Tag Archives: sebab nuzul

Faedah mengetahui asbabun nuzul dalam lapangan pendidikan dan pengajaran

6 Mar

Ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an)
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Dalam dunia pendidikan, para pendidik mengalami banyak kesulitan dalam menggunakan media pendidikan yang dapat membangkitkan perhatian anak didik supaya jiwa mereka siap menerima pelajaran dengan penuh minat dan seluruh potensi intelektualnya terdorong untuk mendengarkan dan mengikuti pelajaran.

Tahab pendahuluan dari suatu pelajaran memerlukan kecerdasan brilian, yang dapat menolong guru dalam menarik minat anak didik terhadap pelajarannya dengan berbagai media yang sesuai; serta memerlukan latihan dan pengalaman cukup lama yang dapat memberinya kebijakan dalam memilih metode pengajaran yang efektif dan sejalan dengan tingkat pengetahuan anak didik tanpa kekerasan atau dipaksakan.

Di samping pendahuluan itu bertujuan membangkitkan perhatian dan minat belajar, juga bertujuan memberikan konsepsi menyeluruh mengenai tema pelajaran, agar guru dapat dengan mudah membawa anak didiknya dari hal-hal yang sifatnya umum pada yang khusus, sehingga semua materi pelajaran yang telah ditargetkan dapat dikuasai dengan detail sesudah anak didik itu memahaminya secara umum [garis besarnya].

Pengetahuan tentang asbabun nuzul merupakan media paling baik untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan di atas dalam mempelajari al-Qur’anul Karim baik bacaan maupun tafsirnya.

Asbabun Nuzul ada kalanya berupa kisah tentang peristiwa yang terjadi, atau berupa pertanyaan yang disampaikan oleh shahabat kepada Rasulullah saw. untuk mengetahui hukum suatu masalah, sehingga al-Qur’an pun turun sesudah terjadi peristiwa atau pertanyaan tersebut.

Seorang guru sebenarnya tidak perlu membuat pengantar pelajaran dengan sesuatu yang baru dan dipilihnya; sebab jika ia menyampaikan sebab nuzul, maka kisahnya itu sudah cukup untuk membangkitkan perhatian, menarik minat, memusatkan intelektual dan menyiapkan jiwa anak didik untuk menerima pelajaran, serta mendorong mereka untuk mendengarkan dan memperhatikannya.

Mereka segera dapat memahami pelajaran itu secara umum dengan mengetahui asbabun nuzul karena di dalamnya terdapat unsur-unsur kisah yang menarik. Dengan demikian jiwa mereka terdorong untuk mengetahui ayat apa yang diturunkan sesuai dengan sebab nuzul itu serta rahasia-rahasia perundangan dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya, yang kesemuanya itu memberikan petunjuk kepada manusia ke jalan kehidupan yang lurus, jalan menuju kekuatan, kemuliaan dan kebahagiaan.

Para pendidik dalam dunia pendidikan dan pengajaran di bangku-bangku sekolah ataupun pendidikan umum, dalam memberikan bimbingan dan penyuluhannya perlu memanfaatkan konteks asbabun nuzul untuk memberikan rangsangan kepada anak didik yang tengah belajar dan masyarakat umum yang dibimbing. Cara demikian merupakan cara paling bermanfaat dan efektif untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan tersebut dengan mempergunakan metode pemberian pengertian paling menarik dan bentuk paling tinggi.

&

Banyaknya Nuzul dengan Satu Sebab

6 Mar

Ilmu Al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an)
Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Terkadang banyak ayat yang turun sedang sebabnya hanya satu. Dalam hal ini tidak ada permasalahan yang cukup penting, karena itu banyak ayat yang turun di dalam berbagai surah berkenaan dengan satu peristiwa. Contohnya ialah apa yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Mansur, ‘Abdurrazaq, Tirmidzi, Ibn Jarir, Ibnul Mundzir, Ibn Abi Hatim, Tabrani dan Hakim yang mengatakan shahih, dari Ummu Salamah, ia berkata:

“Wahai Rasulallah, aku tidak mendengar Allah menyebutkan kaum perempuan sedikitpun mengenai hijrah. Maka Allah menurunkan: Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya [dengan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan; [karena] sebagian kamu adalah keturunan dari sebagian yang lain…’” (Ali ‘Imraan: 195)

