Tag Archives: siksaan

SIKSAAN BAGI PARA PELAKU MAKSIAT DAN DOSA BESAR DARI AHLI TAUHID

23 Jan

Neraka, Kengerian dan Siksaannya;
Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Para penghuni neraka berbeda-beda dalam siksaan dan tempat, sesuai dengan dosa-dosa yang telah mereka lakukan, tindakan mereka dalam meninggalkan shalat, puasa, zakat dan haji, serta perbuatan dhalim terhadap para hamba dan memakan hak-hak mereka.

Mereka itu akan disiksa di dalam neraka berdasarkan apa yang telah mereka lakukan. Allah swt. dan Rasulullah saw. tidak menyebutkan masa menetap di neraka bagi mereka. sebagian lama waktunya dan sebagian lagi pendek waktunya. Dan di antara keduanya terdapat banyak keadaan. Akan tetapi pada akhirnya mereka mendapat syafaat dalam perbedaan-perbedaan tersebut.

Dengan rahmat-Nya, Allah menghendaki ahli tauhid yang durhaka bisa keluar dari neraka. akan tetapi yang perlu kita ketahui adalah mereka disiksa di neraka, bahkan terkadang dengan siksaan yang keras. Sebagian mereka mendekam di dalamnya dalam waktu yang lama yang tidak diketahuinya kecuali Allah swt.

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Penghuni neraka adalah penghuni yang ada di dalamnya, mereka tidak mati dan tidak hidup. Tetapi sebagian manusia ditimpa siksa karena dosa-dosa mereka [atau beliau berkata: “kesalahan-kesalahan mereka.”], lalu mereka dimatikan oleh kematian sehingga jika mereka telah menjadi arang maka syafaat diizinkan. Mereka didatangkan dalam kelompok-kelompok, dan disebarkan di atas sungai-sungai surga, kemudian dikatakan, “Wahai ahli surga, curahkanlah kepada mereka.” kemudian mereka tumbuh seperti biji-bijian padang pasir yang terbawa oleh banjir.” (HR Muslim)

Dari Jabir bin Abdillah ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya [suatu] kaum keluar dari neraka, mereka terbakar di dalamnya, kecuali wajah-wajahnya berputar hingga masuk surga.” (HR Muslim)

Dari Imran bin Hushain ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Suatu kaum keluar dari neraka dengan syafaat Muhammad, lalu memasuki surga, mereka dijuluki al-Jahanamiyyin.” (HR Bukhari)

Dari Anas bin Malik ra. dari Nabi saw. beliau bersabda, “Suatu kaum keluar dari neraka setelah dihanguskan olehnya, lalu memasuki surga dan ahli surga menjuluki mereka dengan jahannamiyyin.” (HR Bukhari)

Ahli surga menjuluki demikian, hal ini dikarenakan mereka barangkali keluar setelah lama di dalam neraka sehingga bekas atau tanda masih tampak pada mereka. Ahli surga menjuluki mereka demikian karena merekalah yang menyiramkan air surga kepada para bekas penghuni neraka setelah mereka keluar dari neraka.

Dari Jabir bin Abdillah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda, “Kemudian datanglah syafaat, mereka disyafaati sehingga keluar dari neraka orang yang mengucapkan ‘Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah,’ dan di dalam hatinya terdapat seberat gandum kebaikan, lalu mereka ditempatkan di halaman surga dan ahli surga mencurahkan air kepada mereka hingga mereka tumbuh, seperti tumbuhnya sesuatu yang dibawa banjir dan hilanglah bekas-bekas api yang membakar, kemudian ia meminta hingga dijadikan baginya duniadan sepuluh kali lipat sepertinya.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hingga apabila Allah telah selesai memberikan keputusan di antara manusia dan berkeinginan dengan rahmat-Nya mengeluarkan orang yang Dia inginkan dari ahli neraka. Dia memerintahkan kepada para malaikat untuk mengeluarkan mereka dari neraka, yaitu orang yang tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan Allah dan atas rahmat-Nya dari orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah.’ Para malaikat mengenal mereka di neraka dengan bekas sujud. Api neraka memakan tubuh anak Adam kecuali bekas sujud. Allah mengharamkan atas neraka untuk memakan bekas sujud. Mereka keluar dari neraka setelah terbakar, lalu air kehidupan dicurahkan kepada mereka dan tumbuhlah mereka, sebagaimana biji-bijian tumbuh di sepanjang aliran sungai.” (HR Muslim)

Lebih dari satu hadits menyebutkan bahwa Allah swt mengeluarkan dari neraka, orang yang dalam hatinya terdapat satu dinar atau setengah dinar iman, bahkan mengeluarkan kaum yang tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali.

