Tag Archives: sakit

Boleh Mengeluh Sakit

1 Mei

Riyadhush shalihin, Imam Nawawi,
Akhlak dan Tuntunan Kaum Muslimin

Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Saya masuk ke tempat Nabi s.a.w. dan beliau di kala itu menderita penyakit panas, lalu saya memegangnya, kemudian saya berkata: “Sesungguhnya Tuan ini benar-benar sakit panas yang sangat.” Lalu beliau s.a.w. bersabda; “Benar, sesungguhnya penyakit panas saya ini adalah seperti panas-nya dua orang di antara engkau semua – yang dijadikan satu.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Sa’ad bin Abu Waqqash r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. datang ke tempatku untuk meninjau sewaktu saya menderita sesuatu penyakit yang sangat. Kemudian saya berkata: “Telah sampai padaku penyakit sebagaimana yang Tuan maklumi ini, sedang saya adalah seorang yang berharta dan tidak ada yang akan mewarisi harta itu melainkan anak saya perempuan,” selanjutnya disebutkanlah Hadis ini sampai selengkapnya. (Muttafaq ‘alaih)

Dari Alqasim bin Muhammad, katanya: “Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Aduh kepalaku.” Kemudian Nabi s.a.w. bersabda; “Bahkan sayalah – yang lebih sangat sakitnya. Aduh kepalaku,” selanjutnya disebutkanlah Hadis ini sampai selengkapnya.(Riwayat Bukhari)

&

Nikmatnya Rasa Sakit

7 Jan

La Tahzan; Jangan bersedih!
DR. ‘Aidh al-Qarni; Qisthi Press

Rasa sakit tidak selamanya tak berharga, sehingga harus selalu dibenci. Sebab, mungkin saja rasa sakit itu justru akan mendatangkan kebaikan bagi seseorang.

Bisanya, ketulusan sebuah doa muncul tatkala rasa sakit mendera. Demikian pula dengan ketulusan tasbih yang senantiasa terucap saat rasa sakit terasa. Adalah jerih payah dan beban berat saat menuntut ilmulah yang telah mengantarkan seorang pelajar menjadi ilmuwan terkemuka. Ia telah bersusah payah di awal perjalanannya, sehingga ia bisa menikmati kesenangan di akhirnya.

Usaha keras seorang penyair memilih kata-kata untuk bait-bait syairnya telah menghasilkan sebuah karya sastra yang sangat menawan. Ia, dengan hati, urat syaraf, dan darahnya, telah larut bersama kerja kerasnya itu, sehingga syair- syairnya mampu menggerakkan perasaan dan menggoncangkan hati. Upaya keras seorang penulis telah menghasilkan tulisan yang sangat menarik dan penuh dengan ‘ibrah, contoh-contoh dan petunjuk.

Lain halnya dengan seorang pelajar yang senang hidup foya-foya, tidak aktif, tak pernah terbelit masalah, dan tidak pula pernah tertimpa musibah. la akan selalu menjadi orang yang malas, enggan bergerak, dan mudah putus asa.

Seorang penyair yang tidak pernah merasakan pahitnya berusaha dan tidak pernah mereguk pahitnya hidup, maka untaian qasidah-qasidah-nya hanya akan terasa seperti kumpulan kata-kata murahan yang tak bernilai. Sebab, qasidah-qasidah-nya hanya keluar dari lisannya, bukan dari perasaannya. Apa yang dia utarakan hanya sebatas penalarannya saja, dan bukan dari hati nuraninya.

Contoh pola kehidupan yang paling baik adalah kehidupan kaum mukminin generasi awal. Yaitu, mereka yang hidup pada masa-masa awal kerasulan, lahirnya agama, dan di awal masa perutusan. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keimanan yang kokoh, hati yang baik, bahasa yang bersahaja, dan ilmu yang luas. Mereka merasakan keras dan pedihnya kehidupan. Mereka pernah merasa kelaparan, miskin, diusir, disakiti, dan harus rela meninggalkan semua yang dicintai, disiksa, bahkan dibunuh. Dan karena semua itu pula mereka menjadi orang-orang pilihan. Mereka menjadi tanda kesucian, panji kebajikan, dan simbol pengorbanan.

{Yang demikian jtu ialah karena mereka ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal salih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.} (QS. At-Taubah: 120)

Di dunia ini banyak orang yang berhasil mempersembahkan karya terbaiknya dikarenakan mau bersusah payah. Al Mutanabbi, misalnya, ia sempat mengidap rasa demam yang amat sangat sebelum berhasil menciptakan syair yang indah berikut ini:

Wanita yang mengunjungiku seperti memendam malu,
ia hanya mengunjungiku di gelapnya malam
Syahdan, an-Nabighah sempat diancam akan dibunuh oleh Nu’man
ibn al-Mundzir sebelum akhirnya mempersembahkan bait syair berikut ini:
Engkau matahari, dan raja-raja yang lain bintang-bintang
tatkala engkau terbit ke permukaan,
bintang-bintang itu pun lenyap tenggelam

Di dunia ini, banyak orang yang kaya karena terlebih dahulu bersusah payah dalam masa mudanya. Oleh karena itu, tak usah bersedih bila Anda harus bersusah payah, dan tak usah takut dengan beban hidup, sebab mungkin saja beban hidup itu akan menjadi kekuatan bagimu serta akan menjadi sebuah kenikmatan pada suatu hari nanti. Jika Anda hidup dengan hati yang berkobar, cinta yang membara dan jiwa yang bergelora, akan lebih baik dan lebih terhormat daripada harus hidup dengan perasaan yang dingin, semangat yang layu, dan jiwa yang lemah.

{Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.”} (QS. At-Taubah: 46)

Saya teringat seorang penyair yang senantiasa menjalani kesengsaraan hidup, menanggung cobaan yang tidak ringan, dan mengenyam pahitnya perpisahan. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia sempat melantunkan qasidah yang indah, segar, dan jujur. Dialah Malik ibn ar-Rayyib. Ia meratapi dirinya:

Tidakkah kau lihat aku menjual kesesatan dengan hidayah
dan aku menjadi seorang pasukan Ibnu Affan yang berperang
Alangkah indahnya aku, tatkala aku biarkan anak-anakku
taat dengan mengorbankan kebun dan semua harta-hartaku
Wahai kedua sahabat perjalananku, kematian semakin dekat
berhentilah di tempat tinggi sebab aku akan tinggal malam ini
Tinggallah bersamaku malam ini atau setidaknya malam ini
jangan kau buat lari ia, telah jelas yang akan menimpa
Goreslah tempat tidurku dengan ujung gerigi
dan kembalikan ke depan mataku kelebihan selendangku
Jangan kau iri, semoga Allah memberkahi kau berdua
dari tanah yang demikian lebar, semoga semakin luas untukku

Demikianlah, ungkapan-ungkapannya demikian syahdu, penyesalan yang sangat berat diucapkan, dan teriakan yang memilukan. Itu semua menggambarkan betapa kepedihan itu meluap dari hati sang penyair yang mengalami sendiri kepedihan dan kesengsaraan hidup. Ia tak ubahnya seorang penasehat yang juga pernah merasakan apa yang ia ucapkan. Dan, biasanya, perkataan atau nasehat orang seperti itu akan mudah masuk ke dalam relung kalbu dan meresap ke dalam ruh yang paling dalam. Semua itu adalah karena ia mengalami sendiri kehidupan pahit dan beban berat yang ia bicarakan.