Diriwayatkan pula oleh Ahmad, Nasa’i, Ibn Jarir, Ibnul Mundzir, Tabrani dan Ibn Mardawaih dari Ummu Salamah yang mengatakan: “Aku telah bertanya: Ya Rasulallah, mengapa kami tidak disebutkan dalam al-Qur’an seperti kaum laki-laki? Maka pada suatu hari aku dikejutkan oleh seruan Rasulullah di atas mimbar. Ia membacakan: ‘Sesungguhnya laki-laki dan perempuan Muslim…. sampai akhir ayat 35 surah al-Ahzab [33]

Diriwayatkan pula oleh Hakim dari Ummu Salamah yang mengatakan: “Kaum laki-laki berperang sedang perempuan tidak. Di samping itu kami hanya memperoleh warisan setengah bagian? Maka Allah menurunkan ayat: ‘Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain; karena bagian laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan pula…(an-Nisaa’: 32) dan ayat: ‘Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim….”

Ketiga ayat tersebut turun karena satu sebab.

&

Asbabunnuzul Surah An-Nashr

10 Sep

Asbabun Nuzul Surah Al-Qur’an

tulisan arab alquran surat an nashr ayat 1-3

“1. apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, 2. dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, 3. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (surat an-Nashr: 1-3)

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrozzaq did lam kitab al-Mushannaf, dari Ma’mar yang bersumber dari az-Zuhri, bahwa ketika Rasulullah saw memasuki kota Makah saat Fathu Makkah, Khalid bin Walid diperintahkan untuk memasuki Makah dari jurusan dataran rendah untuk menggempur pasukan Quraisy (yang menyerangnya) serta merampas senjatanya setelah memperoleh kemenangan. Maka berbondong-bondonglah kaum Quraisy masuk Islam. Surat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai perintah untuk memuji syukur dengan memahasucika Allah atas kemenangan yang telah diraih dan meminta ampunan atas segala kesalahan yang telah dilakukan.

Sumber: Asbabunnuzul, KHQ. Shaleh dk

Asbabun Nuzul (2)

19 Feb

Sebab Nuzul Al-Qur’an
Perlunya Mengetahui Asbabun Nuzul

Pengetahuan mengenai asbabun nuzul mempunyai beberapa faedah, yang terpenting di antaranya:

1. Mengetahui hikmah diundangkannya suatu hukum dan perhatian syara’ terhadap kepentingan umum dalam menghadapi segala peristiwa, karena sayangnya Allah kepada umat-Nya.

2. Mengkhususkan (membatasi) hukum yang diturunkan dengan sebab yang terjadi, bila hukum itu dinyatakan dalam bentuk umum. Ini bagi mereka yang berpendapat bahwa “yang menjadi pegangan adalah sebab khusu dan bukannya lafal yang umum”. Masalah ini sebenarnya merupakan masalah khilafiah, sebagai contoh dapat dikemukakan disini firman Allah:

“ Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang Telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (Ali ‘Imran: 188)

Diriwayatkan bahwa Marwan berkata kepada penjaga pintunya: “Pergilah, hai Rafi’, kepada Ibnu ‘Abbas dan katakan kepadanya: ‘Sekiranya setiap orang di antara kita yang bergembira dengan apa yang telah dikerjakan dan ingin dipuji dengan perbuatan yang belum dikerjakannya itu akan disiksa, tentulah kita semua akan disiksa.’” Ibnu ‘Abbas menjawab: “Mengapa engkau berpendapat demikian tentang ayat ini? Ayat ini turun berkenaan dengan ahli kitab.”

Kemudian ia membacakan ayat: dan ingatlah ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab… (Ali ‘Imran: 187).” Kata Ibnu ‘Abbas: “Rasulullah menanyakan kepada mereka tentang sesuatu, mereka menyembunyikannya, lalu mengambil persoalan lain dan itu yang mereka tunjukkan kepadanya. Setelah itu mereka pergi, dan menganggap bahwa mereka telah memberitahukan kepada Rasulullah apa yang ditanyakan kepada mereka. Dengan perbuatan itu mereka ingin dipuji oleh Rasulullah dan mereka bergembira dengan apa yang telah mereka kerjakan, yaitu menyembunyikan apa yang ditanyakan kepada mereka itu.”
3. Apabila lafal yang diturunkan itu lafal yang umum dan terdapat dalil atas pengkhususannya, maka pengetahuan mengenai asbabun nuzul membatasi pengkhususan itu hanya terhadap yang selain sebab. Dan bentuk sebab ini tidak dapat dikeluarkan (dari cakupan lafal yang umum itu), karena masuknya bentuk sebab ke dalam lafal umum itu bersifat qat’i (pasti). Maka ia tidak boleh dikeluarkan melalui ijtihad, karena ijtihad itu bersifat zanni (dugaan). Pendapat ini dijadikan pegangan oleh ulama umumnya. Contoh yang demikian digambarkan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh (berzina) wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman, mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang benar, lagi yang menjelaskan (segala sesutatu menurut hakikat yang sebenarnya).” (an-Nuur: 23-25).