Dalam hadits Abu Said al-Khudri ra. disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah memasukkan ahli surga ke surga, memasukkan orang yang Dia kehendaki dengan rahmat-Nya, memasukkan ahli neraka ke neraka, kemudian berfirman, ‘Lihatlah orang yang kalian temukan di dalam hatinya seberat biji sawi iman, keluarkanlah.’” (HR Muslim)

Dari Anas bin Malik ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah,’ dan di dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum, kemudian keluar dari neraka orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah,’ dan dalam hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum, kemudian keluar dari neraka orang yang mengucapkan: ‘Tiada tuhan selain Allah,’ dan dalam hatinya terdapat kebaikan seberat dzarrah.” (HR Muslim)

Panasnya Neraka dan Kepedihan Siksaannya

23 Mar

Panasnya Neraka dan Kepedihan Siksaannya
Neraka, Kengerian dan Siksaannya; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Allah swt telah memberikan sifat panas dan pedihnya siksa api neraka dalam berbagai ayat al-Qur’an, di antaranya:

“….dan mereka berkata: ‘Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini’. Katakanlah: ‘Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)’ jika mereka mengetahui.” (at-Taubah: 81)

“Sekali-kali tidak dapat, Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak, yang mengelupas kulit kepala,” (al-Ma’aarij: 15-16)

Makna “ladhaa” adalah neraka atau tingkat kedua di dalamnya. Sedangkan, makna dari “nazzaa’atal lisy-syawaa” adalah mencabut ujung kulit atau kulit kepala karena panasnya api neraka. selain itu Allah juga berfirman yang artinya:

“Kecelakaanlah bagi Setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitun. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya Dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.” (al-Humazah: 1-9)

Dalam Shafwah at-Tafsir, ash-Shabuni menafsirkan ayat “Sekali sekali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam [neraka] huthamah itu” bahwa Allah swt. benar-benar akan melemparkan mereka ke dalam neraka yang menghancurkan setiap benda yang dilempar ke dalamnya, lalu menelannya. “dan tahukah kamu apakah [neraka] huthamah itu?” karena keadaan neraka itu sangat menakutkan dan keras atau apa yang kamu ketahui tentang hakikat api yang agung itu? Itulah huthamah yang menghancurkan tulang-tulang dan memakan daging hingga membakar sampai ke hati. Kemudian ayat ini ditafsirkan dengan ayat berikutnya: “[yaitu] api [adzab] Allah yang dinyalakan” atau api Allah swt yang dinyalakan dengan perintah dan kehendak-Nya, tidak seperti api pada umumnya karena api itu tidak pernah padam selamanya. “yang membakar sampai ke hati” yang rasa sakit dan penderitaannya sampai ke hati, lalu membakarnya.

Adapun menurut al-Qurthubi yang dimaksud ayat “yang [membakar] sampai ke hati” karena orang yang terserang penyakit hati akan meninggal. Oleh karena itu, perumpamaan ini dikhususkan bagi hati. Akan tetapi, penghuni neraka ini tidak mati dan tidak pula hidup, sebagaimana dalam surah ThaaHaa ayat 74: “….tidak mati di dalamnya dan tidak [pula] hidup.”

Dalam ayat lain Allah berfirman yang artinya:

“Kelak Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. dan tahukah kamu Apakah (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan, (neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia.” (Muddatstsir: 26-29)

Ayat di atas menunjukkan bahwa api neraka saqar tidak akan meninggalkan dan membiarkan penghuninya. Jadi, ia merupakan oase yang akan membakar manusia yang ada di dalamnya dengan panas dan nyalanya serta gejolaknya yang dahsyat.

Muhammad Wahhab az-Zahiliy menafsirkan ayat di atas [dalam tafsir al-Munir] dengan Aku akan memasukkan orang-orang yang ingkar ke dalam neraka dan Aku akan menggenangi mereka dengan apinya dari segala penjuru. Saqar adalah salah satu nama neraka yang keadaannya sangat menakutkan. Neraka saqar tidak akan meninggalkan darah, daging, dan tulang para penghuninya. Jika penghuninya itu dikembalikan dalam bentuk makhluk yang baru, api neraka itu tidak akan membiarkannya, tetapi membakarnya kembali lebih dahsyat daripada sebelumnya.

