Tag Archives: Rukun

Rukun Ibadah

9 Okt

Tauhid Uluhiah
Muhammad Ibn Ibrahim al Hamd; Islamhouse.com

Ibadah memiliki tiga rukun (pilar):
1. Cinta
2. Takut
3. Harap

Sebagian ahli ilmu menjadikannya empat: cinta, pengagungan, takut dan harap. Kedua pembagian tersebut tidaklah saling bertentangan. Sesungguhnya harap timbul dari cinta, sehingga seseorang tidaklah berharap kecuali kepada yang dicintai. Demikian pula takut muncul dari pengagungan. Tidaklah seseorang takut kecuali dari sesuatu yang agung.

Allah Shubhanahu wa ta’alla memuji pelaku takut dan harap dari para nabi dan rasul. Firman -Nya:

“…Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas….” (QS.al-Anbiya:90)

Lebih memuji pelakunya dibanding ibadah lain:

“(Apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? …” (QS.az-Zumar:9)

Dan firman -Nya:

“…dan mengharapkan rahmat -Nya dan takut akan azab -Nya.…” (QS.al-Isra’:57)

Dan firman -Nya:

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan berbagai rezki yang Kami berikan….” (QS.as-Sajadah:16)

Sebagaimana perintah Allah ‘Azza wajalla untuk menghadirkan dan mengerjakannya. Firman -Nya:

“…dan berdoalah kepada -Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan)….” (QS.al-A’raf:56)

Demikian itulah ibadah para nabi dan rasul serta hamba-hamba -Nya yang beriman. Maka siapakah lagi yang lebih baik dan lebih mendapat petunjuk dari mereka?
Apakah klaim semata bisa diterima?

Jawabnya: tidak. Takut dan harap saling berkaitan. Keduanya adalah paket kemenangan mendapat surga dan selamat dari neraka. Jika engkau tanya mukmin yang tidak berzina, padahal bisa melakukannya dengan: “Kenapa kamu tidak berzina?” niscaya akan segera menjawab, “Aku takut kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan berharap -Dia membalas dengan pahala.”

Jika engkau tanya mengapa melakukan shalat, niscaya dia akan menjawab, “Takut kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan berharap pahala -Nya.” Demikian juga hal lain. Selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, mungkin dicinta tapi tidak ditakuti. Mungkin juga ditakuti tapi tidak dicintai. Sedangkan pada -Nya, tergabung kedua hal itu pada -Nya, ditakuti dan dicintai. Karenanya, seorang mukmin haruslah menggabungkan atara cinta, takut, harap dan pengagungan. Ibadah hanya semata dengan cinta tidaklah cukup dan tidak benar, karena tidak mengandung pengagungan terhadap Allah Shubhanahu wa ta’alla, tidak pula takut. Dia hanya mendudukkan Allah Shubhanahu wa ta’alla seperti orang tua dan teman. Tidak berusaha komit menghindari perkara haram, bahkan meremehkannya dengan alasan kekasih tidak akan menyiksa yang dicintainya, sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, ‘Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih -Nya’….” (QS.al-Maidah:18)

Dan sebagaimana yang dikatakan ekstremis sufi: “Kami menyembah Allah Shubhanahu wa ta’alla bukan karena takut siksa -Nya, tidak juga mengharap pahala -Nya, tetapi mengibadahi Allah Shubhanahu wa ta’alla Karena cinta kepada -Nya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Rabi’ah al-‘Adawiah, yang berkata:
(Syair):

Kucinta Engkau karena dua cinta:
Cinta nafsu dan cinta karena Kau layak untuk itu
Tentang cinta nafsu, telah membuatku sibuk berzikir
Menyebut-nyebut -Mu dibanding yang lain
Tentang -Mu yang layak dicinta,
Telah tersingkap tirai hingga aku dapat melihat –Mu (Kitab As-Shufiah Fi Nadzril Islam: Dirosah Wa Tahlil oleh Samîh Âthifuzzain hal.257.)

Juga sebagaimana yang dikatakan Ibnu Arabi:

Aku beragama dengan agama cinta,
Dengannya aku bertawajuh
Cinta adalah agama dan imanku,
Dengannya aku berpijak
(Kitab As-Syi’rus Shûfi Ila Mathla’il Qornit Tâsi’ Lilhijrah oleh Dr.Muhamad Ibn Sa’ad Ibn Husain hal.172.)

Tidak diragukan bila cara seperti itu tidak benar dan metode cacat yang berefek merugikan. Di antaranya, merasa aman dengan murka Allah Shubhanahu wa ta’alla dan yang berujung pada lepas dari agama. Siapa yang sengaja lalai dan berbuat dosa kemudian mengharap rahmat -Nya tanpa amal, dia tertipu, aspirasi batil (sesat) dan harapan dusta. Demikian pula ibadah semata dengan takut, tanpa cinta dan harap tidaklah sahih. Bahkan merupakan kebatilan dan kerusakan. Itu merupakan metode Khawarij, yang tidak menjadikan ibadah mereka kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla diiringi cinta, sehingga tidak mendapati nikmat dalam ibadah, tidak pula berhasrat. Posisi Tuhan bagi mereka seperti posisi penguasa bengis, atau raja zalim. Ini mewariskan putus asa atau harapapan dari rahmat -Nya. Berujung pada kekufuran kepada -Nya dan berburuk sangka kepada -Nya. Rasul -Salallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

“Allah Azza wajalla berkata, ‘Aku sesuai praduga hambaku kepada -Ku dan aku bersamanya saat mengingat -Ku.'” (HR.al-Bukhari dalam al-Fath no.7405, Muslim no.2675.)

