Tag Archives: Sifat

Bab Na’at atau Sifat

21 Mei

Ilmu Nahwu Terjemahan Matan al-Ajurumiyyah dan ‘Imrithy
KH. Moch. Anwar; Sinar Baru Algensindo

belajar bahasa arab ilmu nahwu bab na'at atau sifat 1 belajar bahasa arab ilmu nahwu bab na'at atau sifat 2 belajar bahasa arab ilmu nahwu bab na'at atau sifat 3

 

 

&

Sifat-Sifat Orang yang Bertaubat

21 Mei

At-Tadzkirah Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;
Imam Syamsuddin al-Qurthubi

Ada sebuah hadits tentang sifat-sifat orang yang bertaubat, yang diriwayatkan secara marfu’ dari Ibnu Mas’ud ra. bahwa Nabi saw. bersabda di tengah sekelompok para shahabatnya, “Tahukah kamu siapakah orang yang bertaubat?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah.”
Beliau bersabda, “Jika seseorang bertaubat, sedang seteru-seterunya tidak ridla, berarti belum bertaubat. Barangsiapa bertaubat, sedang dia tidak mengubah pakaiannya, berarti dia belum bertaubat. Barangsiapa bertaubat sedang dia tidak mengubah majelisnya, berarti belum bertaubat. Barangsiapa bertaubat sedang dia tidak mengubah nafkah dan perhiasannya, berarti belum bertaubat. Barangsiapa bertaubat sedang dia tidak mengubah tempat tidur dan bantalnya, berarti belum bertaubat. Barangsiapa bertaubat sedang dia tidak melapangkan perangainya, berarti belum bertaubat. Barangsiapa bertaubat sedang dia tidak melapangkan hati dan telapak tangannya, berarti belum bertaubat.” Kemudian Nabi saw. bersabda pula, “Apabila dia bertaubat dari perangai-perangai tersebut, berarti dia benar-benar bertaubat.” (al-Qurthubi tidak mengenal hadits ini)

Kata ulama: membuat ridla seteru caranya ialah dengan mengembalikan harta yang telah dirampas darinya, atau diambil secara khianat dan curang; atau memberi maaf setelah membicarakan kejelekan, menjatuhkan harga diri, atau mencaci-maki mereka. yakni berusaha membuat mereka ridla dengan berbagai cara yang mampu dilakukan, dan meminta maaf. Dan apabila seteru telah meninggal, sedang harta mereka masih ada di tangan orang yang hendak bertaubat itu, maka ia wajib mengembalikan kepada ahli waris mereka. jika ahli waris mereka tidak diketahui, maka harta itu wajib dia sedekahkan atas nama mereka, dan memohon ampun untuk mereka setelah meninggal, serta berdoa, “Ya Allah, gantilah celaan dan ghibah yang telah saya lakukan dengan kebaikan bagi mereka.”
Dalam masalah ini tidak ada perselisihan di antara para ulama.

Adapun mengubah pakaian, maksudnya ialah mengganti pakaian yang dikenakan, yang berasal dari harta haram dengan pakaian halal. Kalau pakaian yang dikenakan berupa pakaian kemegahan dan kesombongan, maka diganti dengan pakaian biasa yang sederhana.

Mengubah majelis, maksudnya meninggalkan perkumpulan hura-hura dan bermain dengan orang-orang bodoh dan anak-anak muda, beralih kepada majelis para ulama, majelis dzikir, bergaul dengan orang-orang fakir dan orang-oran shalih, serta mendekatkan diri kepada hati mereka, dengan cara berkhidmat atau apa saja yang mampu dilakukan, serta menyalami mereka.

Mengubah makanan, maksudnya memakan makanan yang halal, dan menghindari makanan yang syubhat atau membangkitkan syahwat. Dan dan, mengubah waktu-waktu makan, serta tidak bertujuan mencari enak dalam makanan.

Mengubah nafkah, maksudnya meninggalkan pekerjaan-pekerjaan haram, beralih kepada pekerjaan yang halal.

Mengubah perhiasan, maksudnya meninggalkan perhiasan yang ada pada perkakas-perkakas, bangunan, pakaian, makanan dan minuman.

Mengubah tempat tidur, maksudnya meninggalkannya untuk melakukan shalat malam, sebagai ganti dari kesenangan-kesenangan yang menyibukkan, atau yang memicu kemalasan, dan mendorong kepada kemaksiatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah yang artinya: “Lambung mereka menjauh dari tempat tidur.” (as-Sajdah: 16)

Mengubah perangai, maksudnya mengubahnya dari kasar menjadi lembut, dari sempit menjadi lapang, dan dari kaku menjadi toleran.

Melapangkan hati, bisa dilakukan dengan cara memberi infak, dengan percaya diri mampu berbuat dalam keadaan apapun.

Melapangkan telapak tangan, maksudnya bersifat dermawan dan mengutamakan orang lain dengan memberi sesuatu kepadanya.

Demikianlah, semua kelakuan yang buruk diubah, seperti kebiasaan meminum khamer diganti dengan memecah gelasnya dan meminum susu dan madu. Berzina diganti dengan menanggung para janda dan anak-anak yatim serta mengurus keperluan-keperluan mereka, dan menyesali kelakukan buruk yang telah diperbuat itu dan umur yang telah disia-siakan selama ini.

Jika taubat dilakukan dengan memenuhi tindakan-tindakan dan syarat-syarat yang disebutkan di atas, maka Allah swt. akan menerimanya dengan kemurahan-Nya, dan dua malaikat pengawas serta seluruh penjuru bumi akan melupakan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa orang itu, sebagaimana difirmankan oleh Allah swt. yang artinya:

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar.” (ThaaHaa: 82)

&

Menahan Diri dari Menasehati Atas Sifat Bawaan Seseorang

9 Mar

Menahan Diri dari Menasehati Atas Sifat Bawaan Seseorang
Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Ini juga salah satu etika nasehat, karena terkadang aib yang terdapat pada seseorang merupakan pembawaan yang ia tidak bisa melepaskan diri darinya. Pada saat demikian, nasehat tidak berguna; lebih baik didiamkan. Bersamaan dengan itu, saudaranya yang mengetahui berusaha untuk menutup aib itu, khususnya apabila ia menyembunyikannya.

Namun apabila ia memperhatikan aib itu, hendaklah saudaranya memberi nasehat dengan lemah lembut, sesekali mungkin dilakukan dengan berterus terang dan di lain waktu dengan sindiran. Akan tetapi, baik secara terus terang maupun dengan sindiran, disyaratkan agar keduanya tidak menimbulkan kemarahan dan kebencian.

Ketika pemberi nasehat mengetahui bahwa nasehat itu tiak memberikan pengaruh kepada saudaranya dikarenakan aib itu memang merupakan pembawaan yang tidak bisa ditinggalkan, si pemberi nasehat hendaklah tetap menasehatinya, karena tujuannya adalah untuk kebaikan saudaranya, baik dalam agama maupun dunianya.