“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab…”(an-Nisaa’: 56)

Dalam ayat lain, Allah swt juga menyifati besarnya api neraka, panasnya dan asapnya:

“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (Dikatakan kepada mereka pada hari kiamat): ‘Pergilah kamu mendapatkan azab yang dahulunya kamu mendustakannya. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang, yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka.’ Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana. Seolah-olah ia iringan unta yang kuning. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (al-Mursalaat: 28-34)

“Pergilah” adalah pemberitahuan untuk menjalankan perintah.
“Pergilah kamu mendapatkan naungan [asap api neraka] yang mempunyai tiga cabang.” Artinya naungan atau asap neraka. jika asap itu naik, akan terpecah menjadi tiga bagian atau cabang.
“Yang tidak melindungi.” Artinya tidak ada pencegah yang dapat melindungi dari panas apinya.
“Dan tidak pula menolak nyala api neraka,” artinya panas api neraka itu tidak memberikan manfaat bagi merek sedikitpun.
“Sungguh [neraka] itu menyemburkan bunga api.” Artinya neraka itu tidak akan melemparkan apa saja yang melayang di dalamnya.
“[Sebesar dan setinggi] istana” artinya bangunan besar yang kukuh dan tinggi.
“Seakan-akan iring-iringan unta yang kuning.” Kata “jimalatun merupakan” merupakan bentuk jamak dari “jamalun” sedangkan kata “shufr” dalam bentuk dan warnanya. Ada yang mengatakan artinya hitam sebab hitamnya unta diungkapkan dengan kuning. Ini adalah ungkapan penyerupaan dari sisi kebesaran, ketinggian dan warnanya.

Dalam tafsir al-Munir dijelaskan bahwa makna dari ayat “Pergilah kamu mendapatkan apa [adzab] yang dahulu kamu dustakan” adalah dikatakan kepada orang-orang kafir dari balik neraka agar mereka pergi ke adzab neraka yang dahulu [ketika di dunia] didustakan. Kemudian Allah swt. menyifati azab neraka ini dengan empat sifat sebagai berikut:

1. “Pergilah kamu mendapatkan naungan [asap api neraka] yang mempunyai tiga cabang” kalimat ini sebagai ejekan atau olok-olok bagi mereka. artinya, pergilah kamu ke naungan yang terdiri atas asap neraka, yang terpecah menjadi tiga cabang. Sesungguhnya gejolak api neraka itu jika naik bersama asapnya, akan menjadi tiga cabang. Hal ini disebabkan keras dan kuatnya nyala api neraka.
2. “Tidak melindungi” berarti juga menghancurkan mereka [orang-orang kafir] karena naungan mereka ini tidak seperti naungan orang-orang beriman. Naungan ini tidak dapat menahan panas matahari dan tidak meneduhkan mereka seperti di dunia.
3. “Dan tidak pula menolak nyala api neraka” maknanya, naungan itu tidak dapat menolak panas api neraka sedikitpun karena naungan ini adalah naungan neraka. jadi, naungan itu tidak melindungi mereka dari panas neraka dan tidak pula membatasi mereka dari lidah api yang menyala-nyala. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an, “[Mereka] dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih, dan naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.” (al-Waqi’ah: 42-44)
4. “Sungguh [neraka] itu menyemburkan bunga api [sebesar dan setinggi] istana. Seakan-akan iringan unta yang kuning” maksudnya api neraka itu menjilat-jilat ke segala arah. Dan setiap jilatan api itu sebesar istana [bangunan yang besar dan tinggi]. Jilatan-jilatan api itu seperti unta kuning yang selalu bergerak.

Al-Farra’ berpendapat, “Yang dimaksud kuning disini adalah unta yang sangat hitam karena unta yang sangat hitam memiliki unsur kekuning-kuningan. Oleh karena itu orang Arab menyebut unta yang sangat hitam dengan warna kuning. Dan kebanyakan ulama berpendapat bahwa maksud kuning disini adalah warna hitam yang kalah kuat dengan kuning. Sedangkan maksud dari “bunga api” adalah api yang menjilat-jilat ke segala penjuru.”

Maksud dari perumpamaan ayat ini adalah untuk menerangkan bahwa api neraka itu sangat panas dan nyalanya sangat bergejolak sehingga menghancurkan mereka. Jadi ungkapan untuk memperolok-olok orang kafir ini seolah-olah berbunyi: “Kalian mengharapkan kemuliaan, kenikmatan, dan keindahan dari berhala sesembahan kalian.” Tetapi keindahan itu adalah bunga api. Oleh karena itu Allah swt. mengazab mereka.