Dari Jabir Radiallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda sebelum tiga hari kematiannya:

“Janganlah kalian mati kecuali dengan berbaik sangka kepada Allah Azza wajall.” (HR.Muslim no.2877.)

Prasangka baik adalah motivasi amal. Ia harus ada tatkala mengharap ijabat doa, diterimanya taubat, ampunan saat beristighfar dan pahala ketika beramal. Namun berprasangka diampuni, diijabat dan diberi pahala sambil terus-terusan berbuat dosa dan lalai dalam beramal bukanlah prasangka baik sama sekali, bahkan itu merupakan kelemahan, kebodohan dan tertipu. Bagi hamba, Allah Shubhanahu wa ta’alla haruslah menjadi yang paling dicintai dibanding apapun yang lain, dan menjadikan -Nya sebagai yang paling agung dari segala sesuatu, yang menuntut rasa takut. Bila tidak demikian, dia akan merasa aman-aman saja.

Takut menuntut rasa harap. Bila tidak demikian, akan menjadi putus harapan dan asa. Setiap orang jika takut akan berlari menghindar, kecuali kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla. Jika engkau takut kepada -Nya, justru berlari mendekat kepada -Nya. Orang yang takut kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah yang lari mendekat kepada -Nya. Allah ta’ala berfirman,

“Maka segeralah berlari kembali kepada (mentaati) Allah….” (QS.adz-Dzariat:50)
Terdapat pernyataan yang terkenal dikalangan salaf, yaitu pernyataan mereka:
“Siapa yang hanya beribadah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan cinta semata, maka dia adalah zindik. Siapa yang mengibadahi -Nya dengan takut semata, dia adalah haruri (khawarij). Siapa yang mengibadahi -Nya dengan harap semata, maka dia adalah murji’. Dan siapa yang mengibadahi -Nya dengan takut, harap dan cinta, maka dia adalah mukmin muwahid (yang mengesakan Allah). (Lihat al-Ubudiah hal.128.)

&

Rukun (pilar) Tauhid Uluhiah

9 Okt

Tauhid Uluhiah
Muhammad Ibn Ibrahim al Hamd; Islamhouse.com

Lihat kitab As-Syikh Abdurrahman Ibn Sa’di Wa Juhuduhu Fi Taudihil Aqidah hal.152 dan kitab Al-As Ilah Wal Aj Wibah Al-Usuliah Alal Aqidah Al-Washitiah oleh as-Syaikh Abdul Aziz as-Salman hal.42-43.

Tauhid uluhiah tegak dengan tiga rukun (pilar), yaitu:

1. Tauhidul Ikhlas (tauhid keiklasan).
Dinamakan juga tauhidul murad (mengesakan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam kehendak). Tidak semestinya seorang hamba menghendaki selain satu kehandak saja, yaitu Allah Shubhanahu wa ta’alla, tidak tercampuri dengan kehendak lainnya.

2. Tauhidus Shidq (mengesakan ketulusan).
Dinamakan juga tauhid irodatul ‘abdi (mengesakan Allah dalam kehendak hamba). Yang demikian itu dengan mencurahkan upaya dan energinya dalam mengibadahi Tuhan-nya.

3. Tauhidut Thariq (mengesakan cara),
yaitu mengikuti Rasulullah -Shalallahu ‘alaihi wasallam-.
Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata dalam nadham syairnya:

“esa”, yaitu Allah. Inilah tauhidul murad (mengesakan dalam maksud).
“jadikan satu”, dalam determinasi, ketulusan dan keinginanmu.
Inilah tauhidul irodah (mengesakan kehendak).
“dalam satu”, meneladani Rasulullah -Salallahu ‘alaihi wasallam- yang
merupakan sabil hak dan iman. Inilah tauhidut thariq. (Lihat kitab Syarah Aqidah an-Nuniah oleh Ibnul Qoyyim, Syarh Syaikh Muhammad Khalil Harrâs II/134.)

Dalil yang menunjukkan akan tiga rukun tersebut banyak sekali. Yang termasuk dalil ikhlas, firman Allah -ta’ala-:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS.al-Bayinah:5)

Dalil as-Sidq (ketulusan) firman Allah -ta’ala-:

“…padahal jika mereka benar-benar (beriman) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS.Muhamad:21)

Firman Allah -ta’ala-:

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS.at-Taubah:119)

Dalil al-mutaba’ah (meneladani), firman Allah -ta’ala-:

“Katakanlah: ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kalian….'” (QS.Ali Imran:31)

Siapa yang padanya tergabung tiga hal tersebut,maka ia telah memperoleh segala kesempurnaan, kebahagiaan dan keselamatan. Tidak lengkap kesempurnaan seorang hamba melainkan jika kurang dari salah satunya.