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan ‘Aisyah secara khusus; atau dengan ‘Aisyah dan istri-istri Nabi lainnya. Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, firman Allah “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh (berzina) wanita yang baik-baik” itu turun berkenaan dengan ‘Aisyah secara khusus. Dari Ibnu ‘Abbas pula dan masih mengenai ayat tersebut: “Ayat itu berkenaan dengan ‘Aisyah dan istri-istri Nabi. Allah tidak menerima tobat orang yang melakukan hal itu (menuduh mereka berzina) dan menerima tobat orang yang menuduh seorang perempuan di antara perempuan-perempuan beriman selain istri-istri Nabi.” Kemudian Ibnu ‘Abbas membacakan: “Dan orang-orang yang menuduh perempuan baik-baik..” sampai dengan “…kecuali orang-orang yang bertaubat.” (an-Nuur: 4-5).

Atas dasar ini, maka penerimaan tobat orang yang menuduh zina (sebagaimana dinyatakan dalam surah an-Nuur: 4-5 ini, sekalipun merupakan pengkhususan dari keumuman firman Allah “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh (berzina) wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman”, tidaklah mencakup- dan pengkhususan ini- orang yang menuduh ‘Aisyah atau isti-istri Nabi yang lain. Karena yang terakhir ini tidak ada tobatnya, mengingat masuknya sebab (yakni orang yang menuduh ‘Aisyah atau istri-istri Nabi) ke dalam cakupan makna lafal yang umum itu bersifat qat’i (pasti).

4. Mengetahui sebab nuzul adalah cara terbaik untuk memahami makna al-Qur’an dan menyingkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat-ayat yang tidak dapat ditafsirkan tanpa mengetahui sebab nuzulnya. Al-Wahidi menjelaskan: “Tidaklah mungkin mengetahui tafsir ayat tanpa mengetahui sejarah dan penjelasan sebab turunnya.” Ibnu Daqiqil ‘Id berpendapat: “Mengetahui sebab nuzul akan membantu dalam memahami ayat, karena mengetahui sebab menimbulkan pengetahuan mengenai musabab (akibat).”

Contohnya antara lain, kesulitan Marwan bin al-Hakam dalam memahami ayat yang disebutkan di atas, “ Janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang Telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (Ali ‘Imran: 188) sampai Ibnu ‘Abbas menjelaskan kepadanya sebab nuzul ayat itu.

Contoh lain ialah ayat:
“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-‘umrah, Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 158)

Lafal ayat ini secara tekstual tidak menunjukkan bahwa sa’i itu wajib, sebab ketiadaan dosa untuk mengerjakannya itu menunjukkan “kebolehan” dan bukannya “kewajiban”. Sebagian ulama juga berpendapat demikian, karena berpegang pada arti tekstual ayat itu*. ‘Aisyah telah menolak pemahaman ‘Urwah Ibnu Jubair seperti itu dengan sebab nuzul ayat tersebut, yaitu bahwa para sahabat merasa keberatan bersa’i antara Safa dan Marwa karena perbuatan itu berasal dari perbuatan jahiliyah. Di Safa terdapat “Isaf” dan di Marwa terdapat “Na’ilah”. Keduanya adalah berhala yang biasa diusap orang jahiliyah ketika mengerjakan sa’i. Sumber dari ‘Aisyah menyebutkan bahwa ‘Urwah berkata kepadanya: “Bagaimana pendapatmu mengenai firman Allah: ‘Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-‘umrah, Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya.?’ Aku sendiri tidak berpendapat bahwa seseorang itu berdosa bila tidak melakukan sa’i itu.” ‘Aisyah menjawab: “Alangkah buruknya pendapatmu itu, wahai anak saudaraku. Sekiranya maksud ayat itu seperti yang engkau takwilkan, niscaya ayat itu berbunyi: ‘tidak ada dosa bagi orang yang tidak melakukan sa’i.’ Tetapi ayat itu turun karena orang-orang Anshar sebelum masuk Islam mendatangi ‘Manat’ yang zalim itu dan menyembahnya. Orang yang dulu menyembahnya tentu keberatan untuk bersa’i di antara Safa dan Marwa. Maka Allah menurunkan: “Sesungguhnya Safa dan Marwa…”, kata ‘Aisyah: “Selain itu, Rasulullah pun telah menjelaskan sa’i di antara keduanya. Maka tak seorangpun dapat meninggalkan sa’i di antara keduanya.”