Demikianlah, kaum muslimin hendaknya saling menasehati. Seorang pemberi nasehat yang baik adalah orang yang bisa mengubah saudaranya kepada keadaan yang lebih baik dengan perantaraan nasehat itu. Sedang penerima nasehat yang baik adalah orang yang mau menerima nasehat, mencintai penasehat dan mendoakannya. Demikianlah perilaku salafus shalih kita dalam hal nasehat menasehati. Hal ini hendaknya terus berlangsung di kalangan kaum muslimin, baik di masa kini maupun di masa yang akan datang. Sebab nasehat itu, sebagaimana yang telah kita ketahui, tegak di atas nilai-nilai akhlak, sedangkan nilai-nilai itu baku dan tidak bisa diubah atau diganti.

&

Sifat Pintu Neraka

23 Feb

Sifat Pintu Neraka
Neraka, Kengerian dan Siksaannya; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Surga mempunyai beberapa pintu, demikian juga neraka. penghuni surga akan memasuki surga melalui pintu-pintu surga. Demikian juga penghuni neraka akan memasuki neraka melalui pintu-pintunya. Dan kedua golongan itu akan disambut oleh para malaikat. Dalam al-Qur’an dijelaskan bagaimana para malaikat itu menyambut setiap kelompok yang akan memasukinya, baik surga maupun neraka, serta perbedaan antara mereka ketika memasukinya.

“Dan terang benderanglah bumi (padang Mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah Para Nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: ‘Apakah belum pernah datang kepadamu Rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan Pertemuan dengan hari ini?’ mereka menjawab: ‘Benar (telah datang)’. tetapi telah pasti Berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir. Dikatakan (kepada mereka): ‘Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya,’ Maka neraka Jahannam Itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.
Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan (pula). sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.’ Dan mereka mengucapkan: ‘Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada Kami dan telah (memberi) kepada Kami tempat ini sedang Kami (diperkenankan) menempati tempat dalam syurga di mana saja yang Kami kehendaki; Maka syurga Itulah Sebaik-baik Balasan bagi orang-orang yang beramal.’
Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-mmlaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.’” (az-Zumaa: 69-75)

Ayat di atas menunjukkan bahwa neraka itu mempunyai beberapa pintu, sebagaimana bunyi ayat: “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya,’ Maka neraka Jahannam Itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.”

Dalam ayat lain, Allah swt. menyebutkan bahwa neraka itu mempunyai tujuh pintu dan setiap pintu diperuntukkan golongan tertentu dari orang-orang kafir tersebut.

“Dan Sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. tiap-tiap pintu [telah ditetapkan] untuk golongan yang tertentu dari mereka.” (al-Hijr: 43-44)

Dalam kitab Shafwah at-Tafasir, Muhammad Ali ash-Shabuni menafsirkan dua ayat tersebut sebagai berikut:
1. Ayat 43, maksudnya adalah dijanjikan untuk iblis dan semua pengikutnya
2. Ayat 44, maksudnya adalah neraka jahanam itu mempunyai tujuh pintu dan mereka masuk ke dalamnya melalui pintu-pintu tersebut karena banyaknya orang yang kafir.

Menurut pendapat Ali ra. bahwa mereka bertingkat-tingkat. Tingkat pertama lebih keras dari tingkat lainnya. Maksud ayat 43 adalah setiap golongan pengikut iblis itu mempunyai pintu sendiri-sendiri. Sedangkan Ibnu Katsir menafsirkan bahwa setiap golongan pengikut iblis itu masuk melewati pintu neraka sesuai dengan amal mereka, lalu berada di tingkat neraka juga sesuai dengan amal mereka.

Ibnu Katsir juga menafsirkan surah al-Hijr ayat 39-44 sebagai berikut:

“iblis berkata: ‘Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik [perbuatan ma’siat] di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.’ Allah berfirman: ‘Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya).’ Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, Yaitu orang-orang yang sesat. Dan Sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.” (al-Hijr: 39-44)

Penafsiran dari ayat-ayat; bimaa aghwaitanii; maksudnya karena Engkau telah menyesatkan aku [la-uzayyinannaa laHum] maka aku akan menghiasi anak cucu Adam as [fil ardli] dengan mencintai perbuatan maksiat atau lebih suka berbuat maksiat di dunia [wa la-ughwiyannaHum ajma’iin], sebagaimana Engkau juga telah menakdirkan aku sebagai makhluk yang sesat. [illaa ‘ibaadaka minHumul mukhlishiin] kecuali sedikit di antara mereka.
[Haadzaa shirathun ‘alayya mustaqiim] kepada-Ku lah tempa kembali kalian dan Aku akan memberi balasan setiap amal kalian. Jika amal itu baik, Aku akan membalas dengan kebaikan. Sebaliknya jika amal itu jelek, Aku juga akan membalasnya dengan kejelekan.

Dikatakan juga bahwa jalan kebenaran itu kembalinya hanya kepada Allah swt. [inna ‘ibaadii laisa laka ‘alaiHim sulthaan] orang-orang yang telah Aku takdirkan mendapat hidayah, engkau tidak dapat menguasai mereka, bahkan engkau tidak akan sampai mendekati mereka [illaa manit taba’aka minal ghaawiin], kecuali yang mengikuti kesesatanmu.

[wa inna jahannama lamau’iduHum ajma’iin] neraka jahanam adalah tempat kembali mereka yang mengikuti iblis. Kemudian Allah memberitahukan bahwa neraka jahanam mempunyai tujuh pintu, setiap pintu telah tertulis golongan pengikut iblis. Mereka akan memasuki pintu itu sesuai dengan amal mereka. mereka juga akan menempati tingkatan di neraka itu sesuai dengan amal mereka.

Dari Abu Hurairah, dari Abu Maryam dari Ali ra. berkata, “Pintu neraka itu ada tujuh. Sebagiannya berada di atas bagian yang lain. Setelah yang pertama penuh, lalu dipenuhi pula yang kedua, kemudian yang ketiga hingga semuanya penuh.” Ikrimah juga mengatakan bahwa tujuh pintu neraka itu bertingkat-tingkat.

Ibnu Juraij berkata, “Pintu nerakka itu ada tujuh, yaitu jahanam, ladza, huthamah, sa’ir, saqar, jahim, dan Hawiyah.” (HR adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas)

Qatadah juga berkata bahwa yang dimaksud dengan firman Allah swt. ayat 44 di atas ialah Allah swt mempunyai tempat-tempat sesuai dengan amal perbuatan mereka.

Dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Neraka mempunyai tujuh pintu. Salah satunya adalah untuk siapa saja yang menghunus pedang [memerangi] umatku.” (HR Turmudzi)

Dalam menafsirkan al-Hijr ayat 44, Ibnu Abi Hatim dari Samurah bin Jundab mengatakan berdasarkan hadits Rasulullah saw., “Sesungguhnya di antara penghuni surga itu ada yang terbakar sampai betis, ada pula yang terbakar sampai pinggang, dan ada pula yang terbakar sampai lutut. Tempat mereka di dalam neraka sesuai dengan amal mereka.”

Allah akan mengumpulkan mereka di dalam neraka dengan berbagai jenis siksaan dan berlainan pintunya sesuai dengan dosa-dosa yang telah mereka perbuat di dunia. Di dalam neraka itu ada penyembah berhala, peminum khamr, yang suka membungakan harta, penjudi, ada pula yang suka memerangi Allah swt. dan para rasul-Nya juga kaum muslimin. Sungguh perbuatan mereka itu tidak lepas dari pengawasan Allah swt.

“Selanjutnya Kami sungguh lebih mengetahui orang yang serharusnya [dimasukkan] ke dalam neraka.” (Maryam: 70)

Setiap kelompok mempunyai dosa-dosa yang akan dikumpulkan dan pintu yang akan mereka masuki.

“Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (az-Zukhruf: 67)

Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi rahimahullah menamakan pintu-pintu neraka, menerangkan penghuninya, dan menafsirkan makna setiap pintu neraka sebagai berikut:
Pintu pertama dinamakan jahanam karena para laki-laki dan perempuan penghuni neraka itu bermuka masam. Daging-daging mereka akan dibakar dan inilah siksa yang paling ringan dibandingkan yang lainnya.
Pintu kedua dinamakan ladhaa. Hal ini sesuai dengan firman Allah: Kallaa innaHaa ladhaa, nazza’atal lisy-syawaa [‘Sekali sekali tidak, sesungguhnnya neraka itu adalah api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulit kepala.’] (al-Ma’arij: 15-16)

Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi mengatakan bahwa neraka ini akan memakan atau membakar kedua tangan dan kaki para penghuninya. Ia akan memanggil orang-orang yang berpaling dari tauhid dan yang diserukkan Muhammad saw.
Pintu ketiga dinamakan saqar karena memakan daging para penghuninya, tanpa tulang mereka.
Pintu keempat dinamakan huthamah karena apinya dapat membakar dan menghancurkan tulang, bahkan sampai ke hati. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

“Dan tahukah kamu [neraka] huthamah itu? [yaitu] api [adzab] Allah yang dinyalakan, yang [membakar] sampai ke hati.” (al-Humazah: 5-7)

Api neraka itu juga membakar kedua kaki penghuninya hingga ke hati, bahkan melemparkan bunga api sebesar istana.
“Sungguh [neraka] itu menyemburkan api [sebesar dan setinggi] istana, seakan-akan iring-iringan unta yang kuning.” (al-Mursalaat: 32-33)

Makna ayat tersebut adalah bunga api itu dilemparkan ke langit, lalu turun dan membakar wajah, tangan, dan tubuh penghuni neraka hingga air mata mereka meluap, kemudian mereka menangis, tetapi air mata yang keluar adalah darah. Jika dikirimkan kapal kepada mereka, niscaya kapal itu akan dapat berjalan di atas air mata mereka.

Pintu kelima dinamakan jahim karena bara apinya yang besar. Satu bara api lebih besar daripada dunia.
Pintu keenam dinamkan sa’ir karena neraka itu akan menyala bersama penghuni neraka. neraka itu juga belum terjamah dan terinjak. Di dalamnya terdapat ular, kalajengking, tali, rantai, belenggu, dan sumur penderitaan. Tidak ada siksa yang lebih pedih darinya. Jika pintu penderitaan itu dibuka untuk penghuni neraka, niscaya mereka akan menderita dengan penderitaan yang sangat.
Pintu ketujuh dinamakan Hawiyah karena siapa saja yang tercebur ke dalamnya tidak akan pernah keluar selamanya. Di dalam neraka itu terdapat habad [debu]. Jika sumur itu dibuka, akan keluar api dari dalamnya.

“…. setiap kali nyala api Jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi nyalanya bagi mereka.” (al-isra’: 97)
“Aku akan membebaninya dengan pendakian yang memayahkan.” (al-muddatstsir: 17)

Yang dimaksud dengan pendakian di sini adalah mendaki gunung api yang diletakkan untuk musuh-musuh Allah. Tangan-tangan mereka terbelenggu di leher-leher mereka. begitu juga dengan kaki-kaki mereka. sedangkan malaikat Zabaniyah berada di atas kepala mereka sambil membawa pukul besi. Jika salah seorang dari mereka dipukul, suaranya akan terdengar berat. Orang-orang kafir terhadap ayat-ayat Allah, berbuat syirik, maksiat, dan munafik kepada-Nya, jika memasuki pintu itu, niscaya akan ditutup dan tidak ada harapan untuk keluar.

“Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.” (al-Balad: 19-20)

Dalam tafsir al-Munir, Dr. Muhammad Wahhab az-Zahiliy menafsirkan kedua ayat di atas dengan orang-orang yang menentang ayat-ayat Allah swt yang diturunkan serta ayat-ayat kauniah yang menunjukkan kekuasaan-Nya. Mereka itulah golongan kiri dan bagi mereka adalah neraka yang bertingkat-tingkat dan tertutup. Golongan kiri ini adalah penghuni neraka yang malang.

“Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu? Dalam (siksaan) angin yang Amat panas, dan air panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam, tidak sejuk dan tidak menyenangkan.” (al-Waqi’ah: 41-44)

Hal itu disebutkan Allah swt. sebagai persiapan, perbandingan, dan pelajaran bagi golongan kiri dan golongan kanan. Orang-orang yang kafir terhadap Allah dan mengingkari al-Qur’an, mereka akan kembali dan mengambil kitab mereka dari kiri. Tempat kembali mereka adalah neraka yang bertingkat-tingkat dan tertutup pintunya.

“Kecelakaanlah bagi Setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya Dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.” (al-Humazah: 1-9)

Dalam ayat di atas, Allah swt. menjanjikan berbagai siksaan yang pedih di dalam huthamah kepada orang-orang kafir yang mengumpulkan dan menimbun harta, menghitung-hitungnya, mengira bahwa hartanya akan membuat mereka kekal dan mulia di dunia, serta mengira tidak akan terkena siksa apa pun. Api neraka ini akan membakar penghuninya sampai ke hati dan mereka diikat pada tiang-tiang yang sangat panjang.

Ibnu Katsir menafsirkan surah al-Huthamah sebagai berikut:
Al-hamaz dengan perkataan, sedangkan al-lamaz dengan perbuatan. Maksudnya, manusia memandang orang lain rendah dan hina. Menurut Ibnu ‘Abbas, pengumpat dan pencela adalah orang yang suka mencemarkan kehormatan orang lain atau membuka aibnya.

Menurut ar-Rabi’ bin Anas, pengumpat adalah memaki-maki orang langsung di hadapannya. Dan pencela adalah menjelekkan oran lain dari belakang.
Qatadah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pengumpat dan pencela adalah secara lisan dan perbuatan. Maksudnya ucapan itu disertai dengan perbuatan yang nyata. Orang yang berbuat seperti ini diumpamakan memakan daging manusia dan menusukkannya dari belakang.
Mujahid juga berpendapat bahwa yang dimaksud dengan pengumpat adalah dengan perbuatan nyata, sedangkan pencela adalah dengan lisan atau ucapan.

Sebagian mufassir berpendapat bahwa maksud ayat itu adalah al-Ahknas bin Syariq, dia seseorang yang suka mengejek dan mengumpat orang lain. Sedangkan yang dimaksud “mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya” adalah mengumpulkan sebagian harta atas sebagian harta orang lain, lalu menghitung-hitung jumlahnya. Muhammad bin Ka’ab berpendapat: jika siang orang itu dilupakan oleh hartanya karena selalu mengumpulkannya. Sedangkan jika malam ia pulas bagai bangkai yang busuk.

Kemudian ayat selanjutnya “ia [manusia] mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya” ditafsirkan dengan ia mengira bahwa harta yang dikumpulkannya itu akan dapat mengekalkan keberadaan dirinya di dunia. “Sekali sekali tidak!” artinya urusannya tidaklah seperti yang mereka bayangkan atau apa yang ia kira. “Pasti dia akan dilempar ke dalam [neraka] huthamah” atau orang yang suka mengumpulkan harta dan menghitung-hitung itu akan dilempar ke neraka. al huthamah adalah salah satu nama neraka karena ia akan menghancurkan orang yang ada di dalamnya. Api [adzab] Allah yang menyala, yang [membakar] sampai ke hati.”