&

Rukuk dalam Shalat adalah Rukun Shalat Kelima

24 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Rukuk dalam shalat adalah fardlu yang telah diakui secara ijma’ berdasarkan firman Allah yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, rukuk dan sujudlah kamu…” (al-Hajj: 77)

Rukuk terlaksana dengan membungkukkan tubuh, dimana kedua tangan mencapai kedua lutut. Dalam hal ini diharuskan thuma’ninah, artinya berhenti dengan tenang, sebagaimana telah diterangkan dalam hadtis al-Musi’ fii shalatiHi: “Kemudian hendaklah rukuk dengan thuma’ninah.”

Dan diterima dari Abu Qatadah, katanya Nabi saw. telah bersabda: “Sejelek-jelek pencuri adalah orang yang mencuri dari shalatnya.” Mereka lalu bertanya: “Ya Rasulallah. Bagaimana caranya mencuri dari shalat itu?” Ujar beliau: “Tidak disempurnakannya rukuk dan sujudnya.” Atau ujar beliau: “Tidak diluruskannya punggungnya sewaktu rukuk dan sujud.” (HR Ahmad, Thabrani, Ibnu Khuzaimah dan Hakim yang menyatakan bahwa isnadnya sah)

Dan dari Abu Mas’ud al-Badari, bahwa Nabi saw. telah bersabda: “Tidak memadai shalat, bila seseorang tidak meluruskan punggungnya di waktu rukuk dan sujud.” (HR Yang Berlima, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Thabrani dan Baihaqi yang menyatakan bahwa sah sementara Turmudzi menyatakan hasan lagi shahih)

Bagi para ahli dari shahabat-shahabat Nabi saw. dan ulama-ulama sesudah mereka, hal ini wajib diamalkan, artinya mereka berpendapat hendaklah seseorang yang shalat meluruskan punggungnya di waktu rukuk dan sujud.

Dari Hudzaifah, bahwa ia melihat seorang laki-laki yang tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya, maka ditegurnya: “Kau tidak shalat, dan andaikan mati, maka matimu tidak dalanm agama, dalam mana Muhammad saw. dicipta Allah.” (HR Bukhari)

&

Rukun-Rukun Mandi

2 Jan

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Mandi yang disyariatkan itu tidak tercapai hakekatnya kecuali dengan dua perkara:

1. Berniat
Karena ia memisahkan ibadah dari kebiasaan atau adat. Dan niat itu tidak lain hanyalah pekerjaan hati belaka. Maka apa yang telah menjadi kelaziman dan dibiasakan oleh kebanyakan orang berupa mengucapkan dengan lisan, adalah sesuatu yang dibuat-buat dan tidak disyariatkan hingga harus ditinggalkan dan disingkirkan. Dan mengenai hakekat niat ini telah dibicarakan dalam bab wudlu.

2. Membasuh seluruh anggota
Berdasarkan firman Allah:
“Dan jika kamu junub hendaklah bersuci.” Maksudnya hendaklah mandi.
“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah bahwa itu adalah kotoran, dari itu hendaklah dijauhi perempuan-perempuan itu di waktu haid, dan jangan dekati mereka sampai mereka suci.”
Artinya sampai mereka mandi. Dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan yang bersuci itu adalah mandi, adalah kata-kata tegas dalam firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman. Janganlah kamu dekati masjid jika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu menyadari apa yang kamu ucapkan, begitu pun orang-orang junub kecuali bagi yang lewat, sampai kamu mandi lebih dahulu.”
Dan hakekat mandi adalah membasuh seluruh anggota tubuh.

&

Syarat dan Rukun Shalat (4)

1 Mei

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Duduk di Antara Dua Sujud;
Para imam madzab berbeda pendapat tentang wajibnya duduk di antara dua sujud. Hanafi: sunnah. Sementara Syafi’i, Maliki dan Hambali: wajib.
Menurut pendapat Syafi’i yang paling shahih: duduk istirahat (sebelum berdiri dari sujud) hukumnnya adalah sunnah. Sedangkan tiga imam lainnya berpendapat: tidak dimustahabkan duduk istirahat, tetapi langsung berdiri dari sujud.
Bangun dari sujud hendaknya dengan cara menekan kedua telapak tangan ke lantai. Demikian menurut tiga imam. Namun menurut Hanafi: tidak boleh menekan ke lantai dengan tangan.

Tasyahud;
Para imam madzab berbeda pendapat mengenai tasyahud awal dan duduknya (ketika membacanya). Hanafi, Maliki dan Syafi’i: tasyahud awal adalah mustahab. Sedangkan menurut Hambali: tasyahud awal adalah wajib.
Disunnahkan dalam duduk ketika membaca tasyahud awal dengan duduk iftirasy (duduk dengan melipat kaki kiri di bawah dan melipat kaki kanan di samping serta telapak kaki kanan ditegakkan) dan untuk tasyahud akhir dengan duduk tawaruk (duduk dengan melipat kaki kiri di bawah dan kaki kanan dilipat di samping serta telapak kaki kanan ditegakkan dan telapak kaki kiri di bawah pergelangan kaki kanan). Demikian menurut Syafi’i. Menurut Hanafi: disunnahkan duduk iftirasy pada tasyahud awal dan akhir. Maliki: duduk tawarruk pada kedua tasyahud.
Empat imam madzab sepakat bahwa boleh membaca salah satu bacaan tasyahud yang telah diriwayatkan dari Nabi saw. melalui tiga sahabatnya sebagai berikut: 1) ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Khaththab ra. 2) ‘Abdullah bin Mas’ud ra. 3) ‘Abdullah bin ‘Abbas ra.

