Tag Archives: shahabat

Kebahagiaan Para Sahabat Bersama Rasulullah s.a.w.

7 Jan

La Tahzan; Jangan bersedih!
DR. ‘Aidh al-Qarni; Qisthi Press

Rasulullah s.a.w. diutus kepada umat manusia dengan membawa pesan dakwah rabbaniyah dan tidak memiliki propaganda apapun tentang dunia. Maka, Rasulullah s.a.w. tak pernah dianugerahai gudang harta, hamparan kebun buah yang luas, dan tidak pula tinggal di istana yang megah.

Dan saat pertama kali datang, hanya beberapa orang yang mencintainya saja yang bersumpah setia mengikuti ajaran yang dibawanya. Dan mereka tetap teguh memegang janji meski pelbagai kesulitan dan ancaman datang mendera. Begitulah, betapa kuatnya keimanan dan kecintaan mereka pada Muhammad s.a.w.; saat berjumlah sedikit, masih sangat lemah, dan nyaris selalu diliputi ancaman dari orang-orang disekitarnya, mereka tetap teguh mencintai Rasulullah s.a.w.

Mereka pernah ada yang dikucilkan masyarakatnya, dipersulit jalur perekonomiannya, dicemarkan nama baiknya, dijatuhkan martabat dan kewibawaannya di depan umum, diusir dari kampungnya, dan disiksa bersama keluarganya. Meski demikian, kecintaan mereka terhadap Muhammad tak goyah sejengkalpun.

Diantara mereka, ada yang pernah dijemur di tengah padang pasir yang panas, dikurung dalam penjara bawah tanah, dan disiksa dengan berbagai cara. Namun demikian, mereka tetap mencintai Rasulullah s.a.w.

Negeri, kampung halaman, dan rumah-rumah mereka pun pernah diperangi dan dirampas. Maka, mereka banyak yang harus bercerai berai dengan keluarganya, berpisah dengan kawan karibnya dan meninggalkan harta bendanya. Meski demikian, ternyata mereka tetap mencintai
Rasulullah s.a.w.

Kaum mukminin seringkali mendapatkan cobaan saat menjalankan dakwah. Mereka tak hanya dibatasi ruang geraknya, tetapi kadang keluarga dan dirinya juga diancam akan dibunuh. Bahkan, ada kalanya dalam menjalan dakwah mereka harus rela dan sabar menanggung kesengsaraan dan penderitaan yang panjang. Namun, karena tetap berprasangka baik terhadap Allah, maka mereka pun tetap sangat mencintai Rasulullah s.a.w..

Tak sedikit pada sahabat muda Nabi s.a.w. yang tak sempat menikmati masa mudanya sebagaimana anak muda yang lain. Itu terjadi, karena mereka harus senantiasa ikut berperang di bawah bayang-bayang kilatan pedang musuh demi membela keyakinan dan kecintaan mereka pada Muhammad s.a.w.. Tentang mereka ini, sebuah syair mengatakan:

Kilatan pedang-pedang itu laksana bayangan bunga di kebun hijau,
dan menebarkan bau wangi yang semerbak.

Begitulah, pada masa itu setiap pemuda siap berangkat ke medan perang dan menjemput maut. Meski demikian, mereka tak gentar sedikitpun dan justru memandang perjuangan di medan perang itu laksana sebuah wisata atau pesta di malam hari raya. Dan itu, tak lain juga didorong oleh kecintaan mereka terhadap Rasulullah s.a.w.

Syahdan, seorang sahabat pernah diutus untuk masuk ke kandang musuh dan menghantarkan surat kepada mereka. Sahabat itu sadar bahwa kemungkinan dirinya dapat kembali lagi sangat kecil. Namun, ternyata ia tetap melakukan tugas itu. Ada pula seorang sahabat yang ketika diminta menjalankan suatu tugas, ia menyadari bahwa tugas itu adalah tugasnya yang terakhir. Namun ia tetap pergi dengan suka cita menjalankan tugas tersebut. Demikianlah, semua hal tadi mereka lakukan adalah karena kecintaan mereka yang besar terhadap Nabi Muhammad s.a.w.