Tsabit al-Bunaniy berpendapat bahwa maksud “yang [membakar] sampai ke hati” adalah api neraka membakar mereka hingga hati, tetapi mereka masih hidup.
Sedangkan menurut Muhammad bin Ka’ab, maksudnya adalah api membakar semua tubuhnya. Makna dari “Sungguh api itu ditutup rapat atas [diri] mereka” adalah neraka itu bertingkat-tingkat, sedangkan ayat “diikat pada tiang-tiang yang panjang”, berarti tiang yang terbuat dari besi.

Adapun menurut as-Sudiy, tiang itu terbuat dari api. Sedangkan menurut Ibnu Abbas, berarti pintu-pintu yang terbentang panjang. Para penghuninya dimasukkan neraka lewat pintu-pintu tersebut, sedangkan leher-leher mereka terantai. Kemudian Qatadah menambahkan bahwa mereka disiksa dengan tiang dari api. Dan, pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir. Sedangkan Abu Saleh memakai ayat [diikat pada tiang-tiang yang panjang] dengan tali-tali yang berat.

Dalam kitab Shafwah at-Tafasir, ash-Shabuniy menafsirkan surah al-Humazah sebagai berikut:
“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela”, maksudnya adalah adzab pedih dan kehancuranlah bagi setiap orang yang suka membuka aib manusia, berbuat ghibah, dan menikamnya dari belakang atau mencela manusia, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Para mufasir berpendapat bahwa surat ini turun berkenaan dengan orang yang bernama al-Akkhnas bin Syariq. Hukum ini berlaku untuk umum karena ungkapannya juga umum bukan karena sebab khusus.

“Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya” yaitu orang yang mengumpulkan harta banyak dan menghitung-hitungnya serta menjaganya agar tidak berkurang. Selain itu ia juga menolak memberikannya untuk kebaikan. Dan menurut Qurthubi, ia selalu menghitung jumlah hartanya dan tidak menafkahkannya di jalan Allah swt. serta tidak menunaikan kewajibannya terhadap hak Allah swt. Namun ia selalu menjaganya agar hartanya tidak berkurang.

“Ia [manusia] mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya”, orang yang bodoh itu mengira bahwa hartanya akan mengekalkannya, abadi di dunia atau tidak mati.
“Sekali-sekali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam [neraka] huthamah” mereka tidak membayangkan bahwa orang yang suka mengumpat itu benar-benar akan menjadi penghuni neraka huthamah.

“Dan tahukah kamu apakah [neraka] huthamah itu?” maksudnya keadaan yang menakutkan dan mengerikan atau apa yang kamu ketahui tentang hakekat api yang besar itu. Itulah huthamah yang membakar tulang dan daging penghuninya hingga ke dalam hati. Kemudian ayat itu ditafsirkan sebagai berikut:

“[Yaitu] api [adzab] Allah yang dinyalakan, yang [membakar] sampai ke hati.” Yaitu api Allah yang dinyalakan dengan izin dan kehendak-Nya. Api ini bukanlah api biasa karena api Allah ini selamanya tidak akan pernah padam. Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Neraka dinyalakan seribu tahun hingga memerah, lalu dinyalakan di atasnya seribu tahun hingga memutih, kemudian dinyalakan lagi di atasnya seribu tahun hingga hitam, yaitu hitam yang sangat.” (HR Turmudzi)

“Yang [membakar] sampai ke hati” siksaan dan penderitaannya terasa sampai ke hati hingga membakarnya. Perumpamaan ini dikhususkan ke hati karena suatu penyakit yang telah sampai ke hati telah mematikan penderitanya. Padahal saat itu mereka tidak hidup dan tidak pula mati. Sebagaimana firman Allah “Tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup”. Jadi mereka hidup dalam kematian.

“Sungguh api itu ditutup rapat atas diri mereka”. neraka itu bertingkat-tingkat dan tertutup rapat atas mereka sehingga anginpun tidak dapat masuk ke dalamnya.

“[Sedang mereka itu] diikat pada tiang-tiang yang panjang”. Tangan dan kaki mereka terantai dan terbelenggu. Mereka putus asa di dalamnya karena tidak akan keluar darinya sepanjang masa.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan pintu-pintu tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra. “Sesungguhnya neraka itu mempunyai tujuh pintu. Salah satu pintunya diperuntukkan bagi siapa saja yang menghunus pedang atas umatku [memerangi umat Muhammad saw].” (HR Ahmad)

Dari Atabah bin ‘Id as-Salami ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya surga itu mempunyai delapan pintu, sedangkan neraka mempunyai tujuh pintu. Sebagian dari pintu itu lebih utama daripada pintu yang lainnya.” (HR Ahmad)

Hadits di atas menunjukkan bahwa di antara dosa besar yang akan mendapatkan balasan siksa dari Allah swt. adalah yang memusuhi Islam, kaum muslimin, serta Allah swt dan nabi-Nya.

Rasulullah saw. juga menyebutkan bahwa pintu-pintu neraka itu ditutup pada bulan Ramadlan yang mulia, sebagai penghormatan atas kemuliaan bulan itu, ketika al-Qur’an diturunkan di dalamnya. Kemudian sebagai rahmat Allah swt. pintu-pintu itu dibuka. Hal ini menunjukkan betapa besar dan agung perintah bulan itu [berpuasa Ramadlan] dan diterimanya taubat serta amal shalih.

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika pada malam pertama dari bulan Ramadlan, setan-setan dibelenggu, jin ditolak, pintu-pintu neraka ditutup, dan tak satu pun yang terbuka. Dibukalah pintu-pintu surga dan tak satupun yang tertutup.” (HR Turmudzi)

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika datang bulan Ramadlan, pintu-pintu surga dibuka, sedangkan pintu-pintu neraka ditutup, para setan dibelenggu, dan jin ditolak.” (HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw. juga menerangkan dalam haditsnya, betapa jauh jarak antara satu pintu neraka dengan pintu lainnya. Hal ini diriwayatkan dari Abu Razin al-‘Aqibiy ra. bahwa Rasulullah bersabda, “Demi nama Allah, sungguh neraka itu mempunyai tujuh pintu. Tidaklah di antara dua pintu itu, kecuali seorang pengendara berjalan di antara keduanya selama tujuh puluh tahun.” (HR Hakim dan Thabrani)
Artinya, jarak antara satu pintu dan pintu yang lain sejauh orang yang berjalan selama tujuh puluh tahun.

&

Sifat-Sifat Neraka

23 Feb

Sifat-Sifat Neraka
Neraka, Kengerian dan Siksaannya; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Allah menyediakan neraka bagi siapa saja yang berhak menempatinya. Mereka adalah orang-orang yang menyombongkan diri ketika hidup di dunia atau takabur, berbuat sewenang-wenang, dzhalim, kafir, musyrik dan fasik. Kemudian mereka mati dalam keadaan seperti itu. Seandainya saja mereka beriman dan bertobat setelah berbuat dan bersikap demikian itu tentu mereka akan mendapatkan Allah swt sebagai Penerima Tobat dan Maha Pengasih kepada mereka.

“Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya Ialah: bahwasanya la’nat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) la’nat Para Malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh, 89. kecuali orang-orang yang taubat, sesudah (kafir) itu dan Mengadakan perbaikan. karena Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imraan: 86-89)

Orang-orang kafir itu berbuat dosa, tetapi Allah swt membukakan pintu tobat bagi mereka. jika mereka bertobat dan berbuat baik, tentu akan mendapatkan ampunan dan kasih sayang-Nya. Adapun orang-orang yang berhak masuk neraka adalah mereka yang tidak mau bertobat dan mati dalam keadaan kafir serta tidak mau mencari rahmat-Nya ketika hidup di dunia.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, Maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun Dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. bagi mereka Itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (Ali ‘Imraan: 91)

Betapa besar rahmat Allah kepada para hamba-Nya, termasuk kepada orang-orang kafir yang tidak beriman kepada-Nya. Allah swt. tetap mengajak mereka untuk bertaubat, sebagaimana telah disebutkan dalam surah Ali ‘Imraan: 89:

“Kecuali orang-orang yang taubat, sesudah (kafir) itu dan Mengadakan perbaikan. karena Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Rahmat Allah mencakup seluruh makhluk-Nya, baik mereka yang beriman dan berbuat baik maupun bertobat setelah berbuat kufur, syirik dan dhalim. Beberapa orang yang menggunakan umur mereka dalam kekafiran dan kemaksiatan, lalu satu atau dua hari menjelang kematiannya mereka bertobat serta mendapatkan ampunan dan kasih sayang-Nya?

Orang-orang yang mati dalam kekafiran dan kemaksiatan, sebelum mereka bertobat, mereka ialah orang-orang yang akan dibalas Allah swt pada hari kiamat kelak dengan balasan yang lebih keras dan disediakan bagi mereka neraka jahanam. Mereka kekal di dalamnya.

“(ingatlah) hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah pemberi balasan.” (ad-Dukhaan: 16)

“…. sesungguhnya Allah telah menyediakan adzab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.” (an-Nisaa’: 102)

“….Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong.” (al-Ahzab: 64-65)

“Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang Amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. dan (neraka Jahannam) Itulah sejahat-jahat tempat kembali.” (al-Fath: 6)

Allah swt. telah menyediakan neraka bagi orang-orang kafir dan berbuat jahat kepada-Nya. Mereka mendapat siksa yang menghinakan, bahkan kekal di dalamnya. Bagaimana Allah swt tidak menyediakan neraka bagi mereka, sedangkan mereka tidak memenuhi ajakan-Nya yang tertuang dalam kitab-kitab-Nya yang telah diturunkan? Mereka juga tidak mengikuti ajakan para nabi dan rasul-Nya, padahal mereka tidak henti-hentinya menyeru dan memberi petunjuk kepa da kaum ke jalan Allah swt. Para utusan itu berusaha dengan keras menyadarkan kaumnya dengan berbagai cara, tetapi yang mereka peroleh justru siksa dari kaumnya yang mendustakan mereka. Allah swt. memberi perumpamaan kepada kita tentang kisah nabi Nuh as. dan kaumnya. Berapa banyak usaha yang telah ia curahkan untuk kaumnya agar mendapat hidayah? Namun, berbagai usaha itu tak satupun yang berhasil menyadarkan mereka.

“Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan Sesungguhnya Setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian Sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian Sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam. Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.” (Nuh: 5-10)

&

Sifat Tenda Neraka

23 Feb

Sifat Tenda Neraka
Neraka, Kengerian dan Siksaannya; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

“…. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (al-Kahfi: 29)

Menurut az-Zajjaj [secara bahasa] suradiq adalah setiap yang melingkupi atau mengepung sesuatu, seperti sobekan kain panjang yang menjadi pembatas kemah atau dinding yang melingkupi sesuatu. Sedangkan menurut Ibnu Qutaibah, ayat [“Yang gejolaknya mengepung mereka”] ditafsirkan bahwa mereka dikepung oleh siksaan, seperti tenda atau kemah yang melingkupi mereka.

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tenda neraka itu terdiri atas empat dinding yang tebal, setiap dinding jaraknya sejauh perjalanan empat puluh tahun.” (HR at-Turmudzi)

Kepungan tenda atas orang-orang dhalim, kafir dan musyrik di sini serupa dengan pintu neraka yang tertutup rapat atas mereka, sebagaimana ayat sebelumnya. Serupa pula dengan perkataan orang yang mengatakan bahwa tenda itu adalah dinding yang tidak berpintu.

Ketika gejolak api neraka itu telah mengepung mereka dan mereka berasa bimbang, susah dan sedih karena nyala apinya sangat dahsyat, Allah swt berfirman, “Jika mereka meminta pertolongan [minum], mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah.”
Yang demikian itu karena neraka terkepung oleh dinding-dindingnya sehingga nyala dan gejolak apinya makin bertambah kuat.

Dalam ensiklopedi al-Qur’an, penulisnya menafsirkan bahwa Allah swt telah menyediakan neraka bagi orang-orang dhalim dan kafir. Mereka dikepung dari setiap sisi, seperti kemah atau tenda yang memayungi siapa saja yang berada di bawahnya.

Jika mereka meminta air minum, mereka akan diberi air, seperti endapan minyak atau sesuatu yang meleleh dari hasil tambang, seperti tembaga dan kuningan yang dapat menghanguskan wajah-wajah mereka karena panasnya. Itulah sejelek-jelek minuman dan neraka merupakan sejelek-jelek tempat tinggal.

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “yang gejolaknya mengepung mereka” adalah neraka itu mempunyai pagar-pagar yang mengelilingi mereka. sedangkan menurut hadits dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tenda [pembatas] neraka itu terdiri atas empat dinding. Ketebalan setiap dindingnya sejauh jarak perjalanan selama empat puluh tahun.” (HR Ahmad dan Turmudzi). Adapun menurut Ibnu Abbas, maksud dari ayat itu bahwa neraka mempunyai empat dinding dari api.

Menurut ash-Shabuni yang dimaksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang dhalim neraka, yang gejolaknya mengepung mereka” ini bahwa Allah swt menyediakan api yang menyala-nyala bagi orang-orang yang kafir terhadap-Nya dan rasul-Nya. Api itu dikelilingi oleh pagar-pagar sehingga mengepung mereka, sebagaimana pagar dengan tali-talinya yang kuat.

Berdasarkan semua tafsir di atas, jelaslah bahwa orang-orang yang kafir dan musyrik sedang menunggu berbagai siksaan atau adzab yang menghinakan mereka dari para malaikat yang kejam dan keras, yang tidak pernah berbuat maksiat kepada Allah swt. Allah swt menghinakan orang-orang kafir dan musyrik tersebut dalam berbagai bentuk dan wajah. Dialah yang lebih mengetahui segalanya.

Mereka itulah orang-orang yang mereka-reka untuk membohongi Allah swt. dan rasul-Nya, memusuhi orang-orang yang beriman, dan menyakiti mereka dengan siksaan yang kejam. Hal ini mereka lakukan sepanjang sejarah risalah Allah swt yang diberikan kepada para Rasul-Nya. Allah swt telah bersumpah [di dalam banyak ayat al-Qu’ran] untuk memasukkan mereka ke dalam neraka jahanam dengan merangkak di atas kedua lutut. Tidak hanya itu, bahkan Allah juga akan mengumpulkan mereka bersama setan.