{Maka, Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).} (QS. Al-Fath: 18)

Jangan cela orang yang sedang kasmaran hingga belitan keras deritamu berada dalam derita dirinya

Saya banyak menjumpai syair-syair terasa sangat dingin, tidak hidup, dan tidak ada ruhnya. Itu, bisa jadi karena kata-kata yang teruntai dalam bait-bait tersebut bukan terbit dari sebuah pengalaman pribadi sang penyair, tetapi suatu dikarang dan direka-reka dalam aura kesenangan. Karya-karya yang demikian itu tak ubahnya dengan potongan-potongan es dan bongkahan-bongkahan tanah; dingin dan tawar.

Saya juga pernah membaca karangan-karangan yang berisi nasehat-nasehat yang sedikit pun tak mampu menggerakkan ujung rambut orang yang mendengarkannya dan tidak mampu menggerakkan satu titik atom pun dalam tubuhnya. Semua itu, tak lain karena nasehat-nasehat itu tidak terucap dari mulut seseorang yang langsung pernah mengalami dan menghayati sendiri suatu kesedihan dan kesengsaraan.

{Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya.} (QS. Ali ‘Imran: 167)

Agar ucapan dan syair Anda dapat menyentuh hati pembacanya, masuklah terlebih dahulu ke dalamnya. Sentuhlah, rasakanlah dan resapilah niscaya Anda akan mampu memberikan sentuhan ke tengah masyarakat.

{Kemudian, apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.} (QS. Al-Hajj: 5)

Bacaan dan perbuatan apabila merasa sakit pada anggota badan

31 Des

Kumpulan Doa dalam Al-Qur’an dan Hadits;
Said bin Ali Al-Qahthani

jika merasakan sakit anggota badan

Disyariatkan Menjenguk Setiap Orang Sakit

13 Mar

Disyariatkan Menjenguk Setiap Orang Sakit
Dr. Yusuf Qardhawi; Fatwa Kontemporer; Fiqih Kontemporer

Dalam hadits-hadits yang menyuruh dan menggemarkan menjenguk orang sakit terdapat indikasi yang menunjukkan disyariatkannya menjenguk setiap orang yang sakit, baik sakitnya berat maupun ringan.

Imam Baihaqi dan Thabrani secara marfu’ meriwayatkan: “Tiga macam penderita penyakit yang tidak harus dijenguk yaitu sakit mata, sakit bisul, dan sakit gigi.”

Mengenai hadits ini, Imam Baihaqi sendiri membenarkan bahwa riwayat ini mauquf pada Yahya bin Abi Katsir. Berarti riwayat hadits ini tidak marfu’ sampai Nabi saw., dan tidak ada yang dapat dijadikan hujjah melainkan yang beliau sabdakan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Mengenai menjenguk orang yang sakit mata terdapat hadits khusus yang membicarakannya, yaitu hadits Zaid bin Arqam, dia berkata: “Rasulullah saw. menjenguk saya karena saya sakit mata.”12

Menjenguk orang sakit itu disyariatkan, baik ia terpelajar maupun awam, orang kota maupun orang desa, mengerti makna menjenguk orang sakit maupun tidak.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam “Kitab al-Mardha” dari kitab Shahih-nya, “Bab ‘Iyadatul-A’rab,” hadits Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw. pernah menjenguk seorang Arab Badui, lalu beliau bersabda, “Tidak apa-apa, suci insya Allah.” Orang Arab Badui itu berkata, “Engkau katakan suci? Tidak, ini adalah penyakit panas yang luar biasa pada seorang tua, yang akan mengantarkannya ke kubur.” Lalu Nabi saw. bersabda, “Oh ya, kalau begitu.”13

Makna perkataan Nabi saw., “Tidak apa-apa, suci insya Allah,” itu adalah bahwa beliau mengharapkan lenyapnya penyakit dan kepedihan dari orang Arab Badui itu, sebagaimana beliau mengharapkan penyakitnya akan menyucikannya dari dosa-dosanya dan menghapuskan kesalahan-kesalahannya. Jika ia sembuh, maka ia mendapatkan dua macam faedah; dan jika tidak sembuh, maka dia mendapatkan keuntungan dengan dihapuskannya dosa dan kesalahannya.

Tetapi orang Badui itu sangat kasar tabiatnya, dia menolak harapan dan doa Nabi saw., lalu Nabi mentolerirnya dengan menuruti jalan pikirannya seraya mengatakan, “Oh ya, kalau begitu.” Artinya, jika kamu tidak mau, ya baiklah, terserah anggapanmu.

Disebutkan juga dalam Fathul-Bari bahwa ad-Daulabi dalam al-Kuna dan Ibnu Sakan dalam ash-Shahabah meriwayatkan kisah orang Badui itu, dan dalam riwayat tersebut disebutkan: Lalu Nabi saw. bersabda, “Apa yang telah diputuskan Allah pasti terjadi.” Kemudian orang Badui itu meninggal dunia.

Diriwayatkan dari al-Mahlab bahwa ia berkata, “Pengertian hadits ini adalah bahwa tidak ada kekurangannya bagi pemimpin menjenguk rakyatnya yang sakit, meskipun dia seorang Badui yang kasar tabiatnya; juga tidak ada kekurangannya bagi orang yang mengerti menjenguk orang bodoh yang sakit untuk mengajarinya dan mengingatkannya akan hal-hal yang bermanfaat baginya, menyuruhnya bersabar agar tidak menggerutu kepada Allah yang dapat menyebabkan Allah benci kepadanya, menghiburnya untuk mengurangi penderitaannya, memberinya harapan akan kesembuhan penyakitnya, dan lain-lain hal untuk menenangkan hatinya dan hati keluarganya.

Diantara faedah lain hadits itu ialah bahwa seharusnya orang yang sakit itu menerima nasihat orang lain dan menjawabnya dengan jawaban yang baik.”14

&

RASULULLAH SAW SAKIT

19 Sep

DR.Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy; Sirah Nabawiyah;
analisis Ilmiah Mahajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah

Pada saat-saat itulah sakit Rasulullahs aw semakin bertambah berat, sehingga Usamah menghentikan pasukan di tempat perkemahan tersebut seraya menantikan apa yang akan diputuskan oleh Allah dalam masalah ini.

Permulaan sakit Rasulullah saw adalah sebagaimana diriwayatkan oelh Ibnu Ishaq dan Ibnu Sa‘ad dari Abu Muwahibah, mantan bukdan yang dimerdekakan oleh Rasulullahs aw, ia berkata : Rasulullah saw pernah mengutuskku pad atengah malam seraya berkata : Wahai Abu Muwaihibah, aku diperintahkan untuk memintakan ampunan bagi penghuni (kuburan) Baqi‘ ini, maka marilah pergi bersamamu. Kemudian aku pergi bersama beliau.Ketika kami sampai di tempat mereka, beliau mengucapkan :“Assalamu‘alaikum ya ahlal maqabir! Semoga diringankan (siksa) atas kalian sebagaimana apa yang dilakukan manusia, Berbagai fitnah datang seperi gumpalan-gumpalan malam ynag gelap, silih berganti ynag akhir lebih buruk dari yang pertama.“

Kemudian beliau menghampiriku seraya bersabda : „Sesungguhnya aku diberi kunci-kunci kekayaan dunia dan keabadian di dalamnya, lalu au disuruh memilih antara hal tersebut atau bertemu Rabb-ku dan sorga.“ Aku berkata kepada beliau : Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, ambillah kunci-kunci dunia, dan keabadian di dalamnya kemudian surga. Nabi saw bersabda :“Demi Allah tidak wahai Abu Muwahibah! Aku telah memilih bertemu dengan Rab-ku dan sorga.“ Kemudian Nabi saw memintakan ampunan untuk penghuni Baqi’‘dan meninggalkan tempat. Sejak itulah Rasulullah saw mulai meraskan sakit yang kemudian beliau meninggla dunia.