Mengapa mereka sedemikian rupa mencintai Rasulullah s.a.w.? Mengapa mereka sangat bahagia dengan risalah yang dibawanya, merasa tenteram dengan manhaj-nya, sangat gembira menyambut kedatangannya, dan mampu melupakan semua rasa sakit, kesulitan, tantangan dan ancaman demi mengikutinya?

Jawabannya adalah karena mereka melihat pada diri Nabi Muhammad terdapat semua makna kebaikan dan kebahagiaan. Juga, tanda-tanda kebajikan dan kebenaran. Beliau mampu menjadi penunjuk jalan bagi siapa saja dalam pelbagai masalah besar. Bahkan, dengan sentuhan kelembutan dan kasih sayangnya beliau mampu memadamkan semua gejolak hati mereka.

Dengan ucapannya, beliau mampu menyejukkan isi dada siapa saja. Dan dengan risalahnya, ia mampu menghangatkan ruh mereka. Rasulullah s.a.w juga berhasil menancapkan kerelaan pada jiwa setiap sahabatnya. Maka, tak mustahil bila mereka tidak lagi pernah memperhitungkan pelbagai rintangan yang menghadang jalan dakwah mereka. Sebab, kokohnya keyakinan yang ada dalam dada mereka telah melupakan semua luka, tekanan, dan kesengsaraan itu.

Beliau berhasil meluruskan hati nurani mereka dengan tuntunannya, menyinari mata hati mereka dengan cahayanya, menyingkirkan unsur-unsur jahiliyah dari leher mereka, menghapuskan warna paganisme dari punggung mereka, menanggalkan semua kalung kemusyrikan dari leher mereka, dan memadamkan semua api kedengkian dan permusuhan dari ruh-ruh mereka.

Dan lebih dari itu, beliau berhasil menuangkan air keyakinan ke dalam perasaan mereka. Karena itu, jiwa raga mereka menjadi tenteram, hati mereka senantiasa sejuk damai, dan otot-otot syaraf mereka selalu kendur dan mudah terkendali.

Ada banyak faktor yang membuat kecintaan para sahabat terhadap Rasulullah s.a.w. semakin besar. Diantaranya, saat bersama Rasulullah s.a.w.” Mereka senantiasa merasakan kenikmatan hidup, saat berada di dekatnya mereka merasakan hangatnya kasih sayang dan ketulusan hati, saat berada di bawah payung ajarannya mereka merasakan ketenteraman, dengan mematuhi perintahnya mereka mendapatkan keselamatan, dan dengan meneladai sunah-sunahnya mereka mendapatkan kekayaan batin.

{Dan, tidaklah Kami utus kamu kecuali menjadi rahmat bagi semesta alam.} (QS. Al-Anbiyr: 107)
{Dan sesungguhnya, kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.} (QS. Asy-Syura: 52)
{Dan, (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya.} (QS. Al-Mi idah: 16)
{Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka Kitab dan Hikmah (asSunah). Dan sesungguhnya, mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.} (QS. Al-Jumu’ah: 2)
{Dan, membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.} (QS. Al-A’raf: 157)
{Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.} (QS. Al-Anfal: 24)
{Dan, kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya.} (QS. Ali ‘Imran: 103)

Sungguh, mereka benar-benar menjadi orang yang bahagia dalam arti yang sebenarnya, saat bersama pemimpin dan suri tauladan mereka. Maka dari itu, sangatlah pantas bila mereka berbahagia dan bergembira.

Wahai malam yang menakutkan, tidakkah engkau kembali?
zamanmu akan diguyur dengan hujan dari langit

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada si pembebas akal dari belenggu-belenggu penyimpangan, dan si penyelamat jiwa dari ketergelinciran itu. Karuniakanlah ridha-Mu kepada para sahabat yang mulia sebagai ganjaran atas apa yang telah mereka perjuangkan.