5. Sebab nuzul dapat menerangkan tentang siapa ayat itu diturunkan sehingga ayat tersebut diturunkan sehingga ayat tersebut tidak diterapkan kepada orang lain karena dorongan permusuhan dan perselisihan. Seperti disebutkan mengenai firman Allah:

“Dan orang yang Berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa Aku akan dibangkitkan, padahal sungguh Telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. lalu dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”.”
(al-Ahqaf: 17)

Mu’awiyah bermaksud mengangkat Yazid menjadi khalifah, dan ia mengirim surat kepada Marwan, gubernur di Madinah, mengenai hal itu. Karena itu Marwan lalu mengumpulkan rakyat kemudian berpidato dan mengajak mereka membaiat Yazid. Tetapi ‘Abdurrahman bin Abu Bakr tidak mau membaiatnya. Maka hampir saja Marwan melakukan hal tidak terpuji kepada ‘Abdurrahman bin Abu Bakr sekiranya ia tidak segera masuk ke rumah ‘Aisyah. Marwan berkata: “Orang inilah yang dimaksud ayat: ‘Dan orang yang Berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa Aku akan dibangkitkan, padahal sungguh Telah berlalu beberapa umat sebelumku?’” ‘Aisyah menolak/ membantah pendapat Marwan tersebut dan menjelaskan sebab turunnya.

Riwayat Yusuf bin Mahik, menyebutkan: “Marwan berada di Hijaz. Ia telah diangkat menjadi gubernur oleh Mu’awiyah bin Abu Sufyan, lalu berpidatolah ia. Dalam pidatonya itu ia menyebutkan nama Yazid bin Mu’awiyah agar dibaiat sesudah ayahnya. Ketika itu ‘Abdurrahman bin Abu Bakr mengatakan sesuatu. Lalu kata Marwan: ‘Tangkaplah dia’. Kemudian ‘Abdurrahman masuk ke rumah ‘Aisyah sehingga mereka tidak bisa menangkapnya. Kata Marwan: ‘Itulah orang yang menjadi kasus sehingga Allah menurunkan ayat: ‘Dan orang yang Berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu berdua’. Kata ‘Aisyah: ‘Allah tidak pernah menurunkan sesuatu ayat al-Qur’an mengenai kasus seseorang di antara kami kecuali ayat yang melepaskan aku dari tuduhan berbuat jahat. Dan dalam beberapa riwayat dinyatakan: ‘Bahwa ketika Marwan meminta agar Yazid dibaiat, ia berkata: ‘(Pembaiatan ini adalah) tradisi Abu Bakr dan ‘Umar.’ ‘Abdurrahman berkata: ‘Tradisi Hercules dan Kaisar.’ Maka kata Marwan: ‘Inilah orang yang dikatakan Allah di dalam al-Qur’an, ‘Dan orang yang Berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu keduanya… kemudian perkataan Marwan demikian itu sampai kepada ‘Aisyah, maka kata ‘Aisyah: ‘Marwan telah berdusta. Demi Allah, maksud ayat itu tidaklah demikian. Sekiranya aku mau menyebutkan mengenai siapa ayat itu turun, tentu aku sudah menyebutkannya.’”

Asbabun Nuzul (1)

19 Feb

Asbabun Nuzul Al-Qur’an.

Al-Qur’an diturunkan untuk memberikan petunjuk kepada manusia ke arah tujuan yang terang dan jalan yang lurus dengan menegakkan asas kehidupan yang didasarkan pada keimanan kepada Allah dan risalah-Nya. Juga memberitahukan hal yang telah lalu, kejadian-kejadian sekarang serta berita-berita yang akan datang.

Sebagian besar al-Qur’an diturunkan untuk tujuan umum ini, tetapi kehidupan para shahabat bersama Rasulullah saw. telah menyaksikan banyak peristiwa sejarah, bahkan terkadang terjadi di antara mereka peristiwa khusus yang memerlukan penjelasan hukum Allah atau masih kabur bagi mereka. Kemudian mereka bertanya kepada Rasulullah untuk mengetahui hukum Islam mengenai hal itu. Maka al-Qur’an turun untuk peristiwa khusus tadi atau untuk pertanyaan yang muncul itu. Hal seperti inilah yang dinamakan Asbabun Nuzul.