Pertama kali Rasulullah saw merasakan sakit keras di bagian kepalanya. Diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa sepulangnya dari Baqi‘, Nabi saw disambut oleh Aisyah ra seraya berkata :“Aduh kepalaku sakit sekali! Lalu Nabi saw berkata kepada Aisyah : Demi Allah wahai Aisyah, kepalaku sendiri terasa sakit. Sakit di bagian kepala itu semakin bertambah berat sehingga menimbulkan demam yang sangat serius.
Permulaan sakit ini terjadap pada akhir-akhir bulan Shafar tahun ke 11 Hjri. Dalam pada itu Aisyah ra senantiasa menjampirnya dengan sejumlah ayat-ayat alQuran yang berisi mu‘awwidzat (permintaan perlindungan kepada Allah).

Bukhari dan Muslim mneriwayatkan dari Urwah bahwa Aisyah ra mengabarkan , sesungguhnya Rasulullah saw apabila merasakan sakit beliau meniup dirinya sendiri dengan mu‘awwidzat dan mengusapkan dengan tangannya. Dan ketika mengalami sakit kepala ynag kemudian disusul kematiannya, itu akulah yang meniup dengan mu‘awwidzat yang biasa digunakannya lalu aku usap dengn tangan Nabi saw.
Para istri beliau memahami keinginan Nabi saw untuk dirawat di rumah Aisyah, karena mereka tahu Nabi saw santa mencintainya dan merasa tenteram dirawat olehnya. Dengan ijin dari para istri beliau akhirnya Nabi saw dipindahkan ke rumah Aisyah dan rumah Maimunah dengan dipapah oleh al Fadhal dan Ali bin Abi Thalib.

Di rumah Aisyah ra sakit Rasululah saw semakin bertambah keras. Mengetahui para sahabatnya sudah mulai cemas dan bersedih karena dirinya maka Nabi saw bersabda : „Siramkanlah aku dengan tujuh qirbah air karena aku ingin keluar berbicara kepada mereka.“ Aisyah ra berkata :“Kemudian aku dudukkan Nabi saw di tempat mandi lalu kami guyur dengna tujuh qirbah air tersebut sampai beliau mengisyaratkan dengan tangannya : cukup“ Kemudian beliau keluar dan berkhutbah kepada mereka. Nabi saw keluar dengan kepala terasa pusing lalu duduk di atas mimbar. Pertama-tama Nabi saw berdo‘a dan memintakan ampunan untuk para Mujahidin Uhud, lalu bersabda :

„Seorang hamba diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kekayaan dunia atua apa yang ada di sisi-Nya, lalu hamba itu memilih apa yang ada disisi-Nya.“ Serta merta Abu Bakar menangis (karena mengetahui apa yang dimaksud Nabi saw) seraya berkata dengan suara keras : Kami tebus engkau dengan bapak-bapak dan ibu-ibu kami. Kemudian Nabi saw bersabda :
„Tunggu sebentar wahai Abu Bakar! Wahai manusia sesungguhnya orang yang paling bermurah hati kepadaku dalam hartanya dan persahabatannya ialah Abu Bakar. Seandainya aku hendak mengangkat orang sebagai khalil (teman kesayangan) maka Abu Bakarlah khalilku, akan tetapi persaudaraan ynag sejati adalah persaudaraan Islam. Tidak boleh ada Khaukah (lorong) di masjid kecuali Khaukah (lorong) Abu Bakar. Sesungguhnya aku adalah tanda pemberi petunjuk bagi kalian dan aku menjadi saksi atas kalian. Demi Allah, sesungguhnya sekarang ini aku melihat telagaku. Sesungguhnya aku telah diberi kunci-kunci dunia. Demi Allah , aku khawatir kalian akan menjadi musyrik sesudahku tetapi aku khawatir kalian akan berlomba-lomba memperebutkan dunia.

Kemudian Rasulullah saw kembali ke rumah dan sakitnya bertambah berat. Aisyah ra berkata : Pada waktu sakit, Rasulullah saw pernah berkata kepadaku : Panggillah kemari Abu Bakar, bapakmu dan saudaramu, sehingga aku menulis sesuatu wasiat. Sebab aku khawatir ada orang yang berambisi mengatakan :“Aku lebih berhak“, padahal Allah dan orang-orang Mukmin tidka rela kecuali Abu Bakar.

Ibnu Abbas meriwayatkan katanya : Ketika Rasulullah saw sedang sakit keras, beliau bersabda kepada orang-orang yang ada di dalam rumah : Kemarilah aku tuliskan sesuatu wasiat buat kalian di mana kalian tidak akan sesat sesudahnya. Kemudian sebagian mereka berkata , sesungguhnya Rasululah saw dalam keadaan sakit keras sedangkan di sisi kalian ada al-Quran, cukuplah bagi kita Kitab Allah. Maka timbullah perselisihan diantara orang-orang yang ada di dalam rumah. Diantara mereka ada yang berkata : Mendekatlah, beliau hendak menulis suatu wasiat buat kalian di mana kalian tidak akan sesat sesudahnya. Diantara mereka ada juga yang mengatakan selain itu.

Mendengar perselisihan itu bertambah sengit dan gaduh akhirnya Rasulullah saw bersabda : Bangkitlah kalian. Ketika Rasulullah sawa sudah tidak kuat lagi keluar untuk mengimami shala maka beliau bersabda : „perintahkanlah Abu Bakar untuk mengimami shalat.“ Aisyah ra menyahut : Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar seorang ynag lembut. Jika dia menggantikanmu maka suaranya tidak dapat didengar oleh orang. Nabi saw bersabda : “Kalian memang seperti perempuan-perempuan Yusuf. Perintahkan Abu Bakar supaya mengimami shalat jama‘ah.“

Setelah itu Abu Bakarlah yang bertindak sebagai Imam shalat jama‘ah. Pada suatu hari, ketika Rasulullah saaw merasa sudah agak enak badan Nabi saw keluar kemudian mendapati Abu Bakar sedang mengimami shalat jama‘ah. Melihat kedatangan Rasulullah saw ini lalu Abu Bakar mundur tetapi diberi isyarat oleh Nabi saw agar tetap di tempatnya. Kemudian Nabi saw duduk di samping Abu Bakar lalu shalat mengikuti shalat Nabi saw yang dilakukannya dengan duduk itu, sementara itu orang-orang shalat mengikuti shalat Abu Bakar.

Orang-orang merasa gembira karena melihat Nabi saw tersebut, tetapi sebenarnya sakit beliau semakin bertambah serius dan rupanya hal itu merupakan kesempatan terakhir Rasulullah saw keluar melakukan shalat bersama orang banyak.

Ibnu Mas‘ud meriwayatkan, katanya : Aku pernah masuk membesuk Rasulullah saw ketika beliau sedang sakit keras , llau aku pegang beliau dengan tanganku seraya berkata : Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengalami demam panas sekali. Jawab Nabi saw : „Ya, demam ynag kurasakan sama dengan yang dirasakan oleh dua orang dari kalian (dua kali lipat).“ Aku katakan : „Apakah hal ini karena engkau mendapatkan dua pahala?“ Nabi saw menjawab :““Ya, tidaklah seorang Muslim menderita sakitnya itu kesalahan-kesalahannya sebagaimana daun berguguran dari pohonnya.“

Dalam keadaan sakit keras seperti itu Rasulullah saw menutupi wajahnya dengan kain. Apabila dirasakan sakit sekali maka beliau membuka wajahnya lalu bersabda :“Semoga laknat Allah ditimpahkan ke atas orang-orang Yahudi dan Nasrani ynag menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid.“ Seolah-olah Nabi saw memperingatkan kaum Muslimin dari tindakan seperti itu.