Al-Qur’an: Sumber Pendidikan Rasul dan Shahabat

21 Mei

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat;
Abdurrahman An-Nahlawi

Tidak diragukan lagi bahwa keberadaan al-Qur’an telah mempengaruhi sistem pendidikan Rasulullah saw. dan para shahabat. lebih-lebih ketika ‘Aisyah ra. menegaskan bahwa akhlak beliau adalah al-Qur’an. Pembuktian Allah lebih menegaskan hal itu:

“Berkatalah orang-orang kafir: ‘Mengapa al-Qur’an tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?’ Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil [teratur dan benar].” (al-Furqaan: 32)

Dari ayat di atas kita dapat mengambil dua isyarat yang berhubungan dengan pendidikan, yaitu mengokohkan hati dan pemantapan keimanan; serta sikap tartil dalam membaca al-Qur’an. Dalam hal membaca al-Qur’an, Allah swt. mengajari Rasulullah saw. seperti dijelaskan dalam firman-Nya ini:

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.” (al-Qiyaamah: 16-19)

Kehidupan Rasulullah saw., baik dalam kondisi damai maupun perang, ketika di rumah maupun di luar rumah, atau berada di tengah kaumnya dibuktikan dengan perkataan ‘Aisyah bahwa akhlak beliau adalah al-Qur’an. Maka, doa-doa beliau selalu diambil dari al-Qur’an. Dan tentang para shahabat, mereka tidak diragukan lagi untuk mengamalkan sekaligus mempelajari al-Qur’an. Bahkan seorang shahabat pernah berkata: “Kami, pada zaman Rasulullah, tidak pernah melewati sebuah surah Al-Qur’an pun sebelum kami menghafal dan mengamalkannya. Jadi kami belajar dan beramal sekaligus.”

Al-Qur’an telah memberikan pengaruh dan kesan yang mendalam hingga kaum muslimin lupa akan puisi. Padahal, sebelumnya mereka adalah kelompok masyarakat yang paling menyukai puisi, perdukunan, dongeng-dongeng Persia dan Arab sehingga melupakan ilmu hikmah.

&

Sa’ad bin Abi Waqas ra

13 Mei

Sejarah Rasulullah saw.
Al-Hafiz Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisy
Penerjemah: Team Indonesia; Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah; IslamHouse.com

Nama Abi Waqas adalah Malik bin Uhaib bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Bertemu silisilah/ keturunan dengan Rasulullah saw di Kilab bin Murrah.

Ibunya:

Hamnah binti Sufyan bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdi Manaf
Sa’ad masuk islam pada awal datangnya Islam di Mekah. Ia berkata: “Saya adalah orang ketiga yang masuk Islam“
Turut serta dalam Perang Badar dan seluruh peperangan setelahnya bersama Rasulullah saw. Ia adalah orang yang pertama kali melontarkan anak panahnya di perang fi sabilillah. Adapun lontaran anak panahnya diarahkan pada sebuah pasukan yang di dalamnya terdapat Abu Sofyan. Pertemuan 2 pasukan itu terjadi dekat Rabigh di awal tahun pertama Rasulullah saw datang di Madinah.

Diantara Putera-Puterinya:

1. Muhammad, ia dibunuh al Hajjaj
2. Umar, dibunuh al Muhtar bin Abi Ubaid
3,4 Amir da Mus’ab. Mereka berdua meriwayatkan hadis
5,6,7. Umair, Shalih, Aisyah mereka Bani Sa’d
Wafat di istananya di Aqiq, yang jaraknya 10 mil dari Madinah. Lalu jenazahnya dipikul ke Madinah. Itu terjadi tahun 55 H. saat itu ia berusia 70 tahun lebih. Ia merupakan orang yang terakhir meninggal diantara 10 orang yang mendapat kabar gembira masuk surga.

&

Abu Bakar as Siddiq ra

13 Mei

Sejarah Rasulullah saw.
Al-Hafiz Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisy
Penerjemah: Team Indonesia; Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah; IslamHouse.com

Nama aslinya adalah Abdullah bin abi Quhafah.

-Ayahnya, Abu Quhafah yang nama aslinya adalah Usman bin Amir bin Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ai bin Ghalib atTaimiy al Qurosy bertemu silisilah/ keturunan dengan Rasulullah saw di Murrah bin Ka’b.