Syafi’i dan Hambali memilih tasyahud Ibnu ‘Abbas, Hanafi memilih tasyahud Ibnu Mas’ud, dan Maliki memilih tasyahud Ibnu ‘Umar.
Tasyahud Ibnu ‘Abbas:
Attahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaatu lillaaH. Assalaamu ‘alaika ayyuHan habiyyu wa rahmatullaaHi wa barakaatuH. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaaHish shaalihiin. asyHadu allaa ilaaHa illallaaHu wa asy-Hadu anna muhammadar rasuulullaaHi (“segala kehormatan yang penuh berkah, rahmat, dan kabaikan bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat, dan berkah Allah terlipah atasmu, wahai Nabi. Semoga kesejahteraan atas kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”) hadits ini diriwayatkan Muslim di dalam shahih-nya.

Tasyahud Ibnu Mas’ud sebagai berikut:
Attahiyyaatu lillaaHi wash shalawaatu wath thayyibaatu. Assalaamu ‘alaika ayyuHan habiyyu wa rahmatullaaHi wa barakaatuH. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaaHish shaalihiin. asyHadu allaa ilaaHa illallaaHu wa asy-Hadu anna muhammadar rasuulullaaHi (“segala kehormatan, rahmat, dan kabaikan bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat, dan berkah Allah terlipah atasmu, wahai Nabi. Semoga kesejahteraan atas kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”) hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam shahih mereka.

Tasyahud Ibnu ‘Umar:
Attahiyyaatu lillaaHi. Azzaakiyaatu lillaaHi aththayyibaatush shalawaatu lillaaHi. Assalaamu ‘alaika ayyuHan habiyyu wa rahmatullaaHi wa barakaatuH. Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaaHish shaalihiin. asyHadu allaa ilaaHa illallaaHu wa asy-Hadu anna muhammadan ‘abduHuu wa rasuuluHu (“segala kehormatan, rahmat, dan kabaikan bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat, dan berkah Allah terlipah atasmu, wahai Nabi. Semoga kesejahteraan atas kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”) hadits ini diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam al-Muwaththa’ dan al-Baihaqi an-Nawawi berpendapat: “Sanad-sanadnya shahih.”

Mengucapkan shalawat kepada Nabi saw. (dan keluarganya) dalam tasyahud akhir hukumnya adalah sunnah, menurut pendapat Hanafi dan Maliki. Syafi’i: wajib. Hambali dalam pendapatnya yang paling masyhur: shalat menjadi batal jika tidak membacanya.

Salam;
Para imam madzab sepakat bahwa mengucapkan salam disyariatkan. Syafi’i, Maliki dan Hambali: salam merupakan rukun. Hanafi: bukan rukun.
Hanafi dan Hambali: salam yang disyariatkan adalah dua kali. Maliki: satu kali. Syafi’i memiliki dua pendapat dan yang paling shahih: dua kali.
Apakah salam termasuk bagian shalat? Maliki, Syafi’i dan Hambali: ia termasuk bagian shalat. Hanafi: ia bukan bagian shalat.
Maliki: salam pertama wajib bagi imam dan munfarid. Syafi’i: wajib bagi imam, makmum dan munfarid. Hanafi: bukan fardlu. Hambali memiliki dua riwayat dan yang paling masyhur: kedua salam itu wajib.
Salam kedua menurut Hanafi, Syafi’i dalam pendapatnya yang paling shahih, dan Hambali: hukumnya sunnah. Sementara itu Maliki: tidak disunnahkan bagi imam dan munfarid. Sedangkan bagi makmum disunnahkan mengucapkan salam tiga kali; sekali ke kanan, sekali ke kiri dan sekali lagi ke depan untuk menjawab salam imam.

Niat Keluar dari Shalat;
Para imam madzab berbeda pendapat tentang niat keluar dari shalat. Maliki dan salah satu pendapat Syafi’i, serta Hambali: wajib. Namun pendapat paling shahih dari Syafi’i: tidak wajib. Sedangkan di kalangan ulama Hanafi terdapat perbedaan pendapat, apakah ia wajib atau tidak. Dari Hanafi sendiri tidak diperoleh keterangan yang dapat dijadikan pegangan.
Apa yang diniatkan dengan salam? Hanafi: niat memberi salam kepada malaikat penjaga dan kepada orang yang ada di sebelah kanan dan kiri. Maliki: imam dan munfarid berniat keluar dari shalat. Makmum pada salam pertama berniat keluar dari shalat, sedangkan pada salam kedua berniat menjawab salam imam. Syafi’i: munfarid berniat memberi salam kepada siapa saja yang ada di sebelah kanan dan kirinya, baik manusia, malaikat maupun jin. Imam berniat pada salam pertama untuk keluar dari shalat dan memberi salam kepada makmum. Sedangkan makmum berniat menjawab salam imam. Hambali dalam pendapatnya yang paling masyhur: berniat keluar dari shalat saja, tidak boleh disertai dengan niat yang lain.
(bersambung)