&

Keutamaan Kesabaran Keluarga yang Sakit

24 Jul

Dr. Yusuf Qardhawy; Fatwa Kontemporer; Fiqih Kontemporer

Keluarga si sakit wajib bersabar terhadap si sakit, jangan merasa sesak dada karenanya atau merasa bosan, lebih-lebih bila penyakitnya itu lama. Karena akan terasa lebih pedih dan lebih sakit dari penyakit itu sendiri jika si sakit merasa menjadi beban bagi keluarganya, lebih-lebih jika keluarga itu mengharapkan dia segera dipanggil ke rahmat Allah. Hal ini dapat dilihat dari raut wajah mereka, dari cahaya pandangan mereka, dan dari gaya bicara mereka.

Apabila kesabaran si sakit atas penyakit yang dideritanya akan mendapatkan pahala yang sangat besar –sebagaimana diterangkan dalam beberapa hadits sahih– maka kesabaran keluarga dan kerabatnya dalam merawat dan mengusahakan kesembuhannya tidak kalah besar pahalanya. Bahkan kadang-kadang melebihinya, karena kesabaran si sakit menyerupai kesabaran yang terpaksa, sedangkan kesabaran keluarganya merupakan kesabaran yang diikhtiarkan (diusahakan). Maksudnya, kesabaran si sakit merupakan kesabaran karena ditimpa cobaan, sedangkan kesabaran keluarganya merupakan kesabaran untuk berbuat baik.

Diantara orang yang paling wajib bersabar apabila keluarganya ditimpa sakit ialah suami atas istrinya, atau istri atas suaminya. Karena pada hakikatnya kehidupan adalah bunga dan duri, hembusan angin sepoi dan angin panas, kelezatan dan penderitaan, sehat dan sakit, perputaran dari satu kondisi ke kondisi lain. Oleh sebab itu, janganlah orang yang beragama dan berakhlak hanya mau menikmati istrinya ketika ia sehat tetapi merasa jenuh ketika ia menderita sakit. Ia hanya mau memakan dagingnya untuk membuang tulangnya, menghisap sarinya ketika masih muda lalu membuang kulitnya ketika lemah dan layu. Sikap seperti ini bukan sikap setia tidak termasuk mempergauli istri dengan baik, bukan akhlak lelaki yang
bertanggung jawab, dan bukan perangai orang beriman.

Demikian juga wanita, ia tidak boleh hanya mau hidup bersenang-senang bersama suaminya ketika masih muda dan perkasa, sehat dan kuat, tetapi merasa sempit dadanya ketika suami jatuh sakit dan lemah. Ia melupakan bahwa kehidupan rumah tangga yang utama ialah yang ditegakkan di atas sikap tolong-menolong dan bantu-membantu pada waktu manis dan ketika pahit, pada waktu selamat sejahtera dan ketika ditimpa cobaan.

Seorang penyair Arab masa dulu pernah mengeluhkan sikap istrinya “Sulaima” ketika merasa bosan terhadapnya karena ia sakit, dan ketika si istri ditanya tentang keadaan suaminya dia menjawab, “Ia tidak hidup sehingga dapat diharapkan dan tidak pula mati sehingga patut dilupakan.” Sementara ibu sang penyair sangat sayang kepadanya, berusaha untuk kesembuhannya, dan sangat mengharapkan kehidupannya. Lalu sang penyair itu bersenandung duka:

“Kulihat Ummu Amr tidak bosan dan tidak sempit dada Sedang Sulaima jenuh kepada tempat tidurku dan tempat tinggalku Siapakah gerangan yang dapat menandingi bunda nan pengasih Maka tiada kehidupan kecuali dalam kekecewaan dan kehinaan Demi usiaku, kuingatkan kepada orang yang tidur Dan kuperdengarkan kepada orang yang punya telinga.”

Yang lebih wajib lagi daripada kesabaran suami-istri ketika teman hidupnya sakit ialah kesabaran anak laki-laki terhadap penyakit kedua orang tuanya. Sebab hak mereka adalah sesudah hak Allah Ta’ala, dan berbuat kebajikan atau berbakti kepada mereka termasuk pokok keutamaan yang diajarkan oleh seluruh risalah Ilahi. Karena itu Allah menyifati Nabi Yahya a.s. dengan firman-Nya: “Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.” (Maryam: 14)

Allah menjadikannya –yang masih bayi dalam buaian itu– berkata menyifati dirinya: “Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (Maryam: 32)

Demikian juga dengan anak perempuan, bahkan dia lebih berhak memelihara dan merawat kedua orang tuanya, dan lebih mampu melaksanakannya karena Allah telah mengaruniainya rasa kasih dan sayang yang melimpah, yang tidak dapat ditandingi oleh anak laki-laki.

Al-Qur’an sendiri menjadikan kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua ini dalam urutan setelah mentauhidkan Allah Ta’ala, sebagaimana difirmankan-Nya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu bapak…” (an-Nisa’: 36)

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya …” (al-lsra’: 23)

Dalam ayat yang mulia ini Al-Qur’an mengingatkan tentang kondisi khusus atau pencapaian usia tertentu yang mengharuskan bakti dan perbuatan baik seorang anak kepada orang tuanya semakin kokoh. Yaitu, ketika keduanya telah lanjut usia, dan pada saat-saat seusia itu mereka amat sensitif terhadap setiap perkataan yang keluar dari anak-anak mereka, yang sering rasakan sebagai bentakan atau hardikan terhadap keberadaan mereka. Kata-kata yang mempunyai konotasi buruk inilah yang dilarang dengan tegas oleh Al-Qur~an:

“… Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai ke umur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.'” (al-Isra’: 23-24)

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa beliau berkata, “Kalau Allah melihat ada kedurhakaan yang lebih rendah daripada perkataan ‘uff (ah), niscaya diharamkan-Nya.”

Ungkapan Al-Qur’an “sampai ke usia lanjut dalam pemeliharaanmu” menunjukkan bahwa si anak bertanggung jawab atas kedua orang tuanya, dan mereka telah menjadi
tanggungannya. Sedangkan bersabar terhadap keduanya –ketika kondisi mereka telah lemah atau tua– merupakan pintu yang paling luas yang mengantarkannya ke surga dan ampunan; dan orang yang mengabaikan kesempatan ini berarti telah mengabaikan keuntungan yang besar dan merugi dengan kerugian yang nyata.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda: “Merugi, merugi, dan merugi orang yang mendapat kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau kedua-duanya, lantas ia tidak masuk surga.”57 (HR Ahmad dan Muslim)58

Juga diriwayatkan dalam hadits lain dari Ka’ab bin Ujrah dan lainnya bahwa Malaikat Jibril pembawa wahyu mendoakan buruk untuk orang yang menyia-nyiakan kesempatan ini, dan doa Jibril ini diaminkan oleh Nabi saw.59

Sedangkan yang sama kondisinya dengan usia lanjut ialah kondisi-kondisi sakit yang menjadikan manusia dalam keadaan lemah dan memerlukan perawatan orang lain, serta tidak mampu bertindak sendiri untuk menyelenggarakan keperluannya.

Jika demikian sikap umum terhadap kedua orang tua, maka secara khusus ibu lebih berhak untuk dijaga dan dipelihara berdasarkan penegasan Al-Qur’an dan pesan Sunnah Rasul.