-Ibu Abu Bakar adalah Ummul Khair Salma binti Shokhr bin Amir bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah

-usia beliau 63 tahun, sama seperti Rasulullah saw. Dia termasuk orang yang pertama masuk islam. Manusia terbaik setelah Rasulullah saw. Mengemban kekhilafahan selama 2,5 tahun. Riwayat-riwayat lain menyebutkan 2 tahun 4 bulan kurang 1 hari; 2 tahun;20 bulan

– Putera-puterinyanya

a .Abdullah, awal masuk islam sehingga termasuk sahabat. Diasaat Rasulullah saw dan Abu Bakar bersembunyi di dalam goa menghindari kejaran kafir Quraisy, ia pernah masuk goa itu juga. Dia terkena anak panah di Thaif, meninggal di saat ayahnya mengemban khilafah.

b. Asma’, pemilik dua ikat pinggang. Istri Zubeir bin Awwam. Hijrah ke Madinah di saat mengandung Abdulllah bin Zubeir. Sehingga Abdullah merupakan orang islam pertama yang lahir setelah hijrah. Ibu Asma’ adalah Qutailah binti Abdul Uzza berasal dari Bani Luay meninggal dalam keadaan kafir.

c dan d. Aisyah binti as-Siddiq, istri Nabi

Ia memiliki saudara seayah dan seibu yaitu Abdurrahman bin Abu Bakar, yang berada di barisan kaum musyrikin pada perang Badar, namun setelah itu ia masuk islam. Ibu Aisyah adalah Ummu Ruman binti Amir bin Uaimir bin Abdu Syams bin Attab bin Udzinah bin Subai’ bin Duhman bin al Harits. Masuk islam, dan ikut hijrah ke madinah dan wafat di zaman Rasulullah saw

Cucu Abu Bakar: Abu Atik Muhammad bin Abdurrahman lahir di zaman Rasulullah saw,termasuk sahabat. Sehingga kami tidak tahu keluarga lain (selain Abu Bakar) yang dengan empat keturunan, semuanya tergolong sahabat (ayah Abu Bakar-Abu Bakar-Abdurrahman-Abu Atik)

e. Muhammad bin Abu Bakar. Lahir pada zaman haji wada’. Meninggal di Mesir dan dikuburkan disana.Ibunya adalah Asma’ binti Umais al Khots’amiyyah.

f. Ummu Kultsum binti Abu Bakar.Lahir setelah Abu Bakar wafat. Ibunya adalah Habibah, riwayat lain menyebutkan Fakhitah binti Kharijah bin Zaid bin Abu Zuhair al Anshari. Ia dinikahi Thalhah bin Ubaidillah
Keenam putera-puteri Abu Bakar adalah sahabat Nabi, kecuali Ummu Kultsum. Sementara Muhammad lahir masih zaman Nabi. Abu Bakar wafat pada tanggal 27 Jumadil Akhir 13H.

Tafsir Al-Qur’an pada Masa Nabi dan Shahabat

10 Feb

Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an; Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

Allah memberikan jaminan kepada Rasul-Nya bahwa Dia akan memelihara al-Qur’an dan menjelaskannya: “Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah menghimpunnya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (al-Qiyaamah: 17-19)

Nabi memahami al-Qur’an secara global dan terperinci. Dan adalah kewajibannya menjelaskannya kepada para shahabatnya: “Dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkannya.” (an-Nahl: 44)

Para shahabat juga memahami al-Qur’an karena al-Qur’an diturunkan dalam bahasa mereka, sekalipun mereka tidak memahami detail-detailnya. Ibn Khaldun dalam Muqaddimahnya menjelaskan: “Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dan menurut uslub-uslub balaghahnya. Karena itu semua orang Arab memahaminya dan mengetahui makna-maknanya baik kosa kata maupun susunan kalimatnya.” Namun demikian mereka berbeda-beda tingkat pemahamannya, sehingga apa yang tidak diketahui oleh seseorang di antara mereka bolehjadi diketahui oleh orang lain.

Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaidah dalam al-Fadaa-il dari Anas, Umar bin Khaththab pernah membaca di atas mimbar ayat: wa faakiHataw wa abban (‘Abasa: 31) lalu ia berkata: “Arti kata faakiHaH (buah) telah kita ketahui, tetapi apakah arti kata abb?” kemudian dia menyesali diri sendiri dan berkata: “Ini suatu pemaksaan diri, takalluf, wahai Umar.” (al-itqaan jilid 2 hal 113)

Abu ‘Ubaidah meriwayatkan pula melalui Mujahid dari Ibn ‘Abbas, ia berkata: “Dulu saya tidak tahu apa makna faatirus samaawaati wal ardl; sampai datang kepadaku dua orang dusun yang bertengkar tentang sumur. Salah seorang mereka berkata: ‘Ana fatartuHaa’, maksudnya ‘ana ibtada’tuHaa’ (akulah yang membuatnya pertama kali). (al-itqaan jilid 2 hal 113)
Atas dasar itu Ibn Qutaidah berkata: “Orang arab itu tidak sama pengetahuannya tentang kata-kata gharib dan Mutasyabih dalam al-Qur’an. Tetapi dalam hal ini sebagian mereka mempunyai kelebihan atas yang lain.” (at-Tafsir wal Mufassiriin, jilid 1 hal 36)

Para shahabat dalam menafsirkan al-Qura’n masa itu berpegang pada:

1. Al-Qur’anul Karim, sebab apa yang dikemukakan secara global di satu tempat dijelaskan secara terperinci di tempat lain. Terkadang pula sebuah ayat datang dalam bentuk mutlaq atau umum namun kemudian disusul oleh ayat lain yang membatasi atau mengkhususkannya. Inilah yang dinamakan “Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an.” Penafsiran seperti ini cukup banyak contohnya. Misalnya kisah-kisah dalam al-Qur’an yang ditampilkan secara ringkas (muujaz) di beberapa tempat, kemudian di tempat lain datang uraiannya panjang lebar (mushab). Contoh lainnya adalah firman Allah yang artinya: “Dihalalkan bagimu binatang ternak kecuali yang akan dibacakan kepadamu…” (al-Maaidah: 1) ditafsirkan oleh ayat:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai…” (al-Maaidah: 3)

Dan firman-Nya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan..” (al-An’am: 103), ditafsirkan oleh ayat: “Kepada Tuhannyalah mreeka melihat.” (al-Qiyamah: 23)

2. Nabi saw., mengingat beliau lah yang bertugas untuk menjelaskan al-Qur’an. Karena itu wajarlah kalau para shahabat bertanya kepada beliau ketika mendapat kesulitan dalam memahami suatu ayat.

Dari Ibn Mas’ud diriwayatkan, ia berkata: Ketika turun ayat ini: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan imannya dengan kedhaliman…” (al-An’am: 82), hal ini sangat meresahkan hati para shahabat. maka mereka bertanya: “Ya Rasulallah, siapakah di antara kita yang tidak berbuat dhalim terhadap dirinya?” Beliau menjawab: “Kedhaliman di sini bukanlah seperti yang kamu pahami. Tidakkah kamu mendengar apa yang dikatakan hamba yang shalih [Lukman]: ‘Sesungguhnya mempersekutukan [Allah] adalah kedhaliman yang besar.’ (Lukman: 13). Kedhaliman di sini sesungguhnya adalah syirik.” (Hadits Ahmad, Bukhari-Muslim dan lainnya)

Demikian juga Rasulullah menjelaskan kepada mereka apa yang ia kehendaki ketika diperlukan. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata: “Saya pernah mendengar Rasulullah mengatakan di atas mimbar ketika membaca ayat, ‘Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi’ (al-Anfaal: 60). Ketahuilah, ‘Kekuatan’ disini adalah memanah.” (Hadits Muslim dan lainnya)

Dari Anas dia berkata: Rasulullah bersabda: “Al-Kautsar adalah sungai yang diberikan Tuhan kepadaku di surga.” (Hadits Ahmad dan Muslim)

Kitab-kitab himpunan sunnah telah menyajikan satu bab khusus memuat tafsir bil-ma’tsuur (penafsiran berdasarkan riwayat/atsar) dari Rasulullah. Dalam hal ini Allah berfirman:

“Dan Kami tidaklah menurunkan kepadamu Kitab, melainkan agar kamu menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (an-Nahl: 64)

Di antara kandungan al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang tidak dapat dita’wilkan kecuali melalui penjelasan Rasulullah. Misalnya rincian tentang perintah dan larangan-Nya serta ketentuan mengenai hukum-hukum yang difardlukan-Nya. inilah yang dimaksud dengan perkataan Rasulullah: “Ketahuilah, sungguh telah diturunkan kepadaku al-Qur’an dan bersamanya pula sesuatu yang serupa dengannya…”