Syarat dan Rukun Shalat (3)

1 Mei

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Membaca Amiim;
Para imam mujtahid berbeda pendapat tentang mengucapkan amiin sesudah al-Fatihah. Pendapat yang masyhur dari Hanafi: mengucapkannya tidak dikeraskan, baik oleh imam maupun makmum. Maliki: dikeraskan baik oleh imam maupun makmum. Sedangkan tentang bacaannya oleh imam, terdapat dua pendapat yaitu boleh dan tidak boleh. Syafi’i: dikeraskan oleh imam. Sedangkan tentang bacaannya oleh makmum terdapat dua pendapat namun pendapatnya yang lebih shahih adalah bahwa bacaannya dikeraskan. Demikian menurut qaul qadim Syafi’i dan yang dipilih. Hambali: dikeraskan, baik oleh imam maupun makmum.

Membaca Surah Lain Setelah al-Fatihah;
Empat imam madzab sepakat bahwa membaca surah sesudah surah al-Fatihah dalam shalat shubuh dan dalam dua rakaat pertama shalat empat rakaat (dzuhur, asyar dan isya) serta dalam shalat tiga rakaat (magrib) hukumnya adalah sunnah.
Akan tetapi apakah disunnahkan juga dalam rakaat-rakaat lainnya? Dalam hal ini, tiga imam (Hanafi, Maliki dan Hambali) berpendapat: tidak disunnahkan. Sementara itu Syafi’i memiliki dua pendapat dan pendapat yang lebih kuat: tidak disunnahkan. Demikian dalam qaul qadim dan yang dipilih.

Mengeraskan Bacaan Surah;
Para imam madzab sepakat bahwa mengeraskan bacaan surah dalam shalat jahriyah (maghrib, isya dan shubuh) dan membacanya dengan perlahan dalam shalat sirriyah (dzuhur dan asyar) hukumnya adalah sunnah. Apabila sengaja mengeraskan dalam shalat sirriyah atau sebaliknya maka hal itu tidak membatalkan shalat, tetapi dianggap meninggalkan sunnah. Namun sebagian ulama Maliki berpendapat bahwa jika sengaja melakukannya maka shalatnya batal.
Para imam mujtahid berbeda pendapat tentang orang yang shalat sendirian (munfarid), apakah disunahkan mengeraskan bacaannya pada shalat jahriyah? Maliki dan Syafi’i: sunnah. Pendapat yang masyhur dari Hambali: tidak disunnahkan. Hanafi: boleh memilih, jika mau ia boleh mengeraskan sekedar terdengar oleh dirinya sendiri. Ia juga boleh membacanya dengan keras atau perlahan.

Rukuk dan Sujud;
Para imam mujtahid sepakat bahwa rukuk dan sujud merupakan fardlu shalat. Disyariatkan membungkuk dalam rukuk hingga kedua telapak tangan sampai ke lutut. Ketika itu, disunnahkan mengucapkan takbir. Namun, Sa’id bin Jubair dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berpendapat: tidak perlu bertakbir, kecuali pada permulaan shalat.
Para imam madzab berbeda pendapat tentang tumakninah dalam rukuk dan sujud. Hanafi: tumakninah tidak wajib, tetapi sunnah. Maliki, Syafi’i dan Hambali: fardlu sebagaimana rukuk dan sujud itu sendiri.
Menurut ijma’, ketika rukuk disunnahkan meletakkan kedua tangan di atas kedua lutut dan tidak diletakkan di antara kedua lutut.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa ia memasukkan kedua tangannya di antara dua lutut.

Tasbih dalam Rukuk dan Sujud;
Tasbih dalam rukuk dan sujud adalah sunnah. Akan tetapi menurut Hambali: tasbih dalam rukuk dan sujud adalah wajib satu kali. Demikian juga membaca: “sami’allaaHu liman hamidaH” dan berdoa di antara dua sujud. Namun jika ditinggalkan karena lupa, tidak membatalkan shalat.
Membaca tasbih tiga kali dalam rukuk dan sujud hukumnya adalah sunnah. Demikian menurut kesepakatan empat imam madzab.
Ats-Tsawri berpendapat: imam membaca tasbih lima kali agar makmum sempat membacanya tiga kali.

I’tidal;
Menurut Syafi’i dan Hambali: mengangkat kepala dari rukuk dan i’tidal adalah wajib. Demikian juga menurut pendapat Maliki yang termasyhur. Sementara itu, menurut Hanafi: tidak wajib. Jadi boleh langsung sujud, tetapi hal itu makruh. Mengucapkan sami’: “Sami-‘allaaHu liman hamidaH. Rabbanaa lakal hamdu mil-us samaawaati wa mil-ul ardli wa mil-u maa syi’ta min syai-im ba’du.” Ketika bangkit dari rukuk hukumnya adalah sunnah, baik bagi imam, makmum maupun bagi orang yang shalat sendirian (munfarid). Demikian menurut Syafi’i. Menurut Hanafi, Maliki dan Hambali: imam tidak boleh membaca lebih dari “Sami’allaaHu liman hamidaH” (Allah mendengar orang yang memuji-Nya) dan makmum tidak boleh membaca lebih dari “Rabbanaa lakal hamdu” (Wahai Rabb kami, bagi-Mu lah segala puji). Maliki menambahkan: munfarid boleh membaca lebih dari bacaan tersebut.