Allah berfirman:

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan …” (al-Ahqaf: 15)

“Dan Kami perintahkan manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman: 14)

Imam Thabrani meriwayatkan dalam al-Mu’jamush-Shaghir dari Buraidah bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi saw., lalu ia berkata: “Wahai Rasululah, saya telah menggendong ibu saya di pundak saya sejauh dua farsakh melewati padang pasir yang amat panas, yang seandainya sepotong daging dilemparkan ke situ pasti masak maka apakah saya telah menunaikan syukur kepadanya?” Nabi menjawab, “Barangkali itu hanya seperti talak satu.”60

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Umar bin Khattab, “Ibuku sangat lemah dan tua renta sehingga tidak dapat memenuhi keperluannya kecuali punggungku ini telah menjadi hamparan tunggangannya –dia berbuat untuk ibunya seperti ibunya berbuat untuk dia dahulu– maka apakah saya telah melunasi utang saya kepadanya?” Umar menjawab, “Sesungguhnya engkau berbuat begitu terhadap ibumu, tetapi engkau menantikan kematiannya esok atau esok lusa; sedangkan ibumu berbuat begitu terhadapmu justru mengharapkan engkau berusia panjang.”

Selain itu, tanggung jawab keluarga terhadap si sakit bertambah berat apabila ia tidak punya atau kehilangan kelayakan untuk berbuat sesuatu, misalnya anak kecil –apalagi belum sampai mumayiz– atau seperti orang gila, yang masing-masing membutuhkan perawatan ekstra dan penanganan yang serius. Karena orang yang mumayiz dan berpikiran normal dapat meminta apa saja yang ia inginkan dapat menjelaskan apa yang ia butuhkan, dapat minta disegerakan kebutuhannya bila terlambat, dan dapat memuaskan orang yang mengobati atau merawatnya.

Sedangkan anak kecil, orang gila, dan yang sejenisnya, maka tidak mungkin dapat melakukan hal demikian. Karena itu berlipatgandalah beban keluarganya. Dengan demikian, mereka harus benar-benar menyadari kondisi kesehatannya dan mengusahakan pengobatannya, sehingga terkadang harus membawanya ke dokter, memasukkannya ke rumah sakit, atau hal-hal lain yang tidak dapat dibatasi.

&

Menguatkan Harapan Sembuh Ketika Sakit

19 Jul

Dr. Yusuf Qardhawi; Fatwa Kontemporer; Fiqih Kontemporer

Apabila seorang muslim menjenguk saudaranya yang sakit, sebaiknya ia memberikan nasihat agar dapat menumbuhkan perasaan optimisme dan harapan akan sembuh. Selain itu, seyogianya ia memberikan pengertian bahwa seorang mukmin tidak boleh berputus asa dan berputus harapan terhadap rahmat Allah dan kasih sayang-Nya karena Dzat yang telah menghilangkan penyakit Nabi Ayub dan mengembalikan penglihatan Nabi Ya’qub pasti berkuasa menghilangkan penyakitnya dan mengembalikan kesehatannya, kemudian Dia mengganti penyakit dengan kesehatan dan kelemahan dengan kekuatan.

Tidak baik menyebut-nyebut orang yang sakit yang telah meninggal dunia di hadapan orang sakit yang dijenguknya. Sebaliknya, sebutlah orang-orang yang telah sehat kembali setelah menderita sakit yang lama, atau setelah menjalani operasi yang membahayakan. Hal ini dimaksudkan untuk menguatkan jiwanya, dan merupakan bagian dari cara pengobatan menurut dokter-dokter ahli pada zaman dulu dan sekarang, sebab antara jiwa dan tubuh tidak dapat dipisahkan, kecuali dalam pembahasan secara teoretis atau filosofis. Karena itulah Nabi
saw. apabila menjenguk orang sakit, beliau mengatakan “tidak apa-apa, bersih (sembuh) insya Allah,” sebagaimana disebutkan dalam kitab sahih.

Adapun makna perkataan laa ba’sa (tidak apa-apa) ialah ‘tidak berat’ dan ‘tidak mengkhawatirkan.’ Ucapan ini untuk menimbulkan optimisme sekaligus doa semoga hilang penyakit dan penderitaannya, serta kembali kepadanya kesehatannya –disamping itu dapat menyucikan dan menghapuskan dosa-dosanya.

Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits dari Abu Sa’id al-Khudri secara marfu’: “Apabila kamu menjenguk orang sakit, maka hendaklah kamu beri harapan akan panjang umur. Karena yang demikian itu meskipun tidak dapat menolak takdir sedikit pun, tetapi dapat menyenangkan hatinya.”37

Maksud perkataan naffisuu lahu (berilah harapan kepadanya) yakni berilah harapan kepadanya untuk hidup dan berumur panjang, seperti mengucapkan perkataan kepadanya, “insya Allah engkau akan sehat kembali,” “selamat sejahtera,” “Allah akan memberikan kamu umur panjang dan aktivitas yang bagus,” dan ungkapan lainnya. Karena ucapan-ucapan seperti itu dapat melapangkan hatinya dari kesedihan yang menimpanya dan sekaligus dapat menenangkannya. Imam Nawawi berkata, “Itulah makna perkataan Nabi saw. kepada orang Arab Badui: ‘Tidak apa-apa.'”38

Disamping itu, diantara hal yang dapat menghilangkan kepedihan si sakit dan menyenangkan hatinya ialah menaruh tangan ke badannya atau ke bagian tubuhnya yang sakit dengan
mendoakannya, khususnya oleh orang yang dianggap ahli kebaikan dan kebajikan, sebagaimana yang dilakukan Nabi saw. terhadap Sa’ad bin Abi Waqqash. Beliau pernah mengusap wajah dan perut Sa’ad sambil mendoakan kesembuhan untuknya. Sa’ad berkata, “Maka aku selalu merasakan dinginnya tangan beliau di jantung saya, menurut perasaan saya, hingga saat ini.” (HR Bukhari).

Sementara itu, terhadap orang sakit yang kondisinya sudah tidak dapat diharapkan sembuh, –menurut sunnatullah– maka hendaklah si pengunjung memohon kepada Allah agar Dia
memberikan kasih sayang dan kelemahlembutan kepadanya, meringankan penderitaannya, dan memilihkan kebaikan untuknya. Tetapi hal itu hendaknya diucapkan dalam hati saja, jangan sampai diperdengarkan kepada si sakit agar tidak mempengaruhi pikiran dan perasaannya.

&

Orang Sakit yang Mati Otaknya Dianggap Mati Menurut Syara’

19 Jul

Dr. Yusuf Qardhawy; Fatwa Kontemporer; Fiqih Kontemporer

Sekarang sampailah pembahasan kita pada kondisi tertentu bagi sebagian orang yang sakit, yang belum meninggal dunia, tetapi otak dan sarafnya sudah mati, tidak berfungsi, dan tidak dapat kembali normal menurut analisis para dokter ahli. Dalam kondisi seperti ini keluarga dan familinya harus merawatnya dengan mempergunakan instrumen-instrumen tertentu misalnya untuk memasukkan makanan, pernapasan, dan kontinuitas peredaran darahnya. Kadang-kadang kondisi seperti ini dijalani berbulan-bulan atau bertahun-tahun dengan biaya yang besar dan harus menunggunya secara bergantian. Mereka mengira bahwa dengan cara demikian mereka telah memelihara si sakit dan tidak mengabaikannya. Padahal dalam kondisi seperti itu, si sakit tidak dianggap berada di alam orang sakit, tetapi menurut kenyataannya dia telah berada di alam orang mati, semenjak otak atau pusat sarafnya mengalami kematian secara total.