3. Pemahaman dan ijtihad. Apabila para shahabat tidak mendapatkan tafsiran dalam al-Qur’an dan tidak pula mendapatkan sesuatu pun yang berhubungan dengan hal itu dari Rasulullah saw., mereka melakukan ijtihad dengan mengerahkan segenap kemampuan nalar. Ini mengingat mereka adalah orang-orang Arab asli yang sangat menguasai bahasa Arab, memahami dengan baik dan mengetahui aspek-aspek kebalaghahan yang ada di dalamnya.

Di antara para shahabat yang terkenal banyak menafsirkan al-Qur’an adalah empat khalifah, Ibn Mas’ud, Ibn ‘Abbas, Ubai bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin Zubair, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin ‘Amr bin ‘As, dan ‘Aisyah, dengan terdapat perbedaan sedikit atau banyakknya penafsiran mereka. cukup banyak riwayat-riwayat yang dinisbatkan kepada mereka dan kepada shahabat yang lain di berbagai tempat tafsir bil-ma’tsuur yang tentu saja berbeda-beda derajat keshahihannya dan ke-dlaifannya dilihat dari sudut sanad (mata rantai periwayatan).

Tidak diragukan lagi, tafsir bil-ma’tsuur yang berasal dari shahabat mempunyai nilai tersendiri. Jumhur ulama berpendapat, tafsir shahbat mempunyai status hukum marfu’ (disandarkan kepada Rasulullah saw) bila berkenaan dengan asbabun nuzul dan semua hal yang tidak mungkin dimasuki ra’y. Sedang hal yang memungkinkan dimasuki ra’y maka statusnya adalah mauquf (terhenti) para shahabat selama tidak disandarkan kepada Rasulullah saw.

Sebagian ulama mewajibkan untuk mengambil tafsir yang mauquf pada shahabat, karena merekalah yang paling ahli bahasa Arab dan menyaksikan langsung konteks dan situasi serta kondisi yang hanya diketahui mereka, di samping mereka mempunyai daya pemahaman yang shahih. Zarkasyi dalam kitabnya al-Burhaan berkata:

“Ketahuilah, al-Qur’an itu ada dua bagian. Satu bagian penafsirannya datang berdasarkan naql (riwayat) dan sebagian yang lain tidak dengan naql. Yang pertama, penafsiran itu kadangkala dari Nabi, shahabat atau tokoh tabi’in. Jika berasal dari Nabi, hanya perlu dicari keshahihan sanadnya. Jika berasal dari shahabat, perlu diperhatikan apakah mereka menafsirkan dari segi bahasa? Jika ternyata demikian maka mereka adalah yang paling mengerti tentang bahasa Arab, karena itu pendapatnya dapat dijadikan pegangan, tanpa diragukan lagi. Atau jika mereka menafsirkan berdasarkan asbab nuzul atau situasi dan kondisi yang mereka saksikan, maka hal itu pun tidak diragukan lagi.” (al-itqaan jilid 2 hal 183)

Berkata al-Hafidz Ibn Katsir dalam Muqaddimah Tafsirnya: “Dengan demikian jika kita tidak mendapatkan tafsiran dalam al-Qur’an dan tidak pula dalam sunnah, hendaknya kita kembalikan, dalam hal ini ke pendapat shahabat; sebab mereka lebih mengetahui mengenai tafsir al-Qur’an. Hal ini karena merekalah yang menyaksikan konteks dan situasi serta kondisi yang hanya diketahui mereka sendiri. Juga karena mereka mempunyai pemahaman sempurna, ilmu yang shahih dan amal yang shalih, terutama para ulama dan tokoh besarnya, seperti empat khulafaur Rasyidin, para imam yang mendapat petunjuk dan Ibn Mas’ud.” (Ibn Katsir jilid 1 hal 3)

Pada masa ini tidak ada sedikitpun tafsir yang dibukukan, sebab pembukuan baru dilakukan pada abad kedua. Di samping itu tafsir hanya merupakan cabang dari hadits, dan belum mempunyai bentuk yang teratur. Ia meriwayatkan secara bertebaran mengikuti ayat-ayat yang berserakan, tidak tertib atau berurutan sesuai sistematika ayat-ayat al-Qur’an dan surah-surahnya di samping juga tidak mencakup keseluruhannya.