Anggota Sujud;
Empat imam madzab sepakat bahwa sujud disyariatkan dengan tujuh anggota tubuh: muka, dua lutut, dua tangan, dan ujung jari kedua kaki.
Mereka berbeda pendapat tentang kefardluannya. Hanafi: yang fardlu adalah hahi dan hidung. Syafi’i: yang diwajibkan adalah dahi, inilah yang disepakati di kalangan madzab Syafi’i. Akan tetapi tentang anggota lain terdapat dua pendapat, pendapat yang paling kuat adalah yang mewajibkannya. Pendapat inipun adalah pendapat yang masyhur dari dalam madzab Hambali, kecuali hidung yang dalam hal ini perbedaan pendapat dalam madzab Hambali.
Maliki memiliki dua pendapat yang saling bertentangan. Diriwayatkan dari Ibnu Qasim bahwa yang wajib dalam sujud adalah dahi dan hidung. Jika keduanya tidak menempel (pada tempat sujud), sebaiknya shalat tersebut diulang jika masih ada waktu. Sementara itu jika waktunya sudah lewat maka tidak perlu mengulangnya.
Empat madzab berbeda pendapat tentang orang yang sujud di atas lipatan sorbannya. Hanafi, Maliki dan Hambali dalam salah satu pendapatnya: hal itu boleh. Sedangkan menurut Syafi’i dan pendapat lain Hambali: tidak boleh hingga dahinya menempel secara langsung pada tempat sujud.
Mereka pun berbeda pendapat tentang wajibnya membuka kedua telapak tangan ketika sujud. Dalam hal ini Hanafi dan Hambali berpendapat: tidak wajib. Maliki: wajib. Sedangkan Syafi’i memiliki dua pendapat, dan yang lebih shahih: tidak wajib.
(bersambung)

Syarat dan Rukun Shalat (2)

1 Mei

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Bersedekap;
Empat imam madzab sepakat bahwa meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri (bersedekap) di dalam shalat hukumnya adalah sunnah. Namun ada riwayat dari Maliki, yang merupakan riwayat paling masyhur: tangan dijulurkan lurus ke bawah.
Al-Awza’i berpendapat: boleh memilih antara meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dan menjulurkan tangan ke bawah.
Para imam madzab berbeda pendapat tentang tempat meletakkan kedua tangan. Hanafi: di bawah pusar. Maliki, Syafi’i: di bawah dada di atas pusar. Hambali memiliki dua pendapat dan yang lebih masyhur adalah yang dipilih al-Khurqi adalah seperti pendapat Hanafi. Tiga imam madzab sepakat bahwa orang yang shalat disunnahkan memandang ke tempat sujudnya.

Iftitah;
Tiga imam madzab sepakat bahwa doa iftitah di dalam shalat hukumnya adalah sunnah. Maliki berpendapat: bukan sunnah, melainkan setelah takbiratul ikram langsung membaca al-Fatihah.
Mengenai doa iftitah, Hanafi dan Hambali: doa yang diucapkan adalah: subhaanakallaaHumma wa bihamdika wa tabaarakasmuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaaHa ghairuka (“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Mahasuci nama-Mu, Mahatinggi kemuliaan-Mu, tidak ada tuhan selain-Mu.”)
Menurut Syafi’I, doanya adalah sebagai berikut: wajjaHtu wajHiya lilladzii tatharas samaawaati wal ardla haniifam muslimaw wamaa ana minal musyrikiin. Inna shalatii wa nusukii wamahyaaya wa mamaatii lillaaHi rabbil ‘aalamiin. Laa syariikalaHu wa bi dzaalika umirti wa ana minal muslimiin (“Aku hadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung pada agama yang benar dan berserah diri, dan aku tidak termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku itu semata-mata hanya bagi Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan dengan (janji) itu aku diperintah serta aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”)
Abu Yusuf berpendapat: dianjurkan untuk membaca keduanya.

Isti’adzah;
Para imam madzab berbeda pendapat tentang mengucapkan isti’adzah: a-‘uudzu billaaHi minasy syaithaanir rajiim (“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk”) sebelum membaca al-Fatihah.
Hanafi: isti’adzah diucapkan pada rakaat pertama. Syafi’i: dibaca pada setiap rakaat. Maliki: tidak perlu membaca isti’adzah di dalam shalat fardlu. Sementara itu dari an-Nakha’I dan Ibn Sirin diriwayatkan bahwa isti’adzah dibaca setelah membaca surah al-Fatihah.