Karena itu meneruskan pengobatan dengan mempergunakan instrumen-instrumen seperti tersebut di atas merupakan perbuatan sia-sia, membuang-buang tenaga, uang, dan waktu yang tidak keruan ujungnya, dan yang demikian ini tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Kalau keluarga si sakit memahami agama dengan baik dan benar serta mengerti hakikat masalah yang sebenarnya, niscaya akan timbul keyakinan dalam hati mereka bahwa yang lebih utama bagi mereka dan lebih mulia bagi si mayit –yang mereka kira masih dalam keadaan sakit– adalah menghentikan penggunaan peralatan tersebut. Maka ketika itu akan berhentilah aliran darahnya, dan dengan demikian semua orang tahu bahwa dia benar-benar sudah meninggal dunia.

Dengan begitu, keluarga si sakit dapat menghemat tenaga dan biaya. Disamping itu, tempat tidur bekas si sakit dan peralatan-peralatan tersebut –yang biasanya sangat terbatas jumlahnya– dapat dimanfaatkan pasien lain yang memang masih hidup.

Apa yang saya katakan ini bukanlah pendapat saya seorang, tetapi merupakan keputusan Lembaga Fiqih Islami al-Alami (Internasional), sebuah lembaga milik Organisasi Konferensi Islam, yang telah mengkaji masalah ini dengan cermat dan serius dalam dua kali muktamar –setelah terlebih dahulu diadakan presentasi dari para pembicara dari kalangan ahli fiqih dan dokter-dokter ahli. Melalui berbagai pembahasan dan diskusi –termasuk menyelidiki semua segi yang berkaitan dengan peralatan medis tersebut dan menerima pendapat dari
para dokter ahli– Lembaga Fiqih Islam akhirnya menghasilkan keputusannya yang bersejarah dalam muktamar yang diselenggarakan di kota Amman, Yordania, pada tanggal 8-13 Shafar 1407 H/11-16 Oktober 1986 M. Diktum itu berbunyi demikian:

“Menurut syara’, seseorang dianggap telah mati dan diberlakukan atasnya semua hukum syara’ yang berkenaan dengan kematian, apabila telah nyata padanya salah satu dari dua indikasi berikut ini:

1. Apabila denyut jantung dan pernapasannya sudah berhenti secara total, dan para dokter telah menetapkan bahwa keberhentian ini tidak akan pulih kembali.

2. Apabila seluruh aktivitas otaknya sudah berhenti sama sekali, dan para dokter ahli sudah menetapkan tidak akan pulih kembali, otaknya sudah tidak berfungsi.

Dalam kondisi seperti ini diperbolehkan melepas instrumen-instrumen yang dipasang pada seseorang (si sakit), meskipun sebagian organnya seperti jantungnya masih berdenyut karena kerja instrumen tersebut.

Wallahu a’lam.”

Dari diktum ini dapat dihasilkan sejumlah hukum syar’iyah, antara lain:

Pertama: boleh melepas alat-alat pengaktif (perangsang) organ dan pernapasan dari si sakit, karena tidak berguna lagi.

Bahkan saya katakan wajib melepas atau menghentikan penggunaan alat-alat ini, karena tetap mempergunakan alat-alat tersebut bertentangan dengan ajaran syariah dalam beberapa hal, antara lain:

Menunda pengurusan mayit dan penguburannya tanpa alasan darurat, menunda pembagian harta peninggalannya, mengundurkan masa iddah istrinya, dan lain-lain hukum yang berkaitan dengan kematian.

Diantaranya lagi adalah menyia-nyiakan harta dan membelanjakannya untuk sesuatu yang tidak ada gunanya, sedangkan tindakan seperti ini terlarang.

Selain itu, diantara akibat yang ditimbulkannya lagi ialah memberi mudarat kepada orang lain dengan menghalangi mereka memanfaatkan alat-alat yang sedang dipergunakan orang yang
telah mati otak dan sarafnya itu. Hadits Nabawi menetapkan sebuah kaidah qath’iyah yang berbunyi: “Tidak boleh memberi mudarat kepada diri sendiri dan tidak boleh memberi mudarat kepada orang lain.”63

Kedua: boleh mendermakan (mendonorkan) sebagian organ tubuhnya pada kondisi seperti ini, yang akan menjadi sedekah baginya dan kelak ia akan memperoleh pahala, meskipun ia (si sakit) tidak mewasiatkannya Disebutkan dalam hadits sahih bahwa seseorang itu akan mendapatkan pahala karena buah tanamannya yang dimakan oleh orang lain, burung, atau binatang lain, dan yang demikian itu merupakan sedekah baginya, meskipun ia tidak bermaksud bersedekah:

“Tiada seorang muslimpun yang menanam suatu tanaman atau menabur benih, lantas buahva dimakan burung, manusia, atau binatang melainkan yang demikian itu menjadi sedekah baginya.”64
Bahkan disebutkan juga dalam hadits sahih bahwa orang mukmin mendapatkan pahala karena ditimpa kepayahan, sakit, kesusahan, duka cita, gangguan, atau bala bencana, hingga tertusuk duri sekalipun, semuanya dapat menghapuskan dosa-dosanya.

Maka tidaklah mengherankan bila seorang muslim mendapatkan pahala jika ia mendermakan sebagian organ tubuh keluarganya ketika telah mati otaknya kepada pasien lain yang memerlukan organ tubuh tersebut untuk menyelamatkan kehidupannya, atau untuk mengembalikan kesehatannya. Maka seorang muslim tidak perlu meragukan betapa utamanya amal ini dan betapa besarnya nilai dan pahalanya di sisi Allah Ta’ala.

Apabila pemberian derma (donor) ini sudah dipastikan, maka bolehlah mengambil organ yang dibutuhkan itu sebelum peralatan yang dipasang pada tubuhnya dilepaskan, karena jika tidak dernikian berarti mengambil organ dari orang yang sudah mati bila ditinjau dari segi aktivitasnya menurut keputusan di atas. Sebab pengambilan organ setelah dilepas peralatannya tidaklah berguna untuk dicangkokkan kepada orang lain, dikarenakan organ itu telah kehilangan daya hidup, dan telah menjadi organ mati.

&

Rukhshah Bagi Orang Sakit untuk Mengeluhkan Deritanya

19 Jul

Dr. Yusuf Qardhawy; Fatwa Kontemporer; Fiqih Kontemporer

Tidak mengapa bagi si sakit untuk mengeluhkan rasa sakit dan penderitaannya kepada dokter atau perawatnya, kerabat atau temannya, selama hal itu dilakukan tidak untuk menunjukkan
kebencian kepada takdir, atau untuk menunjukkan keluh kesah dan kekesalannya.

Hal ini disebabkan orang yang dijadikan tempat mengaduh –lebih-lebih jika ia dokter atau perawat– kadang-kadang punya obat yang dapat menghilangkan rasa sakitnya, atau minimal meringankannya. Disamping itu, menyampaikan keluhan kepada orang yang dipercayainya dapat meringankan beban psikologis, lebih-lebih jika orang itu mau menanggapinya, merasa iba padanya, dan ikut merasakan penderitaan yang dialaminya. Seorang penyair kuno mengatakan:

“Aku mengaduh dan mengeluh
Padahal mengeluh seperti ini tak biasa kulakukan
Tapi memang
Bila gelas sudah penuh isinya
Ia akan tumpah keluar.”

Pujangga lain mengatakan:

“Tak apalah engkau mengaduh
Kepada orang yang berbudi luhur
Agar ia iba padamu
Atau menenangkan jiwamu
Atau turut merasakan penderitaanmu.”