&

Mengetahui Para Shahabat

2 Okt

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi Shahabat
a. Menurut bahasa: shahabat itu bentuk mashdar yang berarti ash-shuhbah [bersahabat]. Dari situ muncul kata ash-shahabi, ash-shahib, bentuk jamaknyua adalah ashhab. Yang banyak digunakan adalah kata ash-Shahabat, yang berarti ash-shab [para shahabat].
b. Menurut istilah: orang yang bertemu dengan Nabi saw., muslim dan meninggal dalam keadaan Islam, meski di masa hidupnya pernah murtad.
Imam al-Hafidz Abu Bakar Ahmad bin Ali memiliki pendapat yang berbeda, dan ini yang benar, yang mengutip perkataan Sa’id bin Musayyab, bahwa beliau berkata: “Shahabat itu tidak kita perhitungkan kecuali orang yang pernah bersama Rasulullah saw. selama setahun atau dua tahun, dan pernah turut serta berperang dalam satu kali atau dua kali peperangan bersamanya.” Lihat kitab asy-Syakhshiyah al-Islamiyyah karya Taqiyyuddin an-Nabhani juz III/310. Atau pernyataan al-Mazini yang terdapat dalam syarah kitab al-Burhan: “Kita tidak begitu saja mengatakan, bahwa shahabat yang adil itu adalah setiap orang yang menyaksikan Nabi saw satu hari, atau menyaksikan beliau hanya kadang-kadang [sesaat], atau berkumpul dengan beliau karena suatu kepentingan, setelah itu berpaling, melainkan orang-orang yang mengikuti dan bersama-sama beliau, menolong beliau, dan mengikuti cahaya yang diturunkan Allah. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

2. Urgensi dan Manfaatnya
Mengetahui para shahabat merupakan pengetahuan yang amat besar, sangat penting dan besar manfaatnya. Di antara manfaatnya adalah mengetahui yang muttashil dan yang mursal.

3. Dengan apa pertemanan Para Shahabat Dikenal
Yaitu dengan salah satu dari lima cara:
a. Berita yang mutawatir. Seperti Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab, dan 10 orang yang dijamin masuk surga.
b. Popularitas: Seperti Dliman bin Tsa’labah, ‘Ukasyah bin Muhshan.
c. Berita dari shahabat
d. Berita dari para tabi’in yang tsiqah
e. Berita dari dirinya sendiri asalkan dia adil, itupun selama pengakuannya memungkinkan

4. Keadilan seluruh shahabat
Para shahabat ra. seluruhnya adalah adil; baik yang terlibat dalam fitnah maupun tidak. Ini merupakan kesepakatan bagi orang yang memperhatikan mereka. Arti dari mereka itu adil adalah, jauhnya mereka dari kesengajaan berbuat dusta dalam periwayatan dan upaya menyelewengkannya, dengan terjerumus dalam perbuatan yang mengharuskan tidak diterimanya periwayatan mereka. Implikasinya adalah riwayat mereka, seluruhnya diterima, tanpa harus membicarakan mengenai keadilan mereka. Siapapun dari shahabat yang terlibat dalam fitnah, itu karena ijtihad mereka yang salah yang masih beroleh pahala, maka terhadap mereka mesti bersikap husnudhan. Sebab, merekalah yang mengemban syari’at dan mereka hidup dalam kurun yang terbaik.