Membaca surah Al-Faatihah;
Para imam madzab sepakat bahwa membaca al-Fatihah adalah wajib bagi imam dan orang yang shalat sendirian (munfarid) pada dua rakaat shalat shubuh dan pada rakaat pertama dan kedua shalat lain.
Mereka berbeda pendapat tentang membaca surah al-Fatihah pada rakaat lainnya. Syafi’i dan Hambali: diwajibkan membaca al-Fatihah pada setiap rakaat shalat fardlu. Hanafi: membaca surah al-Fatihah tidak wajib kecuali pada rakaat pertama setiap shalat fardlu. Maliki ada dua pendapat: pertama, sama dengan pendapat Syafi’i dan Hambali. Kedua, jika tertinggal membaca surah al-Fatihah pada salah satu rakaat shalat selain shalat shubuh, hendaknya sujud sahwi. Sedangkan jika pada shalat shubuh diulang lagi shalatnya.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang wajibnya membaca al-Fatihah bagi makmum. Hanafi: tidak wajib, baik bacaan imam itu dikeraskan (jahar) maupun tidak dikeraskan (sirr). Bahkan tidak disunnahkan membacanya di belakang imam secara mutlak. Maliki dan Hambali: tidak wajib membaca surah al-Fatihah di belakang imam secara mutlak. Maliki: makmum makruh membacanya apabila imam membacanya dengan keras, baik ia mendengar bacaan imam itu maupun tidak mendengarnya.

Hambali: disunnahkan makmum membaca surah al-Fatihah di belakang imam, jika imam membacanya secara perlahan. Syafi’i: makmum wajib membaca surah al-Fatihah jika imam membacanya secara perlahan. Bahkan, dalam pendapat paling kuat dari Syafi’i: makmum wajib membaca surah al-Fatihah dalam shalat jahar.
‘Ashim dan al-Hasan bin Shalih berpendapat: membaca surah al-Fatihah adalah sunnah.

Para imam madzab berbeda pendapat dalam menentukan apa yang dibaca. Maliki, Syafi’i dan Hambali dalam riwayat yang masyhur: surah yang dibaca adalah surah al-Fatihah. Hanafi: sah membaca selain surah al-Fatihah, asalkan dari al-Qur’an.
Mereka juga berbeda pendapat tentang basmalah, apakah ia bagian dari surah al-Fatihah atau bukan. Syafi’i dan Hambali: basmalah bagian dari al-Fatihah. Hanafi dan Maliki: basmalah tidak termasuk al-Fatihah, oleh karena itu tidak wajib dibaca.
Menurut Syafi’i: basmalah dibaca dengan keras. Hanafi dan Hambali: dibaca secara perlahan. Maliki: hal yang disukai adalah tidak dibaca, melainkan langsung memulai dengan: alhamdulillaaHi rabbil ‘aalamiin (“Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.”)
Ibn Abi Laila berpendapat: boleh memilih membaca secara jahar dan sirr.
An-Nakha’i berpendapat: mengeraskan bacaan adalah bid’ah.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang orang yang tidak bisa membaca al-Fatihah dan surah lain. Hanafi dan Maliki: hendaknya ia berdiri selama membaca al-Fatihah. Syafi’i: hendaknya ia membaca tasbih: subhaanallaaH (“Mahasuci Allah”) selama bacaan al-Fatihah. Jika ia membaca al-Fatihah dengan bahasa Parsi (terjemahan) tidaklah sah. Akan tetapi Hanafi berpendapat: jika mau ia boleh membaca surah al-Fatihah dengan bahasa Arab maupun bahasa lain.

Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan berpendapat: jika ia bisa membaca surah al-Fatihah dengan bahasa Arab maka ia tidak boleh membacanya dengan bahasa lain. Namun apabila ia tidak bisa membacanya dengan bahasa Arab yang baik maka ia boleh membacanya dengan bahasa lain.
Jika seseorang shalat membaca al-Fatihah dari Mushaf (al-Qur’an), menurut Hanafi: shalatnya batal. Syafi’i: boleh. Hambali memiliki dua pendapat: pertama boleh dan kedua, boleh dalam shalat sunnah, tetapi tidak boleh dalam shalat fardlu. Pendapat kedua ini merupakan pendapat Maliki.
(bersambung)

Syarat dan Rukun Shalat (1)

1 Mei

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Syarat-syarat Shalat;
Para imam mujtahid sepakat bahwa shalat mempunyai syarat, yang tanpa syarat tersebut shalat tidak sah, yakni:
1. Wudlu dengan air atau tayamum ketika tidak ada air
2. Berdiri di tempat yang suci
3. Menghadap kiblat bagi yang sanggup melakukannya
4. Mengetahui dengan yakin bahwa waktu shalat telah tiba

Para imam madzab berbeda pendapat mengenai menutup aurat. Hanafi, Syafi’i dan Hambali: menutup aurat termasuk syarat-syarat shalat. Oleh karena itu menurut mereka syarat shalat ada lima.
Menurut Maliki, sebagian mereka berpendapat: menutup aurat termasuk syarat-syarat shalat jika sanggup dikerjakan dan teringat. Kalau aurat sengaja dibuka dan shalat dalam keadaan tersebut, padahal ia sanggup menutupnya, maka shalat itu batal. Sebagian yang lain berpendapat bahwa menutup aurat merupakan kewajiban yang berdiri sendiri. Ia bukan syarat sahnya shalat. Oleh karena itu jika seseorang shalat dalam keadaan aurat terbuka dan disengaja maka ia telah durhaka, tetapi kewajiban shalatnya gugur sedang shalatnya dipandang sah. Sedangkan pendapat yang dipegang para ulama mutaakhir madzab Maliki: shalat dengan aurat terbuka adalah tidak sah.