Asbabun Nuzul didefinisikan sebagai “sesuatu hal yang karenanya al-Qur’an diturunkan untuk menerangkan status (hukum)nya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan.

Rasanya suatu hal yang berlebihan bila kita memperluas pengertian asbanun nuzul dengan membentuknya dari berita-berita tentang generasi terdahulu dan peristiwa-peristiwa masa lalu. As-Suyuti dan orang-orang yang banyak memperhatikan asbabun nuzul mengatakan bahwa ayat itu tidak turun di saat-saat terjadinya sebab. Ia mengatakan demikian itu karena hendak mengkritik atau membatalkan apa yang dikatakan oleh al-Wahidi dalam menafsirkan surah al-Fiil, bahwa sebab turun surah tersebut adalah kisah datangnya orang-orang Habsyah. Kisah itu sebenarnya sedikitpun tidak termasuk ke dalam asbabun nuzul. Melainkan termasuk kategori berita peristiwa masa lalu, seperti halnya kisah kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad, kaum Tsamud, pembangunan Ka’bah dan lain-lain yang serupa dengan itu. Demikian pula mengenai ayat “Dan Allah telah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya” asbabun nuzulnya adalah karena Ibrahim dijadikan kesayangan Allah. Seperti sudah diketahui, hal itu sedikitpun tidak termasuk ke dalam asbabun nuzul.

Setelah diselidiki, asbabun nuzul berkisar pada dua hal:

1. Bila terjadi suatu peristiwa, maka turunlah ayat al-Qur’an mengenai peristiwa itu. Hal ini seperti diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, yang mengatakan:
“Ketika turun: Dan peringatkanlah kerabat-kerabatmu yang terdekat. Nabi pergi dan naik ke bukit Shafa, lalu berseru: ‘Wahai kaumku!’ Maka mereka berkumpul ke dekat Nabi. Ia berkata lagi: ‘Bagaimana pendapatmu bila aku beritahu kepadamu bahwa di balik gunung ini ada sepasukan berkuda yang hendak menyerangmu, percayakah kamu apa yang aku katakan?’ Mereka menjawab: ‘Kami belum pernah melihat engkau berdusta.’ Dan Nabi pun melanjutkan: ‘Aku memperingatkan kalian tentang siksa yang pedih.’ Ketika itu Abu Lahab lalu berkata: ‘Celakalah engkau, apakah engkau mengumpulkan kami hanya untuk urusan ini?’ Lalu ia berdiri. Maka turunlah surah ini Celakalah kedua tangan Abu Lahab.”
2. Bila Rasulullah ditanya tentang suatu hal, maka turunlah ayat al-Qur’an menerangkan hukumnya. Hal itu seperti ketika Khaulah binti Tsa’labah dikenakan zihar oleh suaminya, Aus bin Samit. Lalu ia datang kepada Rasulullah mengadukan hal itu. ‘Aisyah berkata: “Mahasuci Allah yang pendengaran-Nya meliputi segalanya. Aku mendengar ucapan Khaulah binti Tsa’labah itu, sekalipun tidak seluruhnya. Ia mengadukan suaminya kepada Rasulullah. Katanya: ‘Rasulullah, suamiku telah menghabiskan masa mudaku dan sudah beberapa kali aku mengandung karenanya. Sekarang, setelah aku menjadi tua dan tidak beranak lagi, ia menjatuhkan zihar kepadaku. Ya Allah, sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu.’” ‘Aisyah berkata: “Tiba-tiba Jibril turun membawa ayat ini: Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengadu kepadamu tentang suaminya, yakni Aus bin Samit.

Tetapi hal ini tidak berarti bahwa setiap orang harus mencari sebab turun setiap ayat, karena tidak semua ayat al-Qur’an diturunkan karena timbul suatu peristiwa dan kejadian, atau karena suatu pertanyaan. Tetapi ada di dalam antara ayat al-Qur’an yang diturunkan sebagai permulaan, tanpa sebab, mengenai aqidah iman, kewajiban Islam dan syariat Allah dalam kehidupan pribadi dan sosial. Al-Ja’bari menyebutkan: “Al-Qur’an diturunkan dalam dua kategori: yang turun tanpa sebab, dan yang turun karena suatu peristiwa atau pertanyaan.”