5. Yang terbanyak meriwayatkan hadits
Ada enam orang shahabat yang banyak meriwayatkan hadits yaitu:
a. Abu Hurairah, yang meriwayatkan 5374 hadits. Dari beliau lebih dari 300 orang meriwayatkannya.
b. Ibnu Umar, yang meriwayatkan 2630 hadits
c. Anas bin Malik, yang meriwayatkan 2286 hadits
d. ‘Aisyah Ummul Mukminin, yang meriwayatkan 2210 hadits
e. Ibnu ‘Abbas yang meriwayatkan 1660 hadits
f. Jabir Abdullah, yang meriwayatkan 1540 hadits

6. Yang terbanyak berfatwa
Diriwayatkan bahwa yang paling banyak berfatwa adalah Abdullah bin Abbas, kemudian para shahabat senior sebanyak enam orang –menurut Masruq-, yaitu: “Ujungnya ilmu para shahabat ada pada enam orang, yaitu Umar, Ali, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Darda dan Ibnu Mas’ud; kemudian berakhir ilmu para shahabat itu pada diri Ali dan Abdullah bin Mas’ud.”

7. Siapa yang dimaksud dengan Abadilah
Yakni pada dasarnya merupakan nama mereka, yaitu Abdullah, berasal dari kalangan shahabat. jumlah shahabat yang memakai nama itu sekitar 300 orang. Tetapi yang dimaksud disini ditujukan pada empat orang shahabat saja, yang namanya Abdullah:
a. Abdullah bin Umar
b. Abdullah bin Abbas
c. Abdullah bin Zubair
d. Abdullah bin Amru bin al-‘Ash
Keistimewaan mereka, karena mereka itu adalah ulamanyaa para shahabat, yang wafatnya termasuk pada periode akhir sehingga kita perlu mengetahuinya. Keistimewaan dan popularitas mereka, apabila mereka sepakat dalam suatu perkara dalam bentuk fatwa, maka akan dikatakan sebagai qaul ‘Abadilah [pendapat Abadilah]

8. Jumlah Shahabat
Tidak ada perhitungan yang akurat mengenai jumlah para shahabat. meski demikian ada pendapat ahli ilmu yang bisa dijadikan sebagai sandaran, bahwa mereka itu lebih dari 100.000 orang. Yang terkenal adalah pernyataan Abu Zur’ah ar-Razi: “Rasulullah saw. meninggalkan para shahabat yang berjumlah 114.000 orang, dimana mereka adalah orang-orang yang meriwayatkan dan mendengar [hadits] beliau. (at-Taqrib dan at-Tadrib juz II/220)

9. Jumlah Thabaqat Shahabat
Terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah thabaqat para shahabat. di antara mereka dibuat kategori berdasarkan yang awal memeluk Islam, atau yang turut berhijrah, atau kesaksian mereka dalam berbagai peristiwa penting, dan berbagai pertimbangan lain. Pembagian-pembagian itu berdasarkan pendapat atau ijtihad para ulama.
a. Ibnu Sa’id membagi mereka dalam lima thabaqat
b. Al-Hakim membagi mereka dalam dua belas thabaqat

10. Shahabat yang paling utama
Shahabat yang paling utama adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian Umar ra. Ini berdasarkan ijma’ [kesepakatan] ahli sunnah. Kemudian Utsman, lalu Ali. Ini menurut pendapat jumhur ahli sunnah. Kemudian sepuluh orang [yang dijamin masuk surga], lalu peserta perang Badar, setelah itu peserta perang Uhud, dan peserta Bai’at ar-Ridwan.

11. Yang pertama masuk Islam
a. Dari kalangan lelaki yang merdeka: Abu Bakar ash-Shiddiq ra.
b. Dari kalangan anak-anak: Ali bin Abi Thalib
c. Dari kalangan wanita: Khadijah Ummul Mukminin ra.
d. Dari kalangan maula [bekas budak]: Zaid bin Haritsah
e. Dari kalangan hamba sahaya: Bilal bin Rabah ra.

12. Yang terakhir meninggal
Abu Thufail Amir bin Wailah al-Laitsi. Meninggal pada tahun 100 H di kota Makkah al-Mukarramah. Ada yang mengatakan lebih dari itu. Sebelumnya adalah Anas bin Malik, yang meninggal pada tahun 93 H di kota Bashrah.

13. Kitab yang populer
a. Al-Ishabah fii Tamyizi as-Shahabat, karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani
b. Usud al-Ghabah fii Ma’firati ash-Shahabat, karya Ali bin Muhammad al-Jazri, yang populer dengan nama Ibnu al-Atsir.
c. Al-Isti’ab fii Asma al-Ashhab, karya Ibnu Abdir Barr

&