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwa Nabi saw. pernah berkata: “Aku demam yang panasnya setinggi yang dialami dua orang dari kalian.”

Diriwayatkan dari al-Qasim bin Muhammad bahwa Aisyah r.a. pernah berkata, “Aduh, kepalaku sakit.” Dan Nabi saw. menimpali, “Aduh, kepalaku juga sakit!”

Dan diriwayatkan dari Sa’ad, ia berkata, “Rasulullah saw. datang menjenguk saya ketika penyakit saya bertambah berat pada waktu haji wada’, lalu saya berkata, ‘Saya menderita sakit sebagaimana yang engkau lihat …”71

Imam Bukhari meriwayatkan dalam al-Adabul-Mufrad dari Urwah bin Zuber, ia berkata, Saya dan Abdullah bin Zuber pernah menjenguk Asma’ –binti Abu Bakar yang nota bene ibu mereka sendiri– lalu Abdullah bertanya kepada Asma’, ‘Bagaimana keadaan Ibunda?’ Asma’ menjawab, ‘Sakit.'”72

Riwayat-riwayat ini menolak anggapan sebagian ulama yang mengatakan bahwa orang sakit dimakruhkan mengeluh/mengaduh. Imam Nawawi mengomentari pendapat sebagian ulama tersebut dengan mengatakan, “Ini adalah pendapat yang lemah atau batil, karena sesuatu yang makruh ditetapkan dengan adanya larangan yang dimaksud, sedangkan yang demikian tidak didapati.” Kemudian beliau berhujjah dengan hadits Aisyah dalam bab ini, lalu berkata, “Barangkali yang mereka maksud dengan karahah (makruh) disini adalah khilaful-aula (menyalahi sesuatu yang lebih utama), sebab tidak diragukan lagi bahwa melakukan dzikir lebih utama (daripada mengaduh/mengerang).”73

Al-Qurthubi berkata, “Sebenarnya tidak seorang pun yang dapat menolak rasa sakit, dan memang jiwa manusia diciptakan untuk dapat merasakan yang demikian, maka apa yang telah diciptakan Allah pada manusia tidaklah dapat diubah. Hanya saja, manusia dibebani tugas untuk melepaskan diri dari sesuatu yang dapat ditinggalkan apabila ditimpa musibah, misalnya berlebihan dalam mengeluh dan mengaduh, karena orang yang berbuat begitu berarti telah keluar dari artian sebagai ahli sabar. Adapun semata-mata mengaduh tidaklah tercela, kecuali ia membenci apa yang ditakdirkan atas dirinya.”74

Bahkan Imam Muslim meriwayatkan dari Utsman bin Abil ‘Ash bahwa dia mengeluhkan rasa sakit pada tubuhnya kepada Rasulullah saw., lalu beliau bersabda kepadanya:

“Letakkan tanganmu pada badan tubuhmu yang sakit, dan ucapkan ‘bismillah’ (dengan nama Allah) tiga kali, dan ucapkan doa ini sebanyak tujuh kali: ‘Aku berlindung dengan kebesaran Allah dan kekuasaan-Nya dari apa yang aku derita dan aku khawatirkan.'”75

Para ulama mengatakan, “Dari riwayat ini dirumuskan hukum sunnahnya menyampaikan keluhan kepada orang yang bisa memohonkan berkah, karena mengharapkan keberkahan doanya”76

Imam Ahmad biasanya memuji Allah terlebih dahulu, baru setelah itu beliau memberitahukan apa yang dideritanya, mengingat riwayat dari Ibnu Mas’ud yang mengatakan, “Apabila menyampaikm syukur terlebih dahulu sebelum menyampaikan keluhan, maka tidaklah dia dinilai berkeluh kesah.”77

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengomentari perkataan Nabi saw. dalam hadits Aisyah (“kepala saya juga sakit”) dengan mengatakan: “Riwayat ini menunjukkan bahwa mengatakan sakit tidak termasuk berkeluh kesah. Sebab betapa banyak orang yang hanya berdiam tetapi hati mereka merasa jengkel (marah), dan betapa banyak orang yang mengadukan sakitnya tetapi hatinya merasa ridha. Maka yang perlu diperhatikan di sini adalah amalan hati, bukan amalan lisan.78 Wallahu a’lam.

Disisi lain, bagi orang yang menerima keluhan hendaklah ia berusaha meringankan penderitaan si sakit dengan membelainya atau menyentuhnya dengan penuh kasih sayang, dengan perkataan yang menyejukkan hati, dan dengan doa yang baik, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw. terhadap Sa’ad. Aisyah binti Sa’ad meriwayatkan bahwa ayahnya bercerita, “Ketika saya di Mekah, saya mengadukan sakit yang berat, kemudian Nabi saw menjenguk saya. Kemudian beliau menaruh tangan beliau dan mengusapkannya pada muka dan perut saya, seraya berdoa: “Ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad, dan sempurnakanlah hijrahnya.”
Sa’ad berkata, “Maka saya senantiasa merasakan dinginnya tangan beliau di hati saya –menurut perasaan saya—hingga hari kiamat.”79

Ibnu Mas’ud juga berkata, “Saya pernah masuk ke tempat Rasulullah saw. ketika beliau sedang sakit parah, lalu saya belai beliau dengan tangan saya sembari berkata, ‘Wahai Rasulullah, sakitmu sangat berat.’ Beliau menjawab, ‘Benar, sebagaimana yang diderita oleh dua orang diantara kamu.’ Saya berkata, ‘Hal itu karena engkau mendapat dua pahala?’ Beliau
menjawab, ‘Benar.’ Kemudian beliau bersabda:

“Tidak seorang muslim yang ditimpa suatu gangguan berupa penyakit atau lainnya, melainkan Allah menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.”80

Selain itu, hendaklah ia berusaha meringankan penderitaan si sakit dengan mengingatkannya akan keutamaan sabar terhadap cobaan Allah dan ridha menerima qadha-Nya, mengingatkannya akan pahala orang yang mendapatkan ujian lantas ia bersabar dan rela menerimanya. Hendaklah ia mengingatkan bahwa penyakit yang menimpanya adalah untuk menyucikan dan menebus dosa-dosanya, untuk menambah kebaikannya, atau untuk meninggikan derajatnya. Disamping itu! ia juga sebaiknya diberi pengertian bahwa orang yang paling berat cobaannya ialah para nabi, kemudian orang-orang yang memiliki derajat di
bawahnya, dan seterusnya. Perlu juga diingatkan kepadanya tentang ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi, serta biografi para shalihin yang sekiranya dapat menenangkan dan memantapkan hatinya, tidak menjadikannya jenuh dan berat. Kemudian sebaiknya ia diajari dengan sesuatu yang dapat meninggikan jiwanya, sebagaimana yang dilakukan Nabi saw. terhadap Utsman bin Abil ‘Ash.

Adapun mengenai pengaduan kepada Sang Pencipta Yang Maha Luhur, maka Al-Qur’an telah mengisahkan beberapa orang Nabi a.s. yang mulia. Diantaranya Al-Qur’an mengisahkan Nabi Ya’qub a.s. yang mengatakan: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku …” (Yusuf: 86)

Demikian pula ketika mengisahkan Nabi Ayub a.s.: “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (al-Anbiya’: 83)

Ayat-ayat ini sekaligus menyangkal anggapan golongan sufi yang mengatakan bahwa berdoa merusak keridhaan dan penyerahan.81 Dalam hal ini sebagian mereka berkata, “Pengetahuan-Nya tentang keadaanku tidak memerlukan aku meminta kepada-Nya.”