Kata “suradiq” yang disebutkan dalam ayat “ahaatha biHim suraadiquHaa” hanyalah jenis atau bentuk dari beberapa siksaan yang ada di neraka, yang dikhususkan bagi orang-orang yang kafir yang kasar, memaksakan kehendaknya di dunia, dan tidak mengindahkan ketentuan-ketentuan Allah swt. Mereka juga tidak memberikan hak akal dan fikiran mereka untuk merenungkan ciptaan Allah swt. Mereka juga bersekutu dengan setan untuk menolak dan mengingkari ayat-ayat Allah. Dengan demikian, sifat yang terlihat pada mereka hanyalah kejahatan karena mereka sangat memusuhi Allah swt.

&

Sifat-Sifat Pintu Surga

17 Feb

Sifat-Sifat Pintu Surga
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Rasulullah menjelaskan karakteristik pintu-pintu surga dalam sebuah hadits yang sangat panjang tentang syafa’atul udzma atau pertolongan besar.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa suatu hari Rasulullah saw. disuguhi sekerat daging. Beliau pun mengambilnya dengan terheran-heran. Beliau mencicipinya satu gigitan dan bersabda, “Aku adalah pemimpin manusia kelak pada hari kiamat. Tahukah kalian mengapa demikian ?” dan seterusnya [hadits ini sengaja dipotong karena sangat panjang] hingga beliau berkata, “Akhirnya, orang-orang pun mendatangiku. Mereka berkata, ‘Wahai Muhammad, engkau adalah Rasulullah dan penutup para Nabi. Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Syafaatilah kami di hadapan Tuhanmu. Tidakkah engkau memperhatikan keadaan kami? Tidakkah engkau memperhatikan apa yang kami alami?’ kemudian aku pergi ke bawah ‘Arsy. Aku bersujud kepada Tuhanku. Kemudian Allah membukakan dan memberikan ilham kepadaku tentang puji-pujian dan sanjungan terbaik pada-Nya yang tidak diberikan kepada siapapun selain diriku. Kemudian Allah berfirman, ‘Hai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah niscaya permintaanmu akan dikabulkan. Mintalah syafaat, niscaya engkau akan diberi wewenang untuk memberi syafaat.’ Aku pun mengangkat kepalaku, lalu berkata, ‘Wahai Tuhanku, umatku, umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Hai Muhammad, umatmu yang tidak perlu dihisab, masukkan ke dalam surga dari pintu sebelah kanan di antara pintu-pintu surga yang ada. Sedangkan umatmu yang lain, masukkan dari pintu-pintu surga selain pintu kanan itu.’ Demi Allah, Dzat yang menguasai diriku, sungguh jarak antara dua sisi pintu surga seperti jarak antara kota Makkah dan kota Hajar, atau seperti jarak antara kota Makkah dan kota Bushra.” (HR Muttafaq ‘alaiHi, Muslim, dan Turmudzi)

Hajar adalah nama salah satu kota di Bahrain. Jarak antara kota Hajar dan Makkah adalah 1.160 km. Sedangkan Bushra ada di Suriah. Jarak antara kota Bushra dan Makkah adalah 1.250 km. Artinya, luar sebuah pintu surga sekitar 1.200 km. Di dalam hadits di sebutkan tentang luasnya sebuah pintu surga karena hari itu benar-benar penuh sesak oleh manusia.

&

Orang-Orang Beriman Dipanggil untuk Memasuki Pintu-Pintu Surga

17 Feb

Orang-Orang Beriman Dipanggil untuk Memasuki Pintu-Pintu Surga
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Pintu surga berjumlah delapan. Jarak antara dua sisi pintu surga seperti jarak antara kota Makkah dan kota Hajar, atau seperti jarak antara kota Makkah dan kota Bushra. Hajar adalah nama salah satu kota di Bahrain. Jarak antara kota Hajar dan Makkah adalah 1.160 km. Sedangkan Bushra ada di Suriah. Jarak antara kota Bushra dan Makkah adalah 1.250 km. Artinya, luar sebuah pintu surga sekitar 1.200 km.

Orang-orang shalih akan dipanggil untuk memasukinya karena amal-amal sunnah mereka. orang-orang yang senang berpuasa akan dipanggil untuk masuk surga dari pintu ar-Rayyan. Setiap golongan akan dipanggil dari pintu-pintu tersebut. Boleh jadi, di antara golongan orang-orang yang tidak perlu dihisab adalah golongan orang-orang yang paling awal masuk Islam, antara lain Abu Bakar ash-Shiddiq ra, sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits setelah dua ayat ini.

Firman Allah yang artinya:
“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan (pula). sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”. (az-Zumar: 73)

“Ini adalah kehormatan (bagi mereka). dan Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) syurga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka,” (Shaad: 49-50)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa bersedekah kepada sepasang suami istri di jalan Allah, ia akan dipanggil dari balik pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah yang lebih baik.’ Barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang berjihad, ia akan dipanggil dari balik pintu jihad. Barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang berpuasa, ia akan dipanggil dari balik pintu ar-Rayyan [pintu kesegaran]. Dan barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang suka bersedekah, ia akan dipanggil dari balik pintu sedekah.
Abu Bakar ra. berkata, “Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, bagi orang yang dipanggil dari salah satu pintu itu, tentunya tidak ada keberatan baginya? Namun, apakah ada orang yang dipanggil dari semua pintu itu?” Rasulullah saw. menjawab, “Ada, dan aku berharap engkau termasuk golongan mereka itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Hadits ini menunjukkan sedikitnya orang yang bisa dipanggil dari semua pintu itu, sekaligus menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan amalan-amalan sunnah adalah amalan-amalan yang bukan amalan wajib. Hal ini dikarenakan banyak orang yang melakukan berbagai macam amalan. Sehingga orang yang melaksanakan semua amalan sunnah, akan dipanggil dari semua pintu surga. Hal ini sebagai penghargaan kepadanya. Kalau tidak demikian, maksudnya tetap dari satu pintu, yang barangkali merupakan amal terbanyak dari orang tersebut. wallaaHu a’lam.

Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya di surga ada pintu yang bernama ar-Rayyan [pintu kesegaran] yang pada hari kiamat nanti, orang-orang yang berpuasa akan masuk melewati pintu itu, dan tidak ada seorang pun yang bisa lewat pintu itu selain mereka. akan ada suara panggilan, ‘Mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka mereka pun masuk melalui pintu tersebut. Jika mereka telah masuk ke dalam surga semua melalui pintu itu, ditutuplah pintu tersebut hingga tidak ada seorang pun yang dapat masuk melalui pintu itu.” (HR Muslim)

&

Minuman Ahli Surga

17 Feb

Minuman Ahli Surga
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Makanan dan minuman adalah dua hal yang menjadi suatu keharusan. Keduanya termasuk diantara kenikmatan surga, sebagaimana makan dan minum termasuk salah satu kesenangan dan kenikmatan dunia. Oleh karena itu, Allah swt berkenan memberi bermacam-macam jenis makanan dan minuman kepada ahli surga, sesuatu yang tidak pernah mereka ketahui atau dengar sebelumnya. Hal itu patut dimaklumi sebab surga adalah alam yang selain alam kehidupan dunia ini.