“Celakalah pada hari itu bagi mereka yang mendustakan [kebenaran].” Maksudnya orang-orang yang mendustakan para Rasul Allah dan ayat-ayat-Nya akan mendapat adzab dan kehinaan pada hari kiamat. Pada hari itu tidak ada tempat lari bagi mereka dari adzab Allah swt.

Allah swt. memberi sifat angin di neraka dan asapnya dengan firman-Nya yang artinya: “Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu? Dalam (siksaan) angin yang Amat panas, dan air panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.” (QS. Al-Waaqi’ah: 41-44)

Makna kalimat; sumum: angin keras yang panas dan merasuk ke sumsum. Hamim: air yang mencapai pada derajat yang sangat panas. Dzillin min yahmuum: asap yang sangat hitam.

Menurut Ibnu Katsir [dalam menafsirkan ayat tersebut] ketika Allah swt. menyebutkan golongan kanan, penyebutan itu diikuti oleh penyebutkan golongan kiri, dengan firman-Nya (“Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu.”) maksudnya segala sesuatu yang dipilih atau disukai oleh golongan kiri. Kemudian Allah menjelaskannya pada ayat berikutnya (“[mereka] dalam siksaan angin yang sangat panas.”) atau udara yang sangat panas dan (“dan air yang mendidih”) atau air yang sangat panas.

Ibnu Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud (“dan naungan asap yang hitam”) adalah naungan dari asap. Sedangkan menurut Mujahid, Ikrimah, Qatadah, dan as-Suddi, “Naungan inilah yang dimaksud dalam firman Allah swt (“Pergilah kamu mendapatkan naungan [asap api neraka] yang mempunyai tiga cabang, yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka.”) oleh karena itu disini dikatakan (“dan naungan asap yang hitam”) atau asap yang sangat hitam (“tidak sejuk dan tidak menyenangkan”) atau hembusan anginnya tidak sejuk dan tidak baik dipandang.”

Di antara hadts yang menyebutkan dahsyatnya api neraka dan bahan bakarnya adalah sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Neraka mengeluh kepada Tuhannya, lalu berkata, ‘Wahai Tuhanku, aku memakan sebagian dari sebagian yang lain. Maka ringankalah ku dengan bernafas.’ Kemudian Allah mengizinkannya bernafas dua kali. Nafas pertama pada musim dingin, sedang nafas kedua pada musim panas. Maka apa yang kalian dapatkan pada musim yang sangat panas, itu adalah sebagian dari angin samum-nya. sedangkan, apa yang kalian dapatkan pada musim yang sangat dingin, itu adalah sebagian dari zam-hariir-nya [angin dinginnya].” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Api kalian yang dinyalakan manusia di dunia itu hanyalah sepertujuh puluh panas neraka jahanam.” Para shahabat berkata, “Ya Rasulallah, api di dunia itu sungguh sudah cukup panas.” Rasulullah saw. bersabda, “Api di dunia itu ditambah 69 kali lagi dengan panas yang sama pada masing-masing dari 69 tersebut jika dibandingkan dengan panas api neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Api kalian yang dinyalakan di dunia ini hanyalah sepertujuh puluh panas neraka jahanam. Setiap bagian darinya [api neraka] seperti panasnya [api dunia].” (HR Turmudzi)

Dari Anas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika bagian barat neraka diletakkan di tengah bumi, pasti bau busuk dan panasnya akan menyakiti apa yang ada di antara timur dan barat. Jika bunga api neraka itu ada di bagian timur, niscaya panasnya akan sampai kepada orang yang ada di barat.” (HR Thabrani)

Jika Allah swt. menyebutkan neraka, bunga apinya yang besar, panas, dan kekuatan asapnya, hal itu hanyalah sebagai peringatan agar mereka mengetahui bahwa mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka serta amal perbuatan mereka juga akan dihitung. Selain itu agar mereka juga mengetahui bahwa orang yang tidak lewat di atas shirat, tidak beriman kepada Allah swt, dan tidak berbuat baik, neraka akan menjadi tempat kembalinya. Semua itu disebutkan untuk menkut-nakuti para hamba-Nya agar tidak menjadi penghuninya.

“Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku Hai hamba-hamba-Ku.” (az-Zumar: 16)

&