnu Mas’ud berkata: “Mengapa saya tidak mengutuk orang yang dikutuk oleh Rasulullah saw. sedangkan di dalam kitab Allah, Allah Ta’ala berfirman: “Apapun yang disampaikan oleh Rasul kepadamu maka laksanakanlah, dan apapun yang dilarangnya maka jauhilah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya ra. dari Nabi saw. bahwasannya beliau bersabda: “Janganlah kalian mencabut uban karena sesungguhnya uban itu merupakan cahaya orang Islam nanti pada hari kiamat.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi dan Nasa’i)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan tuntunan kami maka perbuatannya itu ditolak (tidak akan diterima).” (HR Muslim)

Menutup Rambut bagi Wanita

24 Jun

Dr. Yusuf Al-Qardhaw; Fatwa Kontemporer; Fiqih Kontemporer

PERTANYAAN

Ada sebagian orang mengatakan bahwa rambut wanita tidak termasuk aurat dan boleh dibuka. Apakah hal ini benar dan bagaimana dalilnya?

JAWAB

Telah menjadi suatu ijma’ bagi kaum Muslimin di semua Negara dan di setiap masa pada semua golongan fuqaha, ulama, ahli-ahli hadis dan ahli tasawuf, bahwa rambut wanita itu termasuk perhiasan yang wajib ditutup, tidak boleh dibuka di hadapan orang yang bukan muhrimnya.
Adapun sanad dan dalil dari ijma’ tersebut ialah ayat Al-Qur’an:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, …” (Q.s. An-Nuur: 31).

Maka, berdasarkan ayat di atas, Allah swt. telah melarang bagi wanita Mukminat untuk memperlihatkan perhiasannya. Kecuali yang lahir (biasa tampak). Di antara para ulama, baik dahulu maupun sekarang, tidak ada yang mengatakan bahwa rambut wanita itu termasuk hal-hal yang lahir; bahkan ulama-ulama yang berpandangan luas, hal itu digolongkan perhiasan yang tidak tampak.

Dalam tafsirnya, Al-Qurthubi mengatakan, “Allah swt. Telah melarang kepada kaum wanita, agar dia tidak menampakkan perhiasannya (keindahannya), kecuali kepada orang-orang tertentu; atau perhiasan yang biasa tampak.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Perhiasan yang lahir (biasa tampak) ialah pakaian.” Ditambahkan oleh Ibnu Jubair, “Wajah” Ditambah pula oleh Sa’id Ibnu Jubair dan Al-Auzai, “Wajah, kedua tangan dan pakaian.”

Ibnu Abbas, Qatadah dan Al-Masuri Ibnu Makhramah berkata, “Perhiasan (keindahan) yang lahir itu ialah celak, perhiasan dan cincin termasuk dibolehkan (mubah).”

Ibnu Atiyah berkata, “Yang jelas bagi saya ialah yang sesuai dengan arti ayat tersebut, bahwa wanita diperintahkan untuk tidak menampakkan dirinya dalam keadaan berhias yang indah dan supaya berusaha menutupi hal itu. Perkecualian pada bagian-bagian yang kiranya berat untuk menutupinya, karena darurat dan sukar, misalnya wajah dan tangan.”

Berkata Al-Qurthubi, “Pandangan Ibnu Atiyah tersebut baik sekali, karena biasanya wajah dan kedua tangan itu tampak di waktu biasa dan ketika melakukan amal ibadat, misalnya salat, ibadat haji dan sebagainya.”

Hal yang demikian ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah r.a. bahwa ketika Asma’ binti Abu Bakar r.a. bertemu dengan Rasulullah saw, ketika itu Asma’ sedang mengenakan pakaian tipis, lalu Rasulullah saw. memalingkan muka seraya bersabda: “Wahai Asma’! Sesungguhnya, jika seorang wanita sudah sampai masa haid, maka tidak layak lagi bagi dirinya menampakkannya, kecuali ini …” (beliau mengisyaratkan pada muka dan tangannya).

Dengan demikian, sabda Rasulullah saw. itu menunjukkan bahwa rambut wanita tidak termasuk perhiasan yang boleh ditampakkan, kecuali wajah dan tangan.

Allah swt. telah memerintahkan bagi kaum wanita Mukmin, dalam ayat di atas, untuk menutup tempat-tempat yang biasanya terbuka di bagian dada. Arti Al-Khimar itu ialah “kain untuk menutup kepala,” sebagaimana surban bagi laki-laki, sebagaimana keterangan para ulama dan ahli tafsir. Hal ini (hadis yang menganjurkan menutup kepala) tidak terdapat pada hadis manapun.

Al-Qurthubi berkata, “Sebab turunnya ayat tersebut ialah bahwa pada masa itu kaum wanita jika menutup kepala dengan akhmirah (kerudung), maka kerudung itu ditarik ke belakang, sehingga dada, leher dan telinganya tidak tertutup. Maka, Allah swt. memerintahkan untuk menutup bagian mukanya, yaitu dada dan lainnya.”

Dalam riwayat Al-Bukhari, bahwa Aisyah r.a. telah berkata, “Mudah-mudahan wanita yang berhijrah itu dirahmati Allah.”

Ketika turun ayat tersebut, mereka segera merobek pakaiannya untuk menutupi apa yang terbuka.

Ketika Aisyah r.a. didatangi oleh Hafsah, kemenakannya, anak dari saudaranya yang bernama Abdurrahman r.a. dengan memakai kerudung (khamirah) yang tipis di bagian lehernya, Aisyah
r.a. lalu berkata, “Ini amat tipis, tidak dapat menutupinya.”

&