Bermacam-macam minuman yang lezat dan enak akan disuguhkan oleh anak-anak kecil di surga, mereka akan berkeliling di antara orang-orang mukmin di surga. Di sana terdapat jenis minuman spesial dengan rasa yang enak dan diberi misik untuk menambah kelezatannya.

Di dalam al-Qur’an banyak firman Allah yang menyatakan tentang minuman ahli surga, sebagaimana dijelaskan tentang wadah, gelas, dan cawannya. Ini adalah keutamaan yang agung dari Allah swt karena telah menjelaskan kepada kita sebagian dari kemuliaan dan keutamaan Allah serta apa yang telah dijanjikan kepada para hamba-Nya yang beriman, yaitu orang-orang yang akan masuk surga yang bagi mereka rumah yang kekal dan abadi.

Allah swt berfirman yang artinya:
“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk,” (al-Waaqi’ah: 17-19)

Di surga terdapat anak-anak surga yang mengelilingi orang-orang mukmin dengan membawa gelas, cerek, serta minuman, dengan keindahan dan kelezatannya, yang di antaranya adalah minuman khamr [khamr surga], sebagaimana difirmankan Allah swt, “Mereka tidak pening karenanya dan tidak mabuk,” artinya mereka tidak pernah merasakan pusing karena meminumnya atau menyebabkan hilang ingatan, sebagaimana yang terjadi kalau meminum khamr di dunia.

Firman Allah yang artinya:
“Di dalam syurga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil.” (al-Insaan: 17-18)

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur, (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.” (al-Insaan: 5-6)

“Mereka memakai pakaian sutera Halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih [dan suci].” (al-Insaan: 21)

“Ini adalah kehormatan (bagi mereka). dan Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) syurga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka, di dalamnya mereka bertelekan (diatas dipan-dipan) sambil meminta buah-buahan yang banyak dan minuman di surga itu.” (Shaad: 49-51)

Arti kata “mizaajuHaa zanjabiilaa” dalam surah al-Insan ayat 17 adalah minuman yang bisa dicampur dan ditaruh dalam gelas, seperti jahe, dengan kualitas yang sangat bagus.

mizaajuHaa kafuuraa; adalah minuman yang bisa dicampur dan ditaruh dalam gelas dicampur dengan air kafur [nama suatu mata air di surga yang airnya putih dan baunya sedap serta enak sekali rasanya], dengan kualitas yang bagus.

Syaraaban thaHuuraa; adalah minuman yang disuguhkan, yang tidak cacat atau kotor sedikitpun, bahkan minuman tersebut adalah suci.

BifaakiHatin katsiiratiw wa syaraab; adalah minuman yang disuguhkan dalam berbagai macam warna dan jenis minuman.

Di surga, Allah telah mengalirkan sungai yang bermacam-macam, baik jenis maupun karakteristik yang bermacam-macam. Di sana juga terdapat minuman untuk ahli surga yang dapat diminum setiap saat tidak terputus-putus, sebagaimana tidak terputusnya aliran sungai tersebut selamanya.

Firman Allah swt yang artinya:
“(apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?” (Muhammad: 15)

Para ahli tafsir mengatakan tentang ayat ini bahwa Allah swt menyatakan tentang sungai-sungai itu. Allah swt juga mengalirkan sungai berupa minuman untuk ahli surga, perhiasan dan pemandangan yang menggiurkan. Sungai-sungai tersebut mengalir dengan berbagai macam warna minuman dan perhiasan terus-menerus, di sekitar dan di bawah istana mereka serta taman-taman mereka. mereka akan memperolehnya tanpa harus capai atau bersusah payah.

“Di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau.” Artinya di surga terdapat sungai-sungai yang mengalir dengan air yang baunya tidak pernah berubah. Ibnu Mas’ud ra. mengatakan bahwa sungai-sungai di surga memancar dari sebuah gunung yang terdiri atas parfum misik.

“Dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya.” Artinya sungai-sungai yang mengalir, yang terdiri atas susu yang warnanya sangat putih manis dan benar-benar full cream, tidak akan basi dan juga tidak akan rusak, berbeda dengan susu yang ada di dunia, serta tidak pernah keluar dari susu binatang ternak.

“Dan sungai-sungai madu yang murni.” Artinya sungai-sungai yang mengalir terdiri atas madu dan kualitas yang benar-benar murni, berwarna, dan beraroma baik, serta tidak keluar dari perut lebah. Abu as-Su’ud mengatakan tentang firman Allah, “Asalin mushaffaa”, yang berarti madu yang tidak bercampur dengan sarang lebah atau hal-hal lain yang berkaitan dengan lebah. Semuanya mengalir dan tangan orang-orang mukmin mudah meraihnya kapan saja mereka inginkan, bukan hanya satu, dua, seribu atau sepuluh juta kali. Sungguh tidak terbatas, tidak terputus, tidak akan berkurang, tidak akan tertutup, tidak berubah dan tidak terlarang. Hal itu akan berlaku terus-menerus selamanya, dari Allah Dzat Yang Maha Penyayang serta Mahamulia.

&

Makanan Ahli Surga

17 Feb

Makanan Ahli Surga
Surga Kenikmatan Yang Kekal; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Makanan pertama yang dihidangkan Allah sebagai penghormatan untuk ahli surga adalah menu hati ikan laut, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hamparan bumi di hari kiamat laksana sepotong roti yang digenggam sendiri oleh Allah swt. seperti kalian memegang roti saat perjalanan. Allah melakukannya karena perhatian-Nya kepada ahli surga.” Lalu seorang Yahudi datang dengan berkata, “Semoga keberkahan Allah akan senantiasa kepadamu, wahai Abul Qasim [julukan Muhammad saw.).” “Bukankah telah aku katakan tentang penghormatan terhadap ahli surga pada hari kiamat?” Si Yahudi berkata, “Ya, sudah.” Abu Said al-Khudri berkata, “Bumi menjadi seperti sepotong roti, sebagaimana sabda Rasulullah saw. kepada kami.” Rasulullah saw. memandangi kami, kemudian tertawa hingga gigi gerahamnya terlihat. Kemudian beliau bersabda, “Bukankah telah aku katakan tentang idam [lauk] mereka, yaitu dengan kata Lam dan Nun.” Para shahabat bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulallah?” Rasulullah saw. menjawab, “Daging sapi dan ikan, yang keduanya dimakan sebagai tambahan hati, sebanyak 70.000.” (HR Bukhari dan Muslim)

Imam Nawawi menjelaskan seputar penjelasan hadits di atas. Menurutnya, “Lafal nuzul [penghormatan] itu adalah seperti yang biasa disuguhkan kepada tamu di saat mereka datang dan Allah swt menyediakan hidangan tersebut dengan tangan [kekuasaan]-Nya.” maksudnya, mengalihkan dari tangan yang menjulurkan pada tangan yang akan menerima sehingga kedua tangan dapat bertemu karena tidak terbentang seperti halnya hamparan kertas atau sejenisnya. Maksud dari hadits tersebut bahwa Allah swt. menciptakan bumi ibarat roti yang besar, dan itu yang akan menjadi makanan ahli surga. Maksud dari kata “nun” adalah ikan, sedangkan “lam” adalah kata perumpamaan yang berarti daging sapi. Sedangkan, yang dimaksud “tambahan hati ikan” adalah sepotong tersendiri yang berhubungan dengan hati, yang diambil dari yang terbaik.