Tetapi yang perlu ditegaskan disini bahwa berdoa dan memohon kepada Allah adalah ibadah, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw.

Sebenarnya, menurut kesepakatan para ulama, yang tergolong makruh dalam hal ini ialah berkeluh kesah terhadap Tuhannya, yaitu menyebut-nyebut penderitaannya kepada manusia dengan jalan memaki-maki.82 Inilah yang dilakukan oleh sebagian orang yang melupakan nikmat Allah, yang mereka ingat hanyalah bala dan bencana semata.

&

Doa untuk Orang Sakit

17 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits Bukhari-Muslim

Dari ‘Aisyah ra. Bahwasannya apabila ada orang yang datang mengeluh sakit atau terluka kepada Nabi saw. maka Nabi saw. bersabda: “Dengan telunjuknya berbuatlah demikian.” Sofyan bin Uyainah perawi hadits ini meletakkan jari telunjuknya ke tanah dan diludahi sedikit, kemudian diusapkan ke tempat yang sakit, sambil berdoa: bismillaaHi turbatu ardlinaa biriiqati ba’dlinaa yusyqaa biHii saqiimunaa bi-idzni rabbinaa (dengan nama Allah, dengan tanah kami ludahi sebagian tanah kami, semoga disembuhkan orang yang sakit ini atas izin Tuhan kami). (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. Bahwasannya Nabi saw. menjenguk salah seorang keluarganya dengan mengusap tangannya seraya berdoa: AllaaHumma rabbannaasi adzHibil ba’sa isyfi antasy syaafii, laa syifaa-a illaa syifaa-uka syifaa-an laa yughaadiru saqamaa (wahai Allah Tuhan semua manusia, hilangkanlah penyakit, sembuhkanlah karena hanya Engkaulah yang dapat menyembuhkan, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak dihinggapi penyakit lagi). (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. bahwasannya ia berkata kepada Tsabit ra.: “Bolehkah saya menjampi kamu seperti jampi Rasulullah saw.?” Tsabit berkata: “Silakan.” Anas mengucapkan: “AllaaHumma rabbannaasi mudzHibil ba’sa isyfi antasy syaafii, laa syaafiya illaa anta, syifaa-an laa yughaadiru saqamaa (wahai Allah Tuhan semua manusia, hilangkanlah penyakit, sembuhkanlah karena hanya Engkaulah yang dapat menyembuhkan, tiada yang menyembuhan kecuali Engkau, kesembuhan yang tidak dihinggapi penyakit lagi). (HR Bukhari)

Dari Abu Sa’id bin Abu Waqqash ra. ia berkata: Rasulullah saw. menjenguk saya, kemudian berdoa: “AllaaHummasy-fi sa’dan allaaHummasy-fi sa’dan (Wahai Allah, sembuhkanlah Sa’ad, tiga kali).” (HR Muslim)

Dari Abu Abdillah Utsman bin Abul Ash ra. bahwasannya ia pernah mengeluh kepada Rasulullah saw. tentang penyakit yang menimpa badannya, kemudian Rasulullah saw. bersabda kepadanya: “Letakkanlah tanganmu pada tempat yang sakit, dan bacalah: bismillaaH, tiga kali, lalu bacalah: a-‘uudzu bi’izzatillaaHi wa qudratiHi min syarri maa ajidu wa uhaadziru (Saya berlindung diri kepada kemuliaan Allah dan kekuasaan-Nya dari penyakit yang saya derita dan saya khawatir) tujuh kali.” (HR Muslim)

Dari Ibnu ‘Abbas ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Barangsiapa yang menjenguk orang sakit yang belum datang saat kematiannyaa kemudian ia membacakan doa ini sebanyak tujuh kali niscaya Allah menyembuhkan penyakitnya.” Doa yang dimaksud adalah: as-alullaaHal ‘adhiima rabbal ‘arsyil ‘adhiim ay yasy-fiyaka, tujuh kali (saya memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan yang mempunyai ‘arsy yang besar, semoga Allah memberikan kesembuhan kepada kamu)” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Ibnu ‘Abbas ra. bahwasannya Nabi saw. datang kepada seorang Badui untuk menjenguknya. Ketika ada orang masuk menjenguknya, beliau bersabda: “Tidak apa-apa, mudah-mudahan penyakit ini menjadi pencuci dosa; insya AllaH.” (HR Bukhari)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. bahwasannya malaikat Jibril datang kepada Nabi saw. dan berkata: “Wahai Muhammad, engkau sakit?” Beliau menjawab: “Ya.” Jibril berdoa: “BismillaaHi arqiika min kulli syai-in yu’dziika, min syarri kulli nafsin au ‘aini haasidin allaaHu yasyfiika bismillaaHi arqiika (Dengan nama Allah, saya menjampikan engkau dari segala sesuatu yang menyakitkan engkau, dan dari setiap jiwa atau mata yang merasa dengki; semoga Allah menyembuhkan penyakitmu, dengan nama Allah saya menjampikan engkau).” (HR Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy dan Abu Hurairah ra. bahwasannya keduannya menyaksikan Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan: laa ilaaHa illallaaHu akbaru, maka Tuhan membenarkan ucapannya itu serta berfirman: laa ilaaHa illaa ana wa ana akbar. Apabila ia mengucapkan: laa ilaaHa illallaaHu wahdaHu laa syariikalaHu, maka Tuhan berfirman: laa ilaaHa illaa ana wahdii laa syariika lii. Apabila ia mengucapkan: laa ilaaHa illallaaHu wahdaHu laHul mulku wa laHul hamdu, maka Tuhan berfirman: laa ilaaHa illaa ana liyal hamdu. Apabila ia mengucapkan: laa ilaaHa illallaaHu walaa haula walaa quwwata illaa billaaH, maka Tuhan berfirman: laa ilaaHa illaa ana walaa haula walaa quwwata illaa bii.” Dan Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan kalimat-kalimat tersebut pada waktu sakit kemudian ia mati dalam sakitnya itu, maka ia tidak akan termakan oleh api neraka.” (HR Turmudzi)

Dari Ibnu Abbas ra. bahwasannya Ali bin Abi Thalib ra. keluar dari rumah Rasulullah saw. pada waktu beliau sakit menjelang meninggal, kemudian para shahabat bertanya: “Wahai Abul Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah saw. pagi ini?” Ali menjawab: “Alhamdu lillaaHi, pagi ini agak baik.” (HR Bukhari)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Saya mendengar Nabi saw. yang sedang menyandarkan badannya kepadaku berdoa: AllaaHummaghfirlii war hamnii wa alhiqnii bir rafiiqil a’laa (Ya Allah, ampunilah dosaku, dan kasihanilah aku, serta temukanlah aku dengan Dzat Yang Maha Luhur).” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Saya melihat Rasulullah saw. pada waktu beliau hampir wafat, dimana disitu ada sebuah gelas yang berisi air. Beliau memasukkan tangannya ke dalam gelas itu kemudian mengusap mukanya dengan air serta berdoa: AllaaHumma a-‘innii ‘alaa ghamaraatil mauti wa sakaraatil mauti (Ya Allah, bantulah saya di dalam menghadapi beratnya maut dan kesukaran sakaratul maut).” (HR Turmudzi)

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Saya masuk rumah Nabi saw. dimana beliau sedang dalam keadaan sakit panas. Kemudian saya memegang beliau dan berkata: “Sesungguhnya tubuh engkau panas sekali.” Beliau menjawab: “Memang, aku menderita panas dua kali lipat dengan orang-orang seperti kamu.” (HR Bukhari dan Muslim)