Rukun-rukun Shalat:
Empat imam mujtahid sepakat bahwa shalat mempunyai rukun-rukun yang termasuk di dalam shalat, di antaranya ada tujuh rukun yang disepakati:
1. Niat
2. Takbiratul ikram
3. Berdiri bagi yang mampu
4. Membaca (surah al-Fatihah)
5. Rukuk
6. Sujud
7. Duduk pada akhir shalat
Para imam madzab berbeda pendapat tentang rukun-rukun selain yang tujuh ini. Syarat-syarat dan rukun-rukun di atas merupakan fardlu shalat yang sebagian bersatu dan sebagian lagi tidak bersatu. Maka, niat menurut ijma’ adalah fardlu shalat.

Niat;
Hanafi: boleh mendahulukan niat atas takbiratul ikram asalkan terpaut sedikit dengan takbir. Maliki dan Syafi’i: niat harus bersamaan dengan takbiratul ikram, tidak boleh didahulukan atau diakhirkan.
Al-Qaffal, seorang imam mutaqaddim pengikut madzab Syafi’i berpendapat: jika niat bersamaan dengan awal takbiratul ikram, maka shalat itu sah.
An-Nawawi, seorang imam mutaakhir pengikut madzab Syafi’i, berpendapat: pendapat yang dipilih dalam hal ini adalah cukup membandingkan kebersamaan menurut anggapan umum, mengingat shalat yang dikerjakan tidak dipandang lalai darinya. Inilah yang diamalkan orang-orang dahulu (salaf).

Takbiratul Ikram;
Para imam madzab sepakat bahwa takbiratul ikram termasuk fardlu-fardlu shalat yang tidak sah kecuali dilafalkan . diriwayatkan dari az-Zuhri bahwa shalat tidak sah dengan semata-mata niat tanpa takbiratul ikram.
Para imam madzab sepakat bahw takbiratul ikram cukup hanya mengucapkan “AllaaHu akbar.” (Allah Mahabesar).
Hanafi berpendapat bahwa sah takbiratul ikram dengan lafaz pengagungan seperti: “AllaaHul ‘adhiim.” (Allah Yang Mahaagung) dan “AllaaHul jaliil” (Allah Yang Mahamulia). Kalau seseorang mengucapkan “AllaaH” tanpa tambahan lafaz lain, hal itu sah.
Syafi’i berpendapat: sahnya takbiratul ikram dengan bahasa Arab, selain itu maka shalatnya tidak sah. Namun Hanafi berpendapat: shalatnya sah.
Menurut ijma’ para imam madzab, mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ikram hukumnya adalah sunnah. Namun mereka berbeda pendapat tentang batasannya. Hanafi: sejajar dengan telinga. Maliki dan Syafi’i: sejajar bahu. Hambali memiliki tiga pendapat: 1) yang lebih masyhur sejajar dengan bahu. 2) sejajar dengan telinga. 3) boleh memilih di antara keduanya. Pendapat terakhir ini dipilih oleh al-Khurqi.
Menurut Maliki, Syafi’i, dan Hambali, bahwa mengangkat kedua tangan ketika rukuk dan bangkit dari rukuk (i’tidal) hukumnya adalah sunnah. Sementara itu Hanafi berpendapat: bukan sunnah.

Berdiri;
Para imam madzab sepakat bahwa bediri (qiyam) merupakan fardlu shalat yang diwajibkan bagi orang yang mampu melakukannya. Apabila seseorang meninggalkannya, padahal ia mampu, maka shalatnya tidak sah. Namun jika tidak mampu berdiri, hendaknya ia shalat sambil duduk.
Tentang cara shalat sambil duduk dalam madzab Syafi’i ada dua pendapat: 1) duduk bersila. Demikian pula riwayat dari Maliki dan Hambali, dan Hanafi. 2) duduk iftirasy (duduk dengan melipat kaki kiri di bawah dan kaki kanan dilipat di samping serta telapak kaki kanan ditegakkan). Inilah pendapat yang paling shahih. Hanafi: boleh duduk sekehendaknya.
Jika tidak mampu shalat sambil duduk, menurut Syafi’i: berbaring di atas lambung yang sebelah kanan sambil menghadap kiblat. Jika tidak mampu berbaring, hendaknya terlentang di atas punggung dan kedua kaki diarahkan ke kiblat. Demikian juga pendapat Maliki dan Hambali. Sementara itu, Hanafi berpendapat: hendaknya ia berbaring terlentang di atas punggung dan menghadapkan kedua kaki ke kiblat sehingga ia dapat mengisyaratkannya ke kiblat ketika rukuk dan sujud.
Jika seseorang tidak mampu berisyarat dengan kepala ketika rukuk dan sujud, hendaklah ia berisyarat dengan mata. Akan tetapi, Hanafi berpendapat: jika sudah demikian keadaannya, gugurlah kewajiban shalat darinya.
Orang yang mengerjakan shalat di atas kapal atau perahu wajib berdiri jika shalat itu fardlu selama tidak khawatir tenggelam atau kepala pusing. Namun Hanafi berpendapat: tidak wajib berdiri.
(bersambung)