Diriwayatkan dari Tsauban bahwa ada seorang Yahudi bertanya kepada Rasulullah saw. “Apa saja penghormatan pertama yang diberikan Allah kepada ahli surga?” Rasulullah saw. menjawab, “Hidangan hati ikan.” Orang Yahudi bertanya lagi, “Lalu, apa makan siangnya?” Rasulullah menjawab, “Seekor sapi surga akan disembelih untuk mereka, yang akan dimakan dari ujungnya.” Orang Yahudi itu bertanya lagi, “Lalu apa minumannya?” Rasulullah saw. menjawab, “Sebuah mata air surga yang dinamakan salsabila.” Orang Yahudi itu berkata, “Anda benar.” (HR Muslim)

Dalam kitab shahih Bukhari disebutkan bahwa Abdullah bin Salam menyampaikan beberapa pertanyaan kepada Rasulullah saw. ketika pertama kali datang ke Madinah. Antara lain ia bertanya, “Apa yang pertama kali dimakan ahli surga?” Rasulullah saw. menjawab, “Hidangan hati ikan.” (HR Bukhari)

Betapa pun manusia bisa memberikan suatu karakteristik tentang makanan ahli surga, serperti hendak menyampaikan tentang madzaqah [rasa], boleh jadi coretan pena tidak mampu membahasnya. Madzaq adalah pewarnaan atau pemberian bumbu oleh Allah swt. sebagaimana kita bisa mewarnai atau memberi bumbu makanan kita di dunia. Kadar selera mereka di surga akan seimbang dengan status penghormatan yang abadi, yang diberikan kepada mereka oleh Allah swt yang abadi. sedangkan, makanan yang dihidangkan juga merupakan makanan yang beraroma rasa yang membuat jiwa dan penciuman mereka bahagia. Makanan tersebut dihidangkan pada bejana-bejana yang keindahannya tidak dapat dibahasakan, yang terbuat dari emas murni dan perak murni.

Allah berfirman yang artinya:
“Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya”. (az-Zukhruf: 71)

Ayat ini sangat mulia, bahkan bisa dikatakan termasuk ayat-ayat mulia. Pada ayat tersebut memuat keterangan tentang keutamaan Allah swt, kemuliaan, dan nikmat-Nya terhadap orang-orang mumin di surga.

Yuthaafu ‘alaiHim bi shihaafin; istilah shihaaf hanya untuk makanan yang disajikan seperti yang telah dibicarakan oleh Allah swt. tentang hal tersebut dengan kata-kata “wa fiiHaa” (dan di dalamnya). Maksudnya, di piring-piring yang berisi makanan-makanan tersebut terdapat segala apa yang mengundang selera dan sedap [dipandang] mata.

Artinya, ini menunjukkan kemuliaan hidangan yang dibuat sebagai penghormatan kepada orang-orang mukmin di surga Allah swt. Ini benar-benar menjadi petunjuk yang sangat jelas akan adanya bermacam-macam makanan.

“Wa fiiHaa maa tasy-taHiiHil anfus.” Maksudnya segala yang menjadi keinginan orang-orang mukmin, dari berbagai macam makanan akan dihidangkan kepadanya, yang akan dibawa oleh barisan anak-anak, yang rupa mereka seolah seperti mutiara yang tersimpan dengan baik, indah dalam keindahan, hebat dalam kehebatan, baik dalam kebaikan, lezat dalam kelezatan yang tidak henti dan tidak tercegah. Tidak seorang pun yang tidak bisa makan manakala ia menginginkannya.

Ibnu Katsir menjelaskan maksud firman Allah swt. pada surah az-Zukhruf: 71 adalah sebagai berikut:
Yuthaafu ‘alaiHim bi shihaafim min dzaHabin; maksudnya adalah piring-piring, wadah makanan. Wa fiiHaa maa tasy-taHiiHil anfus; sebagian ulama ahli Qiraat membacanya dengan tasy-taHil anfus. Wa taladzdzul a’yun; berarti makanan yang baik, beraroma, serta sedap dipandang mata.

Ibnu Katsir mengatakan, diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ahli surga yang paling rendah pangkatnya dan paling rendah pula posisinya bagi seseorang, yang setelah itu tidak ada lagi orang yang msuk surga, akan dilonggarkan pandangannya sejauh perjalanan 100 tahun dalam sebuah istana yang terbuat dari emas serta tenda dan mutiara. Di sana tidak akan ditemukan sejengkal tempat pun, kecuali kesejahteraan, diberi makan, serta bersenang-senang bersama 70.000 lapis emas dimana tidak satu lapis pun terdapat warna yang tidak ada duanya. Dari awal hingga akhir kesenangannya tidak akan mengalami perubahan, akan selalu sama. Kalau saja seluruh penduduk bumi turun ke tempat tersebut, niscaya tempat tersebut masih cukup dan tidak berkurang sedikitpun dari apa yang telah dianugerahkan Allah swt.”

Firman Allah yang artinya: “Dan daging burung apa pun yang mereka inginkan.” (Al-Waaqi’ah: 21)

Yang dimaksud disini burung-burung yang jenisnya sangat banyak, enak rasanya, dan lezat dagingnya. Tidak seorang pun tahu seperti apa burung-burung surga itu, baik warna, bentuk, maupun rasanya kecuali Allah swt. Seperti itulah yang akan disuguhkan Allah swt di atas piring yang terbuat dari emas, yang dikelilingi oleh anak-anak yang tinggal di surga. Itulah makanan yang mengundang selera dan sedap dipandang mata.

Ibnu Abbas ra. mengatakan bahwa daging burung tersebut adalah yang mereka senangi dan mengundang selera. Ibnu Abbas mengatakan bahwa ketika di hati ahli surga terbersit keinginan menyantap daging burung, burung yang diinginkan tersebut berbang dan hinggap di depannya sesuai dengan apa yang diinginkan, baik direbus maupun dibakar, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits, “Engkau akan melihat burung di surga, lalu ia akan tunduk hinggap dalam keadaan matang terbakar.” (HR Ibnu Hatim)

Firman Allah yang artinya: “Dan Kami berikan kepada mereka tambahan berupa buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini.” (ath-Thuur: 22)

Kata “lahm” (daging) yang terdapat dalam ayat tersebut merupakan kata umum dan tidak tertentu pada suatu macam atau nama. Kata tersebut meliputi semua jenis daging yang dijanjikan Allah swt kepada orang-orang mukmin di surga.

Sesungguhnya sebagian dari nikmat terbesar itu adalah ketika Allah swt memanggil kita di surga dan berkenan untuk berbicara dengan kita, dengan firman: “[kepada mereka dikatakan] ‘Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.’” (ath-Thuur: 19)

Yang dimaksud dalam firman Allah tersebut adalah makan dan minumlah apa saja yang kalian haramkan atau diharamkan pada diri kalian dari berbagai macam makanan dan minuman. Inilah surga-Ku, makanlah apa saja yang kamu sukai dan mintalah apa saja yang kamu mau. Aku telah mengharamkan kepada kalian sebentar saja saat di dunia. Sekarang kalian berada dalam keabadian. Di surga ini kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan dan kalian akan kekal dan abadi.

&